Mencari Sang Maha Gha’ib:

Purworejo2
Mencari Sang Maha Gha’ib.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa Dwipa. Hari Minggu. tgl 29. November, Tahun 2015

– “GUSTI ALLAH, Panjenengan panggenanipun dhateng pundi?
+ “AKU ono ning teleging ati”
– “GUSTI ALLAH. Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati. Panjenengan
kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi?
+ “Kowe ora bakal biso nggoleki AKU. AKU ono ning teleging urip. Kowe bisa ketemu kelawan AKU yen wis titi mongsone”

Terjemahan:
– “GUSTI ALLAH, dimanakah ENGKAU?
+ “AKU ada di dasar hati (hati sanubari)”
– “GUSTI ALLAH. Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati. ENGKAU kok tidak ada. Dimanakah
ENGKAU?
+ “Kamu tidak bakal bisa mencari AKU. AKU ada di dasar hidup. Kamu bisa ketemu AKU jika sudah saatnya”

Gambaran dialog di atas, menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu dengan Sang Hyang Maha Suci Hidup atau GUSTI ALLAH. Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLAH, jika belum sa’atnya. Namun, dari dialog itu, kita bisa tahu bahwa, ALLAH itu dekat. Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLAH sendiri dalam Al’Quran “AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri.”

Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri, agar tidak putus asa untuk bisa bertemu Sang Khalik. Falsafah tersebut berbunyi,”Sopo sing temen bakal tinemu.” Yang artinya, “Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya”. Falsafah tersebut, sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual. Setidaknya, orang jawa merasa pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLAHm, di alam kematian sa’at hidup di dunia ini.

Lho,,, hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Karena orang hidup di dunia itu, hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu, hakekatnya hidup. Alasannya,,, kita hidup di dunia ini, selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, mata, hidung, mulut, terutama di bawah pusar perut, yang bernama burung perkutut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini, pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan, adalah dengan bekerja mencari duit. UUD.

Nah,,, kita makan itu, sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah Ruh Suci nya. Ruh Suci tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh Suci itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh Suci, bukan yang lainnya, karena Ruh Suci berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Dia menempati karena atas perintah-Nya. Anda bukan atas perintah-Nya. Sudah pasti Ruh Suci tidak sudi menempati si Tubuh yang penuh dengan perbudakan ini.

Di bagian lain, pada facebook, google, blog dan wordpres saya ini, pernah saya jelaskan perihal “belajarlah mati sebelum kematian itu datang”. Artinya, ketika kita hidup di dunia ini, hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal, yang bersifat mengotori hati. Tujuannya, semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH. Guna mengobati rasa kerinduan Ruh Suci kita, yang terpendam selama seumur hidup kita.

Mengapa kita mesti belajar mati?
Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati, tidak salah arah dan salah langkah. Lho…Bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti?

Oh…Tidak.!!!
Sungguh malang sekali orang tersebut jika setelah mati raga, tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti.

Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Suci Hidup. Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,”Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)”. Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

GUSTI ALLAH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang GUSTI ALLAH. Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLAH itu jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLAH. Seperti rumah makan padang, warteg, warkop, warnet, losmen, hotel, lesehan, dan reman-reman,,, di pinggir jalan pantura… He he he . . . Edan Tenan.

Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH?
Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajahnya, bohainya, lenggak lenggoknya, gungung kembarnya, dan anunya, sang kekasih hati, sudah terlukis dalam benak kita, meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh. “Jauh di mata, dekat di hati”. Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLAH harus selalu terlukis dalam benak kita. Artinya, kita harus senantiasa eling/ingat.

Kedua, GUSTI ALLAH itu bersifat Ghaib. “Mustahil bagi kita yang nyata ini bertemu dengan yang Ghaib,” begitu kata orang rasional. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Maha GHAIB, dengan menggunakan satu piranti khusus. Apakah itu? Piranti itu adalah Mata Bathin, bukan matanya raga/jasad. Sebab GUSTI ALLAH itu Gha’ib, artinya tidak bisa dipandang dengan mata raga/jasad.

Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti, yang lebih halus lagi, untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH, yaitu dengan RASA. Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi RASA HIDUP, yang tajamnya melebihi mata pedang samurai. Tidak percaya…?! Buktikan saja, dengan cara berlatih mengasah RASA. Agar RASA itu menjadi Hidup, dengan sistem belajar mati sajeroning Urip. Tapi… tunggu dulu, jika memang benar-benar ingin membuktinya, harus Sarana Wahyu Panca Gha’ib. Sebab… hanya Wahyu Panca Gha’ib lah, yang murni dan asli menggunakan RASA. Bukan ilmu, bukan kesaktian, bukan politik, dan bukan bla… bla… bla… lainnya. Cuma RASA dan hanya RASA. Itulah bedanya Wahyu Panca Gha’ib dengan lainnya. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com