Menyelusuri Jejak Tuhan:

IMG1433A

Seorang ateis mengatakan pada saya Tuhan saya adalah alam semesta, terus dia bertanya sama saya Tuhan kamu siapa? Saya menjawab “sesuatu yang mengasihi dan yang menyayangi”. Terus dia bertanya penasaran, siapakah itu ? Apakah suatu wujud yang nyata atau abstrak ? Saya jawab, yang nyata dan abstrak. Seorang agamis mengatakan pada saya Tuhan saya adalah Allah yang gaib, terus dia bertanya sama saya, Tuhan kamu siapa ? Saya menjawab percis apa yang saya katakan kepada teman saya yang ateis.

Kata Tuhan adalah symbol, entah siapa yang menciptakan nama itu, begitu juga kata Allah sama hanya symbol, juga entah siapa yang menciptakan nama itu. Bagi saya tidak terlalu penting untuk menelusuri sejarah timbulnya penamaan tersebut karena yang terpenting adalah mengetahui dengan benar essensi dari kata Tuhan atau Allah tersebut. Kenapa saya sebut Tuhan itu adalah sesuatu yang mengasihi dan menyayangi ? ya, karena dari mana lagi kita menelusuri jejak Tuhan kalau (tidak) dari segi kebaikan, masa kita menelusuri dari segi keburukan atau kejahatan.

Coba saja lihat di sekitar kita apa dan siapa itu sumber yang mengasihi dan menyayangi itu, tentu kita tidak akan pernah menyangggah sumber kasih dan sayang itu ada pada ayah dan ibu kita, juga pada alam dengan kekayaan di dalamnya ada tanah tempat berpijak, ada tumbuhan dan binatang untuk mendukung supaya manusia tetap hidup, ada udara, air, api, bulan, bintang,, matahari dll semuanya tanpa pernah kita minta dan tak peduli kita orang baik atau jahat semuanya memberikan kehidupan kepada kita tanpa pilih kasih. Sumber kasih dan sayang yang lain adalah pada diri kita sendiri sebagai manusia, tanpa ada organ tubuh, sel-sel dan roh kita tidak akan hidup sebagai manusia seutuhnya. Dengan kata lain hidup akan indah kalau kita menghargai orang tua kita, alam semesta dan diri kita sendiri kepada sesama manusia. Dari ketiga sumber itulah kita bisa menelusuri jejak Tuhan atau Allah itu.

Menelusuri siapa diri kita, maka diri kita adalah dari kedua orang tua kita, kedua orang tua kita dari kakek kita, kakek dan nenek kita dari buyut kita, buyut kita dari dst dst…sampai lah kita symbolkan dengan nama Adam, sebagai manusia pertama. Dan nama Adam pun adalah suatu symbol bukan suatu fakta sejarah. Symbol untuk bahan perenungan dan bahan pengkajian diri. Jadi siapakah orang tua sejati kita ? tak lain dia lah sang sumber kehidupan, sang sumber kasih sayang, jadi tidak salah bila dalam agama (islam) pemeluknya supaya menghormati orang terdahulu, bahkan diperintahkan untuk mengadakan hubungan telepati (tawassul) dengan para leluhur kita. Jadi jangan salahkan agama pagan (agama asli) nusantara yang mana ritual mereka kental dengan sesaji untuk menghormati roh leluhur nya.

Di dalam sejarah Islam ada peristiwa Miraj Nabi Muhammad, yang mana ketika dalam perjalanannya ke langit, sang Nabi bertemu dengan para Nabi pendahulunya seperti Ibrahim, Musa, Yusuf, Isa. Sampai sang nabi mampu berdialog (telepati) dengan mereka untuk mendapatkan bimbingan kepada dirinya supaya dia bisa menyiarkan tauhid sesuai dengan zamannya. Itulah proses menelusuri jejak Tuhan pada kedua orang tua kita, sehingga orang kristen menyebutnya sebagai Tuhan Bapa, dia yang menelusurinya disebut Anak Tuhan, Energi untuk bisa berkomunikasi dengan Bapa disebut roh kudus. Jadi sebenarnya Trinitas itu hakekatnya adalah ketunggalan, istilah sekarang ‘three in one’. Dalam Islam pun demikian ada Trintas seperti Nur Allah-Nur Muhammad dan Nur Insan, gak ada beda yang membuat seperti berbeda nyata adalah istilah belaka.

Menelusri jalur orang tua untuk menemukan sumber kasih sayang adalah jalur metafisik, sehingga jalur ini sangat tidak dipahami oleh para ateis yang selalu mengedapankan rasio dan logika tetapi sebenarnya hal ini ada di jalur agama, tetapi kenapa justru ummat beragama nya sendiri tidak percaya bahkan tidak sedikit yang menolak hal ini dengan alasan musryrik, sesat,klenik dll. Hal ini dikarenakan kebanyakan umat beragama hanya memahami agama dari ketataan menjalankan kewajiban saja belum mencapai keyakinan, karena keyakinan itu ada di wilayah metafisik. Jadi sekali-kali janganlah menjadi anak durhaka pada kedua orang tua kita, ilmu segede gunung pun tentang ketuhanan bila durhaka pada kedua orang tuanya sama saja membelakangi Tuhan. Sebaliknya bila ilmu ketuhanannnya minim tapi dia hormat dan santun kepada kedua orang tuanya berarti Tuhan masih memberikan pintu untuk menuju Nya.

Menelusuri jejak Tuhan dari alam adalah menelusuri jejak Nya dari suatu materi/ benda yang nyata. Kita bisa hidup karena makan makanan, entah itu dari hewan maupun tumbuhan juga air. Kita pernah baca siklus fotosintesa, ternyata siklus itu berbentuk lingkaran. Tumbuhan tumbuh karena adanya sinar matahari, tumbuh menjadi pepohonan, buah-buahan, sayuran kemudian dimakan oleh manusia dan hewan, kemudian hewan pun di makan oleh manusia. Begitu juga siklus air, air turun ke bumi karena adanya sinar matahari, inti nya dalam hal ini matahari adalah sumber kehidupan. Jadi tidak lah salah penganut agama shinto di Jepang menyembah matahari.

Matahari yang kita lihat ini adalah satu bintang dari milyaran bintang di langit lepas. Apakah kita harus menyembah matahari ? tentu tidak ! tapi mereka yang menyembah juga tidak salah tapi belum sempurna. karena banyak matahari-matahari yang tak terhingga di langit lepas ini. saking tidak terhingganya maka symbol Tuhan pun adalah suatu lingkaran, artinya tak bertepi ! Banyak symbol agama di dunia ini menggunakan Bintang sebagai symbolnya seperti Yahudi, Islam. Alam semesta atau jagat raya ini senantiasa memberikan kasih dan sayang nya kepada manusia tanpa pernah berhenti. Jadi menjaga, memelihara alam adalah salah satu bukti bahwa anda sudah mengenal Tuhan.

Yang ketiga menelusuri jejak Tuhan pada diri kita sendiri, inilah jalan spiritual. Karena alam jagat raya yang memberikan kehidupan pada manusia, ternyata tubuh manusia pun yang tersusun dari milyaran sel memberikan kehidupan kepada kita. Bila sel-sel yang menopang kehidupan kita terjangkiti virus/ penyakit dari luar maka kita akan mengalami sakit/ cacat/ mati. Tubuh manusia itu ibarat replika nya jagat raya, bahkan dalam Islam disebutkan berkali-kali kata-kata penting seperti : Manusia itu adalah citra Tuhan, Rasa Tuhan adalah rasa manusia, Baitullah itu di Hati manusia dan banyak lagi kalimat-kalimat yang menggugah kita untuk menerawang ke dalam diri. Hanya manusia lah yang bisa berpikir untuk menguak rahasia Tuhan, alam nyata dan abstrak. Berpikir dengan otak/ akal ini lah jalan satu-satunya manusia bisa menemukan jati dirinya. Tapi kenapa orang beragama tidak memahami hal ini ? Ya, karena dalam mengkaji ajaran agamanya hanya menggunakan hati, tidak memaksimalkan menggunakan otak untuk berpikir terus menerus.

Hati itu ibarat akar, pohon tidak akan tumbuh ke atas kalau tidak disinari matahari, disiram air. Nah untuk tumbuh ke atas supaya tidak statis itulah manusia harus menggunakan otaknya, karena ajaran agama itu sarat dengan makna simbolik/ perumpamaan termasuk kata Allah, Tuhan pun adalah suatu symbolik. Kalau kata Allah nya sudah symbolik bagaimana turunannya ke bawah ? betul juga kata para sufi ” barang siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya ” mengenal diri nya berarti pemikirannya sudah ber sumber dari dalam dirinya sudah tidak melihat lagi keluar, mengenal dirinya berarti sudah percaya pada dirinya sendiri, mengenal dirinya itu berarti pola pikirnya sudah terbebas dari doktrinitas dari luar dirinya, mengenal dirinya berarti sudah menundukkan dirinya agar berbuat selaras dengan alam semesta, selaras dengan zat kasih sayang karena dirinya bukan Tuhan melainkan bagian dari KAMI.