WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG KEDUA. TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB DAN. KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM:

WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG KEDUA.
TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB DAN.
KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM:
Jawa Dwipa Hari Selasa pon. Tgl 06 Oktober 2015

Salam Rahayu Hayu Memayu Hayuning Karahayon Kanti Teguh Slamet Berkah Sukses selalu untukmu sekalian para kadhang kinasihku, dimanapun berada, perlu di ketahui. Bahwa Wejangan ini, merupakan Wejangan lanjutan tentang WEJANGAN dari WONG EDAN BAGU YANG PERTAMA. TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB DAN ISRA’, MIKRAJ:
Di Jawa Dwipa Hari Sabtu kliwon. Tgl 03 Oktober 2015 yang lalu.

TENTANG WAHYU PANCA GHA’IB DAN.
KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM;
Yang membuat saya tertarik pada hal ini, sebelum beliau wafat, beliau sempat berkhutbah, artinya dalam keada’an sakit, beliau sempat berkhutbah terlebih dulu, di Lembah Uranah, Gunung Arafah. Antara pesanan dan amanah, apa yang beliau sampaikan pada sa’at itu…

Wahai manusia!, dengarlah baik-baik apa yang hendak aku katakan ini. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia!, sebagaimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kami lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya, kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia (syiatan) telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai Manusia!, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina. Jika hendak jimak. Ucapakan doa sebelum dan sesudahnya, lalu junub setelahnya.

Wahai manusia!, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembah dan beribadatlah kepada Allah, dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadhan, dan tunaikankanlah zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah Ibadah Haji (sekiranya kamu mampu). Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah bersaudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal salih.

Ingatlah!, bahwa, kamu akan menghadapi (pengadilan) Allah pada suatu hari (di akhirat) untuk dipertanggung jawabkan di atas segala apa yang telah kamu kerjakan (ketika hidup di dunia). Oleh itu awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaan aku.

Wahai Manusia!, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan ada lain agama baru. Oleh itu wahai manusia!, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, necaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, itulah AL-QURAN dan SUNNAH-Ku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku.
Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah aku sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba-MU.

Lalu… Setelah Rasulullah s.a.w. ‘Berkhutbah Terakhir’ ini pada hari Jumaat ketika Hari Wuquf di Arafah semasa Haji Wada’. Baginda Rasulullah wafat pada hari Isnin 1hb. Rabiul Awwal tahun 11 Hijrah bersamaan dengan 25hb. Mei, 632M di Madinah. Unik bukan… sungguh luar biasa para kadhangku, mari kita simak hikmah dari khutbah terakhir Baginda Rasulullah ini. Intisari dari KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH SALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM ini, ada di dalam Dua Kalimat Syahadat dan Surat Al‐’Alaq. Mari kita renungkan bersama kelanjutannya.

Berawal dari Dua Kalimat Syahadat yang menjadi Syarat Utama sebagai pengesahan resmi seorang muslim. Dua kalimat Syahadat adalah dua perkataan pengakuan yang diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati untuk menjadikan diri sebagai orang muslim.

Lafadz dua kalimat syahadat adalah:
“ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.”

Yang Artinya:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah utusan Allah.”

Jika seseorang yang bukan Islam membaca dua kalimat syahadat ini dengan sungguh-sungguh, yaitu membenarkan dengan hati apa yang ia ucapkan, serta mengerti apa yang ia ucapkan, maka masuklah ia ke dalam agama Islam. Dan ia berkewajiban mengerjakan rukun Islam. Dan menyakini Rukun iman.

Makna 2 kalimah Syahadat atau Syahadattain adalah:
1. Syahadat Tauhid.
Artinya menyaksikan ke-Esaan Allah subhanahu wa ta’ala.
2. Syahadat Rasul.
Artinya menyaksikan dan mengakui kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
Jadi, dua kalimat syahadat ini selain diucapkan, harus dimengerti artinya dan dibenarkan dalam hati agar sah islamnya. Penjelasannya adalah menyaksikan lalu mengakuinya, sedang Sejarah Rasul terjadi berabad-abad yang lalu, sudah barang pasti, keraguan itu muncul, karena tidak tau dan tidak melihat sendiri bagaimana dan seperti apa wujud Rasul. Disuruh mengatakan menyaksikan lalu mengakuinya, kan konyol brow… iya apa iya. Hayo ngaku…. Artinya dan maksudnya. Kalau hanya diucapkan di lisan tentu semua orang bisa, namun belum tentu hatinya mengerti dan mempercayainya. Syahadat Tauhid, mungkin iya-iya saja, tapi bagaimana dengan Syahadat Rasulnya?

Sementara syarat pertama dan utama bagi seseorang untuk disebut Muslim adalah, bahwa ia harus mengikrarkan dua kalimat syahadat di atas dengan penuh keikhlasan , kejujuran,dan kesadaran hati.

Asyhadu alla ilaaha illallah artinya aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Dalam syahadat ini terdapat penafian (penolakan) sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa sesembahan yang benar hanya Allah. Adalah sebuah kenyataan bahwasanya di dunia ini terdapat banyak sesembahan selain Allah. Ada orang yang menyembah kuburan, pohon, batu, jin, nabi, wali, dan lain-lain. Akan tetapi semua sesembahan tersebut tidak berhak untuk disembah, yang berhak disembah hanya Allah.

Allah dalam Surat Al-baqarah ayat. 256, yang artinya: “Maka barangsiapa yang ingkar kepada sesembahan selain Allah dan beriman pada Allah, sungguh dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat.”

Allah juga berfirman lagi dalam ayat lain, yang artinya: “Yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah Dialah (tuhan) yang haq dan Sesungguhnya segala sesuatu yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil. Dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar.”

Makna syahadat la ilaha illallah adalah meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Allah, konsisten dengan pengakuan itu dan mengamalkannya. La ilaha menolak keberhakan untuk diibadahi pada diri selain Allah, siapapun orangnya. Sedangkan illallah merupakan penetapan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Sehingga makna kalimat ini adalah la ma’buda haqqun illallah atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Sehingga keliru apabila la ilaha illallah diartikan tidak ada sesembahan/tuhan selain Allah, karena ada yang kurang. Harus disertakan kata ‘yang benar’ Karena pada kenyataannya sesembahan selain Allah itu banyak. Dan kalau pemaknaan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ itu dibenarkan maka itu artinya semua peribadahan orang kepada apapun disebut beribadah kepada Allah, dan tentu saja ini adalah kebatilan yang sangat jelas.

Kalimat syahadat ini telah mengalami penyimpangan penafsiran di antaranya adalah :
Pemaknaan la ilaha illalah dengan ‘la ma’buda illallah’ tidak ada sesembahan selain Allah, hal ini jelas salahnya karena yang disembah oleh orang tidak hanya Allah namun beraneka ragam
Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la khaliqa illallah’ tidak ada pencipta selain Allah. Makna ini hanya bagian kecil dari kandungan la ilaha illallah dan bukan maksud utamanya. Sebab makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyah dan itu belumlah cukup.

Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la hakimiyata illallah’ tidak ada hukum kecuali hukum Allah, maka inipun hanya sebagian kecil maknanya bukan tujuan utama dan tidak mencukupi.
Sehingga penafsiran-penafsiran tadi adalah keliru. Hal ini perlu diingatkan karena kekeliruan semacam ini telah tersebar melalui sebagian buku dan media social yang beredar di antara kaum muslimin. Sehingga penafsiran yang benar adalah sebagaimana yang sudah dijelaskan yaitu : ‘la ma’buda haqqun illallah’ tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.

Makna Asyahadu Anna Muhammadar Rasulullah
Sedangkan makna syahadat anna Muhammadar rasulullah adalah mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya, yang ditujukan kepada segenap umat manusia dan harus disertai sikap tunduk melaksanakan syari’at beliau yaitu dengan membenarkan sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunannya.

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah artinya aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Rasul Allah. Rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah berupa syari’at dan ia diperintahkan untuk mendakwahkan syari’at tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya! Tidaklah mendengar kenabianku salah seorang dari umat ini, baik itu Yahudi atau pun Nasrani, lalu ia meninggal sementara ia tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali ia akan termasuk penduduk neraka” (HR. Muslim)

Perlu diingat, selain beliau adalah seorang Rasul Allah, beliau juga berstatus sebagai Hamba Allah. Di satu sisi kita harus mencintai dan mengagungkan beliau sebagai seorang Rasul, di sisi lain kita tidak boleh mengagungkan beliau secara berlebihan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah hamba, maka sebutlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam tidak boleh kita anggap memiliki sifat-sifat yang berlebihan, atau memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, semisal: menganggap beliau mengetahui perkara yang ghaib, mampu mengabulkan do’a, mampu menghilangkan kesulitan kita, dan lain-lain.

Makna Muhammad Rasulullah
Rukun dan Syarat Syahadat
La ilaha illallah terdiri dari dua rukun : nafi/penolakan, yaitu yang terkandung di dalam la ilaha dan itsbat/penetapan, yaitu yang terkandung dalam illallah. Maka dengan la ilaha dihapuslah segala bentuk kesyirikan dan mengharuskan mengingkari segala sesembahan selain Allah.orang yang bersyahadat harus mengerti bahwa tidak ada illah yang berhak di sembah melainkan Allah.

Sedangkan dengan illallah maka ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah dan harus tunduk melaksanakannya. Ayat-ayat yang mengungkapkan dua rukun ini banyak, di antaranya adalah firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian, selain (Allah) yang telah menciptakan diriku.” (QS. az-Zukhruf : 26).

Sedangkan rukun syahadat anna Muhammad rasulullah ada dua yaitu ; pernyataan bahwa beliau adalah hamba Allah dan sebagai rasul-Nya. Beliau adalah hamba, maka tidak boleh diibadahi dan diperlakukan secara berlebihan. Dan beliau adalah rasul maka tidak boleh didustakan ataupun diremehkan. Beliau membawa berita gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia. Maksud lurrr… ngunu lo maknane, ddai ojo asal ngucap, banjur metantang metenteng rumongso wes islam, njur ngafirke maring liyan, kafire dewe kuwi lo pikiren…

Secara lahiriah, dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, seseorang sudah dapat kita sebut sebagai Muslim. Adapun bagaimana dengan hatinya,itu semua adalah urusan Allah Subhannahu Wa Ta’ala yang Maha Mengetahui yang lahir (yang tampak) maupun yang gaib (yang tak tampak) Jika hanya berhenti di lisan saja, karena gengsi takut tidak sebut islam/muslim alias murtad. Ya berati bodohnya sendiri, karena dua kalimat syahadat, yang telah diucapkannya itu, hanya berarti ia telah melakukan sumpah setia dihadapan Allah, bahwa hanya Dia sajalah yang disembahnya, dan bahwa Nabi Muhammad sajalah yang menjadi panutan hidupnya. Lebih jauh setelah kesaksian itu, ia harus melakukan shalat, puasa, zakat, dan akhirnya haji jika mampu, sebagai penyempurnaan Islamnya. Yang pastinya akan terasa menekan dan memaksa jiwa raganya. Tapi jika terus mencari pemahaman makna syare’at dan hakikatnya, dengan cara Kadhangnya, mencari kritik dan saran serta bimbingan dari yang sudah mengetahui hal tersebut. Sudah pasti akan masuk ke ranah proses Serat Sangkan Paraning Dumadi.

Ilmunya ada, jalannya ada, caranya juga ada, bodoh sendiri kan, jika tidak mau mencarinya. Dalam Surah Al‐ ‘Alaq adalah surah ke‐96 dalam al‐Qur’an. Surah ini terdiri atas 19 ayat dan
termasuk golongan surah‐surah Makkiyah. Ayat 1 sampai dengan 5 dari surah ini
adalah ayat‐ayat Al‐Quran yang pertama diturunkan, yaitu di waktu Nabi
Muhammad bertafakur di gua Hira. Surah ini dinamai Al ‘Alaq ﴾segumpal darah﴿,
diambil dari perkataan Alaq yang terdapat pada ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai
juga dengan Iqra atau Al Qalam.

Beikut ini Bacaan Surat Al‐’Alaq dan Artinya;
Ayat pertama.
Iqra’ biismi rabbikal‐ladzii khalaq﴾a﴿
Artinya.
“Bacalah dengan ﴾menyebut﴿ nama Rabb‐mu Yang menciptakan,” – ﴾QS.96:1﴿
Ayat Kedua.
Khalaqa‐insaana min ‘alaq﴾in﴿
Artinya.
“Dia telah menciptakan manusia, dengan segumpal darah.” –﴾QS.96:2﴿
Ayat Ketiga.
Iqra’ warabbukal akram﴾u﴿
Artinya.
“Bacalah, dan Rabb­mulah Yang Paling Pemurah,” – (QS.96:3)
Ayat Keempat.
Al‐ladzii ‘allama bil qalam﴾i﴿
Artinya.
“Yang mengajar ﴾manusia﴿ dengan perantaraan kalam ﴾wahyu﴿.” – ﴾QS.96:4﴿
Ayat Kelima.
‘Allama‐insaana maa lam ya’lam
Artinya.
“Dia mengajarkan kepada manusia, apa yang tidak diketahui­nya.” – (QS.96:5)
Ayat Keenam.
Kalaa inna‐insaana layathgha
Artinya.
“Ketahuilah!. Sesungguhnya manusia benar­benar melampaui batas,” – (QS.96:6)
Ayat Ketujuh.
An ra‐aahuustaghna
Artinya.
“karena dia melihat dirinya serba cukup.” – ﴾QS.96:7﴿
Ayat Kedelapan.
Inna ila rabbikarruj’a
Artinya.
“Sesungguhnya hanya kepada Rabb­mulah kembali(mu).” – (QS.96:8)
Ayat Kesembilan.
Ara‐aital‐ladzii yanha
Artinya.
“Bagaimana pendapatmu, tentang orang yang melarang,” – (QS.96:9)
Ayat Kesepuluh.
‘Abdan idzaa shalla
Artinya.
“seorang hamba, ketika dia mengerjakan shalat,” – (QS.96:10)
Ayat Kesebelas.
Ara‐aita in kaana ‘alal huda
Artinya.
“bagaimana pendapatmu, jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,” – (QS.96:11)
Ayat Kedua belas.
Au amara bittaqwa
Artinya.
“atau dia menyuruh bertaqwa (kepada Allah).” – (QS.96:12)
Ayat Ketiga belas.
Ara‐aita in kadz‐dzaba watawalla
Artinya.
“Bagaimana pendapatmu, jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?.﴾QS.96:13﴿
Ayat Keempat belas.
Alam ya’lam bi‐annallaha yara
Artinya.
“Tidakkah dia mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?.” –﴾QS.96:14﴿
Ayat Kelima belas.
Kalaa la‐il﴾n﴿ lam yantahi lanasfa’an binnaashiyat﴾i﴿
Artinya.
“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti ﴾berbuat demikian﴿, niscaya Kami tarik ubun‐ubun‐nya,” – ﴾QS.96:15﴿
Ayat Keenam belas.
Naashiyatin kaadzibatin khaathi‐atin
Artinya.
“﴾yaitu﴿ ubun‐ubun orang yang mendustakan, lagi durhaka.” – ﴾QS.96:16﴿

Ayat Ke tujuh belas
Falyad’u naadiyahu
Artinya.
“Maka biarkanlah dia memanggil golongannya, ﴾untuk menolongnya﴿,” – ﴾QS.96:17﴿
Ayat Ke delapan belas.
Sanad’uzzabaaniyata
Artinya.
“kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah,” – ﴾QS.96:18﴿
Ayat Ke Sembilan belas.
Kalaa laa tuthi’hu waasjud wa‐aqtarib
Artinya.
“sekali­kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb).” – (QS.96:19)

Itulah yang Dinamakan surat Iqra’ atau surat Al-Qalam, atau Surat Al‐’Alaq. Makkiyah dan terdiri dari 19 ayat. Di surat ini Nabi diperintahkan untuk membaca disertai adanya penjelasan tentang kekuasaan Allah terhadap manusia dan penjelasan sifat-sifatnya. Juga disebutkan keterangan tentang pembangkangan sebagian menusia dan balasan yang sesuai dengan perbuatan.

Surat Al-‘Alaq adalah surat yang pertama kali Allah turunkan kepada Nabi Muhammad di Gua Hira yang ayatnya diawali dengan bacaan Iqra’yang artinya bacalah. Iqra kata pertama dari wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Kata ini sedemikian pentingnya sehingga diulang dua kali dalam rangkaian wahyu pertama. Mungkin mengherankan bahwa perintah tersebut ditujukan pertama kali kepada seseorang yang tidak pernah membaca suatu kitab sebelum turunnya Al-Qur’an (QS 29: 48).

Bahkan seorang yang tidak pandai membaca suatu tulisan sampai akhir hayatnya. Namun keheranan ini akan sirna jika disadari arti Iqra’ dan disadari pula bahwa perintah ini tidak hanya ditujukan kepada pribadi Muhammad saw. Semata-mata, tetapi juga untuk ummat manusia sepanjang sejarah kemanusiaan, karena realisasi perintah tersebut merupakan kunci pembuka jalan kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Namun kata Iqra itu buka saja artinya membaca saja akan tetapi artinya beraneka ragam diantaranya dengan Tujuh M :

1,Membaca :
2.Menterjemah:
3.Meneliti :
4.Mengkaji :
5.Menghayati :
6.Memahami :
7.Mengamalkan :
Menurut saya pribadi, Jamak dari ‘Alaqah artinya segumpal darah.
Lebih mulia dan yang mulia.
As-Saf’u artinya menarik dengan kasar, sedangkan An-Nashiyah artinya rambut di ubun-ubun. Maksudnya sebagai bentuk penghinaan.
Yang memanggil.
Malaikat yang ditugaskan untuk mengurusi orang-orang kafir di neraka. Di dalamnya mereka dimasukkan secara paksa.
Mendekatlah kepada Tuhanmu melalui ibadah.

Dalam Shahih-nya Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang artinya demikian, “Wahyu pertama yang sampai kepada Rasul adalah mimpi yang benar. Beliau tidak pernah bermimpi kecuali hal itu datang seperti cahaya Shubuh. Setelah itu beliau senang berkhalwat. Beliau datang ke gua Hira dan menyendiri di sana, beribadah selama beberapa malam. Yang untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian kembali ke Khadijah dan membawa bekal serupa. Sampai akhirnya dikejutkan oleh datangnya wahyu, saat beliau berada di gua Hira. Malaikat datang kepadanya dan berkata,

“Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” lalu Rasulullah saw. berkata, “Lalu dia merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata, ‘Bacalah!’ Aku katakan, ‘ Aku tidak bisa membaca.’ Lalu di merangkulku sampai terasa sesak dan melepaskanku. Ia berkata,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Hadits).

Dengan demikian maka awal surat ini menjadi ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia. Wahyu pertama yang sampai kepada Nabi saw. adalah perintah membaca dan pembicaraan tentang pena dan ilmu. Tidakkah kaum Muslimin menjadikan ini sebagai pelajaran lalu menyebarkan ilmu dan mengibarkan panjinya. Sedangkan Nabi yang ummi ini saja perintah pertama yang harus dikerjakan adalah membaca dan menyebarkan ilmu. Sementara ayat berikutnya turun setelah itu. Surat pertama yang turun secara lengkap adalah Al-Fatihah.

Pengertian ringkas ayat-ayat ini adalah: Agar kamu menjadi orang yang bisa membaca, ya Muhammad. Setelah tadinya kamu tidak seperti itu. Kemudian bacalah apa yang diwahyukan kepadamu. Jangan mengira bahwa hal itu tidak mungkin hanya dikarenakan kamu orang ummi, tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Allah-lah yang menciptakan alam ini, yang menyempurnakan, menentukan kadarnya, dan memberi petunjuk. Yang menciptakan manusia sebagai makhluk paling mulia dan menguasainya serta membedakannya dari yang lain dengan akal, taklif, dan pandangan jauhnya. Allah swt. menciptakannya dari darah beku yang tidak ada rasa dan gerak. Setelah itu ia mnejadi manusia sempurna dengan bentuk yang paling indah.

Allah-lah yang menjadikanmu mampu membaca dan memberi ilmu kepadamu ilmu tentang apa yang tadinya tidak kamu ketahui. Kamu dan kaummu tadinya tidak mengetahui apa-apa. Allah juga yang mampu menurunkan Al-Qur’an kepadamu untuk dibacakan kepada manusia dengan pelahan. Yang tadinya kamu tidak tahu, apa kitab itu dan apa keimanan itu?

Bacalah dengan nama Tuhanmu, maksudnya dengan kekuasaan-Nya. Nama adalah untuk mengenali jenis dan Allah dikenali melalui sifat-sifat-Nya. Yang menciptakan semua makhluk dan menyempurnakan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki-Nya. Dan Allah swt. telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, ya Muhammad. Dan Tuhanmu lebih mulia dari setiap yang mulia. Karena Allah swt. yang memberikan kemuliaan dan kedermawanan. Maha Kuasa daripada semua yang ada. Perintah membaca disampaikan berulang-ulang karena orang biasa perlu pengulangan termasuk juga Al-Mushtafa Rasulullah saw. Karena Allah sebagai Dzat yang paling mulia dari semua yang mulia, apa susahnya memberikan kenikmatan membaca dan menghapal Al-Qur’an kepadamu tanpa sebab-sebab normal. Silakan baca firman Allah,

“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Al-Qiyamah: 17).
“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa.” (Al-A’la: 6).

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Maha Mulia dan mengajarkan manusia untuk saling memahami dengan pena, meski jarak dan masa mereka sangat jauh. Ini merupakan penjelasan tentang salah satu indikasi kekusaan dan ilmu (manusia).
“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Allah memberikan insting dan kemampuan berpikir kepada manusia yang menjadikannya mampu mengkaji dan mencerna serta mencoba sampai ia mampu menyibak rahasia alam. Dengan demikian ia dapat menguasai alam dan menundukkannya sesuai dengan yang diinginkannya.

Namunggal lah hae para kadhang, kesulitan, kesusahan, kesukaran, kesakitan dan kesengsara’an model apapun yang sedang kau pikul dengan beban yang sangat amat sarat, tidak perlu neko-neko, cukup manunggalkan saja sedulur papatmu dengan pancernya, cukup nyawijikan saja angen-angen budi pakarti dan panca inderamu dengan hidupmu. Romo kan bakal tumindak, Romo kang bakal ngrampungi, tidak usah takut tidak perlu resah dan ragu, cukup nunggal, cukup nyawiji, maka dengan begitu kamu di sebut tidak cawe-cawe, tidak ikut campur urusan Allah, kalau kamu tidak ikut campur urusan Romo. Romo bakal tumidak ngger…. Bakal tumindak brow….

Surat Al-Baqarah: 29 menjelaskan. “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. Surat Al-Baqarah: 31menjelaskan . “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”

Nampaknya Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk membaca secara umum dan khususnya membaca Al-Qur’an. Setelah itu Allah menjelaskan bahwa hal itu sangat mungkin bagi Allah yang menciptakan semua makhluk dan menciptakan manusia dari segumpal darah. Dia-lah yang Maha Mulia dan tidak pelit terutama terhadap Rasul-Nya. Dialah yang mengajarkan manusia dengan pena tentang apa yang belum pernah diketahuinya.

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya Hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).”

Sungguh benar, bahwa manusia itu melampaui batas, sombong, dan keterlaluan melakukan dosa. Karena ia menganggap dirinya tidak butuh kepada orang lain, bhakan Allah sekalipun, karena itu sukanya ikut campur urusan Allah dan mendekte Allah, akibatnya, pada hari Kiamat nanti ia akan kembali kepada Allah swt. dan akan diminta pertanggung-jawaban atas semua yang dilakukan.

Mungkin ada kadhang yang bertanya-bertanya tentang konsiderasi ayat-ayat ini. Saya katakan bahwa ketika Allah swt. menyebutkan indikasi kekuasaan dan ilmu serta kesempurnaan nikmat yang dianugerahkan kepada manusia. Tujuannya adalah agar manusia tidak ingkar nikmat. Namun apa lacur,,, ternyata manusia benar-benar mengingkari dan melampaui batas. Oleh karena itu Allah swt. ingin menjelaskan sebabnya, bahwa cinta dunia, tertipu olehnya, dan berambisi terhadapnya dapat menyibukkannya dari melihat ayat-ayat Allah yang agung. Kra-kira begitu tidak? Ngunu pora brow….

Setelah memerintahkan Nabi-Nya untuk membaca wahyu yang ada di dalam kitab-Nya dan menjelaskan penyebab kekafiran manusia, Allah membuat perumpamaan gembong kekafiran, yakni Abu Jahal. Kendatipun pengertian ayat tersebut umum.

Ceritakan kepada-Ku, ya Muhammad, tentang seseorang yang melarang hamba untuk tunduk kepada Allah dan melakukan shalat. Apa urusanya? Orang itu sungguh mengherankan, ia kafir dan bermaksiat kepada Tuhannya. Ia melarang orang lain melakukan kebaikan terutama shalat. Ceritakan kepada-Ku tentang kondisi orang tersebut, kalau memang ia termasuk golongan kanan dan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk setelah itu ia mengajak orang lain kepada ketakwaan dan kebaikan. Kalau orang itu seperti ini keadaannya tentu ia berhak mendapatkan pahala yang besar dan surga sebagai tempat tinggalnya.

Ceritakan kepada-Ku tentang orang yang berdusta serta berpaling dari kebenaran lalu mengerahkan segenap potensinya untuk mengejar apa yang diinginkan. Tidakkah mereka tahu bahwa Allah swt. melihat? Sebenarnya mereka mengakui bahwa Allah swt. mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu akan membalas masing-masing orang sesuai dengan amal perbuatannya. Kalau amalnya baik balasannya baik dan kalau amalnya buruk dibalas dengan keburukan. Maka bergegaslah kalian, wahai manusia, menuju Allah, bertaubatlah dan beramallah untuk mendapatkan ridha-Nya.

Kalla, kata penolakan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah. Aku bersumpah, jika orang-orang kafir dan pelaku kemaksiatan itu tidak menyudahi perbuatan mereka, Kami akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. Kami akan hinakan mereka serendah-rendahnya sesuai dengan tingkat kesombongan mereka di dunia. Dan bagi Allah hal itu tidaklah sulit. Akan Kami tarik ubun-ubun mereka dengan kasar. Ubun-ubun yang sering menyombongkan dirinya karena kekuatan dan keyakinanya bahwa dirinya akan selamat dari murka Allah.

Padahal tidak ada yang bisa mengalahkan Allah, baik yang ada di bumi maupun di langit. Tentu saja dugaan tersebut salah karena mereka melampaui batas dan berlaku jahat, khususnya terhadap orang-orang baik dan jujur. Kami akan hinakan orang seperti ini, maka biarkan saja malaikat yang memanggil mendorong mereka semua. Bahkan Kami, Allah swt. akan memanggil Zabaniyah. Yakni Allah swt. akan memanggil Zabaniyah, penjaga Jahannam untuk mendorong mereka.

Jangan mentang-mentang Punya Wahyu Panca Ga’ib, njur sekepenak udele, merasa sudah benar Kunci nya, pernah leihat Romo, bertemu Romo, lalu enggan kadhangan, sungkan kadhangan, malah barani merubah Kunci dan mengarang Asmo sejati sendiri. Ingat… ingat… ingat… thing. Kunci sekalipun, tidak akan mampu menandingi Hyang Maha Suci Hidup, yang Kunci itu cipta’annya Hyang Maha Suci Hidup, kok buat menyaingin Hyang Maha Suci Hidup, ga lucu kan brow… jika memang Wahyu Panca Ga’ib, kalau memang sudah pernah melihat dan berhasil bertemu Romo, kudune ya tambah tawadug toh,,,, tambah sepuh temungkul, bukan mengarang cipta karya sendiri menyaingi Romo, Romo tidak akan mungkin mrentah atau nyuruh puteranya untuk menyainginnya atau merubah firmannya yang sudah paten, kalau Romo memrintah setiap putero yang berhasil menemuinya, untuk merubah Firmannya yang sudah mendunia dan panten itu, berate Romo mencla mencle to… Waduh…. Meteng aku rek, eh salah, mateng maksude… He he he . . . Edan Tenan. Ingat…!!! Eling…!!! Karena kesombonganmu itu. Allah akan hinakan, malaikat yang memanggil mendorong mereka semua. Bahkan Kami, Allah swt. akan memanggil Zabaniyah. Yakni Allah swt. akan memanggil Zabaniyah, penjaga Jahannam untuk mendorong mereka.

Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya.”
Pada saat itu mereka tidak memiliki penolong maupun pembantu.
Kalla, tinggalkan orang kafir itu dengan perbuatannya dan jangan sampai mengganggunya, ya Rasulullah. Bersujudlah selalu untuk Allah serta mendekatlah kepada-Nya melalui ibadah, karena ibadah merupakan benteng yang kokoh dan jalan keselamatan. Sebelum Laku Kunci. Lakon Kekadhangan lah terlebih dahulu, nunggalka sedulur papatmu biyar tidak pating pecudul, satukan angen-angen budi pakarti dan panca indera biyar ga pating mbrubul, stelah nunggal/nyatu, baru Kunci. Pasti kokoh dan dijamin selamat gelas gulungnya, selesai apapun yang jadi masalahmu, serumit apapun, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Titik. He he he . . . Edan Tenan. Itulah Penjabaran dari Wejangan Serat Sangkan Paraning Dumadi. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com