Buang Jauh dan Singkirkan Kata “TETAPI/TAPI”


Buang Jauh dan Singkirkan Kata “TETAPI/TAPI”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu tgl 24 Des 2014

Apakah anda sering mengalami hambatan dalam menemukan makna kehidupan?
Anda tahu apa yang Anda inginkan, namun sayang ada pula rintangan yang menghambatnya.

Berikut ini ada latihan menarik yang diajarkan Daniel H. Pink dalam bukunya A Whole New Mind. Katanya, coba tuliskan apa saja perubahan-perubahan penting yang ingin Anda buat, dan tuliskan pula penghalangnya.

Misalnya;
Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga saya, anak-anak didik saya, sahabat-sahabat saya, tetapi saya banyak bepergian dalam laku spiritual saya.

Saya ingin lebih sering membaca, tetapi saya jarang punya waktu untuk bisa duduk dengan buku di tangan.

Kata Daniel: gantilah kata “tetapi” tersebut dengan “dan”.

Contoh;
Saya akan lebih sering menghabiskan waktu dengan keluarga saya, anak-anak didik saya, sahabat-sahabat saya dan saya banyak bepergian dalam spiritual saya. Maka, saya perlu menemukan cara-cara untuk membawa semua itu, bersama selama spiritual saya.

Saya akan banyak membaca, dan saya jarang sekali mempunyai waktu untuk bisa duduk dengan membaca buku di tangan. Maka saya perlu merekam buku-buku tsb sehingga saya dapat mendengarnya di dalam mobil atau di tempat olah raga spiritual saya.

Menukar kata “tetapi” menjadi “dan” intinya adalah memindahkan cara kita yang terbiasa dalam pola pembuatan alasan, masuk ke pola pemecahan masalah. Sederhana sekali kan..?.:-) He he he . . . Edan Tenan. Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com
Brebes Rabu tgl 24 Des 2014

Iklan

Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup:


Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Rabu tgl 24 Des 2014

Di Mana Pikiranmu?
He he he . . . Edan Tenan.

Sepertinya… mustahil kita tidak pernah melihat bayi atau bersama bayi walau sekejap pun. Entah itu di tempat tinggalnya sendiri atau di lain daerah. Apa lagi kalau sudah berkeluarga dan punya anak. Pasti tau kan? Hanya saja kita tidak pernah memperhatikannya secara spiritual. Hanya sekedar perhatian, bukan memperhatikan. Padahal, jika kita memperhatikannya… tu ilmu nyata dari sang Maha Suci Hidup pada kita Sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas si anak tersebut. Mari kita simak sejenak Sejarah Laku/Prosesnya. Saya ceritakan dengan Bait-Bait Puisi;

Masih bayi belajar berdiri
Pikirannya seputar kaki
Serasa ingin menjelajah negeri
Terasa goyah menginjak bumi

Tersenyum simpul balita gembul
Pikirannya sebatas dengkul
Berlari-lari terpantul-pantul
Minumnya susu buburnya bekatul

Akil baliq pun lewat
Pikirannya ke pisang dan donat
Pisang mencuat berdaun lebat
Donat bolong bertabur coklat

Masa remaja telah tiba
Pikirannya di antara paha
Pesona si dia menghapus norma
Hasrat berdua tanpa busana

Saat dewasa datang menjemput
Pikirannya berkutat di perut
Nafsu dunia membuat hanyut
Saling sikut ingin berebut

Kini rasanya mulai menua
Pikirannya di tangan dan dada
Terengah-engah dalam bekerja
Anak dan istri minta belanja

Rambutnya mulai beruban
Pikirannya di kerongkongan
Kata-katanya jadi panutan
Ini amanah atau kekuasaan?

Uban merata botak menganga
Pikirannya diam di kepala
Surut sudah kejayaanya
Menjadi kisah masa lalunya

Rambut tak rimbun mata pun rabun
Pikirannya beku di ubun-ubun
Katanya mbah sudah pikun
Mengunyah roti ternyata sabun

Sudah uzur napas tak teratur
Pikirannya lari ke kubur
Semeter dua sudah diukur
Tanah digali bukan sumur

Waktunya pulang ke liang lahat
Malaikat datang mendekat
Menagih pikiran amal dan niat
Semakin pucat mayat yang sesat

Dunia ini adalah alat simulasi – integrated – multiplayer – untuk manusia dalam belajar. Setiap manusia menjadi pengajar bagi yang lain melalui contoh jalan hidupnya. Benar maupun salah. Semua adalah pelajaran. Secara “akumulatif” tidak ada kejadian yang “salah” di dunia ini. Semua layak berterimakasih pada Fir’aun atas pelajaran yg diperankannya untuk kita. Juga pada setan-setan dari golongan jin maupun manusia sebagai sparing partner.

Coret-coretan di atas adalah rangkuman kurikulum pelajaran tipikal untuk setiap manusia (dan jin?). Kekacauan sering diakibatkan orang-orang yang tertinggal pelajaran. Tingga kelas. Nunggak. Bodo ela-elo koyo kebo. Buta mata hatinya… Saat kurikulum pikirannya sudah di kerongkongan, kata-katanya jadi panutan anak buahnya. Berdehem jadi duit, batuknya jadi anak perusahaan, bersinnya jadi departemen… Kalau pikirannya telat “naik” sesuai kurilum, masih nyantol di urusan perut. Atau lebih parah… urusan di antara paha, di dalam hotel… Apa kata dunia?????
He he he . . . Edan Tenan.

Penggerak Manusia;
Saat melihat hiruk-pikuk aktivitas orang-orang, pernahkan terpikir “Ngapain saja sih mereka?
Apa sih maunya?”

Ada berbagai kegiatan mulai dari ongkang-ongkang, bekerja, mengemis, mencuri, makan, tidur, berdagang, berpolitik, ngebom, perang, FBan, dll. Berbagai aktivitas antar manusia memunculkan berbagai kesepakatan. Kesepakatan-kesepakatan umum kemudian lama-lama menjadi etika, tren, budaya, pola pikir, aturan, hukum dan berbagai konsekuensinya. Kemudian orang-orang beraktivitas dalam ikatan etika, budaya, aturan, hukum dan pola pikir itu. Dan begitu seterusnya… menjadi sebuah endless cycle.

Pernahkah selanjutnya terpikir…
Ngapain sih aku?
Ngapain sih binatang ini begitu?
Ngapain sih pohon ini tumbuhnya begini?
Ngapain sih cuaca ini?
Ngapain sih bumi ini?
NGAPAIN AJA SIH ALAM INI?

Well,,, ewel-ewel bel kedebel ketel-ketel… He he he . . . Edan Tenan. Kayaknya kejauhan ya?!
Ok, kembali ke urusan manusia aja…
Ngapain aja sih KITA?
Apa tujuan kita begini-begitu?
Apa motifnya?

Nah… kayaknya mulai ada satu titik terang nih: motif. Nampaknya ini yang menjadi titik tolak berbagai kegiatan kita. Entah apa motifnya. Bisa batik atau kotak-kotak… He he he . . . Edan Tenan….

Motif… terus apa motif binatang begini-begitu?
Apa motif pohon?
Apa motif batu? (Batu???)
Apa motif cuaca?
Apa motif alam ini bergerak-gerak?
Wah… Sepertinya,,, menuju ke titik gelap lagi nih… ke tahi lalat! Wahahahhaha Edan Tenan….

Serius dong WEB!!!
Di Baca temenanan ko maleh ndrenges rakaruan.
Oke-oke, serius… Sepertinya kita harus petakan dulu.
Di mana sih letaknya motif?
Di insting, keputusan akal, atau dorongan perasaan?
Apakah binatang punya akal? Punya insting?
Pohon punya perasaan? Batu? Air? Angin? Udara? Hmmm… Coba kita lihat Qitab Suci:

“Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).’ …(dst.)” (QS 16: An-Nahl: 68-69). Makhluk-makhluk lain nampaknya bergerak berdasarkan wahyu / ilham secara langsung. Apakah kita sama seperti itu? Padahal kita lebih mulia di banding makhluk lainnya loh..!!!

Lha terus,,, untuk golongan batu, air, angin? “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa’. Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati’. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya….(dst.)”. (QS 41: Fushilat: 11-12) Apakah Kita sudah seperti Batu, air dan angin itu? Padahal kita lebih mulia di banding mahkluk lainnya lo..!!!

Lalu bagaimana dengan kita Manusia Hidup?
Yang di Firmankan Oleh Tuhan menjadi lebih mulia di banding makhkluk-makhkluk lainnya?
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS 91: Asy-Syams: 8-10).

Waow… kayaknya manusia memang kasus khusus. Manusia masih diberi kesempatan / pilihan untuk menyucikan atau mengotori jiwanya. Mungkin ini sisi “kekhalifahan” manusia, mandat, otonomi. Boleh memilih ilham-ilham mana yang perlu dibuang, atau akan disimpan jiwa untuk dimaterialisasikan, drealisasikan. Untuk itu diperlukan akal laku. Keputusan akal laku ini yang dipertanggungjawabkan. Anak-anak yang masih “kurang akal”, orang gila yang “hilang akal”, atau orang pikun yang “akalnya sudah lemah”, dapat discount khusus. Dis-count, tidak dihitung. (Dalam Laku Spiritual Pikiran Manusia Hidup)

Begitukah..?!
Secara gampangya begitu. Meskipun kalo dibahas lebih jauh nggak sesederhana itu.
Menurut Pertanyaan Besar. “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhmahfuz).” (QS 6: Al-An’aam: 59).

Tapi bottom line-nya sudah mulai kelihatan. Motif, niat, yang diilhamkan kepada jiwa harus dipilah-pilah. Karena yang kita materialisasikan, kita realisasikan, baik atau buruk akan berbalik sesuai niatnya. Meskipun realisasi / hasilnya mungkin beda, sejak masih baru niat, besitan pikiran, ide, whatever namanya, harus difilter yang sipz. Dengan begitu endless cycle yang terjadi dalam semua aktivitas manusia, sampai menjadi pola pikir, budaya, aturan, bisnis, hukum maupun politik bergerak membaik.

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'” (QS 20: Thaha: 114)
He he he . . . Edan Tenan…:-)

Spiritual WEB;
Mungkin bukan hal besar bagi kebanyakan orang. Apalagi bagi orang-orang yang tidak lagi mempermasalahkan surga dan neraka, mereka yang sudah cukup ikhlas untuk menerima akan ditempatkan di mana saja. Tapi hal ini sudah lamaaaa sekali mengganggu pikiran saya. Dan mungkin juga sebagian orang lain… Gimana sih hubungan antara Surga, Neraka dengan Amal, Takdir dan KeadilanNya? Kok rasa-rasanya ada pertentangan secara logika. Padahal pemahaman atau teori yang benar-benar benar, mestinya harus tetap benar untuk berbagai kondisi. Tanpa dualisme kontekstual sebagaimana teori fisika klasik dengan teori relativitas.

Makanya sampai sekarang banyak fisikawan yang mencoba menyusun teori dasar baru yang berlaku umum, istilah mereka unified field theory, atau theory of everything. Dan nampaknya, kalau terasa ada pertentangan dengan kitab suci, maka pemahaman kitalah yang belum pas. Masalahnya mbah termasuk yang tidak berkesampatan belajar kitab suci secara intensif. Yang sempat pun juga kadang-kadang ditanyai nggak memuaskan jawabannya, “pokoknya percaya aja!”. Kata pokoknya sangat susah diterima akal. Padahal kita memang dibekali akal. Selain itu kita juga sudah diperingati untuk mempergunakan akal dan tidak sekedar mengikuti nenek moyang bulat-bulat. Mungkin ini yang dibilang orang taklid buta. Sedangkan orang yang hilang akal, atau anak kecil yang dianggap belum mempunyai akal mencukupi, tidak dimintai pertanggungjawaban urusan dunianya. Berarti sebaliknya, yang akalnya ada harus mempertanggungjawabkan kesaksiannya. Iya tidak?

He he he . . . Edan Tenan… Sedulur… Mari kita coba kupas satu persatu… Mulai dari data-data yang ada. Dari yang mudah dulu…

Surga dan Neraka;

Apa sih surga dan neraka itu? Gitu aja ditanyain! …
Memang nggak ada yang aneh di sub judul ini, cuman biar nyambung saja alurnya. Bisa dilewati langsung ke sub judul di bawah.

Nobody knows exactly;
Dalam kitab suci hanya sedikit dijelaskan, mungkin karena termasuk hal ghaib bagi manusia. Dijelaskan dengan cara apapun, tidak akan terasa tepat. Sebagaimana menjelaskan warna kepada orang buta, atau nada kepada orang tuli. Tapi minimal memberikan sedikit gambaran daripada blank sama sekali, atau terpaksa percaya pada “pokoknya” atau “katanya nenek moyangku”. Dari sedikit informasi yang ada, bisa disimpulkan tentang surga dan neraka kurang lebih sebagai berikut:

Surga = kenikmatan luar biasa; Neraka = penderitaan luar biasa.
Keduanya bertingkat-tingkat kelasnya.
Kenikmatan di surga dan penderitaan di neraka hanya dijelaskan secara simbolik. Karena pada hakikatnya tidak dapat dibandingkan dengan yang ada di dunia, tidak terbesit oleh pikiran dan hati manusia (dalam wawasan manusia). Jadi untuk membayangkan realitanya saja tidaklah mungkin, namanya juga hal ghaib.

Surga diisi orang-orang “baik”, neraka diisi orang-orang “tidak baik”.
Karena nggak ada data lain, kita terima dulu ini sebagai raw data. Karena kita memang perlu menerima data yang ada sebelum ada data lain yang lebih valid, tanpa judging dulu. Percaya dengan data yang ada meskipun ghaib, lebih mending daripada menganggap suatu data bohong. Karena membuang data berarti menutup peluang, minimal mengurangi ketelitian riset. Dengan lebih banyak data, minimal secara statistik error analisisnya makin kecil. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa pikiran kita akan selalu penasaran membuat hipotesa-hipotesa sendiri.

Amal, Takdir dan Keadilan;
Sekarang tentang amal dan takdir. Di sini kebingungan dimulai karena takdir yang juga ghaib mulai bercampur dengan amal yang nyata. Bagi kebanyakan orang, amal yang dilakukannya adalah atas usahanya sendiri. Padahal, pada di tempat lain dikatakan bahwa pada hakikatnya tidak ada selembar daun pun jatuh kecuali atas izinNya. Apalagi amal yang begitu kompleks, dengan banyak metode ritual, dan banyak pihak yang terkait. Tentunya jauh dari sekedar usaha seseorang! Berarti seseorang beramal tentu karena izinNya, berdasarkan takdirnya yang sudah ditentukan.

Ada juga pernyataan bahwa doa dapat merubah takdir. Tapi bukankah seseorang akan berdoa atau tidak, baik untuk dirinya maumpun orang lain, juga termasuk takdir?!
Jadi, di mana otonomi manusia sebagai khalifah, kalau kejadiannya sudah ditentukan skenario besar yang disebut takdir?

Di mana poin seorang pelacur yang dikatakan Nabi akan masuk surga hanya gara-gara memberi minum anjing yang setengah mati kehausan?
Berarti sejak awal kita sudah ditentukan akan masuk surga atau neraka dong?!
Lalu di mana keadilan Tuhan?
Untuk apa kita ditempatkan di bumi?
Untuk diuji?
Apanya yang diuji kalau sudah ditentukan?
Bukankah ini sangat wajar kalau mengganggu pikiran?

Dari ngelmu gothak gathik gathuk lain (moga-moga saya masih diberi umur panjang untuk bisa menulisnya lagi nantinya), untuk sementara saya simpulkan bahwa yang jadi otonomi manusia adalah menggunakan akal untuk mengatur suasana hati. Istilah kerennya memperbaiki akhlak. Seperti tujuan utama diturunkannya agama, ‘dien’, petunjuk, juklak, metode, faham, falsafah. Atau terserah istilahnya asal nggak malah menimbulkan perpecahan, karena masing-masing membaggakan kelompoknya dan merendahkan yang lain. Pengesahan kesimpulan sementara ini juga ada pada sabda Nabi;

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada sepotong daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan bila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, sepotong daging itu ialah hati.” (HR. Bukhari – Muslim).

Sedangkan keadilanNya adalah justru dengan memberi pilihan dengan otonomi itu. Kalau ditentukan kan nggak fair. Coba kita bandingkan dengan permisalan seorang pegawai yang melakukan kesalahan fatal. Lebih fair dipecat tanpa pilihan, atau diberi pilihan: “pilih potong gaji untuk denda kesalahnnya, turun jabatan, atau cari pekerjaan lain dengan pesangon?”.

Pilihan mana yang lebih fair? Dengan asumsi bahwa otonomi kita hanya untuk mengatur suasana hati, maka itu berlaku sama untuk semua orang, dari jaman ke jaman. Entah kaya, miskin, jelek, cantik, sehat, atau cacat, selama bukan cacat mental. Ingat kan, yang tidak berakal bebas dari tanggung jawab. Meskipun kelihatannya masing-masing berbeda tantangan, tapi asumsi ini cukup masuk akal. Tingkat kesulitannya mungkin sama. Bagaimana yang diberi kelebihan harus bersyukur, dermawan, memerangi kesombongan, tetap ingat bahwa yang dimilikinya hanya titipan, dll.

Sedangkan yang diberi kekurangan harus bersabar menerima dan terus berusaha, tidak iri, memerangi godaan untuk mencuri, mencari pertolongan jin, dll. Di alam ini pun, orang sudah bisa merasakan siksaan perasaannya sendiri, jika salah pilih rasa-rasa jelek. Apalagi kalau sampai jadi perbuatan jelek dan dihukum.

Analogi Ayat-ayat di Alam;
Bagi kita-kita yang tidak mendapat kesempatan mempelajari ayat-ayat tersurat secara intesif, ternyata disediakan ayat-ayat tersirat di setiap sudut alam ini. Karena seluruh alam ini juga termasuk ayat-ayat yang tidak akan cukup dituliskan jika seluruh daun sebagai kertasnya, dan tintanya sebanyak air laut. Gimana mungkin cukup kalau setiap sel daun saja mengandung banyak ayat?!

Kejadian-kejadian alam mengikuti sunnahNya, ayat-ayatNya, tanpa otonomi memilih. Tersebar di mana-mana bagi semua yang mau membacanya. Dan banyak orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka telah berhasil menyampaikan ayat demi ayat dalam bentuk teori ilmiah. Orang-orang ini sering disebut sebagai ilmuwan. Banyak yang atheis. Tapi mereka bersungguh-sungguh mencari kebenaran dengan cara mereka. Dan mungkin memang untuk itulah mereka diciptakan. Hasilnya memang tidak sedahsyat ayat-ayat yang tersurat. Tapi untuk yang masih ecek-ecek eyes seperti WEB ini, nggak mudheng kalau langsung ke ayat-ayat tersurat yang dahsyat. Silau man! Yang gampang-gampang aja dulu. Yang tersurat saya tempatkan sebagai kunci jawaban. Jiplakan untuk mengcross-check bacaan yang tersirat, yang mungkin saja tercampur dengan kepentingan penyampainya atau mengandung error.

Untuk memahami keberadaan surga dan neraka, gejala-gejala alam terbaca yang mungkin bisa dijadikan analogi (qiyas) antara lain ini:

Resonansi;
Kecenderungan like atract like dan keseimbangan.
Materi adalah getaran energi, kumpulan standing wave.
Pembiasan cahaya pada prisma.
Resonansi hati

Suasana hati akan mempengaruhi jalan pikiran. Jenis objek pikiran menentukan apa yang diputuskan, dikatakan, atau dilakukan. Orang yang memelihara rasa benci misalnya, pikiranya nggak akan jauh-jauh dari urusan balas dendam. Dan yang dilakukan akan mempengaruhi benda di sekitarnya, masuk ke pikiran orang-orang lain di sekitarnya melalui indra mereka, sampai akhirnya ke hati. Sering kita lihat dalam satu kelompok orang, jika ada satu yang marah, maka biasanya akan saling marah satu sama lain. Begitu juga jika ada yang memulai ketawa atau termehek-mehek. Yang lain mengikuti seperti reaksi berantai. Tapi jika frekuensi dasarnya tidak sama, orang tidak akan mudah terpengaruh. Mirip dengan gejala resonansi dalam fisika. Setiap orang pada dasarnya selalu mendakwahkan suasana hatinya melalui resonansi tanpa disadari. Orang perlu membiasakan diri cukup lama agar frekuensi dasarnya bergeser.

Like atract like dan keseimbangan;
Misalnya dalam suatu pesta prasmanan terdapat banyak tipe orang yang saling tidak mengenal. Kemudian satu dua orang mulai ngobrol. Pindah orang, ngobrol lagi, dst. Jika waktunya cukup, maka lama-lama akan terbentuk dengan sendirinya kelompok-kelompok orang yang merasa saling cocok. Kecendrungan ini tidak hanya pada manusia, tapi banyak juga ditemui dalam berbagai gejala alam. Bagaimana menggumpalnya kabut membentuk planet-planet, terbentuknya ekosistem tumbuhan maupun hewan, berbagai reaksi kimia, dan lain-lain.

