RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KESEJATIAN:

Sebuah Renungan tentang ke-SEJATI-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Sabtu Kliwon; 09-08-2014

“”Melangkah di Arsy Tuhan, Menengok Rahasia Kalam””
Dalam penantian Sang Hamba menuju kesempurnaan maka akan di mulai dengan Ilmu. Dalam Ilmu (pengetahuan) tidak akan memberikan Manfa’at (sia-sia) jika tanpa di dasari Kesadaran rasa dalam Niat yang tulus. Sesungguhnya Manusia itu Mati kecuali mereka-mereka yang berpengetahuan Hidup, dan mereka-mereka yang berpengetahuan Rasa, banyak yang tertidur kecuali mereka-mereka yang melakukan lakon, dan mereka-mereka yang melakonkan laku, banyak yang tertipu kecuali mereka-mereka yang Sadar, Tulus, lila legawa.

Ketika Lautan Hikmah dari segala Ilmu terselami, maka terlihat lah……Mutiara-mutiara Indah yang sangat berkilauan, dan banyak di antara para Salik yang mengambil Mutiara-mutiara itu, karena saking Takjub dan terpananya melihat keindahan Mutiara-mutiara tersebut.
Ketika rasa Takjub itu datang merasuk kedalam Qolb’ maka pada saat itu…..Nyanyian ke EGO an menyertai dan mengakibatkan diri hanyut dan tenggelam dalam RASA/Zauq.

Ketahuilah… Pada satu sisi, RASA/Zauq itu adalah “Jalan/Thoriqoh” menuju Sang Sejati, akan tetapi apabila terlena dan hanyut dalam RASA/Zauq itu dan lupa akan “sang pemilik” RASA, maka semakin banyak duri-duri yang akan tumbuh pada diri… He he he . . . Edan Tenan.
Lihatlah… Ke sekeliling, berapa banyak yang Asyik Masuk dalam RASA berenang dalam Nikmatnya RASA, lalu meRASA kosong, lalu meraba dalam Kosong dan mengatakan tidak ada apa-apa dan menyatakan bahwa inilah SEJATI, inilah PUNCAK, inilah AKHIR dari segalanya, inilah IA.

Maka ketika hal itu telah ternanam, maka itulah Awal mula akar dari pada duri-duri yang akan menyelimuti diri dan tanpa sadar……, telah ber TUHAN kan kekosongan, ber TUHAN kan ke HAMPA an, ber TUHAN kan ketiadaan… apa tidak ueeedann tenan.
Sesungguhnya……RASA/Zauq itu, masih di dalam sifat Jamal-NYA, dan bukan itulah Akhir perjalanan, namun itu barulah Awal perjalanan untuk Melangkah di “ARSY TUHAN” dan Akhirnya “MENENGOK RAHASIA KALAM”.

Apakah Mutiara-mutiara Indah yang sangat berkilauan itu…..????
Itulah… KUNCI… itulah DZIKIR/DZIKRULLAH.

Semakin KUNCI … Semakin banyak ber DZIKIR/DZIKRULLAH dengan bermacam-macam D ZIKIR (mutiara-mutiara), maka semakin terhijab, jika masih terpandang Ma Siwa Allah ( Sesuatu), masih terpandang akan diri : “Aku ini kunci” Aku ini berdzikir”, Aku ini beramal”, Aku ini berThoriqoh”, “Aku ini ber mursyid”, “Aku ini berma’rifat”, dll…. Preeetttttt

Maka akan timbul suatu penekanan akan sesuatu. Jika penekanan “akan sesuatu” itu telah menjadi pandangan Bathinnya, maka Hijab telah menutupi Qolb’ dari NurNya yang Nyata. Ia melihat akan Nur, tetapi yang terlihat bukanlah Nur yang sesungguhnya, melainkan hanyalah bayangan sinar dari pada Nur. Maka bayangan tetaplah bayangan, sampai kapanpun tetaplah bayangan dan bayangan bukan lah yang punya bayang-bayang. Bulan Nyata terlihat, tetapi tiada di ketahui, karena yang di ketahui hanya kenyata’an Bulan di atas Danau dan Bathin lalai bahwa sesungguhnya yang ada di danau itu bukan Bulan, melainkan hanya bayang-bayang dari sang bulan.

Maka… Lihatlah Bulan yang terang dan cahayanya sangat menyejukkan itu dan mendamaikan Qolb itu Sangat Nyata dan Indah, bukan di mana-mana, tetapi ada di mana-mana.
Maka…… untuk masuk ke jalan itu…..,
Lepaskan tubuhmu……
Lepaskan hatimu……
Lepaskan jiwamu…..
Lepaskan ruhmu……
Lepaskan Akumu…..
Lepaskan egomu….
Hingga engkau tak bertubuh jasad lagi, tidak berhati lagi, tidak berjiwa lagi, tidak ber Ruh lagi, tidak ber Aku lagi dan tidak berkepetingan lagi. Pandanglah yang memandang dan rasakan yang merasakan maka engkau tidak ada, maka engkau kosong, maka engkau hampa.

Bukan Al-Haq yang tidak ada itu, bukan Al-Haq yang kosong itu, bukan Al-Haq yang hampa itu melainkan dirimulah yang tiada, dirimulah yang kosong itu, dirimulah yang hampa dan sunyi itu.
Dan tidak boleh dua, tiga, empat atau banyak yang mengisi kekosongan itu melainkan hanya SATU yang ber hak untuk mengisi kekosongan itu yaitu “Al-Haq”…He he he . . . Edan Tenan.

Dirimu bukan lah dirimu karena dirimu kosong dan Al-haq lah yang ada pada ke kosongan itu. Jika dirimu sudah kosong karena memang kosong, jika dirimu sudah tidak ada karena memang tidak ada. Maka yang manakah yang di sebut EGO….???, maka yang manakah yang di sebut Nafsu….???, maka yang manakah yang di sebut Aku…???
He he he . . . Ueeeedan Tenan pancen.

Maka semuanya pun tidak ada/kosong karna memang kosong/tidak ada.
Maka jika ada bantah membantah, maka jika ada sanggah menyanggah, maka jika ada hujat menghujat, selama itu engkau masih belum kosong dari kedirianmu…
Maka itulah yang disebut Hijab/Tirai yang sangat tipis bak sehelai rambut di belah tujuh.
Nyata ketiadaan itu menunjukkan Nyatannya yang ADA (Al-Haq).
maka matilah sebelum engkau mati……maka siapakah yang ada setelah kematianmu….????
Jika engkau sudah mati maka engkau sudah tidak ada, maka siapakah yang ada setelah kematianmu/ketiadaanmu…??? He he he . . . Edan Tenan

Ana (Al-Haq) yang ada…….
Jika hanya Al-Haq yang ada, maka selain itu……..adalah Fatamorgana, bayangan, semu, tidak ada dan nyatalah….Ana (Al-Haq) meliputi pada kekosongan dan ketiadaan dirimu. Dan kekosongan diri/ketiadaan diri itulah Singgasana/Kerajaan TUHAN dan di situlah Al-Haq bersemayam (Arsy’). Bukan di tubuh, bukan pula di hati, bukan pula di jiwa dan juga bukan di Ruh.

Maka “DIAM” = “MATI” = “KOSONG” = “TIDAK ADA” = “Laa Hawla Wa Laa Quwwata…..” dan itulah diri yang bernama ROMO PUTRO, bukan PUTRO ROMO.
“Dari kosong maka akan kembali kosong”
“Dari tidak ada maka akan kembali tidak ada”

He he he . . . Edan Tenan… Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://wongedanbagu.blogspot.com