Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:

Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pon. Tgl 20 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah dengan kesadaran murnimu. Bahwasannya. Badan kita yang dzahir/nyata ini, yang bisa dilihat dan di sentuh ini, adalah perwujudan Hidup kita yang gha’ib, yang tidak bisa pandangan mata dan tidak bisa disentuh. Untuk bisa melihat dan menyentuh Hidup kita yang gha’ib itu, diperlukan bayangannya hidup tersebut, yaitu badan kita yang dzahir/nyata ini. Maka dari itulah, dikatakan, badan kasar kita ini, hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ bagi Hidup kita yang ghaib itu.

Apabila Hidup itu keluar dari badan kita ini, maka tertinggal-lah badan itu, dan lama kelama’an, jadi hancur lebur. Tapi ada yang tidak hancur setelah di tinggalkan Hidup, yati roh, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat atau mutmainah, aluamah, amarah, supiyah. Mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, pernah mendengar cerita, ada orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘badan’ orang yang telah lama meninggal dunia, muncul berlakon dan beraksi sebagaimana hidupnya dalam dunia dahulu, sebenarnya itu bukanlah badan orang itu yang sebenarnya. Karena, firman-Nya, badan akan hancur binasa setelah di tinggalkan Hidup. Jadi, ‘bayangan’ atau ‘badan’ itu, adalah roh, dan roh inilah, yang akan menghadapi pengadilan Dzat Maha Suci di akherat, untuk mempertanggung jawabkan, semua dan segala amal perbuatannya selama di dunia.

Itu sebab disebutkan, bahwa Diri kita ini, terdiri dari tiga unsur. Pertama, yaitu unsur badan kita, yang berasal dari tanah, dan akan mengalami proses hancur, jika di tinggal Hidup kita. Kedua, yaitu unsur roh kita, yang berasal dari empat anasir dan tidak bisa hancur, karena harus mengalami proses pengadilan akherat, atas amal perbuatan kita selama di dunia, setelah di tinggal Hidup kita. Ketiga, unsur Roh Suci atau Roh Kudus atau Hidup kita, yang berasal dari Dzat Maha Suci, dan akan kembali kepada Dzat Maha Suci tanpa proses apapun.

Dan tiga unsur inilah, yang saya sebut Jati Diri atau Diri Sejati, yang pengertiannya sering saya uraikan di beberapa artikel saya, di internet. Untuk itu, jika Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, membaca artikel saya, dan menemukan istilah kata Jati Diri atau Diri Sejati. Berati mencakup tiga unsur itu. Yaitu raga atau wujud dan empat anasir atau roh serta Hidup atau Roh Suci.

Setiap orang, hendaklah mengenal akan jati diri atau diri yang sebenar-benarnya, yaitu yang berunsur berunsur tiga, yang sudah saya uraikan diatas, agar supaya tidak mensia-siakan kehidupannya selama di dunia fana ini. Karena kehidupan kita, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan akan berkelanjutan ke akherta nanti, dan dunia akherat itu, kekal dan abadi, tiada ujung dan berakhir. Nilai buruk atau baik, bukan dilihat dari segi kekayaan harta, pangkat atau jabatan yang diperoleh di dunia ini. Melainkan dari IMAN kita yang tidak terduakan, dan soal iman itu apa dan bagaimana, di artikel lainnya, saya sudah pernah mengungkapnya. Dengan kenalnya kita kepada Diri atau Jati Diri yang sebenar-benarnya, maka kita tidak akan kenal dengan yang namanya putus asa, kita tidak akan takut, tidak bimbang, tidak ragu, dalam mengarungi bahtera kehidupan kita yang fana/pana ini.

Hal ini, di karenakan, kita tahu sendiri, bukan katanya, bahwa Diri kita ini, adalah kekasih Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan sebenarnya… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mengasih diri kita lebih dari ibu yang mengasihi anak kesayangannya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Sungguh… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maha Cinta Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya, tanpa terkecuali. Untuk itu, kenalilah dirimu, ketahuilah jati dirimu, agar tahu sendiri, bukan katanya. Maka,,, tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat, karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya.

