Detik-Detik Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu:

Detik-Detik Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Pahing. Tgl 14 September 2016

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Secara spiritual pada umumnya, baik itu Syare’at maupun Hakikat, Thareqat atau Tasawuf maupun Ma’rifat, sayapun sama seperti pada umumnya para pembelajar ilmu atau penghayat kepercaya’an, saya panatik, mudah tersinggung jika ada yang menganggap remeh apa yang sedang saya pelajari, apa lagi jika menyangkut agama yang saya yakini, saya berani berdebat habis-habisan. Walau saya tidak faseh/fasik dalam membaca ayat-ayat al-qitab, tapi saya mengerti dan paham makna dan arah serta maksud dari sebuah ayat yang tersirat di dalam al-qitab. Jadi, kalau ada yang bertentangan dengan ayat-ayat al-qitab yang saya yakini kebenarannya, saya langsung melabraknya.

Jika ada tetangga yang tidak beribadah/sembahyang, dengan mudahnya saya langsung katakan kafir, calon intip neraka jahanam, kalau ada orang yang berdoa di kuburan atau tempat-tempat keramat, tahlil atau manakip yang tidak sesuai dengan tuntunan yang semestinya, dengan gampangnya saya katakan bit’ah, sirik, musrik, sesat dll. Bertemu teman atau sahabat, tidak peduli di mana tempatnya, saya ceramahi dengan dalil-dalil serta ayat-ayat yang saya ketahui, lalu saya ajak untuk mengikuti apa yang saya yakini, baik secara halus maupun paksa. Neraka dan Surga, selalu jadi pacuan andalan saya, untuk menakuti dan mengiming-imingi siapapun yang menurut saya, sedang saya ajak ke jalan yang baik dan benar. Dan pada umumnya,,, sama seperti saya ini.

Hingga pada suatu ketika, saya merasa capek dengan semua itu, karena menurut pemikiran saya pada sa’at itu. Saya gembar gemborkan neraka dan surga, namun saya sendiri, belum tahu benar tentang neraka dan surga itu, saya baru sebatas katanya al-qitab dan para guru pembimbing saya, lagi pula, Tuhan adalah Maha Kuasa, bahkan Maha diatas segala yang Maha. Artinya… Jika Tuhan mau, Dia tinggal berkata bim salabim. Selesai dan TamaT.

Lalu,,, apa gunanya saya membela Tuhan? Apa manfaatnya saya lantang berbicara neraka dan surga, hingga saya habis-habisan, bahkan mati-matian berdebat, bertengkar, berselisih, salin sinis dan benci satu sama lain, bahkan bermusuhan dengan orang-orang, yang pada hakikatnya, adalah saudara-saudari saya sendiri, karena satu kakek nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa. Kalau ini saya terus-teruskan, saya bisa senewen sendiri, dan sama halnya, saya menganggap Tuhan itu tidak kuasa dan bodoh, sehingga perlu saya bela dan di pembela.

Karena itulah, kemudian, pemikiran itu saya buang jauh-jauh. Dan saya rubah, menjadi diam, apapun yang saya lihat dan apapun yang saya dengar, cukup saya anggap angin lalu saja, sehingganya, tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada lagi permusuhan. Dan menitikan fokus hanya kepada Tuhan, bukan yang lainnya.

Karena sudah enggan pada para guru yang membimbing saya pada sa’at itu, sebab saya hanya di beri pelajaran yang tak ubahnya seperti teka teki silang, yang ujungnya harus saya cari sendiri. Lalu saya memilih, untuk mempraktekan ayat-ayat al-qitab yang terkait langsung dengan Tuhan, yang saya hapal kalimah dan artinya.

Pertama. Dua kalimah syahadat;
Yang berbunyi “Asyhadu allaa ilaaha illallah-Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah-Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”

Kedua. Surat Al-baqarah ayat 115;
Yang berbunyi “Walillahil masyriqu wal maghribu fa-ainamaa tuwalluu wajhullahi innallaha waasi’un aliimun” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”

Ketiga. Surat al-baqarah ayat 156;
Yang berbunyi “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Sesungguhnya kami adalah kepunya’an Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”

Ke’empat. Dua Sabda Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam dalam Al-qitab hadist;
Yang kurang lebih artinya seperti ini. “Allah Ta’ala berfirman; Aku sesuai persangka’an hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist inilah. Saya keliling menjelajah luasnya dunia ilmu spiritual. Fokus saya baca. Fokus saya pikir dan saya bathin. Fokus saya kaji. Fokus saya hayati. Fokus saya pelajari. Fokus saya resapi. Lebih dalam dan jauh lebih mendalam lagi. Semuanya saya tanggalkan, segalanya saya tinggalkan, hanya Tuhan/Allah yang ada, semuanya saya anggap tidak penting dan tidak perlu.

Dari satu tempat ke tempat lainnya, yang di katakan oleh kebanyakan orang, angker, wingit, bahaya dll, saya tidak peduli. Saya datangi dan saya tempati untuk mempelajari dan mempraktekan Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Walau banyak rintangan dan hambatan yang menderai saya, dan saya berjuang tanpa menyerah, Hingga akhirnya saya berhasil menemukan Hakikat Hidupnya Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist tersebut, yang sebenarnya, jadi, bukan hanya sekedar katanya al-qitab dan hadist belaka.

Lalu, dari pengasingan, saya kembali berbaur dengan masyarakat umum, dengan berbangga diri, karena menurut saya, mereka yang amalnya hebat dan luar biasa, ibadahnya tekun, belum tentu mengetahui dan mengerti apa yang mereka geluti itu, mereka yang selalu berteriak memperdebatkan neraka surga dan Tuhan, tapi mereka belum memahami, apa yang mereka perdebatkan itu, karena saya tahu betul, untuk mengetahui semua itu, tidaklah mudah, tidak cukup hanya dengan hapal al-qitab dan hadist serta beramal dan beribadah saja. Melainkan perlu tekad pengorbanan dan niyat yang tulus serta fokus hanya pada satu titik saja, yaitu Tuhan. Tidak bisa di campuri dengan apapun dan tercampuri oleh apapun. Itupun jika tanpa praktek, tidak bisa.

Dan… ternyata benar, yang mengetahui wali itu, adalah wali itu sendiri, artinya, yang mengetahui kalau seorang itu wali, adalah seorang wali juga. Tanpa saya beriklan kesana sini, banyak sahabat-sahabat saya, semusyafir, seperjalanan saat mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, sebuk mencari saya, dan berdatangan silih berganti, untuk salin asah asih asuh dalam belajar, sehingga kamipun, salin berbagi pengalaman. Dan bagian inilah,,, kesadaran murni saya terkikis hingga habis. Mentang-mentang saya sudah tahu, bahwa tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya, etika sipat dan sikap saya sebagai manusia hidup, tidak terpakai. Saya lupa dan tidak ingat, kalau saya ini, bukanlah seorang Nabi atau Malaikat. Melainkan manusia hidup di dunia fana, yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan yang wajar dan murni serta asli dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Sehingganya, saya sering melakukan kebohongan-kebohongan kepada banyak pihak, salah satu contohnya, jika ada yang datang ingin belajar mengenal Tuhan, saya atur sedemikian rupa, karena mengingat, lelaku saya yang tidak mudah dan ringan, saya berbelit-belit, maksudnya tidak langsung tutup poin saja, muter-muter dulu, dengan politik dan ego saya, tujuannya baik, untuk menguji iman dan tekad niyat seseorang itu, seberapa kuatnya. Jika sudah saya uji dengan berbagai macan ego kepentingan saya, termasuk soal duit/uang, seseorang itu, tetap bertekad dan berniyat belajar mengenal Tuhan, baru saya ajari, itupun sedikit demi sedikit, karena ego saya mengatakan, watirnya seseorang itu, tidak kuat/mampun, jadi, biyar kuat dan mampu, harus sediki demi sedikit, kan lama-lama menjadi bukit. Begitu dan selalu begitu tiap ada seseorang yang datang menemui saya, untuk minta di bimbing dalam mengenal Tuhan.