Tetapi jika suatu gumpalan kelompok menjadi terlalu besar, akan berlaku hukum kesimbangan. Berubah atau hancur. Hal ini nampaknya diperlukan untuk menjaga dinamika kejadian. Berlangsungnya proses penciptaan. Kelompok besar akan pecah, atau bergabung dengan yang lain melalui suatu reaksi tertentu. Orang mengalami kebosanan pada keramaian kelompoknya dan pindah kelompok lain, bintang-bintang meradiasikan materinya dalam bentuk radiasi dan foton ke planet yang lebih kecil, kelompok predator yang menghabiskan mangsa akan mati kelaparan, kalor berpindah dari benda panas ke benda dingin, dan lain-lain.

Semua adalah getaran;
Dari dua fenomena di atas saja sudah cukup meyakinkan bahwa pada dasarnya semua adalah getaran. Gerakan naik-turun, mengembang-mengempis, berputar CW-CCW, fluktuasi dalam berbagai frekuensi yang bercampur, namun harmonis. Ada nada bass yang periodenya sangat lama sampai-sampai gerakannya tidak disadari, mungkin hanya bergetar sekali tiap jutaan tahun. Atau nada treble yang sangat tinggi sehingga tidak terdeteksi alat apapun. Ada yang mendengung dan ada yang ritmis. Setiap frekuensi dalam range spektrum tertentu menimbulkan fenomena yang berbeda-beda. Satu contoh fakta yang cukup menarik, bahwa warna hijau ternyata adalah frekuensi nada C pada oktaf ke 32.

Nuansa yang terbentuk dalam persepsi terasa mirip. Bahkan bumi mempunyai nada dasar, schumann frequency. Frekuensi gelombang otak juga menunjukkan kondisi seseorang, apakah sedang santai, semangat, atau tidur. Percobaan menggetarkan non-newtonian fluid pada berbagai frekuensi juga menujukkan fenomena yang unik. Menggambarkan pembentukan berbagai jenis materi, mendekati pola-pola platonic solids. Intinya, makin banyak penelitian yang membuktikan bahwa semuanya adalah getaran. Termasuk quark, bentuk terkecil materi yang sudah terdeksi saat ini, dicurigai hanya pusaran gelombang elektomagnetik bergetar, relatif diam di tempat, standing wave istilahnya. Bergesernya getaran kumpulan quark tersebut yang mebuat seolah-olah elektron yang dibentuknya bergerak mengorbit proton dan neutron, yang notabene tersusun dari quark-quark juga. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Menjaga ayat-ayat untuk kita baca.

Sampai di sini kita perlu berhenti sejenak… Jadi, apa arti benda nyata?
Kenapa kita mesti terbius dengan perasaan memiliki atau kehilangan harta benda, yang ternyata hanya konser gelombang elektromagnetik?
Mana yang lebih nyata, materi atau persepsi kita?

Bagaimana kalau musiknya berubah, atau persepsi kita yang di-tuning ulang ke range frekuensi yang sebelumnya tidak terdeksi alat apapun? Tentunya semua yang ada seolah-olah akan lenyap, dan sesuatu yang tidak terbersit oleh pikiran dan hati manusia akan muncul!!!

Dalam film MATRIX, ada satu tokoh antagonis yang berkata “Ketidaktahuan (tertipu fenomena kenikmatan dalam dunia matrix) adalah suatu berkah”, sambil minum anggur. Dia justru menyesal mengetahui bahwa rasa anggur yang diminumnya ternyata hanyalah sinyal-sinyal yang diinjeksikan ke dalam otaknya. Begitukah pilihan kita?

Hipotesis surga dan neraka;
Kembali ke permasalahan awal. Gimana sih logisnya pemahaman tentang kaitan keadilanNya, ketetapanNya, dengan masalah amal, surga dan neraka?
Apakah ketetapannya akan berubah karena doa kita?

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS [30]Ar-Ruum : 30)

He he he . . . Edan Tenan… Who’s in charge?? You???
Pertanyaan BESAR bukan?
Ok deh,,, pertama kita harus mengakui bahwa kita not in charge, not even a thing! We are nothing!! Terus, ngapain coba?

Hehe.:-) … Terus terang kita memang akhirnya harus pasrah dan ikhlas mau diapain aja. Tapi coba kita lihat the bright side, bahwa sebagian ketetapanNya yang pasti, sudah dibocorkan lewat ayat-ayatNya dalam berbagai simbol kejadian alam, dan kita dibekali juga kunci jawaban berupa ayat-ayat yang tersurat. Kunci ini yang akan mengiyakan atau menidakkan bacaan kita atas fenomena alam. Antara lain dikatakan bahwa manusia yang baik dan jahat akan dipisahkan nantinya. Tahap dahsyat ini yang disebut kiamat besar. Dan tahapannya juga tidak sekali jadi.

Ada berbagai tahap yang disimbolkan dengan padang ma’syar, shirotul mustaqim, pengadilan akbar, pelunasan dosa di neraka, dan mungkin ada banyak lagi informasi yang belum dibocorkan. Yang baik dikumpulkan dengan yang baik, dan sebaliknya. Ini masih matching dengan hukum like atract like. Pemisahan ini mungkin juga bisa dianalogikan dengan fenomena pembiasan cahaya yang melewati prisma. Suatu separator frekuensi yang akan mengelompokkan seluruh frekuensi-frekuensi di jagat ini. Termasuk berbagai frekuensi kebaikan dan kejahatan. Tahapanya juga sangat mungkin berulang-ulang, sejumlah macam alam nanti.

Sampai pada akhirnya, setiap kecenderungan jiwa menjadi terpisah dalam beberapa kumpulan yan masing-masing yang mendekati homogen. Seperti terpisahnya warna putih menjadi me-ji-ku-hi-bi-ni-u pelangi oleh prisma kiamat. Ke dalam situasi yang disebut sebagai tingkat-tingkatan surga dan neraka. Manusia juga dilipatgandakan seluruh aspek kehidupannya. Umurnya, persepsinya terhadap kenikmatan, kekuatan dan daya tahannya. Sampai bisa survive dan recover meskipun dibakar atau dipotong-potong. Kenikmatan dan kesakitan yang dirasakan juga berlipat ganda. Seandainya dalam kondisi seperti ini, dan dengan keadilanNya semua kelompok diberi modal yang sama, katakanlah mirip dengan dunia ini, agar mudah dibayangan… Apa yang kira-kira akan terjadi? Hayo….

Jika keadaannya seperti ini, tentunya kumpulan jiwa-jiwa baik akan saling mengasihi dan bahu-membahu membangun surga mereka. Sedangkan kumpulan jiwa-jiwa jahat akan saling marah, benci, perang, dan menyiksa satu sama lain. Mereka akan membuat neraka mereka sendiri. “Itulah ayat-ayat Allah,

“Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hambaNya.” (QS [3]Al-Imron : 107). “Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS [43]Az-zukhruf : 76).

