Harga Diri Harus Diperjuangkan:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by Djaka Tolos

Harga diri tak ternilai; nilainya bersifat kekal. Sekalipun sifat ini sudah melekat, dibutuhkan usaha-usaha yang giat untuk meraihnya.

Bilangan tak terhingga saya kenal ketika di Sekolah Menengah Atas (SMA). Keunikan bilangan ini, yang disimbolkan mirip logo korporasi Lippo, adalah bahwa angka itu tidak berubah sekalipun bilangan ini ditambah, dikurang, dikali ataupun dibagi dengan angka berapapun. Tidak ada angka yang bisa merubah nilainya; bilangan ini tetap sama,yaitu tak terhingga.

Anda dan saya mempunyai aspek tak terhingga dalam diri kita masing-masing, yaitu kekekalan. Nilai itu melekat pada diri setiap individu sejak lahir.

Nilai ini tak kunjung berubah sejak manusia eksis di bumi. Apakah normal ataupun tidak normal, gila atau waras, sehat atau sakit, cantik atau jelek, ganteng atau tidak, bergaji ratusan ribu per bulan atau ratusan juta rupiah per bulan- tiap individu memiliki sifat kekekalan ini. Bahkan nilai manusia hanya berbeda tipis dengan malaikat yang hidup di alam roh.

Tak ternilainya harga diri manusia merupakan ‘grand design’ dari Sang Pencipta. Manusia adalah mahkota dari seluruh ciptaan. Manusia adalah satu-satunya ciptaan yang menjadi perhatian utama Tuhan.

Begitu mulia dan penting kehadiran manusia di bumi, Tuhan menugaskan manusia untuk memelihara bumi dan mengembangkannya. Kecuali malaikat, seluruh ciptaan yang hidup di air, darat dan udara ada dalam kuasanya. Tidak ada ciptaan yang tidak dalam otoritasnya.

Begitu tingginya martabat manusia sehingga tidak ada ruang sekecil apapun untuk melecehkan orang lain. Tidak ada hukum yang membenarkan tindakan yang merendahkan martabat orang lain.

Setiap tindakan yang melawan hak azasi manusia akan mendapat hukuman. Di negara bagian Colorado, Amerika Serikat misalnya, seorang warga Arab dihukum 28 tahun penjara karena melakukan pelecehan seksual kepada seorang pembantu dari Indonesia.

Seseorang tidak berhak melecehkan orang lain. Masyarakat manapun tidak berhak untuk merendahkan masyarakat yang lain; bangsa manapun tidak berhak menghina bangsa yang lain. Tiap individu, masyarakat dan bangsa memiliki martabat yang sama.

Dalam konteks bernegara, martabat individu tercitra dalam bentuk kedaulatan bangsa. Individu (suami dan isteri) membentuk keluarga, keluarga membentuk masyarakat, dan masyarakat membentuk bangsa.

Bila satu negara melecehkan kedaulatan negara lain pada hakekatnya negara itu melecehkan kedaulatan individu; negara itu melecehkan harga diri manusia. Begitu juga bangsa yang menganggap remeh martabat bangsanya sendiri; bangsa itu tidak menghormati martabat individu.

Ada benarnya isi pidato Ir. Soekarno berjudul ‘Ganyang Malaysia.’ Ia mengajak segenap bangsa Indonesia untuk melawan penghinaan terhadap martabat bangsa kita. Dalam pidatonya yang emosional itu, ia mengatakan, “Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysia keparat itu. Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot Bangsa, sebagai martir Bangsa dan sebagai peluru Bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya. Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

Tidak ada cara lain menegakkan harga diri kecuali melalui ‘perang.’ Apakah itu dalam bentuk phisik (bila perlu) atau non-phisik, martabat harus diperjuangkan. Diperlukan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Kehormatan atau kedaulatan bangsa harus diperjuangkan.

Ia harus direbut. Tidak hanya direbut dari bangsa lain yang mencoba menginjak-injak martabat bangsa, tetapi juga harus direbut dari masyarakat atau bangsa sendiri yang meremehkan martabat manusia. Dan soal tempat, di mana lagi kalau bukan dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Tidak perlu harus ke luar dari batas negara untuk menegakkan martabat manusia. Di negeri sendiri kita menemukan banyak kisah yang merendahkan martabat. Itu bisa terjadi di rumah, sekolah, kampus, kantor, dan institusi lainnya.

Solusi terbaik untuk meredam bangsa lain tidak menginjak-injak kedaulatan bangsa adalah dengan tidak menginjak-injak harga diri bangsa sendiri di tanah air.

Bila martabat bangsa ditegakkan di negeri sendiri, bangsa lain tak sembarangan berani menghina bangsa kita. Kita harus memulainya di negeri ini. “Apa yang kau inginkan dilakukan orang lain kepadamu, lakukanlah itu kepada orang lain,” begitu rangkuman The Golden Rule… Semoga Bermanfa’at.
Ttd: Wong Edan Bagu

Tips Mengangkat Harga Diri:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by Djaka Tolos

Bagaimana mengangkat harga diri ketika kita terpuruk atau dalam kondisi sulit? Adakah prinsip yang perlu dipertimbangkan tentang harga diri sehingga pada kondisi sulitpun kita tidak merasa menjadi
sosok yang tidak berharga?

Pada artikel berjudul Harga Diri Harus Diperjuangkan, saya menuliskan bahwa dalam diri kita ada sifat kekekalan; nilainya tidak berubah. Sifat kekekalan ini tidak bisa digusur oleh sesuatu yang bersifat materi, status sosial, maupun penampilan: uang, harta, jabatan, popularitas, kesuksesan dan perawakan. Seburuk apapun status sosial seseorang, sifat kekekalan ini melekat pada dirinya.

Disengaja atau tidak, sifat kekekalan sering diabaikan. Bahwa diri begitu berharga sering dilupakan. Akibatnya, kita malu, kita tidak punya rasa percaya diri, kita tidak punya keberanian, kita sungkan bicara di hadapan orang karena kondisi ekonomi yang sulit, tidak sukses, tidak punya pekerjaan yang baik, atau tidak punya status sosial yang baik. Etika kita didikte oleh keadaan ekonomi, status sosial atau kegagalan kita. Tunggu dulu. Itu adalah konsep-konsep yang salah tentang penilaian diri. Anda dan saya harus berusaha mengangkat martabat kita masing-masing. Harga diri harus diraih.

Berikut ada lima (5) langkah untuk mengangkat harga diri; tips yang membuat Anda harus putar otak.

Pertama, pahamilah bahwa Anda adalah ciptaan Tuhan.

Anda sangat berharga. Sekalipun tubuh Anda terbuat dari debuh tanah, tetapi kita adalah ciptaan paling berharga. Tuhan Yang Maha Esa memberikan hidup dan menanamkan kekekalan dalam diri Anda. Harga diri Anda tak ternilai dan ini tidak dapat digusur oleh uang, kekayaan, harta, jabatan, keberhasilan, kesuksesan, atau ketenaran.

Kedua, Anda harus berjuang untuk mengangkat harga diri Anda.

Sekalipun secara natur sifat kekekalan melekat pada diri Anda, itu tidak berarti Anda tidak berusaha mengangkat martabat. Anda belum mencapai manusia seperti yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Esa. Potensi yang tersimpan dalam diri Anda belum tergali seluruhnya. Anda harus mengeksplorasi nilai-nilai yang berharga dalam diri Anda dan hidup sesuai dengan etika-etika yang luhur dan hukum alam.

Ketiga, singkirkan atau bendunglah segala tindakan yang mengandung atau yang bisa menyulut pelecehan harga diri.

Tindakan Anda atau tindakan orang lain bisa mengandung benih pelecehan harga diri. Apakah itu di rumah, kantor, pertemuan-pertemuan sosial, bahkan pertemuan yang spontan di jalan, tindakan yang merendahkan harga diri bisa terjadi. Kata-kata dan tindakan, disadari atau tanpa disadari, bisa meremehkan martabat orang. Berusahalah agar martabat orang lain dan martabat Anda sendiri tidak direndahkan. Bila ada yang melakukannya, berusahalah untuk mencegahnya.

Keempat, mulailah mengangkat harga diri Anda dan harga diri
orang lain.

Bila Anda sebagai pimpinan atau atasan, terapkanlah itu di kantor Anda. Tidak mudah meminta orang lain menghormati harga diri orang lain kecuali Anda sendiri juga menghargai eksistensi orang lain. Berusahalah untuk terus menjaga harga diri. Semangat Anda jangan luntur hanya karena orang lain tidak mau menghormati harga diri.

Mencius berkata, “Tinggal di rumah yang penuh kebajikan, berdiri di tempat yang layak dan berjalan di jalan kebenaran adalah jalan orang benar. Jika ambisinya terpenuhi, ia akan memimpin orang lain mengikuti Jalannya. Jika ambisinya tidak terpenuhi, ia akan melaksakan Jalannya sendirian.”

Kelima, carilah pengertian tentang harga diri. Anda bisa membaca buku-buku tentang harga diri.

Bila Anda sebagai atasan atau pimpinan di kantor, Anda bisa meminta agar pelatihan tentang harga diri diberikan kepada pekerja. Wawasan bisa terbuka kalau ada pencerahan. Bisa juga Anda mendiskusikan topik harga diri dengan keluarga atau teman-teman Anda.

Melalui diskusi, benih bisa tertabur. Bila Tuhan menghendaki, benih yang Anda tabur bisa merubah hidup orang lain. Kapan benih itu tumbuh- serahkanlah itu kepada Tuhan.

Semoga tips ini bisa membantu untuk mengangkat harga diri Anda.
Ttd: Wong Edan Bagu

Peran Uang dan Harta dalam Kehidupan:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by Djaka Tolos

Uang dan harta adalah topik menggiurkan. Hampir segala hal memerlukan uang. Membeli kebutuhan pokok, kebutuhan sekunder, sampai kebutuhan yang luks- semuanya memerlukan uang. Untuk membeli beras, daging, ikan, susu, pakaian- Anda pakai uang. Dengan uang Anda bisa membiayai pendidikan anak, membayar biaya pengobatan, membayar tagihan listrik, telepon, air, membayar cicilan rumah, cicilan mobil, membeli sofa, tempat tidur, lemari, meja, kursi; dengan uang, Anda bisa menonton film, makan di restoran, menonton pagelaran musik klasik dan liburan ke luar negeri.

Dengan uang juga, Anda mengumpulkan harta: membeli mas, membeli tanah, membeli property dan berinvestasi. Dengan uang, Anda memulai bisnis baru, membantu yatim piatu, orang sakit, dan orang susah. Bahkan untuk menyeimbangkan hidup jasmani dengan hidup rohani, Anda memerlukan uang.

Dengan uang, Anda bisa membeli Kitab Suci, membeli buku-buku rohani, memberikan perpuluhan, kolekte, zakat, atau donasi kepada institusi agama. Dengan uang, Anda mungkin mengumpulkan harta di surga.

Uang bukan hanya memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tertier, sosial dan rohani, tetapi uang bisa juga mengangkat ego. Dengan memiliki uang, harga diri bisa terangkat, rasa percaya diri bertambah, berani mengeluarkan pendapat, berbicara di muka umum, dan berani mengambil tugas-tugas sosial.

Sebaliknya, bila tak punya uang orang bisa minder, rasa percaya diri bisa berkurang, bisa diam seribu bahasa dalam pertemuan dan tidak berani bicara; muncul rasa takut untuk terlibat pada aktifitas-aktifitas sosial. Begitu jauhnya peran uang, suami dan isteri bisa bercerai bahkan ada yang meninggalkan Tuhan yang Maha Esa.

Ironisnya, karena uang juga orang berperilaku ‘aneh’. Etika-etika yang baik ditinggalkan. Ada yang mau disuruh melakukan apa saja- tidak perduli apakah itu benar atau salah. Karena uang, ada yang mau menjadi penjilat, pura-pura bersikap sopan, tidak berani mengemukakan kritik, ‘menjual diri’, melakukan hubungan seks dengan siapa saja, melakukan kejahatan bahkan sampai membunuh orang lain.

Oleh karena uang berperan penting dalam kehidupan, kami menyajikan berbagai artikel seputar uang dan harta di halaman ini sebagai bekal bagi putra-putri Indonesia untuk memahami sumber uang, harta, dan kekayaan, bagaimana mengelola uang, mengumpulkan harta, menyimpan harta di surga, dan memahami akhir dari pencarian dan penumpukan harta.
Semoga Bermanfa’at
Ttd: Wong Edan Bagu

Daya Tarik Uang:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by Djaka Tolos

Daya tarik uang luar biasa. Bahwa uang itu menggiurkan adalah fakta yang tidak dapat dibantah. Uang bisa membuat orang senang. Banyak urusan jadi lancar asal ada uang. Siapapun bisa tergoda. Bahkan seandainya ada artis secantik Agnes Monika berjalan telanjang di jalan dan pada jalan yang sama ada truk yang menghamburkan uang ke jalan, orang akan memilih mengambil uang dari pada melihat artis telanjang.

Bahwa uang menggiurkan saya alami ketika saya sedang melakukan pengecekan barang yang telah diperbaiki vendor. Kisahnya terjadi pada tahun 1990. Saya baru ditugaskan kembali di kantor Jakarta setelah menjalani tugas di lapangan lepas pantai, dan salah satu tugas rutin saya adalah memeriksa barang yang telah diperbaiki vendor sebelum dikirim ke lapangan.

Sesuai prosedur, setiap barang yang diperbaiki oleh vendor di Jakarta harus diperiksa oleh Engineer sebelum dikirim ke lapangan. Saya dan vendor membuat janji untuk memeriksa barang. Sesuai janji, kami kemudian sama-sama berangkat ke workshop.

Di depan lift saya melihat wajah vendor. Wajahnya kelihatan stress. Ada ‘goresan-goresan’ tekanan para klien yang meminta uang sebelum melakukan apa-apa. Saya bersikap biasa saja dan tidak menggunakan bahasa tubuh untuk memberi signal ke vendor.

Sebelum pintu lift terbuka, saya mencuri pandang ke wajah vendor sekali lagi. Matanya cukup tajam melihat gerak gerik saya; seolah-olah ia tidak mau salah ‘membaca pesan.’ Keluar dari lift, wakil vendor naik mobilnya sendiri dan saya naik mobil perusahaan.

Setibanya di workshop, tiba-tiba vendor itu mendekat dan menyelipkan amplop ke tangan saya. Saya tahu amplop itu berisi uang dan daya tarik uang ini sulit saya tolak. Ibarat lembu dicucuk hidung, saya terima saja. Saya tidak mengucapkan terima kasih dan juga tidak bertanya pada diri sendiri apakah layak mendapatkan emplop itu.

Belum terpikir melakukan nasihat Confucius.
Dalam bukunya The Great Learning,
Confucius pernah mengatakan,
“Kalau kamu mendapatkan
hadiah, tanyalah apakah
kamu pantas
mendapatkannya.”

Saya mengecek electric motor dan alat itu berfungsi dengan baik. Surat pemeriksaan bahwa electric motor itu layak dipakai saya tanda tangani dan minta agar barang itu dikirim secepatnya ke lapangan. Kemudian, saya kembali ke kantor.

Di mobil saya membuka amplop yang diberikan. Ada Rp40.000 atau kira-kira Rp600 ribu uang sekarang kalau dibandingkan dengan nilai dollar saat itu. Senang mendapat uang dengan hanya mengecek barang tanpa ada ‘aba-aba’ ke vendor. Itulah pertama kalinya saya menerima amplop dari vendor, yang memberikan pelajaran bahwa daya tarik uang begitu besar dan sulit ditolak.
Ttd: Wong Edan Bagu

Rahasia Keampuhan Nasihat:

Posted in Uncategorized on 27 Maret 2014 by Djaka Tolos

Bagi sebagian guru atau Ustadz, kadang mereka merasakan kesulitan dalam menasihati murid-muridnya yang membandel. Dan tidak sedikit pula para orang tua sekarang juga merasakan begitu sulitnya menasihati anak. Bahkan kita sering menjumpai sang anak justru sering membantah nasihat orang tuanya. Entah siapakah yang perlu disalahkan dalam proses tarbiyah yang ‘gagal’ seperti ini. Apakah mereka (para guru, ustadz atau orang tua) yang gagal memahami retorika menasihati anak? Ataukah anak-anak sekarang memang sulit menerima nasihat, karena saking parahnya kerusakan pergaulan masa kini?.

Sementara itu, kita kadang merasa tersentuh hati tatkala mendengarkan nasihat-nasihat berharga dari seorang ustadz atau orang yang kita hormati lainnya. Namun di saat yang lain, hati kita seolah-olah tidak bisa tersentuh dengan nasihat. Kata-kata yang meluncur dari lisan guru, ustadz, orang tua, atau mungkin teman dekat kita terasa hambar di telinga. Pepatah mengatakan “ibarat masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri” artinya nasihat itu berlalu begitu saja tanpa sempat mengendap di hati. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah hati kita sudah kadung keras, hingga sulit menerima nasihat? Ataukah orang yang memberi nasihat, kurang pintar mengolah kata?

Memang hati yang keras itu biasanya sulit menerima nasihat dan ilmu. Tapi sebuah nasihat itu akan lebih mudah diterima, manakala sang pemberi nasihat memiliki power of spiritual atau kekuatan spiritual berupa kejujuran dalam memberikan nasihat. Kejujuran nasihat yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah kesesuaian antara yang di ucapkan dengan yang diamalkan.Dan kita semua sepakat bahwa nasihat itu akan lebih mengena dan menyentuh hati, kalau betul-betul bersumber dari hati yang ikhlas.

Ada kisah menarik yang bisa kita ambil hikmahnya berkaitan dengan permasalahan ini. Diceritakan bahwa Hasan Al-Basri duduk dalam majelisnya, dan biasanya setiap hari ia sering mengadakan majelis ditempat itu juga. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam majelisnya yang biasanya majelis itu sering didatangi oleh ahli dunia dan perdagangan. Ia lalai dengan menjelis ilmu yang diadakan oleh Hasan Al-Basri, dan ia tidak menoleh sedikitpun dengan apa yang disampaikan oleh Hasan Al-Basri. Hingga suatu hari ia ingin mengetahui apa yang disampaikan Hasan Al-Basri, maka dalam hati ia berkata: “Dalam majelis Hasan Al-Basri diceritakan tentang surga, neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan ditanamkan sikap zuhud terhadap dunia (memfokuskan segala karunia Allah untuk akhirat)”. Maka perkataan ini menancap dalam hatinya, lalu ia pun berkata: “Mari kita mendatangi majelis Al-Hasan Al-Basri!” Orang-orang yang duduk dalam majelis ilmu berkata kepada Hasan Al-Basri: “Wahai Abu Said ini adalah Habih Al-Ajami menghadap kepadamu, nasehatilah ia.”

Lalu Habib Al-Ajami menghadap Hasan Al-Basri, dan Hasan Al-Basri pun menghadap kepadanya kemudian menasehati Habib Al-Ajami, ia ingatkan dengan Jannah, ia takut-takuti dengan neraka, ia hasung untuk melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia.
Maka Habib Al-Ajami pun terpengaruh dengan nasehat itu, dan langsung bersedekah 40 ribu dinar. Ia pun berlaku qona’ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia terus beribadah kepada Allah hingga meninggal dunia. [Hilyatul Aulia 6/149 dengan sedikit perubahan, dan lihat Siyar ‘Alamun Nubala 6/144]

Dari sepenggal kisah di atas, kita melihat kejujuran Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) dalam dakwahnya, selamatnya tujuan dakwahnya, hingga nasihatnya membekas dalam hati Habib Al-Ajami. Nasihat yang jujur itu telah memindahkannya dari riuh suara di pasar dan perdagangan, hingga menjadi sorang ahli ibadah dan ahli zuhud yang mempunyai do’a yang mustajab (doa yang dikabulkan) dan karamah yang mulia. Ia seorang ahli bersedekah dan berinfak di jalan Allah Ta’ala.

Alangkah indahnya perkataan Malik bin Dinar mengenai hal ini: “Kejujuran itu nampak dalam hati yang lemah, lalu pemilik hati itupun mencarinya, dan Allah menambahnya hingga menjadikannya berbarakah pada dirinya, dan menjadilah perkataan/nasihatnya itu obat bagi orang-orang yang bersalah”. Lalu Malik berkata: “Hasan Al-Basri, Said bin Jubair dan semisal mereka itu, adalah mereka yang Allah hidupkan perkataannya kepada sekelompok manusia” [Hilyatul Aulia 2/359]

Begitu pula tatkala Zainal Abidin Ali bin Al-Husain mendengar nasehat Hasan Al-Basri, maka ia pun berkata: “Maha suci Allah ini adalah perkataan orang yang jujur” [Akhbarul Hasan Al-Basri Li Ibnul Jauzi hal. 2]

Salah seorang ulama ditanya: “Mengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Maka ia pun menjawab : “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahluk” [Sifatu Sofwah karya Ibnul Jauzi 4/122]

Dan diantara sebab-sebab seseorang mendapatkan manfaat dari nasehat-nasehat Hasan Al-Basri dan dari majelis-majelisnya, bahwasanya Al-Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) adalah panutan yang baik, dan tidaklah termasuk orang-orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan.

Dikatakan kepada salah seorang dari teman Hasan Al-Basri: “Apakah sesuatu yang menyebabkan Hasan Al-Basri mencapai kedudukannya seperti ini? Padahal di antara kalian terdapat para ulama dan ahli-ahli fikih? Teman Hasan Al-Basri itupun berkata: “Adalah Al-Hasan Al-Basri jika memerintahkan suatu perkara maka ia adalah seorang manusia yang paling mengamalkan terhadap apa yang ia perintahkan, dan jika ia melarang dengan suatu kemungkaran maka ia adalah seorang manusia yang paling jauh meninggalkan larangan itu” [Tablis Iblis karya Ibnul Jauzi hal. 68].

Begitulah Hasan Al Basri dengan kejujurannya dalam memberikan nasihat. Nasihat yang jujur akan mampu menyentuh dan menggerakkan hati setiap pendengarnya. Dan Allah SWT mengingatkan orang yang tidak jujur dalam nasihatnya dengan firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah/2 : 44). (Ilham)

Ttd: Wong Edan Bagu

SIAPAKAH ANDA..?!

Posted in Uncategorized on 27 Maret 2014 by Djaka Tolos

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata,”Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yang PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan tulisan ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.

He he he . . . Edan Tenan, Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah selalu Luur…. Selamat pagi selamat beraktifitas, Semoga Sukses.

Ttd: Wong Edan BaGu

Kemana Hendak Lari ??

Posted in Uncategorized on 27 Maret 2014 by Djaka Tolos

Kemana Engkau hendak pergi dari kematian (QS 81:26). Sungguh kematian yang kamu lari dari padanya pasti akan kamu temui (QS 62:8). Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun engkau bersembunyi di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS 4:78). Malaikat Maut yang diserahi tugas mencabut nyawamu akan mematikanmu untuk dikembalikan kepada Rabbmu (QS 32:11).

Maka apabila ajal kematian telah datang , tidaklah dapat mengundurkan barang sesaatpun dan tidak pula medahulukannya (QS 16:61). Jika nafas seseorang telah mendesak sampai ke kerongkongan (QS 75:26), Malaikat akan memukul dengan tangannya kepada orang yang sedang sakaratul maut seraya berkata “Keluarkanlah Nyawamu” (QS 6:93). Dan itu terjadi jika orang orang tersebut adalah orang dlolim dalam tekanan-tekanan sakratulmaut.

Maka jika orang tersebut adalah orang yang bertakwa , Malaikat akan mencambut nyawanya dengan keadaan yang baek , dan Malaikatpun berkata kepada mereka: “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan(QS 16:31-32).

Dan disaat saat kematiannya orang orang yang benar benar istikomah dalam ketaatan, para malaikat akan turun sambil menghibur dan berkata : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS 41:30). Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta(QS 42:31) Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS 42: 32).

“Dan siapakah manusia yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,dan mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS 41:33) “
Salam Rahayu _/\_
Ttd: Wong Edan BaGu

%d bloggers like this: