Perbeda’an Antara. Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:

Kekadhangan
Perbeda’an Antara.
Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan
Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari kamis legi. Tgl 24. September 2015

1. Olah Lakon Spiritual Kebatinan;
Olah Kebatinan, berkaitan dengan pengolahan potensi kebatinan manusia, potensi kegaiban sukma manusia, disertai dengan landasan filosofi spiritual kebatinan, misalnya dalam dunia kebatinan kejawen ada cerita saudara kembar sedulur papat kalima pancer, filosofi dalam pewayangan, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep manunggaling kawula lan Gusti, dsb.

Bagi orang-orang yang mempelajari kebatinan, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan kerohanian, sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan. Pengetahuan gaib atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, seringkali didapatkan dari istilah ilham/bisikan gaib/wangsit (dari kegaiban sukmanya/roh sedulur papatnya sendiri) yang ditindaklanjuti sampai ketemu kebenarannya.

Tetapi banyak para pemula (termasuk praktisi kebatinan, orang-orang yang mengaku pinter dan spiritualis yang sebenarnya keilmuan kebatinannya masih tingkat dasar) yang bisa bercerita banyak tentang hal-hal filosofis di atas, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya, dan banyak orang yang bisa melihat gaib, tetapi tidak tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya itu, apalagi yang hanya sekedar ‘ngecap’ saja alias katanya bin kulak jare adol ndean… He he he . . . Edan Tenan, seolah-olah mereka benar sudah mumpuni menguasai ilmunya atau mengetahui sendiri kebenarannya, padahal baru katanya.

Mereka yang mendalami suatu olah kebatinan, biasanya juga memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual lain yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuni, karena biasanya lakonya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalani saja. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, jika Olah Spiritual Kebatinan ini tidak berhenti, artinya terus mencari tau dan mendalami semua pelajarannya. Akan sampai pada Olah Spiritual Hakikat Hidup, dan selanjutnya akan menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan lagi menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan, tetapi mereka sendiri memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenarannya, dan biasanya mereka juga menguasai aspek spiritual lain yang lebih tinggi, hingga mencapai ke yang sebenarnya/sejatinya.

2. Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup;
Olah Spiritual Hakikat Hidup, berkaitan dengan pengolahan potensi spiritual hakikat Hidup manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai pada olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi. Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah laku spiritual hakikat hidup, orang akan mempelajari bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu tersebut).

Dan setahu saya; Wong Edan Bagu. Orang yang menekuni Laku Spiritual Hakikat Hidup, bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk kanuragan/kesaktian, olah Laku Spiritual Hakikat Hidup dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan lakon kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual/kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga lakon kebatinan keTuhanan, yang seharusnya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual keTuhanan, untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari jalan keTuhanannya. Dengan demikian dari lakon kebatinan dan Laku spiritualnya, orang tersebut bisa menguasai sekaligus, sisi Spiritual kebatinannya dan sisi Spiritual Hakikat Hidup nya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritualnya, dan kekuatan sukmanya, yang juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Pada orang-orang yang sudah menekuni tahapan laku spiritual, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan hanya menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), atau hanya sebatas sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual saja, tetapi menjadi tujuan untuk dicaritahu kebenarannya, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya. Cerita-cerita tersebut bukan hanya menjadi kisah cerita belaka atau menjadi bumbu pelajaran ilmu saja, tetapi mereka juga mempelajari kebenarannya berikut aspek filosofis di dalamnya.

Banyak orang yang baru mempelajari sesuatu ilmu, baru sepotong atau baru sebatas kulitnya saja sudah sesumbar seolah-olah ilmunya sudah mumpuni, bagi saya; Wong Edan Bagu. Dia hanya bersensasi saja. Air beriak tanda tak dalam. Tetapi orang yang sudah dalam ilmunya, justru lebih memilih diam dan diam-diam ia dapat mengukur kedalaman/ketinggian ilmu orang lain.

Orang ‘berisi’ yang memilih diam biasanya ilmunya lebih dapat berkembang, karena ia memiliki banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dan belajar dari kehidupan sehari-hari atau dari pengalaman orang lain… He he he . . . Edan Tenan. Contohnya saya… karena senengannya koar-koar mengungkap kebenaran yang sebenarnya, jadi, sudah pasti saya; Wong Edan Bagu ini, masih duuuuuaaaaangkal buuuuaaaanget, jadinya, banyak nggedebusnya, anggap saja tong kosong nyaring bunyinya ya luur,,, tapi lumayan, bisa buat tabuhan mengiringi tembang galau… He he he . . . Edan Tenan.

Kebanyakan orang hanya ingin mempraktekkan ilmunya saja dan mempertunjukkan ilmunya, sehingga dirinya dipandang hebat, tapi ia tidak berusaha mengembangkannya, apalagi setelah berpisah dari gurunya. Dengan demikian orang tersebut tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti gurunya atau melebihinya. Apabila suatu saat nanti orang tersebut mempunyai murid, dan murid-muridnya itu sama juga perilakunya sepertinya, maka dunia keilmuan semakin lama akan semakin surut. Padahal, seharusnya setiap murid harus bisa melebihi gurunya, sehingga dunia keilmuan akan berkembang terus dan semakin oke. Namun sayang,,, kesadaran seperti itu, seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, termasuk iyong dewek… He he he . . . Edan Tenan.

Tetapi orang-orang yang sudah mendalami sisi spiritual dari sesuatu dan mampu menguasainya, walaupun hanya sebagian saja, kemudian akan lebih banyak diam, tidak pamer atau menonjolkan diri, karena mereka sendiri sadar bahwa mereka lebih mengetahui daripada orang lain, seringkali dianggap lebih baik untuk diam, tidak pamer, dan tidak mempertentangkannya dengan orang lain.

Diperibahasakan seperti ilmu padi : ” makin berisi makin merunduk “. Inilah yang kemudian menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya adalah bagian dari kelanjutan Olah Spiritual Kebatinan. Tetapi karena pada masa sekarang ini banyak orang yang membedakan spiritual dengan kebatinan, apalagi ada juga orang yang mempelajari spiritual secara khusus yang tatacara pengolahannya tidak sama dengan olah kebatinan yang umum, maka dalam Tulisan saya kali ini, saya tuliskan tentang pengertian spiritual itu, yang sisi pengolahannya dan sifat-sifatnya berbeda dengan kebatinan yang umum.

Tetapi jangan dilupakan bahwa sebenarnya Olah Spiritual Hakikat Hidup adalah satu kesatuan dengan Olah Spirituan Kebatinan, termasuk dalam hal tatacara mempelajarinya, dan sesungguhnya memang begitu. Kebatinan dan spiritual jangan dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri.

Olah Spiritual Kebatinan dan Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya merupakan satu kesatuan laku yang dilakukan bersama-sama, satu kesatuan laku yang tidak terpisahkan, dalam menjalankannya, hanya proporsinya saja yang berbeda-beda. Di satu saat mungkin lakunya lebih besar proporsinya untuk kebatinan. Di saat yang lain mungkin porsinya lebih besar untuk spiritualitas, tergantung objek dan tujuan dari lakon yang sedang dilakukannya.

Saya; Wong Edan Bagu, menekuni Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai kelanjutan dari lakon Spiritual kebatinan, yang awalnya saya pelajari sebelum Laku Spiritual Hakikat Hidup. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk plah kanuragan/kesaktian yang dulu pernah saya pelajari dari berbagai karakter Guru.

Lakon Spiritual Kebatinan dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, saya lakukan bersamaan, alasannya untuk menelisik lebih dalam sisi Kesejatian Spiritual pribadi saya dan untuk mengetahui potensi dari Keilmuan Kesejatian Spiritual pribadi saya. Keduanya saya dasari dengan Wahyu Panca Gha’ib, Wahyu Panca Gha’ib sebagai busurnya, Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai tali busunya dan Lakon Spiritual Kebatinan sebagai anak panahnya. Dengan ini saya berhasil menelisik dan menembus dimensi tanpa batas, tentang kesejatian dan kebenaran yang benar dari iman keTuhanan saya.

Dengan demikian saya bisa menguasai sekaligus memeliki sisi kebatinan dan sisi spiritual pribadi saya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritual pribadi saya, dan kekuatan Hidup dan kehidupan pribadi saya… Ingat..!!! Pribadi saya, bukan orang lain… He he he . . . Edan Tenan.

Menurut hasil pengalaman saya di TKP. Biasanya, kalau tidak berhenti di sampai disitu saja, walaupun proses lakon yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, hasilnya akan merupakan kombinasi dari kebatinan dan spiritual. Karena, menurut saya, dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni sesorang, selalu terkandung makna spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan, biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, lakon kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritualnya. Dan biasanya lagi, para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar-benar menekuni kebatinan, mempunyai kemampuan spiritual juga, namun sayang, kebanyakan dari mereka, tidak menyadari akan hal tersebut.

Pengetahuan yang didapat dari lakon kebatinan bersifat dalam, berupa penghayatan kesejatian akan sesuatu, sehingga pengetahuannya itu tidak dangkal, tidak mengawang-awang, tidak berisi dogma dan pengkultusan, artinya, sudah tidak lagi berada di dalam kotak-kotak atau derada di bawah warna bendera, pengetahuan itu, juga bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama mempelajari kesejatiannya.

Dengan olah laku spiritual suatu pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui itu, ditindaklanjuti lagi untuk menelisik kesejatiannya yang lebih tinggi lagi. Karena itu olah laku spiritual adalah kelanjutan pencarian kesejatian yang lebih tinggi dari suatu objek pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui kesejatiannya. Karena itu orang-orang yang tekun di dalam olah kebatinan dan spiritual akan memiliki penghayatan atas sesuatu secara mendalam, sekaligus juga tinggi, dibandingkan pemahaman orang lain yang umum atas suatu objek yang sama.

Seseorang yang menjalani laku kebatinan akan merasakan kekuatan kebatinannya di dada. Sesuai penguasaan dan pencapaiannya, kekuatan kebatinannya itu akan mengisi kekuatan tangan, kaki, tubuh, menjadi kekuatan gaib yang melipatgandakan kesaktian kanuragan seseorang. Selain itu kegaiban sukma dari lakon kebatinannya akan membentuk dirinya menjadi seorang yang linuwih dan waskita. Pada penggunaannya, selain kekuatan itu digunakan sebagai kekuatan yang mengisi tubuh untuk kanuragan, kekuatan itu juga dipusatkan di kepala, menjadi kekuatan spiritual.

Dalam proses awal lakon kebatinan dan laku spiritual, orang memusatkan perhatiannya secara batin, memusatkan rasa terasa merasa dan merasakan rasa Hidupnya pada suatu objek tertentu yang menjadi perhatiannya. Pada proses selanjutnya, memusatkan perhatiannya di kepala, mempertegas apa yang ada di “awang-awang”, untuk menindaklanjuti ide/ilham dan bisikan gaib/wangsit, untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari objek yang menjadi perhatiannya itu sampai kepada aspek hakekatnya.

Selanjutnya berdasarkan objek perhatian yang sudah dikuasai pengetahuannya itu, dengan mendayagunakan aliran rasa sebagai sumber inspirasinya, orang itu akan melanjutkan pencariannya kepada objek-objek pengetahuan selanjutnya, hingga ke dimensi spiritual yang lebih tinggi lagi. Yang ukurannya tanpa batas ruang dan waktu. Karena itu kebanyakan lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Dalam proses pencarian jati diri itulah, olah Olah Spiritual Kebatinan dan olah Spiritual Hakikat Hidup, dilakukan secara bersama-sama, sehingga lakon kebatinan dan laku spiritual menjadi satu kesatuan kelakuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tetapi isi spiritualitas setiap orang tidak sama, tergantung pada objek spiritual yang menjadi interest-nya. Untuk objek spiritual yang sama yang membedakan pencapaian masing-masing orang hanyalah sejauhmana lakon kebatinan dan laku spiritual itu dilakukan oleh seseorang dan seberapa besar minat seseorang mempelajari sampai mendalam apa yang menjadi interest-nya itu.

Selain itu, pencapaian setiap orang juga dipengaruhi oleh “kecerdasan hati”-nya dan kepekaan hati-nya. Ingat..!!! Kecerdasan Hati dan Kepeka’an Hati, bukan otak bukan pikiran. untuk mendapatkan ide/ilham/wangsit sebagai bahan untuk ditindaklanjuti. Energi di dada, cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan bekerja dengan sendirinya mengikuti proses lakon kebatinan dan laku spiritual orang tersebut.

Tetapi tidak semua orang yang menjalani olah kebatinan, paham dan tau serta mengerti hal ini, kebanyakan hanya berhenti sampai di batin saja, tidak dilanjutkan hingga ke Hidup dan mentog Hyang Maha Suci Hidup, sudah bisa menerawang togel saja, sudah puas, lalu berhenti dan menikmatinya sebagai mata pencaharian nafkan lahirnya. Dia tidak mau laku spiritual, bahkan konyolnya, dia menganggap Spiritual itu sesat/hitam/musrik dan bla,,, bla,,, lainnya. Edan pora hayo…

Pada jaman dulu, di Jawa, ketika manusia masih hidup di jaman kesaktian, kekuatan kebatinan memang merupakan sumber utama kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan, bukan ilmu gaib dan ilmu khodam dan bukan tenaga dalam. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang melatih keilmuannya dengan lambaran kekuatan kebatinan. Lakon prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi sehari-hari lakonnya.

Di kalangan kesaktian kanuragan itu kebanyakan olah lakon kebatinan mereka tidak secara khusus dilakukan untuk juga mempelajari olah spiritual, tetapi olah lakon kebatinannya lebih ditujukan untuk meningkatkan kesaktian kanuragannya, sehingga sekalipun kesaktian kanuragan mereka tinggi, tetapi tingkat spiritualitas dan kekuatan sukmanya terbatas dibandingkan orang-orang yang benar-benar menekuni olah kebatinan dan laku spiritual yang mengolah kekuatan dan kegaiban sukmanya.

Pada jaman dulu… Laku spiritual yang tinggi kebanyakan dijalani oleh orang-orang yang sudah menepi, yang sudah mandito, para pertapa, resi atau panembahan, yang sudah tidak lagi melulu mengedepankan kesaktian kanuragan untuk lebih mengedepankan lakon kebatinan keTuhanan, yang kemudian dilanjutkan dengan olah laku spiritual keTuhanan. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang dalam rangka pencarian jati diri keTuhanan (karena Tuhan adalah materi spiritualitas yang tertinggi).

Karena itu orang-orang jaman dulu yang menekuni kebatinan dan spiritual biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan atau tenaga dalam tingkat berkali ber… He he he . . . Edan Tenan.

Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang panembahan atau pertapa, untuk lebih menekuni dunia kerohanian keTuhanan nya. Karena itu seorang panembahan atau pertapa biasanya adalah orang-orang yang mumpuni dalam ilmu kesaktian dan kebatinan, hanya saja kemudian kesaktiannya itu tidak kelihatan, karena mereka lebih mengedepankan sikap dan penampilan sebagai orang yang sudah mandito, yang kelihatan lebih menekuni dunia kerohanian, tidak lagi melulu menonjolkan kejayaan keduniawian. Dan… lagi-lagi namun sayangnya lagi, kebanyakan dari mereka itu, mengakhiri riwayat Hidup dan kehidupannya dengan cara moksa, bukan,,, Inna lillaahi wa inna illayhi roji’un, sungguh sangat di sayangkan bukan? Heeeemmmm… Edan Tenan.

Tidak seperti di jaman sekarang yang orang memandang olah spiritual sebagai jenis keilmuan tersendiri yang berbeda dengan olah kebatinan yang kemudian secara khusus diajarkan/diwujudkan dalam kursus/perguruan meditasi pembangkitan kundalini, reiki, dsb, tapi bagi saya pribadi, orang yang benar-benar menekuni dunia spiritual, pasti memahami bahwa olah lakon kebatinan dan olah laku spiritual adalah sesuatu yang menyatu, merupakan satu kesatuan proses yang salah satunya tidak boleh diabaikan, apa lagi di pisahkan. Ini menurutku,,, menurut Wong Edan Bagu lo… Menurutmu, ya terserah sampean to, mau menggunakan kacamata apa dan kacamata mana, silahkan. Hikz.

Lakon kebatinan dan laku spiritual bukanlah jenis-jenis keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri. Begitu juga dengan olah kalakuannya. Olah lakon kebatinan menjadi dasar untuk ditindaklanjuti dengan olah laku spiritual, atau laku spiritual adalah kelanjutan dari lakon kebatinan seseorang. Penggunaan kekuatan spiritual juga sebenarnya adalah kekuatan kebatinan yang kekuatannya difokuskan di kepala. Kekuatan spiritual yang di pusatkan ke rasa. Tingkat spiritualitas seseorang akan lemah jika tidak didasari dengan olah lakon kebatinan. Jadi… Jelasnya. Olah lakon kebatinan merupakan pondasi bagi kemampuan laku spiritual seseorang.

Dengan demikian olah laku spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri-sendiri yang dipelajari secara sendiri-sendiri seperti yang pada masa sekarang diajarkan dalam pelajaran praktis meditasi kundalini dan reiki dsb. Olah laku spiritual sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah lakon kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari lakon kebatinan.

Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari lakon kebatinannya dan seseorang yang menjalani lakon kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu, sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Begitu juga dalam proses melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Pada jaman dulu orang-orang yang sedang khusus menjalani lakon kebatinan (olah batin) biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, atau tapa brata. Selain dilakukan untuk tujuan mendapatkan pencerahan kebatinan yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual dan untuk menambah tinggi kekuatan kesaktian dan spiritualitas mereka, kekuatan dari lakon mereka itu juga akan menambah tinggi kekuatan sukma mereka.

Karena itu jika kita sudah masuk ke dunia kebatinan, jangan berhenti sampai disitu saja, saya sarankan, sebaiknya kita juga mempelajari sisi spiritual dari apa yang sedang kita jalani itu, supaya kita juga mengetahui secara mendalam apa yang sedang kita jalani itu dan kita bisa mengetahui potensi dan arah pengembangannya dari apa yang menjadi interest kita itu… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com