SEMAKIN PINTAR – SEMAKIN CERDAS. SEMAKIN PANAS:

Profil Macan.0
SETELAH SAYA RENUNGKAN… Ternyata.
SEMAKIN PINTAR – SEMAKIN CERDAS. SEMAKIN PANAS:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Kamis tgl 25 Des 2014

“Kalau Einstein lagi berpikir keras
maka ia pun terserang demam…….!”

Itulah sipat dan sikap manusia biasa, karenanya, jangan menjadi manusia biasa, jadilah manusia luar biasa. Sebab Tuhan menciptakan kita bukan sebagai manusia biasa, melainkan luar biasa. Bahan yang di jadikan untuk pencipta’an kita saja, tidak ada satupun yang sepele, semuanya pilihan dan luar biasa. Jadi,,, tidaklah pantas jika kita merasa atau beranggap sebagai manusia biasa.

Sensasi ini selalu ditiup- kobarkan oleh beberapa berita surat kabar, tatkala ahli bahasa, fikir, Fisika, Matematika ini mulai ramai diperbincangkan banyak orang. Namun bagi para Para laku spiritual fisiolog dan psikolog, hal itu tidak begitu mengejutkan.
Banyak para pemikir yang tekun, cepat menjadi panas dalam pekerjaannya. Siswa-siswa yang cerdaspun, badannya lekas panas, ketika perhatian telah tertumpu sepenuhnya pada suatu persoalan baru yang menarik hatinya. Makin pintar, makin panas. Makin Bodoh, makin dingin………!
Itulah pengalaman yang saya dapatkan akhir-akhir ini.

Timbul pertanyaan, apa yang akan kita lakukan seandainya ternyata badan tak mau panas dengan sendirinya, sewaktu menghadapi suatu pekerjaan/persoalan?
Perlukah digosok-gosok terlebih dahulu seluruh permukaan badan supaya panas ?
Ataukah pasrah begitu saja menerima kenyataan pahit bahwa memang kita ini bodoh seumur hidup dan dingin?

Berbagai jawaban dilontarkan Para guru pembimbing. Tapi jawaban-jawaban tersebut sarat dengan berbagai kekecualian. Ada memang orang yang idiot, otaknya beku dan dingin. Tapi, disamping itu juga banyak orang yang hanya “merasa” lalu percaya saja bahwa mereka tidak akan bisa lagi panas, padahal belum pernah mencobanya, apa lagi melakukannya.

Wong Edan Bagu. Optimis dalam bukunya yang berjudul “ KUNCI THE POWER ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER” (Bagaimana melipatgandakan kesanggupan anda) menawarkan satu alternatif, yaitu “Warming Up”. Tujuan utama pemanasan ini ialah menajamkan perhatian (RASA). Ini berarti, membuang segala Karma dan Pikiran yang dapat mengganggu, yang mungkin timbul dari aktivitas sebelumnya. Saat itu terjadilah “penyetelan” Rasa dan Perasa’an. Pikiran diarahkan lebih tajam dan perhatian lebih terpusat. Mata mulai diarahkan, letak sipat dan sikap kaki, lengan, tangan dan jari-jaripun diatur. Pikiran tertuju dan menuju pada laku/pekerjaan yang baru. Segala “ide mendadak” ditunda terlebih dahulu, karena itu akan membuyarkan konsentrasi. Tahan diri untuk tidak melakukan “hal-hal kecil”, seperti mencari-cari buku referensi, penggaris, dan sebagainya. Kan bisa disiapkan sebelumnya? Pendek kata, bersikaplah bagai prajurit yang tengah bertarung di medan pertempuran. Tiada alasan untuk permisi sebentar menjemput bedil yang tertinggal dimarkas, sementara bayonet telah mengancam didepan hidung.

Persoalan yang tampaknya sederhana ini ternyata juga menarik perhatian pribadi saya, sebagai Pelaku Spiritual yang sedang membimbing tidak sedikit anak didik… Bukan luar biasa bila kemudian saya mencurahkan segala perhatian saya terhadap persoalan ini selama tiga tahun sebelumnya.

Dan,,, sebagai hasilnya, inilah saran saya: Bila anda pada dasarnya sukar dan lambat menyesuaikan diri (kurang adaptif) dengan suatu tugas tertentu, maka usahakan mengasyiki pekerjaan tersebut agar anda cepat menjadi panas. Begitu pula, sebelum anda memulai pekerjaan, sebaiknya istirahatkan dulu otak barang sebentar, daripada nanti harus menunda pekerjaan akibat letih. Kelelahan bakal menyita segenap perhatian dan konsentrasi anda. Kemudian bila anda bekerja kurang bersemangat, tak ada kemauan, tahanlah diri untuk terus bekerja . Jangan beri kesempatan untuk “mengiyakan” perasaan malas tersebut. Dengan bekerja terus berarti anda menambah kapasitas diri sendiri. Dan, yang lebih penting, pekerjaan anda semakin lancar. Ini Bisa di Buktikan dengan: “ KUNCI THE POWER ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER”

Hasil dari penelitian saya pribadi, dari ilmu-ilmu para orang jenius di masing-masing ungkapannya dalam bukunya yang pernah saya pelajari. Badan yang panas tentu disebabkan pembakaran tubuh yang sedemikian cepat, sehingga arus syaraf pun dipercepat. Pada suhu biasa kecepatan itu kira-kira 135 meter per detik. Tapi jika badan didinginkan, sedemikian rupa hingga syaraf boleh dibilang tidak bekerja sama sekali, lalu diukur kecepatannya dengan memanaskannya berangsur-angsur, setiap kenaikan 10 derajat Celcius arus itu menjadi dua kali lebih cepat. Dengan kata lain, kenaikan temperatur satu derajat, arus syaraf akan dipercepat 10%.

Kenyataan ini sangat penting artinya. Terutama menyangkut kegiatan yang serba rumit, berpikir-keras, misalnya. Si pemikir boleh dibilang harus menempuh ribuan meter urat syaraf sebelum mencapai inti pemecahan persoalannya. Tata syaraf pusat mengandung berbiliun-biliun sel. Semuanya mempunyai cabang-cabang yang panjang nya mencapai beberapa meter, disamping berbiliun-biliun sel lainnya yang mempunyai cabang lebih pendek.

Untuk memecahkan masalah yang mudah semisal membagi angka 5.677 dengan 13, misalnya, diperlukan kiriman arus sepanjang beberapa ribu meter serabut syaraf. Orang tua yang tangkas, terbiasa dan berpengalaman, membutuhkan waktu lebih sedikit ketimbang yang kurang cerdas. Percobaan yang telah dilakukan di Jerman makin membuktikan hal ini. Bahkan dalam rapat perhimpunan Elektrokimia, O.H. Caldwell mengucapkan kata-kata, “Di kemudian hari kelak, pemanasan elektrik dari otak manusia akan menjadikan kita malaikat-malaikat!” Namun, tampaknya ini masih angan yang terlalu muluk.

Sayang sekali, kita kurang banyak yang menyadari kekuatan yang ada dalam diri kita sendiri. Yang kita kenal baru sedikit dari realitas yang sebenarnya. Sebetulnya patut kita berbangga dan bersyukur kepada Allah SWT atas kemampuan yang ia anugerahkan pada diri kita. Otak kita kini ternyata mampu menampung informasi 2,5 juta kali lebih banyak dari komputer terbesar didunia sekalipun.

Ada sedikit lagi pertanyaan lain. Apa sebenarnya perbedaan kita dengan tokoh-tokoh jenius seumpama Einstein dan kawan-kawannya itu?

Dr. Rudolph Wagner, membuktikan bahwa otak kita hampir semuanya sama. Jadi sesungguhnya tak ada perbedaan teknis antara otak Anda dan otak Albert Einstein. Yang memang kurang kita miliki adalah keinginan belajar dan berfikir yang menyala-nyala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang jenius itu. Dan lagi pula sebetulnya kreativitas itu bukanlah hanya milik segelintir pribadi-pribadi seperti Mozart, Rembrandt, Newton, dan Einstein saja. Kita semua juga memilikinya. Sayangnya kita tak mengaktifkannya. “PERCAYALAH”…. Dengan “ KUNCI THE POWER ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER” Anda bisa… saya akan ajarkan secara langsung tanpa syarat yang berat dan mustahil bagi Anda. Bagaimana menurut Anda..?!

Semuga Postingan ini bermanfa’at baik untuk siapapun yang membacanya. Kususnya anak-anak didik saya. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu Sekalian yang senantiasa di Ridhoi Azza wa Jalla. Jalla Jalaluhu.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
http://webdjakatolos.blogspot.com
Brebes Kamis tgl 25 Des 2014