NAGASASRA DAN SABUK INTEN SERI. 8

CERITA LEGENDA RAKYAT DALAM  SERIAL 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Seri ke.  8
Karya SH Mintardja.
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

No.796

SESAAT kemudian Karebet menggeser kakinya. Dari sisinya melontarlah seorang yang akan lebih tua dari Sembada. Namun tampaklah betapa orang itu jauh lebih tenang dan meyakinkan. Orang itulah Kiai Sambirata.
Dengan lemahnya Kiai Sambirata menganggukan kepalanya. Dengan sareh ia berkata, “Apakah Angger yang bernama Karebet?”

Karebet mengangguk. Namun terasa bahwa ia harus lebih waspada karenanya.

Meskipun ia tidak bergerak dari tempatnya, namun ia benar-benar tidak mau menjadi lembu bantaian.

Karena itu segera dengan diam-diam diterapkannya Ajinya yang dahsyat, Lembu Sekilan.

Sambirata melihat wajah Karebet yang tegang. Tetapi ia tidak segera menyadari, bahwa dengan sikap yang sederhana itu, Karebet telah matek Ajinya Lembu Sekilan. Karena itu, masih saja Kiai Sambirata yang terlalu percaya kepada dirinya itu berkata, “Benarkah aku berhadapan dengan Angger Jaka Tingkir?”

Karebet mengangguk, “Ya. Akulah Karebet, yang juga disebut orang, Jaka Tingkir.”
Kiai Sambirata mengangguk-anggukkan kepalanya. “Akulah yang bernama Sambirata.”

Karebet memandang orang itu dengan seksama. Di Demak, nama itu memang pernah didengarnya. Tetapi ia tidak pernah menaruh perhatian. Kini tiba-tiba orang itu datang kepadanya dengan maksud yang tidak sewajarnya.

Dengan demikian, maka Karebet itu benar-benar harus berhati-hati. Ia tahu benar benar bahwa Sembada adalah kakak seperguruan Prabasemi dan Sambirata adalah orang yang kurang disenangi oleh masyarakat Demak karena pekerjaannya. Ternyata kini mereka berdua bergabung untuk melenyapkannya. Meskipun demikian sebenarnya Karebet sama sekali tidak gentar. “Kalau perlu, aku terpaksa membunuh untuk mempertahankan hidupku,” katanya.

Yang berbicara kemudian adalah Sambirata. “Angger. Baiklah aku berterus terang. Kami berdua dengan beberapa murid-muridku datang untuk membunuh Angger. Kalau Angger ingin mencoba, lawanlah kami. Kami tidak mampunyai banyak waktu.”

Sekali lagi Karebet terkejut. Ternyata mereka tidak hanya berdua. Tetapi justru karena itu timbullah marahnya. Wajahnya yang riang menjadi kemerah-merahan karena nyala api kemarahan yang membakar dadanya.

Dengan lantang anak dari Tingkir itu menjawab, “Paman dan Kakang Sembada. Kita adalah manusia yang mempunyai sifat mempertahankan hidup yang dikaruniakan kepada kita. Aku harus mencoba mempertahankan hidup itu sekuat-kuat tenagaku. Kalau Yang Maha Esa berkenan, maka jangan menyesal kalau kalian berdualah yang akan mendahului aku.”
“Jangan membual. Meskipun kau kekasih Jim, Setan, Peri, Prayangan, namun kalau tidak mampu menangkap angin, jangan mencoba menengadahkan kepalamu,” bentak Sembada dengan kasarnya.
“Langit dan bumi menjadi saksi. Kalau terjadi pertumpahan darah di sini, bukan akulah yang bersalah,” sahut Karebet.
Sembada sudah tidak dapat menahan diri lagi. Timang emas bertretes berlian benar-benar menarik hati, apalagi anak muda itu benar-benar telah membakar telinganya. Karena itu, cepat-cepat ia meloncat dan memukul dada Karebet sekuat-kuatnya.
Karebet melihat gerak Sembada itu, namun ia sama sekali tidak menghindarinya. Namun wajahnya menjadi tegang dalam penerapan ajian yang setinggi-tingginya, daya pertahanan dalam Aji Lembu Sekilan.
Tenaga Sembada adalah tenaga yang luar biasa kuatnya. Namun ia masih mempergunakan kekuatan jasmaniah melulu. Karena itu, ketika tangannya membentur dada Karebet alangkah terkejutnya. Karebet itu masih saja tegak seperti tonggak. Sedang kedua kakinya yang kokoh kuat seakan-akan berakar jauh menghujam ke pusat bumi. Bahkan terasa, seakan-akan tangan Sembada itu menghantam sesuatu yang tak dapat dilihatnya. Tetapi tangannya itu seakan-akan sama sekali tidak menyentuh dada Karebet.

Ketika ia menyadari serangannya itu gagal, maka segera ia meloncat surut. Dengan marahnya ia menggeram, sambil menunjuk wajah Karebet itu dengan ujung jarinya. “Setan, gendruwo. He Karebet. Apa kau sangka Aji Lembu Sekilan itu tak akan berlawan?”
Karebet tidak menjawab. Namun sekilas ia melihat Sambirata bergeser.

Orang itu menghentakkan kedua tangannya dan dengan satu gerakan yang cepat, tangan itu ditariknya ke samping.
“Hem,” geram Karebet. “Aji apalagi yang akan kau pamerkan?”

 


797

SAMBIRATA benar-benar tersinggung. Ia memang memiliki kekuatan yang melampaui kekuatan orang-orang kebanyakan. Dengan pemusatan pikiran dan kehendak, maka Sambirata dapat menyalurkan kekuatan itu. Namun ia sama sekali tak peduli, apakah nama dari kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Dan Sambirata memang tidak berpikir tentang nama itu meskipun dahulu gurunya menyebutnya, Aji Wilet, namun yang dimilikinya telah banyak mengalami perubahan, sehingga ia tidak menyebutnya demikian. Tetapi betapa pun juga, ia mampu menerapkan ilmunya yang dahsyat itu. Ketika ia menyadari, bahwa lawannya sejak permulaan itu telah mempergunakan Aji Lembu Sekilan, maka Sambirata pun segera mempergunakan ilmunya itu. Dengan serta merta, Sambirata meloncat pula dan langsung memukul wajah Karebet.

Karebet melihat serangan itu, dan ia pun menyadari, bahwa Sambirata tidak sekadar menyerangnya dengan tenaganya, namun pasti sudah dilambari dengan suatu ilmu yang berbahaya. Karena itu, Karebet pun segera menarik diri satu langkah ke samping, sehingga serangan Sambirata dapat dihindari. Namun Sambirata benar-benar lincah. Sekali lagi ia melenting seperti sikat, dan Karebet tidak sempat untuk menghindari, ketika kaki Sambirata itu langsung menghantam lambungnya. Terjadilah suatu benturan yang tajam, antara kekuatan ilmu Sambirata melawan Lembu Sekilan. Akibatnya pun dahsyat pula. Dan sekali ia berguling. Sedang Sambirata pun terdorong oleh kekuatannya sendiri yang seakan-akan membentur dinding baja. Terasa pula dadanya menjadi pedih. Karena itu segera ia memusatkan segenap kekuatan lahir dan batinnya untuk melawan tekanan yang seakan-akan menghentak-hentak di dalam dadanya itu.

Karebet yang baru saja berhasil menguasai dirinya, setelah Aji Lembu Sekilan berhasil ditembus, meskipun tidak terlalu berbahaya oleh Sambirata, terkejut sekali melihat serangan Sembada. Sekilas ia masih sempat melihat Sembada itu menjulurkan kedua tangannya ke belakang, sedang kedua tangannya kemudian mengepal ke lambungnya. “Seperti yang dilakukan Prabasemi,” geramnya. Namun serangan itu telah tiba, sedemikian cepatnya, sehingga kali inipun Karebet tidak dapat menghindar. Karena itu, maka sekali lagi Aji Lembu Sekilan yang baru saja digoncangkan oleh Sambirata itu kembali berguncang.

Aji Sembada menembus Aji Lembu Sekilan yang belum mapan kembali. Sekali lagi Karebet berguncang dan terbanting di tanah. Kali ini ia harus berguling beberapa kali untuk mendapatkan jarak dari lawan-lawannya. Namun sekali lagi Karebet terkejut. Tiba-tiba saja ia melihat beberapa orang bersama-sama muncul dari dalam belukar di sekitarnya. Mereka berebutan menyerangnya dengan pedang pendek, seperti ingin mencincangnya. Namun Karebet adalah seorang yang aneh, yang memiliki ketangkasan dan keperkasaan yang mengagumkan. Ketika ia melihat serangan itu datang, maka secepatnya ia melanting berdiri, dan dengan sekali loncat, ia telah berhasil menjauhkan dirinya dari orang-orang itu.

Tetapi kemudian datanglah serangan Sambirata memotong gerakannya. Karebet menggeram. Betapa ia menjadi marah bukan main. Kini ia tidak boleh ragu-ragu lagi. Kalau ia terpaksa membunuh, maka sekali lagi ia meyakinkan dirinya, bukan salahnya. Dengan demikian, maka kembali Karebet menerapkan Aji Lembu Sekilan dalam puncak kemampuannya. Ia sadar bahwa Sambirata masih akan berhasil menembus ajiannya itu. Namun pasti tidak akan berbahaya. Juga Sembada tidak akan membahayakan jiwanya. Tetapi senjata-senjata tajam itu pun perlu mendapat perhatiannya. Dengan kekuatan yang baik, maka senjata tajam itu pun akan mampu menembus benteng pertahanannya, meskipun tidak akan dapat membunuhnya dengan sekali tusuk. Namun kalau luka itu menjadi bertambah-tambah dan darahnya mengalir terlalu banyak, maka keadaan itu pun pasti akan menimbulkan bahaya.

Kini Karebet pun sudah siap dengan puncak keterampilannya. Seperti sikatan berloncatan di rerumputan hijau. Karebet menghindari setiap serangan lawannya, dan bahkan beberapa orang telah terpelanting dan terbanting jatuh. Namun sentuhan-sentuhan Karebet yang harus mempertahankan diri dari setiap serangan itu, maka tekanan-tekanan lawan-lawannya masih saja terasa menjadi semakin berat. Meskipun demikian Karebet sama sekali tidak gentar. Ia melihat, bahwa hanya dua orang di antara mereka yang harus mendapat perhatiannya yang khusus. Sambirata dan Sembada dari Kedung Wuni.

Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin lama semakin seru. Beberapa orang murid Sambirata itu sama sekali tak berdaya menghadapi kelincahan Karebet.

 


798

MEREKA menjadi benar-benar tidak dapat mengerti, bahwa setiap kali mereka menusukkan pedang-pedang mereka, maka seakan-akan mereka sama sekali tak menyentuh tubuh lawannya, meskipun lawannya tidak berusaha untuk menghindar.

Hanya dalam kesempatan-kesempatan yang sangat baik, selagi mereka sempat mengerahkan segenap kekuatannya, maka pedangnya dapat menggores kulit Karebet. Dan beberapa tetes darah mengalir dari luka itu.

Namun setiap tetes darah yang tumpah, seakan-akan merupakan tetesan minyak yang menyirami api kemarahan di dalam dada anak muda dari Tingkir itu. Betapa kemudian ia tidak lagi mengendalikan dirinya.

Dengan kecepatannya bergerak, maka ia pun segera berhasil menjatuhkan beberapa lawannya.

Murid-murid Sambirata itu, jatuh bangun tak henti-hentinya. Sekali-kali mereka merasa bahwa lawannya yang hanya seorang itu akan segera binasa. Namun lain kali, seakan-akan terasa gunung runtuh menimpa dadanya. Seperti beribu-ribu kunang terbang di sekitar rongga mata mereka. Dalam kesesakan nafas itu, mereka sekali-kali mendengar kawan-kawannya yang mengaduh, dan jatuh menimpanya.

Apabila seorang di antara mereka mampu merangkak bangun, maka seorang yang lain terbanting jatuh.

Sehingga mereka seakan-akan sama sekali tak berarti. Tetapi mereka sedang bertempur di hadapan guru mereka. Betapa pun pungggung mereka serasa telah patah, tetapi dengan kekuatan-kekuatan mereka yang terakhir, mereka masih juga mencoba bangun. Berdiri dan bergeser setapak demi setapak di sekitar perkelahian itu, untuk sesaat kemudian dada mereka serasa meledak karena sentuhan-sentuhan tangan atau kaki Karebet.

Dalam saat-saat berikutnya, meskipun tampaknya beberapa orang masih juga berdiri mengitari tempat perkelahian itu, namun sebenarnya tidak lebih dari Sembada dan Sambirata berdualah yang berkelahi mati-matian.

Dengan kekuatan ajian masing-masing, mereka mencoba untuk membunuh anak yang aneh itu. Dalam pada itu, Karebet pun merasakan tekanan-tekanan yang berat dari kedua orang itu. Mereka masing-masing ternyata tidak lebih dari Tumenggung Prabasemi. Namun karena kekuatan mereka bergabung, maka Karebet benar-benar menghadapi pekerjaan yang sangat berat.

Aji Lembu Sekilannya terasa sesekali terguncang. Dan sekali-kali terasa bahwa dalam kesempatan-kesempatan itu, kekuatan-kekuatan ajian lawannya berganti-ganti dapat menembusnya meskipun tidak terlalu dalam. Namun apabila hal itu berlangsung lama, maka ada kemungkinan pertahanannya menjadi semakin lemah. Meskipun orang-orang lain, kecuali kedua orang itu hampir tak berarti bagi Karebet, namun mereka telah memecahkan beberapa pemusatan perhatiannya.

Sehingga sesaat kemudian dengan penuh kemarahan, maka orang-orang itu satu demi satu dilumpuhkannya.

Dan kini yang terakhir adalah Sembada dan Sambirata.

Keduanya tampaknya masih cukup segar utuk melawannya. Meskipun kedua orang itu pun sebenarnya menjadi gelisah pula menghadapi Aji Lembu Sekilan.

Kini Karebet benar-benar dapat memusatkan segenap perhatiannya. Sekali-kali ia berpaling kepada orang-orang yang bergelimpangan disana-sini. Ada di antara mereka yang masih mencoba bangkit, namun ternyata tenaga mereka seakan-akan telah terhisap habis, sehingga kembali mereka tak berdaya jatuh di tanah.

Sambirata yang melihat muridnya tak berdaya itu mengumpat tak habis-habisnya, katanya, “Tikus-tikus malang. Ternyata kalian sama sekali tak dapat dibanggakan sebagai seorang murid Sambirata.”

Murid-murid itu pun mengeluh di dalam hati. Tetapi mereka bergumam pula didalam hati. “Jangankan aku, sedang guru sendiri pun tidak juga segera dapat menguasai lawan yang hanya seorang itu.”

Karebet kemudian sama sekali tak memperhatikan lagi mereka yang telah terkapar di tanah.

Yang dihadapinya kini adalah Sembada dan Sambirata. Kedua orang ini benar-benar berhasrat akan membunuhnya.

Sesaat kemudian pertempuran pun berkobar pula dengan sengitnya. Sembada dan Sambirata berjuang dengan sepenuh tenaga. Meskipun mereka bukan datang dari perguruan yang sama, namun mereka segera dapat menyesuaikan diri mereka. Berganti-ganti mereka menyerang dengan kedahsyatan ajian masing-masing. Seperti sepasang burung alap-alap yang menyambar-nyambar mangsanya.

Tetapi Karebet benar-benar memiliki kelincahan yang tak mereka sangka-sangka, disamping perisainya yang luar biasa Aji Lembu Sekilan. Betapa dahsyatnya serangan-serangan Sembada dan Sambirata, namun Mas Karebet itu masih saja mampu mempertahankan dirinya.

Meskipun demikian, sekali-kali pertahanannya terguncang pula oleh kekuatan-kekuatan Aji lawannya. Sehingga sekali-kali Mas Karebet mampu pula didorongnya jatuh. Namun demikian ia jatuh segera ia melanting berdiri, siap melawan dengan lambaran ilmunya, Lembu Sekilan.

 

 


799

TETAPI betapapun Karebet berjuang dalam keadaannya itu, namun ternyata bahwa lawannya bukan seorang Prabasemi. Tetapi kini lawannnya yang berjumlah dua orang itu, ternyata berhasil menggabungkan kekuatan mereka dengan baiknya.

Sehingga sekali-kali mereka berdua berhasil bersama-sama menghantamkan kekuatan ajinya atas tubuh Mas Karebet yang masih muda itu. Dengan demikian, maka Mas Karebet itu semakin lama menjadi semakin terdesak karenanya.

Dan tekanan ini telah membakar jantungnya. Kemarahan semakin lama menjadi kian memuncak, seakan-akan telah mendidihkan seluruh darahnya. Ia tidak mau mati karena pokal Prabasemi. Meskipun pusat kemarahannya berkisar kepada Tumenggung Prabasemi, dan meskipun disadarinya bahwa kedua orang yang datang bersama murid-muridnya itu tidak lebih dari orang-orang suruhan yang ingin mendapatkan upah karena perbuatannya itu, namun apabila tak dimilikinya cara lain, maka cara satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya adalah membunuh lawan-lawannya.

Karena itu, Karebet yang marah itu, masih mencoba untuk mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukannya. Kalau ia terpaksa membunuh, dan perbuatannya itu didengar oleh Sultan, maka apakah Sultan tidak menjadi semakin murka kepadanya.

Karena itu, maka untuk terakhir kalinya Karebet itu mencoba mencegah bencana yang semakin berlarut-larut. Katanya, “Kakang Sembada. Aku minta kakang berpikir sekali lagi, apakah yang kakang lakukan itu sudah kakang anggap benar?”

Sembada masih menyerang Karebet dengan dahsyatnya. Meskipun demikian ia sempat juga menjawab, “Jangan banyak bicara. Aku bukan anak-anak.”

Dengan tangkasnya Karebet menghindari serangan yang ganas itu. Namun tiba-tiba Sambirata memotong geraknya sambil berputar setengah lingkaran. Tangan Sambirata yang terjulur itu tidak mengenai sasarannya, tetapi cepat ia meloncat sekali lagi. Ajinya yang dahsyat terayun tepat mengarah tengkuk Karebet.

Karebet masih berusaha untuk menghindar, namun kesempatannya terlalu sempit. Yang dapat dilakukan adalah meloncat surut selagi ia masih berjongkok. Gerakan-gerakan khusus yang sulit dilakukan oleh orang lain.

Karena itu Sambirata terkejut bukan buatan. Sekali lagi serangannya tak mengenai lawannya. Tetapi dalam pada itu Sembada telah siap dengan serangannya pula.

Demikian Karebet menyentuh tanah, Sembada meloncat dengan cepatnya melontarkan Aji Sapu Anginnya kearah punggung lawannya.

Kali ini kesempatan Karebet benar-benar sangat sempit. Karena itu ia hanya dapat berputar dan dengan puncak kekuatan Aji Lembu Sekilan yang dimiliki ia melawan pukulan Aji Sapu Angin. Ternyata dengan gerakan yang pendek itu, pukulan Sembada tidak tepat mengenai sasarannya.

Tangannya itu hanya mampu menyentuh pundak Karebet. Sedang pundak Karebet telah dilindungi pula oleh Lembu Sekilan, sehingga pukulan yang melesat itu sama sekali tak mampu menerobos perisai Karebet yang dahsyat itu.

Sembada menggeram. Namun kali ini serangan Karebetlah yang menyambar perutnya. Dengan berputar pada satu kakinya, Karebet membuat serangan dengan kakinya menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Sedangan yang tidak disangka-sangka. Karena itu, maka Sembada dengan tergesa-gesa meloncat surut. Namun Karebet tidak membiarkannya, sekali ia meloncat maju, dan sekali lagi kakinya menjulur lurus kedada lawannya. Serangan itu sedemikian cepatnya, sehingga Sembada tak mampu lagi untuk mengelak. Karena itu, maka dengan sepenuh tenaga, dilawannya serangan Karebet itu dengan Aji Sapu Angin, sehingga terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji Lembu Sekilan yang melindungi serangan Karebet, melawan Aji Sapu Angin.

Sembada itu pun tergetar surut beberapa langkah, namun Karebet pun terlontar pula mundur. Aji Lembu Sekilan dalam patrap penyerangan memang tidak sekuat dalam patrap pertahanan. Karena itu terasa pula, nyeri-nyeri menjalari tubuh anak muda dari Tingkir itu. Apalagi sesaat kemudian Sambirata telah melontarkan serangannya pula, sehingga Karebet yang belum memiliki keseimbangan yang mantap itu terpaksa menjatuhkan diri dan berguling beberapa kali menghindari kekuatan Aji Sambirata.

Keadaan Karebet semakin lama benar-benar menjadi semakin sulit.

Aji Lembu Sekilannya beberapa kali telah berhasil digoncangkan oleh kekuatan Aji kedua lawannya bersama-sama. Meskipun demikian ia masih berteriak. “Kakang Sembada dan paman Sambirata. Aku kini memperingatkan kalian untuk yang terakhir kalinya. Pergilah dan katakan kepada Prabasemi bahwa Karebet telah mati. Aku tidak akan datang ke Demak sebelum Sultan mengampunkan kesalahanku. Dalam waktu yang tidak tertentu itu, mudah-mudahan Prabasemi telah melupakan dendamnya kepadaku.”

 


800

Yang terdengar kemudian adalah suara Sembada dan Sambirata tertawa hampir berbarengan. Tetapi tawa Sembada ternyata jauh lebih keras. “Hai anak yang bernasib jelek. Sesaat sebelum kau mati, kau masih punya waktu untuk menyombongkan dirimu.”

Dan terdengar Sambirata berkata pula, “Angger ternyata menyadari kesulitan yang angger alami. Menyerahlah supaya angger tidak menjadi lelah. Perjalanan ke akhirat masih panjang, dengan demikian angger masih menyimpan sisa tenaga untuk perjalanan itu.”

Karebet menjadi marah bukan alang kepalang. Matanya kini memancar hijau kebiru-biruan sebagaimana sinar mata harimau dikegelapan. Dengan parau terdengar suaranya gemetar karena marah, “kalau begitu terserahlah. Aku tidak mau mati. Bagiku lebih baik membunuh daripada dibunuh.”

Sekali lagi Sembada dan Sambirata tertawa. Tetapi tiba-tiba suaranya terputus karena melihat Karebet meloncat mundur. Dengan pancaran mata yang aneh, biru kehijauan Karebet memandang kedua lawannya berganti-ganti. Kemudian dengan wajah tegang anak muda itu menggosokkan kedua telapak tangannya, meloncat dengan garangnya dan tegak diatas kedua kakinya yang renggang. Sesaat kemudian ditekuknya kedua lututnya, siap melontarkan serangan yang dahsyat, aji Rog-rog Asem.

Sebenarnyalah Karebet pada saat itu telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Karena goncangan pada Aji Lembu Sekilan, maka hatinyapun serasa diguncang-guncang. Karena itu, maka pada saat terakhir ia tidak mampu menahan kemarahannya. Sehingga bulatlah tekadnya untuk membunuh saja kedua lawannya dengan aji Rog-rog Asem.

Sembada dan Sambirata yang melihat sikap Karebet segera menyadari keadaan mereka. Selagi Karebet belum menggunakan Aji lain daripada Lembu Sekilan, mereka telah menemui banyak kesulitan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Apalagi kalau anak muda itu kemudian mempergunakan kekuatan terakhirnya. Karena itu tanpa saling berjanji mereka menyiapkan kekuatan Aji untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Tidak oleh Karebet, maupun Sembada dan Sambirata. Ketika mereka telah hampir sampai pada puncak pengerahan Aji masing-masing, maka demikian derasnya, namun benar-benar langsung mempengaruhi isi dada mereka.

Belum lagi mereka menyadari keadaan mereka masing-masing, tiba-tiba dari balik gerumbulan yang lebat sebuah bayangan meloncat dekat diantara mereka dan dengan sengaja seakan-akan melerai pertempuran.

Yang menjadi sangat terkejut diantara mereka adalah Karebet. Sesaat ia terpaku ditempatnya. Namun kemudian bahkan ia memperkuat getaran yang bergerak didalam tubuhnya. Kembali ia memusatkan segenap kekuatan lahir batin untuk mengetrapkan aji Rog-rog Asem.

Bahkan kemudian terdengar ia menggeram pandangan matanya erat melekat pada orang yang baru datang itu.

Orang itu masih berdiri diam. Tertawanya menjadi lirih. Dan sesaat kemudian terdengar terdengar ia berkata, “Sudahlah Karebet. Lepaskan dulu pemusatan tenaga itu.”

Tetapi Karebet masih tetap dalam sikapnya. Setiap saat ia dapat meloncat sambil melepaskan Aji Rog-Rog Asem. Ia tidak mau menjadi korban dari persoalan yang berbelit-belit itu. Karena itu kembali ia menggeram dan berkata.

“Pasingsingan, apakah kau menjadi sraya Tumenggung?”

Orang yang datang itu terkejut. Namun kembali ia tertawa lirih, sambil memandangi jubahnya ia berkata, “Yah aku memang mirip dengan Pasingsingan. Aku juga memppunyai ciri yang serupa.”

Mendengar jawaban itu Karebet menjadi bimbang sesaat. Namun ia tidak mau terpengaruh karenanya. Dengan demikian ia masih tetap dalam sikapnya.

Sedang dua orang yang lain, terkejut pula mendengar Karebet menyebut orang itu Pasingsingan. Nama itu juga pernah mereka dengar, namun seperti sebuah dongengan yang tak mereka pahami. Tetapi yang mereka dengarpun mengatakan bahwa Pasingsingan memang mengenakan jubah berwarna abu-abu dan menggunakan topeng. Kini orang yang berdiri dihadapan mereka mengenakan jubah serta topeng untuk menutupi wajahnya.

Sesaat kemudian kembali terdengar orang itu berkata, “Karebet, jangan segera berprasangka. Aku datang untuk melerai perkelahian yang tak ada gunanya ini.”

Karebet memandang orang ini dengan seksama. Dengan penuh kewaspadaan ia bertanya, “Apa sebabnya kau melerai perkelahian ini?”

Kembali orang itu tertawa, kemudian kepada Sembada ia berkata, “Ki Sanak lepaskan maksudmu untuk membunuh anak muda ini. Sebab dengan demikian, kalian telah melakukan kesalahan yang sangat besar.

Sesaat Sembada dan sambirata saling berpandangan. Namun kemudian terdengar Sembada berkata, “Siapakah kau sebenarnya?”

“Namaku dan diriku sama sekali tidak penting bagimu. Namun kau minta, pikirkan sekali lagi. Apakah keuntunganmu dengan membunuh Karebet?”

Kembali Sembada dan Sambirata terdiam. Namun seperti Karebet merekapun memandang orang yang tegak dihadapan mereka, dengan jubah abu-abu dengan tidak berkedip. Sesaat kemudian, terdengar orang itu berkata “Sekarang pulanglah kalian kerumah masing-masing. Karebet ke Tingkir, dan kalian berdua serta kawan-kawan kalian kembali ke Demak.”

Sembada mengerutkan keningnya. Sekilas terbayang sebuah timang emas bertretes berlian. Kalau ia pulang sebelum berhasil membunuh Karebet, maka timang itu akan lepas dari tangannya. Dan yang dilakukannya bersusah payah ini, tak akan ada artinya sama sekali. Berlari menerobos hutan dan ladang untuk segera dapat mendahului perjalanan Karebet.

Tiba-tiba ketika mereka sudah hampir pada saat yang menentukan seseorang minta kepada mereka untuk pulang saja dengan tangan hampa. Tetapi betapapun juga kehadiran orang itu benar-benar mempengaruhi perasaannya.

Meskipun demikian Sembada berkata pula, “Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini sesaat sebelum pekerjaanku selesai kau datang mengganggu kami.”

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No.801

Meskipun demikian Sembada itu berkata pula, “Aku telah menempuh suatu perjalanan yang jauh. Telah kulakukan pula berbagai usaha untuk menyelesaikan pekerjaanku. Kini, sesaat sebelum pekerjaanku itu selesai, kau datang mengganggu kami.”

“Jangan marah Ki Sanak” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya mencegah, janganlah terjadi permusuhan diantara sesama.”

Sambirata mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia pun berkata “Apakah hubungamu dengan Karebet itu?”

Orang itu menggeleng, “Tidak ada” katanya.

Oleh jawaban itu, maka Sambirata berkata pula, “Katamu demikian, biarlah kami menyelesaikan urusan kami masing-masing. Sebaiknya kau jangan mencampuri urusan orang lain yang tak kau ketahui ujung pangkalnya.”

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian terdengarlah suaranya parau dari belakang topengnya. “Kenapa kalian berdua berusaha membunuh Karebet?”

Sambirata diam sejenak, kemudian jawabnya, “Itu adalah urusan kami.”

Kembali orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian gumamnya, “Aku yakin bahwa kalian mempunyai cukup alasan untuk melakukannya. Kalau tidak, maka perbuatan itu pasti tidak akan kalian lakukan. Tetapi apakah alasan itu dapat dimengerti oleh orang lain, itulah yang kadang-kadang menjadi persoalan.”

“Hem” Sembada yang keras hati itu menggeram. Katanya, “Kalau kau sudah tahu alasan kami, apakah kau tidak akan menggangu kami?”

“Tergantung pada alasan itu” sahut orang berjubah itu. “Kalau aku cukup mengerti, maka aku tidak akan mengganggu kalian.”

“Jangan terlalu sombong” bentak Sembada yang kasar itu. “Apakah dengan demikian kami akan terpengaruh karenanya? Apakah apabila kau mencoba mengganggu sekalipun, maka kami tidak akan menyelesaikan pekerjaan kami?”

 

 


802

ORANG berjubah itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ki Sanak benar. Meskipun aku mencoba mengganggu sekalipun, namun aku tidak akan dapat berbuat banyak. Tetapi bukankah setidak-tidaknya dengan demikian aku akan memperlambat pekerjaan kalian.”

“Bagus. Bagus” teriak Sembada yang tidak sabar. “Kami adalah keluarga Dadungawuk. Anak muda yang terbunuh oleh Karebet itu?”

“He?” Bukan main terkejut hati Karebet. Ia sama sekali tidak mengenal nama Dadungawuk. Dan ia sama sekali tidak melakukan pembunuhan. Karena itu maka segera ia memotong. “Bohong. Aku tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Dadungawuk.”

“Aku sudah menyangka bahwa kau akan ingkar” sahut Sembada. “Watakmu yang licik dan sifat-sifatmu yang sombong itu adalah gabungan dari ujud seorang pengecut yang sebenarnya.”

“Jangan membual” teriak Karebet yang menjadi semakin marah. “Katakan yang sebenarnya. Bukankah kau seraya Tumenggung Prabasemi?”

Sambirata tertawa. Katanya, “Sudah aku katakan. Tak ada gunanya untuk mempersoalkan, apakah sebabnya kami akan membunuh anak muda yang malang itu. Mau tidak mau, salah atau benar. Keputusan kami, akan kami lakukan.”

Kata-kata itu benar-benar membakar hati Karebet. Dengan serta merta ia berteriak. “Minggirlah. Kalau kau bukan Pasingsingan, aku tidak tahu, bagaimana aku akan menyebutmu. Tetapi jangan mengganggu perkelahian ini. Aku pun sudah memutuskan pula untuk mengakhiri perkelahian yang memuakkan ini.”

Kata-kata itu benar-benar berkesan dihati Sembada dan Sambirata. Mau tidak mau mereka pun harus berpikir tentang kata-kata itu. Meskipun demikian, mereka telah terlanjur terlibat dalam persoalan itu. Dengan demikian maka mereka tidak akan dapat berhenti ditengah jalan, meskipun lawan mereka benar-benar mempunyai kekuatan yang tak mereka sangka-sangka.

Tetapi orang berjubah itu masih berdiri saja ditempatnya. Bahkan ia masih berkata, “Jangan berusaha saling membunuh. Apakah tidak ada cara-cara lain yang lebih baik daripada saling membunuh?”

“Tidak ada” sahut Sembada. “Kecuali kalau Karebet mau membunuh dirinya.”

Ucapan itu seolah-olah sebuah bara api yang menyentuh telinga mas Karebet. Karena itu, hampir saja ia meloncat, menyerang Sembada, namun tiba-tiba dengan penuh perbawa orang berjubah itu berkata “Karebet, jangan lakukan. Seharusnya kau mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang masak sebelum kau berbuat sesuatu.”

Karebet tertegun mendengar peringatan itu. Namun kemarahannya yang telah membakar seluruh isi dadanya itu, alangkah sukarnya untuk dikendalikan. Tetapi dalam pada itu orang berjubah itu berkata seterusnya. “Karebet, kau sekarang adalah orang buangan. Aku mendengar hal itu sebelum kau bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi. Karena itu keadaanmu sama sekali tidak menguntungkan setiap perbuatanmu. Kalau sampai terjadi kau membunuh seseorang, dan berita itu terdengar oleh Sultan, maka hukumanmu akan menjadi berlipat ganda, sebab Sultan akan menjadi semakin murka kepadamu. Pada saat kau bertempur melawan Prabasemi pun, hampir-hampir aku mencegahmu. Namun ketika aku tahu bahwa kau sadari keadaanmu, maka niatku itu pun aku urungkan.”

Karebet terkejut mendengar kata-kata itu. Kalau demikian, maka orang berjubah itu telah mengikutinya sejak ia meninggalkan Demak. Orang itu ternyata melihat, bahwa ia telah bertengkar dengan Tumenggung Prabasemi, sehingga daripadanya ia mengetahui bahwa kini ia adalah orang buangan.

Namun dalam pada itu, peringatan yang diberikan kepadanya benar-benar telah menyentuh hatinya. Peringatan yang sebenarnya sejak semula telah dipikirkannya. Tetapi ketika kemarahannya telah memuncak, serta hidupnya sendiri telah terancam, maka pertimbangan-pertimbangan itu lenyap dari kepalanya.

Dan kini, ia mendengarkan dari orang lain. Orang lain yang tidak dikenalnya. Tetapi peringatan yang diucapkan oleh orang berjubah itu telah menyalakan kemarahan Sembada dan Sambirata. Orang berjubah itu seakan-akan mengatakan, bahwa Karebet itu pasti akan berhasil membunuh mereka berdua. Meskipun mereka datang hanya sekedar untuk mendapatkan timang emas, dan meskipun harga nyawanya jauh lebih mahal dari harga timang emas itu, namun mereka tidak mau pula bahwa harga diri terlalu direndahkan.

Karena itu, maka terdengar Sembada menjawab. “He, orang bertopeng. Pergilah. Jangan ribut tentang nyawa kami. Apakah kau sangka bahwa Karebet itu dapat membunuh kami berdua? Kalau kau sudah melihat sejak permulaan dari perkelahian ini, maka kau akan tahu, bahwa umur Karebet sudah melekat diujung rambutnya. Namun sesaat sebelum ia mati, maka kau datang mengganggu kami.”

 


803

“OMONG KOSONG,” potong Karebet yang hatinya telah menjadi panas kembali.

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Karebet ia berkata, “Ingat-ingatlah pesanku. Jangan terpancing kedalam keadaan yang akan menyulitkan kedudukanmu. Kau sekarang masih dapat mengharapkan ampunan dari Baginda, namun kalau kau telah melakukan kesalahan lagi, maka ampunan itu jangan kau harapkan sama sekali. Sebab pembunuhan ini akan dapat disebut dalam berbagai macam keadaan. Prabasemi dapat mengatakan apa saja yang dapat menambah kemarahan Baginda. Diantaranya, orang yang terbunuh itu adalah keluarga Dadungawuk seperti yang baru saja dikatakannya.”

“Aku tidak mengenal Dadungawuk” potong Karebet.

“Itu adalah suatu contoh yang baik dari bentuk-bentuk fitnah yang dapat dilakukan oleh Tumenggung Prabasemi.”

Karebet itu pun terdiam, namun segera ia teringat kata-kata Prabasemi dihadapan Baginda Sultan Trenggana, tentang seorang calon Wira Tamtama. Tetapi Sembadalah yang berteriak, “He orang bertopeng. Apakah sebenarnya maksudmu, dan siapakah sebenarnya kau ini?”

Orang bertopeng itu menggeleng. Katanya, “Sudah aku katakan bahwa tak ada gunanya kau mengerti siapa aku.”

“Bagus” sahut Sembada. “Tetapi jangan ganggu kami.”

Orang bertopeng itu seakan-akan tidak memperhatikan kata-kata itu, bahkan kepada Karebet ia berkata, “Karebet, pikirkan baik-baik.”

“Tetapi apakah aku harus berdiam diri saja, seandainya mereka akan membunuhku.”

“Pergilah” jawab orang bertopeng itu.

“Pergi?” Karebet itu menjadi heran. Kemudian jawabnya, “Apakah kalau aku pergi orang-orang itu tidak akan menyusulku?”

“Biarlah mereka. Menyingkirlah supaya kau terhindar dari bencana yang lebih besar lagi.”

Karebet menjadi bingung. Ia telah mengenal orang itu. Semula ia menyangka bahwa orang bertopeng itu Pasingsingan. Bahkan ia menyangka bahwa Pasingsingan itu pun telah mendapat tugas pula dari Tumenggung Prabasemi. Namun ternyata orang itu memberinya beberapa petunjuk yang dapat dimengertinya. Namun bagaimana ia harus melaksanakannya? Apakah ia harus pergi dan membiarkan orang itu mengejar dan membunuhnya? Atau bagaimana?

Dalam pada itu Sambirata berkata, “Hem. Ki Sanak yang bertopeng. Agaknya kau telah terlalu jauh mencampuri urusan kami. Karebet kau suruh menyingkir dari arena ini. Kalau demikian, maka kau telah bertekad untuk menggantikannya. Begitu?”

Orang bertopeng itu berhenti sesaat. Kemudian jawabnya. “Aku tidak mempunyai cara lain. Aku hanya sekedar bermaksud menyelamatkan kalian dari perbuatan terkutuk. Karebet dan kalian berdua.”

“Jangan banyak bicara” teriak Sembada. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa orang itu bukan Pasingsingan yang menakutkan yang pernah didengarnya dari dongeng-dongeng.

“Sekarang kau pergi dan membiarkan kami membunuh Karebet. Atau kami harus membunuhmu dulu, baru membunuh Karebet.”

Orang bertopeng itu seakan-akan sama sekali tidak mendengar teriakan itu. Katanya, “Menyingkirlah Karebet. Kalau mungkin, pertumpahan darah harus dihindari.”

Sembada itu kini sudah tidak sabar lagi. dengan marahnya ia menggeram. Selangkah maju sambil berkata, “Kalau kau mati disini pula, jangan menyalahkan aku. Kau terlalu tamak dan sombong.”

Melihat Sembada melangkah maju, Karebet hampir melangkah maju pula. Namun terdengar orang itu berkata, “Ingat, Sultan sedang murka kepadamu. Jangan kau tambah kesalahanmu dengan perbuatan-perbuatan yang tak berarti. Serahkan orang-orang ini kepadaku.”

Kata-kata itu benar-benar berpengaruh dihati Karebet. Terasa sesuatu bergolak di dalam dadanya. Dan terasa bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan itu.

Tetapi Sembada dan Sambirata telah benar-benar sampai kepuncak kemarahan mereka. Karena itu, maka Sembada berteriak, “Bagus. Ternyata aku harus membunuhmu dahulu. Baru anak yang bernama Karebet itu.”

Orang berjubah itu tidak sampai menjawab. Ketika ia hampir mengucapkan beberapa patah kata, maka Sembada yang kasar itu telah menyerangnya langsung dalam kekuatan Ajinya Sapu Angin.

Orang bertopeng itupun melihat betapa kekuatan ajinya itu meluncur lewat tangan-tangan Sembara kearahnya. Namun ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Karebet yang melihat serangan itu terkejut. Tetapi ia berdiri berseberangan dengan Sembada, sehingga ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berteriak, “Hei, Ki Sanak. Menghindarlah.” (Bersambung)-m

 


804

Tetapi orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak.

Dibiarkannya Sembada menghantamnya dengan Aji Sapu Angin. Namun sesaat sebelum tangan sembada menyentuh jubahnya, tampak orang itu menjadi tegang. Dan pada saat itulah Aji Sapu Angin membentur tubuhnya.

Namun yang terjadi benar-benar mengejutkan. Orang yang berjubah itu masih tegak ditempatnya. Ia hanya bergetar sedikit. Namun kemudian ia berdiri tegak kembali, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Tetapi Sembada yang menghantam orang itu dengan kekuatannya, tiba-tiba terpelanting beberapa langkah dan jatuh terguling karena benturan kekuatannya sendiri. Tangannya yang melontarkan Aji Sapu Angin itu terasa membentur benteng baja. Karena itulah maka ia sendirilah yang terlempar mundur.

Sambirata heran melihat peristiwa itu. Tidak saja Sambirata, namun Karebetpun berdiri dengan mulut ternganga. Seakan-akan ia melihat suatu peristiwa dahsyat didalam mimpi. Aji Sapu Angin mampu menggetarkan Aji Lembu Sekilan, meskipun tidak sampai keintinya. Kini ia melihat orang berjubah itu sama sekali tidak bergerak, namun Sembada sendirilah yang terdorong surut, bahkan jatuh bergulingan beberapa kali.

Tetapi lebih dari itu. Ketika Sembada tidak terguling lagi, maka terdengar ia mengeluh pendek. Dengan susah payah ia berusaha bangkit. Namun tiba-tiba ia terduduk kembali dengan lemahnya. Nafasnya serasa sesak, dan seakan-akan bagian dalam dadanya pecah berkeping-keping.

Sambirata menjadi ragu sesaat. Ia melihat kawannya telah jatuh karena pukulannya sendiri. Karena itu apakah ia akan mengulangi kesalahan Sembada. Kini Sambirata memperhitungkan setiap kemungkinan. Seandainya ia mampu mengalahkan orang berjubah dan bertopeng itu, namun dibelakangnya masih berdiri anak yang bernama Karebet. Anak yang belum dapat dikalahkannya meskipun ia berdua dengan Sembada. Apalagi kini Sembada sudah tidak mampu untuk berdiri.

Sesaat Sambirata tegak saja seperti tonggak. Pikirannya berjalan hilir mudik tak menentu. Ketika sekali lagi ia memandang kawannya yang terduduk lemah itu, maka iapun mengeluh didalam hatinya. “Apakah yang datang ini sebangsa demit atau Hantu Alasan?.”

Sambirata kemudian terperanjat ketika ia mendengar suara orang bertopeng menggeram dari balik topengnya, “hem, apakah kau juga akan coba memukul aku?”

Kembali Sambirata menjadi bimbang. Namun kahirnya ia menggeleng. Kini telah ditemukannya jawaban. Ia tidak memperdulikan lagi kawannya yang terluka itu. Juga timang emas yang dijanjikan. Nyawanya lebih berharga dari segala-galanya. Bahkan sampai pada harga dirinya sekalipun. Karena itu, maka tanpa malu-malu Sambirata menjawab, “Tidak Kiai. Aku tidak akan melawan kehendak Kiai.”

Karebet mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban itu. Bahkan ia mengumpat-umpat didalam hatinya. Alangkah liciknya hati orang itu. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak berkata apapun.

Yang menjawab adalah orang bertopeng, “apakah kau benar-benar tidak akan berbuat sesuatu?”

“Tentu Kiai,” sambut Sambirata. “Akupun tidak mempunyai persoalan dengan angger Karebet. Tetapi terbawa oleh kesetiakawanan aku terpaksa membantu orang itu.”

Sambirata berdesah mendengar kata Sambirata. Tetapi ia tidak berani berbuat apapun. Kalau ia membantah, maka Sambirata akan dapat berbuat apa saja atasnya. Selagi keadaan wajar, ia tidak akan mampu melawan Sambirata, apalagi kini, tulang-tulangnya seakan remuk.

Orang bertopeng itu memandangi Sambirata dan Sembada berganti-ganti lewat lubang topengnya. Sesaat kemudian ia menarik nafas panjang. Dan kemudian ia berkata, “Kembalilah kalian ke Demak. Katakan bahwa Karebet telah mati. Ia tidak akan kembali ke Demak dalam waktu yang singkat, sebelum Baginda mengampuni kesalahannya.”

Sambirata mengangguk. Kemudian katanya,” Tentu Kiai kami akan kembali ke Demak.”

Tetapi Sembada yang menyeringai kesakitan itu berkata, “Alangkah mudahnya. Tetapi kalau kelak anak itu kembali ke Demak, maka kepalaku akan dipenggal oleh Prabasemi.”

Sambirata tiba-tiba tertawa. Katanya, “Sudahlah adi Sembada. Kalau kau tidak berani menanggung akibat dari perbuatan ini, biarlah timang-timang ini dikembalikan saja.”

“Timang?,” tiba-tiba Karebet memotong.

“Ya,” jawab Sambirata.

“Kami harus membunuh angger. Dan kami akan mendapat timang emas.”

Tangan Karebet …..dst.

 


805

TANGAN Karebet menjadi gemetar mendengar pengakuan itu. Tetapi sebelum ia menjawab, orang berjubah itu berkata, “Lupakan semuanya. Beruntunglah kalian, bahwa kalian belum menjual diri kalian dengan harga yang sangat murah itu. Apakah artinya timang emas itu? Seandainya kalian mampu membunuh Karebet sekalipun, namun apakah yang dapat kau miliki itu cukup bernilai untuk menebus tanggung jawab yang harus kau berikan pada masa-masa langgeng? Pada masa kau berhadapan dengan Kekuasaan tertinggi. Jauh lebih tinggi dari kekuasaan Prabasemi, bahkan kekuasaan Sultan Trenggana sekalipun?”

Orang berjubah itu diam sesaat. Sembada yang masih menahan sakit itupun terdiam, dan Sambirata menundukkan wajahnya. Semula ia mengurungkan niatnya hanya sekedar untuk menyelamatkan hidupnya.

Tiba-tiba tersentuhlah perasaan Sambirata oleh kata-kata orang bertopeng itu. “Ya,” katanya di dalam hati, “Alangkah murahnya harga diriku. Sebuah timang emas. Hem.” Tetapi Sambirata itu tidak berkata sepatah katapun.

Yang terdengar kemudian adalah kata-kata orang berjubah itu. “Seandainya kau berhasil membunuh Karebet, dan mendapatkan timang-timang emas itu, maka apakah kalian dapat memakainya dengan tenang? Setiap kali timang itu melekat di lambung kalian, maka setiap kali kalian akan teringat, bahwa timang itu sebenarnya berlumuran dengan darah seseorang yang tidak bersalah kepada kalian.”

Sambirata semakin menundukkan wajahnya. Sentuhan-sentuhan pada parasaannya semakin terasa. Dan karena itulah tiba-tiba ia merasa menyesal atas perbuatannya itu. Namun justru karena itulah maka ia berdiam diri.

“Nah. Pikirkanlah kata-kataku” berkata orang berjubah itu pula. Tiba-tiba Sambirata itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan hormat ia menjawab, “Baik Kiai. Akan aku pikirkan baik-baik kata Kiai.

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian katanya, Sekarang kembalilah ke Demak. Kau dapat menempuh jalan yang wajar. Bukankah kau menempuh jalan yang sulit, jalan yang bukan sewajarnya dilalui orang pada saat kau berangkat kemari? Lewat gerumbul-gerumbul dan memotong diantara hutan-hutan belukar. Itu adalah gambaran dari pengakuanmu atas perbuatan-perbuatan yang tidak wajar pula yang akan kau lakukan. Sebab kalau kau berlaku wajar, maka kau tidak perlu melalui jalan-jalan yang tersembunyi.”

Sekali lagi Sambirata mengangguk. Dan kemudian jawabnya, “Ya Kiai. Aku menyadarinya”

Tetapi ketika Sambirata itu berpaling kearah Sembada, maka katanya “Apakah kau sudah mampu berjalan Adi?”

Sembada mengerang perlahan-lahan. Sekali lagi ia berusaha bangkit. Namun punggungnya masih terasa sakit. Tetapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya. Maka katanya “Bertanyalah kepada murid-muridmu. Apakah mereka sudah mampu berjalan?”

Sambirata itupun kemudian menebarkan pandangan matanya kearah murid-muridnya yang masih berserakan disekitarnya. Ada yang sudah mampu duduk dan mencoba berdiri, namun ada juga yang masih terbaring sambil menyeringai. Melihat mereka itu, tergetarlah hati Sambirata. Hampir saja ia mengorbankan orang-orang itu hanya untuk sebuah timang. Dan karena itu, maka timbullah iba didalam hatinya. Iba kepada murid-muridnya yang tidak tahu menahu ujung pangkal dari perbuatannya.

Perlahan-lahan Sambirata itu menghampiri muridnya yang paling parah diantara mereka. Perlahan-lahan ia berbisik. “Maafkan aku.”

Muridnya itu menjadi heran. Apakah yang harus dimaafkannya? (Bersambung)-m

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Karya SH. Mintarja No.806

Meskipun demikian muridnya itu tidak bertanya apapun kepada gurunya. Mereka hanya menyeringai menahan sakit dan berkata jujur. “Aku belum dapat berjalan Kiai”

Sambirata menarik nafas. Agaknya keadaan muridnya itu benar-benar sulit. Karena itu maka katanya, “Aku tidak tergesa-gesa. Biarlah kalian menjadi baik dahulu. Aku akan menunggu kalian disini.”

Orang bertopeng itu mengawasi hampir setiap orang ditempat itu. Sesaat kemudian terdengar ia berkata, “Baiklah kalau kalian masih akan menunggu kawan-kawan kalian sehingga mungkin untuk berjalan kembali. Kini biarlah anak muda ini pergi bersama aku.”

Sambirata mengangguk sambil menjawab, “Silakan Kiai. Aku mengucapkan terima kasih kepada Kiai.”

Orang bertopeng itu mengangguk, kemudian katanya kepada Mas Karebet, “Ikuti aku.”

Karebet ragu-ragu sejenak. Ia belum mengenal orang itu. Ia pernah mendengar bahwa orang yang berjubah abu-abu adalah Pasingsingan. Kini ia berhadapan dengan orang yang berjubah abu-abu itu. Apakah orang itu bukan Pasingsingan? Sesaat timbullah beberapa prasangka didalam hatinya. Mula-mula ia menyangka bahwa orang itu hanya sekedar merebut korbannya dari Sambirata dan Sembada, supaya Pasingsinganlah yang berhasil membunuhnya untuk mendapat hadiah dari Prabasemi. Tetapi menilik suara dan tingkah lakunya, maka orang bertopeng itu bukanlah seorang yang bernama Pasingsingan.

