SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:

SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 09 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Terkasihku sekalian…
Tidak sulit bagi semua orang untuk memahami, bahwa kemiskinan adalah penderitaan, Semua orang miskin berusaha keras untuk keluar dari penderitaannya itu. Serba kekurangan adalah kesulitan yang tidak perlu dijelaskan lagi, karena sudah pasti mengerti jawabannya. Saya contohkan pada diri saya sendiri. Yang mulainya dari kenakalan dini, saya terkucil, saya terusir, sehingga manjedai miskin segalanya. Berjuang hidup sediri sebagai anak terlantar yang tuna segalanya. Lalu saya berjuang dengan segala risiko kemampuan saya, untuk bisa bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu.

Walau saya berhasil bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu, namun sayang, keberhasilan saya, tanpa adanya Tuhan di dalamnya, karena keberhasilan itu, saya capai bukan dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Melainkan dengan adigang adigung adigunanya ilmu jaya kawijayan. Sehingganya, menjadikan saya selalu haus akan Iman Cinta Kasih Sayang. Dan akhirnya, semua keberhasilan itu, saya korbankan segalanya demi untuk mendapatkan Iman Cinta Kasih Sayang yang selalu membuat saya haus.

Setelah Mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib pless Panca Laku, secara nyata, bukan katanya, saya bisa merasakan Iman Cinta Kasih Sayang yang selama ini saya rindukan, yang selama ini saya dambakan dan saya idam-idamkan. Sehingganya saya sadar dan benar-benar sadar sepenuhnya. Bahwa kemakmuran tidak mampu membebaskan manusia dari kegagalan dan kesedihan. Kelimpahan materi sama sekali tidak bisa menyingkirkan ketegangan mental, sakit, usia tua, apalagi kematian. Kedudukan dan kekayaan memang bisa memberikan manfaat sosial, tetapi tidak mampu membebaskan manusia dari penderita’an, apa lagi yang namanya kematian. Dan sejak itu, saya tidak mau membagi Iman Cinta Kasih Sayang saya kepada Dzat Maha Suci, dengan apapun dan siapapun. Karena saya tau, itulah yang sebenar-benarnya musrik dan sirik. Karena itu, selain Dzat Maha Suci, cukup saya akui kebenarannya, bukan saya Cintai atau Kasihi atau Sayangi dengan Iman.

Sangat sering kita hanya berusaha menutup-nutupi penderitaan, dengan membuat kebahagiaan semu, yang hanya bertahan sementara. Kita selalu menutupi penderitaan dengan terus berpindah-pindah dari kebahagiaan yang satu menuju ke kebahagiaan yang lainnya. Dengan demikian, meskipun hidup dalam kelimpahan materi, penderitaan yang masih ada itu, bahkan yang makin membesar, tidak mudah disadari. Mengapa? Karena kita rajin menutupinya, bukan mengatasi. Sedangkan tatkala berada dalam kemiskinan usaha untuk menutupi penderitaan amatlah sulit, sehingga penderitaan amat mudah dialami dan difahami oleh siapapun dia, namun belum tentu bisa mengatasinya.

Awal mula pertama kali saya menyadari penderitaan dalam kemakmuran kehidupan. Hanya orang besar, yang mampu melihat adanya bahaya dalam kesejahteraan dan kenikmatan inderawi. Manusia biasa lainnya, seperti tertutup debu yang amat tebal di mata hatiku. saya menganggap makmur itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya, meskipun harus selalu berlari dari satu sensasi sukses menuju ke sensasi sukses lain yang lebih sulit. Dan, tidak pernah berhenti!

Itu sebab, dengan legowo bahkan sangat rela, saya meninggalkan semuanya dan segalanya yang pernah saya miliki. untuk menjalani hidup sederhana, bahkan amat sederhana, berlatih pada banyak guru selama bertahun-tahun, mencari jalan kebebasan dari penderitaan. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib. Tetapi apakah yang telah saya capai itu, adalah akhir dari semua penderitaan?

Ternyata, tidak! Amat tidak mudah sesungguhnya menyadari hal ini. Banyak para spiritualitas telah menganggap keheningan tanpa bentuk itu adalah kemanunggalan abadi dan tercapainya tujuan akhir perjalanan spiritual. Mereka menganggap pencapaian itu adalah kebahagiaan sejati. Tetapi bagi saya, semua itu hanyalah penekanan sementara saja, dari kelekatan napsu dan kotoran-kotoran mental penyebab penderitaan. Artinya; Penderita’an itu masih tetap ada.

Karena itu, walau saya sudah menemukan pelajaran benar, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, saya masih tetap terus belajar dan belajar. Menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kehidupan saya, tak peduli dengan apapun, tujuan riyil panca indera saya, hanya satu, yaitu terarah hanya kepada Dzat Maha Suci, tidak ada apapun yang bisa mencampuri itu dari Niyat tujuan saya, dan sayapun tidak mencampurinya dengan apapun itu. Saya meninggalkan semua pencapaian ketenangan luar yang hanya berfungsi menekan itu, kemudian menggunakan kekuatan kesadaran murni saya, untuk membongkar gudang Wahyu Panca Gha’ib dan menghabiskan kotoran batin yang menjadi akar semua penderitaan saya. Hingga pada akhirnya, saya berhasil memperoleh Wahyu Panca Laku. Cara untuk mengamalkan/mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib.

Yaitu;
Manembahing Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Pati Urip-Urip Pati.

Dengan ini, saya tidak terlena dan terbelenggu dengan kebahagiaan semu yang berkotak-kotak, ini saya dapatkan bukan dari petunjuk yang diberikan orang lain atau bisikan para nabi, malaikat, wali, dewa ataupun kekuatan yang lainnya. Saya mengeri dan mengetahui serta memahaminya, karena kesadaran murni saya. Dan bukan hanya saya, Siapapun bisa, siapapun mampu, jika beum bisa dan belum mampu, datanglah temui saya, akan saya tuntun dan saya bimbing agar supaya bisa dan mampum. Karena ini bukan untuk pribadi saya, melainkan untuk semuanya tanpa terkecuali.

Inilah Kesempurna’an. Inilah kebenaran. Jalan Kebebasan kita dari semua Penderita’an. Pencerahan Sempurna yang membuat Jalan Kebebasan itu menjadi jelas, telah melampaui ketiga dimensi sekaligus. Yaitu; kemiskinan, kemakmuran, dan juga keheningan Laku Spiritual.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan