Dzat Maha Suci TUHAN/ALLAH YANG HIDUP

Dzat Maha Suci TUHAN/ALLAH YANG HIDUP:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Kliwon. Tgl 07 Oktober 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku, pernah melihat anak-anak yang asyik berbicara sendiri saat bermain?

Seolah-olah ada seseorang di sampingnya, yang mendengar dan menanggapi, seorang teman imajinasi. Menurut para ahli psikologi, fenomena ini wajar, dalam pertumbuhan anak. Orang tua tak perlu khawatir, tetapi perlu memantau, agar persahabatan imajiner itu, tidak mengalihkan anak dari kehidupan nyatanya.

Meski sama-sama tak terlihat. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukanlah pribadi hasil imajinasi. Alam semesta dan isinya, adalah bukti nyata keberadaan-Nya. Dalam taraf tertentu, angin, hujan, dan unsur alam lainnya, dapat dikendalikan manusia.

Tetapi Siapa yang membuat semua itu? dan berkuasa menghadirkannya, dalam musim-musim yang berbeda, di berbagai belahan dunia..?!

Siapa gerangan yang meletakkan emas dan perak di perut bumi? untuk ditambang manusia dan menumbuhkan pepohonan kayu di hutan-hutan raya..?!

Betapa gemasnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, karena semua bukti itu, tak membuat umat Manusia hidup, mengakui dan menghormati keberadaan-Nya. Mereka justru datang memohon pada patung-patung dari emas dan perak, mereka justru mendatangi berhala-berhala hati, di kuburan dan goa. Mereka berusaha menyenangkan dewa-dewa dari kayu dan batu nisan, takut dimurkai, seolah-olah benda-benda mati itu hidup. Sementara, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang Hidup, justru mereka abaikan. Betapa bodohnya!

Seberapa sering, kita mendengarkan dan berbicara kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sebagai Pribadi yang Hidup..?!

Seberapa kita yakin, bahwa Dia dapat mendengarkan dan dapat berbicara dengan kita, kapanpun kita membutuhkan-Nya..?!

Bagaimana seharusnya kita bersipat dan bersikap, bilamana kita yakin, bahwa Dia nyata dan sungguh hadir dalam hari-hari kita..?!

Itu yang terpenting dan perlu kita pentingkankan. Maka… Berhati-hatilah, agar imajinasi kita, tentang dunia yang semu bin fana ini, tidak mengalihkan pandangan kita, dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita yang Maha Hidup!— INGAT…!!! DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH ITU. BUKANLAH HASIL IMAJINASI MANUSIA. DIA ADALAH SANG MAHA PENCIPTA. YANG SUNGGUH HIDUP DAN BERKUASA ATAS SEGALANYA. Namun untuk mengetahui-Nya. Membutuhkan dari sekedar Rasa. Tanpa Wahyu Panca Gha’ib yang di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Sungguh sulit dan rumit, sulitnya,,, bagaikan mencari bekasnya burung terbang, rumitnya,,, seperti mencari galihnya kangkung. Karenanya, tidak sedikit yang berhenti pada imajinasi. Walau tahu, bahwa imajinasi itu, adalah kebohongan yang nyata.

Bagimu Para Kadhang yang sudah memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. sungguh sangat beruntung, sebab itu, jangan batasi terima kasihmu kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang telah memilihmu. JANGAN TAKUT akan segala halnya. Karena SEGALA SESUATU itu. DALAM KENDALI DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH yang kita IMANI. Ini sudah pernah saya buktikan langsung di TKP.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Jika berada dalam situasi sulit dan penuh risiko, bagaimana Anda menghadapinya? Mundur sebelum berjuang, pasrah tanpa usaha, atau menghadapinya habis-habisan..?!

Ada sisi menarik dalam situasi ini, yang dapat kita jadikan pelajaran, agar lebih mengarah kepada ajaran atau tuntunan yang banyak di anut oleh kebanyakan orang, saya akan mengambil contoh sempel dari sebuah kisah di dalam al-qitab.

Di kisahkan dalam sebuah al-qitab. Peristiwa penyelamatan bayi Musa dari bahaya, melibatkan peran penting para perempuan di sekitarnya, dan masing-masing mewakili satu sikap. Sifra dan Pua adalah bidan yang takut akan Allah, sehingga mereka enggan membunuh bayi Ibrani, meski tindakan itu bertentangan dengan aturan raja firaun.

Yokebed adalah ibu yang kreatif memecahkan masalah. Ini tampak lewat gagasannya untuk menyelamatkan bayi Musa. Miriam, sang kakak, ialah pribadi pemberani. Ia tidak takut menemui putri Firaun demi perawatan adik bayinya. Dan, putri Firaun ialah pribadi yang berbela rasa walau ia tahu bayi Musa adalah bayi orang Ibrani, kaum yang menjadi budak di negerinya. Bahkan, dalam belas kasihnya, Putri Firaun mengangkat bayi itu sebagai anak. Takut akan Tuhan, kreativitas, keberanian, dan belas kasihan, itulah sikap-sikap dari para pribadi yang menghantar Musa kecil selamat dan bertumbuh besar.

Tentu ada banyak sikap yang bisa kita ambil sebagai respons saat menghadapi situasi sulit, dengan aneka rupa dampak yang mengikutinya. Keempat sikap yang kita cermati di dalam kesadaran penuh, akan kedaulatan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang terlibat dan memegang kendali atas situasi apa pun, merupakan respons yang tepat dalam menghadapi situasi sulit, yang bisa datang kapan saja bagi siapa saja dan di mana saja.

Pernahkah Kadhang dan Sedulur melihat lulu..?
Yang bahasa umumnya di sebut kaki seribu?

Coba renungkan, seandainya hewan berkaki banyak itu, berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya, pasti bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir?

Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, semakin baik. Apa lagi jika membaca sebuah ayat, yang menjelaskan. Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, berlaku sesuai sangka’an umatnya. Dimana kita menghadap, disitulah wajah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Ini di maksudkan, agar kita tidak ribet dalam menyembah, saat menghadap-Nya, takkala berdoa dan bersujud.

Dalam mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan, untuk menjadi seperti anak-anak (bayi). Maksudnya, memahami Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, cukup kita mengamati bayi. Dimana seorang bayi itu, belum bisa membaca dan memahami apapun, tapi dia di sebut suci, itulah pelajaran mengenai kerohanian yang paling praktis.

Kontras dengan itu, Al-kitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh, termasuk meliputi kedewasaan “iman dan pengetahuan yang benar dan tepat” akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Artinya, kita justru harus dengan sengaja, memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Inilah sebenarnya yang menurut saya, arti dari kata teologi pengetahuan, pemahaman. Siapapun dia dan dimanapun dia, dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar akan Dzat Mah Suci Tuhan/Allah, tidak akan mudah, diombang-ambingkan oleh masalah duniawi, Menjadi seperti anak-anak (bayi) dalam iman, anak/bayi itu, bukan berarti menjadi kekanak-kanakan.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Seberapa banyak aspek pertumbuhan dewasa ini, yang kita perhatikan dengan pembelajaran…?!
Kita tidak mungkin mencintai, mengasihi, menyayangi, apa lagi mematuhi, dan menyembah Pribadi yang tidak kita kenal, atau yang kita kenal secara samar. Di jaman yang moderen ini, mari kita cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan dewasa yang ada, untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Karena, semakin moderen sebuah jaman, semakin banyak sarana pertumbuhan dewasa yang tersedia untuk kita. Jadi,,, lebih mudah, dibandingkan dengan jaman dulu yang belum moderen.

Jangan takut..!!! Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang Maha dahsyat itu, tidak ingin kita merasa takut kepada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia Maha dahsyat, Dia ingin kita mengimanni-Nya dan mempercayakan Hidup dalam kehidupan kita di dunia fana ini kepada-Nya. Saya pernah menghitung kata Jangan Takut, yang terselip di setiap ayat di dalam al-qkitab, sejumlahnya 365 “jangan takut”. Diantaranya. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan. Jangan takut datang kepada Dzat Maha Suci Tuhan/ Allah. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika kita mengimanni-Nya dan mempercayakan Hidup dalam kehidupan kita di dunia fana ini kepada-Nya. Apakah yang masih kita takutkan…?! PARA KADHANG DAN PARA SEDULUR KINASIHKU SEKALIAN. JANGAN TAKUT. Karena SEGALA SESUATU itu. DALAM KENDALI DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH yang kita IMANI.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s