Akhirnya Karebet tidak mempunyai pilihan lain. Kalau orang itu Pasingsingan, maka dimanapun, orang itu pasti akan dapat membunuhnya. Diketahui atau tidak diketahui oleh orang lain. Karena itu maka ia tidak menolak, dan diikutinya orang berjubah abu-abu itu. Namun selama itu, anak muda yang masih mengetrapkan ilmunya, Aji Lembu Sekilan dan sekaligus ditangannya masih menjing Aji Rog-rog Asem.

Beberapa langkah kemudian, ketika orang-orang yang terbaring dipinggir jalan hutan itu telah tidak nampak lagi, maka orang berjubah abu-abu itu berhenti. Ditatapnya mata Karebet dengan tajamnya. Kemudian dengan sebuah anggukan kepada ia berkata, “Duduklah Karebet.”

Orang itu tidak menunggu jawaban Karebet. Namun segera ia berjalan kebalik gerumbul dan duduk diatas rumput-rumput kering. Karebet kembali menjadi ragu- ragu. Tetapi seolah-olah sebuah pesona telah menariknya untuk kemudian duduk dihadapan orang berjubah abu-abu itu, dibalik gerumbul pula.

“Karebet” berkata orang itu. “Hampir kau melakukan sebuah kesalahan lagi. Bukankah kau kini sedang menjalani hukuman?”

Kelunakan dan kesungguhan kata-kata orang itu memberi keyakinan kepada Karebet, bahwa orang itu sebenarnya bukan Pasingsingan. Karena itu maka jawabnya “Ya, Kiai. Aku sedang menjalani sebuah hukuman.”

“Apakah sebabnya?” bertanya orang itu.

Karebet sesaat menjadi ragu-ragu. Namun kemudian terluncur pula dari mulutnya, persoalan-persoalan yang menyebabkannya diusir dari istana. “Tetapi Kiai”, berkata kemudian. “Janganlah hal ini didengar orang lain, supaya Sultan tidak semakin marah kepadaku.”

Orang bertopeng itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Karebet. Aku mengikutimu sejak kau meninggalkan istana, berrjalan bersama-sama dengan Tumenggung Prabasemi. Aku melihat sesuatu yang tidak wajar pada kalian berdua. Karena itu aku mencoba melihat apa saja yang akan terjadi. Ternyata dihutan Santi kalian berdua terlibat dalam suatu perkelahian. Ketika aku melihat Prabasemi jatuh, aku hampir saja mencegahmu. Namun ternyata kau pada waktu itu masih dapat menguasai dirimu. Tetapi yang baru saja terjadi disini, agaknya kau telah benar-benar menjadi mata gelap.”

Karebet mengangguk, “Ya Kiai” jawabnya. “Aku tidak ingin mati ditangan kedua orang itu.”

“Aku tidak menyalahkanmu” sahut orang bertopeng itu. “Aku hanya ingin mencegah kesalahan yang mungkin kau lakukan, yang akan dapat mendorongmu semakin jauh dari istana.”

807

 

KAREBET menundukkan kepalanya. Kini ia pasti, bahwa orang itu sama sekali bukan Pasingsingan. Tetapi siapa?.

Dan tiba-tiba saja ia bertanya. “Tetapi apakah aku boleh mengetahui, siapakah Kiai ini?”

Orang itu menggeleng. “Tidak ada gunanya,” jawabnya.

Karebet menarik nafas. Ia tidak bertanya lagi kepada orang itu Sebab sekali ia merahasiakan dirinya, maka betapapun ia mencoba bertanya, namun pasti ia tidak akan mendapat jawaban.

Karebet itu kemudian mengangkat wajahnya ketika orang itu bertanya. “Sekarang, ke manakah kau akan pergi?”

Karebet menarik nafas dalam-dalam. Ya, kemana ia akan pergi? Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian jawabnya, “Aku tidak yakin bahwa Prabasemi akan melepaskan maksudnya membunuhku. Mungkin ia akan meminta orang lain lagi untuk melakukan pembunuhan itu. Dalam keadaan yang demikian, mungkin sekali aku kehilangan kesabaran, dan membunuh orang itu sehingga dengan demikian Sultan Trenggana akan semakin murka kepadaku.”

“Kau benar” berkata orang bertopeng itu. “Tetapi kemana?”

Karebet menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”

“Apakah kau tidak mempunyai sahabat, kawan atau saudara ditempat lain?” bertanya orang bertopeng itu.

Karebet diam sejenak. Tiba-tiba terbayanglah dirongga matanya, sebuah lembah yang luas dengan padi yang hijau subur dikaki pegunungan Telamaya. Suatu daerah yang sangat menarik yang pernah dikunjunginya. Tetapi daerah itu belum menemukan ketentraman karena persoalan antar keluarga sendiri.

“Bagaimana?” bertanya orang itu pula.

Karebet menggeleng. Jawabnya, “Aku mempunyai sahabat, saudara dan kawan-kawan. Tetapi mereka sedang sibuk dengan persoalan mereka sendiri. Apakah aku tidak akan menambah keributan mereka, apabila aku datang kepada mereka itu?”

Terdengar orang bertopeng itu tertawa pendek. Katanya seolah-olah bergumam saja didalam mulutnya. “Hem. Kau memandang dari sudut yang buram. Cobalah, katakan kepadaku bahwa kau akan datang untuk membantu memecahkan persoalan mereka itu.”

Karebet menengadahkan wajahnya. Sesaat terpancarlah sesuatu dari wajahnya. Katanya didalam hati, “Ya, aku adalah seorang laki-laki. Kenapa aku tidak dapat memperingan pekerjaan mereka itu?”

Tiba-tiba Karebet itu berkata, “Pendapat Kiai baik sekali. Aku dapat datang kepada mereka untuk membantu mereka. Mungkin tenagaku akan berguna.”

“Bagus”, orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Topengnya bergerak-gerak seperti kepala hantu-hantuan di sawah untuk menakut-nakuti burung.

“Baiklah Kiai”, berkata Karebet pula, “Aku akan pergi kesana.”

“Kemana?” Karebet berdiam diri sejenak. Namun sesaat kemudian ia berkata lantang. “Banyubiru.”

“Banyubiru”, orang bertopeng itu mengulang. Kemudian katanya, “Pergilah ke Tingkir. Kemudian pergilah ke Banyubiru.”

“Baik Kiai” sahut Karebet.

Orang bertopeng itupun kemudian berdiri. Dipandanginya Karebet dengan seksama. Kemudian katanya, “Kita berpisah disini setelah aku mengikutimu sejak dari Demak. Mudah-mudahan aku terhindar dari segala malapetaka. Dan mudah-mudahan kau selalu dapat mengekang dirimu sendiri. Pergilah. Aku akan pergi ke Bergota.”

Karebet mengerutkan keningnya, dan dengan serta merta ia bertanya.

“Kenapa ke Bergota?”

“Tidak ada hubungannya dengan kau. Aku akan menemui Arya Palindih,” jawab orang itu.

Kembali Karebet menjadi sangat tertarik kepada jawaban itu. Tetapi orang itu berkata, bahwa kepergiannya itu tak ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun demikian, ia bertanya-tanya juga didalam hatinya. Bukankah Sultan Trenggana pernah mengatakan kepadanya bahwa ia akan dikirim ke Bergota seandainya Prabasemi tidak mencegahnya? Meskipun demikian Karebet itu tidak bertanya lagi.

Orang bertopeng itupun kemudian minta diri dan perlahan-lahan ia berjalan menyusup lewat gerumbul-gerumbul dihutan itu. Sebelum orang itu hilang dari pandangan mata Karebet, terdengar ia berkata, “Karebet, aku tadi berkata kepada Sambirata, bahwa ia menempuh jalan yang tidak wajar karena tuduhan yang tidak wajar. Namun percayalah bahwa aku mempunyai itikad yang baik bagimu dan bagi Demak.”

Karebet mengerutkan keningnya. Timbullah pertanyaan bahwa didalam hatinya. “Kenapa bagiku dan bagi Demak? Apakah ada hubungan yang erat antara aku dan Demak? Ah” desahnya. “Aku hanya seorang lurah Wira Tamtama.”

Tetapi tiba-tiba ia berdesis. “Bukan, Lurah Wira Tamtama pun bukan. Aku adalah orang buangan.”

Ketika orang bertopeng itu lenyap dibalik rimbunnya daun-daun rimba yang hijau, maka Karebet itu menjadi bersedih. Dikenangnya dirinya dan disesalinya segenap perbuatannya. Namun semuanya telah berlalu. Dan kini ia tinggal menjalani akibat dari perbuatan-perbuatannya yang salah itu.

Sesaat Karebet itu masih tegak ditempatnya. Sekali-kali diawasinya daun-daun yang hijau tempat orang bertopeng itu melenyapkan dirinya.

 

 


808

“ORANG ANEH,” gumam Karebet. “Memang di dunia ini selalu ada keanehan-keanehan yang kadang-kadang lucu. Apakah gunanya orang itu menutupi wajahnya dan berjubah. Apakah wajahnya itu terlalu jelek dan kasar, atau seorang buruan yang sedang menyembunyikan diri? Tetapi tidak pantas kalau orang itu menyembunyikan dirinya karena persoalan-persoalan lahiriah. Ia adalah seorang yang sakti, ternyata Aji Sembada sama sekali tidak mampu mendorongnya selangkah pun.”

Karebet itupun kemudian dengan segan melangkah pergi. Kini ia berjalan dengan tujuan yang pasti. Ke Tingkir kemudian ke Banyubiru.

Ketika ia muncul dari balik-balik gerumbul, tiba-tiba timbullah keinginannya untuk menengok kembali Sembada dan Sambirata. Karena itu ia berjalan menuju ke arah mereka. Dari kejauhan dibalik tikungan Karebet telah melihat mereka masih berada ditempatnya.

Ketika mereka melihat Karebet datang kepada mereka, maka Sembada dan Sambirata itupun berdesir hatinya. Apakah maksud kedatangan Karebet itu kembali kepada mereka? Apakah setelah orang bertopeng itu pergi, Karebet akan meneruskan maksudnya, bertempur sampai saat-saat terakhir? Tetapi kini Sambirata telah tidak bernafsu lagi untuk bertempur. Di dalam dadanya telah terdengar suara-suara yang belum pernah didengarnya. Dan suara-suara itu telah mendorongnya untuk menghindari bentrokan langsung dengan Karebet itu.

Tetapi wajah Karebet sama sekali tidak menunjukkan ketegangan. Bahkan ketika ia melihat Sembada yang masih saja menyuapi mulutnya itu, ia tersenyum sambil berkata, “Alangkah nikmatnya, makan setelah bekerja keras.”

“Makanlah kalau kau mau” berkata Sembada itu tanpa berpaling. Meskipun demikian denyut jantungnya menjadi semakin cepat. Ia masih belum yakin kalau dalam waktu yang sesingkat itu Karebet telah dapat melupakan apa-apa yang baru saja terjadi.

Tetapi Karebet benar-benar anak yang aneh, yang berbuat apa saja menurut keinginannya sesaat.Tiba-tiba saja ia duduk di samping Sembada dan berkata, “Aku juga lapar, kakang Sembada.”

Sambirata menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat kejujuran yang memancar dalam diri Karebet. Kejujuran yang tidak dibuat-buat. Karena itu ia menjadi semakin kecewa atas perbuatannya. Untunglah semuanya belum terlanjur terjadi. Kalau ia berhasil membunuh Karebet, maka dosanya akan selalu mengejarnya apabila ia kelak mengetahui sifat-sifat anak itu. Sedang apabila Karebet yang membunuhnya, maka kasihanlah anak itu. Sebab dengan demikian ia akan mendapat hukuman yang lebih berat dari Baginda.

Dengan penuh penyesalan ia melihat Karebet itu meraih sepotong makanan bekal yang mereka bawa dari Demak. Dan tanpa ragu-ragu disuapkannya makanan itu kedalam mulutnya. “Enak” gumam Karebet itu.

“Sifat itu sangat menyenangkan”” berkata Sambirata di dalam hatinya. Dan dibiarkannya Karebet itu kemudian makan sepuas-puasnya.

Sembada yang sedang makan itupun menjadi heran pula melihat Karebet benar-benar mau makan bersamanya. Karena itu ia menjadi tenang sedikit. Mungkin Karebet itu benar-benar tidak akan meneruskan perkelahian yang pasti tidak akan menguntungkannya.

Hanya beberapa murid Sambirata yang mengumpat-umpat di dalam hatinya. Punggung-punggung mereka masih terasa sakit karena anak muda yang bernama Karebet itu. Dan kini Karebet itu makan bekalnya seenaknya. Bahkan tidak henti-hentinya.

“Makanlah angger” Sambirata itu mempersilakan dengan ramahnya.

“Aku akan kenyang, paman” sahut Karebet. Dan tiba-tiba pula Karebet itu berdiri.

Sembada adalah yang paling terkejut. Ia masih belum dapat menghilangkah kecemasannya apabila Karebet itu tiba-tiba membunuhnya. Tetapi Sembada itu menarik nafas dalam-dalam, ketika dilihatnya Karebet itu menekan punggungnya sambil menggeliat. “Aku sudah terlalu kenyang paman”, katanya kepada Sambirata. “Sekarang biarlah aku meneruskan perjalananku ke Tingkir. Apakah paman masih akan mencegah aku?”

“Tidak, tidak ngger. Silakan berjalan terus. Aku tidak akan mengganggu angger lagi.” sahut Sambirata.

Tetapi Sembada yang kasar itu menjawab, “Pergilah. Tapi jangan mencoba mengganggu kami.”

Karebet itu berpaling. Tetapi kemudian ia tersenyum, jawabnya “Baiklah. Aku tidak sengaja mengganggumu, kakang. Aku lapar, dan dihadapanmu ada makanan.”

“Bukan soal makanan” bentak Sembada. “Tetapi jangan halangi kami kembali ke Demak, kalau kau ingin selamat.”

Sekali lagi Karebet tersenyum. Katanya, “Apakah kakang sudah dapat berjalan dengan baik.”

 


809

Sembada tidak menjawab. Namun ia mengumpat perlahan-lahan, “Persetan.”

Karebet itupun kemudian berjalan meninggalkan mereka. Ditelusurinya jalan sempit ditengah-tengah hutan yang semakin lama semakin tipis. Sehingga sesaat kemudian ia akan sampai ke mulut lorong itu dan meninggalkan daerah hutan yang memberinya kesan tersendiri. Di hutan inilah Prabasemi berusaha merampas nyawanya untuk yang kesekian kalinya.

“Hem,” gumamnya, “Orang itu benar-benar berusaha menghilangkan aku karena otaknya yang gila seperti aku. Tetapi aku tidak mengganggu orang lain. Aku mendapatkan kesempatan tanpa aku sangka-sangka. Sedangkan Prabasemi mencari kesempatan dengan segala cara. Bahkan mengorbankan orang lain sekalipun.

Sekali lagi Karebet menarik napas. Kemudian ditatapnya jalan yang terbentang dihadapannya. Kini ia meninggalkan hutanitu. Ketika ia menengadahkan wajahnya dilihatnya langit yang cerah. Awan yang tipis selembar demi selembar mengalir ke Utara, dan burung berterbangan di angkasa seakan menari dengan riangnya.

Ketika Karebet mengangkat wajahnya, hatinya menjadi berdebar-debar. Dihadapannya terbaring seonggok warna hijau ke hitam-hitaman. Padukuhan Tingkir, tempat ia dibesarkan oleh ibu angkatnya Nyi Tingkir.

Langkah Karebetpun tertegun sesaat. Kembali ia berbimbang hati. Tetapi kemudian ia melangkah kembali dengan langkah yang tetap. Pulang ke Tingkir dan kelak terus ke Banyu Biru.

Angin yang lembut sekali lagi mengusap wajah Karebet yang basah oleh keringat. Dan kembali persoalan itu hanyut satu persatu di kepalanya, berlari berurutan seperti kuda yang sedang berpacu. Dan akhirnya sampailah ia ke ujung kenangannya.

Malam itu langit cerah yang ditandai oleh sepotong bulan muda. Ketika Karebet mengangkat wajahnya, yang tampak dihadapannya bukan pedukuhan Tingkir yang hijau kehitam-hitaman, tetapi sebuah dataran yang luas dengan daun-daun padi yang menghijau melapisinya. Warna-warna semburat kuning yang dilemparkan oleh bulan sepotong di langit tampak berkilat-kilat memantul dipermukaan air Rawa Pening.

Karebet kembali kepada keadaanya kini. Dihadapannya duduk pamannya yang disegani. Kebo Kanigara yang mendengarkan ceritanya dengan asyik.

Ketika Karebet itu berhenti berbicara, maka Kebo Kanigara itu menarik napas panjang. Panjang sekali. Dan terdengarlah ia bergumam, “Bukan main. Itulah sebabnya maka sepeninggalmu, timbulah berbagai cerita mengenai dirimu.”

Karebet tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Dan malam semakin dingin, karena angin pegunungan.

Darimana kau tahu sedemikian banyak cerita tentang dirimu, yang kau alami dan tidak kau alami?”

Dengan kepala masih tertunduk Karebet menjawab, “Sebagian aku alami langsung, sedangkan sebagian aku dengar dari seorang sahabat yang dapat dipercaya.”

“Siapakah orang itu?”

“Sambirata!”

“He, Sambirata yang kau katakan mencegatmu di hutan dekat Tingkir itu?”

“Ya, ternyata ia telah menyesali perbuatannya. Karena itu ia berusaha mencari kebenaran tentang diriku. Aku tidak tahu, apa saja yang sudah dilakukannya, namun ia berhasil mengetahui sebagian besar keadaanku, dan iapun berhasil mencari aku, ketika aku masih berada di Tingkir.”

“Hanya orang itu?”

“Ya, tetapi paman Sambirata aku minta menghubungi sahabatku yang lain di dalam lingkungan Wira Tamtama. Daripadanya paman Sambirata dapat melengkapi ceritanya.”

“Siapakah orang itu?”

“Santapati. Kakang Santapati, seorang lurah Wira Tamtama juga.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia berdiam diri, dan Karebet tidak berkata apapun. Karena itu maka keadaan di lereng menjadis epi kembali. Di kejauhan terdengar suara cengkerik sahut menyahut dengan derik belalang. Sesekali terdengar aum harimau di kejauhan, di hutan Gunung Telamaya.

Sesekali Kebo Kanigara memandang wajah kemenakannya yang suram. Dilihatnya penyesalan yang dalam menggores didadanya. Karena itu maka perasaan Kebo Kanigara itupun menjadi iba juga kepadanya. Kepada satu-satunya kemenakannya. Karebet adalah penyambung keturunan Pengging disamping Widura. Karena itulah maka adalah menjadi keinginanya bahwa Karebet kelak mendapat tempat yang baik, sebagai seorang cucu Handayaningrat, maka adalah wajar apabila Karebet apabila Karebet itu tidak saja menjadi seorang buangan dan sekedar Lurah Wira Tamtama.

810

“Hem” geram Kebo Kanigara didalam hatinya.” Trenggana ternyata dapat dipengaruhi oleh orang-orang seperti Prabasemi.”

Tiba-tiba terbersitlah sesuatu dikepala Kebo Kanigara. Karebet adalah kemanakannya. Nasib Karebet dihari kemudian akan menentukan darah keturunan Pengging. Kalau Karebet itu akan hancur menjadi debu dipembuangan, maka darah Pengging akan kering seperti lautan yang kering. Betapapun agungnya lautan itu dihari-hari lampau, namun apabila kemudian telah kering dibakar terik matahari, maka keagungan airnya pasti akan dilupakan orang. Demikianlah kalau Karebet itu benar-benar akan lenyap dari percaturan pemerintah Demak, maka darah Pangeran Handayaningrat untuk selamanya tidak akan dapat mengharapkan Widuri untuk merebut tempat itu, sebab mau tidak mau ia melihat hubungan yang akrab antara putrinya itu dengan Arya Salaka.

Meskipun Arya Salaka bukan darah yang tetes dari istana, namun ia bangga atas anak muda itu. Anak muda yang menyadari keadaannya, menyadari tanggung jawabnya. Dan ia puas dengan keadaan putrinya, asalkan kelak ia merasa bahagia. Apalagi putrinya itu sejak kecilnya sama sekali tidak pernah mengenyam kehidupan istana. Karena itu, maka apa yang dicapainya itu benar-benar telah memberinya kebahagiaan.

Baru beberapa waktu kemudian Kebo Kanigara itu berkata, “Karebet. Jangan tinggalkan Banyubiru tanpa ijinku. Mungkin ada beberapa cara yang dapat ditempuh, supaya Sultan Trenggana itu memaafkan kesalahanmu.”

Karebet menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baik paman. Aku akan tinggal di Banyubiru sampai paman memerintahkan aku berbuat lain.”

Kembali mereka terlempar dalam kesenyapan. Dan kembali suara jengkerik bersahut-sahutan dengan desir angin didaunan. Awan yang putih segumpal hanyut diwajah bulan kuning pucat.

Sesaat kemudian barulah Kebo Kanigara berkata,”Karebet. Alangkah bodohnya kau. Kenapa kau sampai terpancing dalam pertempuran melawan Sultan Trenggana?”

“Aku tidak mengenal paman. Sultan menggunakan tutup wajah dari ikat kepalanya. Dan Sultan sama sekali tidak mempergunakan tanda-tanda kebesarannya.”

“Apakah kau tidak mampu melihat ciri-ciri gerak Baginda?”

“Tidak paman. Aku lebih baik tidak menyangka bahwa aku berhadapan dengan Baginda, karena Baginda mempergunakan Aji Welut Putih.”

“Kenapa dengan Aji Welut Putih.”

“Bukankah Aji itu biasa dipergunakan oleh orang-orang jahat yang berusaha melepaskan diri dari kejaran?”

Kebo Kanigara mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Baginda mengenal seribu macam ilmu. Dari yang paling jahat sampai yang paling baik.”

“Aku kurang menyadari itu paman. Mungkin Baginda sengaja mempergunakan Aji Welut Putih untuk lebih mengaburkan anggapanku terhadap orang yang tertutup wajah itu.”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Jangan kambuh lagi Karebet. Kalau kau meninggalkan Banyubiru tanpa setahuku, aku tidak akan mencampuri lagi segenap persoalanmu.”

“Baik paman” jawab Karebet.

Kebo Kanigara itupun kemudian bangkit sambil berkata. “Kembalilah kerumah Ki Lemah Telasih. Mudah-mudahan Buyut Banyubiru itu akan memberimu banyak tuntunan yang akan bermanfaat bagi hidupmu.”

Karebet itupun kemudian berdiri pula. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Baik paman.”

Ketika pamannya itu kemudian berjalan meninggalkannya, maka Karebet itu pun segera kembali kerumah Ki Buyut Banyubiru. (Bersambung)-o

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

811

Sebenarnyalah Karebet, sejak dari Tingkir segera ia pergi ke Banyubiru. Semula ia mengharap bahwa Arya Salaka Telah berhasil kembali ke tanah perdikannya. Namun ternyata ditemuinya tanah itu sedang dicengkram oleh ketegangan. Karena itu, maka untuk sementara ia mencari tempat yang dapat dipakainya untuk menyembunyikan dirinya. Sehingga akhirnya ditemukannya tempat itu. Rumah Ki Buyut Banyubiru, yang baik hati. Ia tinggal di rumah itu bersama-sama dengan beberapa orang murid Ki Lemah Telasih yang lain. Mereka termasuk orang-orang yang lebih mementingkan persoalan-persoalan pengobatan dan ketekunan dalam mencari dan menemukan jenis dedaunan untuk pengobatan daripada olah kanuragan. Disamping itu, Ki Lemah Telasih adalah seorang yang tekun beribadah. Itulah sebabnya Karebet betah tinggal dirumahnya. Ditemuinya persoalan-persoalan dalam hidupnya. Cara-cara pengobatan itu sangat menarik hati anak muda yang aneh itu.

Diperjalanan kembali ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, Kebo Kanigarapun selalu diganggu oleh berbagai pesoalan. Apakah ia akan membiarkan Karebet terbuang dari pergaulan yang telah pernah dicapainya? Kebo Kanigara itupun dapat ikut merasakan kepahitan yang dialami oleh Karebet itu. Kepahitan yang dialami oleh setiap prajurit yang terpaksa disingkirkan dari kedudukannya. Tetapi Kebo Kanigara pun tahu pula, bahwa Baginda masih memiliki kesayangan yang besar kepada anak yang aneh itu.

Meskipun demikian Kebo Kanigara itu pun berkata didalam hatinya, “Biarlah orang-orang tua mencoba membantu menyelesaikan masalah ini.”

Malam itu Kebo Kanigara hampir tak dapat tidur nyenyak. Ia bangun pagi-pagi benar dan tampaklah bahwa perasaannya sedang dibebani oleh persoalan-persoalan yang berat.

Mahesa Jenar yang mengetahui serba sedikit tentang Karebet, segera dapat menduga, bahwa Kebo Kanigara benar-benar sedang dirisaukan oleh kemenakannya yang nakal. Karena itu sebagai seorang sahabat yang dekat, maka Mahesa Jenar menyatakan dirinya untuk membantu memecahkan kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi oleh Kebo Kanigara itu.

Kebo Kanigara yang masih belum tahu apa yang akan dilakukan itu berkata, “Bukan main. Anak itu telah jauh tenggelam kedalam gelora darah mudanya.”

“Apakah kesalahan yang telah dilakukannya itu terlampau besar, sehingga tidak akan mungkin mendapat pengampunan kakang,” bertanya Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara merenung sejenak. Kemudian desahnya, “Mudah-mudahan. Tetapi waktu yang diperlukan cukup panjang.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Serba sedikit Kebo Kanigara mengatakan juga apa yang pernah didengarnya dari Karebet. Namun tidak seluruhnya. Ada persoalan-persoalan yang tidak dapat di ketahui oleh orang lain. Meskipun orang lain itu adalah Mahesa Jenar sendiri, yang selama ini selalu berbuat bersama-sama, berjuang bersama-sama dan bahkan hidup mati mereka berdua seakan-akan telah dipertaruhkan bersama. Tetapi masalah yang dihadapi oleh Kebo Kanigara sebagian adalah masalah yang berhubungan dengan keluarganya. Berhubungan dengan saluran darah Majapahit yang mengalir ditubuhnya dan ditubuh Karebet, namun juga ditubuh Sultan Tranggana.

Karena ada beberapa persoalan yang tidak dapat dikatakannya kepada Mahesa Jenar, maka Mahesa Jenar pun tidak segera dapat melihat, apa yang dapat dilakukannya untuk membantu memecahkan persoalan itu.

“Mahesa Jenar” berkata Kebo Kanigara kemudian, “Jangan kau ikut serta dirisaukan oleh persoalan-persoalan yang dibuat oleh Karebet. Lupakanlah persoalan itu. Selesaikan persoalanmu yang telah lama kau tunda-tunda. Bukankah waktu itu kini telah datang?”

Mahesa Jenar tersenyum. Segera ia tahu maksud Kebo Kanigara. Karena itu Mahesa Jenar menjawab, “Baiklah kakang. Meskipun demikian apabila pada suatu saat kakang memerlukan aku, maka aku selalu menyiapkan diri untuk itu.”

“Terima kasih, Mahesa Jenar. Pada saatnya aku akan memberitahukannya kepadamu. “Namun dalam pada itu, sesuatu tersimpan didalam hati Kebo Kanigara. Sesuatu yang tidak dapat segera dikatakan kepada Mahesa Jenar, meskipun pada suatu saat pasti akan menyangkut perasaannya. “Hem” gumam Kebo Kanigara didalam hatinya, “Biarlah Mahesa Jenar menikmati masa-masa yang paling baik dalam hidupnya.”

Sejak itu Kebo Kanigara berusaha untuk menghilangkan kesan-kesannya yang menggelisahkan karena pokal kemenakannya. Meskipun beberapa kali ia masih menemui Karebet, tetapi ia tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi kepada Mahesa Jenar.

Dibiarkannya Mahesa Jenar sibuk dengan persoalan sendiri.

812

Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mendengar dari Kebo Kanigara bahwa Karebet telah pergi ke Karang Tumaritis dan telah kembali ke Banyubiru.

Dalam pada itu, maka Ki Ageng Pandan Alas merasa bahwa ia telah cukup lama berada di Banyubiru. Karena itu maka ia pun minta diri kepada Ki Ageng Gajah Sora, kepada Kebo Kanigara, kepada Mahesa Jenar dan kepada cucunya Rara Wilis.

“Kenapa Ki Ageng tergesa-gesa meninggalkan Banyubiru?” bertanya Gajah Sora.

“Aku sudah cukup lama tinggal di sini angger. Karena itu aku ingin sekali-kali melihat tanah kelahiranku. Aku ingin pulang ke Gunungkidul, menyampaikan kabar yang sebaik-baiknya bagi sanak kadang dan handai taulan di sana. Sudah tentu kami akan mengharap Wilis sekali-kali juga mengunjungi kampung halaman. Dan sudah tentu kami akan mengharap bahwa kami dapat menyaksikan hari yang paling baik bagi hidupnya di kampung halaman sendiri. Apapun yang kemudian akan dilakukan, dan kemana pun kemudian Wilis akan pergi, bukanlah soal bagi kami.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Sebenarnya Banyubiru akan sangat berterima kasih kalau kesempatan itu tidak kami terima di sini, sebagai tanah yang telah menerima limpahan pengabdiannya yang tanpa pamrih itu.”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. “Terima kasih. Terima kasih.” sahutnya, “Tetapi biarlah kami pada suatu ketika membawanya dahulu kembali. Kami ingin memperkenalkan angger Mahesa Jenar kepada sanak kadang serta sahabat-sahabat kami.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ki Ageng, kami akan datang setiap saat. Aku akan bergembira untuk melihat tanah tempat kelahiran Wilis. Dan aku akan bergembira untuk dapat mengenal sanak kadang di tanah itu.”

“Bagus. Biarlah kelak seseorang datang menjemput kalian di sini. Begitu aku sampai di Gunung Kidul, begitu aku minta seseorang menjemput kalian supaya kalian tidak usah mencari-cari jalan. Meskipun seandainya kalian tidak melewati hutan Mentaok, kalian sudah tidak akan bertemu lagi dengan Lawa Ijo, ataupun Pasingsingan yang satu itu. Seandainya demikian pun maka angger Mahesa Jenar sudah pasti tidak akan takut. Dan aku tidak perlu menebang pohon di hutan itu dan kemudian berdendang Dandang Gula.”

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya. Suatu kenangan yang mengesankan. Dihutan itu pula ia pertama-tama bertemu dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Di hutan itu pula ia hampir binasa karena Pasingsingan. Namun didesa itu pula ia diselamatkan oleh Ki Ageng Pandan Alas dengan suara kapaknya dan kemudian disusul dengan tembang Dandang Gula yang melontarkan ciri kehadirannya.

Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Ageng Pandan Alas itu pula. “Sungguh tidak sedap berlagu di tengah-tengah hutan yang lebat. Setiap kali aku membuka mulut, setiap kali beberapa ekor nyamuk masuk bersama-sama. Tetapi aku tidak dapat berhenti sebab dengan demikian aku tidak akan berhasil mencegah Pasingsingan berbuat menurut caranya.”

Kembali Mahesa Jenar mengenangkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi. Betapa ia hampir menjadi gila karena tiba-tiba Rara Wilis hilang. “Hem” desahnya di dalam hati. Sebuah tarikan nafas yang panjang telah menggerakkan dadanya.

Ki Ageng Pandan Alas melihat perasaan yang melintas di hati Mahesa Jenar. Karena itu ia tersenyum. Namun ketika ia menatap wajah Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas itu mengerutkan keningnya. Tampaklah mata gadis itu berkilat-kilat. Selapis air telah membasahi pelupuk matanya. Karena itu maka orang tua yang jenaka itu tidak lagi berkata tentang masa-masa lampau. Katanya kemudian, “Kalau aku akan mengirim orang untuk menjemput kalian, maka aku hanya ingin supaya kalian tidak usah mencari jalan. Aku tidak yakin apakah Rara Wilis masih dapat mengingat jalan itu dengan baik, atau apakah kalian akan dapat mencari jalan dalam waktu singkat. Perjalanan kalian kali ini adalah perjalanan yang jauh berbeda dengan setiap perjalanan yang pernah kalian tempuh. Kalian dapat berjalan menyusup hutan belantara mencari sesuatu yang belum pasti tempat dan keadaannya. Sedang Gunungkidul adalah suatu daerah yang tidak akan dapat berpindah-pindah. Namun akan lebih baik bagi kalian, apabila kalian tidak usah bersusah payah untuk mencari jalan itu sendiri.”

“Terima kasih, Ki Ageng” jawab Mahesa Jenar, “Kami akan menunggu dengan senang hati.”

Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Tersenyum karena ia melihat masa depan satu-satunya cucunya menjadi cerah, secerah matahari pagi.

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang pejalan. Ia dapat berjalan ke mana saja ia kehendaki. Namun perjalanannya ini terasa sangat lambatnya. Ia ingin segera ke Gunungkidul dan menyuruh beberapa orang untuk menjemput cucunya. Sengaja ia tidak membawa cucunya itu berjalan bersama-sama, karena ia ingin menghormati cucunya serta bakal suaminya dengan suatu jemputan yang cukup baik. Ia sendiri tidak memiliki apapun di Gunungkidul. Namun muridnya yang sekarang sudah menjadi Demang, pasti akan mau membantunya. (Bersambung)-k

 


813

SEPENINGGALAN Ki Ageng Pandan Alas, maka timbullah beberapa keragu-raguan dihati Mahesa Jenar. Kalau ia harus menetap di Gunungkidul, maka persoalannya menjadi agak sulit baginya. Selama ini Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten belum kembali ke Demak. Meskipun ia percaya sepenuhnya kepada Panembahan Ismaya, namun tanpa diketahui sebabnya ia selalu ingin tinggal didekatnya untuk sementara sebelum keris-keris itu kembali. Tetapi ia sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat menolak permintaan Ki Ageng Pandan Alas. Ia tahu bahwa Rara Wilis menjadi bergembira karenanya. Gembira bahwa ia akan segera melihat kampung halaman, dan bergembira bahwa ia akan dapat berada didalam lingkungannya semasa kanak-kanak.

Tetapi Rara Wilis pun pernah berkata kepadanya, bahwa ia mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan ialah yang menentukan.

Tetapi Mahesa Jenar tidak mau mengecewakan Rara Wilis. Nanti apabila sampai saatnya persoalan itu dapat dibicarakannya dengan baik. Dan ia yakin bahwa Wilispun pasti akan dapat mengertinya.

Demikianlah maka mereka menunggu di Banyubiru.

Selama itu banyaklah yang sudah mereka kerjakan diantara rakyat Banyubiru, membangun tanah perdikan itu. Memperbaiki tanggul yang telah dijebol oleh Arya Salaka dan memperbaiki jalur-jalur saluran air dan menanami kembali lereng bukit yang gundul karena api yang dinyalakan oleh Jaka Soka.

Tak ada seorang pun yang sempat duduk bertopang dagu. Arya Salaka telah bekerja mati-matian untuk tanah yang dibelanja selama ini. Bahkan Endang Widuri pun dengan gembiranya ikut membantunya. Ia telah hampir lupa kepada padepokan Karang Tumaritis, dan ia kerasan tinggal di Banyubiru.

Kebo Kanigara yang semula sudah siap kembali ke Karang Tumaritis, tiba-tiba terhambat juga oleh kemenakannya. Ada sesuatu yang masih harus diselesaikan di Banyubiru karena kehadiran Karebet. Sehingga karena itu, maka ia pun menunda keberangkatannya. Tentu saja Widuri menjadi sangat bergembira karenanya. Ia lebih senang tinggal di Banyubiru. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa ayahnya selama ini telah disibukkan oleh saudara sepupunya, Karebet. Bahkan ia tidak menyadari pula, bahwa keadaan itu bukan sekedar kesibukan-kesibukan pikiran dan perasaan. Namun karena Kebo Kanigara sudah bertekad untuk membantu kemenakannya itu kembali ke Istana, maka akan banyaklah persoalan-persoalan yang dihadapinya.

Tetapi Kebo Kanigara tidak mau menyulitkan orang lain. Karena itu semuanya disimpan didalam dadanya. Hanya sekali-kali ia menyuruh Karebet pergi ke Karang Tumaritis, minta nasehat dan pertimbangan Panembahan Ismaya dan memberitahukan kepada Panembahan itu bahwa Kebo Kanigara menjadi agak lambat lagi.

Dengan demikian, meskipun mereka bersama-sama masih tetap tinggal di Banyubiru, dan meskipun mereka tampaknya dalam kesibukan yang sama sehari-harinya, namun didalam hati mereka, mereka mempunyai alasan yang berbeda-beda.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis sekedar menunggu jemputan dari Gunungkidul, Endang Widuri karena sesuatu telah mengikatnya di Banyubiru, sesuatu yang tidak dapat dikatakan, sedang Kebo Kanigara terikat oleh kemenakannya dengan segenap persoalannya.

Demikianlah pada suatu hari, Banyubiru diributkan oleh kedatangan sebuah rombongan orang-orang berkuda. Rombongan itu berpacu dari arah Barat. Bukan hanya sekedar sepuluh orang, namun lebih banyak lagi. Suara derap kakinya menggeletar, memecah kesepian tanah yang damai itu.

Seseorang yang sedang bekerja disawah melihat rombongan itu merayap-rayap menyelusur jalan-jalan dilembah, mendaki Bukit Telamaya. Terasa sesuatu berdesir didalam dadanya. Rombongan itu sama sekali bukan rombongan dari Pamingit. Dipaling depan tampaklah seorang dalam pakaian yang mewah, beludru berkilat-kilat. Sebuah pedang panjang tersangkut dilambungnya. Pedang dengan sebuah wrangka yang putih berkilau. Pedang yang jarang-jarang dimiliki oleh orang biasa.

Orang itu sama sekali bukan Ki Ageng Lembu Sora. Dan para pengiringnya sama sekali bukan orang Pamingit.

Petani itu berpikir didalam hatinya. Masih terbayang apa saja yang telah terjadi beberapa waktu yang lampau. Terbayangllah laskar-laskar dari golongan hitam yang bersama-sama menyerang Banyubiru, kemudian terbayang pula kekacauan yang timbul didaerah perdikan itu setelah laskar Pamingit mendudukinya.

Tetapi petani itu tidak tahu, apa yang akan dilakukan untuk mengetahui siapakah para pendatang itu. Karena itu maka segera ia berlari pulang, dan menyampaikan apa yang dilihatnya kepada anaknya.

“Bapak melihat rombongan itu sebenarnya?”

“Ya, aku melihat dan mataku masih cukup baik.”

Anaknya yang sudah cukup dewasa berpikir sejenak. Kemudian katanya kepada ayahnya, “Biarlah aku sampaikan kepada kakang Bantaran.”

Anaknya tidak menunggu jawaban ayahnya. Cepat-cepat ia berlari kekandang, melepaskan kudanya dan dipacunya kerumah Bantaran.
Mendengar laporan itu, Bantaran mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah tidak ada tanda-tanda pada mereka itu?”

“Aku tidak tahu”, jawab anak muda itu.

“Marilah ikut aku”, sahut Bantaran.

Keduanya kemudian memacu kuda mereka, mendaki tebing yang menghadap ke Barat. Sebenarnyalah, mereka melihat serombongan orang-orang berkuda sudah semakin dekat. Serombongan orang-orang berkuda yang lengkap dengan senjata-senjata mereka. (Bersambung)-b

 


814

“Dua puluh orang kira-kira”, gumam Bantaran.

“Apakah maksud mereka?” bertanya anak petani itu.

Bantaran menggelang. Jawabnya, “Apapun maksud mereka, tetapi mereka aku kira tidak akan berbuat kerusuhan disini. Mereka datang disiang hari, lewat jalan yang sewajarnya dan hanya dua puluh orang. Meskipun demikian, datanglah ke gardu penjagaan pertama. Beritahukan bahwa ada serombongan orang berkuda akan lewat. Sebentar lagi aku akan datang ke gardu itu.”

Anak petani itu tidak menjawab. Segera ia melarikan kudanya ke gardu pertama memberitahukan apa yang telah dilihatnya.
Pemimpin gardu itu menghela nafasnya. Kemudian kata-katanya, “Kedatangan kakang Bantaran kami tunggu.”

Anak petani itupun kemudian kembali ke tempat Bantaran mengawasi orang-orang berkuda itu. Mereka sudah tampak lebih jelas lagi. Tetapi karena jalan melingkar-lingkar, maka jarak yang harus dilaluinya masih cukup panjang.

Kemudian Bantaran itupun berkata kepada anak petani itu. “Kembalilah, sampaikan pesan ini kepada kakang Penjawi, bahwa berita tentang kedatangan orang-orang berkuda itu supaya dilaporkan kepada paman Wanamerta.”

Sepeninggalan anak petani itu, segera Bantaran pergi ke gardu pertama. Gardu yang masih ditempati oleh beberapa orang penjaga. Meskipun Banyubiru seakan-akan sudah tenang, namun peperangan yang baru saja terjadi masih mengharuskan mereka berhati-hati.

Di gardu penjagaan itu, Bantaran melihat beberapa orang telah bersiaga. Namun kemudian Bantaran berkata “Jangan terlalu berprasangka. Orang-orang itu pasti tidak akan berbuat jahat.”

Meskipun demikian, beberapa orang di gardu itu telah menggantungkan pedang-pedang mereka dilambung, dan yang lain menyandarkan tombak-tombak mereka disamping mereka berdiri.

Sesaat kemudian gemeretak kaki kuda itu telah terdengar. “Ha, itulah mereka” gumam Bantaran.

Tetapi mereka masih menunggu cukup lama. Jalan yang melingkar dan berbelit-belit itu agaknya telah memperpanjang jarak perjalanan orang-orang berkuda itu.
Meskipun demikian, akhirnya muncullah dari tikungan beberapa orang berkuda. Sebenarnyalah bahwa yang paling depan dari mereka adalah seorang yang berpakaian sangat bagus. Baju beludru, kain lurik yang berwarna kemerah-merahan. Sebuah pedang yang bagus berjuntai disisi kudanya.

Orang itu terkejut ketika dilihatnya beberapa orang yang berdiri dipinggir jalan berseberangan. Segera orang itu menyadari, bahwa kedatangannya telah mengejutkan beberapa orang penjaga. Karena itu maka segera orang-orang berkuda itu memperlambat kuda-kuda mereka, dan berhenti beberapa langkah dari Bantaran.

Wanamerta yang telah mendengar laporan Penjawi, menjadi gelisah juga. Segera ia pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora, dan memberitahukan tentang apa yang didengarnya dari Penjawi. Namun seperti apa yang didengarnya, maka katanya, “Tetapi menurut Bantaran, orang-orang itu pasti tidak akan berbuat huru-hara disini, sebab mereka hanya kira-kira duapuluh orang.”

Meskipun demikian berita itu telah menimbulkan berbagai pertanyaan di hati mereka yang sedang duduk dipendapa itu. Ki Ageng dan Nyai Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka dan Endang Widuri. Mereka mencoba menerka, siapakah kira-kira yang datang dalam rombongan itu. Namun mereka tidak dapat menemukan jawaban.

Kemudian terdengar Ki Ageng Gajah Sora bertanya, “Dimanakah Penjawi sekarang?”

“Penjawi sedang pergi menyusul Bantaran. Anak itu tidak dapat membiarkan seandainya orang-orang itu berbuat sesuatu. Namun mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.”

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dan sebelum mereka dapat berbuat apapun, maka terdengarlah seseorang penjaga berkata “Sebuah rombongan berkuda.”

Salah seorang dari mereka segera memberitahukannya kepada Ki Ageng Gajah Sora, dan sambil mengangguk-angguk Ki Ageng berkata, “Baik. Kembalilah ketempatmu.”

Orang itu pun segera berjalan ke gardunya, sedang beberapa orang yang lain, segera berdiri pula sambil berjaga-jaga.

Gajah Sora, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Wilis,Arya Salaka dan Endang Widuri segera turun ke halaman. Mereka berusaha menjemput orang-orang berkuda itu sebelum mereka memasuki regol halaman.

Tetapi langkah mereka segera tertegun. Yang mula-mula masuk ke halaman justru adalah Bantaran dan Penjawi. Karena itu maka Ki Ageng Gajah Sora itu segera bertanya. “Siapakah mereka?”

Sebelum Bantaran menjawab, maka muncullah orang yang pertama. Seorang yang gagah tampan dengan baju beludru dan sebuah pedang yang indah di lambungnya. Demikian orang itu melihat Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara segera ia berseru. “Mahesa Jenar, aku datang menjemputmu.”

 

815

Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Arya Salaka dan Endang Widuri terkejut melihat orang itu. Lebih-lebih adalah Rara Wilis. Karena itu sesaat mereka diam mematung. Sehingga terdengar kembali orang itu berkata. “Apakah kau lupa kepadaku?”

Mahesa Jenar seakan-akan tersadar dari mimpinya yang aneh. Karena cepat-cepat ia menjawab. “Tidak. Aku tidak melupakan kau, Sarayuda.”

Sarayuda, orang yang baru datang itu tertawa, wajahnya cerah secerah warna pakaiannya. Sambil meloncat turun dari kudanya ia berkata. “Aku datang atas perintah Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput kalian berdua.”

Wajah Rara Wilis segera menjadi kemerah-merahan. Ia tidak dapat melupakan, apakah yang telah terjadi antara mereka bertiga, Mahesa Jenar, Sarayuda dan dirinya. Karena itu, maka segera ditundukkannya wajahnya dalam-dalam.

Yang menjawab kemudian adalah Mahesa Jenar, “Terima kasih Sarayuda. Tetapi marilah, perkenalkanlah dahulu dengan Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, Ki Ageng Gajah Sora.”

Sarayuda tersadar akan kehadirannya di Banyubiru. Karena itu maka segera ia berkata. “O, maafkan. Aku terlalu bernafsu untuk menyampaikan maksud kedatanganku, sehingga aku lupa suba-sita.”

“Marilah Ki Sanak”, Ki Ageng Gajah Sora mempersilakan, “Marilah, aku mempersilakan kalian untuk naik kependapa.”

Maka seluruh rombongan itu pun kemudian memperkenalkan diri. Sarayuda adalah Demang yang kaya raya, yang menguasai suatu daerah yang luas di daerah Pegunungan Kidul. Sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang Kepala Daerah Tanah Perdikan yang kuat dan subur dilereng bukit Telamaya. Keduanya adalah orang-orang yang bertanggungjawab atas wilayahnya dan akan rakyatnya. Karena itu, maka segera mereka dapat menyesuaikan dirinya dalam perkenalan yang akrab, meskipun ada beberapa perbedaan sifat diantara mereka. Sarayuda adalah seorang yang menyadari kekayaannya, meskipun tidak berlebih-lebihan, sehingga caranya berpakaian pun telah menunjukkan keadaannya, sedang Ki Ageng Gajah Sora adalah seorang yang sederhana.

Segera pembicaraan mereka berkisar kepada maksud kedatangan Sarayuda. Berkata Demang itu kemudian, “Kakang Gajah Sora, kedatanganku kemari adalah karena perintah guruku, Ki Ageng Pandan Alas untuk menjemput Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Setiap orang di Gunungkidul telah mendengar berita itu. Berita tentang akan kehadiran Rangga Tohjaya didaerah mereka. Karena itu, maka Gunungkidul sedang dihinggapi oleh perasaan yang melonjak-lonjak, mengharap agar orang yang ditunggu-tunggu itu segera datang. Rara Wilis adalah seorang gadis yang cukup mereka kenal, karena daerah itu adalah daerah masa kanak-kanaknya. Banyak kawan-kawannya bermain ingin melihat mereka, seorang anak gadis dari daerah mereka yang pernah memakai nama Pudak Wangi dan telah berhasil membinasakan seorang perempuan yang dahulu pernah menggemparkan daerah itu, yang kemudian bernama Nyai Sima Rodra.

Mahesa Jenar tersenyum mendengar pujian itu, sedang Rara Wilis semakin menundukkan wajahnya. Pipinya menjadi kemerah-merahan dan karena itulah maka sepatah kata pun dapat diucapkan. Widuri yang mendengar kata-kata itu dengan seksama, tersenyum-senyum kecil. Dengan nakalnya ia berkata. “Ah. Apakah paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu paman Demang Sarayuda?”

“Ya tentu” jawab Sarayuda, “Aku dan rakyatku akan menyambutnya.”

“Bukan main. Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan menjadi tamu Agung.” sahut Widuri. “Apakah aku boleh ikut serta?”

“Tentu” jawab Sarayuda. “Aku dan setiap orang yang hadir di dalam pendapa ini untuk pergi ke Gunungkidul. Menyaksikan bukit-bukit gundul dan bukit-bukit kapur diantara lembah-lembah hijau. Sangat berbeda dengan pemandangan di Bukit Telamaya ini.”

Wajah Endang Widuri itu pun kemudian menjadi cerah. Dengan serta merta ia berkata, “Bagus sekali. Aku akan ikut dengan Bibi Wilis. Boleh bukan bibi?” (Bersambung)-o

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


816

Rara Wilis tidak segera dapat menjawab. Sekali dipandangnya wajah Kebo Kanigara. Ia tidak dapat berkata apapun tentang gadis itu sebelum ayahnya memberikan persetujuan.

Widuri melihat keragu-raguan Rara Wilis. Karena itu segera ia berkata kepada ayahnya. “Ayah, bukankah kita akan ikut ke Gunungkidul.
Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan. “Sayang Widuri kita tidak dapat ikut serta.”

Kecerahan wajah Widuri segera larut, seperti bulan disaput awan yang sedemikian kelam. “Kenapa?”
“Ada sesuatu yang harus kita kerjakan disini.”

“Apakah yang harus dikerjakan?”

Aku Widuri. Aku mempunyai banyak pekerjaan di sini. Dan agaknya kita telah terlalu lama tidak kembali ke Karang Tumaritis.
“Aku tidak mau. Aku tidak mau.” berkata Widuri itu.

Kebo Kanigara tersenyum. Kemudian kepada Sarayuda itu berkata. “Sayang adi. Sungguh sayang. Sebenarnya aku juga ingin mengantarkan Widuri ikut serta mengunjungi daerah adi. Namun ternyata ada persoalan-persoalan yang harus aku selesaikan. Dan aku harus segera kembali ke Karang Tumaritis.”

Sarayuda menarik nafas. “Ya sayang.”

Yang menyahut kemudian adalah Endang Widuri, “Kalau ayah mempunyai pekerjaan di sini atau di Karang Tumaritis, biarlah aku ikut bersama Bibi Wilis. Nanti kalau ayah sudah selesai, biarlah ayah menjemput aku.”

 

Kebo Kanigara itu tersenyum pula. Namun senyumnya membayangkan sesuatu yang tak dapat diraba. Katanya, “Tidak Widuri. Jangan pergi sekarang. Besok apabila sampai waktunya, biarlah kau aku antarkan kesana. Kalau sampai saatnya Paman Mahesa Jenar dan Bibi Wilis akan mengarungi hidup baru mereka.”
“Emoh” seru gadis itu. “Aku akan pergi bersama bibi Wilis.”

 

“Bukankah sama saja bagimu Widuri”, berkata ayahnya. “Besok atau sekarang.”

 

“Tidak” sahut Widuri. “Aku ingin melihat, bagaimana rakyat Gunungkidul menyambut paman Mahesa Jenar.”

 

“Tetapi kau tidak akan melihat, bagaimana pamanmu dan bibi Wilis dipersandingan.”

 

“Biar. Aku akan ikut bersama bibi Wilis.”

 

Rara Wilis menjadi iba melihat Endang Widuri. Tetapi ia tidak berani berkata apapun. Itu sepenuhnya adalah wewenang ayahnya. Karena itu, Rara Wilis hanya dapat memandangnya dengan senyum yang hambar.

Sarayuda agaknya dapat menempatkan dirinya. Ia tidak mau mengecewakan Kebo Kanigara. Maka katanya, “Begitulah angger Wilis. Seperti kata ayah angger itu. Biarlah besok aku menyuruh beberapa orang menjemput ke mari apabila sudah tiba waktunya. Kalau angger sudah kembali ke Karang Tumaritis, biarlah kelak di jemput pula ke sana. Bukankah begitu? Kelak angger bisa pergi bersama ayah.”

Widuri kemudian menjadi bersungut-sungut. Bahkan tampaklah matanya menjadi basah. Ia menjadi sangat kecewa. Katanya kemudian, “Aku tidak mau dijemput oleh sembarang orang.”

Demang Sarayuda tersenyum. Jawabnya, “Baiklah, besok aku sendiri akan menjemput angger. Begitu?”

Widuri tidak menjawab. Namun tiba-tiba ia berdiri dan berlari masuk ke dalam biliknya. Alangkah kecewa hatinya, bahwa ia tidak dapat turut serta dengan Rara Wilis. Meskipun mereka berdua bukan sanak bukan kadang, namun perpisahan di antara mereka benar-benar tidak menyenangkan. Pergaulan mereka yang ditandai dengan berbagai kesulitan, benar-benar telah mengikat mereka dalam suatu ikatan yang sangat erat. Tidak saja Widuri yang menjadi sedih akan perpisahan itu, tetapi Rara Wilis pun merasakan, bahwa ia akan menjadi kesepian tanpa gadis yang nakal itu.

Tetapi Kebo Kanigara benar-benar berhalangan untuk turut serta pergi ke Gunungkidul. Masih ada suatu pekerjaan yang mengikatnya di Banyubiru. Pekerjaan yang ditimbulkan oleh kemenakannya yang nakal.
(Bersambung)-o

817

MAHESA Jenar pun menjadi kecewa. Tetapi ia dapat mengerti keberatan Kebo Kanigara. Meskipun demikian Mahesa Jenar itu berkata, “Kakang. Sebenarnya aku sangat mengharap kakang untuk ikut serta bersama kami.”
Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya katanya. “Aku juga menyesal sekali Mahesa Jenar. Tetapi barangkali kau dapat mengerti apa yang akan aku lakukan. Karena itu biarlah lain kali aku menyusul ke Gunungkidul bersama Widuri.”

Sesaat mereka pun berdiam diri. Arya Salaka menundukkan kepalanya. Semula ia ingin juga turut pergi ke Gunungkidul mengantarkan gurunya. Tetapi ketika ia mengetahui, bahwa Endang Widuri tidak diperbolehkan oleh ayahnya ikut dalam rombongan itu, maka ia menjadi bimbang. Keinginannya untuk turut pun terlalu besar, namun terasa sesuatu yang menahannya untuk tinggal di rumah. Karena itu, anak muda itu bahkan menjadi bingung. Sehingga akhirnya Arya pun hanya berdiam diri saja.

“Ah, terserah apa yang akan aku lakukan nanti,” desisnya di dalam hati. “Kalau tiba-tiba aku ingin berangkat biarlah aku berangkat. Kalau aku ingin tinggal, biarlah aku tinggal.”

“Tetapi”, berkata pula hatinya. “Bagaimana kalau guru mengajakku?”

“Entahlah”, jawabnya sendiri di dalam hati.

Malam itu Sarayuda dan para pengiringnya bermalam di rumah itu pula. Karena tempatnya yang terbatas, maka para tamu itu dipersilakan tidur di pendapa, di atas tikar pandan yang dirangkap supaya tidak terlalu dingin.

Dalam pada itu Mahesa Jenar dan Rara Wilis pun segera mempersiapkan dirinya. Tetapi tidak banyaklah yang mereka punyai. Mereka tidak sempat berbuat untuk diri mereka sendiri selama ini. Karena itu, apa yang dimilikinya pun hampir tidak ada. Hanya beberapa lembar pakaian yang sudah lungset tanpa perhiasan apapun bagi Mahesa Jenar hal itu hampir tak berpengaruh pada perasaannya.

Tetapi bagi Rara Wilis, terasa sekali alangkah miskinnya. Ia sama sekali tidak memiliki perhiasan apapun sebagai seorang gadis. Bahkan yang dimilikinya adalah sebilah pedang. Pedang tipis yang telah dikotori dengan darah.

Mahesa Jenar terkejut ketika tiba-tiba dilihatnya wajah Rara Wilis menjadi suram. Karena itu dengan dada yang berdebar-debar mencoba bertanya. “Wilis. Adakah sesuatu yang mengganggu perasaanmu?”
Rara Wilis terkejut mendengar pertanyaan itu. Segera dicobanya untuk menguasai perasaannya. Dengan sebuah senyuman yang dipaksakan ia menjawab, “Kenapa? Aku tidak apa-apa kakang. Aku sedang berpikir tentang hari-hari yang akan datang.”

“Oh” Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak membantah. Namun ketika dilihatnya sekali lagi Rara Wilis merenungi kainnya yang hampir-hampir sudah kehilangan warnanya, maka hatinya pun berdesir.

“Hem “ desahnya di dalam hati. “Ternyata aku tidak menyadari, bahwa tekanan perasaan Wilis sudah terlampau padat. Agaknya dalam ketegangan kewajiban yang aku hadari, gadis itu tidak sempat memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Namun dalam kesempatan seperti ini, barulah disadarinya perasaan itu. Perasaan seorang gadis.”

Tetapi Mahesa Jenar tidak berkata apapun. Ia masih belum tahu, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan kebutuhan-kebutuhan yang wajar bagi sebuah keluarga. Apapun yang dilakukannya, maka apabila sampai saatnya, maka hal itu tidak akan mungkin dapat diabaikan.Ia tidak dapat membutakan matanya, seandainya pada suatu saat ia dikejar-kejar oleh keperluan-keperluan tetek bengek itu. “Itu merupakan suatu kewajiban”, desahnya.

Mahesa Jenar itu pun kemudian berjalan keluar bilik Rara Wilis, dan ke halaman. Dilihatnya beberapa orang sudah berbaring-baring di pendapa, sedang beberapa orang lagi masih duduk-duduk di antara mereka. Bahkan ada juga yang masih berjalan-jalan di luar regol halaman.

Ketika Mahesa Jenar pergi keluar regol pula, maka orang-orang dari Gunungkidul itu bertanya-tanya tentang beberapa hal kepadanya.

“Tanah ini cukup subur” berkata salah seorang dari mereka, “Tanah yang akan memberikan apa saja yang diharapkan oleh penggarapnya.

“Demikianlah” sahut Mahesa Jenar, “Tanah yang telah dipertahankan dengan banyak pengorbanan.”

Tamu dari Gunungkidul itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Tanah kami adalah tanah yang bercampur-baur. Ada yang subur sesubur tanah ini. Ada yang menggantungkan airnya dari air hujan melulu. Bahkan ada yang hanya dapat dijadikan padang-padang rumput untuk peternakan. Bahkan ada yang batu melulu.”

Mahesa Jenar mengangguk lemah. Tanah ini adalah tanah yang subur, yang telah dipertahankan dengan darah dan air mata. Dirinya sendiri pun telah ikut serta memeras keringat untuk kepentingan tanah ini. Tanah yang subur, yang akan dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan penduduknya. Bahkan siapa yang bekerja keras, pasti akan dapat segera menikmati hasil dari jerih payahnya itu. (Bersambung)-k

 


818

“Tetapi aku tidak dapat ikut serta” desis Mahesa Jenar didalam hati.

Timbullah didalam hatinya sesuatu yang tak pernah dipikirkannya. Kalau ia nanti akan membangun rumah tangga yang kuat, maka ia harus membuat tiang-tiangnya kuat pula. Diantaranya, bagaimana ia harus hidup sekeluarganya. Karena itu, maka sampailah Mahesa Jenar pada suatu kesimpulan. “Bekerja”.

“Ah” kembali ia berdesah di dalam hati, “Akhirnya aku sampai pada persoalan itu. Persoalan yang sangat pribadi. Persoalan yang hampir tak ada sangkut pautnya dengan pengabdian yang selama ini dilakukannya. Tetapi apakah dengan demikian maka segenap pengabdian harus terhenti?”

“Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Aku akan dapat dan harus dapat melakukan kedua-duanya sekaligus. Mudah-mudahan Wilis akan dapat mengerti pula.”

Tiba-tiba teringatlah Mahesa Jenar itu kepada masa-masa lampaunya, masa-masa ia tinggal di istana Demak sebagai seorang prajurit. Dikenangnya pula beberapa orang kawan-kawannya yang pada saat itu telah berkeluarga pula. Katanya didalam hati, “Mereka dapat melakukan kedua-duanya. Pengabdian dan keluarga.”

“Tetapi tidak hanya didalam istana, atau didalam bidang-bidang itu kedua-duanya dapat dilakukannya sekaligus”, katanya pula.

“Disini, aku lihat rakyat Banyubiru melakukannya pula. Bekerja untuk keluarganya, namun mereka melakukan pengabdiannya untuk tanahnya. Membangun tanah ini. Tempat-tempat ibadah, banjar-banjar desa dan surau-surau tempat pendidikan lahir dan batin. Bekerja keras untuk kesejahteraan keluarganya dan kesejahteraan bersama.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu teringat pada ceritera Wanamerta tentang seorang bahu yang pernah mencoba menyuapnya dengan timang emas bertretes berlian. “Bukan itu”, desah Mahesa Jenar di dalam hatinya, “Bukan seperti bahu itu. Ia bekerja untuk diri sendiri, tetapi bukan untuk sebuah pengabdian . Justru ia menghisap hidup disekitarnya untuk kepentingannya. Dibiarkannya orang-orang disekitarnya kering, namun dirinya sendiri menimbun kekayaan tanpa batas.”

Namun bagaimana pun juga, Mahesa Jenar dihadapkan pada suatu kewajiban yang baru. Kuwajiban atas sebuah keluarga yang bakal disusunnya. Kuwajiban yang tidak kalah sucinya dari kuwajiban yang telah dilakukannya selama ini. Sebab dengan keluarga yang baik Yang Maha Esa telah mempergunakan untuk menangkar-lipatkan jumlah manusia di dunia untuk memelihara dan memanfaatkan ciptaan-Nya dengan baik.

Demikianlah, rombongan Sarayuda itu tinggal di Banyubiru untuk dua hari lamanya. Selama itu mereka telah melihat-lihat Banyubiru dengan baik. Apa yang dapat dilakukan di daerah Demang yang kaya raya itu, telah mereka pelajari, sedang apa yang baik bagi Banyubiru telah disarankannya pula.

Sehingga sampailah pada saatnya mereka meninggalkan Banyubiru. Dua hari kemudian, maka bersiaplah rombongan itu meninggalkan Banyubiru beserta Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Ki Ageng Gajah Sora dengan menyesal tak dapat ikut serta bersama mereka pergi ke Gunungkidul karena keadaan daerahnya yang masih harus mendapat pengawasannya. Kebo Kanigara terikat pada suatu kuwajiban yang tak dapat ditinggalkannya pula. Sedang Endang Widuri dengan penuh penyesalan terpaksa tidak dapat mengikuti Rara Wilis ke Gunungkidul. Pada saat-saat terakhir itu pun kemudian Arya Salaka memutuskan untuk tidak turut bersama gurunya, meskipun ada juga keinginan yang melonjak-lonjak.

Dalam kesempatan itu Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Lembu Sora pun telah memerlukan datang ke Banyubiru untuk menyampaikan ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar. Orang yang aneh didalam tanggapannya. Orang yang hampir tak dapat dimengertinya, apakah yang telah menjadikannya seorang yang memiliki jiwa pengabdian yang sedemikian besarnya.

Sebelum matahari sepenggalah, maka rombongan itu telah bersiap untuk berangkat. Ternyata Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak hanya memerlukan dua ekor kuda untuk mereka. Seekor kuda yang lain, tanpa sepengetahuan mereka telah dipisahkan oleh Ki Ageng Gajah Sora. Dipunggung kuda itu terdapat sebuah beban yang tak diketahui isinya. Beban yang telah diatur oleh Nyi Ageng Gajah Sora bersama Nyi Ageng Lembu Sora.

Terharu juga Mahesa Jenar melihat kuda yang seekor itu tentu saja ia tidak dapat menolak untuk tidak menyakiti hati Ki Ageng Gajah Sora kakak beradik. Perpisahan itu merupakan perpisahan yang mengharukan. Meskipun mereka tahu, bahwa suatu ketika Mahesa Jenar akan kembali pula, namun seakan-akan mereka bertemu pada saat itu untuk terakhir kalinya. Apalagi Endang Widuri. Ketika kemudian Sarayuda minta diri dengan serta merta gadis itu berlari menghambur memeluk Rara Wilis.

Sambil menangis Widuri berkata, “Bibi, jangan pergi terlalu lama.”

Rara Wilis pun seorang gadis pula. Karena itu maka ia pun tidak dapat menahan air matanya. Apalagi ketika dilihatnya Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora pun menjadi berlinang-linang. Teringat pula oleh mereka berdua, pada saat-saat mereka berhadapan dengan Galunggung yang sedang dihinggapi oleh kegilaannya tentang pangkat dan kekayaan, sehingga hampir saja mereka berdua dibunuhnya. Untunglah pada saat itu Rara Wilis hadir diantara mereka, sehingga sebenarnyalah gadis itulah yang telah menyambung umurnya.

“Widuri” berkata Rara Wilis itu kemudian. “Perpisahan ini tidak akan terlalu lama. Bukankah kau segera akan menyusul kami ke Gunungkidul?”

Endang Widuri mengangguk perlahan. Dipalingkannya wajahnya kepada ayahnya seakan-akan ia minta ketegasan daripadanya.(Bersambung)-c

 

819

Sebenarnya Kebo Kanigara merasa kasihan juga kepada putrinya itu. Tetapi terpaksa ia tidak dapat mengijinkannya, karena ia sendiri tidak dapat pergi.

Anak itu adalah anak yang sangat nakal, sehingga betapapun juga, maka Kebo Kanigara itu tidak sampai hati melepaskannya tanpa pengawasannya. Apalagi nanti Mahesa Jenar dan Rara Wilis sedang disibukkan oleh persoalan mereka sendiri, maka Widuri akan sangat mengganggu mereka, dan kadang-kadang pasti akan lepas dari pengawasan. Karena itu, betapa pun juga, maka Kebo Kanigara berusaha untuk tetap melarang anaknya ikut serta.

Ketika anaknya itu berpaling kepadanya, maka katanya, “Ya Widuri. Segera kita akan menyusul ke Gunungkidul. Kemarin aku sudah mendapat ancar-ancar, kemana kita nanti harus pergi. Jalan mana yang harus kita tempuh, dari pamanmu Sarayuda. Kalau kau bersabar sedikit bukankah pamanmu Sarayuda bersedia untuk menjemputmu?”

Akhirnya Rara Wilis itupun dilepaskannya juga, meskipun tangisnya mash saja menyesakkan dadanya, sementara Mahesa Jenar menepuk punggung muridnya. “Kau sudah menjelang dewasa penuh Arya. Sudah seharusnya kau menyadari keadaanmu itu. Bekerja keras membantu ayahmu. Tak ada orang lain yang diharapkannya selain daripadamu.”

Arya mengangguk sambil menjawab, “Ya paman”.

Maka kemudian sampailah saatnya rombongan itu berangkat. Perpisahan yang mengesankan.

Rara Wilis masih melihat Endang Widuri berlari masuk ke gandok kulon, sedang kemudian Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menyusulnya. Sebuah salam yang erat sebagai tanda terima kasih yang tak ada batasnya, telah diberikan oleh Mahesa Jenar langsung, namun lebih daripada itu, Mahesa Jenar telah membentuk Arya Salaka menjadi harapan bagi masa datang.

Satu demi satu, maka kemudian keluarlah mereka dari halaman di atas punggung kuda masing-masing. Bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis perjalanan yang akan ditempuh itu terasa aneh. Perjalanan yang jauh berbeda dengan semua perjalanan yang pernah mereka lakukan. Kalau pada masa lampau mereka berjalan dengan penuh keprihatinan, maka perjalanan kali ini adalah perjalanan menunju ke hari-hari yang cerah. Namun karena itulah maka dada mereka menjadi berdebar-debar.

Setelah mereka meninggalkan halaman itu maka mulailah kuda mereka berjalan agak cepat. Beberapa orang melihat rombongan itu menganggukkan kepala mereka. Mereka memberikan hormat setulus-tulusnya kepada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Bahkan Ki Wanamerta, Jaladri, Bantaran dan Penjawi telah ikut serta dengan rombongan itu, mengantarkan sampai ke perbatasan kota. Bukan hanya mereka. Beberapa orang lain pun telah ikut pula, sehingga rombongan itu menjadi semakin panjang.

Di perbatasan kota mereka berhenti sesaat. Wanamerta yang tua itu memerlukan mengucapkan selamat jalan, mengucapkan terima kasih atas nama segenap rakyat Banyubiru dan ternyata orang tua yang telah menjadi hampir bulat kembali itu meneteskan air mata.

“Selamat tinggal paman” berkata Mahesa Jenar kemudian.

Wanamerta mengangguk. Ingin ia menjawab, namun suaranya tersangkut dikerongkongan.

Yang terdengar kemudian hanyalah sebuah jawaban pendek, “Ya, ya angger.”

Mahesa Jenar itu pun kemudian meneruskan perjalanannya. Dimuka sendiri Demang Sarayuda mulai mempercepat jalan kudanya. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang panjang. Namun mereka tidak usah takut terhadap siapa pun sehingga mereka tidak perlu memilih jalan-jalan yang tersembunyi. Atau mereka pun sama sekali tidak berkepentingan dengan apapun selama perjalanan mereka. Karena itulah maka perjalanan itu akan tidak terganggu.

Disepanjang jalan itu Rara Wilis telah mulai menganyam angan-angannya menjelang masa-masa yang akan datang. Hal yang lumrah bagi gadis-gadis yang akan menginjak masa-masa yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Rara Wilis pun adalah seorang gadis biasa. Meskipun kadang-kadang dilambungnya tersangkut sebilah pedang, dan bahkan pedang yang telah berbekas darah, namun dalam saat-saat yang demikian ia adalah seorang gadis. Tidak lebih daripada itu. Karena itulah maka ia mendambakan masa yang berbahagia, masa yang bagi Rara Wilis sebenarnya telah terlalu lambat.

Sepeninggal Mahesa Jenar dan Rara Wilis terasa rumah Ki Ageng Gajah Sora menjadi sepi. Apalagi ketika Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Pamingit.

Namun meskipun demikian, kehadiran Endang Widuri di Banyubiru, masih dapat menyejukkan suasana rumah Ki Ageng Gajah Sora itu. Untuk menghilangkan kejemuannya Endang Widuri bekerja apa saja yang dapat dilakukannya. Menanami halaman, yang seakan-akan halamannya sendiri. Ikut menanam padi disawah. Menyiangi dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sebagai seorang gadis Widuri senang juga membantu Nyai Ageng Gajah Sora didapur. Menyiapkan makan dan minuman.

Ki Ageng Gajah Sora pun masih mempunyai kawan bercakap-cakap. Kebo Kanigara, meskipun pada saat-saat terakhir Kebo Kanigara sering meninggalkan rumah, dan tak pernah ia berkata tentang apapun juga kepada putrinya. Widuri pun menyadari keadaanya. Ia merasa masih terlalu kecil untuk berbicara tentang masalah-masalah yang berat dengan ayahnya. Karena itu, maka jarang sekali Widuri bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya. Gadis itu lebih senang bercakap-cakap dengan Arya Salaka di pendapa atau dengan Nyai Ageng Lembu Sora dibelakang. (Bersambung)-c

 

820

Meskipun demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat-saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.

Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.

Namun sekali-kali gadis itu teringat pula kepada Rara Wilis. Karena itu, maka sekali-kali ia bertanya pula kepada ayahnya. “Ayah, apakah pekerjaan ayah masih belum selesai?”

Kebo Kanigara menggeleng, “Belum Widuri.”

“Kapan kita menyusul bibi Wilis?”

“Sebentar lagi”, sahut ayahnya. “Sebentar lagi aku akan pergi ke Karang Tumaritis. Pamanmu Mahesa Jenar berpesan kepadaku, untuk atas namanya, mohon diri kepada Panembahan. Bukankah Panembahan telah berjanji untuk pergi ke Gunungkidul? Kau dengar juga bukan? Nah. Kalau demikian, sebaiknya kita pergi bersama dengan Panembahan kelak.”

Dengan kesanggupan itu hati Widuri terhibur pula sedikit. Tetapi dalam pada itu, ia heran juga, apa sajakah yang dilakukan oleh ayahnya di Banyubiru? Namun Kebo Kanigara tak pernah menyebut-nyebutnya. Dan Widuripun tidak bertanya-tanya pula.

WIDURI HILANG

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan Banyubiru yang belum beberapa lama mengalami ketenangan kini telah diguncangkan kembali dengan suatu peristiwa yang tak disangka-sangka sama sekali.

Pada hari itu, segenap kentongan tanda bahaya menggema di lerang bukit Telamaya. Tanda bahaya yang benar-benar mengejutkan setiap orang. Mereka tidak melihat tanda-tanda apapun yang terjadi, namun tiba-tiba mereka mendengar tanda bahaya itu. Sesaat kemudian mereka melihat, beberapa orang penunggang kuda berlari-lari memacu kudanya kesegenap penjuru. Bahkan Arya Salaka sendiri seperti orang yang menjadi gila.

Gajah Sora, Kebo Kani gara, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan semua laskar di Banyubiru memencar di atas kuda masing-masing.

“Apakah yang terjadi?” bertanya seseorang.

Orang yang ditanyanya menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian wajahnya menjadi pucat pula. “Entahlah.” Baru sesaat kemudian, ketika mereka melihat seorang berkuda berlari dihadapan mereka, maka berteriaklah mereka itu, “Ada apa?”

“Endang Widuri hilang.”

“He”, tetapi orang berkuda itu telah jauh. Dua orang yang lain menyusul pula dibelakang orang berkuda yang pertama. Tetapi kepada orang itu pun mereka tidak sempat bertanya apa-apa.

Nyai Ageng Gajah Sora pada saat itu menangis di dalam biliknya. Gadis itu bukan anaknya, tetapi benar-benar seperti anak gadis yang telah dilahirkannya sendiri. Gadis itu memang nakal, tetapi menyenangkan.

Banyak hal-hal yang menarik dilakukan oleh gadis itu. Apabila tak seorang pun yang ada, pada saat Nyai Ageng membutuhkan beberapa butir kelapa, maka dengan tangkasnya gadis itu memanjatnya. Bahkan sampai batang yang paling tinggi sekalipun.

Namun gadis itu pandai juga memasak dan bercerita. Pandai menjahit dan pandai juga berdendang. Namun tiba-tiba gadis itu hilang.

Di hadapan Nyai Ageng Gajah Sora itu duduk bersimpuh seorang gadis pula. Gadis itu juga menangis seperti Nyai Ageng. Dan dari gadis itulah Banyubiru mendengar berita tentang hilangnya Widuri. Nyai Ageng Gajah Sora, sambil mengusap air matanya berkata, “Apakah tak ada orang lain di belumbang itu?”

Gadis itu menggeleng, “Tidak Nyai Ageng. Waktu aku datang, aku sempat mendengar ceritanya. Ketika aku berlari-lari menengoknya, aku hanya melihat bayangan seorang anak muda memapahnya berlari masuk ke dalam semak-semak.”

Nyai Ageng Gajah Sora termenung sejenak. Adalah aneh sekali, bahwa hal itu dapat terjadi. Widuri bukanlah gadis biasa seperti gadis yang bersimpuh di hadapannya itu. Widuri adalah seorang gadis yang memiliki beberapa macam keanehan. Gadis itu mampu berkelahi seperti laki-laki. Bahkan melampaui kemampuan seorang laskar Pamingit yang dapat dianggap kuat, Galunggung. Kenapa ia tidak memukul saja anak muda yang menculiknya itu?

Berbagai persoalan melingkar-lingkar didalam dadanya. Heran, kecewa menyesal dan berpuluh-puluh persoalan yang lain.

“Apakah kau dapat mengira-irakan, kemana Endang Widuri itu dibawa?” bertanya Nyai Ageng itu pula. Gadis itu menggeleng, “Aku tidak tahu Nyai. Namun aku melihat mereka menyusup ke arah Timur. Tetapi untuk seterusnya aku tidak tahu, sebab aku langsung berlari memberitahukannya kemari.”(Bersambung)-m

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

No. 821

Nyai Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dalam kegelapan nalar Nyai Ageng hanya dapat menangis.

Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi marah bukan buatan. Gadis itu hilang di dalam wilayahnya. Endang Widuri baginya adalah seorang tamu. Karena itu, maka ia merasa bertanggungjawab pula atas kehilangan itu.

Dengan menggeratakkan giginya, Ki Ageng Gajah Sora memacu kudanya pergi ke belumbang yang sebenarnya tidak begitu jauh. Demikian ia sampai di belumbang, demikian ia meloncat turun, di ikuti oleh Arya Salaka dan Kebo Kanigara sendiri, disamping beberapa orang lain. Tanpa mendapat perintah segera mereka memencar diri, mengamat-amati setiap pertanda yang mungkin dapat dijadikan alasan untuk mengetahui, siapakah yang telah melakukan perbuatan itu.

Di belumbang itu masih tinggal beberapa potong pakaian Endang Widuri yang belum sempat dicucinya. Beberapa helai telah dicelupkannya ke dalam air, sedang beberapa helai yang lain masih kering terletak di tepian.

“Anak itu tidak banyak mendapat kesempatan,” desis Gajah Sora. Kebo Kanigara memandangi pakaian anaknya dengan mata yang suram. Namun mulutnya terkatub rapat-rapat. Tak sepatah kata pun yang diucapkannya. Dengan tangan yang gemetar ia berjongkok, meraih pakaian-pakaian anaknya itu, dan kemudian dimasukkannya kedalam bakul. Perlahan-lahan kemudian terdengar ia bergumam, “Biarlah pakaian Widuri ini aku simpan baik-baik. Aku yakin, pada suatu saat ia akan kembali lagi kepadaku.”

Mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu Gajah Sora hanya dapat menarik nafas. Namun terucapkan janji didalam hatinya, bahwa kekuatan yang ada di Banyubiru harus mampu menyerahkan anak itu kembali kepada ayahnya.

Arya Salaka kemudian tidak mau merenung-renung lebih lama di tepi belumbang itu. Ia telah mendengar pula, bahwa Widuri di bawa menyusup ke arah timur. Karena itu, maka ia pun mencoba melihat arah yang dikatakan itu. Di amat-amatinya setiap jengkal tanah, mungkin ia akan dapat menemukan jejak. Hati Arya Salaka terlonjak ketika benar-benar ditemukannya jejak itu. Jejak yang benar-benar masuk ke dalam gerumbul ke arah Timur. Karena itu dengan hati-hati ia mengikuti jejak itu.

Namun alangkah kecewanya anak muda putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru itu. Jejak itu hanya dapat di ikuti beberapa langkah. Kemudian hilang di atas rerumputan yang liar. Betapa pun Arya Salaka mencoba mencarinya, namun sia-sia saja.

Arya Salaka itu pun kemudian menyusup lebih dalam lagi. Ia kini mencari jejak pada ranting-ranting di sekitarnya. Sekali ia melihat sebuah ranting yang patah. Namun kembali ia kehilangan kesempatan untuk mengikutinya. “Setan”, desis Arya Salaka yang benar-benar menjadi gemetar karena marah.

Namun ia tidak tahu, bagaimana ia akan menumpahkan kemarahannya. Karena itu, direnggutnya setiap dahan, ranting dan apa saja yang teraba oleh tangannya. Ketika Arya Salaka itu sudah yakin, bahwa tidak akan diketemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan jalan kemana mereka harus mencari, maka segera Arya meninggalkan belumbang itu langsung meloncat di atas kudanya.

Dengan kecepatan penuh, Arya berpacu ke arah timur. Tetapi ia tidak tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia pergi demikian saja karena gelora di dalam dadanya, tanpa diketahuinya arah yang pasti. Demikian juga para pemimpin dan laskar Banyubiru yang lain. Mereka berpacu ke segenap arah. Namun mereka pun hanya sekadar mencoba mencari kemungkinan untuk melihat atau menemukan gadis yang hilang tanpa pegangan yang pasti. Mereka itu sedang berusaha mencari yang hilang tanpa petunjuk-petunjuk sama sekali. Karena itu alangkah sulitnya.

Sehari itu, seluruh daerah Banyubiru telah di aduk oleh laskar Banyubiru. Hampir setiap orang turut serta dalam pencaharian itu. Namun Endang Widuri tidak dapat diketemukan. Gadis itu seakan-akan hilang di telan oleh retak tanah perdikan Banyubiru. Bahkan tidak saja kota Banyubiru, namun para penunggang kuda telah jauh menjorok ke segenap arah. Namun usaha mereka sia-sia belaka. Arya Salaka sendiri bersama beberapa orang telah sampai ke daerah Rawa Pening. Di obrak-abriknya daerah bekas sarang Uling Putih dan Uling Kuning, seandainya ada sisa-sisa gerombolan itu yang sengaja membuat Banyubiru kacau. Namun Endang Widuri tidak ada di sana, dan tak diketemukannya pertanda, bahwa tempat itu masih didiami orang.

Malam itu, para pemimpin Banyubiru berkumpul di pendapa rumah Ki Ageng Gajah Sora. Peristiwa hilangnya Widuri bagi Banyubiru tidak dapat di anggap sebagai suatu persoalan yang kecil. Pesoalan itu sama besarnya dengan hadirnya golongan hitam di tanah mereka. Karena itu maka setiap kekuatan yang ada harus dikerahkan untuk memecahkan peristiwa itu. Namun tak seorang pun yang dapat mengemukakan pendapat mereka tentang hilangnya Endang Widuri. Mereka diliputi oleh suasana yang gelap pekat. Tak ada setitik api pun yang dapat memberi petunjuk kepada mereka, tentang persoalan yang menggemparkan itu.

Dalam ketegangan itu terdengar Arya Salaka berdesis, “Peristiwa ini benar-benar memalukan tanah perdikan ini ayah. Karena itu, maka Endang Widuri harus diketemukan segera.”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gajah Sora dan bahkan beberapa orang lain mengetahui bahwa Arya Salaka tidak saja tersinggung kehormatan atas hilangnya tamunya itu, namun jauh lebih daripada itu. Hampir setiap orang di pendapa itu mengetahuinya, bahwa Arrya Salaka dan Endang Widuri agaknya telah masuk ke dalam suatu ikatan dan tidak dapat dirumuskan oleh mereka yang mengalaminya. Karena itu, maka adalah wajar sekali kalau Arya Salaka benar-benar menjadi sangat marah dan bingung. (Bersambung)-c

 

822

“Aku sependapat dengan kau Arya”, jawab ayahnya. “Kini kita sedang mencari setiap kemungkinan untuk itu.”

“Apa pun yang akan terjadi, kita harus menemukannya kembali.” sahut Arya pula.

“Ya. Tentu,” berkata ayahnya pula. Namun terbayang di wajahnya Ki Ageng Gajah Sora keragu-raguan yang menggelisahkan. Kemana harus dicari anak itu? Sejak pagi, Ki Ageng Gajah Sora telah memerintahkan beberapa orang yang pergi ke Pamingit. Memberitahukan kehilangan itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana. Dan ternyata, Pamingit pun telah menjadi gelisah pula. Senja itu telah datang utusan Ki Ageng Lembu Sora untuk menanyakan apakah Endang Widuri sudah diketemukan.

Dan utusan itu pun kembali dengan membawa berita, bahwa persoalan Widuri masih gelap.

Dalam kegelapan pikiran, tiba-tiba Arya Salaka teringat kepada gurunya, Mahesa Jenar. Meskipun ia kini telah berhadapan dengan berpuluh-puluh orang, dan bahkan ada di antara mereka, ayahnya dan Kebo Kanigara, ayah gadis itu, namun ada sesuatu yang menyentuh perasaannya, bahwa gurunya akan dapat membantunya. Mahesa Jenar bagi Arya Salaka merupakan tempat untuk berlindung hampir enam tahun lamanya. Tempat Arya Salaka menggantungkan hidup matinya dalam masa-masa yang berbahaya. Karena itu, hampir dalam semua kesulitan, Arya selalu teringat kepada gurunya itu.

“Ayah, aku akan berusaha memberitahukan kehilangan ini kepada paman Mahesa Jenar.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangkat wajahnya. Dilihatnya Kebo Kanigara pun terkejut mendengar kata-kata Arya itu, sehingga kemudian katanya,

“Jangan Arya. Jangan mengganggu pamanmu itu.”

Ki Ageng Gajah Sora ternyata sependapat pula dengan Kebo Kanigara. Karena itu maka ia berkata pula, “Ya, Arya. Biarlah pamanmu Mahesa Jenar beristirahat. Selama ini hampir-hampir seluruh hidupnya telah dicurahkan untuk kepentingan orang lain. Kepentingan kita. Karena itu, maka biarlah kali ini pamanmu Mahesa Jenar tidak terganggu. Biarlah kita yang berada di Banyubiru ini berusaha sekuat-kuat tenaga kita. Tetapi kita sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa Endang Widuri harus diketemukan.”

Arya Salaka menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak puas dengan jawaban-jawaban itu. Betapa pun juga, maka dalam kesulitan ini, ia akan merasa lebih tenang apabila gurunya ada disampingnya.

Kebo Kanigara melihat perasaan yang tergores di hati Arya Salaka. Maka katanya, “Arya. Marilah kita mencoba menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya aku sendiri sangat gelisah atas hilangnya Endang Widuri. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang hanya dapat meratap. Aku sendiri sudah tentu akan berusaha untuk menemukan anak itu. Dan aku akan berterima kasih seandainya Ki Ageng Gajah Sora, beserta kekuatan-kekuatan yang ada di Banyubiru untuk membantunya. Namun dengan sepenuh hati aku tidak pernah meletakkan kesalahan ini kepada orang lain. Apalagi kepada Banyubiru sebab hal yang demikian itu akan dapat terjadi, kapan saja dan dimana saja. Karena itu, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri dan Banyubiru.”

Arya Salaka masih belum menjawab. Dicobanya untuk mencari alasan yang sebaik-baiknya, agar orang-orang lain tidak mau mengerti, kenapa ia berkepentingan akan hadirnya Mahesa Jenar.

Sebenarnya Arya Salaka pun menyadari, apa yang dapat dilakukan oleh gurunya itu. Gurunya tidak melihat pada saat Endang Widuri itu hilang. Kalau Kebo Kanigara, ayah gadis itu sendiri yang sedang berada di Banyubiru, tidak segera dapat menemukannya, apalagi Mahesa Jenar. Arya Salaka itu tahu pasti, bahwa tingkat kesaktian gurunya tidak akan dapat melampaui Kebo Kanigara itu. Meskipun demikian, perasaannya selalu mendesaknya supaya memberitahukan peristiwa itu kepada gurunya.

Pendapa Banyubiru itu sesaat menjadi hening sepi. Angin malam yang lembut menggerakkan daun-daun sawo di halaman. Dikejauhan terdengar lamat-lamat suara anjing liar di lereng-lereng bukit sedang berjuang berebut makanan.

Melihat daun-daun sawo itu yang bergerak-gerak itu, tiba-tiba bulu kuduk Wanamerta berdiri. Meskipun ia tidak takut, namun apabila teringat bahwa ia pernah melihat daun-daun itu bergetar, dan kemudian terjunlah seseorang yang menamakan dirinya Wadas Gunung, hatinya masih saja berdesir.

Untunglah bahwa kekuasaan Yang Maha Kuasa ternyata telah menyelamatkan Banyubiru.

Dalam keheningan itulah kemudian terdengar Arya Salaka berkata perlahan-lahan, namun jelas terdengar kata demi kata. “Ayah. Aku tidak ingin mengganggu paman Mahesa Jenar. Aku sudah cukup menerima perlindungan dan bahkan apa saja yang ada pada paman Mahesa Jenar itu. Ilmunya dan ajaran-ajaran yang sangat berguna. Tetapi karena itulah barangkali yang telah mengikat aku dalam satu sikap, seakan-akan semuanya tergantung kepada paman Mahesa Jenar. Kalau kali ini aku masih akan memberitahukan hilangnya Endang Widuri kepada paman Mahesa Jenar, maka hal itu pasti juga karena terpengaruh oleh perasaanku itu. Tetapi seandainya demikian, seandainya aku masih harus mengganggu guru, mudah-mudahan kali ini untuk yang terakhir kalinya. Dan biarlah aku hanya sekadar memberitahukan akan kehilangan itu. Kalau paman Mahesa Jenar masih belum sempat berbuat sesuatu, biarlah guru tidak usah datang ke Banyubiru.”

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan apa yang sedang bergolak didalam dada anak itu. Anak itu pasti akan merasa bersalah kelak, apabila gurunya bertanya kepadanya, kenapa hal itu tidak diberitahukannya. Karena itu, maka akhirnya Ki Ageng Gajah Sora itu berkata.

“Arya. Kalau kau akan memberitahukan kepada pamanmu, baiklah. Tetapi ingat, hanya sekadar memberitahukan. Jangan sekali-kali kau mengharap pamanmu itu datang kemari apabila tidak atas kehendaknya sendiri.”

 


No. 823

Arya kemudian mengangkat wajahnya. Ia menjadi bergembira mendengar jawaban ayahnya. Dengan gurunya setidak-tidaknya nasehatnya, Arya merasa, bahwa kekuatannya akan bertambah. Namun di samping itu timbul pula perasaan malunya, bagaimana nanti kalau gurunya itu menganggap bahwa ia masih saja tidak mampu berbuat sendiri. Tetapi kali ini ia memandang kejadian itu sangat pentingnya. Endang Widuri telah melakukan banyak hal dalam lingkungan bersama dengan gurunya dan Rara Wilis. Maka mau tidak mau, pasti ada sesuatu ikatan yang menghubungkan mereka. Sehingga tidaklah akan berlebihan apabila hal itu diberitahukannya kepada gurunya.

Namun Kebo Kanigara agaknya menjadi kecewa atas keputusan Ki Ageng Sora Dipayana. Dengan nada yang rendah ia berkata, “Ki Ageng, aku akan sangat berterima kasih atas segala susah payah yang telah Ki Ageng lakukan. Tidak saja pada saat-saat anakku satu-satunya itu hilang. Tetapi selama ini, aku telah mendapat tempat yang sangat baik di Banyubiru. Karena itu tidak sewajarnya kalau aku akan selalu terus menerus membebani Ki Ageng dengan persoalan-persoalanku. Kini persoalan hilangnya Widuri. Juga terhadap Mahesa Jenar yang selama ini hampir tidak pernah dapat menikmati hari-hari yang tenang. Karena itu, biarlah aku mencoba untuk mencarinya. Tanpa mengurangi penghargaan atas segala bantuan Ki Ageng, namun adalah menjadi bubuhanku bahwa Endang Widuri harus diketemukan.”

“Tidak paman,” tiba-tiba Arya menyahut. “Tidak saja paman, tetapi kami, kita semua kebubuhan mencarinya. Juga paman Mahesa Jenar, wajib diberitahu atas peristiwa ini.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora menyambung, “Arya benar, kakang Kebo Kanigara. Apa yang kami lakukan adalah kewajiban, disamping sebagai pernyataan terima kasih atas apa saja yang pernah kakang lakukan di Banyubiru dan Pamingit. Dan apa yang pernah dilakukan oleh Endang Widuri sendiri.”

Kebo Kanigara sudah barang tentu tidak dapat menolak uluran tangan itu. Maka jawabnya, “Terima kasih Ki Ageng.”

Sekali lagi pendapa itu diterkam oleh kesepian. Sekali-kali Wanamerta melihat daun-daun sawo bergoyang-goyang. Dan sekali lagi dadanya berdesir karenanya. Tetapi ketika ia melihat daun-daun yang lain pun bergoyang pula, maka katanya di dalam hati, “Hem. Angin yang nakal telah menggodaku.”

Dalam keheningan itu tiba-tiba mereka mendengar derap kuda di antara desir angin malam. Beberapa orang yang mendengar suara itu segera mengangkat wajah mereka. Dan mereka sependapat bahwa suara itu adalah suara serombongan orang-orang berkuda yang telah memasuki alun-alun.

Namun karena mereka tidak mendengar suara kentongan dan tanda-tanda yang lain, maka suasana di pendapa itu masih tetap dalam ketenangan.

Beberapa saat kemudian, para penjaga regol telah menghentikan beberapa ekor kuda yang akan memasuki halaman. Namun ketika mereka melihat para penumpangnya, maka mereka segera menganggukkan kepalanya sambil mempersilakan para penunggang kuda itu untuk masuk.

“Siapa?” terdengar Ki Ageng Gajah Sora bertanya.

“Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya,” sahut orang yang berdiri di dalam gardu.

“Oh”, desis Ki Ageng. Dan orang-orang yang berada di pendapa itu pun segera berdiri menyambut kedatangan tamu-tamu mereka.

Sebelum duduk, Ki Ageng Lembu Sora sudah bertanya, “Bagaimana dengan Endang Widuri?”

Ki Ageng Gajah Sora menggeleng, “Belum kami ketemukan.”

“Hem” terdengar seseorang menggeram. Ketika Ki Ageng Gajah Sora berpaling kepada orang itu, maka dilihatnya Wulungan menggigit bibirnya. Bahkan kemudian ia berguman, “Angger Widuri telah menyelamatkan aku . Ketika Adi Galunggung menjadi gila dan menaburkan pasir kemataku pada saat kami berkelahi, maka nyawaku telah berada di ujung pedangnya. Namun untunglah, angger Widuri berhasil mencegahnya, sehingga akhirnya aku pun selamat.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dipersilakan tamunya duduk di pendapa itu pula. (Bersambung)-o

 


No. 824

Pembicaraan tentang Widuri menjadi semakin riuh. Semua orang di pendapa bertekad untuk menemukannya. Bahkan Ki Ageng Lembu Sora berkata, “Aku dapat mengerahkan setiap orang di Pamingit untuk ikut serta mencarinya, kakang.”

“Terima kasih” jawab Ki Ageng Gajah Sora.

Tetapi Kebo Kanigara masih saja menundukkan kepalanya. Pembicaraan yang didengarnya tentang anaknya benar-benar telah mengharukannya, sehingga malahan ia tidak dapat berkata apa-apa tentang itu.

Beberapa orang yang sempat menatap wajahnya menjadi terharu pula. Widuri adalah satu-satunya kawan hidupnya. Bahkan hidupnya sendiri agaknya tidak sedemikian menarik dibanding dengan hidup anaknya itu. Anak satu-satunya yang akan dapat menjadi penyambung masa depannya. Namun tiba-tiba anak itu hilang. Hilang seperti tenggelam dalam kekelaman malam.

Malam itu orang-orang yang berkumpul di pendapa Banyubiru, sama sekali tidak dapat menarik kesimpulan apa pun tentang hilangnya Endang Widuri. Namun mereka tidak dapat menolak, bahwa besok Arya Salaka akan mengirim utusan ke Gunungkidul untuk memberitahukan hilangnya Endang Widuri dari Banyubiru.

Malam itu pun berjalan menurut ketentuannya sendiri, sama sekali tidak menghiraukan kerisauan hati Arya Salaka yang berputar-putar di dalam biliknya. Betapa hatinya menjadi gelisah, marah dan bermacam perasaan lagi bercampur baur di dalam dadanya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Angan-angannya hilir mudik tidak tentu arah. Siapakah yang akan dipersalahkan atas hilangnya Widuri.

“Seandainya aku tahu siapa yang mengambilnya, maka baginya tak ada ampun lagi. Aku bunuh dengan tanganku.” Anak muda itu menjerit di dalam hatinya. Tapi tak seorang pun yang dapat memberitahukan kepadanya, siapakah yang telah mengambil Endang Widuri.

Akhirnya Arya Salaka itu tidak betah lagi tersekap di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar. Lewat longkangan gandok kulon Arya muncul di pintu butulan.

Tiba-tiba Arya Salaka itu berdesir. Dilihatnya sesosok bayangan bergerak di halaman belakang rumahnya. Cepat seperti kilat anak muda itu meloncat memburu ke arah bayangan itu. Namun sesaat ia kehilangan jejaknya.

Tetapi Arya Salaka adalah seorang anak muda yang terlatih dalam menghadapi segala macam persoalan. Cepat ia berjongkok dan memasang telinganya baik-baik. Namun ia masih belum mendengar sesuatu.

Alangkah terkejutnya hati anak muda itu, ketika tiba-tiba ia melihat bayangan yang dikejarnya, telah meloncat pagar halamannya yang cukup tinggi itu.

“Gila” desisnya. Terdengarlah giginya gemeretak karena marah. Tetapi ia tidak mau kehilangan bayangan itu, meskipun disadarinya, bahwa tidak semua orang dapat berbuat serupa itu. Meloncat pagar yang sedemikian tingginya hampir tanpa bersuara adalah suatu pekerjaan yang sulit. Karena itu, maka segera ia pun berlari ke arah bayangan itu dan meloncat pula ke atas dinding. Ia masih melihat bayangan itu berlari sepanjang dinding halaman dan kemudian masuk menyuruk ke dalam rimbunnya semak-semak.

Meskipun demikian Arya pun berlari menyusulnya. Sesaat ia masih dapat mengikutinya dituntun oleh suara desah langkah bayangan itu serta batang-batang yang terdengar. Bahkan akhirnya Arya sempat melihat orang itu meloncati parit dan berlari ke tengah-tengah rumpun bambu.

Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, maka Arya mempercepat larinya. Diterobosnya rimbunnya rumpun-rumpun bambu itu tanpa menghiraukan apa saja yang dapat terjadi atasnya. Tetapi kali ini ia gagal. Bayangan itu seakan-akan lenyap begitu saja di tengah-tengah rumpun bambu itu.

Dengan penuh kemarahan Arya mencarinya, menghentak-hentakkan setiap batangnya, bahkan beberapa batang telah dipatahkannya dengan suara yang berderak-derak. Namun bayangan itu benar-benar telah hilang.

Suara berderak bambu-bambu patah itu, telah mengejutkan beberapa orang disekitarnya. Bahkan ada pula di antara mereka yang keluar rumah dengan obor-obor di tangan.

Ketika Arya Salaka melihat obor-obor itu, maka terdengarlah ia berteriak. “Bawa obor itu kemari.”

“Siapa kau?” orang yang membawa obor itu bertanya.

“Arya Salaka” sahut Arya.

“Oh, kaukah itu ngger”

Orang yang membawa obor itu kemudian berlari-lari ke arah suara Arya Salaka. Orang itu terkejut melihat Arya berada di tengah-tengah rumpun bambu-bambu di malam yang gelap. Karena itu maka dengan serta merta orang itu bertanya. “Hem ngger. Kenapa angger berada di dalam rumpun bambu di malam buta? Apakah angger tadi di gondol wewe?”

Arya menggeram, “Omong kosong. Aku tidak dicuri oleh kunthilanak itu. Aku sedang mencari seseorang. Berikan obormu itu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Apakah betul Arya Salaka yang berdiri di tengah-tengah rumpun bambu itu.?

Karena orang itu tidak mau mendekat, maka dengan jengkelnya Arya Salaka meloncat dari rumpun itu dan merampas obor yang masih menyala-nyala sambil berkata, “Aku bukan anak gendruwo. Aku Arya Salaka.”

Kemudian tidak hanya orang itu saja yang keluar dari rumahnya. Suara Arya Salaka mengumandang dari rumah yang satu menyusup ke dinding rumah yang lain. Karena itulah maka di bawah rumpun bambu itu kemudian menjadi ribut. Beberapa orang bertanya-tanya, apakah yang sedang dicarinya.

“Orang” jawab Arya. “Aku mengejar seseorang yang memasuki halaman rumahku. Ia bersembunyi di dalam rumpun bambu ini. Tetapi tiba-tiba orang itu hilang.”

 


No. 825

Beberapa orang kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak jelas di dalam mulutnya sambil gemetar. Bahkan salah seorang berbisik, “Itu adalah Kiai Jenggot ngger. Jangan dicari lagi.”

“Bohong. Aku melihatnya di halaman rumahku. Bukan Kiai Jenggot. Tetapi seseorang.”

Berita itu pun kemudian menjalar sampai ke gardu penjagaan regol rumah Arya Salaka, dan penjaga gardu itu melaporkannya ke Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi yang terbangun kemudian tidak saja Ki Ageng Gajah Sora , namun juga Ki Ageng Lembu Sora, beberapa orang pengiringnya dan Kebo Kanigara. Mereka bersama-sama pergi, ke rumpun bambu di mana orang yang dikejar oleh Arya Salaka itu melenyapkan dirinya.

Sesaat kemudian di bawah rumpun bambu itu telah menyala lebih dari sepuluh buah obor. Semua orang berusaha untuk ikut mencari orang yang telah bersembunyi di bawah rumpun bambu itu. Tetapi orang itu tidak dapat diketemukan.

“Aneh” desis Arya Salaka. “Aku telah mengejarnya, sedang jarak kita menjadi semakin dekat. Aku pasti, bahwa orang itu menyusup ke dalam rumpun ini, namun tiba-tiba ia telah hilang.”

Semua orang menjadi tegang. Apakah perisitwa ini ada hubungannya dengan hilangnya Widuri? Tetapi kalau demikian, maka apalagi yang akan dicarinya di rumah Ki Ageng Gajah Sora?

Tanpa mereka sengaja maka sebagian dari mereka segera menghubungkan peristiwa itu dengan hal-hal yang gaib, yang tidak dapat dikupas dengan nalar. Tetapi Ki Ageng Gajah Sora, Lembu Sora, Wanamerta segera menghubungkannya dengan keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten.

“Apakah masih ada yang menyangka bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru?” berkata mereka di dalam hati mereka. “Seandainya demikian, siapakah yang masih akan mencoba mencurinya?”

