KISAH NYATA……….yang di ambil dari

BIOGRAFI SEJARAH HIDUP KI DJAKA TOLOS

DALAM TEMA : KACA BENGGALA ;

{ LAMBANG BAYANGAN SEMU }

SEBUAH KISAH NYATA

YANG MENCERITAKAN PERJALANAN HIDUP

KI DJAKA TOLOS

DALAM PENCARIAN JATI DIRI PRIBADINYAYANG PENUH LIKA-LIKU KEHIDUPAN DUNIA YANG  CUKUP BERKESAN UNTUK DI AMBIL HIQMAHNYA BAGI PARA PENCARI TUHAN DI

 MANAPUN BERADA 

KISAH NYATA INI, DI SALIN DARI BUKU HARIAN PRIBADI KI DJAKA TOLOS. YANG DI TULISNYA SENDIRI, SEJAK MENGENAL AKSARA pada thn 1971 HINGGA thn 2008. DAN SESUAI PERMINTAANYA.

MAKA

 TERTULISLAH TANPA MENGURANGI ATAU MENAMBAH SUATU APAPUN DI DALAMNYA

KECUALI NAMA-NAMA TERKAIT YANG SENGAJA DI SAMARKAN

 

ISI LAMAN ;

  1. Kata pengantar
  2. Sejarah singkat keraja’an tanah pasundan
  3. Sejarah singkat Sulawesi tengah
  4. Biografi sejarah hidup ki djaka tolos
  5. Tambahan
  6. Pesan dan kesan
  7. Kesimpula
  8. Penutup/Doa

SELAMAT MENIKMATI DAN SEMOGA MENDAPAT PENGALAMAN YANG BERMANFA’AT DARI SEJARAH HIDUP KI DJAKA TOLOS INI. UNTUK BAHAN RENUNGAN DALAM PROSES HIDUP MENCARI JATIDIRI MENUJU KESEMPURNA’AN YANG SEJATI……..AMIN

Djaka Tolos/Wong Edan BaGu  {Toso Wijaya.D}

CIREBON 19 september 2007

 

SALAM RAHAYU…………..

1. KATA PENGANTAR

A’udzu  billaahim  minnas  syaithon nirojim, bismillaahir  rohmanir rohim, alhamdulillaahi  robbil  alamin, arrohmannir  rohim, maliki  yaumidin, = iyaa  kana’ budhu  wa  iyaa  kanas ta’im…= 7,x ihdzinas  syirotol  mustakim, syirotol  ladinna an’amta  alaihim, ghoiril  makhdubi  alaihim, walad  dholiin, amin. assalamu alikum war / wab. dengan ijin dan ridho allah ta’ala, saya ciptakan sebuah buku yang berjudul agenda biografi sejarah hidup ki jaka tolos, yang mengisahkan proses prejalanan anak manusia dalam mencari jati diri pribadi, yang di awali dengan seratus kesedihan seribu kepiluan sejuta penderita’an tanpa henti yang datang silih berganti, yang mau tidak mau harus di laluinya di hadapinya dan di rasakanya hingga berkhir selesai atau tamat. hanya  tekad dan iman serta ketabahan yang di kehandaki oleh allah lah yang mampu menjalaninya. semua yang tertulis di buku ini adalah merupakan kutipan atau salinan dari buku agenda harian pribadi milik ki jaka tolos, yang lebih di kenal dengan sebutan kh. rm. toso wijaya diningrat, putra kedua dari pasangan suami madsalim – istri dewi arimi. putri ke tujuh dari pangeran karim. sultan ke enam keraton pakung wati cirebon jawa barat. sebagai kenangan sejarah, dengan tujuan sebagai bahan renungan atau cermin atau contoh atau kaca benggala bagi siapapun yang laku mencari jatidiri pribadi atau asal-usul . bawasanya, apapun yang ada di dunia ini tak satupun yang abadi. (anyakra manggilimgan). Segalanya / semuanya semu. namun , segalanya dan semuanya itu bukan berati tanpa guna, karena menurut ilmu pengertian, tidak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak tuhan. untuk itu buku ini sengaja di kutip yang kemudian di bukukan. untuk dapat di jadikan sebagai bahan renungan. dalam melangkah menuju satu titik kesempurna’an jati di dalam hidup. sesuai kodrat dan irodatnya masing-masing. alami tanpa rekayasa dan politik. alias tidak neko-neko, dengan wejangan tri tunggal, yaitu,  1. suci di hati aromanya sempurna. (suci ingati gandaning manunggal). 2. jangan mengaku hidup bila tak bisa merasakan hidup. (aja ngaku urip yen ora bisa ngrasakake uripe-marga iku kasebut mayit urip). 3. gaililah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. karena di situlah ada jatidiri dan asal-usulmu. bagi siapapun yang membuka dan membaca buku ini, di larang meniru atau mengikuti  perjalanan yang tersirat, karena setiap makhluk hidup itu memiliki laku pribadi sendiri2x. akhir kata, semoga buku ini bermanfa’at untuk semuanya. dan segalanya di dalam laku hidup. amin. was-salamu alaikum  war / wab…………….Salam Rahayu………

 

2. SEJARAH SINGKAT KERAJA’AN TANAH PASUNDAN

Panjalu adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang terletak di ketinggian 731 m dpl dan berada kaki gunung sawal (1764 m dpl) jawa barat. Posisi Panjalu dikelilingi oleh benteng alamiah berupa rangkaian pegunungan , dari sebelah selatan dan timur berdiri kokoh Gunung Sawal yang memisahkannya dengan wilayah Galuh, bagian baratnya dibentengi oleh Gunung Cakrabuana yang dahulu menjadi batas dengan Kerajaan Sumedang Larang dan di sebelah utaranya memanjang Gunung Bitung yang menjadi batas Kabupaten Ciamis dengan Majalengka yang dahulu merupakan batas Panjalu dengan Kerajaan Talaga.

Secara geografis pada abad ke-13 sampai abad ke-16 (tahun 1200-an sampai dengan tahun 1500-an) Kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kerajaan Talaga, Kerajaan Kuningan, dan Cirebon di sebelah utara. Di sebelah timur Kerajaan Panjalu berbatasan dengan Kawali (Ibukota Kemaharajaan Sunda 1333-1482), wilayah selatannya berbatasan dengan Kerajaan Galuh, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kerajaan Galunggung dan Kerajaan Sumedang Larang.

Asal mula. Panjalu berasal dari kata ”[[jalu]]” (bhs. [[Sunda]]) yang berarti ”jantan, jago, maskulin”, yang didahului dengan awalan pa (n). Kata [[panjalu]] berkonotasi dengan kata-kata: ”[[jagoan]], [[jawara]], [[pendekar]], [[warrior]]” (bhs. Inggeris: pejuang, ahli olah perang), dan ”[[knight]]” (bhs. Inggeris: [[kesatria]], [[perwira]]).

Ada pula orang Panjalu yang mengatakan bahwa kata panjalu berarti “perempuan” karena berasal dari kata ”jalu” yang diberi awalan ”pan”, sama seperti kata ”male” (bhs. Inggeris : laki-laki) yang apabila diberi prefiks ”fe” + ”male” menjadi ”female” (bhs.Inggeris : perempuan). Konon nama ini disandang karena Panjalu pernah diperintah oleh seorang ratu bernama Ratu Permanadewi.

Mengingat sterotip atau anggapan umum watak orang Panjalu sampai sekarang di mata orang Sunda pada umumnya, atau dibandingkan dengan watak orang Sunda pada umumnya, orang Panjalu dikenal lebih keras, militan juga disegani karena konon memiliki banyak ilmu kanuragan warisan dari nenek moyang mereka, oleh karena itu arti kata Panjalu yang pertama sepertinya lebih mendekati kesesuaian.

Menurut Munoz (2006) Kerajaan Panjalu Ciamis (Jawa Barat) adalah penerus Kerajaan Panjalu Kediri (Jawa Timur) karena setelah Maharaja Kertajaya Raja Panjalu Kediri terakhir tewas di tangan Ken Angrok (Ken Arok) pada tahun 1222, sisa-sisa keluarga dan pengikut Maharaja Kertajaya itu melarikan diri ke kawasan Panjalu Ciamis. Itulah sebabnya kedua kerajaan ini mempunyai nama yang sama dan Kerajaan Panjalu Ciamis adalah penerus peradaban Panjalu Kediri.

Nama Panjalu sendiri mulai dikenal ketika wilayah itu berada dibawah pemerintahan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang; sebelumnya kawasan Panjalu lebih dikenal dengan sebutan ”’Kabuyutan Sawal”’ atau Kabuyutan Gunung Sawal. Istilah [[Kabuyutan]] identik dengan daerah [[Kabataraan]] yaitu daerah yang memiliki kewenangan keagamaan (Hindu) seperti Kabuyutan Galunggung atau Kabataraan Galunggung.

Kabuyutan adalah suatu tempat atau kawasan yang dianggap suci dan biasanya terletak di lokasi yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya, biasanya di bekas daerah Kabuyutan juga ditemukan situs-situs [[megalitik]] (batu-batuan purba) peninggalan masa [[prasejarah]].

Kekuasaan Kabataraan ([[Tahta Suci]])

Pendiri Kerajaan Panjalu adalah Batara Tesnajati yang petilasannya terdapat di Karantenan Gunung Sawal. Mengingat gelar [[Batara]] yang disandangnya, maka kemungkinan besar pada awal berdirinya Panjalu adalah suatu daerah Kabataraan sama halnya dengan Kabataraan Galunggung yang didirikan oleh Batara Semplak Waja putera dari Sang Wretikandayun ([[670-702]]), pendiri Kerajaan Galuh.

Daerah Kabataraan adalah tahta suci yang lebih menitikberatkan pada bidang kebatinan, keagamaan atau spiritual, dengan demikian seorang Batara selain berperan sebagai Raja juga berperan sebagai [[Brahmana]] atau [[Resiguru]]. Seorang Batara di Kemaharajaan Sunda mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan penting karena ia mempunyai satu kekuasaan istimewa yaitu kekuasaan untuk mengabhiseka atau mentahbiskan atau menginisiasi penobatan seorang Maharaja yang naik tahta Sunda.

Menurut sumber sejarah Kerajaan Galunggung, para Batara yang pernah bertahta di Galunggung adalah Batara Semplak Waja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu, dan Batari Hyang. Berdasarkan keterangan Prasasti Geger Hanjuang, Batari Hyang dinobatkan sebagai penguasa Galunggung pada tanggal 21 Agustus 1111 M atau 13 Bhadrapada 1033 Caka. Kabataraan Galunggung adalah cikal bakal Kerajaan Galunggung yang dikemudian hari menjadi Kabupaten [[Sukapura]] ([[Tasikmalaya]]).

Besar kemungkinan setelah berakhirnya periode kabataraan di Galunggung itu kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda dipegang oleh Batara Tesnajati dari Karantenan Gunung Sawal Panjalu. Adapun para batara yang pernah bertahta di Karantenan Gunung Sawal adalah Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Pada masa kekuasaan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang atau Sanghyang Rangga Sakti putera Batara Karimun Putih, Panjalu berubah dari kabataraan menjadi sebuah daerah kerajaan.

Diperkirakan kekuasaan kabataraan Sunda kala itu dilanjutkan oleh Batara Prabu Guru Aji Putih di Gunung Tembong Agung, Prabu Guru Aji Putih adalah seorang tokoh yang menjadi perintis Kerajaan Sumedang Larang. Prabu Guru Aji Putih digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi [[Tajimalela]], menurut sumber sejarah Sumedang Larang, Prabu Resi Tajimalela hidup sezaman dengan Maharaja Sunda yang bernama Ragamulya Luhurprabawa ([[1340-1350]]).

Prabu Resi Tajimalela digantikan oleh puteranya yang bernama Prabu Resi Lembu Agung, kemudian Prabu Resi Lembu Agung digantikan oleh adiknya yang bernama Prabu Gajah Agung yang berkedudukan di Ciguling. Dibawah pemerintahan Prabu Gajah Agung, Sumedang Larang bertransisi dari daerah kabataraan menjadi kerajaan.

Kekuasaan kabataraan di Kemaharajaan Sunda kemudian dilanjutkan oleh Batara Gunung Picung yang menjadi cikal bakal Kerajaan Talaga ([[Majalengka]]). Batara Gunung Picung adalah putera Suryadewata, sedangkan Suryadewata adalah putera bungsu dari Maharaja Sunda yang bernama Ajiguna Linggawisesa ([[1333-1340]]), Batara Gunung Picung digantikan oleh puteranya yang bernama Pandita Prabu Darmasuci, sedangkan Pandita Prabu Darmasuci kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Begawan Garasiang. Begawan Garasiang digantikan oleh adiknya sebagai Raja Talaga yang bernama Sunan Talaga Manggung dan sejak itu pemerintahan Talaga digelar selaku kerajaan.

Hubungan dengan Kemaharajaan.

[[Kemaharajaan Sunda]] adalah suatu kerajaan yang merupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat, yaitu [[Kerajaan Sunda]] yang didirikan Maharaja Tarusbawa (669-723) dan terletak di sebelah barat Sungai Citarum serta [[Kerajaan Galuh]] yang didirikan Sang Wretikandayun (670-702) dan terletak di sebelah timur Sungai Citarum. Kerajaan Sunda dan Galuh adalah pecahan dari [[Kerajaan Tarumanagara]] (358-669), kemudian kedua kerajaan tersebut dipersatukan kembali dibawah satu mahkota Maharaja Sunda oleh cicit Wretikandayun bernama [[Sanjaya]] (723-732).

Putera Sena atau Bratasenawa (709-716) Raja Galuh ketiga ini sebelumnya bergelar Rakeyan Jamri dan setelah menjadi menantu Maharaja Sunda Tarusbawa diangkat menjadi penguasa Kerajaan Sunda bergelar Sang Harisdarma. Sang Harisdarma setelah berhasil menyatukan Galuh dengan Sunda bergelar Sanjaya.

Berdasarkan peninggalan sejarah seperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarang menjadi kota [[Bogor]] yaitu Pakwan Pajajaran, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah yang sekarang menjadi kota [[Ciamis]], tepatnya di [[Kawali]]. Namun demikian, banyak sumber peninggalan sejarah yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja atau tepatnya Kemaharajaan Sunda dan penduduknya sampai sekarang disebut sebagai orang [[Sunda]].

Panjalu adalah salah satu kerajaan daerah yang termasuk dalam kekuasaan Kemaharajaan Sunda karena wilayah Kemaharajaan Sunda sejak masa Sanjaya ([[723]]-[[732]]) sampai dengan [[Sri Baduga Maharaja]] ([[1482-1521]]) adalah seluruh [[Jawa Barat]] termasuk Provinsi [[Banten]] dan [[DKI Jakarta]] serta bagian barat Provinsi [[Jawa Tengah]], yaitu mulai dari [[Ujung Kulon]] di sebelah barat sampai ke Sungai Cipamali (Kali Brebes) dan Sungai Ciserayu (Kali Serayu) di sebelah timur.

Menurut [[Naskah Wangsakerta]], wilayah Kemaharajaan Sunda juga mencakup Provinsi [[Lampung]] sekarang sebagai akibat dari pernikahan antar penguasa daerah itu, salah satunya adalah [[Niskala Wastu Kancana]] ([[1371-1475]]) yang menikahi Nay Rara Sarkati puteri penguasa Lampung, dan dari pernikahan itu melahirkan Sang Haliwungan yang naik tahta Pakwan Pajajaran (Sunda) sebagai [[Prabu Susuktunggal]] ([[1475-1482]]), sedangkan dari Nay Ratna Mayangsari puteri sulung [[Hyang Bunisora]] ([[1357-1371]]), Niskala Wastu Kancana berputera Ningrat Kancana yang naik tahta Kawali (Galuh) sebagai [[Prabu Dewa Niskala]] ([[1475-1482]]).

Lokasi Kerajaan Panjalu yang berbatasan langsung dengan Kawali dan Galuh juga menunjukkan keterkaitan yang erat dengan Kemaharajaan Sunda karena menurut Ekadjati (93:75) ada empat kawasan yang pernah menjadi ibukota Sunda yaitu: [[Galuh]], [[Parahajyan Sunda]], [[Kawali]], dan [[Pakwan Pajajaran]].

Kerajaan-kerajaan lain yang menjadi bagian dari Kemaharajaan Sunda adalah: Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Sukapura, Kidanglamatan, Galuh, Astuna Tajeknasing, Sumedang Larang, Ujung Muhara, Ajong Kidul, Kamuning Gading, Pancakaki, Tanjung Singguru, Nusa Kalapa, Banten Girang dan Ujung Kulon (Hageman,1967:209). Selain itu Sunda juga memiliki daerah-daerah pelabuhan yang dikepalai oleh seorang Syahbandar yaitu Bantam (Banten), Pontang (Puntang), Chegujde (Cigede), Tanggerang, Kalapa (Sunda Kalapa), dan Chimanuk (Cimanuk) (Armando Cortesao, 1944:196).

Kaitan lain yang menarik antara Kemaharajaan Sunda dengan Kerajaan Panjalu adalah bahwa berdasarkan catatan sejarah Sunda, [[Hyang Bunisora]] digantikan oleh keponakan sekaligus menantunya yaitu [[Niskala Wastu Kancana]] yang setelah mangkat dipusarakan di [[Nusa Larang]], sementara menurut Babad Panjalu tokoh yang dipusarakan di [[Nusa Larang]] adalah [[Prabu Rahyang Kancana]] putera dari [[Prabu Sanghyang Borosngora]].

Ada dugaan Sanghyang Borosngora yang menjadi Raja Panjalu adalah Hyang Bunisora Suradipati, ia adalah adik Maharaja Linggabuana yang gugur di palagan Bubat melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Hyang Bunisora menjabat sebagai Mangkubumi Suradipati mewakili keponakannya yaitu Niskala Wastu Kancana yang baru berusia 9 tahun atas tahta Kawali . Hyang Bunisora juga dikenal sebagai Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Tentunya perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan dugaan ini.

Sementara itu sumber lain dari luar mengenai kaitan Panjalu dengan Sunda yakni dari [[Wawacan Sajarah Galuh]] memapaparkan bahwa setelah runtuhnya [[Kerajaan Pajajaran|Pajajaran]], maka putera-puteri raja dan rakyat Pajajaran itu melarikan diri ke Panjalu, Kawali, dan Kuningan.

Kaitan dengan Kerajaan Panjalu ([[Kediri]]) di [[Jawa Timur]]

endiri Kerajaan Kahuripan adalah [[Airlangga]] atau sering pula disingkat Erlangga, yang memerintah tahun 1009-1042, dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Nama Airlangga berarti air yang melompat. Ia lahir tahun 990. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu, Bali dari Wangsa Warmadewa.

Airlangga memiliki dua orang adik, yaitu Marakata (menjadi raja Bali sepeninggal ayah mereka) dan Anak Wungsu (naik takhta sepeninggal Marakata).

Menurut [[Prasasti Pucangan]], pada tahun 1006 Airlangga menikah dengan putri pamannya yaitu [[Dharmawangsa]] (saudara Mahendradatta) di Watan, ibu kota [[Kerajaan Medang]]. Tiba-tiba kota Watan diserbu [[Raja Wurawari]] dari [[Lwaram]], yang merupakan sekutu [[Kerajaan Sriwijaya]]. Dalam serangan itu, Dharmawangsa tewas, sedangkan Airlangga lolos ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama. Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu, Jombang, Jawa Timur.

Nama kerajaan yang didirikan Airlangga pada umumnya lazim disebut [[Kerajaan Kahuripan]]. Padahal sesungguhnya, Kahuripan hanyalah salah satu nama ibukota kerajaan yang pernah dipimpin Airlangga. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Mengingat kota Watan sudah hancur, Airlangga pun membangun ibukota baru bernama Watan Mas di dekat [[Gunung Penanggungan]]. Nama kota ini tercatat dalam [[Prasasti Cane]] (1021).

Menurut [[Prasasti Terep]] (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke [[Kahuripan]] (daerah Sidoarjo sekarang).

Menurut [[Prasasti Pamwatan]] (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang). Berita ini sesuai dengan naskah [[Serat Calon Arang]] yang menyebut Airlangga sebagai raja Daha. Bahkan, Nagarakretagama juga menyebut Airlangga sebagai raja”’ Panjalu”’ yang berpusat di [[Daha]].

Ketika Airlangga naik takhta tahun 1009, wilayah kerajaannya hanya meliputi daerah [[Sidoarjo]] dan [[Pasuruan]] saja, karena sepeninggal Dharmawangsa, banyak daerah bawahan yang melepaskan diri. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan [[Wangsa Isyana]] atas pulau Jawa.

Pada tahun 1023 Kerajaan Sriwijaya yang merupakan musuh besar Wangsa Isyana dikalahkan Rajendra Coladewa, Raja [[Colamandala]] dari [[India]]. Hal ini membuat Airlangga merasa lebih leluasa mempersiapkan diri menaklukkan pulau Jawa. Penguasa pertama yang dikalahkan oleh Airlangga adalah Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa Raja Wuratan, Wijayawarma Raja Wengker, kemudian Panuda Raja Lewa.

Pada tahun 1031 putera Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula.

Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke Desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala. Airlangga membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita itu akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana.

Terakhir, pada tahun 1035 Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma Raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

* Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.

* Membangun Bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.

* Memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.

* Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.

* Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.

* Memindahkan ibukota dari Kahuripan ke Daha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis [[Arjuna Wiwaha]] yang diadaptasi dari epik [[Mahabharata]]. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.

Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Menurut cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai [[Prasasti Turun Hyang]] (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi.

Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan.

Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata sebagai Raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan [[Prasasti Turun Hyang II]]. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut ”'[[Panjalu]]”’ atau Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur bernama [[Janggala]] berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam [[Prasasti Gandhakuti]], 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut. Tidak diketahui dengan pasti kapan Airlangga meninggal. [[Prasasti Sumengka]] (1059) peninggalan Kerajaan Janggala hanya menyebutkan, Resi Aji Paduka Mpungku dimakamkan di ”tirtha” atau pemandian.

Kolam pemandian yang paling sesuai dengan berita prasasti Sumengka adalah [[Candi Belahan]] di lereng Gunung Penanggungan. Pada kolam tersebut ditemukan arca Wisnu disertai dua dewi. Berdasarkan [[Prasasti Pucangan]] (1041) diketahui Airlangga adalah penganut Hindu Wisnu yang taat. Maka, ketiga patung tersebut dapat diperkirakan sebagai lambang Airlangga dengan dua istrinya, yaitu ibu Sri Samarawijaya dan ibu Mapanji Garasakan.

Pada Candi Belahan ditemukan angka tahun 1049. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun itu adalah tahun kematian Airlangga, ataukah tahun pembangunan candi pemandian tersebut.

Maharaja [[Jayabhaya]] adalah Raja Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa. Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kadiri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan”’ Panjalu Jayati”’, yang artinya Kadiri menang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri selama perang melawan Janggala. Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kadiri. Kemenangan Jayabhaya atas Janggala ini disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh tahun 1157.

Sri Maharaja [[Kertajaya]] adalah raja terakhir Kadiri yang memerintah sekitar tahun 1194-1222. Pada akhir pemerintahannya, ia dikalahkan oleh [[Ken Arok]] dari [[Tumapel]] atau [[Singhasari]], yang menandai berakhirnya masa Kerajaan Kadiri.

Nama Kertajaya terdapat dalam Nagarakretagama (1365) yang dikarang ratusan tahun setelah zaman Kadiri. Bukti sejarah keberadaan tokoh Kertajaya adalah dengan ditemukannya [[Prasasti Galunggung]] ([[1194]]), [[Prasasti Kamulan]] (1194), [[Prasasti Palah]] (1197), dan [[Prasasti Wates Kulon]] (1205). Dari prasasti-prasasti tersebut dapat diketahui nama gelar abhiseka Kertajaya adalah Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.

Dalam [[Pararaton]], Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis. Dikisahkan pada akhir pemerintahannya ia menyatakan ingin disembah para pendeta Hindu dan Buddha. Tentu saja keinginan itu ditolak, meskipun Dandhang Gendis pamer kesaktian dengan cara duduk di atas sebatang tombak yang berdiri.

Para pendeta memilih berlindung pada Ken Arok, bawahan Dandhang Gendis yang menjadi akuwu di Tumapel. Ken Arok lalu mengangkat diri menjadi raja dan menyatakan Tumapel merdeka, lepas dari Kadiri. Dandhang Gendis sama sekali tidak takut. Ia mengaku hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Mendengar hal itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Guru (nama lain Siwa) dan bergerak memimpin pasukan menyerang Kadiri.

Perang antara Tumapel dan Kadiri terjadi dekat Desa Ganter tahun [[1222]]. Para panglima Kadiri yaitu Mahisa Walungan (adik Dandhang Gendis) dan Gubar Baleman mati di tangan Ken Arok. Dandhang Gendis sendiri melarikan diri dan bersembunyi naik ke kahyangan.

Nagarakretagama juga mengisahkan secara singkat berita kekalahan Kertajaya tersebut. Disebutkan bahwa Kertajaya melarikan diri dan bersembunyi dalam dewalaya (tempat dewa). Kedua naskah tersebut (Pararaton dan Nagarakretagama) memberitakan tempat pelarian Kertajaya adalah alam dewata. Kiranya yang dimaksud adalah Kertajaya bersembunyi di dalam sebuah candi pemujaan, atau mungkin Kertajaya tewas dan menjadi penghuni alam halus (akhirat)

Sejak tahun 1222 Kadiri menjadi daerah bawahan Tumapel (Singhasari). Menurut Nagarakretagama, putra Kertajaya yang bernama Jayasabha diangkat Ken Arok sebagai Bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya, yang bernama Sastrajaya. Kemudian tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya yang bernama Jayakatwang. Pada tahun 1292 Jayakatwang memberontak dan mengakhiri riwayat Tumapel.

Berita tersebut tidak sesuai dengan naskah [[Prasasti Mula Malurung]] (1255), yang mengatakan kalau penguasa Kadiri setelah Kertajaya adalah Bhatara Parameswara putra [[Bhatara Siwa]] (alias Ken Arok). Adapun Jayakatwang menurut prasasti Penanggungan adalah Bupati Gelang-Gelang yang kemudian menjadi Raja Kadiri setelah menghancurkan Tumapel tahun 1292.

Sumber-sumber sejarah Kerajaan Panjalu Ciamis sedikitpun tidak ada yang menyebutkan secara gamblang hubungannya dengan Kerajaan Panjalu Kediri, akan tetapi kesamaan nama kedua kerajaan ini sedikit-banyak menunjukkan adanya benang merah antara keduanya, apalagi nama Raja Panjalu Kediri Maharaja Kertajaya (1194-1222) juga disebut-sebut dalam Prasasti Galunggung (1194).

Paul Michel Munoz (2006) mengemukakan bahwa sisa-sisa keluarga dan pengikut Kertajaya (Raja terakhir Dinasti Sanjaya di Jawa Timur) melarikan diri ke daerah ”’Panjalu (Sukapura/Ciamis)”’ pada tahun 1222 untuk menghindari pembantaian Ken Angrok (Ken Arok), pendiri Kerajaan Singhasari/Dinasti Rajasa. Kertajaya sendiri sebagai Raja Kediri terakhir tewas dalam pertempuran di Tumapel melawan pemberontakan Akuwu Tumapel, Ken Angrok.

Berdasarkan kitab Nagarakretagama, Maharaja Kertajaya bersembunyi di Dewalaya (tempat Dewa) atau tempat suci, maka bukan tidak mungkin Maharaja Kertajaya sebenarnya tidak tewas di tangan Ken Arok, melainkan melarikan diri ke Kabataraan Gunung Sawal (Panjalu Ciamis) yang merupakan tempat suci dimana bertahtanya Batara (Dewa) Tesnajati.

Ibukota Panjalu

Ibukota atau pusat kerajaan Panjalu berpindah-pindah sesuai dengan perkembangan zaman, beberapa lokasi yang pernah menjadi pusat kerajaan adalah :

Karantenan Gunung Sawal

Karantenan Gunung Sawal menjadi pusat kerajaan semasa Panjalu menjadi daerah Kebataraaan, yaitu semasa kekuasaan Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Di Karantenan Gunung Sawal ini terdapat mata air suci dan sebuah artefak berupa situs megalitik berbentuk batu pipih berukuran kira-kira 1,7 m x 1,5 m x 0,2 m. Batu ini diduga kuat digunakan sebagai sarana upacara-upacara keagamaan, termasuk penobatan raja-raja Panjalu bahkan mungkin penobatan Maharaja Sunda.

Dayeuhluhur Maparah

Dayeuhluhur (kota tinggi) menjadi pusat pemerintahan sejak masa Prabu Sanghyang Rangga Gumilang sampai dengan Prabu Sanghyang Cakradewa. Kaprabon Dayeuhluhur terletak di bukit Citatah tepi Situ Bahara (Situ Sanghyang). Tidak jauh dari Dayeuhluhur terdapat hutan larangan Cipanjalu yang menjadi tempat bersemadi Raja-raja Panjalu. Konon Presiden I RI [[Ir Soekarno]] juga pernah berziarah ke tempat ini sewaktu mudanya untuk mencari petunjuk Tuhan YME dalam rangka perjuangan pergerakan kemerdekaan RI.

Nusa Larang

Prabu Sanghyang Borosngora memindahkan kaprabon (kediaman raja) dari Dayeuhluhur ke [[Nusa Larang]]. Nusa Larang adalah sebuah pulau yang terdapat di tengah-tengah [[Situ Lengkong]]. Dinamai juga [[Nusa Gede]] karena pada zaman dulu ada juga pulau yang lebih kecil bernama Nusa Pakel (sekarang sudah tidak ada karena menyatu dengan daratan sehingga menyerupai tanjung). Untuk menyeberangi situ menuju Keraton Nusa Larang dibangun sebuah ”Cukang Padung” (jembatan) yang dijaga oleh Gulang-gulang (penjaga gerbang) bernama Apun Otek. Sementara Nusa Pakel dijadikan Tamansari dan Hujung Winangun dibangun Kapatihan untuk Patih Sanghyang Panji Barani.

Dayeuh Nagasari Ciomas

Dayeuh Nagasari dijadikan kediaman raja pada masa pemerintahan Prabu Rahyang Kancana sampai dengan pemerintahan Bupati Raden Arya Wirabaya. Dayeuh Nagasari sekarang termasuk kedalam wilayah Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Ciamis.

Pada masa pemerintahan Prabu Rahyang Kancana, di Ciomas juga terdapat sebuah pemerintahan daerah yang dikepalai oleh seorang ”Dalem” (Bupati) bernama Dalem Mangkubumi yang wilayahnya masuk kedalam kekuasaan Kerajaan Panjalu.

Silsilah Ciomas Panjalu

1.”’Buyut Asuh.”’

2.”’Buyut Pangasuh.”’

3.”’Buyut Surangganta.”’

4.”’Buyut Suranggading.”’

5.”’Dalem Mangkubumi.”’

6.”’Dalem Penghulu Gusti.”’

7.”’Dalem Wangsaniangga.”’

8.”’Dalem Wangsanangga.”’

9.”’Dalem Margabangsa.”’

10.”’Demang Wangsadipraja”’. Menjabat sebagai Patih Panjalu pada masa pemerintahan Arya Sumalah dan Pangeran Arya Sacanata, berputera Demang Wargabangsa I.

11.”’Demang Wargabangsa I”’. Menjabat sebagai Patih Panjalu pada masa pemerintahan Arya Wirabaya, berputera Demang Wargabangsa II.

12.”’Demang Wargabangsa II”’. Menjabat sebagai Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung Wirapraja, memperisteri Nyi Raden Siti Kalimah binti Raden Jiwakrama bin Pangeran Arya Sacanata, berputera Demang Diramantri I

13.”’Demang Diramantri I”’. Menjabat sebagai Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung Cakranagara I, memperisteri Nyi Raden Panatamantri binti Tumenggung Cakranagara I dan mempunyai tiga orang anak bernama 1) Demang Diramantri II, 2) Demang Wangsadipraja, dan Nyi Raden Sanggrana (diperisteri seorang Sultan Cirebon).

14.”’Demang Diramantri II”’. Menjabat sebagai Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung Cakranagara II menggantikan Demang Suradipraja. Sedangkan sang adik yaitu ”’Demang Wangsadipraja”’ menjadi Patih Panjalu pada masa pemerintahan Tumenggung Cakranagara III, Demang Wangsadipraja mempunyai dua orang anak yaitu: 1) Demang Prajanagara, dan 2) Demang Cakrayuda.

15.”’Demang Prajanagara”’ diangkat menjadi Patih Galuh, sedangkan adiknya yang bernama ”’Demang Cakrayuda”’ diangkat menjadi Patih Kuningan. Demang Cakrayuda memperisteri Nyi Raden Rengganingrum binti Tumenggung Cakranagara II dan menurunkan putera bernama Demang Dendareja.

16.”’Demang Dendareja”’ diangkat menjadi Patih Galuh.

Dayeuh Panjalu

Raden Tumenggung Wirapraja kemudian memindahkan kediaman bupati ke Dayeuh Panjalu sekarang.

Sementara itu pusat kerajaan Panjalu ditandai dengan sembilan ”tutunggul gada-gada perjagaan” yaitu patok-patok yang menjadi batas pusat kerajaan sekaligus berfungsi sebagai pos penjagaan yang dikenal dengan Batara Salapan, yaitu terdiri dari:

# Sri Manggelong di Kubang Kelong, Rinduwangi

# Sri Manggulang di Cipalika, Bahara

# Kebo Patenggel di Muhara Cilutung, Hujungtiwu

# Sri Keukeuh Saeukeurweuleuh di Ranca Gaul, Tengger

# Lembu Dulur di Giut Tenjolaya, Sindangherang

# Sang Bukas Tangan di Citaman, Citatah

# Batara Terus Patala di Ganjar Ciroke, Golat

# Sang Ratu Lahuta di Gajah Agung Cilimus, Banjarangsana

# Sri Pakuntilan di Curug Goong, Maparah

Karantenan Gunung Sawal

Karantenan Gunung Sawal menjadi pusat kerajaan semasa Panjalu menjadi daerah Kebataraaan, yaitu semasa kekuasaan Batara Tesnajati, Batara Layah dan Batara Karimun Putih. Di Karantenan Gunung Sawal ini terdapat mata air suci dan sebuah artefak berupa situs megalitik berbentuk batu pipih berukuran kira-kira 1,7 m x 1,5 m x 0,2 m. Batu ini diduga kuat digunakan sebagai sarana upacara-upacara keagamaan, termasuk penobatan raja-raja Panjalu bahkan mungkin penobatan Maharaja Sunda.

Dayeuhluhur Maparah

Dayeuhluhur (kota tinggi) menjadi pusat pemerintahan sejak masa Prabu Sanghyang Rangga Gumilang sampai dengan Prabu Sanghyang Cakradewa. Kaprabon Dayeuhluhur terletak di bukit Citatah tepi Situ Bahara (Situ Sanghyang). Tidak jauh dari Dayeuhluhur terdapat hutan larangan Cipanjalu yang menjadi tempat bersemadi Raja-raja Panjalu. Konon Presiden I RI [[Ir Soekarno]] juga pernah berziarah ke tempat ini sewaktu mudanya untuk mencari petunjuk Tuhan YME dalam rangka perjuangan pergerakan kemerdekaan RI.

Masuknya [[Islam]] dan Pengaruh [[Cirebon]]

Menurut cerita yang disampaikan secara turun-temurun, masuknya Islam ke Panjalu dibawa oleh Sanghyang Borosngora yang tertarik menuntut ilmu sampai ke Mekkah lalu di-Islamkan oleh [[Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A.]] Legenda rakyat ini mirip dengan kisah Pangeran [[Kian Santang]] atau Sunan Godog Garut, yaitu ketika Kian Santang atau Raja Sangara (adik Pangeran Cakrabuana Walangsungsang) yang setelah diislamkan oleh Baginda Ali di Mekkah kemudian berusaha mengislamkan ayahnya Sang [[Prabu Siliwangi]].

Sementara itu menurut [[Babad Panjalu]]: dari Baginda Ali, Sanghyang Borosngora mendapatkan cinderamata berupa [[air zamzam]], pedang, cis (tongkat) dan pakaian kebesaran. Air zamzam tersebut kemudian dijadikan cikal-bakal air Situ Lengkong, sedangkan pusaka-pusaka pemberian Baginda Ali itu sampai sekarang masih tersimpan di [[Pasucian]] [[Bumi Alit]] dan dikirabkan setelah disucikan setiap bulan Mulud dalam upacara [[Nyangku]] di Panjalu pada hari Senin atau hari Kamis terakhir bulan Maulud ([[Rabiul Awal]]).

Penyebaran Islam secara serentak dan menyeluruh di tatar Sunda sesungguhnya dimulai sejak [[Syarif Hidayatullah]] ([[1448-1568]]) diangkat sebagai penguasa Cirebon oleh Pangeran Cakrabuana bergelar Gusti Susuhunan Jati (Sunan Gunung Jati) dan menyatakan melepaskan diri dari Kemaharajaan Sunda dengan menghentikan pengiriman upeti pada tahun [[1479]]. Peristiwa ini terjadi ketika wilayah Sunda dipimpin oleh Sang Haliwungan Prabu Susuktunggal ([[1475-1482]]) di Pakwan Pajajaran dan Ningrat Kancana Prabu Dewa Niskala ([[1475-1482]]) di Kawali. Jauh sebelum itu, para pemeluk agama Islam hanya terkonsentrasi di daerah-daerah pesisir atau pelabuhan yang penduduknya banyak melakukan interaksi dengan para saudagar atau pedagang dari Gujarat, Persia dan Timur Tengah.

Puteri Prabu Susuktunggal yang bernama Nay Kentring Manik Mayang Sunda kemudian dinikahkan dengan putera Prabu Dewa Niskala yang bernama Jayadewata. Jayadewata kemudian dinobatkan sebagai penguasa Pakwan Pajajaran dan Kawali bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, dengan demikian maka seperti juga mendiang kakeknya yang bernama Niskala Wastu Kancana ia menyatukan Pakwan Pajajaran (Sunda) dan Kawali (Galuh) dalam satu mahkota Maharaja Sunda.

Sri Baduga Maharaja juga memindahkan ibokota Sunda dari Kawali ke Pakwan Pajajaran, meskipun hal ini bukan kali pertama ibukota Kemaharaajaan Sunda berpindah antara Sunda dan Galuh, namun salah satu alasan perpindahan ibukota negara ini diduga kuat sebagai antisipasi semakin menguatnya kekuasaan Demak dan Cirebon.

Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja ([[1481]]-[[1521]]) kerajaan-kerajaan yang masih mengirimkan upetinya ke Pakwan Pajajaran adalah Galunggung, Denuh, Talaga, Geger Bandung, Windu Galuh, Malaka, Mandala, Puma, Lewa dan Kandangwesi (Pleyte, 1911:172). Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama karena satu persatu daerah bawahan Sunda itu ditaklukan Cirebon.

Raja Talaga Sunan Parunggangsa ditaklukkan Cirebon pada tahun [[1529]] dan kemudian bersama puterinya Ratu Sunyalarang, juga menantunya Ranggamantri Pucuk Umun secara sukarela memeluk Islam. Di Sumedang Larang Ratu Setyasih atau Ratu Inten Dewata atau Ratu Pucuk Umun ([[1530]]-[[1579]]) mengakui kekuasaan Cirebon dan memeluk Islam.

Di Kerajaan Kuningan Ratu Selawati menyerah kepada pasukan Cirebon, salah seorang puterinya kemudian dinikahkan dengan anak angkat Gusti Susuhunan Jati yang bernama Suranggajaya, Suranggajaya kemudian diangkat menjadi Bupati Kuningan bergelar Sang Adipati Kuningan karena Kuningan menjadi bagian dari Cirebon.

Di kerajaan Galuh, penguasa Galuh yang bernama Ujang Meni bergelar Maharaja Cipta Sanghyang di Galuh berusaha mempertahankan wilayahnya dari serbuan pasukan Cirebon, tapi karena kekuatan yang tidak seimbang maka ia bersama puteranya yang bernama Ujang Ngekel yang kemudian naik tahta Galuh bergelar Prabu di Galuh Cipta Permana ([[1595-1608]]) juga mau tak mau harus mengakui kekuasaan Cirebon serta akhirnya memeluk Islam dengan sukarela. Demikian juga yang terjadi di Kerajaan Sindangkasih (Majalengka). Berdasarkan rentetan peristiwa-peristiwa yang terjadi di kerajaan-kerajaan tetangganya tersebut, maka diperkirakan pada periode yang bersamaan Kerajaan Panjalu juga menjadi taklukan Cirebon dan menerima penyebaran Islam.

Kemaharajaan Sunda sendiri posisinya semakin lama semakin terjepit oleh kekuasaan Cirebon-Demak di sebelah timur dan Banten di sebelah barat. Pada tahun [[1579]] pasukan koalisi Banten-Cirebon dipimpin oleh Sultan Banten Maulana Yusuf berhasil mengalahkan pertahanan terakhir pasukan Sunda, kaprabon dan ibukota Kemaharajaan Sunda yaitu Pakwan Pajajaran berhasil diduduki, benda-benda yang menjadi simbol Kemaharajaan Sunda diboyong ke Banten termasuk batu singgasana penobatan Maharaja Sunda berukuran 200cm x 160cm x 20cm yang bernama ”Palangka Sriman Sriwacana” (orang Banten menyebutnya ”Watu Gilang” atau batu berkilau) . Akibat peristiwa ini, Prabu Ragamulya Surya Kancana ([[1567-1579]]) beserta seluruh anggota keluarganya menyelamatkan diri dari kaprabon yang menandai berakhirnya Kemaharajaan Sunda.

Menurut sumber sejarah Sumedang Larang, ketika peristiwa itu terjadi empat orang kepercayaan Prabu Ragamulya Surya Kancana yang dikenal dengan ”Kandaga Lante” yang terdiri dari Sanghyang Hawu (Jayaperkosa), Batara Adipati Wiradijaya (Nangganan), Sanghyang Kondanghapa dan Batara Pancar Buana (Terong Peot) berhasil menyelamatkan atribut pakaian kebesaran Maharaja Sunda yang terdiri dari mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pakwan, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu. Atribut-atribut kebesaran tersebut kemudian diserahkan kepada Raden Angkawijaya putera Ratu Inten Dewata ([[1530-1579]]) yang kemudian naik tahta Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun ([[1579-1601]]).

Pengaruh [[Mataram]]

Sepeninggal Kemaharajaan Sunda (723-1579), wilayah Jawa Barat terbagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang pada mulanya merupakan bawahan Sunda. Kerajaan-kerajaan yang masih saling berhubungan darah itu tidak lepas dari pengaruh kekuasaan Cirebon dan Banten yang sedang berada pada puncak kejayaannya. Kerajaan-kerajaan itu merupakan kerajaan yang mandiri dan dipimpin oleh seorang bergelar Prabu, Sanghyang, Rahyang, Hariang, Pangeran ataupun Sunan, akan tapi mereka mengakui kekuasaan Cirebon dan Banten. Dua kerajaan bawahan Sunda yang paling luas wilayahnya adalah Sumedang Larang dan Galuh yang masing-masing dianggap sebagai penerus Kemaharajaan Sunda.

Pada tahun [[1595]] Sutawijaya atau [[Panembahan Senopati]] ([[1586]]-[[1601]]) memperluas wilayah kekuasaan [[Mataram]] ke wilayah Jawa Barat sehingga berhasil menaklukkan Cirebon dan kemudian menduduki daerah-daerah sekitarnya yang meliputi hampir seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten dan Jayakarta (Batavia). Untuk mempererat hubungan Mataram-Cirebon ini, Senopati menikahkan salah seorang saudarinya bernama Ratu Harisbaya dengan pengusasa Cirebon waktu itu, Panembahan Ratu ([[1570]]-[[1649]]).

Panembahan Senopati digantikan puteranya yaitu Mas Jolang yang naik tahta sebagai [[Prabu Hanyokrowati]] ([[1601-1613]]), Prabu Hanyokrowati lalu digantikan oleh puteranya yang bernama Mas Rangsang, naik tahta Mataram sebagai [[Sultan Agung]] Hanyokrokusumo ([[1613-1645]]).

Pada tahun 1618 Sultan Agung mengangkat putera Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608) yang bernama Ujang Ngoko atau Prabu Muda sebagai Bupati Galuh yang menandai penguasaan Mataram atas Galuh, sebagai bupati bawahan Mataram ia kemudian bergelar Adipati Panekan (1608-1625). Adipati Panaekan juga merangkap jabatan sebagai Wedana Bupati (Gubernur) yang mengepalai Bupati-bupati Priangan (Djadja Sukardja, 1999: 12-6).

Priangan sendiri berasal dari kata ”parahyangan” yang berarti tempat para ”hyang” (dewata), suatu sebutan bagi wilayah bekas Kemaharajaan Sunda yang sebelumnya menganut agama Hindu, selain itu raja-raja Sunda sering memakai gelar hyang atau sanghyang yang artinya dewa.

Peristiwa pendudukan Mataram ini di Panjalu diperkirakan terjadi pada masa pemerintaha Prabu Rahyang Kunang Natabaya karena puteranya yaitu Raden Arya Sumalah tidak lagi memakai gelar Prabu seperti ayahnya, hal ini menunjukkan bahwa Panjalu juga sudah menjadi salah satu kabupaten di bawah Mataram.

Pada tahun 1620 Arya Suryadiwangsa menyerahkan kekuasaannya atas Sumedang Larang kepada Mataram, Sultan Agung kemudian mengangkat Arya Suryadiwangsa ([[1601-1624]]) sebagai Bupati Sumedang Larang bergelar Pangeran Rangga Gempol Kusumahdinata. Pada tahun 1624 Rangga Gempol ditunjuk sebagai panglima pasukan Mataram utuk menaklukkan daerah [[Sampang]], [[Pulau Madura|Madura]]. Oleh karena itu jabatan Bupati Sumedang Larang dipegang adiknya yang bernama Pangeran Rangga Gede (1624-1633) sekaligus merangkap sebagai Wedana Bupati Priangan menggantikan Adipati Panaekan.

Pada waktu itu Sultan Agung tengah menyiapkan serangan besar-besaran untuk merebut Benteng Batavia dari tangan Kompeni Belanda dan meminta para bupati Priangan menunjukkan kesetiaannya dengan mengirimkan pasukan gabungan untuk menggempur Batavia. Rencana Sultan Agung ini menimbulkan perbedaan pendapat diantara para bupati Priangan, tahun 1625 Adipati Panaekan yang berselisih paham dengan Bupati Bojonglopang bernama Adipati Kertabumi (Wiraperbangsa) tewas di tangan adik iparnya itu. Kedudukan mendiang Adipati Panaekan sebagai Bupati Galuh lalu digantikan oleh puteranya yang bernama Ujang Purba bergelar Adipati Imbanagara (1625-1636).

Pangeran Rangga Gede sebagai Wedana Bupati Priangan oleh Sultan Agung dianggap tidak mampu mengatasi serangan-serangan Banten di daerah perbatasan sekitar Sungai Citarum yang saling bersaing berebut pengaruh dengan Mataram, oleh karena itu kedudukan Wedana Bupati Priangan pada tahun 1628 digantikan oleh Bupati Ukur (Bandung) yang dikenal dengan nama [[Adipati Ukur]] putera Sanghyang Lembu Alas. Ia mengepalai wilayah Ukur (Bandung), Sumedang Larang, Sukapura, Limbangan, Cianjur, Karawang, Pamanukan dan Ciasem, sedangkan Rangga Gede dijebloskan ke dalam tahanan.

Adipati Ukur juga sekaligus diangkat menjadi Panglima pasukan Mataram yang terdiri dari gabungan pasukan kabupaten-kabupaten bawahan Mataram di Priangan untuk merebut Benteng Batavia dari [[VOC]] (”Vereenigde Oostindische Compagnie” atau Perkumpulan Dagang India Timur) yang dipimpin oleh Gubernur [[Jan Pieterszoon Coen]] ([[1619-1623]] dan [[1627-1629]]). Setiap Kabupaten kala itu mengirimkan kontingen pasukannya dalam penyerbuan ke Batavia dan pemimpin kontingen pasukan dari Galuh adalah Bagus Sutapura.

Penyerbuan ke Batavia kali ini sesungguhnya adalah penyerbuan yang kedua. Pada tahun 1628 Mataram telah mengirimkan pasukannya berjumlah sekitar 10.000 orang untuk merebut Batavia, gelombang pertama pasukan dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa (Bupati Kendal) yang tiba di Batavia Agustus 1628. Pasukan kedua tiba di Batavia Oktober 1628 dipimpin Pangeran Madureja, mereka dibantu oleh para senapati (komandan) yaitu Tumenggung Sura Agul-agul dan Tumenggung Upasanta. Penyerbuan pertama ini mengalami kegagalan karena pasukan mengalami kekurangan logistik/perbekalan. Atas kegagalan ini Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Bahureksa beserta orang-orang setianya dengan memenggal kepala mereka di sekitar Batavia.

Dalam penyerbuan kedua ini Mataram mengirimkan 14.000 orang tentara gabungan Sunda-Jawa untuk merebut Batavia. Pasukan pertama dipimpin oleh Adipati Ukur dengan balatentara Priangannya yang berangkat ke Batavia Mei 1629, sedangkan pasukan berikutnya berangkat ke Batavia Juni 1629 dipimpin oleh Adipati Juminah. Pasukan ini juga dibantu oleh senapati-senapati lainnya yaitu Adipati Purbaya, Adipati Puger, Tumenggung Singaranu, Raden Arya Wiranatapada, Tumenggung Madiun dan Kyai Sumenep.

Sejarah mencatat bahwa akibat kurang koordinasi dan kesalahpahaman dengan armada laut Mataram yang mengepung dari arah laut mengakibatkan pasukan darat pimpinan Adipati Ukur dan Adipati Juminah menyerang Batavia lebih dahulu sehingga penyerbuan ini tidak terjadi secara serempak sesuai dengan siasat perang, akibatnya penyerbuan kedua ini pun mengalami kegagalan. Sultan Agung yang kecewa segera menjatuhkan vonis mati kepada Adipati Ukur yang masih berada di sekitar Batavia dan mengirimkan utusannya untuk memenggal kepala Adipati Ukur beserta para perwiranya yang setia seperti yang terjadi pada Tumenggung Bahureksa.

Mengetahui dirinya telah dijatuhi vonis mati oleh Sultan Agung, Adipati Ukur bersama sebagian pasukannya yang setia berbalik memberontak terhadap Mataram (1628-1632), perlawanan Adipati Ukur bersama pengikutnya ini terhitung alot karena secara diam-diam sebagian Bupati-bupati Priangan mendukung pemberontakan Adipati Ukur. Perlawanan Adipati Ukur baru berhasil dihentikan setelah Mataram mendapatkan bantuan Ki Wirawangsa dari Umbul Sukakerta, Ki Astamanggala dari Umbul Cihaurbeuti dan Ki Somahita dari Umbul Sindangkasih.

Atas jasa-jasa mereka memadamkan pemberontakan Adipati Ukur itu, pada tahun 1633 Sultan Agung mengangkat Ki Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura dengan Gelar [[Tumenggung Wiradadaha]], Ki Astamanggala menjadi Bupati Bandung dengan gelar [[Tumenggung Wiraangun-angun]], dan Ki Somahita menjadi Bupati Parakan Muncang dengan gelar [[Tumenggung Tanubaya]]. Bagus Sutapura yang juga berjasa kepada Mataram diangkat sebagai Bupati Kawasen.

Sementara itu Bupati Galuh Adipati Imbanagara dijatuhi hukum mati oleh Sultan Agung karena dianggap terlibat dalam pemberontakan Adipati Ukur. Jabatan Wedana Bupati Priangan kemudian dikembalikan kepada Pangeran Rangga Gede sekaligus menjabat sebagai Bupati Sumedang Larang.

Sewaktu tahta Mataram dipegang oleh putera Sultan Agung yaitu Sunan [[Amangkurat I]] ([[1645-1677]]), antara tahun 1656-1657 jabatan Wedana Bupati Priangan dihapuskan dan wilayah Mataram Barat (Priangan) dibagi menjadi 12 ”Ajeg” (daerah setingkat kabupaten) yaitu: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung, Sukapura ([[Tasikmalaya]]), [[Karawang]], Imbanagara ([[Ciamis]]), Kawasen (Ciamis Selatan), ”'[[Wirabaya]]”’ (Ciamis Utara termasuk wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang), Sindangkasih (Majalengka), [[Banyumas]], Ayah/Dayeuhluhur ([[Kebumen]], [[Cilacap]]), dan [[Banjar]] (Ciamis Timur). Pada waktu itu Raden Arya Wirabaya keponakan Bupati Panjalu Pangeran Arya Sacanata diangkat menjadi kepala Ajeg Wirabaya.

Pada tahun [[1677]] Sunan [[Amangkurat II]] ([[1677-1703]]) menyerahkan wilayah Priangan barat dan tengah kepada VOC sebagai imbalan atas bantuan VOC dalam usaha menumpas pemberontakan [[Trunajaya]], menyusul kemudian pada tahun [[1705]] Cirebon beserta Priangan Timur juga diserahkan [[Pakubuwana I]] kepada VOC pasca perselisihan antara [[Amangkurat III]] dengan sang paman [[Pangeran Puger]] atau Pakubuwana I (1704-1719).

Dalam masa pendudukan Mataram selama 110 tahun ini (1595-1705), yang menjabat menjadi Bupati Panjalu secara berturut-turut adalah:

# Raden Arya Sumalah

# Pangeran Arya Sacanata (Pangeran Arya Salingsingan/Pangeran Gandakerta)

# Raden Arya Wirabaya

# Raden Tumenggung Wirapraja

Masa [[VOC]] dan [[Hindia Belanda]]

[[Berkas:Voc.jpeg|thumb|left|VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perkumpulan Dagang India Timur)]]

[[Berkas:hindia belanda.jpeg|thumb|left|Peta Hindia Belanda]]

Berdasarkan perjanjian VOC dengan Mataram tanggal [[5 Oktober 1705]], maka seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten jatuh ke tangan Kompeni. Untuk mengawasi dan memimpin bupati-bupati Priangan ini, maka pada tahun 1706 Gubernur Jenderal VOC [[Joan van Hoorn]] (1704-1709) mengangkat [[Pangeran Arya Cirebon]] ([[1706-1723]]) sebagai ”opzigter” atau Pemangku Wilayah Priangan.

Gubernur Jendral VOC menjadikan para Bupati sebagai pelaksana atau ”agen verplichte leverantie” atau agen penyerahan wajib tanaman komoditas perdagangan seperti beras cengkeh, pala, lada, kopi, indigo dan tebu.

Kebijakan VOC ini sangat membebani kehidupan rakyat kecil, akibatnya pada tahun 1703 terjadi kerusuhan yang digerakkan oleh Raden Alit atau RH Prawatasari seorang ”menak” (bangsawan) Cianjur keturunan Panjalu yang berasal dari Jampang (Sukabumi). Kerusuhan yang digerakkan RH Prawatasari ini melanda seluruh kepentingan VOC di wilayah Priangan (Jawa Barat) terutama di Cianjur, Bogor, dan Sumedang. Di Priangan timur terutama Galuh, kerusuhan ini melanda wilayah Utama, Bojonglopang dan Kawasen.

Namun pemberontakan RH Prawatasari ini akhirnya dapat dipadamkan oleh VOC pada 12 Juli tahun 1707, Raden Haji Prawatasari tertangkap dalam satu pertempuran seru di daerah Bagelen, Banyumas yang lalu kemudian di asingkan ke Kartasura.

Pasca pemberontakan RH Prawatasari, pada masa kepemimpinan Pangeran Arya Cirebon, Raden Prajasasana (putera Raden Arya Wiradipa bin Pangeran Arya Sacanata) yang menjadi pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon diangkat sebagai Bupati Panjalu yang berada dalam wilayah administratif Cirebon dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Raden Tumenggung Wirapraja.

Pada tahun 1810 wilayah Kabupaten Panjalu di bawah pimpinan Raden Tumenggung Cakranagara III diperluas dengan wilayah Kawali yang sebelumnya dikepalai Raden Adipati Mangkupraja III (1801-1810). Wilayah Kawali yang menginduk ke Panjalu ini kemudian dikepalai oleh Raden Tumenggung Suradipraja I (1810-1819).

Pada tahun [[1819]], Gubernur Jenderal [[Hindia Belanda]] [[G.A.G.Ph. Baron Van der Capellen]] ([[1816]]-[[1826]]) menggabungkan wilayah-wilayah Kabupaten Panjalu, Kawali, Distrik Cihaur dan Rancah kedalam Kabupaten Galuh. Dengan demikian pada tahun itu Raden Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan sebagai Bupati Panjalu, sementara di kabupaten Galuh, Bupati Wiradikusumah juga digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah ([[1819-1839]]).

Semenjak itu Panjalu menjadi daerah kademangan di bawah kabupaten Galuh dan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Demang Sumawijaya diangkat sebagai Demang Panjalu (Demang adalah jabatan setingkat Wedana) sedangkan putera ketujuh Cakranagara III yang bernama Raden Arya Cakradikusumah diangkat sebagai Wedana Kawali. Pada masa itu wedana adalah jabatan satu tingkat diatas camat (asisten wedana).

Raden Demang Sumawijaya setelah mangkat digantikan oleh putera tertuanya yang bernama Raden Demang Aldakusumah sebagai Demang Panjalu, semantara putera tertua dari Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah yang bernama Raden Tumenggung Argakusumah diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang Indramayu) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV.

Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis dan dimasukkan kedalam Keresidenan Priangan setelah dilepaskan dari wilayah administrasi Cirebon. Antara tahun 1926-1942 Ciamis dimasukkan kedalam ”afdeeling” Priangan Timur bersama-sama dengan Kabupaten Tasikmalaya dan Garut dengan ibukota ”afdeeling” di Tasikmalaya. Pada tanggal 1 Januari 1926 Pemerintah Hindia Belanda membagi Pulau Jawa menjadi tiga provinsi yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Panjalu dewasa ini adalah sebuah kecamatan di [[Kabupaten Ciamis]] Provinsi Jawa Barat.

Raden Tumenggung Cakranagara III, Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu, berada satu lokasi dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.

Dewasa ini Nusa Larang dan Situ Lengkong Panjalu menjadi obyek wisata alam dan wisata ziarah Islami utama di Kabupaten Ciamis dan selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari seluruh Indonesia terutama dari [[Jawa Timur]], apalagi setelah Presiden IV RI [[K.H. Abdurrahman Wahid]] atau [[Gus Dur]] diketahui beberapa kali berziarah di Nusa Larang dan mengaku bahwa dirinya juga adalah keturunan Panjalu.

Silsilah Panjalu. Batara Tesnajati ……….

Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri Kabataraan Gunung Sawal, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di Karantenan Gunung Sawal.

Batara Layah

Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Karantenan Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.

Batara Karimun Putih

Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Rangga Sakti. Petilasan Batara Karimun Putih terletak di Pasir Kaputihan, Gunung Sawal.

Prabu Sanghyang Rangga Gumilang

Sanghyang Rangga Gumilang naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia dikenal juga sebagai Sanghyang Rangga Sakti dan pada masa pemerintahaanya terbentuklah suatu pemerintahan yang berpusat di Dayeuhluhur Maparah setelah berakhirnya masa Kabataraan di Karantenan Gunung Sawal Panjalu.

Sanghyang Rangga Gumilang menikahi seorang puteri Galuh bernama Ratu Permanadewi dan mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Lembu Sampulur. Petilasan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang terletak di Cipanjalu.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I

Sanghyang Lembu Sampulur I naik tahta sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Cakradewa.

Prabu Sanghyang Cakradewa

Sanghyang Cakradewa memperisteri seorang puteri Galuh bernama Ratu Sari Kidang Pananjung dan mempunyai enam orang anak yaitu:

1) Sanghyang Lembu Sampulur II,

2) ”’Sanghyang Borosngora”’,

3) Sanghyang Panji Barani,

4) Sanghyang Anggarunting,

5) Ratu Mamprang Kancana Artaswayang, dan

6) Ratu Pundut Agung (diperisteri Maharaja Sunda).

Petilasan Prabu Sanghyang Cakradewa terdapat di Cipanjalu.

Menurut kisah dalam Babad Panjalu, Prabu Sanghyang Cakradewa adalah seorang raja yang adil dan bijaksana, di bawah pimpinannya Panjalu menjadi sebuah kerajaan yang makmur dan disegani. Suatu ketika sang raja menyampaikan keinginannya di hari tua nanti untuk meninggalkan singgasana dan menjadi Resi atau petapa (”lengser kaprabon ngadeg pendita”). Untuk itu sang prabu mengangkat putera tertuanya Sanghyang Lembu Sampulur II menjadi putera mahkota, sedangkan putera keduanya yaitu Sanghyang Borosngora dipersiapkan untuk menjadi patih dan senapati kerajaan (panglima perang). Oleh karena itu Sanghyang Borosngora pergi berkelana, berguru kepada para brahmana, petapa,resi, guru dan wiku sakti di seluruh penjuru tanah Jawa untuk mendapatkan berbagai ilmu kesaktian dan ilmu olah perang.

Beberapa tahun kemudian sang pangeran pulang dari pengembaraannya dan disambut dengan upacara penyambutan yang sangat meriah di kaprabon Dayeuhluhur, Prabu Sanghyang Cakradewa sangat terharu menyambut kedatangan puteranya yang telah pergi sekian lama tersebut. Dalam suatu acara, sang prabu meminta kepada Sanghyang Borosngora untuk mengatraksikan kehebatannya dalam olah perang dengan bermain adu pedang melawan kakaknya yaitu Sanghyang Lembu Sampulur II dihadapan para pejabat istana dan para hadirin. Ketika kedua pangeran itu tengah mengadu kehebatan ilmu pedang itu, tak sengaja kain yang menutupi betis Sanghyang Borosngora tersingkap dan tampaklah sebentuk rajah (”tattoo”) yang menandakan pemiliknya menganut ilmu kesaktian aliran hitam.

Prabu Sanghyang Cakradewa sangat kecewa mendapati kenyataan tersebut, karena ilmu itu tidak sesuai dengan ””’Anggon-anggon Kapanjaluan””’ (falsafah hidup orang Panjalu) yaitu” mangan kerana halal, pake kerana suci, tekad-ucap-lampah sabhenere dan Panjalu tunggul rahayu, tangkal waluya”. Sang Prabu segera memerintahkan Sanghyang Borosngora untuk membuang ilmu terlarang itu dan segera mencari ””Ilmu Sajati”” yaitu ilmu yang menuntun kepada jalan keselamatan. Sebagai indikator apakah Sanghyang Borosngora telah menguasai ”ilmu sajati” atau belum, maka sang prabu membekalinya sebuah gayung batok kelapa yang dasarnya diberi lubang-lubang sehingga tidak bisa menampung cidukan air. Apabila sang pangeran telah menguasai ”ilmu sajati”, maka ia bisa menciduk air dengan gayung berlubang-lubang tersebut.

Untuk kedua kalinya Sanghyang Borosngora pergi meninggalkan kaprabon, dan kali ini ia berjalan tak tentu arah karena tidak tahu kemana harus mencari ilmu yang dimaksudkan oleh ayahnya itu. Letih berjalan tak tentu arah akhirnya ia duduk bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kepada Sanghyang Tunggal agar diberikan petunjuk untuk mendapatkan Ilmu Sajati. Sekian lama bersemadi akhirnya ia mendapat petunjuk bahwa pemilik ilmu yang dicarinya itu ada di seberang lautan, yaitu di tanah suci [[Mekkah]], [[Jazirah Arab]]. Dengan ilmu kesaktiannya Sanghyang Borosngora tiba di Mekkah dalam sekejap mata.

Di Mekkah itu Sanghyang Borosngora bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya agar dapat bertemu dengan seseorang yang mewarisi ”Ilmu Sajati” yang dimaksud. Orang-orang yang tidak mengerti maksud sang pangeran menunjukkan agar ia menemui seorang pria yang tinggal dalam sebuah tenda di gurun pasir. Sanghyang Borosngora bergegas menuju tenda yang dimaksud dan ketika ia membuka tabir tenda itu dilihatnya seorang pria tua yang sedang menulis dengan pena. Karena terkejut dengan kedatangan tamunya, pena yang ada di tangan pria tua itu terjatuh menancap di tanah berpasir.

Lelaki misterius itu menegur sang pangeran karena telah datang tanpa mengucapkan salam sehingga mengejutkannya dan mengakibatkan pena yang dipegangnya jatuh tertancap di pasir, padahal sesungguhnya lelaki itu hanya berpura-pura terkejut karena ingin memberi pelajaran kepada pemuda pendatang yang terlihat jumawa karena kesaktian yang dimilikinya itu. Setelah bertanya apa keperluannya datang ke tendanya, lelaki itu hanya meminta Sanghyang Borosngora agar mengambilkan penanya yang tertancap di pasir. Sang pangeran segera memenuhi permintaan pria itu, tetapi terjadi kejanggalan, pena yang menancap di tanah itu seperti sudah menyatu dengan bumi sehingga walaupun segenap kekuatannya telah dikerahkan, namum pena itu tak bergeming barang sedikitpun.

Sanghyang Borosngora segera menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Sebagai seorang kesatria ia mengakui kehebatan pria itu dan memohon ampun atas kelancangan sikapnya tadi. Sang pangeran juga memohon kesediaan pria misterius itu mengajarinya ilmu yang sangat mengagumkannya ini. Lelaki yang kemudian diketahui adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib R.A. ini hanya meminta Sanghyang Borosngora mengucapkan kalimat syahadat seperti yang dicontohkannya dan sungguh ajaib, pena yang menancap di tanah itu bisa dicabut dengan mudah olehnya.

Setelah peristiwa itu Sanghyang Borosngora menetap beberapa lama di Mekkah untuk menimba ”Ilmu Sajati” kepada Baginda Ali R.A. yang ternyata adalah ”Dien Al Islam” (Agama Islam). Di akhir masa pendidikannya Sanghyang Borosngora diberi wasiat oleh Baginda Ali agar melaksanakan syiar Islam di tanah asalnya. Sanghyang Borosngora yang sekarang bernama Syeikh Haji Abdul Iman ini kemudian diberi cinderamata berupa Pedang, Cis (tombak bermata dua atau [[dwisula]]), dan pakaian kebesaran. Sebelum pulang Syeikh Haji Abdul Iman juga menciduk air zam-zam dengan gayung berlubang pemberian ayahnya dan ternyata air zam-zam itu tidak menetes yang berarti ia telah berhasil menguasai ”ilmu sajati” dengan sempurna.

Ringkas cerita Sanghyang Borosngora kembali ke kaprabon dan disambut dengan suka cita oleh sang prabu beserta seluruh kerabatnya. Sanghyang Borosngora juga menyampaikan syiar Islam kepada seluruh kerabat istana. Sang Prabu yang telah uzur menolak dengan halus ajakan puteranya itu dan memilih hidup sebagai pendeta sebagaimana kehendaknya dahulu dan menyerahkan singgasana kepada putera mahkota Sanghyang Lembu Sampulur II.

Air zam-zam yang dibawa Sanghyang Borosngora dijadikan cikal bakal air Situ Lengkong yang sebelumnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit bernama Pasir Jambu. Gayung berlubang pemberian ayahnya dilemparkan ke Gunung Sawal dan kemudian menjadi sejenis tanaman paku yang bentuknya seperti gayung. Sanghyang Borosngora melanjutkan syiar Islamnya dengan mengembara ke arah barat melewati daerah-daerah yang sekarang bernama Tasikmalaya, Garut, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II tidak lama memerintah di Kerajaan Panjalu, ia kemudian hijrah ke daerah Cimalaka di kaki Gunung Tampomas, Sumedang dan mendirikan kerajaan baru di sana. Sanghyang Borosngora yang menempati urutan kedua sebagai pewaris tahta Panjalu meneruskan kepemimpinan kakaknya itu dan menjadikan Panjalu sebagai kerajaan Islam yang sebelumnya bercorak Hindu.

Sebagai media syiar Islam, Sanghyang Borosngora mempelopori tradisi upacara adat ”Nyangku” yang diadakan setiap Bulan Maulud (Rabiul Awal), yaitu sebuah prosesi ritual penyucian pusaka-pusaka yang diterimanya dari Baginda Ali R.A. yang setelah disucikan kemudian dikirabkan dihadapan kumpulan rakyatnya. Acara yang menarik perhatian khalayak ramai ini dipergunakan untuk memperkenalkan masyarakat dengan agama Islam dan mengenang peristiwa masuk Islamnya Sanghyang Borosngora.

Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa, akan tetapi ia kemudian menyerahkan singgasana kerajaan kepada adiknya yaitu Sanghyang Borosngora,sedangkan ia sendiri hijrah dan mendirikan kerajaan baru di Cimalaka [[Gunung Tampomas]] (Sumedang).

Prabu Sanghyang Borosngora

Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Di dalam Babad Panjalu tokoh Prabu Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai penyebar Agama Islam dan Raja Panjalu pertama yang menganut Islam, benda-benda pusaka peninggalannya masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan pada setiap bulan Maulud setelah terlebih dulu disucikan dalam rangkaian prosesi acara adat Nyangku.

Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu:

1) Rahyang Kuning, dan

2) ”’Rahyang Kancana.”’

Prabu Sanghyang Borosngora juga didamping oleh Guru Aji Kampuhjaya dan Bunisakti, dua orang ulama kerajaan yang juga merupakan senapati-senapati pilih tanding.

Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung ([[Kabupaten Sukabumi|Sukabumi]]), sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).

Sanghyang Borosngora dan Hyang Bunisora Suradipati

Hyang Bunisora Suradipati adalah adik Maharaja Sunda yang bernama Maharaja Linggabuana. Sang Maharaja terkenal sebagai Prabu Wangi yang gugur sebagai pahlawan di palagan Bubat melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Ketika peristiwa memilukan itu terjadi puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana baru berusia 9 tahun, untuk itu Hyang Bunisora menjabat sebagai Mangkubumi Suradipati mewakili keponakannya itu atas tahta Kawali .

Hyang Bunisora juga dikenal sebagai Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Nama Hyang Bunisora yang mirip dengan Sanghyang Borosngora dan gelarnya sebagai Batara Guru di Jampang menyiratkan adanya keterkaitan antara kedua tokoh ini, meskipun belum bisa dipastikan apakah kedua tokoh ini adalah orang yang sama. Jika ternyata kedua tokoh ini adalah orang yang sama, pastinya akan membuka salah satu lembar yang tersembunyi dari Sejarah Sunda.

Hyang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati menikah dengan Dewi Laksmiwati dan menurunkan 4 (empat) anak (Djadja Sukardja,2007):

1). Giri Dewata (Gedeng Kasmaya) di Cirebon Girang menikahi Ratna Kirana puteri Ratu Cirebon Girang, di lereng Gunung Ciremai.

2). Bratalegawa (Haji baharudin/Haji Purwa) menikahi puteri Gujarat.

3). Ratu Banawati.

4). Ratu Mayangsari yang diperisteri Niskala Wastu Kancana.

Hyang Bunisora dikabarkan dimakamkan di Geger Omas, diperkirakan lokasi Geger Omas sekarang adalah Desa Ciomas (Panjalu Ciamis), di desa tersebut terdapat situs makam yang dikenal sebagai makam Dalem Penghulu Gusti dan Dalem Mangkubumi (Djadja Sukardja, 2007: 29-30).

Sanghyang Borosngora dan Baginda Ali RA

Legenda pertemuan antara Sanghyang Borosngora dengan Baginda Ali R.A. ini sampai sekarang masih kontroversial mengingat keduanya hidup di zaman yang berbeda. Sayidina Ali hidup pada abad ke-7 M (tahun 600-an) sedangkan pada periode masa itu di tatar Sunda tengah berdiri Kerajaan Tarumanagara dan nama Panjalu belum disebut-sebut dalam sejarah. Nama Panjalu (Kabuyutan Sawal) mulai disebut-sebut ketika Sanjaya (723-732) hendak merebut Galuh dari tangan Purbasora, ketika itu Sanjaya mendapat bantuan pasukan khusus dari Rabuyut Sawal (Panjalu) yang merupakan sahabat ayahnya, Sena (709-716).

Sementara itu jika dirunut melalui catatan silsilah Panjalu sampai keturunannya sekarang, maka Sanghyang Borosngora diperkirakan hidup pada tahun 1400-an atau paling tidak sezaman dengan Sunan Gunung Jati Cirebon (1448-1568). Namun demikian, bukti-bukti cinderamata dari Sayidina Ali R.A. yang berupa pedang, tongkat dan pakaian kebesaran masih dapat dilihat dan tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Kabarnya pedang pemberian Baginda Ali itu pernah diteliti oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa kandungan logam dan besi yang membentuk pedang itu bukan berasal dari jenis bahan pembuatan senjata yang biasa dipakai para Empu dan Pandai Besi di Nusantara.

Sanghyang Borosngora, Walangsungsang dan Kian Santang

Kisah masuk Islamnya Sanghyang Borosngora yang diislamkan oleh Sayidina Ali R.A. ini mirip dengan kisah Kian Santang. Kian Santang adalah putera Prabu Siliwangi dari isteri keduanya yang bernama Nyai Subang Larang binti Ki Gedeng Tapa yang beragama Islam. Dari isteri keduanya ini Prabu Siliwangi mempunyai tiga orang putera-puteri yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Nyai Rara Santang, dan Kian Santang (Raja Sangara). Walangsungsang dan Rara Santang menuntut ilmu agama Islam mulai dari Pasai, Makkah, sampai ke Mesir; bahkan Rara Santang kemudian dinikahi oleh penguasa Mesir Syarif Abdullah atau Sultan Maulana Mahmud dan berputera Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Setelah naik haji Pangeran Cakrabuana berganti nama menjadi Syeikh Abdullah Iman, sedangkan Rara Santang setelah menikah berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Sementara itu, berbeda dengan kedua kakaknya; Kian Santang dikisahkan memeluk Islam setelah bertemu dengan Baginda Ali lalu kembali ke tanah air untuk menyampaikan syiar Islam kepada sang ayah: Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi yang tidak bersedia memeluk Islam lalu menghilang beserta seluruh pengikutnya di ”Leuweung Sancang” (hutan Sancang di daerah Garut sekarang). Kian Santang yang juga berganti nama menjadi Syeikh Mansyur, melanjutkan syiar Islamnya dan kemudian dikenal sebagai Sunan Rahmat Suci atau Sunan Godog yang petilasannya terdapat di Garut.

Sanghyang Borosngora versi Sejarah Cianjur

Menurut versi Sejarah Cianjur, Sanghyang Borosngora dikenal sebagai Prabu Jampang Manggung. Nama aslinya adalah Pangeran Sanghyang Borosngora, ia putera kedua Adipati Singacala (Panjalu) yang bernama Prabu Cakradewa. Prabu Cakradewa sendiri adalah putera Sedang Larang, Sedang Larang adalah putera Ratu Prapa Selawati.

Sanghyang Borosngora adalah putera Prabu Cakradewa dari permaisuri yang bernama Ratu Sari Permanadewi. Ratu Sari Permanadewi adalah putera keenam dari Adipati Wanaperi Sang Aria Kikis, jadi Sanghyang Borosngora adalah saudara misan Dalem Cikundul.

Sanghyang Borosngora mempunyai empat orang saudara dan pada usia 14 tahun ia diperintah sang ayah untuk berziarah ke tanah suci Mekkah. Pada bulan Safar 1101 H Sanghyang Borosngora berangkat ke Mekkah yang lama perjalanannya adalah 6 tahun.

Sepulang dari tanah suci, Sanghyang Borosngora mendapat julukan Syeikh Haji Sampulur Sauma Dipa Ulama. Tiba di kampung halamannya Kerajaan Singacala, sang ayah ternyata telah meninggal dunia. Borosngora kemudian berniat menurunkan ilmunya dan menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat Pajajaran Girang dan Pajajaran Tengah, karena itu Borosngora mengembara ke nagari Sancang dan tanah Jampang.

Pada hitungan windu pertama, Sanghyang Borosngora melakukan perjalanan kunjungan ke tanah leluhurnya di Karantenan Gunung Sawal, nagari Sancang, Parakan Tilu, Kandangwesi, Gunung Wayang, Gunung Kendan (Galuh Wiwitan), Dayeuhkolot (Sagalaherang), nagari Wanayasa Rajamantri, Bayabang (menemui Kyai Nagasasra), Paringgalaya (sekarang sudah terbenam oleh Waduk Jatiluhur) dan kemudian kembali ke Gunung Wayang.

Pada windu kedua ia berangkat ke Jampang Wetan, Gunung Patuha, Gunung Pucung Pugur, Pasir Bentang, Gunung Masigit, Pager Ruyung, Pagelarang, Jampang Tengah, Curug Supit, Cihonje, Teluk Ratu, Gunung Sunda, Cipanegah, Cicatih kemudian mengunjungi Salaka Domas di Sela Kancana, Cipanengah, Cimandiri.

Windu ketiga Sanghyang Borosngora pergi ke Jampang Tengah mendirikan padepokan di Hulu Sungai Cikaso, Taman Mayang Sari (kuta jero), Jampang Kulon. Di tempat ini ia dikenal dengan nama Haji Soleh dan Haji Mulya. Setelah itu ia kembali ke Cipanengah, Gunung Rompang, di tempat ini ia dikenal sebagai Syeikh Haji Dalem Sepuh.

Sanghyang Borosngora menikahi seorang gadis yatim, cucu angkat Kanjeng Kiai Cinta Linuwih di Gunung Wayang. Gadis yatim ini adalah turunan langsung Senapati Amuk Murugul Sura Wijaya, Mantri Agung Mareja, wakil Sri Maharaja Pajajaran untuk wilayah Cirebon Girang dan Tengah.

Padaa windu ketiga, ia memiliki dua orang putra yaitu Hariang Sancang Kuning dan Pangeran Hariang Kancana. Sanghyang Borosngora hidup sampai usia lanjut, ia wafat setelah dari Gunung Rompang serta dimakamkan di suatu tempat di tepi [[sungai Cileuleuy]], Kp Langkob, Desa Ciambar, Kecamatan Nagrak, Sukabumi.

Putra cikalnya yaitu Hariang Sancang Kuning melakukan napak tilas perjalanan mendiang ayahnya ke Pajajaran Girang dan Tengah, kemudian ke Singacala (Panjalu). Ia wafat dan dimakamkan di Cibungur, selatan Panjalu. Salah seorang keturunannya yang terkenal adalah Raden Alit atau Haji Prawata Sari yang gigih menentang penjajah Belanda. Ia dikenal sebagai pemberontak yang sangat ditakuti berjuluk “Karaman Jawa”. Sedangkan adik Sancang Kuning yakni Pangeran Hariang Kancana menjadi Adipati Singacala kemudian hijrah ke Panjalu, setelah wafat ia dimakamkan di Giri Wanakusumah, Situ Panjalu.

”’Pertemuan para raja di Gunung Rompang”’

Pada suatu masa beberapa orang raja dan adipati dari bekas kawasan Pajajaran tengah dan Pajajaran girang yang mencakup wilayah Cianjur, Sukabumi dan sekitarnya berkumpul di puncak gunung yang biasa dipakai sebagai lokasi musyawarah oleh para raja dan adipati yaitu di Gunung Rompang (dalam bhs. Sunda istilah ”rompang” menunjukan keadaan senjata pedang, golok atau pisau yang sudah retak bergerigi karena terlalu sering dipakai). Dinamai Gunung Rompang karena pada masa akhir berdirinya kerajaan Sunda Pajajaran setelah melewati perang selama 50 tahun, senjata para prajurit Pajajaran telah menjadi ”rompang” karena dipakai bertempur terus-menerus.

Lokasi ini dikenal juga sebagai “Karamat Pasamoan”, adapun tokoh-tokoh yang hadir pada pertemuan itu adalah :

1. Syeikh Dalem Haji Sepuh Sang Prabu Jampang Manggung yang berasal dari negeri Singacala (Panjalu) bawahan Galuh, di tanah Pajampangan ia dikenal dengan berbagai julukan yaitu sebagai Syeikh Haji Mulya, Syeikh Haji Sholeh, dan Syeikh Aulia Mantili.

2. Kanjeng Aria Wira Tanu Cikundul atau Pangeran Jaya Lalana, bergelar Raden Ngabehi Jaya Sasana, Pangeran Panji Nata Kusumah.

3. Raden Sanghyang Panaitan atau Raden Widaya bergelar Pangerang Rangga Sinom di

Sedang, Kanjeng Adipati Sukawayana.

4. Raden Adipati Lumaju Gede Nyilih Nagara di Cimapag.

5. Kanjeng Kyai Aria Wangsa Merta dari Tarekolot, Cikartanagara.

6. Kanjeng Dalem Nala Merta dari Cipamingkis.

7. Pangeran Hyang Jaya Loka dari Cidamar.

8. Pangeran Hyang Jatuna dari Kadipaten Kandang Wesi.

9. Pangeran Hyang Krutu Wana dari Parakan Tiga.

10. Pangeran Hyang Manda Agung dari Sancang.

Tujuan pertemuan para raja ini adalah untuk membahas keinginan para raja dan adipati untuk menjalin kerjasama yang lebih erat terutama dalam usaha menangkal serangan musuh dari luar. Untuk itu dibutuhkan adanya seorang pemimpin yang tangguh, pemimpin yang memegang tangkai, yang disebut sebagai Raja Gagang (Raja pemegang tangkai). Prabu Jampang Manggung mengusulkan agar Aria Wira Tanu Dalem Cikundul yang ditunjuk sebagai Raja Gagang, dan usul ini diterima oleh semua tokoh yang hadir.

Akhirnya, setelah menjalankan Salat Jum’ah yang bertepatan dengan bulan purnama Rabiul Awal 1076 H atau 2 September 1655 berdiri negeri Cianjur yang merupakan negeri merdeka dan berdaulat, tidak tunduk kepada Kompeni, Mataram maupun Banten, hanya tunduk kepada Allah SWT. Negeri ini dipimpin oleh Aria Wira Tanu, Dalem Cikundul sebagai Raja Gagang.

”’Pemberontakan Raden Haji Alit Prawatasari”’

[[Berkas:RH Prawatasari.jpeg|thumb|left|RH Alit Prawatasari]]Raden Haji Alit Prawatasari adalah seorang ulama dari Jampang yang juga merupakan keturunan Sancang Kuning dari Singacala (Panjalu). Pemberontakan Raden Haji Alit Prawatasari dimulai pada bulan Maret 1703 dan terjadi sangat dahsyat. Haji Prawatasari sanggup memobilisasi rakyat menjadi pasukannya sebanyak 3000 orang sehingga membuat VOC kalang kabut. Pada suatu ketika tersebar berita bahwa RH Alit Prawatasari telah tewas. Pieter Scorpoi komandan pasukan VOC segera saja menawan dan menggiring seluruh warga Jampang yang mencapai 1354 orang untuk menjalani hukuman di Batavia melewati Cianjur.

Tujuan VOC tidak lain adalah untuk menghancurkan semangat dan kekuatan pengikut RH Alit Prawatasari. Penduduk Jampang yang berbaris sepanjang jalan itu sebagian besar tewas diperjalanan, yang tersisa hanyalah 582 orang dengan kondisi yang menyedihkan, mereka kemudian digiring terus menuju ke Bayabang.

Pada waktu itu sesungguhnya RH Alit Prawatasari tidak tewas melainkan sedang mengumpulkan ”wadya balad” (pengikut) yang sangat besar, ia kemudian memimpin penyerbuan ke kabupaten priangan wetan (timur). Pada tahun 1705 RH Alit Prawatasari muncul lagi di Jampang dan kemudian mengepung sekeliling Batavia, pada sekitar Januari di dekat Bogor.

Dikarenakan VOC tak mampu menangkap RH Alit Prawatasari, tiga orang tokoh masyarakat yang ditangkap di Kampung Baru, Bogor dieksekusi mati oleh VOC. Pada bulan Maret RH Alit Prawatasari membuat kekacauan di Sumedang utara, kemudian pada Agustus 1705 RH Alit Prawatasari berhasil mengalahkan pasukan Belanda yang mencoba mengejar dan menangkapnya melalui tiga kali pertempuran.

Akibat kegagalan-kegalannya menangkap RH Alit Prawatasari, maka VOC menjatuhkan hukuman berat kepada siapa saja yang disangka membantu RH Alit Prawatasari, namun jumlah pengikutnya bukan berkurang malah semakin bertambah banyak karena rakyat bersimpati kepada perjuangannya.

Pihak Belanda lalu mengeluarkan ultimatum dan tenggat waktu selama enam bulan kepada para bupati di Tatar Sunda agar menangkap RH Alit Prawatasari. Pada tahun 1706 RH Alit Prawatasari meninggalkan Tatar Sunda menuju ke Jawa Tengah. RH Alit Prawatasari akhirnya tertangkap di Kartasura setelah ditipu oleh Belanda pada tangal 12 Juli 1707.

Makam pahlawan yang terlupakan ini terletak di Dayeuh Luhur, Cilacap. Penduduk setempat menyebutnya sebagai makam turunan Panjalu, makamnya ini sampai sekarang masih sering diziarahi oleh penduduk sekitar dan peziarah dari Ciamis.

Prabu Rahyang Kuning

Rahyang Kuning atau Hariang Kuning menggantikan Sanghyang Borosngora menjadi Raja Panjalu, akibat kesalahpahaman dengan adiknya yang bernama Rahyang Kancana sempat terjadi perseteruan yang akhirnya dapat didamaikan oleh Guru Aji Kampuh Jaya dari Cilimus. Rahyang Kuning kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana.

Menurut Babad Panjalu, perselisihan ini dikenal dengan peristiwa ”Ranca Beureum”. Peristiwa ini terjadi sewaktu Prabu Rahyang Kuning bermaksud menguras air Situ Lengkong untuk diambil ikannya (Sunda:”ngabedahkeun”). Rahyang Kuning mengutus patih kerajaan untuk menjemput sang ayah Sanghyang Borosngora di Jampang Manggung agar menghadiri acara itu. Namun karena Sanghyang Borosngora berhalangan, maka ia menunjuk Rahyang Kancana untuk mewakili sang ayah menghadiri acara tersebut.

Berhubung hari yang telah ditentukan untuk perayaan itu semakin dekat, Rahyang Kuning memerintahkan para abdinya untuk mulai membobol Situ Lengkong sambil menunggu kedatangan ayahnya, air pembuangannya dialirkan melalui daerah jalan Sriwinangun sekarang. Sang Prabu turun langsung memimpin para abdi dan rakyatnya berbasah-basahan di tengah cuaca dingin di pagi buta itu. Untuk sekedar menghangatkan badan, Rahyang Kuning menyalakan api unggun sambil berdiang menghangatkan telapak tangannya menghadap ke arah barat.

Pada saat yang bersamaan dari arah barat, sang adik Rahyang Kancana bersama rombongan pasukan pengawalnya tiba di sekitar daerah Sriwinangun yang akan dilewati dan terkejut mendapati Situ Lengkong telah mulai dikeringkan tanpa menunggu kedatangannya sebagai wakil sang ayah. Rahyang Kancana yang tersinggung lalu membendung saluran pembuangan air itu dengan tergesa-gesa. Akibatnya meskipun sudah dibendung, tetapi tempat itu masih dipenuhi rembesan air dan gundukan tanah tak beraturan sehingga sampai sekarang tempat itu dikenal dengan nama Cibutut (Bhs. Sunda:” butut” artinya jelek).

Rahyang Kuning yang tengah menghangatkan telapak tangannya menghadapi api unggun terkejut melihat kedatangan Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya yang dipenuhi emosi. Sebaliknya Rahyang Kancana mengira kakaknya itu sedang menunggu untuk menantangnya adu kesaktian karena ia telah membendung air Situ Lengkong supaya tidak kering. Singkat cerita, akibat kesalahpahaman tersebut terjadilah duel pertarungan antara Rahyang Kancana bersama pasukan pengawalnya melawan Rahyang Kuning bersama pasukan pengawal kerajaan, akibat pertempuran itu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak, akibatnya sebuah ”ranca” (rawa atau danau dangkal) airnya menjadi berwarna merah oleh genangan darah sehingga sampai sekarang dikenal dengan nama Ranca Beureum (Bhs. Sunda: ”beureum” artinya merah).

Perang saudara ini baru berakhir setelah didamaikan oleh Guru Aji Kampuhjaya, ulama kerajaan yang sangat dihormati sekaligus sahabat Prabu Sanghyang Borosngora. Rahyang Kuning yang menyesal karena telah menimbulkan perselisihan tersebut menyerahkan tahta Panjalu kepada Rahyang Kancana dan meninggalkan kaprabon lalu mengembara ke wilayah selatan Galuh.

Rahyang Kuning di akhir hayatnya menjadi Raja di Kawasen (Ciamis Selatan), jasadnya dibawa pulang ke Panjalu dan dimakamkan di Kapunduhan Cibungur, [[Kertamandala, Panjalu, Ciamis|Desa Kertamandala]], [[Panjalu, Ciamis|Kecamatan Panjalu]].

Prabu Rahyang Kancana

Rahyang Kancana atau Hariang Kancana melanjutkan tahta Panjalu dari kakaknya, untuk melupakan peristiwa berdarah perang saudara di Ranca Beureum ia memindahkan kaprabon dari Nusa Larang ke Dayeuh Nagasari, sekarang termasuk wilayah Desa Ciomas Kecamatan Panjalu.

Rahyang Kancana mempunyai dua orang putera yaitu:

1) ”’Rahyang Kuluk Kukunangteko”’, dan

2) Rahyang Ageung.

Prabu Rahyang Kancana setelah mangkat dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong. Pusara Prabu Rahyang Kancana sampai sekarang selalu ramai didatangi para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko

Rahyang Kuluk Kukunangteko atau Hariang Kuluk Kukunangteko menggantikan Rahyang Kancana menduduki tahta Panjalu, ia didampingi oleh adiknya yang bernama Rahyang Ageung sebagai Patih Panjalu. Sang Prabu mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kanjut Kadali Kancana.

Pusara Rahyang Kuluk Kukunangteko terletak di Cilanglung, Simpar, Panjalu.

Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana

Rahyang Kanjut Kadali Kancana atau Hariang Kanjut Kadali Kancana menggantikan ayahnya sebagai Raja Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Rahyang Kadacayut Martabaya. Rahyang Kanjut Kadali Kancana setelah mangkat dipusarakan di Sareupeun Hujungtiwu, Panjalu.

Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya

Rahyang Kadacayut Martabaya atau Hariang Kadacayut Martabaya naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia mempunyai seorang anak bernama Rahyang Kunang Natabaya.

Rahyang Kadacayut Martabaya jasadnya dipusarakan di Hujungwinangun, Situ Lengkong Panjalu.

Prabu Rahyang Kunang Natabaya

Rahyang Kunang Natabaya atau Hariang Kunang Natabaya menduduki tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia menikah dengan Apun Emas. Apun Emas adalah anak dari penguasa Kawali bernama Pangeran Mahadikusumah atau Apun di Anjung yang dikenal juga sebagai Maharaja Kawali (1592-1643) putera Pangeran Bangsit (1575-1592) (Djadja Sukardja, 2007: 33). Sementara adik Apun Emas yang bernama Tanduran di Anjung menikah dengan Prabu di Galuh Cipta Permana (1595-1608) dan menurunkan Adipati Panaekan.

Dari perkawinannya dengan Nyai Apun Emas, Prabu Rahyang Kunang Natabaya mempunyai tiga orang putera yaitu :

1) Raden Arya Sumalah,

2)”’ Raden Arya Sacanata”’, dan

3) Raden Arya Dipanata (kelak diangkat menjadi Bupati Pagerageung oleh Mataram).

Pada masa kekuasaan Prabu Rahyang Kunang Natabaya ini, Panembahan Senopati ([[1586]]-[[1601]]) berhasil menaklukkan Cirebon beserta daerah-daerah bawahannya termasuk Panjalu dan Kawali menyusul kemudian Galuh pada tahun 1618.

Pusara Prabu Rahyang Kunang Natabaya terletak di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.

Raden Arya Sumalah

Arya Sumalah naik tahta Panjalu bukan sebagai Raja, tapi sebagai Bupati di bawah kekuasaan Mataram. Ia menikah dengan Ratu Tilarnagara puteri dari Bupati Talaga yang bernama Sunan Ciburuy atau yang dikenal juga dengan nama Pangeran Surawijaya, dari pernikahannya itu Arya Sumalah mempunyai dua orang anak, yaitu:

1) Ratu Latibrangsari dan

2) Raden Arya Wirabaya.

Arya Sumalah setelah wafat dimakamkan di Buninagara Simpar, Panjalu.

Pangeran Arya Sacanata atau Pangeran Arya Salingsingan

Raden Arya Sumalah wafat dalam usia muda dan meninggalkan putera-puterinya yang masih kecil. Untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Kabupaten Panjalu Raden Arya Sacanata diangkat oleh Sultan Agung (1613-1645) sebagai Bupati menggantikan kakaknya dengan gelar Pangeran Arya Sacanata.

Pangeran Arya Sacanata juga memperisteri Ratu Tilarnagara puteri Bupati Talaga Sunan Ciburuy yang merupakan janda Arya Sumalah. Pangeran Arya Sacanata mempunyai banyak keturunan, baik dari garwa padminya yaitu Ratu Tilarnagara maupun dari isteri-isteri selirnya (ada sekitar 20 orang anak), anak-anaknya itu dikemudian hari menjadi pembesar-pembesar di tanah Pasundan.

Dua belas diantara putera-puteri Pangeran Arya Sacanata itu adalah:

1) Raden Jiwakrama (Cianjur),

2) Raden Ngabehi Suramanggala,

3) Raden Wiralaksana (Tengger, Panjalu),

4) Raden Jayawicitra (Pamekaran, Panjalu),

5) Raden Dalem Singalaksana (Cianjur),

6) Raden Dalem Jiwanagara (Bogor),

7) ”’Raden Arya Wiradipa”’ (Maparah, Panjalu),

8) Nyi Raden Lenggang,

9) Nyi Raden Tilar Kancana,

10) Nyi Raden Sariwulan (Gandasoli, Sukabumi),

11) Raden Yudaperdawa (Gandasoli, Sukabumi), dan

12) Raden Ngabehi Dipanata.

Putera Sultan Agung, Sunan Amangkurat I (1645-1677) pada tahun 1656-1657 secara sepihak mencopot jabatan Pangeran Arya Sacanata sebagai Bupati Panjalu yang diangkat oleh Sultan Agung serta menghapuskan Kabupaten Panjalu dengan membagi wilayah Priangan menjadi 12 ”Ajeg”; salah satunya adalah Ajeg Wirabaya yang meliputi wilayah Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang serta dikepalai oleh keponakan sekaligus anak tirinya yaitu Raden Arya Wirabaya sehingga membuat Pangeran Arya Sacanata mendendam kepada Mataram.

Suatu ketika Pangeran Arya Sacanata ditunjuk oleh mertuanya yang juga Bupati Talaga Sunan Ciburuy untuk mewakili Talaga mengirim seba (upeti) ke Mataram. Pada kesempatan itu Pangeran Arya Sacanata menyelinap ke peraduan Sinuhun Mataram dan mempermalukanya dengan memotong sebelah kumisnya sehingga menimbulkan kegemparan besar di Mataram. Segera saja Pangeran Arya Sacanata menjadi buruan pasukan Mataram, namun hingga akhir hayatnya Pangeran Arya Sacanata tidak pernah berhasil ditangkap oleh pasukan Mataram sehingga ia mendapat julukan Pangeran Arya Salingsingan (dalam Bahasa Sunda kata “”salingsingan”” berarti saling berpapasan tapi tidak dikenali).

Pangeran Arya Sacanata menghabiskan hari tuanya dengan meninggalkan kehidupan keduniawian dan memilih hidup seperti petapa mengasingkan diri di tempat-tempat sunyi di sepanjang hutan pegunungan dan pesisir Galuh. Mula-mula ia mendirikan padepokan di Gandakerta sebagai tempatnya berkhalwat (menyepi), Sang Pangeran kemudian berkelana ke Palabuhan Ratu, Kandangwesi, Karang, Lakbok, kemudian menyepi di Gunung Sangkur, Gunung Babakan Siluman, Gunung Cariu, Kuta Tambaksari dan terakhir di Nombo, Dayeuhluhur. Pangeran Arya Sacanata wafat dan dipusarakan di Nombo, [[Kecamatan Dayeuhluhur]], [[Kabupaten Cilacap]], [[Jawa Tengah]].

Raden Arya Wirabaya

Sewaktu Sunan Amangkurat I berkuasa ([[1645-1677]]) pada sekitar tahun [[1656-1657]] wilayah ”Mancanagara Kilen” (Mataram Barat) dibagi menjadi dua belas ”Ajeg” (daerah setingkat kabupaten) serta menghapuskan jabatan Wedana Bupati Priangan, keduabelas Ajeg itu adalah: Sumedang, Parakan Muncang (Bandung Timur), Bandung, Sukapura (Tasikmalaya), Karawang, Imbanagara (Ciamis), Kawasen (Ciamis Selatan), ”’Wirabaya”’ (Ciamis Utara termasuk Kabupaten Panjalu, Utama dan Bojonglopang), Sindangkasih (Majalengka), Banyumas, Ayah/Dayeuhluhur (Kebumen, Cilacap) dan Banjar (Ciamis Timur).

Pada waktu itulah Arya Wirabaya diangkat oleh Sunan Amangkurat I menjadi Kepala Ajeg Wirabaya sekaligus menggantikan Pangeran Arya Sacanata yang tidak lagi menjabat Bupati karena Kabupaten Panjalu telah dihapuskan dan dimasukkan kedalam Ajeg Wirabaya.

Arya Wirabaya mempunyai seorang putera yang bernama Raden Wirapraja, setelah wafat jasad Arya Wirabaya dimakamkan di Cilamping, Panjalu, Ciamis

Raden Tumenggung Wirapraja

Raden Wirapraja menggantikan ayahnya menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Wirapraja. Pada masa pemerintahannya kediaman bupati dipindahkan dari Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu sekarang.

Tumenggung Wirapraja setelah mangkat dimakamkan di Kebon Alas Warudoyong, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara I

Salah seorang putera Pangeran Arya Sacanata yang bernama Arya Wiradipa memperisteri Nyi Mas Siti Zulaikha puteri Tandamui dari Cirebon, ia bersama kerabat dan para ”kawula-balad” (abdi dan rakyatnya) dari keraton Talaga mendirikan pemukiman yang sekarang menjadi Desa Maparah, Panjalu. Dari pernikahannya itu Arya Wiradipa mempunyai empat orang anak, yaitu:

1) Raden Ardinata,

2) Raden Cakradijaya,

3) ”’Raden Prajasasana”’, dan

4) Nyi Raden Ratna Gapura.

Raden Prajasasana yang setelah dewasa dikenal juga dengan nama Raden Suragostika mengabdi sebagai pamong praja bawahan Pangeran Arya Cirebon (1706-1723) yang menjabat sebagai ”Opzigter” (Pemangku Wilayah) VOC untuk wilayah Priangan (Jawa Barat) dan bertugas mengepalai dan mengatur para bupati Priangan. Raden Suragostika yang dianggap berkinerja baik dan layak menduduki jabatan bupati kemudian diangkat oleh Pangeran Arya Cirebon menjadi Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara menggantikan Tumenggung Wirapraja.

Tumenggung Cakranagara I memperisteri Nyi Raden Sojanagara puteri Ratu Latibrang Sari (kakak Arya Wirabaya) sebagai ”garwa padmi” (permaisuri) dan menurunkan tiga orang putera, yaitu:

1) ”’Raden Cakranagara II”’,

2) Raden Suradipraja, dan

3) Raden Martadijaya.

Sementara dari ”garwa ampil” (isteri selir) Tumenggung Cakranagara I juga mempunyai empat orang puteri, yaitu:

1) Nyi Raden Panatamantri,

2) Nyi Raden Widaresmi.

3) Nyi Raden Karibaningsih, dan

4) Nyi Raden Ratnaningsih.

Tumenggung Cakranagara I setelah wafat dimakamkan di Cinagara, Desa Simpar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara II

Raden Cakranagara II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara II, sedangkan adiknya yang bernama Raden Suradipraja diangkat menjadi Patih Panjalu dengan gelar Raden Demang Suradipraja.

Tumenggung Cakranagara II mempunyai enam belas orang anak dari ”garwa padmi” dan isteri selirnya, keenambelas putera-puterinya itu adalah:

1) Nyi Raden Wijayapura,

2) Nyi Raden Natakapraja,

3) Nyi Raden Sacadinata,

4) Raden Cakradipraja,

5) Raden Ngabehi Angreh,

6) ”’Raden Dalem Cakranagara III”’,

7) Nyi Raden Puraresmi,

8) