NAGASASRA DAN SABUK INTEN SERI. 4

CERITA LEGENDA RAKYAT DALAM SERIAL
NAGASASRA DAN SABUK INTEN Seri ke. 4
Karya SH Mintardja.Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

 

PENJAWI segera mulai ceritanya, ”Lusa aku dan Adi Jaladri berangkat ke Pamingit, beberapa saat setelah Ki Ageng Sora Dipayana meninggalkan Banyubiru. Namun demikian, kami masih dapat mendahului laskar Pamingit itu. Kami titipkan kuda kami dirumah paman Derpa, dan mulailah kami dengan pekerjaan kami. Ki Ageng Lembu Sora ternyata benar-benar seorang yang memiliki ketangkasan berpikir. Kami terkejut ketika kami diketahui, bahwa beberapa bagian laskarnya langsung menerobos lewat Randu Putih, dan menduduki Kepandak. Sedang induk pasukannya masih tetap menuju pusat pemerintahan Pamingit, dan setelah terlibat dalam bentrokan tak berarti, induk pasukan itu bermalam di Sumber Panas. Ini adalah suatu keadaan yang sama sekali tak diduga oleh golongan hitam. Karena itu, dengan mudahnya mereka dapat didesak dari tempat-tempat itu.

Tetapi karena itu pulalah maka mereka agaknya menjadi marah. Menjelang pagi, aku dan adi Jaladri melihat-lihat pertempuran yang akan berkobar di Kepandak. Kami berjanji bahwa malam hari kami bertemu di rumah Paman Darpa, setelah kami mendapat gambaran dari kedua garis pertempuran itu. Pekerjaan kamipun menjadi agak sulit, sebab kami tidak mau diketahui oleh kedua belah pihak. Untunglah bahwa aku dapat menghubungi beberapa orang Banyubiru yang berada di dalam Laskar Lembu Sora, ketika mereka sedang mengambil air untuk keperluan laskar itu. Tetapi pekerjaan Adi Jaladri agak lebih sulit.”

Penjawi berhenti sejenak. Ia memandang kepada Jaladri, katanya, ”Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripada Adi sendiri. Nah ceriterakanlah.”

Jaladri mengangguk. Sambil tertawa kecil ia berkata, ”Bukan lebih sulit. Tetapi aku justru lebih beruntung.”

Jaladri berhenti sebentar lalu meneruskan, ”Pagi-pagi buta aku mencoba untuk mencari tempat yang baik. Aku ingin tahu, siapakah yang berada di dalam kedua pasukan yang akan bertempur itu. Tetapi baru saja aku mendapat tempat yang baik menurut pikiranku, tiba-tiba terdengar suara berdesir di belakangku. Aku terkejut, dan aku menjadi berdesir ketika tiba-tiba aku ketahui, menurut ciri-ciri yang pernah aku dengar, seorang tua, bertubuh bongkok dengan wajah yang mengerikan.”

”Bugel Kaliki?” potong Wanamerta.

”Ya, Bugel Kaliki,” sahut Jaladri. ”Dengan mata yang mengandung kebencian ia memandang kepalaku. Akhirnya ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, – “Hai kelinci yang malang. Siapakah namamu, dan apakah kerjamu di sini?” – Aku menjadi gemetar. Aku tahu siapakah orang itu. Karena itu tiba-tiba terbayanglah di dalam otakku, gambaran Yamadipati datang untuk menagih janji. Mengambil kembali nyawa yang dititipkan di dalam raga ini.”

”Apa yang dikerjakan oleh hantu itu? – bertanya Sendang Papat tidak sabar.

”Menakut-nakuti aku,” jawab Jaladri. ”Dan aku benar-benar takut kepadanya. Apalagi kemudian ia bertanya kepadaku pula – Kenalkah kau kepadaku?” ”Aku tahu bahwa aku bukan musuhnya. Karena itu aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera aku menarik kerisku, dan langsung aku menusuk ke arah telungkup. Nah, kau lihat jalur-jalur di mukaku ini?”

”Tetapi kau tetap hidup,” sela Bantaran ingin tahu.

”Ya. Aku tetap hidup,” sambung Jaladri, ”Bukan karena aku sekarang telah mampu melawan Bogel Kaliki, atau aku dapat melepaskan diri dari tangannya.”

”Ya. Lalu kenapa?” Sendang Parapat menjadi tidak sabar, ”Apakah kau dibiarkan pergi?”

Jaladri tertawa. ”Jangan terlalu tergesa-gesa. Dengar urutan ceriteraku. Aku kemudian bangkit, dan dengan tekad yang bulat aku akan mati sebagai laki-laki. Berjuang dengan tenaga yang ada padaku. Tetapi tiba-tiba Tuhan menyelamatkan aku. Ketika Bugel Kaliki itu dengan marahnya menggeram, dan hampir menerkam kepalaku, terdengar suara di belakangku. -Jangan Kaliki. Jangan mengganggu anak-anak. Bugel Kaliki terkejut. Aku juga terkejut. Kalau seseorang dapat hadir di tempat itu tanpa diketahui oleh Bugel Kaliki, maka aku mengharap bahwa setidak-tidaknya orang itu akan dapat menyelamatkan aku.”

”Siapakah orang itu?” tanya Sendang Parapat.

”Aku tidak tahu,” jawab Jaladri.

”Hus!” sahut orang yang berada di pendapa itu hampir berbareng. ”Jangan teka-teki.”

”He…” jawab Jaladri, ”Siapa yang berteka-teki? Aku benar-benar tidak tahu, Kakang Penjawi juga tidak tahu. Siapakah dia.”

Arya tertarik pada ceritera itu. Tampak alisnya berkerut. Demikian juga Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain.

”Apa yang dilakukan?” tanya Arya Salaka kemudian. Jaladri mengingsar duduknya, ia meneruskan, ”Bugel Kaliki terkejut atas kehadirannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memecahkan kepalaku. Tetapi segera ia bersiaga untuk menghadapi musuh barunya. -Jangan ganggu aku- ia berdesis. Tetapi orang yang datang itu tertawa. Suaranya nyaring. -Aku mengembara dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan. Karena itu akupun kadang-kadang melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa tujuan.

Antara lain mengganggumu.- Bugel Kaliki benar-benar marah. Terdengar suaranya menggeram seperti serigala. Namun orang asing itu masih tertawa-tawa saja. Demikianlah akhirnya keduanya terlibat dalam satu perkelahian tanpa kata-kata lain. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menilai pertempuran itu. Mereka bergerak-gerak dengan cepatnya. Kadang-kadang mereka melontarkan diri mereka seperti bintang beralih. Sambar-menyambar. Aku pernah menyaksikan dua ekor elang berkelahi. Gagah benar. Namun itu lebih cepat seperti Sikatan. Si Bongkok itupun sungguh luar biasa. Aku heran kenapa bongkoknya itu sama sekali tidak mengganggu.” (Bersambung)-c

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 572

JALADRI diam sejenak. Kemudian meneruskan ceriteranya, ”Melihat perkelahian itu aku menjadi malu pada diri sendiri. Apakah yang terjadi seandainya aku yang harus bertempur melawan Bugel Kaliki itu. Namun demikian aku tidak mau lari. Aku akan menunggu sampai pertempuran itu berakhir.Kalau penolongku itu kalah dan binasa, biarlah aku binasa pula. Tetapi kalau ia menang, biarlah aku sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi pertempuran itu kemudian terganggu. Aku melihat bayangan lain yang datang di tempat itu pula. Bersamaan dengan kehadiran orang kedua itu, aku lihat Bugel Keliki berteriak nyaring, untuk kemudian melontar mundur dan lenyap di dalam keremangan pagi. Orang yang bertempur melawannya sama sekali tidak mengejarnya. Ia, sekarang berhadapan dengan orang yang datang terakhir. Namun agaknya mereka tidak akan bertempur. Bahkan mereka berdua tampaknya seperti dua orang sahabat yang baru bertemu. Mereka saling mengguncang tangan masing-masing.”

”Siapakah yang datang kemudian? Juga tidak tahu?” tanya Wanamerta.

Jaladri tertawa. Penjawi pun tertawa.

”Kiai…” jawab Jaladri, ”Kepada orang yang terakhir itu, aku sudah mengenalnya. Bahkan kalian juga mengenalnya.”

”Ya, siapa? Kalau kau sudah mengenal, kami mengenal pula.” Sendang Parapat semakin tidak sabar. ”Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Jaladri.

”Oh….” Terdengar orang-orang yang mendengar bergumam. Mereka menarik nafas lega, seolah-olah merekalah yang terlepas dari ancaman maut. Jaladri berhenti pula untuk sesaat. Kemudian ia meneruskan, ”Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak kukenal itu. Tetapi aku tidak sempat bertanya tentang dirinya sebab kemudian Ki Ageng Sora Dipayana bertanya kepadaku, -Apa kerjamu di sini Jaladri?”

Aku menjadi ragu sebentar. Tetapi kepada Ki Ageng Sora Dipayana aku tak dapat berkata lain, kecuali mengatakan yang sebenarnya. Mula-mula aku menjadi cemas, jangan-jangan hal itu tak dikehendaki oleh Ki Ageng, namun tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berkata, -Marilah. Hari hampir pagi. Sebentar lagi pertempuran akan dimulai.- Aku tak dapat membantah. Aku ikuti Ki Ageng kembali ke pasukan Pamingit. Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana berada di dalam laskar yang menduduki Kepandak. Laskar ini dipimpin oleh Wulungan. Sedang menurut Ki Ageng Sora Dipayana, induk pasukan yang berada di Sumber Panas dipimpin langsung oleh Ki Ageng Lembu Sora sendiri.

Ketika kami hampir sampai, aku hanya mendengar orang asing itu berkata, -Kau biarkan anakmu sendiri? – -Tak ada pilihan lain- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. -Kalau aku tak ada di sini, dan ada salah seorang dari setan-setan itu datang kemari, seperti apa yang dilakukan oleh Bugel Kaliki itu, maka laskar ini akan habis ludas.- -Kalau mereka beberapa orang menempatkan diri mereka untuk melawan anakmu?- jawab orang asing itu. -Ia membawa laskar lebih banyak. Aku sudah menasehatkan untuk bertempur dalam kelompok-kelompok, untuk menghadapi mereka. Dengan senjata jarak jauh atau senjata bertangkai panjang. Dan Lembu Sora telah menyiapkan laskar panah sebaik-baiknya.-

-Belum cukup- jawab orang asing itu. – Untuk sementara, tak ada cara yang lebih baik. Tetapi aku percaya, kalau Lembu Sora berotak cair, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat mengatasi keadaan- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Ternyata ia kemudian meneruskan, -Soalnya terserah kepada nasibnya. Mudah-mudahan Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahannya.-

-Kalau begitu…- orang asing itu menjawab, -biarlah aku ikut serta dalam permainan ini. Aku akan bekerja bersama-sama dengan anakmu.-

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut, sampai langkahnya terhenti. – Kau…- terdengar suaranya dalam. Orang itu mengangguk, lalu terdengarlah ia tertawa. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menjawab orang itu telah melontarkan dirinya sambil berkata, -Sebelum pagi, mudah-mudahan aku tidak terlambat.-

Ki Ageng Sora Dipayana hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Perlahan-lahan terdengar gumamnya, -Terimakasih, terima kasih.-

Tiba-tiba saja Ki Ageng Sora Dipayana terkejut oleh suara kentongan jauh di Pamingit. Agaknya laskar orang-orang hitam itu telah mempersiapkan diri mereka. -Ayolah, sebelum kita digilas oleh hantu-hantu yang tak kenal perikemanusiaan itu.- Aku mengikuti di belakang Ki Ageng. Di Kepandak, laskar Pamingitpun telah siap. Di hadapan mereka berdiri dengan gagahnya, Wulungan. Di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang, sedang dilambungnya tampaklah sebilah keris. Ketika ia melihat Ki Ageng Sora Dipayana datang, segera ia membungkukkan dirinya, tetapi ketika ia melihat aku, tampaklah perubahan di wajahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tahu perasaannya, katanya, -Jangan hiraukan kehadiran Jaladri. Aku yang membawanya. Ia tidak akan mengganggu kalian. – Wulungan tidak membantah, ia hanya mengangguk hormat.

Ketika cahaya merah di atas bukit-bukit sebelah timur telah semakin merata, mulailah laskar Pamingit bergerak. Laskar inipun seperti laskar yang dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, bergerak dalam kelompok-kelompok, dan bersenjata jarak jauh. Agaknya mereka benar dipersiapkan untuk menghadapi setiap tokoh dari golongan hitam itu, kelompok demi kelompok. Aku sendiri, yang tidak tergabung dalam laskar itu, hanya selalu mengikuti kemana Ki Sora Dipayana pergi. Dan Ki Agengpun sama sekali tidak keberatan. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 573

JALADRI meneruskan ceriteranya, ”Akhirnya Ki Ageng itu memberi aku sebatang tombak sambil berkata, ”Kalau kau terpaksa mempertahankan dirimu Jaladri, pergunakan tombak ini. Kerismu terlalu pendek untuk melawan Lawa Ijo atau Jaka Soka, atau kalau kau bertemu sekali lagi dengan Bugel Kaliki.- Hatiku jadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Laskar Pamingit dapat melawan mereka dengan kelompok-kelompok mereka. Aku bagaimana?”

Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana memaklumi perasaanku, karena itu terdengar kata- katanya – Kaupun harus membentuk kelompok tersendiri Jaladri. Nah, akulah orang yang termasuk dalam kelompok kecilmu.- Aku menundukkan kepalaku, karena malu. Ki Wulungan membawa laskarnya, melingkar ke Selatan dengan gelar Jinantra Sawur. Lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak bersama-sama dalam satu garis yang menebar. Sungguh suatu yang bagus untuk melawan toko-tokoh yang biasa bertempur perseorangan dan mempunyai kesaktian yang luar biasa seperti tokoh- tokoh golongan hitam. Ketika terdengar sebuah tengara dari Wulungan, maka dengan kecepatan yang sedang, laskar itu langsung menyerbu kedalam pemusatan laskar-laskar hitam. Dalam sepintas dari laskar hitam yang disediakan untuk melawan mereka. Namun diujung laskar golongan hitam itu aku melihat dua orang yang mengerikan. Seorang yang sudah aku kenal Bugel Kaliki, dan yang seorang lagi, aku dengar namanya dari Ki Ageng Sora Dipayana, bernama Nagapasa.

”Nagapasa…?” Mahesa Jenar mengulang nama itu.

”Ya,” sahut Jaladri.

”Melihat mereka berdua Ki Ageng Sora Dipayana memanggil Wulungan, katanya, -Wulungan, lawanlah Bugel Kaliki. Bawalah sedikitnya dua kelompok laskar panahmu. Jaga, jangan sampai salah seorang dari kamu mendekat, dan jagalah supaya kau dan kelompokmu tidak kehabisan tenaga. Orang itu mampu bertempur sehari penuh dengan kesegaran yang sama, bahkan berhari-hari.- Wulungan mengangguk sambil menjawab, -Baik Ki Ageng, akan aku bawa tiga kelompok terkuat dari anak buahku. Yang lain akan dipimpin oleh adi Gupita, melawan laskar hitam itu.- -Bagus- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Kemudian kepadaku Ki Ageng itu berkata, – Jaladri. Aku harus melayani musuh yang tak dapat diduga-duga tabiatnya. Ia dapat berlaku lunak, tetapi ia dapat bengis seperti setan. Karena itu lebih baik bagimu untuk memperkuat kelompok-kelompok yang akan dibawa oleh Wulungan melawan musuhmu pagi tadi.- Aku tak dapat membantah, meskipun aku tahu bahwa Wulungan agak bimbang menerima titipan itu. Ketika aku berjalan di samping Wulungan menuju kekelompok pertama, aku berkata kepadanya, -Jangan curigai aku. Aku tak akan mengganggumu.

Sebab hidup matiku sekarang berada di dalam kerjasama antara kita dan laskarmu. – Wulungan tersenyum. Jawabnya, -Aku mempercayaimu. Aku kira setiap orang didalam laskar Arya Salaka berlaku jantan seperti pimpinan mereka. – Aku tidak tahu maksudnya. Apakah ia benar-benar memuji, ataukah ia sedang menyindir aku. Tetapi kemudian kami tak sempat berkata-kata lagi. Wulungan memerintahkan beberapa orang untuk memberitahukan tugas-tugas mereka. Tiga kelompok kemudian saling mendekat dan menuju satu sasaran, sedang yang lain masih di tempatnya masing-masing, di bawah pimpinan seorang yang cukup mempunyai wibawa, Gupita. Laskar hitam itupun kemudian maju menyongsong lawan mereka. Mereka sama sekali tidak mempergunakan gelar perang, atau gelar mereka mirip dengan gelar Gelatik Neba. Namun tampaklah betapa mereka percaya pada diri mereka masing-masing. Terbayanglah diwajah mereka, kebiadaban dan keganasan yang pernah mereka lakukan dan akan mereka lakukan. Didalam mata mereka seolah-olah tampaklah goresan-goresan nama-nama dari korban-korban mereka yang berpuluh-puluh jumlahnya. Aku pernah mengalami beberapa kali pertempuran. Namun kali ini aku benar-benar berdebar-debar. Disekitarku berjalan orang-orang yang kurang aku kenal, baik tabiatnya maupun cara-cara mereka mempergunakan senjata. Akupun tidak mengetahui apakah mereka menganggap aku lawan mereka atau musuh mereka. Namun demikian akhirnya aku harus melekatkan kepercayaan kepada diri sendiri. Betapapun ringkihnya aku ini, namun aku hanya dapat mengeluh dan menyadarkan diri kepada kepercayaan itu, dilambari oleh pasrah diri kepada pepestan, kepada kuasa tangan Yang Maha Kuasa. Demikianlah akhirnya kedua laskar ini bertemu.

Sesaat sebelum pertempuran berkobar, Wulungan berbisik kepadaku, -Jaladri, kami saat ini akan bertempur di atas tanah persawahan. Batang-batang padi ini sebentar lagi akan hancur terinjak-injak oleh kaki-kaki kami. Namun tanah persawahan ini akan memberikan kesegaran dalam jiwa kami. Karena untuk tanah inilah kami sekarang sedang menyabung nyawa. Meskipun batang-batang padi ini akan hancur, namun besok di atasnya akan dapat kami tanami kembali, dengan batang-batang padi yang lebih segar. Sebab kami tebarkan pupuk di tanah ini dengan darah putra-putra terbaik dari tanah ini.- Aku terharu mendengar kata-katanya. Sedang dari matanya terpancar ketulusan hatinya serta kesediaannya berkorban untuk tanahnya. Sesaat kemudian kami dikejutkan oleh teriakan-teriakan ngeri. Orang-orang hitam itu berloncatan sambil memekik-mekik. Senjata-senjata mereka gemerlapan dalam cahaya pagi. Pada saat yang hampir bersamaan, melontarlah senjata-senjata anak- anak Pamingit. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus anak panah bertebaran diudara. Tetapi orang-orang golongan hitam itu memutar senjata mereka menjadi gulungan perisai yang sangat rapat. (Bersambung)-m

Serial Bersambung 28 September 2000 Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 574

DEMIKIANLAH akhirnya pertempuran tak dapat dihindari. Orang-orang Pamingit terpaksa meletakkan busur-busur mereka dan menarik pedang-pedang mereka. Sehingga sesaat kemudian, riuhlah pertempuran itu dengan dentang senjata beradu, pekik yang mengejutkan dari orang-orang golongan hitam itu.

Wulungan dengan kelompoknya langsung menyiapkan diri mereka dan memancing Bugel Kaliki untuk melibatkan dirinya. Anak-anak dalam kelompok ini agaknya benar-benar terpilih. Mereka tidak melemparkan panah mereka berlebih-lebihan. Satu-satu saja, mengarah kepada si Bongkok yang mengerikan itu. Akhirnya marahlah Bugel Kaliki. Seperti serigala yang menggeram, kemudian langsung melompat dan menyerbu kedalam laskar Wulungan. Cepat anak buah Wulungan memencar diri. Mereka menyerang dengan panah mereka. Tak berhambur-hamburan, namun cukup memberi perlawanan yang kuat terhadap hantu dari Gunung Cerme itu.

Bugel Kaliki kemudian menjadi benar-benar marah. Agaknya ia benar-benar tidak biasa mempergunakan senjata. Sehingga ketika anak panah menyambar-nyambar semakin banyak, ia menjadi agak bingung. Dengan demikian, aku menduga bahwa orang itu sama sekali tidak kebal dari senjata.

Tiba-tiba terjadilah suatu yang tidak kami duga-duga. Bugel Kaliki melepas kain panjangnya. Sesaat kemudian kain itupun telah berputar dan menyambar setiap anak panah yang diarahkan kepadanya.

”Gila,” gerutu Wulungan, namun anak buahnya menyerang terus. Bugel Kaliki berloncat seperti kijang, dan sekali-kali ia menyambar orang-orang terdekat. Namun demikian ia menyerang, sehingga ia terpaksa untuk menangkisnya. Demikianlah pertempuran yang aneh itu berlangsung. Meskipun demikian, hantu yang bongkok itu berhasil pula mendapatkan beberapa orang korban. Sungguh suatu kejadian di luar kemampuan untuk mengatakan, apakah yang sudah dilakukannya. Namun Wulungan dengan anak buahnya berjuang dengan gigihnya. Hanya karena jumlah mereka yang sangat banyaklah maka Bugel Kaliki tidak dapat membunuh mereka.

Apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana ternyata benar. Bugel Kaliki itu benar-benar tidak berkurang tenaganya. Ketika matahari telah mencapai puncaknya, orang itu masih saja segar seperti semula. Untunglah bahwa Wulungan telah mengatur anak buahnya, sehingga mereka tidak menumpahkan seluruh tenaga mereka. Berganti-ganti mereka menempatkan diri mereka di garis pertama, sehingga dengan demikian mereka telah menghemat tenaga mereka. Gupita pun ternyata adalah seorang pemimpin yang baik. Ia dapat menguasai laskarnya sebaik-baiknya. Meskipun orang-orang dari golongan hitam itu menyerbu dengan tak teratur, namun mereka tetap melawan dalam gelar yang baik. Pada dasarnya setiap orang dari golongan hitam itu mempunyai kelebihan dari setiap orang di dalam laskar Gupita, namun karena kerja sama mereka lebih rapi serta jumlah mereka lebih banyak, maka merekapun dapat memberikan perlawanan yang cukup.

Sedang di tempat lain, aku lihat Ki Ageng Sora Dipayana terikat dalam pertempuran melawan Nagapasa. Mereka berdua ternyata memiliki banyak kelebihan daripada manusia biasa seperti aku ini.

Melihat cara Ki Ageng bertempur, aku menjadi bangga hati. Seolah-olah terbayang kembali masa kanak-kanakku. Masa Daerah Perdikan Pangrantunan mengalami masa-masa yang cemerlang. Tak seorangpun yang mengganggu perkelahian kedua orang itu. Baik laskar dari golongan hitam maupun laskar Pamingit. Seolah-olah mereka dibiarkan berbuat sesuka hati mereka. Tetapi aku tak sempat menyaksikan lebih lama. Sebab di hadapanku menyambar-nyambar dengan dahsyatnya Si Bongkok dari Gunung Cerme. Aku tidak mau menjadi korban begitu saja. Karena itu, akupun berusaha untuk melindungi diriku sebaik-baiknya. Bahkan ternyata orang-orang Pamingit itupun tidak membiarkan aku terbunuh tanpa pembelaan.

Setiap Bugel Kaliki mencoba menyambar aku, orang-orang Pamingit itupun selalu melindungi aku dengan panah-panahnya, atau dengan pedang-pedangnya. Demikian pertempuran itu berlangsung sehari penuh. Tak dapat dikatakan siapa yang memperoleh kemenangan, selain korban jatuh satu demi satu dari keduabelah pihak. Pertempuran itupun masih belum berkisar dari medan yang sama. Meskipun keduabelah pihak berusaha keras untuk mendesak lawan-lawan mereka. Orang-orang hitam yang marah itu mencoba mengusir orang-orang Pamingit dari Kepandak, sedang orang-orang Pamingit berusaha untuk mendesak orang-orang hitam itu masuk ke dalam kota, atau meninggalkan Pamingit sama sekali. Namun mereka masing-masing terpaksa mengakui kegigihan lawan. Sehingga ketika matahari telah tenggelam di balik ujung-ujung perbukitan di sebelah barat, terasa betapa letih menyusup ke dalam tubuh. Karena itu, ketika terdengar tanda-tanda untuk menghentikan pertempuran, kedua belah pihak yang telah tenggelam dalam kepayahan yang sangat, segera menarik diri mereka masing-masing.

Orang dari golongan hitam, yang biasanya tidak mengenal waktu untuk bertempur, saat itupun agaknya benar-benar telah kehabisan tenaganya. Merekapun segera menarik pasukan mereka, dan mengundurkan diri dari garis pertempuran.

Hanya Wulungan lah yang agak sulit melepaskan diri dari serangan-serangan Bugel Kaliki. Meskipun malam menjadi semakin gelap. Untunglah bahwa orang tua itupun akhirnya merasa perlu untuk menghentikan pertempuran, sebab di dalam gelap malam, panah-panah orang Pamingit itu menjadi semakin tidak jelas, dan dengan demikian Bugel Kaliki merasa bahwa bahayanya menjadi semakin besar. Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan pertempuran pula. Aku tidak tahu, bagaimana mereka berjanji, sehingga mereka masing-masing meninggalkan medan itu pula. (Bersambung)-o

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 575

DEMIKIANLAH pertempuran di hari pertama itu berakhir. Dan berakhir pula ceriteraku. Malam itu aku mohon ijin untuk meninggalkan Pamingit. Sebab aku telah berjanji dengan Kakang Penjawi. Ki Ageng Sora Dipayanapun tidak menahan. Namun demikian Ki Ageng berpesan, – Jaladri. Sampaikan apa yang kau lihat kepada cucuku. Katakan bahwa hari ini, berapa puluh orang dari Pamingit telah jatuh menjadi korban di Kepandak dan mungkin juga di Sumber Panas. Aku mengharap, sebentar lagi Lembu Sora akan mengirimkan orangnya kemari, mengabarkan apa yang telah terjadi. Tetapi yang pasti, bahwa besok akan jatuh pula korban-korban baru. Aku tidak tahu berapa hari pertempuran akan berlangsung. Dan aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit. Salamku buat cucuku, buat Angger Mahesa Jenar serta sahabat-sahabatnya, serta buat Wanamerta yang setia.

Kalau laskar Pamingit tidak mampu lagi bertahan di Kepandak, kami akan mundur ke Pangrantunan, sedang laskar Lembu Sora harus bergabung pula ke sana. – Suara Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menurun – Entahlah. Apakah aku masih akan dapat bertemu dengan cucuku itu. -

Jaladri mengakhiri ceriteranya. Dari wajahnya terbayang perasaannya yang muram. Agaknya pesan Ki Ageng Sora Dipayana itu sangat berkesan di hatinya. Suasana di pendapa itu menjadi sepi hening. Masing-masing duduk dengan tenangnya. Ada sesuatu yang tersangkut di dalam dada mereka. Sehingga akhirnya suasana sepi itu dipecahkan oleh suara Arya Salaka mengejutkan, ”Apa yang kau lihat di Sumber Panas, Kakang Penjawi?”

Penjawi terkejut. Ia mengangkat wajahnya memandang Arya Salaka. Kemudian diperhatikannya satu demi satu setiap wajah dari mereka yang duduk di pendapa itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam iapun menjawab, ”Aku tidak mengalami pertempuran seperti Adi Jaladri. Namun aku dapat menyaksikan sebagian darinya, sedang sebagian aku dengar dari orang Banyubiru yang telah aku hubungi sebelumnya. Di Sumber Panas, Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti pun mempunyai pekerjaan yang berat. Sebab di antara orang-orang hitam yang harus dilawannya terdapat Sima Rodra, Pasingsingan dan Sura Sarunggi.”

”Ketiga-tiganya berkumpul?” potong Arya.

”Ya, ditambah dengan Lawa Ijo dan Jaka Soka,” sambung Penjawi. ”Gila….” desis Wanamerta.

”Ya…” Penjawi meneruskan, ”Karena itulah maka mereka mengalami tekanan yang luar biasa. Untunglah bahwa orang asing yang diceriterakan oleh Adi Jaladri, benar-benar datang ke Sumber Panas. Dari jauh aku tidak dapat melihat bagaimanakah bentuk tubuh serta wajahnya. Namun dari sekian banyak orang, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa orang itu memiliki kesaktian yang tak ada bandingnya. Ia dapat melawan salah seorang dari tokoh hitam itu seorang diri, sedang Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, masing-masing memerlukan beberapa puluh orang untuk membantunya. Apalagi kelompok-kelompok lain. Mereka harus berjuang mati-matian melawan Lawa Ijo dan Jaka Sora.”

Ketika Penjawi berhenti berceritera, kembali pendapa itu menjadi sepi. Sehingga tarikan nafas mereka yang lebih cepat dari biasa, menjadi semakin terang. Sesaat kemudian Penjawi meneruskan, ”Korban berjatuhan. Namun laskar Pamingit jauh lebih banyak dari laskar golongan hitam itu, sehingga pekerjaan orang dari golongan hitam itupun tidak ringan. Meskipun demikian, tampaklah setapak demi setapak mereka mendesak maju. Ki Ageng Lembu Sora terpaksa menarik diri, dan mempergunakan segenap tenaga cadangan yang ada. Sehingga dengan demikian korbannyapun menjadi semakin banyak.

Meskipun beberapa puluh orang dari golongan hitam itu jatuh pula, namun keadaan laskar Ki Ageng Lembu Sora tak menyenangkan. Kekuatan Ki Ageng Lembu Sora telah dikerahkan ketika matahari telah berada sejengkal di atas punggung bumi. Namun karena tekanan yang dahsyat, maka laskar itupun terpaksa menarik diri. Untunglah bahwa senja turun. Sehingga ketika laskar Pamingit telah mempergunakan kekuatan terakhirnya, jatuhlah malam dengan cepatnya. Sungguh suatu pertolongan yang tiada taranya. Ketika itu, laskar Pamingit telah terpaksa meninggalkan Sumber Panas dan mundur beberapa tonggak ke pedukuhan di belakangnya. Aku sekali lagi mencoba mencari orang-orang Banyubiru yang berjanji akan memberi aku beberapa keterangan. Dari orang itulah aku mendengar bahwa orang asing yang tak kukenal itu mencoba memberi beberapa petunjuk kepada Lembu Sora. Ia mengharap setidak-tidaknya besok pagi, laskar Lembu Sora dapat bertahan di tempatnya. Tetapi aku tidak sempat melihat pertempuran hari ini. Mudah-mudahan orang asing itu dapat memberi sekedar nafas kepada laskar Pamingit.”

Penjawi berhenti berceritera. Sekali lagi ia memandang wajah Arya Salaka. Dilihatnya keringat mengalir dari keningnya. Matanya tajam menatap lantai di hadapannya. Pendapa itu kembali digenggam oleh kesepian. Ceritera Penjawi dan Jaladri menumbuhkan perasaan yang aneh. Tidak saja pada Arya Salaka, tetapi juga setiap hati para pemimpin laskar Banyubiru.

Berkali-kali terngiang di telinga mereka, ”Korban berjatuhan. Korban berjatuhan. Dan korban pada laskar Pamingit itu masih akan bertambah-tambah.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 576

DALAM kediaman itu terdengar Mahesa Jenar bertanya, ”Penjawi atau Jaladri, tahukah engkau bagaimana bentuk tubuh orang yang tak kau kenal itu?”

Penjawi menggeleng, tetapi Jaladri menjawab, ”Sungguh tak tersangka bahwa orang itu mempunyai kesaktian yang mengaggumkan. Tubuhnya tidak lebih gagah dari seorang perempuan. Suaranyapun kecil, nyaring seperti suara perempuan.”

”Titis Anganten…” potong Mahesa Jenar cepat-cepat.

”Orang sakti dari Banyuwangi.”

”Titis Anganten…?” ulang Kebo Kanigara dan Arya Salaka hampir berbareng. ”Ya,” jawab Mahesa Jenar.

”Aku pernah ditolongnya pula dari terkaman Sima Rodra tua.”

”Aku pernah mendengar namanya,” gumam Kebo Kanigara, ”Ayah pernah menyebut-nyebutnya.”

”Ia datang tepat pada waktunya,” sahut Mahesa Jenar.

Lalu suasana menjadi sepi kembali. Masing-masing hanyut dalam angan-angan mereka sendiri. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka, ”Nah, kalian telah mendengar apa yang telah terjadi di Pamingit.”

Tak seorangpun yang menyahut. Mereka masih tetap dalam kediaman yang beku. Ketika tak seorangpun yang bersuara, bertanyalah Mahesa Jenar, ”Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya tidak segera menjawab. Ia memandang berkeliling, seolah-olah ia minta pertimbangan dari mereka. Meskipun demikian, otaknya yang cerdas segera menangkap maksud pertanyaan gurunya. Di dalam dadanya selalu berdentang pesan eyangnya kepada Jaladri: Aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit, dan seterusnya. Entahlah, apakah aku masih dapat bertemu dengan cucuku itu.-

Maka kemudian iapun berkata lantang, ”Nah, apa kata kalian? Bukankah dalam keadaan yang sulit itu, kita dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya? Hari ini kita akan dapat menghancurkan laskar Pamingit itu. Dengan demikian Banyubiru akan menjadi milik kita. Bahkan Pamingit pun kemudian akan kita duduki setelah kita berhasil menumpas laskar dari golongan hitam.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba terkejut mendengar kata-kata Arya Salaka. Meskipun mereka datang ke perbatasan untuk maksud itu, namun tiba-tiba terasa sesuatu keganjilan di dalam dada mereka.

”Kenapa kalian diam?” tanya Arya Salaka. ”Kesempatan ini tak akan berulang.”

Para pemimpin Banyubiru itu masih diam. Mereka tidak tahu perasaan apa yang bergolak di dalam dada mereka sendiri. Hanya Mahesa Jenar yang kemudian menjadi gelisah. Namun ia masih berdiam diri pula. Ia sedang meraba-raba maksud pertanyaan muridnya itu, dengan suatu kepercayaan yang penuh, bahwa muridnya adalah seorang yang berhati jantan, namun berotak cemerlang. Karena itu ia masih menanti maksud Arya Salaka.

Memang Arya Salaka benar-benar seorang pemuda yang cakap. Ia dapat melihat keadaan dengan cermat. Dalam saat yang pendek, ia dapat merasa bahwa hatinya bergolak ketika ia mendengar ceritera Panjawi dan Jaladri.

Demikian pula agaknya perasaan yang bergetar di dalam dada setiap pemimpin laskar Banyubiru itu. Bagaimanapun mereka membenci dan bahkan mereka telah berjanji untuk berjuang mati-matian mengusir orang-orang Pamingit dari Banyubiru, serta kalau perlu mereka akan saling membunuh untuk mempertahankan kesetiaan mereka, namun demikian, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang Pamingit mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam, timbullah perasaan yang lain di dalam diri mereka.

Sebab apapun yang terjadi di antara mereka, permusuhan yang bagaimanapun tajamnya, namun orang Banyubiru dan Pamingit adalah orang-orang dari cabang aliran darah yang sama. Mereka semula adalah orang-orang dari daerah perdikan Pangrantunan. Ayah-ayah mereka, kakek-kakek mereka telah bersama-sama bekerja untuk tanah ini. Banyubiru dan Pamingit.

Bagi orang Banyubiru, orang-orang Pamingit adalah orang-orang yang masih bersangkut paut dengan darah keturunan mereka. Di Pamingit tinggallah kemenakan-kemenakan mereka, atau sepupu mereka atau paman mereka. Demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian, apakah mereka akan merelakan darah mereka yang mengalir didalam tubuh saudara-saudara mereka itu memercik dari luka-luka mereka, karena pokal orang-orang golongan hitam? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, maka mereka masih tetap berdiam diri.

Agaknya Arya Salaka telah mengamati keadaan dengan tepatnya. Sekali lagi ia memandang gurunya. Demikian Mahesa Jenar memandang langsung mata muridnya, tahulah ia apa yang tersirat di hatinya. Karena itu iapun menjadi terharu.

Tetapi ia tidak berkata apapun, selain beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang terdengar kemudian adalah suara Arya Salaka. ”Paman-paman sekalian, pemimpin laskar Banyubiru yang setia. Agaknya aku tahu apa yang tersimpan di dalam dada kalian. Ketika aku ajukan beberapa pertanyaan kepada kalian, tetap berdiam diri, sebab kalian tidak menyakini apa yang bergolak didalam dada kalian. Karena itu, cobalah, biar aku menebaknya. Bukankah kalian merasa bahwa kalian tidak rela mendengar ceritera bahwa saudara-saudara kalian terpaksa mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam? Bukankah kalian tidak rela bahwa orang-orang hitam itu akan menguasai Pamingit? Gumpalan dari tanah perdikan Pangrantunan yang perkasa? Tanah Perdikan yang dengan susah payah dibangun oleh Eyang Sora Dipayana beserta kakek-kakek serta ayah-bunda kalian?”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu masih agak bingung. Mereka belum tahu benar arah pembicaraan Arya Salaka.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 577

AKHIRNYA Arya Salaka berkata dengan terangnya, seperti terangnya matahari di siang yang panas itu. ”Nah, paman-paman sekalian. Yakinlah bahwa aku sependapat dengan kalian. Dengan pertanyaan-pertanyaanku yang pertama, sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan keyakinan akan hati nurani kalian. Apakah kalian masih marah dan mendendam kepada saudara-saudara kita dari Pamingit itu. Tetapi ternyata kalian telah menempuh pergolakan perasaan, yang membendung perasaan dendam itu. Memang kita seharusnya tidak mendendamnya, meskipun seandainya saudara-saudara kita dari Pamingit itu masih tetap berada di pendapa ini. Kita datang untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk melepaskan dendam kita.” Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba menegakkan kepala mereka. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. ”Kalau demikian…” Arya meneruskan, ”Paman-paman yang perkasa, tinggalkan pendapa ini segera.

Kembalilah ke dalam pasukan kalian, dan siapkanlah mereka. Kita bawa separo dari seluruh laskar Banyubiru ke Pamingit. Kita tempatkan diri di bawah pimpinan Eyang Sora Dipayana untuk menumpas golongan hitam itu. Apakah kalian sependapat?” ”Pasti…!” teriak mereka serentak. ”Kami sependapat. Dan kami segera akan melaksanakannya.” ”Bagus,” potong Arya Salaka. ”Kita akan berangkat segera setelah separo dari laskar kita berkumpul di alun-alun.” Arya tidak perlu mengulangi perintahnya kembali. Para pemimpin itu segera berdiri, dan berloncatan ke halaman.

Segera mereka berada di atas punggung kuda masing-masing, untuk kemudian melesat seperti angin. Mereka ternyata masih menyala rasa kesetiakawanan yang mendalam. Mereka ternyata lebih mendendam kepada golongan hitam, daripada kepada orang-orang Pamingit. Dan sekarang perasaan itu diungkatnya kembali. Sepeninggal mereka, di pendapa itu masih duduk selain Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Endang Widuri, Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Parapat. Kemudian kepada Mahesa Jenar, Arya Salaka berkata, ”Adakah kita yang berada di pendapa ini akan berangkat semuanya?” ”Jangan Arya,” jawab Mahesa Jenar. ”Kita harus berhati-hati.

Bukankah tersebar berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten masih berada di Banyubiru? Kita dapat menduga bahwa kabar itu sengaja disiarkan untuk menimbulkan keributan, namun kita dapat menduga lain. Mungkin mereka benar-benar masih berpendapat bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru. Karena itu biarlah Kiai Wanamerta dan Sendang Parapat yang belum sembuh benar, tinggal di sini, didampingi oleh Kakang Mantingan dan Wirasaba. Selain itu biarlah Wilis tinggal di sini pula.” ”Dan bagaimanakah sebaiknya dengan Endang Widuri?” tanya Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara. ”Aku ikut dengan Paman Mahesa Jenar.” Endang Widuri menyahut sebelum ayahnya menjawab. ”Jangan Widuri,” potong ayahnya, ”Kali ini jangan.

Kita menghadapi lawan yang tak terduga kekuatannya.” ”Aku telah dapat menduganya,” jawab Widuri. ”Laskar Eyang Sora Dipayana hanya terpaut sedikit dari kekuatan Bugel Kaliki di hari pertama. Di hari kedua, kekuatan itu akan lebih banyak mengalami kegoncangan. Katakan bahwa laskar Pamingit mengalami kekalahan dua kali lipat dari hari pertama. Tetapi kekuatan Eyang Sora Dipayana masih lebih dari tigaperempat dari kekuatan lawan. Nah kalau demikian, mereka malam nanti pasti sudah mundur ke Pangrantunan. Dengan tambahan laskar Kakang Arya Salaka yang segar, kekuatan akan berimbang kembali. Lebih-lebih tokoh-tokohnya akan mampu lagi berbuat seenaknya. Dan apakah gunanya ayah ikut serta kalau ayah tidak mampu mengalahkan orang yang bernama Nagapasa, atau Sima Rodra atau Sura Sarunggi?” ”Jangan sesorah panjang-panjang, Widuri,” potong ayahnya.

Sedang orang-orang yang mendengarkan terpaksa tersenyum-senyum. Namun di dalam hati mereka, terasa betapa mereka mengagumi gadis itu. Agaknya ia benar-benar dapat membuat gambaran dari medan di Pamingit dengan perhitungan yang baik. Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara meneruskan, ”Meskipun agaknya kau benar, namun kita harus berhati-hati. Mereka akan berbuat jauh lebih dahsyat daripada yang kau duga, sebab orang-orang dari golongan hitam itu membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bahkan cara-cara yang kadang-kadang melanggar hukum-hukum perikemanusiaan. Meski akan menakut-nakuti kau dengan cara-cara yang tak wajar.” ”Aku tidak takut,” jawab Widuri. (Bersambung)-m

Kebo Kanigara menggelengkan kepalanya, katanya; ” hanya prajurit yang baik yang dapat bertempur melawan golongan hitam.” “Aku prajurit yang baik,” jawab Widuri “Prajurit yang baik akan selalu patuh kepada perintah. Nah dengarlah perintah pemimpin pasukan, Arya Salaka,” sahut ayahnya. Endang Widuri mengerutkan keningnya. Beberapa orang terpaksa tertawa mendengarkan perdebatan itu. Dengan wajah cemberut gadis itu memandang Arya Salaka. Arya Salaka sendiri menjadi bingung. Ia tahu maksud Kebo Kanigara akan tetapi didalam hati kecilnya ingin mengajak gadis itu serta. Entahlah, apa sebabnya. Tetapi diingatnya bahwa bahaya akan datang setiap waktu, maka iapun berpendapat, bahwa sebaiknya Endang Widuri tidak ikut serta. Apalagi Rara Wilispun tidak. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, terdengar Endang Widuri berkata: ” baiklah, baiklah. Aku sudah tahu jawaban kakang Arya Salaka, ia pasti akan berpihak kepada ayah.” Arya Salaka tersenyum.

Kemudian terdengar Widuri meneruskan: ” Biarlah aku tinggal bersama bibi Wilis dan eyang Wanamerta. Bukankah begitu bibi?” “Tentu, kau menemani aku disini,” jawab Wilis. “Dan biarlah paman Mantingan nanti bercerita tentang Bharata Yudha, dan paman Wirasaba akan meniup seruling hingga beringin kurung itu nanti menari-nari bukan begitu paman?,” Wilis meneruskan. “Mudah-mudahan,” sahut Wirasaba sambil tertawa. “Tetapi itu tidak penting, sebenarnya paman Mahesa Jenar yang paling berkeberatan aku ikut serta,” Widuri meneruskan. “Kenapa aku?” sahut Mahesa Jenar. “Bukankah paman menghendaki aku tinggal, menunggu bibi Wilis, supaya bibi Wilis tidak hilang? Paman Mahesa Jenar takut kalau orang yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan datang menjemput bibi, dan…..” Kata-kata Widuri terputus, ia memekik kecil ketika Rara Wilis mencubitnya. “Tobat bibi aduuuuh” Rara Wilis tiba-tiba menundukkan mukanya.

Terasa rona merah yang panas menjalar ke pipinya. “Jangan nakal Widuri,” ayahnya menasehatinya. “Tidak aku tidak nakal lagi, jangan jangan cubit dagingku akan terkupas. Bibi kalau mencubit sakitnya bukan main.” Mau tidak mau Wilis terpaksa tersenyum. Memang WIduri benar-benar nakal. Ia tidak perduli berhadapan dengan siapapun, kalau teringat sesuatu yang menarik hatinya untuk menggoda, iapun berbuatlah. Sementara itu para pemimpin Banyu Biru telah sampai kepasukan masing-masing. Segera mereka mempersiapkan laskar mereka. Separo akan dibawa ke Pamingit.

Mula-mula setiap orang didalam laskar Banyu Biru menjadi heran, mengapa tiba-tiba mereka harus membantu Pamingit. Namun setelah mendapat penjelasan dari para pemimpinnya, merekapun sadar akan tugas itu. Tugas yang harus dikedepankan. Menumpas setiap gerombolan yang menghianati kemanusiaan. Menghianati ketentraman hidup rakyat yang tinggal jauh disekitar daerah mereka. Bahkan tujuan jangka jauh yang telah mereka rintis. Mencari pusaka yang dapat membawa mereka kepada jabatan tertinggi di Demak. Yang tinggal di Banyubirupun segera mempersiapkan diri mereka pula. Mereka mengamati senjata-senjata mereka, apakah senjata mereka telah siap untuk melawan musuh yang berbahaya. Beberapa orang yang harus tinggal di Banyubiru menjadi kecewa.

Sebenarnya mereka ingin turut didalam laskar yang kan pergi ke Pamingit tetapi merekapun sadar bahwa mereka mempunyai tugas yang penting pula di Banyubiru. Demikianlah ketika matahari telah memanjat lebih tinggi lagi diatas pucuk pohon sawo kecik di halaman Banyubiru itu, mulailah ujung laskar Banyubiru memasuki alun-alun. Kelompok demi kelompok. Dari wajah mereka tampaklah betapa besar hati mereka setelah berkesempatan untuk menginjakkan kaki mereka diatas tanah pusaka. Betapa mereka merasakan kenikmatan yang mengetuk ngetuk dada mereka, meskipun terasa bahwa tanah tercinta ini telah mengalami beberapa kemunduran. Tetapi telah beberapa tahun mereka mengasingkan diri, didalam masa-masa yang prihatin, akhirnya mereka dapat menginjakkan kaki mereka dibumi tercinta ini kembali.

Disekitar alun-alun itupun kemudian berduyun duyun rakyat Banyubiru menyaksikan putera putera daerah mereka yang setia, yang selama ini menghilang dari kampung halaman karena tekanan tekanan orang Pamingit. Namun ternyata mereka sekarang datang kembali dengan senjata di tangan. Setelah pasukan itu semuanya memasuki alun-alun, maka berkumpulah setiap pimpinan kelompok laskar itu, dihadapan Arya Salaka. Dengan hati-hati Arya Salaka memberikan beberapa penjelasan kepada mereka apakah sebabnya mereka kini harus menempatkan diri dibawah pimpinan Ki Ageng Sora Dipayana. “Dalam keadaan seperti sekarang ini, ki Ageng Sora memang harus memegang seluruh pimpinan atas Banyubiru dan Pamingit. Tak ada orang lain yang lebih berhak daripadanya. Sedang Ki Ageng Sora Dipayana sekarang sedang berjuang melawan golongan hitam. Namun lawannya terlalu besar. Lawannya memiliki keunggulan yang tak dapat diatasinya. Nah apakah kalian, pewaris tanah perdikan Pangratunan yang kemudian bernama Banyubiru ini akan tinggal diam menyaksikan orang yang cikal bakal tanah ini mengalami bencana ?”.

Terdengar jawaban mbata-rubuh. “Kami bela Ki Ageng Dipayana dengan segenap tenaga yang ada pada kita.”

“Terimakasih, tentunya separo dari kalian akan kubawa ke Pamingit, separo tetap tinggal disini untuk menjaga kemungkinan yang tak kami harapkan di tanah ini. Kemudian, siang hari kalian kami perkenankan untuk beberapa saat meninggalkan pasukan, barangkali kalian inginmelihat sanak keluarga dan orang yang kalian rindukan. Nanti kalau matahari telah membuat bayanganmu sepanjang badan, kalian harus berkumpul kembali di alun alun ini. Aku mengharap, sedikit lewat tengah malam kalian harus sudah berada di Pangrantunan,” kata Arya Salaka.

Ketika penjelasan Arya Salaka itu diberikankepada setiap kelompok oleh para pemimpin kelompok, bersoraklah mereka. Mereka menerima kebijaksanaan Artya dengan sepenuh hati, tidak saja sebagai lajimnya seorang prajurit yang baik. Namun karena ternyata Arya Salaka telah berfikir seperti apa yang mereka pikirkan. Arya tidak menutup mata atas kemungkinan yang ada didalam dada laskarnya. Sebab ia sendiri merasakan, betapa rindunya kepada halamannya, kepada setiap bunga yang berkembang, lebih lagi kepada bundanya. Tetapi sampai saat ini orang yang dirindukannya masih belum diketemukannya. Bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi atas ibunya di Pamingit.

Apakah orang-orang dari golongan hitam itu tidak mengganggunya?. Tiba-tiba Arya menjadi tidak sabar lagi, namun ia sadar tidak bisa membawa laskarnya ke jurang ke kebinasaan, hanya karena dirinya merindukan ibunya. Karena itu, ia telah mencoba menekan perasaannya untuk mempertahankan keseimbangannya sebagai seorang pemimpin. Sesaat kemudian bubarlah barisan yang berada di alun-alun itu. Masing masing berjalan dengan tergesa-gesa, bertebaran ke segenap penjuru Banyubiru. Beberapa orang yang tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang lain, karena hampir seluruh keluarganya telah menyertainya ke Gedongsanga, ingin juga berjalan jalan berkeliling kota melihat-lihat perubahan yang timbul selama kota ini ditinggalkan.

Kadang mereka singgah juga ke rumah kenalan mereka. Namun kenalan mereka telah menerima mereka dengan ketakutan. Jangan jangan laskar Banyubiru ini akan mengganggunya seperti cerita yang selama ini selalu didengar tentang mereka, bahwa laskar Banyubiru tidak lebih dari gerombolan penyamun dan perampok yang hanya mampu membuat kacau dan bencana. Namun setelah mereka mengetahui apa yang telah dilakukan laskar Banyubiru itu yang dengan ramah menyapa mereka, mereka memberi salam gairah seperti dahulu. Sadarlah mereka bahwa laskar Banyubiru adalah laskar yang selama ini berjuang untuk kepentingan mereka. Sisa waktu mereka pergunakan untuk beristirahat. Di bawah pohon-pohon yang rindang, di gardu-gardu dan di tempat yang sejuk. Mereka tidak tahu apakah nanti mereka masih mempunyai waktu untuk beristirahat.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 580

DI PERJALANAN, tak banyaklah yang dipersoalkan oleh Arya Salaka dengan gurunya serta Kebo Kanigara. Angan-angannya lebih banyak dicengkam oleh kegelisahan tentang nasib ibunya. Namun demikian ia tetap dalam keseimbangan yang baik. Dua orang telah diperintahkannya untuk berjalan berkuda mendahuluinya. Mereka harus mengetahui, apakah laskar Pamingit yang dipimpin oleh Wulungan dan Ki Ageng Sora Dipayana berada di Pangrantunan atau di Kepandak.

Untuk menghindari salah paham dengan laskar yang langsung dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, Arya Salaka menempuh jalan melingkar agak jauh di sebelah timur Pamingit, langsung menuju ke Pangrantunan. Apabila kemudian laskar itu akan menembus Pamingit, mereka akan datang dari arah tenggara. Ketika malam turun, laskar Arya Salaka telah menembus hutan-hutan yang tipis di sebelah timur Pamingit. Untuk beberapa saat laskar itu beristirahat. Mereka sekadar melepaskan lelah mereka dengan mempersegar tubuh mereka di sumber air yang mereka temui diperjalanan itu. Kemudian mereka masih sempat menikmati bekal yang mereka bawa. Ketupat sambal. Setelah beristirahat sejenak, kembali pasukan itu meneruskan perjalanan.

Bulan di langit separoh bulat telah naik tinggi di atas bukit-bukit yang membujur seperti raksasa yang lelap. Angin malam yang lemah bertiup dari utara mengusap pohon-pohon perdu yang dengan lembutnya. Sedang di kejauhan sayup-sayup terdengar anjing-anjing liar menggonggong berebut makanan. Di tempat yang telah ditentukan, dua orang berkuda, yang ditugaskan oleh Arya Salaka untuk mengamati keadaan, telah menunggu. ”Bagaimana?” tanya Arya kepada mereka.

”Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik pasukan ke Pangrantunan,” jawab orang itu. ”Sejak kapan?” tanya Arya Salaka. ”Baru malam ini. Semua tenaga telah dikerahkan. Setiap laki-laki di Pangrantunan telah memanggul senjata,” jawab orang itu. ”Adakah golongan hitam telah menyusul ke Pangrantunan pula?” tanya Arya Salaka lebih lanjut. ”Aku kurang jelas. Namun hal itu mungkin sekali,” jawab mereka. ”Bagaimana dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora?” ”Tak aku ketahui. Namun mereka belum sampai di Pangrantunan sore tadi. Tetapi seorang pengungsi mengatakan bahwa Sumber Panaspun telah dikosongkan.

Laskar Ki Ageng Lembu Sora terdesak hebat sampai mereka terpaksa meninggalkan garis perang dalam keadaan tak teratur.”

Arya menarik nafas panjang. Agaknya kekuatan golongan hitam betul-betul tak dapat dianggap ringan. Suatu gabungan dari sarang-sarang gerombolan yang mengerikan. Alas Mentaok, Nusakambangan, Gunung Tidar, Rawa Pening dan seorang hantu dari Lembah Gunung Cerme. Terbayanglah di dalam angan-angannya, bahwa Pamingit benar-benar sedang dilanda oleh taufan yang maha dahsyat.

Ki Ageng Lembu Sora, yang beberapa saat yang lampau dapat bekerja sama dengan mereka, akhirnya sampailah saatnya ia digilas oleh arus hitam yang mengerikan itu, karena orang-orang dari golongan hitam itu sadar, bahwa Lembu Sora adalah suatu usaha saling memperalat semata-mata. Bukan suatu kerja sama yang tulus. Tetapi kini golongan hitam itu benar-benar salah hitung. Mereka mengharap Ki Ageng Lembu Sora terpaksa membagi laskarnya. Sebagian menghadapi laskar hitam itu, dan sebagian menghadapi laskar Arya Salaka. Mereka mengharap bahwa dengan demikian, menggilas Pamingit akan sama mudahnya seperti menggilas ranti, untuk kemudian menghantam hancur sisa-sisa laskar Arya Salaka dan Lembu Sora yang parah di Banyubiru.

Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kejernihan dan ketulusan hati Arya Salaka merupakan badai yang berhembus dengan dahsyatnya, memporakporandakan rencana mereka. Arya Salaka kemudian memerintahkan laskarnya untuk mempercepat perjalanan. Hatinyapun menjadi semakin risau, apakah kira-kira yang telah terjadi di Pamingit dan apakah yang telah terjadi dengan ibunya? Ia menjadi cemas. Terbayanglah di dalam rongga matanya orang-orang seperti Pasingsingan, Sima Rodra dan sebagainya, dengan kasarnya memasuki setiap ruang rumah pamannya di Pamingit.

Apakah ibunya diketemukan di rumah itu pula oleh mereka? Mudah-mudahan Tuhan memberikan perlindungan kepadanya. Hampir tengah malam, laskar Arya Salaka telah mendekati Pangrantunan dari arah utara. Dari jauh mereka telah melihat beberapa kelompok perapian yang menyala di sekitar desa itu. Karena itu segera Arya Salaka menghentikan laskarnya untuk menghindari kesalah-pahaman. Kepada gurunya ia berkata, ”Paman, bukankah sebaiknya aku menghadap Eyang Sora Dipayana lebih dahulu?”

Mahesa Jenar mengangguk, jawabnya, ”Baik Arya, sebab di malam yang samar-samar demikian ini, akan mudah sekali timbul salah mengerti. Laskar eyangmu itu mungkin sama sekali tak akan menduga bahwa kau akan datang membantu mereka.”

Kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Arya Salaka berjalan mendahului, untuk melaporkan kehadirannya bersama laskarnya kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Beberapa tonggak dari Pangrantunan, segerombol pengawal menghentikan mereka. Dengan penuh kewaspadaan para pengawal itu menyapa mereka dengan pertanyaan sandi. ”Ke manakah mulut gua menghadap?”

Arya tidak tahu bagaimana harus menjawab, karena itu ia berkata terus terang, ”Aku bukan dari laskar Pamingit.” ”Dari golongan hitam?” bentak para pengawal itu, dan bersamaan dengan itu tombak-tombak mereka segera mengarah ke dada Arya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Arya menggeleng, jawabnya, ”Bukan Ki Sanak. Kalau aku dari golongan hitam, apakah agaknya aku akan bunuh diri?”

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja 581

”SIAPAKAH kalian?” tanya salah seorang daripada para pengawal itu.

”Dari Banyubiru,” jawab Arya.

”Banyubiru…? Siapa…?” desak mereka. Arya Salaka termenung sejenak, apakah ia harus mengatakan dirinya…? Dengan demikian, laskar Pamingit yang tak dapat berpikir panjang akan menuduhnya memata-matai mereka untuk selanjutnya memukul mereka dari belakang. Dalam keragu-raguan itu terdengar orang Pamingit mendesaknya kembali, ”Siapa?”

Mahesa Jenar lah yang kemudian menyahut, ”Kami adalah utusan dari Angger Arya Salaka. Ada pesan yang harus kami sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana.”

Orang itu masih ragu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, ”Apakah pesan itu? Dan adakah kau membawa pembuktian diri bahwa kau orang Banyubiru? Kalau kau dapat menyatakan dirimu sekalipun, apakah jaminanmu bahwa kau tak bermaksud jahat?”

Setelah berpikir sejenak, Mahesa Jenar menjawab, ”Kau dapat bertanya apa saja tentang Banyubiru. Kami akan menjawab sebagaimana anak daerah yang mengetahui segala sesuatu mengenai daerahnya.” ”Kemudian apakah jaminan bahwa kau tidak akan berbuat hal yang merugikan laskar kami?” tanya pengawal itu.

”Kami hanya bertiga. Apakah yang dapat kami lakukan? Bawalah kami menghadap Ki Ageng Sora Dipayana. Di hadapan orang tua itu, kami tak akan mungkin berbuat sesuatu,” jawab Mahesa Jenar. ”Tetapi kau bersenjata,” kata pengawal itu sambil menunjuk Kyai Bancak yang digengam Arya erat-erat.

”Tombak ini justru bukti kebenaran kami. Ki Ageng Sora Dipayana segera akan mengenal tombak ini, dan mempertanyai kami bahwa kami benar-benar utusan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.

Para pengawal itu berpikir sejenak. Mereka memang pernah mendengar, bahwa Arya Salaka memiliki tombak yang sakti, berrnama Kyai Bancak. Ketika mereka melihat mata tombak yang seolah-olah bercahaya kebiru-biruan di dalam siraman cahaya bulan, maka percayalah mereka bahwa tombak itulah yang bernama Kyai Bancak sebagai pertanda kebesaran Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar melihat para pengawal itu ragu, ia mendesak, ”Bawalah kami kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Kalau kami bermaksud jahat, kami pasti tidak akan menempuh jalan ini. Apalagi di antara kami bertiga hanya seorang yang bersenjata. Itu saja karena kami ingin membuktikan bahwa kami benar-benar utusan Angger Arya Salaka.”

Para pengawal itu akhirnya percaya, bahwa tiga orang itu pasti tak akan bermaksud jahat. Karena itu maka segera salah seorang di antara mereka berkata, ”Bawalah orang-orang ini menghadap Ki Ageng.” Kepada Mahesa Jenar ia berkata, ”Jangan berbuat hal-hal yang dapat menyelakakan dirimu sendiri. Di sekitar daerah ini bertebaran ratusan pengawal dari Pamingit yang akan dapat memenggal lehermu di setiap tempat dan di setiap saat.”

”Baiklah Ki Sanak,” jawab Mahesa Jenar, ”Aku akan taat kepada pesanmu itu, sebab aku masih ingin dapat kembali dengan selamat ke Banyubiru.”

Kemudian dengan diantar oleh lima orang bersenjata tombak, Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dibawa langsung ke Pangrantunan. Di ujung desa itu, di dalam sebuah pondok yang sedang, tampaklah penjagaan yang lebih rapi daripada tempat-tempat yang lain. Dengan demikian segera dapat dikenal, bahwa di rumah itulah Ki Ageng Sora Dipayana serta pimpinan laskar Pamingit itu berada. Setelah melalui beberapa penjagaan, maka akhirnya seseorang langsung menyampaikan berita tentang kehadiran tiga orang Banyubiru itu kepada Ki Ageng Sora Dipayana.

”Siapakah mereka?” tanya Ki Ageng. ”Belum kami ketahui namanya, Ki Ageng,” jawab orang itu. ”Apakah mereka bersenjata?” tanya Wulungan yang mendengar laporan itu. ”Hanya seorang, yang dua orang sama sekali tidak,” jawab pengawal itu. Wulungan mengangkat keningnya, kemudian kepada Ki Ageng Sora Dipayana ia bertanya, ”Apakah aku yang menerimanya?”

”Biarlah, bawalah kemari,” jawab orang tua itu. Akhirnya pengawal itu membawa Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masuk ke dalam pondok itu. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan melihat Arya, merekapun menjadi terkejut. Dengan serta merta Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya, ”Kau Arya.” Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengangguk hormat.

”Ya, Eyang,” jawab Arya. Dengan pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam rongga dada, orang tua itu mempersilahkan tamunya bertiga untuk duduk di atas tikar, di bawah cahaya obor yang samar-samar. Namun meskipun demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menangkap, betapa perasaan orang tua itu bergolak. ”Kedatangan kamu mengejutkan kami di sini, Arya,” kata kakeknya perlahan-lahan. ”Apakah kau mempunyai keperluan yang tak dapat ditunda lagi sampai persoalanku dengan orang-orang dari golongan hitam itu selesai?”

Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo kanigara segera menangkap kecemasan hati Ki Ageng Sora Dipayana. Agaknya orang tua itu menjadi gelisah, kalau Arya Salaka kemudian mengubah pendiriannya tentang tuntutannya atas Banyubiru.

“Kapankah kira-kira persoalan Eyang akan selesai?” tanya Arya.

Ki Ageng Sora Dipayana menggelengkan-gelengkan kepalanya, jawabnya, “aku tidak tahu Arya. Besok, lusa atau seminggu, dua minggu lagi. Seandainya persoalan ini selesai, akupun tidak dapat membayangkan bentuk penyelesaiannya. Apakah orang-orang dari golongan hitam itu akan dapat aku usir dari Pamingit atau kamilah yang harus binasa dalam pelukan kewajiban kami.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Perasaan ibanya kembali melonjak-lonjak. Karena itu kemudian ia berkata, “Dapatkah aku ikut mempercepat penyelesaian ini Eyang?”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. Diangkatnya wajahnya yang telah dipenuhi oleh jalur-jalur umurnya, namun kesegaran dan kewibawaan yang terpancar dari wajah itu mengesankan bahwa Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang berjiwa besar dan penuh dengan pengalaman hidup. Tetapi kali ini orang tua itu tidak segera dapat mengerti maksud Arya Salaka. Dengan pandangan yang dipenuhi oleh persoalan-persoalan ia bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya Salaka menggeser tempat duduknya, ia tidak segera menjawab, tetapi ia memandang saja kepada gurunya. Agaknya ia minta kepada Mahesa Jenar untuk menyampaikan maksudnya kepada kakeknya, supaya segala sesuatu dapat menjadi jelas, karena ia merasa bahwa ia tidak pandai untuk menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Mahesa Jenar menangkap maksud Arya Salaka, dan karenanya ia menganggukkan kepalanya.

Tetapi sebelum Mahesa Jenar berkata, terdengarlah suara riuh diluar pondok itu.

“Ada apa diluar?” tanya Ki Ageng sora Dipayana. Kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Setelah duduk bersila dengan hormatnya, ia berkata, “Ki Ageng, laskar Ki Ageng Lembu Sora yang terpaksa ditarik mundur telah datang.”

Orang tua itu menarik napas dalam-dalam, Sambil mengangguk- angguk ia berkata, “Di manakah Lembu Sora dan Sawung Sariti?”

“Sedang menuju kemari,” jawab orang itu.

“Baiklah,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana pendek. Sebelum orang itu keluar, masuklah orang yang dikatakannya. Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Pakaian mereka yang bagus telah menjadi kotor dan kumal. Sedang wajah mereka yang dilapisi oleh debu berminyak tampak membayangkan betapa perasaan mereka bercampur baur bergolak dalam dada mereka. Kedua orang itu terkejut sekali ketika mereka melihat Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di dalam ruangan itu. Tetapi sebelum mereka menyapanya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, “Bagaimana dengan laskarmu?”

Lembu Sora menggeram.

“Terpaksa aku tarik kemari,” jawabnya.

“Seluruhnya?” tanya ayahnya pula.

“Ya.” Ia masih ingin berkata lagi, namun agaknya ia menjadi ragu. Karena itu sekali lagi ia memandang Arya Salaka dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia bertanya kasar, “Ada apa anak itu kesini?”

“Duduklah.” Ki Ageng Sora Dipayana menyilahkan. “Biarlah kita berbicara. Aku belum sampai pada pertanyaan itu.”

Dengan segan Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

Namun mereka masih memandang Arya dengan sorot mata yang asing. “Aku sedang bertanya kepadanya. ” Ki Ageng Sora Dipayana berkata setelah Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

“Kau akan memaksakan kehendakmu ketika kami sedang dalam kesulitan, kakang Arya.” Sawung Sariti mendahuluinya. Arya Salaka memandang adik sepupunya dengan sudut matanya, namun ia tidak menjawab.

“Nah, Arya. Berkatalah, apakah maksud kedatanganmu kemari.” Ki Ageng Sora Dipayana menengahi.

Kembali Arya memandang gurunya. Dan kembali Mahesa Jenar sadar bahwa muridnya memerlukan bantuannya. Tetapi sebelum Mahesa Jenar menjawab, terdengarlah Ki Lembu Sora berkata, “Jangan ragu-ragu. Katakan apa yang tersirat di dalam hatimu. Sebenarnya kami tidak perlu bertanya lagi. Terlihat dari wajahmu. Sebab apa yang tersirat didalam hati, pasti akan terbayang pada tata lahir. Lihatlah betapa kelam warna wajah-wajah kalian, pakaian kalian dan laskar kalian. Apakah kalian memungkiri bahwa kalian termasuk di dalam deretan golongan hitam?”

Betapa tersinggungnya hati Arya Salaka dan Mahesa Jenar mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya Mahesa Jenar mengamati warna pakaiannya. Hijau gadung. Memang betapa kelam warna itu. Dan ketika tiba-tiba matanya terlempar kepada baju Arya, ia menarik nafas dalam-dalam. Arya Salaka mengenakan baju pendek sangat sederhana.

“Hmm….” Terdengar ia menggeram. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara berkata dengan sarehnya.

“Ki Ageng Lembu Sora. Janganlah Ki Ageng mempersoalkan pakaian-pakaian kami. Kesederhanaan bentuk lahiriah bukanlah karena kekelaman hati. Betapa tenang warna hijau gadung yang gelap dan betapa sederhananya pakaian Arya Salaka dan laskarnya. Ki Ageng, jangan biasakan membaca batin seseorang pada tata lahirnya yang nampak. Seseorang yang yang berpakaian indah, dengan tretes intan berlian, apakah pasti bahwa ia berhati indah ? Sedangkan mereka dalam tata lahirnya nampak kelam dan jelek, apakah Ki Ageng pasti bahwa hatinya hitam?”

Tiba-tiba terdengar Ki Ageng Lembu Sora tertawa nyaring. Sedangkan Sawung sariti mencibirkan bibirnya dengan penuh hinaan. Katanya, “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Benar Ki Ageng,” sahut Kebo Kanigara. “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Sekarang katakan keperluanmu,” potong Lembu Sora dengan tidak sabarnya. “Menuntut balas ? Menuntut supaya Lembu Sora dipenggal lehernya atau apa ? Kalian benar-benar dapat kembali gunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian kau dapat memiliki Banyubiru, dan Pamingit akan kau jadikan sebagai hadiah buat golongan hitam itu.”

Tubuh Arya Salaka tiba-tiba menjadi bergetar. Ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-kata pamannya. Namun demikian terdengan Kebo Kanigara merkata-kata dengan tenangnya, “Ki Ageng. Memang kadang-kadang terjadilah hal-hal diluar dugaan wajar. Tetapi sebenarnya tidak perlu Ki Ageng menjadi heran maupun curiga. Aku juga pernah mendengar sebuah cerita yang menarik. Cerita anak-anak bersumber pada cerita Panji. Meskipun Candrakirana selalu mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang ditemuinya, baik dalam cerita Klenting Kuning maupun dalam cerita Limaran dan lain-lain, namun ia tidak pernah mendendamnya. Bahkan akhirnya ketika ia mendapatkan kamukten-nya kembali, orang-orang yang pernah mendurhakainya itupun dimuliakannya pula.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Cepat-cepat ia mendahului Lembu Sora, “Mudah-mudahan aku dapat menduga maksud cerita itu. Nah, cucuku Arya Salaka, katakan apa maksud kedatanganmu.”

Dada Arya Salaka masih tergetar oleh perasaan kecewa. Karena itu Mahesa Jenar mewakilinya, “Ki Ageng, Arya Salaka datang dengan laskarnya. Sebagai bakti seorang cucu kepada pepundhen-nya. Ia bersedia menempatkan dirinya di bawah pimpinan Ki Ageng untuk ikut serta mengusir golongan hitam itu.”

Pondok kecil itu seolah-olah menjadi tergetar oleh kata-kata itu. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa demikianlah maksud kedatangan anak itu. Ki Ageng Lembu sora seketika itu terdiam seperti patung. Ada sesuatu yang tiba-tiba bergelora didalam rongga dadanya. Sesaat ia kehilangan kesadaran diri. Seperti ia sedang terbang didunia mimpi. Dengan susah payah ia berusaha untuk meyakinkan pendengarannya.

Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menundukan wajahnya. Keluhuran hati anak itu telah memukul jantungnya sedemikian hebatnya sehingga tiba-tiba tanpa sesadarnya, dari matanya mengembanglah air mata, yang menetes satu-satu diatas pangkuannya. Sebagai seorang laki-laki, Ki Ageng Sora Dipayana telah mengalami kesulitan, penderitaan dan kepahitan. Namun ia tak pernah membiarkan perasaannya hanyut dan tenggelam dalam kesulitan itu. Sekarang, tiba-tiba ia tak mampu menguasai diri, sehingga satu-satu jatuhlah air matanya. Untuk sesaat ruangan itu terlempar ke dalam kesepian. Hanya nafas mereka yang saling memburu, terdengar sedemikian jelasnya.

Diluar, terdengarlah derap para pengawal hilir mudik melakukan kewajibannya dengan tertib. Kemudian dengan gemetar terdengar suara Ki Ageng Sora Dipayana, “Arya, coba ulangilah kata-kata Angger Mahesa Jenar, supaya aku menjadi yakin karenanya.”

“Benar Eyang’” jawab Arya, “Aku datang dengan laskarku. Aku ingin menunjukkan, apakah yang dapat aku serahkan sebagai tanda baktiku kepada orang tuaku. Sebagai pernyataan terima kasih serta sebagai suatu kenyataan atas adaku.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi semakin terharu karenanya. Sambil mengangguk-angguk kepalanya ia memandangi anaknya, Lembu Sora yang masih duduk kaku di tempatnya. “Kau dengar Lembu Sora ?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

Lembu Sora seperti orang yang tersadar dari mimpinya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang mula-mula memancarkan kemarahan tiba-tiba menjadi pudar. Ia ingin menyatakan perasaannya yang bergelora di dalam dadanya, namun yang keluar dari mulutnya dengan suara yang bergetar hanyalah,

“Ya, aku dengar ayah.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya, “Dimanakan laskarmu sekarang, Arya ?”

“Beberapa tonggak di sebelah utara desa ini, Eyang.” Jawabnya.

“Bawalah mereka mendekat, supaya segala perintah dapat tersalur dengan cepat sebaik-baiknya,” perintah Ki Ageng Sora Dipayana.

“Baik, Eyang’” jawab Arya. Kemudian iapun berdiri dan mohon diri untuk membawa laskarnya masuk ke Pangrantunan. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tinggal bersama-sama dengan eyangnya di pondok itu.

Di halaman, Arya Salaka terkejut ketika seseorang menggamitnya sambil berkata, “Aku turut dengan tuan, supaya tidak terjadi salah pengertian dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora.”

Baru Arya Salaka sadar bahwa ia berada di daerah peperangan antara laskar-laskar yang pernah berhadapan sebagai lawan yang hampir saja menumpahkan darah. Ketika ia menoleh, Wulungan berjalan di belakangnya.

“Terima kasih Paman Wulungan.” Jawabnya.

Kemudian mereka berdiam diri dan berjalan dalam keremangan cahaya bulan muda yang telah hampir tenggelam. Beberapa orang penjaga mengangguk hormat ketika mereka melihat Wulungan lewat di depan mereka. Di pinggir desa Pangrantunan, Arya Salaka melihat laskar yang berserak-serak.

Nampak betapa parah keadaan mereka. Beberapa orang yang luka masih belum terawat dengan baik.

“Kakang Wulungan ?” sapa salah seorang dari mereka.

“Ya, “ jawab Wulungan.

“Bagaimana keadaan laskarmu ?”

“Parah, “ jawab orang itu. “Keadaan kalian disini agaknya masih lebih baik.”

“Demikianlah,” sahut Wulungan, “Tetapi besok atau lusa kita akan mengalami keadaan yang sama.”

Serial Bersambung 08 Oktober 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja

No. 584

ORANG itu tertawa. Seram sekali. Tawa yang sama sekali tidak sedap, sebagai pelepas kejengkelan dan kemarahan. Hati Arya berdesir ketika ia mengenal orang itu kembali. Ia pernah melihatnya beberapa tahun yang lampau di Gedangan. Namun ia berdiam diri. Ketika mereka sudah meninggalkan laskar itu, bertanyalah Arya, ”Paman Wulungan, benarkah orang tadi bernama Galunggung?”

”Ya. Dari siapa Angger mengenalnya?” sahut Wulungan.

”Ia termasuk orang baru di dalam laskar kami. Baru beberapa tahun. Namun karena sifatnya yang disukai oleh Angger Sawung Sariti, ia cepat sekali menanjak ke tempatnya yang sekarang. Pengawal pribadi Angger Sawung Sariti.”

Kemudian kembali mereka berjalan sambil berdiam diri. Angin malam masih mengalir perlahan-lahan membawa udara yang sejuk. Di langit, bintang-bintang berkedip-kedip dengan cerahnya. Tiba-tiba terdengar kembali suara Wulungan, ”Angger….”

Arya Salaka menoleh, namun tidak menjawab. ”Beruntunglah laskar Banyubiru mendapat seorang pemimpin seperti Angger ini.” sambung Wulungan. Arya mengerutkan keningnya, ”Kenapa Paman?” ”Sudah lama aku mengagumi kejantanan Angger. Agaknya sifat-sifat ayahanda Gajah Sora tercermin di dalam hati Angger. Apalagi Angger mendapat asuhan dari seorang yang mengagumkan dalam perjalanan hidup Angger selama ini, sehingga dengan demikian sempurnalah sifat-sifat kepahlawanan di dalam tubuh Angger. Orang setua aku inipun tak akan membayangkan bahwa pada suatu ketika Angger datang dengan laskar yang segar untuk kemudian membantu pamanda dalam kesulitan ini. Alangkah jauh bedanya sifat-sifat itu dengan sifat-sifat Angger Sawung Sariti.”

”Jangan memuji, Paman,” sahut Arya Salaka.

”Aku berkata atas keyakinan,” jawab Wulungan, ”Aku adalah salah seorang dari laskar Angger Sawung Sariti itu.”

Arya tersenyum mendengar pujian itu. Ia sama sekali tidak membanggakan diri karena sifat-sifat yang baik dan dikagumi orang, tetapi ia berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa, bahwa karena kuasa-Nya, maka ia selalu mendapat petunjuk-petunjuk dan mendapat sinar terang di hatinya. Selalu diingatnya sebuah ceritera yang pernah diceriterakan oleh gurunya, tentang dua orang hamba seorang raja dan yang seorang adalah pemungut pajak yang kejam. Ketika mereka berdua bersama-sama menghadap raja, maka berkatalah penghulu istana, -Maha Raja yang bijaksana.

Aku adalah orang yang sebaik-baiknya di kerajaanmu. Aku selalu berbaik hati kepada rakyatmu dan memberikan kepada mereka hadiah-hadiah yang berharga, sehingga dengan demikian segenap rakyatmu akan mencintai aku. Karena itu, kalau Maha Raja akan memberi hadiah kepada hambanya, maka akulah orangnya yang paling pantas untuk menerimanya.- Sedang pemungut pajak itu kemudian bersujud di bawah kaki Maha Raja yang bijaksana itu, katanya, -Duh Maha Raja yang bermurah hati. Aku adalah orang yang sejahat-jahatnya di kerajaanmu. Aku telah menjalankan pekerjaanku dengan lalimnya karena aku inginkan pujian dari atasku. Karena itulah maka rakyat di kerajaanmu sangat membenci aku. Namun Maha Raja yang bijaksana, karena itulah aku akan bertobat.

Dan aku akan menerima hukuman yang akan ditimpakan kepadaku atas kelalaianku itu.- Ketika kemudian Raja yang bijaksana itu memberikan hadiahnya, maka pemungut pajak itulah yang berhak menerimanya. Bukan penghulu istana. Kemudian ternyatalah bahwa pemungut pajak itu benar-benar bertobat dan membagi-bagikan hadiahnya kepada mereka yang pernah dicederainya, sedang penghulu istana kemudian berontak terhadap raja, hanya karena ia tidak menerima hadiah. Sebab kebaikan yang dilakukan selama itu hanyalah terdorong oleh keinginannya untuk menerima hadiah. Demikianlah Arya Salaka menerapkan ceritera itu dalam hidupnya sehari-hari. Kebaikan dan keikhlasannya berkorban bukanlah semata-mata karena jiwa pengabdiannya serta kesetiaannya pada kewajibannya.

Beberapa langkah kemudian sampailah mereka di pusat pengawalan. Ketika mereka melihat Wulungan dan seorang lain lewat, segera pemimpin pengawal itu membungkuk hormat kepadanya sambil menyapa, ”Kakang Wulungan…?”

”Ya,” jawab Wulungan, ”Bagaimana keadaannya?”

”Selama ini baik, Kakang,” jawab orang itu.

”Tak ada yang mencurigakan?” tanya Wulungan pula. ”Tidak Kakang,” jawab orang itu. ”Bagus. Aku akan pergi sebentar. Menjemput laskar Banyubiru,” sahut Wulungan.

”Laskar Banyubiru…?” Orang itu menjadi heran. Bahkan beberapa orang lainpun menjadi keheranan pula sehingga mereka mendesak maju.

”Ya,” jawab Wulungan sambil memperhatikan wajah-wajah yang kecemasan itu. Beberapa orang menjadi saling berpandangan. Berita kedatangan laskar Banyubiru itu bagi mereka seakan-akan bunyi kentong pelayatan atas jenazah mereka. Melihat kegelisahan yang membayang itu Wulungan menyambung kata-katanya, ”Mereka akan datang membantu kita.”

”He…?” terdengar mereka berteriak terkejut.

”Membantu kita atau membinasakan kita?” Para pengawal itu masih ingat dengan jelas beberapa hari yang lalu mereka sudah berhadapan dengan laskar Banyubiru itu dengan kesiapan-kesiapan tempur. ”Percayalah kepadaku. Mereka datang untuk membantu kita menumpas golongan hitam itu.” Wulungan menjelaskan.

”Suatu harapan yang akan mengecewakan,” sahut pemimpin pengawal itu.

”Dengarlah sendiri apa yang dikatakan oleh pemimpin laskar Banyubiru itu,” berkata Wulungan. ”Pemimpin laskar Banyubiru? Siapakan dia dan di manakah dia?” tanya beberapa orang bersama-sama. ”Arya Salaka. Inilah orangnya,” jawab Wulungan.

DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja
No. 585

KEMBALI mereka terkejut. Orang itulah yang tadi datang bersama-sama dengan dua orang lainnya, yang mengatakan bahwa mereka adalah utusan Arya Salaka. Ternyata anak muda yang membawa tombak itu sendirilah yang bernama Arya Salaka. Ketika mereka masih keheranan, terdengarlah Arya Salaka berkata, ”Jangan berprasangka. Aku datang untuk membantu kalian. Bukankah kalian seperti kami juga dari Banyubiru, adalah pewaris Tanah Perdikan Pangrantunan?”

Wajah-wajah yang sudah pucat karena putus asa itu tiba-tiba menjadi berangsur merah. Saat-saat terakhir mereka hanya dapat menunggu sampai tangan-tangan hitam itu membinasakan mereka satu demi satu. Tetapi tiba-tiba terulurlah tangan Arya Salaka untuk menyelamatkan mereka. Karena itu tiba-tiba melonjaklah keharuan di dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya pemimpin pengawal itu segera berjongkok di hadapan Arya sambil berkata, ”Tuan, Tuan datang sebagai datangnya malaikat yang akan menyelamatkan kami, tanah kami serta kebesaran nama Pangrantunan.”

”Aku datang sekadar menetapi kewajiban,” sahut Arya sambil menarik lengan orang itu. ”Berdirilah,” katanya. Orang itu kemudian berdiri. Tetapi kepalanya tertancap jauh ke tanah dekat di ujung ibu jari kakinya. Terlintas di dalam kepalanya, kepahitan hidup yang dialaminya bersama-sama laskar Lembu Sora yang lain. Kecurangan, kenaifan dan sifat-sifat yang lain. Sekarang terasa betapa jujur kata-kata anak muda itu. Arya Salaka yang selama ini dikejar-kejar oleh laskar Pamingit untuk dibunuhnya. Oleh kenangan itu terasa bahwa mulutnya tiba-tiba seperti tersumbat. Banyak sekali terima kasih yang akan diucapkan, namun tak sepatah katapun yang terlahir. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Wulungan, ”Kami akan berjalan. Perintahkan kepada para pengawal untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat menimbulkan salah mengerti antara laskar Pamingit dan laskar Banyubiru. Kami seterusnya akan bersama-sama berjuang untuk tanah kami.”

”Baik Kakang,” jawab pemimpin pengawal itu. Arya Salaka bersama-sama Wulungan kemudian meneruskan perjalanannya, menjemput laskar Banyubiru yang ditinggalkan beberapa tonggak dari Pangrantunan. Berita tentang akan datangnya laskar Banyubiru itupun segera tersebar. Dalam waktu yang sangat singkat. Setiap pengawal yang bertugas telah mendengarnya. Berbagai tanggapan bergelut di dalam dada mereka. Setengahnya mereka tidak percaya, sedang setengahnya menjadi gembira. Kalau pada umumnya mereka telah berputus asa, tiba-tiba timbullah harapan dan gairah mereka kembali atas tanah mereka. Meskipun mereka belum yakin bahwa di dalam laskar Banyubiru itu ada orang-orang yang tangguh seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, apalagi seperti Ki Ageng Sora Dipayana dan pendatang yang aneh, yang mirip dengan perempuan dan bernama Titis Anganten.

Namun setidak-tidaknya nasib mereka berbagi. Di dalam pondok kecil masih berkumpul Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tiba-tiba timbullah keinginan Ageng Sora Dipayana untuk melihat laskar Banyubiru itu. Apakah mereka akan dapat memberikan bantuan yang berarti. ”Marilah kita lihat laskar Arya itu,” katanya. ”Marilah Ki Ageng,” jawab Mahesa Jenar.

Tiba-tiba Sawung Sariti tersenyum. Senyum yang kecut, sambil berkata, ”Ayah, dapatkah anak itu kami percaya?” Mata Lembu Sora masih saja membayangkan kekeruhan hatinya. Sebenarnya ia melihat betapa wajah kemanakannya benar-benar meyakinkan, bahwa anak itu telah berkata dengan jujur. Karena itu ia tidak dapat menjawab pertanyaan anaknya. Yang terdengar adalah jawaban Ki Ageng Sora Dipayana, ”Kau terlalu dihantui oleh perasaanmu sendiri cucuku. Percayalah kepada kakangmu. Aku yang menjadi jaminannya.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora berkata pula, ”Aku mempercayainya Sawung Sariti.”

Mata Sawung Sariti menjadi redup. Senyum yang aneh membayang di bibirnya. Tiba-tiba Mahesa Jenar menjadi muak melihat senyum itu, mirip benar seperti senyuman Jaka Soka dari Nusakambangan.

Namun demikian ia tidak berkata apa-apa. Mereka semuanya kemudian melangkah keluar pondok itu dan berjalan untuk melihat laskar Arya Salaka yang akan datang masuk ke Pangrantunan. Mereka untuk sementara akan ditempatkan di halaman Banjar Desa untuk menunggu tempat yang lebih baik bagi laskar itu, seperti juga laskar Lembu Sora yang masih belum mendapat penampungan yang baik. Ketika Arya Salaka tampak mendatangi laskarnya, segera Bantaran dan Penjawi menyongsongnya, sambil berkata, ”Bagaimana Angger?” ”Kami dapat diperkenankan memasuki desa Pangrantunan, Paman. Dan inilah Paman Wulungan,” jawab Arya Salaka.

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

586

BANTARAN menganggukkan kepalanya, demikian juga Penjawi yang segera dibalas oleh Wulungan. ”Aku mengucapkan selamat atas kedatangan kalian,” sambut Wulungan dengan ramahnya.

”Terima kasih,” jawab Bantaran. Ketika kemudian muncul Jaladri diantara mereka, berkatalah ia kepada Wulungan dengan akrabnya, seperti kepada sahabatnya yang karib.

”Selamat malam Wulungan. Sudahkah kau sediakan makan malam buat kami?” Nasib mereka dalam sehari, pada saat-saat mereka bertempur melawan Bugel Kaliki, telah membentuk persahabatan yang akrab di antara mereka. Dengan tertawa Wulungan menjawab, ”Tentu Jaladri. Tetapi sayang bahwa kau tak akan mendapat bagian.”

Jaladri kemudian tertawa. Ketika kemudian segala sesuatu telah dipersiapkan, maka segera laskar itupun berangkat memasuki desa Pangrantunan. Bagaimanapun juga, di dalam dada laskar Banyubiru itu, masih juga tersangkut rasa persaingan dengan laskar Pamingit. Meskipun kemudian mereka tidak akan bertempur, namun di hati Bantaran, Penjawi, Jaladri dan lain-lain pemimpin laskar itu, masih ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa mereka sama sekali tidak berada di bawah tingkatan laskar Pamingit. Karena itulah, maka mereka memasuki Pangrantunan dengan upacara yang menggemparkan.

Meskipun menjelang tengah malam, namun laskar Banyubiru berjalan dalam derap irama sangkalala dan genderang yang menggema melingkar-lingkar di lereng bukit Merbabu itu. Suara sangkalala dan genderang itu telah mengejutkan segenap laskar Pamingit. Baik yang sedang bertugas, maupun yang sedang beristirahat. Karena itu segera mereka bangkit. Mereka yang kurang mengerti persoalannya, segera memegang senjata masing-masing. Tetapi kemudian para pemimpin mereka memberi mereka penjelasan-penjelasan yang didengarnya dari pemimpin pengawal yang sedang bertugas. Seperti juga yang lain-lain, mereka ragu. Karena itu mereka ingin menyaksikan kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.

Laskar Banyubiru memasuki Pangrantunan dengan derap yang mengagumkan. Di ujung barisan itu berjalan dengan tegapnya Bantaran, kemudian Penjawi. Diikuti oleh pasukan yang segar, yang memancarkan keteguhan hati mereka. Meksipun laskar ini tidak mempergunakan kesegaran yang khusus, namun di dalam dada mereka berakar tekad yang seragam. Mengabdi kepada tanah pusaka, tanah tercinta, yang diperuntukkan oleh Maha Pencipta bagi mereka.

Laskar Pamingit yang pecah, ketika melihat kedatangan laskar Banyubiru itu, merasa seolah-olah mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya. Karena itu, tanpa disengaja, secara serta merta, mengumandanglah teriakan-teriakan mereka.

”Hidup laskar Banyubiru…. Hidup laskar Banyubiru….”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat laskar Banyubiru lewat di hadapannya dalam keremangan cahaya bulan. Sungguh tak diduganya, betapa anak-anak Banyubiru, yang selama ini terpaksa menyingkir karena pokal Lembu Sora itu, dapat merupakan kesatuan yang sedemikian mengagumkan.

Dengan dada tengadah, dan percaya kepada keadilan Yang Maha Kuasa, yang telah menempa mereka menjadi laskar yang pilih tanding. Lembu Sora sendiri melihat pasukan itu dengan hati yang pecah-pecah. Setiap derap langkah mereka, merupakan pukulan yang dahsyat, yang seakan-akan memecahkan rongga dadanya. Satu-satu berterbanganlah kenangan-kenangan masa lampaunya yang memalukan.

Teringatlah, betapa ia berusaha mati-matian untuk meniadakan Arya Salaka. Dan tiba-tiba anak itu sekarang datang menyelamatkannya, menyelamatkan tanahnya. Apalagi ketika Lembu Sora menyaksikan laskar Banyubiru dengan mata kepala sendiri. Ia menjadi bertambah malu. Disangkanya bahwa laskar Arya Salaka tidak lebih dari gerombolan berandal yang hanya mampu mencegat orang pergi berbelanja ke pasar. Namun ketika sudah disaksikannya sendiri laskar itu, bergetarlah jantungnya, seperti udara yang digetarkan oleh suara genderang laskar Banyubiru itu. Dan terngianglah kembali kata-kata Kebo Kanigara, ”Golongan hitam bukanlah mereka yang hitam pada wadag dan tata kelahirannya, tapi golongan hitam adalah mereka yang berhati hitam.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Ia tidak kuasa lagi menyaksikan laskar yang perkasa itu. Tetapi lebih daripada itu, ia menjadi terharu atas kenyataan yang dialaminya. Terbayanglah di dalam rongga matanya, seolah-olah semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan atas perbuatannya.

Lembu Sora terkejut ketika sekali lagi terdengar sorak, ”Hidup laskar Banyubiru.” Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Tampaklah di luar barisan berjalan Arya Salaka dengan tobak Kyai Bancak di tangannya bersama-sama Wulungan. Dada Lembu Sora menjadi berdentang karenanya. Tiba-tiba ia seolah-olah melihat kakak Gajah Sora berjalan di mukanya, memandangnya dengan marah dan berkata kepadanya, ”Lembu Sora, coba bunuhlah anakku itu kalau kau berani.”

Sekali lagi wajah Lembu Sora terbanting di tanah.

Yang mempunyai tanggapan lain adalah Sawung Sariti. Ketika pasukan Banyubiru itu lewat, terasa dadanya berdesir pula, karena iapun sama sekali tak menyangka, bahwa laskar itu dapat berbaris dengan tertib serta penuh kepercayaan pada dirinya. Betapa mereka menggenggam senjata mereka dengan cermatnya, sebagai tanda bahwa mereka menguasai setiap senjata yang berada di tangan mereka dengan baiknya. Di dalam hati kecilnya, Lembu Sora bersukur pula bahwa laskarnya tak terlibat dalam pertempuran dengan laskar Banyubiru itu. Sebab dengan demikian, ia akan terpaksa meninggalkan Banyubiru dengan nama yang ternoda, kalau terpaksa laskarnya tak mampu melawan laskar Arya Salaka itu. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 587

TETAPI yang kemudian menguasai perasaan Sawung Sariti adalah sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia menjadi iri hati. Iri hati terhadap kemampuan Arya Salaka memimpin laskarnya, iri hati terhadap kegagahan laskar itu. Apalagi ketika ia melihat eyangnya tampak bangga, dan ayahnya bersedih. Sebelum laskar itu habis sampai ke ujungnya, ia sudah memalingkan mukanya. “Bagaimana Anakmas?” terdengar suara di belakangnya.

“Hem…” geramnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Galunggung?” “Tak berarti,” sahut orang itu.

“Besok atau lusa laskar yang sombong itu pasti sudah akan dihancurkan oleh arus laskar gabungan dari golongan hitam itu.”

Sawung Sariti mencibirkan bibirnya. “Laskarnya tak begitu banyak. Apa yang dibanggakan?”

“Yang datang hanya separo, Tuan.”

Tiba-tiba terdengar suara lain di sampingnya. Ketika keduanya menoleh, dilihatnya Srengga berdiri di situ.

“Dari mana kau tahu?” tanya Sawung Sariti

“Dari pengawal,” jawab Srengga.

“Omong kosong,” sahut Galunggung dengan wajah yang dilapisi oleh kedengkian. Srengga kemudian berdiam diri. Yang lain pun diam. Sekali lagi mereka melayangkan pandangan mereka kepada pasukan yang lewat. Namun sesaat lagi habislah barisan itu. Mereka yang menyaksikan, segera kembali pula ke tempat masing-masing. Sebagian besar dari mereka merasa bahwa pekerjaan mereka akan diperingan karena kedatangan laskar itu. Bahkan mungkin, nyawa merekapun akan selamat pula. Laskar Pamingit akan bebas dari kemusnahan mutlak. Meskipun demikian, kemampuan tempur laskar Banyubiru masih perlu diuji.

Malam itu laskar Banyubiru beristirahat di tempat yang sudah ditentukan. Di halaman Banjar Desa yang tak begitu luas, sehingga sebagian besar dari mereka, harus duduk bersandar pagar di sepanjang jalan desa di muka banjar itu. Namun mereka dapat merasakan kenikmatan dari waktu istirahat itu.

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara kembali duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti dan Wulungan. Ki Ageng Sora Dipayana kemudian mengambil seluruh pimpinan di tangannya.

“Tak ada pilihan lain ayah,” jawab Lembu Sora. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukan kepalanya.

“Terima kasih atas keikhlasanmu Lembu Sora.” Selanjutnya, orang tua itu membuat perintah-perintah yang harus dilakukan oleh Arya Salaka beserta laskarnya, dan Lembu Sora dengan laskar Pamingit. “Menurut perhitunganku, serta pengintai-pengintai yang datang sampai saat terakhir, mereka tidak akan menyerang kedudukan kita sekarang ini,” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Sebab mereka merasa, bahwa jumlah laskar mereka tidak terlalu banyak, sehingga mereka lebih senang menanti kita datang menyerang.”

Tak seorangpun yang mengajukan pendapatnya.

“Karena itu…” orang tua itu meneruskan, “Kita masih mempunyai satu hari untuk beristirahat. Lusa kitalah yang mengambil peran, menyerang kedudukan mereka. Kita mengambil daerah pertempuran yang luas dengan gelar Jinatra Sawur atau gelar-gelar yang lain, yang menebar. Garudha Nglayang atau Sapit Urang.”

Tiba-tiba orang tua itu teringat bahwa di antara mereka duduk seorang bekas perwira prajurit pengawal raja, yang pasti mempunyai perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dalam peperangan antara dua pasukan yang berjumlah besar.

Karena itu segera ia berkata, “Bukankah begitu Angger Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar sadar pada kedudukannya. Maka iapun menjawab, “Demikianlah Ki Ageng, namun aku ingin mengusulkan, untuk melawan mereka yang biasa bertempur tanpa aturan, dan terlalu percaya pada kesaktian pemimpin-pemimpin mereka. Biarlah di antara kita pun ada beberapa orang yang terlepas dari ikatan gelar, untuk melayani pemimpin-pemimpin mereka yang tak mau mengikat diri itu.”

“Bagus,” sambut orang tua itu. “Kita pun mempunyai orang-orang semacam itu di sini. Titis Anganten, misalnya.”

Baru saat itulah Mahesa Jenar teringat bahwa di dalam laskar Pamingit itu terdapat seorang sakti yang bernama Titis Anganten. Karena itu kemudian ia bertanya, “Di manakah Paman Titis Anganten itu?”

“Ia berkeliaran sepanjang hari,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana.

“Tapi ia hadir dalam setiap pertempuran.”

“Kalau demikian, biarlah Paman Titis Anganten kita perhitungkan pula. Siapakah para pemimpin golongan hitam dari angkatan tua itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Bugel Kaliki, Sima Rodra, Pasingsingan, Nagapasa dan Sura Sarunggi,” jawab Sora Dipayana.

“Nah, kalau demikian kitapun harus melepaskan lima orang dari ikatan gelar itu. Bahkan barangkali lebih dari itu, untuk melawan tokoh-tokoh muda mereka, seperti Lawa Ijo dan Soka,” sahut Mahesa Jenar. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi siapakah lima orang itu? Mungkin dirinya sendiri dapat melayani setiap tokoh sakti lawan mereka itu, orang kedua adalah Titis Anganten, tetapi lalu siapa? Mahesa Jenar sendiri merasa, bahwa iapun sanggup untuk menyerahkan dirinya dalam pengabdian itu, namun agaknya sulitlah baginya untuk menyatakan diri. Tetapi dengan tak diduga-duga, terdengarlah suara Sawung Sariti dengan nada yang tinggi, “Siapakah lima orang dari kamu itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas. Ia melihat wajah cucunya dengan kecewa, juga nada suaranya tak menyenangkan. Namun orang tua itu menjawab, “Sudah menjadi kewajibanku untuk menjadi orang yang pertama cucu, sedang yang kedua eyangmu Titis Anganten.”

Kata-kata orang tua itu terputus. Ia ragu-ragu untuk meneruskan, dan memang tak diketahuinya siapa yang akan disebut namanya. “Lalu siapakah yang ketiga, keempat dan kelima…?” Sawung Sariti mendesak. Ki Ageng Sora Dipayana menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu, Sariti.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 588

SAWUNG SARITI tersenyum. Senyum yang mengundang seribu satu macam kemungkinan.

Katanya, ”Kenapa bukan Paman Mahesa Jenar yang perkasa serta sahabatnya dari Karang Tumaritis itu?” Sawung Sariti mengharap bahwa Mahesa Jenar tidak akan menolak di hadapan sekian banyak orang. Kalau Mahesa Jenar menerima tawaran itu, apakah ia mampu berbuat demikian? Di Gedangan, Sima Rodra dan Bugel Kaliki pernah mengalami kekalahan, namun ia tidak yakin, bahwa kekalahan itu disebabkan karena Mahesa Jenar dan sahabatnya itu. Beberapa laskarnya melihat seorang berjubah abu-abu ikut serta membantu mereka. Dan ia tidak tahu, siapakah orang berjubah abu-abu itu. Apakah ia Pasingsingan. Tetapi Pasingsingan tidak akan gila. Malahan mungkin eyangnya itu sendiri atau Titis Anganten, atau Ki Ageng Pandan Alas. Sekarang, tanpa bantuan seorangpun Mahesa Jenar pasti akan binasa. Bukankah Arya Salaka tak banyak berarti tanpa Mahesa Jenar?

Oleh perhitungan itu Sawung Sariti menjadi tegang menunggu jawaban dari orang yang dijerumuskannya ke dalam kesulitan itu. Mahesa Jenar tidak dapat tepat menebak maksud anak itu, namun ia merasa bahwa ada sesuatu maksud terkandung dibalik kata-katanya. Meskipun demikian perlahan- lahan ia menjawab, ”Baiklah Angger, kalau Angger Sawung Sariti berpendapat demikian, serta Ki Ageng Sora Dipayana menyetujuinya, aku dan sahabatku dari Karang Tumaritis ini akan bersedia untuk membantu.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut mendengar kesanggupan Mahesa Jenar itu. Karena itu ia segera memotong, ”Angger Mahesa Jenar, sebenarnya tidak perlu diartikan bahwa setiap orang harus melawan satu di antara mereka. Aku pernah memakai cara yang lain. Kelompok demi kelompok.”

Sebelum Ki Ageng meneruskan kata-katanya, Sawung Sariti telah menyela, ”Usaha itu ternyata gagal. Setiap kali, lima atau enam di dalam kelompok itu terbunuh.”

”Kalau demikian…” Mahesa Jenar menengahi, ”Biarlah aku berada dalam kelompok- kelompok itu. Demikian juga Kakang Putut Karang Jati ini. Biarlah ia berada pada kelompok yang lain.”

Ki Ageng Sora Dipayana tak dapat berbuat lebih baik lagi selain menyetujui terakhir Mahesa Jenar itu. Sawung Sariti menjadi agak kecewa karenanya, namun bagaimanapun juga ia mengharap Mahesa Jenar akan masuk kedalam perangkapnya.

Demikianlah akhirnya, mereka masing-masing meninggalkan pertemuan itu kembali ke dalam lingkungannya. Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara ke halaman Banjar Desa, sedang Lembu Sora dan Sawung Sariti kembali ke dalam pasukannya yang payah. Di dalam kelompok yang kecil itu tinggallah Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan. Yang akhirnya mereka mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat.

Pagi-pagi benar, Ki Ageng Sora Dipayana telah bangun. Ia menunggu kalau ada tanda-tanda atau laporan bahwa orang-orang dari golongan hitam mulai bergerak. Tetapi ternyata bahwa perhitungannya benar. Hari itu mereka masih dapat beristirahat sehari penuh, sebelum pada keesokan harinya mereka harus bekerja mati-matian. Kesempatan hari itu dipergunakan untuk menyusun kembali pasukan Pamingit, serta menempatkan mereka ke dalam pondok-pondok di desa itu. Demikian juga laskar Banyubiru pun telah disediakan tempat-tempat untuk bernaung dari dinginnya embun malam. Pada malam harinya, keadaan menjadi bertambah tegang. Mereka harus beristirahat sebaik-baiknya, sebab mereka tahu bahwa besok mereka harus bertempur kembali.

Yang paling tegang di antara mereka adalah Arya Salaka. Ia selalu teringat kepada ibunya. Kalau besok ia menerobos pertahanan golongan hitam, dan dapat mendesaknya, apakah yang akan dilakukan oleh golongan hitam itu terhadap ibunya? Tetapi ketika ia sedang berangan-angan di muka pondoknya, tiba-tiba muncullah dari kegelapan malam, seorang yang bertubuh kecil, berjalan seperti seorang perempuan mendekatinya.

Beberapa langkah dimukanya orang berhenti dan bertanya, ”Arya Salakakah ini?”

Arya Salaka tahu siapa yang datang. Karena itu ia berdiri dan enyambutnya, ”Ya, Eyang.”

Orang itu tertawa perlahan-lahan. ”Kau sedang bersedih?”

”Tidak Eyang,” sahut Arya tergagap.

”Jangan berdusta. Kau rindu pada ibumu?” tanya Titis Anganten pula. Arya Salaka tertegun. Orang tua itu dapat menebak perasaannya dengan tepat. Namun demikian ia agak malu juga untuk mengiyakan. Ketika Arya diam, bertanyalah Titis Anganten itu, ”Pamanmu ada…?”

”Ada, eyang. Apakah Eyang mau bertemu dengan Paman Mahesa Jenar?” tanya Arya pula. ”Tidak,” jawab orang tua itu sambil duduk di samping Arya. ”Aku hanya perlu kau. Ada sebuah berita untukmu.” Arya menjadi tertarik pada berita yang dibawa oleh Titis Anganten itu. ”Berita pentingkah itu Eyang?” tanya Arya.

”Sangat penting bagimu, bagi ketentraman hatimu,” jawab Titis Anganten.

”Berita tentang ibumu.” Arya terlonjak.

”Ibu…?” Ia menegaskan.

”Ya.”

”Bagaimanakah dengan ibu?” Ia tidak sabar lagi.

”Duduklah Arya. Dengarlah baik-baik. Aku akan berceritera tentang ibumu,” kata Titis Anganten perlahan-lahan.

Arya duduk kembali. Ia menjadi sedemikian ingin segera mengetahui, berita apakah yang akan disampaikan kepadanya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 589

TITIS ANGANTEN memulai, ”Ketika golongan hitam itu menyerbu Pamingit, Pamingit sedang kosong. Pamanmu Lembu Sora dan adikmu Sawung Sariti berada di Banyubiru. Mereka sedang bersiap-siap untuk menghadapi laskarmu. Nah, dengan mudahnya golongan hitam itu dapat masuk ke dalam kota. Hampir tanpa perlawanan. Semua laskar Pamingit yang ada lari cerai berai. Tak ada seorang pun yang ingat untuk menyelamatkan Nyai Lembu Sora dan ibumu. Untunglah bahwa aku sejak semula selalu melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Aku melihat persiapan- persiapan yang dilakukan oleh golongan hitam. Sehingga dengan demikian aku sempat menyingkirkan bibi serta ibumu itu.”

”Jadi ibuku selamat?” tanya Arya.

”Ya. Ibumu selamat,” jawab Titis Anganten.

Tiba-tiba rongga dada Arya serasa tersumbat. Nafasnya menjadi sesak. Dan tidak setahunya ia berbisik, ”Tuhan Maha Besar.”

Kemudian Arya memutar duduknya dan bersujud kepada orang tua yang menyelamatkan ibunya itu sambil berkata, ”Tak dapat aku menyatakan betapa besar terima kasihku kepada Eyang Titis Anganten.”

Orang tua itu tertawa nyaring. Kemudian tanpa berkata sepatah katapun ia berdiri dan berjalan pergi. ”Eyang….” Arya mencoba memanggil.

Tetapi Titis Anganten tidak berhenti. Yang terdengar hanyalah derai tawanya. Lamat-lamat kemudian terdengar ia berkata, ”Aku sudah mengantuk. Besok aku akan turut bertempur dengan eyangmu.”

Kembali Arya tertegun diam. Ia tidak sempat bertanya di mana ibunya sekarang. Namun ia percaya bahwa Titis Anganten telah menempatkan ibunya itu di tempat yang aman. Dengan demikian hati Arya Salaka menjadi agak tenteram. Tidak perlu lagi ia mencemaskan nasib ibunya, meskipun seandainya orang-orang golongan hitam nanti menghancurlumatkan Pamingit.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, Arya pun segera masuk ke dalam pondok yang disediakan untuknya. Dilihatnya gurunya sedang tidur dengan nyenyaknya di samping Kebo Kanigara.

Di luar, beberapa orang masih duduk berjaga-jaga. Tetapi malam itu Arya dapat tidur dengan nyenyaknya. Ia tidak peduli lagi apa yang terjadi atas dirinya besok pagi. Namun ia malam itu bermimpi indah. Ia melihat ibunya segar bugar, tersenyum kepadanya sambil berkata, ”Arya, sambutlah dengan kedua tanganmu. Hari akan cerah.”

Arya tersenyum di dalam tidurnya. Pagi-pagi ia terbangun oleh kesibukan di halaman. Beberapa orang telah siap dengan senjata di tangan, meskipun beberapa orang masih enak-enak menikmati minum air sere yang hangat, dengan segumpal gula kelapa. Dilihatnya gurunya, Mahesa Jenar dengan Kebo Kanigara pun sedang minum dengan segarnya.

Cepat-cepat Arya mengambil air wudlu.

Sesudah sembahyang Subuh, kemudian ia pun turut serta duduk di sekitar perapian sambil menghangatkan tubuhnya. Sebentar kemudian datanglah beberapa orang mengantar nasi hangat, dengan srundeng kelapa dan segumpal sambal wijen. Betapa nikmatnya mereka makan bersama sebelum mengadu nasib, berjuang di antara hidup dan mati. Nasi itu adalah mungkin sekali nasi yang terakhir yang dapat dinikmatinya.

”Kita berada di sayap kiri.”

Terdengar gurunya bergumam. Arya mengangguk sambil menelan segumpal nasi lewat lehernya.

Setelah mereka mengaso sejenak, terdengarlah tengara dibunyikan. Laskar Banyubiru itupun segera bersiap, dan berbaris menuju ke sawah di depan desa Pangrantunan. Mereka, dengan tidak menghiraukan lagi tanaman-tanaman yang sedang tumbuh, segera merapatkan diri dalam barisan.

Beberapa orang pemimpin dari laskar masing-masing segera menghadap Ki Ageng Sora Dipayana untuk mendapat beberapa cara menghadapinya. Apabila mungkin, mereka harus memilih lawan. Jangan sampai ada korban sia-sia. Ketika sangkalala berbunyi, barisan itu mulai bergerak. Dalam keremangan pagi, tampaklah barisan itu seperti seekor naga raksasa yang berenang di dalam air yang keruh.

Di depan, berjalan laskar Pamingit, di bawah pimpinan Lembu Sora sendiri, dibantu oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Sedangkan di belakang, berjalan laskar Banyubiru, di bawah pimpinan Arya Salaka, dibantu oleh Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat. Di tangan Arya Salaka tergenggam erat-erat pusaka Banyubiru, Kyai Bancak. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 590

BEBERAPA orang pengintai telah dikirim lebih dahulu, untuk mengetahui di mana kira-kira orang-orang dari golongan hitam itu mempersiapkan diri. Biasanya mereka sama sekali tidak membuat garis-garis pertahanan yang tegas. Mereka bertempur di mana saja mereka ingin dan kapan saja mereka sempat. Tetapi jelas, bahwa kali ini mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan Pamingit. Bahkan mereka merasa bahwa lawan mereka telah separo hancur, sehingga untuk menumpasnya tidaklah terlalu sulit.

Tetapi agaknya pengawas merekapun telah mengetahui kedatangan laskar Banyubiru, sehingga dengan demikian mereka menjadi heran, apakah agaknya Arya Salaka telah menjadi gila. Apalagi kemudian, kedua laskar itu berada di Pangrantunan bersama-sama. Tidak seperti yang mereka harapkan, bertempur satu sama lain.

Dengan bangga atas kekuatan sendiri, Sima Rodra berkata, ”Kalau di dalam laskar Banyubiru itu ada Mahesa Jenar, akulah lawannya. Sebab ia telah membunuh menantuku.”

Beberapa lama kemudian pengintai dari Pamingit itupun melaporkan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa orang-orang golongan hitam itu tidak bergerak dari Kepandak.

Namun orang-orang mereka yang di Sumber Panas pun telah ditariknya. Mereka memusatkan kekuatan di satu tempat, untuk menghadapi laskar Pamingit dan Banyubiru. Demikianlah ketika mereka telah berhadap-hadapan dengan desa Kepandak, Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan laskarnya.

Kemudian diperintahkannya laskar Pamingit dan Banyubiru membentuk gelar perang Sapit Urang. Laskar Pamingit dan Laskar Banyubiru itu pun segera bergerak dalam garis yang menebar, laskar Pamingit di sayap kanan, laskar Banyubiru di sayap kiri, yang masing-masing merupakan sapit dari seekor udang raksasa yang siap menerkam lawannya.

Di pusat gelar yang justru tidak terlalu banyak, tampaklah beberapa bagian laskar Pamingit dan dua orang yang berdiri lepas dari gelar, masing-masing Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di muka laskar Banyubiru, sapit sebelah kiri, di bawah pimpinan Arya Salaka. Di hadapan mereka, berjajar rapat di tepi desa Kepandak, orang-orang dari golongan hitam. Merekapun agaknya telah mengerahkan segenap laskar mereka. Mereka sama sekali tidak membentuk gelar apapun, karena itu, mereka dapat menyerang ke mana saja mereka inginkan.

Tetapi ketika orang-orang dari golongan hitam itu melihat gelar lawannya, mau tidak mau merekapun harus menyesuaikan diri mereka. Melawan bagian-bagian yang terberat dengan orang-orang yang terkuat.

Ketika di timur cahaya matahari sudah semakin terang, sebelum bola api itu muncul di wajah-wajah langit, kedua laskar itupun telah berhadap-hadapan dalam kesiagaan tempur. Jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di pihak masing-masing.

Di muka barisan laskar golongan hitam itu berdiri beberapa orang pemimpin mereka, yang dengan tertawa-tawa menanti kedatangan lawan. Mereka itu adalah Pasingsingan dengan jubah abu-abunya,

Sima Rodra yang kali ini lengkap dengan kulit harimau hitamnya, namun ia tidak mengenakan topengnya. Nagapasa, Naga dari Nusakambangan, Sura Sarunggi dari Rawa Pening yang menyimpan dendam tiada taranya atas kematian muridnya, sepasang Uling dari Rawa Pening. Dan hantu dari Gunung Cerme, Bugel Kaliki.

”Ada laskar Banyubiru serta?” tanya Bugel Kaliki kepada Pasingsingan.

”Ya, tetapi tak seberapa. Mereka tak akan berarti apa-apa menghadapi laskar kita,” jawab Pasingsingan.

”Namun yang harus mendapat perhatian adalah Mahesa Jenar.”

Sima Rodra tertawa.

”Biarlah aku selesaikan,” katanya.

Pasingsingan mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia ragu. Sima Rodra belum tahu, sampai di mana tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh Mahesa Jenar. Namun demikian ia berdiam diri. Mudah-mudahan Sima Rodra benar-benar dapat menandingi.

”Sekarang mereka mendapat bantuan anak gila dari Banyubiru itu. Sungguh suatu perbuatan yang tak dapat aku mengerti. Kenapa Arya Salaka tidak saja merebut tempatnya kembali. Kenapa justru ia membantu Pamingit?” tanya Sura Sarunggi.

”Ia benar-benar gila,” jawab Pasingsingan.

”Sedang perhitungan kita memang terlalu cepat satu hari saja. Kalau kita tunda serangan kita dengan satu hari, keadaannya akan lain. Laskar Banyubiru dan Pamingit pasti sudah bertempur. Tetapi bagaimanapun juga, tak ada bedanya. Kita pasti akan melawan kedua-duanya. Sekarang atau besok. Bahkan kehadiran laskar Banyubiru itu akan mempercepat penyelesaian.”

Nagapasa mengangguk-angguk sambil berdesis. tepat seperti desis seekor naga. ”Siapakah yang harus dilawan dari mereka?”

”Seperti kemarin dulu,” jawab Pasingsingan.

”Sora Dipayana, Titis Anganten. Dan sekarang tambah satu lagi, Mahesa Jenar. Tetapi agaknya Sima Rodra ingin menyelesaikan.”

Tiba-tiba kening mereka berkerut ketika mereka melihat seseorang yang dengan serta merta, menerobos masuk dalam laskar Pamingit.

”He…!” seru Bugel Kaliki, ”Orang gila itu datang pula.”

Mereka menjadi terdiam. Namun kehadiran satu orang di dalam barisan Pamingit itu benar-benar diperhitungkan.

NAGASASRA SABUK INTEN
Oleh SH Mintarja
001

AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.

Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.

Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.

Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.

Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut.

Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.

Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.

Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.

Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.

Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.

Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.

Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.

Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.

Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu.

Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.

Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.

Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu.

Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.

Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
002

TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu.

Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.

Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.

Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.

Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo.

Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.

Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.

Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.

Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima.

Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.

Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang.

Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.

Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.

Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya.

Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.

Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya.

Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya.

Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.”

Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.

“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.

Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”

Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.
Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!

Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.”

Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya : SH Mintarja
003

SEORANG pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka?

Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi.

Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi. “Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami.”

Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati.

“Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri?”

Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu.

Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang,” kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula.

Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.

Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang.

Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara.”

Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik.

“Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.”

“Belum cukup,” jawab Baureksa semakin marah. “Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang?”

Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam.
Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu.

Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa?” tanya Demang tua itu.

Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya.

Orang itu harus berkata sebenarnya,” katanya.

Kalau tidak mau?” pancing Demang itu.

Dipaksa!” jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu.

Bagus… terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya.

Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik.

Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?.

Berbeda sekali dengan pikiran Baureksa.Ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya.

Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya.

“Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu,” pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka.

Gagak Ijo…!” tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras.

Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Baureksa.

Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.

“Suruh orang itu bicara,” perintah Baureksa.

Bicara tentang apa Kakang?” tanya Gagak Ijo.

Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras, “Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”-

Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu.

Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
004

PERISTIWA semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

“Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.

“Siapa namamu?”

Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya.

“Namaku Mahesa Jenar.”

Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa.

“Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.”

Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya.

“Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”

“Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar.

Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras.

“Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.”

Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah.

“Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum.

Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar.

Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.

Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.

Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.

Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala.

Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
005

GAGAK IJO membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas. Sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali.

Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya.

Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya?

Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal.

Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada.

Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai di mana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji.

Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri.

Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karena itu sebelum cambuk Baureksa sempat
mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali di samping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu. Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh.

Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar.

Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti.

Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya.

Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak.

Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya.

Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula. Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali.

Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan.

Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab.

Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan.

Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa.

 NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 606

SATU-DUA orang mencoba menolong kawan-kawan mereka yang luka dan memapahnya. Tetapi kebanyakan dari mereka sama sekali tidak ambil pusing kepada mereka yang terpaksa berjalan sambil merintih-rintih, bahkan hampir merangkak-rangkak sekalipun. Apalagi mereka yang terluka dan parah terbaring di bekas daerah pertempuran itupun sama sekali tidak mendapat perhatian. Telah menjadi kebiasaan mereka, laskar golongan hitam, untuk menjaga diri masing-masing. Bahkan untuk kepentingan rahasia mereka, sama sekali mereka tidak segan membunuh kawan sendiri. Berbeda dengan laskar Pamingit dan Banyubiru. Segera mereka berkumpul dalam kelompok masing-masing.

Pemimpin-pemimpin kelompok yang tetap hidup segera menghitung laskar mereka, sedang yang terpaksa gugur atau terluka, segera ditunjuk gantinya. Mereka segera membentuk kelompok-kelompok yang mendapat tugas khusus, merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan gugur dimedan perjuangan menegakkan hak atas tanah mereka. Bahkan tugas mereka melimpah pula kepada kawan-kawan mereka yang parah. Merekapun berhak mendapat pertolongan dan pengobatan atas luka-luka mereka.

Demikianlah medan pertempuran itu segera menjadi sepi. Beberapa orang dengan obor di tangan menjalankan tugas mereka. Sedang orang-orang lain, dalam satu barisan yang tertib kembali ke perkemahan di Pangrantunan. Mereka harus mempergunakan waktu istirahat mereka sebaik-baiknya.

Besok mereka masih harus bertempur lagi. Mungkin mereka akan mendesak maju. Mereka merasa bahwa keseimbangan pertempuran telah berubah. Bahkan mungkin besok mereka telah dapat memasuki Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten, demikian pertempuran selesai, segera pergi bergegas-gegas menemui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Ketika mereka telah berdiri di hadapan kedua orang itu, tiba-tiba tanpa sengaja mereka mengangguk hormat. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi kaku karenanya. Merekapun segera menghormat tokoh-tokoh sakti yang sebaya dengan Ki Ageng Pengging Sepuh itu.

Namun segera terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Sungguh luar biasa. Angger Mahesa Jenar dan Angger Putut Karang Jati. Kami orang-orang tua ini, agaknya telah kehilangan daya pengamatan atas cahaya teja yang memancar dari tubuh Angger berdua. Sebagaimana terbukti, bahwa Angger telah melakukan sesuatu yang tak dapat kami duga sebelumnya karena rasa sombong di hati kami. Seolah-olah tak ada orang lain yang dapat menyamai kesaktian-kesaktian kami. Ternyata bahwa Angger berdua memiliki kesaktian jauh di atas kesaktian kami orang-orang tua yang tak tahu diri.

Mahesa Jenar menjadi semakin kaku. Ia tidak pernah melihat sikap yang sedemikian merendahkan diri dari tokoh-tokoh tua itu. Karena itu ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Yang kemudian terdengar adalah jawab Kebo Kanigara, ”Ada kekuasaan di atas, kekuasaan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya pula. Kami tidak lebih hanyalah lantaran-lantaran yang ditunjuknya.”

Tokoh-tokoh sakti yang mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu langsung tersentuh hatinya. Sebagai orang-orang yang taat beribadah, mereka langsung dapat merasakan betapa Tuhan mengulurkan Tangan-Nya untuk menolong umatnya.

Sementara itu, mereka yang mendapat tugas di bekas medan pertempuran itu menjalankan pekerjaan mereka dengan tertib. Mereka berusaha meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka. Ki Ageng Sora Dipayana dan kawan-kawannyapun mendahului kembali ke perkemahan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang perjalanan itu. Namun di dalam dada tokoh-tokoh sakti itu masih tetap tersimpan berbagai pertanyaan mengenai Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Pagi tadi mereka masih menyangka bahwa kedua orang itu masih harus bertempur dalam perlindungan mereka dan laskar-laskar mereka. Tetapi tiba-tiba suatu kenyataan, kedua orang itu memiliki kesaktian melampaui kesaktian mereka sendiri.

Sampai perkemahan, segera Ki Ageng Sora Dipayana mengatur penjagaan dan pengawasan atas daerah perkemahan mereka dan pengawasan atas daerah lawan. Beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amati perkemahan dan setiap gerak-gerik dari laskar golongan hitam. Apapun yang mereka lakukan, para pengawas itu harus memberikan laporan setiap saat dengan tertib. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar pergi membersihkan diri, sambil mengambil air wudlu, dari celah-celah pintu rumah tempat peristirahatannya mereka melihat Lembu Sora sedang sembahyang.

Mahesa Jenar berhenti pula ketika tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berhenti. Orang tua itu melihat anaknya bersembahyang, seperti orang yang sedang mengagumi sesuatu. Mahesa Jenar menjadi heran. Bukankah sembahyang itu harus dilakukan setiap hari, bahkan lima kali dalam keadaan wajar? Bahkan orang tua itu kemudian bergumam, ”Tuhan telah menerangi hatinya.”

Mahesa Jenar menjadi semakin heran, maka bertanyalah ia, ”Bukankah sudah seharusnya dilakukan, Ki Ageng?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, ”Aku hampir saja putus asa. Lembu Sora lebih senang mengadu ayam dan berjudi daripada mendekatkan diri kepada Tuhan. Beberapa tahun terakhir, ia seolah-olah sudah lupa sama sekali akan kewajiban itu. Syukurlah, kini ia telah menemukan jalannya. Tetapi…” kata-kata orang tua itu terputus oleh tarikan nafasnya. ”Tetapi…”

Tidak dengan sengaja Mahesa Jenar mengulangi kata itu. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintanrja No. 607

KI AGENG Sora Dipayana memandangi wajah Mahesa Jenar dengan mata yang suram. Terasa ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana melangkah kembali untuk membersihkan dirinya. Mahesa Jenar pun tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengikuti saja langkah orang tua itu sambil berdiam diri.

Ketika mereka bertemu dengan Arya Salaka, Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, ”Dari mana kau Arya?”

Arya berhenti, kemudian ia menjawab, ”Sesuci Eyang.” Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, ”Bagus. Di mana adikmu Sawung Sariti?” Arya Salaka menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, ”Aku tidak melihatnya, Eyang. Barangkali ia bersama-sama Paman Lembu Sora.”

”Kalau kau bertemu dengan anak itu nanti, berilah ia beberapa petunjuk. Ajaklah ia kembali kepada Yang Maha Kuasa,” pinta orang tua itu.

”Baiklah Eyang,” jawab Arya. Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana dan Mahesa Jenar pergi pula ke pancuran dari sumber air di bawah pohon beringin tua.

”Angger Mahesa Jenar agaknya beruntung dapat membawa Arya Salaka ke jalan yang gemilang, lahir dan batin. Tanpa keseimbangan itu, maka yang terjadi adalah kekecewaan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itulah segera Mahesa Jenar mengerti, bahwa Ki Ageng Sora Dipayana sedang mencemaskan nasib cucunya, Sawung Sariti. Malam itu, ketika semuanya telah selesai, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka dengan nikmatnya menyuapi mulut masing-masing dengan nasi hangat dan serundeng kelapa seperti pagi tadi.

Namun meskipun demikian, karena letih dan lapar, maka terasa seolah-olah hidangan yang dimakannya itu adalah hidangan yang seenak-enaknya. Mereka duduk-duduk di antara laskar mereka, di sekeliling perapian untuk menghangatkan diri. Beberapa kali terdengar suara Bantaran, Penjawi, Jaladri dan beberapa orang lain tertawa ketika ia mendengar Sendang Papat berceritera.

Anak itu memang pandai berkelekar. Namun lambat laun suara tertawa merekapun semakin jarang dan lambat. Kemudian mereka tidak dapat menahan kantuk mereka. Diatas anyaman daun kelapa mereka merebahkan diri. Tidur sambil memeluk senjata masing-masing. Arya Salaka kemudian tertidur pula. Begitu nyenyaknya dibuai oleh mimpi yang segar. Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara akan merebahkan dirinya pula, mereka dikejutkan oleh langkah seseorang mendekati mereka.

Ketika mereka menoleh dilihatnya Lembu Sora datang kepada mereka. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bangkit, sambil mempersilahkan, ”Marilah Ki Ageng.”

Lembu Sora mengangguk hormat dengan tulusnya. Berbeda dengan saat-saat yang lampau. Kemudian merekapun duduk pula didekat perapian yang masih menyala-nyala itu. ”Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati…” Ki Ageng Lembu Sora mulai, ”Aku memerlukan datang kepada kalian berdua untuk memohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan, lebih-lebih kepada Adi Mahesa Jenar dan apabila aku masih sempat untuk bertemu karena kepalaku tidak terpenggal pedang Jaka Soka besok pagi, aku akan bersujud pula di bawah kaki Kakang Gajah Sora. Betapa besar dosa yang telah aku lakukan. Atas ayah Sora Dipayana, Kakang Gajah Sora dan lebih-lebih lagi atas Pamingit dan Banyubiru.”

Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar pengakuan itu, dan terasa betapa ikhlasnya Lembu Sora memandang kepada diri sendiri. Udara malam terasa dingin, namun kehangatan yang dilemparkan oleh perapian di samping mereka terasa betapa nyamannya. Sebelum Mahesa Jenar menjawab, Lembu Sora meneruskan, ”Dalam keadaan-keadaan yang sulit seperti apa yang aku alami sekarang, baru dapat aku lihat, betapa noda-noda telah melekat pada masa lampau itu. Mudah-mudahan aku belum terlambat.”

Lembu Sora diam sesaat menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. ”Tetapi Kakang, apabila besok aku terbunuh dalam mempertahankan tanah ini, biarlah Kakang menyampaikan rasa penyesalanku kepada Kakang Gajah Sora kelak.”

”Tak ada kelambatan untuk menyatakan kesalahan diri,” sahut Mahesa Jenar. ”Meskipun aku belum lama berkenalan, namun aku tahu bahwa dada Kakang Gajah Sora adalah seluas samodra. Karena itu, kalau Ki Ageng menyatakan penyesalan diri dengan ikhlas, maka Kakang Gajah Sora pun pasti akan memaafkannya.”

”Ya…” Lembu Sora menjawab, ”Aku tahu itu. Aku sadar betapa Kakang Gajah Sora memanjakan aku sejak masa kanak-kanak kami. Tetapi apa yang aku lakukan telah melampaui batas. Aku telah sampai pada usaha untuk membunuhnya atau meniadakannya. Bahkan membunuh anaknya yang tak mengetahui sama sekali persoalan di antara kami. Syukurlah bahwa Tuhan membebaskan aku dari pembunuhan-pembunuhan itu.”

”Hal itu tidak akan mengurangi kelapangan dada Kakang Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar seperti kepada anak-anak yang betapa miskin jiwanya dalam menanggapi hidup dan kehidupan.”

”Tetapi kalau aku tidak sempat karena aku terbunuh…?” Lembu Sora bertanya benar-benar seperti orang yang sedemikian bodohnya.

”Tidak,” jawab Mahesa Jenar, ”Meskipun hidup dan mati berada di tangan Tuhan, namun berdoalah agar Tuhan menyelamatkan Ki Ageng Lembu Sora. Saat ini Kakang berada di pihak yang benar. Karena itulah maka kami dan Arya Salaka bersedia berdiri di pihak Ki Ageng. Dan karena itu pula Tuhan akan melimpahkan rahmat-Nya.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 608

LEMBU SORA terdiam. Matanya yang muram, merenungi api yang sedang menjilat- jilat ke udara dengan lincahnya. Tetapi di dalam nyala yang seolah-olah menari- nari itu dilihatnya betapa kelam masa-masa lampau yang pernah dijalaninya. Ketamakan, kebencian, pemanjaan nafsu lahiriah, dan segala macam sifat-sifat yang tercela. Dilihatnya betapa dirinya duduk di atas singgasana Demak, dengan Kyai Nagasasra di tangan kanan dan Kyai Sabuk Inten di tangan kiri. Sedang kakinya beralaskan bangkai Ki Ageng Gajah Sora dan Arya Salaka, dan sekitarnya berserak-serakanlah bangkai-bangkai orang Banyubiru. Pandan Kuning, Sawungrana dan lain-lain.

Tiba-tiba ia menjadi ngeri pada gambaran cita-citanya waktu itu. Dengan tanpa disengaja maka kedua tangannya diangkatnya menutupi wajahnya. Akhirnya wajah itu tertunduk lesu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengetahui betapa rasa penyesalan bergolak di dalam dada Ki Ageng Lembu Sora. Betapa ia mengutuki dirinya sendiri yang telah tersesat terlalu jauh. Untunglah bahwa akhirnya ditemukannya jalan kembali.

Untuk sesaat suasana dicekam oleh kesepian. Malam menjadi semakin dalam dan sepi. Namun terasa di sana sini para pengawas dan para penjaga bekerja dengan tekunnya. Di tangan mereka terletak tanggungjawab atas keselamatan perkemahan Pangrantunan. Sebab tidaklah mustahil laskar golongan hitam itu menyerang mereka pada malam hari ketika mereka sedang nyenyak tertidur.

Tiba-tiba Arya Salaka menggeliat. Ketika ia membuka matanya, ia melihat pamannya Lembu Sora duduk bersama-sama dengan gurunya dan Kebo Kanigara. Karena itu iapun segera bangkit dan duduk pula. Lembu Sora melihat Arya bangun dekat di sampingnya. Tiba-tiba terasa betapa hatinya bergelora. Dan tiba-tiba pula dengan serta merta diraihnya kepala anak muda itu seperti masa anak-anak dahulu.

”Arya…” desisnya, ”Maafkan pamanmu.” Arya pun merasa betapa hatinya bergetar mendengar kata-kata pamannya. Karena itulah maka mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Namun hatinya berkata, ”Aku akan berusaha melupakannya, Paman.” Kemudian ketika kepala itu dilepaskan, mata Arya menjadi panas. Seolah-olah ada yang berdesakan hendak meloncat keluar. Karena itulah maka ditengadahkan kepalanya ke langit. Sedang Ki Ageng Lembu Sora pun menarik nafas dalam-dalam.

Kembali suasana terlempar ke dalam heningnya malam. Dan kembali Lembu Sora berangan-angan. Kini yang bergolak di dalam hatinya adalah anaknya, Sawung Sariti. Ia menyesal telah membawa anak itu lewat jalan yang penuh dengan noda dan dosa. Apalagi ketika ia sadar bahwa sampai saat ini anak itu masih tetap dalam pendiriannya. Karena itu kemudian ia berkata, ”Arya, di manakah adikmu?”

Arya memalingkan kepalanya. Ia mendengar pertanyaan yang serupa dari eyangnya tadi. Maka iapun menjawab, ”Aku tidak tahu, Paman. Tadi eyangpun menanyakan Adi Sawung Sariti. Aku kira Adi bersama-sama dengan Paman.”

Kembali penyesalan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Pasti anak itu pergi dengan Galunggung. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai harga diri dan kesopanan dalam tata pergaulan manusia. Tetapi kembali Lembu Sora menimpakan kesalahan pada diri sendiri. ”Mudah-mudahan ia terbentur pada kenyataan ini seperti aku sendiri,” gumam Lembu Sora, lebih-lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Kemudian kepada Arya Salaka ia berkata, ”Arya, adikmu telah terlampau jauh tersesat seperti aku. Namun aku masih dapat melihat kenyataan ini. Mudah-mudahan Sawung Sariti pun demikian. Dapatkah kau membantu aku membawanya kembali ke jalan yang benar?”

”Mudah-mudahan, Paman,” jawab Arya, meskipun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa adik sepupunya itu sedemikian membencinya, jauh lebih dalam daripada pamannya itu sendiri. Namun demikian ia berjanji untuk berusaha. Dalam pada itu, tiba-tiba datanglah Wulungan. Dengan heran ia melihat Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka masih enak-enak duduk di situ. Apakah ia belum mendengar laporan yang disampaikan oleh beberapa orang pengawas? Tetapi karena persoalannya sedemikian penting, maka Wulunganpun tidak segan- segan menanyakannya.

Maka iapun kemudian duduk pula di samping perapian itu sambil bertanya kepada Mahesa Jenar, ”Tuan, apakah Tuan telah mendengar laporan para pengawas?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. ”Belum Wulungan,” jawabnya. ”Laporan tentang apa?” ”Ataukah laporan ini disampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana? Namun meskipun demikian, Ki Ageng Sora Dipayana pasti segera memberitahukan kepada Tuan dan Angger Arya Salaka,” sambung Wulungan.

”Penting sekalikah laporan itu?” tanya Arya.

”Ya, sangat penting bagi Angger,” jawab Wulungan. ”Kalau demikian…” ia melanjutkan, ”Biarlah aku panggil orang itu.”

Wulungan segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa. Yang ditinggalkan di tepi perapian itupun bertanya-tanya di dalam hati. Sesaat kemudian Wulungan kembali bersama seorang pengawas dari Pamingit.

Diajaknya orang itu duduk pula, dan berkatalah ia, ”Inilah orang yang menyampaikan laporan itu, Tuan.”

Lembu Sora memandangi orang itu dengan seksama. Kemudian berkatalah ia, ”Katakanlah apa yang kau lihat?”

Orang itupun mengingsar duduknya. Kepada Ki Ageng Lembu Sora ia berkata, ”Aku adalah salah seorang yang mendapat tugas untuk mengawasi perkemahan laskar golongan hitam. Aku telah melaporkan segala sesuatu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

Wulungan tiba-tiba mengangkat dadanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Laporan itu tidak diteruskan kepada Arya Salaka, Mahesa Jenar atau Ki Ageng Sora Dipayana.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 609

LEMBU SORA mengerutkan keningnya. Seperti Wulungan, ia dapat menduga kelicikan anaknya. Namun sekali lagi dadanya dihantam oleh kegelisahan, penyesalan yang tiada taranya. Seolah-olah terdengar suara berdesing ditelinganya. ”Kau jangan salah, Lembu Sora. Anak itu memang kau didik demikian.”

”Di mana Sawung Sariti dan Galunggung itu?” tanya Lembu Sora menggeram. ”Aku temui mereka di pojok teras. Mereka baru saja keluar dari rumah Kakang Badra Klenteng Pangrantunan,” sahut orang itu.

”Apa kerjanya di sana?” Tiba-tiba mata Lembu Sora terbelalak. Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Karena orang itu tidak menjawab, Lembu Sora mendesaknya, ”He, apa kerjanya di sana?”

Wulungan memalingkan wajahnya ke arah api yang memercik dengan riangnya. Kebenciannya kepada anak kepala daerah perdikannya itu tiba-tiba semakin menyala seperti nyala api yang dipandangnya itu. Badra Klenteng adalah orang yang sekotor-kotornya di Pangrantunan.

Di rumahnya ada dua tiga orang gadis. Bukan gadis, tetapi yang disebutnya gadis penari. Penari tayub yang terkenal. Bukan terkenal karena keindahannya menari, tetapi terkenal karena keberaniannya menari. Menari dalam tataran yang melanggar tata kesopanan dan kepribadian.

Kepala pengawas itupun menjadi semakin tunduk. Ia tahu apa yang harus dikatakan. Tetapi mulutnya terkunci. Sehingga dengan demikian ia tetap berdiam diri. Akhirnya terdengar Lembu Sora menggeram, ”Bagus, jangan kau katakan kepadaku sekarang apa yang dikerjakan oleh anak itu. Terkutuklah mereka. Aku tidak tahu kemana mukaku aku sembunyikan kalau Adi Mahesa Jenar, Kakang Putut Karang Jati dan Arya Salaka tahu apa yang dikerjakan di sana. Tetapi apakah laporan itu?”

”Belumkah Angger Sawung Sariti menyampaikannya?” tanya pengawas itu. Lembu Sora menggelengkan kepalanya.

”Belum.” ”Agak terlambat,” katanya. ”Aku telah melihat beberapa waktu yang lalu.”

”Ya, apakah itu?” desak Arya Salaka tidak sabar. ”Aku lihat serombongan kecil orang-orang berkuda meninggalkan perkemahan mereka. Mereka menuju ke utara,” jawabnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersentak. Mereka mendesak maju sambil bertanya, ”Siapakah mereka?”

”Tidak jelas. Tetapi mereka menuju ke jalan ke Banyubiru,” jawabnya.

”He…!” Arya hampir berteriak. ”Kau tahu benar?” ”Aku mengikuti beberapa langkah,” jawabnya. ”Karena itu aku yakin mereka pergi ke Banyubiru. Di simpang tiga Banjar Gede, mereka membelok ke timur.”

”Pasti ke Banyubiru,” desis Arya.

”Akupun pasti,” sahut pengawas itu, ”Tetapi aku tidak dapat mengikutinya terus. Ketika salah seekor kuda mereka berhenti, akupun berhenti pula. Agaknya salah seorang telah melihat aku. Sehingga ketika kudanya berputar, akupun memacu kudaku pula meninggalkan mereka. Untunglah kudaku agak lebih baik sehingga aku tak ditangkapnya. Sehingga akhirnya aku sampai pada gardu penjagaan. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan oleh pengejarku itu. Namun aku kemudian langsung melaporkan peristiwa itu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

”Gila,” desah Lembu Sora. ”Sawung Sariti dan Galunggung tidak menyampaikan itu kepadaku, kepada ayah Sora Dipayana atau kepada Kakang Mahesa Jenar.”

”Wulungan…” tiba-tiba Lembu Sora berteriak, ”panggil mereka!”

Wulungan yang menjadi marah pula di dalam hati, segera bangkit. ”Baik Ki Ageng,” jawabnya. Dan iapun kemudian hilang di dalam gelap.

”Siapakah mereka itu?” tanya Arya Salaka.

”Aku tidak tahu,” jawab orang itu. ”Tetapi aku kira salah seorang di antaranya adalah orang yang berjubah abu-abu.”

”Pasingsingan…?” desis mereka bersamaan Tiba-tiba meloncatlah Arya Salaka dari tempat duduknya. Tanpa berkata apapun juga ia berlari kencang-kencang.

”Arya…” panggil Mahesa Jenar, ”Apa yang akan kau lakukan?”

”Kuda!” Hanya kata-kata itulah yang meloncat dari bibirnya. Mahesa Jenar yang tahu betapa watak muridnya itupun kemudian berdiri pula sambil berkata kepada Ki Ageng Lembu Sora, ”Adi, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, kami mendahului perintah supaya tidak terlalu lambat.”

Kebo Kanigara kemudian berdiri pula. Ia tidak sampai hati melepaskan Arya Salaka berdua dengan Mahesa Jenar saja. Kalau di dalam rombongan Pasingsingan itu ada Bugel Kaliki dan Sura Sarunggi, maka celakalah Arya Salaka.

Mahesa Jenar sendiri mungkin dapat mempertahankan dirinya beberapa lama meskipun ia harus berhadapan dengan dua tokoh hitam itu sekaligus, namun bagaimana dengan Arya? Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar, aku pergi bersamamu.”

”Baiklah Kakang,” jawab Mahesa Jenar singkat. Iapun sadar akan bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan muridnya. Justru pada taraf terakhir dari perjuangannya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 610

BANTARAN, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat telah terbangun pula. Dengan gelisah ia bertanya, ”Ada apa Tuan-tuan?”

”Aku akan pergi sebentar, Bantaran. Jagalah laskar baik-baik. Tempatkan dirimu langsung di bawah perintah Ki Ageng Sora Dipayana apabila besok pagi-pagi aku belum kembali,” kata Mahesa Jenar dengan tergesa-gesa. Ia tidak sempat memberi banyak penjelasan. ”Aku titipkan laskar Banyubiru kepadamu Ki Ageng,” katanya kepada Lembu Sora.

”Baik Adi,” jawab Lembu Sora. ”Tetapi tidakkah Adi perlu membawa pasukan?”

”Tidak,” sahut Mahesa Jenar, ”Di Banyubiru masih ada separo laskar Arya Salaka.” Lembu Sora mengangguk sambil berdiri. Ia tidak sempat berkata-kata lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dengan tergesa-gesa berjalan mengikuti jalan yang dilewati Arya tadi. Mereka tahu benar ke mana muridnya itu pergi. Arya pasti pergi ke tempat kuda-kuda dipersiapkan. Mereka masih dapat melihat Arya melarikan kudanya seperti angin. Dengan demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat ke punggung kuda-kuda yang mereka anggap cukup baik. Para penjaga kuda itu memandang mereka dengan heran.

Yang mereka dengar hanyalah kata-kata Arya tadi, ”Aku ambil seekor.” Lalu anak itu pergi dengan cepatnya. Sekarang mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun mengambil masing-masing kuda dengan tergesa-gesa. ”Apa yang terjadi Tuan?” tanya seorang penjaga. ”Tidak apa-apa,” jawab Mahesa Jenar, ”Kami sedang berlatih berpacu kuda.”

Penjaga itu tersenyum. Tetapi ia tidak percaya. Meskipun demikian ia tidak bertanya-tanya lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera memacu kudanya. Suara derap kakinya berdetak-detak memecah kesepian malam. Beberapa orang yang mendengar suara derap kaki kuda itupun terkejut.

Namun mereka tidak sempat bertanya, apakah dan kemanakah mereka pergi. Meskipun demikian, mereka terpaksa meraba-raba senjata-senjata mereka, kalau-kalau ada hal-hal yang penting akan terjadi di perkemahan itu.

Sementara itu dengan geram Lembu Sora berjalan ke tempat peristirahatan ayahnya. Ia benar-benar marah kepada Sawung Sariti dan Galunggung. Karena perbuatan mereka itu, telah membuka kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Sedangkan Bantaran, Jaladri, Penjawi dan Sendang Papat beserta beberapa orang Banyubiru yang lain bertanya-tanya dalam hati pula.

Mereka mendengar dari Ki Ageng Lembu Sora apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak diperkenankan meninggalkan laskar mereka. Karena itu merekapun menjadi gelisah. Apakah yang akan terjadi di Banyubiru. Namun mereka menjadi agak tenang ketika mereka sadar bahwa di Banyubiru masih ada Wanamerta, Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan separo dari laskar Banyubiru. Mudah-mudahan mereka dapat mengatasi kesulitan yang akan timbul.

Ketika Ki Ageng Lembu Sora sampai ke tempat Ki Ageng Sora Dipayana dilihatnya Sawung Sariti dan Galunggung telah berada di sana. Dengan wajah yang merah, ia masuk ke ruangan itu sambil menggeram, ”Apa kerjamu Sawung Sariti?”

Sawung Sariti menoleh kepada ayahnya. Ia terkejut. Belum pernah ia melihat mata ayahnya memancarkan sinar yang demikian kepadanya. ”Mungkin ayah sedang marah kepada seseorang,” pikirnya.

Tetapi ternyata Lembu Sora itu memandangnya terus seperti hendak menelannya hidup-hidup.

”Duduklah Lembu Sora,” ayahnya mempersilahkan. ”Sawung Sariti sedang menyampaikan kabar yang aku kira penting.”

Lembu Sora duduk di samping ayahnya, namun pandangan matanya masih saja melekat kepada anaknya.

”Terlambat,” geram Lembu Sora. ”Apa yang terlambat Lembu Sora?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kabar itu,” jawab Lembu Sora. ”Mungkin sesuatu telah terjadi sekarang di Banyubiru. Pembunuhan dan pembalasan dendam.”

”Sabarlah,” potong ayahnya, Apakah yang sebenarnya terjadi?”

”Apa yang disampaikan oleh Sawung Sariti?” Lembu Sora ganti bertanya. ”Tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam telah meninggalkan perkemahan mereka,” jawab ayahnya.

”Ke mana?” desak Lembu Sora.

”Ke mana…?” ulang Ki Ageng Sora Dipayana. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bingung.

Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah mengetahui apa yang terjadi. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka terkejut ketika Lembu Sora membentaknya sambil berdiri, ”Kemana? Tidakkah kau sampaikan laporan itu selengkapnya setelah kau ulur waktu hampir seperempat malam supaya segala sesuatu menjadi semakin jelek?”

Sawung Sariti menjadi bertambah bingung. Adakah ayahnya bersungguh-sungguh, ataukah ayahnya hanya ingin menghilangkan kesan bahwa ayahnya akan berterima kasih kepadanya. Tetapi tiba-tiba ayahnya bersikap lain.

Namun Sawung Sariti adalah anak yang cerdik. Ia tidak kehilangan akal. Karena itu ia menjawab, ”Aku belum selesai ayah. Aku baru menyampaikan sebagian.” ”Berapa lama kau perlukan waktu untuk menyampaikan laporan yang dapat kau ucapkan dengan beberapa kalimat saja?” bentak ayahnya.

”Sudahlah Lembu Sora.” Ki Ageng Sora menengahi, ”Biarlah anakmu meneruskan laporannya. Memang ia belum lama datang kepadaku.”

Tetapi kemarahan Lembu Sora telah memenuhi dadanya. Kemarahan yang bercampur-baur dengan penyesalan dan perasaan yang menekan hatinya. Karena itu ia berkata lagi, ”Jadi kau belum lama menghadap eyangmu?”

Sawung Sariti tidak tahu maksud ayahnya, karena itu ia menjawab, ”Ya ayah.”

”Ke mana kau selama ini?” desak Lembu Sora.

 NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja No. 611
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

SAWUNG SARITI menjadi ragu. Ia tidak berani berkata kepada ayahnya, dari mana ia pergi, karena ada eyangnya. Biasanya ia tidak perlu berahasia kepada ayahnya, tetapi terhadap eyangnya, Sawung Sariti tidak berani berterus terang. Karena itu tanpa disengaja ia berpaling kepada Galunggung, seakan-akan minta supaya Galunggung menjawab pertanyaan ayahnya itu. Ternyata Galunggungpun mengerti pula, karena itu ia menjawab, ”Kami dari nganglang daerah medan, Ki Ageng.”

”Medan mana?” Lembu Sora mendesak terus.

Galunggung pun menjadi ragu. Kenapa Ki Ageng Lembu Sora tidak seperti biasa. Pada saat-saat lampau ia tidak pernah mengurus ke mana ia pergi, dan apa saja yang dilakukan.

Tiba-tiba seperti disambar petir Sawung Sariti mendengar ayahnya berteriak, ”Kau pergi ke rumah Badra Klenteng kan…?”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya, seperti mimpi ia mendengar kata-kata Lembu Sora tentang cucunya itu. Mulut Sawung Sariti tiba-tiba seperti terkunci. Ayahnya benar-benar marah kepadanya. Tidak kepada orang lain. Kemarahan yang belum pernah dialaminya.

Namun Galunggung tiba-tiba berkata membela diri, ”Tidak, Ki Ageng. Siapakah yang mengatakan?” Mata Lembu Sora bertambah menyala, ”Kau mau bohong Galunggung. Kau kira aku tidak tahu?” ”Demi Allah,” sahut Galunggung, tetapi ia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora meloncat dengan garangnya, dan menampar mulut Galunggung sambil berteriak, ”Jangan sebut kata-kata itu. Mulutmu terlalu kotor untuk mengucapkannya.”

Galunggung terdorong ke samping. Hampir saja ia jatuh kalau tubuhnya tidak membentur dinding. Ketika ia berusaha tegak kembali, terasa cairan yang hangat meleleh dari mulutnya. Darah merah menyala, seperti kemarahan yang menyala di dalam dadanya. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu. ”Lembu Sora…” Ki Ageng Sora Dipayana memanggil anaknya, ”Duduklah. Biarlah aku bertanya kepada mereka.”

Nafas Lembu Sora menjadi semakin memburu. Tetapi ia duduk pula di samping ayahnya. Sawung Sariti sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya, apalagi eyangnya yang telah mendengar bahwa ia baru saja pergi ke rumah Badra Klenteng. Tiba-tiba merayaplah dendam dadanya kepada orang yang menjumpainya waktu itu. Pengawas yang melaporkan peristiwa orang-orang golongan hitam itu. Demikian juga Galunggung. Berkatalah di dalam hatinya, ”Kalau aku temui orang itu, aku sobek mulutnya dan akan aku kubur ia hidup-hidup.”

Ketika Galunggung pun telah duduk kembali dan mengusap darah yang meleleh dari mulutnya dengan lengan bajunya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata sareh, ”Sudahlah Lembu Sora, segala sesuatu bukanlah terjadi dengan tiba-tiba. Apalagi watak dan kelakuan. Sekarang tenangkan hatimu. Hari masih panjang. Mudah-mudahan aku mengalami masa-masa yang cerah. Masa-masa yang cerah bukan bagiku sendiri, tetapi bagimu, bagi cucuku Sawung Sariti, dan bagi cucuku Arya Salaka. Kesempatan untuk membersihkan diri masih terbuka, apalagi bagi anak semuda cucuku Sawung Sariti.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Sekali lagi ia terlempar pada kenyataan akan kesalahan diri. Penyesalan yang memukul-mukul dinding hatinya menjadi semakin deras. ”Nah, Sawung Sariti…” Ki Ageng Sora Dipayana melanjutkan, ”Apakah yang kau katakan tentang orang-orang dari golongan hitam itu?”

Sawung Sariti mengangkat wajahnya, namun segera tertunduk kembali. Perlahan-lahan terdengar ia berkata dengan suara yang gemetar penuh dendam kepada pengawas yang telah melaporkan keadaan, ”Orang-orang dari golongan hitam itu pergi ke Banyubiru, Eyang.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. ”Ke Banyubiru?” ulangnya.

”Ya,” jawab Sawung Sariti yang kemudian mengulangi laporan yang didengarnya dari pengawas itu. ”Kapan kau dengar laporan itu?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. ”Beberapa saat yang lalu,” jawab Sawung Sariti.

”Kenapa baru sekarang kau sampaikan kepada eyangmu?” bentak Lembu Sora. Sawung Sariti tidak menjawab. Galunggung pun tidak. Tetapi seperti berjanji mereka berteriak di dalam hati, ”Mati kau pengawas gila.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi gelisah. Kemudian kepada Sawung Sariti ia berkata, ”Panggillah kakakmu Arya Salaka.”

Sawung Sariti ragu sebentar, kemudian ia menjawab, ”Baiklah Eyang.” Sesaat kemudian iapun berdiri, dan bersama-sama dengan Galunggung ia meninggalkan rumah itu. Ketika mereka keluar dari pintu, mereka melihat Wulungan berdiri tegak dengan tangan bersilang dada. Sawung Sariti berhenti sejenak, kemudian ia bertanya, ”Kau lihat Kakang Arya?” Wulungan menggelengkan kepala. ”Tidak Angger.” Kemudian Sawung Sariti melangkah pula dengan tergesa-gesa. Galunggung sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ketika mereka telah menjauh, Wulungan pun pergi di belakang mereka. Di dalam perkemahan itu Lembu Sora berkata, ”Tak akan dijumpai Arya di sini.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Sambil menoleh kepada anaknya ia bertanya, ”Kenapa?” ”Arya telah pergi ke Banyubiru belum lama,” jawab Lembu Sora.

”He…?” Ki Ageng Sora Dipayana terkejut.

”Sendiri?”

”Tidak. Dengan Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati,” sahut Lembu Sora. ”Mengapa?” tanya ayahnya pula.

”Ia sudah tahu apa yang terjadi,” jawab Lembu Sora.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 612

KI AGENG Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Kemudian ia bertanya pula, ”Dari mana anak itu mendengar?”

”Langsung dari pengawas itu,” jawab Lembu Sora. Diceriterakannya apa yang diketahuinya mengenai pengawas itu, serta kelambatan Sawung Sariti. Diceriterakannya pula bagaimana Arya Salaka langsung meloncat ke kandang kuda dengan tombaknya dalam genggaman. ”Anak itu sadar akan tanggungjawabnya,” desis kakeknya.

”Namun sayang ia terlalu tergesa-gesa. Bukankah yang pergi ke Banyubiru itu Pasingsingan? Untunglah Anakmas Mahesa Jenar dan anak Putut Karangjati mengetahuinya, sehingga mereka segera menyusul.”

Kepada ayahnya, Lembu Sora menyampaikan pesan Mahesa Jenar, bahwa mereka terpaksa mendahului perintah.

”Mereka tahu benar apa yang harus mereka lakukan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. ”Mereka orang-orang yang memiliki firasat dan daya pengamatan melampaui kami semuanya di sini. Bahkan mereka adalah orang-orang sakti yang tak ada bandingnya di antara kita.”

”Sayang, laporan yang sampai kepada mereka agak terlambat,” desah Lembu Sora.

”Mudah-mudahan segala sesuatu tidak menjadi lebih buruk karena pokal anakku.

Arya dan Banyubiru telah banyak mengalami kesusahan dan kerusakan karena pamrih yang berlebih-lebihan, dan apakah sekarang harus mengalami bencana yang lebih dahsyat lagi?”

”Tenanglah Lembu Sora,” ayahnya menenangkan. ”Mahesa Jenar dan Putut Karangjati akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Sekarang beristirahatlah. Kita belum tahu apa yang harus kita lakukan besok pagi. Suruhlah Sawung Sariti beristirahat pula. Demikian juga seluruh laskarmu. Malam tinggal setengahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas dan Titis agaknya telah tidur nyenyak pula.”

”Baiklah ayah,” jawab Lembu Sora sambil berdiri. Kemudian iapun melangkah pergi ke pondoknya untuk beristirahat, meskipun kepalanya masih dipenuhi oleh penyesalan yang melonjak-lonjak. Setiap ia berusaha melupakan, setiap kali dadanya bergetar, kenapa bayang-bayang masa lampaunya datang berturut-turut. Namun demikian ia berusaha untuk beristirahat dengan merebahkan dirinya di atas bale-bale bambu yang direntangi tikar mendong.

Pada saat yang bersamaan, Sawung Sariti sedang mondar-mandir mencari Arya Salaka. Namun sebenarnya yang ingin dijumpainya pertama-tama adalah pengawal yang dianggapnya tumbak-cucukan itu, yang suka melaporkan kesalahan orang lain. Sawung Sariti dan Galunggung sama sekali tidak menyesalkan perbuatan mereka, tetapi mereka menyesalkan pengawas itu. Ketika tiba-tiba mereka melihat pengawas itu duduk bersandar batang nyiur di antara kawan-kawannya yang berbaring tidur, Sawung Sariti menggeram, ”Jahanam.” Ia mengumpat. Kemudian dengan satu loncatan ia telah berdiri di hadapan pengawas itu sambil membentak, ”He bangsat kau masih di sini?”

Pengawas itu terkejut, sehingga ia meloncat berdiri. ”Kenapa kau tidak kembali ke tugasmu?” bentak Sawung Sariti. ”Seseorang telah menggantikan tugasku,” jawab orang itu kecemasan. ”Bohong!” sanggah Sawung Sariti.

Orang itu menjadi bingung. ”Benar angger,” jawabnya. ”Aku telah bebas dari tugasku itu.”

”Ha, agaknya kau lebih senang di sini. Mengadu domba antara aku dengan Kakang Arya Salaka,” bentak Sawung Sariti. Orang itu mula-mula tidak mengerti maksud Sawung Sariti itu. Tetapi kemudian disadarinya apa yang terjadi. Sawung Sariti agaknya menjadi marah kepadanya, karena ia telah berkata sebenarnya kepada Ki Ageng Lembu Sora. Mungkin Ki Ageng Lembu Sora itu telah memarahinya. Karena itu ia berkata, ”Angger, jangan menyalahkan aku kalau aku terpaksa mengatakan apa yang aku lihat demi kewajibanku.”

”Pandainya tikus ini,” potong Sawung Sariti. ”Kau bisa berkata hijau atas warna merah, dan kau bisa berkata merah atas warna hijau.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakan? Ia menjadi semakin cemas ketika tiba-tiba Galunggung melangkah maju dengan mata yang menyala-nyala. Katanya, ”Lihatlah, karena mulutmu yang lancang itu, aku ditampar oleh Ki Ageng Lembu Sora.”

Pengawas itu masih tetap berdiam diri. Beberapa orang kawan-kawannya menjadi terbangun karenanya. Tetapi tak seorangpun yang berani mencampurinya. Tiba-tiba Galunggung itu berkata, ”Ikuti aku.”

”Ke mana?” orang itu menjadi ketakutan. ”Ikuti aku!” bentak Galunggung.

Orang itu tidak berani membantah lagi. Ia berjalan saja di belakang Galunggung dan di belakangnya berjalan Sawung Sariti. Dengan gelisah ia mencoba menebak, apakah yang akan dilakukan atas dirinya. Ia menjadi ragu-ragu, apakah kebenaran yang diucapkannya itu dapat diputar balik sedemikian rupa sehingga ia perlu mendapat hukuman. Galunggung berjalan semakin lama semakin cepat. Mereka menerobos pagar-pagar halaman dan meloncati dinding desa. Akhirnya mereka sampai di gerumbul-gerumbul kecil di samping desa Pangrantunan itu. Orang itu menjadi semakin cemas. Ketika ia melihat Gunung Merbabu dalam keremangan malam, tampaknya seperti raksasa yang akan menerkamnya.

Orang itu menjadi gemetar ketika tiba-tiba Galunggung mencabut pedangnya sambil tertawa menakutkan, katanya, ”Mulutmulah yang pertama-tama harus disobek, lalu kau akan aku kubur hidup-hidup.”

”Apa salahku?” tanya orang itu gemetar.

”Seandainya aku berbuat salah karena laporanku, adalah pantas aku dihukum mati dengan cara demikian. Apalagi aku telah berusaha melakukan pekerjaanku sebaik-baiknya.” (Bersambung)-c

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 613

SAWUNG SARITI menjawab, ”Baik bagimu tidak selalu baik bagi orang lain. Dengan perbuatanmu itu, nanti kalau terjadi sesuatu di Banyubiru, akulah yang dipersalahkan. Karena itu, kau harus dilenyapkan. Dengan demikian, di hadapan Eyang Sora Dipayana, tak ada seorangpun yang dapat membuktikan kesalahanku.”

Pengawas yang malang itu menjadi semakin ketakutan. Ia tidak mengerti kenapa kebenaran sama sekali tidak menjadi pertimbangan Sawung Sariti, yang hanya mengenal kebenaran dari seginya sendiri. Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk membela diri. ”Angger Sawung Sariti. Kalau angger mengambil keputusan untuk menghukum aku dengan kesaksianku, maka kesaksianku itu telah diketahui pula oleh Ki Ageng Lembu Sora, Angger Arya Salaka beserta gurunya serta sahabat gurunya yang telah berhasil membunuh mati orang sakti dari Nusakambangan.”

Sawung Sariti mengerutkan keningnya. Ia mengumpat di dalam hati. Kenapa Arya Salaka mendapat sahabat-sahabat yang sedemikian saktinya, sehingga sedikit banyak dapat mempengaruhi keadaannya?

Namun ia menjawab, ”Aku dapat menyangkal kesaksian-kesaksian itu. Kau sangka ayahku itu akan membenarkan kesaksianmu? Setidak-tidaknya aku dapat memperpendek waktu yang hilang sejak kau memberikan laporan itu kepadaku sampai waktu yang aku pergunakan untuk menyampaikan kepada Eyang Sora Dipayana.”

”Kau tak usah terlalu banyak bicara,” potong Galunggung. ”Nikmatilah udara terakhir ini sebaik-baiknya. Sesudah itu, kau tak akan mengenalnya lagi.”

Pengawas itu menjadi semakin gemetar. Namun ia berkata, ”Kalau ada akibat yang kurang baik bagi kalian berdua, bukankah itu bukan salahku. Kalau kalian tidak sengaja memperlambat berita itu, maka segala sesuatu akan menjadi baik.”

”Tutup mulutmu!” bentak Galunggung.

”Kau tak perlu mengigau pada saat-saat terakhir.” Tiba-tiba menjalarlah suatu perasaan lain didalam dada pengawas itu. Ia adalah seorang prajurit. Beberapa kali telah pernah dilihatnya ujung pedang yang berkilat-kilat. Sekarang kenapa ia takut menghadapi pedang. Ia merasa berpijak di atas kebenaran. Kalau ia terpaksa, apa boleh buat ia telah dipepetkan ke suatu sudut dimana ia harus mempertahankan diri.

Dirasanya sesuatu terselip di ikat pinggangnya.

Keris.

Meskipun yang berdiri di hadapan dua orang yang sama sekali di atas kemampuannya untuk melawan, namun ia tidak mau mati seperti tikus di tangan seekor kucing. Biarlah ia berusaha untuk membebaskan diri. Kalau perlu ia akan berteriak-teriak sekeras-kerasnya, sambil melawan sedapat-dapatnya.

Galunggung yang telah terbakar oleh kemarahannya, menjadi kehilangan kesabarannya.

Dengan garangnya ia melangkah maju sambil menggeram, ”Jangan melawan, sebab kalau kau melawan berarti akan memperlambat saat-saat kematianmu. Derita yang terakhir adalah selalu tidak menyenangkan.”

Tetapi pengawas itu tidak peduli. Dengan tangkasnya ia meloncat mundur sambil menarik kerisnya. Melihat orang itu menarik senjatanya. Galunggung tertawa. ”Benar-benar kau sedang sekarat.”

Kemudian sambil tertawa ia melangkah maju.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara yang sama sekali tak diduga oleh mereka. Tenang, namun penuh pengaruh. Katanya, ”Aku adalah satu-satunya saksi yang melihat kebenaran diinjak-injak.”

Seperti disambar petir, Galunggung dan Sawung Sariti mendengar kata-kata itu. Ketika mereka menoleh, dilihatnya Wulungan berdiri tenang sambil bersilang dada. Pedangnya tergantung di lambung kirinya.

Sawung Sariti menjadi gemetar karena marahnya. Sambil melangkah maju ia berkata, ”Paman Wulungan, kau berani mengganggu pekerjaanku?”

”Tidak Angger,” jawab Wulungan tanpa bergerak.

”Tidak…?” sahut Sawung Sariti, ”Lalu apa yang Paman kerjakan sekarang. Apakah kau kira bahwa pedangmu itu bermanfaat untuk melawan aku? Kau tahu, bukankah aku murid Sora Dipayana?”

”Ya. Aku tahu bahwa angger adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Wulungan.

”Kau tahu bahwa aku mampu melawan Wadas Gunung berdua dengan anak buahnya?” desak Sawung Sariti.

”Ya.”

”Kau tahu bahwa aku adalah putra kepala daerah Perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus?”

”Ya.”

”Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Sawung Sariti sambil mengangkat dadanya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 614

WULUNGAN menjawab, ”Tidak apa-apa. Aku tidak akan melawan Angger. Sebab aku tahu, betapa aku mampu tak melakukannya. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan Angger lakukan di sini?”

”Apa kepentingamu? Dan apa pedulimu?” bentak Sawung Sariti.

”Setiap orang berkepentingan atas tegaknya kebenaran. Aku yang membawa pengawas itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Angger Arya Salaka. Dan akulah yang minta kepadanya untuk mengulangi laporannya.”

”Hem…” geram Sawung Sariti. ”Kau adalah saksi yang kedua sesudah orang ini. Kalau begitu bagaimana kalau kau aku bunuh sekalian?”

”Itu adalah urusan Angger Sawung Sariti,” jawab Wulungan masih setenang tadi. ”Kau akan melawan seperti tikus ini?” desak Sawung Sariti.

”Tidak,” jawab Wulungan.

”Tak ada gunanya. Tetapi pernahkan Angger mendengar aku berlomba lari? Aku adalah pelari tercepat dari setiap kawan-kawanku, baik pada masa kanak-kanakku, maupun kini.”

”Gila!” umpat Sawung Sariti.

”Kau bukan seorang jantan.”

”Aku memang bukan seorang jantan,” jawab Wulungan.

”Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain. Aku wajib menyelamatkan kebenaran ini. Kalau aku mati, maka kebenaran ini akan tertanam bersama mayatku. Tetapi kalau aku lari selamat, bukankah aku dapat memberitahukannya kepada Ki Ageng Sora Dipayana…?”

”Gila, Gila….” Sawung Sariti mengumpat tak habis-habisnya. Ketika itu Galunggung mencoba mengingsar dirinya, untuk menutup kemungkinan Wulungan kepada pengawas itu.

”Ki Sanak, baiklah kita berlomba lari. Jangan melawan. Kalau Adi Galunggung melangkah satu langkah lagi, perlombaan akan dimulai tanpa pembicaraan lain.”

Langkah Galunggung terhenti karenanya. Kalau Wulungan benar-benar melarikan dirinya saat itu, dan orang yang pertama itu melarikan diri pula, akan sulitlah untuk menangkap kedua-duanya. Salah satu atau keduanya mungkin akan dapat melenyapkan dirinya di dalam gerumbul-gerumbul yang berserak-serak itu, atau berteriak-teriak minta tolong sehingga apabila terdengar oleh laskar Banyubiru, persoalannya akan menjadi sulit.

”Setan,” gumam Galunggung menahan marah yang memukul-mukul dadanya. Sawung Sariti menjadi semakin marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata, ”Lalu apa yang kau kehendaki Wulungan?” Wulungan menarik nafas. Tangannya masih terlipat di dadanya. Ia melihat kegelisahan Sawung Sariti. Meskipun demikian ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Dengan perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, Wulungan menjawab, ”Tidak banyak Angger. Aku menghendaki orang itu Angger bebaskan dari segala tuntutan pribadi. Sebab Angger memandang persoalannya dari kepentingan diri sendiri.”

”Gila, kau licik seperti demit.” Sawung Sariti mengumpat. ”Kita semua adalah orang-orang yang licik. Penuh nafsu tanpa pengendalian,” jawab Wulungan. Sekali lagi Sawung Sariti menggeram. Katanya, ”Kepalamu memang harus dipenggal.”

Tetapi Wulungan tidak mendengarkan. Ia meneruskan kata-katanya, ”Kau dengar Angger melepaskan orang itu, maka aku berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun juga, apa yang terjadi sekarang di sini. Orang itupun tidak akan membuka mulutnya pula.” Kemudian kepada pengawas itu Wulungan berkata, ”Begitu kan…?”

Pengawas itu mengangguk kosong, meskipun hatinya bergolak. Tetapi ia harus selamat dahulu. Sekali lagi Galunggung menggeram. ”Apa jaminanmu?”

”Tidak ada,” jawab Wulungan cepat.

”Bagaimana aku bisa percaya?” desak Galunggung.

”Terserah padamu. Percaya atau tidak,” sahut Wulungan. ”Tetapi aku bukan orang yang suka melihat benturan-benturan diantara keluarga sendiri.”

Kemudian dengan penuh kejengkelan Sawung Sariti berkata, ”Baiklah aku percaya kepadamu Wulungan. Tetapi kalau kau memungkiri kesanggupanmu, aku banyak mempunyai alasan dan cara untuk membunuhmu.”

”Terserah kepada Angger,” jawab Wulungan.

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi. Galunggungpun kemudian mengikutinya dibelakang.

”Ikuti aku,” perintah Wulungan kepada pengawas itu. Pengawas itu tidak membantah, namun di dalam dadanya bergelutlah ucapan terima kasih kepada Wulungan. Mereka berdua berjalan tidak begitu jauh di belakang Galunggung. Dengan demikian Wulungan dapat mengetahui langsung apa yang akan dilakukan seandainya orang itu akan mencoba menyergapnya.

Tetapi Sawung Sariti dan Galunggung berjalan terus ke perkemahan. Karena itu Wulungan dan pengawas itu telah merasa dirinya tentram. Ia tahu betul bahwa Sawung Sariti atau Galunggung tidak akan mengganggunya, sebab dengan demikian Wulungan akan segera mengetahui apa yang terjadi atasnya. Sampai di perkemahan, Sawung Sariti masih tetap mengumpat-umpat. Ia sudah kehilangan nafsu untuk mencari Arya Salaka. ”Persetan dengan anak itu,” geramnya. ”Dan persetan dengan Banyubiru.”

”Bagaimana kalau Ki Ageng Sora Dipayana bertanya tentang Arya?” tanya Galunggung.

”Pergilah kepada Eyang Sora Dipayana, katakan kalau Arya tak dapat kami ketemukan,” perintah Sawung Sariti. Dan Galunggung pun segera pergi.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 615

MALAM berjalan terus. Semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Sementara itu, di jalan yang berbatu-batu menuju ke Banyubiru berderak-deraklah suara kaki tiga ekor kuda yang dipacu seperti angin. Yang terdepan adalah Arya Salaka. Beberapa langkah di belakangnya adalah Mahesa Jenar, sedang rapat di belakangnya adalah Kebo Kanigara. Betapa hati Arya Salaka menjadi gelisah dan marah mendengar laporan pengawas dari Pamingit itu. Ia tidak tahu kepada siapa ia harus marah. Mungkin kesalahannya terletak pada Sawung Sariti. Atau pada waktu.

Mungkin Sawung Sariti sudah mencarinya untuk menyampaikan khabar itu, tetapi tidak segera ditemuinya. Semakin dalam ia berpikir tentang gerombolan berkuda yang di antaranya terdapat Pasingsingan, semakin gelisahlah hatinya. Karena itu kudanya dipacu semakin cepat. Ia ingin segara sampai. Ketika ia menoleh, dilihatnya dua orang berkuda menyusulnya. Ia berbesar hati. Keduanya pasti gurunya beserta Kebo Kanigara. Ia yakin bahwa kedua orang itu akan mengikutinya, apalagi keduanya mendengar sendiri, bahwa yang pergi ke Banyubiru di antara orang-orang golongan hitam itu terdapat Pasingsingan. Sedangkan di Banyubiru ada Rara Wilis dan Endang Widuri.

Arya Salaka tahu benar, bahwa Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berkepentingan atas keduanya. Mahesa Jenar pasti tidak mau kehilangan Rara Wilis, sedang Kebo Kanigara akan mencemaskan nasib putrinya. Tetapi kenapa ia sendiri menjadi sangat cemas? Siapakah yang ditinggalkan di Banyubiru? Paman Mantingan atau Paman Wirasaba, atau Eyang Wanamerta? Bukan itulah yang pertama-tama kali diingatnya. Tetapi Banyubiru. Mungkin orang-orang dari golongan hitam itu akan membakar rumahnya dan rumah-rumah rakyat yang tak bersalah. Melepaskan dendamnya kepada orang- orang yang dijumpainya. Kepada Eyang Wanamerta, Paman Mantingan, Wirasaba atau Endang Widuri.

Dada Arya tiba-tiba berdesir keras. Dalam keadaan yang demikian ia tidak sempat menyadari bahwa sebenarnya yang mendorongnya untuk memacu kudanya lebih cepat adalah kecemasan atas nasib gadis nakal yang aneh itu. Demikianlah di malam yang gelap itu Arya Salaka memacu kudanya habis-habisan.

Tidak diingatnya bahaya yang menghadang di hadapannya. Lereng-lereng pegunungan dan tebing-tebing yang curam. Dan sebenarnyalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, disamping kesadarannya akan kewajibannya, melindungi Arya Salaka dalam perjuangannya melawan kejahatan dan ketamakan, mereka mempunyai kepentingan masing-masing. Rara Wilis dan Endang Widuri telah memaksa mereka untuk cemas dan gelisah.

Suara raung anjing-anjing liar mengumandang dari tebing-tebing pegunungan. Dan malam menjadi semakin garang karenanya. Desah angin pegunungan yang mengalir lewat jurang-jurang yang dalam, terdengar seperti bunyi siul raksasa yang sedang bermalas-malas. Suara-suara malam itu telah membuat Arya menjadi semakin gelisah. Ia menjadi jengkel kepada kudanya, yang seolah-olah berlari dengan segannya, meskipun tumbuh-tumbuhan dan batu-batu besar yang menjorok di tepi- tepi jalan tampak seperti hanyut ke belakang secepat banjir.

Namun hatinya ternyata jauh lebih cepat dari kaki-kaki kudanya itu. Dan Banyubiru terbayang di serambi matanya seperti menggapai-gapaikan tangan-tangannya, memanggilnya, ”Arya, tolonglah aku….” Tetapi suara itu seperti seorang gadis. Gadis yang dikenalnya baik-baik, bersenjata rantai perak dengan bandul Cakra yang bercahaya-cahaya. Tetapi senjata yang sakti itu tak berarti di mata orang yang berjubah abu-abu, bertopeng kasar dan menamakan dirinya Pasingsingan.

Tiba-tiba iapun tak akan berarti pula. Ia pernah mendengar Mahesa Jenar berceritera, bahwa ayahnya Ki Ageng Gajah Sora yang sedang marahpun tak dapat berbuat sesuatu melawan hantu berjubah abu-abu itu.

Ayahnya itu hanya mampu menyobek ujung jubahnya dengan tombak Kyai Bancak itu di Alun-alun Banyubiru. Tanpa disengaja, sekali lagi ia menoleh. Dan dengan serta merta ia bergumam, ”Guruku telah mampu membunuh Sima Rodra dari Lodaya, sedang Paman Kebo Kanigara berhasil membinasakan Nagapasa. Apa artinya Pasingsingan bagi mereka?”

”Tetapi….” Hatinya membantah sendiri, ”Kalau segala sesuatu telah terjadi?” Kembali mengiang di telinganya sebuah jerit nyaring. Arya Salaka terkejut. Namun segera ia sadar, bahwa suara itu hanyalah pekik burung hantu yang sedang berkelahi. Terdengar gigi Arya gemeretak. Dan kembali malam menjadi bertambah sepi. Dan malam yang sepi itu benar-benar sedang merajai permukaan bumi. Pangrantunan, Banjar Gede, Pamingit, Gemawang dan seluruh wajah bumi menjadi kelam. Juga Banyubiru. Lereng bukit Telamaya itupun, ditelan oleh hitamnya malam. Sebagian besar dari penduduknya sedang lelap dipeluk mimpi. Mereka telah merasa, betapa mereka terhindar dari bencana. Meskipun ada di antara mereka yang sedang mengenangkan nasib suaminya, anak-anaknya atau kekasihnya yang sedang berjuang di Pamingit. Sedang para penjagapun merasa betapa tenangnya malam.

Pendapa Banyubiru pun tampak sepi. Sepasang obor masih tampak menyala. Api yang menjalar berlenggang dengan malasnya dibelai angin malam.

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 616

DUA orang penjaga berdiri menahan kantuknya di regol halaman. Sedang beberapa orang lain duduk di gardu dengan mata yang redup. Sekali-kali Wanamerta yang masih duduk di pendapa bersama Ki Dalang Mantingan tampak menguap.

”Beristirahatlah Paman.”

Terdengar suara Mantingan lemah. ”Malam terlalu dingin,” gumam orang tua itu.

”Ya,” sahut Mantingan. ”Tetapi hatiku gelisah.” Orang tua itu meneruskan.

Mantingan tidak menjawab. Tetapi pandangan matanya terlempar ke halaman, menembus kelam. Perlahan-lahan Mantingan menarik nafas dalam. ”Apakah Angger Wilis dan cucuku Widuri telah tidur?” tanya Wanamerta.

”Mungkin,” jawab Mantingan. ”Baru saja aku selesai berceritera. Anak itu minta aku berceritera tentang Gatotkaca, Pergiwa dan Pergiwati.” Wanamerta tersenyum. Tetapi ia berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah suara seruling. Sayup-sayup dibawa angin. Namun suaranya demikian merdu. Seirama dengan heningnya malam. ”Seruling Kakang Wirasaba,” desis Mantingan. ”Pantaslah ia bergelar Seruling Gading,” sahut Wanamerta.

Sebagai biasa Wirasaba berlagu melampaui batas gending-gending yang ada. Lagunya seperti lagu angin malam. Hening sepi, namun penuh kemesraan hati manusia. ”Di manakah Angger Wirasaba?” tanya Wanamerta. ”Di gardu belakang. Bersama-sama Sendang Parapat,” jawab Mantingan. Wanamerta mengangguk-angguk. Namun kegelisahan di hatinya semakin terasa. Sebagai orang tua, firasatnya bertambah hari bertambah tajam. Ia terkejut ketika tiba-tiba daun-daun sawo di halaman bergoyang ditiup angin yang bertambah kencang. Mantingan mengikuti arah pandangan Wanamerta. Tetapi yang dilihatnya pun hanyalah daun sawo yang bergerak-gerak.

”Aneh,” gumam Wanamerta. ”Apakah yang aneh?” tanya Mantingan. ”Aku tidak tahu. Tetapi aku menjadi gelisah seperti daun-daun sawo di halaman itu,” jawab Wanamerta. Mantingan mengerutkan keningnya. Terasa pula hatinya berdesir halus.

”Sepi yang menggelisahkan,” sahutnya. Suara seruling Wirasaba pun tiba-tiba berubah. Nadanya menjadi bertambah tinggi. Terasa betapa hatinya menjadi gelisah. Namun betapa merdunya suara seruling itu. Tetapi sesaat kemudian suara seruling itu berhenti. Mantingan mengangkat wajahnya. ”Berhenti,” desisnya.

”Ya,” sahut Wanamerta, ”Agaknya Angger Wirasaba kedinginan.”

Mantingan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya matanya yang kembali beredar mondar-mandir di halaman. Karena hatinya yang gelisah, pandangannya pun menjadi gelisah. Mantingan mencoba mengamati setiap benda yang ada di halaman. Pohon sawo, pohon jambu, dinding-dinding halaman, pohon-pohon kelapa. Semuanya diam beku. Yang bergerak-gerak hanyalah para penjaga yang berjalan hilir mudik di luar regol.

Tiba-tiba keduanya terkejut ketika terdengar langkah naik ke pendapa. Ketika menoleh, dilihatnya Ki Wirasaba berjalan dengan malasnya menjinjing kapaknya. Di belakangnya berjalan Sedang Parapat yang telah hampir sembuh. Mantingan dan Wanamerta menarik nafas panjang.

”Ah….” gumam Wanamerta. ”Kenapa aku berubah menjadi penakut?” ”Kenapa…?” tanya Wirasaba sambil duduk di samping mereka. ”Aku terkejut mendengar langkah Angger seperti mendengar langkah hantu,” jawab Wanamerta.

Wirasaba mengangguk-angguk lemah. Hatinya pun dirayapi perasaan-perasaan aneh. Serulingnya terselip di ikat pinggangnya, sedang tangannya menggenggam kapaknya. Tiba-tiba mata Mantingan sekali lagi menatap daun-daun sawo yang bergerak-gerak ditiup angin malam. Kemudian matanya menatap daun-daun jambu di sebelahnya. Aneh. Daun jambu itu tidak bergoyang terlalu keras seperti daun- daun sawo itu. Karena itu ia menjadi curiga.

Ketika sekali lagi ia melihat daun itu bergerak-gerak, dengan serta merta ia berdiri dengan trisulanya di tangan, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat sambil berkata lantang, ”Siapakah yang mencoba membuat permainan itu?” Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat pun terkejut ketika mereka melihat Mantingan meloncat. Mereka masih belum tahu apa yang dimaksudnya. Tetapi ketika pandangan mereka mengikuti arah pandangan mata Mantingan, merekapun melihat bahwa daun-daun sawo itu bergoyang-goyang.

Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan dari pohon sawo itu. Suara yang sudah mereka kenal baik-baik. Para penjaga dan para pengawalpun terkejut pula. Bahkan Mantingan terpaksa menghentikan langkahnya. ”Lawa Ijo,” gumamnya.

Sesaat kemudian dilihatnya bayangan yang melontar turun dari pohon sawo di halaman itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada tegak. Sekali lagi Mantingan terkejut melihat orang itu. Bukan Lawa Ijo, tetapi agaknya ia pernah melihatnya. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. Bukankah Watu Gunung telah dibinasakan oleh Mahesa Jenar? Apakah ia dapat hidup kembali…? Namun sebelum ia sempat bertanya terdengar Wirasaba menggeram, ”Hem, kau Wadas Gunung.” (Bersambung)-m

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 617

MANTINGAN menoleh ke arah Wirasaba. Ia mengulang perlahan, “Wadas Gunung. Siapakah dia?” “Adik seperguruan Lawa Ijo,” jawab Wirasaba.

“Watu Gunung yang kau maksud…?” Ia bertanya pula. Wirasaba menggeleng. “Bukan. Saudara kembarnya. Orang ini pernah bertempur melawan Adi Mahesa Jenar di Pliridan bersama-sama dengan 20 orang kawannya.”

Sementara itu Wadas Gunung telah berjalan beberapa langkah maju. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Nah, kau orang berkapak yang membantu Mahesa Jenar di Pliridan dahulu? Kau masih mengenal aku dengan baik.”

Wirasaba juga maju. “Kau datang pula ke Gedong Songo beberapa hari yang lalu,” pikirnya.

Dan kapaknya tiba-tiba bergetar di tangannya. Ketika ia hampir meloncat menyerbu, terdengar Wanamerta yang tua itu berbisik, “Hati-hatilah Angger. Ia pasti tidak datang sendiri.”

Belum lagi Wanamerta selesai berkata, terdengarlah suara kentongan bertalu-talu tiga kali berturut-turut. “Kebakaran,” desis Wanamerta. Sekali lagi Wadas Gunung tertawa. Katanya, “Kebakaran. Jangan terkejut. Banyubiru telah dikepung.”

Wajah Sendang Parapat menjadi merah. Ia harus segera menggerakkan segenap laskar cadangan yang ada. Tetapi ketika ia melangkah ke gardu penjagaan, sebelum turun dari pendapa, muncullah seorang lagi di hadapannya.

Sendang tertegun. Ia belum pernah melihat orang itu. Seorang yang berwajah tampan, berkulit kuning dan berpakaian rapi. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat warna hitam. “Siapakah kau…?” Tiba-tiba Sendang Parapat bertanya.

Orang itu tersenyum. Senyumnya tampak aneh. Katanya, “Jangan risaukan siapa aku.” Sendang Parapat menjadi marah. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan. Karena itu ia berteriak saja dari pendapa, “Bunyikan tanda, gerakkan segenap laskar cadangan.”

Sesaat kemudian, orang-orang di gardu penjagaan menjadi sadar akan bahaya yang datang. Seseorang kemudian meloncat memukul kentongan titir. Tetapi suara titir itu terputus ketika tiba-tiba pemukul kentongan itu terpelanting jatuh. Sendang Parapat terkejut. Karena itu ia menjadi semakin marah. Untunglah bahwa suara titir yang pendek itu telah terdengar dari gardu di luar halaman yang terdekat, sehingga suara titir itupun segera bersambut. Apalagi ketika seorang yang lain segera merebut pemukul kentongan dari tangan orang pertama. Kemudian dengan tanpa takut-takut iapun mengulang memukul kentongan itu dengan irama yang sama, titir. Namun orang kedua inipun kemudian terjatuh pula dengan luka di kepalanya.

Sebuah batu telah membenturnya. Tetapi suara titir telah menjalar ke segenap penjuru Banyubiru. Banyubiru yang sedang tidur lelap itu menjadi terbangun dengan tiba-tiba. Suara kentongan tiga kali berturut-turut telah mengejutkan hati mereka. Apalagi kemudian terdengar bunyi titir yang merayap-rayap di seluruh lereng bukit itu. Laskar Banyubiru pun menjadi terkejut. Untunglah bahwa mereka telah terlatih dengan baik. Sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ketika terdengar suara titir bersahutan, sadarlah mereka bahwa bahaya yang besar telah datang.

Para pemimpin kelompok itupun segera tahu apa yang harus dilakukan. Sebagian dari laskar itu segera berangkat dengan tergesa-gesa ke tempat kebakaran. Orang yang berwajah tampan itupun mengangkat wajahnya ketika suara titir telah menjalar ke segenap arah.

Ia mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Sendang Parapat, “Jangan berdiri saja di situ, pergilah supaya umurmu panjang.” Betapa marahnya Sendang Parapat. Segera ia menarik pedangnya.

Dengan penuh nafsu ia berhasrat menyerang orang itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika terdengar suara halus di belakangnya, “Sendang, jangan tergesa-gesa. Ia bukan lawanmu.”

Sendang Parapat menghentikan langkahnya. Iapun segera menoleh. Bahkan semua orang memandang ke arah suara itu.

Ternyata Rara Wilis telah berdiri di ambang pintu. Mula-mula ia menjadi ngeri melihat kehadiran Jaka Soka. Bukan karena ia takut seandainya ia harus bertempur. Tetapi sebagai seorang gadis, ia merasa bahwa Jaka Soka adalah orang yang pernah menjadi gila karena dirinya. Ketika Jaka Soka melihat gadis itu, hatinya bergetar cepat. Ia masih belum dapat melupakan, betapa wajah gadis itu selalu terbayang.

Karena itu tiba-tiba kembali ia tersenyum. Senyum yang aneh. Tiba-tiba saja Jaka Soka merasakan adanya suatu kurnia bagi dirinya. Kalau ia turut ke Banyubiru bersama beberapa orang dan laskar golongan hitam, adalah karena dendamnya yang meluap-luap. Ia ingin membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya, sebagai ganti kematian gurunya.

Tetapi tiba-tiba ia bertemu dengan gadis ini. Matanya yang redup itupun menjadi bersinar-sinar. Dan pandangan mata yang demikian itulah yang menyebabkan seluruh bulu tengkuk Wilis berdiri. Namun, kemudian gadis itu merasa, bahwa menjadi kewajibannya untuk turut serta mengamankan rumah ini, sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.

Karena itu iapun melangkah maju sambil berkata, “Jaka Soka, apakah kerjamu di sini? Apakah pekerjaanmu di Pamingit sudah selesai…?”

Wadas Gunung pun menjadi keheran-heranan. Apakah yang dilakukan oleh Jaka Soka itu? Dimanakah ia berkenalan dengan gadis manis yang menyapanya – Hem, agaknya kau mendapat pekerjaan baru di sini Jaka Soka. -

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 618

JAKA SOKA tersenyum, jawabnya, “Bukan Wadas Gunung. Bukan pekerjaan baru. Aku sudah berjanji akan datang kepadanya beberapa tahun yang lampau. Dan agaknya iapun tetap menanti.”

Wajah Rara Wilis menjadi merah. Sekali dilayangkan pandangannya sekeliling pendapa itu. Di situ masih berdiri Mantingan, Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat. Sedang di bawah tangga berdiri Wadas Gunung dan di sebelah lain Jaka Soka. Ketika ia melihat para penjaga yang berdiri tidak lebih dari lima orang itupun telah bersiap pula. Ia menarik nafas panjang. Kalau hanya kedua orang itu saja, mungkin masih akan dapat diatasi.

Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara yang seram dari dalam gelap. Lebih seram dari suara Wadas Gunung. Kemudian disusul dengan bayangan yang remang-remang semakin lama semakin jelas. Lawa Ijo. Mantingan menarik nafas. Agaknya bahaya yang mendatang benar-benar menggetarkan dadanya. Lawa IJo itu kemudian berdiri saja disamping Jaka Soka. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Jaka Soka. Apa kau masih mengharapkan gadis itu?”

“Ia tetap menanti aku dengan setia,” jawab Jaka Soka. Lawa Ijo menjadi marah.

Namun gadis itu tidak menjawab. Yang menjawab adalah suara gadis lain, Endang Widuri. Katanya, “Benar Paman Soka. Bibi Wilis menantimu. Sebab sepeninggalmu, kuda-kuda kami menjadi kekurangan rumput.”

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Ia memandang gadis yang berdiri di pintu itu dengan sinar mata yang seram.

Tetapi Lawa Ijo tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Ha, dengar. Apa yang dikatakan gadis nakal itu. Dan barangkali memang sepantasnya kau menjadi pekatiknya, mencari rumput bagi kuda-kudanya.”

Jaka Soka pernah bertempur dengan Widuri di Gedangan. Pada saat itu ia benar-benar keheranan, bahwa gadis sebesar itu telah mampu bertempur sedemikian hebatnya. Dan kini tiba-tiba gadis itu muncul kembali. Karena itu Jaka Soka menjadi tak senang sama sekali, katanya, “He monyet kecil. Jangan ganggu aku lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu.”

Ketika mendengar kata-kata itu, Widuri menjadi tertawa, sedang Lawa Ijopun tertawa pula.

Terdengar Lawa Ijo menyahut, “Jangan marah kepada gadis kecil itu Soka. Ia berkata sebenarnya.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin seram. Dengan tajamnya ia memandang gadis kecil yang nakal itu.

Namun ia tidak bisa meloncat saja kepadanya. Di hadapannya berdiri Rara Wilis. Kalau saja Rara Wilis lima enam tahun yang lampau, mungkin ia tidak perlu memperhitungkan dalam tindakan-tindakannya.

Tetapi Rara Wilis yang berdiri di hadapannya dengan pedang yang tergantung di lambungnya, adalah Rara Wilis yang telah berhasil membunuh istri Sima Rodra. Karena itu Jaka Soka masih berdiri saja di tempatnya.

Sedangkan Endang Widuri, betapapun nakalnya, namun ia tahu juga bahwa keadaan pendapa Banyubiru itu benar-benar dalam bahaya. Karena itu rantainya sudah tidak tergantung lagi di lehernya, tetapi dengan jari-jarinya yang kecil, ia bermain-main dengan senjata itu. Bahkan cakranya pun telah melekat di ujungnya. Benda yang berkiliat-kilat, berbentuk bulat bergerigi itu tidak lepas dari perhatian Jaka Soka.

Senjata yang demikian benar-benar berbahaya. Tetapi ia percaya kepada tongkat hitamnya serta pedang yang terselip di dalamnya. Namun sesaat kemudian kembali pendapa itu digetarkan oleh dua bayangan yang datang memasuki regol halaman. Ketika penjaga-penjaga di regol halaman itu berusaha mencegahnya, mereka terpelanting jatuh, dan tidak bangun kembali. Para penjaga yang lain pun terkejut.

Tetapi mereka terpaku di tempatnya ketika mereka melihat orang yang datang itu.

Yang seorang berjubah abu-abu bertopeng jelek, dan seorang bertubuh tinggi besar dan berkepala besar pula. Mereka adalah Pasingsingan dan Sura Sarunggi. Kedua orang itu berjalan seenaknya ke pendapa. Tetapi kemudian terdengar suaranya menggeram. “Lawa Ijo. Permainan apa yang sedang kau lakukan? Kau masih berdiri saja mengagumi kecantikan gadis-gadis itu? Waktu kita tidak banyak. Aku telah memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana laskarmu menghindari orang-orang Banyubiru yang sudah menjadi gila di tempat kebakaran. Waktu kita tidak banyak.”

Lawa Ijo sadar, bahwa seseorang telah melihat mereka di Pamingit. Sehingga dengan demikian ada kemungkinan mereka menyusul ke Banyubiru. Karena itu ia berkata, “Baiklah Guru. Dan apakah yang akan Guru lakukan sekarang?”

“Bunuhlah orang-orang ini semuanya. Kecuali kalau Jaka Soka masih menghendaki gadis itu. Tetapi buatlah ia tidak berdaya. Aku akan melihat isi rumah, apakah Nagasasra dan Sabuk Inten benar-benar masih ada di sini.”

Terdengar Mantingan dan Wirasaba menggeram. Namun ia sadar betapa dahsyatnya kekuatan yang datang itu. Ia sadar pula, bahwa kebakaran di ujung kota adalah suatu cara untuk memancing laskar Banyubiru. Pasingsingan dan Sura Sarunggi itu tidak memperhatikan apa-apa lagi. Mereka langsung berjalan naik pendapa dengan seenaknya.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 619

KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis sudah melekat di hulu pedangnya, ia pun tidak berbuat apa-apa. Kali ini Widuri pun tidak berani bermain-main. Ia telah pernah melihat hantu berjubah dan bertopeng kasar itu bertempur melawan Mahesa Jenar di Gedong Songo. Karena itu ketika kedua orang itu berjalan ke pintu, Widuri menggeser diri.

Sesaat Pasingsingan berhenti pula dan memandangi wajah gadis yang jernih itu. Tanpa disengaja ia kemudian menoleh kepada Lawa Ijo. Tetapi kembali ia tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya. Dengan Sura Sarunggi, Pasingsingan segera memasuki rumah untuk mencari pusaka-pusaka yang menggemparkan itu. Ketika kedua orang sakti itu telah lenyap ditelan pintu, mulailah Lawa Ijo menggeram. Kemudian terdengar ia berkata, “Jaka Soka, jangan terlalu lama bermain-main. Waktu kita tidak terlalu banyak.”

Jaka Soka tersenyum. Dengan mata redup ia melangkah maju, dan dengan satu loncatan ia naik ke pendapa. Pada saat yang bersamaan Rara Wilis telah menyambut pedangnya. Ia sadar bahwa Ular Laut itu pasti akan menyerangnya. Sekali lagi hatinya meremang, ketika teringat peristiwa-peristiwa di hutan Tambakbaya. Tetapi sekarang ia harus menghadapi bajak laut itu dengan senjata di tangan, tidak untuk bunuh diri, tetapi untuk membunuh lawannya itu. Yang terjadi di sebelah lain, Wirasaba dengan garangnya meloncat ke arah Wadas Gunung. Kapaknya yang besar itu berputar dengan dahsyatnya. Sedang Wadas Gunung pun menerima serangan Wirasaba dengan penuh gairah.

Di kedua belah tangannya telah tergenggam dua buah pisau belati panjang. Sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Kedua-duanya bertubuh tinggi, besar dan berkekuatan luar biasa. Keduanya memiliki kelincahan dan kecepatan bergerak. Wirasaba kini telah memiliki seluruh ketangkasannya. Kakinya sudah benar-benar pulih kembali, tidak seperti pada saat ia menyusul Mahesa Jenar ke Pliridan beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Banturan-benturan senjata mereka berdentang-dentang menyobek sepi malam. Demikian kerasnya sehingga berloncatlah bunga api keudara, memercik berhamburan.

Mantingan melihat Wirasaba telah mulai, dan Rara Wilis telah berhadapan dengan orang yang berwajah tampan itu. Yang masih berdiri tanpa lawan adalah Lawa Ijo. Lawa Ijo itu tidak dapat dikalahkan, namun apapun yang terjadi adalah menjadi kewajiban Mantingan. Karena itu segera Mantingan meloncat menyerang Lawa Ijo.

Terdengarlah Lawa Ijo tertawa. Sesaat kemudian di tangannya telah berkilat-kilat pisau belati panjang. Dengan tangkasnya ia menyongsong serangan trisula Mantingan. Maka sesaat kemudian mereka telah terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit. Keduanya bertempur mati-matian. Untuk segera dapat mengakhiri pertempuran, Lawa Ijo yang garang itu meloncat dengan dahsyatnya, sedangkan Mantingan pun tidak kalah lincahnya. Karena ia sudah mengenal Lawa Ijo, maka dalam pertempuran itu, segera ia mempergunakan ilmu gerak yang dinamainya Pacar Wutah. Dalam saat-saat berikutnya, trisulanya bergerak-gerak dengan cepatnya menyerang tubuh lawannya dari segala arah.

Tetapi Lawa Ijo pun telah mengenal ilmu itu. Di Gedong Sanga, ia gagal membunuh dalang Mantingan itu. Sekarang ia akan menebus kegagalannya. Dahulu Dalang Mantingan berhasil diselamatkan oleh Arya Salaka. Dan sekarang tak ada orang yang akan menyelamatkannya. Karena itu, maka Lawa Ijo yakin bahwa kali ini ia akan berhasil.

Wirasaba yang bertempur dengan Wadas Gunung pun telah mengerahkan segenap kekuatannya. Ia ingat apa yang pernah terjadi di Gedong Sanga, waktu itu pun Wadas Gunung ikut serta. Sehingga dengan demikian, sejak perkelahiannya di Pliridan, ia pernah melihat tandang Wadas Gunung di Gedong Sanga, meskipun tidak sedemikian jelas, karena kesempatan yang sempit. Sebab pada saat itu ia harus bertempur melawan dua orang dari kawanan Alas Mentaok. Tetapi kini ia harus bertempur melawan orang kedua sesudah Lawa Ijo. Karena itu ia harus berjuang mati-matian.

Namun Wirasaba, yang terkenal dengan nama Seruling Gading itupun mempunyai sifat-sifat yang khusus. Sebagai seorang pengembala yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain dengan bekal seruling dan kapaknya itu, maka ia telah memiliki pengalaman yang tak kalah luasnya dari lawannya, penjahat ulung yang bernama Wadas Gunung itu. Dengan demikian maka kekuatan keduanya tak dapat diselisihkan. Masing-masing memiliki kekhususannya yang cukup berbahaya. Wadas Gunung dengan kedua pisau belati panjangnya menyerang dengan ganasnya. Bertubi-tubi seperti beribu-ribu pisau belati yang melontar-lontar ke tubuh Wirasaba. Namun kapak Wirasaba itu seakan-akan dapat berubah menjadi dinding baja yang membatasinya. Sehingga dengan demikian ujung pisau lawannya sama sekali tak berhasil menyentuh pakaiannya.

Endang Widuri sementara itu masih berdiri tegak di samping pintu. Ia melihat bagaimana Wirasaba bertempur dengan dahsyatnya. Dilihatnya pula Ki Dalang Mantingan bertempur mati-matian. Ia melihat betapa lincahnya Dalang Mantingan itu, dan bagaimana dahsyatnya trisulanya menyambar-nyambar.

Namun dilihatnya pula betapa dahsyatnya Lawa Ijo itu bertempur. Karena itu hatinyapun menjadi tegang. Yang belum mulai, di antara mereka adalah Jaka Soka. Ia masih saja berdiri dengan senyumnya yang aneh. Sekali-kali ia memandang berkeliling, melihat bagaimana Wadas Gunung menghadapi lawannya, dan di saat lain dipandangnya dengan seksama pertempuran antara Lawa Ijo dan Dalang Mantingan.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 620

SEBAGAI seorang yang cukup berilmu, segera Jaka Soka melihat bahwa Mantingan telah sampai pada puncak perjuangannya, sedang Lawa Ijo masih mungkin untuk melepaskan ilmu-ilmu pamungkasnya. Karena itu ia tersenyum. Sebentar lagi ia akan melihat lawan Lawa Ijo itu terbelah dadanya. Karena itu untuk menakut-nakuti lawannya ia berkata, “Wilis, lihatlah. Sebentar lagi kawanmu yang bernama Mantingan itu akan terpenggal lehernya, atau terbelah dadanya.”

Rara Wilis mengerutkan keningnya. Ia melihat pula apa yang terjadi. Di Gedong Sanga, Rara Wilis telah mengetahui pula, bahwa ilmu Mantingan masih belum dapat menyamai Lawa Ijo. Meskipun demikian ia mencoba untuk tidak terpengaruh karenanya.

Sebab apabila demikian, Ular Laut itu akan dengan mudahnya menangkapnya. Seandainya ia terbunuh dalam pertempuran itu, ia tidak akan menyesal. Sebab dengan demikian ia telah mengorbankan dirinya untuk ikut serta mempertahankan hak atas Banyubiru dan atas Keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten yang tak begitu dimengertinya, sebab Mahesa Jenar tidak begitu banyak menceritakan pusaka-pusaka itu kepadanya. Namun hal yang sedemikian telah diduganya sejak semula.

Sejak ia menjatuhkan pilihannya atas Mahesa Jenar daripada Sarayuda. Pada saat itu ia sadar, bahwa Mahesa Jenar mempunyai masalah yang jauh lebih banyak daripada Demang Gunungkidul yang kaya raya itu.

Kalau Sarayuda seolah-olah telah menyelesaikan perjuangannya untuk merebut keadaannya kini, sehingga dengan demikian Sarayuda tinggal menikmati hasil jerih payahnya, maka Mahesa Jenar masih harus berjuang terus. Tetapi Rara Wilis melihat hakekat dari perjuangan kedua orang itu. Sarayuda berjuang untuk menempatkan dirinya pada tempat yang sebaik-baiknya, meskipun ia sama sekali tidak merugikan orang lain, tetapi Mahesa Jenar berjuang untuk kepentingan yang lebih luas, yang justru mengorbankan dirinya sendiri, kepentingannya sendiri. Seperti halnya usahanya menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamukten yang akan diharapkan.

Mahesa Jenar benar-benar berjuang tanpa pamrih, selain pengabdian diri pada tanah kelahiran, pada kemanusiaan. Sebab apabila keris-keris itu benar-benar jatuh di tangan golongan hitam, akan musnahlah tata kehidupan manusia, akan musnahlah sendi-sendi pergaulan manusia. Dan akan lenyap pulalah kesempatan untuk menjalankan ibadah mereka, memanjatkan bakti kepada Tuhan. Dan jadilah Demak suatu negara yang bertata pergaulan rimba. Siapakah yang kuat, merekalah yang berkuasa, tanpa menghiraukan hukum-hukum yang ada.

Juga usaha Mahesa Jenar untuk meletakkan kembali Arya Salaka pada tempatnya, sama sekali adalah perjuangan tanpa pamrih. Ia sekadar melakukan kewajibannya sebagai manusia yang melihat kebenaran terinjak-injak. Dengan demikian, sebagai seorang yang telah menyatakan dirinya bersedia berjuang di samping Mahesa Jenar, Rara Wilis sama sekali tidak gentar melihat ujung senjata. Jiwanya, raganya, bulat-bulat diserahkan dalam pengabdian seperti apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, orang yang dikaguminya sejak pertemuannya yang pertama. Tetapi ia menjadi ngeri, kalau Ular Laut akan berhasil menangkapnya, dan membawanya ke Nusakambangan, seperti yang diidam-idamkannya sejak lama. Ia menjadi ngeri atas kehadiran tokoh-tokoh Pasingsingan di tempat itu, jangan-jangan ia akan membantu Ular Laut itu, membuatnya tidak berdaya. Namun karena itu, ia berkeputusan untuk melawan mati-matian. Kalau ia gagal, lebih baik ia mati di pendapa Banyubiru itu.

Dengan demikian, Rara Wilis segera mengangkat pedangnya mengarah ke dada Jaka Soka sambil berkata, “Jaka Soka, jangan menakut-nakuti aku. Aku sekarang bukan lagi gadis yang ketakutan melihat senyum yang aneh serta matamu yang redup. Nah, marilah kita bermain-main dengan pedang. Kau atau aku yang mati karenanya.”

Jaka Soka menggigit bibirnya. Tetapi Rara Wilis itu berkata sungguh-sungguh. “Cabutlah pedangmu,” desis Rara Wilis, “Supaya aku tidak membunuh orang yang tidak bersenjata.” Pedang Rara Wilis terjulur beberapa jengkal ke arah leher Jaka Soka, sehingga Jaka Soka terpaksa bergeser mundur. “Wilis…” katanya, “Aku tidak akan melukai kulitmu. Apakah yang kau tunggu di sini? Mahesa Jenar tidak akan kembali kepadamu, karena ia telah terbunuh di Pamingit.”

Dada Rara Wilis berdesir, tetapi kemudian ia menjadi tenang kembali. Katanya, “Siapakah yang telah membunuhnya?”

“Paman Pasingsingan,” jawab Jaka Soka. Rara Wilis tertawa. Tetapi Endang Widuri tertawa lebih keras.

Katanya, “Pasingsingan tak akan mampu melawan Paman Mahesa Jenar. Kau salah hitung, Jaka Soka. Lain kali kau perlu mempelajari keadaan sebelum kau mencoba berbohong.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin redup. Tetapi ia sudah tidak tersenyum lagi. Sekali lagi ia melihat Wadas Gunung yang menggeram keras sekali untuk melepaskan marahnya, karena Wirasaba dapat melawannya dengan baik. Saat yang lain, Jaka Soka memandang ke arah Lawa Ijo yang nampak makin baik keadaannya. Meskipun demikian Ki Dalang Mantingan berjuang dengan gigihnya.

Kemudian Jaka Soka sendiri meloncat selangkah ke belakang dan dalam sekejap tongkatnya telah terurai. Di tangan kanan, digenggamnya sebuah pedang yang lentur, sedang di tangan kirinya adalah warangkanya, berupa sebuah tongkat yang berwarna hitam. Rara Wilis tidak menunggu lebih lama lagi. Ia meloncat ke depan dengan tangan terjulur lurus. Pedangnya mengarah kedada lawannya.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
621

 mimbar.bambang.seputro m.bambang.se at gajahsora.net

JAKA SOKA terkejut melihat gerak yang sedemikian cepatnya. Untunglah bahwa Ular Laut itu memiliki pengalaman yang luas. Setapak ia menggeser diri sambil berputar, dengan kerasnya ia memukul pedang Rara Wilis yang menjulur beberapa jari dari dadanya. Namun Rara Wilis lincah pula. Ia berhasil membebaskan senjatanya, untuk kemudian diputarnya cepat dan serangannya telah datang pula.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam pertempuran yang cepat. Rara Wilis ternyata cukup mampu mengimbangi kedahsyatan Ular Laut yang bertempur membingungkan itu. Jaka Soka mencoba untuk mengaburkan perlawanan Rara Wilis, dengan menyerangnya berputar-putar dari segala arah.

Namun Rara Wilis menyadarinya, sehingga sekali-kali ia melontarkan diri memotong langkah lawannya dengan pedang yang terayun cepat sekali. Dalam keadaan yang demikian terpaksa Jaka Soka mengumpat di dalam hati. Ia telah jauh lebih dahulu mendalami ilmu-ilmu perkelahian daripada gadis itu, namun ternyata gadis itu dapat menyusulnya. Ia menyesal bahwa selama ini ia lebih senang merantau mencari mangsanya, daripada menekuni ilmunya.

Sendang Parapat berdiri seperti patung melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Ia melihat betapa Dalang Mantingan berjuang mati-matian untuk melawan Lawa Ijo. Wirasaba dengan garangnya mengayunkan kapak raksasanya, sedang Rara Wilis dengan lincahnya bergulat di antara hidup dan mati. Dengan demikian, ia merasa bahwa tenaganya tak akan berguna sama sekali seandainya ia mencoba untuk membantu salah seorang di antaranya. Malahan mungkin ia akan mengganggu kelincahan mereka. Para penjaga halaman itu juga menjadi pening. Mereka tidak bersiap untuk bertempur menghadapi tokoh-tokoh itu. Apalagi lingkaran-lingkaran pertempuran itu seolah-olah telah menjadi sedemikian sulitnya untuk dipisah-pisahkan lagi di antara lawan dan kawan. Yang tampak di mata mereka adalah bayangan yang melontar berputar-putar dengan cepatnya. Karena itu, perhatian mereka segera tertuju kepada kawan-kawan mereka yang luka. Empat orang.

Hanya Endang Widuri-lah yang dapat mengerti betapa suasana maut telah melingkar-lingkar di halaman itu. Kali ini gadis yang nakal itu benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat lagi bergurau dalam keadaan yang demikian, sehingga senyumnya sama sekali telah lenyap dari bibirnya. Matanya yang bening itupun menjadi tajam, setajam gerigi yang melingkari cakranya. Ia melihat betapa Wirasaba dapat menyesuaikan diri melawan kekasaran Wadas Gunung. Bahkan pengembala itupun dapat bertempur dengan kasar pula. Kapaknya mendesing-desing mengerikan. Sekali terayun ke dada Wadas Gunung, namun kemudian tangkainya mengarah ke tengkuk lawannya. Namun dua pisau belati panjang di tangan Wadas Gunung itupun bergerak dengan cepatnya pula. Mematuk-matuk ke segenap tubuh Wirasaba, sehingga kemudian yang tampak hanyalah seleret-leret sinar-sinar yang silau.

Rara Wilis pun dengan lincahnya menggerakkan pedangnya dengan ilmu yang khusus. Ujung pedang yang tipis itu selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Kalau Jaka Soka dapat bertempur seperti Ular yang membelit, melingkar untuk kemudian meloncat, mematuk dengan ujung pedangnya, maka Rara Wilis berhasil melawannya seperti seekor sikatan yang dengan lincahnya menari-nari dengan sayap-sayapnya yang cepat cekatan. Demikian ia meloncat-loncat seperti anak-anak yang menari-nari riang namun ketika tiba-tiba seekor ular mematuknya, cepat-cepat ia meloncat melenting, untuk kemudian dengan lincahnya, ujung pedangnya menyambar lambung lawannya.

Dengan demikian, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi pakaian Jaka Soka yang gemebyar karena tretes intan pada timang dan anak kancing bajunya. Tiba-tiba ia merasa malu. Seandainya gadis itu benar-benar dapat dibawanya ke Nusakambangan, bahkan seandainya gadis itu bersedia untuk menjadi isterinya, maka apabila pada suatu saat timbul perselisihan antara mereka, meskipun tidak terlalu tajam, maka apakah ia mampu untuk mengatasinya. Karena itu kemudian yang menjalar dalam hati Jaka Soka bukan lagi perasaan seorang laki-laki terhadap seorang gadis seperti beberapa saat yang lampau. Ketika jiwa Jaka Soka telah benar-benar terancam, maka yang ada di dada Jaka Soka kemudian adalah kemarahan yang menyala-nyala. Dengan setinggi gunung atas kematian gurunya, Nagapasa. Karena itu, ia harus membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya. Juga gadis yang garang ini harus dibinasakan.

Demikianlah, kemudian Jaka Soka telah kehilangan kegairahannya. Ia sudah tidak lagi melihat seorang gadis cantik yang mempesona, tetapi yang tampak adalah seorang yang berbahaya bagi jiwanya. Namun ternyata seimbang dengan itu, Rara Wilis bertambah marah pula. Baginya pertempuran kali ini adalah pertempuran yang menentukan. Kalau ia terbunuh, biarlah ia mengorbankan dirinya, namun kalau ia berhasil membinasakan laki-laki itu, maka ia akan terbebas dari kecemasan dan kengerian yang mengejar-ngejarnya sepanjang umurnya. Tetapi berbeda dengan mereka berdua.

Mantingan benar-benar dalam keadaan yang sulit. Meskipun ia telah melawan Lawa Ijo dalam puncak ilmu Pacar Wutah, namun Lawa Ijo benar-benar memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Lawa Ijo itu dapat ilmu yang paling licik disamping ilmunya yang memang dahsyat dan bertempur dengan segala macam cara. Yang paling kasar, sampai yang menakutkan. Setapak demi setapak Mantingan terdesak terus. Hanya karena ketabahan dan kepercayaannya pada Kekuasaan Yang Tertinggi, ia masih mampu bertahan dalam ketenangan. Melihat keadaan itu, Widuri menjadi cemas. Ia telah kehilangan sifat kenak-kanakannya dalam keadaan bahaya yang benar-benar mengerikan seperti saat itu. Karena itu, dengan penuh tekad dan keberanian, mendidihlah darah Pengging Sepuh di dalam tubuhnya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 622

KETIKA Widuri melihat Mantingan terdesak, maka ia tidak mau membiarkannya. Dengan lincahnya ia meloncat sambil berkata nyaring di antara desing rantainya yang berputar seperti baling-baling, ”Paman Mantingan, biarlah aku ikut serta.”

Mantingan memadang dalam sekejap, gadis itu melontarkan diri seperti terbang ke arah Lawa Ijo. Dan dilihatnya Lawa Ijo menjadi terkejut karenanya. Sehingga iblis dari Mentaok itu meloncat beberapa langkah surut. Dengan liarnya matanya memandang kepada Dalang Mantingan yang sudah hampir sampai pada saat terakhir itu, namun kemudian mata Lawa Ijo itu menjadi suram ketika memandang Widuri yang sudah berdiri dihadapannya dengan senjatanya yang berbahaya itu.

Tiba-tiba terdengar suara Lawa Ijo itu perlahan-lahan, ”Ngger, jangan ikut campur dengan persoalan kami. Biarlah kami orang tua-tua menyelesaikan masalah kami dengan cara yang kami senangi.”

Widuri melihat mata yang suram itu. Namun ia tidak mau terpengaruh oleh keadaan yang tak diketahui sebabnya itu. Maka jawabnya, ”Biarlah Lawa Ijo. Kau datang dengan membawa senjata dan hasrat yang hitam di dalam hatimu. Bukankah kau telah dibekali oleh nafsu untuk membunuh…? Marilah, kami telah bersedia untuk melawannya. Kami bukan sebangsa cacing yang membiarkan diri kami terbunuh tanpa perlawanan. Karena kami sadar bahwa saat ini adalah saat-saat kami terakhir. Sebab seandainya kami berdua dengan Paman Mantingan berhasil membebaskan diri dari tanganmu, hantu-hantu hitam yang berada didalam rumah inipun segera akan menangkap kami dan membunuh kami bersama. Terhadap mereka, kami tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, biarlah kami melawan selagi kami masih sempat. Nah, lihatlah dada kami yang tengadah di hadapan ujung-ujung belatimu itu.”

Lawa Ijo menarik nafas panjang. Tetapi matanya yang suram itu menjadi menyala.

Katanya, ”Aku sudah berusaha untuk mencegahmu, gadis yang nakal. Agaknya kau benar-benar keras kepala.”

Widuri tidak peduli lagi, ia melangkah semakin dekat sambil menjawab, ”Kenapa kau mencegah aku? Bukankah kau datang untuk melepaskan nafsumu? Membunuh dan kemudian kau sangka akan kau temukan keris-keris itu di sini…?”

Lawa Ijo bukanlah seorang yang berdada longgar. Karena itu ia menjadi semakin marah. Namun sekali lagi ia mencoba memperingatkan, ”Kalau kau mau menyingkir, aku akan membebaskan kau. Guruku pun tak akan mengusikmu. Biarlah aku membunuh Ki Dalang yang masyhur ini.”

Tetapi Widuri tidak takut. Dengan nyaring ia menjawab, ”Kami mempunyai pendirian yang berbeda dengan golonganmu. Kami memiliki kesetiakawanan yang dalam untuk menegakkan kemanusiaan. Bunuhlah Paman Mantingan bersama kami semua.”

Lawa Ijo menggeram, ”Sekehendakmulah,” desisnya. Lalu ia mulai bergerak. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang Mantingan. Untunglah Mantingan selalu berhati-hati, sehingga ia masih sempat untuk menghindarkan dirinya. Ketika Lawa Ijo telah mulai kembali dengan serangannya yang dahsyat, Widuri pun mulai. Senjatanya berputar cepat seperti baling-baling dengan putaran-putaran yang berbahaya. Sekali cakranya mengarah ke leher. Mendapat lawan baru yang lincah disamping lawan lamanya, Lawa Ijo merasakan, bahwa keadaan pertempuran itu menjadi jauh berubah. Kembali ia mengagumi gadis itu. Betapa berbahayanya permainan rantai yang berputar-putar, disamping ujung trisula Mantingan yang mematuk-matuk dalam ilmu gerak Pacar Wutah. (Bersambung..)

Dengan kerasnya Lawa Ijo menggeram. Sambil memusatkan segenap tenaganya ia mencoba untuk mengatasi desakan lawan. Betapa ganasnya kelelawar yang buas itu bertempur. Kedua pisau belatinya seakan-akan merupakan kuku yang panjang diujung sayap-sayapnya yang mengembang dan bergerak gerak dengan cepatnya. Namun untuk menghadapi dua orang sekaligus terasa betapa beratnya.

Mantingan dan Widuri, meskipun keduanya memiliki bekal yang berbeda, namun meeka berusaha untuk menyesuaikan dirinya. Ternyata gadis itu tidak kalah tangkasnya dengan Mantingan. Dengan gerak-gerak yang tangguh Endang Widuri berjuang dengan berani. Darah Ki Ageng Pengging Sepuh yang mengalir didalam tubuhnya telah membekalinya dengan api yang menyala nyala didalam dada gadis itu. Api yang mengobarkan semangat berjuang dan keteguhan hati.

Diam-diam Lawa Ijo berteka teki didalam hatinya. Ia pernah bertempur melawan Mahesa Jenar, kemudian melawan muridnya yang bernama Arya Salaka. Sekarang berhadapan dengan gadis yang bernama Endnag Widuri. Namun gadis ini memiliki tatanan berkelahi sama hebatnya dengan Arya dan Mahesa. Apakah Widuri ini juga muridnya Mahesa?. Namun Lawa Ijo tidak sempat menemukan jawabannya, sebab lawannya semakin lama semakin mendesaknya kedalam bahaya. Mantingan melihat keadaan itu. Juga Widura dapat merasakan bahwa akhirnya mereka akan dapat menguasai keadaan. karena itu Endang Widuri dan Mantingan berjuang semakin hebat untuk menghancurkan orang lain yang mencoba mengacau Banyubiru.

Tetapi Lawa Ijo adalah seorang yang luar biasa. Ketika lawan-lawannya semakin mendesaknya, akhirnya ia melompat mundur beberapa langkah. Kemudian terdengarlah ia menggeram dengan keras.

Dengan gerak yang dahsyat ia memutar tubuhnya, kemudian sekali lagi ia menggeram keras.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 623

YANG kemudian terasa, betapa udara yang hangat mengalir perlahan-lahan, bergelombang menyentuh tubuh-tubuh Mantingan dan Endang Widuri. Semakin lama semakin hangat, dan akhirnya jadi panas.

Sejalan dengan itu, Lawa Ijo telah meloncat menerkam Mantingan dengan garangnya. Mantingan sadar, bahwa bahaya yang mengerikan telah mengancam dirinya. Lawa Ijo telah mempergunakan ilmunya Alas Kobar. Demikian pula Endang Widuri, merasa betapa ia terlalu tergesa-gesa merasakan kemenangan-kemenangan kecil atas lawannya itu. Kini ternyata betapa maut telah mengancam jiwanya.

Mantingan masih berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan diri. Widuri pun tidak membiarkan Lawa Ijo dapat berbuat sekehendak hatinya. Meskipun Lawa Ijo itu telah berhasil memancarkan ilmunya, namun Widuri masih sempat menyerangnya, sehingga dengan demikian Lawa Ijo terpaksa berusaha menghindarkan diri dari sambaran gigi-gigi cakra yang sangat berbahaya.

Tetapi sesaat kemudian Mantingan dan Widuri telah tidak dapat bertahan lagi dari serangan Aji Alas Kobar. Udara disekeliling Lawa Ijo itu tiba-tiba telah menjadi panas.

Udara yang panas itu bahkan seolah-olah menyusup ke dalam tulang sungsum mereka. Demikianlah akhirnya Mantingan dan Endang Widuri terpaksa menghindarkan diri dengan meloncat menjauhi lawannya.

Namun Lawa Ijo tidak mau melepaskan mereka lagi. Apalagi Ki Dalang Mantingan. Karena itu ketika Mantingan meloncat mundur, Lawa Ijo segera memburunya. Karena pancaran aji Alas Kobar yang melibatnya, akhirnya Mantingan merasa bahwa seakan-akan kakinya menjadi kejang. Ia sudah tidak sempat meloncat lagi.

Yang dapat dilakukan kemudian hanyalah menanti Lawa Ijo menerkamnya, sementara itu betapa udara yang panas telah menyengat-nyengat kulitnya. Dalam keadaan yang terakhir itu, Mantingan masih mencoba untuk mengangkat trisulanya menanti saat-saat terakhir yang mengerikan.

Widuri yang meloncat ke arah yang berlawanan, melihat, betapa maut menerkam Ki Dalang Mantingan. Karena itu wajahnya menjadi tegang dan dadanya bergolak hebat. Apakah ia akan berdiam diri melihat kawan sepenanggungan itu binasa? Tetapi ia tidak dapat bergerak maju. Ia tidak mampu untuk menerobos kekuatan Aji Alas Kobar yang dahsyat itu. Sebab demikian ia melangkah mendekat, tubuhnya menjadi seolah-olah terbakar hangus.

Namun meskipun demikian, Widuri bukanlah seorang yang mudah berputus asa. Dari ayahnya ia mendapat beberapa petunjuk bagaimana seharusnya apabila seseorang berada dalam kesulitan. Ayahnya itu pernah berkata kepadanya, bahwa manusia tidak boleh berputus asa.

Meskipun keputusan terakhir berada dalam kekuasaan Yang Maha Tinggi, namun manusia diwajibkan berusaha. Berusaha sampai kemungkinan terakhir. Demikianlah akhirnya Widuri mengambil suatu keputusan yang dapat dilakukan dalam keadaan yang demikian itu.

Ketika ia melihat Lawa Ijo dengan wajahnya yang menyeringai seperti serigala meloncat memburu Dalang Mantingan, berputarlah cakranya beberapa kali di udara. Kemudian dengan sekuat tenaga, sebagai usahanya terakhir untuk melawan Kelelawar Serigala dari Mentaok itu, cakra itu dilepaskannya beserta rantainya sekaligus. Suatu hal yang tak terduga. Apalagi pada saat itu Lawa Ijo sedang memusatkan perhatiannya kepada Dalang Mantingan.

Kepada Mantingan itulah dendam Lawa Ijo tersimpan. Tetapi, demikian ia meloncat, demikian senjata Widuri melayang ke arahnya, sedemikian cepatnya seperti kilat menyambar kepalanya.

Lawa Ijo terkejut bukan alang kepalang. Tetapi ia terlambat. Ketika ia berusaha menghindar, cakra itu dengan derasnya mengenai kepalanya dengan tepat. Terasa betapa kulit kepalanya terkelupas oleh gerigi-gerigi yang tajam. Lawa Ijo terhuyung ke samping. Perasaan nyeri telah menelan dirinya sedemikian kerasnya. Cakra pemberian Kebo Kanigara itu benar-benar senjata yang luar biasa.

Yang terdengar kemudian adalah suatu pekik yang tertahan. Dengan kedua belah tangannya, Lawa Ijo memegang kepalanya yang terluka itu erat-erat, seperti takut bahwa kepalanya itu akan terlepas. Namun demikian, luka itu menjadi semakin nyeri, dan darah yang mengalir dari luka itu menjadi semakin keras.

Dalang Mantingan untuk sesaat tertegun. Ia melihat hantu itu kesakitan. Namun karena tekanan yang tajam pada saat yang mengerikan, yang hampir saja merampas nyawanya, Mantingan menjadi seperti orang yang kebingungan. Tetapi cepat ia menguasai kesadarannya kembali. Ia merasa bahwa Kekuasaan Tertinggi dengan Tangan-tangannya yang Adil telah membebaskannya.

Karena itu, ketika ia melihat kesempatan terbuka di hadapannya, dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia mengangkat trisulanya. Trisula Mantingan itupun bukan senjata yang dibelinya dari pandai besi.

Trisulanya itu adalah pemberian gurunya, Ki Ageng Supit. Karena itu trisulanya pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan berdoa di dalam hati, yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Adil, Mantingan melontarkan trisulanya. Lawa Ijo yang telah kehilangan keseimbangan diri, tidak melihat trisula itu meluncur menyambar dadanya. Karena itu, tiba-tiba terasa dadanya terbelah. Kini benar-benar serigala dari Mentaok itu berteriak tinggi. Dan kemudian iapun terhuyung sekali lagi, dan akhirnya jatuh terkulai di tanah yang telah dibasahi oleh darahnya.

Halaman Banyubiru itu benar-benar dicengkam oleh kengerian. Teriakan Lawa Ijo itu benar-nenar telah menggetarkan udara Banyubiru. Daun-daun kuning pun berguguran di tanah, sedang ranting-ranting yang kering berpatahan. Mendengar teriakan Lawa Ijo itu, Widuri menjadi gemetar. Ia tahu perasaan apa yang menjalar di dalam dirinya. Namun tiba-tiba ia merasa segenap bulu-bulunya tegak berdiri. Karena itu ketika Lawa Ijo itu sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, tanpa disengaja Endang Widuri menghindar pandang. Wajah Widuri pun jatuh tertunduk di tanah yang hitam-hitam gelap di dalam cahaya obor yang remang-remang.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 624

WADAS GUNUNG juga tak kalah terkejutnya mendengar pekik yang memekakkan telinga itu. Ketika ia pertama-tama mendengar Lawa Ijo menggeram keras-keras, ia merasa bahwa pekerjaan kakak seperguruannya itu hampir selesai. Sebab pada saat itu Lawa Ijo telah mempergunakan Aji Alas Kobar. Namun kemudian yang terdengar adalah jerit kesakitan. Karena itu hatinya pun berdesir dengan kerasnya. Bahkan seolah-olah dirinya sendirilah yang kehilangan kekuatannya. Demikianlah Wadas Gunung yang gagah dan mempunyai kekuatan raksasa itu, kehilangan pemusatan pikiran. Ketika ia mencoba melihat apa yang terjadi pada kakak seperguruannya itu, ternyata ia dihadapkan pada saat yang menentukan.

Wirasaba tidak mau terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Ia menghadapi lawannya dengan segenap perhatian dan kemampuan. Karena itu, ketika sebagian dari perhatian Wadas Gunung direnggut oleh jerit ngeri kakak seperguruannya, Wirasaba melihat kelemahan itu. Setelah ia bertempur beberapa lama, dalam keadaan yang seimbang, maka saat yang pendek itu banyak mempunyai arti baginya.

Wadas Gunung melihat seleret sinar yang menyambar tubuhnya pada saat ia melihat Lawa Ijo terdorong beberapa langkah untuk kemudian jatuh tak berdaya. Cepat ia berusaha untuk melawan sambaran senjata lawannya, namun ia tak berhasil mempergunakan segenap kekuatannya. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap arah sambaran kapak lawannya, dan menyilangkan kedua pisaunya untuk menahan serangan itu, Wirasaba sempat menarik senjatanya, dan dengan tangkai kapaknya itu ia menyerang tengkuk Wadas Gunung. Serangan ini tidak begitu keras, namun benar-benar telah menghilangkah keseimbangan perlawanan Wadas Gunung. Ketika Wadas Gunung berusaha menghindar, kapak Wirasaba telah berubah arah. Dengan kerasnya senjata raksasa itu menyampar punggung Wadas Gunung.

Kini sekali lagi halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan ngeri. Wadas Gunung terbanting di tanah untuk tidak akan bangun kembali. Sesaat kemudian, halaman itu menjadi sepi.

Jaka Soka telah melontar mundur beberapa langkah. Ternyata, karena pengalamannya, ia lebih hati-hati dari Wadas Gunung. Dihindarinya lawannya jauh-jauh, supaya ia dapat melihat apa yang terjadi. Sesaat darahnya berdesir cepat, jantungnya seperti berdetang-detang akan pecah. Dua kakak-beradik seperguruan telah jatuh dalam pertempuran itu. Sebenarnya Jaka Soka tidak akan terpengaruh kedudukannya sebagai kepala gerombolan di Nusakambangan. Kematian Lawa Ijo dan Wadas Gunung adalah akibat yang wajar dari usahanya. Mukti atau mati. Jaka Soka sendiripun sadar, bahwa akibat yang demikian dapat juga terjadi atas dirinya. Namun kekalahan yang berturut-turut, baik di Pamingit maupun di Banyubiru ini sangat memanaskan hatinya. Bahkan di Pamingit, gurunya yang dibangga-banggakan telah jatuh. Sekarang kawan-kawan segolongannya terbunuh pula. Karena itu darah di dalam tubuhnya serasa menggelegak seperti banjir yang melanda dinding jantungnya.

Diawasinya orang-orang yang berdiri di sekitar pendapa itu. Wirasaba, yang masih gemetar berdiri bersandar tangkai kapaknya yang diwarnai oleh darah Wadas Gunung. Mantingan dan Widuri pun masih saja berdiri seperti patung. Sedang Rara Wilis, sebagai seorang gadis, hatinyapun berdebar-debar pula.

Untunglah bahwa ia tidak kehilangan kewaspadaannya. Dihadapannya masih berdiri Ular Laut yang menggelisahkan. Sesaat kemudian dari pintu rumah itu muncullah orang berjubah abu-abu, bersama-sama dengan orang yang berkepala besar. Dengan kesan yang mengerikan, ia memandang berkeliling. Ia menggeram ketika dilihatnya kedua muridnya terkulai di tanah. Kemudian seperti bayang-bayang, ia melayang ke arah Lawa Ijo, yang masih bergerak-gerak dalam pergulatannya melawan maut.

”Lawa Ijo…” desis Pasingsingan itu. Lawa Ijo hanya mampu berdesis perlahan-lahan. Dan kembali Pasingsingan memanggilnya, ”Lawa Ijo….”

”Hem…” Lawa Ijo berusaha untuk menjawab. Ternyata orang itu memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun darahnya telah mengalir dari luka-luka di kepala dan dadanya, namun ia masih dapat membuka matanya.

Pasingsingan kemudian tegak berdiri di samping tubuh murid kesayangan itu. Pandangannya dengan tajam bergerak dari Mantingan, Endang Widuri, Wirasaba kemudian Rara Wilis. Sendang Parapat dan para penjaga yang kaku di tempat masing-masing itu sama sekali tak diperhitungkan.

”Aku tidak menyangka…” Hantu bertopeng itu menggeram. ”Bahwa kalian mampu membunuh muridku. Ketika aku mendengar ia memekik, aku menyangka lain. Tetapi aku menjadi ragu-ragu. Akhirnya aku sadar bahwa kedua muridku pasti terluka. Ternyata mereka tidak saja terluka, tetapi jiwanya telah terancam.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 625

KEMUDIAN tangan hantu itu perlahan-lahan terangkat dan menunjuk kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mula-mula Mantingan, kemudian berturut-turut Endang Widuri, Wirasaba dan Rara Wilis.

”Kau, kau, kau dan kau. Hem. Alangkah sombongnya kalian. Kalian berani membunuh murid Pasingsingan di hadapan gurunya. Benar-benar suatu perbuatan yang gila. Karena itu kalian harus mati dengan cara yang paling menyedihkan. Tidak oleh tangan Pasingsingan. Aku tidak mau dikotori dengan darah kalian. Tetapi kalian akan kami ikat di belakang kuda kami. Akan kami arahkan kuda-kuda kami ke Pamingit. Besok sahabat-sahabat di sana akan menemukan mayat kalian yang sudah terkelupas seperti pisang.”

Semua yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar. Meskipun mereka tidak takut mati, namun mati dengan cara yang demikian benar-benar tidak menyenangkan. Meskipun ada senjata di tangan mereka, namun kalau Pasingsingan itu benar-benar bermaksud demikian maka pastilah mereka tidak akan mampu mengelakkan diri. Dengan satu pukulan di tengkuk mereka, atau satu tekanan di dada mereka, maka hantu itu benar-benar akan dapat membuat mereka lumpuh. Rara Wilis menjadi semakin ngeri, kalau-kalau tiba-tiba Jaka Soka berbuat lain. Sebab Jaka Soka akan dapat mengajukan permintaan kepada Pasingsingan mengenai dirinya.

Tetapi dalam ketegangan itu tiba-tiba suara Lawa Ijo gemetar, ”Guru, dapatkah guru mendengar permintaanku terakhir?”

Pasingsingan menoleh kepada muridnya. Dengan isyarat-isyarat ia minta Sura Sarunggi mengawasi orang-orang yang berdiri dihalaman itu. Kemudian iapun berjongkok di samping muridnya. Ketika ia melihat luka Lawa Ijo, Pasingsingan itupun mengerti, bahwa nyawa Lawa Ijo tak akan dapat diselamatkan.

”Apakah permintaamu?” jawab Pasingsingan.

”Pertama…” Suara Lawa Ijo menjadi semakin gemetar. Terasa betapa dendamnya masih menguasai dirinya.

”Nyawa Dalang Mantingan.”

”Hem…” Pasingsingan menggeram sambil memandang Dalang Mantingan yang berdiri seperti tonggak. Lamat-lamat ia mendengar juga apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo itu. Namun ia sudah tidak terkejut. ”Kedua…” Lawa Ijo meneruskan, ”Jangan bunuh gadis nakal itu.”

Pasingsingan menarik nafas. ”Kenapa…?” Ia bertanya. Tiba-tiba Lawa Ijo berusaha mengangkat kepalanya dan dipandanginya Endang Widuri yang tegak kaku seperti tiang pendapa.

”Guru…” desis Lawa Ijo, ”Dapatkah aku melihat senjata itu?” Pasingsingan menjulurkan tangannya. Rantai dan cakra yang mengenai kepala Lawa Ijo masih menggeletak di sampingnya. Kemudian senjata itupun diserahkan kepada muridnya.

Lawa IJo dengan tangan yang lemah mengamat-amati senjata itu. ”Luar biasa,” desisnya. ”Lumrah kalau Lawa Ijo terbunuh karena senjata yang ampuh ini,” katanya pula.

Pasingsingan tidak tahu apa yang dimaksud muridnya itu, namun ia masih berdiam diri. Langit di sebelah barat masih ditandai oleh warna merah, karena api yang masih berkobar-kobar menelan beberapa rumah yang sama sekali tak bersalah.

”Widuri, kemarilah….” Terdengar Lawa Ijo memanggil. Panggilan itu terasa aneh. Widuri mula-mula tidak percaya pada pendengarannya. Apakah benar-benar Lawa Ijo itu memanggilnya dengan nada yang lunak tanpa rasa dendam? Ketika Endang Widuri sedang menebak-nebak di dalam hati, terdengar kembali Lawa Ijo memanggil, lebih keras, ”Widuri, kemarilah.”

Widuri menjadi semakin bingung. Bahkan Pasingsingan tidak tahu apa maksud muridnya itu. Namun dalam nada suaranya, Lawa Ijo sama sekali tak bermaksud jahat. Widuri masih belum beranjak dari tempatnya. Sehingga sekali lagi Lawa Ijo berkata kepada gurunya, ”Guru, panggilkan gadis itu. Aku tak akan berbuat jahat. Dan sekali lagi aku minta jangan ganggu dia.”

Pasingsinganpun menjadi bingung. Namun ia berusaha untuk memenuhi permintaan muridnya itu. Perlahan-lahan ia berkata, ”Gadis kecil, Lawa Ijo memanggilmu.” Widuri masih belum bergerak. Sedang Rara Wilis menjadi cemas. Katanya, ”Jangan, Widuri.”

”Hem…” Lawa Ijo menarik nafas. Berat sekali, seakan-akan nafasnya sudah terputus di dadanya, ”Sebelum aku mati..”, mintanya.

Widuri masih tegak sepergi tonggak. Mantingan sudah kehilangan ingatannya untuk mencegah atau menyetujuinya. Demikian juga Wirasaba. Nafasnya masih memburu berebut dahulu setelah ia berjuang mati-matian, serta dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya pada saat terakhir.

Kini ia tidak tahu apa yang akan dikatakan dan apa yang akan diperbuat tentang Widuri.

”Guru…” tiba-tiba Lawa Ijo berkata, ”Silahkan guru meninggalkan aku. Agaknya gadis itu takut kepada Guru.”

”Apakah sebenarnya yang sedang kau lakukan, Lawa Ijo…? tanya Pasingsingan.

”Gadis itu. Aku sedang mengenangkan almarhum anakku. Pada wajah gadis itu, sejak aku melihat untuk pertama kalinya, seakan-akan terbayang wajah anakku. Kini aku melihat wajah itu pula, tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya, mengajak aku pergi mengantarkannya. Anakku itu seandainya ia masih hidup, ia pasti sebesar gadis itu dan tangkas pula. Setangkas anak itu,” jawab Lawa Ijo.

Pasingsingan menggeram. Ia mengutuk di dalam hati. Kenapa Lawa Ijo berbuat hal yang aneh-aneh seperti perempuan cengeng. Namun pada saat-saat muridnya yang disayangnya itu hampir berpelukan dengan maut, ia terpaksa memenuhinya. Perlahan-lahan ia berdiri untuk kemudian mundur beberapa langkah sambil berkata kasar, ”Mendekatlah. Aku tidak akan mengganggumu.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 626

LAWA  IJO yang lemah itu kemudian berusaha untuk melemparkan senjata-senjatanya. Pisau belati yang selama ini menjadi ciri-ciri kekejamannya, yang kadang-kadang diikatnya dengan kain bergambar kelelawar hijau berkepala serigala.

Endang Widuri melihat semuanya dengan jantung yang berdentangan. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ada sesuatu yang mendesak-desaknya untuk memenuhi panggilan Lawa Ijo itu. Tiba-tiba ia bergerak-gerak maju. Bersamaan dengan itu, Rara Wilis pun meloncat ke arahnya, sambil berkata, ”Widuri.”

Kembali langkah Widuri terhenti. Ia menoleh kepada Rara Wilis. Nafas Rara Wilis pun kemudian menjadi sesak oleh ketegangan yang memuncak. Lawa Ijo yang sudah hampir sampai pada akhir hayatnya melihat Rara Wilis berusaha mencegah gadis kecil itu. Maka perlahan-lahan ia berkata, ”Aku adalah manusia seperti kalian, meskipun apa yang aku lakukan selama ini tidak ubahnya seperti binatang. Aku tidak tahu apa yang akan aku alami, sesudah aku menginjak alam lain, namun di perbatasan ini aku tidak akan menambah dosa.”

Tiba-tiba hati Rara Wilis tersentuh pula. Sebagai seorang gadis, perasaannya tidaklah sekeras baja. Ketika Widuri memandangnya, tanpa sesadarnya ia mengangguk. Sehingga Widuri kemudian perlahan-lahan melangkah maju mendekati hantu dari Alas Mentaok yang hampir sampai ajalnya itu. ”Senjatamu benar-benar ampuh, melampaui senjata yang pernah aku kenal,” desis Lawa Ijo.

”Namun ia akan bertambah ampuh kalau kau lekatkan akik ini di lingkaran bergerigi itu.” Widuri tidak menjawab. Ia berdiri tegak di samping Lawa Ijo yang masih memegang rantai beserta cakranya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan Lawa Ijo itu. Lawa Ijo kemudian menarik sesuatu di jari-jarinya. Cincin dengan mata akik yang berwarna merah menyala.

”Lawa Ijo…!” Pasingsingan berkata lantang. ”Apakah yang kau berikan itu?”

”Kelabang Sayuta,” jawab Lawa Ijo lemah.

”Gila, jangan kau lakukan,” sahut Pasingsingan. ”Akik Kelabang Sayuta adalah ciri Pasingsingan yang hanya aku pinjamkan kepadamu.”

”Biarlah Guru. Aku berikan akik itu kepada anakku,” bantah Lawa Ijo dengan suara gemetar. Pasingsingan menahan dirinya untuk tidak melukai hati muridnya yang hampir mati itu. Namun dengan demikian, tanpa dikehendaki, Lawa Ijo justru menanamkan bahaya dalam tubuh Endang Widuri. Sebab tiba-tiba Pasingsingan mendapat pemecahan yang mengerikan.

”Biarlah akik itu diberikan, namun gadis itu tidak akan mampu melepaskan diri dari tangannya.” Kemudian Pasingsingan tidak mencegahnya ketika Lawa Ijo menyerahkan cincin beserta rantai Widuri sendiri kepada gadis itu. Widuri pun seperti orang yang kehilangan dirinya. Ia bergerak saja tanpa sesadarnya menerima pemberian Lawa Ijo itu. Hanya Rara Wilis yang bagaimanapun juga, tidak dapat melepaskan Widuri seorang diri berhadapan dengan hantu itu. Karena itu iapun mendekatinya dengan pedang terhunus di tangannya.

”Kutuk anakku itu telah sampai pada suatu kenyataan.” Terdengar suara Lawa Ijo gemetar. ”Mudah-mudahan aku dapat mengurangi beban pada saat kematianku. Setelah kau menerima cincin itu, terasa betapa lapang jalan yang akan aku tempuh. Hati-hatilah dengan cincin itu. Setiap goresannya, pasti berakibat maut, kecuali Mahesa Jenar. Aku tidak tahu kenapa ia berhasil membebaskan dirinya. Pergunakan akik itu menurut jalan hidupmu. Kalau kau benci kepada kejahatan, mudah-mudahan ia dapat menolongmu.” Lawa Ijo berhenti.

Nafasnya menjadi semakin sesak. Tiba-tiba ia menggeliat dan terdengar ia mengeluh. Widuri yang masih berdiri di samping Lawa Ijo itupun tiba-tiba berjongkok. Kalau mula-mula ia ngeri melihat wajah yang keras dan kejam itu, maka kini perasaan itu telah hilang.

”Widuri…” bisiknya. ”Bukankah namamu Widuri?” Widuri mengangguk. ”Aku telah membunuh anakku tanpa aku sengaja. Ketika aku menyangka ibunya berbuat sedheng dengan laki-laki lain, aku bunuh laki-laki itu. Kemudian aku bunuh pula istriku. Namun tanpa aku ketahui anak gadisku satu-satunya yang masih kecil, memeluk kaki ibunya, sehingga ketika aku dengan membabi buta menusuk tubuh perempuan itu, sebuah goresan melukai anakku itu. Goresan yang dalam di lehernya, sehingga gadis itu kemudian mati pula dua hari setelah mayat ibunya aku lempar ke sungai.”

Lawa Ijo berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin tak teratur. Sekali-kali ia menggeliat lemah. Kemudian berbisik kembali perlahan-lahan. ”Tetapi ternyata aku salah sangka.” Kembali Lawa Ijo berhenti. Ia masih berusaha untuk membuka matanya, lalu meneruskan, ”Istriku tidak berbuat sedheng. Tetapi lelaki itu yang berbuat bengis. Berbuat di luar batas perikemanusiaan, sedang istriku adalah korban nafsu kebinatangannya. Namun istriku itu telah mati tersia-sia. Aku jadi menyesal. Apalagi ketika satu-satunya anakku itu mati pula. Akhirnya aku kehilangan keseimbangan. Dan jadilah aku seekor binatang pula. Tetapi aku tidak mau mendekatkan diri kepada perempuan. Perempuan yang bagaimanapun juga. Aku hanya ingin membunuh, berkelahi dan membuat orang lain menjadi putus asa dan menderita. Kadang-kadang aku rampas harta bendanya, pusaka-pusakanya dan kadang-kadang aku bunuh keluarganya, anak-anaknya yang tak berdosa. Akhirnya aku namakan diriku Lawa Ijo setelah aku berguru kepada Bapa Pasingsingan.”

Pasingsingan menggeram. Ia tidak senang mendengar penyesalan itu, sebagai suatu perbuatan cengeng. Seharusnya Lawa Ijo mati dengan janji seorang pemimpin dari golongan hitam. Tetapi ia berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolak nafsunya yang mendidih. ”Matilah segera Lawa Ijo,” kata hatinya. (Bersambung)-b

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 627

PASINGSINGAN sudah tidak mempunyai harapan untuk menyembuhkan luka-luka muridnya. ”Sesudah itu aku akan membunuh setiap orang di sini. Mantingan,Wirasaba, Rara Wilis dan gadis yang telah meruntuhkan kejantanan Lawa Ijo di matanya untuk mendapatkan akiknya kembali. Mengikat mereka di belakang kuda dan dipacunya ke Pamingit untuk meruntuhkan keberanian dan ketahanan perlawanan orang-orang Banyubiru,” kata hatinya kemudian.

Sesaat kemudian Lawa Ijo memejamkan matanya. Nafasnya satu-satu masih mengalir lewat hidungnya. Tetapi sesaat kemudian ia berusaha untuk tersenyum. Bersamaan dengan itu, dadanya terangkat dan melontarlah nafasnya yang terakhir.

Rara Wilis menjadi terkulai karenanya. Hatinya terketuk oleh kata-kata terakhir Lawa Ijo. Agaknya orang ini telah kehilangan masa depannya, karena ia salah duga terhadap istrinya. Sifat-sifat kekerasan dan kekerasan yang memang telah dimiliki, menjadi berkembang dengan pesatnya, sehingga menemukan bentuk puncaknya.

Endang Widuri masih berjongkok di samping Lawa Ijo. Terasa matanya menjadi panas. Kematian lawannya itu ternyata mempengaruhi jiwanya pula. Tanpa sesadarnya ia mengamat-amati benda pemberian Lawa Ijo itu. Cincin bermata batu akik yang merah menyala. Kelabang Sayuta.

Tetapi ia menjadi terkejut ketika terdengar Pasingsingan berkata dengan suara yang seperti bergulung-gulung di dalam perutnya. ”Widuri, agaknya kau telah berhasil merebut hati muridku pada saat-saat terakhirnya. Karena kenangannya yang melambung pada masa lampaunya, pada almarhum istri dan anaknya itulah, maka sejak di Gedong Sanga ia selalu berpesan untuk membebaskan kau dari tanganku. Sebelum mati ia pun berpesan demikian pula untuk tidak mengganggumu. Tetapi Lawa Ijo sekarang sudah tidak ada lagi. Pesannya akan hilang bersama hilangnya nyawamu. Sekarang aku akan melakukan rencanaku. Mengikat kalian di belakang kuda, dan mengantarkan kuda-kuda itu ke Pamingit.”

Setiap hati yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi bergetar cepat. Mereka menjadi seperti tersadar dari mimpinya. Ketika mereka mendengar kata-kata terakhir Lawa Ijo, mereka seolah-olah terlempar ke dalam satu dunia yang asing. Namun sekarang kembali mereka berdiri di atas tanah. Mereka berhadapan dengan iblis bertopeng dari Alas Mentaok. Mantingan tiba-tiba meloncat dengan cepatnya, meraih trisulanya yang masih menggeletak di samping Lawa Ijo setelah berhasil menyobek dada pemimpin gerombolan yang kehilangan masa depannya itu. Pedang Rara Wilis juga diangkatnya kembali. Widuri yang masih berjongkok disamping Lawa Ijo pun berdiri. Dengan hati-hati ia mengenakan cincin pemberian Lawa Ijo di jarinya, meskipun agak terlalu longgar, namun karena tangannya kemudian menggenggam ujung rantainya, maka cincin itu tidak akan lari karenanya.

Wirasaba yang berdiri tegak agak jauh dari mereka, juga segera membelai kapaknya, seolah-olah ia ingin menanyakan kepada senjata itu, apakah yang dapat dilakukan untuk melawan orang yang bernama Pasingsingan itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sura Sarunggi, disamping gelaknya yang riuh. ”Aku menjadi geli melihat kelinci-kelinci ini mempersiapkan senjata-senjata mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka sedang menduga-duga kekuatanmu, Pasingsingan?”

Pasingsingan tidak menjawab. Malahan ia berkata kepada Jaka Soka, ”Soka, masihkah kau perlukan perempuan itu?”

Jaka Soka terkejut. Selama itu ia pun seperti orang yang kehilangan kesadaran. Namun akhirnya ia menjawab, ”Perempuan itu sangat berbahaya, Paman.”

Pasingsingan tertawa. ”Lalu…?” ia bertanya pula. Jaka Soka menggeleng, jawabnya, ”Selama ia masih seperti sekarang, aku tidak memerlukan lagi.”

”Bagus,” sahut Pasingsingan, ”Perempuan itulah yang pertama-tama akan aku ikat di belakang kuda bersama-sama dengan gadis yang bernama Widuri itu. Seorang laskar akan memacu kuda itu dan melepaskannya di Pamingit.”

Tiba-tiba terdengar Jaka Soka bergumam, ”Sayang.” Tetapi Pasingsingan sudah tidak mendengarnya lagi.

Topengnya tiba-tiba tampak menjadi liar. Dipandangnya satu demi satu, Mantingan, Wilis, Widuri kemudian Wirasaba. Yang terakhir adalah mayat muridnya. ”Ia mati di luar lingkungan kami,” desisnya.

”Ya,” sahut Sura Sarunggi. ”Ia mati setelah menanggalkan kejantanan golongan kami. Aku tidak tahu bagaimana kedua muridku mati. Mudah-mudahan mereka mati sebagai Uling Rawa Pening.”

”Persetan semuanya!” Tiba-tiba Pasingsingan berteriak. ”Aku tidak punya banyak waktu.”

Kata-kata Pasingsingan itu merupakan aba-aba bagi Mantingan dan kawan-kawannya. Tanpa berjanji, mereka segera berloncatan merapatkan diri dengan senjata masing-masing yang siap di tangan. Trisula, pedang tipis ditangan Rara Wilis, kapak raksasa dan rantai bercakra pemberian Kebo Kanigara. Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lain, betapa dapat dikalahkan. Keempat senjata itu dalam satu gabungan, merupakan kekuatan yang dahsyat.

Namun bagi Pasingsingan, senjata-senjata itu tak akan banyak berarti. Meskipun demikian, ia pun berhati-hati. ”Mulailah Pasingsingan,” kata Sura Sarunggi, ”Mungkin orang-orang Pamingit akan segera menyusul kita. Bukankah pekerjaan utama kita belum selesai?”

”Ya,” jawab Pasingsingan. ”Aku menduga kalau keris-keris itu disembunyikan oleh Gajah Sora. Tetapi jangan takut mengenai orang-orang Pamingit atau Banyubiru yang akan menyusul kita. Aku telah meletakan beberapa penjaga untuk memberikan tanda-tanda dengan kentongan apabila mereka terpancing oleh api di sana.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 628

SURA SARUNGGI menyahut, ”Tetapi jangan membuang-buang waktu.”

”Aku senang melihat mereka ketakutan,” jawab Pasingsingan.

Sura Sarunggi pun kemudian tertawa sambil berkata, ”Kau benar-benar iblis. Tetapi memang benar-benar menyenangkan. Meskipun demikian jangan terlalu lama. Apakah aku harus membantu? Kau akan kecewa kalau mereka mati ketakutan sebelum terseret oleh kuda-kuda kita.”

”Bagus,” kata Pasingsingan pula.

”Aku akan dengan mudah membunuh mereka bersama-sama. Tetapi aku akan menemui kesulitan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Bantulah supaya pekerjaanku segera selesai.”

Sura Sarunggi tertawa. Ia melangkah maju mendekati empat orang yang berdiri dalam satu lingkaran beradu punggung.

Pasingsingan pun melangkah dari arah lain. Udara di halaman Pendapa Banyubiru itu kemudian diliputi oleh ketegangan. Masing-masing seakan-akan tidak berani menarik nafas dengan leluasa. Mantingan, Rara Wilis, Endang Widuri dan Wirasaba telah bertekad untuk bertempur mati-matian.

Mereka lebih baik mati dalam perkelahian itu, daripada harus terserat di belakang kaki kuda di sepanjang jalan ke Pamingit. ”Mahesa Jenar dan sahabatnya di Pamingit akan berterima kasih atas hadiah-hadiah kita ini, Sarunggi,” desis Pasingsingan.

”Hadiah yang tak ternilai,” jawab Sura Sarunggi.

Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sura Sarunggi yang tinggal beberapa langkah dari korbannya, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Demikian pula Pasingsingan.

”Hem….” geram Pasingsingan, ”Apakah ini?” Mata Sura Sarunggi menjadi liar. Mantingan dan kawan-kawannya yang telah hampir kehilangan harapan untuk dapat menyaksikan matahari terbit di balik bukit-bukit besok pagi, menjadi heran. Apakah yang mengganggu mereka. Ketika mereka melihat berkeliling, mereka tidak melihat apapun juga. Yang mereka lihat di langit yang kelam, mendung mulai mengalir dari arah utara. Satu-satu bintang-bintang yang gemerlapan itu tertelan dan hilang di belakang tabir yang kelabu.

Angin yang basah bertiup semakin lama semakin keras. Dan udara di atas Banyubiru menjadi semakin dingin.

Tetapi Pasingsingan dan Sura Sarunggi masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian Jaka Soka pun menjadi heran. Apakah yang ditunggu lagi? Tak seorangpun yang akan dapat menghalang-halangi mereka. Apa yang akan mereka perlakukan…?

Sendang Parapat, Wanamerta yang kaku seperti tonggak, para penjaga di gardu, tak ada yang mampu berbuat apapun. Meskipun Sendang Parapat dan Wanamerta tak akan tinggal diam. Ternyata dengan senjata-senjata di tangan mereka. Namun mereka sadar, bahwa terhadap Jaka Soka itupun mereka tak akan mampu melawan.

Tiba-tiba Sura Sarunggi dan Pasingsingan menjadi tegang. Sesaat kemudian terdengar Sura Sarunggi berkata, ”Jangan bersembunyi. Siapakah kau? Mahesa Jenar, Pandan Alas, Titis Anganten atau Sura Dipayana?”

Mendengar nama-nama itu, tergetarlah dada orang Banyubiru. Mantingan dan kawan-kawannya. Bahkan Widuri terpekik kecil, ”Ayah barangkali?”

Tetapi tak ada jawaban. Karena itu kembali Mantingan dan kawan-kawannya menjadi tegang. Seperti Sura Sarunggi dan Pasingsingan pun bertambah tegang. Mahesa Jenar, sahabatnya yang berhasil membunuh Nagapasa, Pandan Alas atau orang-orang lain pasti tidak akan membiarkan anak-anak mereka, atau sahabat-sahabat mereka itu menjadi ketakutan. Mereka pasti akan segera menampakkan diri. Bahkan mereka pasti datang dengan tergesa-gesa di atas kuda yang derap kakinya akan memberitahukan kehadiran mereka.

”Tetapi siapakah selain mereka?” bisik Sura Sarunggi di dalam hatinya. Namun Pasingsingan menjadi gelisah. Ia pernah bertemu dengan orang-orang aneh itu beberapa saat lampau di Rawa Pening. Ketika ia hampir saja membunuh Mahesa Jenar beserta empat kawannya. Yang seorang adalah Dalang Mantingan itu. Dua orang aneh itu berhasil membebaskan mereka. Sekarang, ketika Mantingan berada di ujung maut, terasa sesuatu yang aneh di halaman itu.

Tiba-tiba halaman itu seolah-olah bergetar dengan dahsyatnya.

Dari dalam gelap terdengar suara perlahan-lahan.

”Akulah yang datang.”

”Siapa?” teriak Pasingsingan.

”Pasingsingan,” jawab suara itu. Berdesirlah setiap dada yang mendengar jawaban itu. Pasingsingan…?

”Ah, orang itu pasti berolok-olok saja,” pikir mereka. Namun suara itu bergulung-gulung di dalam perut, seperti suara Pasingsingan. Ketika kemudian kilat memancar di langit, maka kembali di halaman itu seakan-akan menjadi runtuh karena setiap orang terkejut karenanya. Dari arah suara itu, di dalam cahaya kilat yang hanya sesaat tampaklah seorang yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan bertopeng yang kasar di wajahnya.

Melihat orang itu, Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. Terdengar ia berteriak nyaring, ”Siapakah kau? Apakah kau sudah bernyawa rangkap, berani mengenakan pakaian khusus Pasingsingan?”

”Aku Pasingsingan,” jawab suara itu.

”Tak ada dua Pasingsingan di dunia ini,” teriak Pasingsingan. ”Aku satu-satunya.”

”Kau salah!” Tiba-tiba terdengar suara itu di arah lain. ”Aku juga Pasingsingan.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 629

KETIKA semua orang menoleh ke arah suara itu, dalam keremangan cahaya obor, tampaklah seseorang lagi yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajahnya, sehingga serasa akan meledaklah dada mereka.

Dua orang yang sama-sama mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajah mereka. Pasingsingan menjadi marah sekali karenanya, sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan pandangan liar ia mengawasi kedua orang yang mirip dengan dirinya itu berganti-ganti. Kemudian sambil menggeram ia berkata, ”Apakah kalian tidak sadar, bahwa permainan kalian itu akan berakibat maut?”

Kedua orang yang menamakan diri mereka Pasingsingan itu tidak menjawab, tetapi perlahan-lahan mereka melangkah mendekat. Seorang di antaranya berdiri di samping Mantingan dan kawan-kawannya, sedang seorang yang lain berdiri bertentang pandang dengan Sura Sarunggi.

Namun kemudian terdengar suara Sura Sarunggi tertawa. Katanya, ”Suatu permainan yang bagus, Pasingsingan. Tetapi dengan mengenakan jubah abu-abu dan topeng yang jelek itu, bukankah permainan terakhir bagi kalian? Sebab kalian pasti akan mengambil keputusan untuk membuktikan bahwa Pasingsingan memang hanya satu. Kalau sekarang tiba-tiba ada tiga, atau barangkali nanti muncul yang lain, empat, lima, enam, sepuluh, maka nanti akhirnya Pasingsingan benar-benar akan tinggal satu.”

”Kau benar,” sahut Pasingsingan.

”Aku muak melihat mereka dengan ciri-ciri khusus Pasingsingan itu. Karena itu mereka harus mati.”

”Kematian seseorang tidak terletak di tangan orang lain.”

Terdengar salah seorang dari kedua orang itu menjawab.

”Tetapi terletak di tangan Yang Maha Agung. Tak seorangpun dapat meramalkan, apakah satu dari sekian banyak Pasingsingan itu adalah kau. Tak seorangpun yang tahu, apakah kau dibenarkan untuk tetap hidup. Apakah aku atau orang itu yang juga menamakan dirinya Pasingsingan.”

Pasingsingan tertawa. Suaranya nyaring mengerikan seperti rintihan hantu. Yang mendengar suara itu menjadi bergetar, seolah-olah dadanya terhimpit batu sebesar anak gajah. Sehingga mereka terpaksa memusatkan kekuatan batin mereka untuk menahan kesadaran mereka tidak runtuh. Namun beberapa orang penjaga telah terduduk karenanya. Sendang Parapat yang belum sembuh benar itupun tidak kuat menahan getaran yang memukul dadanya, sehingga dengan demikian, iapun terpaksa menyandarkan diri pada tiang pendapa. Meskipun demikian akhirnya iapun terduduk pula. Sedang Wanamerta terpaksa berpegangan tiang erat-erat. Namun kesadarannya telah melayap-layap seperti orang yang sedang hanyut menjelang tidur.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri masih dapat bertahan diri, berdiri tegak dalam lingkaran beradu punggung. Meskipun demikian mereka harus berjuang mati-matian agar mereka tetap dalam kesadaran. Sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tiga orang yang masing-masing menamakan diri mereka Pasingsingan. Apakah Pasingsingan yang lain itu tidak kalah jahatnya dengan Pasingsingan yang pertama. Apakah justru kedua orang yang lain itu lebih berbahaya bagi mereka. Pasingsingan masih terus tertawa dengan nyaringnya. Beberapa orang penjaga, bahkan Sendang Parapat, telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka menjadi seperti orang yang terlepas dari keadaan sekitarnya. Dan karena itu mereka menjadi terbaring lemah tanpa daya. Hatinya menjadi nyeri dan pedih. Mantingan dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

Sadarlah mereka bahwa Pasingsingan telah melepaskan ajiannya Gelap Ngampar. Bahkan Jaka Soka sendiripun menjadi gelisah. Semakin lama ia semakin pucat dan gemetar. Sura Sarunggi berdiri tegak sambil mengangkat dadanya. Sebagai orang sakti ia tidak banyak terpengaruh oleh aji sahabatnya itu.

Bahkan akhirnya ia tersenyum dan berkata, ”Gelap Ngampar adalah ilmu ajaib. Pasingsingan yang lain pun mampu berbuat demikian?”

Namun kedua Pasingsingan yang lain itu tidak menjawab. Mereka tegak seperti patung saja di tempatnya. Tetapi tiba-tiba terasa udara yang aneh bertiup di halaman itu. Perlahan-lahan hanyut di sela-sela arus angin basah dari lembah. Pasingsingan yang berdiri dekat Mantingan itu tampak melipat tangan di dadanya. Sejalan dengan arus udara yang aneh itu, terasa sesuatu merayap-rayap di dada Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri. Seakan-akan mereka menemukan kesegaran baru di dalam dirinya.

Perasaan nyeri dan pedih yang ditusukkan oleh aji Gelap Ngampar di dalam tubuh mereka perlahan-lahan menjadi berkurang. Dan angin masih mengalir mengusap tubuh mereka membawakan ketenangan dalam diri. Bagaimanapun juga Mantingan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup. Ia adalah seorang dalang yang banyak mempelajari keajaiban dan kekuatan- kekuatan yang tersembunyi di balik alam yang kasatmata. Karena itu tergetarlah hatinya.

Sehingga tak sesadarnya ia berbisik, ”Alangkah dahsyatnya. Pertempuran ilmu dari orang-orang sakti.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 630

WIDURI, Wilis dan Wirasaba mendengar bisikan itu. Karena itu mereka menjadi gelisah. Dua raksasa dapat bertempur tanpa luka pada kulit mereka, namun kelinci-kelinci dapat terinjak mati di tengahnya.

”Dahsyat…!” Tiba-tiba terdengar Sura Suranggi berteriak. ”Aku merasa Pasingsingan yang lain mampu melawan Aji Gelap Ngampar. Setidak-tidaknya ia mampu membebaskan dirinya. Bahkan perlawanannya telah berhasil mempengaruhi orang lain seperti aji Gelap Ngampar itu sendiri, merata ke segenap arah. Tetapi kekuatan perlawanan ini bukan ciri Pasingsingan. Pasingsingan-lah yang memiliki aji Gelap Ngampar.”

Pasingsingan menggeram. Tertawanya kini sudah berhenti ketika ia merasa perlawanan yang kuat. Bahkan telah membebaskan orang-orang di sekitarnya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Sambil menunjuk ke arah topeng kasar dari orang yang berdiri di samping Mantingan yang melipat tangan di dada itu, ia berkata, ”Setan. Agaknya kau mampu mengimbangi aji Gelap Ngampar. Tetapi itu bukan suatu bukti bahwa kau berhak menamakan dirimu Pasingsingan. Sebab Pasingsingan tidak saja mampu melawan, namun mampu melepaskan. Kalau kau menamakan dirimu Pasingsingan, dapatkah kau melepaskan aji Gelap Ngampar?”

”Hem…” geram orang berjubah yang menyilangkan tangannya. ”Kau masih tidak percaya bahwa aku bernama Pasingsingan.”

”Setiap orang dapat menyebut dirinya Pasingsingan. Mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar. Namun aji Gelap Ngampar tak dimiliki oleh setiap orang,” sahut Pasingsingan hampir berteriak. Orang yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang berdiri di samping Mantingan sambil melipat tangannya itu, mengangkat wajahnya. Terdengar ia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Pasingsingan yang seorang lagi.

”Kau juga bernama Pasingsingan? Orang itu bertanya dengan suara yang dalam. ”Akulah Pasingsingan itu,” jawab orang itu.

Pasingsingan menjadi semakin marah. Katanya lantang, ”Aku tidak peduli apakah kau menyebut dirimu Pasingsingan atau Setan Belang. Tetapi selama kau tak mampu menunjukkan ciri-ciri Pasingsingan, maka kau hanya akan ditertawakan orang sebelum kau terbunuh olehku.”

Namun Sura Sarunggi terpaksa berpikir. Orang-orang itu berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh Gelap Ngampar, sehingga dengan demikian orang-orang itu bukanlah kelinci-kelinci seperti Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri. Apalagi Wanamerta dan Sendang Parapat yang kini benar-benar seperti orang yang tak tahu keadaan diri.

”Aji Gelap Ngampar adalah aji yang dahsyat,” kata orang yang berjubah abu-abu yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi itu. ”Tetapi aji Gelap Ngampar adalah aji yang kurang sempurna. Aji yang tak akan dapat dipergunakan dalam pertempuran besar, dimana dalam pertempuran itu terdapat kawan dan lawan. Sebab demikian aji itu dilontarkan, maka tidak saja lawan-lawan kita yang terbunuh, namun kawan sendiripun akan menderita karenanya.”

”Jangan mencoba mengajari aku,” bentak Pasingsingan.

”Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, apa yang dapat kau lakukan dengan Gelap Ngampar sekarang ini? Kalau kau akan membunuh aku, misalnya, dapatkah kau pergunakan Gelap Ngampar? Dengan aji itu, kau hanya mampu membunuh orang-orang ini, yang berkerumun ketakutan melihat topeng-topeng kita yang kasar.”

Kembali Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. ”Jangan banyak bicara. Aku berkata tentang kebenaran dan kenyataan tentang Pasingsingan.” Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi itu bertawa terkekeh-kekeh dibalik topengnya yang jelek, jawabnya, ”Kau mengigau tentang kebenaran dan kenyataan Pasingsingan? Aku tidak tahu kebenaran dan kenyataan yang kau maksudkan. Bahkan cara berpikir yang demikian itulah yang menyebabkan dunia ini selalu bergoncang. Kebenaran yang terpancar dari kedengkian diri serta kenyataan yang ditabiri oleh pamrih dan nafsu. Kalau setiap orang berpikir demikian, tak ada ukuran tata pergaulan manusia. Kebenaran akan bertentangan dengan kebenaran yang lain, menurut kepentingan diri sendiri.”

”Huh…” potong Pasingsingan, ”Tak ada orang yang berbuat sesuatu tanpa pamrih. Dunia ini terbentang di hadapan kita untuk kita nikmati. Kalau kita tidak berbuat sesuatu adalah salah kita sendiri. Karena itu sudah sewajarnya kalau kita teguk airnya sepuas-puasnya, dan kita makan pala gumantung dan pala kependhem sekenyang-kenyangnya. Nah, aku sekarang sedang menikmati pala keduanya kini. Jangan melintang di jalan yang akan aku lewati. Aku sedang mendaki puncak kebesaran. Apakah kau kira kenikmatan dan kebesaran hanya dapat dimiliki oleh seseorang? Huh. Akupun berhak. Dan agaknya kaupun sedang berusaha.”

”Apa yang sedang kau usahakan?” tanya Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Jangan berpura-pura,” jawab Pasingsingan.

”Hem…” desah orang yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi. ”Apakah kau sedang mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

”Bukankah kau juga sedang mencarinya?” potong Pasingsingan. ”Apakah yang kalian perdebatkan?” sahut Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten? Kalau itu yang kaucari, tak akan kau ketemukan di sini. Kalau itu yang dimaksud dengan kebesaran yang setiap orang berhak menikmatinya, bukankah dengan demikian kau bermaksud merajai Demak?”

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
631

APA PEDULIMU?” bentak Pasingsingan yang berjubah abu-abu, guru Lawa Ijo.

Orang bertopeng di samping Sura Sarunggi itu berkata pula, ”Kalau keris-keris yang kau kehendaki, mengapa kau berbuat hal yang aneh-aneh? Mengapa kau akan membunuh orang-orang ini?”
”Mereka menghalangi maksudku, seperti kau,” jawab Pasingsingan.
”Kalau seseorang berusaha menemukan keris Nagasasra dan Sabuk Inten untuk diserahkan kepada yang berhak, kau berusaha untuk dirimu sendiri. Adakah kita akan berpihak padamu?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan.
”Jangan merintangi aku!” Guru Lawa Ijo hampir berteriak, ”Atau kau akan tergilas roda perjuanganku. Mati tanpa arti?”
”Kebesaran yang akan kau dapatkan itu tak akan berarti bagiku, bagi orang-orang ini dan bagi kawula Demak. Kebesaran itu hanya akan berarti bagimu sendiri, bagi kawan-kawanmu. Nah, urungkan niatmu,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan itu.
”Persetan dengan kalian,” sahut Pasingsingan. ”Kita berhadapan sebagai lawan. Tetapi tunjukkan dahulu bahwa kau berhak bernama Pasingsingan.”

Tiba-tiba terdengar Sura Sarunggi tertawa. ”Kalian berbicara tanpa ujung dan pangkal. Tetapi aku sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa kalian sedang bersaing. Meskipun demikian aku harus mempunyai pilihan. Nah, aku berpihak pada Pasingsingan yang datang bersama aku di sini. Sebab bagiku kedua Pasingsingan yang lain tak akan berarti. Meskipun seandainya mereka mampu melepaskan aji Gelap Ngampar, aji Alas Kobar dan segala macam ciri-ciri Pasingsingan yang lain.”

”Tetapi aku akan memberimu kepuasan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. ”Kau ingin melihat aku melepaskan aji Gelap Ngampar?”
Kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi ia berkata, ”Kau juga ingin melihat kebenaran itu?”
Tak ada jawaban. Pasingsingan guru Lawa Ijo itu berdebar-debar. ”Apakah orang-orang itu benar-benar memiliki Gelap Ngampar seperti dirinya?
Dalam kegelisahannya, ia menebak-nebak, siapakah sebenarnya kedua orang itu. Kalau mereka itu salah seorang dari Mahesa Jenar, Pandan Alas dan lain-lainnya, pasti mereka tak akan mampu melepaskan aji Gelap Ngampar.

Tetapi yang lebih gelisah lagi adalah Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri.
Kecuali mereka, Jaka Soka pun menjadi berdebar-debar. Agaknya benar-benar akan terjadi pertempuran ilmu yang dapat merontokkan isi dada mereka.
Jaka Soka akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu sebelum ia mati terhimpit dua kekuatan yang tak dapat dihindarinya. Meskipun demikian, ia harus menunggu sampai saat yang tepat baginya.
Pasingsingan di samping Mantingan itu kemudian mengangkat wajahnya. Kemudian ia memandang berkeliling. Kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mulai dari Mantingan dan kawan-kawannya, Wanamerta, Sendang Parapat dan para penjaga yang sudah kehilangan kesadaran mereka. ”Hem…” desahnya, ”Kalau aku melepaskan aji Gelap Ngampar, mereka akan menjadi semakin parah.”
Tiba-tiba terdengar Pasingsingan guru Lawa Ijo itu tertawa. ”Nah, kau mencari alasan untuk mengelak?”

”Tidak… tidak,” sahut Pasingsingan itu. ”Tetapi kalau aku ingin memetik buahnya, jangan digugurkan daun-daunnya tanpa maksud.”

”Omong kosong. Apa padulimu dengan daun-daun yang tak berarti?” jawab guru Lawa Ijo.

Sekali lagi Pasingsingan di samping Mantingan itu memandang berkeliling. Agaknya ia benar-benar menjadi ragu. Tiba-tiba ia menggeram, dan kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi, ia berkata, ”Kalau kau ingin mencoba menjajarkan diri dengan kami, cobalah melawan aji Alas Kobar seperti yang aku lakukan.”

”Tidakkah kau bertanya kepadaku, apakah aku mampu melepaskan aji itu?” kata Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu.

”Akan datang saatnya nanti,” sahut guru Lawa Ijo. Meskipun hatinya menjadi gelisah. Apakah benar kedua-duanya mampu berbuat demikian?

”Menjemukan,” sela Sura Sarunggi.

”Marilah kita bertempur, Pasingsingan,” katanya kepada Pasingsingan guru Lawa Ijo. ”Yang mana kau pilih? Menilik ketahanan mereka, kita harus melawan satu demi satu. Kecuali kalau mereka mau menyingkir.”

Pasingsingan belum sempat menjawab, ketika tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu tertawa. Perlahan-lahan, namun terasa betapa dahsyatnya. Gelombang demi gelombang menggeletar menggetarkan udara halaman Banyubiru itu, seolah-olah geteran yang memancar dari pusar bumi, menyebar ke seluruh penjuru. Terasa disetiap dada goncangan yang tak terkira dahsyatnya. Sehingga runtuhlah daun-daun yang tak mampu berpegangan lebih erat lagi pada dahan-dahannya.

Sura Sarunggi itu tidaklah seperti suara guru Lawa Ijo yang mengerikan. Suara itu adalah suara yang sederhana saja, seperti lazimnya orang tertawa. Lunak dan tidak mengandung kebengisan. Namun yang terasa di dada orang yang mendengarnya adalah goncangan-goncangan yang dahsyat.

Pada saat goncangan-goncangan itu menyerang dada Mantingan, berdesislah ia, ”Aji Gelap Ngampar.”

Dan berusahalah ia menjaga dirinya. Demikian juga Rara Wilis, Wirasaba, Widuri dan Jaka Soka. Sedang orang-orang lain menjadi tak berdaya untuk berbuat sesuatu, mengatasi goncangan-goncangan di dada mereka, sehingga tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka pun mulai jatuh terkulai tak sadarkan diri. (Bersambung)-m

 NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 632

MANTINGAN dan kawan-kawannya, bahkan Jaka Soka pun tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka mulai bergetar, dan tulang-tulang mereka seakan-akan terasa lolos dari persendian. Mereka mengeluh dalam hati. Mereka berada di medan pertempuran yang dahsyat, namun mereka tak mampu mengayunkan senjata-senjata mereka untuk turut serta di dalamnya. Mereka hanya dapat bertahan atas serangan yang dahsyat, yang jauh berada di atas kemampuan mereka. Sehingga dengan demikian mereka tidak lebih dari daun-daun kering yang berguguran di halaman itu. Meskipun demikian, terasa perbedaan pada kedua aji Gelap Ngampar yang sama-sama menggoncangkan dada mereka.

Meskipun keduanya dapat membunuhnya, namun tenaga ini tidak sekasar tenaga yang pertama. Namun, ketika dada mereka akan runtuh, dari sela-sela angin basah yang mengalir semakin kencang, menyusuplah di dalam tubuh mereka, getaran-getaran udara yang segar. Perlahan-lahan namun pasti, membebaskan mereka dari kengerian aji Gelap Ngampar itu. Dan sejalan dengan itu, suara tertawa Pasingsingan itupun terhenti pula. ”Hem…” geramnya, ”Kau mampu melawan aji Gelap Ngampar,” katanya kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi. Orang itu masih tegak di tempatnya sambil menyilangkan kedua tangannya terlipat di dada. Sebelum orang itu menjawab, terdengar Sura Sarunggi tertawa, ”Permainan yang mengasyikkan,” katanya.

”Jangan bermain-main terlalu lama. Aku tahu bahwa kalian memiliki ilmu yang bersamaan. Pasingsingan yang datang kemudian berdua adalah seperti seperguruan. Entahlah hubungan kalian dengan Guru Lawa Ijo itu, sehingga kalian memiliki ilmu Gelap Ngampar. Meskipun terasa beberapa perbedaan, namun kalian bersumber dari mata air yang sama.”

Pasingsingan guru Lawa Ijo itupun berdiri tegak sambil menahan marahnya. Karena itu tubuhnya tiba-tiba bergetar. Dengan suara yang berat ia berkata pula, ”Gila. Kalian memiliki aji gelap Ngampar. Jangan berpura-pura, dan yang satu itu jangan mencoba melepaskan pula. Tetapi itu belum berarti bahwa kau bisa menamakan diri Pasingsingan.”

”Adakah aku harus melepaskan aji Alas Kobar?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan. ”Mungkin kau mampu pula, menirukan setelah kau atau gurumu berhasil mencuri ilmu itu. Tetapi yang tak dapat kau curi adalah pusaka Pasingsingan. Apakah kau memiliki pisau yang bernama Kyai Suluh?” tanya Pasingsingan dengan pasti.

Tiba-tiba kembali halaman itu bergetar ketika Pasingsingan Guru Lawa Ijo itu berteriak nyaring. Seperti hantu kelaparan yang kehilangan mangsanya. ”Gila, darimana kau dapatkan benda itu?”

Semua mata tertuju kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. Di tangannya tergenggam sebuah pisau belati panjang yang bercahaya kuning menyilaukan. ”Inikah yang kau maksud?” katanya.

”Hem…” desis Pasingsingan di samping Mantingan. ”Kalian mau bermain-main dengan senjata.” Ia tidak berkata lebih lanjut, namun iapun kemudian mencabut sebuah pisau belati yang mirip benar dengan pisau belati Pasingsingan yang lain itu.

Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi semakin marah. Darahnya serasa mendidih di dalam rongga dadanya. Karena itu tanpa disengaja, tiba-tiba tangannyapun telah menarik pusakanya. Sebuah belati panjang yang berkilau. Kni ketiga orang yang menamakan diri Pasingsingan itu masing-masing telah menggenggam senjata yang serupa. Senjata yang selama ini menjadi ciri Pasingsingan. Pusaka yang ampuh luar biasa.

Namun tiba-tiba Pasingsingan yang selama ini merasa tiada duanya, menjadi heran, marah dan bingung, ketika ada dua orang yang menamakan diri Pasingsingan, serta memiliki beberapa ciri kekhususannya Aji Gelap Ngampar serta pisau belati panjang yang kuning berkilauan. Dengan suara yang bergetar guru Lawa Ijo itu berkata, ”Setan. Kalian dapat membuat senjata yang serupa dengan senjata ini. Tetapi ada lagi satu senjata Pasingsingan yang tak dapat dibuat oleh empu yang bagaimanapun saktinya. Senjata yang diberikan oleh alam kepadaku. Adakah kalian mempunyai akik yang berwarna merah menyala dan bernama Kelabang Sajuta?”

Untuk sesaat halaman itu menjadi hening sepi. Angin lembah semakin lama semakin kencang. Dan awan yang kelabu menjadi bertambah tebal tergantung di langit. Sekali-kali guntur bergelegar di kejauhan, memukul-mukul tebing dan pecah menggema diseluruh relung-relung pegunungan. Sinar-sinar api memancar di udara seperti Ular Gundala raksasa yang meloncat-loncat dilangit.

Menurut ceritera yang menjalar dari mulut ke mulut, di langit pada saat itu sedang terjadi pertempuran antara Ular Gundala Seta, senjata Wisnu yang sedang menyelamatkan bumi dari keangkaramurkaan, melawan Ular Gundala Wereng, senjata Kala yang sedang berusaha menghancurkan bumi karena ketamakannya.

Tetapi pada saat itu, di halaman Banyubiru itu pun sedang berhadapan dua kekuatan raksasa. Pasingsingan guru Lawa Ijo dan Sura Sarunggi di satu pihak, dan dua orang Pasingsingan di pihak lain. Mereka sedang tegak dengan tegangnya dalam pendirian masing-masing. Ketika kedua orang Pasingsingan itu belum juga berkata sepatah katapun, guru Lawa Ijo itu tertawa pendek, katanya, ”Ha apa katamu tentang akik Kelabang Sayuta hadiah alam kepada Pasingsingan?”

Tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu menjawab, ”Kalau kau dapat menunjukkan bahwa kau memiliki akik Kelabang Sayuta, akupun akan membuktikan pula bahwa sebagai Pasingsingan, aku memiliki ciri-ciri yang lengkap seperti katamu.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 633

MENDENGAR jawaban itu, hati Pasingsingan berdesir. Ketika ia meraba jari-jarinya, ia menjadi berdebar-debar. Namun katanya kemudian, ”Akik itu sudah aku berikan kepada muridku Lawa Ijo. Sesaat sebelum ia mati, diberikannya akik itu kepada Endang Widuri.”

”Hem…” desis Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. ”Kau sedang mengarang sebuah ceritera.”

”Bertanyalah kepada Endang Widuri.” Pasingsingan itu menegaskan. Pasingsingan di samping Mantingan itu menoleh kepada Endang Widuri. Kemudian ia berkata, ”Ciri Pasingsingan hanya melekat pada tubuh Pasingsingan. Tak ada ciri-ciri yang lain, apalagi yang dimiliki oleh orang lain. Aku dapat menyebut lebih dari seribu macam pusaka-pusaka ciri yang lain yang tak ada padaku.”

Darah Pasingsingan bertambah bergelora di jantungnya. Sambil berteriak ia memaki-maki, ”Setan, iblis, thethekan. Tetapi akik Kelabang Sayuta itu milikku.”

”Aku tidak bertanya siapakah yang mula-mula memiliki,” bantah Pasingsingan di samping Mantingan. ”Tetapi akik itu sekarang tidak ada padamu, tidak ada padaku, dan tidak ada pada Pasingsingan yang seorang itu lagi.”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi tertawa pendek, katanya, ”Sudahlah Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, yang madeg guru di Mentaok. Jangan terlalu banyak persoalkan di antara kita kini.”

”Diam!” bentak Pasingsingan guru Lawa Ijo. ”Aku beri kau waktu sepemakan sirih. Tinggalkan halaman ini. Jangan campuri urusanku.”

”Bukan demikian adat yang pernah kau lakukan,” sahut Pasingsingan di samping Mantingan, ”Kalau kau yakin dapat membunuh kami, kau tak akan melepaskan lagi. Dengan demikian, maka sekarang kau tak yakin akan kemenanganmu. Karena itu, bukankah lebih baik kita berbicara sebagai manusia terhadap manusia. Bukan sebagai hantu-hantu yang berkeliaran dari satu kuburan kelain kuburan, mencari mayat.”

”Hem. Benar-benar suatu penghinaan,” geram Sura Sarunggi. Kepalanya yang besar itu terangkat dan dengan lantang ia melanjutkan, ”Jangan merasa dirimu kadang dewa. Tak ada waktu untuk berbicara sekarang. Pergilah atau kau akan terkubur di sini.”

”Jangan begitu Ki Sanak,” jawab Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. ”Penyelesaian dengan pengertian, jauh lebih baik daripada penyelesaian dengan tetesan darah dari tubuh kita. Sebab dengan demikian, kita akan dikejar oleh rasa dendam yang tiada akan habis-habisnya. Dendam yang akan dibalas dengan dendam. Dengan demikian maka sepanjang umur kita, kita tidak akan dapat menikmati ketenangan.”

”Pengecut!” potong Pasingsingan dari Mentaok. ”Aku adalah laki-laki. Di tanganku telah tergenggam pusakaku Kyai Suluh. Karena itu kau tak ada kesempatan lagi untuk kedua kalinya, setelah kau menolak kesempatan yang pertama.”

”Jangan,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan, ”Kita masing-masing mempunyai kesempatan yang sama. Jangan mengancam dan menakut-nakuti. Aku ulangi, marilah kita berbicara sebagai manusia dengan manusia. Kita berbicara tanpa takbir di wajah kita. Kita bicara antara hati kita yang dilambari dengan kejujuran pada diri kita masing-masing, betapa hitamnya noda-noda yang melekat pada tubuh kita masing-masing.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Pasingsingan dari Mentaok itu menggigil. Ia menjadi curiga. Sejak orang yang menamakan diri Pasingsingan itu mampu melepaskan Gelap Ngampar, hatinya telah bergetar. Kini kata-kata itu menambah keyakinannya bahwa ia telah mengenal kedua orang itu. Meskipun demikian, ia masih mencoba untuk menyakinkan, apakah dugaannya itu benar. Maka katanya, ”Apakah alasanmu? Apakah untungnya kita berbicara dari hati ke hati?”

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas, katanya, ”Bagaimanapun kotornya hati kita, namun kita adalah manusia. Kita memiliki hari-hari lampau dan hari-hari mendatang. Kita memiliki hari-hari yang cemerlang, namun kita memiliki juga hari-hari yang suram. Karena itu, janganlah kita tenggelam dalam kegelapan. Putus asa dan bunuh diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk terus-menerus.”

Sura Sarunggi kini benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Dengan suara yang geram ia berkata, ”Persetan dengan mimpi yang jahat itu. Jangan mencoba meracuni jiwa kami dengan hiasan kata-kata.” Kemudian kepada Guru Lawa Ijo ia berkata, ”Sudahkah senjatamu itu siap?”

Tetapi dada Pasingsingan menjadi bergetar semakin cepat. Ada perasaan yang lain di dalam dirinya. Sekarang ia hampir pasti dengan siapa ia berhadapan. Namun di hadapan Sura Sarunggi, ia masih mencoba untuk bersembunyi. Ia tidak mau orang lain mengetahui tentang dirinya, apalagi Jaka Soka, Mantingan beserta kawan-kawannya. Meskipun ia berdiam diri, namun hati di dalam dadanya berteriak nyaring, ”Hai Umbaran, yang berdiri di hadapanmu dengan ciri-ciri Pasingsingan adalah Radite dan Anggara.”

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah letusan yang dahsyat. Ketika ia memandang kepada Sura Sarunggi, dilihatnya sahabatnya itu telah mengurai ikat pinggangnya, yang kemudian dengan marahnya, ikat pinggang yang mirip dengan sebuah cemeti itu dilecutkannya. Itulah senjata Sura Sarunggi, sebagaimana senjata-senjata yang dipergunakan oleh murid-muridnya, Uling Putih dan Uling Kuning dari Rawa Pening. (Bersambung)-o

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 634

PASINGSINGAN, Guru Lawa Ijo kini tidak mempunyai pilihan lain. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mereka, apakah yang telah terjadi selama ini. Ia merasa bahwa pada saat-saat terakhir telah diketemukannya berbagai bentuk yang keras dari ajinya, Gelap Ngampar, maupun Alas Kobar. Kemajuan-kemajuan yang dicapainya dalam petualangannya. Lalu apakah yang telah didapatkan oleh kedua saudara seperguruan itu. Meskipun pada masa-masa lampau, Radite dan Anggara tak dapat diatasinya, namun kini Pasingsingan yang bernama Umbaran itu bukanlah Umbaran beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian akhirnya ia memutuskan, bahwa ia harus berjuang dengan senjatanya itu.

Kemudian terdengarlah suara meledak untuk mengatasi getaran-getaran di jantungnya, ”Hai orang-orang yang tak tahu diri, yang telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir karena kebaikan hatimu. Angkatlah wajahmu. Pandanglah angkasa yang suram sebagai aba-aba dari isi bumi ini, dan tundukanlah kemudian wajahmu itu sebagai penghormatan terakhir pada ibu pertiwi. Kemudian hadapilah aku sebagai lawanmu, yang akan mengantarkan nyawamu menyeberang ke dunia yang tak dikenal.”

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, ”Senjata bukanlah alat terakhir untuk menemukan kesempatan.”

”Tak ada yang akan disepakatkan,” sahut Sura Sarunggi, ”Kita berdiri berseberangan. Kita tidak dapat hidup bersama-sama dalam satu naungan langit yang luas ini.”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu agaknya lebih mudah tersinggung daripada Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. Ternyata ia menjawab lantang, ”Tidak adakah jalan lain? Kalau demikian, kalau kau berpihak pada orang yang menamakan diri Pasingsingan pemarah itu, maka aku akan berdiri di pihak Pasingsingan yang seorang lagi. Sesudah itu, biarlah kami menentukan keadaan kami tanpa campur tanganmu.”

”Tunggu…” Pasingsingan di samping Mantingan mencoba untuk mencegahnya. Tetapi suaranya tenggelam dalam pekik lantang Sura Sarunggi. ”Bagus. Itulah kata-kata jantan. Sudah siapkah kau?”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu menjawab tidak kalah lantangnya, ”Aku lebih senang menempuh jalan lain. Tetapi kalau kau hadapkan aku pada satu pilihan yang tak dapat aku elakkan, silahkanlah.”

Sura Sarunggi tertawa seperti orang mabuk. Katanya, ”Meskipun kau kekasih dewa-dewa, meskipun kau berperisai guntur dan petir, tetapi kau belum mampu menjaring angin, maka kau akan kehilangan hidupmu karena tanganku.”

”Aku bukan kekasih dewa-dewa, namun aku menyerahkan diriku pada Yang Maha Kuasa,” jawab Pasingsingan itu. ”Kepada-Nya aku mohon kekuatan untuk melenyapkan keingkaran atas hukum-hukum-Nya.”

Kembali terdengar iblis dari Rawa Pening itu tertawa. Sesaat kemudian bergema kembali suara cemetinya menyusur lereng-lereng bukit. ”Hai, langit yang muram, angin yang kencang. Saksikanlah kutuk yang akan menimpa orang ini.”

Sura Sarunggi menutup kata-katanya dengan derai tertawa yang mengerikan. Kemudian ia pun bersiap untuk segera mulai dengan pertempuran melawan orang berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan itu. Sesaat kemudian ia pun meloncat dengan garangnya.

Cemetinya berputar cepat sekali, melampaui kecepatan baling-baling yang ditiup angin ribut. Namun Pasingsingan itu pun telah bersiap pula. Tangan di balik jubah abu-abunya berkembang seperti hendak terbang. Pisau belati panjangnya berkilauan memantulkan cahaya api yang remang-remang.

Demikianlah, mereka tenggelam dalam satu perkelahian yang dahsyat.

Sura Sarunggi, iblis dari Rawa Pening itu bertempur seperti angin topan. Ia meloncat-loncat dengan dahsyatnya mengelilingi lawannya, dan menyerangnya dari segenap penjuru. Namun Pasingsingan itupun tidak membiarkan dirinya tersekat dalam lingkaran cemeti lawannya. Dengan tangkasnya ia melontarkan dirinya, sekali-kali memotong serangan lawannya. Dan bahkan kadang-kadang ia tegak menghadapi topan seperti bukit Telamaya yang tak tergoyahkan oleh angin dan badai.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga. Kedahsyatan ilmu mereka telah menggemparkan dada masing-masing. Demikian sengitnya perkelahian itu, sehingga akhirnya yang tampak di mata mereka hanyalah bayang-bayang hitam yang berputar-putar seperti angin pusaran.

Jaka Soka tak luput pula dari perasaan itu. Heran dan berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih ingat akan keselamatan diri. Sehingga dengan diam-diam ia mencari kemungkinan, ke mana ia harus melarikan diri. Sebab apabila Pasingsingan yang sepasang itu terlibat pula dalam pertempuran, serta apabila kemudian Mantingan dan kawan-kawannya telah berhasil menguasai diri mereka, bersama-sama menyerangnya, maka sulitlah baginya untuk bertahan. Padahal ia masih ingin menikmati kebesaran sebagai pimpinan bajak laut yang disegani

DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 635

JAKA SOKA tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan golongan hitam yang lain. Dengan laskar Mentaok, Rawa Pening, Gunung Tidar dan lain-lainnya di Pamingit. Karena itu selama ia masih mendapat kemungkinan, ia harus menyingkir dari halaman itu.

Sementara itu Pasingsingan Guru Lawa Ijo telah mempersiapkan dirinya pula. Ia melihat betapa sahabatnya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang menentukan. Karena itu ia menggeram dengan marahnya, ”Lihatlah betapa orang yang berani menyebut dirinya Pasingsingan itu akan hancur lumat oleh cemeti Sura Sarunggi.”

Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih berdiam diri, meskipun ia mengikuti pertempuran itu dengan seksama. Namun tak ada tanda-tanda padanya, bahwa ia pun akan segera mulai bertempur.

Tetapi justru karena itulah maka guru Lawa Ijo itu menjadi semakin gelisah. Untuk merapati kegelisahannya, ia berkata, ”Hai orang yang sombong, yang berani mengaku bernama Pasingsingan, bersiaplah menghadapi saat-saat terakhirmu.”

”Jangan berkata demikian,” jawabnya perlahan-lahan, ”Apakah kau juga sekasar Sura Sarunggi itu?”

”Jangan mencoba melunakkan hatiku,” sahut guru Lawa Ijo. ”Aku tahu bahwa hatimu tak selunak yang aku harapkan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. ”Tetapi jangan terlalu lama mengelabuhi dirimu. Aku yakin bahwa kau telah mengenal aku.”

Dada guru Lawa Ijo berdesir keras. Tetapi ia takut melihat kepada dirinya sendiri. Ia menjadi takut, bahwa akhirnya ia benar-benar menyadari keadaannya. Karena itu ia berteriak, ”Jangan mencoba meringankan kesalahanmu. Bersiaplah aku akan mulai.”

”Umbaran…” tiba-tiba terdengar suara yang lunak, selunak suara seorang kakak terhadap adiknya. Mendengar nama itu, darah guru Lawa Ijo serasa berhenti mengalir. Telah bertahun-tahun ia tidak mendengarnya orang memanggil nama yang diberikan oleh ayah bundanya. Ia lebih senang dan bangga apabila orang menyebutnya dengan ketakutan, ”Pasingsingan.” Karena itu tiba-tiba ia menjadi bingung.

Dalam kebingungan itulah ia berteriak, ”Jangan mengigau. Umbaran telah mati. Aku, Pasingsingan, yang telah membunuhnya.”

”Ya, Umbaran telah tak ada lagi,” jawab orang berjubah itu, ”Yang ada kemudian adalah Pasingsingan. Tetapi, baginya masih ada jalan kembali.”

”Diam!” bentak guru Lawa Ijo. Darahnya yang beku itu tiba-tiba mendidih kembali. Radite dan Anggara yang lenyap dari percaturan orang-orang sakti itu tak akan mampu menambah ilmunya. Karena itu, ia pasti akan dapat mengatasinya. Tetapi ia menjadi gelisah kembali ketika orang yang dibentak-bentaknya itu masih tetap tenang dan berkata, ”Jangan marah Umbaran. Aku datang kepadamu dengan maksud baik. Kau masih mempunyai kesempatan kembali ke perguruan kita. Guru kita yang bergelar Pasingsingan dengan cita-cita yang putih.”

”Diam!” Pasingsingan berteriak semakin keras. ”Sayang, bahwa kau tak dapat mengikuti jejaknya. Kau tak mampu menangkap ajaran- ajarannya, sehingga kau salah duga terhadapnya. Kau menganggap bahwa guru kita telah kehilangan kegairahannya terhadap hidup dan kehidupan. Karena itu kau memilih jalanmu sendiri.”

”Omong kosong,” bantah guru Lawa Ijo, ”Apakah kau selama ini juga mentaati ajaran-ajarannya? Apakah kau selama ini bersih dari noda-noda yang dilemparkan oleh kehidupan disekitar kita kepadamu?”

”Tidak, Umbaran,” jawab orang itu. ”Aku merasa, betapa kotornya hati dan ragaku. Namun aku telah berusaha untuk mengurangi kesalahanku, setidak-tidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan baru yang akan menambah beban kehidupan sukmaku.”

”Aku bukan orang yang puas dengan keadaanku sekarang. Tetapi aku berhak menuntut masa depanku sebaik-baiknya,” kata guru Lawa Ijo. ”Aku bangga terhadap mereka yang berjuang buat masa depannya. Namun mereka jangan mengorbankan masa depan orang lain sebagai pupuk bagi masa depannya itu.” Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, namun cukup jelas bagi guru Lawa Ijo. Kata demi kata, yang seolah-olah menyusup ke tulang sungsumnya. Tetapi hatinya yang selama ini telah dibalut oleh nafsu yang bergelora berlebih- lebihan, kini benar-benar telah menjadi sekeras batu, meskipun dengan sekuat tenaga ia berusaha membendungnya. Bahkan akhirnya ia berkata lantang,

”Jangan menggurui aku. Guruilah dirimu sendiri. Bukankah kau menjelang kebahagiaan masa depanmu dengan mengorbankan orang lain pula? Manakah perempuan yang aku hadiahkan kepadamu itu? Bukankah ia mati karena ketamakanmu?”

”Umbaran!” potong orang berjubah yang berdiri disamping Mantingan. ”Aku minta jangan kau sebut-sebut itu lagi.”

”Ha, kau menjadi ketakutan? Kau lihat noda-noda yang melekat di tubuhku, namun tak kau lihat kotoran-kotoran yang bergumpal-gumpal di wajahmu? Di pelupuk matamu? Mana perempuan itu? Mana…?”

”Jangan kau sebut itu, Umbaran,” kata orang itu. ”Biar, biar aku ulang seribu kali,” sahut guru Lawa Ijo. ”Perempuan itu kau tukar dengan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan kita. Dan kau berjanji tidak akan mengganggu gugat lagi. Sekarang perempuan itu mati. Mati. Mati….”

”Cukup!” potong orang itu keras-keras. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya. Tangan kirinya perlahan-lahan diangkatnya mengusap dadanya yang bergelora.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja 636

PASINGSINGAN guru Lawa Ijo itu tertawa panjang sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia tertawa dan tertawa untuk memuaskan hatinya. Sambil menunjuk kepada Sura Sarunggi dan lawannya ia berkata, ”Lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Anggara, penjagamu itu. Lihatlah, sebentar lagi ia akan binasa.”

Orang yang berdiri di samping Mantingan itu tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya, dan memandang kepada adik seperguruannya yang sedang bertempur.

Mereka berputar-putar dengan lincahnya, lontar-melontar seperti sepasang garuda yang sedang berlaga. Tangan mereka berkembang seperti sayap dengan senjata masing-masing.

Cemeti Sura Sarunggi meledak-ledak mengerikan, sedangkan sinar kuning pisau belati lawannya menyambar-nyambar seperti petir di langit yang kelam. Ujung cemeti Sura Sarunggi itu seolah-olah memiliki penglihatan, ke mana ia harus mematuk. Namun ujung belati lawannya seperti mempunyai mata, yang dapat melihat setiap serangan dari arah manapun juga.

Maka pertempuran itu menjadi semakin dahsyat dan dahsyat. Sura Sarunggi bertempur dengan kasar dan bengis, sedang Anggara melayaninya dengan tangkas dan tangguh.
Ketika mereka sudah berkelahi beberapa saat, Sura Sarunggi menjadi semakin heran. Lawannya dapat bertempur dengan gigihnya. Bahkan beberapa macam geraknya telah dikenalnya. Mirip dengan Pasingsingan sahabatnya itu. Karena itu timbullah beberapa pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang ini benar-benar Pasingsingan…?

”Tidak mungkin!” Pertanyaan itu dibantahnya sendiri.

Anggara pada saat itu memang sengaja bertempur dengan ciri-ciri perguruan Pasingsingan. Ia sengaja menunjukkan, bahwa dirinyapun memiliki ilmu seperti ilmu-ilmu ajaib dari orang yang bernama Pasingsingan itu. Bahkan beberapa gerak diulangnya supaya menjadi jelas bagi lawannya.

Guru Lawa Ijo masih tertawa keras-keras. Dan Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih memandangi Sura Sarunggi dan Anggara.

”Jangan membeku seperti batu,” tegur Umbaran, ”Sekarang apa katamu?”

Orang yang bernama Radite itu perlahan-lahan menoleh ke arah Umbaran, jawabnya,

”Marilah kita lupakan masa lampau. Marilah kita bina bersama masa depan perguruan kita.”
”Masa depanku jauh berbeda dengan masa depanmu. Jangan mengigau lagi. Pergi dan

bawa adikmu itu, atau kau berdua binasa.” Umbaran meneruskan, ”Jangan mimpi aku berlutut di bawah kakimu dan menyerahkan perempuan untuk kedua kalinya.”

”Jangan bicara tentang perempuan!” Radite membentak. Kesabarannya telah menjadi semakin tipis. Hatinya yang luka karena perempuan, kini terungkap kembali.

”Aku bicara tentang perempuan, supaya kau teringat kembali akan perjanjian kita. Kita tidak akan saling mengganggu,” sahut Umbaran.

”Aku tidak akan mengganggu gugat pusaka-pusaka yang telah kau miliki, ciri-ciri khusus Pasingsingan yang kau pakai, sedang kau tak akan mengganggu gugat perempuan itu,” jawab Radite. ”Tetapi aku berhak mengganggu gugat segala perbuatanmu yang terkutuk.”

”Kau iri hati,” kata Umbaran.

”Tidak,” jawab Radite, ”Aku mempunyai kepentingan sendiri. Aku tidak mau menanggung beban dosamu lebih banyak lagi karena kesalahanku, menyerahkan kesaktian Pasingsingan kepadamu. Sebab dengan demikian kau telah menarik diri dari persahabatanku dengan Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Angganten dan lain-lain. Bahkan kau telah menempatkan dirimu sebagai lawan. Nah, aku akan menghentikan semuanya itu.”

”Ha, itulah akibat nafsu gilamu kepada perempuan?” jawab Umbaran. Sengaja ia ingin memanaskan hati Radite. Mempengaruhinya dengan kelemahan-kelemahannya.

Tetapi dengan demikian Radite menjadi marah. Peristiwa itu adalah peristiwa yang paling pedih dalam hidupnya, karena itu setiap kali ia dihadapkan pada kenangan itu, setiap kali ia kehilangan kesabaran.

”Umbaran…” kata Radite dengan lantang, ”Kesabaran seseorang ada batasnya. Jangan menunggu demikian.”

Umbaran menjadi berdebar-debar. Apakah Radite benar-benar akan marah dan menyerangnya? Tetapi tak ada pilihan lain. Sura Sarunggi telah bertempur dengan gigihnya.

Keduanya berdiri tegak dengan tenangnya. Radite masih berusaha menguasai perasaannya, sedang Umbaran menjadi berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang berat.

Ia tidak segarang biasanya, yang langsung menikam lambung lawannya. Kali ini ia benar-benar memperhitungkan keadaan. Karena keragu-raguannya itulah ia masih berdiri tegak.

Ketika keduanya sedang berusaha menekan perasaan masing-masing, tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi kentongan, yang dipukul bergelombang-gelombang. Rog-rog asem.

”Setan,” desis Pasingsingan, ”Mereka datang.”

Radite mengangkat wajahnya. Lamat-lamat terdengar kentongan itu menjalar. Ia tidak tahu tanda apakah itu. Karena itu, ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan.
Namun karena itulah maka Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi bertambah bingung. Akhirnya ia kehilangan kejernihan dan kelicinan otaknya. Ia tahu benar, bahwa tanda itu mengabarkan kedatangan orang Banyubiru atau Pamingit. Mahesa Jenar atau Sora Dipayana dan kawan-kawannya. Akhirnya ia menjadi mata gelap. Sebab menyingkirpun tak ada kesempatan.

Karena itu, tanpa diduga-duga, ia meloncat dengan garangnya sambil berteriak nyaring. Pedangnya berkilauan menyambar leher Radite.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
637

RADITE terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba itu. Sebenarnya ia masih mengharap agar mereka tidak perlu mempergunakan kekerasan, apalagi dengan tetesan darah. Tetapi Umbaran telah menyerangnya. Dengan demikian ia tak dapat berbuat lain daripada melawannya. Maka sesaat kemudian kedua Pasingsingan itupun telah bertempur pula. Masing-masing memegang pisau belati panjang di tangannya.

Umbaran dan Radie adalah dua orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari guru yang sama. Karena itu merekapun bertempur dengan ilmu yang sama pula. Tetapi ilmu mereka masing-masing telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan pengaruh keadaan dan waktu.

Ilmu Pasingsingan Umbaran telah berubah menjadi semakin kasar, keras dan kejam. Sedang ilmu Radite masih tetap dalam tataran yang bersih. Meksipun demikian tidak berarti bahwa Umbaran telah melampaui Radite dalam ketahanan tempurnya.

Dalam beberapa saat mereka telah lenyap dari bentuk mereka. Yang tampak hanyalah pusaran yang kelam dari jubah mereka yang abu-abu, di sela oleh cahaya kuning yang menyambar-nyambar mengerikan.

Umbaran yang mata gelap, bertempur dengan darah yang bergelora. Hatinya benar-benar telah dikuasai oleh nafsu yang ganas. Dan dari hidungnya seolah-olah terhirup udara maut. Dengan berteriak-teriak nyaring ia meloncat-loncat, menyerang dengan sengitnya. Pisaunya berputar-putar mengarah ke segenap bagian-bagian tubuh Radite.
Dalam kesibukan pertempuran antara hidup dan mati itu, terdengar Umbaran berteriak, ”Kalau kau masih belum mampu melenyapkan diri dari tangkapan mataku, jangan mengharap keluar dari halaman ini dengan ragamu.”
Radite diam saja. Namun ia bertempur terus. Sebenarnya dalam lekuk-lekuk hatinya yang terdalam, masih juga bermunculan perasaan sesal dan ngeri atas apa yang pernah terjadi pada dirinya. Tukar-menukar kehormatan. Tetapi ia sadar pula, bahwa apabila ia tidak cawe-cawe, maka Pasingsingan yang bernama Umbaran itu akan banyak menimbulkan bencana.

Kalau benar-benar ia berhasil memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka keadaan akan sangat berbahaya. Ia dapat menghadap Sultan Demak dengan laskar segelar sepapan, dan memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan, setelah ia menyatakan diri sebagai pemilik pusaka-pusaka sipat kandel itu.

Dengan landasan kekuatan golongan hitam dan daerah-daerah yang didudukinya, beserta kesesatan pandangan beberapa orang kawula Demak atas kepercayaan mereka, bahwa siapa yang memiliki Nagasasra Sabuk Inten akan mampu merajai Nusantara, maka Umbaran akan mendapatkan pengikut-pengikutnya.

Atau orang yang berotak licin itu dapat menempuh jalan lain. Ia dapat menggerakkan laskar hitam untuk menimbulkan bencana. Sebagai Pasingsingan, ia dapat menggulung daerah demi daerah. Namun kemudian sebagai Umbaran yang berwajah manis, ia menghadap Sultan dengan menyerahkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan demikian ia akan mendapatkan banyak kepercayaan dari Sultan. Akhirnya ia dapat melawan kekuasaan Demak dari luar dan dari dalam. Sementara itu ia harus mencuri keris-keris itu kembali.

Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin sengit. Masing-masing bertekad untuk memenangkan pertempuran. Meskipun Umbaran bertempur dengan kasar dan bengis, namun Radite bukan anak-anak yang baru dapat berdiri. Radite memiliki kematangan ilmu melampaui Umbaran, meskipun pada dasarnya Umbaran berguru lebih dahulu kepada Pasingsingan Sepuh.

Tetapi karena Umbaran kurang dapat menepati ajaran-ajaran gurunya, maka akhirnya ia terpaksa menghentikan usahanya mengisap ilmu yang luar biasa itu. Dan kini, dua orang murid dari perguruan yang sama itu berhadapan dan bertempur mati-matian.
Selain mereka yang bertempur, tak seorangpun yang menggerakkan tubuhnya oleh ketegangan yang semakin memuncak. Perhatian mereka seolah-olah terikat erat-erat pada pertempuran itu.

Kesempatan yang demikian itulah yang ditunggu Jaka Soka. Kalau ia terlambat mempergunakan waktu, sehingga Mantingan dan kawan-kawannya berhasil menguasai diri mereka, maka akan celakalah nasibnya. Dengan diam-diam dan sangat hati-hati ia berkisar, setapak demi setapak. Ia telah menemukan arah yang baik untuk menyembunyikan diri dan kemudian meninggalkan tanah perdikan yang seolah-olah menjadi panas, sepanas bara api baginya. Maka, dengan tidak menarik perhatian, akhirnya Jaka Soka berhasil menyelinap ke dalam gelap dan kemudian menghilang dari halaman itu.

Bagi Jaka Soka, lebih baik hidup di antara anak buahnya dan perempuan-perempuan yang dikumpulkan selama ini, daripada mati di Banyubiru. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang atasnya. Apakah orang akan mengatakannya pengecut, apakah penakut, ia tidak keberatan. Sebab pada dasarnya, meskipun golongan hitam itu nampaknya bekerja bersama-sama, namun mereka sama sekali tak memiliki kesetiakawanan yang jujur. Apabila mereka terbentur pada kepentingan diri, maka kepentingan bersama dapat dianggapnya tidak berlaku.

Sementara itu, Arya Salaka memacu kudanya seperti angin topan. Meskipun demikian, tarasa betapa lambatnya perjalanan itu. Kuda yang dinaikinya betapa malasnya, sehingga berkali-kali ia terpaksa mencambuknya.

Ketika dari kejauhan tampak api yang menyala, terdengar giginya gemertak. Tangannya yang memegang tombak pusaka Banyubiru terasa gemetar. Ia menjadi marah sekali. Ia menyesal, bahwa ia terlambat.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 638

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara berpacu di belakangnya. Kedua orang itu pun tak kalah gelisahnya. Juga kedua orang itu menyesal kenapa Sawung Sariti tidak segera mengabarkan kepada mereka, bahwa ada serombongan orang-orang dari golongan hitam yang pergi ke Banyubiru. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memacu kuda mereka dengan darah yang bergolak. Suara kaki-kaki kuda mereka berderap memecah sepi malam di atas tanah-tanah berbatu padas. Orang-orang yang menutup pintu serapat-rapatnya di tepi-tepi jalan, menjadi semakin gelisah mendengar derap kuda itu.

Mereka memeluk anak-anak mereka semakin erat di dada mereka sambil berdoa, semoga Yang Maha Kuasa melindungi mereka dari bencana. Arya Salaka melihat dua tiga orang menyelinap ke halaman ketika kudanya menghambur terbang, tetapi ia tidak memperdulikannya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak begitu tertarik kepada orang-orang itu. Tetapi ketika kemudian terdengar bunyi kentongan, mereka menyesal. Agaknya orang-orang itu adalah para pengawas, yang harus mengamat-amati kedatangan orang-orang Banyubiru. Namun mereka tak dapat memutar kuda mereka kembali. Dengan demikian waktu mereka akan semakin habis. Ketika Arya Salaka akan membelok ke arah api yang menyala-nyala, terdengar Mahesa Jenar berteriak, ”Terus ke rumahmu, Arya.”

Arya menarik kekang kudanya sekuat-kuatnya, sehingga kuda itu meringkik dan berdiri tegak di atas kedua kaki belakangnya. ”Api,” jawab Arya. Pada saat itu kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berlari disampingnya, tidak ke arah api itu. Dan terdengarlah suara Mahesa Jenar tanpa menghentikan kudanya, “Itu adalah suatu cara untuk memancing kita. Aku telah mengenal akal itu”.

Kembali Arya Salaka menggeretakkan giginya. Dengan cepatnya ia mencambuk kudanya dan berlari mengikuti gurunya. Mereka langsung pergi ke rumah kepala daerah perdikan yang sedang diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Ketika mereka semakin lama menjadi semakin dekat, maka dada merekapun semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, Arya masih belum sadar benar akan keadaannya, sehingga dengan berteriak ia bertanya, “Bagaimana dengan api itu paman?”.

Mahesa Jenar menoleh. Dilihatnya Arya telah menyusul dekat dibelakangnya, “Jangan perdulikan”, jawabnya “mereka hanya ingin menarik perhatian kita. Tempat yang menyala itu adalah tempat-tempat yang tak berarti. Mudah-mudahan laskarmu telah berusaha untuk menyelesaikannya. Bukankah api itu telah surut?”. “Ya”, sahut Arya. Ia mengerti sekarang, bahwa bahaya yang sebenarnya tidak terletak di daerah api itu. Demikianlah mereka bertiga memacu kuda-kuda mereka semakin cepat dan cepat. Mereka berpacu bersama angin basah yang bertiup menghanyutkan awan yang kelabu. Kilat memancar-mancar di udara seperti sedang bersabung, diantar oleh bunyi guruh yang menggelegar memukul tebing-tebing perbukitan. Arya Salaka menjadi tidak sabar lagi. Ketika ia melihat sepasang beringin di alun-alun, hatinya seperti meronta-ronta. Tetapi dimuka regol rumahnya tak dilihatnya apapun yang mencurigakan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Arya Salaka. Karena itu mereka menghentikan kuda-kuda mereka dimuka halaman. Mereka harus memasuki halaman itu dalam kesiagaan penuh. Namun Arya Salaka tidak sempat berpikir demikian. Ia langsung melampaui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara di atas kudanya yang masih berlari seperti di kejar hantu.

“Arya!”, teriak Mahesa Jenar.

Tetapi Mahesa Jenar tak mampu menghentikannya. Seperti anak panah Arya langsung menyerbu masuk ke halaman. Di halaman itu masih bertempur dengan sengitnya, Sura Sarunggi melawan Anggara, dan Umbaran melawan Radite. Mereka bertempur dalam tingkat tertinggi dari ilmu-ilmu mereka. Yang paling gelisah dari mereka adalah Umbaran. Ia sadar sesadar-sadarnya, apabila datang orang-orang Banyubiru, maka akan berakhirlah kisah petualangannya. Karena itu, dalam kegelisahannya ia sempat memperhitungkan keadaan. Ia harus bertindak cepat dan menguntungkan. Karena itu ia memutuskan untuk membunuh salah seorang lawannya atau orang-orang Banyubiru yang datang untuk mengurangi lawannya. Sesudah itu, kalau perlu ia akan melarikan diri saja, meskipun kemungkinannyapun tipis pula. Tetapi kalau ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, ia akan dapat mempengaruhi keadaan, meskipun hanya sekejap. Dan kelebihan waktu yang sekejap itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.

Demikianlah ketika ia mendengar derap kuda langsung memasuki halaman, ia melontar mundur beberapa langkah, kemudian dengan tak terduga Umbaran berteriak keras-keras, dan pisau belati panjangnya meluncur seperti tatit ke dada Arya Salaka. Arya terkejut melihat sinar kuning menyilaukan terbang kearahnya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk mengelak. Kudanya sendiri berlari cepat menyongsong sinar yang berkilat-kilat itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut bukan kepalang. Maut yang menyambar itu demikian cepatnya sehingga mereka tak mampu berbuat apa-apa, selain berteriak keras, “Arya, bungkukkan badanmu”.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 639

ARYA SALAKA telah kehilangan keseimbangan perhitungannya. Karena itu tak ada yang dapat dikerjakan. Ia mencoba membungkuk merapat ke punggung kuda, namun pisau itu telah dekat sekali. Tetapi tak sempat dilihatnya adalah sambaran pisau yang kedua. Pisau belati panjang yang seakan-akan mengejar pisau yang pertama.

Pisau inipun tak kalah cepatnya, meluncur dari arah yang lebih rendah dari pisau yang pertama, sehingga kedua pisau itupun seperti kilat di langit yang sambar menyambar. Tuhan adalah penentu dari semua kejadian. Demikianlah pisau itupun tak terlepas dari pengaruh tanganNya. Pisau belati yang kedua, yang dilemparkan oleh Pasingsingan yang seorang lagi, meluncur dari arah yang berbeda serta lebih rendah dari arah pisau yang pertama, berhasil mengenai pisau yang pertama.

Sentuhan itu dapat mempengaruhi arah pisau-pisau itu. Sehingga dengan demikian, selisih arah yang hanya setebal jari mengukit arah yang pertama, telah menyelamatkan Arya Salaka. Meskipun ia belum berhasil merapatkan tubuhnya sepenuhnya, namun pisau-pisau itu tak menyentuh kulitnya. Hanya ikat kepalanya sajalah yang tersambar dan terbawa oleh pisau-pisau itu. Namun meskipun demikian, dada Arya Salaka berdesir keras. Ia menggeram sambil menggigit bibirnya. Maut serasa telah hinggap diujung rambutnya.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpekik kecil. Mereka meloncat bersama-sama maju, namun kemudian mereka melihat Arya Salaka masih duduk di atas punggung kudanya yang meluncur cepat di halaman itu, yang kemudian melingkar memutar di samping gandok.

“Bagaimana kau Arya ?”, teriak Mahesa Jenar. Nafas Arya masih meloncat-loncat tak teratur. Dadanya berdebar cepat dan jantungnya seperti berdentang-dentang. Namun ia sempat menjawab terbata-bata, “Baik paman”.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas panjang. Tetapi kelegaannya itu tidak terlalu lama. Mereka ditegangkan kembali oleh kenyataan yang dilihatnya dihalaman. Dalam remang-remang cahaya obor di pendapa, mereka melihat Mantingan, Wilis, Widuri dan Wirasaba berdiri dalam satu kelompok hampir berhimpitan dengan kaku, di pendapa mereka melihat Wanamerta duduk lemas seperti orang yang kehilangan akal, sedang Sendang Parapatpun duduk bersandar tiang. Tangannya memegang senjatanya, namun senjata itu terkulai di lantai. Sedang beberapa penjaga diregol jatuh tersungkur di tanah, dan mereka yang berada di gardu telah kehilangan kemampuan bergerak.

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka menjadi semakin terkejut ketika mereka melihat dua lingkaran pertempuran.

Dan hampir-hampir dada mereka meledak ketika mereka melihat tiga orang yang memakai jubah abu-abu dan bertopeng kasar.

“Apakah sebenarnya yang telah terjadi”, gumam Mahesa Jenar. Kebo Kanigara berdiam diri. Keningnya berkerut-kerut. Umbaran ternyata telah menyerang Radite dengan membabi buta, ketika ia tidak berhasil membunuh Arya Salaka. Pada saat itu, ia telah mencoba untuk melarikan diri, namun Radite bukan anak-anak yang dapat dikelabuhinya, sehingga dengan beberapa loncatan ia telah berhasil menahan Pasingsingan yang menghantui Demak pada saat itu. Tiba-tiba halaman itu digetarkan oleh pekik kecil. Widuri tiba-tiba berhasil menguasai kesadarannya, ketika dilihatnya ayahnya memasuki halaman. Kemudian ia meloncat maju. Mula-mula ia seperti melihat malaikat hadir di halaman itu. Maka ketika ayahnya berdiri tegak mengamati keadaan, ia menghambur lari kepadanya, “Ayah”, panggilnya. Seperti anak ayam yang terancam elang, Widuri bersembunyi di balik sayap-sayap induknya. Kebo Kanigarapun menjadi terharu karenanya. Meskipun ia tidak melepaskan perhatiannya kepada keadaan sekelilingnya, namun dipeluknya anak itu erat-erat. Pada saat itu Rara Wilis pun menjadi bertambah tenang, sebab mereka masih dapat mengharap perlindungan dari orang-orang yang dibanggakannya. Demikianlah ketegangan yang mencekik leher orang-orang di halaman itu menjadi semakin terurai. Kedatangan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka benar-benar telah membebaskan mereka dari kecemasan. Bukan karena mereka cemas dan takut bahwa mereka akan terbunuh, namun mereka cemas dan takut bahwa mereka tidak dapat mempertahankan pusat pemerintahan Banyubiru, dan karena itulah kini mereka yakin bahwa Banyubiru akan dapat diselamatkan. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih berdiri tegak tak bergerak. Hanya pandangan mata mereka sajalah yang beredar dari satu titik ke titik yang lain. Ketika kemudian mata Mahesa Jenar bertemu pandang dengan Rara Wilis berdesirlah hatinya.

Rara Wilis kemudian menundukkan wajahnya, namun hatinya melonjak. Pada wajah gadis itu, Mahesa Jenar dapat melihat ketegangan yang selama itu mencekam hatinya.

Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara bergumam perlahan-lahan, “Widuri, apakah yang terjadi? Bukankah kalian selamat?”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 640

WIDURI tidak senakal dan semanja biasanya. Kini benar-benar ia berusaha menempatkan diri. Karena itu ia menjawab perlahan-lahan, ”Tiga hantu bertemu di sini, Ayah. Ditambah seorang lagi, yang datang bersama salah seorang dari hantu-hantu itu.”

Kebo Kanigara menarik nafas. Ia menjadi ragu, apakah yang harus dilakukan. Tetapi disamping itu, ia pun bersyukur kepada Yang Maha Agung bahwa anak serta sahabat-sahabatnya telah diselamatkan. Berbeda dengan Mahesa Jenar. Ia telah memiliki beberapa pengetahuan yang lebih banyak daripada Kebo Kanigara. Ia telah mengenal lebih dalam mengenai Pasingsingan.

Karena itu cepat otaknya bekerja dan menemukan pemecahan dari teka-teki yang dihadapinya. Teringatlah ia kepada ketiga murid Pasingsingan yang bernama Radite, Anggara dan Umbaran.

Teringatlah ia kepada dua orang petani yang bernama Paniling dan Darba di Pudak Pungkuran. Karena itu Mahesa Jenar segera mengetahui bahwa kedua orang berjubah abu-abu di antara mereka adalah Radite dan Anggara, sedang yang lain adalah Umbaran.

Mahesa Jenar juga memastikan bahwa yang bertempur melawan Sura Sarunggi itu adalah salah seorang dari kedua petani dari Pundak Pungkur itu, sedang yang bertempur di antara dua orang yang berpakaian mirip itu adalah Umbaran melawan salah seorang saudara seperguruannya. Tetapi yang manakah di antara keduanya yang bernama Radite dan yang manakah yang Umbaran? Karena itulah kemudian Maheswa Jenar berbisik kepada Kebo Kanigara, ”Kakang, ingatkah Kakang kepada dua orang petani di Pudak Pungkuran?”

”Ya,” sahut Kebo Kanigara. Sebenarnya ingatannya pun mulai merayap kepada kedua orang petani itu. Karena itu, pertanyaan Mahesa Jenar telah mendorongnya kepada suatu kepastian tentang tiga orang hantu berjubah abu-abu itu.

”Tuhan Maha Besar,” Mahesa Jenar meneruskan, ”Mereka datang kemari pada saat yang tepat. Karena salah seorang dari mereka itu pulalah maka Arya Salaka dapat diselamatkan.”

”Ya,” jawab Kebo Kanigara. Pada saat itu dua buah pisau belati panjang yang berwarna kuning terbang ke arah Arya Salaka. Baik Mahesa Jenar maupun Kebo Kanigara melihat salah seorang dari mereka berjongkok. Orang itulah yang telah menolong Arya dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh yang lain. Dan orang itulah pasti salah seorang dari Radite atau Anggara. Tetapi ketika kemudian keduanya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang riuh, maka mereka tidak dapat mengenal lagi yang manakah di antara keduanya yang telah menolong Arya. Karena itu mereka tidak dapat segera berbuat sesuatu, sebelum memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan sebaik-baiknya.

Namun Mahesa Jenar tidak mencemaskan keadaan. Ia yakin bahwa Radite dan Anggara akan dapat menyelesaikan pekerjaan mereka. Di Rawa Pening dahulu, Sima Rodra dan Pasingsingan tak mampu melawan kedua orang itu pula, sedangkan pada saat itu Radite dan Anggara harus menyembunyikan gerak-gerak khusus dari perguruan Pasingsingan.

Apalagi kini mereka dapat bergerak dengan leluasa tanpa pengendalian diri. Mereka tidak perlu takut-takut bahwa mereka akan dikenal, sebab agaknya kehadiran mereka pada saat itu dengan ciri-ciri kekhususan mereka, adalah karena Radite dan Anggara telah menemukan suatu cara pemecahan.

Karena itulah akhirnya Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara malahan berkisar menepi. Arya pun telah turun dari kudanya. Kini jantungnya telah tidak berdentang-dentang lagi. Ia berdiri tidak jauh dari gurunya, sambil memperhatikan setiap keadaan. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba ada tiga orang yang berjubah dan bertopeng. Sedang sepasang di antaranya saling bertempur.

Pertempuran di halaman itu semakin sengit, Sura Sarunggi mengumpat di dalam hati. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara benar-benar mempengaruhi perasaannya. Ia telah melihat sendiri apa yang telah dialami oleh Sima Rodra dan Nagapasa. Kedua orang itu pulalah yang telah membinasakan mereka. Sedang kini tiba-tiba ada setan, gendruwo, thethekan yang mengganggu. Orang berjubah itu benar-benar mengacaukan rencana. Kalau tak ada mereka, ia pasti akan berhasil menghindari pertempuran ketika didengarnya kentongan rog-rog asem. Tetapi sekarang tak ada kesempatan untuk meninggalkan halaman itu.

Tetapi justru karena itulah maka Sura Sarunggi, seorang yang mempunyai nama yang besar di antara mereka, yang tahu akibat-akibat dari perbuatannya, menjadi semakin marah. Senjatanya meledak-ledak seperti guruh di langit. Menyambar, melingkar, mematuk mengerikan. Senjata itu dapat menyerang lawannya tidak saja dari muka atau dari samping, tetapi ujungnya tiba-tiba dapat mematuk pula dari arah punggung lawannya.

Untunglah yang melawannya adalah Anggara yang memiliki kelincahan melampaui ujung cemeti itu. Setiap kali ia meloncat-loncat menghindari dari ujung senjata lawannya itu, selincah sikatan menyambar belalang di rerumputan. Bahkan ujung pisaunya pun mematuk-matuk mengerikan, seolah-olah telah berubah menjadi puluhan, bahkan ratusan pisau yang bergerak bersama-sama.

Kemudian Sura Sarunggi itu tidak lagi memperhitungkan apa yang akan terjadi atas dirinya. Tetapi yang ada dibenaknya adalah bertempur mati-matian untuk membinasakan orang yang telah berani merusak rencananya itu. Sesudah itu, apakah ia harus mengalami nasib seperti Sima Rodra, apakah ia masih akan bernasib baik, tidaklah menjadi soal baginya. Demikianlah pertempuran antara Sura Sarunggi dengan Anggara segera mencapai saat-saat yang menentukan.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 641

KETIKA Anggara melihat lawannya berjuang pada tataran terakhir, ia pun segera memusatkan segela kemampuannya. Sehingga lambat laun, tampaklah bahwa petani miskin dari Pudak Pungkuran itu dapat mendesak lawannya. Sambil menggeram marah, Sura Sarunggi berusaha untuk melepaskan segala kesaktiannya. Namun ternyata Anggara memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Sehingga akhirnya Sura Sarunggi tak dapat berbuat lain daripada melepaskan ilmu terakhir, yang dinamainya Uler Kilan.

Ilmu yang luar biasa dahsyatnya. Meskipun pada dasarnya ilmu ini adalah ilmu gerak, namun Uler Kilan memiliki daya keampuhan yang nggegirisi. Sentuhan-sentuhan ilmu ini dapat menyebabkan lawannya menjadi nyeri dan panas, seperti tersentuh oleh ulat yang paling berbahaya berlipat seperti tersentuh oleh bisa ulat yang paling berbahaya berlipat seribu.

Dengan berteriak nyaring, Sura Sarunggi melenting tinggi. Kemudian menyambar lawannya dengan tangannya yang mengembang. Sedang tangannya yang lain masih juga mempermainkan cambuknya yang meledak-ledak mengerikan. Anggara yang melihat perubahan gerak lawannya, segara mengetahui, bahwa orang yang berkepala besar itu telah melepaskan ilmu terakhirnya.

Karena itu, iapun melontar mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Sebab, sudah pasti, untuk melawan ilmu sakti itu, ia pun harus mempergunakan rangkapan pula. Sura Sarunggi kemudian bertempur benar-benar seperti Ular Kilan. Jauh berbeda dengan gerak-gerak sebelumnya. Ia melenting-lenting dari satu tempat ke tempat lain dengan loncatan-loncatan panjang. Kemudian kembali ia menyerang dengan telapak tangannya.

Disusul dengan ledakan cambuknya memecah desir angin malam. Akhirnya Anggara pun tak mempunyai pilihan lain. Dalam sesaat ia telah berhasil membangun diri dalam kekuatan rangkapannya. Ilmu yang disusunnya bersama-sama dengan kakak seperguruannya, Radite, berdasarkan ilmu yang diterimanya dari gurunya. Ilmu yang tak kalah ampuhnya, yang dinamai Naga Angkasa.

Tiba-tiba Anggara dalam pakaian Pasingsingan itu mengembangkan tangannya, seperti seekor burung garuda. Jubahnya seolah-olah menjadi sayap-sayap yang selalu bergerak-gerak ditiup angin. Dalam kesiagapan tertinggi ia menanti lawannya menyerangnya kembali. Demikianlah kedua orang itu bertempur dalam tingkatan terakhir. Sura Sarunggi menjadi heran, kenapa Pasingsingan ini tak melepaskan aji Gelap Ngampar atau Alas Kobar, tetapi ia lebih senang melawan ilmunya dengan ilmu gerak pula.

Namun Naga Angkasa pun membawa udara yang aneh, yang seolah-olah mempengaruhi kesadaran lawannya. Naga Angkasa tidak sepanas Alas Kobar, namun pengaruhnya jauh melampauinya, sehingga dengan demikian, terasa bahwa ilmunya sendiri, Uler Kilan menjadi susut daya kemampuannya.

Meskipun demikian, Sura Sarunggi bukan tokoh yang baru lahir kemarin sore. Berpuluh-puluh tahun ia menekuni ilmunya. Karena itu, didesaklah ilmu itu sampai tapis. Dengan demikian, maka perlawannyapun menjadi bertambah sengit. Namun kembali kepada sumber kekuatan, yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Bagaimanapun setan dan iblis berusaha membangun kerajaan dengan dalih apapun juga, namun akhirnya kekuasaan Tuhanlah yang akan menang. Dan akan mulailah kerajaan Sorga yang abadi.

Semakin lama, semakin jelas, bahwa Naga Angkasa yang dahsyat itu, benar-benar dapat mendesak ilmu yang dinamainya Uler Kilan. Meskipun demikian, Uler Kilan yang kasar dan bengis itu benar-benar merupakan ilmu terkutuk dan luar biasa. Apalagi kemungkinan Sura Sarunggi itupun mempergunakan ilmunya yang lain, yang disebutnya Welut Putih, yang dapat meluluri kulitnya dengan keringatnya, sehingga ia menjadi selicin belut.

Kemudian Anggara terpaksa untuk kedua kalinya melepaskan ilmunya yang lain, ilmu yang benar-benar diterima dari gurunya secara murni, Alas Kobar, setelah ia berusaha menjauhkan lawannya dari pendapa. Sebab ia sadar, bahwa Alas Kobar akan memancar ke segala arah, sehingga dengan demikian ia memerlukan jarak untuk membebaskan orang-orang lain dari pengaruhnya. Terasa kini oleh Sura Sarunggi, bahwa lawannya itupun benar-benar bernama Pasingsingan. Tetapi ia tetap tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Meskipun demikian ia tidak mau berpikir lebih banyak lagi. Ketika terasa udara panas menyerangnya, iapun segera membentengi diri, untuk membebaskan panas yang melibatnya.

Namun dengan demikian, terasa bahwa ilmunya menjadi semakin susut. Kemampuannya tidak sedahsyat mula-mula. Naga Angkasa yang dirangkapi Alas Kobar benar-benar menjadikannya cemas. Tetapi kini benar-benar ia tak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Karena itu, bagaimanapun juga, ia harus mengurai segenap kemampuannya. Bahkan akhirnya ia menjadi seolah-olah putus asa, dan bertempurlah ia membabi buta. Dalam keadaan yang demikian itulah, akhirnya Sura Sarunggi benar-benar kehilangan perhitungan.

Ketika Anggara menyerangnya dengan dahsyat, ia mencoba untuk mengelakkan diri dengan melenting tinggi. Uler Kilan itu benar-benar telah membebaskannya, namun ketika ia berusaha untuk menyerang lawannya dengan cambuknya di tangan kiri dan kekuatan-kekuatan ilmu gerak Naga Angkasa, ia berhasil menangkap ujung cambuk Sura Sarunggi. Direnggutkannya cambuk itu kuat-kuat, namun Sura Sarunggi tak akan melepaskan senjatanya. Memang hal itu telah diperhitungkan oleh Anggara. Dengan demikian, karena Anggara merasa bahwa Naga Angkasa dapat melampaui, setidak-tidaknya menyamai kekuatan lawannya, ia mempunyai kemenangan waktu. Sura Sarunggi tersentak selangkah maju, namun selangkah itu telah menentukan saat terakhirnya. Ketika ia meluncur maju, pada saat yang bersamaan, Anggara meloncat maju. Pisau belati panjangnya bergerak dengan cepatnya menyambar leher lawannya.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 642

TETAPI Sura Sarunggi tak mau mati. Dengan gerak naluriah, ia terpaksa melepaskan cambuknya dan membungkukkan diri. Kali ini ia terbebas dari sambaran pisau itu, tetapi untuk kedua kalinya Anggara menyerang dengan tangannya mengenai tengkuk lawannya. Kekuatan Anggara benar-benar mengagumkan. Meskipun saat itu Sura Sarunggi dalam lambaran ilmunya, namun dengan kekuatan Naga Angkasa, pukulan tangan Anggara benar-benar seperti sambaran petir yang menghantam dari langit.

Demikianlah maka pertempuran itu sampai pada akhirnya. Sura Sarunggi, seorang yang selama ini menjadi tempat berlindung beberapa orang dari golongan hitam di Rawa Pening, dan yang telah melahirkan dua orang kakak-beradik Uling Putih dan Uling Kuning ke dalam lingkungan golongan hitam, kini tak dapat menghindarkan diri dari terkaman maut. Karena pukulan tengan Anggara yang berlambaran ilmu dahsyat itulah, maka terdengar gemeretak tulang lehernya. Sekali ia menggeliat dan melenting tinggi, kemudian ia terjatuh beberapa langkah dari lawannya. Meskipun demikian ia masih berusaha berdiri dan dengan mata yang merah menyala-nyala ia mengumpat dalam bahasa kasar, ”Setan belang, iblis laknat. Terkutuklah kau oleh jin dan peri….”

Kemudian Sura Sarunggi kehilangan segenap kekuatannya. Ia tak dapat mengumpat-umpat lagi, bahkan akhirnya ia terhuyung-huyung dan kemudian jatuh diam. Maut telah merenggutnya dari kehidupannya yang penuh dengan noda-noda hitam. Suaranya yang kasar dan keras itu telah mempengaruhi suasana di halaman itu. Semua orang menoleh kepadanya. Agak jauh di depan gelap mereka melihat orang berjubah itu berdiri tegak. Beberapa langkah di hadapannya terkapar lawannya.

Mantingan dan Wirasaba melihat peristiwa itu seperti peristiwa-peristiwa rentetan-rentetan kejadian-kejadian yang mengambang dalam hatinya. Ia menyaksikannya dengan perasaan yang kosong, setelah hatinya terampas oleh ketegangan yang terus-menerus. Meskipun demikian, sesuatu memancar di dalam dada mereka. Ketika melihat Sura Sarunggi jatuh tersungkur, menyalalah kelegaan di dada mereka. Sedang Rara Wilis dan Endang Widuri kini telah benar-benar menjadi tenang. Mereka telah dapat menilai, keadaan dengan baik. Mereka telah dapat meyakinkan diri mereka, bahwa Sura Sarunggi dan Pasingsingan yang datang bersama hantu Rawa Pening itu pasti akan dapat dikalahkan.

Kehadiran Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menjadi kunci penyelesaian apabila kedua orang berjubah yang lain tak mampu memenangkan pertempuran. Juga apabila kedua orang bertopeng yang tak mereka kenal itu, akhirnya akan mengambil alih perbuatan-perbuatan kedua orang yang lain itu.

Apalagi kemudian mereka melihat bahwa salah seorang dari dua orang yang menggoncangkan hati mereka telah dapat dikalahkan. Pasingsingan, guru Lawa Ijo itupun tak kalah terkejutnya mendengar sahabatnya mengumpat-umpat. Dengan satu loncatan panjang, guru Lawa Ijo melontar ke samping untuk mendapat waktu melihat apa yang terjadi atas Sura Sarunggi. Lawannya pun tidak melihat, bagaimana sahabatnya itu jatuh tersungkur di tanah, untuk kemudian tidak bangun kembali.

Terdengarlah Umbaran menggeram. Suaranya bergulung-gulung di belakang topengnya yang kasar. Kemudian terdengarlah ia berteriak putus asa, ”Ayo, majulah bersama-sama. Radite, Anggara, Mahesa Jenar dan kawanmu itu. Bersama-sama mati pulalah Mantingan, dan perempuan-perempuan yang tak tahu diri. Inilah Umbaran, tak akan mundur setapak.”

Suaranya menggelegar seperti suara guruh yang mengumandang di lembah yang berawa itu. Namun di balik suara yang garang itu, terasa betapa kecemasan dan keputusasaan menguasainya. Anggara masih berdiri di tempatnya, namun ia telah memutar tubuhnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih tegak seperti patung, dan Radite yang langsung berhadapan dengan Umbaran itupun belum juga bergerak.

Bahkan kemudian terdengar Radite itu berkata, ”Umbaran, Anggara terpaksa membunuhnya.”

Persetan dengan Sura Sarunggi,” jawab Umbaran. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Mereka kini tahu dengan tepat, bahwa yang bertempur dengan Umbaran adalah Radite.

Dan kini mereka telah dapat membedakan, yang manakah Radite dan yang manakah Umbaran. Meskipun demikian, mereka tak akan mengganggu dua orang yang kakak-beradik seperguruan itu menyelesaikan masalah mereka.

Umbaran…” kata Radite, ”Pergunakanlah saat-saat terakhir ini sebaik-baiknya. Pandanglah langit yang luas dan menjadi lapang pulalah hatimu. Menyebutlah nama Tuhan, dan kemudian bertobatlah.”

”Kenapa aku harus bertobat?” teriak Pasingsingan, ”Aku telah menempuh suatu perjuangan yang mengasyikkan, yang telah membentuk diriku menjadi seorang yang bercita-cita.”

“Kau, aku, Anggara, Anakmas Mahesa Jenar dan Anakmas Kebo Kanigara itupun memiliki dosa masing-masing. Karena itu terhadap orang yang telah bertobat, tak seharusnya dilakukan sesuatu. Sebab kami sendiri pun bernoda. Kami akan memaafkan kau. Demikian juga guru kita. Hanya orang-orang yang terlepas dari dosalah yang berhak menghukum setiap orang yang telah bulat-bulat pasrah diri ke dalam lingkungan kebenaran. Dan orang yang demikian itu tidak ada di dunia ini. Karena itu apabila kau benar-benar bertobat, pasrah diri dengan tulus dan jujur, tak akan ada orang yang mendendammu.”

”Bah!” jawab Umbaran, ”Akan kau pikat aku dengan mulutmu. Bertempurlah dengan sikap jantan. Jangan membujuk dan menikam aku dari belakang.”

”Kejantanan seseorang tidaklah ditentukan dengan atau oleh senjata,” sahut Radite, ”Tetapi ditentukan oleh caranya menyelesaikan persoalan. Bagaimana ia menghargai cinta atas sesama, cinta yang dilimpahkan Tuhan kepadanya.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 643

”MARILAH kita selesaikan persoalan ini dengan cara yang sudah kita mulai,” kata Umbaran dengan lantang. ”Aku telah bertekad untuk membunuh dan mengikat kalian di belakang kaki-kaki kuda. Kalau kau akan berbuat demikian atasku, ayolah, majulah bersama-sama.”

”Kalau kami berbuat demikian atasmu, Umbaran…” kata Radite, ”Maka dosa kami akan berlipat ganda. Sebab kami tahu bahwa perbuatan itu adalah perbuatan dosa dan bertentangan dengan perikemanusiaan. Dan dengan demikian, tak akan ada bedanya, siapakah yang dapat menikmati cinta abadi, dan manakah yang masih hidup dalam kegelapan.”

Tiba-tiba Pasingsingan yang juga bernama Umbaran itu tertawa dan tertawa. Suaranya menggelegar mengumandang. Namun ia tidak melepaskan aji Gelap Ngampar, sebab ia tahu, bahwa tidak akan ada gunanya. Tetapi ia tertawa karena berbagai perasaan bergulat di dalam dadanya. Marah, kecewa, cemas dan putus asa.

Pada saat yang demikian, seakan-akan berdatangan kenangan masa lampaunya. Sejak masa kanak-kanaknya yang kelam. Ayahnya bukanlah seorang yang dapat dibanggakan. Ia adalah seorang penjudi besar, yang hampir setiap malam tak pernah menjenguk rumahnya. Seorang yang sanggup membunuh kawan bermainnya hanya karena uang seduwit, apalagi dalam persoalan-persoalan yang lebih besar. Sebagai lazimnya penjudi, ayahnya adalah seorang yang mabuk pada nafsu-nafsu keduniawian yang lain, makan, minum tuak dan perempuan. Meskipun ayahnya tidak termasuk dalam lingkungan penjahat, namun apa yang dilakukan tidaklah kalah kejam dan bengis daripada para penjahat.

Ibunya mula-mula hanya menahan hati. Dengan sedih ia berusaha hidup dan menghidupi anaknya, Umbaran. Tetapi lambat laun, perempuan itupun hanyut dalam arus kemiskinan jiwa. Ketika seorang laki-laki datang dan menyatakan belas kasihannya ketidakpuasannya selama ini kepada suaminya dan kesulitan yang disandangnya. Laki-laki datang dengan berbagai kesenangan. Uang, perhiasan dan nafsu. Maka berulang kalilah hal yang demikian itu terjadi. Laki-laki itu datang untuk kedua, ketiga, keempat dan ketigapuluh kalinya.

Sejak itu Umbaran menjadi liar. Tak ada perhatian atasnya sebagai anak-anak yang memerlukan cinta kasih orang tuanya. Ayahnya sibuk dengan dadu dan warna-warna di meja judi, sedang ibunya sibuk melayani laki-laki yang datang mengisi kekosongan hatinya.

Umbaran yang kecil, melihat kehidupan dari segi yang kelam. Mula-mula ia merasa sedih. Kemudian ia membenci laki-laki yang datang hampir setiap hari apabila ayahnya pergi. Ia benci kepada ayahnya yang hampir menguras habis segala kekayaan dan harta benda yang pernah dimiliki. Ia benci kepada segala-galanya. Akhirnya ia menerima keadaan itu sebagai hal yang sewajarnya. Sebagai hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang. Ia menganggap bahwa saat yang pendek dalam dunia ini harus diteguknya senikmat-nikmatnya. Tanpa menghiraukan masa-masa mendatang, tanpa menghiraukan jaman yang abadi yang akan ditandai oleh pengadilan bagi segenap umat manusia. Pada saat manusia harus menjawab tanpa dapat menyembunyikan peristiwa yang bagaimanapun kecil dan gelapnya. Sebab pengadilan Tuhan mengenal setiap manusia. Tuhan akan melihat, meskipun hanya setetes darah yang pernah ditumpahkan, selembar rambut yang pernah digugurkan, tanpa dapat dipungkiri.

Tetapi Umbaran tidak mengenal itu. Tak seorangpun yang pernah memperkenalkannya dengan kerajaan sorga. Tak seorangpun yang pernah berceritera kepadanya tentang kehadiran nabi-nabi di dunia.

Umbaran tak pernah mendengar semuanya itu. Ketika akhirnya ia mendengar juga, hatinya telah menjadi sekeras batu. Meskipun kadang-kadang hatinya terketuk juga, namun nafsunya yang melonjak-lonjak, yang dipupuknya sejak kanak-kanaknya, telah mendesak cahaya-cahaya yang menyorot ke dalam hatinya. Sehingga kemudian ia telah bertekad untuk menutup pintu serapat-rapatnya dari segenap pekabaran tentang kerajaan Allah yang Abadi.

Kalau terasa padanya, adanya kekuatan-kekuatan di luar kekuatan dirinya, di luar kekuatan manusia, maka ia mencoba untuk mencarinya pada alam, pada batu-batu besar, pada pohon-pohon beringin tua, pada relung-relung goa. Kepada kerajaan setan, ia mengabadikan dirinya untuk mendapat kekuatan-kekuatan ajaib. Namun kekuatan-kekuatan yang dilambari oleh kekuatan hitam, yang arahnyapun untuk membuat malapetaka dan bencana bagi umat manusia. Karena itulah ketika hatinya menjadi gelap, maka gelaplah seluruh isi bumi. Tak ada sedikitpun cahaya yang dapat memberinya arah.

Ketika ia harus berhadapan dengan Radite itupun, baginya seakan-akan dihadapkan ke tepi suatu jurang yang dalam dan kelam. Tetapi ia sudah bertekad untuk melompat ke dalamnya. Ia tidak tahu apakah di dalamnya akan dijumpainya istana gading yang indah, atau di sana akan dijumpainya kandang serigala lapar yang siap untuk menyobek-nyobek kulit dagingnya. Namun ia tidak peduli itu. Ia sudah basah kuyup di tengah-tengah arus sungai yang deras. Tak ada jalan kembali.


NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 644

TANPA berkata sepatah katapun, akhirnya Umbaran membangunkan segenap kekuatan yang ada padanya. Ketika kemudian semua kenangan masa lampaunya telah menghindar dari benaknya, suara tertawanyapun menjadi surut, dan akhirnya terdiam. Demikian mulutnya terkatup, dengan serta merta direnggutnya topeng yang selama ini menutupi wajah aslinya. Dan tampaklah wajah tampan seorang yang telah melampaui setengah abad. Matanya yang bulat besinar-sinar penuh nafsu, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis. Dengan geram topeng itu dibantingnya, dan terdengarlah ia berkata, ”Radite, tak ada artinya lagi bagiku topeng dan jubah ini. Sekarang Umbaran berhadapan dengan Radite dalam penentuan saat terakhir.”

Terdengarlah Radite menarik nafas. Ia mengeluh dalam hati melihat kekerasan hati Umbaran.

Namun perlahan-lahan tangannya bergerak membuka topengnya pula. Jawabnya, ”Marilah kita tidak berpura-pura lagi, tidak menjadikan diri kita orang-orang aneh yang hanya mengalutkan orang lain yang melihat kita. Marilah kita kembali kepada diri kita, manusia yang kercil, dan tak berarti. Marilah kita yang kecil ini mempersiapkan diri kita untuk mengharap Yang Maha Agung. Umbaran, berjanjilah. Persoalanmu akan selesai, dan akibatnya persoalan-persoalan lainpun akan selesai pula. Pengikut-pengikutmu pun akan sadar dari kekeliruannya, bahwa apa yang akan dicapainya selama ini tak akan bermanfaat bagi bebrayan manusia.”

Umbaran menggeram. Sekali lagi suara tertawanya terlontar mengerikan, katanya, ”Jangan mengigau lagi, Radite. Bersiaplah.”

Sebelum Radite menjawab, Umbaran telah menyerangnya kembali. Dengan gerak yang dahsyat penuh nafsu kemarahan ia mengamuk sejadi-jadinya. Bahkan mirip dengan orang yang kehilangan akal. Meskipun demikian, gerak-gerak yang dilontarkan menjadi semakin berbahaya. Dalam keputusasaan, ia hanya mampu berpikir, ”Marilah kita mati bersama-sama.”

Radite kemudian telah kehilangan kesempatan untuk mengajak saudara seperguruannya itu menemukan jalan kembali. Kesalahan yang telah dilakukannya beberapa puluh tahun lampau seharusnya tak terulang lagi. Pada saat seakan-akan ia membuka pintu seluas-luasnya kepada Umbaran untuk melakukan kejahatan. Pada saat ia menyerahkan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan karena nafsunya yang tak terkendalikan. Meskipun pada saat itu, ia sama sekali tidak menduga, bahwa saudara seperguruannya itu tidak meneruskan naluri gurunya yang bijaksana dan penuh pengabdian kepada manusia, yang di dasarnya dengan sinar cinta yang abadi.

Demikianlah pertempuran itu kembali berlangsung dengan sengitnya. Umbaran yang putus asa bertempur seperti gelombang laut yang ganas, bergulung-gulung menghantam apapun yang ada di hadapannya, sedang Radite melayaninya seperti seekor burung rajawali, yang setiap saat mampu melontarkan diri ke udara, menghindari ancaman gelombang yang bagaimanapun dahsyatnya, untuk kemudian menukik dengan kuku-kukunya yang tajam dan paruhnya yang runcing, menghantam lawannya. Tak seorangpun yang berani mencampuri pertempuran itu. Apalagi Mantingan, Wirasaba, atau Wilis.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak beranjak dari tempatnya. Sedang Widuri masih berpegangan ujung baju ayahnya, seperti anak-anak yang takut hilang di tengah-tengah pasar yang ribut. Arya Salaka masih juga berdiri seperti patung. Namun hatinya berdebar menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan pertempuran itu dengan tegang pula. Mereka sadar bahwa yang dihadapinya adalah persoalan yang sama sekali berbeda dengan persoalan yang sedang berlangsung di Pamingit. Radite dan Umbaran tidak bertempur karena tanah perdikan Banyubiru, tidak karena mereka berebut Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tidak karena mereka berdua ingin memiliki kesempatan untuk menuju ke singgasana Demak. Kalau Umbaran bertempur dengan nafsu yang meluap-luap untuk mempertahankan cita-citanya tanpa mengenal surut, maka Radite bertempur dengan harapan untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, menghentikan kejahatan yang akan selalu dilakukan oleh Umbaran.

Radite sendiri sama sekali tidak ada nafsu untuk memiliki pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, tak ada nafsu untuk menjadi tetua para sakti dan tak ada nafsu untuk menempuh jalan ke singgasana Demak. Sebab ia tahu bahwa itu bukanlah haknya. Setiap orang yang mencoba untuk merebut hak itu tanpa wahyu keraton padanya, tanpa wahyu yang dilimpahkan oleh Yang Maha Esa, maka mereka pasti akan mengalami kegagalan, bahkan kehancuran, apabila mereka tidak segera menyadari kesalahannya.

Demikianlah pertempuran yang sengit itu berlangsung tanpa gangguan. Seakan-akan mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Dalam gelap malam yang semakin pekat itu, bayangan mereka melontar-lontar melingkar-lingkar dengan cepatnya. Kini mereka telah tak bersenjata lagi. Mereka hanya percaya kepada kekuatan mereka, kepada kesaktian mereka. Meskipun demikian mereka sama sekali tak mempergunakan aji mereka, baik Gelap Ngampar maupun Alas Kobar, sebab mereka sadar bahwa ilmu-ilmu itu hanya akan berbenturan tanpa arti.

Mereka kini lebih mementingkan kepada kesempatan-kesempatan yang akan ditemuinya apabila lawannya berbuat kesalahan yang meskipun sekejap.

Mendung di langit menjadi semakin tebal dan tebal. Angin dari lembah kini sudah tidak bertiup lagi. Sambaran-sambaran tatit di langit yang kadang-kadang menyobek gelap malam menjadi semakin sering, dan guruhpun menggelegar tak henti-hentinya.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 645

SESAAT kemudian, meledaklah petir di udara, yang kemudian disusul dengan hujan yang seperti dicurahkan dari langit. Butiran-butiran air yang besar berjatuhan di tanah, di genteng-genteng, di cabang-cabang pepohonan, dan di tubuh mereka yang dengan kaku berdiri di halaman Banyubiru. Hujan yang seperti tertuang dari langit yang yang pecah itu sama sekali tak mereka hiraukan. Bunyinya yang kemersak seperti banjir bandang tak mereka dengar, sebab perhatian mereka sedang terpaku pada pertempuran antara hidup dan mati dari dua orang yang bersaudara seperguruan.

Hanya Anggara lah yang kemudian bergerak dari tempatnya, tetapi tidak mencari tempat untuk berteduh. Perlahan-lahan ia melangkah mendekati titik pertempuran, dimana kedua saudara seperguruannya sedang mengadu kesaktian, yang bersumber dari mata air yang sama. Namun dalam arus yang berikutnya, sungai yang satu tetap mengalirkan air yang bening, meskipun ada juga kotoran-kotoran yang hanyut di dalamnya. Sedang sungai yang lain benar-benar telah mengalirkan air yang keruh.

Anggara pun kemudian telah melepaskan topengnya. Ketika kedua saudaranya tak mengenakan topeng lagi. Ia sama sekali tak merasa perlu mempergunakannya. Di sela-sela bunyi gemersik dedaunan yang digerakkan oleh air hujan, kadang-kadang terdengarlah jerit yang memekakkan telinga, yang melontar dari mulut Umbaran dengan penuh kemarahan. Dan bersamaan dengan itu gerakannya pun menjadi semakin liar dan ganas.

Namun Radite telah bertekad untuk melayaninya habis-habisan. Meskipun sekali-kali timbul juga penyesalan di hatinya. Seandainya, ya seandainya dirinya pada saat itu tak terlibat dalam nafsu yang telah menjadikannya seolah-olah lupa pada keadaan diri, maka apa yang diprihatinkannya atas Umbaran itu tidak akan terjadi. Tetapi semua sudah terjadi. Yang harus dilakukan adalah menghentikan persoalan yang telah berlarut-larut dan yang menurut Anggara telah hampir terlambat. Terngiang kembali kata adik seperguruannya, ”Kakang, agaknya Kakang telah menunggu anak macan itu menjadi seekor macan yang ganas dan trengginas. Nah akhirnya pekerjaan Kakang akan menjadi sangat berat.”

Ternyata kata-kata itu benar. Pekerjaan Radite benar-benar berat. Umbaran telah menambah ilmunya dengan segala macam ilmu yang didapatnya dari daerah-daerah kelam, dari pohon-pohon beringin tua, dan relung-relung goa dan dari batu-batu besar dari bukit-bukit yang suram. Namun Radite pun telah matang pula dengan ilmunya. Selama ia bersembunyi di antara para petani miskin di Pudak Pungkuran bersama Anggara, sempat juga mereka menempa diri mendalami ajaran-ajaran gurunya lahir dan batin.

Meskipun mereka menganggap diri mereka telah hilang dari pergaulan para sakti, namun firasat mereka tetap menuntut untuk menjagai kemungkinan-kemungkinan, bahwa pada suatu saat mereka masih harus menampakkan diri. Karena itulah maka kali inipun Radite tidak dapat didesak oleh Umbaran. Bagaimanapun ganasnya Umbaran, namun dengan tangguhnya Radite melawan hantu yang terkenal dari alas Mentaok itu. Bahkan akhirnya ternyata bahwa Umbaran lambat laun harus merasakan betapa dahsyat ilmu yang dimiliki oleh Radite.

Tetapi Umbaran tidak lagi mendapat kesempatan untuk lari. Kalau tatit memancar di udara, jelas dilihatnya. Anggara, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdiri tegak di halaman itu. Mereka adalah orang-orang yang mengerikan bagi Umbaran. Mereka adalah orang-orang yang telah terbukti dalam melampaui kesaktian golongannya. Mahesa Jenar yang telah berhasil membunuh Sima Rodra itu terang tak dapat dikalahkan sejak di Gedong Sanga, Kebo Kanigara telah berhasil membunuh Naga Laut yang menamakan diri Nagapasa, sedang Anggara baru saja membinasakan sahabatnya Sura Sarunggi.

Kini ia sendiri harus bertempur melawan Radite. Dan ia merasakan betapa tangan lawannya menjadi sekeras baja dan seberat timah. Setiap sentuhan serasa meremukkan tulang sungsumnya. Namun demikian, hati Umbaran telah benar-benar dikuasai oleh iblis. Ia tidak mau melihat kenyataan. Ia tidak mau mendengarkan panggilan terakhir dari saudara seperguruannya itu. Pada saat-saat terakhir, ternyata bahwa ia semakin terdesak.

Di dalam hujan yang semakin lebat, tampaklah ia setapak demi setapak terdesak mundur. Meskipun Umbaran berusaha untuk menguasai keadaan, menyerang dengan dahsyatnya, sedahsyat hujan yang tercurah dari langit, namun Radite tak ubahnya seperti batu karang yang tegak perkasa, tak goyah oleh arus air dan angin yang bagaimanapun kencangnya. Meskipun hujan masih belum surut, namun berangsur-angsur gelap malam menjadi berkurang.

Api di ujung kota telah lama padam. Dari kejauhan, di sela-sela desir hujan di dedaunan dan di atap-atap rumah terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Lamat-lamat namun meyakinkan bahwa hari menjelang pagi. Sesaat kemudian terdengarlah suara riuh di luar halaman. Agaknya laskar Banyubiru yang telah berhasil mengusir orang-orang dari golongan hitam yang telah membakar rumah dan banjar-banjar desa, kini berdatangan di rumah kepala daerahnya. Mendengar suara riuh itu, dan mendengar ayam jantan yang berkokok di kejauhan, Umbaran menjadi bertambah gelisah.

Seperti ia datang dari kerajaan setan, maka kedatangan fajar sangat menggelisahkan. Apalagi suara riuh yang semakin lama semakin dekat. Karena itulah maka akhirnya ia menuntut saat terakhir dari pertempuran itu. Seperti orang gila ia menyerang sejadi-jadinya. Kini ia tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang lain, kecuali nafsu kemarahan dan keputusasaan. Karena itulah maka Umbaran mencoba untuk mempergunakan ajiannya Alas Kobar. Ia mengharap apabila ajinya tak dapat mempengaruhi lawannya atau Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Anggara setidak-tidaknya ia akan dapat membunuh Mantingan, Wilis dan Widuri.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 571

PENJAWI segera mulai ceritanya, ”Lusa aku dan Adi Jaladri berangkat ke Pamingit, beberapa saat setelah Ki Ageng Sora Dipayana meninggalkan Banyubiru. Namun demikian, kami masih dapat mendahului laskar Pamingit itu. Kami titipkan kuda kami dirumah paman Derpa, dan mulailah kami dengan pekerjaan kami. Ki Ageng Lembu Sora ternyata benar-benar seorang yang memiliki ketangkasan berpikir. Kami terkejut ketika kami diketahui, bahwa beberapa bagian laskarnya langsung menerobos lewat Randu Putih, dan menduduki Kepandak. Sedang induk pasukannya masih tetap menuju pusat pemerintahan Pamingit, dan setelah terlibat dalam bentrokan tak berarti, induk pasukan itu bermalam di Sumber Panas. Ini adalah suatu keadaan yang sama sekali tak diduga oleh golongan hitam. Karena itu, dengan mudahnya mereka dapat didesak dari tempat-tempat itu.

Tetapi karena itu pulalah maka mereka agaknya menjadi marah. Menjelang pagi, aku dan adi Jaladri melihat-lihat pertempuran yang akan berkobar di Kepandak. Kami berjanji bahwa malam hari kami bertemu di rumah Paman Darpa, setelah kami mendapat gambaran dari kedua garis pertempuran itu. Pekerjaan kamipun menjadi agak sulit, sebab kami tidak mau diketahui oleh kedua belah pihak. Untunglah bahwa aku dapat menghubungi beberapa orang Banyubiru yang berada di dalam Laskar Lembu Sora, ketika mereka sedang mengambil air untuk keperluan laskar itu. Tetapi pekerjaan Adi Jaladri agak lebih sulit.”

Penjawi berhenti sejenak. Ia memandang kepada Jaladri, katanya, ”Tidak ada orang yang lebih mengetahui daripada Adi sendiri. Nah ceriterakanlah.”

Jaladri mengangguk. Sambil tertawa kecil ia berkata, ”Bukan lebih sulit. Tetapi aku justru lebih beruntung.”

Jaladri berhenti sebentar lalu meneruskan, ”Pagi-pagi buta aku mencoba untuk mencari tempat yang baik. Aku ingin tahu, siapakah yang berada di dalam kedua pasukan yang akan bertempur itu. Tetapi baru saja aku mendapat tempat yang baik menurut pikiranku, tiba-tiba terdengar suara berdesir di belakangku. Aku terkejut, dan aku menjadi berdesir ketika tiba-tiba aku ketahui, menurut ciri-ciri yang pernah aku dengar, seorang tua, bertubuh bongkok dengan wajah yang mengerikan.”

”Bugel Kaliki?” potong Wanamerta.

”Ya, Bugel Kaliki,” sahut Jaladri. ”Dengan mata yang mengandung kebencian ia memandang kepalaku. Akhirnya ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, – “Hai kelinci yang malang. Siapakah namamu, dan apakah kerjamu di sini?” – Aku menjadi gemetar. Aku tahu siapakah orang itu. Karena itu tiba-tiba terbayanglah di dalam otakku, gambaran Yamadipati datang untuk menagih janji. Mengambil kembali nyawa yang dititipkan di dalam raga ini.”

”Apa yang dikerjakan oleh hantu itu? – bertanya Sendang Papat tidak sabar.

”Menakut-nakuti aku,” jawab Jaladri. ”Dan aku benar-benar takut kepadanya. Apalagi kemudian ia bertanya kepadaku pula – Kenalkah kau kepadaku?” ”Aku tahu bahwa aku bukan musuhnya. Karena itu aku tidak mau kehilangan kesempatan. Tanpa menjawab pertanyaannya, segera aku menarik kerisku, dan langsung aku menusuk ke arah telungkup. Nah, kau lihat jalur-jalur di mukaku ini?”

”Tetapi kau tetap hidup,” sela Bantaran ingin tahu.

”Ya. Aku tetap hidup,” sambung Jaladri, ”Bukan karena aku sekarang telah mampu melawan Bogel Kaliki, atau aku dapat melepaskan diri dari tangannya.”

”Ya. Lalu kenapa?” Sendang Parapat menjadi tidak sabar, ”Apakah kau dibiarkan pergi?”

Jaladri tertawa. ”Jangan terlalu tergesa-gesa. Dengar urutan ceriteraku. Aku kemudian bangkit, dan dengan tekad yang bulat aku akan mati sebagai laki-laki. Berjuang dengan tenaga yang ada padaku. Tetapi tiba-tiba Tuhan menyelamatkan aku. Ketika Bugel Kaliki itu dengan marahnya menggeram, dan hampir menerkam kepalaku, terdengar suara di belakangku. -Jangan Kaliki. Jangan mengganggu anak-anak. Bugel Kaliki terkejut. Aku juga terkejut. Kalau seseorang dapat hadir di tempat itu tanpa diketahui oleh Bugel Kaliki, maka aku mengharap bahwa setidak-tidaknya orang itu akan dapat menyelamatkan aku.”

”Siapakah orang itu?” tanya Sendang Parapat.

”Aku tidak tahu,” jawab Jaladri.

”Hus!” sahut orang yang berada di pendapa itu hampir berbareng. ”Jangan teka-teki.”

”He…” jawab Jaladri, ”Siapa yang berteka-teki? Aku benar-benar tidak tahu, Kakang Penjawi juga tidak tahu. Siapakah dia.”

Arya tertarik pada ceritera itu. Tampak alisnya berkerut. Demikian juga Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain.

”Apa yang dilakukan?” tanya Arya Salaka kemudian. Jaladri mengingsar duduknya, ia meneruskan, ”Bugel Kaliki terkejut atas kehadirannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memecahkan kepalaku. Tetapi segera ia bersiaga untuk menghadapi musuh barunya. -Jangan ganggu aku- ia berdesis. Tetapi orang yang datang itu tertawa. Suaranya nyaring. -Aku mengembara dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan. Karena itu akupun kadang-kadang melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa tujuan.

Antara lain mengganggumu.- Bugel Kaliki benar-benar marah. Terdengar suaranya menggeram seperti serigala. Namun orang asing itu masih tertawa-tawa saja. Demikianlah akhirnya keduanya terlibat dalam satu perkelahian tanpa kata-kata lain. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menilai pertempuran itu. Mereka bergerak-gerak dengan cepatnya. Kadang-kadang mereka melontarkan diri mereka seperti bintang beralih. Sambar-menyambar. Aku pernah menyaksikan dua ekor elang berkelahi. Gagah benar. Namun itu lebih cepat seperti Sikatan. Si Bongkok itupun sungguh luar biasa. Aku heran kenapa bongkoknya itu sama sekali tidak mengganggu.” (Bersambung)-c

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 572

JALADRI diam sejenak. Kemudian meneruskan ceriteranya, ”Melihat perkelahian itu aku menjadi malu pada diri sendiri. Apakah yang terjadi seandainya aku yang harus bertempur melawan Bugel Kaliki itu. Namun demikian aku tidak mau lari. Aku akan menunggu sampai pertempuran itu berakhir.Kalau penolongku itu kalah dan binasa, biarlah aku binasa pula. Tetapi kalau ia menang, biarlah aku sempat mengucapkan terima kasih kepadanya. Tetapi pertempuran itu kemudian terganggu. Aku melihat bayangan lain yang datang di tempat itu pula. Bersamaan dengan kehadiran orang kedua itu, aku lihat Bugel Keliki berteriak nyaring, untuk kemudian melontar mundur dan lenyap di dalam keremangan pagi. Orang yang bertempur melawannya sama sekali tidak mengejarnya. Ia, sekarang berhadapan dengan orang yang datang terakhir. Namun agaknya mereka tidak akan bertempur. Bahkan mereka berdua tampaknya seperti dua orang sahabat yang baru bertemu. Mereka saling mengguncang tangan masing-masing.”

”Siapakah yang datang kemudian? Juga tidak tahu?” tanya Wanamerta.

Jaladri tertawa. Penjawi pun tertawa.

”Kiai…” jawab Jaladri, ”Kepada orang yang terakhir itu, aku sudah mengenalnya. Bahkan kalian juga mengenalnya.”

”Ya, siapa? Kalau kau sudah mengenal, kami mengenal pula.” Sendang Parapat semakin tidak sabar. ”Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Jaladri.

”Oh….” Terdengar orang-orang yang mendengar bergumam. Mereka menarik nafas lega, seolah-olah merekalah yang terlepas dari ancaman maut. Jaladri berhenti pula untuk sesaat. Kemudian ia meneruskan, ”Aku hanya sempat mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak kukenal itu. Tetapi aku tidak sempat bertanya tentang dirinya sebab kemudian Ki Ageng Sora Dipayana bertanya kepadaku, -Apa kerjamu di sini Jaladri?”

Aku menjadi ragu sebentar. Tetapi kepada Ki Ageng Sora Dipayana aku tak dapat berkata lain, kecuali mengatakan yang sebenarnya. Mula-mula aku menjadi cemas, jangan-jangan hal itu tak dikehendaki oleh Ki Ageng, namun tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berkata, -Marilah. Hari hampir pagi. Sebentar lagi pertempuran akan dimulai.- Aku tak dapat membantah. Aku ikuti Ki Ageng kembali ke pasukan Pamingit. Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana berada di dalam laskar yang menduduki Kepandak. Laskar ini dipimpin oleh Wulungan. Sedang menurut Ki Ageng Sora Dipayana, induk pasukan yang berada di Sumber Panas dipimpin langsung oleh Ki Ageng Lembu Sora sendiri.

Ketika kami hampir sampai, aku hanya mendengar orang asing itu berkata, -Kau biarkan anakmu sendiri? – -Tak ada pilihan lain- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. -Kalau aku tak ada di sini, dan ada salah seorang dari setan-setan itu datang kemari, seperti apa yang dilakukan oleh Bugel Kaliki itu, maka laskar ini akan habis ludas.- -Kalau mereka beberapa orang menempatkan diri mereka untuk melawan anakmu?- jawab orang asing itu. -Ia membawa laskar lebih banyak. Aku sudah menasehatkan untuk bertempur dalam kelompok-kelompok, untuk menghadapi mereka. Dengan senjata jarak jauh atau senjata bertangkai panjang. Dan Lembu Sora telah menyiapkan laskar panah sebaik-baiknya.-

-Belum cukup- jawab orang asing itu. – Untuk sementara, tak ada cara yang lebih baik. Tetapi aku percaya, kalau Lembu Sora berotak cair, maka sedikit demi sedikit ia akan dapat mengatasi keadaan- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Ternyata ia kemudian meneruskan, -Soalnya terserah kepada nasibnya. Mudah-mudahan Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahannya.-

-Kalau begitu…- orang asing itu menjawab, -biarlah aku ikut serta dalam permainan ini. Aku akan bekerja bersama-sama dengan anakmu.-

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut, sampai langkahnya terhenti. – Kau…- terdengar suaranya dalam. Orang itu mengangguk, lalu terdengarlah ia tertawa. Sebelum Ki Ageng Sora Dipayana menjawab orang itu telah melontarkan dirinya sambil berkata, -Sebelum pagi, mudah-mudahan aku tidak terlambat.-

Ki Ageng Sora Dipayana hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala. Perlahan-lahan terdengar gumamnya, -Terimakasih, terima kasih.-

Tiba-tiba saja Ki Ageng Sora Dipayana terkejut oleh suara kentongan jauh di Pamingit. Agaknya laskar orang-orang hitam itu telah mempersiapkan diri mereka. -Ayolah, sebelum kita digilas oleh hantu-hantu yang tak kenal perikemanusiaan itu.- Aku mengikuti di belakang Ki Ageng. Di Kepandak, laskar Pamingitpun telah siap. Di hadapan mereka berdiri dengan gagahnya, Wulungan. Di pinggangnya terselip sebuah pedang panjang, sedang dilambungnya tampaklah sebilah keris. Ketika ia melihat Ki Ageng Sora Dipayana datang, segera ia membungkukkan dirinya, tetapi ketika ia melihat aku, tampaklah perubahan di wajahnya. Ki Ageng Sora Dipayana tahu perasaannya, katanya, -Jangan hiraukan kehadiran Jaladri. Aku yang membawanya. Ia tidak akan mengganggu kalian. – Wulungan tidak membantah, ia hanya mengangguk hormat.

Ketika cahaya merah di atas bukit-bukit sebelah timur telah semakin merata, mulailah laskar Pamingit bergerak. Laskar inipun seperti laskar yang dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, bergerak dalam kelompok-kelompok, dan bersenjata jarak jauh. Agaknya mereka benar dipersiapkan untuk menghadapi setiap tokoh dari golongan hitam itu, kelompok demi kelompok. Aku sendiri, yang tidak tergabung dalam laskar itu, hanya selalu mengikuti kemana Ki Sora Dipayana pergi. Dan Ki Agengpun sama sekali tidak keberatan. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 573

JALADRI meneruskan ceriteranya, ”Akhirnya Ki Ageng itu memberi aku sebatang tombak sambil berkata, ”Kalau kau terpaksa mempertahankan dirimu Jaladri, pergunakan tombak ini. Kerismu terlalu pendek untuk melawan Lawa Ijo atau Jaka Soka, atau kalau kau bertemu sekali lagi dengan Bugel Kaliki.- Hatiku jadi berdebar-debar mendengar kata-kata itu. Laskar Pamingit dapat melawan mereka dengan kelompok-kelompok mereka. Aku bagaimana?”

Agaknya Ki Ageng Sora Dipayana memaklumi perasaanku, karena itu terdengar kata- katanya – Kaupun harus membentuk kelompok tersendiri Jaladri. Nah, akulah orang yang termasuk dalam kelompok kecilmu.- Aku menundukkan kepalaku, karena malu. Ki Wulungan membawa laskarnya, melingkar ke Selatan dengan gelar Jinantra Sawur. Lingkaran-lingkaran kecil yang bergerak bersama-sama dalam satu garis yang menebar. Sungguh suatu yang bagus untuk melawan toko-tokoh yang biasa bertempur perseorangan dan mempunyai kesaktian yang luar biasa seperti tokoh- tokoh golongan hitam. Ketika terdengar sebuah tengara dari Wulungan, maka dengan kecepatan yang sedang, laskar itu langsung menyerbu kedalam pemusatan laskar-laskar hitam. Dalam sepintas dari laskar hitam yang disediakan untuk melawan mereka. Namun diujung laskar golongan hitam itu aku melihat dua orang yang mengerikan. Seorang yang sudah aku kenal Bugel Kaliki, dan yang seorang lagi, aku dengar namanya dari Ki Ageng Sora Dipayana, bernama Nagapasa.

”Nagapasa…?” Mahesa Jenar mengulang nama itu.

”Ya,” sahut Jaladri.

”Melihat mereka berdua Ki Ageng Sora Dipayana memanggil Wulungan, katanya, -Wulungan, lawanlah Bugel Kaliki. Bawalah sedikitnya dua kelompok laskar panahmu. Jaga, jangan sampai salah seorang dari kamu mendekat, dan jagalah supaya kau dan kelompokmu tidak kehabisan tenaga. Orang itu mampu bertempur sehari penuh dengan kesegaran yang sama, bahkan berhari-hari.- Wulungan mengangguk sambil menjawab, -Baik Ki Ageng, akan aku bawa tiga kelompok terkuat dari anak buahku. Yang lain akan dipimpin oleh adi Gupita, melawan laskar hitam itu.- -Bagus- jawab Ki Ageng Sora Dipayana. Kemudian kepadaku Ki Ageng itu berkata, – Jaladri. Aku harus melayani musuh yang tak dapat diduga-duga tabiatnya. Ia dapat berlaku lunak, tetapi ia dapat bengis seperti setan. Karena itu lebih baik bagimu untuk memperkuat kelompok-kelompok yang akan dibawa oleh Wulungan melawan musuhmu pagi tadi.- Aku tak dapat membantah, meskipun aku tahu bahwa Wulungan agak bimbang menerima titipan itu. Ketika aku berjalan di samping Wulungan menuju kekelompok pertama, aku berkata kepadanya, -Jangan curigai aku. Aku tak akan mengganggumu.

Sebab hidup matiku sekarang berada di dalam kerjasama antara kita dan laskarmu. – Wulungan tersenyum. Jawabnya, -Aku mempercayaimu. Aku kira setiap orang didalam laskar Arya Salaka berlaku jantan seperti pimpinan mereka. – Aku tidak tahu maksudnya. Apakah ia benar-benar memuji, ataukah ia sedang menyindir aku. Tetapi kemudian kami tak sempat berkata-kata lagi. Wulungan memerintahkan beberapa orang untuk memberitahukan tugas-tugas mereka. Tiga kelompok kemudian saling mendekat dan menuju satu sasaran, sedang yang lain masih di tempatnya masing-masing, di bawah pimpinan seorang yang cukup mempunyai wibawa, Gupita. Laskar hitam itupun kemudian maju menyongsong lawan mereka. Mereka sama sekali tidak mempergunakan gelar perang, atau gelar mereka mirip dengan gelar Gelatik Neba. Namun tampaklah betapa mereka percaya pada diri mereka masing-masing. Terbayanglah diwajah mereka, kebiadaban dan keganasan yang pernah mereka lakukan dan akan mereka lakukan. Didalam mata mereka seolah-olah tampaklah goresan-goresan nama-nama dari korban-korban mereka yang berpuluh-puluh jumlahnya. Aku pernah mengalami beberapa kali pertempuran. Namun kali ini aku benar-benar berdebar-debar. Disekitarku berjalan orang-orang yang kurang aku kenal, baik tabiatnya maupun cara-cara mereka mempergunakan senjata. Akupun tidak mengetahui apakah mereka menganggap aku lawan mereka atau musuh mereka. Namun demikian akhirnya aku harus melekatkan kepercayaan kepada diri sendiri. Betapapun ringkihnya aku ini, namun aku hanya dapat mengeluh dan menyadarkan diri kepada kepercayaan itu, dilambari oleh pasrah diri kepada pepestan, kepada kuasa tangan Yang Maha Kuasa. Demikianlah akhirnya kedua laskar ini bertemu.

Sesaat sebelum pertempuran berkobar, Wulungan berbisik kepadaku, -Jaladri, kami saat ini akan bertempur di atas tanah persawahan. Batang-batang padi ini sebentar lagi akan hancur terinjak-injak oleh kaki-kaki kami. Namun tanah persawahan ini akan memberikan kesegaran dalam jiwa kami. Karena untuk tanah inilah kami sekarang sedang menyabung nyawa. Meskipun batang-batang padi ini akan hancur, namun besok di atasnya akan dapat kami tanami kembali, dengan batang-batang padi yang lebih segar. Sebab kami tebarkan pupuk di tanah ini dengan darah putra-putra terbaik dari tanah ini.- Aku terharu mendengar kata-katanya. Sedang dari matanya terpancar ketulusan hatinya serta kesediaannya berkorban untuk tanahnya. Sesaat kemudian kami dikejutkan oleh teriakan-teriakan ngeri. Orang-orang hitam itu berloncatan sambil memekik-mekik. Senjata-senjata mereka gemerlapan dalam cahaya pagi. Pada saat yang hampir bersamaan, melontarlah senjata-senjata anak- anak Pamingit. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus anak panah bertebaran diudara. Tetapi orang-orang golongan hitam itu memutar senjata mereka menjadi gulungan perisai yang sangat rapat. (Bersambung)-m

Serial Bersambung 28 September 2000 Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 574

DEMIKIANLAH akhirnya pertempuran tak dapat dihindari. Orang-orang Pamingit terpaksa meletakkan busur-busur mereka dan menarik pedang-pedang mereka. Sehingga sesaat kemudian, riuhlah pertempuran itu dengan dentang senjata beradu, pekik yang mengejutkan dari orang-orang golongan hitam itu.

Wulungan dengan kelompoknya langsung menyiapkan diri mereka dan memancing Bugel Kaliki untuk melibatkan dirinya. Anak-anak dalam kelompok ini agaknya benar-benar terpilih. Mereka tidak melemparkan panah mereka berlebih-lebihan. Satu-satu saja, mengarah kepada si Bongkok yang mengerikan itu. Akhirnya marahlah Bugel Kaliki. Seperti serigala yang menggeram, kemudian langsung melompat dan menyerbu kedalam laskar Wulungan. Cepat anak buah Wulungan memencar diri. Mereka menyerang dengan panah mereka. Tak berhambur-hamburan, namun cukup memberi perlawanan yang kuat terhadap hantu dari Gunung Cerme itu.

Bugel Kaliki kemudian menjadi benar-benar marah. Agaknya ia benar-benar tidak biasa mempergunakan senjata. Sehingga ketika anak panah menyambar-nyambar semakin banyak, ia menjadi agak bingung. Dengan demikian, aku menduga bahwa orang itu sama sekali tidak kebal dari senjata.

Tiba-tiba terjadilah suatu yang tidak kami duga-duga. Bugel Kaliki melepas kain panjangnya. Sesaat kemudian kain itupun telah berputar dan menyambar setiap anak panah yang diarahkan kepadanya.

”Gila,” gerutu Wulungan, namun anak buahnya menyerang terus. Bugel Kaliki berloncat seperti kijang, dan sekali-kali ia menyambar orang-orang terdekat. Namun demikian ia menyerang, sehingga ia terpaksa untuk menangkisnya. Demikianlah pertempuran yang aneh itu berlangsung. Meskipun demikian, hantu yang bongkok itu berhasil pula mendapatkan beberapa orang korban. Sungguh suatu kejadian di luar kemampuan untuk mengatakan, apakah yang sudah dilakukannya. Namun Wulungan dengan anak buahnya berjuang dengan gigihnya. Hanya karena jumlah mereka yang sangat banyaklah maka Bugel Kaliki tidak dapat membunuh mereka.

Apa yang dikatakan oleh Ki Ageng Sora Dipayana ternyata benar. Bugel Kaliki itu benar-benar tidak berkurang tenaganya. Ketika matahari telah mencapai puncaknya, orang itu masih saja segar seperti semula. Untunglah bahwa Wulungan telah mengatur anak buahnya, sehingga mereka tidak menumpahkan seluruh tenaga mereka. Berganti-ganti mereka menempatkan diri mereka di garis pertama, sehingga dengan demikian mereka telah menghemat tenaga mereka. Gupita pun ternyata adalah seorang pemimpin yang baik. Ia dapat menguasai laskarnya sebaik-baiknya. Meskipun orang-orang dari golongan hitam itu menyerbu dengan tak teratur, namun mereka tetap melawan dalam gelar yang baik. Pada dasarnya setiap orang dari golongan hitam itu mempunyai kelebihan dari setiap orang di dalam laskar Gupita, namun karena kerja sama mereka lebih rapi serta jumlah mereka lebih banyak, maka merekapun dapat memberikan perlawanan yang cukup.

Sedang di tempat lain, aku lihat Ki Ageng Sora Dipayana terikat dalam pertempuran melawan Nagapasa. Mereka berdua ternyata memiliki banyak kelebihan daripada manusia biasa seperti aku ini.

Melihat cara Ki Ageng bertempur, aku menjadi bangga hati. Seolah-olah terbayang kembali masa kanak-kanakku. Masa Daerah Perdikan Pangrantunan mengalami masa-masa yang cemerlang. Tak seorangpun yang mengganggu perkelahian kedua orang itu. Baik laskar dari golongan hitam maupun laskar Pamingit. Seolah-olah mereka dibiarkan berbuat sesuka hati mereka. Tetapi aku tak sempat menyaksikan lebih lama. Sebab di hadapanku menyambar-nyambar dengan dahsyatnya Si Bongkok dari Gunung Cerme. Aku tidak mau menjadi korban begitu saja. Karena itu, akupun berusaha untuk melindungi diriku sebaik-baiknya. Bahkan ternyata orang-orang Pamingit itupun tidak membiarkan aku terbunuh tanpa pembelaan.

Setiap Bugel Kaliki mencoba menyambar aku, orang-orang Pamingit itupun selalu melindungi aku dengan panah-panahnya, atau dengan pedang-pedangnya. Demikian pertempuran itu berlangsung sehari penuh. Tak dapat dikatakan siapa yang memperoleh kemenangan, selain korban jatuh satu demi satu dari keduabelah pihak. Pertempuran itupun masih belum berkisar dari medan yang sama. Meskipun keduabelah pihak berusaha keras untuk mendesak lawan-lawan mereka. Orang-orang hitam yang marah itu mencoba mengusir orang-orang Pamingit dari Kepandak, sedang orang-orang Pamingit berusaha untuk mendesak orang-orang hitam itu masuk ke dalam kota, atau meninggalkan Pamingit sama sekali. Namun mereka masing-masing terpaksa mengakui kegigihan lawan. Sehingga ketika matahari telah tenggelam di balik ujung-ujung perbukitan di sebelah barat, terasa betapa letih menyusup ke dalam tubuh. Karena itu, ketika terdengar tanda-tanda untuk menghentikan pertempuran, kedua belah pihak yang telah tenggelam dalam kepayahan yang sangat, segera menarik diri mereka masing-masing.

Orang dari golongan hitam, yang biasanya tidak mengenal waktu untuk bertempur, saat itupun agaknya benar-benar telah kehabisan tenaganya. Merekapun segera menarik pasukan mereka, dan mengundurkan diri dari garis pertempuran.

Hanya Wulungan lah yang agak sulit melepaskan diri dari serangan-serangan Bugel Kaliki. Meskipun malam menjadi semakin gelap. Untunglah bahwa orang tua itupun akhirnya merasa perlu untuk menghentikan pertempuran, sebab di dalam gelap malam, panah-panah orang Pamingit itu menjadi semakin tidak jelas, dan dengan demikian Bugel Kaliki merasa bahwa bahayanya menjadi semakin besar. Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan pertempuran pula. Aku tidak tahu, bagaimana mereka berjanji, sehingga mereka masing-masing meninggalkan medan itu pula. (Bersambung)-o

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 575

DEMIKIANLAH pertempuran di hari pertama itu berakhir. Dan berakhir pula ceriteraku. Malam itu aku mohon ijin untuk meninggalkan Pamingit. Sebab aku telah berjanji dengan Kakang Penjawi. Ki Ageng Sora Dipayanapun tidak menahan. Namun demikian Ki Ageng berpesan, – Jaladri. Sampaikan apa yang kau lihat kepada cucuku. Katakan bahwa hari ini, berapa puluh orang dari Pamingit telah jatuh menjadi korban di Kepandak dan mungkin juga di Sumber Panas. Aku mengharap, sebentar lagi Lembu Sora akan mengirimkan orangnya kemari, mengabarkan apa yang telah terjadi. Tetapi yang pasti, bahwa besok akan jatuh pula korban-korban baru. Aku tidak tahu berapa hari pertempuran akan berlangsung. Dan aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit. Salamku buat cucuku, buat Angger Mahesa Jenar serta sahabat-sahabatnya, serta buat Wanamerta yang setia.

Kalau laskar Pamingit tidak mampu lagi bertahan di Kepandak, kami akan mundur ke Pangrantunan, sedang laskar Lembu Sora harus bergabung pula ke sana. – Suara Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menurun – Entahlah. Apakah aku masih akan dapat bertemu dengan cucuku itu. -

Jaladri mengakhiri ceriteranya. Dari wajahnya terbayang perasaannya yang muram. Agaknya pesan Ki Ageng Sora Dipayana itu sangat berkesan di hatinya. Suasana di pendapa itu menjadi sepi hening. Masing-masing duduk dengan tenangnya. Ada sesuatu yang tersangkut di dalam dada mereka. Sehingga akhirnya suasana sepi itu dipecahkan oleh suara Arya Salaka mengejutkan, ”Apa yang kau lihat di Sumber Panas, Kakang Penjawi?”

Penjawi terkejut. Ia mengangkat wajahnya memandang Arya Salaka. Kemudian diperhatikannya satu demi satu setiap wajah dari mereka yang duduk di pendapa itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam iapun menjawab, ”Aku tidak mengalami pertempuran seperti Adi Jaladri. Namun aku dapat menyaksikan sebagian darinya, sedang sebagian aku dengar dari orang Banyubiru yang telah aku hubungi sebelumnya. Di Sumber Panas, Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti pun mempunyai pekerjaan yang berat. Sebab di antara orang-orang hitam yang harus dilawannya terdapat Sima Rodra, Pasingsingan dan Sura Sarunggi.”

”Ketiga-tiganya berkumpul?” potong Arya.

”Ya, ditambah dengan Lawa Ijo dan Jaka Soka,” sambung Penjawi. ”Gila….” desis Wanamerta.

”Ya…” Penjawi meneruskan, ”Karena itulah maka mereka mengalami tekanan yang luar biasa. Untunglah bahwa orang asing yang diceriterakan oleh Adi Jaladri, benar-benar datang ke Sumber Panas. Dari jauh aku tidak dapat melihat bagaimanakah bentuk tubuh serta wajahnya. Namun dari sekian banyak orang, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa orang itu memiliki kesaktian yang tak ada bandingnya. Ia dapat melawan salah seorang dari tokoh hitam itu seorang diri, sedang Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, masing-masing memerlukan beberapa puluh orang untuk membantunya. Apalagi kelompok-kelompok lain. Mereka harus berjuang mati-matian melawan Lawa Ijo dan Jaka Sora.”

Ketika Penjawi berhenti berceritera, kembali pendapa itu menjadi sepi. Sehingga tarikan nafas mereka yang lebih cepat dari biasa, menjadi semakin terang. Sesaat kemudian Penjawi meneruskan, ”Korban berjatuhan. Namun laskar Pamingit jauh lebih banyak dari laskar golongan hitam itu, sehingga pekerjaan orang dari golongan hitam itupun tidak ringan. Meskipun demikian, tampaklah setapak demi setapak mereka mendesak maju. Ki Ageng Lembu Sora terpaksa menarik diri, dan mempergunakan segenap tenaga cadangan yang ada. Sehingga dengan demikian korbannyapun menjadi semakin banyak.

Meskipun beberapa puluh orang dari golongan hitam itu jatuh pula, namun keadaan laskar Ki Ageng Lembu Sora tak menyenangkan. Kekuatan Ki Ageng Lembu Sora telah dikerahkan ketika matahari telah berada sejengkal di atas punggung bumi. Namun karena tekanan yang dahsyat, maka laskar itupun terpaksa menarik diri. Untunglah bahwa senja turun. Sehingga ketika laskar Pamingit telah mempergunakan kekuatan terakhirnya, jatuhlah malam dengan cepatnya. Sungguh suatu pertolongan yang tiada taranya. Ketika itu, laskar Pamingit telah terpaksa meninggalkan Sumber Panas dan mundur beberapa tonggak ke pedukuhan di belakangnya. Aku sekali lagi mencoba mencari orang-orang Banyubiru yang berjanji akan memberi aku beberapa keterangan. Dari orang itulah aku mendengar bahwa orang asing yang tak kukenal itu mencoba memberi beberapa petunjuk kepada Lembu Sora. Ia mengharap setidak-tidaknya besok pagi, laskar Lembu Sora dapat bertahan di tempatnya. Tetapi aku tidak sempat melihat pertempuran hari ini. Mudah-mudahan orang asing itu dapat memberi sekedar nafas kepada laskar Pamingit.”

Penjawi berhenti berceritera. Sekali lagi ia memandang wajah Arya Salaka. Dilihatnya keringat mengalir dari keningnya. Matanya tajam menatap lantai di hadapannya. Pendapa itu kembali digenggam oleh kesepian. Ceritera Penjawi dan Jaladri menumbuhkan perasaan yang aneh. Tidak saja pada Arya Salaka, tetapi juga setiap hati para pemimpin laskar Banyubiru.

Berkali-kali terngiang di telinga mereka, ”Korban berjatuhan. Korban berjatuhan. Dan korban pada laskar Pamingit itu masih akan bertambah-tambah.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 576

DALAM kediaman itu terdengar Mahesa Jenar bertanya, ”Penjawi atau Jaladri, tahukah engkau bagaimana bentuk tubuh orang yang tak kau kenal itu?”

Penjawi menggeleng, tetapi Jaladri menjawab, ”Sungguh tak tersangka bahwa orang itu mempunyai kesaktian yang mengaggumkan. Tubuhnya tidak lebih gagah dari seorang perempuan. Suaranyapun kecil, nyaring seperti suara perempuan.”

”Titis Anganten…” potong Mahesa Jenar cepat-cepat.

”Orang sakti dari Banyuwangi.”

”Titis Anganten…?” ulang Kebo Kanigara dan Arya Salaka hampir berbareng. ”Ya,” jawab Mahesa Jenar.

”Aku pernah ditolongnya pula dari terkaman Sima Rodra tua.”

”Aku pernah mendengar namanya,” gumam Kebo Kanigara, ”Ayah pernah menyebut-nyebutnya.”

”Ia datang tepat pada waktunya,” sahut Mahesa Jenar.

Lalu suasana menjadi sepi kembali. Masing-masing hanyut dalam angan-angan mereka sendiri. Dalam keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka, ”Nah, kalian telah mendengar apa yang telah terjadi di Pamingit.”

Tak seorangpun yang menyahut. Mereka masih tetap dalam kediaman yang beku. Ketika tak seorangpun yang bersuara, bertanyalah Mahesa Jenar, ”Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya tidak segera menjawab. Ia memandang berkeliling, seolah-olah ia minta pertimbangan dari mereka. Meskipun demikian, otaknya yang cerdas segera menangkap maksud pertanyaan gurunya. Di dalam dadanya selalu berdentang pesan eyangnya kepada Jaladri: Aku tidak tahu apakah kami akan berhasil mengusir orang-orang golongan hitam itu dari Pamingit, dan seterusnya. Entahlah, apakah aku masih dapat bertemu dengan cucuku itu.-

Maka kemudian iapun berkata lantang, ”Nah, apa kata kalian? Bukankah dalam keadaan yang sulit itu, kita dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya? Hari ini kita akan dapat menghancurkan laskar Pamingit itu. Dengan demikian Banyubiru akan menjadi milik kita. Bahkan Pamingit pun kemudian akan kita duduki setelah kita berhasil menumpas laskar dari golongan hitam.”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba terkejut mendengar kata-kata Arya Salaka. Meskipun mereka datang ke perbatasan untuk maksud itu, namun tiba-tiba terasa sesuatu keganjilan di dalam dada mereka.

”Kenapa kalian diam?” tanya Arya Salaka. ”Kesempatan ini tak akan berulang.”

Para pemimpin Banyubiru itu masih diam. Mereka tidak tahu perasaan apa yang bergolak di dalam dada mereka sendiri. Hanya Mahesa Jenar yang kemudian menjadi gelisah. Namun ia masih berdiam diri pula. Ia sedang meraba-raba maksud pertanyaan muridnya itu, dengan suatu kepercayaan yang penuh, bahwa muridnya adalah seorang yang berhati jantan, namun berotak cemerlang. Karena itu ia masih menanti maksud Arya Salaka.

Memang Arya Salaka benar-benar seorang pemuda yang cakap. Ia dapat melihat keadaan dengan cermat. Dalam saat yang pendek, ia dapat merasa bahwa hatinya bergolak ketika ia mendengar ceritera Panjawi dan Jaladri.

Demikian pula agaknya perasaan yang bergetar di dalam dada setiap pemimpin laskar Banyubiru itu. Bagaimanapun mereka membenci dan bahkan mereka telah berjanji untuk berjuang mati-matian mengusir orang-orang Pamingit dari Banyubiru, serta kalau perlu mereka akan saling membunuh untuk mempertahankan kesetiaan mereka, namun demikian, ketika mereka mendengar bahwa orang-orang Pamingit mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam, timbullah perasaan yang lain di dalam diri mereka.

Sebab apapun yang terjadi di antara mereka, permusuhan yang bagaimanapun tajamnya, namun orang Banyubiru dan Pamingit adalah orang-orang dari cabang aliran darah yang sama. Mereka semula adalah orang-orang dari daerah perdikan Pangrantunan. Ayah-ayah mereka, kakek-kakek mereka telah bersama-sama bekerja untuk tanah ini. Banyubiru dan Pamingit.

Bagi orang Banyubiru, orang-orang Pamingit adalah orang-orang yang masih bersangkut paut dengan darah keturunan mereka. Di Pamingit tinggallah kemenakan-kemenakan mereka, atau sepupu mereka atau paman mereka. Demikian pula sebaliknya. Sehingga dengan demikian, apakah mereka akan merelakan darah mereka yang mengalir didalam tubuh saudara-saudara mereka itu memercik dari luka-luka mereka, karena pokal orang-orang golongan hitam? Karena pertanyaan-pertanyaan itulah, maka mereka masih tetap berdiam diri.

Agaknya Arya Salaka telah mengamati keadaan dengan tepatnya. Sekali lagi ia memandang gurunya. Demikian Mahesa Jenar memandang langsung mata muridnya, tahulah ia apa yang tersirat di hatinya. Karena itu iapun menjadi terharu.

Tetapi ia tidak berkata apapun, selain beberapa kali mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang terdengar kemudian adalah suara Arya Salaka. ”Paman-paman sekalian, pemimpin laskar Banyubiru yang setia. Agaknya aku tahu apa yang tersimpan di dalam dada kalian. Ketika aku ajukan beberapa pertanyaan kepada kalian, tetap berdiam diri, sebab kalian tidak menyakini apa yang bergolak didalam dada kalian. Karena itu, cobalah, biar aku menebaknya. Bukankah kalian merasa bahwa kalian tidak rela mendengar ceritera bahwa saudara-saudara kalian terpaksa mengalami tekanan yang berat dari golongan hitam? Bukankah kalian tidak rela bahwa orang-orang hitam itu akan menguasai Pamingit? Gumpalan dari tanah perdikan Pangrantunan yang perkasa? Tanah Perdikan yang dengan susah payah dibangun oleh Eyang Sora Dipayana beserta kakek-kakek serta ayah-bunda kalian?”

Para pemimpin laskar Banyubiru itu masih agak bingung. Mereka belum tahu benar arah pembicaraan Arya Salaka.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 577

AKHIRNYA Arya Salaka berkata dengan terangnya, seperti terangnya matahari di siang yang panas itu. ”Nah, paman-paman sekalian. Yakinlah bahwa aku sependapat dengan kalian. Dengan pertanyaan-pertanyaanku yang pertama, sebenarnya aku hanya ingin mendapatkan keyakinan akan hati nurani kalian. Apakah kalian masih marah dan mendendam kepada saudara-saudara kita dari Pamingit itu. Tetapi ternyata kalian telah menempuh pergolakan perasaan, yang membendung perasaan dendam itu. Memang kita seharusnya tidak mendendamnya, meskipun seandainya saudara-saudara kita dari Pamingit itu masih tetap berada di pendapa ini. Kita datang untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk melepaskan dendam kita.” Para pemimpin laskar Banyubiru itu tiba-tiba menegakkan kepala mereka. Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. ”Kalau demikian…” Arya meneruskan, ”Paman-paman yang perkasa, tinggalkan pendapa ini segera.

Kembalilah ke dalam pasukan kalian, dan siapkanlah mereka. Kita bawa separo dari seluruh laskar Banyubiru ke Pamingit. Kita tempatkan diri di bawah pimpinan Eyang Sora Dipayana untuk menumpas golongan hitam itu. Apakah kalian sependapat?” ”Pasti…!” teriak mereka serentak. ”Kami sependapat. Dan kami segera akan melaksanakannya.” ”Bagus,” potong Arya Salaka. ”Kita akan berangkat segera setelah separo dari laskar kita berkumpul di alun-alun.” Arya tidak perlu mengulangi perintahnya kembali. Para pemimpin itu segera berdiri, dan berloncatan ke halaman.

Segera mereka berada di atas punggung kuda masing-masing, untuk kemudian melesat seperti angin. Mereka ternyata masih menyala rasa kesetiakawanan yang mendalam. Mereka ternyata lebih mendendam kepada golongan hitam, daripada kepada orang-orang Pamingit. Dan sekarang perasaan itu diungkatnya kembali. Sepeninggal mereka, di pendapa itu masih duduk selain Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Endang Widuri, Mantingan, Wirasaba, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Parapat. Kemudian kepada Mahesa Jenar, Arya Salaka berkata, ”Adakah kita yang berada di pendapa ini akan berangkat semuanya?” ”Jangan Arya,” jawab Mahesa Jenar. ”Kita harus berhati-hati.

Bukankah tersebar berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten masih berada di Banyubiru? Kita dapat menduga bahwa kabar itu sengaja disiarkan untuk menimbulkan keributan, namun kita dapat menduga lain. Mungkin mereka benar-benar masih berpendapat bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru. Karena itu biarlah Kiai Wanamerta dan Sendang Parapat yang belum sembuh benar, tinggal di sini, didampingi oleh Kakang Mantingan dan Wirasaba. Selain itu biarlah Wilis tinggal di sini pula.” ”Dan bagaimanakah sebaiknya dengan Endang Widuri?” tanya Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara. ”Aku ikut dengan Paman Mahesa Jenar.” Endang Widuri menyahut sebelum ayahnya menjawab. ”Jangan Widuri,” potong ayahnya, ”Kali ini jangan.

Kita menghadapi lawan yang tak terduga kekuatannya.” ”Aku telah dapat menduganya,” jawab Widuri. ”Laskar Eyang Sora Dipayana hanya terpaut sedikit dari kekuatan Bugel Kaliki di hari pertama. Di hari kedua, kekuatan itu akan lebih banyak mengalami kegoncangan. Katakan bahwa laskar Pamingit mengalami kekalahan dua kali lipat dari hari pertama. Tetapi kekuatan Eyang Sora Dipayana masih lebih dari tigaperempat dari kekuatan lawan. Nah kalau demikian, mereka malam nanti pasti sudah mundur ke Pangrantunan. Dengan tambahan laskar Kakang Arya Salaka yang segar, kekuatan akan berimbang kembali. Lebih-lebih tokoh-tokohnya akan mampu lagi berbuat seenaknya. Dan apakah gunanya ayah ikut serta kalau ayah tidak mampu mengalahkan orang yang bernama Nagapasa, atau Sima Rodra atau Sura Sarunggi?” ”Jangan sesorah panjang-panjang, Widuri,” potong ayahnya.

Sedang orang-orang yang mendengarkan terpaksa tersenyum-senyum. Namun di dalam hati mereka, terasa betapa mereka mengagumi gadis itu. Agaknya ia benar-benar dapat membuat gambaran dari medan di Pamingit dengan perhitungan yang baik. Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara meneruskan, ”Meskipun agaknya kau benar, namun kita harus berhati-hati. Mereka akan berbuat jauh lebih dahsyat daripada yang kau duga, sebab orang-orang dari golongan hitam itu membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan. Bahkan cara-cara yang kadang-kadang melanggar hukum-hukum perikemanusiaan. Meski akan menakut-nakuti kau dengan cara-cara yang tak wajar.” ”Aku tidak takut,” jawab Widuri. (Bersambung)-m

Kebo Kanigara menggelengkan kepalanya, katanya; ” hanya prajurit yang baik yang dapat bertempur melawan golongan hitam.” “Aku prajurit yang baik,” jawab Widuri “Prajurit yang baik akan selalu patuh kepada perintah. Nah dengarlah perintah pemimpin pasukan, Arya Salaka,” sahut ayahnya. Endang Widuri mengerutkan keningnya. Beberapa orang terpaksa tertawa mendengarkan perdebatan itu. Dengan wajah cemberut gadis itu memandang Arya Salaka. Arya Salaka sendiri menjadi bingung. Ia tahu maksud Kebo Kanigara akan tetapi didalam hati kecilnya ingin mengajak gadis itu serta. Entahlah, apa sebabnya. Tetapi diingatnya bahwa bahaya akan datang setiap waktu, maka iapun berpendapat, bahwa sebaiknya Endang Widuri tidak ikut serta. Apalagi Rara Wilispun tidak. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, terdengar Endang Widuri berkata: ” baiklah, baiklah. Aku sudah tahu jawaban kakang Arya Salaka, ia pasti akan berpihak kepada ayah.” Arya Salaka tersenyum.

Kemudian terdengar Widuri meneruskan: ” Biarlah aku tinggal bersama bibi Wilis dan eyang Wanamerta. Bukankah begitu bibi?” “Tentu, kau menemani aku disini,” jawab Wilis. “Dan biarlah paman Mantingan nanti bercerita tentang Bharata Yudha, dan paman Wirasaba akan meniup seruling hingga beringin kurung itu nanti menari-nari bukan begitu paman?,” Wilis meneruskan. “Mudah-mudahan,” sahut Wirasaba sambil tertawa. “Tetapi itu tidak penting, sebenarnya paman Mahesa Jenar yang paling berkeberatan aku ikut serta,” Widuri meneruskan. “Kenapa aku?” sahut Mahesa Jenar. “Bukankah paman menghendaki aku tinggal, menunggu bibi Wilis, supaya bibi Wilis tidak hilang? Paman Mahesa Jenar takut kalau orang yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan datang menjemput bibi, dan…..” Kata-kata Widuri terputus, ia memekik kecil ketika Rara Wilis mencubitnya. “Tobat bibi aduuuuh” Rara Wilis tiba-tiba menundukkan mukanya.

Terasa rona merah yang panas menjalar ke pipinya. “Jangan nakal Widuri,” ayahnya menasehatinya. “Tidak aku tidak nakal lagi, jangan jangan cubit dagingku akan terkupas. Bibi kalau mencubit sakitnya bukan main.” Mau tidak mau Wilis terpaksa tersenyum. Memang WIduri benar-benar nakal. Ia tidak perduli berhadapan dengan siapapun, kalau teringat sesuatu yang menarik hatinya untuk menggoda, iapun berbuatlah. Sementara itu para pemimpin Banyu Biru telah sampai kepasukan masing-masing. Segera mereka mempersiapkan laskar mereka. Separo akan dibawa ke Pamingit.

Mula-mula setiap orang didalam laskar Banyu Biru menjadi heran, mengapa tiba-tiba mereka harus membantu Pamingit. Namun setelah mendapat penjelasan dari para pemimpinnya, merekapun sadar akan tugas itu. Tugas yang harus dikedepankan. Menumpas setiap gerombolan yang menghianati kemanusiaan. Menghianati ketentraman hidup rakyat yang tinggal jauh disekitar daerah mereka. Bahkan tujuan jangka jauh yang telah mereka rintis. Mencari pusaka yang dapat membawa mereka kepada jabatan tertinggi di Demak. Yang tinggal di Banyubirupun segera mempersiapkan diri mereka pula. Mereka mengamati senjata-senjata mereka, apakah senjata mereka telah siap untuk melawan musuh yang berbahaya. Beberapa orang yang harus tinggal di Banyubiru menjadi kecewa.

Sebenarnya mereka ingin turut didalam laskar yang kan pergi ke Pamingit tetapi merekapun sadar bahwa mereka mempunyai tugas yang penting pula di Banyubiru. Demikianlah ketika matahari telah memanjat lebih tinggi lagi diatas pucuk pohon sawo kecik di halaman Banyubiru itu, mulailah ujung laskar Banyubiru memasuki alun-alun. Kelompok demi kelompok. Dari wajah mereka tampaklah betapa besar hati mereka setelah berkesempatan untuk menginjakkan kaki mereka diatas tanah pusaka. Betapa mereka merasakan kenikmatan yang mengetuk ngetuk dada mereka, meskipun terasa bahwa tanah tercinta ini telah mengalami beberapa kemunduran. Tetapi telah beberapa tahun mereka mengasingkan diri, didalam masa-masa yang prihatin, akhirnya mereka dapat menginjakkan kaki mereka dibumi tercinta ini kembali.

Disekitar alun-alun itupun kemudian berduyun duyun rakyat Banyubiru menyaksikan putera putera daerah mereka yang setia, yang selama ini menghilang dari kampung halaman karena tekanan tekanan orang Pamingit. Namun ternyata mereka sekarang datang kembali dengan senjata di tangan. Setelah pasukan itu semuanya memasuki alun-alun, maka berkumpulah setiap pimpinan kelompok laskar itu, dihadapan Arya Salaka. Dengan hati-hati Arya Salaka memberikan beberapa penjelasan kepada mereka apakah sebabnya mereka kini harus menempatkan diri dibawah pimpinan Ki Ageng Sora Dipayana. “Dalam keadaan seperti sekarang ini, ki Ageng Sora memang harus memegang seluruh pimpinan atas Banyubiru dan Pamingit. Tak ada orang lain yang lebih berhak daripadanya. Sedang Ki Ageng Sora Dipayana sekarang sedang berjuang melawan golongan hitam. Namun lawannya terlalu besar. Lawannya memiliki keunggulan yang tak dapat diatasinya. Nah apakah kalian, pewaris tanah perdikan Pangratunan yang kemudian bernama Banyubiru ini akan tinggal diam menyaksikan orang yang cikal bakal tanah ini mengalami bencana ?”.

Terdengar jawaban mbata-rubuh. “Kami bela Ki Ageng Dipayana dengan segenap tenaga yang ada pada kita.”

“Terimakasih, tentunya separo dari kalian akan kubawa ke Pamingit, separo tetap tinggal disini untuk menjaga kemungkinan yang tak kami harapkan di tanah ini. Kemudian, siang hari kalian kami perkenankan untuk beberapa saat meninggalkan pasukan, barangkali kalian inginmelihat sanak keluarga dan orang yang kalian rindukan. Nanti kalau matahari telah membuat bayanganmu sepanjang badan, kalian harus berkumpul kembali di alun alun ini. Aku mengharap, sedikit lewat tengah malam kalian harus sudah berada di Pangrantunan,” kata Arya Salaka.

Ketika penjelasan Arya Salaka itu diberikankepada setiap kelompok oleh para pemimpin kelompok, bersoraklah mereka. Mereka menerima kebijaksanaan Artya dengan sepenuh hati, tidak saja sebagai lajimnya seorang prajurit yang baik. Namun karena ternyata Arya Salaka telah berfikir seperti apa yang mereka pikirkan. Arya tidak menutup mata atas kemungkinan yang ada didalam dada laskarnya. Sebab ia sendiri merasakan, betapa rindunya kepada halamannya, kepada setiap bunga yang berkembang, lebih lagi kepada bundanya. Tetapi sampai saat ini orang yang dirindukannya masih belum diketemukannya. Bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi atas ibunya di Pamingit.

Apakah orang-orang dari golongan hitam itu tidak mengganggunya?. Tiba-tiba Arya menjadi tidak sabar lagi, namun ia sadar tidak bisa membawa laskarnya ke jurang ke kebinasaan, hanya karena dirinya merindukan ibunya. Karena itu, ia telah mencoba menekan perasaannya untuk mempertahankan keseimbangannya sebagai seorang pemimpin. Sesaat kemudian bubarlah barisan yang berada di alun-alun itu. Masing masing berjalan dengan tergesa-gesa, bertebaran ke segenap penjuru Banyubiru. Beberapa orang yang tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang lain, karena hampir seluruh keluarganya telah menyertainya ke Gedongsanga, ingin juga berjalan jalan berkeliling kota melihat-lihat perubahan yang timbul selama kota ini ditinggalkan.

Kadang mereka singgah juga ke rumah kenalan mereka. Namun kenalan mereka telah menerima mereka dengan ketakutan. Jangan jangan laskar Banyubiru ini akan mengganggunya seperti cerita yang selama ini selalu didengar tentang mereka, bahwa laskar Banyubiru tidak lebih dari gerombolan penyamun dan perampok yang hanya mampu membuat kacau dan bencana. Namun setelah mereka mengetahui apa yang telah dilakukan laskar Banyubiru itu yang dengan ramah menyapa mereka, mereka memberi salam gairah seperti dahulu. Sadarlah mereka bahwa laskar Banyubiru adalah laskar yang selama ini berjuang untuk kepentingan mereka. Sisa waktu mereka pergunakan untuk beristirahat. Di bawah pohon-pohon yang rindang, di gardu-gardu dan di tempat yang sejuk. Mereka tidak tahu apakah nanti mereka masih mempunyai waktu untuk beristirahat.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 580

DI PERJALANAN, tak banyaklah yang dipersoalkan oleh Arya Salaka dengan gurunya serta Kebo Kanigara. Angan-angannya lebih banyak dicengkam oleh kegelisahan tentang nasib ibunya. Namun demikian ia tetap dalam keseimbangan yang baik. Dua orang telah diperintahkannya untuk berjalan berkuda mendahuluinya. Mereka harus mengetahui, apakah laskar Pamingit yang dipimpin oleh Wulungan dan Ki Ageng Sora Dipayana berada di Pangrantunan atau di Kepandak.

Untuk menghindari salah paham dengan laskar yang langsung dipimpin oleh Ki Ageng Lembu Sora, Arya Salaka menempuh jalan melingkar agak jauh di sebelah timur Pamingit, langsung menuju ke Pangrantunan. Apabila kemudian laskar itu akan menembus Pamingit, mereka akan datang dari arah tenggara. Ketika malam turun, laskar Arya Salaka telah menembus hutan-hutan yang tipis di sebelah timur Pamingit. Untuk beberapa saat laskar itu beristirahat. Mereka sekadar melepaskan lelah mereka dengan mempersegar tubuh mereka di sumber air yang mereka temui diperjalanan itu. Kemudian mereka masih sempat menikmati bekal yang mereka bawa. Ketupat sambal. Setelah beristirahat sejenak, kembali pasukan itu meneruskan perjalanan.

Bulan di langit separoh bulat telah naik tinggi di atas bukit-bukit yang membujur seperti raksasa yang lelap. Angin malam yang lemah bertiup dari utara mengusap pohon-pohon perdu yang dengan lembutnya. Sedang di kejauhan sayup-sayup terdengar anjing-anjing liar menggonggong berebut makanan. Di tempat yang telah ditentukan, dua orang berkuda, yang ditugaskan oleh Arya Salaka untuk mengamati keadaan, telah menunggu. ”Bagaimana?” tanya Arya kepada mereka.

”Ki Ageng Sora Dipayana telah menarik pasukan ke Pangrantunan,” jawab orang itu. ”Sejak kapan?” tanya Arya Salaka. ”Baru malam ini. Semua tenaga telah dikerahkan. Setiap laki-laki di Pangrantunan telah memanggul senjata,” jawab orang itu. ”Adakah golongan hitam telah menyusul ke Pangrantunan pula?” tanya Arya Salaka lebih lanjut. ”Aku kurang jelas. Namun hal itu mungkin sekali,” jawab mereka. ”Bagaimana dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora?” ”Tak aku ketahui. Namun mereka belum sampai di Pangrantunan sore tadi. Tetapi seorang pengungsi mengatakan bahwa Sumber Panaspun telah dikosongkan.

Laskar Ki Ageng Lembu Sora terdesak hebat sampai mereka terpaksa meninggalkan garis perang dalam keadaan tak teratur.”

Arya menarik nafas panjang. Agaknya kekuatan golongan hitam betul-betul tak dapat dianggap ringan. Suatu gabungan dari sarang-sarang gerombolan yang mengerikan. Alas Mentaok, Nusakambangan, Gunung Tidar, Rawa Pening dan seorang hantu dari Lembah Gunung Cerme. Terbayanglah di dalam angan-angannya, bahwa Pamingit benar-benar sedang dilanda oleh taufan yang maha dahsyat.

Ki Ageng Lembu Sora, yang beberapa saat yang lampau dapat bekerja sama dengan mereka, akhirnya sampailah saatnya ia digilas oleh arus hitam yang mengerikan itu, karena orang-orang dari golongan hitam itu sadar, bahwa Lembu Sora adalah suatu usaha saling memperalat semata-mata. Bukan suatu kerja sama yang tulus. Tetapi kini golongan hitam itu benar-benar salah hitung. Mereka mengharap Ki Ageng Lembu Sora terpaksa membagi laskarnya. Sebagian menghadapi laskar hitam itu, dan sebagian menghadapi laskar Arya Salaka. Mereka mengharap bahwa dengan demikian, menggilas Pamingit akan sama mudahnya seperti menggilas ranti, untuk kemudian menghantam hancur sisa-sisa laskar Arya Salaka dan Lembu Sora yang parah di Banyubiru.

Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kejernihan dan ketulusan hati Arya Salaka merupakan badai yang berhembus dengan dahsyatnya, memporakporandakan rencana mereka. Arya Salaka kemudian memerintahkan laskarnya untuk mempercepat perjalanan. Hatinyapun menjadi semakin risau, apakah kira-kira yang telah terjadi di Pamingit dan apakah yang telah terjadi dengan ibunya? Ia menjadi cemas. Terbayanglah di dalam rongga matanya orang-orang seperti Pasingsingan, Sima Rodra dan sebagainya, dengan kasarnya memasuki setiap ruang rumah pamannya di Pamingit.

Apakah ibunya diketemukan di rumah itu pula oleh mereka? Mudah-mudahan Tuhan memberikan perlindungan kepadanya. Hampir tengah malam, laskar Arya Salaka telah mendekati Pangrantunan dari arah utara. Dari jauh mereka telah melihat beberapa kelompok perapian yang menyala di sekitar desa itu. Karena itu segera Arya Salaka menghentikan laskarnya untuk menghindari kesalah-pahaman. Kepada gurunya ia berkata, ”Paman, bukankah sebaiknya aku menghadap Eyang Sora Dipayana lebih dahulu?”

Mahesa Jenar mengangguk, jawabnya, ”Baik Arya, sebab di malam yang samar-samar demikian ini, akan mudah sekali timbul salah mengerti. Laskar eyangmu itu mungkin sama sekali tak akan menduga bahwa kau akan datang membantu mereka.”

Kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Arya Salaka berjalan mendahului, untuk melaporkan kehadirannya bersama laskarnya kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Beberapa tonggak dari Pangrantunan, segerombol pengawal menghentikan mereka. Dengan penuh kewaspadaan para pengawal itu menyapa mereka dengan pertanyaan sandi. ”Ke manakah mulut gua menghadap?”

Arya tidak tahu bagaimana harus menjawab, karena itu ia berkata terus terang, ”Aku bukan dari laskar Pamingit.” ”Dari golongan hitam?” bentak para pengawal itu, dan bersamaan dengan itu tombak-tombak mereka segera mengarah ke dada Arya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Arya menggeleng, jawabnya, ”Bukan Ki Sanak. Kalau aku dari golongan hitam, apakah agaknya aku akan bunuh diri?”

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja 581

”SIAPAKAH kalian?” tanya salah seorang daripada para pengawal itu.

”Dari Banyubiru,” jawab Arya.

”Banyubiru…? Siapa…?” desak mereka. Arya Salaka termenung sejenak, apakah ia harus mengatakan dirinya…? Dengan demikian, laskar Pamingit yang tak dapat berpikir panjang akan menuduhnya memata-matai mereka untuk selanjutnya memukul mereka dari belakang. Dalam keragu-raguan itu terdengar orang Pamingit mendesaknya kembali, ”Siapa?”

Mahesa Jenar lah yang kemudian menyahut, ”Kami adalah utusan dari Angger Arya Salaka. Ada pesan yang harus kami sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana.”

Orang itu masih ragu. Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, ”Apakah pesan itu? Dan adakah kau membawa pembuktian diri bahwa kau orang Banyubiru? Kalau kau dapat menyatakan dirimu sekalipun, apakah jaminanmu bahwa kau tak bermaksud jahat?”

Setelah berpikir sejenak, Mahesa Jenar menjawab, ”Kau dapat bertanya apa saja tentang Banyubiru. Kami akan menjawab sebagaimana anak daerah yang mengetahui segala sesuatu mengenai daerahnya.” ”Kemudian apakah jaminan bahwa kau tidak akan berbuat hal yang merugikan laskar kami?” tanya pengawal itu.

”Kami hanya bertiga. Apakah yang dapat kami lakukan? Bawalah kami menghadap Ki Ageng Sora Dipayana. Di hadapan orang tua itu, kami tak akan mungkin berbuat sesuatu,” jawab Mahesa Jenar. ”Tetapi kau bersenjata,” kata pengawal itu sambil menunjuk Kyai Bancak yang digengam Arya erat-erat.

”Tombak ini justru bukti kebenaran kami. Ki Ageng Sora Dipayana segera akan mengenal tombak ini, dan mempertanyai kami bahwa kami benar-benar utusan Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.

Para pengawal itu berpikir sejenak. Mereka memang pernah mendengar, bahwa Arya Salaka memiliki tombak yang sakti, berrnama Kyai Bancak. Ketika mereka melihat mata tombak yang seolah-olah bercahaya kebiru-biruan di dalam siraman cahaya bulan, maka percayalah mereka bahwa tombak itulah yang bernama Kyai Bancak sebagai pertanda kebesaran Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Ketika Mahesa Jenar melihat para pengawal itu ragu, ia mendesak, ”Bawalah kami kepada Ki Ageng Sora Dipayana. Kalau kami bermaksud jahat, kami pasti tidak akan menempuh jalan ini. Apalagi di antara kami bertiga hanya seorang yang bersenjata. Itu saja karena kami ingin membuktikan bahwa kami benar-benar utusan Angger Arya Salaka.”

Para pengawal itu akhirnya percaya, bahwa tiga orang itu pasti tak akan bermaksud jahat. Karena itu maka segera salah seorang di antara mereka berkata, ”Bawalah orang-orang ini menghadap Ki Ageng.” Kepada Mahesa Jenar ia berkata, ”Jangan berbuat hal-hal yang dapat menyelakakan dirimu sendiri. Di sekitar daerah ini bertebaran ratusan pengawal dari Pamingit yang akan dapat memenggal lehermu di setiap tempat dan di setiap saat.”

”Baiklah Ki Sanak,” jawab Mahesa Jenar, ”Aku akan taat kepada pesanmu itu, sebab aku masih ingin dapat kembali dengan selamat ke Banyubiru.”

Kemudian dengan diantar oleh lima orang bersenjata tombak, Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dibawa langsung ke Pangrantunan. Di ujung desa itu, di dalam sebuah pondok yang sedang, tampaklah penjagaan yang lebih rapi daripada tempat-tempat yang lain. Dengan demikian segera dapat dikenal, bahwa di rumah itulah Ki Ageng Sora Dipayana serta pimpinan laskar Pamingit itu berada. Setelah melalui beberapa penjagaan, maka akhirnya seseorang langsung menyampaikan berita tentang kehadiran tiga orang Banyubiru itu kepada Ki Ageng Sora Dipayana.

”Siapakah mereka?” tanya Ki Ageng. ”Belum kami ketahui namanya, Ki Ageng,” jawab orang itu. ”Apakah mereka bersenjata?” tanya Wulungan yang mendengar laporan itu. ”Hanya seorang, yang dua orang sama sekali tidak,” jawab pengawal itu. Wulungan mengangkat keningnya, kemudian kepada Ki Ageng Sora Dipayana ia bertanya, ”Apakah aku yang menerimanya?”

”Biarlah, bawalah kemari,” jawab orang tua itu. Akhirnya pengawal itu membawa Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masuk ke dalam pondok itu. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan melihat Arya, merekapun menjadi terkejut. Dengan serta merta Ki Ageng Sora Dipayana menyapanya, ”Kau Arya.” Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengangguk hormat.

”Ya, Eyang,” jawab Arya. Dengan pertanyaan yang melingkar-lingkar di dalam rongga dada, orang tua itu mempersilahkan tamunya bertiga untuk duduk di atas tikar, di bawah cahaya obor yang samar-samar. Namun meskipun demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat menangkap, betapa perasaan orang tua itu bergolak. ”Kedatangan kamu mengejutkan kami di sini, Arya,” kata kakeknya perlahan-lahan. ”Apakah kau mempunyai keperluan yang tak dapat ditunda lagi sampai persoalanku dengan orang-orang dari golongan hitam itu selesai?”

Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo kanigara segera menangkap kecemasan hati Ki Ageng Sora Dipayana. Agaknya orang tua itu menjadi gelisah, kalau Arya Salaka kemudian mengubah pendiriannya tentang tuntutannya atas Banyubiru.

“Kapankah kira-kira persoalan Eyang akan selesai?” tanya Arya.

Ki Ageng Sora Dipayana menggelengkan-gelengkan kepalanya, jawabnya, “aku tidak tahu Arya. Besok, lusa atau seminggu, dua minggu lagi. Seandainya persoalan ini selesai, akupun tidak dapat membayangkan bentuk penyelesaiannya. Apakah orang-orang dari golongan hitam itu akan dapat aku usir dari Pamingit atau kamilah yang harus binasa dalam pelukan kewajiban kami.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Perasaan ibanya kembali melonjak-lonjak. Karena itu kemudian ia berkata, “Dapatkah aku ikut mempercepat penyelesaian ini Eyang?”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. Diangkatnya wajahnya yang telah dipenuhi oleh jalur-jalur umurnya, namun kesegaran dan kewibawaan yang terpancar dari wajah itu mengesankan bahwa Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang berjiwa besar dan penuh dengan pengalaman hidup. Tetapi kali ini orang tua itu tidak segera dapat mengerti maksud Arya Salaka. Dengan pandangan yang dipenuhi oleh persoalan-persoalan ia bertanya, “Apakah yang akan kau lakukan Arya?”

Arya Salaka menggeser tempat duduknya, ia tidak segera menjawab, tetapi ia memandang saja kepada gurunya. Agaknya ia minta kepada Mahesa Jenar untuk menyampaikan maksudnya kepada kakeknya, supaya segala sesuatu dapat menjadi jelas, karena ia merasa bahwa ia tidak pandai untuk menyampaikan perasaan dengan kata-kata. Mahesa Jenar menangkap maksud Arya Salaka, dan karenanya ia menganggukkan kepalanya.

Tetapi sebelum Mahesa Jenar berkata, terdengarlah suara riuh diluar pondok itu.

“Ada apa diluar?” tanya Ki Ageng sora Dipayana. Kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Setelah duduk bersila dengan hormatnya, ia berkata, “Ki Ageng, laskar Ki Ageng Lembu Sora yang terpaksa ditarik mundur telah datang.”

Orang tua itu menarik napas dalam-dalam, Sambil mengangguk- angguk ia berkata, “Di manakah Lembu Sora dan Sawung Sariti?”

“Sedang menuju kemari,” jawab orang itu.

“Baiklah,” sahut Ki Ageng Sora Dipayana pendek. Sebelum orang itu keluar, masuklah orang yang dikatakannya. Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Pakaian mereka yang bagus telah menjadi kotor dan kumal. Sedang wajah mereka yang dilapisi oleh debu berminyak tampak membayangkan betapa perasaan mereka bercampur baur bergolak dalam dada mereka. Kedua orang itu terkejut sekali ketika mereka melihat Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di dalam ruangan itu. Tetapi sebelum mereka menyapanya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, “Bagaimana dengan laskarmu?”

Lembu Sora menggeram.

“Terpaksa aku tarik kemari,” jawabnya.

“Seluruhnya?” tanya ayahnya pula.

“Ya.” Ia masih ingin berkata lagi, namun agaknya ia menjadi ragu. Karena itu sekali lagi ia memandang Arya Salaka dengan tajamnya. Kemudian terdengar ia bertanya kasar, “Ada apa anak itu kesini?”

“Duduklah.” Ki Ageng Sora Dipayana menyilahkan. “Biarlah kita berbicara. Aku belum sampai pada pertanyaan itu.”

Dengan segan Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

Namun mereka masih memandang Arya dengan sorot mata yang asing. “Aku sedang bertanya kepadanya. ” Ki Ageng Sora Dipayana berkata setelah Lembu Sora dan Sawung Sariti duduk.

“Kau akan memaksakan kehendakmu ketika kami sedang dalam kesulitan, kakang Arya.” Sawung Sariti mendahuluinya. Arya Salaka memandang adik sepupunya dengan sudut matanya, namun ia tidak menjawab.

“Nah, Arya. Berkatalah, apakah maksud kedatanganmu kemari.” Ki Ageng Sora Dipayana menengahi.

Kembali Arya memandang gurunya. Dan kembali Mahesa Jenar sadar bahwa muridnya memerlukan bantuannya. Tetapi sebelum Mahesa Jenar menjawab, terdengarlah Ki Lembu Sora berkata, “Jangan ragu-ragu. Katakan apa yang tersirat di dalam hatimu. Sebenarnya kami tidak perlu bertanya lagi. Terlihat dari wajahmu. Sebab apa yang tersirat didalam hati, pasti akan terbayang pada tata lahir. Lihatlah betapa kelam warna wajah-wajah kalian, pakaian kalian dan laskar kalian. Apakah kalian memungkiri bahwa kalian termasuk di dalam deretan golongan hitam?”

Betapa tersinggungnya hati Arya Salaka dan Mahesa Jenar mendengar kata-kata itu. Tanpa sesadarnya Mahesa Jenar mengamati warna pakaiannya. Hijau gadung. Memang betapa kelam warna itu. Dan ketika tiba-tiba matanya terlempar kepada baju Arya, ia menarik nafas dalam-dalam. Arya Salaka mengenakan baju pendek sangat sederhana.

“Hmm….” Terdengar ia menggeram. Tetapi sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba terdengarlah Kebo Kanigara berkata dengan sarehnya.

“Ki Ageng Lembu Sora. Janganlah Ki Ageng mempersoalkan pakaian-pakaian kami. Kesederhanaan bentuk lahiriah bukanlah karena kekelaman hati. Betapa tenang warna hijau gadung yang gelap dan betapa sederhananya pakaian Arya Salaka dan laskarnya. Ki Ageng, jangan biasakan membaca batin seseorang pada tata lahirnya yang nampak. Seseorang yang yang berpakaian indah, dengan tretes intan berlian, apakah pasti bahwa ia berhati indah ? Sedangkan mereka dalam tata lahirnya nampak kelam dan jelek, apakah Ki Ageng pasti bahwa hatinya hitam?”

Tiba-tiba terdengar Ki Ageng Lembu Sora tertawa nyaring. Sedangkan Sawung sariti mencibirkan bibirnya dengan penuh hinaan. Katanya, “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Benar Ki Ageng,” sahut Kebo Kanigara. “Sebuah dongeng yang bagus.”

“Sekarang katakan keperluanmu,” potong Lembu Sora dengan tidak sabarnya. “Menuntut balas ? Menuntut supaya Lembu Sora dipenggal lehernya atau apa ? Kalian benar-benar dapat kembali gunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian kau dapat memiliki Banyubiru, dan Pamingit akan kau jadikan sebagai hadiah buat golongan hitam itu.”

Tubuh Arya Salaka tiba-tiba menjadi bergetar. Ia menjadi sangat kecewa mendengar kata-kata pamannya. Namun demikian terdengan Kebo Kanigara merkata-kata dengan tenangnya, “Ki Ageng. Memang kadang-kadang terjadilah hal-hal diluar dugaan wajar. Tetapi sebenarnya tidak perlu Ki Ageng menjadi heran maupun curiga. Aku juga pernah mendengar sebuah cerita yang menarik. Cerita anak-anak bersumber pada cerita Panji. Meskipun Candrakirana selalu mendapat perlakuan yang tidak baik dari orang-orang yang ditemuinya, baik dalam cerita Klenting Kuning maupun dalam cerita Limaran dan lain-lain, namun ia tidak pernah mendendamnya. Bahkan akhirnya ketika ia mendapatkan kamukten-nya kembali, orang-orang yang pernah mendurhakainya itupun dimuliakannya pula.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Cepat-cepat ia mendahului Lembu Sora, “Mudah-mudahan aku dapat menduga maksud cerita itu. Nah, cucuku Arya Salaka, katakan apa maksud kedatanganmu.”

Dada Arya Salaka masih tergetar oleh perasaan kecewa. Karena itu Mahesa Jenar mewakilinya, “Ki Ageng, Arya Salaka datang dengan laskarnya. Sebagai bakti seorang cucu kepada pepundhen-nya. Ia bersedia menempatkan dirinya di bawah pimpinan Ki Ageng untuk ikut serta mengusir golongan hitam itu.”

Pondok kecil itu seolah-olah menjadi tergetar oleh kata-kata itu. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa demikianlah maksud kedatangan anak itu. Ki Ageng Lembu sora seketika itu terdiam seperti patung. Ada sesuatu yang tiba-tiba bergelora didalam rongga dadanya. Sesaat ia kehilangan kesadaran diri. Seperti ia sedang terbang didunia mimpi. Dengan susah payah ia berusaha untuk meyakinkan pendengarannya.

Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana kemudian menundukan wajahnya. Keluhuran hati anak itu telah memukul jantungnya sedemikian hebatnya sehingga tiba-tiba tanpa sesadarnya, dari matanya mengembanglah air mata, yang menetes satu-satu diatas pangkuannya. Sebagai seorang laki-laki, Ki Ageng Sora Dipayana telah mengalami kesulitan, penderitaan dan kepahitan. Namun ia tak pernah membiarkan perasaannya hanyut dan tenggelam dalam kesulitan itu. Sekarang, tiba-tiba ia tak mampu menguasai diri, sehingga satu-satu jatuhlah air matanya. Untuk sesaat ruangan itu terlempar ke dalam kesepian. Hanya nafas mereka yang saling memburu, terdengar sedemikian jelasnya.

Diluar, terdengarlah derap para pengawal hilir mudik melakukan kewajibannya dengan tertib. Kemudian dengan gemetar terdengar suara Ki Ageng Sora Dipayana, “Arya, coba ulangilah kata-kata Angger Mahesa Jenar, supaya aku menjadi yakin karenanya.”

“Benar Eyang’” jawab Arya, “Aku datang dengan laskarku. Aku ingin menunjukkan, apakah yang dapat aku serahkan sebagai tanda baktiku kepada orang tuaku. Sebagai pernyataan terima kasih serta sebagai suatu kenyataan atas adaku.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi semakin terharu karenanya. Sambil mengangguk-angguk kepalanya ia memandangi anaknya, Lembu Sora yang masih duduk kaku di tempatnya. “Kau dengar Lembu Sora ?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana.

Lembu Sora seperti orang yang tersadar dari mimpinya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Matanya yang mula-mula memancarkan kemarahan tiba-tiba menjadi pudar. Ia ingin menyatakan perasaannya yang bergelora di dalam dadanya, namun yang keluar dari mulutnya dengan suara yang bergetar hanyalah,

“Ya, aku dengar ayah.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya, “Dimanakan laskarmu sekarang, Arya ?”

“Beberapa tonggak di sebelah utara desa ini, Eyang.” Jawabnya.

“Bawalah mereka mendekat, supaya segala perintah dapat tersalur dengan cepat sebaik-baiknya,” perintah Ki Ageng Sora Dipayana.

“Baik, Eyang’” jawab Arya. Kemudian iapun berdiri dan mohon diri untuk membawa laskarnya masuk ke Pangrantunan. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tinggal bersama-sama dengan eyangnya di pondok itu.

Di halaman, Arya Salaka terkejut ketika seseorang menggamitnya sambil berkata, “Aku turut dengan tuan, supaya tidak terjadi salah pengertian dengan laskar Ki Ageng Lembu Sora.”

Baru Arya Salaka sadar bahwa ia berada di daerah peperangan antara laskar-laskar yang pernah berhadapan sebagai lawan yang hampir saja menumpahkan darah. Ketika ia menoleh, Wulungan berjalan di belakangnya.

“Terima kasih Paman Wulungan.” Jawabnya.

Kemudian mereka berdiam diri dan berjalan dalam keremangan cahaya bulan muda yang telah hampir tenggelam. Beberapa orang penjaga mengangguk hormat ketika mereka melihat Wulungan lewat di depan mereka. Di pinggir desa Pangrantunan, Arya Salaka melihat laskar yang berserak-serak.

Nampak betapa parah keadaan mereka. Beberapa orang yang luka masih belum terawat dengan baik.

“Kakang Wulungan ?” sapa salah seorang dari mereka.

“Ya, “ jawab Wulungan.

“Bagaimana keadaan laskarmu ?”

“Parah, “ jawab orang itu. “Keadaan kalian disini agaknya masih lebih baik.”

“Demikianlah,” sahut Wulungan, “Tetapi besok atau lusa kita akan mengalami keadaan yang sama.”

Serial Bersambung 08 Oktober 2000
Diambil Dari Harian Kedaulatan Rakyat-Yogyakarta NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja

No. 584

ORANG itu tertawa. Seram sekali. Tawa yang sama sekali tidak sedap, sebagai pelepas kejengkelan dan kemarahan. Hati Arya berdesir ketika ia mengenal orang itu kembali. Ia pernah melihatnya beberapa tahun yang lampau di Gedangan. Namun ia berdiam diri. Ketika mereka sudah meninggalkan laskar itu, bertanyalah Arya, ”Paman Wulungan, benarkah orang tadi bernama Galunggung?”

”Ya. Dari siapa Angger mengenalnya?” sahut Wulungan.

”Ia termasuk orang baru di dalam laskar kami. Baru beberapa tahun. Namun karena sifatnya yang disukai oleh Angger Sawung Sariti, ia cepat sekali menanjak ke tempatnya yang sekarang. Pengawal pribadi Angger Sawung Sariti.”

Kemudian kembali mereka berjalan sambil berdiam diri. Angin malam masih mengalir perlahan-lahan membawa udara yang sejuk. Di langit, bintang-bintang berkedip-kedip dengan cerahnya. Tiba-tiba terdengar kembali suara Wulungan, ”Angger….”

Arya Salaka menoleh, namun tidak menjawab. ”Beruntunglah laskar Banyubiru mendapat seorang pemimpin seperti Angger ini.” sambung Wulungan. Arya mengerutkan keningnya, ”Kenapa Paman?” ”Sudah lama aku mengagumi kejantanan Angger. Agaknya sifat-sifat ayahanda Gajah Sora tercermin di dalam hati Angger. Apalagi Angger mendapat asuhan dari seorang yang mengagumkan dalam perjalanan hidup Angger selama ini, sehingga dengan demikian sempurnalah sifat-sifat kepahlawanan di dalam tubuh Angger. Orang setua aku inipun tak akan membayangkan bahwa pada suatu ketika Angger datang dengan laskar yang segar untuk kemudian membantu pamanda dalam kesulitan ini. Alangkah jauh bedanya sifat-sifat itu dengan sifat-sifat Angger Sawung Sariti.”

”Jangan memuji, Paman,” sahut Arya Salaka.

”Aku berkata atas keyakinan,” jawab Wulungan, ”Aku adalah salah seorang dari laskar Angger Sawung Sariti itu.”

Arya tersenyum mendengar pujian itu. Ia sama sekali tidak membanggakan diri karena sifat-sifat yang baik dan dikagumi orang, tetapi ia berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa, bahwa karena kuasa-Nya, maka ia selalu mendapat petunjuk-petunjuk dan mendapat sinar terang di hatinya. Selalu diingatnya sebuah ceritera yang pernah diceriterakan oleh gurunya, tentang dua orang hamba seorang raja dan yang seorang adalah pemungut pajak yang kejam. Ketika mereka berdua bersama-sama menghadap raja, maka berkatalah penghulu istana, -Maha Raja yang bijaksana.

Aku adalah orang yang sebaik-baiknya di kerajaanmu. Aku selalu berbaik hati kepada rakyatmu dan memberikan kepada mereka hadiah-hadiah yang berharga, sehingga dengan demikian segenap rakyatmu akan mencintai aku. Karena itu, kalau Maha Raja akan memberi hadiah kepada hambanya, maka akulah orangnya yang paling pantas untuk menerimanya.- Sedang pemungut pajak itu kemudian bersujud di bawah kaki Maha Raja yang bijaksana itu, katanya, -Duh Maha Raja yang bermurah hati. Aku adalah orang yang sejahat-jahatnya di kerajaanmu. Aku telah menjalankan pekerjaanku dengan lalimnya karena aku inginkan pujian dari atasku. Karena itulah maka rakyat di kerajaanmu sangat membenci aku. Namun Maha Raja yang bijaksana, karena itulah aku akan bertobat.

Dan aku akan menerima hukuman yang akan ditimpakan kepadaku atas kelalaianku itu.- Ketika kemudian Raja yang bijaksana itu memberikan hadiahnya, maka pemungut pajak itulah yang berhak menerimanya. Bukan penghulu istana. Kemudian ternyatalah bahwa pemungut pajak itu benar-benar bertobat dan membagi-bagikan hadiahnya kepada mereka yang pernah dicederainya, sedang penghulu istana kemudian berontak terhadap raja, hanya karena ia tidak menerima hadiah. Sebab kebaikan yang dilakukan selama itu hanyalah terdorong oleh keinginannya untuk menerima hadiah. Demikianlah Arya Salaka menerapkan ceritera itu dalam hidupnya sehari-hari. Kebaikan dan keikhlasannya berkorban bukanlah semata-mata karena jiwa pengabdiannya serta kesetiaannya pada kewajibannya.

Beberapa langkah kemudian sampailah mereka di pusat pengawalan. Ketika mereka melihat Wulungan dan seorang lain lewat, segera pemimpin pengawal itu membungkuk hormat kepadanya sambil menyapa, ”Kakang Wulungan…?”

”Ya,” jawab Wulungan, ”Bagaimana keadaannya?”

”Selama ini baik, Kakang,” jawab orang itu.

”Tak ada yang mencurigakan?” tanya Wulungan pula. ”Tidak Kakang,” jawab orang itu. ”Bagus. Aku akan pergi sebentar. Menjemput laskar Banyubiru,” sahut Wulungan.

”Laskar Banyubiru…?” Orang itu menjadi heran. Bahkan beberapa orang lainpun menjadi keheranan pula sehingga mereka mendesak maju.

”Ya,” jawab Wulungan sambil memperhatikan wajah-wajah yang kecemasan itu. Beberapa orang menjadi saling berpandangan. Berita kedatangan laskar Banyubiru itu bagi mereka seakan-akan bunyi kentong pelayatan atas jenazah mereka. Melihat kegelisahan yang membayang itu Wulungan menyambung kata-katanya, ”Mereka akan datang membantu kita.”

”He…?” terdengar mereka berteriak terkejut.

”Membantu kita atau membinasakan kita?” Para pengawal itu masih ingat dengan jelas beberapa hari yang lalu mereka sudah berhadapan dengan laskar Banyubiru itu dengan kesiapan-kesiapan tempur. ”Percayalah kepadaku. Mereka datang untuk membantu kita menumpas golongan hitam itu.” Wulungan menjelaskan.

”Suatu harapan yang akan mengecewakan,” sahut pemimpin pengawal itu.

”Dengarlah sendiri apa yang dikatakan oleh pemimpin laskar Banyubiru itu,” berkata Wulungan. ”Pemimpin laskar Banyubiru? Siapakan dia dan di manakah dia?” tanya beberapa orang bersama-sama. ”Arya Salaka. Inilah orangnya,” jawab Wulungan.

DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja
No. 585

KEMBALI mereka terkejut. Orang itulah yang tadi datang bersama-sama dengan dua orang lainnya, yang mengatakan bahwa mereka adalah utusan Arya Salaka. Ternyata anak muda yang membawa tombak itu sendirilah yang bernama Arya Salaka. Ketika mereka masih keheranan, terdengarlah Arya Salaka berkata, ”Jangan berprasangka. Aku datang untuk membantu kalian. Bukankah kalian seperti kami juga dari Banyubiru, adalah pewaris Tanah Perdikan Pangrantunan?”

Wajah-wajah yang sudah pucat karena putus asa itu tiba-tiba menjadi berangsur merah. Saat-saat terakhir mereka hanya dapat menunggu sampai tangan-tangan hitam itu membinasakan mereka satu demi satu. Tetapi tiba-tiba terulurlah tangan Arya Salaka untuk menyelamatkan mereka. Karena itu tiba-tiba melonjaklah keharuan di dada mereka. Sehingga tanpa sesadarnya pemimpin pengawal itu segera berjongkok di hadapan Arya sambil berkata, ”Tuan, Tuan datang sebagai datangnya malaikat yang akan menyelamatkan kami, tanah kami serta kebesaran nama Pangrantunan.”

”Aku datang sekadar menetapi kewajiban,” sahut Arya sambil menarik lengan orang itu. ”Berdirilah,” katanya. Orang itu kemudian berdiri. Tetapi kepalanya tertancap jauh ke tanah dekat di ujung ibu jari kakinya. Terlintas di dalam kepalanya, kepahitan hidup yang dialaminya bersama-sama laskar Lembu Sora yang lain. Kecurangan, kenaifan dan sifat-sifat yang lain. Sekarang terasa betapa jujur kata-kata anak muda itu. Arya Salaka yang selama ini dikejar-kejar oleh laskar Pamingit untuk dibunuhnya. Oleh kenangan itu terasa bahwa mulutnya tiba-tiba seperti tersumbat. Banyak sekali terima kasih yang akan diucapkan, namun tak sepatah katapun yang terlahir. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Wulungan, ”Kami akan berjalan. Perintahkan kepada para pengawal untuk tidak berbuat hal-hal yang dapat menimbulkan salah mengerti antara laskar Pamingit dan laskar Banyubiru. Kami seterusnya akan bersama-sama berjuang untuk tanah kami.”

”Baik Kakang,” jawab pemimpin pengawal itu. Arya Salaka bersama-sama Wulungan kemudian meneruskan perjalanannya, menjemput laskar Banyubiru yang ditinggalkan beberapa tonggak dari Pangrantunan. Berita tentang akan datangnya laskar Banyubiru itupun segera tersebar. Dalam waktu yang sangat singkat. Setiap pengawal yang bertugas telah mendengarnya. Berbagai tanggapan bergelut di dalam dada mereka. Setengahnya mereka tidak percaya, sedang setengahnya menjadi gembira. Kalau pada umumnya mereka telah berputus asa, tiba-tiba timbullah harapan dan gairah mereka kembali atas tanah mereka. Meskipun mereka belum yakin bahwa di dalam laskar Banyubiru itu ada orang-orang yang tangguh seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti, apalagi seperti Ki Ageng Sora Dipayana dan pendatang yang aneh, yang mirip dengan perempuan dan bernama Titis Anganten.

Namun setidak-tidaknya nasib mereka berbagi. Di dalam pondok kecil masih berkumpul Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tiba-tiba timbullah keinginan Ageng Sora Dipayana untuk melihat laskar Banyubiru itu. Apakah mereka akan dapat memberikan bantuan yang berarti. ”Marilah kita lihat laskar Arya itu,” katanya. ”Marilah Ki Ageng,” jawab Mahesa Jenar.

Tiba-tiba Sawung Sariti tersenyum. Senyum yang kecut, sambil berkata, ”Ayah, dapatkah anak itu kami percaya?” Mata Lembu Sora masih saja membayangkan kekeruhan hatinya. Sebenarnya ia melihat betapa wajah kemanakannya benar-benar meyakinkan, bahwa anak itu telah berkata dengan jujur. Karena itu ia tidak dapat menjawab pertanyaan anaknya. Yang terdengar adalah jawaban Ki Ageng Sora Dipayana, ”Kau terlalu dihantui oleh perasaanmu sendiri cucuku. Percayalah kepada kakangmu. Aku yang menjadi jaminannya.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora berkata pula, ”Aku mempercayainya Sawung Sariti.”

Mata Sawung Sariti menjadi redup. Senyum yang aneh membayang di bibirnya. Tiba-tiba Mahesa Jenar menjadi muak melihat senyum itu, mirip benar seperti senyuman Jaka Soka dari Nusakambangan.

Namun demikian ia tidak berkata apa-apa. Mereka semuanya kemudian melangkah keluar pondok itu dan berjalan untuk melihat laskar Arya Salaka yang akan datang masuk ke Pangrantunan. Mereka untuk sementara akan ditempatkan di halaman Banjar Desa untuk menunggu tempat yang lebih baik bagi laskar itu, seperti juga laskar Lembu Sora yang masih belum mendapat penampungan yang baik. Ketika Arya Salaka tampak mendatangi laskarnya, segera Bantaran dan Penjawi menyongsongnya, sambil berkata, ”Bagaimana Angger?” ”Kami dapat diperkenankan memasuki desa Pangrantunan, Paman. Dan inilah Paman Wulungan,” jawab Arya Salaka.

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

586

BANTARAN menganggukkan kepalanya, demikian juga Penjawi yang segera dibalas oleh Wulungan. ”Aku mengucapkan selamat atas kedatangan kalian,” sambut Wulungan dengan ramahnya.

”Terima kasih,” jawab Bantaran. Ketika kemudian muncul Jaladri diantara mereka, berkatalah ia kepada Wulungan dengan akrabnya, seperti kepada sahabatnya yang karib.

”Selamat malam Wulungan. Sudahkah kau sediakan makan malam buat kami?” Nasib mereka dalam sehari, pada saat-saat mereka bertempur melawan Bugel Kaliki, telah membentuk persahabatan yang akrab di antara mereka. Dengan tertawa Wulungan menjawab, ”Tentu Jaladri. Tetapi sayang bahwa kau tak akan mendapat bagian.”

Jaladri kemudian tertawa. Ketika kemudian segala sesuatu telah dipersiapkan, maka segera laskar itupun berangkat memasuki desa Pangrantunan. Bagaimanapun juga, di dalam dada laskar Banyubiru itu, masih juga tersangkut rasa persaingan dengan laskar Pamingit. Meskipun kemudian mereka tidak akan bertempur, namun di hati Bantaran, Penjawi, Jaladri dan lain-lain pemimpin laskar itu, masih ada keinginan untuk memperlihatkan bahwa mereka sama sekali tidak berada di bawah tingkatan laskar Pamingit. Karena itulah, maka mereka memasuki Pangrantunan dengan upacara yang menggemparkan.

Meskipun menjelang tengah malam, namun laskar Banyubiru berjalan dalam derap irama sangkalala dan genderang yang menggema melingkar-lingkar di lereng bukit Merbabu itu. Suara sangkalala dan genderang itu telah mengejutkan segenap laskar Pamingit. Baik yang sedang bertugas, maupun yang sedang beristirahat. Karena itu segera mereka bangkit. Mereka yang kurang mengerti persoalannya, segera memegang senjata masing-masing. Tetapi kemudian para pemimpin mereka memberi mereka penjelasan-penjelasan yang didengarnya dari pemimpin pengawal yang sedang bertugas. Seperti juga yang lain-lain, mereka ragu. Karena itu mereka ingin menyaksikan kedatangan laskar Banyubiru itu dengan senjata di tangan.

Laskar Banyubiru memasuki Pangrantunan dengan derap yang mengagumkan. Di ujung barisan itu berjalan dengan tegapnya Bantaran, kemudian Penjawi. Diikuti oleh pasukan yang segar, yang memancarkan keteguhan hati mereka. Meksipun laskar ini tidak mempergunakan kesegaran yang khusus, namun di dalam dada mereka berakar tekad yang seragam. Mengabdi kepada tanah pusaka, tanah tercinta, yang diperuntukkan oleh Maha Pencipta bagi mereka.

Laskar Pamingit yang pecah, ketika melihat kedatangan laskar Banyubiru itu, merasa seolah-olah mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya. Karena itu, tanpa disengaja, secara serta merta, mengumandanglah teriakan-teriakan mereka.

”Hidup laskar Banyubiru…. Hidup laskar Banyubiru….”

Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum melihat laskar Banyubiru lewat di hadapannya dalam keremangan cahaya bulan. Sungguh tak diduganya, betapa anak-anak Banyubiru, yang selama ini terpaksa menyingkir karena pokal Lembu Sora itu, dapat merupakan kesatuan yang sedemikian mengagumkan.

Dengan dada tengadah, dan percaya kepada keadilan Yang Maha Kuasa, yang telah menempa mereka menjadi laskar yang pilih tanding. Lembu Sora sendiri melihat pasukan itu dengan hati yang pecah-pecah. Setiap derap langkah mereka, merupakan pukulan yang dahsyat, yang seakan-akan memecahkan rongga dadanya. Satu-satu berterbanganlah kenangan-kenangan masa lampaunya yang memalukan.

Teringatlah, betapa ia berusaha mati-matian untuk meniadakan Arya Salaka. Dan tiba-tiba anak itu sekarang datang menyelamatkannya, menyelamatkan tanahnya. Apalagi ketika Lembu Sora menyaksikan laskar Banyubiru dengan mata kepala sendiri. Ia menjadi bertambah malu. Disangkanya bahwa laskar Arya Salaka tidak lebih dari gerombolan berandal yang hanya mampu mencegat orang pergi berbelanja ke pasar. Namun ketika sudah disaksikannya sendiri laskar itu, bergetarlah jantungnya, seperti udara yang digetarkan oleh suara genderang laskar Banyubiru itu. Dan terngianglah kembali kata-kata Kebo Kanigara, ”Golongan hitam bukanlah mereka yang hitam pada wadag dan tata kelahirannya, tapi golongan hitam adalah mereka yang berhati hitam.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Ia tidak kuasa lagi menyaksikan laskar yang perkasa itu. Tetapi lebih daripada itu, ia menjadi terharu atas kenyataan yang dialaminya. Terbayanglah di dalam rongga matanya, seolah-olah semua mata memandangnya dengan penuh penyesalan atas perbuatannya.

Lembu Sora terkejut ketika sekali lagi terdengar sorak, ”Hidup laskar Banyubiru.” Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Tampaklah di luar barisan berjalan Arya Salaka dengan tobak Kyai Bancak di tangannya bersama-sama Wulungan. Dada Lembu Sora menjadi berdentang karenanya. Tiba-tiba ia seolah-olah melihat kakak Gajah Sora berjalan di mukanya, memandangnya dengan marah dan berkata kepadanya, ”Lembu Sora, coba bunuhlah anakku itu kalau kau berani.”

Sekali lagi wajah Lembu Sora terbanting di tanah.

Yang mempunyai tanggapan lain adalah Sawung Sariti. Ketika pasukan Banyubiru itu lewat, terasa dadanya berdesir pula, karena iapun sama sekali tak menyangka, bahwa laskar itu dapat berbaris dengan tertib serta penuh kepercayaan pada dirinya. Betapa mereka menggenggam senjata mereka dengan cermatnya, sebagai tanda bahwa mereka menguasai setiap senjata yang berada di tangan mereka dengan baiknya. Di dalam hati kecilnya, Lembu Sora bersukur pula bahwa laskarnya tak terlibat dalam pertempuran dengan laskar Banyubiru itu. Sebab dengan demikian, ia akan terpaksa meninggalkan Banyubiru dengan nama yang ternoda, kalau terpaksa laskarnya tak mampu melawan laskar Arya Salaka itu. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 587

TETAPI yang kemudian menguasai perasaan Sawung Sariti adalah sifat-sifatnya yang kurang baik. Ia menjadi iri hati. Iri hati terhadap kemampuan Arya Salaka memimpin laskarnya, iri hati terhadap kegagahan laskar itu. Apalagi ketika ia melihat eyangnya tampak bangga, dan ayahnya bersedih. Sebelum laskar itu habis sampai ke ujungnya, ia sudah memalingkan mukanya. “Bagaimana Anakmas?” terdengar suara di belakangnya.

“Hem…” geramnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Galunggung?” “Tak berarti,” sahut orang itu.

“Besok atau lusa laskar yang sombong itu pasti sudah akan dihancurkan oleh arus laskar gabungan dari golongan hitam itu.”

Sawung Sariti mencibirkan bibirnya. “Laskarnya tak begitu banyak. Apa yang dibanggakan?”

“Yang datang hanya separo, Tuan.”

Tiba-tiba terdengar suara lain di sampingnya. Ketika keduanya menoleh, dilihatnya Srengga berdiri di situ.

“Dari mana kau tahu?” tanya Sawung Sariti

“Dari pengawal,” jawab Srengga.

“Omong kosong,” sahut Galunggung dengan wajah yang dilapisi oleh kedengkian. Srengga kemudian berdiam diri. Yang lain pun diam. Sekali lagi mereka melayangkan pandangan mereka kepada pasukan yang lewat. Namun sesaat lagi habislah barisan itu. Mereka yang menyaksikan, segera kembali pula ke tempat masing-masing. Sebagian besar dari mereka merasa bahwa pekerjaan mereka akan diperingan karena kedatangan laskar itu. Bahkan mungkin, nyawa merekapun akan selamat pula. Laskar Pamingit akan bebas dari kemusnahan mutlak. Meskipun demikian, kemampuan tempur laskar Banyubiru masih perlu diuji.

Malam itu laskar Banyubiru beristirahat di tempat yang sudah ditentukan. Di halaman Banjar Desa yang tak begitu luas, sehingga sebagian besar dari mereka, harus duduk bersandar pagar di sepanjang jalan desa di muka banjar itu. Namun mereka dapat merasakan kenikmatan dari waktu istirahat itu.

Arya Salaka, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara kembali duduk bersama-sama dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Lembu Sora, Sawung Sariti dan Wulungan. Ki Ageng Sora Dipayana kemudian mengambil seluruh pimpinan di tangannya.

“Tak ada pilihan lain ayah,” jawab Lembu Sora. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukan kepalanya.

“Terima kasih atas keikhlasanmu Lembu Sora.” Selanjutnya, orang tua itu membuat perintah-perintah yang harus dilakukan oleh Arya Salaka beserta laskarnya, dan Lembu Sora dengan laskar Pamingit. “Menurut perhitunganku, serta pengintai-pengintai yang datang sampai saat terakhir, mereka tidak akan menyerang kedudukan kita sekarang ini,” kata Ki Ageng Sora Dipayana, “Sebab mereka merasa, bahwa jumlah laskar mereka tidak terlalu banyak, sehingga mereka lebih senang menanti kita datang menyerang.”

Tak seorangpun yang mengajukan pendapatnya.

“Karena itu…” orang tua itu meneruskan, “Kita masih mempunyai satu hari untuk beristirahat. Lusa kitalah yang mengambil peran, menyerang kedudukan mereka. Kita mengambil daerah pertempuran yang luas dengan gelar Jinatra Sawur atau gelar-gelar yang lain, yang menebar. Garudha Nglayang atau Sapit Urang.”

Tiba-tiba orang tua itu teringat bahwa di antara mereka duduk seorang bekas perwira prajurit pengawal raja, yang pasti mempunyai perhitungan-perhitungan yang cukup cermat dalam peperangan antara dua pasukan yang berjumlah besar.

Karena itu segera ia berkata, “Bukankah begitu Angger Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar sadar pada kedudukannya. Maka iapun menjawab, “Demikianlah Ki Ageng, namun aku ingin mengusulkan, untuk melawan mereka yang biasa bertempur tanpa aturan, dan terlalu percaya pada kesaktian pemimpin-pemimpin mereka. Biarlah di antara kita pun ada beberapa orang yang terlepas dari ikatan gelar, untuk melayani pemimpin-pemimpin mereka yang tak mau mengikat diri itu.”

“Bagus,” sambut orang tua itu. “Kita pun mempunyai orang-orang semacam itu di sini. Titis Anganten, misalnya.”

Baru saat itulah Mahesa Jenar teringat bahwa di dalam laskar Pamingit itu terdapat seorang sakti yang bernama Titis Anganten. Karena itu kemudian ia bertanya, “Di manakah Paman Titis Anganten itu?”

“Ia berkeliaran sepanjang hari,” jawab Ki Ageng Sora Dipayana.

“Tapi ia hadir dalam setiap pertempuran.”

“Kalau demikian, biarlah Paman Titis Anganten kita perhitungkan pula. Siapakah para pemimpin golongan hitam dari angkatan tua itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Bugel Kaliki, Sima Rodra, Pasingsingan, Nagapasa dan Sura Sarunggi,” jawab Sora Dipayana.

“Nah, kalau demikian kitapun harus melepaskan lima orang dari ikatan gelar itu. Bahkan barangkali lebih dari itu, untuk melawan tokoh-tokoh muda mereka, seperti Lawa Ijo dan Soka,” sahut Mahesa Jenar. Ki Ageng Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi siapakah lima orang itu? Mungkin dirinya sendiri dapat melayani setiap tokoh sakti lawan mereka itu, orang kedua adalah Titis Anganten, tetapi lalu siapa? Mahesa Jenar sendiri merasa, bahwa iapun sanggup untuk menyerahkan dirinya dalam pengabdian itu, namun agaknya sulitlah baginya untuk menyatakan diri. Tetapi dengan tak diduga-duga, terdengarlah suara Sawung Sariti dengan nada yang tinggi, “Siapakah lima orang dari kamu itu?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas. Ia melihat wajah cucunya dengan kecewa, juga nada suaranya tak menyenangkan. Namun orang tua itu menjawab, “Sudah menjadi kewajibanku untuk menjadi orang yang pertama cucu, sedang yang kedua eyangmu Titis Anganten.”

Kata-kata orang tua itu terputus. Ia ragu-ragu untuk meneruskan, dan memang tak diketahuinya siapa yang akan disebut namanya. “Lalu siapakah yang ketiga, keempat dan kelima…?” Sawung Sariti mendesak. Ki Ageng Sora Dipayana menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, “Aku belum tahu, Sariti.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 588

SAWUNG SARITI tersenyum. Senyum yang mengundang seribu satu macam kemungkinan.

Katanya, ”Kenapa bukan Paman Mahesa Jenar yang perkasa serta sahabatnya dari Karang Tumaritis itu?” Sawung Sariti mengharap bahwa Mahesa Jenar tidak akan menolak di hadapan sekian banyak orang. Kalau Mahesa Jenar menerima tawaran itu, apakah ia mampu berbuat demikian? Di Gedangan, Sima Rodra dan Bugel Kaliki pernah mengalami kekalahan, namun ia tidak yakin, bahwa kekalahan itu disebabkan karena Mahesa Jenar dan sahabatnya itu. Beberapa laskarnya melihat seorang berjubah abu-abu ikut serta membantu mereka. Dan ia tidak tahu, siapakah orang berjubah abu-abu itu. Apakah ia Pasingsingan. Tetapi Pasingsingan tidak akan gila. Malahan mungkin eyangnya itu sendiri atau Titis Anganten, atau Ki Ageng Pandan Alas. Sekarang, tanpa bantuan seorangpun Mahesa Jenar pasti akan binasa. Bukankah Arya Salaka tak banyak berarti tanpa Mahesa Jenar?

Oleh perhitungan itu Sawung Sariti menjadi tegang menunggu jawaban dari orang yang dijerumuskannya ke dalam kesulitan itu. Mahesa Jenar tidak dapat tepat menebak maksud anak itu, namun ia merasa bahwa ada sesuatu maksud terkandung dibalik kata-katanya. Meskipun demikian perlahan- lahan ia menjawab, ”Baiklah Angger, kalau Angger Sawung Sariti berpendapat demikian, serta Ki Ageng Sora Dipayana menyetujuinya, aku dan sahabatku dari Karang Tumaritis ini akan bersedia untuk membantu.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut mendengar kesanggupan Mahesa Jenar itu. Karena itu ia segera memotong, ”Angger Mahesa Jenar, sebenarnya tidak perlu diartikan bahwa setiap orang harus melawan satu di antara mereka. Aku pernah memakai cara yang lain. Kelompok demi kelompok.”

Sebelum Ki Ageng meneruskan kata-katanya, Sawung Sariti telah menyela, ”Usaha itu ternyata gagal. Setiap kali, lima atau enam di dalam kelompok itu terbunuh.”

”Kalau demikian…” Mahesa Jenar menengahi, ”Biarlah aku berada dalam kelompok- kelompok itu. Demikian juga Kakang Putut Karang Jati ini. Biarlah ia berada pada kelompok yang lain.”

Ki Ageng Sora Dipayana tak dapat berbuat lebih baik lagi selain menyetujui terakhir Mahesa Jenar itu. Sawung Sariti menjadi agak kecewa karenanya, namun bagaimanapun juga ia mengharap Mahesa Jenar akan masuk kedalam perangkapnya.

Demikianlah akhirnya, mereka masing-masing meninggalkan pertemuan itu kembali ke dalam lingkungannya. Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara ke halaman Banjar Desa, sedang Lembu Sora dan Sawung Sariti kembali ke dalam pasukannya yang payah. Di dalam kelompok yang kecil itu tinggallah Ki Ageng Sora Dipayana dan Wulungan. Yang akhirnya mereka mempergunakan sisa malam itu untuk beristirahat.

Pagi-pagi benar, Ki Ageng Sora Dipayana telah bangun. Ia menunggu kalau ada tanda-tanda atau laporan bahwa orang-orang dari golongan hitam mulai bergerak. Tetapi ternyata bahwa perhitungannya benar. Hari itu mereka masih dapat beristirahat sehari penuh, sebelum pada keesokan harinya mereka harus bekerja mati-matian. Kesempatan hari itu dipergunakan untuk menyusun kembali pasukan Pamingit, serta menempatkan mereka ke dalam pondok-pondok di desa itu. Demikian juga laskar Banyubiru pun telah disediakan tempat-tempat untuk bernaung dari dinginnya embun malam. Pada malam harinya, keadaan menjadi bertambah tegang. Mereka harus beristirahat sebaik-baiknya, sebab mereka tahu bahwa besok mereka harus bertempur kembali.

Yang paling tegang di antara mereka adalah Arya Salaka. Ia selalu teringat kepada ibunya. Kalau besok ia menerobos pertahanan golongan hitam, dan dapat mendesaknya, apakah yang akan dilakukan oleh golongan hitam itu terhadap ibunya? Tetapi ketika ia sedang berangan-angan di muka pondoknya, tiba-tiba muncullah dari kegelapan malam, seorang yang bertubuh kecil, berjalan seperti seorang perempuan mendekatinya.

Beberapa langkah dimukanya orang berhenti dan bertanya, ”Arya Salakakah ini?”

Arya Salaka tahu siapa yang datang. Karena itu ia berdiri dan enyambutnya, ”Ya, Eyang.”

Orang itu tertawa perlahan-lahan. ”Kau sedang bersedih?”

”Tidak Eyang,” sahut Arya tergagap.

”Jangan berdusta. Kau rindu pada ibumu?” tanya Titis Anganten pula. Arya Salaka tertegun. Orang tua itu dapat menebak perasaannya dengan tepat. Namun demikian ia agak malu juga untuk mengiyakan. Ketika Arya diam, bertanyalah Titis Anganten itu, ”Pamanmu ada…?”

”Ada, eyang. Apakah Eyang mau bertemu dengan Paman Mahesa Jenar?” tanya Arya pula. ”Tidak,” jawab orang tua itu sambil duduk di samping Arya. ”Aku hanya perlu kau. Ada sebuah berita untukmu.” Arya menjadi tertarik pada berita yang dibawa oleh Titis Anganten itu. ”Berita pentingkah itu Eyang?” tanya Arya.

”Sangat penting bagimu, bagi ketentraman hatimu,” jawab Titis Anganten.

”Berita tentang ibumu.” Arya terlonjak.

”Ibu…?” Ia menegaskan.

”Ya.”

”Bagaimanakah dengan ibu?” Ia tidak sabar lagi.

”Duduklah Arya. Dengarlah baik-baik. Aku akan berceritera tentang ibumu,” kata Titis Anganten perlahan-lahan.

Arya duduk kembali. Ia menjadi sedemikian ingin segera mengetahui, berita apakah yang akan disampaikan kepadanya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 589

TITIS ANGANTEN memulai, ”Ketika golongan hitam itu menyerbu Pamingit, Pamingit sedang kosong. Pamanmu Lembu Sora dan adikmu Sawung Sariti berada di Banyubiru. Mereka sedang bersiap-siap untuk menghadapi laskarmu. Nah, dengan mudahnya golongan hitam itu dapat masuk ke dalam kota. Hampir tanpa perlawanan. Semua laskar Pamingit yang ada lari cerai berai. Tak ada seorang pun yang ingat untuk menyelamatkan Nyai Lembu Sora dan ibumu. Untunglah bahwa aku sejak semula selalu melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Aku melihat persiapan- persiapan yang dilakukan oleh golongan hitam. Sehingga dengan demikian aku sempat menyingkirkan bibi serta ibumu itu.”

”Jadi ibuku selamat?” tanya Arya.

”Ya. Ibumu selamat,” jawab Titis Anganten.

Tiba-tiba rongga dada Arya serasa tersumbat. Nafasnya menjadi sesak. Dan tidak setahunya ia berbisik, ”Tuhan Maha Besar.”

Kemudian Arya memutar duduknya dan bersujud kepada orang tua yang menyelamatkan ibunya itu sambil berkata, ”Tak dapat aku menyatakan betapa besar terima kasihku kepada Eyang Titis Anganten.”

Orang tua itu tertawa nyaring. Kemudian tanpa berkata sepatah katapun ia berdiri dan berjalan pergi. ”Eyang….” Arya mencoba memanggil.

Tetapi Titis Anganten tidak berhenti. Yang terdengar hanyalah derai tawanya. Lamat-lamat kemudian terdengar ia berkata, ”Aku sudah mengantuk. Besok aku akan turut bertempur dengan eyangmu.”

Kembali Arya tertegun diam. Ia tidak sempat bertanya di mana ibunya sekarang. Namun ia percaya bahwa Titis Anganten telah menempatkan ibunya itu di tempat yang aman. Dengan demikian hati Arya Salaka menjadi agak tenteram. Tidak perlu lagi ia mencemaskan nasib ibunya, meskipun seandainya orang-orang golongan hitam nanti menghancurlumatkan Pamingit.

Demikianlah ketika malam menjadi semakin dalam, Arya pun segera masuk ke dalam pondok yang disediakan untuknya. Dilihatnya gurunya sedang tidur dengan nyenyaknya di samping Kebo Kanigara.

Di luar, beberapa orang masih duduk berjaga-jaga. Tetapi malam itu Arya dapat tidur dengan nyenyaknya. Ia tidak peduli lagi apa yang terjadi atas dirinya besok pagi. Namun ia malam itu bermimpi indah. Ia melihat ibunya segar bugar, tersenyum kepadanya sambil berkata, ”Arya, sambutlah dengan kedua tanganmu. Hari akan cerah.”

Arya tersenyum di dalam tidurnya. Pagi-pagi ia terbangun oleh kesibukan di halaman. Beberapa orang telah siap dengan senjata di tangan, meskipun beberapa orang masih enak-enak menikmati minum air sere yang hangat, dengan segumpal gula kelapa. Dilihatnya gurunya, Mahesa Jenar dengan Kebo Kanigara pun sedang minum dengan segarnya.

Cepat-cepat Arya mengambil air wudlu.

Sesudah sembahyang Subuh, kemudian ia pun turut serta duduk di sekitar perapian sambil menghangatkan tubuhnya. Sebentar kemudian datanglah beberapa orang mengantar nasi hangat, dengan srundeng kelapa dan segumpal sambal wijen. Betapa nikmatnya mereka makan bersama sebelum mengadu nasib, berjuang di antara hidup dan mati. Nasi itu adalah mungkin sekali nasi yang terakhir yang dapat dinikmatinya.

”Kita berada di sayap kiri.”

Terdengar gurunya bergumam. Arya mengangguk sambil menelan segumpal nasi lewat lehernya.

Setelah mereka mengaso sejenak, terdengarlah tengara dibunyikan. Laskar Banyubiru itupun segera bersiap, dan berbaris menuju ke sawah di depan desa Pangrantunan. Mereka, dengan tidak menghiraukan lagi tanaman-tanaman yang sedang tumbuh, segera merapatkan diri dalam barisan.

Beberapa orang pemimpin dari laskar masing-masing segera menghadap Ki Ageng Sora Dipayana untuk mendapat beberapa cara menghadapinya. Apabila mungkin, mereka harus memilih lawan. Jangan sampai ada korban sia-sia. Ketika sangkalala berbunyi, barisan itu mulai bergerak. Dalam keremangan pagi, tampaklah barisan itu seperti seekor naga raksasa yang berenang di dalam air yang keruh.

Di depan, berjalan laskar Pamingit, di bawah pimpinan Lembu Sora sendiri, dibantu oleh Sawung Sariti, Wulungan dan Galunggung. Sedangkan di belakang, berjalan laskar Banyubiru, di bawah pimpinan Arya Salaka, dibantu oleh Bantaran, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat. Di tangan Arya Salaka tergenggam erat-erat pusaka Banyubiru, Kyai Bancak. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 590

BEBERAPA orang pengintai telah dikirim lebih dahulu, untuk mengetahui di mana kira-kira orang-orang dari golongan hitam itu mempersiapkan diri. Biasanya mereka sama sekali tidak membuat garis-garis pertahanan yang tegas. Mereka bertempur di mana saja mereka ingin dan kapan saja mereka sempat. Tetapi jelas, bahwa kali ini mereka berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan Pamingit. Bahkan mereka merasa bahwa lawan mereka telah separo hancur, sehingga untuk menumpasnya tidaklah terlalu sulit.

Tetapi agaknya pengawas merekapun telah mengetahui kedatangan laskar Banyubiru, sehingga dengan demikian mereka menjadi heran, apakah agaknya Arya Salaka telah menjadi gila. Apalagi kemudian, kedua laskar itu berada di Pangrantunan bersama-sama. Tidak seperti yang mereka harapkan, bertempur satu sama lain.

Dengan bangga atas kekuatan sendiri, Sima Rodra berkata, ”Kalau di dalam laskar Banyubiru itu ada Mahesa Jenar, akulah lawannya. Sebab ia telah membunuh menantuku.”

Beberapa lama kemudian pengintai dari Pamingit itupun melaporkan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, bahwa orang-orang golongan hitam itu tidak bergerak dari Kepandak.

Namun orang-orang mereka yang di Sumber Panas pun telah ditariknya. Mereka memusatkan kekuatan di satu tempat, untuk menghadapi laskar Pamingit dan Banyubiru. Demikianlah ketika mereka telah berhadap-hadapan dengan desa Kepandak, Ki Ageng Sora Dipayanapun menghentikan laskarnya.

Kemudian diperintahkannya laskar Pamingit dan Banyubiru membentuk gelar perang Sapit Urang. Laskar Pamingit dan Laskar Banyubiru itu pun segera bergerak dalam garis yang menebar, laskar Pamingit di sayap kanan, laskar Banyubiru di sayap kiri, yang masing-masing merupakan sapit dari seekor udang raksasa yang siap menerkam lawannya.

Di pusat gelar yang justru tidak terlalu banyak, tampaklah beberapa bagian laskar Pamingit dan dua orang yang berdiri lepas dari gelar, masing-masing Ki Ageng Sora Dipayana dan Titis Anganten. Sedang Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berada di muka laskar Banyubiru, sapit sebelah kiri, di bawah pimpinan Arya Salaka. Di hadapan mereka, berjajar rapat di tepi desa Kepandak, orang-orang dari golongan hitam. Merekapun agaknya telah mengerahkan segenap laskar mereka. Mereka sama sekali tidak membentuk gelar apapun, karena itu, mereka dapat menyerang ke mana saja mereka inginkan.

Tetapi ketika orang-orang dari golongan hitam itu melihat gelar lawannya, mau tidak mau merekapun harus menyesuaikan diri mereka. Melawan bagian-bagian yang terberat dengan orang-orang yang terkuat.

Ketika di timur cahaya matahari sudah semakin terang, sebelum bola api itu muncul di wajah-wajah langit, kedua laskar itupun telah berhadap-hadapan dalam kesiagaan tempur. Jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, sehingga mereka dapat melihat dengan jelas siapakah yang berada di pihak masing-masing.

Di muka barisan laskar golongan hitam itu berdiri beberapa orang pemimpin mereka, yang dengan tertawa-tawa menanti kedatangan lawan. Mereka itu adalah Pasingsingan dengan jubah abu-abunya,

Sima Rodra yang kali ini lengkap dengan kulit harimau hitamnya, namun ia tidak mengenakan topengnya. Nagapasa, Naga dari Nusakambangan, Sura Sarunggi dari Rawa Pening yang menyimpan dendam tiada taranya atas kematian muridnya, sepasang Uling dari Rawa Pening. Dan hantu dari Gunung Cerme, Bugel Kaliki.

”Ada laskar Banyubiru serta?” tanya Bugel Kaliki kepada Pasingsingan.

”Ya, tetapi tak seberapa. Mereka tak akan berarti apa-apa menghadapi laskar kita,” jawab Pasingsingan.

”Namun yang harus mendapat perhatian adalah Mahesa Jenar.”

Sima Rodra tertawa.

”Biarlah aku selesaikan,” katanya.

Pasingsingan mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ia ragu. Sima Rodra belum tahu, sampai di mana tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh Mahesa Jenar. Namun demikian ia berdiam diri. Mudah-mudahan Sima Rodra benar-benar dapat menandingi.

”Sekarang mereka mendapat bantuan anak gila dari Banyubiru itu. Sungguh suatu perbuatan yang tak dapat aku mengerti. Kenapa Arya Salaka tidak saja merebut tempatnya kembali. Kenapa justru ia membantu Pamingit?” tanya Sura Sarunggi.

”Ia benar-benar gila,” jawab Pasingsingan.

”Sedang perhitungan kita memang terlalu cepat satu hari saja. Kalau kita tunda serangan kita dengan satu hari, keadaannya akan lain. Laskar Banyubiru dan Pamingit pasti sudah bertempur. Tetapi bagaimanapun juga, tak ada bedanya. Kita pasti akan melawan kedua-duanya. Sekarang atau besok. Bahkan kehadiran laskar Banyubiru itu akan mempercepat penyelesaian.”

Nagapasa mengangguk-angguk sambil berdesis. tepat seperti desis seekor naga. ”Siapakah yang harus dilawan dari mereka?”

”Seperti kemarin dulu,” jawab Pasingsingan.

”Sora Dipayana, Titis Anganten. Dan sekarang tambah satu lagi, Mahesa Jenar. Tetapi agaknya Sima Rodra ingin menyelesaikan.”

Tiba-tiba kening mereka berkerut ketika mereka melihat seseorang yang dengan serta merta, menerobos masuk dalam laskar Pamingit.

”He…!” seru Bugel Kaliki, ”Orang gila itu datang pula.”

Mereka menjadi terdiam. Namun kehadiran satu orang di dalam barisan Pamingit itu benar-benar diperhitungkan. (Bersambung)-m

NAGASASRA SABUK INTEN
Oleh SH Mintarja
001

AWAN yang hitam pekat bergulung-gulung di langit seperti lumpur yang diaduk dan kemudian dihanyutkan oleh banjir, sehingga malam gelap itu menjadi semakin hitam. Sehitam suasana Kerajaan Demak pada waktu itu, dimana terjadi perebutan pengaruh antara Wali pendukung kerajaan Demak dengan Syeh Siti Jenar.

Pertentangan itu sedemikian meruncingnya sehingga terpaksa diselesaikan dengan pertumpahan darah.

Syeh Siti Jenar dilenyapkan. Disusul dengan terbunuhnya Ki Kebo Kenanga yang juga disebut Ki Ageng Pengging. Ki Kebo Kenanga ini meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet. Karena dibesarkan oleh Nyai Ageng Tingkir, kemudian Mas Karebet juga disebut Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir inilah yang kemudian akan menjadi raja, menggantikan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir pula yang memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.

Pada masa yang demikian, tersebutlah seorang saudara muda seperguruan dari Ki Ageng Pengging yang bernama Mahesa Jenar. Karena keadaan sangat memaksa, Jaka Tingkir pergi meninggalkan kampung halaman, sawah, ladang, serta wajah-wajah yang dicintainya. Ia merantau, untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang tak diinginkan.

Telah bertahun-tahun Mahesa Jenar mengabdikan dirinya kepada Negara sebagai seorang prajurit. Tetapi karena masalah perbedaan ajaran tentang kepercayaan, yang telah menimbulkan beberapa korban, ia terpaksa mengundurkan diri, meskipun kesetiannya kepada Demak tidak juga susut.

Hanya dengan bekal kepercayaan kepada diri sendiri serta kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Mahesa Jenar mencari daerah baru yang tidak ada lagi persoalan mereka yang berbeda pendapat mengenai pelaksanaan ibadah untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pilihan, pengawal raja. Ia bertubuh tegap kekar, berdada bidang. Sepasang tangannya amat kokoh, begitu mahir mempermainkan segala macam senjata, bahkan benda apapun yang dipegangnya. Sepasang matanya yang dalam memancar dengan tajam sebagai pernyataan keteguhan hatinya, tetapi keseluruhan wajahnya tampak bening dan lembut.

Ia adalah kawan bermain Ki Ageng Sela pada masa kanak-kanaknya. Ki Ageng Sela inilah yang kemudian menjadi salah seorang guru dari Mas Karebet, yang juga disebut Jaka Tingkir, sebelum menduduki tahta kerajaan.

Meskipun mereka bukan berasal dari satu perguruan, tetapi karena persahabatan mereka yang karib, maka seringkali mereka berdua tampak berlatih bersama. Saling memberi dan menerima atas izin guru mereka masing-masing. Gerak Mahesa Jenar sedikit kalah cekatan dibanding dengan Sela yang menurut cerita adalah cucu seorang bidadari yang bernama Nawangwulan. Betapa gesitnya tangan Ki Ageng Sela, sampai orang percaya bahwa ia mampu menangkap petir.

Tetapi Mahesa Jenar lebih tangguh dan kuat. Dengan gerak yang sederhana, apabila dikehendaki ia mampu membelah batu sebesar kepala kerbau dengan tangannya. Apalagi kalau ia sengaja memusatkan tenaganya.

Pada malam yang kelam itu Mahesa Jenar mulai dengan perjalanannya dari rumah almarhum kakak seperguruannya, Ki Kebo Kenanga di Pengging. Ia sengaja menghindarkan diri dari pengamatan orang. Mula-mula Mahesa Jenar berjalan ke arah selatan dengan menanggalkan pakaian keprajuritan, dan kemudian membelok ke arah matahari terbenam.

Setelah beberapa hari berjalan, sampailah Mahesa Jenar di suatu perbukitan yang terkenal sebagai bekas kerajaan seorang raksasa bernama Prabu Baka, sehingga perbukitan itu kemudian dikenal dengan nama Pegunungan Baka. Salah satu puncak dari perbukitan ini, yang bernama Gunung Ijo, adalah daerah yang sering dikunjungi orang untuk menyepi. Di sinilah dahulu Prabu Baka bertapa sampai diketemukan seorang gadis yang tersesat ke puncak Gunung Ijo itu.
Mula-mula gadis itu akan dimakannya, tetapi niat itu diurungkan karena pesona kecantikannya. Bahkan gadis itu kemudian diambilnya menjadi permaisuri, ketika ia kemudian dapat menguasai kerajaan Prambanan. Gadis cantik itulah yang kemudian dikenal dengan nama Roro Jonggrang.

Dan karena kecantikannya pula Roro Jonggrang oleh Bandung Bandawasa, yang juga ingin memperistrinya setelah berhasil membunuh Prabu Baka, disumpah menjadi patung batu. Candi tempat patung itu lah yang kemudian terkenal dengan nama Candi Jonggrang.

Tetapi pada saat Mahesa Jenar menginjakkan kakinya di puncak bukit itu terasalah sesuatu yang tak wajar. Beberapa waktu yang lalu ia pernah mengunjungi daerah ini. Tetapi sekarang alangkah bedanya. Tempat ini tidak lagi sebersih beberapa waktu berselang. Rumput-rumput liar tumbuh di sana-sini.

Dan yang lebih mengejutkannya lagi, adalah ketika dilihatnya kerangka manusia. Melihat kerangka manusia itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak enak. Ia menjadi sangat berhati-hati karenanya. Tetapi ia menjadi tertarik untuk mengetahui keadaan di sekitar tempat itu. Ia menjadi semakin tertarik lagi ketika dilihatnya tidak jauh dari tempat itu terdapat beberapa macam benda alat minum dan batu-batu yang diatur sebagai sebuah tempat pemujaan. Dan di atasnya terdapat pula sebuah kerangka manusia.

Mahesa Jenar pernah belajar dalam pelajaran tata berkelahi mengenai beberapa hal tentang tubuh manusia. Itulah sebabnya maka ia dapat menduga bahwa rangka-rangka itu adalah rangka perempuan yang tidak tampak adanya tanda-tanda penganiayaan.

Cepat ia dapat menebak, bahwa beberapa waktu berselang telah terjadi suatu upacara aneh di atas bukit ini. Tetapi ia tidak tahu macam upacara itu.

Untuk mengetahui hal itu, ia mengharap mendapat keterangan dari penduduk sekitarnya. Tetapi Mahesa Jenar menjadi kecewa ketika ia melayangkan pandangannya ke sekitar bukit itu. Tadi ia sama sekali tidak memperhatikan bahwa tanah-tanah pategalan telah berubah menjadi belukar.Agaknya sudah beberapa waktu tanah-tanah itu tidak lagi digarap.

Ketika ia sudah tidak mungkin lagi untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang kerangka-kerangka tersebut, maka dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dikepalanya, Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya ke barat, menuruni lembah dan mendaki tebing-tebing perbukitan sehingga sampailah ia di atas puncak pusat kerajaan Prabu Baka.

Dari atas bukit itu Mahesa Jenar melayangkan pandangannya jauh di dataran sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah kumpulan candi yang terkenal itu, yaitu Candi Jonggrang. Sempat juga Mahesa Jenar mengagumi karya yang telah menghasilkan candi-candi itu.

Menurut cerita, candi-candi yang berjumlah 1.000 itu adalah hasil kerja Bandung Bandawasa hanya dalam satu malam saja, untuk memenuhi permintaan Roro Jonggrang. Tetapi ketika ternyata Bandung Bandawasa akan dapat memenuhi permintaan itu, Roro Jonggrang berbuat curang. Maka marahlah Bandung Bandawasa. Jonggrang disumpah sehingga menjadi candi yang ke 1.000.

Candi itu dikitari oleh persawahan yang ditumbuhi batang-batang padi yang sedang menghijau. Daun-daunnya mengombak seperti mengalirnya gelombang-gelombang kecil di pantai karena permainan angin.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
002

TIBA-TIBA Mahesa Jenar teringat akan kerangka-kerangka yang ditemukannya di atas Gunung Ijo. Di dekat persawahan yang sedang menghijau itu pasti ada penduduknya. Di sana, mungkin ia akan mendapat beberapa keterangan tentang kerangka-kerangka itu.

Karena pikiran itu maka segera ia menuruni bukit dan cepat-cepat pergi ke arah pedesaan di sebelah Candi Jonggrang di tepi Sungai Opak.

Ketika ia sampai di desa itu, terasa alangkah asingnya penduduk menerima kedatangannya. Anak-anak yang sedang bermain di halaman dengan riangnya, segera berlari-larian masuk ke rumah. Terasa benar bahwa beberapa pasang mata mengintip dari celah-celah dinding rumahnya.

Apakah yang aneh padaku?” pikirnya.

Ia merasa susah untuk menemukan orang yang dapat diajak berwawancara untuk menjalankan beberapa soal, terutama mengenai peristiwa Gunung Ijo.

Rumah-rumah di kiri kanan jalan desa itu serasa tertutup baginya. Beberapa kali ia berjalan hilir mudik kalau-kalau ia berjumpa dengan seseorang yang dapat ditanyainya atau seseorang yang menyapanya. Tetapi sudah untuk kesekian kalinya tak seorang pun dijumpainya, dan tak seorang pun menyapanya. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengetuk salah satu dari sekian banyak pintu-pintu yang tertutup.

Tiba-tiba terasa sesuatu yang tidak wajar. Dari balik-balik pagar batu di sekitarnya, didengarnya dengus nafas yang tertahan-tahan. Tidak hanya dari satu-dua orang, tetapi rasa-rasanya banyak orang yang bersembunyi di balik pagar-pagar itu. Mahesa Jenar tidak mengerti maksud mereka mengintip dari balik-balik pagar. Karena itu ia pura-pura tidak mengetahui akan hal itu.

Tetapi ketika ia akan melangkahkan kakinya menginjak ambang regol sebuah halaman, berloncatanlah beberapa orang laki-laki dari balik pagar-pagar batu di sekitarnya. Semuanya membawa senjata. Golok-golok besar, tombak panjang dan pendek, pedang, keris dan sebagainya.

Mahesa Jenar sebentar terkejut juga, tetapi cepat otaknya bekerja. Ia segera mengambil kesimpulan bahwa agaknya memang pernah terjadi sesuatu di daerah ini. Ia juga menduga bahwa orang-orang itu tak bermaksud jahat. Mereka hanya berjaga-jaga dan waspada. Sebagai orang asing di daerah berbahaya sudah sepantasnyalah bahwa ia dicurigai. Itulah sebabnya ia mengambil keputusan untuk tidak berbuat apa-apa, dan hanya akan menurut semua perintah yang akan diterima.

Orang yang menjadi pemimpin rombongan itu berperawakan sedang. Badannya tak begitu besar, tetapi otot-ototnya yang kuat menghias seluruh tubuhnya. Diantara jari-jari tangan kanannya terselip sebuah trisula, yaitu sebuah tombak bermata tiga. Di sampingnya berdiri seorang yang berperawakan tinggi besar, berkumis lebat.

Pandangannya tajam berkilat-kilat. Ia tak bersenjata tajam apapun kecuali sebuah cambuk besar yang ujungnya lebih dari sedepa panjangnya, dan pada juntai cambuk itu diikatkan beberapa potongan besi, batu dan tulang-tulang.

Rupa-rupanya ia merupakan salah seorang tokoh terbesar dari para pengawal desa itu, disamping beberapa pengawal lain yang segera mengepungnya.

Ikut kami!” Tiba-tiba terdengarlah sebuah perintah yang menggelegar keluar dari mulut orang yang tinggi besar itu.

Terasalah oleh Mahesa Jenar betapa orang yang tinggi besar itu ingin mempengaruhinya dengan suaranya.

Mahesa Jenar yang sudah mengambil keputusan untuk tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keributan, menuruti perintah itu dengan patuh. Orang yang tinggi besar itu berjalan di depan bersama-sama dengan pemimpin rombongan, kemudian berjalanlah di belakangnya Mahesa Jenar diiringi oleh para pengawal.

Rombongan itu berjalan menyusur jalan desa menuju ke sebuah rumah yang agak lebih besar dari rumah-rumah yang lain, berpagar batu agak tinggi dan berhalaman luas. Mereka memasuki halaman itu dengan melewati sebuah gerbang yang dikawal orang di kiri-kanannya, sedangkan di halaman itu pun telah pula menanti beberapa orang laki-laki yang juga bersenjata. Diantara mereka berdirilah seorang laki-laki yang sudah agak lanjut usianya.

Pemimpin rombongan serta orang yang tinggi besar langsung mendatangi orang tua itu. Mahesa Jenar masih saja mengikuti di belakangnya.

Kakang Demang,” lapor pemimpin rombongan itu, “orang ini terpaksa kami curigai. Selanjutnya terserah kebijaksanaan kakang.”

Orang tua yang ternyata demang dari daerah itu, mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa garis umur telah tergores di wajahnya, tetapi ia masih nampak segar dan kuat. Wajahnya terang dan bersih. Giginya masih utuh, putih berkilat diantara bibir-bibirnya yang tersenyum ramah.

“Ia sedang menyelidiki daerah kami, Kakang. Mungkin ia menemukan seorang gadis untuk korbannya,” tiba-tiba laki-laki yang tinggi besar itu menyambung dengan suaranya yang bergerat. Sesudah itu ia memandang berkeliling dan tampaklah setiap laki-laki yang kena sambaran matanya mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Pikiran yang terang dari Mahesa Jenar segera dapat menghubungkan ucapan ini dengan kerangka-kerangka yang ditemuinya di Gunung Ijo. Mungkin ucapan orang itu bertalian dengan peristiwa yang sedang menjadi tanda tanya di dalam hatinya.

Demang tua itu memandang Mahesa Jenar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. Umurnya yang telah lanjut, menolongnya untuk mengenal sedikit tentang watak-watak orang yang baru saja dijumpainya. Dan terhadap Mahesa Jenar, ia tidak menduga adanya maksud-maksud buruk.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Demang tua itu dengan nada yang berat tetapi sopan dan rumah. “Siapakah nama Ki Sanak dan dari manakah asal Ki Sanak? Sebab menurut pengamatan kami, Ki Sanak bukanlah orang dari daerah kami.”

Mula-mula Mahesa Jenar ragu. Haruskah ia mengatakan keadaan yang sebenarnya, ataukah lebih baik menyembunyikan keadaan yang sebenarnya …? Ia masih belum tahu, sampai di mana jauh akibat tindakan-tindakan pemerintah Kerajaan Demak terhadap para pengikut Syeh Siti Jenar. Kalau ia tidak berkata yang sebenarnya, maka ada suatu kemungkinan bahwa kecurigaan orang terhadapnya semakin besar. Mungkin pula ia ditangkap, ditahan atau semacamnya itu. Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk mengatakan sebagian saja dari keadaannya.
Oleh keragu-raguannya inilah maka sampai beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga ketika baru saja ia akan berkata, terdengarlah orang yang tinggi besar itu membentak, “Ayo bilang!

Mahesa Jenar sebenarnya sama sekali tidak senang diperlakukan sedemikian, tetapi ia tidak ingin ribut-ribut. Maka dijawabnya pertanyaan itu dengan sopan pula, “Bapak Demang, kalau Bapak Demang ingin mengetahui, aku berasal dari Pandanaran. Aku adalah pegawai istana Demak, yang karena sesuatu hal ingin menjelajahi daerah-daerah wilayah Kerajaan Demak.”

Beberapa orang tampak terkejut mendengar jawaban ini.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya : SH Mintarja
003

SEORANG pegawai istana adalah orang yang pantas sekali mendapat kehormatan. Sedang orang ini? Orang yang mengaku menjadi pegawai istana itu menjadi orang tangkapan. Apakah kalau hal semacam ini sampai terdengar oleh kalangan istana, tidak akan menjadikan mereka murka?

Mahesa Jenar merasakan pengaruh kata-katanya itu atas orang-orang yang mengepungnya. Demikian juga wajah orang tinggi besar itu tampak berubah. Dahinya berkerinyut dan alisnya ditariknya tinggi-tinggi.

Demang tua itu sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia bertanya lagi dengan nada yang masih sesopan tadi. “Menilik sikap Ki Sanak, memang tepatlah kalau ki sanak seorang pegawai istana, atau setidak-tidaknya orang-orang kota seperti yang pernah aku kenal. Tetapi kedatangan Ki Sanak seorang diri kemari, merupakan sebuah pertanyaan bagi kami.”

Sekali lagi tampak wajah-wajah di sekitar Mahesa Jenar berubah. Mereka jadi ikut bertanya pula di dalam hati.

“Ya, kenapa seorang pegawai istana pergi sedemikian jauhnya seorang diri?”

Tetapi tak seorangpun yang mengucapkan pertanyaan itu.

Orang ini ingin memperbodoh kita Kakang,” kembali terdengar suara gemuruh orang yang tinggi besar itu dengan matanya yang berkilat-kilat. Sekali lagi ia memandang berkeliling, kepada orang-orang yang berdiri memagari. Dan sekali lagi orang-orang itu mengangguk-angguk kecil tanpa keyakinan apa-apa.

Sikap orang yang tinggi besar itu semakin tidak menyenangkan hati Mahesa Jenar, tetapi ia masih saja menahan dirinya dan menjawab dengan ramah pula.

Bapak Demang, sebenarnya memang aku mempunyai banyak keterangan mengenai diriku, tetapi sebaiknyalah kalau keterangan-keterangan itu aku berikan khusus untuk Bapak Demang, tidak di hadapan orang banyak. Sebab ada hal-hal yang tidak perlu diketahui umum.

Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa perkataannya itu mempunyai akibat yang kurang baik. Orang yang tinggi besar itu, yang sebenarnya bernama Baureksa, dan bertugas sebagai kepala penjaga keamanan Kademangan Prambanan, merasa sangat tersinggung. Ia merasa direndahkan oleh orang asing itu, dengan mengesampingkannya dari pembicaraan. Karena itu ia membentak dengan suaranya yang lantang.

Apa perlunya Kakang Demang meladeni orang semacam kau? Sekarang saja kau bicara.”

Perlakuan orang itu sebenarnya sudah keterlaluan. Tetapi Mahesa Jenar masih berusaha untuk menahan diri, dan menjawab dengan baik.

“Apa yang perlu kau ketahui telah aku katakan.”

“Belum cukup,” jawab Baureksa semakin marah. “Apa yang akan kau katakan kepada kakang Demang?”

Mahesa Jenar memandang kepada orang tua itu. Wajahnya yang bening menjadi agak suram. Sebenarnya ia dapat menerima permintaan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak dapat menyakiti hati bawahannya yang merupakan tulang punggung kademangannya. Memang, Demang tua itu sendiri sering merasa tidak senang akan sikap Baureksa. Tetapi orang ini terlalu berpengaruh karena kehebatannya. Malahan pernah terpikir olehnya untuk suatu waktu memberi pelajaran sedikit kepada Baureksa, sebab meskipun usianya telah lanjut tetapi ia masih merasa mampu untuk melakukannya. Tetapi hal yang demikian akan tidak baik pengaruhnya terhadap rakyat yang justru sekarang memerlukan perlindungan dari bahaya yang setiap saat dapat mengancam.
Dan tiba-tiba saja ia mendapat suatu pikiran baik. Menilik tubuh, sikap dan gerak-gerik Mahesa Jenar, orang tua yang sudah banyak pengalaman itu segera mengenal, bahwa Mahesa Jenar bukan orang yang pantas direndahkan. Ia tersenyum dalam hati karena pikiran itu.

Lalu bagaimanakah sebaiknya Baureksa?” tanya Demang tua itu.

Sikap Baureksa semakin garang. Ia merasa bahwa demangnya akan menyerahkan segala sesuatu kepadanya.

Orang itu harus berkata sebenarnya,” katanya.

Kalau tidak mau?” pancing Demang itu.

Dipaksa!” jawab Baureksa tegas-tegas. Dan jawaban ini memang diharapkan sekali oleh demang tua itu.

Bagus… terserah kepadamu. Yang lain sebagai saksi atas apa yang terjadi,” katanya.

Keadaan berubah menjadi tegang. Tak seorangpun mengerti maksud dari kepala daerahnya itu. Sebenarnya orang-orang itu sama sekali tak menghendaki kejadian-kejadian semacam itu, sebab dalam pandangan mereka, Mahesa Jenar adalah orang yang sopan dan baik.

Kalau sekali Baureksa sudah bertindak, biasanya tak dapat dikendalikan lagi. Dan orang yang diperiksanya biasanya kesehatannya tak dapat pulih kembali. Tetapi tak seorang pun yang berani menghalang-halanginya sifat-sifatnya yang mengerikan itu. Apalagi kalau orang itu benar-benar pegawai istana, maka apakah kiranya yang akan terjadi?.

Berbeda sekali dengan pikiran Baureksa.Ia menjadi gembira seperti anak-anak yang mendapat mainan. Meskipun ia juga mempunyai otak, tetapi tidak dapat bekerja dengan baik. Adatnya keras dan lekas marah. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, pada waktu terjadi huru hara, dan ia tidak mampu untuk mengatasinya. Maka sekarang ia ingin mengembalikan kepercayaan rakyat atas kehebatannya dengan menumpahkan segala dendamnya kepada orang asing itu. Tetapi untuk itu ia tidak akan segera turun tangan sendiri. Ia ingin melihat dahulu sampai dimana kekuatan barang mainannya. Sebab bagaimana tumpulnya otak Baureksa, namun ia masih juga melihat suatu kemungkinan yang ada pada calon korbannya.

Sebaliknya Mahesa Jenar mengeluh dalam hati. Cepat ia dapat menangkap maksud Demang tua yang bijaksana itu dengan menangkap pandangan matanya.

“Permainan berbahaya. Demang tua itu sama sekali belum mengenal aku, sebaliknya aku pun belum mengenal orang macam Baureksa itu,” pikir Mahesa Jenar. Tetapi bagaimana pun, Mahesa Jenar terpaksa melayaninya kalau ia tidak mau menjadi bulan-bulanan celaka.

Gagak Ijo…!” tiba-tiba terdengar Baureksa berteriak keras-keras.

Dan orang yang dipanggilnya Gagak Ijo itu dengan gerak yang cekatan meloncat ke hadapan Baureksa.

Gagak Ijo yang nama sebenarnya adalah Jagareksa adalah seorang pembantu, bahkan tangan kanan Baureksa. Kedua-duanya mempunyai sifat yang hampir sama. Tubuhnya agak pendek bulat, sedang otot-ototnya menjorok keluar membuat garis-garis yang sama jeleknya dengan garis-garis wajahnya.

“Suruh orang itu bicara,” perintah Baureksa.

Bicara tentang apa Kakang?” tanya Gagak Ijo.

Mendengar pertanyaan itu, Baureksa memaki keras-keras, “Bodoh kau. Suruh dia bicara, di mana rumahnya, di mana gerombolannya, dan suruh dia katakan kapan gerombolannya akan datang lagi untuk menculik gadis.”-

Gagak Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang ia sudah tahu tugasnya. Memeras keterangan dari orang asing itu.

Perlahan-lahan Gagak Ijo memutar tubuhnya, menghadap Mahesa Jenar. Sebentar ia mengatur jalan nafasnya, dan dengan perlahan-lahan pula ia mendekati korbannya. Suasana menjadi bertambah tegang.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
004

PERISTIWA semacam ini telah berulang kali terjadi, biasanya dilakukan terhadap para penjahat atau terhadap mereka yang melanggar adat. Tetapi sekali ini, orang-orang kademangan itu merasakan adanya suatu perbedaan dengan kejadian-kejadian yang pernah terjadi.

“Jawab setiap pertanyaanku dengan betul,” perintah Gagak Ijo dengan garangnya. Matanya menjadi berapi-api dan mulutnya komat-kamit.

“Siapa namamu?”

Pertanyaan yang pertama ini mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak menduga bahwa dari mulut orang itu akan keluar pertanyaan yang demikian. Maka untuk pertanyaan yang pertama ini Mahesa Jenar menjawab dengan tenangnya.

“Namaku Mahesa Jenar.”

Rupa-rupanya ketenangannya ini sangat mengagumkan orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pernah ada seorang pun yang dapat bertindak setenang itu menghadapi Gagak Ijo, apalagi Baureksa.

“Bagus…” dengus Gagak Ijo. “Nama yang bagus. Mengenal namamu adalah perlu sekali bagiku. Kalau terpaksa tanganku membunuhmu. Orang-orang sudah tahu bahwa kau bernama Mahesa Jenar.”

Gagak Ijo lalu mengangguk-angguk dengan sikap yang sombong sekali. Memang, ia mempunyai kebiasaan untuk tidak segera bertindak. Ia senang melihat korbannya ketakutan dan bahkan pernah ada yang sampai terjatuh di tempat. Tetapi kali ini ia merasa aneh, Mahesa Jenar tenang bukan kepalang. Dan ini sangat menjengkelkannya.

“Kau sudah dengar perintah kakang Baureksa? Apa yang harus kau katakan, sekarang katakanlah.”

“Tak ada yang akan aku katakan,” jawab Mahesa Jenar.

Gagak Ijo terkejut mendengar jawaban itu, sehingga membentak keras.

“Bicaralah!” Lalu suaranya ditahan perlahan-lahan. “Bicaralah supaya aku tidak usah memaksamu.”

Mahesa Jenar kemudian menjadi jemu melihat sikap Gagak Ijo yang sombong itu. Maka ia mengambil keputusan untuk cepat-cepat menyelesaikan pertunjukan yang membosankan itu, dengan membuat Gagak Ijo marah.

“Baiklah aku berkata, bahwa rumahku adalah jauh sekali seperti yang sudah aku katakan kepada Bapak Demang tadi. Tetapi kedatanganku kemari sama sekali tidak akan menculik gadis-gadis. Aku datang kemari karena aku ingin menculik kau untuk menakuti gadis-gadis.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terkejut bukan main. Alangkah beraninya orang asing itu. Malahan akhirnya beberapa orang menjadi hampir-hampir tertawa, tetapi ditahannya kuat-kuat, kecuali demang tua itu yang tampak tersenyum-senyum.

Sebaliknya Gagak Ijo menjadi marah bukan kepalang. Mukanya menjadi merah menyala dan giginya gemeretak. Selama hidup ia belum pernah dihinakan orang sampai sedemikian, apalagi di hadapan Demang dan Baureksa. Maka ia tidak mau lagi berbicara, tetapi ia ingin menyobek mulut Mahesa Jenar yang sudah menghinanya itu. Dengan gerak yang cepat ia meloncat dan kedua tangannya menerkam wajah Mahesa Jenar.

Orang-orang yang menyaksikan gerak Gagak Ijo itu menjadi tergoncang hatinya. Mereka telah berpuluh kali melihat ketangkasan Gagak Ijo, tetapi kali ini gerakannya adalah diluar dugaan. Hal ini terdorong oleh kemarahannya yang meluap-luap, sehingga semua orang yang menyaksikan menahan nafas sambil berdebar-debar.

Tetapi gerakan ini bagi Mahesa Jenar adalah gerakan yang sangat sederhana. Bahkan mirip dengan gerak yang tanpa memperhitungkan kemungkinan yang ada pada lawannya. Untuk menghindari serangan ini Mahesa Jenar tidak perlu banyak membuang tenaga. Hanya dengan sedikit mengisarkan tubuhnya dengan menarik sebelah kakinya, Mahesa Jenar telah dapat menghindari terkaman Gagak Ijo itu. Dengan demikian, karena dorongan kekuatannya sendiri Gagak Ijo menjadi kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian, sebenarnya Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat membalas serangan itu dengan suatu pukulan yang dapat mematahkan tengkuk Gagak Ijo. Tetapi Mahesa Jenar tahu, kalau dengan demikian akibatnya akan hebat sekali. Karena itu, ia hanya menyerang Gagak Ijo dengan sentuhan jarinya, untuk mendorong punggung Gagak Ijo dengan arah yang sama. Gagak Ijo yang memang sudah kehilangan keseimbangan, segera jatuh tertelungkup mencium tanah.

Mereka yang berdiri mengitari arena pertarungan itu, mula-mula mengira bahwa akan hancurlah muka orang asing itu diremas oleh Gagak Ijo. Tetapi ketika mereka menyaksikan kenyataan itu, menjadi sangat terkejut dan heran. Gagak Ijo itu sendiri malahan yang mencium tanah. Banyak diantara mereka tidak dapat melihat apa yang sudah terjadi.

Tetapi dengan demikian Mahesa Jenar tambah berhati-hati, sebab ia tahu bahwa apa yang dilakukan Gagak Ijo adalah diluar kesadarannya, karena terdorong oleh kemarahannya yang memuncak. Sehingga dalam tindakan selanjutnya, pastilah Gagak Ijo akan memperbaiki kesalahannya. Gagak Ijo sendiri kemudian merasa bahwa tindakannya kurang diperhitungkan lebih dahulu. Ia baru sadar ketika hidungnya sudah menyentuh tanah, dan sebentar kemudian seluruh mukanya. Peristiwa ini adalah memalukan sekali. Tokoh seperti Gagak Ijo dengan bulat-bulat terbanting di atas tanah tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menahannya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Hatinya menjadi seperti terbakar dan matanya merah menyala-nyala.

Seluruh tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

Tetapi setelah mengalami kejadian tersebut, ia tidak berani menyerang dengan membabi buta. Karena itu, ketika ia mulai menyerang lagi, ia berbuat lebih hati-hati. Dengan kecepatan yang tinggi, ia menyerang dengan kakinya ke arah perut Mahesa Jenar. Tetapi dengan cepat pula serangan ini dapat dihindari, dan sebelum Gagak Ijo dapat berdiri tegak kembali, Mahesa Jenar telah membalas menyerang dadanya. Tetapi Gagak Ijo cukup waspada.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
005

GAGAK IJO membuat gerakan setengah lingkaran ke belakang untuk menghindari serangan Mahesa Jenar. Bersamaan dengan itu, kakinya menyambar tangan Mahesa Jenar. Mahesa Jenar cepat-cepat menarik serangannya, dan secepat itu pula tangannya yang lain menyentuh kaki Gagak Ijo itu ke atas. Sekali lagi Gagak Ijo kehilangan keseimbangan, dan kali ini ia jatuh terlentang. Dengan gugup Gagak Ijo berguling dan kemudian berusaha tegak kembali.

Sementara itu Mahesa Jenar telah jemu dengan permainan ini. Ia ingin segera mengakhirinya. Maka ketika Gagak Ijo hampir berhasil menegakkan dirinya, seperti sambaran kilat telapak tangan Mahesa Jenar melekat di dada Gagak Ijo. Meskipun Mahesa Jenar hanya mempergunakan tenaga dorong yang tidak seberapa, tetapi akibatnya hebat sekali. Nafas Gagak Ijo mendadak serasa berhenti, dan pandangannya menjadi kuning berkunang-kunang. Meskipun dengan susah payah, ia mencoba untuk menahan diri, tetapi perlahan-lahan ia terjatuh kembali. Ia terduduk di tanah dengan nafas tersenggal-senggal, sedangkan kedua tangannya berusaha untuk menahan berat badannya.

Orang-orang yang melihat pertandingan itu berdiri tanpa berkedip. Gagak Ijo termasuk orang yang dikagumi di desa itu. Tetapi Mahesa Jenar dengan mudahnya dapat menjatuhkannya. Ilmu macam apakah yang dimilikinya?

Belum lagi mereka sempat berpikir lebih banyak, mereka dikejutkan oleh gertak Baureksa yang gemuruh seperti membelah langit. Ketika ia menyaksikan Gagak Ijo, orang kepercayaannya dipermainkan orang asing itu, hatinya menjadi panas. Meskipun di antara kemarahannya itu terselip pula perasaan was-was. Ternyata orang yang dianggapnya barang mainan itu, adalah barang mainan yang mahal.

Itulah sebabnya maka sebelum mengadu tenaga, Baureksa akan berusaha untuk mengurangi kegesitan lawannya dengan melukainya lebih dahulu. Cambuknya yang besar dan panjang dengan potongan-potongan besi, batu dan tulang-tulang itu diputarnya di atas kepala sampai menimbulkan suara berdesing-desing. Mahesa Jenar kini harus benar-benar waspada.

Suara yang berdesing-desing itu sedikit-banyak dapat menunjukkan kira-kira sampai di mana kekuatan Baureksa. Hanya apakah Baureksa dapat mempergunakan kekuatan serta tenaganya dengan baik, itulah yang masih perlu diuji.

Orang-orang yang menyaksikan menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika mereka melihat Baureksa akan mempergunakan senjatanya, maka menurut pikiran mereka, sedikit kemungkinannya Mahesa Jenar dapat menyelamatkan diri.

Cambuk Baureksa yang berputar-putar itu, cepat sekali menyambar leher Mahesa Jenar, tetapi secepat itu pula Mahesa Jenar membungkuk menghindari, sehingga cambuk itu tidak mengenai sasarannya. Baureksa yang merasa serangannya gagal menjadi semakin marah. Dengan cepat ia mengubah arah cambuknya dan dengan mendatar ia menyerang arah dada. Mahesa Jenar sadar bahwa dalam jarak yang agak jauh sulit baginya untuk menghindari serangan-serangan cambuk Baureksa yang cukup cepat dan keras. Karena itu sebelum cambuk Baureksa sempat
mengenainya, Mahesa Jenar dengan gerakan kilat meloncat maju, dekat sekali di samping Baureksa, dan menggempur tangan Baureksa yang memegang senjata itu. Gempuran itu terasa hebat sekali dan tak terduga-duga. Terasa tulang-tulang Baureksa gemertak. Perasaan sakit serta panas menyengat-nyengat, tidak hanya pada bagian yang terkena, tetapi seakan-akan menjalar sampai ke ubun-ubun. Cambuknya segera terlepas dan melontar jauh.

Baureksa sama sekali tidak mengira bahwa hal yang semacam itu bisa terjadi. Karena itu sama sekali ia tak dapat memberikan perlawanan, dan membiarkan cambuknya terlontar.

Mengalami hal semacam itu, meskipun terpaksa menahan sakit, Baureksa menjadi bertambah kalap. Ia mengumpulkan segenap tenaganya dan ingin menebus malunya dengan mematahkan leher lawannya. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan rasa sakitnya, sehingga Mahesa Jenar tak dapat mengukur akibat gempurannya dengan pasti.

Baureksa cepat-cepat menarik diri untuk segera bersiap-siap menyerang, sedangkan Mahesa Jenar pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan. Kembali Baureksa menyerang lawannya ke dua arah sekaligus. Tangan kanannya menyodok perut, sedangkan tangan kirinya menghantam pelipis. Mendapat serangan ini Mahesa Jenar segera merendahkan diri serta memutar tubuh. Tetapi ketika Baureksa melihat bahwa Mahesa Jenar mencoba menghindar, segera Baureksa mengubah arah serangannya. Cepat-cepat ia menarik tangannya dan dengan satu gerakan dahsyat ia meloncat dan menendang kepala lawannya.

Mahesa Jenar tidak menduga bahwa Baureksa dapat meloncat secepat itu. Karena itu ia tidak lagi sempat mengelak.

Sebenarnya Mahesa Jenar masih akan menghindari bentrokan-bentrokan secara langsung, sebab sampai sekian ia masih belum dapat menjajagi sampai di mana kekuatan Baureksa yang sebenarnya. Tetapi kali ini, ia harus melawan serangan kaki Baureksa itu. Maka untuk tidak mengalami hal-hal yang tidak dikehendaki atas dirinya, terpaksa Mahesa Jenar mempergunakan sebagian besar dari tenaganya yang dipusatkan pada siku tangan kanannya.

Ia merendah sedikit sambil memiringkan tubuhnya. Maka, terjadilah suatu benturan yang hebat antara kaki Baureksa dengan siku tangan Mahesa Jenar. Akibatnya hebat pula. Baureksa ternyata telah mengerahkan seluruh tenaganya, dan ketika ia melihat bahwa Mahesa Jenar tidak sempat mengelakkan serangannya, ia sudah memastikan bahwa orang asing itu akan terpelanting dan tidak akan dapat bangun kembali.

Tetapi dugaan itu ternyata meleset sama sekali. Ketika kaki Baureksa yang sudah mengerahkan seluruh tenaganya itu menyentuh siku tangan Mahesa Jenar, Baureksa merasa bahwa kakinya seolah-olah menghantam dinding batu yang keras sekali. Dan kini tulang-tulang kakinyalah yang bergemeretakan, sedangkan ia terpental oleh kekuatannya sendiri dan dengan kerasnya terbanting di tanah, sehingga tidak sadarkan diri.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu, serentak hatinya bergetar, sampai beberapa orang menggigil karena tegang. Beberapa orang tidak dapat mengikuti dengan pandangan matanya tentang apa yang terjadi. Yang mereka ketahui hanyalah Baureksa terbanting di tanah hingga pingsan.

Demang Pananggalan, demikian nama Demang tua itu, hatinya menjadi cemas menyaksikan pertempuran itu. Sebab kalau sampai terjadi sesuatu hal, dia lah yang harus bertanggungjawab.

Cepat-cepat ia mendekati Baureksa yang sedang pingsan. Dirabanya seluruh tubuhnya. Ia menjadi terkejut sekali ketika tangannya meraba kaki Baureksa yang membentur siku Mahesa Jenar. Kaki itu terasa dingin sekali dan di beberapa bagian terasa adanya luka dalam yang berbahaya bila tidak lekas-lekas mendapat pertolongan.

Orang-orang yang berkerumun menjadi terdiam seperti patung. Mereka tidak tahu lagi bagaimana harus menilai kehebatan orang asing itu, yang dengan bermain-main saja telah dapat mengalahkan Gagak Ijo dan kemudian sekaligus Baureksa.

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 606

SATU-DUA orang mencoba menolong kawan-kawan mereka yang luka dan memapahnya. Tetapi kebanyakan dari mereka sama sekali tidak ambil pusing kepada mereka yang terpaksa berjalan sambil merintih-rintih, bahkan hampir merangkak-rangkak sekalipun. Apalagi mereka yang terluka dan parah terbaring di bekas daerah pertempuran itupun sama sekali tidak mendapat perhatian. Telah menjadi kebiasaan mereka, laskar golongan hitam, untuk menjaga diri masing-masing. Bahkan untuk kepentingan rahasia mereka, sama sekali mereka tidak segan membunuh kawan sendiri. Berbeda dengan laskar Pamingit dan Banyubiru. Segera mereka berkumpul dalam kelompok masing-masing.

Pemimpin-pemimpin kelompok yang tetap hidup segera menghitung laskar mereka, sedang yang terpaksa gugur atau terluka, segera ditunjuk gantinya. Mereka segera membentuk kelompok-kelompok yang mendapat tugas khusus, merawat kawan-kawan mereka yang terluka dan gugur dimedan perjuangan menegakkan hak atas tanah mereka. Bahkan tugas mereka melimpah pula kepada kawan-kawan mereka yang parah. Merekapun berhak mendapat pertolongan dan pengobatan atas luka-luka mereka.

Demikianlah medan pertempuran itu segera menjadi sepi. Beberapa orang dengan obor di tangan menjalankan tugas mereka. Sedang orang-orang lain, dalam satu barisan yang tertib kembali ke perkemahan di Pangrantunan. Mereka harus mempergunakan waktu istirahat mereka sebaik-baiknya.

Besok mereka masih harus bertempur lagi. Mungkin mereka akan mendesak maju. Mereka merasa bahwa keseimbangan pertempuran telah berubah. Bahkan mungkin besok mereka telah dapat memasuki Pamingit. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas dan Titis Anganten, demikian pertempuran selesai, segera pergi bergegas-gegas menemui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Ketika mereka telah berdiri di hadapan kedua orang itu, tiba-tiba tanpa sengaja mereka mengangguk hormat. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi kaku karenanya. Merekapun segera menghormat tokoh-tokoh sakti yang sebaya dengan Ki Ageng Pengging Sepuh itu.

Namun segera terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata, ”Sungguh luar biasa. Angger Mahesa Jenar dan Angger Putut Karang Jati. Kami orang-orang tua ini, agaknya telah kehilangan daya pengamatan atas cahaya teja yang memancar dari tubuh Angger berdua. Sebagaimana terbukti, bahwa Angger telah melakukan sesuatu yang tak dapat kami duga sebelumnya karena rasa sombong di hati kami. Seolah-olah tak ada orang lain yang dapat menyamai kesaktian-kesaktian kami. Ternyata bahwa Angger berdua memiliki kesaktian jauh di atas kesaktian kami orang-orang tua yang tak tahu diri.

Mahesa Jenar menjadi semakin kaku. Ia tidak pernah melihat sikap yang sedemikian merendahkan diri dari tokoh-tokoh tua itu. Karena itu ia menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab. Yang kemudian terdengar adalah jawab Kebo Kanigara, ”Ada kekuasaan di atas, kekuasaan-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya pula. Kami tidak lebih hanyalah lantaran-lantaran yang ditunjuknya.”

Tokoh-tokoh sakti yang mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu langsung tersentuh hatinya. Sebagai orang-orang yang taat beribadah, mereka langsung dapat merasakan betapa Tuhan mengulurkan Tangan-Nya untuk menolong umatnya.

Sementara itu, mereka yang mendapat tugas di bekas medan pertempuran itu menjalankan pekerjaan mereka dengan tertib. Mereka berusaha meringankan setiap penderitaan dari mereka yang terluka. Ki Ageng Sora Dipayana dan kawan-kawannyapun mendahului kembali ke perkemahan bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tak banyak yang mereka percakapkan di sepanjang perjalanan itu. Namun di dalam dada tokoh-tokoh sakti itu masih tetap tersimpan berbagai pertanyaan mengenai Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Pagi tadi mereka masih menyangka bahwa kedua orang itu masih harus bertempur dalam perlindungan mereka dan laskar-laskar mereka. Tetapi tiba-tiba suatu kenyataan, kedua orang itu memiliki kesaktian melampaui kesaktian mereka sendiri.

Sampai perkemahan, segera Ki Ageng Sora Dipayana mengatur penjagaan dan pengawasan atas daerah perkemahan mereka dan pengawasan atas daerah lawan. Beberapa orang mendapat tugas untuk mengamat-amati perkemahan dan setiap gerak-gerik dari laskar golongan hitam. Apapun yang mereka lakukan, para pengawas itu harus memberikan laporan setiap saat dengan tertib. Ketika Ki Ageng Sora Dipayana kemudian bersama-sama dengan Mahesa Jenar pergi membersihkan diri, sambil mengambil air wudlu, dari celah-celah pintu rumah tempat peristirahatannya mereka melihat Lembu Sora sedang sembahyang.

Mahesa Jenar berhenti pula ketika tiba-tiba Ki Ageng Sora Dipayana berhenti. Orang tua itu melihat anaknya bersembahyang, seperti orang yang sedang mengagumi sesuatu. Mahesa Jenar menjadi heran. Bukankah sembahyang itu harus dilakukan setiap hari, bahkan lima kali dalam keadaan wajar? Bahkan orang tua itu kemudian bergumam, ”Tuhan telah menerangi hatinya.”

Mahesa Jenar menjadi semakin heran, maka bertanyalah ia, ”Bukankah sudah seharusnya dilakukan, Ki Ageng?”

Ki Ageng Sora Dipayana menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, ”Aku hampir saja putus asa. Lembu Sora lebih senang mengadu ayam dan berjudi daripada mendekatkan diri kepada Tuhan. Beberapa tahun terakhir, ia seolah-olah sudah lupa sama sekali akan kewajiban itu. Syukurlah, kini ia telah menemukan jalannya. Tetapi…” kata-kata orang tua itu terputus oleh tarikan nafasnya. ”Tetapi…”

Tidak dengan sengaja Mahesa Jenar mengulangi kata itu. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintanrja No. 607

KI AGENG Sora Dipayana memandangi wajah Mahesa Jenar dengan mata yang suram. Terasa ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana melangkah kembali untuk membersihkan dirinya. Mahesa Jenar pun tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengikuti saja langkah orang tua itu sambil berdiam diri.

Ketika mereka bertemu dengan Arya Salaka, Ki Ageng Sora Dipayana bertanya, ”Dari mana kau Arya?”

Arya berhenti, kemudian ia menjawab, ”Sesuci Eyang.” Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Katanya, ”Bagus. Di mana adikmu Sawung Sariti?” Arya Salaka menggeleng-gelengkan kepalanya, jawabnya, ”Aku tidak melihatnya, Eyang. Barangkali ia bersama-sama Paman Lembu Sora.”

”Kalau kau bertemu dengan anak itu nanti, berilah ia beberapa petunjuk. Ajaklah ia kembali kepada Yang Maha Kuasa,” pinta orang tua itu.

”Baiklah Eyang,” jawab Arya. Kemudian Ki Ageng Sora Dipayana dan Mahesa Jenar pergi pula ke pancuran dari sumber air di bawah pohon beringin tua.

”Angger Mahesa Jenar agaknya beruntung dapat membawa Arya Salaka ke jalan yang gemilang, lahir dan batin. Tanpa keseimbangan itu, maka yang terjadi adalah kekecewaan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. Karena itulah segera Mahesa Jenar mengerti, bahwa Ki Ageng Sora Dipayana sedang mencemaskan nasib cucunya, Sawung Sariti. Malam itu, ketika semuanya telah selesai, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka dengan nikmatnya menyuapi mulut masing-masing dengan nasi hangat dan serundeng kelapa seperti pagi tadi.

Namun meskipun demikian, karena letih dan lapar, maka terasa seolah-olah hidangan yang dimakannya itu adalah hidangan yang seenak-enaknya. Mereka duduk-duduk di antara laskar mereka, di sekeliling perapian untuk menghangatkan diri. Beberapa kali terdengar suara Bantaran, Penjawi, Jaladri dan beberapa orang lain tertawa ketika ia mendengar Sendang Papat berceritera.

Anak itu memang pandai berkelekar. Namun lambat laun suara tertawa merekapun semakin jarang dan lambat. Kemudian mereka tidak dapat menahan kantuk mereka. Diatas anyaman daun kelapa mereka merebahkan diri. Tidur sambil memeluk senjata masing-masing. Arya Salaka kemudian tertidur pula. Begitu nyenyaknya dibuai oleh mimpi yang segar. Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara akan merebahkan dirinya pula, mereka dikejutkan oleh langkah seseorang mendekati mereka.

Ketika mereka menoleh dilihatnya Lembu Sora datang kepada mereka. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bangkit, sambil mempersilahkan, ”Marilah Ki Ageng.”

Lembu Sora mengangguk hormat dengan tulusnya. Berbeda dengan saat-saat yang lampau. Kemudian merekapun duduk pula didekat perapian yang masih menyala-nyala itu. ”Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati…” Ki Ageng Lembu Sora mulai, ”Aku memerlukan datang kepada kalian berdua untuk memohon maaf atas segala kekhilafan yang pernah aku lakukan, lebih-lebih kepada Adi Mahesa Jenar dan apabila aku masih sempat untuk bertemu karena kepalaku tidak terpenggal pedang Jaka Soka besok pagi, aku akan bersujud pula di bawah kaki Kakang Gajah Sora. Betapa besar dosa yang telah aku lakukan. Atas ayah Sora Dipayana, Kakang Gajah Sora dan lebih-lebih lagi atas Pamingit dan Banyubiru.”

Hati Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tergetar mendengar pengakuan itu, dan terasa betapa ikhlasnya Lembu Sora memandang kepada diri sendiri. Udara malam terasa dingin, namun kehangatan yang dilemparkan oleh perapian di samping mereka terasa betapa nyamannya. Sebelum Mahesa Jenar menjawab, Lembu Sora meneruskan, ”Dalam keadaan-keadaan yang sulit seperti apa yang aku alami sekarang, baru dapat aku lihat, betapa noda-noda telah melekat pada masa lampau itu. Mudah-mudahan aku belum terlambat.”

Lembu Sora diam sesaat menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. ”Tetapi Kakang, apabila besok aku terbunuh dalam mempertahankan tanah ini, biarlah Kakang menyampaikan rasa penyesalanku kepada Kakang Gajah Sora kelak.”

”Tak ada kelambatan untuk menyatakan kesalahan diri,” sahut Mahesa Jenar. ”Meskipun aku belum lama berkenalan, namun aku tahu bahwa dada Kakang Gajah Sora adalah seluas samodra. Karena itu, kalau Ki Ageng menyatakan penyesalan diri dengan ikhlas, maka Kakang Gajah Sora pun pasti akan memaafkannya.”

”Ya…” Lembu Sora menjawab, ”Aku tahu itu. Aku sadar betapa Kakang Gajah Sora memanjakan aku sejak masa kanak-kanak kami. Tetapi apa yang aku lakukan telah melampaui batas. Aku telah sampai pada usaha untuk membunuhnya atau meniadakannya. Bahkan membunuh anaknya yang tak mengetahui sama sekali persoalan di antara kami. Syukurlah bahwa Tuhan membebaskan aku dari pembunuhan-pembunuhan itu.”

”Hal itu tidak akan mengurangi kelapangan dada Kakang Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar seperti kepada anak-anak yang betapa miskin jiwanya dalam menanggapi hidup dan kehidupan.”

”Tetapi kalau aku tidak sempat karena aku terbunuh…?” Lembu Sora bertanya benar-benar seperti orang yang sedemikian bodohnya.

”Tidak,” jawab Mahesa Jenar, ”Meskipun hidup dan mati berada di tangan Tuhan, namun berdoalah agar Tuhan menyelamatkan Ki Ageng Lembu Sora. Saat ini Kakang berada di pihak yang benar. Karena itulah maka kami dan Arya Salaka bersedia berdiri di pihak Ki Ageng. Dan karena itu pula Tuhan akan melimpahkan rahmat-Nya.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 608

LEMBU SORA terdiam. Matanya yang muram, merenungi api yang sedang menjilat- jilat ke udara dengan lincahnya. Tetapi di dalam nyala yang seolah-olah menari- nari itu dilihatnya betapa kelam masa-masa lampau yang pernah dijalaninya. Ketamakan, kebencian, pemanjaan nafsu lahiriah, dan segala macam sifat-sifat yang tercela. Dilihatnya betapa dirinya duduk di atas singgasana Demak, dengan Kyai Nagasasra di tangan kanan dan Kyai Sabuk Inten di tangan kiri. Sedang kakinya beralaskan bangkai Ki Ageng Gajah Sora dan Arya Salaka, dan sekitarnya berserak-serakanlah bangkai-bangkai orang Banyubiru. Pandan Kuning, Sawungrana dan lain-lain.

Tiba-tiba ia menjadi ngeri pada gambaran cita-citanya waktu itu. Dengan tanpa disengaja maka kedua tangannya diangkatnya menutupi wajahnya. Akhirnya wajah itu tertunduk lesu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mengetahui betapa rasa penyesalan bergolak di dalam dada Ki Ageng Lembu Sora. Betapa ia mengutuki dirinya sendiri yang telah tersesat terlalu jauh. Untunglah bahwa akhirnya ditemukannya jalan kembali.

Untuk sesaat suasana dicekam oleh kesepian. Malam menjadi semakin dalam dan sepi. Namun terasa di sana sini para pengawas dan para penjaga bekerja dengan tekunnya. Di tangan mereka terletak tanggungjawab atas keselamatan perkemahan Pangrantunan. Sebab tidaklah mustahil laskar golongan hitam itu menyerang mereka pada malam hari ketika mereka sedang nyenyak tertidur.

Tiba-tiba Arya Salaka menggeliat. Ketika ia membuka matanya, ia melihat pamannya Lembu Sora duduk bersama-sama dengan gurunya dan Kebo Kanigara. Karena itu iapun segera bangkit dan duduk pula. Lembu Sora melihat Arya bangun dekat di sampingnya. Tiba-tiba terasa betapa hatinya bergelora. Dan tiba-tiba pula dengan serta merta diraihnya kepala anak muda itu seperti masa anak-anak dahulu.

”Arya…” desisnya, ”Maafkan pamanmu.” Arya pun merasa betapa hatinya bergetar mendengar kata-kata pamannya. Karena itulah maka mulutnya menjadi seolah-olah terkunci. Namun hatinya berkata, ”Aku akan berusaha melupakannya, Paman.” Kemudian ketika kepala itu dilepaskan, mata Arya menjadi panas. Seolah-olah ada yang berdesakan hendak meloncat keluar. Karena itulah maka ditengadahkan kepalanya ke langit. Sedang Ki Ageng Lembu Sora pun menarik nafas dalam-dalam.

Kembali suasana terlempar ke dalam heningnya malam. Dan kembali Lembu Sora berangan-angan. Kini yang bergolak di dalam hatinya adalah anaknya, Sawung Sariti. Ia menyesal telah membawa anak itu lewat jalan yang penuh dengan noda dan dosa. Apalagi ketika ia sadar bahwa sampai saat ini anak itu masih tetap dalam pendiriannya. Karena itu kemudian ia berkata, ”Arya, di manakah adikmu?”

Arya memalingkan kepalanya. Ia mendengar pertanyaan yang serupa dari eyangnya tadi. Maka iapun menjawab, ”Aku tidak tahu, Paman. Tadi eyangpun menanyakan Adi Sawung Sariti. Aku kira Adi bersama-sama dengan Paman.”

Kembali penyesalan melonjak-lonjak di dalam dadanya. Pasti anak itu pergi dengan Galunggung. Seorang yang sama sekali tidak mempunyai harga diri dan kesopanan dalam tata pergaulan manusia. Tetapi kembali Lembu Sora menimpakan kesalahan pada diri sendiri. ”Mudah-mudahan ia terbentur pada kenyataan ini seperti aku sendiri,” gumam Lembu Sora, lebih-lebih ditujukan kepada dirinya sendiri.

Kemudian kepada Arya Salaka ia berkata, ”Arya, adikmu telah terlampau jauh tersesat seperti aku. Namun aku masih dapat melihat kenyataan ini. Mudah-mudahan Sawung Sariti pun demikian. Dapatkah kau membantu aku membawanya kembali ke jalan yang benar?”

”Mudah-mudahan, Paman,” jawab Arya, meskipun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa adik sepupunya itu sedemikian membencinya, jauh lebih dalam daripada pamannya itu sendiri. Namun demikian ia berjanji untuk berusaha. Dalam pada itu, tiba-tiba datanglah Wulungan. Dengan heran ia melihat Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka masih enak-enak duduk di situ. Apakah ia belum mendengar laporan yang disampaikan oleh beberapa orang pengawas? Tetapi karena persoalannya sedemikian penting, maka Wulunganpun tidak segan- segan menanyakannya.

Maka iapun kemudian duduk pula di samping perapian itu sambil bertanya kepada Mahesa Jenar, ”Tuan, apakah Tuan telah mendengar laporan para pengawas?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. ”Belum Wulungan,” jawabnya. ”Laporan tentang apa?” ”Ataukah laporan ini disampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana? Namun meskipun demikian, Ki Ageng Sora Dipayana pasti segera memberitahukan kepada Tuan dan Angger Arya Salaka,” sambung Wulungan.

”Penting sekalikah laporan itu?” tanya Arya.

”Ya, sangat penting bagi Angger,” jawab Wulungan. ”Kalau demikian…” ia melanjutkan, ”Biarlah aku panggil orang itu.”

Wulungan segera berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa. Yang ditinggalkan di tepi perapian itupun bertanya-tanya di dalam hati. Sesaat kemudian Wulungan kembali bersama seorang pengawas dari Pamingit.

Diajaknya orang itu duduk pula, dan berkatalah ia, ”Inilah orang yang menyampaikan laporan itu, Tuan.”

Lembu Sora memandangi orang itu dengan seksama. Kemudian berkatalah ia, ”Katakanlah apa yang kau lihat?”

Orang itupun mengingsar duduknya. Kepada Ki Ageng Lembu Sora ia berkata, ”Aku adalah salah seorang yang mendapat tugas untuk mengawasi perkemahan laskar golongan hitam. Aku telah melaporkan segala sesuatu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

Wulungan tiba-tiba mengangkat dadanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Pasti ada sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Laporan itu tidak diteruskan kepada Arya Salaka, Mahesa Jenar atau Ki Ageng Sora Dipayana.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 609

LEMBU SORA mengerutkan keningnya. Seperti Wulungan, ia dapat menduga kelicikan anaknya. Namun sekali lagi dadanya dihantam oleh kegelisahan, penyesalan yang tiada taranya. Seolah-olah terdengar suara berdesing ditelinganya. ”Kau jangan salah, Lembu Sora. Anak itu memang kau didik demikian.”

”Di mana Sawung Sariti dan Galunggung itu?” tanya Lembu Sora menggeram. ”Aku temui mereka di pojok teras. Mereka baru saja keluar dari rumah Kakang Badra Klenteng Pangrantunan,” sahut orang itu.

”Apa kerjanya di sana?” Tiba-tiba mata Lembu Sora terbelalak. Orang itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Karena orang itu tidak menjawab, Lembu Sora mendesaknya, ”He, apa kerjanya di sana?”

Wulungan memalingkan wajahnya ke arah api yang memercik dengan riangnya. Kebenciannya kepada anak kepala daerah perdikannya itu tiba-tiba semakin menyala seperti nyala api yang dipandangnya itu. Badra Klenteng adalah orang yang sekotor-kotornya di Pangrantunan.

Di rumahnya ada dua tiga orang gadis. Bukan gadis, tetapi yang disebutnya gadis penari. Penari tayub yang terkenal. Bukan terkenal karena keindahannya menari, tetapi terkenal karena keberaniannya menari. Menari dalam tataran yang melanggar tata kesopanan dan kepribadian.

Kepala pengawas itupun menjadi semakin tunduk. Ia tahu apa yang harus dikatakan. Tetapi mulutnya terkunci. Sehingga dengan demikian ia tetap berdiam diri. Akhirnya terdengar Lembu Sora menggeram, ”Bagus, jangan kau katakan kepadaku sekarang apa yang dikerjakan oleh anak itu. Terkutuklah mereka. Aku tidak tahu kemana mukaku aku sembunyikan kalau Adi Mahesa Jenar, Kakang Putut Karang Jati dan Arya Salaka tahu apa yang dikerjakan di sana. Tetapi apakah laporan itu?”

”Belumkah Angger Sawung Sariti menyampaikannya?” tanya pengawas itu. Lembu Sora menggelengkan kepalanya.

”Belum.” ”Agak terlambat,” katanya. ”Aku telah melihat beberapa waktu yang lalu.”

”Ya, apakah itu?” desak Arya Salaka tidak sabar. ”Aku lihat serombongan kecil orang-orang berkuda meninggalkan perkemahan mereka. Mereka menuju ke utara,” jawabnya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersentak. Mereka mendesak maju sambil bertanya, ”Siapakah mereka?”

”Tidak jelas. Tetapi mereka menuju ke jalan ke Banyubiru,” jawabnya.

”He…!” Arya hampir berteriak. ”Kau tahu benar?” ”Aku mengikuti beberapa langkah,” jawabnya. ”Karena itu aku yakin mereka pergi ke Banyubiru. Di simpang tiga Banjar Gede, mereka membelok ke timur.”

”Pasti ke Banyubiru,” desis Arya.

”Akupun pasti,” sahut pengawas itu, ”Tetapi aku tidak dapat mengikutinya terus. Ketika salah seekor kuda mereka berhenti, akupun berhenti pula. Agaknya salah seorang telah melihat aku. Sehingga ketika kudanya berputar, akupun memacu kudaku pula meninggalkan mereka. Untunglah kudaku agak lebih baik sehingga aku tak ditangkapnya. Sehingga akhirnya aku sampai pada gardu penjagaan. Aku tidak tahu apa yang dikerjakan oleh pengejarku itu. Namun aku kemudian langsung melaporkan peristiwa itu kepada Angger Sawung Sariti dan Kakang Galunggung.”

”Gila,” desah Lembu Sora. ”Sawung Sariti dan Galunggung tidak menyampaikan itu kepadaku, kepada ayah Sora Dipayana atau kepada Kakang Mahesa Jenar.”

”Wulungan…” tiba-tiba Lembu Sora berteriak, ”panggil mereka!”

Wulungan yang menjadi marah pula di dalam hati, segera bangkit. ”Baik Ki Ageng,” jawabnya. Dan iapun kemudian hilang di dalam gelap.

”Siapakah mereka itu?” tanya Arya Salaka.

”Aku tidak tahu,” jawab orang itu. ”Tetapi aku kira salah seorang di antaranya adalah orang yang berjubah abu-abu.”

”Pasingsingan…?” desis mereka bersamaan Tiba-tiba meloncatlah Arya Salaka dari tempat duduknya. Tanpa berkata apapun juga ia berlari kencang-kencang.

”Arya…” panggil Mahesa Jenar, ”Apa yang akan kau lakukan?”

”Kuda!” Hanya kata-kata itulah yang meloncat dari bibirnya. Mahesa Jenar yang tahu betapa watak muridnya itupun kemudian berdiri pula sambil berkata kepada Ki Ageng Lembu Sora, ”Adi, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Sora Dipayana, kami mendahului perintah supaya tidak terlalu lambat.”

Kebo Kanigara kemudian berdiri pula. Ia tidak sampai hati melepaskan Arya Salaka berdua dengan Mahesa Jenar saja. Kalau di dalam rombongan Pasingsingan itu ada Bugel Kaliki dan Sura Sarunggi, maka celakalah Arya Salaka.

Mahesa Jenar sendiri mungkin dapat mempertahankan dirinya beberapa lama meskipun ia harus berhadapan dengan dua tokoh hitam itu sekaligus, namun bagaimana dengan Arya? Karena itu ia berkata, ”Mahesa Jenar, aku pergi bersamamu.”

”Baiklah Kakang,” jawab Mahesa Jenar singkat. Iapun sadar akan bahaya yang setiap saat dapat mengancam keselamatan muridnya. Justru pada taraf terakhir dari perjuangannya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 610

BANTARAN, Penjawi, Jaladri dan Sendang Papat telah terbangun pula. Dengan gelisah ia bertanya, ”Ada apa Tuan-tuan?”

”Aku akan pergi sebentar, Bantaran. Jagalah laskar baik-baik. Tempatkan dirimu langsung di bawah perintah Ki Ageng Sora Dipayana apabila besok pagi-pagi aku belum kembali,” kata Mahesa Jenar dengan tergesa-gesa. Ia tidak sempat memberi banyak penjelasan. ”Aku titipkan laskar Banyubiru kepadamu Ki Ageng,” katanya kepada Lembu Sora.

”Baik Adi,” jawab Lembu Sora. ”Tetapi tidakkah Adi perlu membawa pasukan?”

”Tidak,” sahut Mahesa Jenar, ”Di Banyubiru masih ada separo laskar Arya Salaka.” Lembu Sora mengangguk sambil berdiri. Ia tidak sempat berkata-kata lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dengan tergesa-gesa berjalan mengikuti jalan yang dilewati Arya tadi. Mereka tahu benar ke mana muridnya itu pergi. Arya pasti pergi ke tempat kuda-kuda dipersiapkan. Mereka masih dapat melihat Arya melarikan kudanya seperti angin. Dengan demikian, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera meloncat ke punggung kuda-kuda yang mereka anggap cukup baik. Para penjaga kuda itu memandang mereka dengan heran.

Yang mereka dengar hanyalah kata-kata Arya tadi, ”Aku ambil seekor.” Lalu anak itu pergi dengan cepatnya. Sekarang mereka melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun mengambil masing-masing kuda dengan tergesa-gesa. ”Apa yang terjadi Tuan?” tanya seorang penjaga. ”Tidak apa-apa,” jawab Mahesa Jenar, ”Kami sedang berlatih berpacu kuda.”

Penjaga itu tersenyum. Tetapi ia tidak percaya. Meskipun demikian ia tidak bertanya-tanya lagi. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera memacu kudanya. Suara derap kakinya berdetak-detak memecah kesepian malam. Beberapa orang yang mendengar suara derap kaki kuda itupun terkejut.

Namun mereka tidak sempat bertanya, apakah dan kemanakah mereka pergi. Meskipun demikian, mereka terpaksa meraba-raba senjata-senjata mereka, kalau-kalau ada hal-hal yang penting akan terjadi di perkemahan itu.

Sementara itu dengan geram Lembu Sora berjalan ke tempat peristirahatan ayahnya. Ia benar-benar marah kepada Sawung Sariti dan Galunggung. Karena perbuatan mereka itu, telah membuka kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Sedangkan Bantaran, Jaladri, Penjawi dan Sendang Papat beserta beberapa orang Banyubiru yang lain bertanya-tanya dalam hati pula.

Mereka mendengar dari Ki Ageng Lembu Sora apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak diperkenankan meninggalkan laskar mereka. Karena itu merekapun menjadi gelisah. Apakah yang akan terjadi di Banyubiru. Namun mereka menjadi agak tenang ketika mereka sadar bahwa di Banyubiru masih ada Wanamerta, Ki Dalang Mantingan, Wirasaba dan separo dari laskar Banyubiru. Mudah-mudahan mereka dapat mengatasi kesulitan yang akan timbul.

Ketika Ki Ageng Lembu Sora sampai ke tempat Ki Ageng Sora Dipayana dilihatnya Sawung Sariti dan Galunggung telah berada di sana. Dengan wajah yang merah, ia masuk ke ruangan itu sambil menggeram, ”Apa kerjamu Sawung Sariti?”

Sawung Sariti menoleh kepada ayahnya. Ia terkejut. Belum pernah ia melihat mata ayahnya memancarkan sinar yang demikian kepadanya. ”Mungkin ayah sedang marah kepada seseorang,” pikirnya.

Tetapi ternyata Lembu Sora itu memandangnya terus seperti hendak menelannya hidup-hidup.

”Duduklah Lembu Sora,” ayahnya mempersilahkan. ”Sawung Sariti sedang menyampaikan kabar yang aku kira penting.”

Lembu Sora duduk di samping ayahnya, namun pandangan matanya masih saja melekat kepada anaknya.

”Terlambat,” geram Lembu Sora. ”Apa yang terlambat Lembu Sora?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. ”Kabar itu,” jawab Lembu Sora. ”Mungkin sesuatu telah terjadi sekarang di Banyubiru. Pembunuhan dan pembalasan dendam.”

”Sabarlah,” potong ayahnya, Apakah yang sebenarnya terjadi?”

”Apa yang disampaikan oleh Sawung Sariti?” Lembu Sora ganti bertanya. ”Tokoh-tokoh sakti dari golongan hitam telah meninggalkan perkemahan mereka,” jawab ayahnya.

”Ke mana?” desak Lembu Sora.

”Ke mana…?” ulang Ki Ageng Sora Dipayana. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bingung.

Agaknya Ki Ageng Lembu Sora telah mengetahui apa yang terjadi. Sejenak mereka saling berpandangan. Tetapi mereka terkejut ketika Lembu Sora membentaknya sambil berdiri, ”Kemana? Tidakkah kau sampaikan laporan itu selengkapnya setelah kau ulur waktu hampir seperempat malam supaya segala sesuatu menjadi semakin jelek?”

Sawung Sariti menjadi bertambah bingung. Adakah ayahnya bersungguh-sungguh, ataukah ayahnya hanya ingin menghilangkan kesan bahwa ayahnya akan berterima kasih kepadanya. Tetapi tiba-tiba ayahnya bersikap lain.

Namun Sawung Sariti adalah anak yang cerdik. Ia tidak kehilangan akal. Karena itu ia menjawab, ”Aku belum selesai ayah. Aku baru menyampaikan sebagian.” ”Berapa lama kau perlukan waktu untuk menyampaikan laporan yang dapat kau ucapkan dengan beberapa kalimat saja?” bentak ayahnya.

”Sudahlah Lembu Sora.” Ki Ageng Sora menengahi, ”Biarlah anakmu meneruskan laporannya. Memang ia belum lama datang kepadaku.”

Tetapi kemarahan Lembu Sora telah memenuhi dadanya. Kemarahan yang bercampur-baur dengan penyesalan dan perasaan yang menekan hatinya. Karena itu ia berkata lagi, ”Jadi kau belum lama menghadap eyangmu?”

Sawung Sariti tidak tahu maksud ayahnya, karena itu ia menjawab, ”Ya ayah.”

”Ke mana kau selama ini?” desak Lembu Sora. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja No. 611
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

SAWUNG SARITI menjadi ragu. Ia tidak berani berkata kepada ayahnya, dari mana ia pergi, karena ada eyangnya. Biasanya ia tidak perlu berahasia kepada ayahnya, tetapi terhadap eyangnya, Sawung Sariti tidak berani berterus terang. Karena itu tanpa disengaja ia berpaling kepada Galunggung, seakan-akan minta supaya Galunggung menjawab pertanyaan ayahnya itu. Ternyata Galunggungpun mengerti pula, karena itu ia menjawab, ”Kami dari nganglang daerah medan, Ki Ageng.”

”Medan mana?” Lembu Sora mendesak terus.

Galunggung pun menjadi ragu. Kenapa Ki Ageng Lembu Sora tidak seperti biasa. Pada saat-saat lampau ia tidak pernah mengurus ke mana ia pergi, dan apa saja yang dilakukan.

Tiba-tiba seperti disambar petir Sawung Sariti mendengar ayahnya berteriak, ”Kau pergi ke rumah Badra Klenteng kan…?”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya, seperti mimpi ia mendengar kata-kata Lembu Sora tentang cucunya itu. Mulut Sawung Sariti tiba-tiba seperti terkunci. Ayahnya benar-benar marah kepadanya. Tidak kepada orang lain. Kemarahan yang belum pernah dialaminya.

Namun Galunggung tiba-tiba berkata membela diri, ”Tidak, Ki Ageng. Siapakah yang mengatakan?” Mata Lembu Sora bertambah menyala, ”Kau mau bohong Galunggung. Kau kira aku tidak tahu?” ”Demi Allah,” sahut Galunggung, tetapi ia tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora meloncat dengan garangnya, dan menampar mulut Galunggung sambil berteriak, ”Jangan sebut kata-kata itu. Mulutmu terlalu kotor untuk mengucapkannya.”

Galunggung terdorong ke samping. Hampir saja ia jatuh kalau tubuhnya tidak membentur dinding. Ketika ia berusaha tegak kembali, terasa cairan yang hangat meleleh dari mulutnya. Darah merah menyala, seperti kemarahan yang menyala di dalam dadanya. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu. ”Lembu Sora…” Ki Ageng Sora Dipayana memanggil anaknya, ”Duduklah. Biarlah aku bertanya kepada mereka.”

Nafas Lembu Sora menjadi semakin memburu. Tetapi ia duduk pula di samping ayahnya. Sawung Sariti sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya, apalagi eyangnya yang telah mendengar bahwa ia baru saja pergi ke rumah Badra Klenteng. Tiba-tiba merayaplah dendam dadanya kepada orang yang menjumpainya waktu itu. Pengawas yang melaporkan peristiwa orang-orang golongan hitam itu. Demikian juga Galunggung. Berkatalah di dalam hatinya, ”Kalau aku temui orang itu, aku sobek mulutnya dan akan aku kubur ia hidup-hidup.”

Ketika Galunggung pun telah duduk kembali dan mengusap darah yang meleleh dari mulutnya dengan lengan bajunya, terdengar Ki Ageng Sora Dipayana berkata sareh, ”Sudahlah Lembu Sora, segala sesuatu bukanlah terjadi dengan tiba-tiba. Apalagi watak dan kelakuan. Sekarang tenangkan hatimu. Hari masih panjang. Mudah-mudahan aku mengalami masa-masa yang cerah. Masa-masa yang cerah bukan bagiku sendiri, tetapi bagimu, bagi cucuku Sawung Sariti, dan bagi cucuku Arya Salaka. Kesempatan untuk membersihkan diri masih terbuka, apalagi bagi anak semuda cucuku Sawung Sariti.”

Lembu Sora menundukkan wajahnya. Sekali lagi ia terlempar pada kenyataan akan kesalahan diri. Penyesalan yang memukul-mukul dinding hatinya menjadi semakin deras. ”Nah, Sawung Sariti…” Ki Ageng Sora Dipayana melanjutkan, ”Apakah yang kau katakan tentang orang-orang dari golongan hitam itu?”

Sawung Sariti mengangkat wajahnya, namun segera tertunduk kembali. Perlahan-lahan terdengar ia berkata dengan suara yang gemetar penuh dendam kepada pengawas yang telah melaporkan keadaan, ”Orang-orang dari golongan hitam itu pergi ke Banyubiru, Eyang.”

Ki Ageng Sora Dipayana terkejut. ”Ke Banyubiru?” ulangnya.

”Ya,” jawab Sawung Sariti yang kemudian mengulangi laporan yang didengarnya dari pengawas itu. ”Kapan kau dengar laporan itu?” tanya Ki Ageng Sora Dipayana. ”Beberapa saat yang lalu,” jawab Sawung Sariti.

”Kenapa baru sekarang kau sampaikan kepada eyangmu?” bentak Lembu Sora. Sawung Sariti tidak menjawab. Galunggung pun tidak. Tetapi seperti berjanji mereka berteriak di dalam hati, ”Mati kau pengawas gila.”

Ki Ageng Sora Dipayana menjadi gelisah. Kemudian kepada Sawung Sariti ia berkata, ”Panggillah kakakmu Arya Salaka.”

Sawung Sariti ragu sebentar, kemudian ia menjawab, ”Baiklah Eyang.” Sesaat kemudian iapun berdiri, dan bersama-sama dengan Galunggung ia meninggalkan rumah itu. Ketika mereka keluar dari pintu, mereka melihat Wulungan berdiri tegak dengan tangan bersilang dada. Sawung Sariti berhenti sejenak, kemudian ia bertanya, ”Kau lihat Kakang Arya?” Wulungan menggelengkan kepala. ”Tidak Angger.” Kemudian Sawung Sariti melangkah pula dengan tergesa-gesa. Galunggung sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ketika mereka telah menjauh, Wulungan pun pergi di belakang mereka. Di dalam perkemahan itu Lembu Sora berkata, ”Tak akan dijumpai Arya di sini.”

Ki Ageng Sora Dipayana mengerutkan keningnya. Sambil menoleh kepada anaknya ia bertanya, ”Kenapa?” ”Arya telah pergi ke Banyubiru belum lama,” jawab Lembu Sora.

”He…?” Ki Ageng Sora Dipayana terkejut.

”Sendiri?”

”Tidak. Dengan Adi Mahesa Jenar dan Kakang Putut Karang Jati,” sahut Lembu Sora. ”Mengapa?” tanya ayahnya pula.

”Ia sudah tahu apa yang terjadi,” jawab Lembu Sora.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 612

KI AGENG Sora Dipayana mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Kemudian ia bertanya pula, ”Dari mana anak itu mendengar?”

”Langsung dari pengawas itu,” jawab Lembu Sora. Diceriterakannya apa yang diketahuinya mengenai pengawas itu, serta kelambatan Sawung Sariti. Diceriterakannya pula bagaimana Arya Salaka langsung meloncat ke kandang kuda dengan tombaknya dalam genggaman. ”Anak itu sadar akan tanggungjawabnya,” desis kakeknya.

”Namun sayang ia terlalu tergesa-gesa. Bukankah yang pergi ke Banyubiru itu Pasingsingan? Untunglah Anakmas Mahesa Jenar dan anak Putut Karangjati mengetahuinya, sehingga mereka segera menyusul.”

Kepada ayahnya, Lembu Sora menyampaikan pesan Mahesa Jenar, bahwa mereka terpaksa mendahului perintah.

”Mereka tahu benar apa yang harus mereka lakukan,” gumam Ki Ageng Sora Dipayana. ”Mereka orang-orang yang memiliki firasat dan daya pengamatan melampaui kami semuanya di sini. Bahkan mereka adalah orang-orang sakti yang tak ada bandingnya di antara kita.”

”Sayang, laporan yang sampai kepada mereka agak terlambat,” desah Lembu Sora.

”Mudah-mudahan segala sesuatu tidak menjadi lebih buruk karena pokal anakku.

Arya dan Banyubiru telah banyak mengalami kesusahan dan kerusakan karena pamrih yang berlebih-lebihan, dan apakah sekarang harus mengalami bencana yang lebih dahsyat lagi?”

”Tenanglah Lembu Sora,” ayahnya menenangkan. ”Mahesa Jenar dan Putut Karangjati akan dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Sekarang beristirahatlah. Kita belum tahu apa yang harus kita lakukan besok pagi. Suruhlah Sawung Sariti beristirahat pula. Demikian juga seluruh laskarmu. Malam tinggal setengahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas dan Titis agaknya telah tidur nyenyak pula.”

”Baiklah ayah,” jawab Lembu Sora sambil berdiri. Kemudian iapun melangkah pergi ke pondoknya untuk beristirahat, meskipun kepalanya masih dipenuhi oleh penyesalan yang melonjak-lonjak. Setiap ia berusaha melupakan, setiap kali dadanya bergetar, kenapa bayang-bayang masa lampaunya datang berturut-turut. Namun demikian ia berusaha untuk beristirahat dengan merebahkan dirinya di atas bale-bale bambu yang direntangi tikar mendong.

Pada saat yang bersamaan, Sawung Sariti sedang mondar-mandir mencari Arya Salaka. Namun sebenarnya yang ingin dijumpainya pertama-tama adalah pengawal yang dianggapnya tumbak-cucukan itu, yang suka melaporkan kesalahan orang lain. Sawung Sariti dan Galunggung sama sekali tidak menyesalkan perbuatan mereka, tetapi mereka menyesalkan pengawas itu. Ketika tiba-tiba mereka melihat pengawas itu duduk bersandar batang nyiur di antara kawan-kawannya yang berbaring tidur, Sawung Sariti menggeram, ”Jahanam.” Ia mengumpat. Kemudian dengan satu loncatan ia telah berdiri di hadapan pengawas itu sambil membentak, ”He bangsat kau masih di sini?”

Pengawas itu terkejut, sehingga ia meloncat berdiri. ”Kenapa kau tidak kembali ke tugasmu?” bentak Sawung Sariti. ”Seseorang telah menggantikan tugasku,” jawab orang itu kecemasan. ”Bohong!” sanggah Sawung Sariti.

Orang itu menjadi bingung. ”Benar angger,” jawabnya. ”Aku telah bebas dari tugasku itu.”

”Ha, agaknya kau lebih senang di sini. Mengadu domba antara aku dengan Kakang Arya Salaka,” bentak Sawung Sariti. Orang itu mula-mula tidak mengerti maksud Sawung Sariti itu. Tetapi kemudian disadarinya apa yang terjadi. Sawung Sariti agaknya menjadi marah kepadanya, karena ia telah berkata sebenarnya kepada Ki Ageng Lembu Sora. Mungkin Ki Ageng Lembu Sora itu telah memarahinya. Karena itu ia berkata, ”Angger, jangan menyalahkan aku kalau aku terpaksa mengatakan apa yang aku lihat demi kewajibanku.”

”Pandainya tikus ini,” potong Sawung Sariti. ”Kau bisa berkata hijau atas warna merah, dan kau bisa berkata merah atas warna hijau.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Apa yang harus dikatakan? Ia menjadi semakin cemas ketika tiba-tiba Galunggung melangkah maju dengan mata yang menyala-nyala. Katanya, ”Lihatlah, karena mulutmu yang lancang itu, aku ditampar oleh Ki Ageng Lembu Sora.”

Pengawas itu masih tetap berdiam diri. Beberapa orang kawan-kawannya menjadi terbangun karenanya. Tetapi tak seorangpun yang berani mencampurinya. Tiba-tiba Galunggung itu berkata, ”Ikuti aku.”

”Ke mana?” orang itu menjadi ketakutan. ”Ikuti aku!” bentak Galunggung.

Orang itu tidak berani membantah lagi. Ia berjalan saja di belakang Galunggung dan di belakangnya berjalan Sawung Sariti. Dengan gelisah ia mencoba menebak, apakah yang akan dilakukan atas dirinya. Ia menjadi ragu-ragu, apakah kebenaran yang diucapkannya itu dapat diputar balik sedemikian rupa sehingga ia perlu mendapat hukuman. Galunggung berjalan semakin lama semakin cepat. Mereka menerobos pagar-pagar halaman dan meloncati dinding desa. Akhirnya mereka sampai di gerumbul-gerumbul kecil di samping desa Pangrantunan itu. Orang itu menjadi semakin cemas. Ketika ia melihat Gunung Merbabu dalam keremangan malam, tampaknya seperti raksasa yang akan menerkamnya.

Orang itu menjadi gemetar ketika tiba-tiba Galunggung mencabut pedangnya sambil tertawa menakutkan, katanya, ”Mulutmulah yang pertama-tama harus disobek, lalu kau akan aku kubur hidup-hidup.”

”Apa salahku?” tanya orang itu gemetar.

”Seandainya aku berbuat salah karena laporanku, adalah pantas aku dihukum mati dengan cara demikian. Apalagi aku telah berusaha melakukan pekerjaanku sebaik-baiknya.” (Bersambung)-c

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 613

SAWUNG SARITI menjawab, ”Baik bagimu tidak selalu baik bagi orang lain. Dengan perbuatanmu itu, nanti kalau terjadi sesuatu di Banyubiru, akulah yang dipersalahkan. Karena itu, kau harus dilenyapkan. Dengan demikian, di hadapan Eyang Sora Dipayana, tak ada seorangpun yang dapat membuktikan kesalahanku.”

Pengawas yang malang itu menjadi semakin ketakutan. Ia tidak mengerti kenapa kebenaran sama sekali tidak menjadi pertimbangan Sawung Sariti, yang hanya mengenal kebenaran dari seginya sendiri. Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk membela diri. ”Angger Sawung Sariti. Kalau angger mengambil keputusan untuk menghukum aku dengan kesaksianku, maka kesaksianku itu telah diketahui pula oleh Ki Ageng Lembu Sora, Angger Arya Salaka beserta gurunya serta sahabat gurunya yang telah berhasil membunuh mati orang sakti dari Nusakambangan.”

Sawung Sariti mengerutkan keningnya. Ia mengumpat di dalam hati. Kenapa Arya Salaka mendapat sahabat-sahabat yang sedemikian saktinya, sehingga sedikit banyak dapat mempengaruhi keadaannya?

Namun ia menjawab, ”Aku dapat menyangkal kesaksian-kesaksian itu. Kau sangka ayahku itu akan membenarkan kesaksianmu? Setidak-tidaknya aku dapat memperpendek waktu yang hilang sejak kau memberikan laporan itu kepadaku sampai waktu yang aku pergunakan untuk menyampaikan kepada Eyang Sora Dipayana.”

”Kau tak usah terlalu banyak bicara,” potong Galunggung. ”Nikmatilah udara terakhir ini sebaik-baiknya. Sesudah itu, kau tak akan mengenalnya lagi.”

Pengawas itu menjadi semakin gemetar. Namun ia berkata, ”Kalau ada akibat yang kurang baik bagi kalian berdua, bukankah itu bukan salahku. Kalau kalian tidak sengaja memperlambat berita itu, maka segala sesuatu akan menjadi baik.”

”Tutup mulutmu!” bentak Galunggung.

”Kau tak perlu mengigau pada saat-saat terakhir.” Tiba-tiba menjalarlah suatu perasaan lain didalam dada pengawas itu. Ia adalah seorang prajurit. Beberapa kali telah pernah dilihatnya ujung pedang yang berkilat-kilat. Sekarang kenapa ia takut menghadapi pedang. Ia merasa berpijak di atas kebenaran. Kalau ia terpaksa, apa boleh buat ia telah dipepetkan ke suatu sudut dimana ia harus mempertahankan diri.

Dirasanya sesuatu terselip di ikat pinggangnya.

Keris.

Meskipun yang berdiri di hadapan dua orang yang sama sekali di atas kemampuannya untuk melawan, namun ia tidak mau mati seperti tikus di tangan seekor kucing. Biarlah ia berusaha untuk membebaskan diri. Kalau perlu ia akan berteriak-teriak sekeras-kerasnya, sambil melawan sedapat-dapatnya.

Galunggung yang telah terbakar oleh kemarahannya, menjadi kehilangan kesabarannya.

Dengan garangnya ia melangkah maju sambil menggeram, ”Jangan melawan, sebab kalau kau melawan berarti akan memperlambat saat-saat kematianmu. Derita yang terakhir adalah selalu tidak menyenangkan.”

Tetapi pengawas itu tidak peduli. Dengan tangkasnya ia meloncat mundur sambil menarik kerisnya. Melihat orang itu menarik senjatanya. Galunggung tertawa. ”Benar-benar kau sedang sekarat.”

Kemudian sambil tertawa ia melangkah maju.

Tetapi tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh suara yang sama sekali tak diduga oleh mereka. Tenang, namun penuh pengaruh. Katanya, ”Aku adalah satu-satunya saksi yang melihat kebenaran diinjak-injak.”

Seperti disambar petir, Galunggung dan Sawung Sariti mendengar kata-kata itu. Ketika mereka menoleh, dilihatnya Wulungan berdiri tenang sambil bersilang dada. Pedangnya tergantung di lambung kirinya.

Sawung Sariti menjadi gemetar karena marahnya. Sambil melangkah maju ia berkata, ”Paman Wulungan, kau berani mengganggu pekerjaanku?”

”Tidak Angger,” jawab Wulungan tanpa bergerak.

”Tidak…?” sahut Sawung Sariti, ”Lalu apa yang Paman kerjakan sekarang. Apakah kau kira bahwa pedangmu itu bermanfaat untuk melawan aku? Kau tahu, bukankah aku murid Sora Dipayana?”

”Ya. Aku tahu bahwa angger adalah murid Ki Ageng Sora Dipayana,” jawab Wulungan.

”Kau tahu bahwa aku mampu melawan Wadas Gunung berdua dengan anak buahnya?” desak Sawung Sariti.

”Ya.”

”Kau tahu bahwa aku adalah putra kepala daerah Perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus?”

”Ya.”

”Nah, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Sawung Sariti sambil mengangkat dadanya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 614

WULUNGAN menjawab, ”Tidak apa-apa. Aku tidak akan melawan Angger. Sebab aku tahu, betapa aku mampu tak melakukannya. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan Angger lakukan di sini?”

”Apa kepentingamu? Dan apa pedulimu?” bentak Sawung Sariti.

”Setiap orang berkepentingan atas tegaknya kebenaran. Aku yang membawa pengawas itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Angger Arya Salaka. Dan akulah yang minta kepadanya untuk mengulangi laporannya.”

”Hem…” geram Sawung Sariti. ”Kau adalah saksi yang kedua sesudah orang ini. Kalau begitu bagaimana kalau kau aku bunuh sekalian?”

”Itu adalah urusan Angger Sawung Sariti,” jawab Wulungan masih setenang tadi. ”Kau akan melawan seperti tikus ini?” desak Sawung Sariti.

”Tidak,” jawab Wulungan.

”Tak ada gunanya. Tetapi pernahkan Angger mendengar aku berlomba lari? Aku adalah pelari tercepat dari setiap kawan-kawanku, baik pada masa kanak-kanakku, maupun kini.”

”Gila!” umpat Sawung Sariti.

”Kau bukan seorang jantan.”

”Aku memang bukan seorang jantan,” jawab Wulungan.

”Tetapi aku mempunyai pertimbangan lain. Aku wajib menyelamatkan kebenaran ini. Kalau aku mati, maka kebenaran ini akan tertanam bersama mayatku. Tetapi kalau aku lari selamat, bukankah aku dapat memberitahukannya kepada Ki Ageng Sora Dipayana…?”

”Gila, Gila….” Sawung Sariti mengumpat tak habis-habisnya. Ketika itu Galunggung mencoba mengingsar dirinya, untuk menutup kemungkinan Wulungan kepada pengawas itu.

”Ki Sanak, baiklah kita berlomba lari. Jangan melawan. Kalau Adi Galunggung melangkah satu langkah lagi, perlombaan akan dimulai tanpa pembicaraan lain.”

Langkah Galunggung terhenti karenanya. Kalau Wulungan benar-benar melarikan dirinya saat itu, dan orang yang pertama itu melarikan diri pula, akan sulitlah untuk menangkap kedua-duanya. Salah satu atau keduanya mungkin akan dapat melenyapkan dirinya di dalam gerumbul-gerumbul yang berserak-serak itu, atau berteriak-teriak minta tolong sehingga apabila terdengar oleh laskar Banyubiru, persoalannya akan menjadi sulit.

”Setan,” gumam Galunggung menahan marah yang memukul-mukul dadanya. Sawung Sariti menjadi semakin marah. Dengan gigi gemeretak ia berkata, ”Lalu apa yang kau kehendaki Wulungan?” Wulungan menarik nafas. Tangannya masih terlipat di dadanya. Ia melihat kegelisahan Sawung Sariti. Meskipun demikian ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Dengan perlahan-lahan namun penuh dengan tekanan, Wulungan menjawab, ”Tidak banyak Angger. Aku menghendaki orang itu Angger bebaskan dari segala tuntutan pribadi. Sebab Angger memandang persoalannya dari kepentingan diri sendiri.”

”Gila, kau licik seperti demit.” Sawung Sariti mengumpat. ”Kita semua adalah orang-orang yang licik. Penuh nafsu tanpa pengendalian,” jawab Wulungan. Sekali lagi Sawung Sariti menggeram. Katanya, ”Kepalamu memang harus dipenggal.”

Tetapi Wulungan tidak mendengarkan. Ia meneruskan kata-katanya, ”Kau dengar Angger melepaskan orang itu, maka aku berjanji tidak akan mengatakan kepada siapapun juga, apa yang terjadi sekarang di sini. Orang itupun tidak akan membuka mulutnya pula.” Kemudian kepada pengawas itu Wulungan berkata, ”Begitu kan…?”

Pengawas itu mengangguk kosong, meskipun hatinya bergolak. Tetapi ia harus selamat dahulu. Sekali lagi Galunggung menggeram. ”Apa jaminanmu?”

”Tidak ada,” jawab Wulungan cepat.

”Bagaimana aku bisa percaya?” desak Galunggung.

”Terserah padamu. Percaya atau tidak,” sahut Wulungan. ”Tetapi aku bukan orang yang suka melihat benturan-benturan diantara keluarga sendiri.”

Kemudian dengan penuh kejengkelan Sawung Sariti berkata, ”Baiklah aku percaya kepadamu Wulungan. Tetapi kalau kau memungkiri kesanggupanmu, aku banyak mempunyai alasan dan cara untuk membunuhmu.”

”Terserah kepada Angger,” jawab Wulungan.

Sawung Sariti tidak menjawab. Tetapi dengan tergesa-gesa ia melangkah pergi. Galunggungpun kemudian mengikutinya dibelakang.

”Ikuti aku,” perintah Wulungan kepada pengawas itu. Pengawas itu tidak membantah, namun di dalam dadanya bergelutlah ucapan terima kasih kepada Wulungan. Mereka berdua berjalan tidak begitu jauh di belakang Galunggung. Dengan demikian Wulungan dapat mengetahui langsung apa yang akan dilakukan seandainya orang itu akan mencoba menyergapnya.

Tetapi Sawung Sariti dan Galunggung berjalan terus ke perkemahan. Karena itu Wulungan dan pengawas itu telah merasa dirinya tentram. Ia tahu betul bahwa Sawung Sariti atau Galunggung tidak akan mengganggunya, sebab dengan demikian Wulungan akan segera mengetahui apa yang terjadi atasnya. Sampai di perkemahan, Sawung Sariti masih tetap mengumpat-umpat. Ia sudah kehilangan nafsu untuk mencari Arya Salaka. ”Persetan dengan anak itu,” geramnya. ”Dan persetan dengan Banyubiru.”

”Bagaimana kalau Ki Ageng Sora Dipayana bertanya tentang Arya?” tanya Galunggung.

”Pergilah kepada Eyang Sora Dipayana, katakan kalau Arya tak dapat kami ketemukan,” perintah Sawung Sariti. Dan Galunggung pun segera pergi.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 615

MALAM berjalan terus. Semakin lama menjadi semakin dalam. Bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Sementara itu, di jalan yang berbatu-batu menuju ke Banyubiru berderak-deraklah suara kaki tiga ekor kuda yang dipacu seperti angin. Yang terdepan adalah Arya Salaka. Beberapa langkah di belakangnya adalah Mahesa Jenar, sedang rapat di belakangnya adalah Kebo Kanigara. Betapa hati Arya Salaka menjadi gelisah dan marah mendengar laporan pengawas dari Pamingit itu. Ia tidak tahu kepada siapa ia harus marah. Mungkin kesalahannya terletak pada Sawung Sariti. Atau pada waktu.

Mungkin Sawung Sariti sudah mencarinya untuk menyampaikan khabar itu, tetapi tidak segera ditemuinya. Semakin dalam ia berpikir tentang gerombolan berkuda yang di antaranya terdapat Pasingsingan, semakin gelisahlah hatinya. Karena itu kudanya dipacu semakin cepat. Ia ingin segara sampai. Ketika ia menoleh, dilihatnya dua orang berkuda menyusulnya. Ia berbesar hati. Keduanya pasti gurunya beserta Kebo Kanigara. Ia yakin bahwa kedua orang itu akan mengikutinya, apalagi keduanya mendengar sendiri, bahwa yang pergi ke Banyubiru di antara orang-orang golongan hitam itu terdapat Pasingsingan. Sedangkan di Banyubiru ada Rara Wilis dan Endang Widuri.

Arya Salaka tahu benar, bahwa Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berkepentingan atas keduanya. Mahesa Jenar pasti tidak mau kehilangan Rara Wilis, sedang Kebo Kanigara akan mencemaskan nasib putrinya. Tetapi kenapa ia sendiri menjadi sangat cemas? Siapakah yang ditinggalkan di Banyubiru? Paman Mantingan atau Paman Wirasaba, atau Eyang Wanamerta? Bukan itulah yang pertama-tama kali diingatnya. Tetapi Banyubiru. Mungkin orang-orang dari golongan hitam itu akan membakar rumahnya dan rumah-rumah rakyat yang tak bersalah. Melepaskan dendamnya kepada orang- orang yang dijumpainya. Kepada Eyang Wanamerta, Paman Mantingan, Wirasaba atau Endang Widuri.

Dada Arya tiba-tiba berdesir keras. Dalam keadaan yang demikian ia tidak sempat menyadari bahwa sebenarnya yang mendorongnya untuk memacu kudanya lebih cepat adalah kecemasan atas nasib gadis nakal yang aneh itu. Demikianlah di malam yang gelap itu Arya Salaka memacu kudanya habis-habisan.

Tidak diingatnya bahaya yang menghadang di hadapannya. Lereng-lereng pegunungan dan tebing-tebing yang curam. Dan sebenarnyalah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, disamping kesadarannya akan kewajibannya, melindungi Arya Salaka dalam perjuangannya melawan kejahatan dan ketamakan, mereka mempunyai kepentingan masing-masing. Rara Wilis dan Endang Widuri telah memaksa mereka untuk cemas dan gelisah.

Suara raung anjing-anjing liar mengumandang dari tebing-tebing pegunungan. Dan malam menjadi semakin garang karenanya. Desah angin pegunungan yang mengalir lewat jurang-jurang yang dalam, terdengar seperti bunyi siul raksasa yang sedang bermalas-malas. Suara-suara malam itu telah membuat Arya menjadi semakin gelisah. Ia menjadi jengkel kepada kudanya, yang seolah-olah berlari dengan segannya, meskipun tumbuh-tumbuhan dan batu-batu besar yang menjorok di tepi- tepi jalan tampak seperti hanyut ke belakang secepat banjir.

Namun hatinya ternyata jauh lebih cepat dari kaki-kaki kudanya itu. Dan Banyubiru terbayang di serambi matanya seperti menggapai-gapaikan tangan-tangannya, memanggilnya, ”Arya, tolonglah aku….” Tetapi suara itu seperti seorang gadis. Gadis yang dikenalnya baik-baik, bersenjata rantai perak dengan bandul Cakra yang bercahaya-cahaya. Tetapi senjata yang sakti itu tak berarti di mata orang yang berjubah abu-abu, bertopeng kasar dan menamakan dirinya Pasingsingan.

Tiba-tiba iapun tak akan berarti pula. Ia pernah mendengar Mahesa Jenar berceritera, bahwa ayahnya Ki Ageng Gajah Sora yang sedang marahpun tak dapat berbuat sesuatu melawan hantu berjubah abu-abu itu.

Ayahnya itu hanya mampu menyobek ujung jubahnya dengan tombak Kyai Bancak itu di Alun-alun Banyubiru. Tanpa disengaja, sekali lagi ia menoleh. Dan dengan serta merta ia bergumam, ”Guruku telah mampu membunuh Sima Rodra dari Lodaya, sedang Paman Kebo Kanigara berhasil membinasakan Nagapasa. Apa artinya Pasingsingan bagi mereka?”

”Tetapi….” Hatinya membantah sendiri, ”Kalau segala sesuatu telah terjadi?” Kembali mengiang di telinganya sebuah jerit nyaring. Arya Salaka terkejut. Namun segera ia sadar, bahwa suara itu hanyalah pekik burung hantu yang sedang berkelahi. Terdengar gigi Arya gemeretak. Dan kembali malam menjadi bertambah sepi. Dan malam yang sepi itu benar-benar sedang merajai permukaan bumi. Pangrantunan, Banjar Gede, Pamingit, Gemawang dan seluruh wajah bumi menjadi kelam. Juga Banyubiru. Lereng bukit Telamaya itupun, ditelan oleh hitamnya malam. Sebagian besar dari penduduknya sedang lelap dipeluk mimpi. Mereka telah merasa, betapa mereka terhindar dari bencana. Meskipun ada di antara mereka yang sedang mengenangkan nasib suaminya, anak-anaknya atau kekasihnya yang sedang berjuang di Pamingit. Sedang para penjagapun merasa betapa tenangnya malam.

Pendapa Banyubiru pun tampak sepi. Sepasang obor masih tampak menyala. Api yang menjalar berlenggang dengan malasnya dibelai angin malam. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 616

DUA orang penjaga berdiri menahan kantuknya di regol halaman. Sedang beberapa orang lain duduk di gardu dengan mata yang redup. Sekali-kali Wanamerta yang masih duduk di pendapa bersama Ki Dalang Mantingan tampak menguap.

”Beristirahatlah Paman.”

Terdengar suara Mantingan lemah. ”Malam terlalu dingin,” gumam orang tua itu.

”Ya,” sahut Mantingan. ”Tetapi hatiku gelisah.” Orang tua itu meneruskan.

Mantingan tidak menjawab. Tetapi pandangan matanya terlempar ke halaman, menembus kelam. Perlahan-lahan Mantingan menarik nafas dalam. ”Apakah Angger Wilis dan cucuku Widuri telah tidur?” tanya Wanamerta.

”Mungkin,” jawab Mantingan. ”Baru saja aku selesai berceritera. Anak itu minta aku berceritera tentang Gatotkaca, Pergiwa dan Pergiwati.” Wanamerta tersenyum. Tetapi ia berdiam diri. Yang terdengar kemudian adalah suara seruling. Sayup-sayup dibawa angin. Namun suaranya demikian merdu. Seirama dengan heningnya malam. ”Seruling Kakang Wirasaba,” desis Mantingan. ”Pantaslah ia bergelar Seruling Gading,” sahut Wanamerta.

Sebagai biasa Wirasaba berlagu melampaui batas gending-gending yang ada. Lagunya seperti lagu angin malam. Hening sepi, namun penuh kemesraan hati manusia. ”Di manakah Angger Wirasaba?” tanya Wanamerta. ”Di gardu belakang. Bersama-sama Sendang Parapat,” jawab Mantingan. Wanamerta mengangguk-angguk. Namun kegelisahan di hatinya semakin terasa. Sebagai orang tua, firasatnya bertambah hari bertambah tajam. Ia terkejut ketika tiba-tiba daun-daun sawo di halaman bergoyang ditiup angin yang bertambah kencang. Mantingan mengikuti arah pandangan Wanamerta. Tetapi yang dilihatnya pun hanyalah daun sawo yang bergerak-gerak.

”Aneh,” gumam Wanamerta. ”Apakah yang aneh?” tanya Mantingan. ”Aku tidak tahu. Tetapi aku menjadi gelisah seperti daun-daun sawo di halaman itu,” jawab Wanamerta. Mantingan mengerutkan keningnya. Terasa pula hatinya berdesir halus.

”Sepi yang menggelisahkan,” sahutnya. Suara seruling Wirasaba pun tiba-tiba berubah. Nadanya menjadi bertambah tinggi. Terasa betapa hatinya menjadi gelisah. Namun betapa merdunya suara seruling itu. Tetapi sesaat kemudian suara seruling itu berhenti. Mantingan mengangkat wajahnya. ”Berhenti,” desisnya.

”Ya,” sahut Wanamerta, ”Agaknya Angger Wirasaba kedinginan.”

Mantingan mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab. Hanya matanya yang kembali beredar mondar-mandir di halaman. Karena hatinya yang gelisah, pandangannya pun menjadi gelisah. Mantingan mencoba mengamati setiap benda yang ada di halaman. Pohon sawo, pohon jambu, dinding-dinding halaman, pohon-pohon kelapa. Semuanya diam beku. Yang bergerak-gerak hanyalah para penjaga yang berjalan hilir mudik di luar regol.

Tiba-tiba keduanya terkejut ketika terdengar langkah naik ke pendapa. Ketika menoleh, dilihatnya Ki Wirasaba berjalan dengan malasnya menjinjing kapaknya. Di belakangnya berjalan Sedang Parapat yang telah hampir sembuh. Mantingan dan Wanamerta menarik nafas panjang.

”Ah….” gumam Wanamerta. ”Kenapa aku berubah menjadi penakut?” ”Kenapa…?” tanya Wirasaba sambil duduk di samping mereka. ”Aku terkejut mendengar langkah Angger seperti mendengar langkah hantu,” jawab Wanamerta.

Wirasaba mengangguk-angguk lemah. Hatinya pun dirayapi perasaan-perasaan aneh. Serulingnya terselip di ikat pinggangnya, sedang tangannya menggenggam kapaknya. Tiba-tiba mata Mantingan sekali lagi menatap daun-daun sawo yang bergerak-gerak ditiup angin malam. Kemudian matanya menatap daun-daun jambu di sebelahnya. Aneh. Daun jambu itu tidak bergoyang terlalu keras seperti daun- daun sawo itu. Karena itu ia menjadi curiga.

Ketika sekali lagi ia melihat daun itu bergerak-gerak, dengan serta merta ia berdiri dengan trisulanya di tangan, kemudian dengan tangkasnya ia meloncat sambil berkata lantang, ”Siapakah yang mencoba membuat permainan itu?” Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat pun terkejut ketika mereka melihat Mantingan meloncat. Mereka masih belum tahu apa yang dimaksudnya. Tetapi ketika pandangan mereka mengikuti arah pandangan mata Mantingan, merekapun melihat bahwa daun-daun sawo itu bergoyang-goyang.

Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan dari pohon sawo itu. Suara yang sudah mereka kenal baik-baik. Para penjaga dan para pengawalpun terkejut pula. Bahkan Mantingan terpaksa menghentikan langkahnya. ”Lawa Ijo,” gumamnya.

Sesaat kemudian dilihatnya bayangan yang melontar turun dari pohon sawo di halaman itu. Seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada tegak. Sekali lagi Mantingan terkejut melihat orang itu. Bukan Lawa Ijo, tetapi agaknya ia pernah melihatnya. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. Bukankah Watu Gunung telah dibinasakan oleh Mahesa Jenar? Apakah ia dapat hidup kembali…? Namun sebelum ia sempat bertanya terdengar Wirasaba menggeram, ”Hem, kau Wadas Gunung.” (Bersambung)-m

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 617

MANTINGAN menoleh ke arah Wirasaba. Ia mengulang perlahan, “Wadas Gunung. Siapakah dia?” “Adik seperguruan Lawa Ijo,” jawab Wirasaba.

“Watu Gunung yang kau maksud…?” Ia bertanya pula. Wirasaba menggeleng. “Bukan. Saudara kembarnya. Orang ini pernah bertempur melawan Adi Mahesa Jenar di Pliridan bersama-sama dengan 20 orang kawannya.”

Sementara itu Wadas Gunung telah berjalan beberapa langkah maju. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Nah, kau orang berkapak yang membantu Mahesa Jenar di Pliridan dahulu? Kau masih mengenal aku dengan baik.”

Wirasaba juga maju. “Kau datang pula ke Gedong Songo beberapa hari yang lalu,” pikirnya.

Dan kapaknya tiba-tiba bergetar di tangannya. Ketika ia hampir meloncat menyerbu, terdengar Wanamerta yang tua itu berbisik, “Hati-hatilah Angger. Ia pasti tidak datang sendiri.”

Belum lagi Wanamerta selesai berkata, terdengarlah suara kentongan bertalu-talu tiga kali berturut-turut. “Kebakaran,” desis Wanamerta. Sekali lagi Wadas Gunung tertawa. Katanya, “Kebakaran. Jangan terkejut. Banyubiru telah dikepung.”

Wajah Sendang Parapat menjadi merah. Ia harus segera menggerakkan segenap laskar cadangan yang ada. Tetapi ketika ia melangkah ke gardu penjagaan, sebelum turun dari pendapa, muncullah seorang lagi di hadapannya.

Sendang tertegun. Ia belum pernah melihat orang itu. Seorang yang berwajah tampan, berkulit kuning dan berpakaian rapi. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat warna hitam. “Siapakah kau…?” Tiba-tiba Sendang Parapat bertanya.

Orang itu tersenyum. Senyumnya tampak aneh. Katanya, “Jangan risaukan siapa aku.” Sendang Parapat menjadi marah. Tetapi ia tidak mendapat banyak kesempatan. Karena itu ia berteriak saja dari pendapa, “Bunyikan tanda, gerakkan segenap laskar cadangan.”

Sesaat kemudian, orang-orang di gardu penjagaan menjadi sadar akan bahaya yang datang. Seseorang kemudian meloncat memukul kentongan titir. Tetapi suara titir itu terputus ketika tiba-tiba pemukul kentongan itu terpelanting jatuh. Sendang Parapat terkejut. Karena itu ia menjadi semakin marah. Untunglah bahwa suara titir yang pendek itu telah terdengar dari gardu di luar halaman yang terdekat, sehingga suara titir itupun segera bersambut. Apalagi ketika seorang yang lain segera merebut pemukul kentongan dari tangan orang pertama. Kemudian dengan tanpa takut-takut iapun mengulang memukul kentongan itu dengan irama yang sama, titir. Namun orang kedua inipun kemudian terjatuh pula dengan luka di kepalanya.

Sebuah batu telah membenturnya. Tetapi suara titir telah menjalar ke segenap penjuru Banyubiru. Banyubiru yang sedang tidur lelap itu menjadi terbangun dengan tiba-tiba. Suara kentongan tiga kali berturut-turut telah mengejutkan hati mereka. Apalagi kemudian terdengar bunyi titir yang merayap-rayap di seluruh lereng bukit itu. Laskar Banyubiru pun menjadi terkejut. Untunglah bahwa mereka telah terlatih dengan baik. Sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah siap untuk menghadapi setiap kemungkinan. Ketika terdengar suara titir bersahutan, sadarlah mereka bahwa bahaya yang besar telah datang.

Para pemimpin kelompok itupun segera tahu apa yang harus dilakukan. Sebagian dari laskar itu segera berangkat dengan tergesa-gesa ke tempat kebakaran. Orang yang berwajah tampan itupun mengangkat wajahnya ketika suara titir telah menjalar ke segenap arah.

Ia mengerutkan keningnya, kemudian katanya kepada Sendang Parapat, “Jangan berdiri saja di situ, pergilah supaya umurmu panjang.” Betapa marahnya Sendang Parapat. Segera ia menarik pedangnya.

Dengan penuh nafsu ia berhasrat menyerang orang itu. Tetapi langkahnya terhenti ketika terdengar suara halus di belakangnya, “Sendang, jangan tergesa-gesa. Ia bukan lawanmu.”

Sendang Parapat menghentikan langkahnya. Iapun segera menoleh. Bahkan semua orang memandang ke arah suara itu.

Ternyata Rara Wilis telah berdiri di ambang pintu. Mula-mula ia menjadi ngeri melihat kehadiran Jaka Soka. Bukan karena ia takut seandainya ia harus bertempur. Tetapi sebagai seorang gadis, ia merasa bahwa Jaka Soka adalah orang yang pernah menjadi gila karena dirinya. Ketika Jaka Soka melihat gadis itu, hatinya bergetar cepat. Ia masih belum dapat melupakan, betapa wajah gadis itu selalu terbayang.

Karena itu tiba-tiba kembali ia tersenyum. Senyum yang aneh. Tiba-tiba saja Jaka Soka merasakan adanya suatu kurnia bagi dirinya. Kalau ia turut ke Banyubiru bersama beberapa orang dan laskar golongan hitam, adalah karena dendamnya yang meluap-luap. Ia ingin membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya, sebagai ganti kematian gurunya.

Tetapi tiba-tiba ia bertemu dengan gadis ini. Matanya yang redup itupun menjadi bersinar-sinar. Dan pandangan mata yang demikian itulah yang menyebabkan seluruh bulu tengkuk Wilis berdiri. Namun, kemudian gadis itu merasa, bahwa menjadi kewajibannya untuk turut serta mengamankan rumah ini, sebagai lambang pemerintahan Banyubiru.

Karena itu iapun melangkah maju sambil berkata, “Jaka Soka, apakah kerjamu di sini? Apakah pekerjaanmu di Pamingit sudah selesai…?”

Wadas Gunung pun menjadi keheran-heranan. Apakah yang dilakukan oleh Jaka Soka itu? Dimanakah ia berkenalan dengan gadis manis yang menyapanya – Hem, agaknya kau mendapat pekerjaan baru di sini Jaka Soka. -

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 618

JAKA SOKA tersenyum, jawabnya, “Bukan Wadas Gunung. Bukan pekerjaan baru. Aku sudah berjanji akan datang kepadanya beberapa tahun yang lampau. Dan agaknya iapun tetap menanti.”

Wajah Rara Wilis menjadi merah. Sekali dilayangkan pandangannya sekeliling pendapa itu. Di situ masih berdiri Mantingan, Wanamerta, Wirasaba dan Sendang Parapat. Sedang di bawah tangga berdiri Wadas Gunung dan di sebelah lain Jaka Soka. Ketika ia melihat para penjaga yang berdiri tidak lebih dari lima orang itupun telah bersiap pula. Ia menarik nafas panjang. Kalau hanya kedua orang itu saja, mungkin masih akan dapat diatasi.

Tetapi ia terkejut ketika terdengar suara yang seram dari dalam gelap. Lebih seram dari suara Wadas Gunung. Kemudian disusul dengan bayangan yang remang-remang semakin lama semakin jelas. Lawa Ijo. Mantingan menarik nafas. Agaknya bahaya yang mendatang benar-benar menggetarkan dadanya. Lawa IJo itu kemudian berdiri saja disamping Jaka Soka. Sambil tertawa pendek ia berkata, “Jaka Soka. Apa kau masih mengharapkan gadis itu?”

“Ia tetap menanti aku dengan setia,” jawab Jaka Soka. Lawa Ijo menjadi marah.

Namun gadis itu tidak menjawab. Yang menjawab adalah suara gadis lain, Endang Widuri. Katanya, “Benar Paman Soka. Bibi Wilis menantimu. Sebab sepeninggalmu, kuda-kuda kami menjadi kekurangan rumput.”

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Ia memandang gadis yang berdiri di pintu itu dengan sinar mata yang seram.

Tetapi Lawa Ijo tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Ha, dengar. Apa yang dikatakan gadis nakal itu. Dan barangkali memang sepantasnya kau menjadi pekatiknya, mencari rumput bagi kuda-kudanya.”

Jaka Soka pernah bertempur dengan Widuri di Gedangan. Pada saat itu ia benar-benar keheranan, bahwa gadis sebesar itu telah mampu bertempur sedemikian hebatnya. Dan kini tiba-tiba gadis itu muncul kembali. Karena itu Jaka Soka menjadi tak senang sama sekali, katanya, “He monyet kecil. Jangan ganggu aku lagi. Aku benar-benar akan membunuhmu.”

Ketika mendengar kata-kata itu, Widuri menjadi tertawa, sedang Lawa Ijopun tertawa pula.

Terdengar Lawa Ijo menyahut, “Jangan marah kepada gadis kecil itu Soka. Ia berkata sebenarnya.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin seram. Dengan tajamnya ia memandang gadis kecil yang nakal itu.

Namun ia tidak bisa meloncat saja kepadanya. Di hadapannya berdiri Rara Wilis. Kalau saja Rara Wilis lima enam tahun yang lampau, mungkin ia tidak perlu memperhitungkan dalam tindakan-tindakannya.

Tetapi Rara Wilis yang berdiri di hadapannya dengan pedang yang tergantung di lambungnya, adalah Rara Wilis yang telah berhasil membunuh istri Sima Rodra. Karena itu Jaka Soka masih berdiri saja di tempatnya.

Sedangkan Endang Widuri, betapapun nakalnya, namun ia tahu juga bahwa keadaan pendapa Banyubiru itu benar-benar dalam bahaya. Karena itu rantainya sudah tidak tergantung lagi di lehernya, tetapi dengan jari-jarinya yang kecil, ia bermain-main dengan senjata itu. Bahkan cakranya pun telah melekat di ujungnya. Benda yang berkiliat-kilat, berbentuk bulat bergerigi itu tidak lepas dari perhatian Jaka Soka.

Senjata yang demikian benar-benar berbahaya. Tetapi ia percaya kepada tongkat hitamnya serta pedang yang terselip di dalamnya. Namun sesaat kemudian kembali pendapa itu digetarkan oleh dua bayangan yang datang memasuki regol halaman. Ketika penjaga-penjaga di regol halaman itu berusaha mencegahnya, mereka terpelanting jatuh, dan tidak bangun kembali. Para penjaga yang lain pun terkejut.

Tetapi mereka terpaku di tempatnya ketika mereka melihat orang yang datang itu.

Yang seorang berjubah abu-abu bertopeng jelek, dan seorang bertubuh tinggi besar dan berkepala besar pula. Mereka adalah Pasingsingan dan Sura Sarunggi. Kedua orang itu berjalan seenaknya ke pendapa. Tetapi kemudian terdengar suaranya menggeram. “Lawa Ijo. Permainan apa yang sedang kau lakukan? Kau masih berdiri saja mengagumi kecantikan gadis-gadis itu? Waktu kita tidak banyak. Aku telah memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana laskarmu menghindari orang-orang Banyubiru yang sudah menjadi gila di tempat kebakaran. Waktu kita tidak banyak.”

Lawa Ijo sadar, bahwa seseorang telah melihat mereka di Pamingit. Sehingga dengan demikian ada kemungkinan mereka menyusul ke Banyubiru. Karena itu ia berkata, “Baiklah Guru. Dan apakah yang akan Guru lakukan sekarang?”

“Bunuhlah orang-orang ini semuanya. Kecuali kalau Jaka Soka masih menghendaki gadis itu. Tetapi buatlah ia tidak berdaya. Aku akan melihat isi rumah, apakah Nagasasra dan Sabuk Inten benar-benar masih ada di sini.”

Terdengar Mantingan dan Wirasaba menggeram. Namun ia sadar betapa dahsyatnya kekuatan yang datang itu. Ia sadar pula, bahwa kebakaran di ujung kota adalah suatu cara untuk memancing laskar Banyubiru. Pasingsingan dan Sura Sarunggi itu tidak memperhatikan apa-apa lagi. Mereka langsung berjalan naik pendapa dengan seenaknya.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 619

KETIKA Pasingsingan dan Sura Sarunggi berjalan melintasi pendapa, tak seorangpun berusaha mencegahnya. Mereka memandang saja seperti memandang hantu. Mantingan dengan trisula di tangannya, hanya gemetar saja di tempatnya, sedang Wirasaba tegak seperti patung dengan kapak di tangan. Meskipun tangan Rara Wilis sudah melekat di hulu pedangnya, ia pun tidak berbuat apa-apa. Kali ini Widuri pun tidak berani bermain-main. Ia telah pernah melihat hantu berjubah dan bertopeng kasar itu bertempur melawan Mahesa Jenar di Gedong Songo. Karena itu ketika kedua orang itu berjalan ke pintu, Widuri menggeser diri.

Sesaat Pasingsingan berhenti pula dan memandangi wajah gadis yang jernih itu. Tanpa disengaja ia kemudian menoleh kepada Lawa Ijo. Tetapi kembali ia tidak mempedulikan keadaan sekelilingnya. Dengan Sura Sarunggi, Pasingsingan segera memasuki rumah untuk mencari pusaka-pusaka yang menggemparkan itu. Ketika kedua orang sakti itu telah lenyap ditelan pintu, mulailah Lawa Ijo menggeram. Kemudian terdengar ia berkata, “Jaka Soka, jangan terlalu lama bermain-main. Waktu kita tidak terlalu banyak.”

Jaka Soka tersenyum. Dengan mata redup ia melangkah maju, dan dengan satu loncatan ia naik ke pendapa. Pada saat yang bersamaan Rara Wilis telah menyambut pedangnya. Ia sadar bahwa Ular Laut itu pasti akan menyerangnya. Sekali lagi hatinya meremang, ketika teringat peristiwa-peristiwa di hutan Tambakbaya. Tetapi sekarang ia harus menghadapi bajak laut itu dengan senjata di tangan, tidak untuk bunuh diri, tetapi untuk membunuh lawannya itu. Yang terjadi di sebelah lain, Wirasaba dengan garangnya meloncat ke arah Wadas Gunung. Kapaknya yang besar itu berputar dengan dahsyatnya. Sedang Wadas Gunung pun menerima serangan Wirasaba dengan penuh gairah.

Di kedua belah tangannya telah tergenggam dua buah pisau belati panjang. Sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Kedua-duanya bertubuh tinggi, besar dan berkekuatan luar biasa. Keduanya memiliki kelincahan dan kecepatan bergerak. Wirasaba kini telah memiliki seluruh ketangkasannya. Kakinya sudah benar-benar pulih kembali, tidak seperti pada saat ia menyusul Mahesa Jenar ke Pliridan beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Banturan-benturan senjata mereka berdentang-dentang menyobek sepi malam. Demikian kerasnya sehingga berloncatlah bunga api keudara, memercik berhamburan.

Mantingan melihat Wirasaba telah mulai, dan Rara Wilis telah berhadapan dengan orang yang berwajah tampan itu. Yang masih berdiri tanpa lawan adalah Lawa Ijo. Lawa Ijo itu tidak dapat dikalahkan, namun apapun yang terjadi adalah menjadi kewajiban Mantingan. Karena itu segera Mantingan meloncat menyerang Lawa Ijo.

Terdengarlah Lawa Ijo tertawa. Sesaat kemudian di tangannya telah berkilat-kilat pisau belati panjang. Dengan tangkasnya ia menyongsong serangan trisula Mantingan. Maka sesaat kemudian mereka telah terlibat dalam suatu perkelahian yang sengit. Keduanya bertempur mati-matian. Untuk segera dapat mengakhiri pertempuran, Lawa Ijo yang garang itu meloncat dengan dahsyatnya, sedangkan Mantingan pun tidak kalah lincahnya. Karena ia sudah mengenal Lawa Ijo, maka dalam pertempuran itu, segera ia mempergunakan ilmu gerak yang dinamainya Pacar Wutah. Dalam saat-saat berikutnya, trisulanya bergerak-gerak dengan cepatnya menyerang tubuh lawannya dari segala arah.

Tetapi Lawa Ijo pun telah mengenal ilmu itu. Di Gedong Sanga, ia gagal membunuh dalang Mantingan itu. Sekarang ia akan menebus kegagalannya. Dahulu Dalang Mantingan berhasil diselamatkan oleh Arya Salaka. Dan sekarang tak ada orang yang akan menyelamatkannya. Karena itu, maka Lawa Ijo yakin bahwa kali ini ia akan berhasil.

Wirasaba yang bertempur dengan Wadas Gunung pun telah mengerahkan segenap kekuatannya. Ia ingat apa yang pernah terjadi di Gedong Sanga, waktu itu pun Wadas Gunung ikut serta. Sehingga dengan demikian, sejak perkelahiannya di Pliridan, ia pernah melihat tandang Wadas Gunung di Gedong Sanga, meskipun tidak sedemikian jelas, karena kesempatan yang sempit. Sebab pada saat itu ia harus bertempur melawan dua orang dari kawanan Alas Mentaok. Tetapi kini ia harus bertempur melawan orang kedua sesudah Lawa Ijo. Karena itu ia harus berjuang mati-matian.

Namun Wirasaba, yang terkenal dengan nama Seruling Gading itupun mempunyai sifat-sifat yang khusus. Sebagai seorang pengembala yang pernah merantau dari satu tempat ke tempat lain dengan bekal seruling dan kapaknya itu, maka ia telah memiliki pengalaman yang tak kalah luasnya dari lawannya, penjahat ulung yang bernama Wadas Gunung itu. Dengan demikian maka kekuatan keduanya tak dapat diselisihkan. Masing-masing memiliki kekhususannya yang cukup berbahaya. Wadas Gunung dengan kedua pisau belati panjangnya menyerang dengan ganasnya. Bertubi-tubi seperti beribu-ribu pisau belati yang melontar-lontar ke tubuh Wirasaba. Namun kapak Wirasaba itu seakan-akan dapat berubah menjadi dinding baja yang membatasinya. Sehingga dengan demikian ujung pisau lawannya sama sekali tak berhasil menyentuh pakaiannya.

Endang Widuri sementara itu masih berdiri tegak di samping pintu. Ia melihat bagaimana Wirasaba bertempur dengan dahsyatnya. Dilihatnya pula Ki Dalang Mantingan bertempur mati-matian. Ia melihat betapa lincahnya Dalang Mantingan itu, dan bagaimana dahsyatnya trisulanya menyambar-nyambar.

Namun dilihatnya pula betapa dahsyatnya Lawa Ijo itu bertempur. Karena itu hatinyapun menjadi tegang. Yang belum mulai, di antara mereka adalah Jaka Soka. Ia masih saja berdiri dengan senyumnya yang aneh. Sekali-kali ia memandang berkeliling, melihat bagaimana Wadas Gunung menghadapi lawannya, dan di saat lain dipandangnya dengan seksama pertempuran antara Lawa Ijo dan Dalang Mantingan.

NAGASASRA dan SABUK INTEN Karya SH Mintarja 620

SEBAGAI seorang yang cukup berilmu, segera Jaka Soka melihat bahwa Mantingan telah sampai pada puncak perjuangannya, sedang Lawa Ijo masih mungkin untuk melepaskan ilmu-ilmu pamungkasnya. Karena itu ia tersenyum. Sebentar lagi ia akan melihat lawan Lawa Ijo itu terbelah dadanya. Karena itu untuk menakut-nakuti lawannya ia berkata, “Wilis, lihatlah. Sebentar lagi kawanmu yang bernama Mantingan itu akan terpenggal lehernya, atau terbelah dadanya.”

Rara Wilis mengerutkan keningnya. Ia melihat pula apa yang terjadi. Di Gedong Sanga, Rara Wilis telah mengetahui pula, bahwa ilmu Mantingan masih belum dapat menyamai Lawa Ijo. Meskipun demikian ia mencoba untuk tidak terpengaruh karenanya.

Sebab apabila demikian, Ular Laut itu akan dengan mudahnya menangkapnya. Seandainya ia terbunuh dalam pertempuran itu, ia tidak akan menyesal. Sebab dengan demikian ia telah mengorbankan dirinya untuk ikut serta mempertahankan hak atas Banyubiru dan atas Keris Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten yang tak begitu dimengertinya, sebab Mahesa Jenar tidak begitu banyak menceritakan pusaka-pusaka itu kepadanya. Namun hal yang sedemikian telah diduganya sejak semula.

Sejak ia menjatuhkan pilihannya atas Mahesa Jenar daripada Sarayuda. Pada saat itu ia sadar, bahwa Mahesa Jenar mempunyai masalah yang jauh lebih banyak daripada Demang Gunungkidul yang kaya raya itu.

Kalau Sarayuda seolah-olah telah menyelesaikan perjuangannya untuk merebut keadaannya kini, sehingga dengan demikian Sarayuda tinggal menikmati hasil jerih payahnya, maka Mahesa Jenar masih harus berjuang terus. Tetapi Rara Wilis melihat hakekat dari perjuangan kedua orang itu. Sarayuda berjuang untuk menempatkan dirinya pada tempat yang sebaik-baiknya, meskipun ia sama sekali tidak merugikan orang lain, tetapi Mahesa Jenar berjuang untuk kepentingan yang lebih luas, yang justru mengorbankan dirinya sendiri, kepentingannya sendiri. Seperti halnya usahanya menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamukten yang akan diharapkan.

Mahesa Jenar benar-benar berjuang tanpa pamrih, selain pengabdian diri pada tanah kelahiran, pada kemanusiaan. Sebab apabila keris-keris itu benar-benar jatuh di tangan golongan hitam, akan musnahlah tata kehidupan manusia, akan musnahlah sendi-sendi pergaulan manusia. Dan akan lenyap pulalah kesempatan untuk menjalankan ibadah mereka, memanjatkan bakti kepada Tuhan. Dan jadilah Demak suatu negara yang bertata pergaulan rimba. Siapakah yang kuat, merekalah yang berkuasa, tanpa menghiraukan hukum-hukum yang ada.

Juga usaha Mahesa Jenar untuk meletakkan kembali Arya Salaka pada tempatnya, sama sekali adalah perjuangan tanpa pamrih. Ia sekadar melakukan kewajibannya sebagai manusia yang melihat kebenaran terinjak-injak. Dengan demikian, sebagai seorang yang telah menyatakan dirinya bersedia berjuang di samping Mahesa Jenar, Rara Wilis sama sekali tidak gentar melihat ujung senjata. Jiwanya, raganya, bulat-bulat diserahkan dalam pengabdian seperti apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar, orang yang dikaguminya sejak pertemuannya yang pertama. Tetapi ia menjadi ngeri, kalau Ular Laut akan berhasil menangkapnya, dan membawanya ke Nusakambangan, seperti yang diidam-idamkannya sejak lama. Ia menjadi ngeri atas kehadiran tokoh-tokoh Pasingsingan di tempat itu, jangan-jangan ia akan membantu Ular Laut itu, membuatnya tidak berdaya. Namun karena itu, ia berkeputusan untuk melawan mati-matian. Kalau ia gagal, lebih baik ia mati di pendapa Banyubiru itu.

Dengan demikian, Rara Wilis segera mengangkat pedangnya mengarah ke dada Jaka Soka sambil berkata, “Jaka Soka, jangan menakut-nakuti aku. Aku sekarang bukan lagi gadis yang ketakutan melihat senyum yang aneh serta matamu yang redup. Nah, marilah kita bermain-main dengan pedang. Kau atau aku yang mati karenanya.”

Jaka Soka menggigit bibirnya. Tetapi Rara Wilis itu berkata sungguh-sungguh. “Cabutlah pedangmu,” desis Rara Wilis, “Supaya aku tidak membunuh orang yang tidak bersenjata.” Pedang Rara Wilis terjulur beberapa jengkal ke arah leher Jaka Soka, sehingga Jaka Soka terpaksa bergeser mundur. “Wilis…” katanya, “Aku tidak akan melukai kulitmu. Apakah yang kau tunggu di sini? Mahesa Jenar tidak akan kembali kepadamu, karena ia telah terbunuh di Pamingit.”

Dada Rara Wilis berdesir, tetapi kemudian ia menjadi tenang kembali. Katanya, “Siapakah yang telah membunuhnya?”

“Paman Pasingsingan,” jawab Jaka Soka. Rara Wilis tertawa. Tetapi Endang Widuri tertawa lebih keras.

Katanya, “Pasingsingan tak akan mampu melawan Paman Mahesa Jenar. Kau salah hitung, Jaka Soka. Lain kali kau perlu mempelajari keadaan sebelum kau mencoba berbohong.”

Mata Jaka Soka menjadi semakin redup. Tetapi ia sudah tidak tersenyum lagi. Sekali lagi ia melihat Wadas Gunung yang menggeram keras sekali untuk melepaskan marahnya, karena Wirasaba dapat melawannya dengan baik. Saat yang lain, Jaka Soka memandang ke arah Lawa Ijo yang nampak makin baik keadaannya. Meskipun demikian Ki Dalang Mantingan berjuang dengan gigihnya.

Kemudian Jaka Soka sendiri meloncat selangkah ke belakang dan dalam sekejap tongkatnya telah terurai. Di tangan kanan, digenggamnya sebuah pedang yang lentur, sedang di tangan kirinya adalah warangkanya, berupa sebuah tongkat yang berwarna hitam. Rara Wilis tidak menunggu lebih lama lagi. Ia meloncat ke depan dengan tangan terjulur lurus. Pedangnya mengarah kedada lawannya.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
621

JAKA SOKA terkejut melihat gerak yang sedemikian cepatnya. Untunglah bahwa Ular Laut itu memiliki pengalaman yang luas. Setapak ia menggeser diri sambil berputar, dengan kerasnya ia memukul pedang Rara Wilis yang menjulur beberapa jari dari dadanya. Namun Rara Wilis lincah pula. Ia berhasil membebaskan senjatanya, untuk kemudian diputarnya cepat dan serangannya telah datang pula.

Demikianlah maka segera mereka terlibat dalam pertempuran yang cepat. Rara Wilis ternyata cukup mampu mengimbangi kedahsyatan Ular Laut yang bertempur membingungkan itu. Jaka Soka mencoba untuk mengaburkan perlawanan Rara Wilis, dengan menyerangnya berputar-putar dari segala arah.

Namun Rara Wilis menyadarinya, sehingga sekali-kali ia melontarkan diri memotong langkah lawannya dengan pedang yang terayun cepat sekali. Dalam keadaan yang demikian terpaksa Jaka Soka mengumpat di dalam hati. Ia telah jauh lebih dahulu mendalami ilmu-ilmu perkelahian daripada gadis itu, namun ternyata gadis itu dapat menyusulnya. Ia menyesal bahwa selama ini ia lebih senang merantau mencari mangsanya, daripada menekuni ilmunya.

Sendang Parapat berdiri seperti patung melihat lingkaran-lingkaran perkelahian. Ia melihat betapa Dalang Mantingan berjuang mati-matian untuk melawan Lawa Ijo. Wirasaba dengan garangnya mengayunkan kapak raksasanya, sedang Rara Wilis dengan lincahnya bergulat di antara hidup dan mati. Dengan demikian, ia merasa bahwa tenaganya tak akan berguna sama sekali seandainya ia mencoba untuk membantu salah seorang di antaranya. Malahan mungkin ia akan mengganggu kelincahan mereka. Para penjaga halaman itu juga menjadi pening. Mereka tidak bersiap untuk bertempur menghadapi tokoh-tokoh itu. Apalagi lingkaran-lingkaran pertempuran itu seolah-olah telah menjadi sedemikian sulitnya untuk dipisah-pisahkan lagi di antara lawan dan kawan. Yang tampak di mata mereka adalah bayangan yang melontar berputar-putar dengan cepatnya. Karena itu, perhatian mereka segera tertuju kepada kawan-kawan mereka yang luka. Empat orang.

Hanya Endang Widuri-lah yang dapat mengerti betapa suasana maut telah melingkar-lingkar di halaman itu. Kali ini gadis yang nakal itu benar-benar menjadi tegang. Ia tidak dapat lagi bergurau dalam keadaan yang demikian, sehingga senyumnya sama sekali telah lenyap dari bibirnya. Matanya yang bening itupun menjadi tajam, setajam gerigi yang melingkari cakranya. Ia melihat betapa Wirasaba dapat menyesuaikan diri melawan kekasaran Wadas Gunung. Bahkan pengembala itupun dapat bertempur dengan kasar pula. Kapaknya mendesing-desing mengerikan. Sekali terayun ke dada Wadas Gunung, namun kemudian tangkainya mengarah ke tengkuk lawannya. Namun dua pisau belati panjang di tangan Wadas Gunung itupun bergerak dengan cepatnya pula. Mematuk-matuk ke segenap tubuh Wirasaba, sehingga kemudian yang tampak hanyalah seleret-leret sinar-sinar yang silau.

Rara Wilis pun dengan lincahnya menggerakkan pedangnya dengan ilmu yang khusus. Ujung pedang yang tipis itu selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Kalau Jaka Soka dapat bertempur seperti Ular yang membelit, melingkar untuk kemudian meloncat, mematuk dengan ujung pedangnya, maka Rara Wilis berhasil melawannya seperti seekor sikatan yang dengan lincahnya menari-nari dengan sayap-sayapnya yang cepat cekatan. Demikian ia meloncat-loncat seperti anak-anak yang menari-nari riang namun ketika tiba-tiba seekor ular mematuknya, cepat-cepat ia meloncat melenting, untuk kemudian dengan lincahnya, ujung pedangnya menyambar lambung lawannya.

Dengan demikian, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi pakaian Jaka Soka yang gemebyar karena tretes intan pada timang dan anak kancing bajunya. Tiba-tiba ia merasa malu. Seandainya gadis itu benar-benar dapat dibawanya ke Nusakambangan, bahkan seandainya gadis itu bersedia untuk menjadi isterinya, maka apabila pada suatu saat timbul perselisihan antara mereka, meskipun tidak terlalu tajam, maka apakah ia mampu untuk mengatasinya. Karena itu kemudian yang menjalar dalam hati Jaka Soka bukan lagi perasaan seorang laki-laki terhadap seorang gadis seperti beberapa saat yang lampau. Ketika jiwa Jaka Soka telah benar-benar terancam, maka yang ada di dada Jaka Soka kemudian adalah kemarahan yang menyala-nyala. Dengan setinggi gunung atas kematian gurunya, Nagapasa. Karena itu, ia harus membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya. Juga gadis yang garang ini harus dibinasakan.

Demikianlah, kemudian Jaka Soka telah kehilangan kegairahannya. Ia sudah tidak lagi melihat seorang gadis cantik yang mempesona, tetapi yang tampak adalah seorang yang berbahaya bagi jiwanya. Namun ternyata seimbang dengan itu, Rara Wilis bertambah marah pula. Baginya pertempuran kali ini adalah pertempuran yang menentukan. Kalau ia terbunuh, biarlah ia mengorbankan dirinya, namun kalau ia berhasil membinasakan laki-laki itu, maka ia akan terbebas dari kecemasan dan kengerian yang mengejar-ngejarnya sepanjang umurnya. Tetapi berbeda dengan mereka berdua.

Mantingan benar-benar dalam keadaan yang sulit. Meskipun ia telah melawan Lawa Ijo dalam puncak ilmu Pacar Wutah, namun Lawa Ijo benar-benar memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Lawa Ijo itu dapat ilmu yang paling licik disamping ilmunya yang memang dahsyat dan bertempur dengan segala macam cara. Yang paling kasar, sampai yang menakutkan. Setapak demi setapak Mantingan terdesak terus. Hanya karena ketabahan dan kepercayaannya pada Kekuasaan Yang Tertinggi, ia masih mampu bertahan dalam ketenangan. Melihat keadaan itu, Widuri menjadi cemas. Ia telah kehilangan sifat kenak-kanakannya dalam keadaan bahaya yang benar-benar mengerikan seperti saat itu. Karena itu, dengan penuh tekad dan keberanian, mendidihlah darah Pengging Sepuh di dalam tubuhnya. (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 622

KETIKA Widuri melihat Mantingan terdesak, maka ia tidak mau membiarkannya. Dengan lincahnya ia meloncat sambil berkata nyaring di antara desing rantainya yang berputar seperti baling-baling, ”Paman Mantingan, biarlah aku ikut serta.”

Mantingan memadang dalam sekejap, gadis itu melontarkan diri seperti terbang ke arah Lawa Ijo. Dan dilihatnya Lawa Ijo menjadi terkejut karenanya. Sehingga iblis dari Mentaok itu meloncat beberapa langkah surut. Dengan liarnya matanya memandang kepada Dalang Mantingan yang sudah hampir sampai pada saat terakhir itu, namun kemudian mata Lawa Ijo itu menjadi suram ketika memandang Widuri yang sudah berdiri dihadapannya dengan senjatanya yang berbahaya itu.

Tiba-tiba terdengar suara Lawa Ijo itu perlahan-lahan, ”Ngger, jangan ikut campur dengan persoalan kami. Biarlah kami orang tua-tua menyelesaikan masalah kami dengan cara yang kami senangi.”

Widuri melihat mata yang suram itu. Namun ia tidak mau terpengaruh oleh keadaan yang tak diketahui sebabnya itu. Maka jawabnya, ”Biarlah Lawa Ijo. Kau datang dengan membawa senjata dan hasrat yang hitam di dalam hatimu. Bukankah kau telah dibekali oleh nafsu untuk membunuh…? Marilah, kami telah bersedia untuk melawannya. Kami bukan sebangsa cacing yang membiarkan diri kami terbunuh tanpa perlawanan. Karena kami sadar bahwa saat ini adalah saat-saat kami terakhir. Sebab seandainya kami berdua dengan Paman Mantingan berhasil membebaskan diri dari tanganmu, hantu-hantu hitam yang berada didalam rumah inipun segera akan menangkap kami dan membunuh kami bersama. Terhadap mereka, kami tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, biarlah kami melawan selagi kami masih sempat. Nah, lihatlah dada kami yang tengadah di hadapan ujung-ujung belatimu itu.”

Lawa Ijo menarik nafas panjang. Tetapi matanya yang suram itu menjadi menyala.

Katanya, ”Aku sudah berusaha untuk mencegahmu, gadis yang nakal. Agaknya kau benar-benar keras kepala.”

Widuri tidak peduli lagi, ia melangkah semakin dekat sambil menjawab, ”Kenapa kau mencegah aku? Bukankah kau datang untuk melepaskan nafsumu? Membunuh dan kemudian kau sangka akan kau temukan keris-keris itu di sini…?”

Lawa Ijo bukanlah seorang yang berdada longgar. Karena itu ia menjadi semakin marah. Namun sekali lagi ia mencoba memperingatkan, ”Kalau kau mau menyingkir, aku akan membebaskan kau. Guruku pun tak akan mengusikmu. Biarlah aku membunuh Ki Dalang yang masyhur ini.”

Tetapi Widuri tidak takut. Dengan nyaring ia menjawab, ”Kami mempunyai pendirian yang berbeda dengan golonganmu. Kami memiliki kesetiakawanan yang dalam untuk menegakkan kemanusiaan. Bunuhlah Paman Mantingan bersama kami semua.”

Lawa Ijo menggeram, ”Sekehendakmulah,” desisnya. Lalu ia mulai bergerak. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang Mantingan. Untunglah Mantingan selalu berhati-hati, sehingga ia masih sempat untuk menghindarkan dirinya. Ketika Lawa Ijo telah mulai kembali dengan serangannya yang dahsyat, Widuri pun mulai. Senjatanya berputar cepat seperti baling-baling dengan putaran-putaran yang berbahaya. Sekali cakranya mengarah ke leher. Mendapat lawan baru yang lincah disamping lawan lamanya, Lawa Ijo merasakan, bahwa keadaan pertempuran itu menjadi jauh berubah. Kembali ia mengagumi gadis itu. Betapa berbahayanya permainan rantai yang berputar-putar, disamping ujung trisula Mantingan yang mematuk-matuk dalam ilmu gerak Pacar Wutah. (Bersambung..)

Dengan kerasnya Lawa Ijo menggeram. Sambil memusatkan segenap tenaganya ia mencoba untuk mengatasi desakan lawan. Betapa ganasnya kelelawar yang buas itu bertempur. Kedua pisau belatinya seakan-akan merupakan kuku yang panjang diujung sayap-sayapnya yang mengembang dan bergerak gerak dengan cepatnya. Namun untuk menghadapi dua orang sekaligus terasa betapa beratnya.

Mantingan dan Widuri, meskipun keduanya memiliki bekal yang berbeda, namun meeka berusaha untuk menyesuaikan dirinya. Ternyata gadis itu tidak kalah tangkasnya dengan Mantingan. Dengan gerak-gerak yang tangguh Endang Widuri berjuang dengan berani. Darah Ki Ageng Pengging Sepuh yang mengalir didalam tubuhnya telah membekalinya dengan api yang menyala nyala didalam dada gadis itu. Api yang mengobarkan semangat berjuang dan keteguhan hati.

Diam-diam Lawa Ijo berteka teki didalam hatinya. Ia pernah bertempur melawan Mahesa Jenar, kemudian melawan muridnya yang bernama Arya Salaka. Sekarang berhadapan dengan gadis yang bernama Endnag Widuri. Namun gadis ini memiliki tatanan berkelahi sama hebatnya dengan Arya dan Mahesa. Apakah Widuri ini juga muridnya Mahesa?. Namun Lawa Ijo tidak sempat menemukan jawabannya, sebab lawannya semakin lama semakin mendesaknya kedalam bahaya. Mantingan melihat keadaan itu. Juga Widura dapat merasakan bahwa akhirnya mereka akan dapat menguasai keadaan. karena itu Endang Widuri dan Mantingan berjuang semakin hebat untuk menghancurkan orang lain yang mencoba mengacau Banyubiru.

Tetapi Lawa Ijo adalah seorang yang luar biasa. Ketika lawan-lawannya semakin mendesaknya, akhirnya ia melompat mundur beberapa langkah. Kemudian terdengarlah ia menggeram dengan keras.

Dengan gerak yang dahsyat ia memutar tubuhnya, kemudian sekali lagi ia menggeram keras.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 623

YANG kemudian terasa, betapa udara yang hangat mengalir perlahan-lahan, bergelombang menyentuh tubuh-tubuh Mantingan dan Endang Widuri. Semakin lama semakin hangat, dan akhirnya jadi panas.

Sejalan dengan itu, Lawa Ijo telah meloncat menerkam Mantingan dengan garangnya. Mantingan sadar, bahwa bahaya yang mengerikan telah mengancam dirinya. Lawa Ijo telah mempergunakan ilmunya Alas Kobar. Demikian pula Endang Widuri, merasa betapa ia terlalu tergesa-gesa merasakan kemenangan-kemenangan kecil atas lawannya itu. Kini ternyata betapa maut telah mengancam jiwanya.

Mantingan masih berusaha sekuat-kuatnya untuk mempertahankan diri. Widuri pun tidak membiarkan Lawa Ijo dapat berbuat sekehendak hatinya. Meskipun Lawa Ijo itu telah berhasil memancarkan ilmunya, namun Widuri masih sempat menyerangnya, sehingga dengan demikian Lawa Ijo terpaksa berusaha menghindarkan diri dari sambaran gigi-gigi cakra yang sangat berbahaya.

Tetapi sesaat kemudian Mantingan dan Widuri telah tidak dapat bertahan lagi dari serangan Aji Alas Kobar. Udara disekeliling Lawa Ijo itu tiba-tiba telah menjadi panas.

Udara yang panas itu bahkan seolah-olah menyusup ke dalam tulang sungsum mereka. Demikianlah akhirnya Mantingan dan Endang Widuri terpaksa menghindarkan diri dengan meloncat menjauhi lawannya.

Namun Lawa Ijo tidak mau melepaskan mereka lagi. Apalagi Ki Dalang Mantingan. Karena itu ketika Mantingan meloncat mundur, Lawa Ijo segera memburunya. Karena pancaran aji Alas Kobar yang melibatnya, akhirnya Mantingan merasa bahwa seakan-akan kakinya menjadi kejang. Ia sudah tidak sempat meloncat lagi.

Yang dapat dilakukan kemudian hanyalah menanti Lawa Ijo menerkamnya, sementara itu betapa udara yang panas telah menyengat-nyengat kulitnya. Dalam keadaan yang terakhir itu, Mantingan masih mencoba untuk mengangkat trisulanya menanti saat-saat terakhir yang mengerikan.

Widuri yang meloncat ke arah yang berlawanan, melihat, betapa maut menerkam Ki Dalang Mantingan. Karena itu wajahnya menjadi tegang dan dadanya bergolak hebat. Apakah ia akan berdiam diri melihat kawan sepenanggungan itu binasa? Tetapi ia tidak dapat bergerak maju. Ia tidak mampu untuk menerobos kekuatan Aji Alas Kobar yang dahsyat itu. Sebab demikian ia melangkah mendekat, tubuhnya menjadi seolah-olah terbakar hangus.

Namun meskipun demikian, Widuri bukanlah seorang yang mudah berputus asa. Dari ayahnya ia mendapat beberapa petunjuk bagaimana seharusnya apabila seseorang berada dalam kesulitan. Ayahnya itu pernah berkata kepadanya, bahwa manusia tidak boleh berputus asa.

Meskipun keputusan terakhir berada dalam kekuasaan Yang Maha Tinggi, namun manusia diwajibkan berusaha. Berusaha sampai kemungkinan terakhir. Demikianlah akhirnya Widuri mengambil suatu keputusan yang dapat dilakukan dalam keadaan yang demikian itu.

Ketika ia melihat Lawa Ijo dengan wajahnya yang menyeringai seperti serigala meloncat memburu Dalang Mantingan, berputarlah cakranya beberapa kali di udara. Kemudian dengan sekuat tenaga, sebagai usahanya terakhir untuk melawan Kelelawar Serigala dari Mentaok itu, cakra itu dilepaskannya beserta rantainya sekaligus. Suatu hal yang tak terduga. Apalagi pada saat itu Lawa Ijo sedang memusatkan perhatiannya kepada Dalang Mantingan.

Kepada Mantingan itulah dendam Lawa Ijo tersimpan. Tetapi, demikian ia meloncat, demikian senjata Widuri melayang ke arahnya, sedemikian cepatnya seperti kilat menyambar kepalanya.

Lawa Ijo terkejut bukan alang kepalang. Tetapi ia terlambat. Ketika ia berusaha menghindar, cakra itu dengan derasnya mengenai kepalanya dengan tepat. Terasa betapa kulit kepalanya terkelupas oleh gerigi-gerigi yang tajam. Lawa Ijo terhuyung ke samping. Perasaan nyeri telah menelan dirinya sedemikian kerasnya. Cakra pemberian Kebo Kanigara itu benar-benar senjata yang luar biasa.

Yang terdengar kemudian adalah suatu pekik yang tertahan. Dengan kedua belah tangannya, Lawa Ijo memegang kepalanya yang terluka itu erat-erat, seperti takut bahwa kepalanya itu akan terlepas. Namun demikian, luka itu menjadi semakin nyeri, dan darah yang mengalir dari luka itu menjadi semakin keras.

Dalang Mantingan untuk sesaat tertegun. Ia melihat hantu itu kesakitan. Namun karena tekanan yang tajam pada saat yang mengerikan, yang hampir saja merampas nyawanya, Mantingan menjadi seperti orang yang kebingungan. Tetapi cepat ia menguasai kesadarannya kembali. Ia merasa bahwa Kekuasaan Tertinggi dengan Tangan-tangannya yang Adil telah membebaskannya.

Karena itu, ketika ia melihat kesempatan terbuka di hadapannya, dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia mengangkat trisulanya. Trisula Mantingan itupun bukan senjata yang dibelinya dari pandai besi.

Trisulanya itu adalah pemberian gurunya, Ki Ageng Supit. Karena itu trisulanya pun memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan berdoa di dalam hati, yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Adil, Mantingan melontarkan trisulanya. Lawa Ijo yang telah kehilangan keseimbangan diri, tidak melihat trisula itu meluncur menyambar dadanya. Karena itu, tiba-tiba terasa dadanya terbelah. Kini benar-benar serigala dari Mentaok itu berteriak tinggi. Dan kemudian iapun terhuyung sekali lagi, dan akhirnya jatuh terkulai di tanah yang telah dibasahi oleh darahnya.

Halaman Banyubiru itu benar-benar dicengkam oleh kengerian. Teriakan Lawa Ijo itu benar-nenar telah menggetarkan udara Banyubiru. Daun-daun kuning pun berguguran di tanah, sedang ranting-ranting yang kering berpatahan. Mendengar teriakan Lawa Ijo itu, Widuri menjadi gemetar. Ia tahu perasaan apa yang menjalar di dalam dirinya. Namun tiba-tiba ia merasa segenap bulu-bulunya tegak berdiri. Karena itu ketika Lawa Ijo itu sudah tidak mampu lagi untuk berdiri, tanpa disengaja Endang Widuri menghindar pandang. Wajah Widuri pun jatuh tertunduk di tanah yang hitam-hitam gelap di dalam cahaya obor yang remang-remang.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 624

WADAS GUNUNG juga tak kalah terkejutnya mendengar pekik yang memekakkan telinga itu. Ketika ia pertama-tama mendengar Lawa Ijo menggeram keras-keras, ia merasa bahwa pekerjaan kakak seperguruannya itu hampir selesai. Sebab pada saat itu Lawa Ijo telah mempergunakan Aji Alas Kobar. Namun kemudian yang terdengar adalah jerit kesakitan. Karena itu hatinya pun berdesir dengan kerasnya. Bahkan seolah-olah dirinya sendirilah yang kehilangan kekuatannya. Demikianlah Wadas Gunung yang gagah dan mempunyai kekuatan raksasa itu, kehilangan pemusatan pikiran. Ketika ia mencoba melihat apa yang terjadi pada kakak seperguruannya itu, ternyata ia dihadapkan pada saat yang menentukan.

Wirasaba tidak mau terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Ia menghadapi lawannya dengan segenap perhatian dan kemampuan. Karena itu, ketika sebagian dari perhatian Wadas Gunung direnggut oleh jerit ngeri kakak seperguruannya, Wirasaba melihat kelemahan itu. Setelah ia bertempur beberapa lama, dalam keadaan yang seimbang, maka saat yang pendek itu banyak mempunyai arti baginya.

Wadas Gunung melihat seleret sinar yang menyambar tubuhnya pada saat ia melihat Lawa Ijo terdorong beberapa langkah untuk kemudian jatuh tak berdaya. Cepat ia berusaha untuk melawan sambaran senjata lawannya, namun ia tak berhasil mempergunakan segenap kekuatannya. Ketika ia memutar tubuhnya menghadap arah sambaran kapak lawannya, dan menyilangkan kedua pisaunya untuk menahan serangan itu, Wirasaba sempat menarik senjatanya, dan dengan tangkai kapaknya itu ia menyerang tengkuk Wadas Gunung. Serangan ini tidak begitu keras, namun benar-benar telah menghilangkah keseimbangan perlawanan Wadas Gunung. Ketika Wadas Gunung berusaha menghindar, kapak Wirasaba telah berubah arah. Dengan kerasnya senjata raksasa itu menyampar punggung Wadas Gunung.

Kini sekali lagi halaman itu digetarkan oleh sebuah teriakan ngeri. Wadas Gunung terbanting di tanah untuk tidak akan bangun kembali. Sesaat kemudian, halaman itu menjadi sepi.

Jaka Soka telah melontar mundur beberapa langkah. Ternyata, karena pengalamannya, ia lebih hati-hati dari Wadas Gunung. Dihindarinya lawannya jauh-jauh, supaya ia dapat melihat apa yang terjadi. Sesaat darahnya berdesir cepat, jantungnya seperti berdetang-detang akan pecah. Dua kakak-beradik seperguruan telah jatuh dalam pertempuran itu. Sebenarnya Jaka Soka tidak akan terpengaruh kedudukannya sebagai kepala gerombolan di Nusakambangan. Kematian Lawa Ijo dan Wadas Gunung adalah akibat yang wajar dari usahanya. Mukti atau mati. Jaka Soka sendiripun sadar, bahwa akibat yang demikian dapat juga terjadi atas dirinya. Namun kekalahan yang berturut-turut, baik di Pamingit maupun di Banyubiru ini sangat memanaskan hatinya. Bahkan di Pamingit, gurunya yang dibangga-banggakan telah jatuh. Sekarang kawan-kawan segolongannya terbunuh pula. Karena itu darah di dalam tubuhnya serasa menggelegak seperti banjir yang melanda dinding jantungnya.

Diawasinya orang-orang yang berdiri di sekitar pendapa itu. Wirasaba, yang masih gemetar berdiri bersandar tangkai kapaknya yang diwarnai oleh darah Wadas Gunung. Mantingan dan Widuri pun masih saja berdiri seperti patung. Sedang Rara Wilis, sebagai seorang gadis, hatinyapun berdebar-debar pula.

Untunglah bahwa ia tidak kehilangan kewaspadaannya. Dihadapannya masih berdiri Ular Laut yang menggelisahkan. Sesaat kemudian dari pintu rumah itu muncullah orang berjubah abu-abu, bersama-sama dengan orang yang berkepala besar. Dengan kesan yang mengerikan, ia memandang berkeliling. Ia menggeram ketika dilihatnya kedua muridnya terkulai di tanah. Kemudian seperti bayang-bayang, ia melayang ke arah Lawa Ijo, yang masih bergerak-gerak dalam pergulatannya melawan maut.

”Lawa Ijo…” desis Pasingsingan itu. Lawa Ijo hanya mampu berdesis perlahan-lahan. Dan kembali Pasingsingan memanggilnya, ”Lawa Ijo….”

”Hem…” Lawa Ijo berusaha untuk menjawab. Ternyata orang itu memiliki daya tahan yang luar biasa. Meskipun darahnya telah mengalir dari luka-luka di kepala dan dadanya, namun ia masih dapat membuka matanya.

Pasingsingan kemudian tegak berdiri di samping tubuh murid kesayangan itu. Pandangannya dengan tajam bergerak dari Mantingan, Endang Widuri, Wirasaba kemudian Rara Wilis. Sendang Parapat dan para penjaga yang kaku di tempat masing-masing itu sama sekali tak diperhitungkan.

”Aku tidak menyangka…” Hantu bertopeng itu menggeram. ”Bahwa kalian mampu membunuh muridku. Ketika aku mendengar ia memekik, aku menyangka lain. Tetapi aku menjadi ragu-ragu. Akhirnya aku sadar bahwa kedua muridku pasti terluka. Ternyata mereka tidak saja terluka, tetapi jiwanya telah terancam.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 625

KEMUDIAN tangan hantu itu perlahan-lahan terangkat dan menunjuk kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mula-mula Mantingan, kemudian berturut-turut Endang Widuri, Wirasaba dan Rara Wilis.

”Kau, kau, kau dan kau. Hem. Alangkah sombongnya kalian. Kalian berani membunuh murid Pasingsingan di hadapan gurunya. Benar-benar suatu perbuatan yang gila. Karena itu kalian harus mati dengan cara yang paling menyedihkan. Tidak oleh tangan Pasingsingan. Aku tidak mau dikotori dengan darah kalian. Tetapi kalian akan kami ikat di belakang kuda kami. Akan kami arahkan kuda-kuda kami ke Pamingit. Besok sahabat-sahabat di sana akan menemukan mayat kalian yang sudah terkelupas seperti pisang.”

Semua yang mendengar kata-kata itu menjadi gemetar. Meskipun mereka tidak takut mati, namun mati dengan cara yang demikian benar-benar tidak menyenangkan. Meskipun ada senjata di tangan mereka, namun kalau Pasingsingan itu benar-benar bermaksud demikian maka pastilah mereka tidak akan mampu mengelakkan diri. Dengan satu pukulan di tengkuk mereka, atau satu tekanan di dada mereka, maka hantu itu benar-benar akan dapat membuat mereka lumpuh. Rara Wilis menjadi semakin ngeri, kalau-kalau tiba-tiba Jaka Soka berbuat lain. Sebab Jaka Soka akan dapat mengajukan permintaan kepada Pasingsingan mengenai dirinya.

Tetapi dalam ketegangan itu tiba-tiba suara Lawa Ijo gemetar, ”Guru, dapatkah guru mendengar permintaanku terakhir?”

Pasingsingan menoleh kepada muridnya. Dengan isyarat-isyarat ia minta Sura Sarunggi mengawasi orang-orang yang berdiri dihalaman itu. Kemudian iapun berjongkok di samping muridnya. Ketika ia melihat luka Lawa Ijo, Pasingsingan itupun mengerti, bahwa nyawa Lawa Ijo tak akan dapat diselamatkan.

”Apakah permintaamu?” jawab Pasingsingan.

”Pertama…” Suara Lawa Ijo menjadi semakin gemetar. Terasa betapa dendamnya masih menguasai dirinya.

”Nyawa Dalang Mantingan.”

”Hem…” Pasingsingan menggeram sambil memandang Dalang Mantingan yang berdiri seperti tonggak. Lamat-lamat ia mendengar juga apa yang dikatakan oleh Lawa Ijo itu. Namun ia sudah tidak terkejut. ”Kedua…” Lawa Ijo meneruskan, ”Jangan bunuh gadis nakal itu.”

Pasingsingan menarik nafas. ”Kenapa…?” Ia bertanya. Tiba-tiba Lawa Ijo berusaha mengangkat kepalanya dan dipandanginya Endang Widuri yang tegak kaku seperti tiang pendapa.

”Guru…” desis Lawa Ijo, ”Dapatkah aku melihat senjata itu?” Pasingsingan menjulurkan tangannya. Rantai dan cakra yang mengenai kepala Lawa Ijo masih menggeletak di sampingnya. Kemudian senjata itupun diserahkan kepada muridnya.

Lawa IJo dengan tangan yang lemah mengamat-amati senjata itu. ”Luar biasa,” desisnya. ”Lumrah kalau Lawa Ijo terbunuh karena senjata yang ampuh ini,” katanya pula.

Pasingsingan tidak tahu apa yang dimaksud muridnya itu, namun ia masih berdiam diri. Langit di sebelah barat masih ditandai oleh warna merah, karena api yang masih berkobar-kobar menelan beberapa rumah yang sama sekali tak bersalah.

”Widuri, kemarilah….” Terdengar Lawa Ijo memanggil. Panggilan itu terasa aneh. Widuri mula-mula tidak percaya pada pendengarannya. Apakah benar-benar Lawa Ijo itu memanggilnya dengan nada yang lunak tanpa rasa dendam? Ketika Endang Widuri sedang menebak-nebak di dalam hati, terdengar kembali Lawa Ijo memanggil, lebih keras, ”Widuri, kemarilah.”

Widuri menjadi semakin bingung. Bahkan Pasingsingan tidak tahu apa maksud muridnya itu. Namun dalam nada suaranya, Lawa Ijo sama sekali tak bermaksud jahat. Widuri masih belum beranjak dari tempatnya. Sehingga sekali lagi Lawa Ijo berkata kepada gurunya, ”Guru, panggilkan gadis itu. Aku tak akan berbuat jahat. Dan sekali lagi aku minta jangan ganggu dia.”

Pasingsinganpun menjadi bingung. Namun ia berusaha untuk memenuhi permintaan muridnya itu. Perlahan-lahan ia berkata, ”Gadis kecil, Lawa Ijo memanggilmu.” Widuri masih belum bergerak. Sedang Rara Wilis menjadi cemas. Katanya, ”Jangan, Widuri.”

”Hem…” Lawa Ijo menarik nafas. Berat sekali, seakan-akan nafasnya sudah terputus di dadanya, ”Sebelum aku mati..”, mintanya.

Widuri masih tegak sepergi tonggak. Mantingan sudah kehilangan ingatannya untuk mencegah atau menyetujuinya. Demikian juga Wirasaba. Nafasnya masih memburu berebut dahulu setelah ia berjuang mati-matian, serta dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya pada saat terakhir.

Kini ia tidak tahu apa yang akan dikatakan dan apa yang akan diperbuat tentang Widuri.

”Guru…” tiba-tiba Lawa Ijo berkata, ”Silahkan guru meninggalkan aku. Agaknya gadis itu takut kepada Guru.”

”Apakah sebenarnya yang sedang kau lakukan, Lawa Ijo…? tanya Pasingsingan.

”Gadis itu. Aku sedang mengenangkan almarhum anakku. Pada wajah gadis itu, sejak aku melihat untuk pertama kalinya, seakan-akan terbayang wajah anakku. Kini aku melihat wajah itu pula, tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya, mengajak aku pergi mengantarkannya. Anakku itu seandainya ia masih hidup, ia pasti sebesar gadis itu dan tangkas pula. Setangkas anak itu,” jawab Lawa Ijo.

Pasingsingan menggeram. Ia mengutuk di dalam hati. Kenapa Lawa Ijo berbuat hal yang aneh-aneh seperti perempuan cengeng. Namun pada saat-saat muridnya yang disayangnya itu hampir berpelukan dengan maut, ia terpaksa memenuhinya. Perlahan-lahan ia berdiri untuk kemudian mundur beberapa langkah sambil berkata kasar, ”Mendekatlah. Aku tidak akan mengganggumu.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 626

LAWA  IJO yang lemah itu kemudian berusaha untuk melemparkan senjata-senjatanya. Pisau belati yang selama ini menjadi ciri-ciri kekejamannya, yang kadang-kadang diikatnya dengan kain bergambar kelelawar hijau berkepala serigala.

Endang Widuri melihat semuanya dengan jantung yang berdentangan. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ada sesuatu yang mendesak-desaknya untuk memenuhi panggilan Lawa Ijo itu. Tiba-tiba ia bergerak-gerak maju. Bersamaan dengan itu, Rara Wilis pun meloncat ke arahnya, sambil berkata, ”Widuri.”

Kembali langkah Widuri terhenti. Ia menoleh kepada Rara Wilis. Nafas Rara Wilis pun kemudian menjadi sesak oleh ketegangan yang memuncak. Lawa Ijo yang sudah hampir sampai pada akhir hayatnya melihat Rara Wilis berusaha mencegah gadis kecil itu. Maka perlahan-lahan ia berkata, ”Aku adalah manusia seperti kalian, meskipun apa yang aku lakukan selama ini tidak ubahnya seperti binatang. Aku tidak tahu apa yang akan aku alami, sesudah aku menginjak alam lain, namun di perbatasan ini aku tidak akan menambah dosa.”

Tiba-tiba hati Rara Wilis tersentuh pula. Sebagai seorang gadis, perasaannya tidaklah sekeras baja. Ketika Widuri memandangnya, tanpa sesadarnya ia mengangguk. Sehingga Widuri kemudian perlahan-lahan melangkah maju mendekati hantu dari Alas Mentaok yang hampir sampai ajalnya itu. ”Senjatamu benar-benar ampuh, melampaui senjata yang pernah aku kenal,” desis Lawa Ijo.

”Namun ia akan bertambah ampuh kalau kau lekatkan akik ini di lingkaran bergerigi itu.” Widuri tidak menjawab. Ia berdiri tegak di samping Lawa Ijo yang masih memegang rantai beserta cakranya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud dengan Lawa Ijo itu. Lawa Ijo kemudian menarik sesuatu di jari-jarinya. Cincin dengan mata akik yang berwarna merah menyala.

”Lawa Ijo…!” Pasingsingan berkata lantang. ”Apakah yang kau berikan itu?”

”Kelabang Sayuta,” jawab Lawa Ijo lemah.

”Gila, jangan kau lakukan,” sahut Pasingsingan. ”Akik Kelabang Sayuta adalah ciri Pasingsingan yang hanya aku pinjamkan kepadamu.”

”Biarlah Guru. Aku berikan akik itu kepada anakku,” bantah Lawa Ijo dengan suara gemetar. Pasingsingan menahan dirinya untuk tidak melukai hati muridnya yang hampir mati itu. Namun dengan demikian, tanpa dikehendaki, Lawa Ijo justru menanamkan bahaya dalam tubuh Endang Widuri. Sebab tiba-tiba Pasingsingan mendapat pemecahan yang mengerikan.

”Biarlah akik itu diberikan, namun gadis itu tidak akan mampu melepaskan diri dari tangannya.” Kemudian Pasingsingan tidak mencegahnya ketika Lawa Ijo menyerahkan cincin beserta rantai Widuri sendiri kepada gadis itu. Widuri pun seperti orang yang kehilangan dirinya. Ia bergerak saja tanpa sesadarnya menerima pemberian Lawa Ijo itu. Hanya Rara Wilis yang bagaimanapun juga, tidak dapat melepaskan Widuri seorang diri berhadapan dengan hantu itu. Karena itu iapun mendekatinya dengan pedang terhunus di tangannya.

”Kutuk anakku itu telah sampai pada suatu kenyataan.” Terdengar suara Lawa Ijo gemetar. ”Mudah-mudahan aku dapat mengurangi beban pada saat kematianku. Setelah kau menerima cincin itu, terasa betapa lapang jalan yang akan aku tempuh. Hati-hatilah dengan cincin itu. Setiap goresannya, pasti berakibat maut, kecuali Mahesa Jenar. Aku tidak tahu kenapa ia berhasil membebaskan dirinya. Pergunakan akik itu menurut jalan hidupmu. Kalau kau benci kepada kejahatan, mudah-mudahan ia dapat menolongmu.” Lawa Ijo berhenti.

Nafasnya menjadi semakin sesak. Tiba-tiba ia menggeliat dan terdengar ia mengeluh. Widuri yang masih berdiri di samping Lawa Ijo itupun tiba-tiba berjongkok. Kalau mula-mula ia ngeri melihat wajah yang keras dan kejam itu, maka kini perasaan itu telah hilang.

”Widuri…” bisiknya. ”Bukankah namamu Widuri?” Widuri mengangguk. ”Aku telah membunuh anakku tanpa aku sengaja. Ketika aku menyangka ibunya berbuat sedheng dengan laki-laki lain, aku bunuh laki-laki itu. Kemudian aku bunuh pula istriku. Namun tanpa aku ketahui anak gadisku satu-satunya yang masih kecil, memeluk kaki ibunya, sehingga ketika aku dengan membabi buta menusuk tubuh perempuan itu, sebuah goresan melukai anakku itu. Goresan yang dalam di lehernya, sehingga gadis itu kemudian mati pula dua hari setelah mayat ibunya aku lempar ke sungai.”

Lawa Ijo berhenti sejenak. Nafasnya menjadi semakin tak teratur. Sekali-kali ia menggeliat lemah. Kemudian berbisik kembali perlahan-lahan. ”Tetapi ternyata aku salah sangka.” Kembali Lawa Ijo berhenti. Ia masih berusaha untuk membuka matanya, lalu meneruskan, ”Istriku tidak berbuat sedheng. Tetapi lelaki itu yang berbuat bengis. Berbuat di luar batas perikemanusiaan, sedang istriku adalah korban nafsu kebinatangannya. Namun istriku itu telah mati tersia-sia. Aku jadi menyesal. Apalagi ketika satu-satunya anakku itu mati pula. Akhirnya aku kehilangan keseimbangan. Dan jadilah aku seekor binatang pula. Tetapi aku tidak mau mendekatkan diri kepada perempuan. Perempuan yang bagaimanapun juga. Aku hanya ingin membunuh, berkelahi dan membuat orang lain menjadi putus asa dan menderita. Kadang-kadang aku rampas harta bendanya, pusaka-pusakanya dan kadang-kadang aku bunuh keluarganya, anak-anaknya yang tak berdosa. Akhirnya aku namakan diriku Lawa Ijo setelah aku berguru kepada Bapa Pasingsingan.”

Pasingsingan menggeram. Ia tidak senang mendengar penyesalan itu, sebagai suatu perbuatan cengeng. Seharusnya Lawa Ijo mati dengan janji seorang pemimpin dari golongan hitam. Tetapi ia berdiam diri. Namun di dalam hatinya bergolak nafsunya yang mendidih. ”Matilah segera Lawa Ijo,” kata hatinya. (Bersambung)-b

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 627

PASINGSINGAN sudah tidak mempunyai harapan untuk menyembuhkan luka-luka muridnya. ”Sesudah itu aku akan membunuh setiap orang di sini. Mantingan,Wirasaba, Rara Wilis dan gadis yang telah meruntuhkan kejantanan Lawa Ijo di matanya untuk mendapatkan akiknya kembali. Mengikat mereka di belakang kuda dan dipacunya ke Pamingit untuk meruntuhkan keberanian dan ketahanan perlawanan orang-orang Banyubiru,” kata hatinya kemudian.

Sesaat kemudian Lawa Ijo memejamkan matanya. Nafasnya satu-satu masih mengalir lewat hidungnya. Tetapi sesaat kemudian ia berusaha untuk tersenyum. Bersamaan dengan itu, dadanya terangkat dan melontarlah nafasnya yang terakhir.

Rara Wilis menjadi terkulai karenanya. Hatinya terketuk oleh kata-kata terakhir Lawa Ijo. Agaknya orang ini telah kehilangan masa depannya, karena ia salah duga terhadap istrinya. Sifat-sifat kekerasan dan kekerasan yang memang telah dimiliki, menjadi berkembang dengan pesatnya, sehingga menemukan bentuk puncaknya.

Endang Widuri masih berjongkok di samping Lawa Ijo. Terasa matanya menjadi panas. Kematian lawannya itu ternyata mempengaruhi jiwanya pula. Tanpa sesadarnya ia mengamat-amati benda pemberian Lawa Ijo itu. Cincin bermata batu akik yang merah menyala. Kelabang Sayuta.

Tetapi ia menjadi terkejut ketika terdengar Pasingsingan berkata dengan suara yang seperti bergulung-gulung di dalam perutnya. ”Widuri, agaknya kau telah berhasil merebut hati muridku pada saat-saat terakhirnya. Karena kenangannya yang melambung pada masa lampaunya, pada almarhum istri dan anaknya itulah, maka sejak di Gedong Sanga ia selalu berpesan untuk membebaskan kau dari tanganku. Sebelum mati ia pun berpesan demikian pula untuk tidak mengganggumu. Tetapi Lawa Ijo sekarang sudah tidak ada lagi. Pesannya akan hilang bersama hilangnya nyawamu. Sekarang aku akan melakukan rencanaku. Mengikat kalian di belakang kuda, dan mengantarkan kuda-kuda itu ke Pamingit.”

Setiap hati yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi bergetar cepat. Mereka menjadi seperti tersadar dari mimpinya. Ketika mereka mendengar kata-kata terakhir Lawa Ijo, mereka seolah-olah terlempar ke dalam satu dunia yang asing. Namun sekarang kembali mereka berdiri di atas tanah. Mereka berhadapan dengan iblis bertopeng dari Alas Mentaok. Mantingan tiba-tiba meloncat dengan cepatnya, meraih trisulanya yang masih menggeletak di samping Lawa Ijo setelah berhasil menyobek dada pemimpin gerombolan yang kehilangan masa depannya itu. Pedang Rara Wilis juga diangkatnya kembali. Widuri yang masih berjongkok disamping Lawa Ijo pun berdiri. Dengan hati-hati ia mengenakan cincin pemberian Lawa Ijo di jarinya, meskipun agak terlalu longgar, namun karena tangannya kemudian menggenggam ujung rantainya, maka cincin itu tidak akan lari karenanya.

Wirasaba yang berdiri tegak agak jauh dari mereka, juga segera membelai kapaknya, seolah-olah ia ingin menanyakan kepada senjata itu, apakah yang dapat dilakukan untuk melawan orang yang bernama Pasingsingan itu.

Yang terdengar kemudian adalah suara Sura Sarunggi, disamping gelaknya yang riuh. ”Aku menjadi geli melihat kelinci-kelinci ini mempersiapkan senjata-senjata mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan. Apakah mereka sedang menduga-duga kekuatanmu, Pasingsingan?”

Pasingsingan tidak menjawab. Malahan ia berkata kepada Jaka Soka, ”Soka, masihkah kau perlukan perempuan itu?”

Jaka Soka terkejut. Selama itu ia pun seperti orang yang kehilangan kesadaran. Namun akhirnya ia menjawab, ”Perempuan itu sangat berbahaya, Paman.”

Pasingsingan tertawa. ”Lalu…?” ia bertanya pula. Jaka Soka menggeleng, jawabnya, ”Selama ia masih seperti sekarang, aku tidak memerlukan lagi.”

”Bagus,” sahut Pasingsingan, ”Perempuan itulah yang pertama-tama akan aku ikat di belakang kuda bersama-sama dengan gadis yang bernama Widuri itu. Seorang laskar akan memacu kuda itu dan melepaskannya di Pamingit.”

Tiba-tiba terdengar Jaka Soka bergumam, ”Sayang.” Tetapi Pasingsingan sudah tidak mendengarnya lagi.

Topengnya tiba-tiba tampak menjadi liar. Dipandangnya satu demi satu, Mantingan, Wilis, Widuri kemudian Wirasaba. Yang terakhir adalah mayat muridnya. ”Ia mati di luar lingkungan kami,” desisnya.

”Ya,” sahut Sura Sarunggi. ”Ia mati setelah menanggalkan kejantanan golongan kami. Aku tidak tahu bagaimana kedua muridku mati. Mudah-mudahan mereka mati sebagai Uling Rawa Pening.”

”Persetan semuanya!” Tiba-tiba Pasingsingan berteriak. ”Aku tidak punya banyak waktu.”

Kata-kata Pasingsingan itu merupakan aba-aba bagi Mantingan dan kawan-kawannya. Tanpa berjanji, mereka segera berloncatan merapatkan diri dengan senjata masing-masing yang siap di tangan. Trisula, pedang tipis ditangan Rara Wilis, kapak raksasa dan rantai bercakra pemberian Kebo Kanigara. Untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lain, betapa dapat dikalahkan. Keempat senjata itu dalam satu gabungan, merupakan kekuatan yang dahsyat.

Namun bagi Pasingsingan, senjata-senjata itu tak akan banyak berarti. Meskipun demikian, ia pun berhati-hati. ”Mulailah Pasingsingan,” kata Sura Sarunggi, ”Mungkin orang-orang Pamingit akan segera menyusul kita. Bukankah pekerjaan utama kita belum selesai?”

”Ya,” jawab Pasingsingan. ”Aku menduga kalau keris-keris itu disembunyikan oleh Gajah Sora. Tetapi jangan takut mengenai orang-orang Pamingit atau Banyubiru yang akan menyusul kita. Aku telah meletakan beberapa penjaga untuk memberikan tanda-tanda dengan kentongan apabila mereka terpancing oleh api di sana.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 628

SURA SARUNGGI menyahut, ”Tetapi jangan membuang-buang waktu.”

”Aku senang melihat mereka ketakutan,” jawab Pasingsingan.

Sura Sarunggi pun kemudian tertawa sambil berkata, ”Kau benar-benar iblis. Tetapi memang benar-benar menyenangkan. Meskipun demikian jangan terlalu lama. Apakah aku harus membantu? Kau akan kecewa kalau mereka mati ketakutan sebelum terseret oleh kuda-kuda kita.”

”Bagus,” kata Pasingsingan pula.

”Aku akan dengan mudah membunuh mereka bersama-sama. Tetapi aku akan menemui kesulitan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Bantulah supaya pekerjaanku segera selesai.”

Sura Sarunggi tertawa. Ia melangkah maju mendekati empat orang yang berdiri dalam satu lingkaran beradu punggung.

Pasingsingan pun melangkah dari arah lain. Udara di halaman Pendapa Banyubiru itu kemudian diliputi oleh ketegangan. Masing-masing seakan-akan tidak berani menarik nafas dengan leluasa. Mantingan, Rara Wilis, Endang Widuri dan Wirasaba telah bertekad untuk bertempur mati-matian.

Mereka lebih baik mati dalam perkelahian itu, daripada harus terserat di belakang kaki kuda di sepanjang jalan ke Pamingit. ”Mahesa Jenar dan sahabatnya di Pamingit akan berterima kasih atas hadiah-hadiah kita ini, Sarunggi,” desis Pasingsingan.

”Hadiah yang tak ternilai,” jawab Sura Sarunggi.

Namun tiba-tiba langkah mereka terhenti. Sura Sarunggi yang tinggal beberapa langkah dari korbannya, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Demikian pula Pasingsingan.

”Hem….” geram Pasingsingan, ”Apakah ini?” Mata Sura Sarunggi menjadi liar. Mantingan dan kawan-kawannya yang telah hampir kehilangan harapan untuk dapat menyaksikan matahari terbit di balik bukit-bukit besok pagi, menjadi heran. Apakah yang mengganggu mereka. Ketika mereka melihat berkeliling, mereka tidak melihat apapun juga. Yang mereka lihat di langit yang kelam, mendung mulai mengalir dari arah utara. Satu-satu bintang-bintang yang gemerlapan itu tertelan dan hilang di belakang tabir yang kelabu.

Angin yang basah bertiup semakin lama semakin keras. Dan udara di atas Banyubiru menjadi semakin dingin.

Tetapi Pasingsingan dan Sura Sarunggi masih belum beranjak dari tempatnya. Bahkan kemudian Jaka Soka pun menjadi heran. Apakah yang ditunggu lagi? Tak seorangpun yang akan dapat menghalang-halangi mereka. Apa yang akan mereka perlakukan…?

Sendang Parapat, Wanamerta yang kaku seperti tonggak, para penjaga di gardu, tak ada yang mampu berbuat apapun. Meskipun Sendang Parapat dan Wanamerta tak akan tinggal diam. Ternyata dengan senjata-senjata di tangan mereka. Namun mereka sadar, bahwa terhadap Jaka Soka itupun mereka tak akan mampu melawan.

Tiba-tiba Sura Sarunggi dan Pasingsingan menjadi tegang. Sesaat kemudian terdengar Sura Sarunggi berkata, ”Jangan bersembunyi. Siapakah kau? Mahesa Jenar, Pandan Alas, Titis Anganten atau Sura Dipayana?”

Mendengar nama-nama itu, tergetarlah dada orang Banyubiru. Mantingan dan kawan-kawannya. Bahkan Widuri terpekik kecil, ”Ayah barangkali?”

Tetapi tak ada jawaban. Karena itu kembali Mantingan dan kawan-kawannya menjadi tegang. Seperti Sura Sarunggi dan Pasingsingan pun bertambah tegang. Mahesa Jenar, sahabatnya yang berhasil membunuh Nagapasa, Pandan Alas atau orang-orang lain pasti tidak akan membiarkan anak-anak mereka, atau sahabat-sahabat mereka itu menjadi ketakutan. Mereka pasti akan segera menampakkan diri. Bahkan mereka pasti datang dengan tergesa-gesa di atas kuda yang derap kakinya akan memberitahukan kehadiran mereka.

”Tetapi siapakah selain mereka?” bisik Sura Sarunggi di dalam hatinya. Namun Pasingsingan menjadi gelisah. Ia pernah bertemu dengan orang-orang aneh itu beberapa saat lampau di Rawa Pening. Ketika ia hampir saja membunuh Mahesa Jenar beserta empat kawannya. Yang seorang adalah Dalang Mantingan itu. Dua orang aneh itu berhasil membebaskan mereka. Sekarang, ketika Mantingan berada di ujung maut, terasa sesuatu yang aneh di halaman itu.

Tiba-tiba halaman itu seolah-olah bergetar dengan dahsyatnya.

Dari dalam gelap terdengar suara perlahan-lahan.

”Akulah yang datang.”

”Siapa?” teriak Pasingsingan.

”Pasingsingan,” jawab suara itu. Berdesirlah setiap dada yang mendengar jawaban itu. Pasingsingan…?

”Ah, orang itu pasti berolok-olok saja,” pikir mereka. Namun suara itu bergulung-gulung di dalam perut, seperti suara Pasingsingan. Ketika kemudian kilat memancar di langit, maka kembali di halaman itu seakan-akan menjadi runtuh karena setiap orang terkejut karenanya. Dari arah suara itu, di dalam cahaya kilat yang hanya sesaat tampaklah seorang yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan bertopeng yang kasar di wajahnya.

Melihat orang itu, Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. Terdengar ia berteriak nyaring, ”Siapakah kau? Apakah kau sudah bernyawa rangkap, berani mengenakan pakaian khusus Pasingsingan?”

”Aku Pasingsingan,” jawab suara itu.

”Tak ada dua Pasingsingan di dunia ini,” teriak Pasingsingan. ”Aku satu-satunya.”

”Kau salah!” Tiba-tiba terdengar suara itu di arah lain. ”Aku juga Pasingsingan.” (Bersambung)-m

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 629

KETIKA semua orang menoleh ke arah suara itu, dalam keremangan cahaya obor, tampaklah seseorang lagi yang berdiri tegak dengan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajahnya, sehingga serasa akan meledaklah dada mereka.

Dua orang yang sama-sama mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar di wajah mereka. Pasingsingan menjadi marah sekali karenanya, sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetar. Dengan pandangan liar ia mengawasi kedua orang yang mirip dengan dirinya itu berganti-ganti. Kemudian sambil menggeram ia berkata, ”Apakah kalian tidak sadar, bahwa permainan kalian itu akan berakibat maut?”

Kedua orang yang menamakan diri mereka Pasingsingan itu tidak menjawab, tetapi perlahan-lahan mereka melangkah mendekat. Seorang di antaranya berdiri di samping Mantingan dan kawan-kawannya, sedang seorang yang lain berdiri bertentang pandang dengan Sura Sarunggi.

Namun kemudian terdengar suara Sura Sarunggi tertawa. Katanya, ”Suatu permainan yang bagus, Pasingsingan. Tetapi dengan mengenakan jubah abu-abu dan topeng yang jelek itu, bukankah permainan terakhir bagi kalian? Sebab kalian pasti akan mengambil keputusan untuk membuktikan bahwa Pasingsingan memang hanya satu. Kalau sekarang tiba-tiba ada tiga, atau barangkali nanti muncul yang lain, empat, lima, enam, sepuluh, maka nanti akhirnya Pasingsingan benar-benar akan tinggal satu.”

”Kau benar,” sahut Pasingsingan.

”Aku muak melihat mereka dengan ciri-ciri khusus Pasingsingan itu. Karena itu mereka harus mati.”

”Kematian seseorang tidak terletak di tangan orang lain.”

Terdengar salah seorang dari kedua orang itu menjawab.

”Tetapi terletak di tangan Yang Maha Agung. Tak seorangpun dapat meramalkan, apakah satu dari sekian banyak Pasingsingan itu adalah kau. Tak seorangpun yang tahu, apakah kau dibenarkan untuk tetap hidup. Apakah aku atau orang itu yang juga menamakan dirinya Pasingsingan.”

Pasingsingan tertawa. Suaranya nyaring mengerikan seperti rintihan hantu. Yang mendengar suara itu menjadi bergetar, seolah-olah dadanya terhimpit batu sebesar anak gajah. Sehingga mereka terpaksa memusatkan kekuatan batin mereka untuk menahan kesadaran mereka tidak runtuh. Namun beberapa orang penjaga telah terduduk karenanya. Sendang Parapat yang belum sembuh benar itupun tidak kuat menahan getaran yang memukul dadanya, sehingga dengan demikian, iapun terpaksa menyandarkan diri pada tiang pendapa. Meskipun demikian akhirnya iapun terduduk pula. Sedang Wanamerta terpaksa berpegangan tiang erat-erat. Namun kesadarannya telah melayap-layap seperti orang yang sedang hanyut menjelang tidur.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri masih dapat bertahan diri, berdiri tegak dalam lingkaran beradu punggung. Meskipun demikian mereka harus berjuang mati-matian agar mereka tetap dalam kesadaran. Sebab mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tiga orang yang masing-masing menamakan diri mereka Pasingsingan. Apakah Pasingsingan yang lain itu tidak kalah jahatnya dengan Pasingsingan yang pertama. Apakah justru kedua orang yang lain itu lebih berbahaya bagi mereka. Pasingsingan masih terus tertawa dengan nyaringnya. Beberapa orang penjaga, bahkan Sendang Parapat, telah kehilangan kesadaran mereka. Mereka menjadi seperti orang yang terlepas dari keadaan sekitarnya. Dan karena itu mereka menjadi terbaring lemah tanpa daya. Hatinya menjadi nyeri dan pedih. Mantingan dan kawan-kawannya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

Sadarlah mereka bahwa Pasingsingan telah melepaskan ajiannya Gelap Ngampar. Bahkan Jaka Soka sendiripun menjadi gelisah. Semakin lama ia semakin pucat dan gemetar. Sura Sarunggi berdiri tegak sambil mengangkat dadanya. Sebagai orang sakti ia tidak banyak terpengaruh oleh aji sahabatnya itu.

Bahkan akhirnya ia tersenyum dan berkata, ”Gelap Ngampar adalah ilmu ajaib. Pasingsingan yang lain pun mampu berbuat demikian?”

Namun kedua Pasingsingan yang lain itu tidak menjawab. Mereka tegak seperti patung saja di tempatnya. Tetapi tiba-tiba terasa udara yang aneh bertiup di halaman itu. Perlahan-lahan hanyut di sela-sela arus angin basah dari lembah. Pasingsingan yang berdiri dekat Mantingan itu tampak melipat tangan di dadanya. Sejalan dengan arus udara yang aneh itu, terasa sesuatu merayap-rayap di dada Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri. Seakan-akan mereka menemukan kesegaran baru di dalam dirinya.

Perasaan nyeri dan pedih yang ditusukkan oleh aji Gelap Ngampar di dalam tubuh mereka perlahan-lahan menjadi berkurang. Dan angin masih mengalir mengusap tubuh mereka membawakan ketenangan dalam diri. Bagaimanapun juga Mantingan adalah seorang yang memiliki pengalaman yang cukup. Ia adalah seorang dalang yang banyak mempelajari keajaiban dan kekuatan- kekuatan yang tersembunyi di balik alam yang kasatmata. Karena itu tergetarlah hatinya.

Sehingga tak sesadarnya ia berbisik, ”Alangkah dahsyatnya. Pertempuran ilmu dari orang-orang sakti.”

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 630

WIDURI, Wilis dan Wirasaba mendengar bisikan itu. Karena itu mereka menjadi gelisah. Dua raksasa dapat bertempur tanpa luka pada kulit mereka, namun kelinci-kelinci dapat terinjak mati di tengahnya.

”Dahsyat…!” Tiba-tiba terdengar Sura Suranggi berteriak. ”Aku merasa Pasingsingan yang lain mampu melawan Aji Gelap Ngampar. Setidak-tidaknya ia mampu membebaskan dirinya. Bahkan perlawanannya telah berhasil mempengaruhi orang lain seperti aji Gelap Ngampar itu sendiri, merata ke segenap arah. Tetapi kekuatan perlawanan ini bukan ciri Pasingsingan. Pasingsingan-lah yang memiliki aji Gelap Ngampar.”

Pasingsingan menggeram. Tertawanya kini sudah berhenti ketika ia merasa perlawanan yang kuat. Bahkan telah membebaskan orang-orang di sekitarnya. Karena itu ia menjadi semakin marah. Sambil menunjuk ke arah topeng kasar dari orang yang berdiri di samping Mantingan yang melipat tangan di dada itu, ia berkata, ”Setan. Agaknya kau mampu mengimbangi aji Gelap Ngampar. Tetapi itu bukan suatu bukti bahwa kau berhak menamakan dirimu Pasingsingan. Sebab Pasingsingan tidak saja mampu melawan, namun mampu melepaskan. Kalau kau menamakan dirimu Pasingsingan, dapatkah kau melepaskan aji Gelap Ngampar?”

”Hem…” geram orang berjubah yang menyilangkan tangannya. ”Kau masih tidak percaya bahwa aku bernama Pasingsingan.”

”Setiap orang dapat menyebut dirinya Pasingsingan. Mengenakan jubah abu-abu dan topeng kasar. Namun aji Gelap Ngampar tak dimiliki oleh setiap orang,” sahut Pasingsingan hampir berteriak. Orang yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang berdiri di samping Mantingan sambil melipat tangannya itu, mengangkat wajahnya. Terdengar ia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia menoleh kepada Pasingsingan yang seorang lagi.

”Kau juga bernama Pasingsingan? Orang itu bertanya dengan suara yang dalam. ”Akulah Pasingsingan itu,” jawab orang itu.

Pasingsingan menjadi semakin marah. Katanya lantang, ”Aku tidak peduli apakah kau menyebut dirimu Pasingsingan atau Setan Belang. Tetapi selama kau tak mampu menunjukkan ciri-ciri Pasingsingan, maka kau hanya akan ditertawakan orang sebelum kau terbunuh olehku.”

Namun Sura Sarunggi terpaksa berpikir. Orang-orang itu berhasil membebaskan dirinya dari pengaruh Gelap Ngampar, sehingga dengan demikian orang-orang itu bukanlah kelinci-kelinci seperti Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri. Apalagi Wanamerta dan Sendang Parapat yang kini benar-benar seperti orang yang tak tahu keadaan diri.

”Aji Gelap Ngampar adalah aji yang dahsyat,” kata orang yang berjubah abu-abu yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi itu. ”Tetapi aji Gelap Ngampar adalah aji yang kurang sempurna. Aji yang tak akan dapat dipergunakan dalam pertempuran besar, dimana dalam pertempuran itu terdapat kawan dan lawan. Sebab demikian aji itu dilontarkan, maka tidak saja lawan-lawan kita yang terbunuh, namun kawan sendiripun akan menderita karenanya.”

”Jangan mencoba mengajari aku,” bentak Pasingsingan.

”Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, apa yang dapat kau lakukan dengan Gelap Ngampar sekarang ini? Kalau kau akan membunuh aku, misalnya, dapatkah kau pergunakan Gelap Ngampar? Dengan aji itu, kau hanya mampu membunuh orang-orang ini, yang berkerumun ketakutan melihat topeng-topeng kita yang kasar.”

Kembali Pasingsingan menggeram dahsyat sekali. ”Jangan banyak bicara. Aku berkata tentang kebenaran dan kenyataan tentang Pasingsingan.” Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi itu bertawa terkekeh-kekeh dibalik topengnya yang jelek, jawabnya, ”Kau mengigau tentang kebenaran dan kenyataan Pasingsingan? Aku tidak tahu kebenaran dan kenyataan yang kau maksudkan. Bahkan cara berpikir yang demikian itulah yang menyebabkan dunia ini selalu bergoncang. Kebenaran yang terpancar dari kedengkian diri serta kenyataan yang ditabiri oleh pamrih dan nafsu. Kalau setiap orang berpikir demikian, tak ada ukuran tata pergaulan manusia. Kebenaran akan bertentangan dengan kebenaran yang lain, menurut kepentingan diri sendiri.”

”Huh…” potong Pasingsingan, ”Tak ada orang yang berbuat sesuatu tanpa pamrih. Dunia ini terbentang di hadapan kita untuk kita nikmati. Kalau kita tidak berbuat sesuatu adalah salah kita sendiri. Karena itu sudah sewajarnya kalau kita teguk airnya sepuas-puasnya, dan kita makan pala gumantung dan pala kependhem sekenyang-kenyangnya. Nah, aku sekarang sedang menikmati pala keduanya kini. Jangan melintang di jalan yang akan aku lewati. Aku sedang mendaki puncak kebesaran. Apakah kau kira kenikmatan dan kebesaran hanya dapat dimiliki oleh seseorang? Huh. Akupun berhak. Dan agaknya kaupun sedang berusaha.”

”Apa yang sedang kau usahakan?” tanya Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Jangan berpura-pura,” jawab Pasingsingan.

”Hem…” desah orang yang berdiri di sebelah Sura Sarunggi. ”Apakah kau sedang mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?”

”Bukankah kau juga sedang mencarinya?” potong Pasingsingan. ”Apakah yang kalian perdebatkan?” sahut Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. ”Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten? Kalau itu yang kaucari, tak akan kau ketemukan di sini. Kalau itu yang dimaksud dengan kebesaran yang setiap orang berhak menikmatinya, bukankah dengan demikian kau bermaksud merajai Demak?” (Bersambung)-m

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
631

APA PEDULIMU?” bentak Pasingsingan yang berjubah abu-abu, guru Lawa Ijo.

Orang bertopeng di samping Sura Sarunggi itu berkata pula, ”Kalau keris-keris yang kau kehendaki, mengapa kau berbuat hal yang aneh-aneh? Mengapa kau akan membunuh orang-orang ini?”
”Mereka menghalangi maksudku, seperti kau,” jawab Pasingsingan.
”Kalau seseorang berusaha menemukan keris Nagasasra dan Sabuk Inten untuk diserahkan kepada yang berhak, kau berusaha untuk dirimu sendiri. Adakah kita akan berpihak padamu?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan.
”Jangan merintangi aku!” Guru Lawa Ijo hampir berteriak, ”Atau kau akan tergilas roda perjuanganku. Mati tanpa arti?”
”Kebesaran yang akan kau dapatkan itu tak akan berarti bagiku, bagi orang-orang ini dan bagi kawula Demak. Kebesaran itu hanya akan berarti bagimu sendiri, bagi kawan-kawanmu. Nah, urungkan niatmu,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan itu.
”Persetan dengan kalian,” sahut Pasingsingan. ”Kita berhadapan sebagai lawan. Tetapi tunjukkan dahulu bahwa kau berhak bernama Pasingsingan.”

Tiba-tiba terdengar Sura Sarunggi tertawa. ”Kalian berbicara tanpa ujung dan pangkal. Tetapi aku sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa kalian sedang bersaing. Meskipun demikian aku harus mempunyai pilihan. Nah, aku berpihak pada Pasingsingan yang datang bersama aku di sini. Sebab bagiku kedua Pasingsingan yang lain tak akan berarti. Meskipun seandainya mereka mampu melepaskan aji Gelap Ngampar, aji Alas Kobar dan segala macam ciri-ciri Pasingsingan yang lain.”

”Tetapi aku akan memberimu kepuasan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. ”Kau ingin melihat aku melepaskan aji Gelap Ngampar?”
Kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi ia berkata, ”Kau juga ingin melihat kebenaran itu?”
Tak ada jawaban. Pasingsingan guru Lawa Ijo itu berdebar-debar. ”Apakah orang-orang itu benar-benar memiliki Gelap Ngampar seperti dirinya?
Dalam kegelisahannya, ia menebak-nebak, siapakah sebenarnya kedua orang itu. Kalau mereka itu salah seorang dari Mahesa Jenar, Pandan Alas dan lain-lainnya, pasti mereka tak akan mampu melepaskan aji Gelap Ngampar.

Tetapi yang lebih gelisah lagi adalah Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Endang Widuri.
Kecuali mereka, Jaka Soka pun menjadi berdebar-debar. Agaknya benar-benar akan terjadi pertempuran ilmu yang dapat merontokkan isi dada mereka.
Jaka Soka akhirnya mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat itu sebelum ia mati terhimpit dua kekuatan yang tak dapat dihindarinya. Meskipun demikian, ia harus menunggu sampai saat yang tepat baginya.
Pasingsingan di samping Mantingan itu kemudian mengangkat wajahnya. Kemudian ia memandang berkeliling. Kepada setiap orang yang berada di halaman itu. Mulai dari Mantingan dan kawan-kawannya, Wanamerta, Sendang Parapat dan para penjaga yang sudah kehilangan kesadaran mereka. ”Hem…” desahnya, ”Kalau aku melepaskan aji Gelap Ngampar, mereka akan menjadi semakin parah.”
Tiba-tiba terdengar Pasingsingan guru Lawa Ijo itu tertawa. ”Nah, kau mencari alasan untuk mengelak?”

”Tidak… tidak,” sahut Pasingsingan itu. ”Tetapi kalau aku ingin memetik buahnya, jangan digugurkan daun-daunnya tanpa maksud.”

”Omong kosong. Apa padulimu dengan daun-daun yang tak berarti?” jawab guru Lawa Ijo.

Sekali lagi Pasingsingan di samping Mantingan itu memandang berkeliling. Agaknya ia benar-benar menjadi ragu. Tiba-tiba ia menggeram, dan kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi, ia berkata, ”Kalau kau ingin mencoba menjajarkan diri dengan kami, cobalah melawan aji Alas Kobar seperti yang aku lakukan.”

”Tidakkah kau bertanya kepadaku, apakah aku mampu melepaskan aji itu?” kata Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu.

”Akan datang saatnya nanti,” sahut guru Lawa Ijo. Meskipun hatinya menjadi gelisah. Apakah benar kedua-duanya mampu berbuat demikian?

”Menjemukan,” sela Sura Sarunggi.

”Marilah kita bertempur, Pasingsingan,” katanya kepada Pasingsingan guru Lawa Ijo. ”Yang mana kau pilih? Menilik ketahanan mereka, kita harus melawan satu demi satu. Kecuali kalau mereka mau menyingkir.”

Pasingsingan belum sempat menjawab, ketika tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu tertawa. Perlahan-lahan, namun terasa betapa dahsyatnya. Gelombang demi gelombang menggeletar menggetarkan udara halaman Banyubiru itu, seolah-olah geteran yang memancar dari pusar bumi, menyebar ke seluruh penjuru. Terasa disetiap dada goncangan yang tak terkira dahsyatnya. Sehingga runtuhlah daun-daun yang tak mampu berpegangan lebih erat lagi pada dahan-dahannya.

Sura Sarunggi itu tidaklah seperti suara guru Lawa Ijo yang mengerikan. Suara itu adalah suara yang sederhana saja, seperti lazimnya orang tertawa. Lunak dan tidak mengandung kebengisan. Namun yang terasa di dada orang yang mendengarnya adalah goncangan-goncangan yang dahsyat.

Pada saat goncangan-goncangan itu menyerang dada Mantingan, berdesislah ia, ”Aji Gelap Ngampar.”

Dan berusahalah ia menjaga dirinya. Demikian juga Rara Wilis, Wirasaba, Widuri dan Jaka Soka. Sedang orang-orang lain menjadi tak berdaya untuk berbuat sesuatu, mengatasi goncangan-goncangan di dada mereka, sehingga tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka pun mulai jatuh terkulai tak sadarkan diri. (Bersambung)-m

 NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 632

MANTINGAN dan kawan-kawannya, bahkan Jaka Soka pun tak mampu bertahan lebih lama lagi. Tubuh mereka mulai bergetar, dan tulang-tulang mereka seakan-akan terasa lolos dari persendian. Mereka mengeluh dalam hati. Mereka berada di medan pertempuran yang dahsyat, namun mereka tak mampu mengayunkan senjata-senjata mereka untuk turut serta di dalamnya. Mereka hanya dapat bertahan atas serangan yang dahsyat, yang jauh berada di atas kemampuan mereka. Sehingga dengan demikian mereka tidak lebih dari daun-daun kering yang berguguran di halaman itu. Meskipun demikian, terasa perbedaan pada kedua aji Gelap Ngampar yang sama-sama menggoncangkan dada mereka.

Meskipun keduanya dapat membunuhnya, namun tenaga ini tidak sekasar tenaga yang pertama. Namun, ketika dada mereka akan runtuh, dari sela-sela angin basah yang mengalir semakin kencang, menyusuplah di dalam tubuh mereka, getaran-getaran udara yang segar. Perlahan-lahan namun pasti, membebaskan mereka dari kengerian aji Gelap Ngampar itu. Dan sejalan dengan itu, suara tertawa Pasingsingan itupun terhenti pula. ”Hem…” geramnya, ”Kau mampu melawan aji Gelap Ngampar,” katanya kepada Pasingsingan yang berdiri di samping Sura Sarunggi. Orang itu masih tegak di tempatnya sambil menyilangkan kedua tangannya terlipat di dada. Sebelum orang itu menjawab, terdengar Sura Sarunggi tertawa, ”Permainan yang mengasyikkan,” katanya.

”Jangan bermain-main terlalu lama. Aku tahu bahwa kalian memiliki ilmu yang bersamaan. Pasingsingan yang datang kemudian berdua adalah seperti seperguruan. Entahlah hubungan kalian dengan Guru Lawa Ijo itu, sehingga kalian memiliki ilmu Gelap Ngampar. Meskipun terasa beberapa perbedaan, namun kalian bersumber dari mata air yang sama.”

Pasingsingan guru Lawa Ijo itupun berdiri tegak sambil menahan marahnya. Karena itu tubuhnya tiba-tiba bergetar. Dengan suara yang berat ia berkata pula, ”Gila. Kalian memiliki aji gelap Ngampar. Jangan berpura-pura, dan yang satu itu jangan mencoba melepaskan pula. Tetapi itu belum berarti bahwa kau bisa menamakan diri Pasingsingan.”

”Adakah aku harus melepaskan aji Alas Kobar?” tanya Pasingsingan di samping Mantingan. ”Mungkin kau mampu pula, menirukan setelah kau atau gurumu berhasil mencuri ilmu itu. Tetapi yang tak dapat kau curi adalah pusaka Pasingsingan. Apakah kau memiliki pisau yang bernama Kyai Suluh?” tanya Pasingsingan dengan pasti.

Tiba-tiba kembali halaman itu bergetar ketika Pasingsingan Guru Lawa Ijo itu berteriak nyaring. Seperti hantu kelaparan yang kehilangan mangsanya. ”Gila, darimana kau dapatkan benda itu?”

Semua mata tertuju kepada Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. Di tangannya tergenggam sebuah pisau belati panjang yang bercahaya kuning menyilaukan. ”Inikah yang kau maksud?” katanya.

”Hem…” desis Pasingsingan di samping Mantingan. ”Kalian mau bermain-main dengan senjata.” Ia tidak berkata lebih lanjut, namun iapun kemudian mencabut sebuah pisau belati yang mirip benar dengan pisau belati Pasingsingan yang lain itu.

Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi semakin marah. Darahnya serasa mendidih di dalam rongga dadanya. Karena itu tanpa disengaja, tiba-tiba tangannyapun telah menarik pusakanya. Sebuah belati panjang yang berkilau. Kni ketiga orang yang menamakan diri Pasingsingan itu masing-masing telah menggenggam senjata yang serupa. Senjata yang selama ini menjadi ciri Pasingsingan. Pusaka yang ampuh luar biasa.

Namun tiba-tiba Pasingsingan yang selama ini merasa tiada duanya, menjadi heran, marah dan bingung, ketika ada dua orang yang menamakan diri Pasingsingan, serta memiliki beberapa ciri kekhususannya Aji Gelap Ngampar serta pisau belati panjang yang kuning berkilauan. Dengan suara yang bergetar guru Lawa Ijo itu berkata, ”Setan. Kalian dapat membuat senjata yang serupa dengan senjata ini. Tetapi ada lagi satu senjata Pasingsingan yang tak dapat dibuat oleh empu yang bagaimanapun saktinya. Senjata yang diberikan oleh alam kepadaku. Adakah kalian mempunyai akik yang berwarna merah menyala dan bernama Kelabang Sajuta?”

Untuk sesaat halaman itu menjadi hening sepi. Angin lembah semakin lama semakin kencang. Dan awan yang kelabu menjadi bertambah tebal tergantung di langit. Sekali-kali guntur bergelegar di kejauhan, memukul-mukul tebing dan pecah menggema diseluruh relung-relung pegunungan. Sinar-sinar api memancar di udara seperti Ular Gundala raksasa yang meloncat-loncat dilangit.

Menurut ceritera yang menjalar dari mulut ke mulut, di langit pada saat itu sedang terjadi pertempuran antara Ular Gundala Seta, senjata Wisnu yang sedang menyelamatkan bumi dari keangkaramurkaan, melawan Ular Gundala Wereng, senjata Kala yang sedang berusaha menghancurkan bumi karena ketamakannya.

Tetapi pada saat itu, di halaman Banyubiru itu pun sedang berhadapan dua kekuatan raksasa. Pasingsingan guru Lawa Ijo dan Sura Sarunggi di satu pihak, dan dua orang Pasingsingan di pihak lain. Mereka sedang tegak dengan tegangnya dalam pendirian masing-masing. Ketika kedua orang Pasingsingan itu belum juga berkata sepatah katapun, guru Lawa Ijo itu tertawa pendek, katanya, ”Ha apa katamu tentang akik Kelabang Sayuta hadiah alam kepada Pasingsingan?”

Tiba-tiba Pasingsingan di samping Mantingan itu menjawab, ”Kalau kau dapat menunjukkan bahwa kau memiliki akik Kelabang Sayuta, akupun akan membuktikan pula bahwa sebagai Pasingsingan, aku memiliki ciri-ciri yang lengkap seperti katamu.” (Bersambung)-m

 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 633

MENDENGAR jawaban itu, hati Pasingsingan berdesir. Ketika ia meraba jari-jarinya, ia menjadi berdebar-debar. Namun katanya kemudian, ”Akik itu sudah aku berikan kepada muridku Lawa Ijo. Sesaat sebelum ia mati, diberikannya akik itu kepada Endang Widuri.”

”Hem…” desis Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. ”Kau sedang mengarang sebuah ceritera.”

”Bertanyalah kepada Endang Widuri.” Pasingsingan itu menegaskan. Pasingsingan di samping Mantingan itu menoleh kepada Endang Widuri. Kemudian ia berkata, ”Ciri Pasingsingan hanya melekat pada tubuh Pasingsingan. Tak ada ciri-ciri yang lain, apalagi yang dimiliki oleh orang lain. Aku dapat menyebut lebih dari seribu macam pusaka-pusaka ciri yang lain yang tak ada padaku.”

Darah Pasingsingan bertambah bergelora di jantungnya. Sambil berteriak ia memaki-maki, ”Setan, iblis, thethekan. Tetapi akik Kelabang Sayuta itu milikku.”

”Aku tidak bertanya siapakah yang mula-mula memiliki,” bantah Pasingsingan di samping Mantingan. ”Tetapi akik itu sekarang tidak ada padamu, tidak ada padaku, dan tidak ada pada Pasingsingan yang seorang itu lagi.”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi tertawa pendek, katanya, ”Sudahlah Ki Sanak yang menamakan diri Pasingsingan, yang madeg guru di Mentaok. Jangan terlalu banyak persoalkan di antara kita kini.”

”Diam!” bentak Pasingsingan guru Lawa Ijo. ”Aku beri kau waktu sepemakan sirih. Tinggalkan halaman ini. Jangan campuri urusanku.”

”Bukan demikian adat yang pernah kau lakukan,” sahut Pasingsingan di samping Mantingan, ”Kalau kau yakin dapat membunuh kami, kau tak akan melepaskan lagi. Dengan demikian, maka sekarang kau tak yakin akan kemenanganmu. Karena itu, bukankah lebih baik kita berbicara sebagai manusia terhadap manusia. Bukan sebagai hantu-hantu yang berkeliaran dari satu kuburan kelain kuburan, mencari mayat.”

”Hem. Benar-benar suatu penghinaan,” geram Sura Sarunggi. Kepalanya yang besar itu terangkat dan dengan lantang ia melanjutkan, ”Jangan merasa dirimu kadang dewa. Tak ada waktu untuk berbicara sekarang. Pergilah atau kau akan terkubur di sini.”

”Jangan begitu Ki Sanak,” jawab Pasingsingan di samping Sura Sarunggi. ”Penyelesaian dengan pengertian, jauh lebih baik daripada penyelesaian dengan tetesan darah dari tubuh kita. Sebab dengan demikian, kita akan dikejar oleh rasa dendam yang tiada akan habis-habisnya. Dendam yang akan dibalas dengan dendam. Dengan demikian maka sepanjang umur kita, kita tidak akan dapat menikmati ketenangan.”

”Pengecut!” potong Pasingsingan dari Mentaok. ”Aku adalah laki-laki. Di tanganku telah tergenggam pusakaku Kyai Suluh. Karena itu kau tak ada kesempatan lagi untuk kedua kalinya, setelah kau menolak kesempatan yang pertama.”

”Jangan,” jawab Pasingsingan di samping Mantingan, ”Kita masing-masing mempunyai kesempatan yang sama. Jangan mengancam dan menakut-nakuti. Aku ulangi, marilah kita berbicara sebagai manusia dengan manusia. Kita berbicara tanpa takbir di wajah kita. Kita bicara antara hati kita yang dilambari dengan kejujuran pada diri kita masing-masing, betapa hitamnya noda-noda yang melekat pada tubuh kita masing-masing.”

Mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Pasingsingan dari Mentaok itu menggigil. Ia menjadi curiga. Sejak orang yang menamakan diri Pasingsingan itu mampu melepaskan Gelap Ngampar, hatinya telah bergetar. Kini kata-kata itu menambah keyakinannya bahwa ia telah mengenal kedua orang itu. Meskipun demikian, ia masih mencoba untuk menyakinkan, apakah dugaannya itu benar. Maka katanya, ”Apakah alasanmu? Apakah untungnya kita berbicara dari hati ke hati?”

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas, katanya, ”Bagaimanapun kotornya hati kita, namun kita adalah manusia. Kita memiliki hari-hari lampau dan hari-hari mendatang. Kita memiliki hari-hari yang cemerlang, namun kita memiliki juga hari-hari yang suram. Karena itu, janganlah kita tenggelam dalam kegelapan. Putus asa dan bunuh diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang terkutuk terus-menerus.”

Sura Sarunggi kini benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Dengan suara yang geram ia berkata, ”Persetan dengan mimpi yang jahat itu. Jangan mencoba meracuni jiwa kami dengan hiasan kata-kata.” Kemudian kepada Guru Lawa Ijo ia berkata, ”Sudahkah senjatamu itu siap?”

Tetapi dada Pasingsingan menjadi bergetar semakin cepat. Ada perasaan yang lain di dalam dirinya. Sekarang ia hampir pasti dengan siapa ia berhadapan. Namun di hadapan Sura Sarunggi, ia masih mencoba untuk bersembunyi. Ia tidak mau orang lain mengetahui tentang dirinya, apalagi Jaka Soka, Mantingan beserta kawan-kawannya. Meskipun ia berdiam diri, namun hati di dalam dadanya berteriak nyaring, ”Hai Umbaran, yang berdiri di hadapanmu dengan ciri-ciri Pasingsingan adalah Radite dan Anggara.”

Dalam kegelisahan itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah letusan yang dahsyat. Ketika ia memandang kepada Sura Sarunggi, dilihatnya sahabatnya itu telah mengurai ikat pinggangnya, yang kemudian dengan marahnya, ikat pinggang yang mirip dengan sebuah cemeti itu dilecutkannya. Itulah senjata Sura Sarunggi, sebagaimana senjata-senjata yang dipergunakan oleh murid-muridnya, Uling Putih dan Uling Kuning dari Rawa Pening. (Bersambung)-o

 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 634

PASINGSINGAN, Guru Lawa Ijo kini tidak mempunyai pilihan lain. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mereka, apakah yang telah terjadi selama ini. Ia merasa bahwa pada saat-saat terakhir telah diketemukannya berbagai bentuk yang keras dari ajinya, Gelap Ngampar, maupun Alas Kobar. Kemajuan-kemajuan yang dicapainya dalam petualangannya. Lalu apakah yang telah didapatkan oleh kedua saudara seperguruan itu. Meskipun pada masa-masa lampau, Radite dan Anggara tak dapat diatasinya, namun kini Pasingsingan yang bernama Umbaran itu bukanlah Umbaran beberapa tahun yang lampau. Dengan demikian akhirnya ia memutuskan, bahwa ia harus berjuang dengan senjatanya itu.

Kemudian terdengarlah suara meledak untuk mengatasi getaran-getaran di jantungnya, ”Hai orang-orang yang tak tahu diri, yang telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir karena kebaikan hatimu. Angkatlah wajahmu. Pandanglah angkasa yang suram sebagai aba-aba dari isi bumi ini, dan tundukanlah kemudian wajahmu itu sebagai penghormatan terakhir pada ibu pertiwi. Kemudian hadapilah aku sebagai lawanmu, yang akan mengantarkan nyawamu menyeberang ke dunia yang tak dikenal.”

Pasingsingan di samping Mantingan menarik nafas dalam-dalam. Gumamnya, ”Senjata bukanlah alat terakhir untuk menemukan kesempatan.”

”Tak ada yang akan disepakatkan,” sahut Sura Sarunggi, ”Kita berdiri berseberangan. Kita tidak dapat hidup bersama-sama dalam satu naungan langit yang luas ini.”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu agaknya lebih mudah tersinggung daripada Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan. Ternyata ia menjawab lantang, ”Tidak adakah jalan lain? Kalau demikian, kalau kau berpihak pada orang yang menamakan diri Pasingsingan pemarah itu, maka aku akan berdiri di pihak Pasingsingan yang seorang lagi. Sesudah itu, biarlah kami menentukan keadaan kami tanpa campur tanganmu.”

”Tunggu…” Pasingsingan di samping Mantingan mencoba untuk mencegahnya. Tetapi suaranya tenggelam dalam pekik lantang Sura Sarunggi. ”Bagus. Itulah kata-kata jantan. Sudah siapkah kau?”

Pasingsingan di samping Sura Sarunggi itu menjawab tidak kalah lantangnya, ”Aku lebih senang menempuh jalan lain. Tetapi kalau kau hadapkan aku pada satu pilihan yang tak dapat aku elakkan, silahkanlah.”

Sura Sarunggi tertawa seperti orang mabuk. Katanya, ”Meskipun kau kekasih dewa-dewa, meskipun kau berperisai guntur dan petir, tetapi kau belum mampu menjaring angin, maka kau akan kehilangan hidupmu karena tanganku.”

”Aku bukan kekasih dewa-dewa, namun aku menyerahkan diriku pada Yang Maha Kuasa,” jawab Pasingsingan itu. ”Kepada-Nya aku mohon kekuatan untuk melenyapkan keingkaran atas hukum-hukum-Nya.”

Kembali terdengar iblis dari Rawa Pening itu tertawa. Sesaat kemudian bergema kembali suara cemetinya menyusur lereng-lereng bukit. ”Hai, langit yang muram, angin yang kencang. Saksikanlah kutuk yang akan menimpa orang ini.”

Sura Sarunggi menutup kata-katanya dengan derai tertawa yang mengerikan. Kemudian ia pun bersiap untuk segera mulai dengan pertempuran melawan orang berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan itu. Sesaat kemudian ia pun meloncat dengan garangnya.

Cemetinya berputar cepat sekali, melampaui kecepatan baling-baling yang ditiup angin ribut. Namun Pasingsingan itu pun telah bersiap pula. Tangan di balik jubah abu-abunya berkembang seperti hendak terbang. Pisau belati panjangnya berkilauan memantulkan cahaya api yang remang-remang.

Demikianlah, mereka tenggelam dalam satu perkelahian yang dahsyat.

Sura Sarunggi, iblis dari Rawa Pening itu bertempur seperti angin topan. Ia meloncat-loncat dengan dahsyatnya mengelilingi lawannya, dan menyerangnya dari segenap penjuru. Namun Pasingsingan itupun tidak membiarkan dirinya tersekat dalam lingkaran cemeti lawannya. Dengan tangkasnya ia melontarkan dirinya, sekali-kali memotong serangan lawannya. Dan bahkan kadang-kadang ia tegak menghadapi topan seperti bukit Telamaya yang tak tergoyahkan oleh angin dan badai.

Mantingan, Rara Wilis, Wirasaba dan Widuri memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga. Kedahsyatan ilmu mereka telah menggemparkan dada masing-masing. Demikian sengitnya perkelahian itu, sehingga akhirnya yang tampak di mata mereka hanyalah bayang-bayang hitam yang berputar-putar seperti angin pusaran.

Jaka Soka tak luput pula dari perasaan itu. Heran dan berdebar-debar. Meskipun demikian ia masih ingat akan keselamatan diri. Sehingga dengan diam-diam ia mencari kemungkinan, ke mana ia harus melarikan diri. Sebab apabila Pasingsingan yang sepasang itu terlibat pula dalam pertempuran, serta apabila kemudian Mantingan dan kawan-kawannya telah berhasil menguasai diri mereka, bersama-sama menyerangnya, maka sulitlah baginya untuk bertahan. Padahal ia masih ingin menikmati kebesaran sebagai pimpinan bajak laut yang disegani

 

DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 635

JAKA SOKA tidak peduli lagi apa yang akan terjadi dengan golongan hitam yang lain. Dengan laskar Mentaok, Rawa Pening, Gunung Tidar dan lain-lainnya di Pamingit. Karena itu selama ia masih mendapat kemungkinan, ia harus menyingkir dari halaman itu.

Sementara itu Pasingsingan Guru Lawa Ijo telah mempersiapkan dirinya pula. Ia melihat betapa sahabatnya telah terlibat dalam suatu pertempuran yang menentukan. Karena itu ia menggeram dengan marahnya, ”Lihatlah betapa orang yang berani menyebut dirinya Pasingsingan itu akan hancur lumat oleh cemeti Sura Sarunggi.”

Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih berdiam diri, meskipun ia mengikuti pertempuran itu dengan seksama. Namun tak ada tanda-tanda padanya, bahwa ia pun akan segera mulai bertempur.

Tetapi justru karena itulah maka guru Lawa Ijo itu menjadi semakin gelisah. Untuk merapati kegelisahannya, ia berkata, ”Hai orang yang sombong, yang berani mengaku bernama Pasingsingan, bersiaplah menghadapi saat-saat terakhirmu.”

”Jangan berkata demikian,” jawabnya perlahan-lahan, ”Apakah kau juga sekasar Sura Sarunggi itu?”

”Jangan mencoba melunakkan hatiku,” sahut guru Lawa Ijo. ”Aku tahu bahwa hatimu tak selunak yang aku harapkan,” kata Pasingsingan di samping Mantingan. ”Tetapi jangan terlalu lama mengelabuhi dirimu. Aku yakin bahwa kau telah mengenal aku.”

Dada guru Lawa Ijo berdesir keras. Tetapi ia takut melihat kepada dirinya sendiri. Ia menjadi takut, bahwa akhirnya ia benar-benar menyadari keadaannya. Karena itu ia berteriak, ”Jangan mencoba meringankan kesalahanmu. Bersiaplah aku akan mulai.”

”Umbaran…” tiba-tiba terdengar suara yang lunak, selunak suara seorang kakak terhadap adiknya. Mendengar nama itu, darah guru Lawa Ijo serasa berhenti mengalir. Telah bertahun-tahun ia tidak mendengarnya orang memanggil nama yang diberikan oleh ayah bundanya. Ia lebih senang dan bangga apabila orang menyebutnya dengan ketakutan, ”Pasingsingan.” Karena itu tiba-tiba ia menjadi bingung.

Dalam kebingungan itulah ia berteriak, ”Jangan mengigau. Umbaran telah mati. Aku, Pasingsingan, yang telah membunuhnya.”

”Ya, Umbaran telah tak ada lagi,” jawab orang berjubah itu, ”Yang ada kemudian adalah Pasingsingan. Tetapi, baginya masih ada jalan kembali.”

”Diam!” bentak guru Lawa Ijo. Darahnya yang beku itu tiba-tiba mendidih kembali. Radite dan Anggara yang lenyap dari percaturan orang-orang sakti itu tak akan mampu menambah ilmunya. Karena itu, ia pasti akan dapat mengatasinya. Tetapi ia menjadi gelisah kembali ketika orang yang dibentak-bentaknya itu masih tetap tenang dan berkata, ”Jangan marah Umbaran. Aku datang kepadamu dengan maksud baik. Kau masih mempunyai kesempatan kembali ke perguruan kita. Guru kita yang bergelar Pasingsingan dengan cita-cita yang putih.”

”Diam!” Pasingsingan berteriak semakin keras. ”Sayang, bahwa kau tak dapat mengikuti jejaknya. Kau tak mampu menangkap ajaran- ajarannya, sehingga kau salah duga terhadapnya. Kau menganggap bahwa guru kita telah kehilangan kegairahannya terhadap hidup dan kehidupan. Karena itu kau memilih jalanmu sendiri.”

”Omong kosong,” bantah guru Lawa Ijo, ”Apakah kau selama ini juga mentaati ajaran-ajarannya? Apakah kau selama ini bersih dari noda-noda yang dilemparkan oleh kehidupan disekitar kita kepadamu?”

”Tidak, Umbaran,” jawab orang itu. ”Aku merasa, betapa kotornya hati dan ragaku. Namun aku telah berusaha untuk mengurangi kesalahanku, setidak-tidaknya mengurangi kesalahan-kesalahan baru yang akan menambah beban kehidupan sukmaku.”

”Aku bukan orang yang puas dengan keadaanku sekarang. Tetapi aku berhak menuntut masa depanku sebaik-baiknya,” kata guru Lawa Ijo. ”Aku bangga terhadap mereka yang berjuang buat masa depannya. Namun mereka jangan mengorbankan masa depan orang lain sebagai pupuk bagi masa depannya itu.” Meskipun kata-kata itu diucapkan perlahan-lahan, namun cukup jelas bagi guru Lawa Ijo. Kata demi kata, yang seolah-olah menyusup ke tulang sungsumnya. Tetapi hatinya yang selama ini telah dibalut oleh nafsu yang bergelora berlebih- lebihan, kini benar-benar telah menjadi sekeras batu, meskipun dengan sekuat tenaga ia berusaha membendungnya. Bahkan akhirnya ia berkata lantang,

”Jangan menggurui aku. Guruilah dirimu sendiri. Bukankah kau menjelang kebahagiaan masa depanmu dengan mengorbankan orang lain pula? Manakah perempuan yang aku hadiahkan kepadamu itu? Bukankah ia mati karena ketamakanmu?”

”Umbaran!” potong orang berjubah yang berdiri disamping Mantingan. ”Aku minta jangan kau sebut-sebut itu lagi.”

”Ha, kau menjadi ketakutan? Kau lihat noda-noda yang melekat di tubuhku, namun tak kau lihat kotoran-kotoran yang bergumpal-gumpal di wajahmu? Di pelupuk matamu? Mana perempuan itu? Mana…?”

”Jangan kau sebut itu, Umbaran,” kata orang itu. ”Biar, biar aku ulang seribu kali,” sahut guru Lawa Ijo. ”Perempuan itu kau tukar dengan ciri-ciri kekhususan Pasingsingan kita. Dan kau berjanji tidak akan mengganggu gugat lagi. Sekarang perempuan itu mati. Mati. Mati….”

”Cukup!” potong orang itu keras-keras. Namun kemudian ia menundukkan wajahnya. Tangan kirinya perlahan-lahan diangkatnya mengusap dadanya yang bergelora. (Bersambung)-m

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja 636

PASINGSINGAN guru Lawa Ijo itu tertawa panjang sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia tertawa dan tertawa untuk memuaskan hatinya. Sambil menunjuk kepada Sura Sarunggi dan lawannya ia berkata, ”Lihat, apa yang bisa dilakukan oleh Anggara, penjagamu itu. Lihatlah, sebentar lagi ia akan binasa.”

Orang yang berdiri di samping Mantingan itu tidak menjawab. Tetapi ia mengangkat wajahnya, dan memandang kepada adik seperguruannya yang sedang bertempur.

Mereka berputar-putar dengan lincahnya, lontar-melontar seperti sepasang garuda yang sedang berlaga. Tangan mereka berkembang seperti sayap dengan senjata masing-masing.

Cemeti Sura Sarunggi meledak-ledak mengerikan, sedangkan sinar kuning pisau belati lawannya menyambar-nyambar seperti petir di langit yang kelam. Ujung cemeti Sura Sarunggi itu seolah-olah memiliki penglihatan, ke mana ia harus mematuk. Namun ujung belati lawannya seperti mempunyai mata, yang dapat melihat setiap serangan dari arah manapun juga.

Maka pertempuran itu menjadi semakin dahsyat dan dahsyat. Sura Sarunggi bertempur dengan kasar dan bengis, sedang Anggara melayaninya dengan tangkas dan tangguh.
Ketika mereka sudah berkelahi beberapa saat, Sura Sarunggi menjadi semakin heran. Lawannya dapat bertempur dengan gigihnya. Bahkan beberapa macam geraknya telah dikenalnya. Mirip dengan Pasingsingan sahabatnya itu. Karena itu timbullah beberapa pertanyaan di dalam dirinya, apakah orang ini benar-benar Pasingsingan…?

”Tidak mungkin!” Pertanyaan itu dibantahnya sendiri.

Anggara pada saat itu memang sengaja bertempur dengan ciri-ciri perguruan Pasingsingan. Ia sengaja menunjukkan, bahwa dirinyapun memiliki ilmu seperti ilmu-ilmu ajaib dari orang yang bernama Pasingsingan itu. Bahkan beberapa gerak diulangnya supaya menjadi jelas bagi lawannya.

Guru Lawa Ijo masih tertawa keras-keras. Dan Pasingsingan yang berdiri di samping Mantingan masih memandangi Sura Sarunggi dan Anggara.

”Jangan membeku seperti batu,” tegur Umbaran, ”Sekarang apa katamu?”

Orang yang bernama Radite itu perlahan-lahan menoleh ke arah Umbaran, jawabnya,

”Marilah kita lupakan masa lampau. Marilah kita bina bersama masa depan perguruan kita.”
”Masa depanku jauh berbeda dengan masa depanmu. Jangan mengigau lagi. Pergi dan

bawa adikmu itu, atau kau berdua binasa.” Umbaran meneruskan, ”Jangan mimpi aku berlutut di bawah kakimu dan menyerahkan perempuan untuk kedua kalinya.”

”Jangan bicara tentang perempuan!” Radite membentak. Kesabarannya telah menjadi semakin tipis. Hatinya yang luka karena perempuan, kini terungkap kembali.

”Aku bicara tentang perempuan, supaya kau teringat kembali akan perjanjian kita. Kita tidak akan saling mengganggu,” sahut Umbaran.

”Aku tidak akan mengganggu gugat pusaka-pusaka yang telah kau miliki, ciri-ciri khusus Pasingsingan yang kau pakai, sedang kau tak akan mengganggu gugat perempuan itu,” jawab Radite. ”Tetapi aku berhak mengganggu gugat segala perbuatanmu yang terkutuk.”

”Kau iri hati,” kata Umbaran.

”Tidak,” jawab Radite, ”Aku mempunyai kepentingan sendiri. Aku tidak mau menanggung beban dosamu lebih banyak lagi karena kesalahanku, menyerahkan kesaktian Pasingsingan kepadamu. Sebab dengan demikian kau telah menarik diri dari persahabatanku dengan Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Angganten dan lain-lain. Bahkan kau telah menempatkan dirimu sebagai lawan. Nah, aku akan menghentikan semuanya itu.”

”Ha, itulah akibat nafsu gilamu kepada perempuan?” jawab Umbaran. Sengaja ia ingin memanaskan hati Radite. Mempengaruhinya dengan kelemahan-kelemahannya.

Tetapi dengan demikian Radite menjadi marah. Peristiwa itu adalah peristiwa yang paling pedih dalam hidupnya, karena itu setiap kali ia dihadapkan pada kenangan itu, setiap kali ia kehilangan kesabaran.

”Umbaran…” kata Radite dengan lantang, ”Kesabaran seseorang ada batasnya. Jangan menunggu demikian.”

Umbaran menjadi berdebar-debar. Apakah Radite benar-benar akan marah dan menyerangnya? Tetapi tak ada pilihan lain. Sura Sarunggi telah bertempur dengan gigihnya.

Keduanya berdiri tegak dengan tenangnya. Radite masih berusaha menguasai perasaannya, sedang Umbaran menjadi berdebar-debar menghadapi kemungkinan yang berat.

Ia tidak segarang biasanya, yang langsung menikam lambung lawannya. Kali ini ia benar-benar memperhitungkan keadaan. Karena keragu-raguannya itulah ia masih berdiri tegak.

Ketika keduanya sedang berusaha menekan perasaan masing-masing, tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi kentongan, yang dipukul bergelombang-gelombang. Rog-rog asem.

”Setan,” desis Pasingsingan, ”Mereka datang.”

Radite mengangkat wajahnya. Lamat-lamat terdengar kentongan itu menjalar. Ia tidak tahu tanda apakah itu. Karena itu, ia harus memperhitungkan setiap kemungkinan.
Namun karena itulah maka Pasingsingan guru Lawa Ijo menjadi bertambah bingung. Akhirnya ia kehilangan kejernihan dan kelicinan otaknya. Ia tahu benar, bahwa tanda itu mengabarkan kedatangan orang Banyubiru atau Pamingit. Mahesa Jenar atau Sora Dipayana dan kawan-kawannya. Akhirnya ia menjadi mata gelap. Sebab menyingkirpun tak ada kesempatan.

Karena itu, tanpa diduga-duga, ia meloncat dengan garangnya sambil berteriak nyaring. Pedangnya berkilauan menyambar leher Radite.

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
637

RADITE terkejut mengalami serangan yang tiba-tiba itu. Sebenarnya ia masih mengharap agar mereka tidak perlu mempergunakan kekerasan, apalagi dengan tetesan darah. Tetapi Umbaran telah menyerangnya. Dengan demikian ia tak dapat berbuat lain daripada melawannya. Maka sesaat kemudian kedua Pasingsingan itupun telah bertempur pula. Masing-masing memegang pisau belati panjang di tangannya.

Umbaran dan Radie adalah dua orang yang memiliki ilmu yang bersumber dari guru yang sama. Karena itu merekapun bertempur dengan ilmu yang sama pula. Tetapi ilmu mereka masing-masing telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan pengaruh keadaan dan waktu.

Ilmu Pasingsingan Umbaran telah berubah menjadi semakin kasar, keras dan kejam. Sedang ilmu Radite masih tetap dalam tataran yang bersih. Meksipun demikian tidak berarti bahwa Umbaran telah melampaui Radite dalam ketahanan tempurnya.

Dalam beberapa saat mereka telah lenyap dari bentuk mereka. Yang tampak hanyalah pusaran yang kelam dari jubah mereka yang abu-abu, di sela oleh cahaya kuning yang menyambar-nyambar mengerikan.

Umbaran yang mata gelap, bertempur dengan darah yang bergelora. Hatinya benar-benar telah dikuasai oleh nafsu yang ganas. Dan dari hidungnya seolah-olah terhirup udara maut. Dengan berteriak-teriak nyaring ia meloncat-loncat, menyerang dengan sengitnya. Pisaunya berputar-putar mengarah ke segenap bagian-bagian tubuh Radite.
Dalam kesibukan pertempuran antara hidup dan mati itu, terdengar Umbaran berteriak, ”Kalau kau masih belum mampu melenyapkan diri dari tangkapan mataku, jangan mengharap keluar dari halaman ini dengan ragamu.”
Radite diam saja. Namun ia bertempur terus. Sebenarnya dalam lekuk-lekuk hatinya yang terdalam, masih juga bermunculan perasaan sesal dan ngeri atas apa yang pernah terjadi pada dirinya. Tukar-menukar kehormatan. Tetapi ia sadar pula, bahwa apabila ia tidak cawe-cawe, maka Pasingsingan yang bernama Umbaran itu akan banyak menimbulkan bencana.

Kalau benar-benar ia berhasil memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka keadaan akan sangat berbahaya. Ia dapat menghadap Sultan Demak dengan laskar segelar sepapan, dan memaksanya untuk menyerahkan kekuasaan, setelah ia menyatakan diri sebagai pemilik pusaka-pusaka sipat kandel itu.

Dengan landasan kekuatan golongan hitam dan daerah-daerah yang didudukinya, beserta kesesatan pandangan beberapa orang kawula Demak atas kepercayaan mereka, bahwa siapa yang memiliki Nagasasra Sabuk Inten akan mampu merajai Nusantara, maka Umbaran akan mendapatkan pengikut-pengikutnya.

Atau orang yang berotak licin itu dapat menempuh jalan lain. Ia dapat menggerakkan laskar hitam untuk menimbulkan bencana. Sebagai Pasingsingan, ia dapat menggulung daerah demi daerah. Namun kemudian sebagai Umbaran yang berwajah manis, ia menghadap Sultan dengan menyerahkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dengan demikian ia akan mendapatkan banyak kepercayaan dari Sultan. Akhirnya ia dapat melawan kekuasaan Demak dari luar dan dari dalam. Sementara itu ia harus mencuri keris-keris itu kembali.

Demikianlah mereka bertempur semakin lama semakin sengit. Masing-masing bertekad untuk memenangkan pertempuran. Meskipun Umbaran bertempur dengan kasar dan bengis, namun Radite bukan anak-anak yang baru dapat berdiri. Radite memiliki kematangan ilmu melampaui Umbaran, meskipun pada dasarnya Umbaran berguru lebih dahulu kepada Pasingsingan Sepuh.

Tetapi karena Umbaran kurang dapat menepati ajaran-ajaran gurunya, maka akhirnya ia terpaksa menghentikan usahanya mengisap ilmu yang luar biasa itu. Dan kini, dua orang murid dari perguruan yang sama itu berhadapan dan bertempur mati-matian.
Selain mereka yang bertempur, tak seorangpun yang menggerakkan tubuhnya oleh ketegangan yang semakin memuncak. Perhatian mereka seolah-olah terikat erat-erat pada pertempuran itu.

Kesempatan yang demikian itulah yang ditunggu Jaka Soka. Kalau ia terlambat mempergunakan waktu, sehingga Mantingan dan kawan-kawannya berhasil menguasai diri mereka, maka akan celakalah nasibnya. Dengan diam-diam dan sangat hati-hati ia berkisar, setapak demi setapak. Ia telah menemukan arah yang baik untuk menyembunyikan diri dan kemudian meninggalkan tanah perdikan yang seolah-olah menjadi panas, sepanas bara api baginya. Maka, dengan tidak menarik perhatian, akhirnya Jaka Soka berhasil menyelinap ke dalam gelap dan kemudian menghilang dari halaman itu.

Bagi Jaka Soka, lebih baik hidup di antara anak buahnya dan perempuan-perempuan yang dikumpulkan selama ini, daripada mati di Banyubiru. Ia tidak peduli apa yang dikatakan orang atasnya. Apakah orang akan mengatakannya pengecut, apakah penakut, ia tidak keberatan. Sebab pada dasarnya, meskipun golongan hitam itu nampaknya bekerja bersama-sama, namun mereka sama sekali tak memiliki kesetiakawanan yang jujur. Apabila mereka terbentur pada kepentingan diri, maka kepentingan bersama dapat dianggapnya tidak berlaku.

Sementara itu, Arya Salaka memacu kudanya seperti angin topan. Meskipun demikian, tarasa betapa lambatnya perjalanan itu. Kuda yang dinaikinya betapa malasnya, sehingga berkali-kali ia terpaksa mencambuknya.

Ketika dari kejauhan tampak api yang menyala, terdengar giginya gemertak. Tangannya yang memegang tombak pusaka Banyubiru terasa gemetar. Ia menjadi marah sekali. Ia menyesal, bahwa ia terlambat.

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No. 638

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara berpacu di belakangnya. Kedua orang itu pun tak kalah gelisahnya. Juga kedua orang itu menyesal kenapa Sawung Sariti tidak segera mengabarkan kepada mereka, bahwa ada serombongan orang-orang dari golongan hitam yang pergi ke Banyubiru. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara memacu kuda mereka dengan darah yang bergolak. Suara kaki-kaki kuda mereka berderap memecah sepi malam di atas tanah-tanah berbatu padas. Orang-orang yang menutup pintu serapat-rapatnya di tepi-tepi jalan, menjadi semakin gelisah mendengar derap kuda itu.

Mereka memeluk anak-anak mereka semakin erat di dada mereka sambil berdoa, semoga Yang Maha Kuasa melindungi mereka dari bencana. Arya Salaka melihat dua tiga orang menyelinap ke halaman ketika kudanya menghambur terbang, tetapi ia tidak memperdulikannya. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tak begitu tertarik kepada orang-orang itu. Tetapi ketika kemudian terdengar bunyi kentongan, mereka menyesal. Agaknya orang-orang itu adalah para pengawas, yang harus mengamat-amati kedatangan orang-orang Banyubiru. Namun mereka tak dapat memutar kuda mereka kembali. Dengan demikian waktu mereka akan semakin habis. Ketika Arya Salaka akan membelok ke arah api yang menyala-nyala, terdengar Mahesa Jenar berteriak, ”Terus ke rumahmu, Arya.”

Arya menarik kekang kudanya sekuat-kuatnya, sehingga kuda itu meringkik dan berdiri tegak di atas kedua kaki belakangnya. ”Api,” jawab Arya. Pada saat itu kuda Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berlari disampingnya, tidak ke arah api itu. Dan terdengarlah suara Mahesa Jenar tanpa menghentikan kudanya, “Itu adalah suatu cara untuk memancing kita. Aku telah mengenal akal itu”.

Kembali Arya Salaka menggeretakkan giginya. Dengan cepatnya ia mencambuk kudanya dan berlari mengikuti gurunya. Mereka langsung pergi ke rumah kepala daerah perdikan yang sedang diguncang oleh peristiwa-peristiwa yang menyedihkan. Ketika mereka semakin lama menjadi semakin dekat, maka dada merekapun semakin berdebar-debar pula. Meskipun demikian, Arya masih belum sadar benar akan keadaannya, sehingga dengan berteriak ia bertanya, “Bagaimana dengan api itu paman?”.

Mahesa Jenar menoleh. Dilihatnya Arya telah menyusul dekat dibelakangnya, “Jangan perdulikan”, jawabnya “mereka hanya ingin menarik perhatian kita. Tempat yang menyala itu adalah tempat-tempat yang tak berarti. Mudah-mudahan laskarmu telah berusaha untuk menyelesaikannya. Bukankah api itu telah surut?”. “Ya”, sahut Arya. Ia mengerti sekarang, bahwa bahaya yang sebenarnya tidak terletak di daerah api itu. Demikianlah mereka bertiga memacu kuda-kuda mereka semakin cepat dan cepat. Mereka berpacu bersama angin basah yang bertiup menghanyutkan awan yang kelabu. Kilat memancar-mancar di udara seperti sedang bersabung, diantar oleh bunyi guruh yang menggelegar memukul tebing-tebing perbukitan. Arya Salaka menjadi tidak sabar lagi. Ketika ia melihat sepasang beringin di alun-alun, hatinya seperti meronta-ronta. Tetapi dimuka regol rumahnya tak dilihatnya apapun yang mencurigakan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, adalah orang-orang yang telah memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dari Arya Salaka. Karena itu mereka menghentikan kuda-kuda mereka dimuka halaman. Mereka harus memasuki halaman itu dalam kesiagaan penuh. Namun Arya Salaka tidak sempat berpikir demikian. Ia langsung melampaui Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara di atas kudanya yang masih berlari seperti di kejar hantu.

“Arya!”, teriak Mahesa Jenar.

Tetapi Mahesa Jenar tak mampu menghentikannya. Seperti anak panah Arya langsung menyerbu masuk ke halaman. Di halaman itu masih bertempur dengan sengitnya, Sura Sarunggi melawan Anggara, dan Umbaran melawan Radite. Mereka bertempur dalam tingkat tertinggi dari ilmu-ilmu mereka. Yang paling gelisah dari mereka adalah Umbaran. Ia sadar sesadar-sadarnya, apabila datang orang-orang Banyubiru, maka akan berakhirlah kisah petualangannya. Karena itu, dalam kegelisahannya ia sempat memperhitungkan keadaan. Ia harus bertindak cepat dan menguntungkan. Karena itu ia memutuskan untuk membunuh salah seorang lawannya atau orang-orang Banyubiru yang datang untuk mengurangi lawannya. Sesudah itu, kalau perlu ia akan melarikan diri saja, meskipun kemungkinannyapun tipis pula. Tetapi kalau ia berhasil membunuh salah seorang dari mereka, ia akan dapat mempengaruhi keadaan, meskipun hanya sekejap. Dan kelebihan waktu yang sekejap itu harus dipergunakan sebaik-baiknya.

Demikianlah ketika ia mendengar derap kuda langsung memasuki halaman, ia melontar mundur beberapa langkah, kemudian dengan tak terduga Umbaran berteriak keras-keras, dan pisau belati panjangnya meluncur seperti tatit ke dada Arya Salaka. Arya terkejut melihat sinar kuning menyilaukan terbang kearahnya. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk mengelak. Kudanya sendiri berlari cepat menyongsong sinar yang berkilat-kilat itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terkejut bukan kepalang. Maut yang menyambar itu demikian cepatnya sehingga mereka tak mampu berbuat apa-apa, selain berteriak keras, “Arya, bungkukkan badanmu”.

 

Bersambung ke episode selanjutnya……seri. 5

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: