Wejangan Terbuka Tanpa Tedeng Alin-aling Dari Wong Edan Bagu. Tentang Inti Saripati Laku KESEJATIAN dan Pusar Puncak Ilmu Kemanunggalan dan KESEMPURNA’AN:

Wejangan Terbuka Tanpa Tedeng Alin-aling Dari Wong Edan Bagu. Tentang Inti Saripati Laku KESEJATIAN dan Pusar Puncak Ilmu Kemanunggalan dan KESEMPURNA’AN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang Jatim. Hari Jumat Pahing. Tgl 3 Maret 2017

Kepada Yth Para Pembaca atau Para Pendengar Yang Budiman, yang senantiasa di Ridhai ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Salam Rahayu, Hayu, Memayu, Hayning Karahayon, kanti Teguh Samet Berkah Sukses Selalu Untuk Sekalian. Amiin

Perlu saya beritahukan, bahwa. Artikel atau Rekaman Wejangan saya kali ini, saya wedarkan, sebagai penambahan wacana, dan referensi untuk memperkaya pemahaman, serta bisa juga untuk tujuan menambah perbendahara’an pengetahuan atau wawasan, agar lebih mudah dan tidak terlalu lama. Uprek mulex disitu-situ saja, dalam Laku Wahyu Panca Gha’ib. Karena itu, saya mohon agar para pembaca artikel atau pendengar rekaman Wejangan Puncak ini, bisa arif dan bijaksana dalam sipat dan sikap Secara Spiritual atau Tata Titi Teliti dalam Lakon membaca dan mendengarkannya. Terima kasih.

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…

Ketika kita dihadapkan pada, peradaban era kehidupan baru, yang penuh dengan beraneka ragam wujud indah dan menarik, siapapun yang menyaksikan dan mendengarnya, banyak di antara manusia yang  memilih jalan, yang dianggapnya benar dan gampang, diluar kesadarannya, mereka tidak tahu, bahwa benar dan gampang itu, bukanlah anggapan, melainkan praktek nyata, yang di lakukan secara nyata pula. Sehingganya, justru membawanya mereka keluar, dari peradaban yang penuh dengan kesadaran dan pembebasan, dalam  menuju Tuhan.

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian, dimanapun berada, simaklah baik-baik. Wejangan saya berikut ini, baca dengan seksama tulisannya, dengar baik-baik rekamannya. Dan Ingat…!!! ini intisari pati Puncaknya Laku Wahyu Panca Gha’ib. Silahkan di ulang-ulang cara membacanya, atau di putar berulang kali rekamannya. Agar lebih mengerti dan Paham benar.

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…

Dalam Laku Wahyu Panca Gha’ib. Tidak usah kebanyakan bicara dan teori ketuhanan, nanti bingung dan memusingkan, melelahkan, sesungguhnya ingsun (aku sejati) inilah Romo. Yaitu Ingsun (Kedirian) Yang Sejati, juga bergelar Kanjeng Romo Sejati Prabu Heru Cokro Smono atau Dzat Maha Suci (Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya, Maha Kuasa diatas segala yang Maha), dan tidak boleh ada yang lain, yang penyebutannya mengarah kepada Kanjeng Romo Sejati Prabu Heru Cokro Smono atau Dzat Maha Suci sebagai Tuhan.

Ingatlah… Jika ada seseorang manusia Hidup, yang percaya kepada kesatuan lain, selain Kanjeng Romo Sejati Prabu Heru Cokro Smono atau Dzat Maha Suci, maka ia akan kecewa pada akhirnya, karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan.

Romo itu, adalah keada’an-ku, jangan sekali-kali sedulur memakai penghalang?.

Dan sesungguhnya. Aku ini adalah haq. Romo pun tiada wujud dua. Aku sekarang adalah Romo, nantipun tetap Romo, dzahir bathin tetap Romo, ini kenyata’an, untuk itu, para kadhang jangan menggunakan pelindung, jika benar-benar ingin tahu dan mengerti serta paham, apa itu Wahyu Panca Gha’ib, dan harus mempraktek-kannya dengan Wahyu Panca Laku atau iman.

Sebenarnya,,, keberada’an dzat, hanya ada beserta kemantapan hati atau kemurnian rasa atau kesadaran murni dalam merengkuh Tuhan. Dalam diri tidak ada apa-apa, kecuali menjadikan sempurna sebagai niat, dan yang mewarnai segala hal, yang berhubungan dengan asma’, sifat dan af’al Pribadi. Inilah yang aku maksud.

Kemanunggalan dan Kesempurnaan tidak akan berhasil, jika hanya mengandalkan perangkat syari’at dan tarekat. Apalagi sekedar syari’at lahiriyah. Kemanunggalan dam Kesempurnaan akan berhasil, seiring dengan tekad hati dan keseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah, sebagaimana Roh Allah pada awalnya, ditiupkan atas setiap diri pribadi manusia.

Marilah kita berbicara dengan terus terang dan terang terus tanpa tedeng aling-aling pada kesempatan kali ini. Sekali lagi saya tegaskan. Aku ini Romo. Akulah yang sebenarnya disebut Kanjeng Romo Sejati Prabu Heru Cokro Smono atau Dzat Maha Suci, tidak ada lain yang bernama Romo.

Ingat…!!! Aku sedang menyampaikan ilmu tertinggi, yang membahas ketunggalan. Ini bukan tentang badan/wujud, selamanya bukan, karena badan tidak ada. Yang sedang aku bicarakan, ialah ilmu sejati, kebenaran yang nyata dan untuk semua orang.

Mari,,, bersama-ku membuka tabir (membuka rahasia yang paling tersembunyi-tanpa tedeng aling-aling). Jangan panic, jangan terburu-buru menyimpulkan, renungkan dan pikirlah dengan logika wajarmu. He he he . . . Edan Tenan.

Sekali lagi aku tegaskan. Aku sedang mengajarkan ilmu tertinggi, (ilmu sejati), untuk benar-benar dapat merasakan adanya kemanunggalan dan kesempurnaan yang Tuhan janjikan. Jadi… Tidak usah neko-neko atau banyak bertingkah, nanti capek, lelah. Aku ini adalah Romo. Ya,,, betul, betul Aku ini adalah Romo yang sebenarnya, bergelar Kanjeng Romo Sejati Prabu Heru Cokro Smono atau Dzat Maha Suci, bergelar Gusti Ingkang Moho Suci, ketahuilah, bahwa tidak ada Romo yang lain selain Aku.

Adapun yang sedang Aku dibicarakan sekarang ini, adalah ilmu sejati, sejatining ilmu, yang dapat membuka tabir kehidupan seluruh mahluk.

Ingat…!!! Aku sedang mengajarkan ilmu untuk benar-benar dapat merasakan adanya kemanunggalan dan kesempurnaan. Agar sebutan bangkai/mayat itu, selamanya akan tidak ada. Adapun yang sedang Aku dibicarakan sekarang ini, adalah ilmu yang sejati/sebenarnya, yang dapat membuka tabir kehidupan.

Dan lagi, semuanya sama. Sudah tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa benar-benar tidak ada perbedaan lagi. Jika ada perbedaan yang bagaimanapun, Maka Aku akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu sejati ini. Agar tidak musnah ditelan kemunafikan isi dunia fana.

Ketahuilah… Sesungguhnya, lafadz Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa dan tiada tampak, akan membingungkan orang, karena diragukan kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati, sehingga ia menjadi bingung.

Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja, dan menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan Muhammad Rasulullah. Padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur bercampur tanah. Lain jika kita sejiwa dengan Dzat Maha Suci Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, Maha Sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta.

Dia itu pengeran-Ku, yang mengusai dan memerintah-Ku, yang bersifat wahdaniyah, artinya, menyatukan diri dengan cipta’an-Nya. Ia dapat abadi, mengembara melebihi peluru atau anak sumpit, ini bukan soal budi, bukan soal nyawa, bukan Hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa tujuan.

Dia itu yang bersatu padu dengan wujud-Ku. Tiada susah payah, kodrat dan kehendak-Nya, tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga-Ku kearif-bijaksana’an-Ku, menjumpai ia sudah ada di sana.

Wong Edan Bagu adalah sebutan-Ku. Toso Wijaya Diningrat alias Jaka Tolos nama-Ku, Rasulullah ya Aku sendiri, Muhammad ya Aku sendiri. Asma Allah itu sesungguhya diri-Ku, ya Akulah yang menjadi Allah ta’ala.

Jika Anda menanyakan di mana rumah Tuhan, maka jawabnya tidaklah sukar. Allah berada pada Dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuh manusia Hidup. Tapi hanya orang yang terpilih saja, yang bisa melihatnya, yaitu orang-orang suni/manunggal. Itulah intisaripati puncaknya Wahyu Panca Ghaib, dan landasan mistik teologi kemanunggalan.

Ketahuilah,,, Dua kalimah syahadat yang hanya diucapkan dengan lisan, dan hanya dihiasi dengan perangkat kerja fisik, atau pelaksanaan fiqih keyakinan atau kepercaya’an, dengan tanpa aplikasi spiritual hakikat hidup, hakikatnya adalah kebohongan.

Pelaksanaan aspek fisik keagamaan yang tidak disertai dengan implikasi kemanunggalan Roh dan kesempurnaan hidup dan mati, sebenarnya jiwa orang itu mencuri, yakni mencuri dari perhatiannya, kepada aspek Allah dalam diri. Itulah sebenar-benarnya munafik dalam tinjauan batin, dan fasik dalam kacamata lahir.

Sebab manusia sebagai khalifah-Nya, adalah cermin Ilahiyah yang harus nampak kepada seluruh alam. Sebagai alatnya adalah kemanunggalan wujudiyah dan kesempurnaan hidup dan mati, sebagaimana terdapat dalam Sasahidan. Terdapat kesatupaduan antara Allah, Rasul dan manusia. Masing-masing bukanlah sesuatu yang saling asing mengasingkan. Itulah maksud saya. Inilah intisari pati puncaknya Wahyu Panca Gha’ib, dan ini hanya bisa dan dapat diketahui dengan cara. Mempraktekan atau Mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku atau IMAN.

Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejahteraan kehidupan, engkau sejatinya Allah, ya ingsun sejatinya Allah, yakni wujud yang berbentuk sejati itu, sejatinya Allah, sir (rahasia) itu Rasulullah, lisan (pengucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir dat sipat Allah atau rasa Allah, rahasia rasa kesejatian Allah, ya ingsun (AKU) ini sejatinya Romo. Maksudnya, kesejatian hidup, rahasia kehidupan hanya ada pada pengalaman laku kemanunggalan antara kawula-Gusti. Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci.

Adanya kehidupan itu karena pribadi-Ku, demikian pula keinginan Hidup, itupun ditetapkan oleh diri-Ku sendiri, tidak mengenal roh, yang melestarikan kehidupan, tiada turut merasakan sakit ataupun lelah. Suka dukapun musnah, karena tidak diinginkan oleh Hidup. Dengan demikian, Hidup dan kehidupannya itu, berdiri sendiri. Inilah yang disebut Hidup Bebas Merdeka (Wong Edan Bagu), yang pernah saya Wejangkan tempo dahulu di beberapa artikel saya.

kebebasan manusia dalam menentukan jalan hidup. Manusia merdeka adalah manusia yang terbebas dari belenggu kultural maupun belenggu struktural.

