TENTANG SRI MAWUR. BAJANG WURUNG. KAMA WURUNG (SETAN/SYAITHON)

images
TENTANG SRI MAWUR. BAJANG WURUNG. KAMA WURUNG (SETAN/SYAITHON)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Jateng Hari Selasa Wage tgl 18-08-2015

Para Kadhang Kinasihku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada…
Kita sama-sama sudah salin mengetahui, entah itu katanya kabar, atau menyaksikannya sendiri, tentang berapa banyak saudara-saudari kita diluar sana, yang mengalamai kegagalan dalam berusaha, kesulitan dalam berjuang, kesusahan dalam kehidupan ini, bahkan kita sendiri mungkin mengalaminya. Mengapa bisa begitu dan seperti itu? Sedang di dalam Firman telah di jelaskan, bahwa sesungguhnya, semua kebutuhkan makhluk hidup, terutama manusia, itu telah di sediakan oleh Maha Suci Hidup, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, di dalam doapun, ada hukum pasti di kabulkan. Yang inti artinya, tidak seharusnya manusia mengalami gagal dan sulit serta susah. Di firman lainnya, menjelaskan pula, sesungguhnya, manusia itu sendiri yang telah menganiaya dirinya sendiri. Yang inti artinya, Maha Suci Hidup, tidak pernah menggagalkan dan menyulitkan serta menyusahkan umatnya. Melainnya umat itu sendirilah yang telah menggagalkan dan menyulitkan serta menyusahkan dirinya sendiri. Mau tau penjelasan lengkapnya? Berikut ini kutipannya, hasil dari pengalaman praktek langsung saya di TKP. Bukan katanya apapun, melainkan bukti dari al-kitab kejadian yang saya baca lalu saya telusuri sendiri dengan iman, di TKP.

Al-kisah… Berawal dari Kitab Kejadian Manusia Pertama, yaitu; ADAM/ADAMU. Pro Kadhang kinasihku, dalam kitab kejadian di jelaskan, Saat Maha Suci Hidup menciptakan Adam, manusia pertama yang nantinya akan berkembang biyak memenuhi jaga raya, karena itu, sebagai Bibit awal, Adam di ciptakan secara khusus dan istimewa oleh Hyang Maha Suci Hidup, Tubuhnya/Wujudnya, yang berbahan dari tanah liat pilihan, di bentukNya dengan sangat hati-hati dan termata teliti, hingga terhasil menjadi makhluk paling indah dibanding makhluk-makhluk ciptaanNya yang lainnya. Hidungnya, matanya, telinganya, mulutnya, wajahnya, rambutnya, kepalanya dan bla bla bla lainya, dibuat sedemikian beda dengan lainnya. Hingga layak di sebut MANUSIA/MANUNGSA. Lalu di bekali 4 saudara, yang di ciptaNya dari 4 anasir, yaitu Air, Angin, Api dan Sari-sarinya Bumi. Tersebut; Mutmainah, Aluamah, Supiyah dan Amarah, dalam istilah lain, malaikat 4. Tersebut; Jibril, Mikail, ijroil dan isrofil. Sebagai pendamping atau sahabat dalam suka maupun duka, sekaligus abdi dalemnya. Sehingga mendapatkan pujian dari makhluk-makhluk lainnya, sebagai makhluk paling sempurna di banding dengan makhluk-makhluk lainnya yang di ciptakan Hyang Maha Suci Hidup. Lalu Wujud/Tubuh yang telah di lengkapi 4 pendamping itu Di TiupNya, dengan Sabda. Kun Faya Kun. Dan… Wujud/Tubuh Manusia/Manungsa paling indah dan sempurna itu, mulai bergerak dan bangkit sungkem/sujud di hadapan Hyang Maha Suci Hidup untuk mengucapkan Syukur/Terima kasihnya. Dan mulai saat itulah, wujud manusia sempurna itu mendapat julukan Manusia Hidup/Manungsa Urip dengan sebutan ADAM. Yang artinya; Asal Dumadi Ananing Mansungsa, aksara arabnya; ADAMU. Yang Berati Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip.

ADAM pun mulai beribadah kepada Hyang Maha Suci Hidup sesuai dengan yang Telah diajarkan Hyang Maha Suci Hidup kepadanya. Setelah memperhatikan sekitarnya, dan menyaksikan makhluk lain, memiliki teman yang berwujud sama, Adam mulai merasa bahwa dirinya tidak sempurna seperti yang di sebutkan oleh makhluk lainnya kepadanya. Karena, Adam melihat, selainnya memiliki teman, sedang dirinya hanya seorang diri. Munculah sipat protes dalam benak Adam, pemikiran, kenapa saya di cipta hanya seorang diri, sementara lainnya berpasangan. Protes ini sampai kehadirat Hyang Maha Suci Hidup, dan Adampun memohon agar di buat sama seperti yang lainnya, dan sejak itulah, manusia hidup di sebut telah menganiaya dirinya sendiri. Karena kehendaknya yang menginginkan terciptanya dunia keinginan, karena Hyang Maha Suc Hidup itu Maha welas Asih, maka, di kabulkanlah keinginan Adam itu, sehingganya, Maha Suci Hidup, menciptakan manusia lagi untuk yang kedua kalinya, manusia kedua setelah Adam, yaitu Siti Hawa, yang artinya. SITI itu TANAH/BUMI/DUNIA dan HAWA Berarti Keinginan (Tanah/Bumi/Dunia yang di inginkan). Hyang Maha Suci Hidup, menciptakan Siti Hawa tidak seribet dan sedetil dikala menciptakan Adam, Maha Suci Hidup tidak perlu itu dan ini, semua prosesnya serba singkat, yaitu cukup dengan cara mengambil iga/tulang rusuk Adam, lalu di cipta menjadi wujud Siti Hawa dan di Tiup dengan sabda Kun Faya Kun, lalu Hiduplah Siti Hawa dan selesai. Sajak itu Adam memiliki pendamping lain, selain sedulur 4nya, yaitu Siti Hawa, Sebagai wujud dari keinginannya itu. Yang nantinya akan berkembang biyak mengisi Dunia keinginannya hingga penuh, Setelah itu, mulailah bermunculan masalah demi masalah dan persoalan demi persoalan dalam proses kehidupan Adam, yang kemudian Maha Suci Hidup menurunkannya ke Tanah/Bumi/Dunia keinginannya itu, sebagai khalifah yang harus kembali kepadaNya jika sudah di kehendakiNya.

Hyang Maha Suci Hidup… Menciptakan lagi, manusia ketiga setelah Adam dan Siti Hawa, agar Adam tidak kewalahan merawat Dunia, manusia ketiga yang di ciptakan Maha Suci Hidup, Tidak Seribet dikala menciptakan Adam, juga tidak sesingkat dikala menciptakan Siti Hawa. Melainkan Dengan KasihNya yang Agung lagi mulia dan bijaksana. Yaitu dengan Cara, menggerakan Kasih Adam dan Sayang Siti Hawa, kemudian di satukan dalam Cinta, dan didalam Cinta itu, Maha Suci Hidup menciptakan Benih Hidup, yang kemudian di prosesNya menjadi Janin/orok. Lalu dengan mengalirkan kekuasa’anNya yang dahsyat, benih hidup yang telah di prosesnya menjadi janin itu, di tumbuhkan, di kembangkan hingga menjadi wujud bayi yang terus bertumbuh seiring waktunya. Dan lahir/muncul kedunia ebagai anak Adam, untuk ikut menghuni Dunia bersama Adam. Setelah pencipta’an manusia ketiga. Hyang Maha Suci Hidup, menciptakan manusia-manusia berikutkan Hingga sampai kepada kita kini, dengan cara yang sama. Yaitu, menyatukan kasih Adam dan Sayang Siti Hawa dalam Cinta. Artinya; Bahan berupa Benih Hidup di amanahkan kepada Adam, dan Alat Prosesnya di Amanahkan kepada Siti Hawa.

Itulah Sekilas Pengetahuan Tentang Pencipta’an Manusia Hidup yang Berpangkal pada ADAM (Asal Dumadi Ananing Manungsa) ADAMU (Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip) Asal Terjadinya Manusia Hidup. Menurut Al-Qitab Kejadian yang saya Pelajari dan saya Praktekan secara langsung di TKP. Di saat saya mempelajarinya, saya tidak menemkan jejak-jejak yang menceritak bahwa Hyang Maha Suci Hidup menciptakan Setan. Iblis,,, yang di cap Setan oleh kebanyakan saudara-saudari kita itu, bukanlah setan, Iblis adalah termasuk Malaikat, yang di laknat Maha Suci Hidup karena mbalelo/membangkang. Bukan setang, sekali lagi, Hyang Maha Suci Hidup, tidak pernah menciptakan SETAN, saya sudah keliling jagat mencari sejarahnya, namun tidak menumakannya, bagi saya, ini sudah cukup untuk di jadikan bukti, bahwa Maha Suci Hidup itu, tidak menciptakan SETAN.

Kalau Maha Suci Hidup tidak menciptakan Setan, lalu kenapa dan mengapa di pohon beringin ada setannya?, di jembatan rusak ada setannya?, di rumah kosong ada setannya?, dimana-mana banyak setannya? DLL. Mari Kita Ungkap Bersama sejarahnya… He he he . . . Edan Tenan.

PERTAMA:
Hasil telisik pembuktian diatas: Di setiap diri Lelaki, ada amanah dari Hyang Maha Suci Hidup, berupa Sperma/mani (Bibit/Benih Hidup) Sedangkan disetiap diri wanita, ada amanah Hyang Maha Suci Hidup, berupa Kandungan. Dengan Begitu, apapun alasannya, jika lelaki dan wanita memadu kasih sayang, berati sedang menjalankan proses penanaman benih/bibit hidup dan penumbuhan janin/manusia. PEN. Tidak bisa diganggu gugat dengan persoalan bagaimanapun. Artinya, jika kedua amanah itu sudah di satukan, dipertemukan, maka, Hakekatnya harus dan Syare’atnya pun harus menjadi Manusia. Jika tidak,,, misalnya karena di cegah dengan alat kontrasepsi KB, seperti spiral, kondom, pil dll, Benih hidup tetap akan menjadi benih hidup, walaupun tanpa wujud, benih yang sudah di tanam itu, akan tetap tumbuh sesuai kodratnya. Disinilah awal terciptanya SETAN. Jadi,,, Setan itu bukan Cipta’an Hyang Maha Suci Hidup, melainkan Cipta’an Para Manusia Lelaki yang Mencecerkah Benih Hidup yang di amanahkan kepadanya Oleh Maha Suci Hidup, di sembarang Tempat. Inilah yang di Sebut Sri Mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Sri mawur, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara melakukan Onani atau seks oral atau dengan wanita tapi sperma di keluarkan diluar, bukan di vaginanya atau mimpi. Bajang wurung, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara menggauli wanita yang bukan istrinya, misal; pacarnya, selingkuhannya atau WTS, tapi tidak membuahkan anak. Kama wurung, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara melakukan berhubungan badan dengan istrinya, namun di cegah dengan alat kontrasepsi KB, kondom, pil, spiral, suntik dll.

Karena Bibit/Benih Hidup yang merupakan amanah dari Hyang Maha Suci Hidup, akan terciptanya manusia-manusia berikutnya, itu akan tetap hidup walaupun tanpa wujud, artinya, bibit/benih hidup itu, ada sebagai wujud gha’ib, karena tidak memiliki wujud, maka tersebut arwah yang menempati alam ruh. Yang kita kenal dengan sebutan Syaithon… SETAN.

Berapa kali kita melakukan; Onani atau seks oral atau dengan wanita tapi sperma di keluarkan diluar, bukan di vaginanya atau mimpi. Maka Sejumlah tulah kita sudah menciptakan Sri Mawur (Setan). Berapa kali kita menggauli; wanita yang bukan istrinya, misal; pacarnya, selingkuhannya atau WTS. Berati sejumlah itulah kita telah menciptakan Bajang wurung (Setan) Berapa kali kita melakukan hubungan badan dengan istri, namun di cegah dengan alat kontrasepsi KB, kondom, pil, spiral, suntik dll. Maka Sejumlah itulah kita sudah menciptakan Bajang Wurung (Setan).

Sebenarnya, mereka belum layak dan tidak layak di sebut Setan, karena mereka belum pernah mengalami mati, sebab mati, hanya bisa dialami oleh yang memiliki wujud, itu sebab mereka, di sebutnya. Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Karena prosesnya telah gagal prodak. Mereka adalah anak-anak kita, bukan setan, mereka lahir karena kita, meraka tercipta karena kita, mereka ada karena kita. Sungguh mereka teramat sangat amat menderita, tersiksa, sedih,,,, pedih,,, pilu,,, itupun karena kita yang sebagai bapaknya.

Mari kita merenung sejenak soal mereka; Bagaimana mereka tidak menderita, tersiksa, sedih,,,, pedih,,, pilu,,, Mereka anak kita, tapi kita tidak tau, tidak mengakuinya, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak kita yang cantik-cantik, tampan-tampan dan lucu-lucu dirumah, mereka butuh boneka, mereka butuh belon, ingin bermain mobil-mobilan, ingin bermain petak umpet, ingin berseda gurau dengan bapaknya, ingin di peluk, ingin di nina bobokin, ingin jajan dll… tapi kita mengabaikannya, hanya karena sekelmit alasan, karena tidak tau, karena tidak melihat wujudnya, ketika kita membelikan mainan mobil-mobilan di si lucu budi, mereka disanapun sama, ingin di belikan juga, ketika kita membelikan boneka untuk si cantk susi, mereka disanapun sama, ingin di belikan boneka, mereka merengek-rengek, menangis sedih dan pilu, karena kita mengabaikannya, mereka merasa diperlakukan tidak adil. Sama-sama anak, tapi pilih kasih, akhirnya mereka menuntut keadilan, dengan cara tetep merengek, sambil memegangi kaki kita, tangan kita, celana kita, baju kita, bahkan saking banyaknya, seluruh tubuh kita di ganduli, di gendongi sambil merengek-rengek. Bagaimana tidak berat ibadah kita, bagaimana tidak sulit usaha kita, bagaimana tidak susah kehidupan kita, la wong… setiap waktu di recokin anak-anak ghaib kita yang menuntut keadilan setiap hari.

Sampai kapan akan begini terus? Bagaimana mereka disana? Tidak tergugahkah kita? Masih tetap asyikah kita mencecerkan Sperma di sana sini? MAKA… MERENUNGLAH. SUDAH BERAPA BANYAK SETAN YANG TELAH KITA CIPTAKAN SENDIRI DI SETIAP HARINYA…?! DAN RENUNGKANLAH… KENAPA DAN MENGAPA KITA SERING BAHKAN SELALU SULIT SUSAH DAN BERAT DALAM HAL APAPUN… Itulah jawabannya.

Kalau Maha Suci Hidup tidak menciptakan Setan, lalu kenapa dan mengapa di pohon beringin ada setannya?, di jembatan rusak ada setannya?, di rumah kosong ada setannya?, dimana-mana banyak setannya? DLL. Mari Kita Ungkap Bersama sejarahnya… He he he . . . Edan Tenan.

KEDUA:
Sungguh tidak ada satupun sejarah dan riwayat yang menjelaskan atau menceritakan, bahwa Hyang Maha Suci Hidup menciptakan SETAN, Maha Suci Hidup, tidak bosan-bosannya menurunkan wahyu, pelajaran, pendidikan, pengetahuan, pemahaman, hingga sampai dengan cara memperingatkan dengan bukti-bukti kekuasa’anNya. Namun… hanya beberapa saja, yang mau ambil tau, yang lainnya bersipat masa bodoh, bersikap acu tak acuh, sehingganya, tersesat di di rimba belantara, tidak tau jalan pulang. Bisa membaca Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un, tapi tidak mau ambil tau bahkan tidak peduli dengan apa yang dimaksud Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un. Al-hasil,,, jangankan, rumahnya, jalan menuju rumahnya saja, tidak tau sama sekali. Akhirnya, berdomisilah di pohon beringin, di rumah kosong, di jembatan runtuh dan tempat-tepat yang hanya layak di huni oleh nyamuk dan serangga. Kalau sudah begini, Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un nya, diganti alias dirubah saja, menjadi Inna lillaahi wa inna pohon beringin’un atau jembatan runtuh’un atau rumah kosong’un atau gunung gundul’un atau surga’un atau neraka’un… Monggo… Silahkan Di Renungkan ya. Jangan Di bayangkan, nanti jadi bayangan yang menghantui setiap tidurmu lo… He he he . . . Edan Tenan. Ingat…!!! Di Renungkan atau di Pikirkan. Jangan di bayangkan.

Soal Arwah Kesasar dan Gentanyangan, itu urusan Hyang Maha Suci Hidup dan keluarga yang bersangukatan, Tapi kalau tentang Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung, mari kita bahas lebih lanjut, agar dunia ini, tidak segera penuh oleh anak-anak gha’ib kita, bagaimana caranya, agar anak-anak ghaib tersebut bisa mencapai kesempurna’an alias kembali ke maqomnya, biyar tidak ngrecoki sang bapak yang sudah terlanjur melakukan ketidak benaran itu, sehingga tidak lagi mengalami kesusahan kesulitan dan kegagalan dalam menjalani segala bentuk proses kehidupan ini? Hanya ada satu cara, yaitu; Mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib. Hanya ada satu jalan, yaitu; KUMPUL NUNGGAL SUCI (KUNCI). Karena hanya dengan itu, Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Bisa di kembalikan ke maqomnya dengan sempurna.
Untuk yang Sudah mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib:
Inilah Lakon;
Sediakan Ube Rampe sebagai berikut:
Wedang kopi tanpa gula 1 gelas.
Wedang teh tanpa gula 1 gelas.
Wedang air putuh tanpa apapun 1 gelas
Rendaman kembang setaman 1 mangkok
Tumpeng punar satu piring.

Kelima ube rampe ini. Merupakan lambang ruh yang tanpa wujud dan proses kembalinya ruh kepada maqomnya.

Inilah Lakunya;
Sediakan tempat yang aman dan nyaman, letakan lima ube rampe tersebut dilantai, lalu duduklah di samping kelima ube rampe tersebut. Silahkan mau menghadap kemana, yang penting posisi ada di samping kelima ube rampe itu.

Duduk rileks dan santai, bebaskan dan merdeka semua panca indera, lalu tarik napas panjang dan dalam secara perlahan melalui hidup, dan keluarkan napas panjang dan dalam secara perlahan melalui mulut, lakukan hingga tiga kali berturut-turut. Sampai merasa plong.

Lalu… Palungguh 3x.
Kunci 7x.
Paweling 3x.
Mijil sampurno 1x.
Lalu semedi mencari enak, jika sudah mendapat enak.
Singkir 3x.
Selesai Singkir, lalu tiupkan napas ke atas 3x… ke bawah 3x dan 1x ke kedua telapak tangan, lalu usapkan ke bagian seluruh badan. Sembari menikmati sentuhan kedua telapak tangan kesekujur badan. Sambungkan Hidup ke Hyang Maha Suci Hidup. Tanpa Embel-embel apapun, tanpa niyat atau kata apapun, cukup menyambungkan/mengkonexsikan Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup. Itu sudah cukup. Ingat…!!! jangan sekali-kali berniyat ucap, menyempurnakan Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung atau yang lain2xnya, jalankan saja seperti petunjuk diatas, Hyang Maha Suci Hidup itu, Maha segalanya, jadi, tidak perlu berucap, DIA sudah tau apa yang kita lakukan. Jadi, setelah lakon dan laku diatas sduah dilakukan, tinggal menyambungkan/mengkonexsikan Hidup kita dengan Hyang Maha Suci Hidup saja. Tak perlu neko-neko. Jika Hidup sudah Tersambung/Terkonexsi dengan Hyang Maha Suci Hidup. Silahkan Bersabda… Contoh Misal. Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. SEMPURNA. Atau dengan kata apapun, terserah, yang penting simpel, padat dan sesuai dengan yang dimaksud.

Setelah selesai, Lalu palungguh lagi, untuk mengakhiri semedi dan menutup lakon, menyelesaikan laku. Terus mandi keramas, dengan Mijil Sesuji. Selesai mandi keramas, lalu palungguh lagi untuk menyelsaikan laku mijil sesuci, lalu,,, larunglah/hanyutkan kelima ube rampe tersebut di sungai yang airnya mengalir deras. Setelash itu. SELESAI.

Untuk yang Belum mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib, ya mau tidak mau, harus mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib itu, hingga sampai ke ASMO. Jika belum, berati tidak bisa. Karena, Lakon Laku ini, hanya di perkenankan Bagi yang Sudah KUNCI dan ASMO. Kalau belum, hanya akan buang-buang waktu dan tenaga saja, malahan, bisa jadi tambah parah sikonnya. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com