Cukup ya?
Rasanya hipotesis ini sementara cukup memuaskan kebingungan saya selama ini. Nggak tahu dengan sampeyan-sampeyan. Kalo ini dianggap mengada-ada ya monggo. Tapi maksud saya hanya sekedar mengurangi keraguan karena serangan kebodohan pikiran sendiri. Dengan menulisnya semoga bisa bermanfaat bagi yang punya keraguan yang sama. Yang perlu kita ingat lagi adalah: We are nothing!! Karena itu juga kita hanya bisa meraba-raba. Tidak ada seorang pun yang tahu yang sesungguhnya, kecuali dikehendaki. Itu pun kayaknya peluangnya tipis.

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS [31]Luqman : 34).

Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com
Brebes Rabu tgl 24 Des 2014

Enam Pokok Kekuatan Manusia Hidup:


Enam Pokok Kekuatan Manusia Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

1 Kekuatan Impian.
(The Power of Dreams)
Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

2. Kekuatan dari Fokus.
(The Power of Focus)
Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu (termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti: kekuatan/strengths dan kelemahan/weakness dalam diri, peluang di sekitar kita, dan sebagainya) dengan lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.

3. Kekuatan Disiplin Diri.
(The Power of Self Discipline)
Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

4. Kekuatan Perjuangan.
(The Power of Survival)
Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan (ingredient) yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

5. Kekuatan Pembelajaran.
(The Power of Learning)
Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.

6. Kekuatan Pikiran.
(The Power of Mind)
Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi.

Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita Dengan KUNCI. Semoga; Artikel tentang Enam Pokok Kekuatan Manusia Hidup ini… Dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Sebagai wawasan dan tambahan pengalaman. Salam kasih damai nan bahagia selalu kanti Teguh Rahayu Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian yang terberkahi Allah Ta’ala. Amiin dan Terima kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tubuh Manusia Dapat BERCAHAYA:


Tubuh Manusia Dapat BERCAHAYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Tahukah Anda bahwa sebenarnya tubuh manusia dapat mengeluarkan cahaya?.
Para ilmuwan di Jepang telah mengadakan riset bahwa manusia menampilkan cahaya dalam kuantitas kecil pada tingkatan yang bisa naik dan turun per harinya.

Sebelumnya, sudah pernah ada penelitian yang menyimpulkan bahwa tubuh manusia memancarkan cahaya yang terlihat 1.000 kali lebih redup dari tingkatan yang bisa terlihat oleh mata telanjang yang sangat sensitif. Faktanya, secara virtual, seluruh makhluk hidup bisa memancarkan cahaya yang sangat lemah yang diduga dihasilkan oleh reaksi bioproduk dari biokimia yang menyertakan radikal bebas di dalamnya.

Untuk menganalisa lebih jauh mengenai hal ini, Masaki Kobayashi dan timnya yang berasal dari Tohoku Institute of Technology di Sendai, Jepang, mengadakan penelitian lanjutan.

Dalam penelitian ini, mereka memanfaatkan kamera sensitif yang mampu mendeteksi setiap satuan energi cahaya. Sebanyak lima orang pria sehat berusia 20 tahun yang bertelanjang dada, ditempatkan di depan kamera dalam sebuah ruangan yang sangat gelap.

“Mereka ditempatkan dalam ruangan gelap gulita dan menghadap kamera selama 20 menit, setiap tiga jam sekali. Uji coba ini diterapkan selama tiga hari dari pukul 10 pagi hingga 10 malam,” kata Kobayashi.

Hasil uji coba menunjukkan, tubuh kelima pria tersebut nampak bersinar dan meredup secara bergantian sepanjang hari. Titik minimum cahaya terjadi pada pukul 10 pagi sementara titik maksimum pancaran cahaya terjadi pukul 4 sore hari. Artinya, pukul 10 pagi merupakan titik redup paling rendah yang dipancarkan tubuh. Sebaliknya, sinar paling benderang yang dihasilkan tubuh terjadi pada pada pukul 4 sore hari. Cahaya ini kemudian secara bertahap akan meredup perlahan.

Para ilmuwan memperkirakan, hal ini disebabkan oleh emisi cahaya yang berhubungan dengan jam tubuh kita, yang kemungkinan besar terkait dengan bagaimana fluktuasi irama metabolisme yang ditampilkan tubuh sepanjang hari. Semoga; Artikel tentang Tubuh Manusia Dapat BERCAHAYA ini… Dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Sebagai wawasan dan tambahan pengalaman. Salam kasih damai nan bahagia selalu kanti Teguh Rahayu Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian yang terberkahi Allah Ta’ala. Amiin dan Terima kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

Asal muasal Kekuatan Manusia:


Asal muasal Kekuatan Manusia:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

Mengupas : ASAL-USUL KEKUATAN YANG TERDAPAT DALAM TUBUH MANUSIA;
Kitab Mizanul Qubro secara luas menerangkan, bahwa dalam kesempurnaan yang terdapat dalam tubuh manusia. Allah SWT memberikan kapasitas lebih.
Seperti apakah kajiannya…?

Lewat pemaparan yang saya ambil dari kandungan Syahadat Majmal ini, dan dengan pendalaman arti yang terkandung di dalamnya, sesungguhnya asal usul manusia diciptakan dari sifat tanah yang dibentuk sangat sempurna oleh keagungan sifat AF’ALULLOH. Dari kesempurnaan inilah manusia juga diberi kelebihan berbagai macam pengetahuan dan ilmu yang sangat luas. Hal ini terjadi jauh sebelum Allah SWT menciptakan wujud bumi dan jagat raya umumnya, yang diciptakan lewat Nur Muhammad SAW. Jauh sebelumnya, Nur Muhammad SAW sudah diciptakan terlebih dahulu di Alamul Jannah Majazi atau Surga Majazi.Dengan ke-Esaan dan keagungan-Nya, Allah SWT menciptakan manusia dengan segudang kelebihan dan kesempurnaan bentuk yang memadai. Bahkan, jutaan tahun sebelum perintah sholat diwajibkan untuk seluruh umat di dunia, lewat wasilah yang disampaikan oleh utusan terakhir Muhammad SAW, Allah SWT sudah menerapkan arti sholat tersebut ke tubuh manusia di saat bentuk manusia baru diciptakan. Seperti saat menciptakan bentuk daging, Allah SWT menciptakannya dengan “asma takbiratul ikrom” yaitu Allohu Akbar.

Demikian juga tatkala membuat bentuk napas Allah SWT menciptakannya dengan “asma ruku” yaitu Subhanarobbiyal ‘Adzimi Wabihamdih. Lalu di saat menciptakan bentuk tulang belulang Allah SWT, juga menciptakannya dengan “asma sujud” yaitu Subhanna robbiyal a’laa wabihamdih. Dan di saat menciptakan bentuk kulit Allah SWT menciptakannya dengan “asma lungguh” yakni Robbigfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa ‘afini wa’fu ani.

Lewat sebuah kesempurnaan yang dimiliki oleh tubuh manusia, akhirnya Allah SWT memberikan tugas mulia kepada mahluk ciptaan-Nya ini yaitu dengan bersaksi mengucapkan dua kalimah syahadat, berpedoman pada kewajiban sholat, mengikhlaskan harta bendanya untuk tujuan mulia, mengisi badan lewat jalan berpuasa, dan mensucikan diri lewat kebersihan haji.

Dari struktur yang dapat diserap oleh tubuh manusia, Allah SWT juga menciptakan bentuk kekuatan yang menjadi prioritas sifat manusia itu sendiri, yaitu dengan berbagai macam bentuk ilmu.
Nah, dalam bentuk ilmu ini Allah SWT memberikannya suatu sifat Cahaya dan Api, yang ada dalam setiap tubuh manusia. Seperti halnya sifat Cahaya Allah SWT menempatkannya dalam bentuk keyakinan, kekuatan bathin, penghayatan ilmu bersifat Robbani dan Derajat menuju khusnul khotimah.

Sedangkan sifat Api sendiri ditempatkan dalam sifat manusia sebagai semangat hidup yang bermanfaat. Seperti semangat dalam mencari duniawiyah, ilmu yang menjadi landasan hidup, keras dalam disiplin, tegas dalam menegakkan prinsip, luwes dalam menata ilmu dan segala hal bersifat supranatural dan lain sebagainya.

Dalam pengasahan sifat Cahaya dan Api ini manusia pada akhirnya akan bisa membentuk wujud ilmu yang nyata, seperti: ilmu supranatural dan dhaukiyatul ma’arif. Tentunya dengan dibantu semangat yang tinggi, tekad membaja, keyakinan yang memadai dan menjauhkan dari kemalasan.

Kitab Mizanul Qubro secara luas menerangkan, bahwa dalam kesempurnaan yang terdapat dalam tubuh manusia Allah SWT memberikan kapasitas lebih, yaitu, dengan memberikan keluasan ilmu pada 6 tingkat yang diambil dari sifat alam, yakni: Gunung, Besi, Api, Air, Angin dan Hawa.

1. Gunung;
Mencerminkan bentuk yang kokoh dari tubuh manusia yang sangat kuat. Dari sifat gunung ini pula manusia dapat menampung segala ilmu dan bisa menahan segala badai, mara bahaya dan azab-azab kecil dari peringatan Allah SWT, serta bisa menjauhkan dari berbagai hal yang tidak diinginkan lewat doa-doa tulus dari hati yang selalu dibawanya sejak lahir hingga tutup usia.

Dari sifat ini juga manusia mulai ditugaskan oleh Allah SWT, untuk mengenal arti ilmu yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Terutama dalam keluasan akal dan penghayatan bathin menuju tahkikul ilmi atau wujud dari semua bentuk ilmu, sehingga dengan adanya bentuk tubuh ini apapun bisa diraihnya sebagai suatu keberhasilan hidup yang diinginkan.

Namun dalam kenyataannya, sifat Gunung yang terdapat dalam diri manusia ini belumlah sempurna, sebab sifat gunung sendiri kalah dengan sifat “Besi”.

2. Besi;
Mencerminkan bentuk yang keras dari sifat manusia di dalam segala hal, sebab dalam hal pemaparan ilmu pengetahuan alam sendiri jelas ditegaskan, bahwa sifat Besi lebih keras dari sifat yang terdapat dari wujud perbatuan.

Lewat sifat Besi ini, manusia mulai dituntut untuk memegang peranan dalam kedisiplinan dan penataan hidup secara akurat, baik dalam memulai suatu karir atau pembelajaran masalah keilmuan.

Namun dalam pandangan ahli sufi, sifat Besi ini yang terdapat dalam diri manusia adalah perjalanan awal menuju apapun keinginan yang dimaksud untuk bisa tercapai, hanya saja dalam menginginkan sesuatu yang lebih, manusia tidak boleh berhenti hanya di sifat ini, melainkan harus terus menapaki ilmu yang lebih tinggi. Sebab sifat Besi masih kalah dengan sifat Api.

3. Api;
Mencerminkan sifat berani yang terdapat dalam diri manusia. Maksud dari sifat Api di sini, adalah pembentukan dari 4 sifat asal yang terdapat dalam struktur watak manusia (nafsu hak, nafsu hayawaniyah, nafsu syaithoniyah, dan nafsu muthmainnah).
Dari keempat nafsu ini manusia dituntut untuk mengendalikan nafsu-nafsu tersebut menuju sifat yang positif. Seperti, membangun badan kita lewat semangat berdzikir, semangat dalam mencari ilmu, semangat dalam memohon dan semangat dalam menorehkan segala bidang, baik yang bersifat riil maupun bersifat bathiniyah.

Sebab asal usul sifat api yang diciptakan oleh, Allah SWT, sebagian besar diarahkan ke sifat semangat sebagai pembakaran diri menuju bentuk kesuksesan di kemudian hari.

Hanya saja dalam merilis kehidupan yang lebih mapan, setiap manusia dituntut untuk terus mencari apa yang menjadi keinginan selanjutnya yang lebih tinggi. Sebab dalam pandangan ahli sufi sendiri menilai sifat ini sebagai tingkat pemula dalam pengenalan ilmu Allah.SWT, menuju derajat yang lebih mulia. Sebab sifat Api masih bisa dikalahkan dengan sifat Air.

4. Air;
Mencerminkan sifat kelembutan yang terdapat dalam diri manusia. Sifat ini menurut ahli sufi disebut dengan istilah Thoriqul Qolbi yang berarti “penataan hati”.

Bila seseorang telah mencapai sifat ini, niscaya apapun bentuk ilmu akan bisa diwujudkan secara nyata. Karena sifat Air bisa menyatu di manapun dia ditempatkan, baik di tanah, bebatuan, pohon, langit, dan lain-lainnya. Seperti halnya sifat ilmu yang terserap di tubuh manusia karena keluasan akal dan penghayatan bathin yang tinggi. Sifat Air ini akan mudah menyerap di berbagai bentuk ilmu yang diinginkan, sehingga tanpa sadar, lambat laun diri kita akan menjadi hamba Allah SWT, yang mempunyai banyak kelebihan, terutama dalam hal ilmu bathiniyah. Hanya saja sifat Air ini harus terus diasah hingga sampai menuju sifat ilmu yang lebih tinggi. Karena sifat Air di sini masih kalah dengan sifat yang terdapat dari wujud Angin.

5. Angin;
Mencerminkan keluasan ilmu dalam diri manusia secara menyeluruh. Sebab Angin di sini disebut sebagai sifat raja dari semua sifat alam. Seperti halnya kekuasaan seorang raja diraja, sifat Angin ini bisa mengontrol dan mengatur segala sifat alam. Seperti, mampu merobohkan kekuatan gunung, menerbangkan sifat Bumi, membesarkan sifat Api dan menarik sifat Air yang menjadikannya lautan air bah.

Dalam hal sifat ilmu, Angin ini disebut juga dengan sifat ma’rifatillah, dimana sifat ma’rifatillah ini adalah wujud kesempurnaan dari bentuk pemahaman manusia dalam mengolah segala hal bidang ilmu bersifat Robbani yaitu, lewat sebuah pemahaman, kesolehan, kezuhudan, menjauhkan sifat duniawiyah dan hanya difokuskan dalam satu tujuan, yaitu, hanya mengenal kebesaran Allah SWT.
Namun dalam keluasan secara hakiki, sifat seperti ini belum dikatakan sempurna sekali sebab masih ada yang mengalahkannya, yaitu, sifat Hawa.

6. Hawa;
Mencerminkan kebersihan hati yang terdapat dalam diri manusia, sifat ikhlas sendiri menurut para sufi disebut sebagai Kamil Baenassama Wal Ardh (kesempurnaan ilmu yang mampu menguasai antara langit dan bumi).

Dalam hal kesempuranan sifat ilmu, sifat Hawa di sini adalah penggabungan seluruh sifat alam yang sudah dikuasai secara lahir dan bathin, sehingga baik dari ucapan, tingkah laku maupun keinginan kita akan terkabul dengan sendirinya seiring kedekatan hati dengan sifatulloh, afalulloh, dzatulloh kian menyatu.

Dengan segala pembedaran sifat alam tadi, pada intinya adalah untuk mengajak manusia hidup, bahwasanya semua ini bisa tercapai, apabila manusia itu sendiri mau berkorban untuk semangat dalam menjalani hidup yang penuh dengan tingkatan demi tingkatan yang harus dilaluinya.
Nah, semoga dengan pemaparan yang Penulis berikan, kita semua menjadi paham dan mau menjalankan apa yang menjadi tuntutan hidup kita sendiri. Semoga; Artikel tentang Asal muasal Kekuatan Manusia ini… Dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Sebagai wawasan dan tambahan pengalaman. Salam kasih damai nan bahagia selalu kanti Teguh Rahayu Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian yang terberkahi Allah Ta’ala. Amiin dan Terima kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com

MEMELUK DIRI SENDIRI:


MEMELUK DIRI SENDIRI:
Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Rabu tgl 03 Sept 2014

Setiap saat perhatian kita tersita oleh urusan-urusan di luar diri sendiri. Terkait dengan target yang harus dicapai. Menjajahi beragam hiburan untuk menyegarkan otak. Atau tersita oleh permainan yang berguna sebatas untuk melepaskan keletihan otak yang hampir hank karena kepenuhan data. Setiap hari manusia terus dipacu aneka rencana yang menggelorakan semangatnya untuk bekerja keras, sehingga tak ada kesempatan berhenti sejenak pun untuk mengistirahatkan pikiran dan menjernihkan hati. Siang hari dihabiskan seluruhnya untuk menuntaskan seabrek tugas yang harus diselesaikan, dan malam hari dihamburkan untuk menonton televisi, sekadar untuk menyegarkan pikiran. Kelihatannya seluruh kegiatan itu untuk memenuhi diri sendiri, akan tetapi, nyatanya, menghempaskan atau menggerus kesegaran diri sejati. Bukankah semua kecenderungan itu hanya untuk pemenuhan hawa nafsu, dimana manusia bisa mengasuh kesegaran bagi jiwanya?

Saban hari manusia didera oleh sasaran dan rencana kerja yang terinspirasi oleh impian yang melambung tinggi. Ia terikat dengan masa depan. Dia pun tidak bisa menghayati dan merasakan keindahan yang terhidang hari ini lantaran perhatiannya hanya tertuju pada masa depan berikut ilusi yang menyelubungi pikirannya. Bagaikan orang yang telah memesan menu yang paling lezat di sebuah restoran, setelah menu itu berada di depan meja, dan siap disantap, tiba-tiba pikiran terbajak oleh rencana yang harus dijalankan beberapa saat kemudian. Karena pikirannya terjerat oleh urusan berikutnya, maka saat itu dia tidak bisa menikmati kelezatan makanan yang terhidang di depannya. Begitulah, makanan yang mahal dan amat lezat, lantaran tidak diikuti oleh perasaan mahal dan lezat, dia pun gagal untuk mencerap kelezatan makanan tersebut. .. He he he . . . Edan Tenan.

Saat ini kita berada dalam sebuah ruang publik yang amat kecil (mini-sphere), seolah-olah ruang aktivitas manusia makin meluas, hanya saja sering menyempitkan ruang hati. Jaringan manusia makin meningkat, meluas, akan tetapi esensinya terasa rapuh, garing, dan tak berasa. Saat teknologi mempermudah manusia untuk menjalin relasi, maka manusia terus disibukkan oleh komunikasi lewat beragam karakter manusia Seakan dunia tidak pernah berada dalam kesepian, kesunyian, atau kesenyapan, akan tetapi selalu dipenuhi dengan suasana riuh rendah dan ramainya komunikasi yang hampir tanpa jeda. Adanya ponsel telah menggerus perhatian manusia terhadap dirinya sendiri, karena akan terus ada proses komunikasi yang tak pernah berhenti, kecuali bagi orang yang disiplin mengelola komunikasi. Tambah lagi, dunia maya pun tak ketinggalan menawarkan berbagai teknologi yang memudahkan kita berbagi perasaan, berbagi foto, hingga berbagi selera lewat e-mail, facebook, blog yang membuat manusia haus untuk makin memperluas jaringan. Sebuah jaringan yang kiranya bisa menyuguhkan kesenangan dan menyapu rasa kesepian.

Pabila manusia telah berada di pusaran keramaian yang tak berkesudahan, dampaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk menyapa, mencium, dan memeluk diri sendiri. Ketika kita menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang lain, niscaya kita tidak memiliki waktu untuk bisa berbicara atau berdialog dengan diri yang terdalam (silolukai). Padahal, bila semangat dialog dengan suara terdalam telah terhambat, kekeriangan batin terasa meruap, dan goncangan pun tak henti-hentinya mendera perasaan jiwa kita. Ada kehampaan yang menyebar begitu saja ke dalam hati. Karena itu, jarak manusia dengan dirinya sendiri makin menganga. Kadang ia lebih mengenal orang lain ketimbang dirinya sendiri. Mengapa begitu? Karena sudut pandangnya hanya dipergunakan untuk meneropong keadaan di luar dirinya, dan dia tidak bisa meresapi setiap keadaan yang mewarnai perjalanan hidupnya. Makin hari hatinya makin mengalami kehampaan dan kekeringan lantaran tidak pernah bisa berdialog dengan kejernihan yang bermukim dalam hatinya.

Bagaimana agar kita bisa berdialog bahkan bisa memeluk diri sendiri? Diri kita adalah aset utama yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Andaikan kita tidak bisa menghargai aset paling agung ini, niscaya kita bakal tergerak untuk mengagungkan aset selain diri sejati. Andaikan kita menyadari diri kita sebagai aset yang paling berharga, maka kita harus memiliki waktu istimewa untuk bisa menyapa diri kita lebih dekat . Lepaskanlah sekat-sekat yang membuat kita sering berjarak dengan diri sendiri. Rasakan setiap kenikmatan yang dianugerahkan pada kita, bahkan kita terus menghayati dari aras jasmani hingga aras batin. Saat kita bisa menghayati dan menikmati proses penjelajahan dari luar ke dalam itu, niscaya kita bakal merasakan suatu hal yang agung, dimana didalamnya bermukim seluruh harapan inti yang didamba oleh manusia, berupa kebahagiaan.

