Bagaimana Cara Menjadi Orang yang BerSpiritual Baik dan Tepat..?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Kamis. Tgl 02 Februari 2017

Banyak orang sering bingung antara spiritualitas dengan religius. Ada yang hidup menjalankan keduanya, beragama dan spiritual, ada juga yang beragama tanpa mengerti spiritual, atau menjadi spiritual tanpa beragama. Menurut saya pribadi, Agama dan Spritualitas adalah sama, memiliki tujuan satu, yaitu Tuhan. Hanya saja, keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan. agama adalah alat atau sarana untuk mencapai spiritualitas, dan Spiritualitas, merupakan jalan menuju Tuhan. Jadi, intinya adalah sama-sama alat atau sarananya. Mari kita kaji lebih dalam, tapi, hati-hati menyimaknya ya…

Misal; Saya berlatih ilmu tertentu, ingin memiliki kesaktian atau kelebihan, apakah itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah hal itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak juga…!!!

Misal; Saya masuk kedalam komunitas agama atau golongan kepercayaan atau kepribaden tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan atau kepercayaan atau kapribaden itu, apakah ini berarti saya adalah seorang spiritual..?! atau Juga tidak…!!!

Lantas… apa Sebenarnya Spiritual itu?
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada, apakah saya masih mau tunduk pada aturan Tuhan..?! Masih mau hidup harmonis dengan semua makhluk? masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati dengan penghayatan Rasa. He he he . . . Edan Tenan.

Ada tiga kelompok atau golongan besar manusia di Bumi ini;
Satu; Adalah kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena mengejar pahala.

Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini, adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka, jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena KETAKUTAN.

Kedua; Adaalah kelompok manusia yang memiliki ego tinggi, demi kepentingan sendiri.
Di dunia ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, dan sesama hidup, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan bagi Wong Edan Bagu.

Ketiga; Adalah kelompok orang-orang yang mematuhi aturan Tuhan, hidup harmonis, melayani sesama, dengan tulus, jujur, apa adanya, penuh cinta kasih sayang iman, yang tumbuh dari hatinya, dengan rasa kesadaran murni, bukan karena apapun atau siapapun.

Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah, yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti serta paham dan tahu, intisari patinya spiritualitas, adalah Iman Cinta Kasih Sayang dengan Kesadaran Murni/Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu, yaitu Esensi Tuhan. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran sebagai manusia yang seutuhnya.

Dari penjelasan singkat diatas, hasil pembuktian spiritual saya di TKP, kita bisa menyimpulkan, jika seseorang sudah sampai pada tahap spiritualitas tertentu, maka dia akan bisa naik ke tahap pembelajaran berikutnya. Jika pertanyaan yang tadi kita lontarkan pada setiap kelompok manusia di atas, maka kita akan bisa menerka, bahwa kelompok ketiga yang akan bisa menjawab dengan yakin, teguh rahayu selamat, dan tanpa sedikitpun ragu, bahwa meskipun ada atau tidak, pahala dan dosa, mereka akan senantiasa hidup mena;ati aturan Tuhan, selaras dengan seluruh makhluk dan melayani sesama hidup dengan tulus/rela/legowo.

Jadi, bagaimana belajar menjadi orang yang lebih spiritual…?!
Spiritual tak ada hubungannya dengan agama manapun dan golongan apapun. Berbeda dengan religius, spiritualitas adalah murni kualitas jiwa seseorang yang menuju satu titik saja, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Seberapa selaras dia dengan Penciptanya, seberapa harmonis kehidupannya dengan semua makhluk di dunia. Seharusnya agama-agama yang ada di Bumi dijadikan alat untuk mencapai tahapan spiritual yang seperti, yang berhasil saya temukan dan saya uraikan di kelompok yang ketiga diatas, bukan alat untuk saling memusuhi, serta memerangi pemeluk agama lainnya.

99.% Manusia didunia ini, masih belum mengerti apa maksud spiritualitas sesungguhnya. Kalau yang mengerti artinya banyak, yang mengetahui maksudnya, masih banyak jumlah ketombe di kepala saya. Mereka masih berpikir dalam kotak-kotak yang sempit, belum mampu berpikir merdeka/universal. Mereka tak menyadari bahwa mereka tak hidup sendiri di alam semesta yang amat luas ini. Hal penting yang harus kita ingat sendiri, ketika kita mencari pencerahan spiritual. Adalah,,, saya harus berjalan dengan cara saya sendiri, untuk mencari pengalaman, pengalaman inilah yang nantinya menjadi pencerahan. Jangan ikuti apapun atau siapa pun, jika kita tidak merasa nyaman atau bertolak belakang dengan keyakinan kita, biarkan Hidup yang menuntun kita. kita adalah tuan dari takdir kita sendiri, dan kitalah orang yang menciptakan realitas kehidupan kita sendiri.

Jika kita ingin menjadi orang yang spiritual, maka biarkan kejujuran yang tulus menjadi cahaya pembimbing kita – kebaikan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, terhadap hewan dan seisi dunia ini. Terimalah bahwa hakikat Hidupnya kita semua memiliki cahaya Iman Cinta Kasih Sayang, bersumber satu, dari Dzat Maha Suci Hidup, yang hadir di dalam diri kita masing-masing dan semua mahluknya, serta belajarlah untuk menghayati Iman cinta kasih sayang itu, disetiap Laku, sehingga kita dapat mengetahui dan mengalami kesatuan. Saya Wong Edan Bagu. Salam Rahayu dan Terima Kasih.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s