WAHYU PANCA GHA’IB DAN WAHYU PANCA LAKU:

WAHYU PANCA GHA’IB DAN WAHYU PANCA LAKU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Pon. Tgl 09 Maret 2016

Wahyu Panca Gha’ib Menurut Penemuan Pribadi WEB:
Apakah yang dimaksudkan dengan Wahyu Panca Gha’ib itu..?!
Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama atau kepercaya’an, bukan kejawen atau golongan, bukan perguruan atau kebathinan, bukan ilmu atau atau partai dan politik serta lain-lainnya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk Laku Manunggal, Manunggal itu apa? Manunggal itu menyatu atau bersatu, menyatu dan bersatu dengan apa dan siapa? Menyatu atau bersatu dengan Hidup. Apa yang disatukan dengan Hidup. Kawula dan Gustinya atau Sedulur papat kalima Pancernya. Apa itu kawula gusti atau sedulur papat kalima pancer?

Kawula atau Sedulur Papat itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau mutmainah, aluamah, supiyah, dan amarah. Gusti atau Pancer adalah Wujud/Raga. Itulah yang disatukan dengan Hidup, agar jiwa raganya menyatu dengan Hidup, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sikon apapun, seperti dikala Hyang Maha Suci Hidup menciptakan dan dilahirkan oleh Ibu.

Apa manfaat dan keuntungannya kalau sedulur papat kalima pancer atau kawula gusti itu menyatu atau bersatu dengan hidup?

Manfa’atnya. Pertama; akan pantas dan layak di sebut sebagai manusia hidup, cipta’an Hyang Maha Suci Hidup. Kedua; bisa tau, mengerti dan paham Firman Hyang Maha Suci Hidup. Sehingga bisa menjalankan apa yang telah di firmankan Hyang Maha Suci Hidup, baik yang tersurat maupun yang tersirat, dengan tepat dan benar sesuai firman-Nya, dan masih banyak manfa’at-manfa’at dan keuntungan lainnya,,, Sempurna dunia akherat hingga tujuh keturunannya, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke atas dan kebawah yang terlibat dalam ikatan saudara dengan kita, akan ikut Sempurna.

WAHYU PANCA GHA’IB:
Wahyu Panca Gha’ib memiliki lima Kalimah/Mantera Gha’ib yang tersebut di bawah ini;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Lima Kalimah/Mantera Gha’ib inilah yang disebut Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu itu Pemberian Hyang Maha Suci Hidup. Panca itu Lima. Gha’ib itu Laku Kasampurnan/Kesempurna’an Hidup.

Kunci, yang merupakan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Sebagai Pancernya/Gusti-Nya. Dan Paweling/Asmo/Mijil/Singkir, yang merupakan Sabda-Nya Hidup. Sebagai Sedulur Papat/Kawula-Nya.

Wahyu Panca Gha’ib adalah, sebuah Pengetahuan yang bersumber dari Hyang Maha Suci Hidup, serta Budaya hasil karya Hidup, yang bersemayan disetiap diri pribadi masing-masing manusia Hidup. Banyak jenis pengetahuan yang dapat dipelajari, diantaranya;

A. Kejawen yang mengupas tentang Budaya.
1. Kejawen yang mengupas tentang Kasusilan ( Hablaminnanas ).
2. Kejawen yang mengupas tentang Seni Tari, Pahat, Ukir, Sastra dll.
3. Kejawen yang mengupas tentang Kepercayaan/KeTuhanan.
4. Kejawen yang mengupas tentang Wesi Aji, Watu Aji, dll.
5. Kejawen yang mengupas tentang Kanuragan/Kebatinan. Dll.

B. Kejawen yang mengupas tentang Adat adalah, peraturan yang ada dan tidak tertulis (Konvensi) namun sangat dita’ati oleh masyarakat setempat, yang mana semua itu, dibuat dan diakui bersama, serta dita’ati secara turun temurun, walau kadang-kadang mengandung unsur mistis.

Namun berbeda dan tidak sama dengan Wahyu Panca Gha’ib. Karena Wahyu Panca Gha’ib, menggunakan budaya Hidup, yang bersumber dari satu sumber saja, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Sang Kuasa dari segala yang Maha. Yang lebih di kenal secara umumnya. Dengan sebutan Tuhan/Allah dll.

Apakah benar bahwa di dalam Kejawen itu memiliki dua Kitab Suci ?

Benar,,, kalau yang di tanyakan adalah kejawen.
1. Kitab Suci Kering, yaitu Kitab Suci yang tertulis, seperti misal;
Sastro Jenro Hayu Ningrat Pangruwating Diyu, Serat Sangkan Paraning Dumadi, Serat Centhini, Hamamangayu Hayuning Bawana, Sasongko Jati, Serat Wirit Hidayat Jati, dll.

2. Kitab Suci Basah, yaitu petuah-petuah dari para pinisepuh, biasanya banyak yang merujuk ke falsafah. Misal;
Aja pada rumangsa bisa, ananging pada bisa rumangsa, marga rumangsa bisa iku manggon ana ing pikirmu, ananging bisa rumangsa iku manggon ana ing atimu.

Artinya;
Janganlah merasa bisa, akan tetapi bisa merasa, sebab merasa bisa itu terletak di pikiranmu, akantetapi bisa merasa itu terletak pada hatimu.

Suro diro Jaya ningrat Lebur dening Pangastuti.
Yang artinya adalah Kejahatan itu akan terkalahkan dengan Kebaikan. Dll.

Tapi tidak dengan Wahyu Panca Gha’ib, karena Wahyu Panca Gha’ib. menggunakan pedoman Hidup, yang bersemayan di dalam diri pribadi, dan Hidup itu, mengetahui firman Hyang Maha Suci Hidup, secara langsung, tanpa perantara dan tanpa tersurat atau tersirat, tidak bisa diracang atau di politik atau di kira-kira atau di rekayasa. Datangnya tiba-tiba cap kali Hyang Maha Suci Hidup berFirman, dan Firman ini hanya diketahui oleh Hidup yang bersemayan di setiap diri manusia Hidup yang memiliki Laku Wahyu Panca Gha’ib.

Jadi, tidak ada kitab/buku di dalam Wahyu Panca Gha’ib, kecuali diri pribadinya dan alam semesta, yang ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib, adalah Wahyu Panca Laku, yang dalam istilah keilmuan disebut “Aji Mundi Jati Sasongko Jati” dan lebih dikenal dengan sebutan kitab suci adamakna, kitab suci adamakna ini, bukan berupa lembaran buku yang di penuhi tulisan-tulisan pena, melainkan diri pribadinya sendiri dengan semesta alam.

Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada Firman Tuhan. Yang dapat menjamin Dunia Akherat dan Hidup Matimu. Itulah semboyan dalam Laku Kasampurnan (Wahyu Panca Gha’ib) di kesehariannya, terutama disa’at Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Maksudnya, jangan terburu-buru, jangan menggunakan perasa’an, sa’at mengamalkannya, gunakan rasa, penuh penghayatan iman, sadar, toto titi surti ngati-ngati, rasakan dan rasakan proses baca’annya, dari kalimat demi kalimat yang dibaca. Agar bisa mengetahui proses dan ending serta klimaxnya di dalam Patrap Laku Wahyu Panca Gha’ib.

Itu sebab, pelaku Wahyu Panca Gha’ib, diharuskan tidak terburu-buru, sa’at membaca Kalimah/Mantera Gha’ib. Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Dan Singkir. Dan menggunakan rasa, bukan perasa’an, tidak boleh menebak-nebak atau menduga-duga, merancang, tentang apapun yang terjadi sa’at patrap Laku Wahyu Panca Gha’ib. Melainkan dihayati dan rasakan prosesnya, agar mengetahui ending dan klimaxnya, kalau bisa merasakan prosesnya, pasti tau endingnya, jika mengetahui endingnya, pasti mengerti klimaxnya, kalau mengerti klimaxnya, akan paham, bahwa ada Wahyu Panca Laku, yang tersembunyi, disetiap celah-celah huruf bunyinya, baca’an kalimah/mantera Wahyu Panca Gha’ib, yang perlu dan harus diketahui sendiri, tidak boleh katanya apapun dan siapapun.

Gha’ib apa yang tersembunyi di setiap celah-celah baca’an kalimah/mantera Wahyu Panca Gha’ib? Wahyu Panca Laku. Wahyu Panca Laku inilah, yang nantinya akan menuntun si Palaku Wahyu Panca Gha’ib, ke titik finis tujuan yang di idamkan, apapun itu tujuannya.

Wahyu Panca Laku, memiliki lima Tingkatan Hakikat Hidup. Mengapa disebut tingkatan? Karena disetiap tingkatan dimensinya, itu berbeda pengertian dan Lelakunya, di bawah ini Wahyu Panca Laku yang tersembunyi di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Kelima tingkat Hakikat Hidup inilah, yang akan menuntun Pelaku Wahyu Panca Ghaib, menuju Asal Dumadining Ananing Manungsa Urip (ADAMU) dengan PASTI SEMPURNA. Yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Bukan kitab suci atau kitab-kitab lainnya. Isi dari Wahyu Panca Laku ini, adalah Firman Hyang Maha Suci Hidup, tanpa tulis, yang dapat di ketahui oleh setiap pelaku Wahyu Panca Gha’ib, melalui Sabdanya Hidup yang bersemayan di diri pribadinya.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

1. Manembahing Kawula Gusti… “Obahe Pikir, kasebut Kareb”.
2. Manunggaling Kawula Gusti… “Obahe Kareb, kasebut Rasa”.
3. Leburing Kawula Gusti… “Obahe Rasa, kasebut Bathin”.
4. Sampurnaning Kawula Gusti… “Obahe Bathin, kasebut Osik”.
5. Sampurnaning Pati Urip… “Obahe Osik, kasebut Nurullah”.

1. Obahe Pikir, kasebut Kareb – Niyat kang saka pikir iku kasebut Karsa”.
2. Obahe Kareb, kasebut Rasa – Niyat kang saka Kareb kasebut Karya”.
3. Obahe Rasa, kasebut Bathin – Niyat kang saka Rasa kasebut Manteb”.
4. Obahe Bathin, kasebut Osik – Niyat kang saka Bathin kasebut Meneb”.
5. Obahe Osik, kasebut Nurullah – Niyat kang saka Osik kasebut Sujud/Pasrah.

Artinya;
1.Bergeraknya Pikir itu disebut Keinginan.
2. Bergeraknya Keinginan disebut Rasa.
3. Bergeraknya Rasa disebut Bathin.
4. Bergeraknya Bathin disebut Osik.
5. Bergeraknya Osik disebut Nurullah.

1. Niyat yang dari Pikir disebut Kemaunan.
2. Niyat yang dari Keinginan disebut Karya.
3. Niyat yang dari Rasa disebut Mantap.
4. Niyat yang dari Bathin disebut Menep.
5. Niyat yang dari Osik disebut Sujud tunduk Pasrah. Sujud/Tunduk/Pasrah inilah Nurullah, yang disebut Menyatunya Diri/Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup.

Maksudnya;
Segala sesuatu yang berasal karena pemikiran, tanpa didasari dengan rasa yang terdalam, maka semua hanya mencari keuntungan semata, mencari Nama, mendapatkan ketenaran belaka, yang semua itu adalah duniawi, namun jika kita melakukan sesuatu, dengan niat kedalam (sampai tingkat bathin saja) maka semakin kedalam semakin tunduk orang tersebut, apa lagi lebih dalam dari sekedar bathin.

Pikir dan Keinginan, dimiliki oleh orang pada tingkat Manembah. Syareat/Kamadhatu, karena pada tataran ini, masih duniawi, Rasa dan Bathin, dimiliki oleh orang pada tataran Manunggal. Hakikat/Rupadhatu, yang sudah mengurangi Duniawi, Osik dan Nurullah dimiliki oleh orang pada tataran Lebur. Makrifat/Arupadhatu. Sedangkan Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip, dimiliki oleh orang pada tataran Sempurna (Suci).

Raga itu diciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari cinta kasih sayang Bapa dan Ibu. Sedang Sukma di ciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari roh empat intisari/anasir.

Raga yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, turun ke dunia, menjadi kalifahnya. Disebut Manusia Hidup (Wong Urip).

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, sebagai utusan Manusia dengan Tuhan-nya disebut Malaikat.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menggoda Manusia. Disebut Jin atau Iblis.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, tinggal didalam tubuh Manusia Hidup. Disebut Sukma.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk keluar dari tubuh Manusia Hidup. Disebut Arwah.

Doa;
Adalah sebuah permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, tanpa melakukan gerakan, biasanya dilakukan secara spontan.

Sembahyang;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang dilakukan dengan sebuah gerakan.

Mantera;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang biasanya berguna untuk membuka akan Ilmu Hyang Maha Suci Hidup.

Dzikir;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, dengan menyebut asma Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara mengulang-ulang.

PATRAP dan SEMEDHI;
Patrap atau pepatrap hampir sama dengan Semedhi, namun terdapat sedikit perbedaan pada sisi pernafasan, jika patrap kurang memfokuskan pada sisi aturan pernafasan, tetapi Semedhi, lebih memfokuskan pada aturan/pernafasan, Semedi lebih fokus pada Doa. Patrap tidak.

Dalam Wahyu Panca Laku tingkatan pertama, yaitu Manembahing Kawula Gusti, terbagi menjadi tiga unsur yaitu :

1. Hubungan antara Aku dan Hyang Maha Suci Hidup – Yang bisa menghasilkan timbul/tumbuhnya Iman secara alami.

2. Hubungan antara Aku dan sesama Manusia Hidup – Yang bisa menghasilkan timbul/tumbuhnya Cinta Kasih Sayang secara alami.

3. Hubungan antara Aku dan Alam semesta – Yang bisa menimbulkan/menumbuhkan Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip secara alami.

Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip, akan terkupas secara alami pula, pada tingkatan Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan pada Leburing Kawula Gusti, akan terbahas dengan sendirinya secara alami pula, di tingkatan Sampurnaning Kawula Gusti, yang akan mengajarkan tentang sipat dan sikap berpasrah diri, pada Hyang Maha Suci Hidup, dalam menjemput kematian manusia itu sendiri, yang disebutnya dengan Ilmu Kasampurnan.

Wahyu Panca Laku Yang Pertama, yaitu;
Manembahing Kawula Gusti.
Dalam tingkatan Manembahing Kawula Gusti ini, pelaku Wahyu Panca Gha’ib, akan ditempa oleh Hyang Maha Suci Hidup, dan di ajari oleh Hidupnya sendiri, yang sebagai Guru Sejatinya. Tentang;

Pengetahuan tentang Kasasujudan/Sasujud ( hubungan antara Manusia dengan Gusti Hyang Maha Suci ), lazimnya orang Jawa menyebutnya sebagai Dedalaning Gusti atau Jalan Allah, atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun /Aku + Gusti Allah = Iman.

1. Pengetahuan tentang Kasusilan/Susila ( hubungan Manusia dengan Manusia atau hubungan antar sesama ), atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun/Aku + Sesama Manusia = Budi Pekerti.

2. Kasamaden/Semedi (hubungan Manusia dengan Alam), atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun/Aku + Alam = Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip.

Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip. akan diperdalam pada tingkatan Laku Manunggaling Kawula Gusti.

Pada tataran Manembahing Kawula Gusti, siapapun dia, pola kemauannya masih pada PIKIR dan KEINGINAN, karena itu, butuh dan perlu Kunci. seperti contoh pengertian di bawah ini;

Obahe Pikir, iku kasebut Kareb, obahe Kareb, kasebut Rasa,
Niyat kang saka pikir, iku kasebut Karsa, niyat kang saka Kareb, kasebut Karya.

Artinya; Bergeraknya Pikir, itu disebut Keinginan, Bergeraknya Keinginan, disebut Rasa, Niyat yang dari Pikir, disebut Kemaunan, Niyat yang dari Keinginan, disebut Karya.

Maksudnya; Pada tataran ini, jiwa mereka masih berkemauan, yang hasilnya kadang mau menjalankan kadang tidak, atau jika sudah bisa mengerti akan agama/pelajaran, maka dia akan berkarya untuk dirinya sendiri.

Perlu diketahui, bahwa pengetahuan Kasusilan dalam Manembahing Kawula Gusti, itu sangat penting, disebabkan karena hubungan antara Manusialah, sebagai pangkal dari kekisruhan, yang ada dalam dunia ini, maka penekanan sikap dalam ajaran Manembahing Kawula Gusti ini, diantaranya dalam petuah sebagai berikut;

Agama iku satemene mung sadrema Buku, ananging Agama kang sejati iku lakumu, marga laku kang becik iku ibarat Madep Gusti kang tanpa Sujud.

Artinya; Agama itu hanya sekedar Buku, tetapi Agama yang sejati itu, tingkah perbuatanmumu, sebab perbuatan yang baik ibarat menghadap/sholat tanpa kiblat.

Maksudnya; Manembah itu, dalam mempelajari Agama atau kata lain, syare’at, tarekat, hakikat, ma’rifat dan tasyawuf, itu hanya sekedar belajar buku/qitab, atau hanya mempelajari akan Tulisan Firman Hyang Maha Suci Hidup saja, sebab semua itu tidak berarti, jika tidak diamalkan dalam bentuk laku hidup di dalam kehidupan sehari-hari, yang sesuai dengan petunjuk dalam Agama atau Buku/Qitab dengan tanpa pamrih.

Sebab tanpa mengenal akan Firman Hyang Maha Suci Hidup-pun, jika seseorang dalam kehidupan antar sesesama Mahkluk Cipta’an Hyang Maha Suci Hidup, khususnya Manusia, merupakan pencerminan sikap akan pengenalan Jalan Hyang Maha Suci Hidup, yang tanpa bersujud/kiblat, perlu diketahui penekanan dalam mengulas atau menjabarkan Agama, dalam sikap manembah harus didasari oleh Bahasa Hati/Rasa dan dilarang menggunakan bahasa Pikir/Perasa’an, Mengapa ? Karena didalam Wahyu Panca Laku. Menjelaskan;

Dumununge Syetan ing wadag Manungsa iku ana ing Pikirmu, ananging dumununge Gusti ing wadag manungsa iku ana ing Atimu, mulane yen mangonceki dedalaning Gusti nganggo pikirmu, bisa wae Syetan kang nyetir, mula dadi gede ing karebmu, ananging yen mangoncei nganggo atimu, Gusti kang nuntun dadi meneping atimu.

Artinya; Tinggalnya Syetan ditubuh Manusia itu ada di Pikiranmu, tetapi tinggalnya Hyang Maha Suci Hidup ditubuh Manusia itu di Hatimu, maka kalau mengupas Jalan Hyang Maha Suci Hidup dengan pikirmu, akan besar dalam keinginanmu, tetapi kalau mengupasnya lewat Hatimu, Hyang Maha Suci Hidup yang membimbing menjadi heningnya hatimu.)

Maksudnya; Wahyu Panca Laku menjelaskan, jika ingin mengupas akan Sikap Manembahing Kawula Gusti/Jalan Hyang Maha Suci Hidup, haruslah lewat Hati/Qalbu, tidak diperpolehkan lewat pikir, sebab jika lewat pikiran, maka kita akan dipengaruhi dengan bayang-bayang Syetan, seperti kita minta dihormati, dikagumi, bisa terkenal, berpamrih, karena semua itu berdampak akan materi semata, merasa dirinya yang benar, sehingga mudah melakukan perdebatan tafsir dengan yang tidak selaras dengan jalannya, berbeda pendapat satu dengan yang lain, hingga timbul perdebatan antar Jalan Hyang Maha Suci Hidup satu dengan yang lainnya.

Gusti pepering Ruh dening Manungsa, sak jroning Ruhmu iku ana Sukma, Sakjroning Sukmamu ana Nyawa, sakjroning Nyawamu ana Rasa, sakjroning Rasamu ana Rahsa/Sirrullah, sakjroning Rahsamu ana Dzatullah, sakjroning Dzatullahmu ana Allah.

Artinya; Hyang Maha Suci Hidup memberikan Roh pada Manusia, didalam Ruhmu itu ada Sukma, didalam Sukmamu itu ada Nyawa, didalam Nyawamu itu ada Rasa, didalam Rasamu itu ada Rahsa, didalam Rahsamu itu ada Dzatullah, didalam Dzatullahmu itu ada Hyang Maha Suci Hidup.

Pengertian diatas menunjukkan bahwa Hyang Maha Suci Hidup, ada dalam Hati/Qalbu kita masing-masing, yang mana kita tidak diperbolehkan menyakiti orang lain, karena Hyang Maha Suci Hidup juga tinggal dihati orang tersebut, maka jika kita menyakitinya, sama artinya kita menyakiti Hyang Maha Suci Hidup, demikian pula jika kita menipu orang lain, sama artinya dengan menipu Hyang Maha Suci Hidup, dll.

Banyak orang takut dengan Harimau karena tatapan matanya, tapi,,, yang paling di takuti oleh Manusia adalah Kareb (Keinginan)nya, padahal jika kita mau menyimak kekisruhan tentang kondisi dunia sekarang, semua ini sebenarnya hanyalah Kareb atau Keinginan penyebabnya, yang bersumber dari Pikiran.

Sebab itu Wahyu Panca Gha’ib memberikan petuah di dalam Wahyu Panca Laku yang pertama, yaitu Manembahing Kawula Gusti, sebagai berikut;

Usrege ndonya iku, sejatine mung sakecape lambe, yoiku “KAREP”, ananging tentreming ndonya, iku uga sakecape lambe, yoiku “ELING”, lelakua nganggo kekarepanmu, ananging tetekena nganggo Elingmu.

Artinya; Kesemrawutan dunia ini, itu sebenarnya Cuma sekecap bibir saja, yaitu Ingin, tetapi tentramnya dunia ini, sebetulnya juga sekecap bibir saja, yaitu Ingat, berjalanlah dengan keinginanmu, tetapi pakailah dengan tongkat keingatanmu.

Maksudnya; Jika kita memiliki suatu keinginan, silahkan jalankan jika itu sudah sesuai dengan kekuatanmu, agar tidak memeras akal pikiran maupun tenaga, yang akhirnya akan menjerumuskan dalam penyimpangan pada Jalan Hyang Maha Suci Hidup.

Wahyu Panca Laku Yang Kedua, yaitu;
Manunggaling Kawula Gusti.
Pada Tingkatan Laku Manunggaling Kawula Gusti ini, pada Hakikatnya. Ngonceki atau ambuka sesanguning urip ( Mengupas atau membuka bekal hidup).

Pada tataran ini, pengertian sikap Manembah kita sudah kuat, atau menginjak pada tingkat RASA dan BATHIN, demikian pula keniyatannya, niyat kang saka Rasa kasebut Manteb, niyat kang saka Bathin kasebut Meneb.

Niyat yang dari Rasa disebut Mantap, Niyat yang dari Bathin disebut Menep.
Artinya; Seseorang yang sudah memasuki pada tingkat ini, diharuskan tidak ragu-ragu atau berani, dan tidak diperbolehkan bersipat Adigang, adigung, adiguna atau merasa sombong.

Seperti telah dijelaskan diatas. bahwa Raga/Tubuh adalah Buatan Manusia. (Bapa dan Ibu), sedang Sukma adalah buatan Hyang Maha Suci Hidup.

Jika bersekolah itu sama artinya memintarkan akan diri kita (Raga), karena Raga adalah buatan Bapa dan Ibu (Orang Tua) kita, maka yang membiayai sekolah, adalah Orang tua, selaku penanggung jawab adanya Raga ini, untuk hidup didunia, karena selaku penanggung jawab atas buatannya, maka Orang Tua akan memberikan bekal kepandaian, agar kepandaian tersebut dapat dipergunakan sebagai “Bekal ” atau Sangu saat dia ” Hidup ” dalam ” Dunia Baru ” yang akan ditempatinya yaitu Berkeluarga, tentunya selain memberikan makan setiap harinya, demikian halnya Hyang Maha Suci Hidup.

Hyang Maha Suci Hidup-pun, sudah pasti akan bertanggung jawab atas Roh/Sukma yang dibuatnya, untuk itulah, maka Hyang Maha Suci Hidup telah memberikan Sangu atau Bekal yang diberikan, dan sangu tersebut yang menerima serta yang membawa adalah Sukma (Roh Suci yang disuruh tinggal dalam Tubuh Manusia), maka dalam peringkat Manunggaling Kawula Gusti ini, melalui Wahyu Panca Laku, guru sejati kita, akan banyak menuntun kita ke pelajaran tentang Sangu atau Bekal yang diberikan Hyang Maha Suci Hidup, yang dibawa oleh Sukma, dalam menempuh Kehidupan di dunia, yang disebut dengan Sesanguning Urip.

Karena Manunggaling Kawula Gusti, itu mengupas tentang Sesanguning Urip (Bekal Hidup), maka secara otomatis pula, kita selalu berhubungan dengan Sukma, praktis dan otomatis akan berhubungan dengan bathin kita, atau hal-hal yang tidak kasat mata (tidak terlihat).

Dalam mengupas Manunggaling Kawula Gusti, haruslah mengerti dan paham terlebih dahulu tentang Menembahing Kawula Gusti, hal itu sangat diperlukan agar tidak kesasar ing tembe (salah arah dikemudian), dalam artian. Patrap Kunci-nya benar-benar sudah benar.

Apalagi jika sudah mengupas tentang RAGA dan SUKMA, dimana akan ada kemampuan Manusia, tentunya dengan seijin Hyang Maha Suci Hidup, untuk melakukan tehnik pemanggilan, bahkan komunikasi dengan Ruh atau Sukma yang dalam pengertian tersebut, disebut dengan NGGEROG SUKMA, dalam Nggerok Sukma sendiri, terbagi menjadi tiga katagori. Yaitu;

1. Raga Sukma, yaitu mewujudkan akan Ruhnya sendiri, yang lazim disebut Sukma Sejati, namun jika si Sukma memberikan akan Nasehat atau Kekuatannya, itulah yang disebut Guru Sejati.

2. Rogoh Sukma, yaitu mengambil atau memanggil Ruh orang lain.
3. Nggedok Sukma, yaitu memanggil Ruh lain, selain manusia atau Ruh orang yang telah meninggal atau mengupas kekuatan Hyang Maha Suci Hidup yang lain, dimana kekuatan atau Ilmu Hyang Maha Suci Hidup itu, jika dilihat dari Firman-Nya; Ilmu Hyang Maha Suci Hidup itu, jika ditulis di semua daun sedunia ini, dengan tintanya air sesamodra, tidak akan cukup.

Seperti yang sudah pernah saya wedarkan dalam Wejangan Tanpa Tedeng aling-aling, soal Manunggaling Kawula Gusti, selalu saya mengatakan “Ingsun iku Allah, Allah uga Ingsun”, bukan berarti Saya ini Allah/Tuhan atau Hyang Maha Suci Hidup, namun mengillustrasikan/mengajarkan bahwa yang dimaksud akan Ingsun disini adalah Diri kita, semua yang mendengarkan saat itu, hal tersebut seperti yang lazim disebutkan oleh kebanyakan orang “Kita harus selalu memohon pada yang Diatas ” mereka menyebut itu sambil jari telunjuknya menunjuk keatas, Apakah itu berati Allah ada diatas ? diatas manakah itu ?, pengertian ini menjelaskan bahwa Hyang Maha Suci Hidup ada diatas Segala-galanya, itu maksudnya.

Wahyu Panca Laku Yang Ketiga, yaitu;
Leburing Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti, adalah Patrap/tingkatan dalam Wahyu Panca Laku yang cukup tinggi, karena Leburing Kawula Gusti, adalah umpak/pondasinya Asmo, untuk memasuki serta mendalami akan Leburing Kawula Gusti ini, siapapun dia, haruslah Benar-benar telah memahami Laku kesatu dan kedua, yaitu Manembahing Kawula Gusti dan Manunggaling Kawula Gusti, dalam artinya. Kunci dan Paweling-nya. Benar-benar sudah benar.

Laku Leburing Kawula Gusti ini, bisa dikatakan sudah tidak mengharapkan apa-apa, dan dapat pula dikatakan, pada posisi tingkatan ini, adalah suatu sipat dan sikap dalam menyongsong akan kematian diri pribadi, dengan tingkat Kasampurnan.

Artinya; Bahwa pada tingkatan ini, si pelaku Wahyu Panca Gha’ib, hanya memohon atau menggugat pada Hyang Maha Suci Hidup, mengapa Hyang Maha Suci Hidup yang digugat..?

Menggugat disini, memiliki arti, bahwa Ruh yang diberikan Hyang Maha Suci Hidup, pada saat Raga masih dalam kandungan (Janin) dan Ruh mengikuti Raga tersebut, keluar dari Gua Garba Ibu, untuk hidup didunia ini, maka jika kelak Raga/Wujud Manusia mati, atau Ruh Suci kembali ke hariba’an Hyang Maha Suci Hidup, maka dimohonkan, kiranya Hyang Maha Suci Hidup, mengabulkan, agar Ruh Suci atau Hidup, membawa pula Jiwa Raga-nya atau dalam istilah lain di sebut, sedulur papat kalima pancer atau Kawula Gusti-nya.

Inilah yang di sebut-sebut oleh kebanyakan orang, sebagai. MUKSA atau KAMUKSAN, yang artinya, mati tanpa meninggalkan bekas Raga/Jasad. Sempurna/Habis/Tamat tanpa bekas tanpa sisa. Tuntunan untuk kedua hal ini, hanya bisa di peroleh, jika telah sampai ke tingkatan “Wahyu Panca Laku” Hakikat Hidup ke empat dan kelima, yaitu Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip.

Pembelajaran Khusus untuk Tahapan Ke’empat dan Kelima ini. Tentang Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. telah saya rangkum secara Khusus pula, dalam satu buku karya Pribadi saya. Yang Berjudul “KUNCI THE POWER” dengan maksud dan tujuan, untuk mempermudah Syi’ar saya, dalam menyampaikan keBenaran Hyang Maha Suci Hidup. Dengan Iman Cinta Kasih sayang.

Sebab…
Tentang Dua Tahap Laku inilah, yang tidak bisa saya syi’arkan dengan Bebas tanpa kendali. Maksudnya, tanpa adanya bimbingan dari saya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Karena, risikonya yang sangat tinggi dan dalam, serta bisa berakibat fatal jika sampai salah dalam Penerapan Pembelajaranya. Dengan alasan itulah, saya berkesimpulan, untuk membukukannya, agar saya tetap bisa mensyi’arkan kebenaran ini, walau tidak berhadapan secara langsung, karena dengan Buku tersebut, mau tidak mau, akan terjalin kemunikasi tanya jawab, antara saya dan yang sedang belajar, untuk itu, saya INGATkan. Bagi para Kadhang Kinasih saya, yang telah berhasil memiliki Buku “Kunci The Power” dari saya. Tolong… Bertanyalah kepada saya, jika ada yang tidak di Pahami, jangan berusaha mencari sendiri kalau tidak Mengerti. Sekian dan Terima Kasih _/\_

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s