Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:

Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan
Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Pahing. Tgl 16 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Manusia Hidp adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, diantara ciptaan-ciptaan Tuhan yang lainnya. Maka dari itu, manusia hidup memiliki kelebihan seperti; mampu berfikir, bersosialisasi, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia hidup.

Dari kelebihan itu, Manusia hidup memiliki sebuah pemikiran tingkat tinggi, yang menyebabkan mereka mampu mengetahui dari mana ia diciptakan. Mulailah mereka tahu bahwa dari Tuhan-lah segala sesuatunya berasal, termasuk manusia hidup. Dengan mengetahui hal itu, mereka membalas jasa Tuhan dengan cara menyembah atau memuja-NYA.

Karena sebab itu, tidaklah aneh, jika setiap manusia hidup, memiliki caranya masing-masing dalam menyembah Tuhan. Dan mulailah manusia hidup itu, membentuk suatu perkumpulan yang didalamnya terdapat orang-orang yang memiliki suatu kepercayaan yang sama, yang sekarang lebih kita kenal dengan sebutan sebagai AGAMA. Dalam sejarah dunia, diketahui bahwa Agama Hindu merupakan agama tertua yang pernah ada, itu dibuktikan dari berbagai penemuan-penemuan yang telah di temukan di india.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Di zaman serba modern ini, Kepercayaan manusia dengan adanya tuhan mulai berkurang. Itu terlihat dari tingkat spiritual mereka, yang selalu berubah seiring dengan bertambahnya zaman. Kita ketahui bahwa, Spiritual itu merupakan hal-hal yang selalu berhubungan dengan jiwa dan kerohanian. Spiritual yang baik akan menciptakan kecerdasan spitritual yang baik pula. Apabila Kecerdasan spiritual ini telah mencapai pada tingkat tertinggi, maka membantunya untuk mengembangkan dirinya secara utuh, melalui penciptaan dan kemungkinan untuk selalu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupannya.

Sebelum kita ingin mengetahui tingkat spiritual orang lain. Maka alangkah lebih baiknya, kita mengetahui tingkat spiritual diri kita sendiri terlebih dahulu. Cara mengetahui tingkat spiritual yang paling baik dan tepat, adalah dari segi doa yang kita mohon kepada Tuhan di setiap harinya dan kebiasa’an kita dalam pergaulan sehari-harinya.

Tingkat Kesadaran Spiritual atau Spiritual level, adalah gambaran tentang kedewasa’an atau kapasitas kesadaran spiritual seseorang. Istilah ini berfungsi sebagai skala untuk mendefinisikan, pertumbuhan spiritual dan memberikan perspektif tentang dimana kita berada dalam perjalanan spiritual kita. Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual seseorang, semakin banyak pula prinsip tentang Dzat Maha Suci, yang termanifestasi di dalam individu tersebut.

Dan menurut saya pribadi. Tingkat Kesadaran Spiritual tertinggi atau puncak dari pertumbuhan spiritual seseorang, yaitu Kesadaran akan Diri Sejati (Kesadaran Murni) atau mencapai Kesatuan dengan Dzat Maha Suci.

Mayoritas manusia di era saat ini, secara umum dikenal sebagai Era Perselisihan, berada dalam kategori tingkat kesadaran spiritual dua puuh persen, seseorang yang berada di atas tingkat kesadaran spiritual tujuh puluh persen, dikenal sebagai Orang Suci. Sama seperti kita memiliki orang-orang yang berada di posisi atas, pada tiap-tiap bidang dalam dunia materi, begitu juga para Orang Suci yang tinggal di Bumi, berada di posisi atas dalam hal Spiritualitas. Mereka bukan hanya para cendekiawan, melainkan mereka juga praktisi dari ilmu pengetahuan Spiritualitas dalam hidup sehari-hari, dan merupakan Jiwa-Jiwa Suci (Roh Sejati) yang telah mencapai kesadaran sejati atau kesadaran murni akan Dzat Maha Suci.

Orang-orang Suci yang aktif dalam mengajar Spiritualitas dan membimbing para pencari Tuhan dengan spiritualitas, untuk tumbuh secara spiritual, dikenal sebagai para Guru. Kurang dari sepuluh persen dari Orang-orang Suci, yang hidup di Bumi adalah Guru (Pembimbing Spiritual). Guru adalah wujud fisik dari prinsip Pengajar tentang Dzat Maha Suci, dan mereka bertindak sebagai mercu suar, bagi pemahaman spiritual di dunia kita yang sangat materialistik ini.

Tingkat kesadaran spiritual, tidak dapat diukur oleh peralatan ilmiah modern apapun, dan juga tidak dapat dipastikan secara intelektual oleh siapapun. Hanyalah Seorang Suci atau seorang Guru, yang dapat memastikan tingkat kesadaran spiritual seseorang, dengan indera ke’enam atau kemampuan persepsi-Nya yang mendalam.

Pertanya’an ini sudah cukup sering dipertanyaan kepada saya, baik secara langsung maupun melalui media internet. Yaitu “Bagaimana Seorang Suci atau Guru Pembimbing Spiritual dapat mengukur dengan akurat tingkat kesadaran spiritual seseorang?”

Sama seperti mata dengan kemampuan dasarnya, yang dapat dengan mudah membedakan antara suatu objek berwarna biru dan objek berwarna merah dengan ketepatan seratus persen, begitu pula Seorang Suci atau guru pembimbing spiritual, dengan kemampuan indera keenam-Nya, dapat dengan akurat mengukur tingkat kesadaran spiritual anak-anak didik/muridnya. Indera ke’enam membuat seseorang mampu menajamkan kesadaran dan mengukur dengan akurat dunia yang tak kasat-mata (alam spiritual/ghaib).

Seperti sekelumit penjelasan saya dibawah ini, yang kemungkinan bisa di jadikan sebagai tolak ukur, untuk mengetahui tingkatan spiritual pribadinya. Sudah seberapa persenkah kadar iman atau kemampuan spiritualnya. Seiring meningkatnya tingkat kesadaran spiritual seseorang, sikap dan perspektifnya tentang kehidupan berubah secara dramatis.

Nah, Pertanyaannya sekarang adalah;
Bagaimana Cara Mengetahui Tingkat Spiritual seseorang…?!
Lalu… Bagaimanakah Tingkat Kesadaran Spiritual diukur?
Berikut beberapa tingkatan-tingkatan spiritual pada umumnya, yang pernah saya alami dulu.

Pertama Tentang Ego dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Salah satu faktor penting, dalam tingkat kesadaran spiritual seseorang, adalah seberapa banyak ego atau kegelapan di sekitar Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang telah dilenyapkan, dan seberapa mampu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam dirinya.

Maksud saya, dengan kegelapan di sekitar Jiwa atau Ego, adalah kecenderungan manusia, untuk melihat dirinya, hanya berdasarkan panca indera, pikiran dan intelek. Ego ini juga dikenal sebagai ketidaktahuan spiritual, akan Hakikat Manusia Hidup, yakni Jiwanya (Roh Suci/Hidup). Sistem edukasi modern dan masyarakat mengajari kita untuk mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh fisik, pikiran dan intelek (akal budi), karena tidak tahu bahwa Hakikat Manusia Hidup sebenarnya adalah Jiwa (Roh Suci/Hidup).

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan Spiritualitas, meskipun kita dapat memahami secara intelek, tentang keberadaan Jiwa (Roh Suci/Hidup) di dalam diri kita, kita belum dapat merasakan atau mengalaminya. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kegelapan jiwa (ego) akan mulai berkurang, sampai kita mencapai tingkat kesadaran spiritual tertinggi, di mana kita dapat secara utuh, mengidentifikasikan diri dengan Jiwa (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam diri kita. Dengan praktek spiritual, ego kita mulai berkurang, yang mana berkaitan langsung dengan meningkatnya, tingkat kesadaran spiritual kita.

Pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, seseorang sangatlah egois, sadar hanya akan dirinya sendiri dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kesadaran tentang tubuh fisik kita akan berkurang. Kita tidak hanya akan mampu bertahan dari ketidaknyamanan dan penderitaan, tetapi kita juga mampu untuk menerima pujian tanpa menjadi besar kepala.

Contoh misalnya suatu indikasi dari ego yang tinggi;
Ada seseorang tidak secara terbuka, mengakui bahwa ia melakukan latihan spiritual, karena hal itu mungkin membuatnya terasing dari teman-temannya. Dalam kebanyakan kasus, kita juga sering bereaksi negatif ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita. Ketidak mampuan menerima kesalahan in, merupakan salah satu tanda dari ego.

Pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, terdapat ketertarikan secara umum, untuk pergi ke tempat ziarah atau menyembah Dzat Maha Suci dengan cara ritualistik.

Pada tingkat kesadaran spiritual empat puluh persen, seseorang akan memiliki ketertarikan untuk mendapatkan pengetahuan spiritual dan menerapkannya. Mereka akan menghabiskan sejumlah waktu luangnya untuk pengejaran spiritual.

Pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, seseorang umumnya maju melampaui agama mereka sendiri, menuju Spiritualitas murni. Fokus utama dalam hidup orang tersebut, adalah untuk tumbuh secara spiritual, dan tidak lagi untuk pencapaian dan keterikatan duniawi. Seiring itu, mayoritas dari waktu mereka, akan dihabiskan untuk menerapkan Spiritualitas, tidak peduli apapun situasi kehidupannya, entah mereka pebisnis, ibu rumah tangga, buruh dll.

Jadi orang tersebut, yang sebelumnya sangat memperhatikan apa yang ia dapatkan dan apa yang orang pikirkan tentang dirinya, sekarang akan lebih tertarik pada apa yang Dzat Maha Suci pikirkan tentang dirinya.

Kedua Tentang Emosi Psikologis dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Dalam dunia kini yang egois dan kejam, memiliki emosi-emosi (perasaan) positif, khususnya mengenai orang lain adalah hal yang baik. Tetapi setelah mencapai tingkatan ini, walaupun lebih baik dibandingkan rata-rata orang yang kejam dan tidak berperasaan, seseorang harus mengingat bahwa hal itu belumlah puncak pencapaian.

Kenyata’annya, emosi psikologis adalah suatu fungsi dari pikiran yang merupakan bagian dari selubung gelap di sekitar Jiwa (Roh Suci/Hidup) kita, seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Maka, emosi menjauhkan kita dari Jiwa/Roh Suci/Hidup yang ada di dalam diri kita.

Dzat Maha Suci melampaui emosi psikologis dan berada dalam kondisi kebahagia’an puncak/superlatif yaitu Bahagia Sejati. Ketika seseorang tumbuh secara spiritual, kemungkinan orang tersebut untuk bertindak secara emosional akan berkurang. Karen dia mencapai kondisi pikiran yang lebih seimbang dan tidak lagi dia akan terombang-ambing di antara kebahagiaan dan kesedihan, akibat peristiwa-peristiwa di sekitarnya.

Ketiga Tentang Emosi Spiritual dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Emosi spiritual terhadap Dzat Maha Suci, adalah mengalami kesadaran secara intensif, tentang keberadaan Dzat Maha Suci dalam segala hal, yaitu merasakan kehadiran Dzat Maha Suci, saat melakukan aktivitas sehari-hari dan mengalami hidup berdasarkan kesadaran tersebut.

Ketika emosi spiritual seseorang meningkat, orang tersebut akan semakin mampu untuk mengalami uluran tangan Dzat Maha Suci dalam setiap aspek kehidupan, dan oleh sebab itu, dia mampu untuk lebih berserah diri kepada Dzat Maha Suci. Setelah seseorang mencapai kondisi berserah diri tersebut, prinsip Dzat Maha Suci, kemudian dapat bekerja melaluinya. Prinsip ini menjadi semakin termanifestasi di dalam orang tersebut dan dia beserta orang-orang di sekitarnya, mengalami aliran Energi Ilahi Dzat Maha Suci, melalui diri orang tersebut.

CONTOH:
Seorang pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, akan merasa bangga akan dirinya dan kemampuan inteleknya, setelah menutup sebuah transaksi yang besar dan bergengsi. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, berilah hambamu ini kebahagia’an, hambamu ini sangat miskin, berilah hamba harta yang banyak, agar aku bisa menikmati hidup yang telah engkau berikan kepadaku”

Nah,,, apabila Anda merasa bangga akan diri dan kemampuan intelek Anda, dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai dua puluh persen. Yaitu tingkat iman atau level spiritual terendah.

Sedangkan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, akan merasa sangat sulit untuk mencari waktu, dalam jadwal sibuknya, untuk menghadiri pengajian atau satu ceramah spiritual. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, aku memohon kepadamu. Berikanlah hambamu ini, keadilan, hukumlah orang-orang yang telah menyakiti hamba, melukai hamba dan menghianati hamba, sebagaiaman mestinya”

Apabila Anda mengalami kesulitan meluangkan waktu di setiap adwal kesibukan sehari-hari, untuk mengikuti pengajian atau secaramah spiritual dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai tiga puluh persen.

Tapi Orang yang sama dengan beban duniawi yang setara juga, setelah mencapai tingkat spiritual empat puluh persen, akan dengan mudah menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, Berikanlah hambamu ini keselamatan lahir bathin, sehingga aku bisa menempuh segala macam rintangan yang engkau berikan kepadaku ya Tuhan”

Atau…
“Ya Tuhan,,, Berikanlah keluargaku keselamatan, kakak adiku, ibuku dan juga ayah bundaku, semoga selalu dalam lindunganmu”

Apabila Anda mengalami kemudahan dalam menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti diatas ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai empat puluh persen.

Dan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, dalam keadaan beban duniawi yang sama, akan hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, Engkau maha pengasih dan penyayang, karuniailah seluruh mahluk hidup di dunia ini keselamatan dan kesadaran, sehingga dunia ini di penuhi hal-hal yang positif dan kedamaian”

Apabila Anda mengalami hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai lima puluh persen.

Lain lagi jika seseorang yang tingkat kesadaran iman spiritualnya, telah mencapai kadar enam puluh persen keatas. Selain penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci atas apapun itu, diapun sudah tidak mempermasalahkan lagi, tentang baik dan buruk, tidak membedakan lagi soal salah dan benar, karena dia telah mengetahui dengan sadar, bahwa baik dan buruk serta salah dan benar itu, berasal dari satu sumber, yaitu Dzat Maha Suci, jadi,,, tidak untuk di permasalahkan dan di bedakan, apa lagi di perdebatkan, melainkan di sikapi dengan kemurnian iman spiritual/Laku. Yang ada di dalam pikirannya, hanya tentang bagaimana caranya agar bisa menebar cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk hidup, yang ada di dalam hatinya, hanya soal bagaimana caranya agar Dzat Maha Suci Mencintai. Mengasihi. Menyayangi nya. Dan doanyapun seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan… Jika engkau menurukan hambamu ini ke dunia, untuk menebus segala dosa-dosa yang telah aku lakukan dahulu dan menyempurnakan karma-karma leluhurku. Berikanlah aku penderita’an dan rintangan, jangan berikan aku kebahagia’an dan kesenangan. Karena kebahagia’an dan kesenangan itu, hanya akan menambah dosa salah dan luputku”

Jadi,,, jika seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya, jika kehilangan perjanjian, dia akan menjadi penuh dengan kejengkelan, rasa cemburu, dan ketidak bahagia’an. Namun, orang pada tingkat kesadaran spiritual enam puluh persen keatas, dalam sikon apapun, akan tetap mampu melihat uluran tangan Dzat Maha Suci dalam situasi bagaimanapun dan memahami bahwa apapun yang tersebut, telah dimenangkan, oleh yang layak dan dia akan berterima kasih kepada Dzat Maha Suci, untuk memberkatinya dengan sudut pandang Iman Cinta Kasih Sayang yang Murni.

Dan Semoga Pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at bagi siapapun yang ingin mengetahui tingkat pencapaian spirtual pribadinya, tanpa harus malu bertanya kepada siapapun. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s