Sebenarnya kita Tenteram “tiada apa-apa” hanya ayat-ayat-Nya saja. Sejatinya diri kita adalah penguasa dan pengurus.
Sesungguhnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjadikan alam dan makhluk untuk kita, dan menjadikan kita untuk Dia. Sebab itu ada ayat al-qitab yang menegaskan”inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Kalau sudah mengerti dan memahami tiga unsur yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati ini. Jangan berhenti. Teruslah belajar dan berlatih. Karena masih ada kelanjutan seterusnya lagi. Yaitu tentang AKU. Maksudnya, setelah Jati Diri atau Diri Sejati ini sudah di mengerti dan di pahami, akan muncul AKU, atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku.

AKU atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku yang hakiki ini, mempunyai ilmu. Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seluruh alam ini, ada di dalam AKU. Dalam AKU, ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh cipta’an Dzat Maha Suci TuhanAllah lainnya. Semua ini ada di dalam AKU, karena AKU tahu semua itu. AKU telah diberitahu melalui ayat-ayat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua perkara tersebut ada, dan AKU ‘merasai’ adanya. Oleh karena itulah. AKU ini mempunyai ilmu yang meliputi segala-galanya. Semua itu adalah limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU sebenarnya, hanya mengagungkan dan memuja serta menuju Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja, tidak dan bukan yang lain. AKU tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang bijaksana melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang kaya melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan adalah “Pangestu lan Pangayomaning Gusti” Maksudnya sebagai limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Oleh karena itu, AKU tetap dengan puja dan puji hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja, tidak akan membagi-bagi Iman Cinta Kasih Sayangnya kepada apapun dengan apapun selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU tetap melihat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di balik segala yang maujud atau perkara yang ada. Apapun yang “nampak” perbuatan dan kelakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Oleh karena itu. AKU tidak akan membalas benci dengan balik membenci. AKU tidak akan membalas Fitnah dengan mengfitnah balik. AKU tidak akan menghina siapapun yang menghina.

AKU hanya tunduk kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja. AKU tidak dikuasai oleh siapapun dan apapun jua. Alam ini tunduk kepada AKU. Semua makhluk tunduk kepada AKU atas perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU adalah Khalifah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah atau wakil Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang mengurus makhluk dengan isinya. Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU. Kalau dunia ini ladang. Maka AKU pengurusnya dan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang empunya ladang itu.Namun Dzat Maha Suci Tuhan/Allah tidak perlu apa-apa. Hanya AKU yang memerlukan Dia. Hanya AKU yang memerlukan dunia. Sebab itu Makhluk yang ada di dunia adalah untuk AKU. Semuanya adalah karunia dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk AKU. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah jadikan semua makhluk untuk AKU. Demikian mulianya AKU.

AKU itu berilmu. Ilmunya adalah limpahan ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Ilmu itu meliputi yang diketahui. Apa yang diketahui itu adalah kandungan ilmu. Oleh karena AKU adalah ilmunya, dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tiada bercerai. AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah kandungan ilmu AKU. Bermacam-macam yang diketahui oleh AKU. Semua itu kandungan ilmu AKU. Semua itu tiada terpisahkan dari AKU. AKU tidak megah dan tidak bangga. Orang yang telah kenal AKUnya, tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabbur, congkak, sombong, kikir, iri, dengki, fitnah, dendam, khianat, mengumpat dan semua penyakit hati. Karena AKU tahu. Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya. Segala sifat tercela itu dengan sendirinya hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji. Apa yang hendak dimegah-megahkan, dikhawatirkan, ditakutkan?, karena AKU ini sebenarnya tiada apa-apa. AKU itu kosong belaka. Yang ada hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memiliki segala-galanya. Dia yang patut dipuji dan dipuja.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Walaupun dari segi kehidupan dunia ini, seseorang itu miskin harta, tetapi kalau jiwanya kenal diri sejatinya dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya, ia tetap kaya. Kaya pada rasaannya.Walaupun susah kehidupan dunianya,. AKUnya tetap merasa bahagia. Walaupun badannya lemah. AKUnya tetap kuat. Walaupun kesunyian tanpa rekan, namun tetap damai. AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU, atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta atau rasa yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Sejagat Raya, atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya. Maka tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa jatuh, tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.

Tujuan AKU ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukan sorga, neraka, hutan, jembatan, rumah kosong atau reinkarnasi. Yang diharapnya ialah Pangestu dan Pengayoman-Nya, maksudnya keredhaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.Yang diminta ialah keampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, kehidupan akhirat itulah yang utama. Kembali ke hadirat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itulah yang diidamkannya. AKU tidak takut berpisah nyawa dari badan karena ‘mati’ sebenarnya berpindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh. AKU tetap AKU juga. Walaupun badan hancur, tetapi AKU tidak hancur. AKU akan peduli ketika hijab-hijab pada jasad telah hilang dan pengadilan akan roh telah uasi. AKU tidak merasa hina karena miskin papa atau buruk rupa atau cacat tubuh atau tidak berpangkat atau tidak banyak kawan atau tiada harta benda sedikitpun jua. Semua itu berkaitan dengan keduniaan dan kebendaan, tidak ada sangkut pautnya dengan AKU yang bersifat kerohanian. AKU hina jika menduakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU hina jika membagi iman kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU hina jika tidak beriman dan tidak bertakwa, itulah kehinaan pada AKU yang sebenar-benarnya.

AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat jabatan, kekuasaan, sanak, famili, anak, istri, suami, saudara, keluarga bahkan kedua orang tua, selain hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU tidak iri hati dengan orang kaya. tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi. Pada pandangan AKU, segala harta benda, uang, pangkat jabatan, istri, anak pinak, saudara dan sebagainya itu, adalah milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang dianugerahkan-Nya, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberi-Nya harta yang sedikit. Semua itu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang menentukan. Ketentuan-Nya tidak dapat disanggah dan dipermasaalahkan. Kenapa AKU mesti gusar dan iri hati dengan ketentuan-Nya. Dia yang AKU puji dan puja, tentulah AKU redha dengan ketentuan-Nya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU itu diri sejati. Diri manusia itu banyak, tetapi berasal dari Diri Yang Satu. Diri itu roh. roh itu banyak, tetapi berasal dari Satu Roh yaitu AL-ROH. Al-Roh itu diberi gelar oleh orang-orang Sufi sebagai Hakekatul Muhammadiyah atau juga di beri gelar sebagai Insan Kamil atau Insan Kabir.

AKU tidak kagum dengan kemajuan manusia. Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan perniagaan dan perindustrian. Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan. Yang diherankan oleh AKU, ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, Bijaksanaan-Nya yang melimpahkan segala ilham atas kemajuan itu. Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana. Dia yang memiliki segala ilham. Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU berasal dari tempat yang tinggi dan mulia, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan di-jasad-kan dengan badan jasmani, untuk waktu yang ditentukan, seperti merantau sebentar di alam bumi ini. Apabila sudah cukup waktunya berada di perantauan, AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal. Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati berasa nyaman. Tetapi jika diperdalam, direnung dan dikaji. AKU tetap berada di tempat sendiri. Bukan dari mana dan ke mana pergi. Kapan dan di manapun juga. AKU tetap di tempat sendiri. AKU datang dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak bercerai walaupun seinci dan sesaat. AKU tetap bersama setiap masa dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dulu AKU bersama dengan-Nya, sekarang pun bersama dengan-Nya, akan datang pun bersama dengan-Nya. Senantiasa AKU terus bersama-sama dengan-Nya. AKU ini tetap AKU, bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah senantiasa. Hanya alam-alam yang ditempuh saja yang berbeda , dari satu alam ke satu alam yang lain. AKU senantiasa kekal dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah , walaupun di alam mana pun AKU berada.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU senantiasa menyerahkan diri hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Penyerahan total, bulat sepenuhnya. AKU menyerahkan diri kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak mem-fana-kan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan. Bahkan lebih dari sekedar dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.

Hubungan AKU dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat hubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat gula dengan manisnya. Semua ini menunjukkan betapa rapat AKU itu dengan Khaliknya. Kalau mau di ibaratkan lagi, ialah seperti pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, pengarang dengan karangan, pencipta dengan ciptaannya. Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini, adalah tanda-tanda atau manifestasi Wujud Dzat Maha Suci Tuhan/AllahYang Esa itu. AKU ini suci, karena AKU limpahan Nur Dzat Maha Suci, dan yang di sebut suci itu, bukan warna bukan bentuk, melainkan Roh Suci/Kudus yang tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, jika ingin mendekati dan menemui suci atau manunggal/menyatu dengan AKU/SUCI, maka harus suci Jati Diri atau suci Diri Sejatinya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah,,, akan siapakah yang disebut AKU ini. Karena AKU inilah, kita barulah bisa tahu dan mengenal akan hakikat sebenarnya Rahsia keTuhananmu.

Maka dengan ini ku uraikan suatu keterangan buatmu sekalian dan ku bukakan tabir rahsia untukmu sekalian, agar Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… tahu dan mengerti apakah dan siapakah yang dimaksudkan kepada AKU. AKU. Adalah satu kalimah, dan Dia tidak mewakili berbagai jenis kelamin lelaki atau pun wanita, dan lagi, Dia terlepas dari anggapan itu. AKU adalah satu hal yang tidak ada padanya gambaran yang nyata, kerana Dia bersifat tidak nyata (GHA”IB), dan sesungguhnya AKU itu, adalah satu rahasia yang di tajjallikan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dia menjadi penyata bagi Zatullah. AKU adalah merupakan Sifat keTuhanan yang terbit dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Padanya pula terdiri akan Sifat-Sifat Kebesaran dan Kekuasaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kerana Dia (aku) itu, adalah Penyata bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, atau dengan kata lain Dia (aku) itulah Kenyataan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sesungguhnya Dzat Maha Suci itu, tidaklah dapat kita ketahui, akan keadaan diri-Nya, dan jauh sekali, untuk kita mengatakan. Dia itu berupa dan dab serupa macam-macam anggapan, kerana Dia tidak menyerupai dengan sesuatu apa pun. Oleh kerana itulah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mau memperkenalkan DIRINYA, maka Dia telah menyatakan akan Sifat keTuhanan-Nya, dan Dia yang bernama AKU. Dalam ilmu hakikat agama. AKU ini digelarkan oleh mereka, dengan nama AMAR ROBBI , artinya urusan Tuhan, dan ia membawa makna kepada keadaan Tuhan padanya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Jangan salah paham dan Perlu di ingat. Bahwa AKU itu, bukanlah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, akan tetapi. Dia adalah Penyata yang dinyatakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, agar Dia nyata, maka apabila Dia (aku) nyata, maka nyatalah Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maksudnya begitu, kerana kalau Dia tidak nyata, maka Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, tidak akan nyata, dan kita tidak akan tahu kalau Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu ada, walaupun Dia ada.

Dengan Spiritual Hakikat Hidup, didalam Wahyu Panca Gha’ib, yang saya praktekan dengan munggunakan Wahyu Panca Laku, yang sedang saya pelajari sekarang ini. saya ingin menyatakan bahwa AKU itu, adalah “IMAN” dan dia merupakan titik pertama yang dinyatakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, pada jasadku ini. Apabila Dia berada didalam badan diri ini, maka Dia telah menjadi DIRI pula. AKU yang tadinya merupakan titik atau noktah awal, kini telah berkembang menjadi DIRI dan diri itulah Cahaya Ketuhanan atau Iman, yang dinyatakan-Nya, daripada-Nyalah (AKU) mendatangkan kehidupan kepada badanku ini.

Pada AKU itu, ada berbagai macam rahasia, dan Dia merupakan satu amanah/utusan dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kepada kita ini. Asal kita mau, pasti kita akan dapat sesuatu darinya, tetapi dengan syarat, kita mesti mengenal dan mengetahui akan keadaaan-nya terlebih dahulu. AKU yang tidak berupa dan berwarna ini, hanya mampu kau tahu saja, kerana Dianya satu hal yang terahasia dari keadaan sifat kezahiran rupa paras dan bentuk. Oleh itu kita hanya mampu tahu dan merasai saja, akan keberadaan AKU pada badan diri kita ini. AKU merupakan induk kepada kehidupan kita ini, tanpa AKU kita akan mati.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah, bahwa AKU itu, adalah Iman. Iman itu Hidup. Hidup itu berasal dari Dzat Maha Suci, serta hanya akan kembali kepada Dzat Maha Suci. Dzat Maha Suci adalah asal usul kita. AKU adalah satu-satu pengantar yang bisa mengatarkan kita pulang kepada asal usul kita, yaitu Dzat Maha Suci, kerana itulah asal diri kita, dan asal dibalik asal kita itu, adalah dari Dzat Maha Suci, serta semua yang ada ini, berasal dari-Nya jua. Karena itu, usah kita berdebat tentang-Nya, jangan bicara soal keadaan Dzat Maha Suci, sebab tidak ada satupun yang mampu untuk itu, cukuplah kita bicara Tentang AKU dan Soal AKU. kerana Dia adalah asal mula diri kita, dan dari-Nya diri kita terbit, kata singkat dariku. Pandai- pandailah “mengenal diri mengenal Tuhan” dan AKU itulah Dzat Maha Suci bagi diri, dan diri itu kenyataan AKU.

AKU…….adalah kenyataan Dzat Maha Suci, dan Dia adalah sifat kesempunaan-Nya, bila AKU menerima badan, maka diriku terbit mendatang pula, dan aku lenyap didalamnya, itulah saya Wong Edan Bagu, mengatakan ianya adalah Dzat diri, bukan Dzat Maha Suci, kerana AKU adalah AKU dan AKU bukan TUHAN dan TUHAN adalah TUHAN dan TUHAN bukan AKU, akan tetapi AKU datangnya dari TUHAN. He he he . . . Edan Tenan.

Renungilah olehmu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dengan pandangan basirahmu, agar kau tahu dan mengerti serta paham, lalu temuilah AKU-mu, kehidupan yang kita ada ini, merupakan dalil penyataan dari perbuatan AKU, yang mana Dia terjadi melalui proses-proses semulanya jadi. AKU…..yang menanggung amanah dari Tuhan, membawa dan menerima suatu tugas yang besar, didalam menjalani kehidupan didunia maupun akhirat.

Ingat-ingatlah wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dalam perjalanan spiritualmu itu, pastikan kita meletakkan semua pengharapan kepada AKU, kerana AKU itu cukup mencukupi bagi kita, rahasia Dzta Maha Suci Tuhan/Allamu, yang Maha Kuasa atas segalanya itu, yang menjadi bekal kita. AKU……..yang hidup tiada mati, kekal tiada binasa, menjadi diri bagi badan kita sendiri, dan kini AKU bergerak pada jalanku, yiaitu jalan rahasia Dzat Maha Suci menuju Dzat Maha Suci. Itulah Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku , yang bisa saya uraikan dengan apa adanya, sesuai yang saya ketahui dari Bukti nyata, hasil Praktek Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya di TKP. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, tentang Tujuh Alam atau Dimensi AKU, yang berhasil saya temukan juga, didalam Wahyu Panca Gha’ib. Dengan Judul Artikel; TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s