Dalam hidup ini, tidak boleh ada sikap saling menguasai antar sesama manusia, bahkan antara manusia dengan Tuhanpun, tidak boleh ada sikap salin menguasai, karena hakikat hidupnya, tidak ada yang menguasai dan yang dikuasai. Ini akan di ketahui secara jelas dan nyata, jika melihat intisari pati puncaknya Laku Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Sebab dalam manusia ada Roh Tuhan yang menjamin adanya kekuasaan atas pribadinya, dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Masih ingat kan? Tentang Wejangan-ku yang berbunyi; Galilah Rasa, yang meliputi seluruh tubuh. di dalam tubuh, ada Firman Tuhan, yang bisa menjamin Jiwa Ragamu, Lahir Bathinmu, Hidup Mati-mu, dan dunia akherat-mu.

Dan Allah itulah satu-satunya Wujud. Yang lain hanya sekedar mewujud. Cahaya hanya satu, selain itu, hanya memancarkan cahaya saja, atau pantulannya saja. Subtansi pernyataan-ku ini, tersebut jelas dalam Qs. Al-Baqarah/2;115, yang artinya. “Timur dan Barat kepunya’an Allah.

Maka ke mana saja kamu menghadap, di situlah Wajah Allah. ” Wujud itu dalam Pribadi, dan di dunia atau alam kematian ini, memerlukan wadah bagi pribadi untuk mengejawantah, menguji diri sejauh mana kemampuannya, mengelola keinginan wadag, sementara Pribadinya tetap suci/murni tan kemomoran/ternodai.

Dzat wajibul maulana, adalah, yang menjadi pemimpin budi, yang menuju ke semua kebaikan. Citra manusia hanya ada dalam keinginan yang tunggal. Satu keinginan saja, belum tentu dapat dilaksanakan dengan tepat, apalagi dua. Nah,,, cobalah untuk memisahkan Dzat wajibul maulana dengan budi, agar supaya kamu dapat menerima keinginan yang lain.

Manusia yang mendua, adalah, manusia yang tidak sampai kepada derajat kemanunggalan. Sementara manusia yang manunggal, adalah, pemilik jiwa yang iradah, dan kodratnya telah menyatu dengan Ilahi. Sehingga akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai oleh keinginan yang lain, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai hawa nafsu.

Maka agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara Dzat Wajibul Maulana dengan budi pakarti manusia. Dan sang Dzat Wajibul Maulana ini, berada di dalam kedirian manusia, bukan di luarnya.

Hyang Widhi, kalau dikatakan dalam bahasa di dunia ini, adalah baka, bersifat abadi, tanpa antara, tiada erat dengan sakit apapun, rasa tidak enak, ia berada baik disana, maupun di sini, bukan ini bukan itu.

Tingkah yang banyak dilakukan, dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar di dunia ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi yang sesungguhnya, itu angkasa yang hampa.

Tuhan adalah yang maha meliputi. Keberada’annya, tidak dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, keghaiban atau kematerian, hakikat keberadaan segala sesuatu, adalah keberadaan-Nya. Oleh karenanya, keberadaan segala sesuatu di hadapan-Nya, sama dengan ketidakberadaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia.

Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang baru” dalam arti, tidak mengikuti iradah-Nya. Raga seharusnya tunduk kepada jiwa yang dinaungi roh Ilahi. Sebab raga hanyalah sebagai tempat wadag bagi keberadaan roh itu. Karena itu, jangan terjebak hanya menghiasi wadahnya, karena seharusnya yang mendapat prioritas, untuk dipenuhi perhiasan dan dicukupi kebutuhannya, adalah isi dari wadah.

Gagasan adanya badan halus, itu mematikan kehendak manusia. Di manakah adanya Hyang Mulia? kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membubunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalamnya bumi, sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan wujud Hyang Mulia.

Kemana saja sunyi senyap adanya, ke Utara, Selatan, Barat, Timur dan Tengah, yang ada di sana hanya adanya di sini. Yang ada di sini bukan wujud-Ku. Yang ada dalam diri-Ku adalah hampa dan sunyi. Isi dalam daging tubuh, adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung, bukan otak yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekkah dan Madinah.

Aku ini bukan budi, bukan angan-angan, bukan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kehampa’an. Wujud-Ku  ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas-Ku mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali ke tempat asalnya, sebab semuanya itu barang baru, bukan asli.

Maka Aku ini Dzat sejiwa yang menyatu, menyukma dalam Hyang Widhi. Pengeran-Ku  bersifat Jalil dan Jamal, artinya Maha Mulia dan Maha Indah. Ia tidak mau sholat atas kehendak sendiri, tidak pula mau memerintah untuk shalat kepada siapapun.

Adapun shalat itu budi yang menyuruh, budi yang laknat dan mencelakakan, tidak dapat dipercaya dan dituruti, karena perintahnya berubah-ubah. Perkata’annya tidak dapat dipegang, tidak jujur, jika dituruti tidak jadi, dan selalu mengajak mencuri.

Ketahuilah wahai Anak Cucu-ku dan para Sedulur juga Kadhang-ku sekalian. Allah bukanlah sesuatu yang asing bagi diri manusia. Allah juga bukan yang ghaib dari manusia. Walaupun Ia penyandang asma al-Ghaib, namun itu hanya dari sudut materi atau raga manusia. Secara Rohiyah, Allah adalah ke-Diri-an manusia itu sendiri.

Dalam diri manusia terdapat Roh al-idhafi atau hidup, yang lebih de kenal dengan sebutan guru sejati, yang dapat membimbing manusia untuk mengenal dan menghampirinya. Sebagai sarananya, dalam otak kecil manusia, Allah menaruh God-spot (titik Tuhan), sebagai filter bagi kerja otak, agar tidak terjebak hanya berpikir materialistik dan matematis. Inilah titik laku spiritual, yang akan menghubungkan jiwa dan raga, melalui Roh al-idhafi atau Hidup.

Dari sistem kerja itulah, kemudian terjalin kemanunggalan abadi yang sempurna. Maka kalau ada anggapan bahwa Allah itu ghaib bagi manusia, sesuatu yang jauh dari manusia, saya berani tekankan, bahwa pandangan itu, benar-benar keliru dan sesat.

Sekali lagi Aku tegaskan, apa yang saya uraikan dan wejangkan ini, adalah suatu keda’an dan kesadaran murni yang sudah tidak ada tingkatannya lagi. Jika masih ada terdapat tingkatan, maka sebaiknya disempurnakan lagi. Karena tingkatan itu telah dilebur, menjadi satu dengan nama keyakinan, sehingga tidak ada perbedaan atau tingkatan lagi, masih ingat dengan wejangan saya tempo dulu?

Tentang kata-kata-ku yang menegaskan dengan cinta kasih sayang, bahwa diantara kita tidak ada perbeda’an, tidak ada istilah guru dan murid. Sebab semuanya sama, semuanya akan berpulang kepada Dzat Maha Suci, Tuhan sekalian Alam, apa kata Alam ini, ialah juga kehendak-Nya, yang merupakan wujud ADA dalam kehidupan manusia, beserta makhluk lainnya… Edan Tenan.

Jujur saya katakan, selagi dan selama Aku masih, memiliki raga didunia ini. Dalam alam kematian ini, saya kaya akan dosa. Siang malam saya berdekatan dengan api neraka. Sakit dan sehat saya temukan di dunia ini. Lain halnya apabila Aku sudah lepas dari alam kematian. Aku akan hidup kekal sempurna, langgeng tiada ini dan itu.

Maksud-ku. Dalam prespektif kemanunggalan yang sempurna, dunia adalah alam kematian yang sesungguhnya, dikarenakan roh Ilahinya, terpenjara dalam badan wadagnya. Dengan badan wadag, yang berhias nafsu itulah, terjadi dosa manusia. Sehingga keberadaan manusia di dunia, penuh dengan api neraka. Ini sangat berbeda kondisinya, dengan alam setelah manusia memasuki pintu kematian.

Manusia akan manunggal di alam kehidupan sejati/sebenarnya, setelah mengalami mati. Disanalah ditemukan kesejatian Diri yang tidak parsial. Dirinya yang utuh, sempurna, abadi, dengan segala kehidupan yang juga sempurna.

Wahai Anak Cucu dan Para Sedulur serta Para Kadhang kinasihku sekalian. Menduakan Tuhan, bukanlah perilaku-ku. Mengebelakangkan Laku bukanlah watak-ku!

Siapa yang mau mati! Dalam alam kematian ini, orang kaya akan dosa!

Jika Aku hidup, yang tak kenal ajal, akan langgeng hidup-ku, tidak perlu ini itu.

Akan tetapi, bila saya disuruh memilih, hidup atau mati? Aku tidak sudi!. Sekalipun saya hidup, biar Aku sendiri yang menentukan!. Tidak usah sesama manusia yang memulangkan saya ke alam kehidupan!. Saya akan pulang sendiri ke alam kehidupan sejati. Bukan karena sebab paksa’an siapapun dan apapun.

Karena bagiku, kematian hanya sebagai pintu kesempurnaan hidup yang sesungguhnya, maka, sebenarnya kematian juga, menjadi bagian tidak terpisahkan, dari keberadaan manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, bukan sesuatu yang bisa dipilih orang lain. Kematian adalah hal, yang muncul dengan kehendak Pribadi, menyertai keinginan pribadi, yang sudah berada dalam kondisi manunggal/menyatu.

Oleh karena itu, dalam sistem Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, sebenarnya tidak ada istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”, baik oleh Allah atau oleh siapapun. Sebab dalam hal mati ini, sebenarnya tidak ada unsur tekan-menekan atau paksa’an.

Pintu kematian, adalah, sesuatu hal yang harus dijalani secara sukarela, dan harus diselami pengetahuannya, agar ia mengetahui, kapan saatnya, ia menghendaki kematiannya itu, jika seseorang memang, tidak pernah mempersiapkan diri, dan tidak pernah mau mempelajari ilmu kematian, takan tau arahnya ke mana, dan tidak mengerti apa yang sedang dialami.

Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati, mati yang sempurna teramat eloklah dia. Manusia sejati, sejatinya yang sudah meraih puncak ilmu sejati. Tiada dia mati, hidup selamanya. Menyebutkan mati,  syirik.

Lantaran tak tersentuh lahat, hanya beralih tempatlah, dia memboyong keratonnya. Kenikmatan mati tak dapat dihitung…” “…Tersasar, tersesat, lagi terjerumus, menjadikan kecemasan, menyusahkan dalam patinya, itulah ilmunya orang remeh.

Wahai Anak Cucu dan Para Sedulur serta Para Kadhang kinasihku sekalian.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah keberada’an Allah. Disebut Imannya Iman.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah tempat manunggalnya Allah. Disebut Imannya Tauhid.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah sifatnya Allah. Disebut Imannya Syahadat.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kewaspadaan Allah. Disebut Imannya Ma’rifat.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah menghadap Allah. Disebut Imannya Shalat.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kehidupannya Allah. Disebut Imannya Kehidupan.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kepunyaan dan keagungan Allah. Disebut Imannya Takbir.

Aja was sumelang. Jangnalah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah pertemuan Allah. Disebut Imannya Saderah.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah kesucian Allah. Disebut Imannya Kematian.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, sebab engkau adalah wadahnya Allah. Disebut Imannya Junud.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah bertambahnya nikmat dan anugrah Allah. Disebut Imannya Jinabat.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah Asma Nama Allah. Disebut Imannya Wudlu.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah ucapan Allah. Disebut Imannya Kalam.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah juru bicara Allah. Disebut Imannya Akal.

Aja was sumelang. Janganlah ragu dan janganlah menyekutukan, karena engkau adalah wujud Allah, yaitu tempat berkumpulnya seluruh jagad makrokosmos, dunia akhirat, surga neraka,arsy kursi, loh kalam, bumi langit, manusia, jin, iblis laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu berkumpul di pucuknya jantung, yang disebut alam khayal (ala al-khayal). Disebut Imannya Nur Cahaya.

Yang disebut kodrat, itu yang berkuasa, tiada yang mirip atau yang menyamai. Kekuasannya tanpa piranti, keadaan wujudnya, tidak ada, baik luar maupun dalam, merupakan kesatuan, yang beraneka ragam.

Yang disebut Iradat itu, artinya kehendak yang tiada membicarakan, ilmu untuk mengetahui keadaan, yang lepas jauh dari panca indra ,bagaikan anak gumpitan lepas tertiup.

Inilah maksudnya syahadat: Asyhadu berarti jatuhnya rasa, Ilaha berarti kesetian rasa, Ilallah berarti bertemunya rasa, Muhammad berarti hasil karya yang maujud dan Pangeran berarti kesejatian hidup.

Mengertilah bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tahu, maka sakaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan.

Syahadat allah, allah badan lebur menjadi nyawa, nyawa lebur menjadi cahaya, cahaya lebur menjadi roh, roh lebur menjadi rasa, rasa lebur sirna kembali kepada yang sejati, tinggalah hanya Allah semata yang abadi dan berkematian.

Syahadat Ananing Ingsun, Asyhadu keberadaan-KU, La Ilaha bentuk wajah-Ku, Ilallah Tuhan-Ku, sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku, yaitu badan dan nyawa seluruhnya.

Syahadat Panetep Panatagana yaitu, yang menjadi bertempatnya Allah, menghadap kepada Allah, bayanganku adalah roh Muhammad, yaitu sejatinya manusia, yaitu wujudnya yang sempurna.

Shalat lima kali sehari semalam, adalah pujian dan dzikir, yang merupakan kebijaksanaan dalam hati, menurut kehendak pribadi. Benar atau salah, pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki.

Pada permulaan Aku shalat, budi-ku mencuri, pada waktu Aku dzikir, budi-ku melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak, lain dengan Dzat Maha yang bersama diri-ku, Nah, Aku inilah Yang Maha Suci, Dzat Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan.

Syahadat, shalat, dan puasa itu, adalah amalan yang tidak diinginkan, oleh karena itu, tidak perlu dilakukan. Adapun zakat dan naik haji ke Makkah, keduanya adalah omong kosong. Itu semua adalah palsu, dan penipuan terhadap sesama manusia. Menurut para auliya’ bila manuasia melakukannya, maka dia akan dapat pahala, itu adalah omong kosong, dan keduanya adalah orang yang tidak tahu.

Tiada pernah Aku menuruti perintah budi, bersujud-sujud di masjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelang. Sesungguhnya hal itu tidak masuk akal. Di dunia ini, semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada bedanya satu dengan yang lain. Oleh karena itu, Aku. Toso Wijaya Diningrat alias Jaka Tolos, yang lebih akrab di panggil WEB atau Wong Edan Bagu, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono atau Dzat Maha Suci.

Romo. Dialah yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa Maha Besar, lagi pula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas segala kehendak-Nya. Dialah Maha Kuasa, pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia, Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Rupa warna-nya tanpa cacat, seperti hamba-Nya. Di dalam raga manusia, ia tiada tampak. Ia sangat sakti menguasai segala yang terjadi, dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka.

Hyang Widhi atau Gusti Ingkang Moho suci, wujud yang tak tampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yang tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus menerus, menggambarkan kenyataan tiada dusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yang meniadakan permulaan, karena asal diri pribadi.

Mergertilah,,, bahwa sesungguhnya ini syahadat sakarat, jika tidak tahu, maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan.

Sir Toso Wijaya Diningrat alias Jaka Tolos mengetahui benar, di mana kemusnahan anta ya mulya, yaitu Dzat yang melanggengkan budi, berdasarkan dalil Romo, ialah dalil yang dapat memusnahkan beraneka ragam selubung, yaitu dapat lepas bagaikan anak panah, tiada dapat diketahui di mana busurnya. Syari’at, tarekat, hakekat, ma’rifat dan tasyawuf serta bla,,, bla,,, bla,,, lainnya, musnah tiada terpikirkan. Maka sampailah Toso Wijaya Diningrat alias Jaka Tolos di istana sifat yang sejati.

Kematian ada dalam hidup, hidup ada dalam mati. Kematian adalah hidup selamanya yang tidak mati, kembali ke tujuan asalnya, dan hidup langgeng selamanya, dalam hidup ini, ada surga dan neraka, yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Jika manusia masuk surga, berarti ia senang, bila manusia bingung, kalut, risih, muak, dan menderita, berarti ia masuk neraka. Maka kenikmatan mati, tak dapat dihitung.

Hidup itu bersifat baru, dan dilengkapi dengan panca indera. Panca indera ini, merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh yang mempunyai, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur lebur bersifat najis. Oleh karena itu, panca indera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pakarti, pikiran, angan-angan, dan kesadaran, berasal dari panca indera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup.

Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur, dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula, yang siang malam mengajak kita berbuat dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki juga akan menimbulkan kejahatan, kesombongan, yang pada akhirnya, membawa manusia ke dalam kenistaan, dan menodai citranya. Kalau sudah sampai sedemikian parahnya, manusia biasanya baru menyesali perbuatannya.

Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, dan sumsum, bisa rusak, dan bagaimana cara Anda memperbaikinya?

Biarpun bersembahyang, sholat, seribu kali setiap harainya dan tapa bertahun-tahun, akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi, akhirnya kena debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, apakah para wali, syekh, nabi, dapat membawa pulang dagingnya? saya rasa tidak dapat.

Alam semesta ini adalah baru. Tuhan tidak akan, membentuk dunia ini dua kali, dan juga, tidak akan membuat dunia ini dua kali, dan lagi, tidak akan membuat tatanan baru, ketahilah itu.

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini, pada hakikatnya adalah perbuatan Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk, pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi sangatlah salah besar, bila ada yang menganggap, bahwa yang baik itu dari Allah, dan yang buruk, adalah dari selain Allah.

Oleh karena itu, Af’al allah, harus dipahami dari dalam, dan dari luar diri manusia. Misalnya, saat manusia melemparkan tanah, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati, yang dipancarkan oleh Allah, kepada makhluk-Nya, yaitu kemampuan gerak lempar, dan tanah, yang terlempar, dari tangan seseorang itu, adalah, berdasar kemampuan kodrati dari Allah, ”maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan allah yang melempar tanah, ketika engkau bergerak melempar.

Di dunia ini, kita merupakan mayat-mayat, yang cepat atau lambat, akan menjadi rusak dan bercampur tanah. Ketahuilah juga, bahwa apa yang dinamakan kawulo-gusti, tidak berkaitan dengan seorang, manusia biasa seperti yang lain-lain.

Kawulo dan Gusti itu, sudah ada dalam diriku, siang dan malam, tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini, nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama Aku mati. Nanti kalau Aku sudah hidup lagi, gusti dan kawulo lenyap, yang tinggal hanya Hidup-ku sendiri, ketentraman langgeng dalam Anda sendiri. Bila kamu belum menyadari kata-kata-ku, maka dengan tepat, dapat dikatakan, bahwa kamu masih terbenam dalam masa kematian.

Di sini memang terdapat banyak hiburan macam warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat panca indera. Itu hanya impian, yang sama sekali tidak mengandung kebenaran, dan sebentar lagi, akan cepat lenyap.

Gilalah orang yang terikat padanya. Aku tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian, satu-satunya, yang ku usahakan, ialah kembali kepada Hyang Maha Suci Hidup-ku.

Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsupun bukan, bukan juga kekosongan, atau kehampaan, penampilanku, bagai mayat baru, andai menjadi gusti, jasad-ku dapat busuk bercampur debu, napsu terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru.

Jika engkau kagum kepada seseorang, yang engkau anggap Wali Allah, jangan engkau terpancang, pada kekaguman, akan sosok, dan perilaku yang diperbuatnya. Sebab saat seseorang, berada pada tahap kewalian, maka keberada’an dirinya, sebagi manusia telah lenyap, tenggelam ke dalam al-Waly.

Kewalian bersifat terus menerus, hanya saja, saat tenggelam dalam al-Waly. Berlangsungnya, Cuma beberapa saat saja. Dan saat tenggelam ke dalam al-Waly itulah, sang wali benar-benar menjadi pengejawantahan al-Waly.

Lantaran itu sang wali memiliki kekeramatan yang tidak bisa diukur dengan akal pikiran manusia, dimana karamah itu sendiri, pada hakekatnya, pengejawantahan al-Waly. Dan lantaran itu pula, yang dinamakan karamah, adalah sesuatu diluar kehendak sang wali pribadi. Semua itu semata-mata kehendak-Nya mutlak.

Kekasih Allah itu ibarat cahaya. Jika ia berada di kejahuan, kelihatan sekali terangnya. Namun jika cahaya itu, didekatkan ke mata, mata kita akan silau, dan tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semakin dekat cahaya itu kemata, maka, kita akan semakin buta tidak bisa melihatnya.

Artinya,,, engkau bisa melihat, cahaya kewalian, pada diri seseorang, yang jauh darimu. Namun engkau tidak bisa, melihat cahaya kewalian, yang memancar dari diri, orang-orang yang dekat denganmu.

Aku hanya akan memberi sebuah petunjuk, yang bisa digunakan untuk meniti jembatan (shiratal mustaqim) ajaib ke arahnya. Aku katakan ajaib, karena jembatan itu, bisa menjauhkan, sekaligus mendekatkan jarak mereka, yang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai.

Bagi kalangan awam, Kunci lazimnya dipahami, sebagai upaya memohon ampun kepada Allah, sehingga mereka memperoleh pengampunan. Tetapi bagi Wong Edan Bagu, Kunci, adalah upaya pembebasan diri, dari belenggu keakuan kepada Allah, sehingga memperoleh ampun, yang menyingkap tabir ghaib, yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma al- Ghaffar, terangkum makna Maha Pengampun dan juga Maha menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi. Ingat itu…!!!

Semua rintangan manusia, itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk, yang hidup di atas permukaan bumi. Allah membentangkan ,tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita, sebagaimana bumipun, berlapis tujuh, dan samuderapun berlapis tujuh. Bahkan neraka berlapis tujuh.

Tidakkah anda ketahui, bahwa suragapun berjumlah tujuh..?!

Tidakkah Anda ketahui, bahwa dalam beribadah kepada Allah, manusia diberi piranti, tujuh ayat, yang diulang-ulang dari Al-Quran? untuk menghubungkan dengan-Nya?

Tidakkah Anda sadari, bahwa saat Anda sujud, anggota badan Anda, yang menjadi tumpuan?

Di dunia ini manusia mati. Siang malam manusia berpikir dalam alam kematian, mengharap-harap akan permulaan hidupnya. Hal ini mengherankan sekali. Tetapi sesungguhnya, manusia di dunia ini, dalam alam kematian, sebab di dunia ini banyak neraka yang dialami. Kesengsaraan, panas, dingin, kebingungan, kekacauan, dan kehidupan manusia dalam alam yang nyata.

Dalam alam ini manusia hidup mulia, mandiri diri pribadi, tiada diperlukan lantaran ayah dan ibu. Ia berbuat menurut keingginan sendiri, tiada berasal dari angin, air, tanah, api, dan semua yang serba jasad. Ia tidak menginginkan atau mengaharap-harapkan kerusakan apapun. Maka apa yang disebut Allah, ialah barang baru, direka-reka menurut pikiran dan perbuatan masing-masing. He he he . . . Edan tenan.

Mayat-mayat hidup berkeliaran kemana-mana, ke Utara dan ke Timur, mencari makan dan sandang, yang bagus, dan permata, serta perhiasan yang berkilauan, tanpa mengetahui, bahwa mereka adalah mayat-mayat belaka. Yang naik kereta, dokar, bendi, atau motor, dan mobil itu, juga mayat, meskipun begitu, seringkali ia berwatak keji terhadap sesamanya.

Keadaan itulah ,dan begitulah yang Aku ketahui, tentang yang sedang dialami manusia sekarang. Dan demikian pula, yang di ketahui oleh Syekh Siti Jenar pada masanya, hingga tetep idep madep mantep, tak tergoyahkan, oleh ancaman mati para wali, yang pada akhirnya, Siti Jenar, siang malam, berusaha mensucikan budi, serta menguasai ilmu luhur dengan kemuliaan jiwanya. Hingga titik darah penghabisan.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku kinasihku. Ketahuilah…!!!

Di alam kematian ada surga dan neraka, dijumpai untung serta sial. Keadaan di dunia seperti ini, menurut dalil Samarakandi ”al-mayit pikruhi fayajitu kabilahu” artinya, Sesungguhnya orang yang mati, menemukan jiwa raga, dan memperoleh pahala surga serta neraka.

Dan ingatah… Surga neraka tidaklah kekal, ia dapat lebur, itupun letaknya, hanya dalam Perasa’an masing-masing pribadi manusia, senang puas itulah surga, adapun neraka ialah jengkel, kecewa dalam hati. Bahwa surga neraka terdapat diakhirat. Itulah hal yang semata khayal tidak termakan akal.

Sesungguhnya, meurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidak kekal. Yang menganggap kekal surga neraka itu, adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Hanya Allah Dzat Maha Suci  yang wajib abadi, kekal, langgeng, dan azali.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ingat…!!!

Sesungguhnya, tempat kebahagian, dan kemulian yang disebut, swarga oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam, disebut dengan nama Jannah (yang artinya taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan, yang di dalamnya hanya terdapat kebahagian dan kegembiraan.

Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar, yang disebut ’alailliyyin, al-Firdaus, al-Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Mawa, dan Darussalam. Di surga-surga itulah amalan orang-orang yang baik ditempatkan, sesuai amal ibadahnya selama hidup di dunia.

Sementara itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha, yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka, yang bertingkat-tingkat, dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika dalam ajaran Syiwa-Budha, dikenal ada tujuh neraka besar yaitu, Sutala, Watala, Talata, Mahatala, Satala, Atala, dan Patala. Maka dalam Islam juga dikenal tingkatan neraka yaitu, Jahannam, Huthama, Hawiyah, Saqar, Jahim, dal dan Wail.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Sebetulnya yang disebut awal dan akhir itu, berada dalam cipta kita pribadi, seumpama jasad di dalam kehidupan ini, sebelum dilengkapi dengan perabot lengkap, seperti umur 60 tahun, disitu masih disebut sebagai awal, maka disebut masyriq (timur) yang maknanya mengangkat, atau awal penetapan manusia, serta genapnya Hidup.

Yang di sebut Maghrib (Barat) itu penghabisan, artinya, saat penghabisan mendekati akhir, maksudnya setelah melalui segala hidup di dunia. Maka, sejatinya awal itu memulai, akhir mengakhiri. Jika memang bukan adanya, zaman alam dunia atau zaman akhirat, itu semua masih dalam keadaan hidup semua.

Untuk keadaan kematian, Aku sebut akhirat, hanyalah bentuk dari bergantinya keadaan saja. Adapun sesungguhnya, mati itu juga kiamat. Kiamat itu perkumpulan, mati itu roh, jadi semua roh itu, kalau sudah menjadi satu, hanya tinggal kesempurna’annya saja.

Moksanya roh, Aku sebut mati, karena dari roh itu, terwujud keberadaan Dzat semua, letaknya kesempurnaan roh itu, adalah musnahnya Dzat. Akan tetapi, bagi penerapan ma’rifat, hanya yang waspada dan tepat saja, yang bisa menerapkan aturannya. Disamping semua itu, sesungguhnya, semuanya juga hanya akan kembali kepada asalnya masing-masing.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Bahwa surga dan neraka itu dua wujud, terjadinya dari keadaan, wujud makhluk itu dari kejadian. Surga dan neraka, sekarang sudah tampak, terbentuk oleh kejadian yang nyata.

Aku berikan kiasan sebagai tanda bukti adanya surga, sekarang ini, berdasarkan wujud dan kejadian di dunia. Surga yang luhur itu, terletak dalam perasa’an yang senang.

Tidak kurang, orang duduk dalam kereta atau mobil mewah yang bagus, merasa sedih, bahkan menangis tersedu-sedu, sedang seorang pedagang keliling, berjalan kaki, sambil memikul barang dangangannya, menyanyi sepanjang jalan. Ia menyanyikan berbagai macam lagu, dengan suara yang terdengar mengalun merdu, sekalipun ia memikul, menggendong, menjinjing atau menyunggi barang dagangannya, pergi ke daerah seberang, Ia itu menemukan surganya, karena merasa senang dan bahagia. Ia tidur di rumah penginapan umum, berbantal kayu sebagai kalang kepala, dikerumuni serangga penghisap darah, tetapi ia dapat tidur nyenyak., ituah surga.

Orang disurga, segala macam barang serba ada, kalau ingin bepergian serba enak, karena kereta, bendi, mobil merzi, tersedia untuk mondar-mandir kemana saja. Tetapi apabila nerakanya datang, menangislah ia bersama istri, atau suaminya dan anak-anaknya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Manusia yang sejati itu, ialah yang mempunyai hak, dan kekuasaan Tuhan, yang Maha Kuasa, serta mandiri diri pribadi. Sebagai hamba, ia menjadi Hidup, sedang Dzat Maha Suci Hidup, menjadi nyawa. Hilangnya nyawa, bersatu padu dengan hampa, dan kehampaan ini, meliputi alam semesta.

Adanya Romo karena semedi, sebab dengan semedi, orang menjadi tidak tahu, akan adanya Dzat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri, hingga lenyap, dan terasa dalam pribadi. Ya,,, dia,,, ya,,, Aku. Maka dalam hati timbul gagasan, bahwa ia, yang semedi menjadi, Dzat yang mulia.

Dalam alam kelanggengan, yang masih di dunia ini, dimanapun sama saja, hanya manusia yang ada. Romo yang dirasakan, karena adanya waktu orang semedi, jika tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya, adanya Romo yang demikian itu, hanya karena nama saja.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki dua puluh sifat, sehingga dalam hal ini, antara agama Hindu-Budha-Kristen-Jawa dan Islam, sudah campur menjadi satu.

Di samping itu, roh dan nama sudah menyatu. Jadi, tiada kesukaran lagi, mengerti akan hal ini, dan semua sangat mudah dipahami.

Manusia hidup dalam alam dunia ini, hanya menghadapi dua masalah, yang saling berpasangan, yaitu baik buruk berpasangan dengan kamu, hidup berjodoh dengan mati, Tuhan berhadapan dengan hambanya.

Orang hidup, tiada merasakan ajal, orang berbuat baik, tiada merasakan berbuat buruk, dan jiwa luhur, tiada bertempat tinggal. Demikianlah, pengetahuan, yang bijaksana, yang meliputi cakrawala kehidupan, yang tiada berusaha, mencari kemulia’an kematian, hidup terserah kehendak sendiri.

Keadaan hidup itu, berupa bumi, angkasa, samudra, dan gunung seisinya, semua yang tumbuh di dunia, udara dan angin, yang tersebar di mana-mana, matahari dan bulan, menyusup di langit, dan keberadaan manusia sebagai yang terutama.

Romo bukan johor manik, yaitu ratna mutu manikam, bukan jenazah dan rahasia yang gaib. Syahadat itu kepalsuan. Akhirat di dunia ini tempatnya. Hidup dan matipun hanya didunia ini terjadinya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Bayi itu berasal dari desakan. Setelah menjadi tua, menuruti kawan. Karena terbiasa, waktu kanak-kanak, berkumpul dengan anak, setelah tua berkumpul dengan orang tua. Berbincang-bincanglah mereka, tentang nama sunyi hampa, saling bohong membohongi, meskipun sifat-sifat dan wujud mereka tidak diketahui.

Takdir itu tiada kenal mundur, sebab semuanya itu ada dalam kekuasaan Yang Murba Wasesa, yang menguasai segala kejadian.

Orang mati tidak akan merasakan sakit, yang merasakan sakit itu hidup, yang masih mandiri dalam raga. Apabila jiwa-ku telah melakukan tugasnya, maka dia akan kembali ke alam aning anung, alam yang tenteram bahagia, aman damai dan abadi.

Oleh karena itu, Syekh Siti Jenar, salah satu wali, yang pernah berhasil mencapai tingkatan ini, tidak takut walau diancam penggal oleh para wali, begitu juga Aku, Aku tidak takut akan bahaya apapun. Menurut pendapat-ku. Yang disebut ilmu itu, ialah segala sesuatu, yang tidak kelihatan oleh mata.

Mana ada Allah?

Baik di dunia maupun di akhirat sunyi. Yang ada Aku pribadi. Sesungguhnya besok, Aku hidup seorang diri, tanpa kawan yang menemani. Disitulah Dzatullah, mesra bersatu menjadi Aku. Karena Aku di dunia ini, mati, luar dalam Aku sekarang ini, yang di dalam hidup-ku besok, yang di luar kematian-ku sekarang.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Orang yang ingin pulang, ke alam kehidupan tidak sukar, lebih-lebih Seorang Putera Romo yang Aku Bimbing, sebab ia sudah paham, dan mengusai sebelumnya.

Di sini dia tahu rasanya di sana, di sana dia tahu rasanya di sini. Tiada bimbang akan manunggalnya sukma, sukma dalam keheningan, tersimpan di sanubari, terbukalah tirai, tak lain antara sadar dan tidur, ibarat kaluar dari mimpi, menyusupi rasa jati.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah dan Ingat…3xlah Pesan saya ini…!!!

Manusia Hidup itu, tidak boleh memiliki daya, atau keinginan yang buruk dan jelek. Manusia Hidup itu, tidak boleh berbohong. Manusia Hidup itu tidak boleh, mengeluarkan suara tidak enak didengar, dan menyakiti orang lain, tidak boleh mengkhianati terhadap sesama manusia hidup, tidak boleh benci pada apapun dan dengki serta iri hati pada siapapun. tidak boleh membuat fitnah.

Karena itu dapat mempersulit Lakonmu dan memperberat Lakumu. Dan engkau pasti, tidak akan mampu, dengan kesulitan dan keberatan, yang kau buat sendiri itu, dalam mencapai kemanunggalan-mu. Sebab Hyang Maha Suci itu, tak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali dengan Suci pula.

Bila jiwa badan lenyap, orang menemukan kehidupan dalam Hidup, yang sungguh nyata, dan tanpa bandingan. Ia dapat diumpamakan dengan isinya buah kamumu. Pramana menampilkannya, manunggal dengan asalnya, dan dilahirkan olehnya, tetapi yang kau lihat, yang nampaknya sebagai sebuah boneka, penuh mutiara bercahaya indah, yang memancarkan sinar-sinar menyala-nyala, itu yang dinamakan pramana.

Pramana itu kehidupan badan. Ia manunggal dengan badan, tetapi tidak ambil bagian, dalam suka dan dukanya. Ia berada di dalam badan.Tanpa turut tidur dan makan, tanpa menderita kesakitan atau kelaparan. Bila ia terpisah dari badan, maka badan ikut tertinggal tanpa daya, lemah. Pramana itulah yang mampu mengemban rasa, karena ia dihidupi oleh Hidup. Kepadanya diberi anugrah mengemban kehidupan, yang dipandang sebagai, rahasia Rasa-nya Dzat.

Penggosokan terjadi, karena digerakkan oleh angin. Dari kayu yang menjadi panas, muncul-lah asap, kemudian api. Api maupun asap keluar dari kayu. Perhatikanlah saat permulaan segala sesuatu, segala yang dapat diraba, dengan panca indera, keluar dari yang tidak kelihatan tersembunyi.

Ada orang yang menyepi dipantai. Mereka melakukan konsentrasi di tepi laut. Buka dua hal yang mereka pikirkan. Hanya Pencipta semesta alam, yang menjadi pusat perhatiannya. Karena kecewa, belum dapat berjumpa dengan-Nya, maka mereka lupa makan dan tidur.

Badan jasmani disebut cermin lahir, karena merupakan cermin, jauh dari apa yang dicari, dalam mencerminkan, wajah dia yang ber-paes. Cermin batin jauh lebih dekat.

Siang malam, terus menerus mereka lakukan shalat. Dengan tiada hentinya, terdengarlah pujian dan dzikir mereka. Dan kadang mereka mencari tempat lain, dan melakukan konsentrasi di kesunyian hutan. Luar biasalah, usaha mereka, hanya Penciptalah, yang menjadi pusat pandangannya. Badan cacat kita cela, keutamaan, kerendahan hati kita puji, tetapi keadaan kita, ialah digerakkan dan didorong olek Hidup. Tetapi Hidup tidak tampak, yang nampak hanya adzan.

Cermin batin itu, bukanlah cermin yang dipakai orang-orang biasa. Cermin ini, sangat istemewa, karena mendekati kenyataan. Bila kau mengetahui, badan yang sejati, itulah yang dinamakan kematian terpilih. Bila engkau melihat badanmu, Aku turut terlihat. Bila kau tidak memandang dirimu begitu, kau sungguh tersesat.

Hidup tidak jauh dari pribadi. Ia tinggal di tempat itu-itu jua. Ia jauh kalau dipandang jauh, tetapi dekat kalau dianggap dekat. Ia tidak kelihatan, karena antara Dia dan manusia, terdapat ke keadaan-Nya, yang meresapi segala-galanya. Hyang Maha Suci Hidup, menyembunyikan Diri, terhadap penglihatan, sehingga ia lenyap sama sekali, dan tak dapat dilihat. Kontemplasi terhadap Dia, yang benar lenyap dan berhenti.

Jalan untuk menemukan-Nya, dilacak kembali dari puncak gunung. Tetapi Hyang Maha Suci Hidup sendiri, tidak dapat dilihat. Cepat orang turun dari gunung dan dengan seksama orang melihat ke kiri ke kanan. Namun Dia tidak ditemukan, hati orang itu berlalu penuh duka cita dan kerinduan.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Hendaklah waspada, terhadap penghayatan, roroning atunggil, agar tiada ragu terhadap bersatunya Hidup, pengahayatan ini terbuka di dalam penyepian, tersimpan di dalam kalbu. Adapun proses terungkapnya tabir penutup alam gaib, laksana terlintasnya dalam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk. Penghayatan ghaib itu datang laksana lintasan mimpi.

Sesungguhnya, orang yang telah menghayati semacam itu, berarti telah menerima anugerah Tuhan. Kembali ke alam sunyi. Tiada menghiraukan kesenangan duniawi. Yang Maha Kuasa telah mencakup pada dirinya. Dia telah kembali ke asal mulanya.

Mati raga, orang-orang ulama, yang mengundurkan diri, di dalam kesunyian hutan, ialah hanya, memperhatikan yang satu itu, tanpa membiarkan pandangan mereka menyimpang. Mereka tidak menghiraukan kesukaran tempat tinggal mereka, hanya Dialah yang melindungi badan hidup mereka yang diperlihatkan. Tak ada sesuatu yang lain, yang mereka pandang, hanya Sang Penciptalah, yang mereka perhatikan.

Yang menciptakan, mengemudi dunia, adalah tanpa rupa atau suara. Kalbu manusia yang dipandang, sebagai wisma-Nya. Carilah Dia dengan sungguh-sungguh, jangan sampai pandanganmu, terbelah menjadi dua. Peliharalah baik-baik iman, kepercayaanmu, dan tolaklah hawa nafsumu. Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jangan tersenyum, seolah-olah kau sudah mengerti, bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Itu semua hanya berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati, ialah meninggalkan, sembah dan patrap, kalimah doa dan pujian, yang diungkapkan dengan kata-kata.

Sembah Patrap dan doa puji yang sempurna, ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya sendiri, tidak lagi dipandang. Papan tulis dan tulisan sudah lebur, kualitas tak ada lagi. Adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang. Tidak ada lagi sesuatu. Maklumilah. (TIDAK ADA APA-APA. APA-APA ITU TIDAK ADA. YANG ADA HANYA AK-KU Yang Ber-Haq).

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika kamu bijaksana mengatur tindakanmu, engkau akan tau, tanpa guna orang menyembah Rabbu’l ‘alamien, Tuhan sekalian alam, sebab di dunia ini, tidak ada Hyang Agung. Karena orang melekat pada bangkai, meskipun dicat, dilapisi emas, akhirnya membusuk juga, hancur lebur, bercampur dengan tanah.

Orang yang sembahyang, siang malam tiada putusnya, di lakukan itu, tidak akan memperoleh apa-apa, baik di sana, maupun di sini. Nyatanya, kalau ia sakit, ia menjadi bingung. Jika tidur seperti budak, disembarang tempat. Jika ia miskin, mohon agar menjadi kaya, tidak dikabulkan.

Apalagi bila ia sakaratul maut, matanya membelalak tiada kerohan. Karena ia segan meninggalkan dunia ini. Umumnya orang dungu, hanya berdzikir, dalam keadaan kosong, dari kenyataan yang sesungguhnya, membayangkan adanya rupa Dzatu’llahu, kemudian ada rupa, dan inilah yang ia anggap Hyang Widhi/Tuhan/Allah, hal ini benar-benar dan jelas sesat. Maka jangan kau turuti.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Banyak orang yang gemar dengan kesejatian, tapi karena belum pernah berguru, maka semua itu dipahami dalam konteks dualitas. Yang satu dianggap wujud lain. Sesungguhnya orang yang melihat sepeti ini, akan kecewa. Apalagi yang ditemui akan menjadi hilang. Walaupun dia berkeliling mencari, ia tidak akan menemukan yang dicari.

Padahal yang dicari, sesungguhnya, telah ditimang dan dipegang, bahkan sampai keberatan membawanya. Dan karena belum tahu kesejatiannya, ciptanya tanpa guru, menyepelekan tulisan, wejangan dan kesejatian Tuhan.

Orang seperti ini, walaupun dituturkan sampai capek, ditunjukkan jalannya, dia tidak akan memahaminya, karena ia hanya sibuk menghitung dosa besar dan kecil yang diketahuinya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Tentang hal kufur dan kafir yang ditolaknya, tentang amal dan ibadah yang dilakukannya, bukti bahwa ia adalah orang yang masih mentah pengetahuannya. Walaupun tidak pernah lupa sembahyang, puasanya dapat dibangga-banggakan tanpa sela, tapi ia terjebak menta’ati yang sudah ditentukan Tuhan.

Sembah puji dan puasa yang ditekuninya, membuat orang-orang itu justru lupa akan sangkan paran dumadi (asal usul kejadian dan tujuannya). Karena itu, ia lebih konsentrasi melihat dosa besar-kecil, yang dikhawatirkannya, dan ajaran kufur-kafir yang dijauhinya, justru membuat bingung sikapnya.

Tidak ada dulu dinulu. Tidak merasa, tidak menyentuh. Tidak saling mendekati, sehingga butalah orang itu. Takdir dianggap tidak akan terjadi, salah-salah menganggap ada dualisme antara Maha Pencipta dan Maha Memelihara.

Awas… waspadalah, jangan kau turut orang-orang yang seperti itu. Tetep idep madep manteplah didalam Laku Wahyu Panca Gha’ib.
Pada awalnya, tidak terhitung tidak berfikir. Aku menggeluti tata lafal, mengkaji sembahyang/shalat, dan letih berpuasa. Semua itu Aku anggap, akan mampu mengantarkan-ku pada kesempurna’an. Padahal, menjadikan aku celaka, dan bahkan menjadi banyak berhala.

Pemikiran-ku sejak awal, belajar mendalami agama, Islam tidak dengan sembahyang/shalat, Islam tidak dengan pakaian, Islam tidak dengan waktu, Islam tidak dengan baju, dan Islam tidak dengan bertapa.

Setelah Aku berhasil mencapai Titik finisnya, ternyata, yang dimaksud Islam tidak karena menolak atau menerima yang halal atau haram, yang dimaksud Islam itu, mulia wisesa jati, kemuliaan selamat sempurna, sampai tempat tinggalnya besok. Seperti bulu selembar atau tepung segelintir, hangus tak tersisa. Kehidupan di dunia ini, seperti itu keberadaannya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Siapapun dia, sebelum tahu makna Alif, akan menjadi berantakan. Alif menjadi panutan sebab untuk semua huruf, alif adalah yang pertama. Alif itu badan idlafi, sebagai anugerah.

Dua-duanya bukan Allah. Alif merupakan takdir, sedangkan yang tidak bersatu namanya alif-lapat. Sebelum itu, jagat ciptaan-Nya sudah ada. Lalu alif menjadi gantinya, yang memiliki wujud tunggal. Ya, tunggal rasa, tunggal wujud.

Ketunggalan ini harus dijaga betul, sebab tidak ada yang mengaku tingkahnya. ALif wujud adalah Yang Agung. Ia menjadi wujud mutlak yang merupakan kesejatian rasa. Jenisnya ada lima, yaitu alif mata, wajah, niat jati, iman dan syari’at.

Allah itu, penjabarannya, adalah dzat Yang Maha Mulia, dan Maha Suci. Allah itu sebenarnya tidak ada lain, karena kamu itu Allah. Aku ini Allah. Dan Allah semua yang ada ini, lahir batin kamu ini, semua tulisan, merupakan ganti dari alif, Allah itulah adanya.

Alif penjabarannya, adalah permulaan pada penglihatan, melihat yang benar-benar melihat. Adapun melihat Dzat itu, merupakan cermin ketunggalan sejati, menurun kepada kesejatianmu. Cahaya yang keluar, kepada otak keberadaan kita di dunia ini, merupakan cahaya yang terang benderang, itu memiliki seratus dua puluh tujuh kejadian. Menjadi penglihatan dan pendengaran, napas yang tunggal, napas kehidupan yang dinamakan Panji. Panji bayangan dzat, yang mewujud pada kebanyakkan imam. Semua menyebut dzikir sejati, Laa ilaaha illallah. (Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci).

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Banyak orang yang salah menemui ajalnya. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, panca indera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung, dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya, belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah. Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan, yang menyesatkan dan tidak nyata.

Budi dan daya hidupnya, tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini, dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan rasa dan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu, dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup, yang tiada kenal mati. Sesungguh nyalah dunia ini neraka.

Dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini, tidak ada Hyang Agung, serta malaikat. Akan tetapi bila Aku besok sudah ada di alam kehidupan-ku, akan berjumpa, dan kadang kala Aku menjadi Allah. Nah,,, di situ Aku akan bersembahyang/shalat.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika ada yang berkata, bahwa Allah menciptakan alam semesta. Itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Allah tidak membuat barang yang berwujud, menurut dalil; layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud.

Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya; drikumahiyati : artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini: la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya, kalau Aku menguraikan, bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam al-qur’an.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika ada yang bertanya, di mana rumah Hyang Widhi/Allah? Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua zat. Zat wajibul wujud, itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Zat, tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau Aku terangkan. Oleh karena itu, Aku ambil intisaripatinya saja.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika ada yang bertanya, berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis, ke manakah perginya nyawa itu? Nah,,, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad , berupa gundukan, tak dapat aus, rusak dimakan andai-andai.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika ada yang bertanya bagaimanakah rupa Yang Maha Suci Hidup itu? Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan; Wa Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya, lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widhi/Allah/Hyang Maha Suci Hidup. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widhi/Allah/Hyang Maha Suci Hidup.

Di beberapa Wejangan yang telah berlalu, Aku pernah mewedarkan asal-usul manusia dengan jelas, semua yang Aku Wejangkan, tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang. Bendera kelompok atau kotak-kotak golongan. Semua penjelasan. Aku berikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun, kecuali keberhasilan-mu dalam belajar menggali Rasa Sejati.

Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang gaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.”

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Aku sudah pernah keliling jagat, sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para Pembimbing mu’min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pengeran-ku.

Tapi,,, ajaran yang dituntunkan itu, menuntun serta membuat-ku menjadi bingung, dan menurut pendapat-ku, ajarannya sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, begitupun sebaliknya, karena hasilnya tidak sesuai dengan yang di praktekan, kemudian Aku mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Aku mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal, ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadhan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun.

Jadi jelas kalau Aku dulu itu masih manganut agama Budha, berkedok agama islam, buktinya, Aku masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung, atau tepi samudera, dengan mengheningkan cipta, sebagai lelaku demi terciptanya keinginan-ku, agar dapat bertemu dengan Hyang Maha Suci Hidup. Itulah buktinya bahwa Aku masih dikuasai setan ijajil.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku kinasihku. Ingatlah…!!!

Dengan 5 wasiat laku dibawah ini, yang pernah Aku pelajari dan aku praktekan disetiap waktunya hingga sekarang. Yang berhasil menuntun-ku, bisa mencapai titik finis idaman-ku. 5 wasiat laku dibawah ini, Yang menjadi intisaripatinya semua ilmu dan ajaran. Dan 5 wasiat lelaku, yang di amanahkan kepada-ku oleh Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono atau Dzat Maha Suci ini, kini Aku limpahkan dan Aku Amanah kepadamu sekalian.

Wahyu Panca Laku-IMAN;

  1. Manembahing Kawula Gusti.
  2. Manunggaling Kawula Gusti.
  3. Leburing Kawula Gusti.
  4. Sampunaning Kawula Gusti.
  5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Wahyu Panca Laku-IMAN-Arti Dan Maksudnya;

  1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
  2. Menerima keputusan Dzat Maha Suci.
  3. Mempersilahkan Kuasa Dzat Maha Suci.
  4. Merasakan keberadaan Dzat Maha Suci.
  5. Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.

Gunakan Wahyu Panca Laku yang lebih di kenal dengan sebuatan IMAN itu, untuk menjalankan Wahyu Panca Ghaib. Jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Tuhan yang membuat bumi dan langit, jadi manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula). Pakailah budi, syukur, sabar, menerima, jujur dan rela/legowo.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahui dan Ingat…3xlah Pesan saya ini…!!!

 

Kesempurnaan Iman, itu ada DUA PULUH. Adapun manunggalnya keimanan, itu menjadi tempat berkumpulnya jauhar (mutiara) Muhammad, terdiri atas 15 perkara. Berikut ini Perinciannya:

 

  1. Imannya imam;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah keberadaan Allah.

 

  1. Imannya tauhid;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah tempat manunggalnya Allah.

 

  1. Imannya syahadat;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah sifatullah, artinya, sifatnya Allah.

 

  1. Imannya ma’rifat;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kewaspada’an Allah.

 

  1. Imannya shalat;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah menghadap Allah.

 

  1. Imannya kehidupan;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah.

 

  1. Imannya takbir;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kepunyaan keangungan Allah.

 

  1. Imannya saderah;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah pertemuan Allah.

 

  1. Imannya kematian;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kesucian Allah.

 

  1. Imannya junud;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah wadahnya Allah.

 

  1. Imannya jinabat;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kawimbuhaning, artinya, bertambahnya ni’mat dan anugerah Allah.

 

  1. Imannya wudlu;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah asma, artinya, Nama Allah.

 

  1. Imannya kalam (perkataan);

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah ucapan Allah.

 

  1. Imannya akal;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah juru bicara Allah.

 

  1. Imannya nur;

Maksudnya adalah, jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah wujudullah, yaitu tempat berkumpulnya seluruh jagat (makrokosmos), dunia akhirat, surga neraka, ‘arsy kursi, loh kalam (lauh al-kalam), bumi langit, manusia, jin, belis (iblis) laknat, malaikat, nabi, wali, orang mukmin, nyawa semua, itu berkumpul di pucuknya jantung yang disebut alam kiyal (‘alam al-khayal), maksudnya adalah angan-angannya Tuhan, itulah yang agung yang disebut alam barzakh, yang dimaksudnya adalah pamoring gusti kawula, yang disebut alam mitsal, yang dimaksudnya adalah awal pengetahuan, yaitu kesucian dzat sifat asma af’al, yang disebut alam arwah, maksudnya berkumpulnya nyawa yang dipenuhi sifat kamal jamal.

Kemanunggalan Iman yang sudah saya wedarkan tadi, merupakan aplikasi iman dalam bentuk keimanan Manunggaling Kawula-Gusti atau rangkuman dari semua isi Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci. Itulah. Bukti bahwa fungsi manusia sebagai khalifatullah (wakil real Allah) di muka bumi benar-benar nyata. Manusia adalah cermin dan pancaran wujud Allah, dengan fungsi iradah dan kodrat yang berimbang. Semua bentuk syari’at agama, ternyata memiliki wujud implementasi bagi tekad hatinya, sekaligus ditampakkan melalui tingkah lahiriyahnya.

Maksud dari kalimat jangan ragu dan jangan menyekutukan, engkau adalah kehidupannya Allah. Artinya,,, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib. Manusia diajak untuk membuktikan keberadaan Allah secara langsung, bukan hanya memahami “keberadaan” dari sisi nalar-pikir (ilmu) dan Perasa’an sentimen makhluk (perasaan yang dipaksa dengan doktrin surga dan neraka). Artinya,,, Wahyu Panca Gha’ib. Mengajarkan dan mengajak manusia bersama-sama “merasakan” Allah dalam diri pribadi masing-masing.

Adapun yang di maksud Iman, adalah pangandeling (pusaka andalan) roh. Tauhid, itu, panunggale (saudara tak terpisah, tempat manunggalnya) roh. Ma’rifat, itu penglihatan roh. Kalbu, itu penerima’an (antena penerimanya) roh. Akal, itu pembicara’annya roh. Niat, itu pakaremaning roh. Shalat, itu menghadapnya roh. Syahadat, itu keada’an roh.

Itulah maksud dari masing-masing doktrin pokok tauhid dan fiqih, ketika dikaitkan dengan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Wahyu Panca Gha’ib”. Iman, tauhid, ma’rifat, qalbu, dan akal adalah doktrin pokok dalam ajaran Tauhid. Dan niat, shalat serta syahadat adalah doktrin pokok fiqih, semua itu adalah, merupakan serangkaian bentuk perbuatan roh manusia, masing-masing memiliki peran dan fungsi yang dapat menggerakkan seluruh kepribadian manusia, lahir dan batin, roh dan jasadnya. Itulah makna keimanan yang sesungguhnya. Sebab rukun iman, rukun Islam dan ihsan pada hakikatnya adalah suatu kesatuan yang utuh, yang membentuk kepribadian illahiyah pada kedirian manusia.

Sedangkan yang di maksud kodrat dan iradat, itu bukanlah hal yang terpisah dari manusia, dan bukan mutlak milik Allah. Kodrat dan iradat terkait erat dengan eksistensi sang Pribadi (manusia). Pribadi adalah eksistensi roh. Maka jika roh adalah pancaran cahaya-Nya, pribadi adalah tajalli-Nya, penjelmaan Diri-Nya. Pribadi adalah Allah yang menyejarah.

Maka… Akulah sang pemilik dua puluh sifat ketuhanan. Maka kamulah sang pemilik dua puluh sipat ketuhanan itu, kodrat merupakan kuasa pribadi kita, sifat yang melekat pada pribadi, sejak zaman azali dan itu langgeng. Demikian pula adanya iradat, adalah kehendak atau keinginan kita sendiri.

Antara karsa, keinginan dan kuasa, adalah hal yang selalu berkelindan, bagi wujud keduanya. Tentu menyangkut kehendak, setiap pribadi memiliki karsa yang mandiri dan yang berhak merumuskan, hanyalah “perundingan” antara pemilik iradah dengan Yang Maha Memiliki Iradah.

Kemudian untuk mewujudkan rasa cipta itu, perlu juga pelimpahan kodrat Allah pada manusia. Untuk itu semua. Wahyu Panca Gha’ib, mendidik manusia untuk mengetahui Yang Maha Kuasa, dan mengetahui letak pintu kehidupan serta kematian. Tujuannya jelas, agar manusia menjadi Pribadi Sejati, pemilik iradah dan kodrat bagi dirinya sendiri.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. ketahuilah. Inilah yang di maksud syahadat. Ashadu itu, jatuhnya rasa, ilaha itu, kesejatian rasa, illallah itu bertemunya rasa. sedangkan Muhammad hasil karya yang maujud, Pengeran itu kesejatian Hidup.

Jatuhnya rasa (tibaning rasa) maksudnya adalah meresapnya Allah dalam kehendak dan kedalaman jiwa. Ini kemudian dipupuk dengan laku spiritual Wahyu Panca Gha’ib, yang melahirkan sajatining rasa (kesejatian rasa), di mana ruang keseluruhan jiwa telah terdominasi oleh al-Haqq (Allah). Kemudian lahirlah ungkapan illallah sebagai puncak, yakni pertemuan rasa, manunggalnya yang mengungkapkan “asyhadu” dengan sarana ungkapan, yakni Allah. Kemanunggalan ini memunculkan tenaga dan energi kreativitas positif, dalam bentuk karya yang berbentuk nyata, bermanfaat dan berdaya guna, serta bersifat langgeng, yang diidentifikasikan dengan sebutan Muhammad (Yang Memiliki Segala Keterpujian) sebagai perwujudan riil dari sang Wajib al-Wujud.

Maka diri manusia sebagai ”Pengeran” (Tuhan) itulah yang merupakan kesejatian hidup atau kehidupan. Syahadat yang sebenarnya, bukanlah hanya sekedar bentuk pengakuan lisan yang berupa syahadat tauhid dan syahadat rasul.

Namun syahadat adalah persaksian batin, yang teraplikasi dalam tindakan dzahir sebagai wujud kemanunggalan kawula-Gusti. Dengan demikian syahadat mampu melahirkan karya-karya yang bermanfaat.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah, berikut ini adalah beberapa kalimah syahadat yang bersipat Sejati.

Syahadat Sejati;
Ashadu-ananingsun, la ilaha-rupaningsun, illallah-Pengeransun, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, kang badan nyawa kabeh.

Itulah yang disebut Syahadat Sajati. Pengakuan sejati ini adalah ungkapan yang sebenarnya bersifat biasa-biasa saja, di mana ungkapan tersebut lahir dari hati dan rohnya, sehingga dari ungkapan yang ada dapat diketahui sampai di mana tingkatan tauhidnya (tauhid dalam arti pengenalan akan ke-Esaan Allah), bukan sekedar pengenalan akan nama-nama Allah.

Syahadat Paleburan;

Syahadat Allah, Allah, Allah lebur badan, dadi nyawa, lebur nyawa dadi cahya, lebur cahya dadi idhafi, lebur idhafi dadi rasa, lebur rasa dadi sirna mulih maring sajati, kari amungguh Allah kewala kang langgeng tan kena pati.

Syahadat paleburan diucapkan ketika menjalani keheningan-samadhi, menyatukan diri kepada Allah.

Syahadat Panetep panatagama;

Syahadat Panetep panatagama, kang jumeneng roh idlafi, kang ana telenging ati, kang dadi pancere urip, kang dadi lajere Allah, madhep marang Allah, iku wayanganku roh Muhammad, iya, iku sajatining manungsa, iya iku kang wujud sampurna. Allahumma kun walikun, jukat astana Allah, pankafatullah ya hu Allah, Muhammad Rasulullah.

Syahadat Panetep panatagama, adalah Syahadat untuk meneguhkan hati akan tauhid al-wujud. Pengucapannya tidak berhubungan dengan waktu, tempat, dan keadaan tertentu sebagaimana syahadat yang lain. Hakikat syahadat ini hanyalah berfungsi

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah, berikut ini adalah beberapa kalimah Syahadat Sakarat Sejati. jika tidak tau maka sekaratnya masih mendapatkan halangan, hidupnya dan matinya hanya seperti hewan. Lafalnya adalah.

Syahadat Sakarat Sejati;

Iya Syahadat Sakarat, wus gumanang waluya jati, sirne eling, mulya maring tunggal, waluya jati, iya sajatining rasa, lan dzat sajatining dzat, pesthi anane langgeng, tan kenaning owah, dzat sakarat, roh madhep, ati muji matring nyawa, tansah neng dzatullah, kurungan mas melesat, eling raga tan rusak, sukma mulya Maha Suci.

Syahadat Sakarat Sejati, adalah Syahadat Sakarat ketika Menjelang proses datangnya pintu kematian, sudah nyata penuh kesempatan, hilangnya ingatan kemuliaan, kepada yang tunggal, keselamatan dan kesentosaan itu, adalah sejatinya kehidupan, tunggal sejatinya hidup, hidup sejatinya rasa dan sejatinya rasa, dan dzat sejatinya, dzat pasti dalam keberadaan kelanggengan tidak terkena perubahan, dzat sekarat roh menghadap hati memuji nyawa, selalu berada dalam dzatullah, sangkar mas hilang, mengingat raga tidak terkena kerusakan sukma mulia Maha Suci.

Sekarat itu kemuliaan kematian, maksudnya adalah napas munculnya napas, yang hilang berangsur-angsur secara diam-diam, yaitu yang kemudian diam, kematian sebagai sukma badan-wadag, kemuliaan sukma kesempurnaan, kembali kepada dzatullah, Allah sebagai labuhan iman, iman yang berbentuk cahaya, cahaya yang berwujud Rasulullah, yaitu adalah shalat yang agung, Muhammad sebagai takbirku, Allah sebagai ucapanku, shalat sejati menyembah Allah, tidak ada Allah tidak ada Tuhan, hanyalah aku (kawula) yang tunggal saja, yang agung dan dikasihi.

Syahadat Sakarat Hati;

Ashadu ananingsun, anuduhake marga kang padhang, kang urip tan kenaning pati, mulya tan kawoworan, elinge tan kena lali, iya rasa iya rasulullah, sirna manjing sarira ening, sirna wening tunggal idhep jumeneng langgeng amisesa budine, angen-angene tansah amadhep ing Pangeran.

Syahadat Sekarat Hati pada hakikatnya adalah syahadat Nur Muhammad. Suatu penyaksian bahwa kedirian manusia adalah bagian dari Nur Muhammad. Dari inti syahadat ini, jelas bahwa kematian manusia bukanlah jenis kematian pasif, atau kematian negatif, dalam arti kematian yang bersifat memusnahkan. Kematian dalam pandangan Wahyu Panca Gha’ib, hanya sebagai gerbang menuju kemanunggalan, dan itu harus memasuki alam Nur Muhammad (HIDUP). Bentuk konkretnya, dalam pengalaman kematian itu, orang tersebut tidaklah kehilangan akan kesadaran manunggal-Nya. Ia melanglang buana menuju asal muasal hidup.

Syahadat Sakarat Roh;
Ini adalah syahadat sakaratnya roh (pecating nyawa), yang meliputi empat perkara:

  1. Ketika roh keluar dari jasad, yakni ketika roh ditarik sampai pada pusar, maka baca’an syahadatnya adalah.

“la ilaha illallah Muhammad rasulullah”.

 

  1. Kemudian, ketika roh ditarik dari pusar sampai ke hati, baca’an syahadatnya adalah.

“la ilaha illa Anta”.

 

  1. Kemudian, ketika roh ditarik sampai otak, baca’an syahadatnya adalah.

“la ilaha illa Huwa”.

 

  1. Maka kemudian roh ditarik dengan halus. Saat itu sudah tidak mengetahui jalannya keluar roh dalam proses sekarat lebih lanjut.

Sekaratnya manusia itu sangat banyak sakitnya, seakan-akan hidupnya sekejap mata, sakitnya sepuluh tahun. Dalam keadaan seperti itulah, manusia kena cobaan setan, sehingga kebanyakkan, kelihatan, bahwa kalau tidak melihat jalan keluarnya roh, menjadi lama dalam proses sekaratnya. Jika rohnya tetap mendominasi kesadarannya, tidak kalah oleh sifat setan, maka syahadatnya roh adalah “la ilaha illa Ana”.

Ajaran tentang syahadat sejati itu tadi, hanya berlaku bagi orang yang belum mampu menempuh laku manusia manunggal, artinya, belum memiliki Wahyu Panca Gha’ib. sehingga diperlukan prasyarat lahiriyah, yang berupa Syahadat Sejati; Syahadat Paleburan; Syahadat Panetep panatagama; dalam bejalar manunggal.

Apa bila dalam belajar, sebelum berhasil manunggal, sudah kedatangan ajal terlebih dahulu. Maka diperlukan prasyarat lahiriyah juga, yang berupa Syahadat Sakarat Sejati; Syahadat Sakarat Sejati; Syahadat Sakarat Roh. tersebut. Agar bisa tertuntun, tidak tersiksa lama. Bagi yang sudah mampu menempuh laku manunggal, maka prosesnya kematian bukan masalah, kapan ajalnya datang, juga bukan masalah. Kematian termasuk dalam salah satu agenda manunggalnya iradah dan qudrat kawula Gusti dan sebaliknya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Jika seorang Putero Romo benar-benar sudah manunggal, benar-benar Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci. Maka,,, apa yang menjadi ilmu Romo, maka itu adalah ilmu Putero Romo. Artinya… Pasti mengetahui kapan saatnya dia meninggalkan alam kematian, di dunia ini, menuju alam kehidupan sejati di akhirat, untuk menyatu selamanya dengan Hyang Maha Suci Hidup.

Syahadat Sejati dan Syahadat sekarat, yang saya wedarkan tadi, adalah syahadat yang bersifat umum, yang digunakan oleh para ahli sufie, dan para wali termasuk Syekh Siti Jenar. Namun syahadat yang bersipat pribadi, adalah Wahyu Panca Gha’ib. Itupun bukan Wahyu Panca Gha’ib yang di obral sana sini, oleh kebanyakan orang yang mengaku Putero Romo, bukan.

Tapi Wahyu Panca Gha’ib, yang benar-benar menjadi lafal, keseharian atau dzikir di setiap tarikan, nafas dan gerak tubuh kita. Menyatu jadi kesatuan tunggal, ngatunggal antara Kawula-Gusti. (Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci).

Terutama saat menjelang tidur, agar dalam kondisi tidurpun, tetap berada dalam kondisi kemanunggalan, iradah dan qodrat, tidak hanya sekedar ucapan, yang di hapal, sebab saat pengucapan uni Kunci, harus disertai dengan laku patrap, paling tidak mengheningkan daya cipta, rasa dan karsa, sehingga lafal-lafal yang berupa uni Kunci tersebut, mendarah daging, sewujud, senyawa, sejiwa, sesukma, menyelusup jauh ke dalam diri yang Hidup.

Oleh karenanya, keadaan kematiannya, bukanlah suatu kehinaan, sebagaimana kematian makhluk selain manusia. Di sinilah arti penting adanya syafa’at sang Utusan (Rasulullah) dalam bentuk, Nur Muhammad, atau hakikat Muhammad. Nur Muhammad, adalah Roh Suci atau Hidup. kesadaran bagi tiap Pribadi, dalam menuju kemanunggalannya. Sehingga dengan, Nur Muhammad itulah, maka proses kematian, bagi-ku, bukan sejenis kematian yang pasif, atau kematian yang negatif, dalam arti, kematian dalam bentuk kemusnahan, sebagaimana yang terjadi terhadap hewan.

Kematian itu adalah sesuatu aktivitas yang aktif. Sebab ia hanyalah pintu, menuju keadaan manunggal. Melalui lorong itulah, kedirian menuju persatuan, dengan Sang Tunggal. Kematian manusia adalah, proses aktif sang al-Hayyu (Yang Maha Hidup), sehingga, hanya dengan pintu, yang dinamakan kematian itulah, manusia bisa menuju kehidupan yang sejati, urip kang tan kena pati, hidup yang tidak terkena kematian.

Sebab itu, jangan pernah berani mengaku telah manunggal atau bertemu Romo. Jika tidak melalui sakarat kematian. Karena jalan manunggal bersatu dengan Hyang Maha Suci Hidup itu, hanya ada satu. Yaitu Kematian/Mati.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Camkan baik-baik…!!!

Pancaindera maupun perangkat akal, tidak dapat dijadikan, pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yang bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan, hanyalah Zat Wajibul Maulana atau Hidup. Zat Yang Maha Melindungi.

Pancaindera adalah pintu nafsu, dan akal adalah pintu ego. Semuanya harus ditundukkan, di bawah Zat Yang Wajib Memimpin. Karena itu, Dialah yang menunjukkan semua budi baik. Jadi pencaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi. Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widhi, bisa Hidup, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana, Hyang Maha Suci Hidup, dan sebagainya. Semua itu produk akal, sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan atau Doktrin nama dalam syari’at, justru malah merendahkan Nama-Nya.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. ketahuilah…!!!

Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya. Manusia terdiri dari jiwa dan raga, yang intinya, ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar, dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh, seperti daging, otot, darah, tulang dll.

Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman, yang suatu saat, setelah manusia terlepas, dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan Hidupnya yang menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Dzat Maha Suci.

Manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yang menyatu, menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, ke mana af’al itu dipancarkan.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. ketahuilah…!!!

Bagimu yang belum Berlaku Wahyu Panca Gha’ib, terutama yang mengaku islam. Baca dan kajilah Surat al-Fatihah, karena al-fatehah adalah termasuk salah satu kunci sahnya orang yang menjalani laku manunggal (ngibadah).

Maka wajib mengetahui makna surat al-Fatihah yang sebenarnya. lafal al-Fatihah adalah lafal yang paling tua dari seluruh Sabda-Hidup. Inilah tafsir mistik al-Fatihah, yang Aku ketahui. Maka, ketahuilah pula.

Bis………………………… kedudukannya…………. ubun-ubun.
Millah………………………kedudukannya….. ………rasa.
Al-Rahman-Ar-Rahim…….kedudukannya……………penglihatan (lahir batin).
Al-hamdu…………………kedudukannya………… …hidupmu (manusia).
Lillahi………………………kedudukannya…. ……….cahaya.
Rabbil-‘alamin…………….kedudukannya…………..nyawa dan napas.
Al-Rahman Ar-Rahim…….kedudukannya……………leher dan jakun.
Maliki……………………..kedudukannya…… ………dada.
Yaumiddin………………..kedudukannya……… ……jantung (hati).
Iyyaka……………………kedudukannya…….. …….hidung.
Na’budu…………………..kedudukannya…….. …….perut.
Waiyyaka nasta’in………kedudukannya…………….dua bahu.
Ihdinash………………….kedudukannya…….. ……..sentil (pita suara).
Shiratal…………………..kedudukannya……. ………lidah.
Mustaqim…………………kedudukannya……… ……tulang punggung (ula-ula).
Shiratalladzina…………..kedudukannya……… …….dua ketiak.
An’amta…………………..kedudukannya…….. ……..budi manusia.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ………tiangnya (pancering) hati.
Ghairil…………………….kedudukannya…… ……….bungkusnya nurani.
Maghdlubi………………..kedudukannya……… …….rempela/empedu.
‘alaihim……………………kedudukannya…… ……….dua betis.
Waladhdhallin……………kedudukannya………. ……mulut dan perut (panedha).
Amin………………………kedudukannya……. ………penerima.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Sekali lagi Aku tegaskan. Maka… Sadari dan ketahuilah…!!! Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kata-ku ini. Maka dengan tepat, dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian disini.

Aku… dan Kamu… Memiliki Hidup, dan Hidup ada didalam diri-ku, juga diri-mu sendiri. Itulah yang menjadi Pengeran, bagi seluruh isi dunia-ku, dan dunia-mu. Dengan itu dan bersama itulah, akan didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahir. Sekali lagi. Ingat…!!! selama masih berada di dunia ini, sebetulnya kita mati, baru sesudah kita dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati.

Kehidupan ini sebenarnya kematian, ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat,  karena ditakdirkan untuk sirna. Dunia ini adalah alam kubur, di mana roh suci terjerat badan wadag, yang dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat, yang menguburkan kebenaran sejati, dan berusaha mengubur kesadaran Ingsun Sejati. Karenanya, janganlah engkau Terlena, oleh semua kesemuanya itu.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Sekali lagi Aku tegaskan. Maka… Sadari dan ketahuilah juga…!!!

Aku dan Diri-mu itu, adalah bersifat Muhammad, yaitu sifat Rasul yang sejati, sifat Muhammad yang kudus. Badan/Wujud ini bersifat baru, yang dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur bersifat najis. Oleh karena itu, pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.

Demikian pula budi, pekerti atau pikiran dan angan-angan, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan sering kali tidak jujur.

Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya.

Kalau kamu ingin berjumpa dengan dia, saya pastikan kamu tidak akan menemuinya, sebab Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono berbadan Hidup, mengheningkan puja ghaib. Yang dipuja dan yang memuja, yang dilihat dan melihat, yang bersabda sedang bertutur, gerak dan diam bersatu tunggal. Nah, buyung yang sedang berkunjung, lebih baik kembali saja. He he he . . . Edan Tenan.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Muhammad itu, bukan semata sosok utusan fisik, yang hanya memberikan ajaran Islam secara gelondongan, dan setelah wafat, tidak memiliki fungsi apa-apa, kecuali hanya untuk diimani.

Kita inilah Pribadi Rasulullah, Muhammad sebagai roh yang bersifat aktif. Wahyu atau syafa’at, tidak bisa dinanti dan diharap kehadirannya, kelak di kemudian hari. Justru syafa’at Muhammad, hanya terjadi bagi orang yang menjadikan dirinya Muhammad, me-Muhammad-kan diri dengan keseluruhan sifat dan asmanya.

Rahasia asma Allah dan asma Rasulullah, adalah bukan hanya untuk diimani, tetapi harus merasuk dalam Pribadi, menyatu-tubuh dan rasa. Itulah perlunya Nur Muhammad, untuk menyatu cahaya dengan Sang Cahaya. Dan itu semua hanya bisa terjadi dalam proses Laku Wahyu Panca Gha’ib. Bukan yang lain. Ingat itu…!!!

Ini bukan soal kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan. Penampilan-ku bagai mayat baru, andai menjadi Gusti, jasadku dapat busuk bercampur debu, napasku terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air dan sari-sari, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru.

Bumi, langit, isi dan sebagainya, adalah milik-ku, kepunyaan seluruh manusia Hidup. Buktinya, Manusia-lah yang memberikan nama-nama itu, sebelum dilahirkan, semua itu tidak ada baginya.

Kebebasan alam mencerminkan kebebasan manusia. Segala sesuatu harus berlangsung dan mengalami hal yang natural (alami), tanpa rekayasa, tanpa pemaksaan iradah dan qudrah. Jadi, seluruh manusia masing-masing mamiliki hak mengelola alam. Alam bukan milik negara atau raja, namun milik manusia bersama. Maka setiap orang harus memiliki dan diberi hak kepemilikan atas alam. Ada yang harus dimiliki secara privat dan ada juga yang harus dimiliki secara kolektif.

Sebab karena, seluruh alam semesta adalah tajaliyat Tuhan (penampakan wajah Tuhan). Adapun mengenai alam yang kemudian memiliki nama, bukanlah nama yang sesungguhnya, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusialah yang memberi nama, termasuk nama Tuhan, Dan nama-nama itu, seluruhnya akan kembali kepada Sang Pemilik Nama yang sesungguhnya. Memang nama itu perlu, sebagai tanda dan ciri khas, namun jangan sampai menjebak kita, hanya untuk memperdebatkan nama.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Inilah yang Aku Maksud Barang titipan. asalnya kehidupan, berdasar kitab Ma’rifat al’iman.  Kita terbebani 16 macam titipan;
Yang dari Muhammad: roh dan napas.
Yang dari Malaikat: budi dan iman.
Yang dari Tuhan: pendengaran, penciuman, pengucapan dan penglihatan.
Yang dari Ibu: kulit, daging, darah dan bulu.
Yang dari Bapak: tulang, sungsum, otot dan otak.

Inilah yang dimaksud dari lafal “kulusyaun halikun ilawajahi”. Maksudnya, semua itu akan rusak, musnah, kecuali dzat Allah yang tidak rusak dan tidak musnah. Yaitu Roh Suci/Kudus atau Hidup.

Kalimat “kulusyaun halikun ilawajahi” lebih tepatnya berbunyi “kullu syai-in halikun illa wajhahu” (Segala sesuatu itu pasti hancur musnah, kecuali wajah-Nya (penampakan wajah Allah)) [QS : Al-Qashashash/28:88]. Dari ayat inilah, badan wadag akan hancur mengikuti asalnya. Sedangkan Ingsun Sejati (HIDUP) mengikuti “illa wajhahu”, (kecuali wajah-Nya). “Dzatullah”.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

Bahwa sesungguhnya, antara Nur Muhammad, Malaikat, dan Tuhan, bukanlah unsur yang saling berdiri sendiri-sendiri, sebagaimana umumnya dipahami manusia kebanyakan.

Nur Muhammad dan malaikat adalah termasuk dalam Ingsun Sejati. Ini berhubungan erat dengan pernyataan Allah, bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada manusia, terutama  pendengaran, penciuman, pengucapan dan penglihatan (sedulur papat) akan dimintai  pertanggung jawabannya kepada Allah, maksudnya adalah, apakah dengan alat titipan itu, manusia bisa manunggal dengan Allah atau tidak. Sedangkan proses kejadian manusia yang melalui kedua orang tua, adalah hanya sarana pembuatan jasad fisik, yang di alam kematian dunia ini, disebut roh berada dalam penjara badan wadag tersebut.

Wahai anak cucuku… duhai Sedulur dan Para Kadhangku. Ketahuilah…!!!

KESIMPULANKU INI:

Dengan Semua Pengalaman Laku Spiritual Hakikat Hidup dalam mengibadahkan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku, yang sudah saya dapatkan, dan dalam Keada’an Kemanunggalan Kesempurnaan-ku sa’at ini. Yang Inti Saripati Puncaknya sudah saya Wejangkan. Tanpa Tedeng Aling-aling tadi.

Aku angkat saksi dihadapan Dzat-KU sendiri. Susungguhnya tidak ada Tuhan selain Aku. Dan Aku angkat saksi. Sesungguhnya Muhammad itu utusan-KU, susungguhnya yang disebut Allah adalah ingsun (AKU), diri-ku sendiri. Rasul itu rasul-KU, Muhammad itu cahaya-KU, aku Dzat yang Hidup, yang tak kena mati.

Akulah Dzat yang kekal, yang tidak pernah berubah dalam segala keada’an. Akulah Dzat yang bijaksana, tidak ada yang samar sesuatupun. Akulah Dzat Yang Maha Menguasai, Yang Kuasa dan Yang Bijaksana, tidak kekurangan dalam pengertian, sempurna terang benderang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanyalah Aku yang meliputi sekalian alam dengan kodrat-KU.

Dan kepadamu sekalian. Aku tegaskan. Bahwa Ilmu, tidak boleh dirahasiakan dalam pengajaran, demikian pula dengan  pengalaman batin dari keagamaan, juga tidak boleh disembunyikan. Dan pengalaman keagamaan yang terlahir, juga tidak boleh ditutup-tutupi, walaupun dengan dalih dan selubung syari’at apapun. Sekian dan Terima Kasih.

Ingat…!!! Semua yang sudah Aku Wejangkan Tanpa Tedeng Aling-Aling tadi, adalah ilmu yang sejati, sejatining ilmu, yang dapat membuka tabir kehidupan. ilmu untuk benar-benar dapat merasakan adanya Kemanunggalan yang sempurna. Agar sebutan bangkai didunia ini atau mayat-mayat hidup yang bisa berkeliyaran kian kemari, selamanya tidak ada lagi. Jadi… Jangan di salah Tafsirkan. Karena bukan tentang badan atau soal wujud, selamanya bukan, karena badan atau wujud itu, tidak ada. Yang sedang aku bicarakan, ialah ilmu sejati, dan untuk semua orang tanpa terkecuali

Ingat…!!! Semua yang sudah Aku Wejangkan Tanpa Tedeng Aling-Aling tadi, adalah ilmu yang sejati, sejatining ilmu, yang dapat membuka tabir kehidupan. ilmu untuk benar-benar dapat merasakan adanya Kesempurna’an. Agar sebutan setan atau arwah-arwah gentayangan, yang tidak berhasil mencapai Kesempurna’an Mati, yang menempati rumah-rumah kosong, pohon beringin, jembatan, gunung dll. Selamanya tidak ada lagi.

Jadi… Jangan di salah Tafsirkan. Karena bukan tentang badan atau soal wujud, selamanya bukan, karena badan atau tidak ada. Yang sedang aku bicarakan, ialah ilmu sejati, dan untuk semua orang tanpa terkecuali.

 

Aku berani Medar Tanpa Tedeng Aling-Aling. Karena semuanya sudah sama. Sudah tidak ada tanda secara samar-samar lagi, benar-benar sudah tidak ada perbedaan lagi. Jika ada perbedaan yang bagaimanapun. Aku tidak tertarik dan Aku akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu sejati, (Wahyu Panca Gha’ib-Wahyu Panca Laku) ini, hingga titik darah penghabisan-ku. Agar tidak musnah ditelan kemunafikan isi dunia fana yang penuh mayat-bangkai ini.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.
Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s