Ada saat prima kita bisa menyapa diri sendiri, misalnya selepas shalat, kita meluangkan waktu menyelami keadaan diri, menyapa kesegaran batin lewat upaya tafakkur yang mendalam. Mungkinkah dari setiap lintasan aktivitas yang dijalani selama ini, ada suatu yang menorehkan luka di hati orang lain, atau membekaskan rasa gelisah di dalam hati kita sendiri? Sembari menggemakan zikir, kita terus merasakan kedamaian yang meruap dari kedalaman hati. Bangunlah rasa hormat pada diri sendiri, perlahan-lahan suara keagungan pun berdentang dari diri kita. Suara keagungan itu mengekspresikan suara kebijaksanaan yang ditunggu untuk menenangkan jiwa. Terpenting setiap hari kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, entah di pagi hari, di siang hari, terutama di malam hari untuk bisa mengevaluasi diri secara ketat, agar kita bisa menemukan kelembutan yang bermukim di hati kita. Saat sepertiga malam yang penun berkah, kita berusaha menyusup ke dalam diri sendiri, mengorek segala sesuatu yang perlu diperbaiki, hingga di siang hari ada kecerahan yang terpancar dari wajah kita. Manakala kita bisa mengevaluasi diri sendiri disertai ketulusan untuk mengenal kedalaman diri sendiri, maka kebahagiaan hidup perlahan-lahan bakal menghiasi Rasa dan perasaan batin kita… He he he . . . Edan Tenan
Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MATILAH AKU KECIL MENUJU AKU BESAR:


MATILAH AKU KECIL MENUJU AKU BESAR:
Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Jakarta Rabu tgl 03 Sept 2014

Sekian hari saya terusik oleh term aku. Saya melirik kata aku tertancap indah di poster disertai foto superkeren, membaca kata aku yang menghiasi media cetak. Melihat aku yang begitu narsis ditempelkan di facebook. Menatap aku bertengger di berbagai blog. Saking banyaknya kata aku, saya tidak bisa menghitungnya berapa kata aku yang saya rekam. Bahkan saya sendiri sering berucap aku. Betapa sering menyeruak pertanyaan tak sengaja, apa sih cita-citaku? Mau kemana aku melangkah? Kemana kompas kehidupan sang aku ini? Berjubel pertanyaan dan pernyataan sebagai bentuk ekspresi aku.

Di tengah berjubelnya kata-kata aku ini, menyeruak pertanyaan siapa aku sejati? Apa aku yang acapkali kita sebut-sebut sebagai aku yang didambakan? Dalam renungan sederhana, muncul kata menggelitik, bahwa aku yang acapkali terucap dalam bentuk kata-kata bukanlah aku sejati. Tetapi aku sejati tersimpan dalam hati nurani. Ya di medan hati bertapa aku yang sejati. Dialah aku yang tidak terkatakan, tak bisa digambarkan dalam tataran verbal. Pikiran pun tak bisa menggapainya. Disanalah kesenyapan dan keheningan yang melampaui pikiran dualitas bermukim. Disana taman surgawi terangkai begitu indah. Pabila kita berkunjung ke taman itu, maka kita bakal memetik bunga kebahagiaan yang keharumannya membekas dan abadi.

Bagaimana kita bisa menemukan aku sejati yang bisa melahirkan ketenangan dan kedamaian ke dalam jiwa? kita bakal merasakan ketenangan dan kedamaian jika kita berhasil menggerus aku kecil yang kerapkali menghambat kita untuk bisa kontak pada aku yang besar. Dalam kotak aku kecil meranggas sikap keakuan dan egoisme, dan memiliki kecenderungan untuk memenuhi diri sendiri semata. Tak ayal, kita terkurung oleh sikap negatif yang bakal menyingkirkannya dari medan ketenangan yang sesungguhnya.

Dalam aku kecil tersimpan rasa marah, iri, dengki, semangat popular, riya’, serakah, merasa bisa, dan sebangsanya. Katanya kepuasan aku kecil akan diperoleh jika bisa menyalurkan seluruh kecenderungan negatif tersebut. Banyak orang menyangka bahwa dengan pencapaian aku kecil orang bakal merengkuh kebahagiaan? Dia berkeyakinan bahwa dia merasakan kebahagiaan ketika bisa mewujudkan harapan. Atau secara tiba-tiba mendapatkan kekayaan yang melimpah. Memiliki rumah mewah. Aku kecil selalu membangun kontak dengan pengaruh terluar. Padahal apapun yang terluar tidak bisa menghias hati menjadi tenang dan damai. Karena damai itu telah bermukim dalam diri sendiri, bermuara dan menyatu ke dalam diri kita yang sejati. Meminjam argumen salah seorang seniman besar India yang bernama Kabir, ‘Janganlah datang ke taman, dalam tubuh kita sudah ada taman. Duduklah di atas pohon lotus, dan temukan suka cita di sana’.

Meski diberi penyadaran seperti apapun, aku kecil tidak pernah bisa memahami bahwa kebahagiaan dan ketenangan hidup itu terletak di dalam diri, terbukti aku kecil selalu menjelajahi dan merambahi kebahagiaan di luar dirinya. Ia berwisata untuk bisa menikmati pemandangan yang anggun nan eksotis. Ia berusaha bekerja keras hanya untuk berjuang memperbesar rumah, bisa membeli mobil terbaru, atau mengangkat prestise dengan membeli benda-benda trendy. Padahal segala aksesori yang tergelar di luar bakal terus berubah, sehingga peta hasrat manusia juga terus berubah seirama dengan perubahan yang tergelar di luar.

Aku kecil adalah eksistensi diri kita yang palsu. Karena itu aku kecil selalu menumbuhkan aneka hasrat yang palsu pula, dalam bentuk dorongan hawa nafsu. Kalau manusia masih terjangkit dan terperangkap dengan hawa nafsu sebagai ikutan dari aku kecil, maka manusia tidak bakal bisa terbang untuk mencapai superego (Aku yang besar). Bagaimana agar orang bisa mencapai aku yang besar? Seperti pesawat ulang-alik yang hendak terbang, maka perlu melepaskan beban yang menghambatnya bisa terbang. Andaikan beban itu masih melekat pada pesawat, niscaya pesawat itu tidak bakal tinggal landas, akan tetapi tetap berada di landasan. Agar aku besar bisa terbang, maka kita dengan rela melepaskan aku kecil. Bagaimana melepaskan aku kecil untuk menggapai aku besar?

Cara melepaskan aku kecil adalah dengan meniadakan diri. Ketika manusia telah merasa kosong, pertanda aku besar bakal terbang. Dia telah berhasil melepaskan seluruh keangkuhan pikiran dan hawa nafsu yang kerap menjadi rujukan dalam membuat keputusan apapun. Manifestasi dari pengosongan diri adalah penyerahan diri yang total pada Allah SWT. Penyerahan diri membuat manusia mencapai pembebasan yang sebenarnya. Bukankah kebebasan merupakan dambaan setiap orang? Bahkan sejatinya dambaan kebebasan itu sebuah ekspresi dari aku besar. Ketika orang telah berhasil meniadakan diri, maka dia bakal menyatu dengan ketunggalan yang membawanya terbang ke langit-langit cinta yang tak pernah membosankan. Seluruh aktivitas melahirkan hikmah agung dan menginspirasi pelajaran agung pula bagi orang lain lantaran kehidupan telah dipimpin oleh aku yang besar. Muga Bermanfa’at.
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com