AKu KINI telah berSAHABAT denganku:

He he he . . . Edan Tenan.
AKu KINI telah berSAHABAT denganku.
Alhamdulillah lurr,,,, telah kutemukan potensiku, maka temukanlah potensimu wahai saudara-saudariku. Dunia ini luas, karena aku terbatas, dan aku pun tak tahu di mana batas pikiranku yang sebenarnya terbatas.

Allah pun mengujiku sesuai dengan batasan kemampuan- ku, terserah Allah, aku tak berhak membatasi ujian-ujianku dari-Nya. Sebab kuingin mencintai Tuhanku tanpa batas, dan Tuhanku membalasnya dengan pahala tak terbatas. Amien.

Kini aku tak lagi khawatir dengan hadirnya pelbagai masalah yang dahulu sering membuat pikiranku terasa tersumbat. Kualirkan saja dengan tenang pikiranku, sebab bila aku menahannya, peninglah aku, tapi bila kulepaskan begitu saja, semakin liarlah pikiranku. Aku terima – aku arahkan – aku alirkan ke lubuk yang terdalam, wah nyamannya diriku.

Alhamdulillah, dikarenakan aku memiliki kepasrahan dan impian, hilir aliran sungai pikiranku, dan bermuara di lubuk hatiku. Potensi terbaikku pun muncul, sebab pikiranku bergerak – mengalir – seraya menyerap energi dan inspirasi.

Aku membuat daftar impian dalam hatiku, dan kuperkenankan dia muncul sekehendak Tuhanku, aku tak jadikan impianku menyelimutiku, tapi aku selimuti impianku. Bukankah impian yang tak terselimuti syukur melahirkan banyak kegelisahan yang tak terukur?

Ya,,, itulah yang dulu sering menggelisahkanku, banyak keinginan dan sedikit bersyukur. Bagiku, memiliki impian itu penting, tapi mensyukuri apa yang aku miliki jauh lebih nyata kenikmatannya, dan bukan sekedar mimpi.

Syukurku mengatakan bahwa Aku itu di dalam, bukan di luar. Aku yakin sepenuhnya bahwa pada diriku sudah tercipta paket yang lengkap dari Tuhan untuk mencapai impian-impianku, mulai dari impianku yang terkecil hingga yang terbesar. Aku yakin, aku hanya tinggal merangkainya, lalu bersinergi dengan semesta.

Aku sadar, perubahan selalu dimulai dari diriku, bukan dari lingkunganku. Tatkala aku ingin lingkunganku wangi semerbak melati, aku tak perlu repot-repot berdakwah ke sana dan kemari agar semua orang memakai minyak wangi melati. Bukan karena khawatir mereka menolak, tapi yang jelas aku pun tidak perlu repot-repot membelikan minyak wangi melati untuk mereka, toh memang mereka pun belum tentu mau memakainya.

Tapi aku yakin, kurangkai dan ku-ubah saja diriku, aku letakkan saja setetes minyak wangi melati di bawah hidungku, maka “otomatis” semua yang ada di lingkunganku pun beraroma melati. Ya, perubahan itu mudah jika dimulai dari jiwa.

Prinsipnya, aku sentuh hati mereka setelah aku raba hatiku. Hatiku sangatlah sehat, sebab selarasnya karakter hatiku dengan pikiranku. Itu keyakinanku, inilah do’aku, bukan untuk disombongkan. Kini hati, pikiran, dan tindakanku selalu selaras, walau aku tak harus memaksa dan melatihnya dengan ruh motivasi dan komitmen yang tinggi, terlalu bersemangat – terlalu melelahkan – keterlaluan.

Tapi, kulatih saja ruhku dengan dzikrullah, kulatih komitmenku dengan belajar terisak atas setiap pengingkaran yang dilakukan oleh tindakan, dan pikiranku, lalu kulatih jiwa dan kesehatanku dengan mengikhlaskan segala bentuk problema.

Fas tabiqul khoiroot. Tak perlu sakit hati dengan kesuksesan orang lain. Tapi aku pupuk rasa malu jika sudah lama diriku tak lagi sukses memecahkan rekor pribadiku. Ya, aku ingat, balon terbang bukan karena warnanya, tapi karena isi gasnya. Apalah gunanya jika aku risaukan warnaku, warnanya, dan warna mereka.

Praktis saja lah, jika isi gasku kurang berbobot, aku pinta saja kepada “ahlinya”. Alhamdulillah, kini gasku bertambah, secukupnya, aku pun bisa terbang tinggi, sangat tinggi, cukup tinggi, dan berpadu dengan sengat mentari, menuju Tuhanku, ah aku sangat berharap agar aku husnul khotimah, sebuah kematian terindah.

Aku isi gasku secukup impianku. Seraya melirik daftar impianku, ya…daftar permintaanku kepada Tuhan. Tuhan suka kepada hamba-hamba-Nya yang rajin meminta kepada-Nya. Yakin saja, dan mengapa harus ragu. Setiap aku teringat Tuhan, hatiku selalu meminta. Tuhanku luar biasa dahsyat, Allahu Akbar! Tapi Tuhanku tidak suka kepada hamba-Nya yang memaksa. Minta kok maksa? Tawakal saja lah. Dia begitu istimewa, selalu tahu apa yang kubutuhkan.

Kini, kusinergikan impianku dengan para pemimpi cerdas lainnya, siapa lagi kalau bukan para pemimpi yang ahli bersyukur. Buat apa kalau aku bersinergi hanya untuk menerjemahkan impian orang lain, menerawangi kegelisahan, lalu hatiku pun meronta.

Maka kubangun impianku, kusinergikan impianku, aku buatlah komunitas. Ku tahu yang kumau, dan aku pun yakin, sinergiku tidak akan efektif bila bersama pemimpi yang masih tertidur. Tidur dari kekiniannya. Tidur dari kesyukurannya. Prinsipku, aku terbangun dan tetap bermimpi; orang lain sukses bersama mimpiku, dan aku sukses bersama mimpi mereka. Bagiku, itulah sinergi. Tepatnya, spiritual sinergi semesta.

Itu sebabnya, mulai kini aku dinamis bergerak, bergerak dengan jelas, bergerak dengan cerdas, bergerak dengan ikhlas, bergerak dengan kualitas, dan bergerak dengan tuntas. Lebih baik diam yang jelas dari pada bergerak yang tidak jelas.

Yang kumau bukanlah sukses dengan bekerja keras tapi dengan bekerja pas. Banyak bergerak dan bekerja keras memang terlihat sibuk, tidak nganggur. Tapi, coba bayangkan apa yang terjadi jika induk ayam berpura-pura sibuk, bergerak ke sana kemari, ketika mengerami telur-telurnya, maka kapanlah telur-telurnya akan menetas, tidak akan pernah sepertinya.

Butuh tuma’ninah (‘tenang’ dan ‘diam sejenak’) untuk menghasilkan sesuatu yang bergerak. Tuma’ninah itu untuk pergerakan yang lebih tartil, bukan untuk rekomendasi rasa malas. Nah, buat apa aku berpura-pura sibuk? Berhentilah sejenak, untuk bergerak lebih optimal.

Asam garam kehidupanku adalah petuah. Ku yakin, ini semua bukan sekedar peristiwa ‘mengalami’, tapi ini adalah sebuah ‘pengalaman’. “Pengalaman” berbeda dengan “Mengalami”. “Pengalaman” itu untuk pengamalan yang lebih baik. Sedangkan “Mengalami” itu berakar pada kekurangpedulian dan berpangkal pada cerita kesombongan. Bukankah secangkir kopi pengalaman lebih bernilai dari 1000 liter teori kehidupan? “Mengalami” itu sekedar peristiwa. “Pengalaman” itulah penuh dengan makna. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. BISA LEBIH MENGENOG ke RASA dan BERMANFAAT BAGI siapapun yang Membacanya… HE HE HE . . . EDAN TENAN.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com