Yang paling mungkin adalah mereka, sisa-sisa dari gerombolan hitam yang masih belum punah benar. Tetapi di antara mereka, sudah tidak ada seorang pun yang akan mampu mengganti kedudukan pemimpin-pemimpin mereka. Kecuali apabila ada pendatang-pendatang baru yang akan merebut kedudukan golongan itu.

Setelah puas mereka mencari, dan ternyata mereka tidak menemukan apa-apa, maka segera mereka kembali ke rumah Ki Ageng Gajah Sora. Sedang beberapa orang di sekitarnya kembali pula ke rumah-rumah masing-masing sambil bergumam. “Hem, Kiai Jenggot itu kini mengganggu lagi.”

Kembali di pendapa Banyubiru, beberapa orang berkumpul membicarakan keanehan yang baru saja di lihat oleh Arya Salaka. Dalam kesibukan pembicaraan itu, maka berkatalah Ki Ageng Gajah Sora. “Arya, apakah kau benar-benar melihat seseorang, atau hanya karena hatimu yang sedang gelap itu saja, maka kau seolah-olah melihat seseorang di halaman ini?”

“Aku melihat sebenarnya ayah”, jawab Arya. Namun tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ia merasa bahwa ia melihat seseorang.

Melihat keragu-raguan itu, maka berkatalah Ki Ageng Gajah Sora, “Atau sebuah mimpi yang buruk?”

Arya menggigit bibirnya. Namun kemudian ia berkata. “Marilah kita lihat.”

Arya tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Segera ia turun ke halaman dan menyuruh beberapa orang penjaga menyalakan obornya.

Ayahnya, pamannya, Kebo Kanigara dan orang-orang lain segera mengikutinya. Mereka pergi ke halaman belakang dengan obor ditangan. Beberapa saat kemudian terdengar Arya itu berteriak. “Inilah ayah. Lihatlah bekas-bekasnya. Apakah hanya bekas kakiku sendiri?”

Semua orang kemudian mendekatinya. Di bawah dinding mereka melihat beberapa berkas bekas kaki. Seberkas adalah kaki Arya Salaka, sedang beberapa langkah di sampingnya diketemukan pula seberkas telapak kaki. Salah satu dari berkas-berkas itu adalah kaki orang yang dikejarnya.

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka kini percaya bahwa seseorang telah memasuki halaman ini tanpa diketahui, meskipun Gajah Sora untuk sementara masih perlu menempatkan beberapa orang penjaga di sekitar rumahnya. (Bersambung)-m

 

 

 NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


No. 826

“Aneh” gumam mereka. Dan sebenarnyalah bahwa hal itu sangat mengherankan beberapa orang penjaga di sekitar rumahnya.

Malam itu, kemudian hampir tak seorang pun dari mereka yang berada di pendapa, sempat untuk pergi tidur. Mereka mondar-mandir saja kesana kemari. Meskipun kemudian Lembu Sora masuk juga ke gandok wetan, namu orang itu tidak juga dapat tidur. Sedang Kebo Kanigara masih belum beranjak dari tempatnya di pendapa Banyubiru. Hanya kini ia duduk bersandar tiang. Pandangan matanya jauh menyusup ke dalam gelapnya malam, menyentuh ujung pepohonan di kejauhan. Gelap. Malam itu semakin gelapnya. Ketika ia melihat Arya Salaka naik ke pendapa dan duduk di sampingnya, maka terdengar Kebo Kanigara itu bertanya lirih. “Kenapa kau tidak membangunkan seorang pun Arya.”

Arya duduk dengan gelisahnya. Kemudian jawabnya, “Aku tergesa-gesa paman. Aku lupa segala-galanya. Aku hanya mengharap untuk dapat menangkapnya.”

“Orang itu bukan orang kebanyakan. Sangat berbahaya bagimu Arya. Siapa tahu ia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya dari Sasra Birawa.”

Arya menundukkan kepalanya. Kata-kata Kebo Kanigara ittu dapat dimengertinya. Namun ia benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.

Demikianlah malam itu Banyubiru diliputi oleh suasana yang aneh. Mirip dengan suasana yang pernah mereka alami sebelum Arya Salaka hilang dari lingkungan rakyat Banyubiru. Demikian pula suasana di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Dahulu mereka juga berjaga di pendapa itu. Dahulu mereka duduk dengan kesiagaan penuh di pendapa, di luar pendapa bahkan beberapa orang berjaga-jaga di halaman belakang. Namun keris-keris yang mereka simpan ternyata lenyap pula.

Gajah Sora menarik nafas. “Hem”, desahnya “Waktu itu ternyata Panembahan Ismaya berusaha menyelamatkan pusaka-pusaka itu. Tetapi sekarang siapa? Apakah Panembahan itu pula?”

Gajah Sora itu menggeleng dengan sendirinya Panembahan Ismaya tidak akan membuat mereka menjadi bingung lagi tanpa maksud-maksud tertentu yang tidak mereka mengerti sebelumnya. “Apakah kali ini juga terkandung maksud seperti itu?”

Namun tak seorang pun yang dapat duduk dengan tenang. Wanamerta pun menjadi gelisah. Bantaran, Penjawi, Jaladri berjalan hilir mudik di halaman dengan pedang di pinggang masing-masing. Bahkan Jaladri tidak lupa pula membawa senjatanya yang aneh, canggah, tombakbermata dua. Halaman rumah Ki Ageng Gajah Sora benar-benar di kuasai oleh ketegangan. Suasananya mirip benar dengan suasana peperangan. Tetapi mereka tidak tahu pasti siapakah musuh yang harus mereka hadapi.

Malam itu pun semakin lama menjadi semakin tipis. Ketika di timur telah membayang warna merah, maka terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan untuk yang terakhir kalinya. Kabut yang tebal turun membawakan udara yang sangat dingin. Sehingga kepekatan malam itu pun kemudian disusul dengan kabut yang keputih-putihan memagari pandangan. Meskipun malam telah hampir lenyap, namun lereng Telamaya itu kini seakan-akan berselimut dengan kabut yang tebal, seperti seorang raksasa yang berbaring kedinginan.

Tetapi malam itu telah dilampauinya tanpa terjadi sesuatu yang menggoncangkan suasana. Mereka memasuki hari mendatang dengan nafas lega. Meskipun demikian, apa yang terjadi pada malam itu sangat mempengaruhi ketentraman hati para pemimpin Banyubiru.

Pagi itu Arya Salaka telah mengutus tiga orang untuk menyampaikan kabar tentang hilangnya Endang Widuri ke Gunungkidul. Arya telah berpesan dengan sungguh-sungguh, bahwa mereka hanya menyampaikan pemberitahuan saja. Segala sesuatunya kemudian terserah kepada Mahesa Jenar sendiri, meskipun di dalam hati Arya mengharap agar gurunya itu mengambil keputusan untuk datang ke Banyubiru. Arya yang masih muda itu sama sekali tidak dapat mempertimbangkan persoalan-persoalan lain yang menyangkut kehidupan gurunya.

Demikianlah maka ketiga orang itu, yang dipimpin oleh Bantaran berpacu menunju ke Gunungkidul. Suara kaki-kaki kuda berderak-derak memecah kesunyian pagi. Beberapa orang melihat Bantaran memacu kudanya secepat angin. Maka timbullah beberapa pertanyaan di hati mereka. Ke manakah Bantaran sepagi ini?

Sepeninggalan Bantaran orang-orang di Banyubiru masih meneruskan usaha mereka mencari Endang Widuri. Arya Salaka sendiri menjelajahi segenap sudut Banyubiru. Namun Endang Widuri benar-benar lenyap. Karena itu, maka Arya Salaka menjadi gelisah, cemas dan marah yang meluap-luap. Ia tidak akan menjadi sedemikian gelisah, seandainya ia harus mencari apa-apa yang hilang, bahkan pusaka Banyubiru sekalipun. Sebab ia akan dapat mempergunakan waktu yang panjang. Seminggu, sebulan bahkan setahun dua tahun sebelum benda itu diketemukan. Namun tidak akan dapat terjadi demikian dengan Endang Widuri. Ia tidak dapat menunggu sebulan, dua bulan atau lebih. Sebab dengan demikian banyak hal yang akan dapat terjadi dengan gadis itu. Hal-hal yang tidak akan dapat terjadi dengan pusaka-pusaka atau benda-benda lain. Sebenarnyalah bahwa Endang Widuri bukanlah benda-benda itu.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka terasa sekali pada Arya Salaka, bahwa ia tidak sekadar kehilangan tamu atau kawan bermain baginya. Tetapi, bahwa dengan hilangnya Endang Widuri, terasa ada sesuatu yang hilang pula dari hatinya.

Sesuatu yang tidak jelas dapat dikatakannya. Namun dapat dirasakannya. (Bersambung)-c

 


No. 827

Ibunya, Nyai Ageng Gajah Sora menjadi sangat bersedih pula. Bukan saja karena Widuri sudah menjadi sangat cumbu padanya. Namun sebagai seorang ibu, segera ia dapat melihat, luka yang tergores di hati anaknya.

Nyai Ageng sangat iba melihat Arya Salaka kadang-kadang merenungi titik-titik di kejauhan, namun kadang-kadang ia menjadi sangat gelisah. Bahkan anak muda itu sering sekali dengan serta merta meloncat di atas punggung kudanya dan berlari menghambur ke tempat yang tak diketahuinya, apabila perasaannya mendesaknya untuk segera menemukan Endang Widuri. Namun kemudian Arya Salaka kembali pulang dengan wajah yang pedih.

Widuri belum diketemukan.

Tidak saja Arya Salaka yang mencarinya hampir sepanjang hari di setiap hari. Namun Kebo Kanigara pun kemudian jarang-jarang tampak di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Hampir setiap hari apabila matahari telah terbit ke Timur, Kebo Kanigara segera minta diri untuk mencari anaknya.

Dengan seekor kuda yang dipinjamnya dari Banyubiru, Kebo Kanigara berputar ke segenap penjuru. Tetapi seperti Arya Salaka, maka Kebo Kanigara itu pun kemudian pulang seorang diri.

Sehingga akhirnya, Kebo Kanigara itu berkata kepada Ki Ageng Gajah Sora, “Ki Ageng. Apabila Endang Widuri tidak segera dapat aku ketemukan, maka aku akan mohon diri untuk mencarinya. Aku tidak akan dapat mengatakan, berapa lama waktu yang akan aku pergunakan untuk itu.”

Ki Ageng Gajah Sora menjadi gelisah pula. Namun jawabnya, “Jangan tergesa-gesa meninggalkan Banyubiru kakang. Kita disini masih berharap untuk menemukannya.”

“Tetapi bagaimanakah kalau Widuri telah di bawa orang meninggalkan Banyubiru.”

Ki Ageng Gajah Sora tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya akan sangat menggelisahkan apabila diketahui bahwa Endang Widuri sudah tidak berada di Banyubiru lagi. Tetapi bagaimana?

Bahkan kemudian Ki Ageng Gajah Sora itu telah sampai pada suatu keputusan, untuk menyebar orang-orangnya jauh ke luar Banyubiru, di samping para pengawas yang telah di tempatkan di setiap pintu kota, dan di garis batas. Mungkin Endang Widuri berada di Demak, di Pajang, Jipang atau Bergota. Namun ia masih menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Bantaran setelah ia kembali dari Gunungkidul.

“Biarlah aku menunggu Bantaran itu pulang Ki Ageng” berkata Kebo Kanigara. “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, sehingga aku tidak akan terlambat.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba ikut merasakan apa yang menyebabkan Kebo Kanigara menjadi sangat murung dan pendiam. Apalagi kalau Ki Ageng itu melihat Arya Salaka menjadi seperti anak yang kehilangan sikap. Sekali-kali ia berbaring dibiliknya, namun tiba-tiba ia berlari keluar untuk hanya sekedar duduk di bawah pohon sawo sambil bertopang dagu.

Bantaran yang mendapat tugas untuk pergi ke Gunungkidul, berusaha melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya. Dengan kecepatan yang sebesar-besarnya ia memacu kudanya di atas jalan berbatu-batu. Di turuninya lereng bukit Telamaya, dan kemudian di atas jalan-jalan ngarai ia menerobos hutan-hutan rindang menempuh jalan yang telah di ancar-ancarkan.

Namun Bantaran itu menyadari, bahwa perjalanannya bukan perjalanan yang ringan. Sekali-kali ia harus menempuh belukar yang pepat dan jarang-jarang dilewati orang. Karena itulah maka di sisi kudanya tersangkut pula sebuah busur dan endong yang penuh dengan anak panah. Apabila keadaan memaksa, maka dengan senjata itu ia dapat mempertahankan dirinya dalam jarak yang jauh sambil berkuda.

Namun yang penting baginya apabila mereka harus bermalam di perjalanan senjata itu akan dapat dipakainya untuk berburu binatang. Selain panah-panah itu, dilambungnya tersangkut pula sebilah pedang panjang. Senjatanya itu hampir tak pernah berpisah dari tubuhnya sejak ia menyingkir ke Gedong Sanga.

Sementara itu, Mahesa Jenar dan Rara Wilis telah sampai ke Gunungkidul. Perjalanan yang mereka tempuh adalah benar-benar perjalanan yang mengasyikkan. Apabila sebelumnya mereka selalu berada dalam perjalanan yang diliputi oleh ketegangan-ketegangan yang mendebarkan, maka perjalanan kali ini selalu diliputi oleh sendau gurau yang riang. Meskipun dapat di tempuh jalan lain yang lebih baik, seperti yang telah diberitahukan oleh Sarayuda kepada Kebo Kanigara apabila ia akan menyusul kelak, namun kali ini Sarayuda sengaja menempuh jalan yang lain. Jalan yang sangat sulit. Tetapi kesulitan itu benar-benar tidak terasa oleh Rara Wilis. Karena itu, maka perjalanan mereka kali ini melewati daerah-daerah yang sukar. Mereka ternyata memasuki hutan-hutan yang pepat. Bahkan kemudian mereka melewati daerah Gelangan dan menjelujur di kaki bukit Tidar.

Mahesa Jenar yang pernah bertempur di atas bukit itu melawan Ki Ageng Gajah Sora memandangi bukit kecil itu dengan kesan yang aneh. Sebuah kenangan telah menggores di dadanya. Seandainya pada saat itu, Aji Sasra Birawa yang ada padanya tidak seimbang dengan Aji Lebur Saketi yang dimiliki oleh Ki Ageng Gajah Sora, maka entahlah apa yang terjadi. Namun agaknya Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar telah mengukur kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya waktu itu, dan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri anaknya. (Bersambung)-m

 


828

TETAPI saat ini Sarayuda tidak mengambil jalan ke arah Pangrantunan, namun perjalanan itu mengarah terus ke selatan.

Setelah bermalam diperjalanan, sampailah mereka ke hutan yang cukup lebat. Mentaok.

“Apakah kita akan ke hutan ini Sarayuda?” bertanya Mahesa Jenar.

“Ya” sahut Sarayuda “Jalan yang paling dekat”.

Mahesa Jenar meragukan jawaban itu. Tetapi ia tidak menjawab. Diikutinya saja Sarayuda yang berkuda lewat jalur jalan yang dahulu pernah dilalui. Mereka akhirnya sampai juga di Pliridan dan tanpa setahu Mahesa Jenar, tiba-tiba mereka sudah berada di depan sebuah goa. Mahesa Jenar terkejut melihat goa itu. Goa yang pernah ditinggal oleh Ki Ageng Pandan Alas.

“Apakah kau pernah melihat goa itu Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar tersenyum. Kemudian katanya, “Entahlah, bertanyalah kepada Wilis. Rara Wilis hanya dapat menundukkan wajahnya. Kenangan itu tiba-tiba telah menerkam hatinya. Tetapi ia adalah seorang gadis. Tanggapannya atas kenangan itu tidak seperti Mahesa Jenar. Karenanya tiba-tiba matanya terasa sangat panas. Dan setetes air mata jatuh dipangkuannya.

Sarayuda dan Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Tetapi mereka tidak menjadi cemas, meskipun mereka melihat Rara Wilis itu menangis. Sebab mereka tahu, bahwa gadis itu sedang di ganggu oleh sebuah kenangan. Kenangan yang menakutkan seperti terjadi saja di dalam mimpi.

Sebenarnya memang Rara Wilis sedang mengenangkan masa-masa lampaunya. Di hutan inilah ia dahulu hampir saja membunuh dirinya, seandainya tidak ada seorang yang bernama Mahesa Jenar itu, yang sekarang ini berada di dekatnya sebagai seorang yang telah merampas segenap hatinya. Di hutan ini pula ia bertemu dengan kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas. Dan di hutan ini pula ia hampir di terkam Ular Laut yang mengerikan. Tetapi semuanya itu sudah lampau. Semua pahit getir penghidupan telah dialami. Bahaya yang dilampauinya tidak saja di hutan Mentaok ini, namun kemudian nyawanya pun telah diserahkannya untuk merebut kembali ayahnya dari tangan Harimau betina di Gunung Tidar. Namun ayahnya itu telah mati pula. Kini ia tinggallah seorang gadis yatim piatu.

Di hutan itu, di daerah Pliridan yang sepi itulah mereka bermalam kembali. Daerah yang pernah memberi mereka suatu kenangan yang pahit.

Tetapi pada malam itu, mereka dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang yang bertubuh besar dan begis. Mereka dengan serta merta mengancungkan senjata- senjata mereka kepada rombongan itu.

“Apakah kehendakmu?” bertanya Sarayuda kepada pemimpin mereka.

“Harta atau nyawa?” gertak mereka.

Sarayuda tertawa. Jawabnya, “Kenallah kalian kepada kami?”

Orang itu menarik alisnya. Kemudian geramnya, “Persetan dengan kalian. Aku tidak pernah bertanya, siapakah korbanku kali ini. Semua pedagang yang lewat di daerah ini adalah hidangan buat kami.”

“Kami telah membawa beberapa orang pengantar yang akan dapat melawan kalian.”

“Hem, aku sudah tahu. Kalian pasti membawa beberapa orang pengantar. Nah sekarang biarlah kami bertempur. Pekerjaan ini sudah kami lakukan bertahun- tahun.”

Sekali lagi Sarayuda tertawa. Karena itulah maka pemimpin mereka membentak. “Jangan tertawa. Ayo, apakah kau pemimpin dari para pengawal.”

Sarayuda maju selangkah. Kemudian katanya, “Berapa orangkah jumlah kalian?”

“Lima belas orang” sahut orang itu. “Kalau kami memberi tanda, maka akan datang lagi lima belas orang pula.”

Tiba-tiba sebelum Sarayuda menjawab, maka Mahesa Jenar telah melangkah maju pula. Dengan tenangnya ia berkata. “Jangan membual. Apakah kau sekarang bergabung dengan sisa anak buah Lawa Ijo?”

Pemimpin rombongan itu terkejut. Diamat-amatinya Mahesa Jenar dengan seksama. Kemudian katanya, “Siapakah kau?”

“Sakayon” jawab Mahesa Jenar.

“He?” mata orang itu terbelalak. “Darimana kau tahu namaku?”

“Aku Sakayon dari Gunung Tidar. Dahulu aku adalah anak buah Sima Rodra.”

Orang itu menjadi semakin heran. Namun ketika terpandang olehnya wajah Mahesa Jenar yang semakin lama menjadi semakin jelas, maka terdengar suaranya parau, “Apakah kau Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar tersenyum. Jawabnya “Kau masih mengenal aku? Kapankah kau melihat wajahku?”

Sakayon pernah melihat Mahesa Jenar beberapa kali. Ia ikut dengan Sima Rodra ke Gedangan, ia turut pula mencegat laskar Demak di Gunung Telamaya, dan ia melihat Mahesa Jenar bertempur melawan beberapa orang tokoh hitam. Karena itu, setelah Sakayon itu yakin, bahawa yang berdiri dihadapannya itu Mahesa Jenar, maka katanya terbata-bata. “Mahesa Jenar, kami tidak tahu, bahwa rombongan ini adalah rombonganmu. Karena itu, maka aku mencegatnya. Aku sangka bahwa rombongan ini adalah rombongan para pedagang yang akan menyeberangi hutan ini.”

“Hem. Jadi perbuatan-perbuatan yang demikian itu masih saja kalian lakukan setelah lurahmu mati?”

Sakayon tidak menjawab, tetapi kepalanya ditundukkannya.

“Sakayon, apakah kau percaya, bahwa rombonganku akan dapat menumpas rombonganmu sekarang ini?”

Wajah Sakayon menjadi pucat. Sekali ia berpaling. Dilihatnya beberapa anak buahnya menjadi heran. Tetapi ada di antaranya yang pernah melihat Mahesa Jenar. Bekas anak buah Sima Rodra dan bekas anak buah Lawa Ijo yang bergabung itu, kini diliputi oleh ketegangan. Namun mereka yang baru dalam pekerjaannya, mencoba untuk masih menunjukkan kegarangannya. “Siapakah orang itu kakang Sakayon?”

 


829

“Mahesa Jenar” jawab Sakayon gemetar.

“Apakah orang itu anak gendruwo, sehingga kita takut kepadanya.”

“Bukan saja anak gendruwo” jawab salah seorang di antara mereka bekas anak buah Lawa Ijo. “Tetapi anak malaekat.”

Orang baru itu menjadi heran. Apalagi ketika ia mendengar Sakayon menjawab. “Aku percaya Mahesa Jenar. Aku minta maaf.”

“Lihatlah, di antara orang-orang ini adalah prajurit-prajurit pilihan.” berkata Mahesa Jenar menakut-nakuti. “Kami mendapat tugas untuk memusnahkan gerombolan-gerombolan yang masih saja mengacau di hutan Mentaok ini. Kami harus membersihkan hutan Mentaok, Tambak Baya dan daerah-daerah Beringan dan Pacetokan, seluruhnya.”

“Ampun. Kami minta ampun,” tiba-tiba suara Sakayon menjadi semakin gemetar dan cemas.

“Kami akan mengampuni kalian, tetapi ada syarat-syaratnya!”

Sakayon terdiam. Ia tidak tahu, syarat apakah yang akan dituntut oleh Mahesa Jenar itu. Karena itu, maka ia menunggu Mahesa Jenar berkata, “Sakayon. Kami mendapat tugas untuk memberantas kejahatan di hutan ini. Kalau kalian berjanji untuk menghentikan kejahatan ini, maka kalian akan aku ampuni. Namun kalau tidak, maka jangan mengharap kalian hidup lebih lama lagi. Kemana saja kalian bersembunyi, maka kami pasti akan dapat menemukan. Kami bawa kalian ke Demak dan kalian akan kami adu melawan harimau di alun-alun sebagai tontonan.”

Sakayon dan beberapa orang di dalam gerombolan itu tahu benar siapa Mahesa Jenar itu. Karena itu maka katanya, “Baiklah Mahesa Jenar. Aku terima syarat itu.”

Mahesa Jenar tertawa. Katanya, “Aku sudah mengenal watak kalian. Kalian berjanji hanya apabila kalian menghadapi bahaya. Meskipun demikian aku percaya padamu kali ini. Kembalilah kerumahmu masing-masing, dan cobalah hidup seperti orang-orang lain. Mereka tidak perlu mengalami kegelisahan seperti yang selalu kau alami. Dengan demikian maka kau akan dapat hidup tentram.”

Sakayon menggeleng. Jawabnya, “Aku sudah tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal. Aku adalah seorang layang kabur kanginan.”

Mahesa Jenar menarik nafas. Namun kemudian ia berkata, “Sakayon. Daerah ini adalah daerah yang subur. Dahulu Pliridan adalah daerah yang ditinggali oleh beberapa orang petani. Kau dapat mengusahakan tanah ini. Dengan tekad yang baik, kau akan dapat berhubungan dengan orang-orang lain untuk mengadakan tukar menukar hasil tanah ini dan mungkin hasil hutan yang dapat kau usahakan.”

Sakayon mengangguk-anggukkan kepalanya. Terjadilah suatu pergolakan di dalam hatinya. Kata-kata Mahesa Jenar itu tanpa sesadarnya telah direnungkannya, dan dicernakannya di dalam hatinya, sehingga akhirnya terdengar kata-kata di dalam hatinya, “Mahesa Jenar berkata sebenarnya.” Ditambah lagi dengan rasa takutnya atas ancaman Mahesa Jenar untuk membawanya ke Demak dan mengadunya dengan harimau di alun-alun. Sedang ia percaya sepenuhnya, bahwa Mahesa Jenar itu pasti akan dapat berbuat demikian. Menangkapnya kemana saja ia bersembunyi. Karena itu maka katanya.

“Mahesa Jenar. Aku berterima kasih atas segala nasehatmu. Akan aku coba untuk mengusahakan tanah ini. Dan aku coba untuk menghubungi keluarga kami dengan tekad yang baik. Mudah-mudahan aku berhasil.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian ia maju selangkah menepuk bahu Sakayon sambil berkata.

“Sarungkan senjatamu.”

Sakayon tidak dapat berbuat lain daripada menyarungkan goloknya sambil menundukkan kepalanya.  Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika di dengarnya seorang daripada anak buahnya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap, setegap raksasa kerdil, berkata dengan lantang. “He, kakang Sakayon. Sejak kapan kau menjadi seorang perempuan cengeng.”

Sakayon mengangkat wajahnya. Jawabnya. “Jangan melawan Gendon. Tak ada gunanya. Lebih baik kau dengarkan nasihatnya.”

Anak muda yang bernama Gendon itu sama sekali tidak puas. Di samping Sakayon ia merasa orang yang paling penting di dalam gerombolan itu. Karena itu, maka ia melangkah maju sambil menunjuk wajah Mahesa Jenar. “He apakah kau memiliki guna-guna dan menenung kakang Sakayon sehingga ia menjadi tunduk kepada kemauanmu?”

Mahesa Jenar menggeleng. “Tidak. Aku tidak dapat merenungnya. Tetapi ia dalah sahabat lamaku.”  Gendon menjadi heran. Sekali ia memandang wajah Sakayon, namun betapa pun juga ia tidak yakin akan kata Mahesa Jenar.  Maka dengan lantangnya ia berkata, “Kalau kau tidak ikut kakang Sakayon. Maka biarlah aku selesaikan pekerjaan ini sendiri. Ayo, siapa ikut aku?”

Beberapa orang di antara mereka melangkah maju. Namun mereka menjadi heran, justru orang-orang lama, anak buah Sakayon sendiri dan bekas anak buah Lawa Ijo yang mereka bangga-banggakan sama sekali tidak bergerak. Bahkan diantaranya berkata. “Jangan”.

Tetapi Gendon yang merasa usahanya selama ini selalu berhasil tidak memperdulikannya. Dengan goloknya ia menunjuk wajah Mahesa Jenar. “Ayo, berikan semua harta bendamu.”

Mahesa Jenar memandang anak muda itu dengan sedih. Anak itu memiliki tubuh yang kokoh kuat dan memiliki sikap yang meyakinkan. Namun sayang. Ia terperosok dalam lingkungan yang kelam.  Mahesa Jenar tidak segera menjawab, maka terdengar anak itu membentak kembali. “Ayo. Cepat”.  Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Sambil menunjuk Sarayuda ia berkata. “Lihatlah. Kawanku itu berpedang pula di lambungnya. Kau tahu gunanya pedang?”

Gendon ragu-ragu sejenak. Kemudian teriaknya. “Tidak peduli. Serahkan harta benda yang kau bawa.” (Bersambung)-m

 


830

Mahesa Jenar menggigit bibirnya. Ketika ia berpaling, masih dilihatnya beberapa orang kawan-kawan Sarayuda duduk dengan tenangnya. Mereka sama sekali hampir tidak tertarik pada gerombolan itu. Sebab mereka yakin benar, apa yang akan dapat dilakukan oleh Sarayuda dan Mahesa Jenar, meskipun ia tidak kehilangan kewaspadaan. Bahkan beberapa di antara mereka telah meraba hulu pedang mereka.

Hanya Rara Wilislah yang kemudian bangkit berdiri sambil berkata. “Sakayon. Apakah kau tidak mau membawa orang-orangmu pergi.”

“Oh” Sakayon tergagap.

Namun Gendon itu berteriak. “Ha. Ternyata ada seorang gadis pula di antara mereka. Agaknya gadis itu tak kurang cantiknya. Ayo, menyerahlah. Dan serahkan gadis itu kepadaku.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar membungkukkan badannya. Katanya, “Baiklah ambillah gadis itu kalau mau. Tetapi jangan ganggu rombongan ini.”

“Ah” desah Rara Wilis. Ia tahu Mahesa Jenar akan menunjukkan kepada anak muda itu, bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang tak akan mungkin dikalahkannya.  Gendon ragu-ragu sesaat. Namun kemudian ia berkata. “Baiklah, ayo ikut aku. Aku tidak akan mengganggu kalian, asalkan, kecuali gadis ini, semua harta bendamu aku bawa pula.”

Rara Wilis maju beberapa langkah. Tiba-tiba ditariknya pedang dari lambung Sarayuda. Dengan lantang gadis itu berkata. “Pergilah anak muda. Pergilah.”

Gendon terkejut. Tiba-tiba ia meloncat mundur. Dilihatnya Rara Wilis itu maju lagi sambil mengacungkan pedangnya. “Pergilah.”

Gendon diam sesaat. Namun yang terdengar suara Mahesa Jenar. “Anak itu bukan Jaka Soka Wilis.”  “Ah” kembali Rara Wilis mendesah.

Tetapi Gendon belum mengenal Rara Wilis. Ia menjadi rikuh kepada kawan-kawannya. Ternyata gadis ini akan melawannya.  Sarayuda yang membiarkan pedangnya ditarik oleh Rara Wilis tertawa saja sambil bertolak pinggang. Agaknya Rara Wilis yang paling tidak senang melihat gerombolan itu, sebab ingatannya tentang gerombolan semacam itu, benar-benar mendirikan bulu romanya. Karena itu maka segera ia berusaha untuk mengusirnya.

Tetapi ketika Gendon menyadari keadaannya, ia menjadi sangat marah. Karena itu dengan serta merta ia menyerang Rara Wilis dengan garangnya, meskipun ia hanya bermaksud untuk menakut-nakuti. Tetapi terjadilah hal yang tak di sangka-sangka. Tiba-tiba Rara Wilis menggerakkan pedangnya dalam putaran untuk melibat golok lawannya. Alangkah terkejutnya Gendon itu. Pedang Rara Wilis itu seakan-akan melilit goloknya dan sebuah tekanan yang kuat telah melemparkan goloknya beberapa langkah.

Sebelum ia mampu berbuat sesuatu terasa ujung pedang Rara Wilis melekat di dadanya.  Tubuh Gendon itu pun kemudian menjadi gemetar. Terasa bahwa nyawanya tiba-tiba saja telah bergerak keubun-ubunnya.

Sebelum Rara Wilis berkata sepatah kata pun, maka terdengar Mahesa Jenar mendahului, “Bagaimana? Apakah kau benar-benar ingin membawa gadis itu?”

“Tidak-tidak” suara Gendon menjadi gemetar seperti tubuhnya.  Sakayon hampir tak dapat menahan tawanya. Namun kemudian ia berkata, “Aku minta ampun untuknya, Mahesa Jenar.”

“Pergi, pergi” berkata Rara Wilis lantang. Ia menjadi muak melihat orang-orang yang kasar dan bengis itu berdiri saja dimukanya.

“Baiklah” sahut Sakayon, “Kami akan pergi. Dan kami akan mencoba melakukan nasihat-nasihatmu, Mahesa Jenar.”

“Cobalah” sahut Mahesa Jenar. “Hari depanmu masih cukup panjang untuk menghapus noda-noda yang melekat pada tubuh dan jiwamu.”

Sakayon itu pun kemudian mengajak kawan-kawannya pergi. Gendon berjalan paling belakang sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa ia berjumpa dengan seorang gadis garang itu. Namun akhirnya ia mendengar seluruhnya dari Sakayon. Siapa-siapa saja yang berada di dalam rombongan itu. Terutama Mahesa Jenar dan Rara Wilis.

 

 NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


831

Ketika kemudian malam itu telah lampau, dan matahari pergi dengan cerahnya menjengukkan dirinya dari balik kaki langit, maka rombongan itu berangkat pula meneruskan perjalanan mereka. Namun kini mereka tidak melintas hutan Tambak Baya, tetapi mereka menempuh jalan lain, agak ke selatan terus ke Gunungkidul.

Di iringi oleh angin pagi, dan kicau burung-burung liar, mereka berjalan dengan hati yang terang seperti terangnya matahari. Langit yang biru bersih sekali membayang di sela-sela dedaunan di hutan yang semakin lama menjadi semakin tipis. Sehingga akhirnya, mereka menempuh jalan di antara padang-padang rumput dan gerumbul-gerumbul rindang. Setelah mereka berjalan sehari penuh, maka mulailah mereka sampai pada lembah-lembah yang subur di daerah Gunungkidul.

“Kami tidak akan bermalam lagi” berkata Sarayuda. “Meskipun malam, kami harus memasuki induk Kademangan malam ini juga.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Di pandanginya lembah-lembah yang hijau di penuhi oleh tanaman-tanaman padi yang subur. Di sana-sini, dalam jarak yang cukup jauh, dilihatnya beberapa buah pedesaan seperti pulau yang terapung di tengah-tengah lautan yang hijau.

“Daerah yang luas dan terpencar-pencar.” berkata Sarayuda ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang bersungguh-sungguh.

“Ya” sahut Mahesa Jenar. “Dimanakah induk Kademanganmu.”

Sarayuda tertawa. “Masih jauh,” jawabnya. “Kami harus mendaki bukit di hadapan kita itu. Nah, disanalah aku tinggal.”

“Kenapa tidak di lembah yang subur ini?”

“Dari bukit ini aku dapat melihat, hampir seluruh tanah-tanah ngarang yang terbentang di bawah kaki bukit. Bukankah Ki Ageng Gajah Sora membuat rumahnya di lereng Telamaya pula? Tidak di ngarai?”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya kembali. Dari segi-segi yang lain, agaknya rumah di atas bukit benar-benar menguntungkan. Seandainya rumah di atas bukit benar-benar menguntungkan. Seandainya harus dilakukan perlawanan atas penyerangan-penyerangan yang kuat, maka kedudukan mereka yang berada di lereng menjadi lebih baik.

Sebenarnyalah malam itu mereka memasuki induk desa Kademangan Gunungkidul. Demikian mereka mendekati pedesaan itu, maka seorang dari para pengikut Sarayuda harus berpacu lebih dahulu menyampaikan kabar kedatangan mereka kepada Ki Ageng Pandan Alas.

Sungguh di luar dugaan. Tiba-tiba mereka mendengar kentongan berbunyi bertalu-talu. Kentongan yang agaknya memberi tanda kehadiran Mahesa Jenar dan Rara Wilis di Kademangan Gunungkidul.

“Orang-orang di Gunungkidul telah berpesan kepadaku, apabila kelak aku datang bersama Mahesa Jenar dan Rara Wilis, maka mereka minta supaya mereka diberitahukan. Kentongan itu adalah tanda untuk itu.”

“Hem. Terlalu berlebih-lebihan,” gumam Mahesa Jenar.

“Bukan maksudku. Mereka menganggap bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang aneh. Lebih-lebih lagi adalah Rara Wilis. Setiap orang di Gunungkidul telah mendengar, bahwa Rara Wilis telah berhasil membinasakan Harimau Betina yang pernah merobek-robek hati ibunya.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Namun ia menjadi terharu ketika tiba-tiba di dengarnya Rara Wilis mengeluh. Betapa pun gadis itu berusaha menahan hatinya, namun sambutan yang berlebih-lebihan itu benar-benar telah meneteskan air matanya. Suara kentongan dan kata-kata Sarayuda telah membangkitkan perasaan yang melonjak-lonjak di dalam hatinya. Tanah yang terbentang di hadapannya benar telah menumbuhkan berbagai kenangan. Kenangan tentang dirinya di masa-masa kanak-kanak, tentang ibunya dan tentang ayahnya. Di kenangnya betapa perempuan yang cantik namun berhati ganas telah merampas ayahnya. Di kenangnya ketika ia mencoba memanggil ayahnya di rumah perempuan itu pada saat ibunya sakit. Namun bukan main marah ayahnya kepadanya.

Dan di usirnya seperti anjing di iringi oleh derai tertawa perempuan iblis itu. Tetapi perempuan itu telah mati. Mati karena ujung pedang yang diterimanya dari kakeknya, Ki Pandan Alas, yang oleh penduduk sedesanya dikenal dengan nama Ki Santanu.

Dan kini, setelah bertahun-tahun ia meninggalkan kampung halaman yang penuh dengan kenangan pahit itu, ia akan kembali pulang. Dikenangnya, bahwa pada saat ia meninggalkan tanah itu, tak seorang pun yang dipamitinya. Tak seorang pun yang melambaikan tangannya sebagai ucapan selamat jalan. Ia pergi saja seperti ia memang harus pergi.

 


832

Tetapi ketika kini ia kembali, maka hampir seluruh penduduk induk Kademangan itu mengelu-elukannya. Menyambutnya sebagai seorang yang sedemikian penting di Kademangan itu. “Alangkah bahagianya seandainya ibuku menyaksikan sambutan untukku ini,” desah di dalam hatinya. “Tetapi ibu itu telah meninggal dalam keadaan yang pedih.”

Air mata Rara Wilis itu masih menetes terus. Dan karena itu maka Mahesa Jenar dan Sarayuda sama sekali tidak berkata sepatah kata pun juga. Akhirnya, mereka melihat berpuluh-puluh obor keluar dari induk desa dihadapan mereka. Obor-obor itu berkumpul di sebuah lapangan, seperti sebuah alun-alun kecil di muka rumah Sarayuda. Rumah yang besar dan berhalaman luas. Rumah seorang Demang yang kaya raya.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis itu menjadi berdebar-debar karenanya. Mereka sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa mereka akan mengalami sambutan yang demikian meriahnya. Sambutan yang menurut mereka adalah berlebih-lebihan. Tetapi Sarayuda memang menyambut Rara Wilis dan Mahesa Jenar itu dengan caranya. Ia ingin melenyapkan kesan tentang luka yang pernah terpahat di hatinya. Luka yang sebenarnya tak akan dapat disembuhkannya. Namun dengan jujur Sarayuda telah berusaha. Ia benar-benar melepaskan Rara Wilis dengan hati yang ikhlas. Dan gadis itu kini tidak lebih daripada adik seperguruannya.

Demikian mereka memasuki halaman rumah Sarayuda, maka demikian hati Mahesa Jenar dan Rara Wilis berdesir. Di pendapa Kademangan itu telah dibentangkan tikar pandan. Beberapa orang tua-tua telah menunggu mereka di pendapa. Karena itu, demikian mereka melihat rombongan itu memasuki halaman, demikian mereka serentak berdiri dan turun ke halaman.

Rara Wilis tertegun ketika ia melihat seorang perempuan muda datang menyambutnya. Seorang yang pernah dikenalnya dimasa kanak-kanaknya sebagai kawannya bermain. Kini perempuan itu benar-benar menjadi seorang perempuan yang cantik, apalagi dalam pakaian yang cukup baik.

“Kau Rati,” sapa Wilis.

Perempuan itu tersenyum sambil memegang kedua lengan Rara Wilis dengan eratnya. “Kau tidak lupa kepadaku, Wilis.”

“Tentu tidak” sahut Wilis. “Kita sama-sama mengalami masa-masa yang pahit pada masa kanak-kanak kita. Kau tahu bahwa hari ini aku akan datang?”

Perempuan yang bernama Rati itu berpaling ke arah Sarayuda. Katanya, “Kakang Sarayuda memberitahukan kepadaku.”

“Wilis,” berkata Sarayuda. “Rati kini adalah istriku.”

“Oh” suara Wilis terputus. Tiba-tiba terasa sesuatu yang tak dimengertinya bergolak di dalam dadanya. Dengan cepatnya melintas di dalam angan-angannya, betapa Sarayuda pernah menjadi hampir gila karenanya. Hampir saja Sarayuda binasa dalam perkelahian di Karang Tumaritis karenanya pula.

Kini setelah Sarayuda itu melepaskan niatnya dengan ikhlas, maka dihadapannya berdiri Rati, kawannya bermain di masa kanak-kanaknya, sebagai istri Sarayuda itu. Karena itu maka tiba-tiba ia menjadi terharu. Dan dengan serta merta dipeluknya perempuan itu erat-erat.

“Rati. Aku mengucapkan selamat kepadamu. Mudah-mudahan kau akan menemukan kebahagiaan untuk seterusnya.”

Rati pernah mendengar, apa yang terjadi atas kawannya itu. Ia pernah mendengar dari Sarayuda sendiri, yang berkata dengan jujur tentang hari-hari lampaunya. Dan Rati sama sekali tidak berkeberatan atas masa lampau itu. Tetapi yang penting baginya, masa lampau adalah sumber perhitungan buat masa depan. Namun masa depan itu sendirilah yang terlebih penting baginya. Dan ia percaya bahwa Sarayuda benar-benar telah melepaskan semua hasratnya terhadap gadis cucu gurunya itu.

Rati itu pun menangis pula ketika Rara Wilis menangis sambil memeluknya. Betapa pun garangnya gadis yang bernama Rara Wilis itu, namun ia adalah seorang gadis. Gadis yang dipengaruhi oleh segala macam keadaan di masa kanak-kanaknya, sehingga Rara Wilis benar-benar menjadi seorang gadis perasa. Seorang gadis yang mudah meruntuhkan keharuan.

Namun sejenak kemudian pendapa Kademangan Gunungkidul itu menjadi sangat meriah. Hampir-hampir menyerupai sebuah perhelatan. Meskipun segala macam persiapan dilakukan dengan tergesa-gesa, namun bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis, sambutan itu benar-benar telah mendebarkan jantung mereka. Sambutan yang sama sekali tak disangka-sangkanya.

Ki Santanu sendiri bahkan hampir tak dapat berkata apa pun dalam penyambutan itu. Di lingkungan sanak kadang, maka seakan-akan lenyaplah sifat anehnya, sifat-sifat Pandan Alasnya. Ia tidak lebih dari orang-orang tua yang lain, yang duduk berjajar sambil berkelakar. Namun Ki Santanu benar-benar menjadi terharu, ketika ia melihat, bahwa seorang keturunannya akan mendapat tempat yang baik di dalam perjalanan hidupnya.

“Mudah-mudahan Wilis dapat menyambung darah keturunan Pandan Alas” katanya di dalam hati.

Demikianlah maka sejak hari itu, Mahesa Jenar dan Rara Wilis hidup dalam lingkungan keluarga Sarayuda. Mereka tidak boleh meninggalkan rumah, meskipun rumah rumah Rara Wilis yang dahulu masih juga ada, ditunggui oleh beberapa orang keluarganya meskipun sudah jauh. Namun Sarayuda minta kepada mereka untuk tinggal bersamanya.

“Rumahku cukup luas Mahesa Jenar,” berkata Sarayuda. “Biarlah Wilis tinggal di dalam bersama Rati dan biarlah kau tinggal digandok kulon.”

 


833

“Terima kasih Sarayuda,” sahut Mahesa Jenar namun terasa sesuatu berdesir didadanya.

Rumah itu bukan rumahnya sendiri.

Apakah kelak kalau ia telah berkeluarga, ia akan tinggal di rumah orang lain pula? tidak dirumah sendiri? Suatu persoalan yang selama ini belum pernah dipikirkannya. Tetapi Mahesa Jenar tidak menyesal, bahwa selama ini ia telah menyerahkan hampir segala-galanya kepada suatu pengabdian. Pengabdian yang luhur dan ikhlas. Karena itu, maka Mahesa Jenar pun dengan mantap memandang ke depan, ke hari yang akan datang.

Teringatlah ia akan kata-kata Rara Wilis, bahwa perkawinan bukanlah pertanda bahwa segalanya telah selesai, namun perkawinan juga merupakan pertanda akan mulainya persoalan-persoalan baru yang tidak kurang rumitnya.

Dalam pada itu, Rara Wilis sebagai seorang gadis tidak dapat melupakan sejenak pun akan hari-hari yang dijelangnya. Dari Rati ia mendengar, betapa hari-hari permulaan benar-benar memberinya kebahagiaan. Dan Rara Wilis pun merindukan hari-hari itu. Karena itu, maka hampir setiap saat gadis itu telah mereka-reka apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang istri. Kewajiban-kewajiban rumah tangga yang pasti akan jauh berbeda dari yang penah dilakukannya. Tangan yang kecil itu tidak harus lagi bermain-main dengan pedang, namun harus digenggamnya sebilah pisau dapur untuk menyiapkan masakannya.

Tetapi tiba-tiba angan-angan itu digetarkan oleh peristiwa yang benar-benar mengejutkan. Dengan tergesa-gesa seseorang memberitahu, bahwa ada tiga orang tamu yang ingin menemui Mahesa Jenar dan Rara Wilis.

Ketika Mahesa Jenar mendengar berita itu, dadanya pun tergetar pula. Karena itu maka segera ia ingin tahu, siapakah yang datang itu.

“Tiga orang berkuda dari Banyubiru” sahut orang itu.

Mahesa Jenar menjadi semakin berdebar-debar. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi. Tetapi sebagai seorang tamu,ia tidak dapat menerima orang itu tanpa setahu Sarayuda. Namun Sarayuda segera berkata, “Marilah. Persilahkan mereka kemari. Dimanakah mereka sekarang?”

“Mereka masih di alun-alun,” jawab orang itu. “Seorang anak muda yang sedang bekerja di sawah telah membawa mereka sebagai penunjuk.”

Orang itu pun kemudian mempersilakan tamu-tamu itu masuk ke halaman, desir dada Mahesa Jenar menjadi semakin keras. “Bantaran.” desisnya.

Setelah mereka dipersilakan duduk di pendapa Kademangan, maka dengan ramahnya Demang Sarayuda bertanya-tanya tentang keselamatan mereka, perjalanan mereka dan yang mereka tinggalkan.

“Semuanya baik Ki Demang,” sahut Bantaran. “Perjalananku baik, dan yang berada di Banyubiru pun baik.”

“Syukurlah” sahut Demang itu. Namun Mahesa Jenar melihat sesuatu yang menggelisahkan diwajah Bantaran. Sehingga setelah mereka bercakap-cakap sejenak, maka Mahesa Jenar yang segera ingin tahu persoalan yang dibawanya itu bertanya.

“Apakah ada sesuatu yang perlu kau sampaikan kepadaku Bantaran, atau kau hanya sekadar melihat jalan yang harus ditempuh, apabila kelak beberapa orang dari Banyubiru akan berkunjung kemari?”

Bantaran menarik nafas panjang. Kemudian setelah ia bergeser sedikit, mulailah ia berbicara tentang keperluannya. Katanya, “Kedatanganku yang pertama-tama memang hanya sekadar melihat, bagaimanakah jalan yang kira-kira akan ditempuh, apabila nanti beberapa orang dari Banyubiru akan berkunjung kemari.” Bantaran itu berhenti sejenak.

Namun Mahesa Jenar menangkap sesuatu di balik kata-kata itu. Meskipun demikian dibiarkannya Bantaran berkata terus. “Tetapi di samping itu,” berkata Bantaran itu.

“Aku mendapat pesan dari angger Arya Salaka yang harus aku sampaikan kepada kakang Mahesa Jenar di sini.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Apakah pesan itu?”

“Lupakanlah dahulu pesan itu, Adi Bantaran. Tinggallah disini dua atau tiga hari. Baru kau sampaikan pesan itu,” potong Sarayuda.

Namun Bantaran itu tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku ingin berbuat demikian. Tetapi biarlah aku menyampaikan pesan itu. Kalau kemudian aku harus tinggal di sini untuk sementara, aku akan sangat bersenang hati.”

“Baiklah” sahut Mahesa Jenar, “Sarayuda pasti tidak akan berkeberatan.”

Sarayuda itu pun tertawa. “Silakanlah. Mungkin Mahesa Jenar segera ingin mendengarnya. Tetapi dengan syarat, bahwa pesan itu tidak akan memberinya rangsang yang menggelisahkan.”

“Entahlah” jawab Bantaran, “Mudah-mudahan tidak.”

“Nah. Katakanlah,” Mahesa Jenar menjadi tidak sabar.

Bantaran berdiam diri sesaat. Di aturnya detak jantungnya supaya ia dapat mengatakannya dengan baik dan jelas.
“Kakang Mahesa Jenar,” berkata Bantaran itu. “Pesan itu sangat pendek. Dan mudah-mudahan benar-benar tidak menggelisahkan kakang,” kembali Bantaran berhenti, sedang Mahesa Jenar menjadi semakin tidak sabar. Baru sesaat kemudian Bantaran itu meneruskan. “Sepeninggal kakang dari Banyubiru, ternyata Endang Widuri telah hilang.”

“He?” alangkah terkejutnya Mahesa Jenar mendengar berita itu. Bukan saja Mahesa Jenar, tetapi juga Sarayuda dan Rara Wilis. Berita itu benar-benar seperti bunyi guruh yang meledak di atas kepala mereka. Sehingga dengan serta merta Rara Wilis bertanya, “Endang Widuri puteri Kakang Kebo Kanigara maksudmu?”

“Ya” sahut Bantaran.

 

834

Tiba-tiba semuanya jadi terbungkam. Berita itu benar-benar merupakan hal yang tidak pernah mereka sangka akan dapat terjadi.

Sesaat kemudian berkatalah Mahesa Jenar, “Apakah kakang Kebo Kanigara sudah pulang ke Karang Tumaritis tanpa Widuri?”

“Belum,” jawab Bantaran.

“Belum?” ulang Mahesa Jenar seakan-akan tidak percaya.

“Ya belum.”

Hal ini pun merupakan suatu keanehan bagi Mahesa Jenar. Kebo Kanigara masih berada di Banyubiru. “Kenapa anak gadisnya itu dapat hilang dan sampai beberapa waktu tidak segera dapat diketemukan?”

Karena itu maka Mahesa Jenar itu bertanya, “Apakah yang sudah dilakukan di Banyubiru?”

“Semua orang telah mencoba untuk mencarinya. Ki Ageng Gajah Sora, Kakang Kebo Kanigara sendiri, Arya Salaka dan bahkan Ki Ageng Lembu Sora datang juga ke Banyubiru. Semua orang telah berusaha mencari hampir di setiap sudut Banyubiru. Semua jalan keluar telah dijaga segera setelah diketahui Endang Widuri hilang. Bahkan beberapa orang telah dikirim keluar Banyubiru. Namun Endang Widuri belum diketemukan.”

“Apakah yang dilakukan oleh Kebo Kanigara?”

“Kami tidak tahu. Tetapi Kakang Kebo Kanigara itu mencarinya hampir setiap saat. Hanya pada malam harinya saja kakang Kebo Kanigara pulang ke rumah Ki Ageng. Bahkan malam hari pun kadang-kadang kakang Kebo Kanigara tidak pulang.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apalagi setelah ia mendengar bahwa di halaman Banyubiru pun telah dikejutkan oleh sebuah bayangan yang tak dapat ditangkap oleh Arya Salaka.

Berita tentang hilangnya Endang Widuri telah benar-benar menggoncangkan perasaan Mahesa Jenar. Bagaimana ia akan dapat menikmati hari-hari seterusnya, apabila disadarinya betapa pedih hati Arya Salaka dan orang-orang lain di Banyubiru. Orang-orang yang selama ini berada di dalam suatu lingkungan yang seakan-akan mengalami semua nasib, suka dan duka, manis pahit bersama-sama. Apakah kini ia mampu menutup perasaannya, dan beristirahat dengan tenang sambil menunggu hari-hari yang berbahagia itu? Sedangkan Kebo Kanigara, Arya Salaka, Gajah Sora dan orang-orang lain di Banyubiru sedang berprihatin.

Timbullah kemudian persoalan tersendiri di dalam hati Mahesa Jenar. Persoalan yang amat rumit. Kedatangannya di Gunungkidul merupakan permulaan dan hari-hari yang cerah bagi Rara Wilis sebagai seorang gadis yang merindukan hidup tentram dan wajar. Tiba-tiba kini mereka dikejar lagi oleh suatu persoalan yang tak pernah mereka sangka-sangka akan terjadi.

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu pun bertanya kepada Bantaran. “Bantaran, apakah setiap orang di Banyubiru yakin bahwa Widuri benar-benar hilang?”

“Ya. Semua orang menganggap demikian.” sahut Bantaran.

“Apakah Widuri tidak sedang merajuk, karena ia tidak diperbolehkan ikut ke Gunungkidul?” bertanya Mahesa Jenar lagi.

“Ada juga dugaan demikian,” jawab Bantaran. “Tetapi ternyata tidak. Seorang gadis melihat Widuri berkelahi, dan seorang laki-laki yang tak dikenal telah menculiknya di belumbang selagi Widuri sedang hendak mencuci pakaiannya.”

“Bukan main” desis Mahesa Jenar. “Widuri adalah seorang gadis yang kuat. Kalau seseorang berhasil menculiknya, maka orang itu pun pasti orang yang lebih kuat pula.”

Bantaran mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan kata-kata Mahesa Jenar itu, kata-kata serupa pernah juga didengarnya di Banyubiru.

Pendapa itu pun kemudian menjadi sepi. Masing-masing hanyut dalam arus perasaan sendiri. Mahesa Jenar menjadi gelisah karenanya. Sekilas ditatapnya wajah Rara Wilis. Dan terasa dada Mahesa Jenar berdesir.

Dilihatnya gadis itu menundukkan wajahnya yang muram. Mahesa Jenar tidak dapat meraba, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Rara Wilis. Apakah ia sedang berpikir dan berduka karena hilangnya Widuri ataukah ia sedang mencemaskan dirinya, bahwa kebahagiaan yang ditunggu-tunggunya itu akan mengalami gangguan pula.

Tetapi sudah pasti bahwa Mahesa Jenar tidaka akan dapat berdiam diri mendengar hal itu. Meskipun Bantaran kemudian menjelaskan, bahwa kedatangannya hanyalah sekadar memberitahukan, namun pemberitahuan atas permintaan Arya Salaka itu sudah pasti mempunyai nilai tersendiri di dalam hatinya. Arya Salaka adalah muridnya. Pada saat nyawa anak itu terancam oleh bahaya maut dari setiap penjuru. Pada saat anak itu ditinggalkan oleh ayahnya yang dikasihinya.

Lima enam tahun ia mengolah anak itu supaya ia dapat memenuhi permintaan ayahnya menjadikan anak itu anak yang kuat lahir dan batinnya, mempersiapkan anak itu untuk kedudukannya yang akan datang. Bukan, bukan itu saja yang mendorongnya menempa Arya Salaka, tetapi rasa keadilannya memang menuntut demikian. Kini, setelah pekerjaan itu selesai, apakah ia tega melihat anak itu berduka karena sebuah persoalan yang sangat pokok baginya. Persoalan kegairahan hidup di masa depan.

Mahesa Jenar tahu benar perasaan yang bergolak di dalam hati muridnya itu. Apabila Endang Widuri tidak dapat diketemukan, maka Arya Salaka akan kehilangan sebagian dari masa depannya pula.

Demikianlah, ketika kemudian Bantaran itu beristirahat bersama-sama kawan-kawannya, maka di gandok kulon, Mahesa Jenar memerlukan duduk bersama dengan Rara Wilis. Mahesa Jenar ingin mencoba menyatakan perasaannya kepada gadis itu, dan ia mengharap mudah-mudahan Rara Wilis akan mengetahui dan mengertinya pula.

 


835

Namun karena itulah maka ia menjadi gelisah. Apalagi ketika dilihatnya Rara Wilis selalu menundukkan wajahnya yang suram. Maka kebimbangan yang tajam telah melanda dada Mahesa Jenar. Untuk sesaat ia menjadi ragu-ragu. Apakah yang sebaiknya dilakukan? Apakah ia akan membiarkan Widuri hilang dan Arya Salaka menyesali peristiwa itu sepanjang hidupnya?

Betapa pun sulitnya, namun kemudian Mahesa Jenar itu pun berkata pula.

“Wilis, bagaimanakah tanggapanmu atas berita yang dibawa oleh Bantaran?”

Mahesa Jenar menjadi semakin berdebar-debar ketika Rara Wilis sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Namun meskipun demikian gadis itu menjawab, “Kasihan anak itu.”

“Ya. Kasihan Widuri, dan kasihan pula Arya Salaka,” sahut Mahesa Jenar.  Rara Wilis hanya menganggukkan kepalanya. Dan ia tidak lagi berkata apa-apa.

Mahesa Jenar menjadi semakin bimbang. Dengan hati-hati dicobanya untuk menuntun pembicaraan ke arah yang dikehendaki, katanya, “Tetapi bagaimana pun juga anak itu harus diketemukan.”

“Ya” sahut Rara Wilis.

Sebenarnya hati Rara Wilis pun terganggu pula oleh peristiwa itu. Endang Widuri yang nakal itu tak pernah dapat dilupakan. Setiap kali wajah anak itu terbayang di dalam rongga matanya. Kenakalan dan kelincahan serta sifat kanak-kanakannya yang jujur kadang-kadang menimbulkan rasa rindunya untuk segera bertemu dengan anak itu. Namun tiba-tiba anak itu hilang. Karena itulah maka mau tidak mau terbersit pula suatu perasaan yang dalam di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri sedang menghadapi persoalan yang sangat penting dari segenap umurnya. Hari-hari yang diharapkannya akan segera datang. Ia mengharap kedatangan beberapa tamu, terutama dari Karang Tumaritis. Namun tamu itu pasti tidak akan segera datang. Rara Wilis itu pun menarik nafas dalam-dalam.

Akhirnya Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada mengatakan maksudnya. Maksud itu memang harus dikatakannya. Nanti atau sekarang. Sebab ia tidak dapat menghindari kejaran perasaan tentang hilangnya Endang Widuri.

Karena itu, maka dengan susah payah ia pun berkata. “Wilis, apakah kau akan sependapat seandainya aku pergi ke Banyubiru untuk membantu mencari anak yang hilang itu?”

Rara Wilis sudah tahu sebelumnya bahwa Mahesa Jenar akan berkata demikian. Bahwa Mahesa Jenar akan meninggalkan lagi untuk waktu yang tidak dapat ditentukan.

Rara Wilis tidak segera dapat menjawab. Meskipun pertanyaan itu sudah diduganya, namun hatinya berdesir juga mendengar pertanyaan itu diucapkan. Dan sebenarnyalah ia menjadi bersedih. Hari-hari yang dinantikannya itu seakan-akan menjadi semakin jauh daripadanya. Kalau mula-mula ia merasa bahwa hari-hari yang dinantikan itu telah berada di ambang pintu, maka kini pintu itu tiba-tiba tertutup kembali.

Tetapi Rara Wilis tidak akan dapat menyalahkan siapa-siapa. Mahesa Jenar tidak bersalah. Sejak semula ia mengenal laki-laki itu sebagai seorang yang lebih pasrah pada tanggungjawab atas kewajibannya, serta pengabdian terhadap kemanusiaan daripada keperluan-keperluan dirinya sendiri, maka seharusnya ia dapat mengertinya. Arya Salaka juga tidak dapat dipersalahkannya. Ia telah menderita pula karena hilangnya gadis itu. Dan sama sekali bukanlah kehendaknya, bahwa Widuri harus hilang supaya Mahesa Jenar datang kembali ke Banyubiru. Gajah Sora, Lembu Sora, dan Sora Dipayana juga tidak. Widuri pun tidak. Ia akan mengalami ketakutan dan kecemasan selama ia berada di tangan orang yang tidak dikenal itu. Lalu siapa? Orang yang menculiknya itu? Orang itu sama sekali tidak bersangkut paut dengan Mahesa Jenar. Tetapi itulah penyebab dari kedukaannya kali ini. Lalu bagaimanakah dengan Kebo Kanigara? Kebo Kanigara adalah seorang yang sakti. Bahkan lebih matang dari Mahesa Jenar sendiri. Tetapi kenapa ia tidak mampu menemukannya? Apalagi Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar melihat pergolakan di dasar hati Rara Wilis itu. Meskipun di usahakannya untuk membayangkan pergolakan itu, namun wajahnya yang mendung adalah pernyataan yang tidak dapat disembunyikan.

“Rara Wilis” desis Mahesa Jenar kemudian, “Aku harap kau dapat mengerti.”

Rara Wilis terkejut mendengar kata-kata itu, sehingga dengan demikian ia mengangkat wajahnya. Dengan tajamnya dipandangnya wajah Mahesa Jenar. Katanya, “Apakah aku tidak dapat mengerti persoalan yang sedang kau hadapi kakang?”

Mahesa Jenar menjadi bingung. Ternyata dirinya sendirilah yang tidak dapat mengerti perasaan Rara Wilis itu. Karena itu maka segera ia berkata, “Maaf Wilis. Maksudku, apakah kau menyetujuinya?”  Kembali Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. Hilangnya Widuri benar-benar telah menggoncangkan ketentramannya.

Sesaat kemudian maka Rara Wilis itu pun menjawab. “Kakang, aku sama sekali tidak akan bermaksud menghalangi pekerjaan kakang. Tetapi aku berkata demikian kakang, bukan perasaanku. Kalau aku berkata demikian kakang, bukan berarti aku tidak menyetujui kakang untuk pergi ke Banyubiru. Pergilah kakang. Aku pun merasa kehilangan pula. Tetapi jangan menganggap kepedihan ini karena aku terlalu mementingkan diriku sendiri.”

Mahesa Jenar memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap wajah Rara Wilis terlalu lama. Ia melihat air di dalam mata yang buram. Dan ia tidak tahan melihatnya. Dilemparkannya pandangan matanya jauh-jauh ke luar, menorobos sela-sela pintu yang tidak terkatup rapat. Dilihatnya daun-daun di halaman berguncang disentuh angin yang bertiup dari lautan. Suaranya semiut seperti sebuah lagu yang rawan.

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


836

Sesaat mereka berdiam diri dalam keheningan. Tetapi Mahesa Jenar tidak mendengar Rara Wilis terisak-isak. Perlahan-lahan ia berpaling, dan dilihatnya Wilis masih duduk dalam sikapnya. Tetapi ia tidak menangis.

Mahesa Jenar itu pun kemudian berkata, “Wilis. Aku dapat mengerti pula perasaanmu seperti kau dapat mengerti perasaanku. Kini kau sedang mulai menghayati ketentraman hidup dalam keluarga yang wajar. Tetapi baru saja kau menikmati ketenangan ini setelah bertahan-tahun lamanya kau terguncang-guncang oleh arus yang tak kau ketahui ujung pangkalnya, maka kembali kau diganggu oleh peristiwa-peristiwa yang sama sekali tidak bersangkut-paut dengan masa depan sendiri. Tetapi aku berjanji Wilis, bahwa kali ini adalah kali terakhir.”

“Jangan berjanji kakang”, potong Rara Wilis. “Aku tidak ingin mendengar janji apapun daripadamu. Marilah kita jalani jalan kita dengan janji di dalam hati. Sebab bagiku, janji bukanlah satu-satunya tempat untuk menyangkutkan harapan. Tetapi apa yang akan kita lakukan akan mengatakan kepada kita masing-masing, janji yang tersimpan di dalam hati itu.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dapat mengerti kata-kata Rara Wilis itu. Dan ia adalah orang yang mantap pada janjinya. Janji yang terpateri di dalam hati. Ia tidak pernah berjanji kepada Baginda Sultan Trenggana untuk menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi janji itu dipenuhinya. Janji yang disimpannya di dalam dadanya. Dan kini ia telah mengucapkan janji itu pula di dalam hatinya itu. Janji pribadi.

Akhirnya Mahesa Jenar telah mengambil keputusan untuk pergi ke Banyubiru besok bersama Bantaran. Keputusan yang sangat berat, namun harus dilakukan menurut panggilan hatinya. Sekali lagi ia terpaksa mengorbankan kepentingannya sendiri. Kepentingan yang sangat berharga bagi hidupnya. Dan sekali lagi ia mengorbankan perasaan seorang gadis yang dicintainya. Meskipun Rara Wilis itu dapat mengerti sepenuhnya. Tetapi ia kecewa. Kecewa terhadap keadaan. Keadaan yang belum memungkinkan menikmati ketentraman dan ketenangan hidup. Lebih-lebih lagi hidup dalam lingkungan keluarga yang diimpikan.

Ki Ageng Pandan Alas melihat pula kerisauan di dalam hati cucunya. Ia pun menjadi kecewa seperti kekecewaan Rara Wilis sendiri. Orang tua itu benar-benar ingin melihat keturunannya tidak lenyap sama sekali. Karena itu, alangkah rindunya ia akan keluarga cucunya itu. Namun tiba-tiba ia tidak dapat menentang keadaan yang tiba-tiba saja dihadapkannya kepadanya, kepada cucunya dan kepada cita-citanya. Karena itu maka ketika Mahesa Jenar bermohon diri kepadanya, maka katanya serta merta, “Aku turut angger ke Banyubiru.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Juga Rara Wilis terkejut. Namun orang tua itu kemudian berkata pula dengan wajah yang suram. “Wilis, aku akan berbuat untukmu. Aku tidak tahu, apakah tenagaku yang tua ini akan berguna, namun aku ingin membantu mencari yang hilang itu. Betapa kecil arti usahaku, tetapi aku percaya semakin banyak orang yang berusaha mencari, maka semakin cepatlah cucu Widuri itu akan diketemukan. Dengan demikian, maka angger Mahesa Jenar pun akan semakin cepat selesai pula dengan pekerjaannya.”

Kata-kata itu berdenyut di dalam dada Rara Wilis dan Mahesa Jenar. Terasa betapa orang tua itu menjadi sedih karena keadaan. Tetapi orang tua yang penuh dengan pengertian itu, tidak saja hanya meratap, namun ia berbuat sesuatu untuk mempercepat penyelesaian.

Karena itu, maka tiba-tiba Rara Wilis pun berkata. “Aku juga ikut kakang.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar permintaan itu. Karena itu maka dengan serta merta ia berkata, “Jangan. Jangan Wilis.”

“Aku tidak akan dapat menunggu dalam kesepian di Gunungkidul ini.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Ki Ageng Pandan Alas, seakan-akan ia menyerahkan setiap persoalan kepadanya. Namun Ki Ageng Pandan Alas pun menundukkan wajahnya.

Ketika kemudian mereka berdiam diri, maka ruangan itu pun menjadi sunyi. Mereka mengangkat wajah-wajah mereka ketika terdengar suara di belakang. “Kakang Demang, kuda kakang telah disiapkan.”

“Baik” sahut suara yang lain, suara Demang Sarayuda. “Aku akan pergi ke banjar sebentar.”


837

Kemudian terdengarlah langkah keduanya lewat disebelah dinding dan hilang ke pendapa. Dada Rara Wilis berdentang mendengar langkah itu, mendengar suara Rati dan mendengar suara Sarayuda. Mereka telah berhasil membangun suatu ikatan keluarga yang bahagia. Kalau ia tinggal sendiri di kademangan itu, maka setiap kali ia melihat kebahagiaan itu, maka hatinya akan menjadi semakin kesepian.

“Apakah aku menjadi cemburu.” katanya di dalam hati. “atau iri hati?” Rara Wilis itu pun kemudian mendesak pula. “Kakang, aku akan ikut ke Banyubiru.”

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang telah banyak mengenyam pahit manisnya kehidupan. Tidak saja sebagai seorang pengembara yang harus bertempur dengan lawan-lawannya, dengan penjahat-penjahat dan dengan penyamun-penyamun, namun ia pernah juga merasakan duka derita hidup kekeluargaan. Orang tua itu pernah melihat anaknya menjadi korban yang menyedihkan. Ia melihat betapa seorang perempuan yang hidupnya penuh kepahitan apabila ia ditinggalkan oleh suaminya yang dicintainya, tetapi ia pernah juga mendengar, seorang laki-laki yang jalan hidupnya dihancurkannya sendiri, karena ia merasa kehilangan isterinya.

Meskipun kemudian ternyata bahwa ia hanya berprasangka, seperti Lawa Ijo. Karena itu, orang tua itu mengerti perasaan yang tersimpan di dalam hati Rara Wilis. Sehingga kemudian ia menjawab, “Angger Mahesa Jenar. Bila berkenan di hati angger, biarlah Wilis ikut serta ke Banyubiru.”

“Hem” desah Mahesa Jenar di dalam hatinya. “Apakah arti perjalanan ke Gunungkidul ini?”

Pertanyaan itu pun terdengar pula di dalam hati Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas. Namun mereka mempunyai jawabannya. “Ternyata Mahesa Jenar masih sanggup mengorbankan kepentingan pribadinya untuk panggilan rasa keadilannya yang tersentuh. Penculikan atas Endang Widuri adalah kejahatan. Dan Mahesa Jenar ingin melenyapkan kejahatan. Meskipun dalam batas-batas kemampuan yang ada padanya.”

Mahesa Jenar itu pun kemudian terpaksa menerima permintaan Rara Wilis itu. Ia kemudian menganggap kedatangannya ke Gunungkidul sebagai suatu kunjungan yang menyenangkan untuk mempersiapkan masa-masa yang dinanti-nantikannya bersama Rara Wilis.

Demikianlah maka di suatu pagi yang cerah, bersiaplah sebuah rombongan di halaman Kademangan Gunungkidul. Meskipun Sarayuda dan beberapa orang tetua Kademangan itu menjadi kecewa, namun mereka terpaksa melepaskan rombongan itu pergi. Beberapa orang telah mendengar pula, apa yang terjadi di Banyubiru.

Bahkan Sarayuda menyesal pula, kenapa Widuri itu dahulu tidak dibawanya sekali sehingga dengan demikian, maka tidak ada kemungkinan untuk menculiknya. Tetapi beberapa orang yang lain tidak mendengar berita tentang hilangnya seorang gadis di Banyubiru, sehingga karena itu timbullah berbagai pertanyaan di dalam hati mereka.

Beberapa orang tua-tua yang melihat Ki Ageng Pandan Alas ikut juga dalam rombongan itu, dengan berkelakar berkata, “Ki Sentanu, hati-hatilah. Jangan sampai terjadi bahwa kuda itu nanti yang menaikimu.”

Ki Ageng Pandan Alas yang dikenal bernama Ki Sentanu itu tertawa. “Mudah- mudahan,” jawabnya.

Pagi itu Mahesa Jenar beserta rombongan meninggalkan Gunungkidul dengan hati yang bimbang. Kehadirannya di daerah yang berbukit-bukit itu benar-benar seperti sebuah mimpi saja. Namun mimpi yang menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Bahwa suatu ketika ia akan dapat mengulangi mimpi yang pasti akan lebih indah lagi.

Ketika mereka sampai di alun-alun kecil di muka rumah Kademangan itu maka sekali mereka berpaling, dada Mahesa Jenar dan Rara Wilis berdesir karenanya. Mereka melihat Demang Sarayuda dalam pakaian yang indah berdiri disamping Rati isterinya. Mereka melambaikan tangan mereka sambil tersenyum. Tetapi senyum itu seakan-akan sama sekali tidak ditujukan kepada mereka. Senyum itu adalah senyum kebahagiaan mereka sendiri.

 


838

Rati yang berdiri disamping Sarayuda itu tampak kepucat-pucatan. Ia tidak tahan berdiri terlalu lama, karena itu, maka segera ia masuk kembali ke halaman.

Mahesa Jenar yang melihat Rati itu dengan tergesa-gesa, masuk kembali berkata tanpa sesadarnya, “Apakah Nyai Demang itu sakit?”

Rara Wilis menundukkan wajahnya sambil menggeleng.

“Ia tidak sakit,” jawabnya.

“Tetapi ia terlalu pucat dan hampir sehari-harian berada dipembaringannya.”

“Anak itu sedang ngidam. Ia telah mengandung tiga bulan.”

“Oh” Mahesa Jenar tidak bertanya lagi. Tanpa disengaja ia telah menyentuh hati Rara Wilis pula. Karena itu sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Dan kemudian diangkatnya wajahnya, memandang jalan-jalan di depannya. Jalan yang keras kemerah-merahan karena tanah yang liat. Dikejauhan dilihatnya bukit-bukit kapur yang kering. Namun di arah yang lain tampaklah sawah-sawah yang menghijau segar. Gunungkidul adalah suatu daerah yang bercampur baur.

Ketika kemudian mereka telah melintasi perbatasan induk Kademangan, maka kuda- kuda itu mulai dipacu. Ki Sentanu kini bukan lagi seorang tua yang ketakutan duduk di atas punggung kuda, namun tiba-tiba wajah menjadi bersungguh-sungguh dan katanya perlahan-lahan. “Marilah, mumpung masih pagi.”

Bantaran yang berkuda dipaling depan, mempercepat kudanya pula. Suara kaki-kaki kuda itu berderak-derak di atas tanah yang kering. Debu yang putih mengepul tinggi di udara, menakbiri daerah yang mereka tinggalkan. Daerah yang meskipun hanya sekelumit, namun telah menyentuh hati Mahesa Jenar sedemikian dalamnya. Kini mereka menghadapi jalan yang terbentang memanjang. Seperti sebuah jalur- jalur yang tak terkira panjangnya, membelit lereng-lereng bukit, menghujam lurah-lurah dan mendaki tebing. Sekali-kali menghilang dibalik puntuk-puntuk yang menjorok dihadapan mereka, untuk kemudian timbul kembali, seakan-akan dari dalam tanah. Jalan-jalan itulah yang akan mereka lalui. Jalan-jalan yang dilalui beberapa hari yang lampau dalam arah yang berlawanan. Namun alangkah jauh bedanya perasaan mereka. Pada saat mereka datang dan pada saat mereka meninggalkan daerah yang baru sebentar saja disinggahi sepanjang hidupnya. Betapa pun panjang jalan yang harus ditempuh itu, namun setapak demi setapak dilampauinya pula. Seperti sebuah benang yang digulung disebelah ujungnya, maka kuda-kuda itu akhirnya akan sampai juga ke ujung yang lain, setelah dilampauinya jurang dan ngarai, ditembusnya hutan-hutan yang lebat pepat, padang-padang rumput dan dilampauinya jarak yang memisahkan Gunungkidul dan Banyubiru. Dan jarak itu tidak terlalu pendek.

Setelah mereka menempuh jarak yang panjang itu, setelah mereka melampaui jalan yang jauh, maka mereka kemudian melihat, tanah perdikan Banyubiru yang seakan- akan terbentang di lereng bukit Telamaya itu pun muncul di hadapan mereka.

Demikian Mahesa Jenar melihat daerah itu, maka hatinya menjadi berdebar-debar. Daerah itu adalah daerah yang sudah dikenalnya dengan baik. Tidak saja liku- liku jalan-jalan kota Banyubiru, namun lekuk-liku sifat dan watak penduduknya. Penduduk yang rajin bekerja tanpa banyak berteriak-teriak tentang kemampuan diri sendiri. Namun dengan demikian, mereka dapat menikmati hasil usaha mereka itu. Dan mereka akan dapat mewariskan hasil jerih payahnya kepada anak cucu mereka.

Tapi kini tiba-tiba Banyubiru itu serasa asing baginya. Baru beberapa hari ia berada di Gunungkidul, namun kedatangannya di Banyubiru kali ini seolah-olah benar-benar seperti orang baru. Terasa Banyubiru itu tidak seperti Banyubiru yang ditinggalkannya beberapa hari yang lampau. Sepi dan penuh rahasia.

Banyubiru bagi Mahesa Jenar, seperti menyimpan persoalan-persoalan yang tidak wajar di dalamnya. Warna-warna hijau segar di lereng bukit, tampaknya sebagai sebuah takbir yang membayangi daerah di lereng bukit itu, sebagai sebuah tabir yang menyimpan berbagai persoalan.

Ketika Mahesa Jenar melampaui daerah-daerah perbatasan kota, dilihatnya beberapa orang sedang berjaga-jaga. Gardu-gardu perondan kini telah dipenuhi lagi oleh orang-orang yang sedang bertugas seperti dalam saat-saat Banyubiru sedang berperang. Mereka mendapat tugas untuk mengawasi kemungkinan orang yang menculik Widuri lolos dari Banyubiru atau sengaja membawa Widuri keluar untuk disembunyikan. Namun penjaga-penjaga itu seakan-akan sama sekali tidak berarti. Widuri masih belum diketemukan, seperti lenyap ditelan lereng-lereng bukit.

Kepada para penjaga itu Bantaran bertanya, “Apakah kau sudah mendengar kabar tentang hilangnya gadis itu?”

 


839

PENJAGA itu menggeleng. Jawabnya, “Belum. Masih belum ada tanda-tanda apa pun tentang gadis itu.”
Bantaran tidak berkata lagi. Mereka berpacu semakin kencang, seakan-akan takut terlambat. Namun dalam pada itu Mahesa Jenar berkata kepada Bantaran. “Bagaimana?”
“Gelap,” sahut Bantaran.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Apakah ia dapat berbuat sesuatu yang dapat menyingkap takbir kegelapan itu, sedang Kebo Kanigara sendiri tidak?
Apakah yang dapat dilakukannya, seorang diri atau berdua, dan bahkan bertiga dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis di antara ratusan orang Banyubiru sendiri, termasuk orang-orang seperti Ki Ageng Gajah Sora, Lembu Sora, mungkin Ki Ageng Sora Dipayana pula, Arya Salaka dan lain-lainnya. Mungkin mereka tidak dapat bertempur setangkas Kebo Kanigara, namun mereka akan lebih mengenal daerah Banyubiru seperti mereka mengenal semua ruang di dalam rumah mereka
sendiri, seperti mereka mengenal halaman mereka sendiri.

Mereka mengenal setiap penduduk Banyubiru seperti mereka mengenal istri dan anak-anak mereka sendiri.
Dan ternyata mereka itu tidak berhasil menemukan Endang Widuri. Lalu apakah kedatangannya akan berarti. Tetapi betapa ia menjadi bimbang akan usahanya, namun ia tidak akan dapat berdiam diri tanpa berbuat sesuatu. Ia harus berbuat, apakah berhasil apakah tidak berhasil, adalah masalah yang tak dapat dipecahkannya. Tetapi ia tidak boleh berputus asa, apalagi sebelum ia berbuat sesuatu.

Namun Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan kesan yang menggores dihatinya, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Sesuatu yang tidak dapat diperhitungkannya dan dirabanya.

Rombongan itu pun meluncur di antara sawah-sawah dan ladang di dataran yang terbentang di hadapan bukit Telamaya itu. Namun terasa pula, seakan-akan batang- batang padi yang tumbuh di sawah, serta palawija yang menghijau diladang-ladang memandangi rombongan itu dengan penuh prasangka. Seakan-akan mereka sama sekali membisu atas kedatangan itu. Bahkan seakan-akan batang-batang padi dan palawija itu telah menyembunyikan rahasia yang tak boleh diketahui oleh Mahesa Jenar dan rombongannya.

Bahwa seolah-olah Endang Widuri yang hilang itu telah disembunyikan pula disana.
Tetapi rombongan itu berpacu terus. Beberapa orang petani memandangi mereka dengan wajah yang kosong. Hanya satu-satu di antara mereka berbisik. “Mahesa Jenar telah datang pula untuk menemukan gadis yang hilang itu.”

Tetapi kembali mulut-mulut mereka terkatup rapat-rapat kala rombongan itu lewat dihadapan mereka.
Beberapa orang yang melihat rombongan itu merayapi tebing bukit Telamaya segera menyampaikan kepada Ki Ageng Gajah Sora. Arya yang mendengar pula laporan itu bertanya dengan serta merta.

“Bantaran telah kembali?”

“Ya”, jawab orang itu.
“Sendiri?”
“Tidak. Beberapa orang itu bersamanya.”
“Paman Mahesa Jenar” desis Arya Salaka. Karena itu segera ia menyiapkan diri untuk menjemput gurunya itu. Tiba-tiba timbullah kembali harapan di dalam dadanya. Harapan yang selama ini hampir padam. Tetapi sebelum Arya Sempat meloncat ke punggung kudanya, maka derap kuda rombongan yang datang itu sudah sedemikian dekatnya, sehingga sesaat kemudian, mereka melihat rombongan itu masuk ke halaman.

Ketika kuda-kuda itu berhenti, maka para penunggangnya segera berloncatan turun. Arya Salaka yang melihat Mahesa Jenar, tidak dapat menahan hatinya lagi.

Segera ia berlari kepadanya dan seperti seorang anak yang menyambut kedatangan ayahnya, Arya itu pun segera menyambut tangan gurunya sambil berdesis. “Selamat datang paman. Aku menjadi sangat gelisah, seandainya paman tidak datang ke Banyubiru.”

Mahesa Jenar menepuk punggung Arya Salaka sambil berkata, “Aku ikut prihatin Arya.”

“Terima kasih paman. Aku percaya bahwa paman pasti akan datang.”
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Rombongan itu pun kemudian berjalan ke pendapa disambut langsung oleh Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dan bahkan Ki Ageng Soradipayana pun ada pula di pendapa itu. Di antara mereka berdiri dengan pandangan yang kosong Kebo Kanigara.
Mereka menyambut kedatangan Mahesa Jenar dengan penuh gairah. Seakan-akan mereka, orang-orang yang menentukan jalan perputaran roda Banyubiru itu menggantungkan harapan mereka kepada Mahesa Jenar. Wajah-wajah yang ramah dan penuh harapan memenuhi pendapa itu. Ucapan selamat datang yang tulus dan sapa atas keselamatannya dengan penuh kesungguhan, seakan-akan mereka telah bertahun- tahun berpisah.

Dan sambutan itulah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin merasa dirinya asing pada keadaan disekitarnya. Seakan-akan Mahesa Jenar melihat suatu daerah yang ketakutan karena berbagai ancaman. Ia merasa bahwa saat itu dirinya telah menjadi pusat perhatian dan bahkan seakan-akan menjadi tempat untuk mengadukan nasib mereka.
Tetapi dada Mahesa Jenar itu pun berdesir karenanya, ketika ia melihat wajah Rara Wilis yang muram. Gadis itu menundukkan wajahnya sembil bermain-main dengan ujung kainnya. Dalam kegairahan orang-orang Banyubiru menyambut kedatangan Mahesa Jenar itu terasa betapa kesepian telah melanda dada Rara Wilis. Sebagai seorang gadis ia merasa, bahwa kali ini ia sama sekali tidak diperlukan.
Seolah-olah tak seorang pun lagi yang ingat bahwa ia hadir pula di pendapa itu selain beberapa sapa dan subasita, mempersilahkannya duduk. Namun kemudian perhatian mereka terampas oleh persoalan-persoalan yang telah menggemparkan Banyubiru itu. Tak seorang pun lagi yang menanyakan, apakah ia bergembira datang kembali ke Banyubiru. Apakah ia telah merencanakan kapan hari yang ditunggu-tunggu itu akan datang. Tidak. Tidak ada yang menanyakan itu kepadanya. Mahesa Jenar pun tidak lagi ingat akan kehadirannya.


840

TETAPI gadis itu tiba-tiba menggeleng lemah. Dicobanya mengatasi gelora di dalam hatinya itu. “Ach, aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Disini, Banyubiru kini, sedang dihadapkan pada suatu persoalan yang harus mendapat pemecahan. Kenapa aku tidak sanggup untuk melupakan persoalanku sendiri seperti masa-masa yang telah lampau? Kenapa kini aku terikat kepada kepentingan diri ini?”

Dengan susah payah akhirnya Rara Wilis berhasil mengatasi kesepian itu. Namun terasa ia menjadi pening. Ia sama sekali tidak dapat turut bercakap-cakap dengan orang-orang lain seperti masa-masa yang lampau. Bahkan dengan Mahesa Jenar pun seakan-akan tak ada persoalan yang dapat dipecahkan meskipun hanya untuk berpantas-pantas. Tetapi kini ia sudah tidak lagi mengeluh, bahwa percakapan mereka hanya semata-mata berkisar kepada persoalan Widuri yang hilang itu.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar tidak dapat melupakan kesan itu. Kesan kesepian yang memancar dari wajah Rara Wilis. Sehingga kemudian terloncatlah pertanyaannya kepada Ki Ageng Gajah Sora. “Ki Ageng, apakah Nyai ada di rumah.”
“Oh, ada. Ada” sahut Gajah Sora terbata-bata. Ia tidak segera mengerti maksud pertanyaan itu. Sehingga Mahesa Jenar itu pun berkata kepada Rara Wilis. “Wilis, ternyata Nyai Ageng ada pula di belakang. Barangkali kau akan dapat membantunya.”
“Oh. Tidak perlu. Tidak perlu adi. Biarlah adi Wilis duduk saja disini.”

Rara Wilis menarik nafas. Ia merasa bahwa ternyata Mahesa Jenar masih juga mengingat dirinya.

Karena itu segera ia menyahut. “Baiklah kakang. Lebih baik aku kebelakang.”

Rara Wilis tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Segera ia bergeser, dan turun ke halaman, membebaskan dirinya dari kesepian di dalam keriuhan persoalan hilangnya Widuri, meskipun ternyata di sudut terpendam rasa rindunya terhadap gadis yang nakal itu. “Gadis itu harus diketemukan”, desisnya seorang diri.

Di hari pertama itu Mahesa Jenar mendapat banyak bahan yang didengarnya mengenai hilangnya Widuri. Arya Salaka berceritera tidak ada habisnya tentang soal itu. Di dengarnya pula dari mulut gadis yang melihat hilangnya Widuri, bagaimana seorang laki-laki telah mencukungnya menghilang ke dalam semak-semak.
Persoalan itu menjadi semakin rumit di dalam hati Mahesa Jenar. Arya Salaka ternyata lebih mencemaskan nasib Endang Widuri dari yang lain-lain. Dan Mahesa Jenar pun dapat mengerti pula,

Kebo Kanigara sendiri tampaknya tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mencari anaknya yang hilang itu. Sudah beberapa hari Endang Widuri tidak dapat diketemukan, namun Kebo Kanigara itu masih saja berada di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Hanya kadang-kadang ia pergi untuk mencoba mencari Widuri namun sebenarnya kemudian ia telah kembali. Kadang-kadang malam hari ia pergi, namun di pagi harinya Kebo Kanigara telah berada di biliknya pula.

Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat menanyakannya langsung kepada Kebo Kanigara.

Meskipun kadang-kadang pertanyaan itu sedemikian mengganggunya, namun ia selalu berusaha untuk menekannya rapat-rapat di dalam lubuk hatinya.

Namun tiba-tiba kembali Banyubiru menjadi gempar.

Ketika hampir semua orang berputus asa, maka terjadilah suatu peristiwa yang membakar kemarahan rakyat Banyubiru. Ternyata hilangnya Widuri akan membawa akibat yang berkepanjangan.
Dua hari setelah Mahesa Jenar berada di Banyubiru, maka tiba-tiba salah sebuah gardu peronda pada malam hari melihat sesosok tubuh yang menimbulkan kecurigaan mereka. Ketika orang itu disapa oleh para peronda, maka tiba-tiba orang itu cepat-cepat berjalan menjauh. Sudah tentu, para peronda tidak akan membiarkannya pergi, sebelum didapatnya penjelasan siapakah orang itu dan apakah keperluannya. Namun orang itu benar-benar tidak mau mendekat, bahkan ketika beberapa orang berusaha mendekatinya, orang itu pun mencoba berlari.

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


841

Dengan sigapnya para peronda itu mengejarnya. Beberapa orang mendahuluinya dan mencegahnya, sehingga orang yang mencurigakan itu segera terkepung rapat-rapat.

“Siapakah kau?” desak penjaga itu.

Jawaban orang itu benar-benar mengejutkan. Katanya, “Apakah kepentinganmu dengan namaku?”

Para penjaga itu benar-benar keheranan sehingga sesaat mereka berdiam. Namun kemudian salah seorang diantaranya bertanya pula.

“Ki Sanak. Kami adalah para peronda dari Banyubiru. Kami mempunyai wewenang untuk mengetahui, setiap orang yang berada didalam wilayah perondaan kami. Karena itu, maka katakanlah siapakah Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak.”

Kembali para penjaga itu terkejut. Orang yang tak mereka kenal itu tertawa perlahan-lahan. Jawabnya, “Baiklah kalau kau ingin mengenal namaku. Orang memanggil aku, Mas Karebet.”

Para penjaga itu mengerutkan keningnya. Nama itu asing bagi mereka. Karena itu maka salah seorang bertanya pula. “Darimanakah asal Ki Sanak dan apakah keperluan Ki Sanak di malam hari begini?”

“Tidak apa-apa”, jawab orang yang ternyata bernama Karebet itu.

“Aneh. Tetapi biarlah kau jawab, darimanakah asalmu?”

“Aku berasal dari jauh. Apa pedulimu?”

Para penjaga itu menjadi semakin curiga. Sehingga kemudian salah seorang daripadanya membentak. “Jangan mempersulit pekerjaan kami. Katakanlah, apakah keperluanmu. Kalau kau berkunjung ke salah seorang penduduk Banyubiru, siapakah yang telah kau kunjungi itu.”

Karebet mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia bertolak pinggang dan berkata lantang. “Jangan ganggu aku. Biarlah aku berbuat sesuka hatiku.”

“Tidak mungkin Ki Sanak. Tidak mungkin seseorang akan dapat berbuat sekehendak sendiri. Di tanah perdikan ini ada peraturan-peraturan yang harus ditaati.”

“Taatilah siapa yang mau mentaati. Aku tidak.”

“Jangan berkeras kepala, Karebet” bentak seorang penjaga yang kehilangan kesabaran. “Kau mencoba memancing kemarahan kami. Apakah sebenarnya kepentinganmu.”

“Jangan bertanya-tanya lagi. Aku akan pergi, minggir.”

“Jangan berbuat seperti orang alasan. Taatilah peraturan kami. Kami adalah alat-alat untuk menegakkan peraturan itu.”

“Tidak ada peraturan yang dapat mengikat aku,” sahut Karebet lantang.

“Peraturan bagiku adalah ikatan-ikatan yang tak berarti. Aturan bagiku adalah keduabelah tangan dan keduabelah kakiku, pedang dilambungku dan taruhannya adalah nyawaku.”

Para penjaga itu benar-benar menjadi heran. Apakah orang itu orang gila ataukah orang yang tak waras. Namun menilik sikapnya, maka orang itu benar-benar berbahaya bagi mereka, sehingga karena itu maka mereka segera mempersiapkan diri.

Karebet yang melihat para penjaga itu bersiap, berkata pula. “He, apakah yang akan kalian lakukan?”

“Kami hanya sekadar melakukan kewajiban kami, Ki Sanak harus menyebutkan nama yang sebenarnya, keperluan yang sebenarnya dan darimanakah Ki Sanak yang sebenarnya. Kalau tidak, kami terpaksa menangkapmu dan membawa kerumah Kepala Daerah Tanah Perdikan ini.”

Karebet itu tiba-tiba tertawa. Jawabnya, “Apakah kalian berkata sebenarnya?”

“Tentu”

“Bagus. Cobalah tangkap aku. Sudah aku katakan, bahwa peraturan bagiku adalah keduabelah tangan dan kakiku serta pedang dilambungku.”

Para penjaga itu serentak bergerak maju. Tetapi Karebetpun sudah bersiaga, bahkan tiba-tiba ia telah mulai dengan sebuah serangan yang benar-benar tidak disangka-sangka. Tangannya bergerak dengan cepatnya menyambar salah seorang dari kelima penjaga itu, sehingga tiba-tiba orang itu terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh. Terdengar ia mengerang kesakitan dan berusaha dengan tertatih-tatih tegak kembali. Namun terasa punggungnya menjadi sakit, sehingga karena itu, maka tenaganya sudah jauh berkurang.

Keempat kawannya tidak menunggu lebih lama lagi. Segera mereka menyerang bersama-sama. Tetapi, ternyata mereka berhadapan dengan Mas Karebet. Seorang anak yang aneh dan mengagumkan. Karena itulah maka mereka tidak dapat berbuat banyak. Mas Karebet itu mampu bergerak secepat burung sikatan, dan menyambar-nyambar dengan garangnya, seperti burung rajawali. Benar-benar suatu gabungan kecakapan yang tiada taranya.

Tetapi keempat orang laskar Banyubiru dan seorang lagi yang telah hampir tak berdaya itu pun sama sekali bukan pengecut. Meskipun mereka terkejut melihat lawannya mampu bergerak dengan cepatnya, bahkan di luar dugaan mereka, namun mereka kini sedang melakukan tugas mereka, sehingga bagaimana pun juga, mereka berjuang sekuat-kuat tangan dan kaki mereka, maka mereka pun pasti masih akan tetap bertempur.

 

 


842

Sehingga dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Seorang diantara mereka berusaha untuk meninggalkan perkelahian itu untuk memberitahukannya kepada mereka yang masih berada di gardu penjagaan.

Namun tiba-tiba Mas Karebet itu meloncat seperti seekor kijang, dan orang itu pun terpelanting pula beberapa langkah sehingga kemudian jatuh berguling di tanah.

Alangkah marahnya para peronda itu. Namun tidak banyaklah yang dapat mereka lakukan selain mencoba bertahan atas serangan-serangan Karebet yang sedemikian lincahnya.

Tetapi ternyata Karebet bukanlah lawan mereka. Satu demi satu mereka jatuh berguling dan betapa sulitnya untuk bangun kembali.

Punggung-punggung mereka terasa menjadi nyeri, dan dada mereka menjadi serasa sesak. Betapa pun mereka berusaha, namun tenaga mereka benar-benar terbatas jauh di bawah kemampuan Mas Karebet itu.

Akhirnya para peronda itu menjadi benar-benar hampir tidak berdaya.

Meskipun mereka masih berusaha untuk berdiri, namun mereka sudah tidak mampu lagi untuk tegak ditempatnya. Sekali-kali mereka terhuyung-huyung dan bahkan hampir-hampir mereka tidak kuat lagi menahan tubuhnya sendiri.

Karebet itu berdiri bertolak pinggang. Ditatapnya wajah para peronda itu satu demi satu. Kemudian terdengar ia tertawa nyaring. Katanya disela-sela suara tertawanya, “He, katakan sekarang kepadaku. Apakah aku masih harus mentaati peraturanmu?”

Jawab peronda itu mengejutkan Mas Karebet. Singkat namun penuh ketegasan. “Ya”

Tetapi kembali terdengar suara Karebet itu tertawa berkepanjangan.

Katanya pula, “Sekarang kau lihat, bahwa peraturan itu tidak berlaku bagiku. Yang berlaku bagiku adalah tenagaku. Kalau kalian mampu mengalahkan aku, barulah aku akan tunduk kepada kalian.”

“Mungkin kau mampu mengalahkan kami” sahut salah seorang peronda itu, “Tetapi kau tak akan mampu menghapus peraturan yang berlaku di daerah ini. Mungkin kau kali ini dapat menghindarkan diri atas berlakunya peraturan itu. Namun tidak untuk selamanya. Kau pasti akan dihadapkan pada satu pilihan, mentaati peraturan yang berlaku di Banyubiru atau pergi meninggalkan Banyubiru.”

“Omong kosong” sahut Karebet. “Kau tidak mau mengakui kekalahanmu. Kau masih akan mencari-cari kebanggaan pada persoalan yang lain. Lebih baik kalian mengaku atas kekalahan ini. Hati kalian akan menjadi lapang. Dan kalian akan segera melupakannya.”

“Tidak” sahut peronda yang lain. “Kami tidak akan dapat melupakan. Meskipun kali ini ada seorang yang dapat meloloskan diri dari keharusan yang berlaku, tetapi di lain kali tidak akan terulang kembali.”

Karebet itu pun tertawa pula. “Kalian adalah laskar yang baik” katanya, “Selagi kalian berhadapan dengan maut pun kalian masih tetap dalam tugas kalian. Nah, bagus. Karena itu maka Banyubiru menjadi kuat.”

“Jangan terlalu sombong.”

“Aku tidak sombong. Aku berkata sebenarnya. Dan kau pun berkata sebenarnya. Aku orang yang tidak mempunyai tempat tinggal yang mengikat aku, sehingga aku pun tidak terikat pada peraturan di daerah mana pun juga. Aku akan berbuat apa saja yang aku kehendaki. Termasuk gadis yang hilang itu.”

“He” para peronda itu terkejut seperti disengat labah-labah biru. Betapa pun mereka menjadi lemah, namun mereka melangkah pula maju sambil berkata. “Apakah yang kau katakan tadi. Gadis yang hilang beberapa hari yang lampau yang kau maksudkan?”

“Ya” sahut Karebet. “Gadis yang hilang itu telah aku ambil.”

“Setan” terdengar salah seorang peronda itu mengumpat. “Sekarang kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini.”

“Apakah kau ingin bertempur lagi?”

“Kami belum benar-benar kau lumpuhkan” sahut peronda itu. Dan tiba-tiba terdengar gemerincing pedangnya. Dan pedang itu pun kini telah berada di dalam genggamannya. Kawan-kawannya pun segera menarik senjata-senjata mereka pula. Berkata pula peronda itu. “Kami tidak bisa mempergunakan senjata kami apabila tidak terpaksa. Kini kami melihat, bahwa seandainya kami melukai dan bahkan apabila terpaksa membunuhmu, bukan salah kami. Kami tidak biasa berbuat demikian dalam keadaan yang damai seperti sekarang. Namun keadaan ini pun keadaan yang tidak bisa pula.”

Karebet mundur selangkah. Katanya, “Jangan menjadi gila karena kekalahan kalian. Jangan bermain-main dengan senjata. Siapa yang bermain-main dengan pedang, maka ia akan sampai pada kemungkinan dilukai dengan pedang pula.”

“Kami berpijak pada kewajiban kami.”

“Bagus. Sudah aku katakan, kalian adalah laskar Banyubiru yang baik.

Tapi bagaimanakah kalau kita hindarkan pertempuran ini?”

“Hanya ada satu kemungkinan” sahut peronda itu. “Serahkan Endang Widuri.”

“Syaratmu terlalu berat”

“Tidak ada syarat yang lain”  “Kalau begitu, baiklah aku melawan dengan pedang pula.”

 


843

Sebelum para peronda itu menjawab, maka Karebet itu pun telah menggenggam sebilah pedang pula. Pedang yang tidak terlalu panjang, namun benar-benar telah menggetarkan hati para peronda itu. Apalagi ketika Karebet itu berkata. “Kalian sudah tidak dapat berdiri tegak lagi. Apakah kalian masih mampu mengayunkan pedang?”

Para peronda itu tidak menjawab. Kembali mereka mendesak maju. Namun kembali mereka terkejut ketika mereka melihat tiba-tiba saja Karebet telah meloncat sambil memutar pedangnya. Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan berganda, maka dengan getar kemarahan yang meluap-luap di dalam dada, mereka melihat duabilah pedang dari kelima pedang itu telah terlempar jatuh.

“Kenapa kau letakkan pedang-pedang itu?” ejek Karebet.

Mereka menjadi semakin marah. Dengan serta mereka ketiga kawannya menyerang bersama-sama. Tetapi Karebet tidak melawannya. Ia bergeser mundur sambil berkata, “Kalian terlalu payah. Seandainya aku berlari-larian tanpa melawan sekali pun, maka kalian akan jatuh dan mati kelelahan. Nah, apakah yang akan kalian lakukan kemudian?”

Para peronda itu menggeram. Namun kata-kata itu dapat dimengertinya. Mereka tidak akan mampu lagi berlari-larian mengejar Karebet yang dengan sombongnya berloncatan di antara batu padas di lereng bukit Telamaya itu.

“He para peronda yang baik” berkata Karebet itu kemudian. “Jangan mengejar-ngejar aku lagi. Kalian akan menjadi pingsan karenanya. Lebih baik kalian kembali ke rumah Daerah Tanah Perdikan Banyubiru. Katakanlah kepadanya, bahwa Endang Widuri yang hilang itu telah aku bawa. Namaku Karebet, berasal dari daerah Pengging. Katakan kepadanya bahwa gadis itu telah aku sembunyikan. Nanti beberapa hari lagi, apabila purnama naik, maka Baginda Sultan Trenggana akan berburu di hutan Prawata. Pada saat itulah gadis itu akan aku serahkan kepada Baginda untuk puteranya, Pangeran Timur. Kalau Arya Salaka tidak merelakannya, maka aku akan tunggu di hutan itu. Suruhlah ia datang dengan pasukan segelar sapapan. Maka kedatangannya akan aku sambut dengan gembira.

Sebenarnya aku adalah Lurah Wira Tamtama yang terpercaya. Pasukanku telah sedia untuk mengamankan perbuatanku ini.”

Para peronda mendengar kata-kata itu dengan tubuh yang gemetar. Gemetar karena marah, heran, dendam dan kecewa. Tetapi mereka kini merasa, wajarlah bahwa mereka tidak mampu melawan anak muda yang bernama Karebet itu, sebab ia adalah Lurah Wira Tamtama. Tetapi mereka menjadi heran dan kecewa, apakah kekuatan itu sudah seharusnya dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Apakah dengan demikian, maka Karebet benar-benar telah berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Wira Tamtama?

Tetapi para peronda itu benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka hanya mampu melihat Karebet itu kemudian meloncat diatas sebuah batu padas sambil menengadahkan dadanya. “Inilah Karebet yang teguh timbul.

He para peronda, sampaikanlah kata-kataku kepada Arya Salaka yang berbangga hati memiliki Sasra Birawa. Nah, selamat malam, aku tunggu anak muda itu di hutan Prawata nanti pada saat purnama naik. Sebagai Kebo-Danu Banyubiru yang perkasa.”

Bukan main marah para peronda itu, sehingga salah seorang dari padanya yang tidak tahan lagi mendengar kesombongan Karebet itu dengan serta merta melontarkan pedangnya. Tetapi dengan tawa yang menyakitkan hati, pedang itu disentuh oleh Mas Karebet dengan pedangnya pula. Suara gemerincing di lereng bukit itu, memberitahukan bahwa pedang yang dilontarkan itu terlempar jatuh ke dalam lereng yang terjal.

“Lihatlah bulan yang hampir bulat di langit. Meskipun bulan itu sudah hampir tenggelam. Itu adalah pertanda bahwa saat purnama tidak akan terlalu lama lagi.”

Sebelum para peronda itu berbuat sesuatu, maka bayangan anak muda yang berdiri di atas batu karang itu seakan-akan melayang yang hilang di balik batu itu. Para peronda itu masih berusaha untuk mengejarnya, tetapi mereka sudah tidak menemukan lagi. Jejaknya pun tidak.

Berbagai perasaan bergolak di dalam dada para peronda itu. Sudah sekian lama mereka mencari seorang gadis yang hilang. Dan sudah sekian lama mereka tidak dapat menemukan jejaknya. Kini tiba-tiba mereka mendengar langsung, bahwa gadis itu telah dilarikan oleh anak muda yang bernama Karebet. Dengan suara parau peronda itu berkata, “Pantas. Kalau bukan anak muda itu, maka sudah pasti Endang Widuri tidak akan berhasil dikalahkannya. Bukankah anak gadis itu sendiri mampu bertempur melampaui kita masing-masing. Bahkan kita berlima sekaligus.”

Yang lain-lain menganggukkan kepala mereka. Tetapi mereka tidak dapat tinggal diam dengan penuh kekaguman. Tiba-tiba mereka sadar, bahwa apa yang mereka lihat dan mereka dengar itu harus mereka sampaikan kepada Kepala Daerah Perdikan mereka. Karena itulah maka dengan tergesa-gesa mereka berjalan kembali ke gardu mereka. Menceriterakan kepada kawan-kawan mereka yang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kekaguman.

“Kami akan pergi ke rumah Ki Ageng” berkata peronda itu.

“Kenapa kalian tidak memberi tahukan kepada kami? Mungkin kami akan dapat membantu menangkap orang itu, apabila kami datang bersama-sama.”

“Sudah kami usahakan, tetapi kami tidak sempat melakukan.”

 

 


844

Kelima orang itu pun segera meninggalkan gardu mereka, dan dengan tergesa-gesa pergi ke rumah Ki Ageng Gajah Sora. Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Para penjaga di rumah Ki Ageng itu pun terkejut pula. Dengan serta merta mereka bertanya, “Ada apa digardumu?”

“Penting sekali” jawab yang ditanya. “Kami menghadap Ki Ageng.”

“Malam-malam begini? tidak besok pagi?”

“Terlalu penting.”

“Soal apa?”

“Gadis yang hilang itu.”

“He” penjaga itu terkejut. “Kau menemukannya.”

“Akan aku beritahukan kepada Ki Ageng.”

“Ya. Tetapi apakah sudah kau ketemukan?”

“Berilah kesempatan aku bertemu Ki Ageng. Tergesa-gesa sekali.”

“Oh” penjaga itu pun sadar, bahwa ia harus membangunkan Ki Ageng. Karena itu, maka cepat-cepat ia pergi ke samping rumah dan perlahan-lahan mengetuk dinding ditentang pembaringan Ki Ageng.

“Siapa?” terdengar sapa dari dalam.

“Kami, para penjaga Ki Ageng.”

“Ada apa?”

“Seseorang peronda melaporkan tentang gadis yang hilang itu.”

“He” Ki Ageng Gajah Sora terkejut sehingga ia terloncat dari pembaringannya. Penjaga yang membangunkan itu mendengar pembaringan Ki Ageng berderak dan didengarnya langkah tergesa-gesa keluar dari dalam biliknya.

Sesaat kemudian didengarnya pintu pringgitan terbuka, dan Ki Ageng muncul di ambang pintu.

“Siapa yang membangunkan aku?”

Penjaga itu telah berdiri disamping tangga pendapa. Sehingga dari sana ia menjawab, “Aku Ki Ageng.”

“Kemari. Kemarilah. Katakan apa yang kau ketahui tentang gadis itu.”

Penjaga-penjaga itu pun membawa kelima orang peronda yang bertemu dengan Karebet, naik ke pendapa. Ki Ageng Gajah Sora pun segera menerima mereka.

“Penting sekali?” bertanya Ki Ageng.

“Ya, Ki Ageng” jawab salah seorang dari mereka.

“Apakah kalian menemukan jejaknya,” bertanya Ki Ageng.

“Ya” jawab peronda itu.

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Kemudian berkatalah ia kepada penjaga rumahnya, “Bangunkan tamu-tamu kita. Mereka sebaiknya mendengar juga tentang hal ini.”

Para penjaga itu pun segera membangunkan tamu-tamu Ki Ageng Gajah Sora yang berada di dalam gandok-gandok rumah itu. Ki Ageng Gajah Sora sendiri membangunkan Arya Salaka. Sehingga sesaat kemudian pendapa Banyubiru itu telah terjadi suatu pertemuan yang lengkap. Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora, Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Pandan Alas, Mahesa Jenar, Rara Wilis, Arya Salaka dan Kebo Kanigara beserta beberapa orang lain. Mahesa Jenar duduk dengan dada berdebar-debar. Hampir tidak sabar Arya Salaka bertanya dengan suara parau sambil mengusap matanya yang masih agak kemerah-merahan. “Cepat, katakan, apa yang kau lihat.”

Peronda itu menarik nafas. Ia menjadi berdebar-debar pula setelah ia duduk bersama dengan orang-orang yang dikaguminya itu. Tidak hanya seorang tetapi beberapa orang. Bagaimanakah seandainya mereka bersama-sama maju bertempur. Di kenangnya kata-kata Mas Karebet itu. “Suruhlah ia datang segelar sapapan.”

Tiba-tiba dada peronda itu seakan-akan mengembang. Dihadapannya duduk orang-orang sakti yang tidak kalah saktinya dengan Mas Karebet.

“He. Kenapa kau malah tertidur.” bentak Arya Salaka.

Orang itu terkejut. Dan dengan serta merta ia berkata, “Tidak. Aku tidak tertidur.”

“Katakanlah”

Salah seorang dari peronda itu pun kemudian mulai dengan ceritanya. Ditemuinya seorang yang mencurigakan. Dan diketahui kemudian apa yang telah dilakukan. Orang itulah yang menculik Endang Widuri.

“Hem” geram Arya Salaka. “Kalian berlima tidak dapat menangkapnya.”

“Tidak” jawabnya.

“Apakah kau dapat mengira-irakan bentuk atau ciri-ciri orang itu?” desak Arya tidak sabar.

 

 


845

 

“Orang itu menyebut namanya”

“He” bukan main terkejut Arya Salaka, dan bahkan semua yang ada di pendapa itu ”Orang itu berani menyebut namanya,” suara Arya benar-benar meluapkan kemarahan tiada taranya. Meskipun ia sadar, bahwa orang itu pasti seorang yang perkasa. Bahkan ia menyadari pula bahwa orang itu pasti terlalu percaya kepada diri sendiri. “Siapakah nama orang itu?” Peronda itu menarik nafas. Tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Apakah nama itu nama sebenarnya? Kalau tidak, maka akan sia-sialah laporannya ini. Atau kalau nama itu nama sebenarnya sekalipun, apakah orang-orang yang berada di pendapa ini telah pernah mengenalnya?

Karena ia tidak segera menjawab, maka Arya Salaka menjadi jengkel, sehingga ia berteriak. “Siapa namanya?”

Kembali peronda itu terkejut, dan dengan serta merta pula ia mengucapkan nama itu, katanya. “Ia menyebut namanya sendiri Karebet.”

“Karebet” tanpa disengaja Arya Salaka mengulangi nama itu dengan kerasnya. Bahkan sekali ia bergeser maju dan mengguncang tubuh peronda itu sambil berteriak. “Karebet kau bilang.”

Peronda itu mengangguk. “Ya”

Jawaban itu benar-benar mengejutkan seisi pendapa. Benar-benar tak mereka sangka bahwa yang mengambil Endang Widuri adalah Mas Karebet. Beberapa orang yang belum pernah mendengar nama itu, belum dapat mengambil kesimpulan apa pun. Tetapi Arya Salaka, Mahesa Jenar dan Rara Wilis serentak berpaling ke arah Kebo Kanigara. Dan terdengar Mahesa Jenar menggeram perlahan.

“Karebet.”

“Paman” tiba-tiba Arya Salaka itu berteriak. “Paman Kebo Kanigara. Bagaimanakah itu? Kenapa yang berbuat curang itu justru Karebet. Kenapa?”

Mahesa Jenar terpaksa bergeser pula maju. dengan sabarnya ia berkata. “Arya. Tenanglah. Tenanglah sedikit. Marilah kita berbicara dengan hati yang lapang.”

“Tetapi bukankah Karebet itu kemanakan paman Kebo Kanigara?”

“Ya. Karebet itu memang kemanakan pamanmu Kebo Kanigara,” sahut Mahesa Jenar, masih setenang semula. “Tetapi ingatlah. Yang hilang itu adalah anak pamanmu itu pula.”

“Oh” Arya Salaka menekan dadanya. Dada itu serasa akan pecah karenanya. Tetapi kini ia menundukkan wajahnya. Endang Widuri adalah puteri Kebo Kanigara. Sehingga dengan demikian, maka seharusnya Kebo Kanigaralah yang akan lebih dahulu marah daripada dirinya.

Kebo Kanigara menjadi gelisah pula karenanya. dengan wajah yang suram ia berkata, “Ya. Karebet adalah kemenakanku.”

Sesaat pendapa itu menjadi sepi. Angin yang dingin telah menyentuh tubuh-tubuh mereka yang hangat karena hati mereka yang terbakar oleh perasaan yang pelik ini.

Dalam keheningan itu kembali terdengar Suara Arya Salaka gemetar. “Sekarang dimanakah Karebet itu?”

“Anak muda itu telah menghilang.”

“Hem” Arya Salaka menggeram penuh kemarahan. “Apakah kita akan dapat menemukannya?”

“Ya” sahut peronda itu.

“He. Apakah yang kau katakan” Arya Salaka menjadi semakin gelisah. “Kau katakan bahwa ada kemungkinan untuk menemukannya?”

“Ya” sahut orang itu. “Bahkan orang itu mengharap kedatangan kita.

Orang-orang Banyubiru.”

“Gila” teriak Arya. “Atau kaukah yang gila itu?”

“Tidak. Benar-benar dikatakannya. Nanti saat purnama naik, Baginda Sultan Tranggana akan berburu ke hutan Prawata.”

“Gila. Kau yang benar-benar telah gila. Aku bertanya tentang Karebet. Bukan tentang Sultan Tranggana,”

“Ini adalah kelanjutan dari peristiwa itu” sahut orang itu. “Nanti pada saat purnama naik, Baginda akan pergi berburu.”

“Itu sudah kau katakan.”

“Ya. ya,” peronda itu menjadi gugup. Dan karenanya maka kata-katanya menjadi kurang teratur. “Diperburuan itu, maka Karebet akan menyerahkan Endang Widuri kepada Baginda untuk puteranda Pangeran Timur.”

“Kau berkata sebenarnya?” potong Arya tergagap.

“Ya. Dan dikatakan oleh Karebet itu, bahwa seandainya Arya Salaka yang membanggakan Sasra Birawa itu tidak merelakannya, maka dipersilakan ia datang dengan pasukan segelar sappapan. Karebet yang katanya lurah Wira Tamtama akan menyambutnya dengan senang hati.”

“Begitu katanya?” teriak Arya.

“Ya”

Kembali Arya Salaka kehilangan pengamatan diri. Sambil mengguncangkan tubuh peronda itu ia berteriak. “Dimana kau temui Karebet itu?”

“Diperbatasan, di Sendang Muncul.”

Arya Salaka tidak menjawab. Tiba-tiba ia meloncat berlari ke belakang. Semua terkejut melihat tingkahnya. Namun Mahesa Jenar dan ayahnya, Gajah Sora yang mengenal tabiat anak itu, segera mengetahui, bahwa Arya Salaka berlari untuk mengambil kudanya.

Karena itu maka keduanya hampir bersamaan memanggilnya.

“Arya. Arya Salaka.”

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta

846

Tetapi Arya Salaka tidak mendengarnya. Ia berlari terus ke kandang kudanya. Dengan tergesa-gesa dipasangnya pelana kudanya dan ditariknya kuda itu keluar kandang.

Sesaat kemudian terdengarlah derap kuda itu perpacu keluar halaman rumah Ki Ageng Gajah Sora.

Tetapi sesaat kemudian menyusul dua ekor kuda berlari seperti angin ke arah yang bersamaan.

Mereka adalah Mahesa Jenar dan Ki Ageng Gajah Sora sendiri yang tidak sampai hati melepas Arya Salaka yang sedang kebingungan itu. Apalagi Mahesa Jenar yang menyadari, bahwa tingkat ilmu Arya Salaka masih belum dapat disejajarkan dengan ilmu Mas Karebet yang aneh itu. Sehingga dengan demikian, seandainya mereka benar-benar bertemu, maka nasib Arya Salaka terlalu mencemaskan.

Mereka yang tinggal di pendapa rumah itu duduk membeku dalam kesuraman sinar pelita. Nyala api yang kemerah-merahan bergerak-gerak ditiup angin yang lemah. Daun-daun sawo di halaman bergoyang-goyang seperti sedang menarikan sebuah tarian yang pedih.

Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang bergelora di dalam dadanya. Tampaklah membayang di matanya kegelisahan dan kecemasan. Kadang-kadang ia menarik nafas dalam-dalam, dan kadang-kadang ia memejamkan matanya. Sesuatu yang maha berat sedang menghimpit hatinya, namun hatinya itu berdoa kepada Yang Maha Agung, semoga semuanya dapat selesai dengan sebaik-baiknya.

Arya Salaka yang berpacu di dalam gelap itu, benar-benar seperti orang yang mabuk. ia tidak ingat lagi bahaya yang dapat menerkamnya. Jurang-jurang yang terjal dipinggir jalan atau apapun yang dapat membahayakan perjalanannya. Yang ada dikepalanya hanyalah seorang anak muda yang bernama Karebet, seorang yang pernah dikagumi dan bahkan mereka pernah bergaul dengan rapatnya sebagai dua orang sahabat yang akrab.

“Kenapa kakang Karebet itu sampai hati berbuat demikian” desah Arya Salaka didalam hatinya.

“Tetapi, apapun yang pernah terjadi, sikap yang baik dan persahabatan yang akrab, namun bukan salahku kalau persahabatan itu kini pecah. Kenapa kakang Karang Tunggal tidak saja berkata terus terang dan membicarakannya dengan orang tua-tua.”

Semakin diangan-angankannya, maka darah Arya semakin meluap-luap. Arya Salaka seakan-akan tidak sabar lagi menunggu sampai di perbatasan arah Sendang Muncul.  Tetapi akhirnya ia sampai juga ke tempat itu. Tempat yang sepi senyap.

Dilihatnya beberapa onggok batu karang berserak-serakan di antara gerumbul-gerumbul yang bertebaran disana-sini.  Arya Salaka yang marah itu menghentikan kudanya. Dengan nanar ia memandang berkeliling. Diamatinya relung-relung hitam diantara batu-batu karang dan di bawah rimbunnya gerumbul-gerumbul yang ada disekitarnya. Tetapi Arya Salaka tidak mendengar suara apapun juga, seakan-akan daerah itu daerah pekuburan yang mengerikan. Tetapi Arya Salaka tidak puas dengan tajam matanya. Segera ia meloncat turun, dan dengan hati yang melonjak-lonjak ia berlari-lari mengelilingi daerah itu. Disasaknya gerumbul-gerumbul yang rimbun dan ditembusnya kegelapan malam di sela-sela batu karang. Tetapi yang dicarinya tidak diketemukannya.

Arya Salaka itu seakan-akan telah benar-benar kehilangan kesadaran diri .Tiba-tiba ia meloncat naik ke atas batu karang sambil berteriak keras-keras. “He Karebet. Jangan menunggu Purnama naik. Inilah Arya Salaka dari Banyubiru. Kita selesaikan persoalan kita tanpa menunda-nunda. Buat apa kau lakukan perbuatan terkutuk itu. He. Karebet. Karebet………”

Suara Arya Salaka menggeletar memukul tebing-tebing pegunungan. Suara gemanya bersahut-sahutan mengumandang di lereng bukit Telamaya. Namun suara itu menggeletar tanpa arti. Tak seorang pun yang menyahut.

 

847

Arya Salaka menjadi semakin marah. Sekali lagi ia berteriak. “Karebet. Dengan mengumpankan gadis itu, apakah kau akan diangkat menjadi Adipati. He. Marilah kita berhadapan sebagai jantan sejati. Tidak perlu dengan pasukan segelar sapapan. Karebet……”

Suara itu pun menggelepar di kesunyian malam. Gemerisik angin pegunungan membawa udara yang dingin sejuk. Helai-helai daun yang kuning berguguran satu-satu di tanah yang lembab oleh embun. Namun suara Arya Salaka itu hilang saja disapu hembusan angin.

Arya Salaka mengangkat wajahnya ketika ia mendengar suara telapak kuda mendekat. Ia tahu betul, bahwa mereka itu adalah orang-orang Banyubiru. Mungkin ayahnya, mungkin orang lain. Tetapi ia tidak mempedulikannya. Ia masih saja tegak di atas batu karang. Bulan yang hampir bulat telah melekat di ujung pepohonan. Sinarnya telah memerah dan hampir tenggelam. Namun cahayanya yang dipantulkan oleh wajah Rawa Pening, masih tampak kuning kemerahan, berkilat-kilat.

“Arya” terdengar suara lembut dari bawah batu karang itu.

Arya yang sedang dibakar oleh kemarahannya itu, masih juga mendengar suara itu. Suara yang telah dikenalnya baik-baik, melampaui ayahnya sendiri. Suara itu adalah suara gurunya. Meskipun demikian untuk sesaat ia masih berdiam diri di atas batu karang itu. Gelora kemarahannya yang menghentak dadanya belum juga dapat ditenangkannya.

“Arya” suara itu didengarnya kembali. Betapa ia dihanyutkan oleh kemarahannya, namun suara itu benar-benar berpengaruh padanya. Karena itu maka Arya itu pun berpaling. Dilihatnya di dalam keremangan malam, dua orang yang masih duduk di atas punggung kuda. Gurunya, Mahesa, dan ayahnya Gajah Sora.

“Arya” kali ini ia mendengar suara ayahnya. “Turunlah.”

Arya masih berdiri di atas batu karang itu. Sekali tatapan matanya menyangkut pada bulan yang telah hampir lenyap di balik pepohonan yang tumbuh di lereng bukit. Tiba-tiba ia berkata nyaring. “Lihatlah ayah.

Bulan hampir purnama. Aku harus segera bersiap untuk menyambut Karebet di hutan Prawata.”

“Sabarlah Arya” desis Mahesa Jenar. “Turunlah, marilah kita bicarakan soalmu ini.”

Arya termangu-mangu sejenak. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa di atas batu karang itu. Di atas batu karang itu tidak ditemuinya Karebet dan juga akan ditemuinya gadis yang hilang. Karena itu maka segera ia pun meloncat turun.

“Sebaiknya kau tenangkan hatimu Arya,” berkata Mahesa Jenar.

Arya Salaka tidak menjawab. Dipandang wajah ayahnya yang duduk diam di atas punggung kudanya. Tetapi di dalam malam yang remang ia tidak mendapat sesuatu kesan dalam wajah itu. Selain, tegang.

“Marilah kita pulang dahulu,” ajak Mahesa Jenar.

Arya Salaka tidak menjawab. Ia masih mencoba memandang tempat-tempat yang gelap disekelilingnya.

“Anak itu sudah pergi,” desis ayahnya.

Arya menggeretakkan giginya. Namun perlahan-lahan ia menuju kekudanya.  “Naiklah. Biarlah kita bicarakan semuanya ini di rumah,” berkata ayahnya mendesak.

Arya Salaka itu kemudian menjadi seakan-akan kehilangan segala-galanya. Ia menjadi bingung, cemas, marah dan tanggapan yang simpang siur atas perbuatan Karebet itu. Dengan hati yang kosong ia meloncat ke atas punggung kudanya, dan dengan lesunya ia mendorong kudanya berjalan kembali ke rumahnya. Rumah yang seakan-akan menjadi terlalu sunyi. Lebih sunyi dari tempat ini.

Perlahan-lahan mereka berjalan menuju ke rumah Gajah Sora. Arya Salaka tidak mampu lagi melecut kudanya dan melarikannya. Ia lebih tenang berjalan perlahan-lahan dalam malam yang semakin gelap karena bulan kini telah benar-benar tenggelam. Tetapi dikejauhan telah terdengar kokok ayam jantan untuk ketiga kalinya.

Arya Salaka menengadahkan wajahnya. Betapa pun juga ia tidak dapat melupakan kewajibannya. Karena itu ia mempercepat langkah kudanya, sebelum ia terlambat untuk melakukan sembahyang subuh. Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang berkuda dibelakangnya, tak sepatah kata pun terloncat dari bibir mereka. Mereka seakan-akan onggokan benda-benda mati yang terikat erat-erat di atas punggung kuda.

Ketika matahari mulai melemparkan cahayanya yang pertama, menyentuh ujung-ujung pepohonan, Mahesa Jenar telah dikejutkan oleh ringkik-ringkik kuda di halaman.

Dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar menghampirinya dan bertanya kepadanya. “Akan kemanakah Ki Ageng sepagi ini?”

“Aku akan kembali ke Pamingit,” jawab Ki Ageng Lembu Sora.

“Oh” Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Namun betapa pun juga timbul pula prasangkanya. Dalam kesibukan yang semakin memuncak ini justru Ki Ageng Lembu Sora akan kembali ke Pamingit. Karena itu maka ia bertanya pula. “Apakah ada sesuatu keperluan yang mendesak?”

 

 


848

KI Ageng Lembu Soralah yang kini memandang Mahesa Jenar dengan heran.

Apakah Mahesa Jenar belum tahu apa yang akan dilakukan oleh Arya Salaka? Meskipun demikian ia menjawab juga. “Saat purnama naik hanya tinggal beberapa hari lagi. Aku tidak akan dapat tinggal diam. Pasukan Pamingit akan membantu Arya Salaka menghadapi Karebet di hutan Prawata.”

“He” Mahesa Jenar benar-benar terkejut seperti disambar petir melesat.

Jadi Arya Salaka telah mengambil keputusan yang berbahaya itu?

Tubuh Mahesa Jenar itu pun menjadi gemetar karenanya, sehingga sesaat ia tidak dapat berkata apa-apa. Ditatapnya saja wajah Ki Ageng Lembu Sora yang bersungguh-sungguh itu. Baru kemudian ia berhasil menenangkan hatinya, dan berkata, “Ki Ageng apakah itu merupakan keputusan Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana pula?”

“Kakang Gajah Sora dan ayah Sora Dipayana tak berhasil mencegah Arya Salaka. Dan bukankah ini soal kehormatan pula? Kehormatan Banyubiru dan seluruh tanah perdikan Pangrantunan lama termasuk Pamingit? Arya telah membantu dan membebaskan Pamingit dari genggaman orang-orang golongan hitam beberapa waktu lampau. Apakah sekarang, aku harus membiarkan kehormatan Arya Salaka diinjak-injak orang lain?”

“Hem” Mahesa Jenar menarik nafas. Ki Ageng Lembu Sora masih juga kejangkitan penyakitnya yang lama, meskipun dalam persoalan yang lain. Harga diri yang berlebih-lebihan dan nafsu untuk memaksakan kehendaknya dengan kekerasan. Tetapi kali ini Ki Ageng Lembu Sora tidak mutlak bersalah seperti apa yang dahulu pernah dilakukan. Bahkan kini ia merasa berkuwajiban untuk membalas kebaikan hati Arya Salaka. Karena itu maka Mahesa Jenar itu pun berkata, “Baiklah aku mencoba menemui kakang Gajah Sora”.

Ki Ageng Lembu Sora memandangi Mahesa Jenar dengan pandangan yang aneh.

Apakah guru Arya Salaka itu tidak sependapat seandainya Arya Salaka memenuhi tantangan Karebet? Tetapi Lembu Sora itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Kembali ia mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat ke Pamingit, memilih orang-orang yang paling dipercaya untuk ikut berangkat ke hutan Prawata nanti pada saat purnama naik beberapa hari lagi. Dengan demikian, maka sebelumnya pasukannya harus siap pula di Banyubiru.

Dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mencari Ki Ageng Gajah Sora yang duduk diserambi belakang rumahnya bersama-sama dengan Arya Salaka. Wajah anak muda itu tampak merah membara sedang tangannya menggenggam tangkai sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning berkilat-kilat, Kiai Suluh.

Ketika mereka melihat Mahesa Jenar mendatangi mereka, maka Ki Ageng Gajah Sora itu pun mempersilakannya duduk bersama mereka. Ketika terpandang oleh Arya Salaka wajah gurunya yang tenang dalam, terasa hatinya bergetar dahsyat. Tanpa disengaja ia menundukkan wajahnya.  “Kakang” berkata Mahesa Jenar kepada Ki Ageng Gajah Sora. “Agaknya Ki Ageng Lembu Sora segera akan kembali ke Pamingit.”

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya” sahutnya pendek.

“Dari Ki Ageng Lembu Sora aku mendengar segala-galanya tentang keputusan Arya Salaka.”

Kembali Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah Ki Ageng Gajah Sora berpendapat demikian?” bertanya Mahesa Jenar kemudian.

Ki Ageng Gajah Sora itu diam mematung. Ditatapnya pohon-pohon nyiur yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Sekali-kali daunnya bergerak ditiup angin pagi dan cahaya matahari yang bermain-main di halaman menjadi bergerak-gerak pula.Sesaat Ki Ageng tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab. Namun kemudian terdengar suaranya serak. “Ya. Apa boleh buat.”

Mahesa Jenar menarik keningnya. Tampak beberapa kerut-kerut tumbuh didahinya. Perlahan-lahan ia berkata, “Sudahkah kakang mempertimbangkannya masak-masak.”

Mendengar pertanyaan itu Arya Salaka mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah gurunya dengan penuh pertanyaan. Apakah gurunya tidak sependapat dengan keputusan itu?”

Arya kemudian melihat ayahnya menundukkan wajahnya. Pertanyaan Mahesa Jenar benar-benar telah menggoncangkan jantungnya.

“Ya, apakah keputusan itu sudah sebaik-baiknya?”

Pertanyaan itu timbul pula didalam hatinya. Tetapi ketika dipandanginya wajah anaknya yang merah padam, timbul pula kasihan di dalam dirinya. Anak satu-satunya yang dengan gigih telah berjuang untuk kepentingan tanah perdikan ini. Bahkan, ia dibawah asuhan Mahesa Jenar itu sendiri?

Ketika Gajah Sora tidak segera menjawab, maka Mahesa Jenar itu pun kemudian langsung bertanya kepada Arya Salaka, katanya, “Arya. Apakah kau telah membayangkan apa saja yang kira-kira dapat terjadi dengan keputusan itu?”

Arya Salaka ragu-ragu sejenak. Tetapi dorongan yang kuat di dalam hatinya memaksakan menjawab. “Tak ada pilihan lain paman.”

Mahesa Jenar menarik nafas. Katanya, “Apakah kau telah mencobanya?”

Arya mengerutkan alisnya. Desisnya, “Apa yang dapat dicoba?”

 

 


849

“Arya” berkata Mahesa Jenar. “Dalam persoalan ini masih harus dicari sumber yang menyebabkannya. Kalau ternyata Karebet berbuat demikian atas perintah Baginda, maka soalnya menjadi jelas. Namun kalau perbuatan itu dilakukannya atas kehendak sendiri untuk mendapatkan hadiah atau pangkat atau apapun, maka akan ternyata bahwa kau terlalu tergesa-gesa. Mungkin Baginda sendiri akan menolak persembahan itu. Dan masih ada seribu satu macam kemungkinan yang lain.”

“Tidak paman”, jawab Arya tegas.

Mahesa Jenar terkejut mendengar jawaban itu. Belum pernah Arya bersikap demikian kerasnya kepadanya. Dan ternyata Arya itu berkata terus. “Sudah jelas dikatakannya, bahwa Karebet mengambil Widuri untuk Pangeran Timur. Kalau perintah itu tidak turun dari istana, apakah Karebet berani mempersembahkan seorang yang hanya diambilnya dari pegunungan? Apakah itu bukan merupakan penghinaan bagi Pangeran Timur dan Baginda sendiri? Tetapi hal itu pasti sudah menjadi pilihan Pangeran Timur. Paman, seandainya hal itu dilakukan baik-baik, maka hatiku tidak akan merasa dihinakan.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat ketidakwajaran dalam persoalan ini. Hampir-hampir ia berkata, bahwa apakah hak Arya Salaka untuk marah? Hanya karena penghinaan yang dilontarkan oleh Karebet itu? Dan kenapa Karebet itu sengaja memancing kemarahan Arya Salaka?

Tetapi Mahesa Jenar tidak mengatakannya. Disadarinya bahwa hati Arya Salaka benar-benar sedang gelap. Dan Mahesa Jenar pun dapat memahami kegelapan hati itu. Dikenangnya kemudian, ketika ia kehilangan Rara Wilis di Pliridan beberapa tahun yang lalu.

Seorang yang tidak tahu sebab musababnya, Sagotra, hampir-hampir dicekiknya sampai mati. Namun kini Arya Salaka menghadapi persoalan itu tidak seorang diri seperti dirinya pada saat itu. Tetapi di belakangnya akan terlibat beratus-ratus orang.

Mahesa Jenar itu pun hanya dapat merenung. Ia tidak dapat mencegah muridnya dalam keadaan itu, kalau ia tidak ingin kehilangan kewibawaan atas muridnya itu. Sebab hampir pasti, bahwa Arya Salaka tidak akan mendengarnya. Tetapi sudah tentu bahwa hatinya akan menjadi hancur pula, apabila ia harus menyaksikan pertentangan yang pecah antara Banyubiru dan Demak. Beberapa tahun yang lampau ia berusaha mati-matian untuk menghindarkan pertentangan itu. Pertentangan yang timbul karena persoalan yang bagi Demak jauh lebih bernilai. Persoalan yang ditimbulkan karena keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun ternyata hanya karena kesalahpahaman saja. Kini soal itu adalah soal seorang gadis. Tetapi bagi Arya Salaka persoalan ini adalah persoalan harga diri, kehormatan dan yang lebih penting adalah gairah bagi masa depannya.

Mahesa Jenar itu pun kemudian meninggalkan serambi belakang rumah Ki Ageng Gajah Sora. Arya Salaka pun kemudian pergi pula menemui beberapa orang pimpinan Banyubiru untuk menyiapkan laskarnya.

Sedang untuk beberapa saat Ki Ageng Gajah Sora masih duduk merenung ditempatnya. Terbayanglah apa yang pernah dilakukannya sendiri pada saat itu. Justru pada saat dirinya akan ditangkap oleh prajurit-prajurit Demak. Pada saat ia mendapat tuduhan menyembunyikan keris-keris pusaka istana Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Pada saat itu ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika ia melihat kibaran panji-panji Gula Kelapa diantara sepasukan Manggala pati. Bendera yang melambangkan kebesaran Demak. Lebih dari itu, bendera yang melambangkan persatuan dan kesatuan. Apakah sekarang ia akan membiarkan anaknya melawan Demak. Melawan persatuan dan kesatuan itu. Hati Gajah Sora itu pun tiba-tiba menjadi hancur. Hancur seperti yang pernah dialaminya beberapa tahun yang lalu. Tetapi ia kini tidak mampu mencegah anaknya berbuat demikian.

Tiba-tiba ia tersadar ketika Ki Ageng Lembu Sora masuk menemuinya. Adiknya itu segera akan minta diri untuk kembali ke Pamingit. Menyiapkan pasukannya untuk membantu Arya Salaka memaksa Baginda Sultan Trenggana mengurungkan niatnya, mengambil Endang Widuri untuk puteranya.

Semuanya kemudian berjalan di luar kemauan Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa kali ia berusaha mencegah anaknya melanjutkan niatnya, namun ia tidak juga berhasil. Bukan saja Ki Ageng Gajah Sora, tetapi Mahesa Jenar dan Ki Ageng Sora Dipayana.

Namun Arya Salaka tetap pada pendiriannya.

Merebut Endang Widuri dengan segala akibatnya. Sedang Gajah Sora yang merasa seolah-olah Arya Salakalah yang telah mempertahankan kedudukannya di Banyubiru, baik dari tangan Lembu Sora maupun dari tangan golongan hitam, maka ia tidak sampai hati untuk mempergunakan kekuasaan mencegah laskar Banyubiru untuk mengambil bagian dalam kemarahan Arya Salaka itu.

Tetapi Mahesa Jenar tidak segera berputus asa. Dibiarkannya Arya Salaka mempersiapkan dirinya. Mempersiapkan laskarnya dan bahkan dengan laskar Pamingit sekalipun. Namun ia masih berusaha untuk mencari jalan keluar. Diotak-atiknya persoalan itu. Direntang-digulung, diurai-dilipatnya. Dihubung-hubungkannya setiap persoalan dan setiap sikap dari orang-orang yang berkepentingan. Dan akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu sikap, betapa pun berat hatinya untuk melakukannya. Menemui Kebo Kanigara seorang diri.

 


850

Malam itu Mahesa Jenar memenuhi maksudnya. Ditemuinya Kebo Kanigara yang sedang merenung di dalam bilik yang disediakan untuknya. Ketika Kebo Kanigara melihat kehadiran Mahesa Jenar, maka tampaklah ia terkejut. Dengan tergesa-gesa ia mempersilakan Mahesa Jenar masuk ke dalam bilik itu.Malam itu Mahesa Jenar memenuhi maksudnya. Ditemuinya Kebo Kanigara yang sedang merenung di dalam bilik yang disediakan untuknya. Ketika Kebo Kanigara melihat kehadiran Mahesa Jenar, maka tampaklah ia terkejut. Dengan tergesa-gesa ia mempersilakan Mahesa Jenar masuk ke dalam bilik itu.

“Terima kasih kakang”, sahut Mahesa Jenar sambil duduk dipembaringan Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara telah berkumpul dalam waktu yang lama. Setiap kali mereka bertemu dan bercakap-cakap. Setiap kali mereka mempersoalkan berbagai masalah yang paling ringan sampai yang paling berat. Setiap kali mereka berbuat bersama-sama dan mereka pun ternyata memiliki unsur kekuatan yang sama. Mereka bersama-sama adalah tetesan dari sumber kekuatan Ki Ageng Pengging Sepuh.

Tetapi pertemuan mereka kali ini terasa amatlah canggungnya. Mereka berdua tidak segera menyadari apakah sebabnya dari kecanggungan itu, namun terasa ada sesuatu yang diantara mereka yang kurang sewajarnya.  Setelah mencobanya menenangkan hatinya, maka Mahesa Jenar mencoba mulai dengan persoalannya. Katanya, “Kakang. Apakah kakang tidak ingin melihat persiapan Arya Salaka yang akan membantu kakang mengambil kembali Widuri dari tangan Karebet?”

Kebo Kanigara menarik alisnya. Ditatapnya keheningan malam di luar pintu biliknya. Di samping dinding didengarnya jengkerik seolah-olah lagi menangis. Menangisi mereka yang tak akan dapat dijumpainya.

Dalam kesenyapan itu terdengar Kebo Kanigara berkata, “Aku akan mengucapkan terima kasih atas kesediaan Arya Salaka, Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Semua berjalan dengan baik, kakang. Laskarnya memiliki tekad yang tinggi. Mereka berniat mempertahankan kehormatan nama kakang Kebo Kanigara dan Arya Salaka. Bahkan laskar Pamingit pun akan segera datang dan membantu Arya Salaka pula.”

Kebo Kanigara terdiam. Wajahnya menjadi tegang. Dan punggungnya menjadi basah oleh keringat.

“Nanti pada saat purnama naik, Arya sudah bersedia mengepung Baginda yang sedang berburu. Aku tidak tahu, apakah Baginda menyadari hal itu. Apakah Baginda menyangka bahwa Arya Salaka dan laskar Banyubiru tidak akan berani berbuat demikian sehingga Baginda tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Namun menilik kata-kata Karebet, maka Baginda pasti telah menyiapkan Wira Tamtama dan bahkan mungkin kesatuan-kesatuan yang lain”.

Kebo Kanigara masih berdiam diri. Keringatnya semakin banyak mengaliri punggungnya. Dan kembali terdengar Mahesa Jenar berkata, “Kakang, kalau terjadi pertempuran antara kedua pasukan itu, maka alangkah ramainya. Kalau Baginda telah siap menghadapi Arya Salaka, maka laskar Banyubiru pasti akan tumpas. Beratus-ratus orang Banyubiru dan Pamingit akan menjadi korban. Tetapi kalau Baginda tidak mempersiapkan dirinya, maka laskar Demaklah yang akan binasa. Baginda akan terancam jiwanya karena kemarahan yang meluap-luap. Dan Arya Salaka untuk seterusnya akan bergelar seorang pemberontak yang baik, yang telah berhasil membunuh rajanya sendiri.”

“Sudahlah Mahesa Jenar,” potong Kebo Kanigara. Suaranya perlahan-lahan dan parau. “Aku sudah menyangka bahwa hal-hal yang demikian dapat terjadi.”

“Ya. Aku juga menganggap bahwa kakang sudah dapat membayangkannya. Lalu bagaimana dengan kita kakang? Apakah sebaiknya kita ikut juga dalam pertempuran itu?”

Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Terasa dadanya bergelora. Namun ia tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Sesaat bilik itu menjadi sunyi. Mereka berdua duduk mematung. Namun ternyata bahwa wajah-wajah mereka menjadi tegang.

Yang mula-mula berkata di antara mereka adalah Mahesa Jenar. Dengan penuh tekanan ia berkata. “Bagaimanakah sebaiknya kakang, apakah kita juga akan berada dalam pasukan itu?”

 

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


851

“Menyelesaikan persoalan ini tanpa pertumpahan darah. Tanpa memberikan kemungkinan yang pahit itu. Tanpa memungkinkan kebinasaan baik laskar Banyubiru, maupun Demak.”

“Apakah aku mampu berbuat demikian?”

“Tentu,” jawab Mahesa Jenar. “Kakang tentu mampu. Seharusnya kakang sudah berhasil mencari Karebet dan memaksanya mengembalikan Widuri. Atau kalau Widuri benar-benar dikehendaki oleh Pangeran Timur, maka kakang dapat menjelaskan persoalannya.”

“Sulit bagiku Mahesa Jenar.”

“Kakang,” wajah Mahesa Jenar menjadi tegang pula. “Maafkan aku kakang. Sebenarnya aku sedang menduga, apakah sebenarnya kakang hendak menjauhkan Widuri dari Arya Salaka? Atau kakang sebenarnya sedang mengangkat sebuah neraca antara Arya Salaka dan Pangeran Timur. Namun, kakang tidak sampai hati memberitahukannya kepada keluarga Arya Salaka?”

“Mahesa Jenar” potong Kebo Kanigara. “Jangan kau katakan itu. Aku bukan orang gila. Aku masih sehat dan dapat berpikir sebaik-baiknya.”

“Tetapi apa yang kakang lakukan benar-benar menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam hatiku. Apakah kakang sengaja memancing pertentangan dan membinasakan Arya Salaka untuk menyelesaikan persoalan ini.”

“Cukup. Cukup Mahesa Jenar.”

“Beri aku penjelasan kakang. Beri aku penjelasan supaya aku dapat mengerti jalan pikiran kakang. Apakah kakang Kebo Kanigara akan mempergunakan Arya Salaka untuk membinasakan Sultan Trenggana karena dendam kakang atas runtuhnya keluarga kakang dan lenyapnya kesempatan bagi trah Handayaningrat, apalagi dengan terusirnya Karebet dari istana Demak?”

Wajah Kebo Kanigara itu tiba-tiba menjadi suram. Demikian suramnya sehingga Mahesa Jenar terhenti dengan sendirinya. Ia mengharap Kebo Kanigara membela diri dan menyatakan alasan-alasan yang sebenarnya. Tetapi Kebo Kanigara itu berkata. “Sampai hati kau menuduh aku demikian Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar pun kini terdiam sesaat. Hatinya menjadi sedemikian risaunya sehingga terpaksa ia mengeluh pula.

“Alangkah rumitnya persoalan kali ini. Kakang, jadi kakang telah bertekad dan membiarkan Arya membuat penyelesaian menurut caranya?”

Kebo Kanigara masih menundukkan wajahnya. Terasa benar pada wajahnya yang suram itu pergolakan di dalam hatinya. Hati yang selama ini selalu tenang dan tenteram. Namun hati itu kini bergelora seperti lautan yang dilanda angin lautan yang dahsyat.

Perlahan-lahan Kebo Kanigara itu menjawab. “Untuk sementara, Mahesa Jenar. Sebelum aku menemukan cara yang lain.”

Mahesa Jenar menarik nafas. Ia tidak akan berhasil untuk mengubah pendirian Kebo Kanigara yang aneh dan tidak dapat dimengertinya. Tetapi ia yakin seyakin-yakinnya, bahwa ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Namun betapapun juga alasannya, apakah ia akan dapat melihat bentrokan yang terjadi antara Banyubiru dan Demak di hutan Prawata nanti? Apakah ia akan dapat melihat laskar Banyubiru binasa? Laskar yang telah berhasil melepaskan diri dari satu ujian yang maha berat, membebaskan diri merekadari orang-orang golongan hitam. Dankini mereka akan terperosok ke dalam kehancuran yang mutlak? Sedang apabila Sultan tidak berprasangka akan datangnya bahaya itu, apakah ia juga akan dapat melihat bagian kecil dari laskar Demak dan mungkin Sultan sendiri binasa?

Mahesa Jenar itu menggeram. Dadanya serasa benar-benar akan pecah. Namun sementara itu, ia pun tidak akan dapat berbuat apa-apa. Karena itu, maka dengan nada yang dalam ia minta diri kepada Kebo Kanigara itu, katanya “Baiklah kakang. Biarkan kakang beristirahat malam ini. Mungkin pekerjaan kakang akan menjadi semakin banyak besok.”

Kebo Kanigara menggigit bibirnya. Jawabnya lemah. “Baiklah Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar itu pun kemudian segera meninggalkan bilik Kebo Kanigara.

Dihalaman ia mendengar kentongan dikejauhan dalam nada dara muluk.

“Tengah malam” gumamnya. Dan sesaat kemudian para penjaga di halaman itu pun memukul kentongannya pula dalam nada yang sama. Ketika Mahesa Jenar kemudian menengarahkan wajahnya, maka dadanya berdesir. Dilihatnya bulan yang hampir bulat mengapung di langit dengan tenangnya. Sehelai-helai awan yang tipis terbang menyapu wajah bulan itu. Di langit yang biru, kelelawar berterbangan berkejar-kejaran seperti sedang bergurau.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tidak tertarik pada kelelawar, pada awan dan bintang-bintang di langit. Yang sangat menarik perhatiannya adalah bulan yang hampir penuh itu. Sehingga perlahan-lahan ia bergumam sendiri.

“Empat hari lagi purnama penuh akan naik. Pada saat itu, Sultan Trenggana akan membuat perkemahan di hutan Prawata. Pada saat itu Arya Salaka akan mengepungnya dan menuntut Widuri kembali. Kalau mereka tidak menemukan kata sepakat, maka keduanya akan bertempur dan akan saling membinasakan.”

 


No. 852

KEMBALI Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Udara yang dingin menyentuh dadanya dan terdengar ia berdesah perlahan-lahan. Telah terbayang dimatanya, mayat yang bergelimpangan. Mayat kawan dan mayat lawan. Bukan. Sama sekali bukan lawan. Keduanya adalah kawan. Sebab keduanya adalah isi dari kerajaan yang seharusnya berada dalam persatuan dan kesatuan yang bulat. Tetapi sudah hampir pasti bahwa mereka tidak akan pernah menemukan kata sepakat. Seandainya benar Baginda menerima Endang Widuri, maka Baginda sudah tentu tidak akan bersedia menyerahkan apabila dihadapannya telah mengancam sepasukan laskar. Tetapi mungkin Baginda akan bersedia apabila ayah gadis itu sendiri datang kepadanya dan menjelaskan persoalannya dengan baik. Tetapi Kebo Kanigara tetap dalam pendiriannya.

“Aneh” sekali lagi ia bergumam. “Aneh, dan tidak wajar.”

Tiba-tiba terasa sesuatu bergetar di dalam dada Mahesa Jenar itu. Ia dengan tiba-tiba saja teringat, bahwa masih ada seorang yang dapat mempengaruhi pendapat Kebo Kanigara. Kalau orang itu dapat mengerti persoalannya, dan bersedia memanggil Kebo Kanigara, maka persoalannya masih mungkin dipecahkan. Karena itu, maka timbullah kembali harapan di dalam dada Mahesa Jenar. Dengan langkah yang tetap ia kemudian masuk ke dalam biliknya untuk beristirahat. Mudah-mudahan ia akan dapat menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Tetapi malam itu Mahesa Jenar tidak dapat beristirahat sama sekali. Kalau ia sesaat dapat memejamkan matanya dan lupa diri, maka seakan-akan sesuatu yang berat menghimpit dadanya, sehingga tergagap ia bangun kembali. Berulang-ulang dan bahkan kadang-kadang tubuhnya serasa menjadi kejang. Meskipun ia menyadari dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi, namun untuk beberapa lama ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya.

“Hem” Mahesa Jenar itu menggeram. Sebagai seorang yang terlatih, maka ia mampu menguasai tubuhnya dengan sebaik-baiknya. Namun dalam kerisauan ini, Mahesa Jenar seakan-akan benar-benar menjadi terganggu lahir dan batinnya. Ketika ia bangkit dari pembaringannya di pagi-pagi benar, maka dilihatnya Rara Wilis sedang membantu Nyai Ageng menghidangkan minuman kepada mereka yang berada di dalam rumah itu, kepada Ki Ageng Gajah Sora sendiri dan tamu-tamunya. Ketika Rara Wilis itu masuk ke dalam bilik Mahesa Jenar, tampaklah gadis itu terkejut.

Dan tanpa sesadarnya ia menyapa. “Kakang, apakah kakang sedang sakit?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Tidak Wilis. Aku tidak sedang sakit. Kenapa?”

“Kakang pucat sekali.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Mungkin benar kata Rara Wilis, bahwa ia pucat sekali. Sambil menggosok wajahnya Mahesa Jenar itu berkata, “Wilis duduklah sebentar. Ada yang ingin aku katakan kepadamu.” Rara Wilis itu pun segera duduk di samping Mahesa Jenar. Wajahnya pun memancarkan berbagai pertanyaan. Karena itu tidak hampir sabar ia menunggu Mahesa Jenar berkata, “Wilis. Nanti aku antar kau pulang ke Gunungkidul”.

Rara Wilis terkejut bukan kepalang. Sesaat ia terbungkam dan wajahnya menjadi pucat. Ia sama sekali tidak tahu maksud Mahesa Jenar itu.

“Jangan terkejut Wilis,” sambung Mahesa Jenar. “Aku tidak berkata sebenarnya. Tetapi aku hanya ingin kau membantuku menyelesaikan persoalan ini.”

“Oh” Rara Wilis menarik nafas dalam-dalam. “Kakang mengejutkan aku.”

“Tetapi kau harus menjawab demikian kepada siapa pun juga, bahwa aku hari ini akan mengantarkan kau pulang ke Gunungkidul.”

Rara Wilis itu mengangguk kosong. Namun sama sekali tidak tahu maksud Mahesa Jenar itu.

“Pergilah ke Ki Ageng Pandan Alas. Kau harus mohon diri pula kepada semua orang disini. Katakan bahwa kau ingin sekali segera kembali.”

Sekali lagi Rara Wilis itu mengangguk. Dan setelah Mahesa Jenar memberinya beberapa pesan, maka mulailah Rara Wilis menyampaikan maksud itu kepada Nyai Ageng Gajah Sora beserta keluarganya.

Tentu saja semuanya yang mendengar keinginan itu terkejut bukan kepalang. Ki Ageng Gajah Sora , Arya Salaka dan orang-orang lain. Bahkan Kebo Kanigara hampir tak dapat berkata apapun mendengar maksud itu. Dengan penuh harapan mereka mencegah maksudnya itu. Namun, Rara Wilis dan Mahesa Jenar tidak dapat diminta untuk menunda kepergian itu. Bahkan Arya Salaka yang dengan penuh permintaan mengharap gurunya mengurungkan niatnya, namun Mahesa Jenar tetap pada pendiriannya.

 


853

Katanya kepada Arya Salaka. “Aku akan kembali tepat pada saat Purnama naik, atau bahkan sebelumnya. Aku akan ikut ke hutan Prawata dan aku akan menyaksikan apa yang terjadi”.

Ki Ageng Pandan Alas yang tenang-tenang saja melepaskan Mahesa Jenar dan Rara Wilis pergi. Rara Wilis telah mengatakan apa yang didengarnya dari Mahesa Jenar. Namun bahwa orang tua itu tidak ikut serta, adalah merupakan suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh orang-orang Banyubiru.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis pagi itu benar-benar pergi meninggalkan Banyubiru. Mereka sama sekali tidak membawa bekal apapun selain senjata-senjata mereka, busur dan beberapa anak panah untuk berburu di perjalanan.

Di regol halaman, Kebo Kanigara berbisik perlahan kepada Mahesa Jenar, “Mahesa Jenar, apakah sebenarnya yang akan kau lakukan?”

“Aku benar-benar akan mengantar Rara Wilis kakang,” sahut Mahesa Jenar lemah.

“Aku menjadi ragu-ragu atas kepergianmu ini,” berkata Kebo Kanigara pula.

“Jangan ragu-ragu kakang. Aku sedang mengungsikan Rara Wilis, supaya seandainya Sultan benar-benar marah kepada Arya Salaka, dan menyerang Banyubiru, gadis ini sudah aku selamatkan.”

Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Terasa sindiran itu tepat mengenai jantungnya. Namun ia berkata pula, “Adakah sesuatu yang tersembunyi?”

“Dada kita kini sudah tidak terbuka lagi, kakang ada yang tersembunyi di dalam dada kakang Kebo Kanigara, dan ada yang tersembunyi di dalam dadaku.”

“Hem,” Kebo Kanigara itu pun berdesah. Dan mereka, yang tinggal di halaman itu terpaksa melepaskan Mahesa Jenar dan Rara Wilis pergi meninggalkan Banyubiru dengan beribu-ribu pertanyaan mengiringi kepergian itu. Sepasang kuda yang dinaiki oleh Mahesa Jenar dan Rara Wilis berpacu dengan kencangnya, berderap-derap di jalan yang berbatu-batu. Debu yang putih melontar di belakang kaki-kaki kuda itu, namun sebentar kemudian lenyap disapu angin pagi yang berhembus dari pegunungan. Ketika mereka telah melampaui batas kota Banyubiru, maka Rara Wilis sudah tidak dapat lagi menyimpan pertanyaan dihatinya.

Karena itu maka dengan ragu-ragu ia bertanya. “Kakang, apakah sebenarnya yang akan kita lakukan?”

Mahesa Jenar berpaling. Dilihatnya wajah Rara Wilis yang gelisah. Karena itu maka segera ia memperlambat kudanya sambil menjawab, “Kita pergi bertamasya Wilis.”

“He?”

Mahesa Jenar tersenyum. Dan karena itu Rara Wilis menjadi semakin heran. Dalam kesibukan yang hampir-hampir tidak memberikan kesempatan beristirahat kepada Mahesa Jenar itu, tiba-tiba ia melihat Mahesa Jenar tersenyum sambil berkata kepadanya, bahwa mereka sedang bertamasya.

Mahesa Jenar melihat kebimbangan di hati Rara Wilis. Karena itu, maka ia tidak mau membingungkan gadis itu lebih lama lagi.

Maka jawabnya, “Aku akan pergi ke Karang Tumaritis, menghadap Panembahan Ismaya.”

“Oh” Rara Wilis menarik nafas. “Apakah Panembahan akan kakang minta turut menyelesaikan persoalan ini?”

“Ya. Panembahan mempunyai pengaruh yang kuat atas kakang Kebo Kanigara. Mudah-mudahan Panembahan dapat memberinya beberapa petunjuk, sehingga kemungkinan-kemungkinan yang pahit akan dapat dihindarkan.”

Rara Wilis mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Ia sudah melihat persiapan yang tergesa-gesa di Banyubiru dan ia juga mendengar bahwa Lembu Sora telah kembali ke Pamingit untuk mengambil pasukannya.

Sepeninggalan Mahesa Jenar dan Rara Wilis, Kebo Kanigara benar-benar menjadi gelisah. Disadarinya bahwa Mahesa Jenar bukanlah anak-anak lagi seperti Arya Salaka, atau seorang ayah yang sangat merasa berhutang budi kepada anaknya seperti Ki Ageng Gajah Sora dan pamannya Ki Ageng Lembu Sora, sehingga hampir-hampir mereka sendiri tidak sempat berpikir. Namun Mahesa Jenar adalah seorang yang berotak tenang.

Kebo Kanigara itu pun kemudian mencoba menemui Ki Ageng Pandan Alas. Dengan hati-hati dicobanya bertanya, “Ki Ageng, kemanakah Mahesa Jenar itu sebenarnya akan pergi mengantarkan Wilis pulang ke Gunungkidul? Kenapa Ki Ageng tidak ikut serta ?” bertanya Kebo Kanigara.

“Aku sudah tua. Aku akan terlalu payah untuk pergi berkuda kesana kemari. Lebih baik aku beristirahat disini sambil menunggu Mahesa Jenar kembali.”

“Kenapa bukan Ki Ageng saja yang mengantarkannya?”

Ki Ageng Pandan Alas tertawa. Kebo Kanigara agaknya benar-benar gelisah, sehingga pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibirnya terlalu sederhana dan tergesa-gesa. Meskipun demikian Ki Ageng itu menjawab. “Ah. Pertanyaan yang aneh. Wilis pasti lebih senang diantar oleh Mahesa Jenar daripada aku antarkan.”

Kebo Kanigara menarik nafas dalam-dalam. Jawaban itu dapat dimengertinya. Namun persoalannya yang belum dapat juga dimengerti. Meskipun demikian ia tidak bertanya lagi. Kebo Kanigara itu kembali ke dalam biliknya. Dicobanya mengotak-atik, namun pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam hatinya tidak juga dapat dijawabnya.

 


854

PANEMBAHAN Ismaya terkejut ketika seorang cantrik datang kepadanya, menyampaikan kabar, bahwa Mahesa Jenar dan Rara Wilis datang ke bukit itu. Dengan tergopoh-gopoh Panembahan tua itu menyambut sendiri kedatangan tamunya. Sambil membungkuk hormat Mahesa Jenar dan Rara Wilis melangkah masuk ke Pondok Panembahan Ismaya. Pondok yang dikenalnya baik-baik. Pondok yang masih juga seperti dahulu. Sejuk dan tenang. Beberapa buah topeng masih juga tergantung pada tiang-tiang dan dinding.

Mereka terkejut ketika mereka melihat sebuah topeng yang jelek dan kasar tergantung di antara beberapa buah topeng yang lain. Apakah topeng itu sudah tidak pernah dipakai lagi oleh Panembahan tua itu? Tetapi Mahesa Jenar tidak ingin menanyakannya.

Dengan ramahnya Panembahan Ismaya itu mempersilakan tamu-tamunya duduk dan dengan ramahnya maka Panembahan tua itu menyapa keselamatan mereka.

“Demikianlah Panembahan” jawab Mahesa Jenar. “Tuhan melindungi hamba dan keselamatan. Mudah-mudahan Panembahan pun demikian pula hendaknya.”

“Syukurlah ngger.” sahut Panembahan Ismaya.

Sehingga sesaat kemudian maka pembicaraan mereka menjadi semakin akrab. Panembahan Ismaya bertanya dari satu soal ke soal lain, dari satu masalah ke masalah yang lain. Sehingga akhirnya Panembahan itu berkata, “Aku menjadi berdebar-debar akan kedatangan angger berdua. Aku merasa mempunyai hutang kepada kalian. Bukankah aku sanggup datang ke Gunungkidul untuk mewakili orang tua Mahesa Jenar. Nah, sekarang kalian telah datang untuk menagih janji. Tentu akan segera aku penuhi. Kapan saja aku akan berangkat bersama angger berdua ke Gunungkidul.”

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya.

Sedang wajah Rara Wiils menjadi merah padam. Namun terdengar Mahesa Jenar menjawab. “Terima kasih Panembahan. Memang yang pertama kali, kedatanganku sengaja mengingatkan Panembahan akan hal itu.”

“Aku tidak pernah lupa ngger.” sahut Panembahan. “Maksudku, aku ingin mempercepat waktu.”

“Ah. Aku memang sudah terlalu tua, sehingga aku agak lambat berbuat sesuatu.”

Mahesa Jenar itu menjadi gelisah ketika ia sampai pada maksud kedatangannya. Karena itu dengan hati-hati ia ingin berkisar dari pembicaraan tentang dirinya kepada persoalan yang sebenarnya dibawanya. Katanya, “Panembahan, sebenarnya disamping persoalanku pribadi itu, aku membawa persoalan lain, yang aku kira cukup penting untuk aku sampaikan kepada Panembahan.”

Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ah, apakah masih ada persoalan penting bagiku selain persoalan angger berdua? Aku kira tidak. Aku tidak akan mampu untuk memikirkan persoalan-persoalan lain.”

“Panembahan” berkata Mahesa Jenar, “Kali ini tidak ada orang lain yang dapat memecahkannya selain Panembahan.”

Panembahan tua itu mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Baiklah ngger. Baiklah kau simpan dahulu persoalan-persoalan itu. Sekarang beristirahatlah. Bukankah masih ada waktu nanti, besok atau lusa?”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia ingin berkata lagi, dilihatnya beberapa orang cantrik masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa hidangan. Sehingga karena itu, maka ia menjadi terdiam. Yang berkata kemudian adalah Panembahan Ismaya. “Marilah ngger. Mungkin angger sudah lama tidak merasakan makanan pegunungan. Air daun sere, nasi jagung dan sambal wijen.”

Sebenarnyalah bahwa Mahesa Jenar dan Rara Wilis sedang lapar. Karena itu, maka mereka tidak berkeberatan ketika Panembahan itu membawa mereka, menikmati hidangan para cantrik itu. Tetapi kembali Mahesa Jenar menjadi kecewa. Meskipun kemudian mereka telah selesai makan, namun Panembahan itu masih saja berkata. “Jangan tergesa-gesa. Beristirahatlah. Pondok sebelah barat sampai kini masih kosong. Kebo Kanigara belum juga pulang sejak saat mereka pergi bersama Widuri ke Banyubiru bersama angger berdua.”

Mahesa Jenar benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk segera mengatakan maksudnya. Karena itu, maka dengan kecewa mereka beristirahat di pondok sebelah barat. Pondok yang dahulu pernah di tempatinya pula. Pondok itu masih juga seperti dahulu. Dari ruangannya mereka dapat melihat pohon-pohon yang rindang. Kebun bunga-bunga yang subur dan jauh dihadapannya mereka terbentang sebuah ngarai yang subur pula, dimana para cantrik bercocok tanam. Mahesa Jenar berdesir, ketika tiba-tiba saja teringat pula olehnya bahwa kebun bunga itu pernah dirusaknya oleh Sawung Sariti dan kemudian oleh Sima Rodra betina dari Gunung Tidar. Bulu-bulu kuduknya berdiri ketika dikenangnya, dibawah bukit itu pernah terjadi suatu malam yang mengerikan.

 


855

Dimana janda Sima Rodra mengadakan semacam upacara untuk menyatakan kegembiraan mereka setelah mereka berhasil menangkap Rara Wilis. Kebiadaban yang pernah terjadi antara orang-orang dari golongan hitam itu.
Tiba-tiba tanpa disengaja Mahesa Jenar berpaling kepada Rara Wilis yang agaknya benar-benar merasa penat setelah perjalanan yang berat itu.
“Wilis” katanya, “Kau ingat daerah ini? Daerah yang pernah merayakan kehadiranmu di antara mereka? Kau ingat?”
Rara Wilis mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah itu pernah terjadi?”

“Ah, seharusnya kau tidak akan dapat melupakan. Bukankah di bawah bukit ini kau mendapat sambutan yang sangat meriah? Kau ingat tentu. Di bawah bukit ini menunggu ibu tirimu yang akan mencarikan buat kau seorang menantu dari Nusa Kambangan.”

“Ah,” tiba-tiba Rara Wilis bangkit dan dengan kedua tangannya ia mencubit Mahesa Jenar sekeras-kerasnya.
Mahesa Jenar menyeringai kesakitan. Katanya, “Wilis, apakah kau sedang mengetrapkan aji Cunda Manik.”
Rara Wilis mencubit semakin keras, dan Mahesa Jenar itu terpaksa berkata, “Sudahlah. Sudah. Aku bertobat sekarang.”
“Kalau kakang menyebutnya sekali lagi,” jawab Rara Wilis. “Maka aku benar-benar akan mengetrapkan aji Cunda Manik. Aku tidak takut seandainya kakang melawan dengan Sasra Birawa.”

“Akulah yang takut,” sahut Mahesa Jenar.

Rara Wilis itu pun duduk kembali. Namun kengerian benar-benar telah merayapi dadanya. Sehingga karena itu, maka tiba-tiba ia merenung.
Ruangan itu kemudian menjadi sunyi. Angin pegunungan berhembus perlahan-lahan menggoyang-goyangkan perdu di halaman. Terasa silirnya angin mengusap tubuh-tubuh mereka, sehingga terasa betapa sejuknya udara pegunungan itu.
Namun Mahesa Jenar masih saja digelisahkan oleh persoalan yang dibawanya ke bukit ini. Ia tidak mengerti, kenapa Panembahan tidak segera mau menerima persoalan itu. Sehingga kemudian Mahesa Jenar itu menjadi berbimbang hati.
Apakah Panembahan benar-benar belum mendengar persoalan ini? Karena kebimbangan itu, maka dada Mahesa Jenar justru menjadi berdebar-debar. Dan karena itulah maka seakan-akan ia tidak sabar lagi menunggu.

Desakan di dalam dadanya itu menjadi sedemikian kuatnya sehingga dengan serta merta ia berkata kepada Rara Wilis. “Wilis, kenapa Panembahan tidak mau mendengar persoalan ini segera?”

Wilis terkejut. Ketika ia berpikir dilihatnya wajah Mahesa Jenar menjadi bersungguh-sungguh. Karena itu, maka Wilis merasakannya pula, bahwa kali ini Mahesa Jenar tidak bergurau lagi.

“Aku menjadi ragu-ragu Wilis,” berkata Mahesa Jenar. “Apakah Panembahan sengaja menghindarinya?”

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu berdiri. Dan dengan serta merta ia berkata, “Marilah kita menghadap sekarang.”

Rara Wilis mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Apakah Panembahan tidak menjadi gusar karenanya?”

“Kita katakan, bahwa kita akan segera kembali.”

Rara Wilis tidak menjawab. Diikutinya saja kemana Mahesa Jenar pergi. Kepada seorang cantrik Mahesa Jenar menyatakan keinginannya untuk bertemu Panembahan.

“Sampaikan kepada Panembahan. Aku berdua akan mohon diri.”

Sekali lagi Panembahan terkejut. Sekali lagi dengan tergopoh-gopoh ditemui Mahesa Jenar. Katanya, “Kenapa angger sedemikian tergesa-gesa?”

“Panembahan,” sahut Mahesa Jenar. “Sudah aku katakan, bahwa kedatanganku membawa persoalan yang perlu segera aku sampaikan kepada Panembahan, Banyubiru sekarang sedang mempersiapkan perang.”

“Perang,” Panembahan itu terkejut sekali, sehingga sesaat ia berdiam diri memandangi Mahesa Jenar dengan tanpa berkedip.

“Ya” sahut Mahesa Jenar. “Apakah Panembahan belum mendengar bahwa Widuri telah hilang?”

“Oh,” Panembahan itu semakin terkejut. “Widuri anak Kebo Kanigara maksudmu?”

“Ya Panembahan?”

“Bagaimana mungkin anak itu hilang?”

“Widuri hilang karena pokal Karang Tunggal. Tegasnya Widuri diculik oleh Karang Tunggal itu.”

Tampaklah wajah Panembahan Ismaya itu berubah. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia bergumam. “Anak itu tidak juga menjadi jera.”

Mahesa Jenar itu pun segera menceriterakan serba singkat apa yang diketahuinya tentang hilangnya Widuri. Dan akhirnya ia berkata, “Panembahan, apakah kemungkinan pertumpahan darah itu tidak akan dapat dihindari?”

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


856

Panembahan Ismaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya perlahan-lahan, “Kenapa Sultan Trenggana itu tidak saja menghendaki gadis yang lain?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin heran mendengar tanggapan Panembahan Ismaya itu. Panembahan Ismaya sama sekali tidak menyesalkan tindakan Karebet atau ketergesa-gesaan Kebo Kanigara, tetapi yang mula-mula disesalkan adalah Sultan Trenggana.
Apalagi ketika Panembahan itu berkata, “Adalah wajar sekali kalau Kebo Kanigara menjadi marah.”

“Tetapi kemarahan kakang Kebo Kanigara berlebih-lebihan Panembahan. Apakah kakang Kebo Kanigara tidak dapat mengambil cara lain, sehingga pertumpahan darah itu tidak terjadi. Arya Salaka yang merasa kehilangan pula, mungkin akan dapat reda, apabila Kakang Kebo Kanigara mencoba menempuh cara yang lain.”

Panembahan Ismaya mengerutkan keningnya. Sekali lagi jawabnya mengejutkan Mahesa Jenar. “Mungkin Kebo Kanigara dan Arya Salaka memperhitungkan juga harga diri mereka, sehingga mereka tidak akan dapat datang kepada Trenggana dan mohon belas kasihan kepada Sultan itu.”

Mahesa Jenar kini benar-benar menjadi bingung. Apakah dirinya sendirilah yang kini telah kehilangan kejantanannya sehingga ia memandang persoalan itu sebagai persoalan yang harus diselesaikan tanpa pertumpahan darah? Ataukah karena ia sudah terdorong kepada suatu keinginan untuk berumah tangga, sehingga penyelesaian yang diangankannya itu benar-benar sebagai suatu tindakan yang terlalu lemah dan bahkan telah mengorbankan harga dirinya?

“Apakah aku telah berubah?” pertanyaan itu timbul didalam hatinya. Meskipun demikian maka ia mencoba berkata pula. “Panembahan, mungkin kakang Kebo Kanigara tidak mau mengorbankan harga dirinya, mungkin pula karena sebab-sebab lain, sebab-sebab yang tidak dapat aku mengerti. Tetapi bagaimanakah kalau permohonan itu dilakukan oleh orang lain? Oleh Panembahan misalnya. Bahkan Pangeran Buntara masih juga mempunyai sangkut paut yang dekat dengan Sultan Trenggana?”

“Jangan sebut nama itu lagi Mahesa Jenar,” sahut Panembahan itu.

“Pangeran Buntara telah tidak ada lagi. Yang ada sekarang Panembahan Ismaya.”

“Apakah Pasingsingan yang sakti juga tidak dapat berbuat sesuatu untuk meredakan pertentangan ini? Misalnya dengan mengambil Karebet dan dengan pengaruhnya memaksa Karebet menyerahkan Widuri kembali?”

“Dengan demikian soalnya juga tidak akan selesai, Mahesa Jenar. Seandainya Karebet dapat menyerahkan Widuri kembali, sedang Sultan Trenggana masih menghendakinya, maka kau juga akan dapat membayangkan akibatnya.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia benar-benar tidak dapat mengerti keadaan itu. Hampir saja Mahesa Jenar melihat kesalahan itu pada dirinya sendiri. Pada keruntuhan yang dialami.

Hampir-hampir ia mengambil kesimpulan, bahwa ia tidak dapat mengerti sikap Kebo Kanigara dan Arya Salaka karena ia telah kehilangan kejantanannya. Namun berkali-kali terngiang di dalam hatinya. “Tidak. Aku tidak akan membiarkan pertumpahan darah itu terjadi.”

Karena itu maka tiba-tiba Mahesa Jenar itu memberanikan diri berkata, “Panembahan. Baiklah aku mencoba sekali lagi. Kalau kakang Kebo Kanigara dan Panembahan ternyata berpendapat bahwa Sultan Trenggana yang bersalah, karena menghendaki Endang Widuri itu, maka biarlah aku mencoba. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana pada suatu pilihan. Mudah-mudahan dengan demikian terhindarlah segala bencana.”

“Apakah yang akan kau lakukan?” bertanya Panembahan Ismaya.

“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian dengan takzimnya. “Bukan maksudku untuk menjual jasa. Baik kepada Sultan Trenggana maupun kepada siapa pun juga. Maafkan aku, kalau ternyata kemudian tidak berkenan di hati Panembahan. Aku ingin menghadapkan Sultan Trenggana kepada suatu pilihan. Keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang sampai sekarang belum kembali ke istana, atau Endang Widuri.”

“Mahesa Jenar,” potong Panembahan Ismaya. Wajahnya sesaat menjadi tegang. Namun kemudian wajah itu menjadi tenang kembali.

Perlahan-lahan Panembahan itu berkata, “Apakah maksudmu?”

“Panembahan. Kalau berkenan di hati Panembahan, maka apakah Panembahan sendiri, apakah kakang Kebo Kanigara apakah Arya Salaka, biarlah salah seorang daripadanya menghadap Sultan, memohon untuk menukar Endang Widuri dengan pusaka-pusaka itu.”

“Mahesa Jenar,” berkata Panembahan. “Kedua pusaka itu adalah hakmu. Biarlah kau miliki hak itu. Kau akan mendapat tempat tersendiri dengan mengembalikan keris-keris itu ke istana. Kalau keris-keris itu diserahkan untuk keperluan yang lain, maka kau akan kehilangan hak itu. Keris itu akan kembali, dan Endang Widuri akan kembali pula. Seakan-akan telah terjadi jual beli di antara mereka, sehingga usahamu selama ini akan tidak mendapat penghargaan apapun juga. Sebab tukar menukar itu telah berlangsung.”

 


857

“PANEMBAHAN,” jawab Mahesa Jenar. “Aku sama sekali tidak memimpikan penghargaan apapun juga. Biarlah seandainya dengan demikian aku tidak mendapat apapun. Memang aku tidak mengharapkan apapun itu. Namun dengan demikian, maka terhindarlah kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan. Apakah artinya jasa yang dapat aku persembahkan kepada Demak, apabila Demak akan mengalami bencana? Apakah artinya penghargaan yang akan aku terima, kalau Demak mengalami cidera. Panembahan, biarlah aku dilupakan, tetapi Demak akan tetap dalam keadaannya sekarang. Mudah-mudahan justru karena itu, Demak akan menjadi semakin jaya. Karena itu, biarlah kedua keris itu, Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten kembali ke istana, kembali ke gedung perbendaharaan. Tidak perlu Mahesa Jenar yang menyerahkannya. Tidak perlu Mahesa Jenar yang dianggap berjasa menemukannya.”

Panembahan Ismaya menundukkan wajahnya. Tampaklah wajah itu berkerut-kerut. Terasa betapa Panembahan tua itu menahan perasaan yang meluap-luap di dalam dadanya. Sekali ia mengangkat wajahnya, namun kembali wajah itu ditundukkannya.

Sesaat ruangan itu menjadi sepi.

Mahesa Jenar menunggu dengan hati yang sangat berdebar-debar, apakah Panembahan Ismaya akan mengijinkannya. Karena keris-keris itu sekarang berada di tangan Panembahan itulah, maka Mahesa Jenar menggantungkan keadaan kepadanya.

Tetapi alangkah kecewanya Mahesa Jenar itu. Alangkah pahitnya perasaannya ketika ia melihat Panembahan Ismaya itu menggelengkan kepalanya sambil berkata lirih. “Jangan Mahesa Jenar. Jangan. Biarlah orang lain menyelesaikan persoalannya sendiri. Biarlah kau nanti membawa persoalanmu sendiri pula.”

“Panembahan,” suara Mahesa Jenar menjadi parau karena hatinya yang pedih. “Aku benar-benar tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang akan menimpa Demak di saat-saat terakhir ini. Aku telah mencoba menghubungi Kakang Kebo Kanigara, namun aku tidak mendapat tanggapan yang sewajarnya. Kini aku mencoba menghadap Panembahan dan bahkan aku ingin mencoba mempergunakan kedua pusaka-pusaka Istana itu. Namun aku menjumpai pendirian yang sama sekali tidak dapat aku mengerti Panembahan, apakah benar-benar aku telah berubah menjadi seorang pengecut yang takut melihat darah tertumpah. Apakah aku kini sudah tidak pantas lagi ikut serta mempersoalkan perkara-perkara yang rumit seperti sekarang? Kalau demikian Panembahan, maka biarlah aku menyingkir. Meskipun umurku belum terlalu tua, tetapi pendiriankulah yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kini.”

Dada Panembahan Ismaya itu benar-benar bergelora. Tetapi tak dapat ia berbuat lain. Sehingga karena itu, maka tampaklah alangkah ia menjadi gelisah.

“Panembahan,” berkata Mahesa Jenar kemudian, “Apabila demikian keadaannya, maka baiklah aku mohon diri. Aku tidak melihat peristiwa itu terjadi. Biarlah aku langsung menunju ke Gunungkidul. Biarlah aku kini menjadi seorang yang tidak berarti apa-apa lagi. Dan apabila sampai saatnya pun aku tidak akan bersedia menyerahkan keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Biarlah orang lain melakukannya.”

“Jangan. Jangan Mahesa Jenar. Aku dapat merasakan betapa hatimu seakan-akan terpecah karenanya. Tetapi jangan mengasingkan dirimu seperti itu. Mungkin aku dapat memberi kau petunjuk dalam persoalan yang kau hadapi sekarang. Meskipun sebenarnya tidak seharusnya aku katakan. Tetapi aku tidak sampai hati melihat kau menjadi kehilangan kepercayaan pada dirimu dan pendirianmu. Usahamu menghindarkan pertumpahan darah seharusnya dihargai. Tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jangan bertanya lagi kepadaku dan kepada Kebo Kanigara. Pergilah ke Banyubiru kembali. Temuilah Ki Buyut Banyubiru. Ki Lemah Telasih. Mungkin kau akan mendapat sedikit penjelasan yang kau perlukan.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia melihat lebih jelas lagi. Bahwa sebenarnya ia berada dalam suatu lingkaran yang sangat asing baginya. Ternyata bahwa jalur-jalur yang dipasang oleh Kebo Kanigara dalam menghadapi Panembahan Ismaya telah pula terlibat dalam persiapan yang dilakukan oleh Kebo Kanigara. Tetapi yang masih gelap baginya, apakah sebenarnya yang akan terjadi?

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ki Lemah Telasih. Ia harus pergi kepada orang itu. Apa pun yang akan dilakukan, maka usaha itu masih belum dilepaskannya. Saat itu pula Mahesa Jenar dan Rara Wilis mohon diri kepada Panembahan Ismaya.

Meskipun Panembahan Ismaya minta mereka berdua untuk bermalam, namun Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat memenuhinya. “Nanti Panembahan. Pada saat Purnama naik, aku akan menghadap Panembahan.”

Panembahan itu berpikir sejenak. Tampak ia menjadi ragu-ragu. Katanya bertanya, “Bukankah pada saat Purnama naik Banyubiru akan mengalami ketegangan?”

“Ya Panembahan,” sahut Mahesa Jenar.

“Kenapa kau akan meninggalkan tempat itu untuk datang kemari?”

“Lebih baik aku tidak menyaksikan peristiwa itu. Biarlah aku disini menenangkan hati bersama Panembahan.”

 


858

PANEMBAHAN TUA itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia mengangguk-anggukkan kepalanya, gumamnya.

“Sejak dahulu aku sudah mengatakan kepadamu Mahesa Jenar, bahwa wawasanmu benar-benar tajam. Biarlah aku katakan terus terang, bahwa nanti pada saat purnama naik aku tidak ada di Padepokan ini. Bukankah itu yang akan kau katakan kepadaku? Ternyata kau benar. Dan sebahagiaan dari dugaan-dugaanmu yang lain pun aku kira benar pula.”

Mahesa Jenar tidak dapat menanyakan lagi, atau memancingnya dengan persoalan-persoalan lain. Sehingga karena itu, maka ia pun segera bermohon diri untuk meninggalkan Padepokan itu.

Ketika Mahesa Jenar menuntun kudanya meninggalkan pondok itu, dilihatnya Panembahan Ismaya benar-benar menjadi gelisah. Terasa ada sesuatu yang ingin dikatakannya, namun ditahannya kuat-kuat. Sehingga Mahesa Jenar pun merasakan ketegangan di dalam dada Panembahan Ismaya. Tetapi ketegangan itu langsung mempengaruhinya pula, sehingga dadanya pun menjadi tegang.

Namun Mahesa Jenar berjalan terus menuntun kudanya bersama Rara Wilis.

Demikian mereka melampaui pagar halaman, segera mereka berdua itu pun berlari menuruni tebing bukit Telamaya.

Beberapa lama Panembahan Ismaya masih tegak di ambang pintu. Wajahnya yang tua tampaknya menjadi semakin tua. Perlahan-lahan dianggukkannya kepalanya dan terdengar ia bergumam. “Kalian masih seperti dahulu. Kalian masih dalam pengabdian yang luhur.”

Tiba-tiba Panembahan itu pun segera masuk ke dalam pondoknya. Dipanggilnya seorang cantrik dan kemudian katanya. “Aku akan berada di dalam sanggar. Jangan bangunkan aku sampai tiga hari setelah purnama naik.”

“Baik Panembahan,” sahut cantrik itu.

Panembahan itu pun segera mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam sanggarnya.

Mahesa Jenar dan Rara Wilis yang meninggalkan bukit Karang Tumaritis berkuda dengan kecepatan sedang. Sekali-kali Rara Wilis menanyakan beberapa soal kepada Mahesa Jenar, namun Mahesa Jenar sendiri masih belum mampu mengambil kesimpulan apa-apa.

Semalam sebelum purnama naik, hutan Prawata telah sibuk dengan persiapan perkemahan yang akan dipakai oleh Baginda. Besok pagi-pagi Baginda akan sampai di hutan itu untuk suatu masa perburuan yang akan memakan waktu sepekan sampai sepuluh hari. Beberapa orang yang mendahului Baginda telah mendapat tugas membangun beberapa buah perkemahan untuk para pengikut Baginda. Namun agaknya kali ini Baginda tidak membawa banyak pengikut.

Beberapa perwira Wira Tamtama, akan beberapa orang lagi dari kesatuan-kesatuan lain, di bawah pengawalan kesatuan Nara Manggala. Hutan yang sepi itu tiba-tiba menjadi ramai dan riuh. Di malam hari sebelum Purnama naik, lampu-lampu obor telah menyala bertebaran di sekitar perkemahan, yang di bangun di sebuah lapangan rumput yang agak luas di tengah-tengah hutan itu.

Sementara itu, Banyubiru pun menjadi ramah. Namun penuh dengan ketegangan. Laskar dari Pamingit telah siap pula di alun-aun Banyubiru, sedang laskar Banyubiru sendiri dengan penuh tekad telah menggenggam senjata masing-masing di tangan mereka.

Arya Salaka telah memerintahkan kepada mereka, bahwa apabila nanti saatnya matahari tenggelam, laskar itu harus mulai bergerak. Malam itu mereka akan merayap mendekati hutan Prawata dan besok malam pada saat Purnama naik, mereka harus sudah mengepung perkemahan Baginda.

Arya Salaka sendiri akan memimpin seluruh laskar Banyubiru dan Pamingit. Telah bulat tekad di dalam dadanya. Kalau Baginda menerima Endang Widuri dari Karebet, maka apapun yang akan terjadi. Widuri akan direbutnya dengan kekerasan. Kalau tidak dan Karebet sendiri ingin bertahan dengan pasukan Wira Tamtama yang dipimpinnya, maka Arya Salaka akan sanggup menghancurkannya, seandainya Karebet tidak bersedia menyerahkan Widuri. Laskar yang dibawanya pasti akan berpengaruh atas tuntutannya. Kalau ia datang tanpa kekuatan, maka ia pasti akan diabaikan. Tetapi dengan kekuatan dibelakangnya, maka mau tidak mau permintaannya untuk menerima kembali Widuri pasti akan dipertimbangkan.

Dengan gelisahnya Arya Salaka menunggu matahari terbenam di kaki langit. Sekali-kali ia berjalan mondar-mandir di halaman rumahnya. Sekali-kali dilayangkan pandangannya ke pada laskar yang sudah bersedia sepenuhnya di alun-alun. Dipendapa rumahnya dilihatnya telah siap dalam kesigapan tempur, pamannya, Lembu Sora, Kebo Kanigara, dan ayahnya. Namun tampaklah Ki Ageng Sora menjadi pucat dan gemetar. Terasa sesuatu bergelora di dalam dadanya. Ia sendiri tidak mampu bertempur melawan laskar Demak yang memadai Gula Kelapa. Apalagi kini. Di antara mereka terdapat Baginda sendiri. (Bersambung)-b

 


859

MAHESA JENAR dan Rara Wilis duduk pula di pendapa itu bersama Ki Ageng Pandan Alas. Meskipun dilambung Wilis tergantung sebilah pedang, namun kebimbangan yang besar tampak membayang di wajahnya.

Kebo Kanigara menundukkan wajahnya dalam-dalam. Tampaklah mulutnya bergerak- gerak. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sedang Mahesa Jenar duduk termenung memandang langit dikejauhan yang semakin lama menjadi semakin suram. Sesuram hati Arya Salaka.

Arya Salaka yang kemudian duduk pula di tangga pendapa itu, menunggu dengan dada yang bergolak. Terbayang di dalam angan-angannya, apakah kira-kira yang telah terjadi dengan Endang Widuri. Kenapa seorang gadis yang memiliki ilmu tata bela diri itu tidak sempat membebaskan dirinya dari Karebet? Dan sebenarnyalah Endang Widuri telah berusaha sekuat-kuat tenaganya. Tanpa dilihat oleh seorang pun maka Widuri itu telah bertempur dengan gigihnya.

Pagi itu Widuri sedang mencuci pakaiannya di belumbang, ketika tiba-tiba saja Karebet muncul disampingnya. Gadis itu terkejut bukan buatan. Tetapi ketika dilihatnya yang datang itu Karebet ,, maka ia menjadi gembira.

Namun kembali Widuri itu terkejut, ketika Karebet tiba-tiba mengajaknya pergi ke Demak. “Kenapa ke Demak?” bertanya Widuri.

Karebet memandangi wajah Widuri dengan pandangan yang aneh. Katanya sambil tersenyum-senyum. “Buat apa kau tinggal di pedukuhan yang sepi ini? Ikutlah aku ke Demak. Kau akan mukti disana.”

“Apakah kau sudah menjadi gila, kakang” bentak Widuri.

Namun Karebet masih juga tersenyum-senyum, sehingga Widuri itu pun menjadi takut pula karenanya. Tetapi Widuri tidak sempat berbuat apa-apa. Meskipun kemudian Widuri berusaha membela diri, namun Karebet bukanlah lawannya.

Widuri tidak dapat bertahan, sehingga akhirnya dapat dilumpuhkan. Dalam keadaan pingsan maka gadis itu dibawa menghilang, masuk ke dalam semak-semak.

Kini Arya Salaka sudah siap untuk merebutnya dengan segenap kekuatan yang mungkin dikerahkannya. Demikianlah, maka ketika matahari telah hilang dibalik cakrawala, maka segera Arya Salaka bersiap.

Dengan langkah yang tetap ia berjalan ke alun-alun dihadapan rumahnya. Diberikannya beberapa perintah, dan para pemimpin laskar Banyubiru dan Pamingit segera memahaminya. Laskar Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran sedang laskar Pamingit berada di bawah pimpinan Wulungan.

Dibelakang Arya Salaka berdiri beberapa orang yang akan menjadi kekuatan laskar Banyubiru dan Pamingit itu. Gajah Sora, Lembu Sora, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis.

Namun tak seorang pun yang tahu di antara mereka, apakah yang tersimpan di dalam dada masing-masing. Meskipun mereka berdiri berjajar dalam barisan yang sama, namun barisan Arya Salaka kali ini adalah barisan yang penuh menyimpan berbagai persoalan di setiap dada mereka.

Persoalan yang satu sama lain berbeda-beda dan satu sama lain bertolak dari kepentingan yang berbeda pula. Tetapi yang tampak, yang kasat mata, mereka kemudian berjalan beriringan di belakang laskar Banyubiru dan Pamingit yang dengan tekad yang menyala di dalam dada mereka, pergi menuju ke hutan Prawata.

Tepat pada saat purnama naik, maka hutan Prawata benar-benar menjadi sangat ramainya. Di dalam setiap barak kini sudah terpancang obor-obor dan di hampir setiap sudut-sudutnya pun diterangi dengan nyala-nyala lampu obor pula. Di pinggir lapangan rumput dibuat orang sebuah perapian yang besar.

Nyalanya seakan-akan menggelepar menggapai daun-daun pepohonan yang berjuntai di atasnya. Cahaya yang kemerah-merahan terlempar jauh menusuk ke dalam sela-sela daun-daun yang tidak begitu rimbun.

 


860

BAGINDA kini telah berada di dalam barak yang terbesar di tengah-tengah barak- barak yang lain. Sebagai seorang pemburu, maka Baginda dapat hidup di dalam lingkungan yang sangat sederhana. Barak dari batang ilalang dan dedaunan. Pembaringan yang dibuat dari kulit-kulit kayu dan bambu, serta segala macam peralatan yang sederhana. Hidup yang sedemikian merupakan selingan yang menggembirakan bagi Baginda yang kadang-kadang menjadi terlalu jemu dengan isi istana.

Di dinding-dinding barak itu, kini tergantung busur dan anak panah. Pedang, tombak dan segala macam senjata. Bukan saja senjata-senjata untuk berburu, namun juga senjata-senjata untuk berperang dari para pengawal Baginda.

Malam yang demikian akan menjadi sangat menyenangkan bagi para prajurit dan Baginda sendiri.

Biasanya Baginda mulai berburu pada malam pertama. Pada malam bulan sedang bulat sebulat-bulatnya. Seperti malam itu, dimana langit bersih dan bintang-bintang bertaburan. Sinar bulan yang cemerlang menyusup ke dalam rimba yang tidak begitu pepat, menari-nari di atas tanah yang lembab.

Tetapi malam ini keadaan Baginda tidak sedemikian gembira seperti biasanya. Tampaklah Baginda menjadi muram dan gelisah. Sekali-kali Baginda memandangi busur-busur yang tergantung di dinding barak. Serta pusakanya, sebilah keris, tidak juga dilepaskannya. Terasa sesuatu yang selalu membayangi kegembiraan Baginda.

Ketika seorang perwira masuk ke dalam biliknya beserta seorang prajurit, maka segera Baginda memanggilnya duduk dekat-dekat di hadapannya. “Jangan hiraukan lagi subasita. Kita sekarang sama-sama seorang pemburu.”

“Tidak Baginda,” perwira itu menyembah. “Ternyata kita belum sempat untuk berburu malam ini atau malam besok.”

“Bagaimana dengan kabar itu?”

“Hamba telah menyaksikan sendiri. Perkemahan ini telah dikepung rapat-rapat.”

Baginda menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada perwira itu. “Paningron. Apakah kau dapat menduga kekuatannya?”

“Tidak secara cepat Baginda. Tetapi kira-kira dua tiga kali lipat kekuatan kita disini.”

Baginda terdiam sesaat. Perwira itu, yang tidak lain adalah Paningron, menunggu apakah yang harus dikerjakannya. Pasukan yang ikut serta dengan Baginda memang tidak begitu banyak, sebab Baginda hanya sekadar ingin berburu. Namun tiba-tiba kini Baginda Sultan telah berhadapan dengan sepasukan laskar yang sedemikian kuatnya, sehingga Baginda harus berhati-hati menghadapinya.

Sejenak kemudian baginda itu pun berdiri. Dilepaskannya baju keprajuritan yang dikenakannya. Kemudian kepada prajurit yang duduk disampingnya Baginda berkata.

“Berikan bajumu.” Prajurit itu menjadi terheran-heran. Namun sekali lagi Baginda itu berkata, “Berikan baju dan kelengkapanmu.”

Prajurit itu menjadi terheran-heran. Dibukanya bajunya dan diserahkannya kepada Sultan, yang segera dipakainya.

“Terlalu kecil,” gumam Sultan.

“Ya” sahut Paningron yang segera dapat mengetahui maksud Sultan.

“Apakah baju ini tidak pernah kau cuci?” bertanya Baginda sambil tersenyum. “Baju itu hamba pakai sejak hamba mempersiapkan diri semalam Baginda,” sahut prajurit itu.

“Pantas?” “Baunya,” jawab Baginda sambil tersenyum Prajurit itu tersenyum pula.

Tetapi ia tidak dapat tersenyum lagi ketika Baginda berkata, “Kau tinggal di dalam barak ini. Kalau ada orang yang ingin masuk, jangan kau beri kesempatan. Jawabnya seperti aku menjawab, “Jangan ganggu aku.”

“Tetapi suara hamba Baginda,” jawab prajurit itu. Baginda berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Baik, kalau begitu tutup pintu. Jangan kau bukakan apabila aku tidak memanggil namamu.”

“Hamba Baginda.” Baginda dan Paningron segera meninggalkan bilik itu yang kemudian segera ditutupnya. Penjaga yang melihat mereka keluar dalam keremangan bulan Purnama, tidak menyangka bahwa orang itu adalah Baginda sendiri.

Ternyata Baginda membawa Paningron untuk melihat sendiri kekuatan orang-orang yang telah mengepung mereka dengan rapatnya. Hampir di setiap pohon bersandar seorang yang bersenjata. Di sela-sela pepohonan Baginda melihat cahaya perapian yang menyala-nyala. Dan karena itulah maka Baginda kadang-kadang dapat melihat bayangan orang yang berjalan hilir mudik.

“Kau benar Paningron,” berkata Baginda. “Kekuatan itu benar-bebar tidak dapat diabaikan.” “Hamba telah meneliti tuanku.”

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


861

Baginda mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil berjalan mengendap-endap Baginda itu berkata, “Siapakah yang memimpinnya?”

“Hamba kurang tahu Baginda. Tetapi sudah hamba saksikan sendiri di Pamingit, kekuatan Banyubiru benar-benar mengagumkan. Apalagi kini mereka telah bergabung bersama kekuatan-kekuatan dari Pamingit.”

“Apakah Rangga Tohjaya masih di Banyubiru?”

“Hamba tuanku.”

“Apakah ia ikut dalam barisan itu?”

“Belum hamba ketahui.”

Baginda menarik nafas dalam-dalam. Disadarinya bahwa apabila laskar Banyubiru itu lengkap dengan segenap pimpinannya, maka kekuatan Banyubiru benar-benar mengagumkan. Paningron yang melihat

Baginda kemudian termenung, segera berkata, “Baginda, apakah hamba dapat mengirim seseorang untuk memanggil pasukan yang cukup untuk mengusir orang-orang Banyubiru.”

Baginda diam sesaat. Dipandangnya nyala api yang melonjak-lonjak di sela-sela pepohonan. Nyala api dari perapian orang-orang Banyubiru. Namun perlahan-lahan Baginda menggelengkan kepalanya. “Jangan Paningron. Orang itu tidak akan dapat menembus kepungan orang-orang Banyubiru.”

“Hamba sendiri sanggup melakukan Baginda. Hamba dapat melampauinya dengan kuda yang berpacu kencang-kencang.”

“Akan sama saja bahayanya, Paningron.”

Paningron tidak lagi berkata-kata. Diikutinya saja kemudian Baginda berjalan berkeliling. Tiba-tiba di sudut lapangan rumput itu Baginda berhenti. Digesernya pusakanya dan dengan serta merta dirabanya hulu pusaka itu.

Paningron pun segera melihat, sebuah bayangan yang berdiri tegak dihadapan mereka.

“Siapa?” bertanya Paningron perlahan-lahan.

“Apakah aku berhadapan dengan Baginda?” desis bayangan itu.

“Oh” sahut Baginda.

“Eyang ternyata benar-benar datang.”

“Tentu cucunda Baginda” sahut bayangan itu.

“Hamba sudah berjanji.”

“Nah. Bagaimana dengan orang-orang itu, eyang?”

“Sudah hamba katakan Baginda, itulah yang dapat hamba sampaikan kepada Baginda malam ini. Seperti yang pernah hamba sampaikan sebelumnya.”

“Hem. Apakah nilai nama Sultan Trenggana dapat dipakai untuk kepentingan seorang Karebet.”

“Jangan Baginda menilai Karebet kini. Tetapi Karebet pada masa datang akan mempunyai nilai tersendiri dalam hati Baginda. Dan bukankah Baginda juga seorang ayah yang baik.”

“Persetan dengan anak itu.”

“Tetapi puteri Baginda akan dapat menderita seumur hidupnya. Dan bahkan mungkin mengancam jiwanya.”

Baginda itu pun kemudian termenung sesaat. Ternyata Baginda tidak dapat mengingkari kenyataan bahwa puteri Baginda telah mencoba untuk membunuh dirinya. Untunglah maksud itu dapat di urungkan. Entah karena malu, entah karena Karebet yang hilang. Namun untuk seterusnya tak dapat memandang hari-hari yang dilampauinya dengan gairah. Apalagi sebenarnya Sultan sendiri tidak terlalu membeci Karebet. Justru Baginda sendiri pernah melihat kelebihan-kelebihan yang ada pada anak itu.

“Bagaimana Baginda?” bertanya bayangan itu.

“Hem. Eyang telah membingungkan aku. Kalau aku membiarkan pemberontakan ini, maka peristiwa yang serupa akan dapat terjadi dihari-hari yang akan datang.”

“Mereka sama sekali tidak memberontak terhadap Baginda. Mereka datang untuk mencari Karebet.”

Sekali lagi Baginda termenung.

Dan didengarnya bayangan itu berkata, “Selain dari itu Baginda, bukankah hamba telah menolong Baginda mencarikan jalan untuk mencari kemungkinan memanggil kembali anak itu, dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.”

“Aku merendahkan harga diriku. Trenggana adalah Sultan yang disegani lawan dan kawan. Apakah aku tidak dapat memusnahkan mereka?”

“Tentu Baginda. Sebab mereka tidak akan berani melawan Baginda seandainya Baginda sendiri keluar di medan pertempuran. Apalagi salah seorang pengawal Baginda di panji-panji Gula Kelapa. Maka Gajah Sora pasti akan mati ketakutan melihat panji-panji itu.”

“Jadi bagaimana?” bertanya Baginda.

“Hamba adalah orang tua, Baginda. Orang tua yang telah tidak mempunyai pamrih apa-apa lagi. Berpuluh-puluh tahun hamba menghilang. Sekarang hamba ingin melihat Demak menjadi bertambah baik menilik persoalan-persoalan yang terpendam di dalamnya.”

“Jangan sebut lagi, keturunan Kakangmas Sekar Seda Lepen.”

“Tidak. Aku tidak akan menyebutnya, tetapi hal itu tidak akan dapat menghapus kenyataan itu.”

“Ya. Eyang benar. Anak itu ada disini pula sekarang.”

“Penangsang?”

“Ya”

 


862

Sesaat mereka terdiam.

Paningron menjadi bingung mendengar pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berani bertanya.

Yang didengarnya kemudian adalah suara Sultan. “Lalu bagaimana eyang?”

“Tergantung pada Baginda.”

“Baiklah, besok pagi-pagi pasukanku akan bersiap menyongsong mereka menurut rencana yang telah eyang buat. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik.”

Bayangan itu pun kemudian mengangguk-angguk dalam-dalam. Perlahan-lahan terdengar ia berkata. “Baginda ternyata telah berbuat sesuatu yang mengagumkan hamba. Orang tua yang sama sekali sudah tidak berarti lagi. Besok hamba tidak akan lagi bersembunyi. Namun hamba akan mengabdikan diri dibawah duh Baginda.”

“Ah. Eyang terlalu merendahkan diri.”

“Sekarang Cucunda Baginda, biarlah aku pergi.”

“Jangan eyang. Eyang harus berada disini. Kalau ada sesuatu kesalahan, maka eyang akan dapat membantunya”.

“Atau untuk menjadi tanggungan?”

“Tidak.”

“Baiklah. Aku ikut Baginda.”

Bayangan itu pun kemudian berjalan mengikuti Baginda disamping Paningron. Namun mereka yang berjaga-jaga dimuka barak, sama sekali tidak memperhatikan siapakah yang lewat dihadapan mereka. Ketika mereka melihat Paningron, meka yang lain sama sekali tidak penting bagi mereka sebab mereka tahu, bahwa Paningron adalah seorang perwira dari jabatan rahasia di Demak.

Bulan yang bulat mengapung di langit dengan sangat lambatnya. Namun pasukan-pasukan pengawal Baginda tiba-tiba menjadi ribut. Mereka segera berlari-lari kedalam barak masing-masing untuk mengambil senjata mereka. Paningron telah menjatuhkan perintah, supaya mereka bersedia menghadapi setiap kemungkinan.

“Kekuatan mereka jauh lebih besar dari kekuatan kita,” berkata Paningron kepada para pemimpin Demak.

Tetapi seorang perwira Wira Tamtama menanggapinya dengan sebuah senyum. Katanya di dalam hati, “Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang pedesaan?”

Orang itu sama sekali tidak mau memikirkannya lagi.

“Besok mereka akan aku musnahkan,” katanya. Orang itu adalah Tumenggung Prabasemi. Seorang perwira Wira Tamtama yang terlalu menyadari kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya. Malam itu semua prajurit siap ditempatnya. Beberapa penjaga selalu mondar-mandir mengawasi keadaan. Sedang yang lain beristirahat untuk menanti, apakah tugas yang akan mereka lakukan besok pagi.

Namun senjata-senjata mereka telah melekat di tangan. Ketika matahari mulai membayang di pagi dini hari, maka mulai membayang pulalah ketegangan di wajah para prajurit Demak dan setiap orang dalam laskar Banyubiru.

Arya Salaka dengan pisau belati yang kuning berkilat-kilat dipinggangnya, segera memimpin laskarnya maju mendekati perkemahan Baginda. Beberapa orang yang mendampinginya menjadi berdebar-debar pula. Lebih-lebih Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Gajah Sora sendiri. Sedang di antara mereka tidak terdapat Ki Ageng Sora Dipayana.

Orang tua itu lebih baik tinggal di Banyubiru. Berdoa di dalam hati bersama-sama Wanamerta, semoga semuanya dihindarkan dari bencana.

Semakin dekat mereka dengan perkemahan Baginda, maka semakin berdebar-debar pula hati setiap laskar di dalam pasukan Arya Salaka. Meskipun mereka telah mengalami pertempuran yang dahsyat melawan orang-orang dari golongan hitam, namun hati mereka masih juga terpengaruh melihat pasukan Demak yang telah bersiaga pula disekeliling perkemahan.

Mereka melihat betapa pasukan Demak telah menanti kedatangan mereka. Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak dibandingkan dengan laskar Banyubiru dan Pamingit, tetapi karena mereka mempergunakan tanda-tanda kebesaran, maka tampaklah betapa tangguhnya pasukan yang kecil itu.

Di luar sekali tampaklah sepasukan Wira Tamtama di bawah panji-panji Tunggul Dahana. Mereka berdiri berjajar dengan tenangnya. Di tangan masing-masing tergenggam sebilah pedang, dan di tangan yang lain sebilah perisai.

Dengan dada tengadah mereka memandangi laskar Banyubiru yang semakin lama menjadi semakin dekat.

 


863

DI dalam lingkungan Wira Tamtama tampaklah sebuah panji-panji lain. Tunggul Mega. Panji-panji dari pasukan Manggala Sraja. Pasukan ini tidak begitu banyak jumlahnya, namun ketegangan wajah mereka menunjukkan ketegangan hati mereka pula.

Dengan penuh perhatian mereka menyaksikan laskar Banyubiru yang sedang mendekati mereka. Yang paling dalam meskipun jumlahnya terlalu sedikit, namun pasukan inilah yang menggoncangkan hati Mahesa Jenar.

Perasaannya menjadi sedemikian gelisahnya sehingga hampir-hampir ia tidak dapat melangkah maju lagi. Perasaan yang demikian pernah dialami pada saat laskar Banyubiru berhadap-hadapan dengan laskar Demak lima enam tahun yang lampau di Banyubiru.

“Kenapa peristiwa-peristiwa semacam ini masih harus terulang?” desah di dalam hati.

Di lingkaran yang paling dalam dilihatnya sepasukan kecil Nara Manggala. Wira Jala Pati dalam satu lapis dengan pasukan Manggala Pati. Di atas mereka itu terpancang panji-panji Garuda Rekta, Sura Pati dan yang paling mendebarkan adalah Panji lambang keperkasaan Demak, Gula Kelapa. Mahesa Jenar mengelus dadanya.

Ketika ia berpaling, dilihatnya Kebo Kanigara menundukkan wajahnya, sedang Ki Ageng Gajah Sora menggigit bibirnya.

“Hem,” Mahesa Jenar berdesah di dalam hati, “Mudah-mudahan semuanya berlangsung baik.”

Namun bagaimana pun juga, laskar Pajang dalam gelar Gedong Minep itu benar-benar telah mendebarkan jantungnya. Ia tahu benar, bahwa meskipun laskar Demak itu tidak begitu banyak, apalagi mereka tidak sengaja pergi berperang, sehingga kelengkapan mereka pun bukan kelengkapan perang secara sempurna, namun pasukan Demak adalah pasukan yang telah masak.

Tetapi laskar Banyubiru itu maju terus.

Arya Salaka yang sedang bermata gelap itu hampir-hampir tidak melihat apa saja yang terpancang dihadapannya. Dengan gigi gemeretak ia memandangi lapangan di muka barak itu. Katanya di dalam hati, “Manakah anak muda yang bernama Karebet itu?”

Dengan tidak memperdulikan apa saja Arya berjalan terus sehingga mereka menjadi semakin dekat dengan perkemahan Baginda Sultan Trenggana.

Arya Salaka memegang pimpinan, tiba-tiba melihat seorang yang berkuda datang ke arahnya. Seorang dari pasukan Nara Manggala. Orang itu mengacungkan tangannya tinggi-tinggi, kemudian datang lebih mendekat lagi.

“Terimalah Arya,” bisik Mahesa Jenar.

Arya Salaka segera maju beberapa langkah ke depan. Diterimanya sehelai rontal yang diberikan oleh orang berkuda itu. Arya Salaka menggeretakkan giginya. Kemudian katanya kepada ayahnya. “Ayah, Baginda sudah tahu maksud kedatangan kita. Baginda tahu bahwa kita mencari kakang Karebet disini. Dan Baginda tidak akan menyerahkan Karebet itu kepada kita.”

Ayahnya mengerutkan keningnya. Dipalingkannya wajahnya, menatap Mahesa Jenar yang menundukkan kepalanya.

“Bagaimana adi? “ bertanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar kemudian melambaikan tangannya kepada Arya Salaka untuk melihat rontal ditangannya. Kemudian wajah yang bersungguh-sungguh ia berkata, “Terimalah Arya. Sebaiknya kau menerima tawaran itu. Dengan demikian kau akan mengurangi korban yang bakal jatuh dalam perang brubuh.”

Kebo Kanigara yang mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu berpaling. Kemudian kembali ia memandang kekejauhan. Sekali-kali tampak bibirnya bergerak-gerak, tetapi tak sepatah kata pun yang meloncat dari mulutnya.

Sesaat Arya Salaka menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian Mahesa Jenar itu pun berkata, “Hasrat yang paling besar untuk menemukan Endang Widuri justru datang daripadamu Arya. Bukan dari pamanmu Kebo Kanigara. Karena itu, wajarlah apabila kau yang akan tampil kedepan melawan seseorang yang akan dikirim oleh Baginda di lapangan itu. Demikianlah sikap seorang jantan.”

Arya mengangkat wajahnya.

Dilihatnya Kebo Kanigara terkejut mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu sehingga dahinya berkerut-kerut.

Namun sekali lagi Kebo Kanigara itu tidak berkata apapun juga.

 


864

Namun kata-kata Mahesa Jenar itu benar-benar telah membakar dada Arya Salaka. Karena itu, maka kemudian ia melangkah kembali dan menghadap kepada orang yang berkuda itu dengan dada tengadah. “Aku terima tawaran itu. Aku, Arya Salakalah yang akan datang ke gelandang.”

Suasana ditengah-tengah lapangan rumput itu benar-benar menjadi tegang.

Ketika matahari telah sepenggalah, terdengarlah sebuah tengara, sangkalala yang mendengung di udara. Setiap orang yang mendengar sangkalala itu menjadi berdebar-debar. Hampir semua orang di kedua belah pihak telah mengetahui, bahwa untuk menyelesaikan persoalan antara pimpinan Banyubiru dan Baginda, telah disepakati untuk mengadakan perang tanding. Meskipun hampir semua orang dari pasukan Demak tidak tahu, apakah sebenarnya tuntutan Arya Salaka itu.

Arya Salaka segera membenahi pakaiannya. Ia kini membawa tombak Kiai Bancak, tetapi ia lebih senang membawa Kiai Suluh, pusaka yang diterimanya secara tidak langsung dari Pasingsingan.

Ketika Arya Salaka melihat seseorang berjalan maju ke lapangan rumput itu dari perkemahan laskar Demak, maka Arya Salaka pun bersiap pula. Sekali ia berputar menghadap ayah dan gurunya sambil berbisik. “Ayah dan paman-paman. Restuilah aku, semoga aku akan berhasil.”

“Hati-hatilah Arya,” hampir bersamaan orang-orang yang mendampinginya menyahut. Ayahnya, Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, Lembu Sora dan Bantaran. Sedang Rara Wilis pun tidak kalah tegangnya melihat apa yang bakal terjadi.

Dengan langkah tetap Arya Salaka berjalan pula ke tengah lapangan itu. Ditatapnya wajah yang datang dari perkemahan Baginda. Seorang yang bertubuh tegap kekar, berkumis melintang, berjalan sambil tersenyum-senyum. Ketika terlihat olehnya seorang anak muda datang menghampirinya, orang itu mengerutkan keningnya. Anak inikah yang bernama Arya Salaka.

Prajurit yang mengenakan pakaian seorang pemburu itu menjadi kecewa. “Hanya seorang anak-anak,” desisnya. Tetapi ketika ia melihat ketenangan dan pancaran wajah anak itu, maka hatinya berdebar-debar juga. Ketika mereka kemudian bertemu di tengah-tengah lapangan itu, maka mereka pun segera berhenti.

Beberapa orang prajurit Demak segera mendekati mereka, dan dengan sebuah lambaian mereka memanggil wakil-wakil dari Banyubiru untuk menjadi saksi.

Gajah Sora menjadi ragu-ragu sejenak. Karena itu maka segera ia bertanya kepada Mahesa Jenar. “Siapakah yang akan datang ke arena?”

Beberapa orang menjadi saling berpandangan. Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Tetapi mereka untuk sesaat saling berdiam diri.

“Apakah adi Mahesa Jenar?” bertanya Gajah Sora.

Mahesa Jenar menggelengkan kepalanya. “Jangan kakang. Jangan aku. Mungkin Kakang Kebo Kanigara lebih baik. Kakang Kanigara mempunyai kepentingan langsung dalam peristiwa ini.”

“Hem” Kebo Kanigara bergumam sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya. “Jangan aku. Orang-orang Demak telah menyangka aku tak akan mereka jumpai lagi.”

“Lalu siapa?” desah Mahesa Jenar.

“Kakang Gajah Sora sendiri barangkali?”

Gajah Sora itu pun menggelengkan kepalanya.

“Tidak” katanya. “Aku tidak sanggup.”

Kembali mereka berdiam diri sambil berpandangan. Tiba-tiba mata Mahesa Jenar menyambar wajah Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas yang berdiam seperti tonggak.

Sekali ia menarik nafas panjang dan kemudian katanya. “Apakah kau dapat mewakili kami Wilis? Hanya menyaksikan perkelahian itu, supaya tidak terjadi kecurangan. Barangkali paman Pandan Alas akan sudi mendengarkanmu.”

 


865

Ki Ageng Pandan Alas mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Kami bukan orang Banyubiru.”

“Itu tidak penting. Yang diperlukan adalah mereka yang dapat menilai perkelahian itu supaya berlangsung dengan jujur”.

“Baiklah,” jawab Ki Ageng Pandan Alas. “Tetapi biarlah salah seorang dari Banyubiru pergi bersama kami. Mungkin angger Bantaran atau yang lain?”

“Aku bersedia pergi, ” tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sora menyela.

“Bagus” sahut Ki Ageng Pandan Alas. “Marilah kita pergi dengan Bantaran.”

Mereka berempat pun kemudian berjalan pula ke tengah-tengah lapangan. Seorang tua yang bernama Pandan Alas, seorang yang gagah, tinggi besar, Ki Ageng Lembu Sora, seorang pemimpin laskar Banyubiru yang berani, Bantaran dan seorang gadis ramping dengan pedang tipis di lambungnya, Rara Wilis.

Keempat orang itu benar-benar menarik perhatian segenap prajurit Demak. Langkah mereka yang tetap dan tenang, benar-benar mengagumkan. Prajurit Demak yang berpakaian pemburu, dan yang sudah berdiri berhadapan dengan Arya Salaka mengerutkan keningnya. Ternyata Banyubiru memiliki laskar yang dapat dibanggakan seperti Lembu Sora. Tetapi karena yang maju ke dalam arena itu seorang anak muda saja. Kenapa bukan orang yang tinggi, besar dan berkumis tebal setebal kumisnya sendiri. Tetapi ini adalah urusan Banyubiru sendiri.

Ketika keempat orang Banyubiru itu telah berdiri melingkari dua orang yang akan bertempur itu bersama enam orang prajurit Demak, maka perang tanding itu segera akan dimulai. Seorang prajurit Demak yang tidak lain adalah Paningron, maju selangkah. Dengan penuh hormat ia mengangguk kepada Ki Ageng Pandan Alas, yang dianggapnya wakil tertua dari Banyubiru, sambil berkata. “Ki Ageng perang tanding akan segera dimulai.”

Pandan Alas tersenyum. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya. Prajurit itu pernah dilihatnya di Pamingit dan Paningron pun ternyata tidak lupa pula kepadanya.

“Silakan,” jawab Ki Ageng Pandan Alas.

“Atas nama Baginda. Yang akan mewakili prajurit Demak adalah adi Tumenggung Prabasemi. Salah seorang perwira Wira Tamtama. Sedang yang mewakili Banyubiru adalah Arya Salaka. Begitu?”

“Ya” sahut Pandan Alas.

Tiba-tiba Arya yang sedang marah itu memotong. “Kenapa bukan Karebet sendiri maju ke gelanggang?” Paningron menarik alisnya. Jawabnya. “Perintah Baginda telah jatuh. Tumenggung Prabasemi yang akan mewakilinya.”

Prabasemi mengerutkan keningnya. Kenapa anak muda itu menyebut-nyebut nama Karebet. Apakah Karebet telah berbuat sesuatu yang menjadikan rakyat Banyubiru marah, dan sekarang ia harus mewakilinya?

“Persetan,” berkata Prabasemi di dalam hatinya. “Aku harus menunjukkan kepada Baginda, bahwa bukan hanya Karebet yang mampu menyelesaikan persoalan.”

Paningron kemudian melanjutkan kata-katanya. “Ki Ageng Pandan Alas, apabila tidak berkeberatan, baiklah kita taati peraturan yang telah ditulis Baginda di dalam rontal yang sudah disampaikan kepada Arya Salaka. Perang tanding akan berhenti setelah salah seorang tak berdaya. Jangan terjadi pembunuhan, supaya Baginda memaafkan segala yang telah terjadi.

Lawan yang kalah dapat disusul dengan orang yang lain berturut-turut, tutuh tinutuh, sehingga orang terakhir yang mungkin dapat diajukan ke arena menurut pertimbangan-pertimbangan masing-masing.”

Ki Ageng Pandan Alas menganggukkan kepalanya. Orang tua itu benar-benar melihat, seakan-akan sesuatu sedang direncanakan. Meskipun ia tidak tahu benar, namun orang tua itu sama sekali tidak menjadi gelisah melihat perkembangan keadaan.

“Baiklah” berkata Paningron.

“Perang tanding akan segera dimulai.”

Paningron itu pun kemudian melangkah surut. Kemudian diberinya kesempatan kedua orang yang telah berhadapan itu mulai dengan tugas mereka mewakili laskar masing-masing dalam perang tanding itu.

Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar karenanya. Dari kejauhan ia segera mengenal Paningron yang pasti sudah mengenal pula kelebihan Arya Salaka. Sedang perwira Wira Tamtama yang akan mewakili Demak itu belum begitu dikenalnya. Namun pernah ia dahulu melihatnya.

Baru setelah beberapa saat Mahesa Jenar mengingat-ingat tahulah ia bahwa orang itu adalah Prabasemi yang dahulu masih menjadi lurah Wira Tamtama. Arya Salaka yang didorong oleh ketegangan, kemarahan dan tuntutan keadilannya yang bergolak di dalam dadanya, tidak berkata apa pun lagi. Segera ia bersiap untuk segera mulai dengan perang tanding itu.

Prabasemi dengan tenangnya menghadapi anak muda yang gelisah itu. Sekali-kali Prabasemi itu masih tersenyum. Anak dari Banyubiru itu benar-benar menjengkelkan. Kenapa anak itu tidak menjadi cemas atau bahkan ketakutan melihat dirinya.

“Hem” desahnya.

“Anak ini adalah anak yang sombong.”

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


866

Sedang Arya Salaka dengan penuh kewaspadaan menghadapi lawannya bertubuh kokoh kuat itu. Ia menyadari, seandainya orang itu bukan seorang yang pilih tanding, pasti ia tidak akan diangkat menjadi seorang perwira dan harus mewakili Demak dalam arena itu. Mungkin orang ini setingkat dengan gurunya pada waktu gurunya masih menjadi prajurit. Mungkin kurang dan mungkin lebih. Karena itu Arya Salaka sama sekali tidak berani melengahkan waktu.

Beberapa saat kemudian, Prabasemi itu pun mulai bergerak. Perlahan-lahan, masih dengan tersenyum-senyum.

Arya menjadi semakin marah melihat sikapnya. Sikap seorang yang sedang bermain-main dengan anak-anak yang masih sering menangis. Ketika tangan Prabasemi bergerak menyambar wajahnya, Arya bergeser surut. Kembali dadanya berguncang ketika ia melihat Prabasemi tertawa. Sikapnya seperti sikap seekor harimau menghadapi seekor anjing sakit-sakitan.

Arya Salaka kemudian tidak dapat menahan diri lagi. Ia mendengar peraturan yang harus ditaati sebagai seorang laki-laki. Kalau ia menang, maka ia masih akan menghadapi orang-orang lain yang akan ditunjuk oleh Baginda. Namun kalau ia kalah, apakah ada orang lain yang menggantikannya. Gurunya, ayahnya atau Kebo Kanigara?

Arya Salaka itu telah menjadi kecewa ketika ia tidak melihat ayahnya, atau gurunya berada disampingnya. Karena itu, maka ia merasa agaknya gurunya serta ayahnya ingin menyerahkan setiap persoalan kepadanya sendiri.

“Aku akan berjuang sekuat tenagaku,” katanya didalam hati. Karena itu, ketika ia masih melihat Prabasemi tersenyum-senyum saja tiba-tiba ia meloncat dengan cepatnya menyentuh dada lawannya. Meskipun dengan demikian ia hanya ingin memperingatkan lawannya untuk segera mulai dengan sungguh-sungguh, namun akibatnya benar-benar mengherankan.

Prabasemi terkejut bukan buatan melihat kecepatan gerak itu, sehingga ia benar-benar tidak sempat menghindarinya. Karena itu, maka ia ingin mundur selangkah untuk mengurangi tekanan tangan Arya Salaka.

Tetapi tangan Arya telah mempercepat gerak surutnya, sehingga tampaknya Prabasemi benar-benar terdorong beberapa langkah. Wajah Wira Tamtama itu menjadi merah membara. Sekali ditatapnya wajah-wajah yang berada di sekeliling arena itu. Ketika terpandang olehnya wajah Ki Ageng Pandan Alas, ia mengumpat di dalam hati. Orang tua itu tersenyum kepadanya.

“Setan,” desisnya.

Apalagi ketika matanya bertemu pandang dengan Rara Wilis yang menyandang pedang dilambungnya. Maka dada Prabasemi itu pun serasa menyala membakar segenap urat syarafnya. Kini ia sudah tidak tersenyum-senyum lagi. Bahkan dengan penuh dendam ia memandang Arya Salaka yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Ia harus mengembalikan namanya yang tiba-tiba saja telah diguncangkan oleh seorang anak-anak. Karena itu anak itu harus segera lumpuh. Semakin cepat ia melumpuhkan Arya Salaka, maka akan semakin menanjak pula namanya sebagai seorang Wira Tamtama. Karena itu, maka dengan garangnya segera ia menyerang. Kedua tangannya bergerak bagaikan sepasang petir yang menyambar bersama-sama.

Namun Arya Salaka benar-benar telah bersiap. Dengan cepatnya ia bergeser ke samping menghindari sambaran tangan kanan Prabasemi. Namun dengan kecepatan yang luar biasa tangan kiri Prabasemi pun telah menjangkau pelipisnya. Kali ini Arya tidak sempat menghindarkan diri, hingga karena itu maka ia harus melawan serangan itu.

Dengan sekuat tenagannya, karena ia tidak dapat mengira-irakan kekuatan lawannya, maka tangan Prabasemi itu pun ditamparnya dengan tangan kanannya. Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Prabasemi yang marah itu pun ternyata telah mengerahkan sebagian besar tenaganya.

Namun karena tenaganya dipusatkan kepada kedua belah tangannya, maka benturan itu benar-benar menggoncangkan jantungnya.

Tangan Arya Salaka benar seperti sepotong besi gligen yang menghantam tangannya. Perasaan nyeri menyengat pergelangan tangan itu, yang kemudian seakan-akan merembet kesegenap tubuhnya. Prabasemi menyeringai.

Meskipun mereka bersama-sama terdorong beberapa langkah surut, namun alangkah marahnya ketika ia melihat wajah Arya Salaka yang tegang itu sama sekali tidak menunjukkan perasaan sakit dan nyeri seperti yang dirasakannya. Wajah Prabasemi yang marah itu benar-benar menjadi membara karenanya. Sekali lagi ia memandang berkeliling. Dan sekali lagi hatinya terguncang ketika ia melihat wajah Rara Wilis.

Kali ini ia melihat wajah gadis itu sedemikian asyiknya melihat pertempuran itu. Sehingga dengan demikian, maka terasa bahwa gadis itu pasti dapat menilai pula apa yang telah terjadi. Apalagi ketika ia melihat wajah Paningron. Wajah itu sedemikian kecewanya memandanginya.

“Gila,” desahnya.

“Anak itu harus segera kulumpuhkan. Kalau ia mati karenanya, sama sekali bukan salahku, sebab di dalam perkelahian hal-hal semacam itu mungkin saja terjadi.”

 


No. 867

Betapa Prabasemi ingin namanya menjadi semakin cemerlang dihadapan Baginda. Meskipun Baginda tidak nampak di luar baraknya, namun ia yakin bahwa Baginda pasti akan mengetahui apakah yang akan terjadi.

Kini ia benar-benar ingin melumpuhkan lawannya. Secepat-cepatnya. Karena itu, maka Prabasemi itu pun kemudian melontar surut beberapa langkah. Dijulurkannya kedua tangannya ke depan, kemudian dengan gerak yang menyentak ditariknya kedua sikunya ke belakang serta ditekuknya. Kedua tangannya menelentang ke belakang mengepal di lambungnya. Sedang tubuhnya direndahkannya, siap melontar dalam ilmunya Aji Sapu Angin.

Arya Salaka melihat gerakan-gerakan itu. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman yang cukup, meskipun dalam umurnya yang muda, maka segera ia mengetahuinya bahwa ia berhadapan dengan Aji rangkapan dari lawannya itu. Sesaat ia menjadi ragu-ragu. Ketika ia memandang wajah Ki Ageng Pandan Alas, dilihatnya orang tua itu mengangguk. Maka dengan tidak berpikir panjang, Arya Salaka itu pun segera mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi seolah-olah hendak menggapai langit, tangannya yang lain bersilang didada, sedang satu kakinya diangkatnya serta ditekuknya ke depan.

Arya Salaka pun telah siap dengan Ajinya Sasra Birawa.

Arena itu benar-benar menjadi tegang. Paningron terkejut melihat sikap itu. Segera ia meloncat ke depan untuk melerai mereka, namun ia terlambat. Prabasemi telah meloncat maju. Ayunan tangannya dengan derasnya mengarah kekepala Arya Salaka. Namun ketika ia melihat sikap Arya pun, hatinya berdesir. Apakah yang dilakukan oleh anak muda itu? Prabasemi pun menyadari. Arya Salaka telah berusaha melindungi dirinya dengan kekuatan tertinggi yang dimilikinya. Sesaat kemudian terjadilah sebuah benturan yang dahsyat.

Lamat-lamat terdengar Mahesa Jenar berdesah.

“Arya,” namun suara itu tidak didengarnya. Benturan kedua Aji itu benar-benar mengejutkannya.

Arya berguling di tanah. Terdengar sebuah keluhan pendek, namun kemudian dengan sepenuh tenaga, Arya mencoba untuk tetap menguasai kesadarannya. Betapa tubuhnya serasa kejang- kejang, namun ia masih dapat berusaha untuk bangkit kembali. Dan dengan terhuyung-huyung ia berdiri di atas kedua kakinya. Meskipun kepalanya menjadi pening, namun ia masih dapat melihat keadaan sekelilingnya dengan terang. Dan dilihatnya dihadapannya, Tumenggung Prabasemi terbanting pula di tanah. Sekali ia menggeliat, tetapi kemudian betapa ia berusaha dengan susah payah.

Namun Prabasemi tidak berhasil mengangkat tubuhnya. Sekali ia mengangkat kepalanya pada kedua tangannya yang bertelekan tanah, namun kemudian ia terjatuh kembali. Bibirnya yang tebal itu bergerak mengumpat-umpat. Tetapi Prabasemi tidak berhasil untuk melumpuhkan lawannya, bahkan dirinya sendirilah yang menjadi lumpuh karenanya. Betapa hatinya terbakar oleh luapan kemarahannya. Tetapi apakah yang dapat dilakukannya? Beberapa orang kemudian mendekatinya untuk membawanya menepi.

Tetapi Tumenggung itu berteriak-teriak. “Pergi. Pergi. Tak seorang pun dapat mengalahkan Prabasemi. Biar aku remukkan kepalanya. Pergi.”

Namun sekali lagi Paningron memberi isyarat kepada mereka, dan Tumenggung Prabasemi itu pun diangkat menepi, meskipun ia mengumpat-umpat sejadi-jadinya.

Peristiwa itu telah benar-benar menggemparkan para prajurit Demak. Mau tidak mau mereka telah memuji di dalam hati. Ternyata anak Banyubiru itu telah mampu mengalahkan Prabasemi. Arya Salaka masih berdiri tegak di atas kedua kakinya yang terasa menjadi lemah. Terasa urat-uratnya seperti membeku. Namun ketika angin rimba mengusapnya, terasa tubuhnya menjadi semakin segar pula.

Paningron yang mengatarkan Prabasemi masuk ke dalam baraknya segera kembali ke arena. dengan sareh ia bertanya kepada Ki Ageng Pandan Alas. “Ki Ageng, lawan yang pertama telah dirobohkan. Apakah Banyubiru akan menerima orang kedua seperti yang dijanjikan.”

Ki Ageng Pandan Alas memandang Arya Salaka. Dilihatnya anak itu masih terlalu letih. Tetapi terdengar Arya yang sedang marah itu menjawab lantang. “Aku masih tetap berdiri disini sebelum Karebet diserahkan kepada kami dengan segala akibatnya.”

 


868

PARA prajurit Demak sesaat menjadi ragu-ragu. Mereka tidak tahu kenapa Baginda memilih cara ini untuk menyelesaikan persengketaan itu. Di dalam rombongan berburu ini, tidak banyak orang yang dapat diketengahkan untuk melakukan perang tanding seorang melawan seorang. Perwira yang dapat dibanggakan adalah Tumenggung Prabasemi. Namun Tumenggung telah dikalahkan.

Apabila serta maka Gajah Alit, atau Panji Danapati, Arya Palindih, atau beberapa orang lain pasti akan dapat menyelesaikan pertempuran itu. Namun mereka tidak beserta Baginda. Yang ada disini hanyalah selain Tumenggung Prabasemi adalah Paningron sendiri. Mungkin Paningron akan tampil untuk yang terakhir kalinya, apabila tidak ada orang lain yang dapat memenangkan segala perkelahian. Atau mungkin Baginda sendiri?

Para prajurit Demak menjadi berdebar-debar. Kenapa tidak dibiarkan saja laskar Banyubiru menyerbu? Dengan pengalaman dan kematangan prajurit Demak dalam olah perang dan gelar-gelar perang, maka mereka akan dapat menjebak laskar lawannya, mesikipun jumlahnya tidak seimbang.

Tetapi perang tanding itu telah dimulai. Karena itu maka pasti akan diteruskannya. Dalam keadaan yang demikian, maka setiap prajurit Demak menjadi tegang. Mereka menunggu siapakah kemudian yang akan masuk ke arena. Dirinya? Adalah mungkin sekali setiap orang akan ditunjuk oleh Baginda. Karena itu, maka mereka menunggu perkembangan keadaan dengan penuh ketegangan.

Paningron menarik nafasnya. Sekali ia melambaikan tangannya, dan kembali terdengar sangkalala bergema. Dari dalam barak keluarlah beberapa orang yang mengantarkan orang kedua yang akan mewakili Demak. Tiba-tiba semua mata terpancang kepada orang itu. Orang yang telah hilang dari Demak beberapa saat lampau.

Diantara desah pembicaraan orang-orang itu, terdengar Paningron berkata lantang. “Kali ini Karebet akan masuk ke arena. Dengan perjanjian, apabila ia menang dalam perang tanding ini, maka ia akan mendapat pengampunan dari Baginda atas semua kesalahan yang telah dibuatnya, membunuh seorang calon Wira Tamtama yang bernama Dadungawuk. Namun Karebet tidak berhasil, maka nasibnya akan diserahkan kepada orang-orang Banyubiru. Sebab ialah yang telah membawa persoalan itu kemari.”

Disekitar lapangan itu benar-benar menjadi gempar. Baik para prajurit Demak, maupun laskar Banyubiru. Mereka kini melihat Karebet, ia berjalan ke arena, mendekati Arya Salaka yang masih tegak di atas kedua kakinya. Bagaimana mungkin Karebet itu tiba-tiba berada disitu. Sedangkan ia masih harus menjalani hukumannya.

Arya yang melihat kehadiran Karebet itu tiba-tiba menjadi gemetar. Kemarahannya benar-benar telah menggoncangkan dadanya, bahkan seakan-akan dada itu akan meledak. Karena itulah, maka seakan-akan tubuhnya yang masih lemah itu menemukan kekuatannya kembali. Kekuatan yang berlipat. Kekuatan yang selama ini pernah dimilikinya.

Dengan gigi gemeretak ia bergumam kepada dirinya sendiri. “Karebet. Karebet. Seakan-akan diseluruh wajah bumi, kau adalah jantan sendiri.”

Karebet itu pun berjalan dengan tenangnya mendekati Arya Salaka. Wajahnya masih saja mengulum senyum dan bahkan dengan kata-kata yang akrab ia menyapa. “Selamat bertemu kembali adi Arya Salaka.”

Arya Salaka bergumam.

Jawabnya. “Tidak ada waktu untuk mengucapkan selamat. Bersiaplah. Kita tentukan siapakah yang akan berhasil dalam perkelahian ini. Ternyata kau telah sengaja mengorbankan saudara sepupumu hanya untuk mendapatkan pengampunan atas kesalahanmu itu.”

Karebet mengerutkan keningnya.

Dilayangkannya pandangan matanya ke seberang tanah lapang. Meskipun tidak jelas namun ia pasti bahwa disana ada pamannya Kebo Kanigara. Tetapi dadanya berdesir kalau diingatnya bahwa Mahesa Jenar berada disana. Apalagi Ki Ageng Pandan Alas, Rara Wilis dan beberapa orang lain, ada juga di sekitarnya.

Dalam pada itu kembali terdengar Arya Salaka berkata. “Nah, Karebet yang perkasa, yang ditakuti karena memiliki Aji Lembu Sekilan. Apakah kau membanggakan kesaktianmu sehingga kau bertindak dengan sekehendak hatimu?”

Sekali lagi Karebet mengerutkan keningnya. Namun sebelum ia sempat menjawab, maka terdengar Arya berkata terus. “Kau telah memancing kekeruhan dan menantang aku untuk datang sesudah purnama naik di hutan Prawata. Nah, Karebet yang sakti. Ini Arya Salaka telah datang.”

Karebet menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tidak tersenyum lagi. Ditatapnya saja wajah Arya Salaka yang menyala itu. Sesaat tampak ia menjadi ragu-ragu. Namun setelah ia menelan ludahnya beberapa kali barulah ia berkata.

“Terpaksa aku lakukan adi.”

“Omong kosong” bantah Arya Salaka. “Ternyata kau sampai hati menjual adik sepupumu itu?”

Karebet menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab kata-kata Arya Salaka. Tampaklah Karebet itupun menjadi gelisah dan Arya Salaka berkata terus. “Sekarang aku datang memenuhi tantanganmu.”

Sesaat Karebet memandang berkeliling. Beberapa orang di sekitarnya memandangnya dengan penuh keheranan. Karena itulah maka Karebet itupun tiba-tiba berkata lantang. “Marilah adi. Kita mulai permainan yang tidak menyenangkan ini.”

Belum lagi Karebet mengucapkan mulutnya, Arya Salaka yang dadanya serasa menyala itu telah meloncatinya dengan sebuah serangan yang dahsyat. Karebet pun segera menghindarkan dirinya dengan lincahnya, dan dengan tangkasnya maka ia pun membuka serangan pula.

 


869

MAKA terjadilah kemungkinan sesuatu perkelahian yang sengit. Masing-masing mencoba untuk melawan dengan sebaik-baiknya. Mengerahkan segenap ilmunya dan mencoba untuk menjatuhkan lawannya. Namun keduanya adalah anak-anak muda yang perkasa.

Arya Salaka yang didorong oleh kemarahan yang meluap-luap seakan-akan benar-benar menemukan tenaga tambahan yang tak pernah diduganya. Sedang Karebet yang masih segar, benar-benar seorang pemuda yang lincah dan tangkas. Karena itulah maka perkelahian itu segera berkisar dari satu titik ke titik yang lain.

Perkelahian yang membingungkan dan mendebarkan hati. Pertempuran itu ternyata jauh berbeda sifatnya dari pertempuran yang pertama. Prabasemi yang selalu bernafsu menghancurkan lawannya, ternyata telah mendorong perkelahian itu cepat kepada akhirnya. Tetapi ini perkelahian itu benar-benar mirip dengan sepasang garuda yang berlaga di udara. Sambar menyambar, terkam menerkam.

Beberapa orang yang mengelilingi perkelahian itu pun terpaksa melangkah surut. Lingkaran pertempuran menjadi semakin lebar. Karebet bergerak dengan cepatnya, melontar-lontarkan dirinya dalam jarak yang panjang.

Arya Salaka ternyata lebih senang menunggu lawannya. Gerakannya dibatasi. Namun setiap gerakan yang dilakukannya, benar-benar melontarkan bahaya yang bernada maut. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Masing-masing adalah anak-anak muda yang perkasa, sehingga mereka berdua kemudian seakan-akan menjadi lebur dalam satu pusaran yang membingungkan.

Di dalam barak, di samping barak yang dipergunakan oleh Baginda, seorang yang bertubuh besar dan kokoh mengumpat-umpat di dalam hati. Nafasnya masih terasa menyekat di dalam rongga dadanya, namun dengan parau ia mengumpat. “Gila. Kenapa Karebet itu telah berada di tempat ini pula”.

Orang itu adalah Prabasemi. Ia tidak saja menjadi marah dan malu karena kekalahannya, tetapi hatinya menjadi terguncang ketika dilihatnya, tiba-tiba saja Karebet telah berada dilingkungan mereka tanpa mereka ketahui.

Di samping Prabasemi, berdiri seorang anak muda pula yang bertubuh kokoh kuat sebagai seekor harimau jantan di tengah rimba belantara. Sepasang matanya yang tajam memandang perkelahian itu dari jarak yang cukup jauh. Namun ketajaman matanya itu segera melihat, bahwa keduanya, yang bertempur itu, adalah anak-anak muda yang perkasa pula.

Namun keperkasaan kedua pemuda itu telah menimbulkan gairah pula di dalam hatinya. “Kenapa pamanda Baginda tidak menunjuk aku untuk maju ke arena,” desisnya. Prabasemi menoleh. Dilihatnya anak muda itu, Arya Penangsang.

“Hem,” desahnya. “Seharusnya tuanlah yang maju ke arena.”

“Pamanda Baginda tidak menunjuk aku,” jawabnya. Kemudian katanya pula. “Kenapa paman Prabasemi dapat dikalahkan?”

Prabasemi menundukkan wajahnya. Jawabnya, “Tangan anak itu benar-benar seberat batu hitam yang menggempur dadaku.”

Arya Penangsang tersenyum. Katanya, “Aku tahu benar. Anak muda itu mempergunakan Aji Sasra Birawa”.

“He?,” Prabasemi terkejut. Namun kembali ia menundukkan wajahnya. Di dalam hati ia berdoa semoga Karebet itu akan dilumpuhkan Aji Sasra Birawa pula.

“Tetapi aku tidak takut melawan Sasra Birawa,” gumam Arya Penangsang.

Prabasemi tidak menjawab. Tertatih-tatih ia berjalan masuk ke dalam baraknya sambil berpegangan dinding. “Persetan.”

Pertempuran di arena masih berlangsung terus. Namun perkelahian itu kini menjadi semakin kendor.

Tak seorang pun yang mengetahui apakah sebabnya. Mungkin karena telah kelelahan atau mungkin salah seorang daripadanya telah terluka. Namun sebenarnyalah dalam pertempuran itu terdengar Karebet berbisik. “Maafkan aku adi.”

Arya Salaka terkejut. “Kenapa? Tak ada jalan yang harus aku maafkan. Aku telah memenuhi tantanganmu. Marilah kita selesaikan perkelahian ini.”

“Adi,” berbisik Karebet itu pula. “Dengarkanlah ceriteraku. Aku berkata sebenarnya.”

Arya Salaka mula-mula sama sekali tak memperhatikannya. Namun kemudian ia mendengar Karebet itu berkata. “Kali ini tak ada orang lain yang dapat menolongku, selain adi Arya Salaka.”

Arya Salaka mengerutkan keningnya. Dan tanpa menunggu lagi, Karebet mulai dengan ceriteranya. Karena itulah maka perkelahian diantara mereka menjadi bertambah surut. (Bersambung)-m

 


870

KETIKA Karebet selesai dengan ceriteranya, maka terdengar Arya Salaka berkata. “Apakah kau berkata sebenarnya?”

“Ya. Aku berkata sebenarnya.”

“Kenapa kakang tidak berkata sebelumnya?”

“Aku memerlukan kau datang dalam kesiagaan yang benar-benar.”

“Hem,” Arya Salaka menggeram. Tampaklah keragu-raguan membayang diwajahnya. Dipertimbangkannya masak-masak kata-kata Karebet itu dan dikupasnya sejauh-jauhnya. Ketika ia melihat wajah Karebet yang bersungguh-sungguh itu, maka tiba-tiba ia tersenyum meskipun dicobanya untuk menyembunyikan dalam-dalam. “Gila. Kau benar-benar bermain api kakang. Apakah aku harus bersimpuh menyembahmu?”

“Jangan. Lepaskan Sasra Birawa itu.”

“He?,” Arya Salaka terkejut. “Apakah sebenarnya maksudmu?”

“Ya. Lepaskan Sasra Birawa. Aku tidak akan melawan. Tetapi aku akan bertahan dengan Lembu Sekilan. Mungkin aku dan adi akan terlempar beberapa langkah. Mudah-mudahan tidak berbahaya, meskipun tubuh kita akan kesakitan.”

Arya Salaka tidak sempat berpikir lebih lama. Menilik wajah dan kata-kata Karebet, maka Karebet telah berkata sebenarnya. Tetapi seandainya Karebet itu berbohong, bukankah Sasra Birawa itu adalah kekuatannya yang tertinggi? Seandainya Sasra Birawa itu tidak mampu mengalahkan Karebet, maka ia sudah tidak memiliki kekuatan lain yang akan dipergunakan. Karena itu apapun yang dilakukan oleh Karebet, maka sudahlah pasti ia akan mempergunakan kekuatan tertinggi itu.

Arya Salaka yang sedang menimbang-nimbang itu pun terkejut ketika ia melihat Karebet melontar menyerangnya. Ketika ia mengelak ia mendengar Karebet berbisik. “Mulailah.”

Arya Salaka itu tidak dapat berbuat lain daripada memenuhi permintaan itu. Sekali ia meloncat surut. Diangkatnya sebelah tangannya tinggi-tinggi, dan disilangkannya tangannya yang lain di dadanya. Satu kakinya diangkatnya ke depan dan dengan menggenggam Arya Salaka meloncat melontarkan Aji Sasra Birawa.

Dalam pada itu, Karebet yang melihat Arya Salaka telah siap, segera mempersiapkan dirinya pula. Direnggangkannya kakinya dan kedua tangannya segera bersiap dimuka dadanya. Wajahnya segera menjadi tegang. Dan diterapkannya Aji Lembu Sekilan sejauh-jauhnya yang dimilikinya.

Pukulan Arya Salaka benar-benar dahsyat. Seakan-akan sebuah gunung runtuh menimpa dada Karebet. Namun Karebet telah mapan dalam Aji Lembu Sekilan, sehingga pukulan itu tidak menggugurkan isi dadanya. Meskipun demikian ia terlontar beberapa langkah surut dan jatuh berguling beberapa kali ditanah. Namun sesaat kemudian ia telah melenting berdiri tegak di atas kedua kakinya.

Arya Salaka yang mempergunakan Ajinya terasa seakan-akan membentur benteng baja. Pukulan itu seakan-akan telah menghantam dirinya sendiri, sehingga ia pun terlempar beberapa langkah. Dengan kerasnya ia terbanting ditanah. Sesaat matanya menjadi berkunang-kunang. Seakan-akan langit akan runtuh menimpanya. Karena itu ia segera memejamkan matanya dan mengumpulkan segenap kekuatan yang ada padanya.

Sebenarnyalah bahwa tubuh Arya Salaka adalah tubuh yang luar biasa, sehingga dengan demikian, ia tidak mengalami cidera. Namun untuk sesaat ia tidak dapat bangkit berdiri dengan kekuatan sendiri.

Melihat anaknya terbanting jatuh, dada Gajah Sora seperti akan meledak. Tiba-tiba hilanglah segenap pertimbangannya. Dengan serta merta ia berkata, “Akulah yang akan menjadi orang kedua.”

Kebo Kanigara terkejut mendengar perkataan itu. Karena itu segera ia mencegahnya sambil berkata. “Tunggulah. Apakah yang akan terjadi kemudian.”

“Apa yang harus aku tunggu?” Kebo Kanigara menjadi bingung. Sejak semula ia telah menyangka, bahwa akan sulitlah untuk mengendalikan Gajah Sora. Apalagi mereka melihat Lembu Sora ditengah lapangan itupun telah menjadi gemetar dan tangannya telah melekat di hulu pedangnya. Namun sekali lagi wajah Gajah Sora itupun terkulai ketika tiba-tiba ia melihat Sultan Tranggana dikejauhan keluar dari dalam baraknya.

“O. Apakah yang sepantasnya aku lakukan?” terdengar Gajah Sora berdesah. Kedua tangannya tiba-tiba telah menutupi wajahnya. Dalam kebingungan itu ia bergumam. “Kalau saja Sultan tidak ada disana. Kalau saja panji-panji Gula Kepala itu tidak berkibar disana pula.”

“Jangan cemas kakang”, tiba-tiba terdengar suara Mahesa Jenar. “Akupun orang buangan seperti Karebet. Birlah aku maju ke arena. Seandainya aku akan digantung sekalipun, aku tidak akan menyesal.”

 

 

 

NAGASASRA DAN SABUKINTEN
Karya SH Mintardja
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta


871

“MAHESA JENAR,” potong Kebo Kanigara.

“Jangan.”

“Aku tidak sampai hati melihat Arya Salaka dan aku tidak sampai hati melihat Kakang Kebo Kanigara kehilangan anaknya satu-satunya,” berkata Mahesa Jenar.

“Tetapi,” Kebo Kanigara menjadi gelisah. Ketika ia memandang kelapangan, dilihatnya Baginda berjalan ke arena. Dibelakangnya berjalan seorang tua dalam pakaian kepangeran. “Kau lihat orang tua itu?” bertanya Kebo Kanigara.

“Ya, aku lihat. Pangeran Buntara, yang bergelar Panembahan Ismaya dan pernah menggemparkan Demak sebagai seorang yang bernama Pasingsingan.”

“Ya,” sahut Kebo Kanigara.

“Apa peduliku.”

“Mahesa Jenar,” Kebo Kanigara menjadi bertambah gelisah. Tetapi tiba-tiba ia melihat Mahesa Jenar tertawa. Aneh sekali. Gajah Sora pun menjadi sangat heran karenanya. Dan mereka mendengar Mahesa Jenar itu berkata, “Aku telah bertemu di Lemah Telasih. Ki Buyut Banyubiru telah mengatakan kepadaku semuanya.”

“Oh,” Kebo Kanigara berdesah.

“Kau mencemaskan aku.”

“Kakang pun telah mencemaskan aku pula.”

Gajah Sora memandang mereka dengan penuh pertanyaan. Namun tiba-tiba mereka melihat Paningron melambaikan kepada mereka.

“Marilah kakang,” ajak Mahesa Jenar. Kita menghadapi Baginda.”

Baginda pun kemudian melihat mereka datang. Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Gajah Sora. Dengan tersenyum Baginda menerima mereka, sambil berkata, “Eyang Buntara. Apakah mereka akan kami bahwa masuk ke dalam perkemahan?”

“Ya cucunda Baginda.”

“Bawalah,” perintah Baginda kepada Paningron. Baginda itu memandang Arya Salaka sesaat. Kemudian dihampirinya anak yang masih menyeraingai itu. Ditepuknya pundaknya sambil berkata, “Kau pun anak luar biasa. Mari, masuklah ke dalam kemahku.”

Terasa sesuatu yang aneh di dalam dada Arya Salaka. Perlahan-lahan ia menyembah, dan kemudian diikutinya Baginda masuk ke dalam perkemahan.

Di dalam perkemahan itu duduk Baginda Sultan Trenggana, Pangeran Buntara dan Paningron, dihadap oleh Karebet, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas, Gajah Sora, Lembu Sora, Arya Salaka dan Bantaran.

Dengan wajah yang terang Baginda itu memberi kesempatan kepada Pangeran Buntara untuk berceritera, apa saja sebenarnya yang telah mereka lakukan.

“Oh,” Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. “Jadi semuanya ini hanyalah sebuah permainan saja? Permainan yang berbahaya.”

“Ya,” jawab Pangeran Buntara.

“Namun dengan demikian Baginda akan menjadi tenang menghadapi masa-masa depan. Baginda tidak akan lagi diganggu oleh prajurit yang selalu bersedih hati, dan menyebabkan permaisuri bersedih pula.”

Baginda mengangguk-anggukkan kepala. Dan Gajah Sora pun berkata. “Wajarlah kalau selama ini Kakang Kebo Kanigara tidak tampak bersungguh-sungguh berduka. Rupa-rupanya Karebet telah mendapat ijin daripadanya.”

Karebet tersenyum. Tetapi ia menjadi ngeri pula kalau dikenangnya cara-cara yang ditempuhnya itu. Apalagi ketika pada suatu malam ia dikejar oleh Arya Salaka ketika ia berusaha menemui Kebo Kanigara di halaman rumah Gajah Sora.

Tetapi bukan itu saja. Tiba-tiba Pangeran Buntara itu pun berkata.“Baginda, hari ini adalah dapat memanggil kembali Karebet, maka Baginda akan mendapatkan kembali pusaka-pusaka Baginda itu. Selain Sangkelat yang telah diserahkan lewat Karebet kemarin, dan Baginda sendiri melihat bahwa keris itu agaknya telah luluh dalam diri Karebet, sehingga meyakinkan Baginda akan berhasilnya cara ini, maka kini perkenankan Mahesa Jenar menyerahkan pula keris-keris yang selama ini dicarinya, Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Alangkah terkejutnya Baginda. Sehingga dengan serta merta Baginda berkata, “Jadi keris-keris itu telah kau ketemukan?”

Mahesa Jenar menyembah dengan takzimnya. Jawabnya penuh haru.

“Hamba Baginda.”

“Dimanakah pusaka-pusaka itu kau simpan.”

 


No. 873 (TAMMAT)

MAHESA JENAR tidak menjawab. Tetapi ditatapnya wajah Pangeran Buntara yang tua itu. Sehingga Pangeran itu pun berkata, “Kedua keris itu aku simpan Baginda.”

“Oh,” Baginda menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian. “Mahesa Jenar, kecuali Karebet, maka kaupun akan kembali ke istana. Pekerjaan yang kau pilih telah selesai. Sekarang teruskanlah pekerjaanmu yang lama. Tenagamu sangat aku perlukan.”

Mahesa Jenar menyembah dengan penuh hormat. Ia tidak dapat menolak perintah itu. Dan karena itulah maka ia menjawab. “Hamba Baginda. Hamba hanya akan tunduk pada perintah Baginda.”

Baginda itu pun menarik nafas panjang-panjang. Panjang sekali. Seakan-akan semua mendung yang meliputi Demak kini telah terbuka. Ketika Baginda diperkenalkan satu demi satu dengan orang-orang yang menghadap, maka Baginda berkata. “Jadi gadis ini adalah bakal isterimu Mahesa Jenar?”

“Hamba Baginda,” jawab Mahesa Jenar sambil tersipu-sipu.

“Dengan pedang dilambungnya?”

“Hamba Baginda,” sekali lagi Mahesa Jenar menyahut sambil menyembah.

“Yang ini, kakeknya?”

“Hamba Baginda. Gadis itu telah tidak berayah dan beribu.”

“Oh,” Baginda menganggukkan kepalanya dan tiba-tiba Baginda itupun berkata. “Ki Ageng Pandan Alas. Biarlah aku melamar cucumu untuk Mahesa Jenar. Kau terima lamaran itu? Sebenarnya aku telah mendengar sebagian dari kisah hubungan Mahesa Jenar dan cucumu yang tertunda-tunda itu. Dan kini pekerjaan Mahesa Jenar itu sudah selesai.”

“Ampun Baginda,” sembah orang tua itu. Betapa ia menjadi sangat gembira. Cucunya telah mendapat sangkutan yang diidamkannya. Karena itu maka matanya pun menjadi basah. Jawabnya, “Bukan main anugerah yang hamba terima.”

“Jangan tunggu umurnya bertambah tua, Mahesa Jenar. Bulan ini biarlah kakek itu merayakan peralatan perkawinannya. Bukankah semalam purnama sedang naik. Masih ada waktu setengah bulan.”

Mereka berpaling ketika mereka mendengar isak Rara Wilis yang tak dapat ditahannya. Hari yang ditunggu-tunggu kini benar-benar telah mambayang di pelupuk matanya. Akhirnya hari itu akan sampai pula kepadanya.

Arya Salaka pun kemudian mendapat pengukuhan kembali atas tanah perdikannya. Dan dengan sebuah senyuman Baginda berkata, “Bagaimanakah tuntutanmu atas gadis putera Kebo Kanigara itu?”

Arya Salaka tidak menjawab. Namun ia masih menyeringai kesakitan. Dadanya masih nyeri karena Ajinya yang membentur Aji Lembu Sekilan.

“Gadis itu tidak berada disini,” berkata Baginda. “Tetapi besok akan segera kau jumpai di Banyubiru.”

Hari itu adalah hari yang menentukan bagi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Juga hari yang menentukan bagi Karebet. Meskipun para prajurit Demak dan laskar Banyubiru masih bingung melihat perkembangan keadaan, namun mereka menjadi lega, ketika mereka melihat para pemimpin mereka menjadi gembira. Pertentangan itu benar-benar telah berakhir.

Namun dalam pada itu Baginda terkejut melihat Arya Penangsang sudah siap di atas punggung kudanya. Dengan lantang ia berteriak. “Aku akan pergi berburu sendiri paman. Aku dapat berbuat itu tanpa orang lain. Biarlah Karebet menemui paman dan adinda puteri bungsu.”

Baginda terkejut. Tetapi Arya Penangsang telah pergi diiringi oleh Tumenggung Prabasemi.

Angin pegunungan bertiup semakin kencang mengguncang daun-daun rimba. Semua persoalan yang dihadapi Baginda terasa seakan-akan telah dihancurkan pula oleh angin itu. Persoalan-persoalan yang mengganggunya selama ini dalam tugasnya menyatukan tanah tumpah darah.

Tetapi kembali Baginda diganggu oleh sebuah persoalan yang baru saja tumbuh. Agaknya Arya Penangsang, kemanakannya itu tidak senang melihat hubungan Karebet dengan puterinya. “Tentu pokal Prabasemi,” pikir Baginda.

Namun ketika Penangsang kembali, Prabasemi tidak turut serta, Tumenggung itu tiba-tiba menghilang. Disadarinya bahwa Karebet telah merebut kemenangannya, dan ia akan mendapat kesusahan karena itu. Tetapi persoalan itu tidak akan segera memerlukan tangan Baginda untuk menyelesaikan. Persoalan itu masih akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang.

Ketika awan yang putih berarak ke utara, maka Mahesa Jenar menengadahkan wajahnya. Dilihatnya langit cerah secara hatinya. Dan ia menjadi semakin gembira ketika dilihatnya kemudian Arya Salaka dan Karebet bersendaugurau dengan gembiranya. Tetapi lebih-lebih lagi ketika ia melihat seorang gadis yang berpedang dilambungnya tersenyum kepadanya sambil berbisik. “Kakang, hari itu akan segara datang.”

“Ya Wilis. Segara akan datang. Semoga.”

Keduanya pun kemudian menundukkan wajah-wajah mereka. Sedang hati mereka memanjatkan perasaan terima kasih serta do’a kepada Tuhan yang Maha Esa, semoga mereka akan sampai pada saat-saat yang ditunggu-tunggu itu.

  TAMMAT


Team yang terlibat dalam pengumpulan kembali cerita adalah:

  1. Mimbar Bambang Seputro (Jakarta)
  2. Bob Wikan Adibrata (Pertamina – Jakarta)
  3. Sumbangan buku Nagasasra dan Sabukinten oleh Bambang Aris DP (Yogyakarta)
  4. Djaka tolos/Wong Edan BaGu  (Cirebon) Dan tentunya terimakasih kepada harian Kedaulatan Rakyat yang mengijinkan pemuatan kembali cerita aseli ini. Salam Rahayu.
    Cirebon  30 Juni/1 Juli 2011

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: