Seni membuat keputusan:

WONG EDAN BAGU.5
Ya atau tidak..!!!
Seni membuat keputusan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Toili Luwuk Sulteng. Sabtu 13 Juni 2015

Keputusan terbesar apa yang pernah saudara-saudariku buat?
Kita bahas itu nanti saja. Lebih baik, kita bahas ini:
Saudara-saudariku dapat membuat keputusan.

Sekali lagi… Saudara-saudariku dapat membuat keputusan!
Jika saudara-saudariku tidak pernah terpikir tentang ini, sadarilah: membuat ketusuan adalah suatu fungsi yang luar biasa.

Mengapa seekor ikan salmon berenang melawan arus sekali dalam satu tahun?
Karena dia memutuskannya?
Atau, karena suatu insting yang menggerakkannya?
Dia sepertinya tidak memiliki pilihan apapun.

Tapi, seorang lulusan universitas dapat pindah ke New York atau Cleveland. Dia harus membuat keputusan, tidak berdasarkan insting. Akankah New York tau Cleveland? Mungkin pekerjaan di Cleveland bergaji lebih baik, tapi dia tetap memilih New York. Untuk memilih satu dan yang lainnya berarti sebuah “ya’ dan sebuah “tidak”. Dia akan berkata “ya” ke kota pilihannya, dan “tidak” ke kota yang tidak dipilihnya.

Kita membuat “ya” dan “tidak” sepanjang waktu. Mungkin ribuan pada satu hari saja. Pernahkah saudara-saudariku berpikir betapa luar biasanya kemampuan ini?
Pernahkah saudara-saudariku berpikir apakah keputusan terbesar dalam hidup ini?

Keputusan memerlukan beberapa pilihan;
Kemampuan untuk memilih sangat luar biasa. Jika program studimu memerlukan sebuah komponen bahasa asing, saudara dapat memilih apa yang saudara inginkan. Akankah itu Bahasa Perancis, Rusia, Jerman, atau Spanyol? Saudara tidak mungkin secara insting dipaksa untuk meilih salah satunya. Yang terjadi, saudara mempertimbangkan pilihan-pilihanmu dan berkata “ya” ke salah satu dan “tidak” ke sisanya.

Seorang anak laki-laki yang besar di Republik Dominika tidak dapat memutuskan siapa yang akan menjadi orang tuanya, di kota mana dia akan dibesarkan, bahasa apa yang akan menjadi bahasanya. Tapi ketika dia tumbuh semakin besar, kemampuannya untuk membuat keputusan pun meningkat. Jika dia membuatnya sepanjang pendidikan dasarnya, dia dapat bergabung dengan militer atau kuliah. Yang manakah yang akan dia pilih.

Dia tidak bisa memilih untuk dilahirkan di Republik Dominika, tapi jika dia belajar dengan tekun di universitas, mendapat gelar kedokterannya dan mengumpulkan cukup uang, dia mungkin memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan membuka sebuah klinik di Negara lain.

Banyak hal dipaksakan pada kit pada awalnya. Siapa orang tua kita, dimana kita dilahirkan, jenis kelamin dan ras kita. Tapi ketika hidup kita berjalan, kita belajar bahwa kita dapat dan harus membuat keputusan-keputusan, keputusan yang melibatkan banyak pilihan-pilihan ganda. Dalam suatu rumah tangga yang sehat, seorang ayah membantu anak-anak remajanya untuk mengerti bahwa mereka harus membuat keputusan-keputusan dalam hidup, dan bhawa ada banyak konsekuensi pada setiap keputusan dalam hidup.

Orang membuat keputusan-keputusan dengan berdasarkan pilihan-pilihan yang tersedia. Jia mereka tidak punya pilihan. Mereka tidak memiliki sebuah keputusan pun untuk dibuat. Tapi jika mereka memiliki lebih dari satu pilihan, sebuah keputusan harus dibuat. Bahkan sebuah keputusan untuk tidak memutuskan sebenarnya adalah sebuah keputusan.

Beberapa keputusan lebih penting daripada yang lain. Apakah seorang wanita mempunyai John atau Ted sebagai pasangan hidup adalah jauh lebih penting daripada apakah dia akan memiliki wafel atau pancake untuk sarapan? Hal ini lebih penting karena siapa yang akan dia nikahi mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang lebih besar dan lama Juga, hal ini lebih penting karena John dan Ted lebih penting daripada wafel dan pancake.

Apa yang kita lihat adalah bahwa pentingnya sebuah keputusan adalah berdasarkan pada dua hal: 1) apakah konsekuensi-konsekuensinya, dan 2) Orang-orang atau benda-benda apa saja yang terlibat.

Contohnya;
Siapa yang akan saudara nikahi adalah sebuah keputusan yang sangat penting. Melibatkan orang lain, dan orang yang terpilih akan membawa konsekuensi-konsekuensi yang lebih besar dan berlangsung lebih lama dalam hidupmu. Jadi, dengan hal ini dalam pikiranmu, kepuusan terbesar apakah yang pernah saudara buat?

Ketika Membuat Keputusan Menjadi Semakin Penting:
Pikirkan ini; Keputusan terpenting yang akan saudara-saudariku buat, adalah apa yang akan saudara-saudariku lakukan dengan Tuhan.

MAKA… Pikirkanlah;
Jika Tuhan adalah seseorang yang banyak orang pikirkan, dan Tuhan adalah pribadi yang keberadaannya paling penting. Dia adalah Pencipta dan Penopang alam semesta. Dia adalah sesuatu yang selalu ada dan bersamamu, tanpa mempedulikan apapun.

Jika saudara memutuskan untuk mempunyai bawang goreng daripada kentang goreng, itu bukan keputusan besar. Jika saudara membeli baju kotak-kotak daripada yang merah menyala, apa artinya? Jika saudara meikah dengan Bill daripada dengan Brad, atau Mandy daripada Marcia–bahkan, itu bukanlah suatu hal yang teramat penting, dalam jangka panjang jika dibandingkan dengan apakah saudara akan memutuskan untuk menikah dengan Tuhan?

Dan, itu suatu keadaan yang sungguh kita jumpai. Karena Tuhan telah mengijnkan kita untuk berkata “aku bersedia” atau “aku tidak bersedia” kepadaNya. Kita dapat memasuki pernikahan rohani atau menolaknya. Kita dapat berkata “ya” atau “tidak” kepada Tuhan semua ciptaan. Dan, tidak memutuskan sebenarnya adalah sebuah keputusan.

Sekarang, pikirkan, ini luar biasa. Coba saja renungkan, bahwa saudara dicintai dan dipuja oleh orang yang paling cantik atau ganteng, paling pintar, paling jenaka, romantis, dan paling berani yang pernah ada. Pribadi sempurna ini mencintaimu dengan sepenuh hati, dengan cinta yang rela berkorban, dan ingin menikah denganmu untuk sepanjang hidup, sebenarnya untuk kebahagiaan pernikahan yang kekal, bukan? He he he . . . Edan Tenan.

Apa yang akan saudara katakan? “Maaf. Anda tidak cukup baik untukku.” Sebenarnya inilah posisi yang banyak orang ambil terhadap Tuhan.

Beberapa Keputusan Seharusnya mudah Dibuat:
Jika kita pernah menginginkan sebuah hubungan dengan siapapun, itu seharusnya dengan Tuhan. Tidak ada pribadi lain yang lebih baik untuk menjalin hubungan. Dia sangat baik, bijaksana, penuh kasih sayang, adil, terbuka, bertanggung jawab, jujur, dan penuh perhatian. Sepertinya, hanya untuk melihat wajahNya akan menjadi momen terbesar dalam hidup kita.

Dan kita berkata kepadaNya, “Tidak, terima kasih”. Untuk membuat pernyataan seperti itu, dalam pikiran, bahwa Dia tidak cukup baik untuk kita. Betapa ironis.

Tapi, mengapa kita sangat menolak Dia? Mungkin, hal ini karena Dia terlalu mengintimidasi. Kita berpikir, “Siapa yang ingin dengan seseorang yang sangat sempurna? Dia akan melihat semua kelemahanku setiap waktu!” Tapi Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sempurna, tapi hanya untuk dating padaNya dalam ketidaksempurnaan kita. Dia bahkan berkata akan melenyapkan ketidaksempurnaan kita dalam kehidupan selanjutnya, jadi kita akan menjadi lebih seperti Dia.

Baiklah, kemudian, apakah itu? Mengapa menolak seseorang yang sangat mengagumkan seperti Tuhan? Tuhan tahu. Setiap orang mempunyai alas an yang berbeda.

Dalam banyak hal, itu sangat, sangat merendahkan bagi Tuhan untuk mengijinkan kita untuk memutuskan hal seperti itu.

Itu adalah sikap merendahkan diri yang sangat luar biasa:
Pikirkan. Tuhan adalah Tuhan dan kita bukan. Kita memerlukannya tapi Dia tidak memerlukan kita. Dia dapat ada tanpa kita. Dia bisa. Tapi kita tidak dapat ada tanpa Dia. Kita tidak akan pernah.

Dan Dia tahu bahwa Dia adalah yang terbaik untuk kita. Dia tahu Dia adalah pribadi yang paling indah, pandai, jujur, penuh kasih saying, peduli yang pernah hidup. Dia tahu bahwa jika kita sungguh menyerahkan diri kita untuk memiliki sebuah hubungan denganNya, itu akan menjadi keuntungan terbesar kita. Kenyataannya, tidak ada yang lebih baik untuk kita. Tidak ada.

Karenanya, dengan semua hak yang Dia miliki, Dia seharusnya tidak mengijinkan kita menentang Dia. Tapi Dia melakukannya. Dia mengijinkan kita untuk berkata “Tidak, terima kasih”. Walaupun, sebenarnya siapa kita sehingga kita menolak Dia?

Dia Menyerahkan Pembuatan Keputusan Kepada Kita:
Sikap merendahkan diri terbesar adalah. Bahwa Tuhan siap dan menunggu untuk menerima kita, kapanpun kita pada akhirnya datang kepadaNya, walaupun kita seharusnya melakukannya sejak awal. Jika Dia adalah seorang yang sombong atau sesorang yang dengki, Dia tidak akan pernah menerima kita. Karena hal itu terserah Dia (sebenarnya) untuk menerima kita setelah kita terlebih dulu menolak Dia.

Tapi Tuhan menunjukkan pengampunan dan anugrah. Dia adalah kasih. Dia sabar. Dia mengetuk pintu hati kita dan menunggu untuk sebuah jawaban. Dia mengijinkan kita untuk membuat sebuah keputusan besar. Apakah ada yang lebih menakutkan dari kata “tidak” daripada mengatakannya kepada Tuhan? Apakah ada yang lebih memuaskan daripada mengatakan “ya” kepada Tuhan? COBA SAJA ANDA RENUNGKAN ITU… INGAT…!!! DI RENUNGKAN. YA… BUKAN DI BAYANGKAN. KARENA JIKA DI BAYANG. MUSMET BINTI STRESS NANTINYA…. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Iklan