Bergerak Melampaui Cinta Duniawi:

LAKU GELAR Lan GULUNG.2

Dasar-Dasar Pengertian Laku Haqikat Hidup:
Ala: Wong Edan Bagu:
Dunia kita kadang menjadi tidak bertoleransi. Ini adalah perbuatan kita sendiri. Jadi sekarang, untuk meningkatkan atau memperbaiki dunia atau rumah, rumah besar yang kita tinggali, dengan banyak kamar yaitu berbagai negara, dan kita seharusnya tahu bahwa kejahatan harus dihindari. Kejahatan dihindari dengan perbuatan baik, taat akan Perintah Tuhan (sila-sila), mencintai sekeliling. Tetapi karena pikiran kita selalu digunakan dengan cara Mata ganti mata, gigi ganti gigi, maka sangat sulit untuk berbuat sesuai dengan apa yang seharusnya, atau memperlakukan orang lain dengan cara yang penuh kasih. Jadi kita memerlukan daya yang lebih kuat untuk menolong diri kita sendiri, untuk menarik diri kita sendiri, keluar dari kebiasaan, pikiran, dan perbuatan.

Semua hal di dunia sebenarnya juga baik untuk kita, bahkan kejahatan sekalipun. Kejahatan adalah kesalahan-kesalahan kita. Tapi, kita jangan terus salah selama-lamanya. Paling tidak, kesalahan-kesalahan adalah sejenis kejutan. Ketika kita menerima akibat dari kesalahan-kesalahan, maka kita dikejutkan oleh kenyataan bahwa hal ini bukanlah hal yang benar. Hal ini mengakibatkan penderitaan dan kesedihan. Sebab itu, kita berbalik. Dan bahkan semua hal di dunia yang indah dan menyenangkan ada di sana untuk mengingatkan kita akan kebahagiaan sejati di dalam kesejatian kita.

Jadi, bukanlah dosa untuk menikmati semua yang diciptakan Tuhan untuk kita. Tetapi bila kita selalu melekat pada hal-hal itu, maka Tuhan akan mengingatkan kita bahwa itu tidak benar. Sebab itu, kadang kita mengalami kesedihan atau penderitaan dari hal-hal yang sangat kita syukuri.

Adalah salah bila mengabaikan dunia. Tetapi juga salah bila tenggelam dalam keduniawian setiap saat. Karena kita kehilangan sebagian dari hidup yang lebih baik, yaitu jiwa, yang lebih menyenangkan dari apapun yang dapat disediakan dunia. Semua hal di dunia hanya memicu ingatan tentang kebahagiaan sejati, kemenangan sejati, dan kehidupan sejati yang harus kita miliki dan harus kita ketahui, karena kita telah lupa.
Banyak orang bertanya kepada saya tentang hubungan wanita dan pria, dan kenikmatan seksual, dan seputarnya. Mereka bertanya apakah hal itu adalah dosa. Saya katakan tidak. Tetapi Anda harus tahu bahwa ada lebih banyak bentuk kenikmatan yang lain selain hal itu. Kenikmatan seksual hanyalah tiruan dari kenikmatan sejati ketika Anda menjadi Satu dengan Diri Anda, ketika kedua daya di dalam Anda, aspek feminin dan maskulin di dalam diri Anda, bergabung. Penyatuan antara pria dan wanita hanyalah duplikat dari hal tersebut.

Jadi, Tuhan mengirim kita ke dunia ini bukannya tanpa perlengkapan untuk mengingatkan kita akan kekuasa’annya. Hanya saja kita lupa bahwa semua hal adalah pemicu ingatan saja. Kita lebih mencintai tiruan dan lupa yang asli. Hal inilah yang membuat kehidupan kita menyedihkan. Walau begitu, kita tetap tidak bisa menikmati tiruan itu sepenuhnya. Oleh karena itu, banyak hubungan wanita dan pria yang mudah goyah, dan hubungan seksual di antara Anda kadang tidaklah suci, bukan berdasar pada saling menghormati, tetapi terkadang berupa pelecehan, dan hanya pelampiasan frustrasi, hanya sebagai alat. Oleh sebab itu, jika kita sungguh ingin menikmati hidup ini, kita harus menikmati kehidupan sejati, yang mana ratusan ribu kali lebih baik daripada kehidupan yang kita tahu di Bumi ini. Dengan mengetahui kehidupan tersebut, kita juga dapat menikmati kehidupan di dunia.

Banyak orang yang berlatih, mungkin tidak tahu tentang Guru, atau tidak diinisiasi, atau tidak punya pemahaman benar, atau tidak berlatih dengan benar, salah mengerti bahwa sebagai seorang praktisi harus melepaskan semuanya dan dingin terhadap hubungan sesama. Tidak benar, itu tidak benar. Karena dalam KUNCI dikatakan, “Pikiran awam adalah Rasa.” Jadi, ketika Anda mencapai Rasa dengan Pencerahannya yang benar, semakin Anda tercerahkan, maka Anda akan semakin santai dan penuh cinta kasih. Anda mungkin tidak membutuhkan hubungan fisik dengan orang lain, tapi hanya bertindak normal dan memenuhi kewajiban Anda. Bagaimanapun, sulit untuk mengerti ini, tapi waktunya akan tiba. Tuhan tidaklah sepicik itu dengan melarang kita mencintai suami atau istri sebagaimana biasanya.

Tuhan tidaklah sekejam itu dengan memisahkan sepasang insan yang saling mencinta hanya demi mencari Tuhan. Kita harus melapangkan hati untuk mencintai Tuhan dan juga termasuk makhluk-makhluk lain, termasuk anggota keluarga kita. Jika kita mampu mencintai makhluk lain yang jauh dan tidak kita kenal, mengapa kita tidak mampu mencintai anggota keluarga kita, orang-orang terkasih yang paling dekat? Bersikap wajar, cintai mereka lebih dari sebelumnya, lalu kita akan membuat hubungan keluarga menjadi lebih harmonis. Jika tidak, bila pasangan kita tidak bahagia, maka kita akan sangat sulit untuk berbahagia seorang diri.

Pada umumnya, ketika pria dan wanita menikah, hal itu tidak hanya kontak fisik saja, tetapi ini untuk kehangatan dan perhatian, dan hanya demi meditasi, Anda tidak boleh mengabaikan pasangan Anda dengan alasan apapun. Karena ini adalah kewajiban Anda untuk memperlihatkan cinta dan perhatian ke makhluk lain dan Anda sudah mengikrarkan kewajiban tersebut, jadi Anda harus melaksanakannya. Mencintai orang lain adalah suatu kehormatan, suatu kemajuan, bukanlah proses kemunduran. Anda harus mencintai yang lain seperti Guru mencintai Anda, walau dengan atau tanpa kontak fisik.

Djaka Tolos: Banyak agama Timur berpandangan bahwa daging atau tubuh seperti sampah yang harus dibuang. Saya rasa, ketika saya masuk ke tubuh ini, saya telah menanda-tangani kontrak untuk menjaganya sebaik mungkin, supaya berfungsi untuk hidup di dunia ini. Seseorang punya daya pikiran, kekuatan Tuhan, tetapi bukankah ini memerlukan semacam pandangan yang berimbang, berupaya hidup benar di dua kondisi kehidupan, karena kita hidup di dua kondisi tersebut?

Wong Edan Bagu: Ya, memang seharusnya begitu. Akan lebih seimbang. Yang dimaksud oleh kitab-kitab suci agama adalah kita tidak seharusnya terikat pada nafsu dan sensasi jasmaniah, lalu melupakan jiwa. Kadang hal tersebut dikatakan hanya untuk seseorang pada suatu kesempatan saja, atau pada sekelompok orang saja, untuk orang-orang yang perlu mendengar pernyataan itu. Tetapi itu kemudian menjadi aturan umum yang penting dan telah kehilangan maknanya. Ketika dikatakan pada saat tersebut, hal itu sangat tepat dan benar. Tetapi setelah dicatat dan diberikan kepada kelompok lain, itu tidak benar lagi. Jadi, lakukan yang Anda suka tapi jangan terlalu terikat pada nafsu jasmaniah. Bagaimana mungkin Anda melupakan daging tubuh? Anda tidak dapat bermeditasi dalam keadaan lapar. Anda harus menjaga tubuh, artinya bukannya Anda selalu memperhatikan tubuh dan tidak punya waktu untuk jiwa. Karena beberapa orang seperti itu, dan pernyataan tersebut ditujukan untuk orang-orang itu.

Djaka Tolos:. Bagaimana saya melepaskan tubuh saya, cinta saya, dan nafsu terhadap lawan jenis?

Wong Edan Bagu: Jangan lepaskan, kalau tidak kita tidak akan pernah punya anak-anak. Normal saja dan punya satu saja; punya satu teman hidup saja, ya? Bila Anda punya teman sejiwa yang cocok, dan sebuah cinta yang tiga dimensi; fisikal, emosional, dan mental, maka itu bagus. Lalu, apa yang disebut keinginan tubuh akan kehilangan kekuatan cengkeramnya setelah Anda membiasakan diri dengan hubungan yang stabil atau dengan pernikahan. Jangan kuatir, ini baru permulaan.

Djaka Tolos: Haruskah seseorang berusaha menekan energi seksual untuk mencapai Pencerahan?

Wong Edan Bagu: Tidak, tidak, santai saja. Semua energi dan perjuangan Anda untuk melawan dorongan seksual sebaiknya dipakai untuk meditasi. Mengapa Anda begitu menyiksa diri? Ini adalah fenomena alami, yang lama kelamaan akan berkurang intensitasnya. Jika Anda menikah, semua hal, bahkan nafsu akan segera berkurang. Semakin Anda bermeditasi, maka semakin banyak kenikmatan Surgawi yang akan Anda temukan. Seks, saya beritahu Anda, adalah pengganti dari kebahagiaan Surgawi. Dan karena banyak dari kita kurang akan kebahagiaan sejati, maka kita selalu mencari dan melekat kepada pengganti yang lebih rendah. Tetapi jika kita mengetahui yang sejati, maka yang lain akan segera kehilangan daya tariknya. Seperti jika kita semakin dewasa, semua mainan, mobil-mobilan plastik tidak berarti lagi bagi kita. Karena sekarang kita punya Mercedes Benz, Roll Royce, Cadillac, atau mobil-mobil yang lain. Kita tahu larinya kencang dan lebih berguna. Jadi jangan kuatir tentang masalah seksual, dapatkanlah Pencerahan.

Setelah Pencerahan, jangan takut kehilangan apapun. Nikmati semua hal secara lebih intensif, tapi Anda tahu kapan dan bagaimana, dan jangan salah gunakan daya untuk kenikmatan seperti sebelum Pencerahan. Anda mungkin berhubungan seks sekali-sekali, jika Anda menginginkan dan menikmatinya. Tetapi Pencerahan adalah tujuan utama dalam kehidupan Anda, dan tidak akan meninggalkan Anda setelah inisiasi. Yang akan selalu mendorong Anda dan Anda tidak akan mundur, Anda tidak akan menjadi bodoh lagi. Dan bahkan jika Anda sekali-sekali melakukannya dengan istri Anda, memangnya mengapa? Tuhan tidak terlalu peduli! (Tertawa) Anda terlalu takut akan segalanya. Bahkan sedikit seks menakutkan Anda. Tidak ada yang terlalu menakutkan!

Djaka Tolos: Apa pendapat Anda tentang aborsi, dan kapan menurut Anda sang jiwa memasuki tubuh?

Wong Edan Bagu: Oh, seharusnya jangan ada aborsi. Tidak ada persoalan tentang kapan jiwa memasuki tubuh; itu persoalan tentang pikiran jahat dan kecenderungan kita untuk membunuh. Hal itu yang harus dihentikan, kecenderungan untuk membunuh. Tidak ada gunanya untuk bertanya kepada saya kapan jiwa masuk ke dalam tubuh. Ketika Anda menginginkan aborsi, Anda sudah mempunyai kecenderungan membunuh, dan ini yang harus kita hilangkan. Kita harus membina kasih sayang suci dan kebijaksanaan dan tidak condong ke arah negatif dari kehidupan kita. Semakin kita condong ke sana, semakin rendah kita, dan semakin kita terpuruk. Anda harus semakin melatih diri dalam meditasi, dan suatu hari Anda dapat mengetahui kapan jiwa masuk ke kandungan. Tidak ada waktu yang pasti kapan jiwa masuk. Ia bisa keluar dan kembali lagi! Jadi Anda tidak pernah tahu jiwa ada di dalam atau tidak. Walau jiwa belum di sana, kita sudah punya kecenderungan membunuh, membunuh darah dan daging kita, dan itu tidak baik. Jika Anda membunuh musuh, atau hewan buas yang membahayakan, paling tidak Anda punya alasan untuk melindungi diri. Tapi jika Anda membunuh jiwa tak berdosa, jangan tanya…, membunuh jiwa tak berdosa tidak baik. Tolong jangan sampai punya gagasan yang menurunkan derajat Anda sendiri. Sesulit apapun situasinya, Anda akan bisa mengatasinya. Berdoalah kepada Tuhan, temukan penyelesaiannya atau berikan anak tersebut ke panti asuhan. Banyak suami istri di dunia ini ingin punya anak; mereka bisa mengadopsi bayi. Jadi jangan sampai punya gagasan tersebut.

Djaka Tolos: Apakah mungkin menjadi suci sepenuhnya dan manusia sepenuhnya pada waktu yang sama?

Wong Edan Bagu: Ya, orang yang suci sepenuhnya adalah manusia seutuhnya. Seorang manusia yang utuh adalah orang yang suci sepenuhnya. Sekarang ini kita hanya setengah manusia. Kita bertindak dengan ragu-ragu, dengan ego, dan tidak percaya bahwa Tuhan mengatur segalanya untuk kenikmatan dan pengalaman kita. Kita memisahkan dosa dan kebajikan. Kita membesar-besarkan setiap hal; kita menghakimi diri sendiri dan orang lain, dan menderita sendiri karena pembatasan kita tentang apa yang seharusnya dilakukan Tuhan.

Sebenarnya Tuhan di dalam kita dan kita membatasi-Nya. Kita suka menikmati diri sendiri, tapi kita tidak tahu. Kita berkata pada diri sendiri, “Saya tidak boleh berbuat ini.” Tetapi mengapa harus vegetarian? Sederhana saja karena Tuhan di dalam diri kita menginginkan itu. Hal ini menegaskan prinsip bahwa kita tidak ingin dibunuh. Kita sendiri tidak ingin dibunuh atau harta milik kita dicuri. Sekarang, bila kita melakukan ke orang lain, artinya kita menentang diri sendiri, dan ini membuat kita menderita. Anda tidak boleh memukul diri sendiri atau melaparkan diri.

Contohnya: sama halnya dengan pembunuhan. Kita tidak boleh membunuh, karena berlawanan dengan prinsip kehidupan, dan membuat kita menderita, jadi kita tidak melakukannya. Bukan berarti kita membatasi diri dengan cara itu. Artinya kita merentangkan kehidupan kita pada semua bentuk kehidupan, tidak hanya manusia tetapi juga pada hewan. Kehidupan kita tidak dibatasi tubuh ini, tetapi juga menjangkau hewan dan semua makhluk hidup. Hal ini membuat kita jadi besar dan menimbulkan keagungan kita.

Semoga Bermanfa’at dan Berkah…. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet.
Ttd: Wong Edan Bagu