Selain itu, juga kalau ada seseorang yang datang, untuk meminta pertolongan tentang kesembuhan suatu pengakit atau penyelesaian masalah, saya sugesti mereka dengan benda-benda pusaka, seperti keris, batu akik, atau rajahan-rajahan tertuliskan aksara arab yang saya buat sendiri atau hasil karya sahabat saya. Tidak langsung di mohonkan kepada Tuhan, saya dogma dan saya segesti dulu dengan berbagai macan ego kepentingan saya, yang ujung-ujungnya duit. Bahkan tidak jarang, saya beri mereka kesan tentang arwah atau roh gentayangan yang bisa mengganggu manusia, hingga berakibat sakit dan tertimpa masalah.

Dan lagi juga, jika ada seseorang yang datang belajar, atau ada seseorang yang datang untuk minta tolong atau bantuan soal masalah, entah itu masalah penyakit maupun bisnis, kalau seseorang itu aalah wanita, apa lagi cantik dan bla…bla…bla… saya perlakukan lebih dari sekedar yang sudah saya ungkapkan diatas. Pernah pada suatu ketika, ada seorang wanita asal dari jakarta, datang menemui saya di pekalongan, karena pada saat itu, saya sedang berada di pekalingan jawa tengah. Wanita itu datang bersama suaminya,,, untuk keperluan soal bisnis. Saya hampir terjebak melakukan perjinahan, andai saja,,, wanita itu tidak sedang haid. Pernah lagi, di suatu ketika, ada seorang wanita muda, dari lamongan jawa timur, datang menemui saya di kebumen, karena pada waktu itu, saya sedang berada di kebumen jawa tengah. Untuk belajar mengenal Tuhan. Yang ujungnya saya jatuh cinta pada wanita itu, walau tidak sampai terjadi perjinahan, namun hubungan antara saya dan wanita itu, layaknya seorang pacar atau kekasih.

Semakin lama, saya semakin asyik dalam dunia bodoh dan konyol itu, namun saya tidak juga sadar, justru malah semakin asyik dan mengasyikan. Hingga pada akhrinya, saya jatuh tersungkur secara total. Bagaimana tidak, semua ilmu pengetahuan saya, tiba-tiba buntu dan mengilang tanpa bekas, kekuatan spiritual saya jadi lemah total, saya sering bingung dan gugup, dalam menjawab pertanya’an-pertanya’an soal Tuhan dan tentang Tuhan, yang di lontarkan oleh setiap orang yang bertanya kepada saya. Semakin lama, saya merasakan semakin jauh dari Tuhan, seakan di tinggalkan begitu saja. Jangankan untuk mengajari bab Tuhan, menjawab pertanya’an soal Tuhan saja, saya kelimpungan, seperti cacing keinjak. Tanpa buang waktu, sebelum ada yang mengetahui, bergegas saya naik ke gunung kramat, untuk menguji kemampuan yang saya miliki, dan hasilnya,,, ternyata saya memang sudah nol total. Kosong dan bodoh serta dungu.

Saya menangis tersedu haru, menyesali diri, atas semua yang sudah saya perbuat. Saya terlena dan lupa, bahwa itu adalah tidak benar. Karena, orang yang mengetahui bahwa. Tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya. Seseorang itu, justru bermoral dan beretika sebagai manusia hidup yang seutuhnya/sebenarnya, bukan mentang-mentang dan tidak memakainya.

Berhari-hari saya termenung menyesali diri, diatas puncak gunung sumbing wonosobo jawa tengah. Berhari-hari pula, tak ada satupun solusi dan jalan keluar yang datang menghampiri saya, saya putus asa, karena, kalimat doa-doa saya, yang tadinya memiliki sabda, kini kosong tak berfungsi apa-apa, sampai berbusa mulut saya memohon ampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tapi tak ada tanda-tanda apapun, yang ada hanya semakin melemahnya tubuh saya, karena menaham lapar dan haus serta tiupan angin gunung yang teramat dingin menusuk hingga ke sungsum saya. Selain berserah diri meminta mati, tidak ada lagi yang saya harapkan, hendak mengulangi lelaku seperti yang pernah saya jalani dulu, tidaklah mungkin, karena faktor usia yang telah memakan fisik saya menjadi lemah, tidak sekuat dulu.

Saya benar-benar putus asa dan menyerah, lalu, dengan sisa-sisa tenaga yang saya miliki, saya mencoba merangkak menuju sebongkah batu besar, yang bertengger di tepi jurang gunung sumbing wonosobo jawa tengah. Di atas batu itu, saya mencoba untuk berdiri tegak, terbesit dalam pikiran saya, andai tubuh saya jatuh ke jurang ini, sudah pasti akan hancur berkeping-keping. Tapi,,, sudah pasti juga, bukan hanya di benci, tapi juga akan di laknat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Lalu saya menatap jauh perkampungan kabupaten wonosobo yang manpa kecil dari atas gunung. Lalu saya memandang langit yang luar tanpa batas, dan… Teringat saya akan Firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang pernah di Sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah hadist panjang, yang kurang lebihnya seperti ini artinya;

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku, sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

Dan lagi, bangikt samangat saya, saya mungkin tidak mendapatkan ampuni dari Tuhan, karena kesalahan saya yang fatal. Yang penting saya telah bertaubat, artinya tidak akan mengulanginya lagi, serta akan memperbaiki diri dan membersihkannya dari noda yang tidak layak itu, karena saya tetap masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi saya, tanpa hisab dan adzab, seperti Firman-Nya. Saya lupakan yang sudah terjadi, dan saya biyarkan dia berlalu, saya ambil hikmahnya, dan saya bangkit lagi untuk belajar dan berlatih lagi, mulai dari nol awal.

Lalu saya memulai mengembara lagi. Nelerusuri jejak-jejak spiritual yang pernah saya lalui dulu, yang pernah menjadikan saya bisa berhasil, jika tajuh, saya bangun lagi, kalau gagal, saya berusaha bangkit lagi, begitu terus dan selalu terus begitu, tanpa ngenal capek, lelah dan putus asa. Dulu saya Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist. Kini saya Berbekal Iman. Hanya Iman. Tidak ada yang lainnya. Saya belajar dan Berlatih mencari tahu dan mengerti serta memahami. Apa itu Iman dan bagaimana Iman itu.

Dalam perjalanan ini, saya mendapatkan Tuntunan Hidup, tersebut Wahyu Panca Gha’ib. Di daerah kampung rambutan jakarta, yang kemudian saya dalami di pekalongan jawa tengah. Dengan tiga orang pembimbing, Sama seperti sebelumnya, walau dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang katanya wah, hebat, mantap dan lain-lainnya, saya mengalami pasang surut dan jatuh bangun. Maksudnya… Ada kalanya saya menyerah, ada kalanya saya putus asa, ada kalanya saya lelah, ada kalanya saya protes, ada kalanya saya berdebat unggul-unggulan pengerten/pengertian, ada kalanya saya iri, sirik, dengki, benci, dendam, ada kalanya saya meremehkan orang lain, menyalahkan ajaran agama, sikut sana sikat sini, dan bla…bla…bla… lainnya. Di sadari atau tidak di sadari, di akui atau tidak di akui, memang begitu dan seperti itulah kehidupan di dunia fana ini. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, dan memandangan menggunakan kacamata apa.

Namun, apapun yang terjadi dan yang saya alami, tetap saya berusaha dan berusaha untuk kuat, berdiri kokoh dan tegar, bak batu karang di pantai. Istilahnya, tingginya gunung saya daki, panjangnya jalan saya lalui, dalamnya laut saya selami, luasnya bumi saya tapaki, namun tetap saja saya jatuh dan jatuh lagi, namun saya selalu merangkak dan bangun lagi, saya tidak kapok, walau saya tahu saya akan jatuh lagi, tapi saya selalu bangkit bediri dan berjalan lagi, untuk selalu berlatih dan belajar, mempelajari Iman itu apa dan bagaimana . Hingga pada akhirnya….

Saya terjatuh dan benar-benar tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri. Karena suatu hal yang teramat sangat sarat, dan tidak bisa saya katakan di artikel ini, kecuali secara langsung.

Karena sudah tak mampu dan tidak sanggup bangkit untuk berdiri lagi. Saya menyerah… Semuanya dan segalanya tentang saya. Niyat saya, tujuan saya, cita-cita saya, harapan saya, keinginan saya, kepentingan saya, kebutuhan saya, masalah saya, keperluan saya, keluarga saya, perbuatan saya dan bla,,,bla,,,bla,,, terkait saya. Saya Serahkan/Pasrahkan kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan saya terima, apapun keputusan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah soal saya. Lalu,,, saya Persilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, melakukan apapun itu kepada saya. Apakan saya mau di bunuh, di siksa, di laknat, di masukan neraka, atau mau di apakan saja, saya Persilahkan… intinya, saya sudah kalah dan nyerah.

Lalu, saya menunduk patuh dengan ratapan Rindu akan Cinta Kasih Sayang-Nya yang agung lagi mulia, yang pernah di Firmankan-Nya dalam al-qitab. Lalu,,, tak berselang lama kemudia, saya merasakan, ada tangan Cinta Kasih Sayang, yang memeluk seluruh tubuh saya, dengan Cinta Kasih Sayang yang Agung itu. Tenteram saya rasakan, bahagia, damai, aman, nyaman, dan enaknya,,, tidak bisa saya gambarkan dengan sebuah kata-kata apapun, soal yang satu ini. Pokonya… Wah. Saya tahu itu adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saya.

Selama dalam pelukan Cinta Kasih Sayang-Nya inilah. Saya mendapatkan Wejangan tentang dan soal apa itu Iman dan bagaimana iman itu. Ternyata Iman itu, bukan hanya sekedar yakin atau percaya atau haq-kul yakin saja. Ternyata Iman itu, tidak cukup hanya dengan menjalankan perintah Tuhan atau meninggalkan larangan Tuhan, atau Beramal dan beribadah kepada Tuhan saja. Karena itu hanya pernak-perniknya Iman, assesoriesnya Iman, pirantinya Iman. Sedangkan Iman itu sendiri. Adalah…. Wahyu Panca Laku.

Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
2. Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
3. Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
4. Merasakan semua dan segala Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
5. Beribadah dengan Iman Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan terhadap siapapun dimanapun atas Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Prakteknya seperti yang sudah saya uraikan diatas, sa’at saya jatuh dan tidak mampu untuk bangkit lagi.

Dan dengan Wahyu Panca Laku inilah, saya bisa mampu Menjalankan Perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan Meninggalkan Larangan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Serta Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib tanpa tapi. Yang sudah saya buktikan tidak ribet, lebih ringan, lebih mudah dan tidak sulit. Tinggal Wahyu Panca Laku-nya di gunakan untuk mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib. Selesai.

Dan dengan Wahyu Panca Laku ini juga, saya berhasil membuka gha’ibnya Wahyu Panca Gha’ib. Dan lagi,,, ternyata. Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan apapun yang sering di sangkakan oleh Para Putero yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib itu sendiri.

Dengan bukti pengetahuan yang nyata saya dapatkan sendiri ini, saya berani memastikan, siapapun dia, apa lagi seorang putero romo, jikalau sudah berhasil mencapai dimensi/tingkatan atau kahanan ini. Yaitu Kesadaran Murni “SUCI/HIDUP” yang artinya, sudah mengerti, telah memahami Hakikat Hidup-nya Wahyu Panca Gha’ib yang sebenar-benarnya/sesungguhnya. Saya berani pastikan. Jangankan orang yang beragama dan berkepercaya’an, orang yang kafir sekalipun. Pasti akan di peluknya dengan penuh Iman Cinta Kasih Sayang. Jangankan orang yang tidak di kenal berlaku kasar padanya, musuh yang nyata-nyata telah menghancurkan kehidupan keluarganya saja. Pasti akan di peluknya dengan penuh Iman Cinta Kasih Sayang. Itu Pasti.

Jika tidak, berati masih belum… Apa lagi tanpa Wahyu Panca Laku, yang artinya. Wahyu Panca Gha’ib-nya. Hanya sebatas obat gengsi dan jika kepepet saja. Masih terlalu amat jauh sekali. Tapi itu bukan berati salah dan tidak akan berhasil mencapai kesempurna’an hidup di dalam kehidupannya. Bukan,,, asalkan mau membukan diri “menanggalkan ego”, dan tiada bosan-bosannya untuk selalu terus berlatih dalam belajar, lambat laun pasti berhasil mencapai tingkat kesempurna’an hidup di dunia hingga akherat nanti. Tapi kalau tidak mau membuka diri “menanggalkan ego”, dan tidak berlatih dalam belajar, saya tidak tahu, hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang punya hak untuk menjawabnya. Sebab hanya Dia Yang Maha diatas segala yang Maha. Saya hanya sebatas berusaha, mengamalkan Cinta Kasih Sayang-Nya yang Agung, yang diamanahkan kepada saya, untuk siapapun yang mau menerima, selebihnya, bukan kuasa saya.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Dulu saya pernah, minta di ajari caranya nglungguhake asmo, kepada tiga pembimbing Wahyu Panca Gha’ib saya, bukannya saya diajari, malah di lempar kesana sini, seperti bola. Yang satunya nyuruh bertanya kepada satunya, satunya lagi menyuruh belajar pada yang satunya lagi, sedang yang satunya berkata, halah,,, itu tidak penting, nanti juga bisa sendiri kalau sudah ketemu Romo. Saya diam dan menunduk. Karena saya beranggap, bahwa ini adalah tantangan dari tiga pembimbing saya buat saya. Untuk dewasa, artinya, ceker dewe/mencari sendiri, agar tahu sendiri, bukan katanya dan biyar bisa sendiri, bukan meniru.

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku. Ternyata benar, saya jadi bisa tahu sendiri. Bukan katanya tiga pembimbing saya, dan tidak meniru tiga pembimbing saya. Pada awalnya, saya mengira, bahwa keahlian nglungguhake asmo itu, adalah amanah atau mandat atau perintah atau kuasa yang di berikan oleh Romo, kepada Putero yang sudah sepuh/mumpuni. Ternyata tidak begitu. Keahlian nglungguhake Asmo itu, di karena sudah mengerti dan memahami serta tahu sendiri, hakikat-nya Asmo tersebut.

Contoh gambarannya seperti ini “Saya sudah tahu baju dan celana itu apa dan bagaimana. Serta saya juga sudah memakai baju dan celana itu setiap sa’at. Cara mencuci dan merawatnya juga saya tahu. Hingga saya hapal betul tentang baju dan soal celana itu. Karena saya sudah hapal sebab sudah tahu, saya bisa memperkenalkan dan memakaikan baju dan celana itu, pada anak yang belum mengerti baju dan celana dan belum bisa memakai baju dan celana” Seperti itu kurang lebih gambarannya. He he he . . . Edan Tenan.

Para kadhang dan Para Sedulur kinasih sekalian…. Ketahuilah. Wahyu Panca Gha’ib tanpa Wahyu Panca Laku, tidak ubahnya seperti aliran dalam sebuah ajaran individu, yang tak berujung pangkal, membingungkan, memusingkan, jika sedang bahagia, bisa percaya dan yakin mantap, tapi kalau sedang susah, karena suatu masalah, jadi bimbang, ragu hingga goyah dan terjebak ego politik yang mengerikan. Sebab itu… Ambilah hikmah dari Detik-Detik Perjalanan Spiritual saya ini. Semoga bermanfaat. Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s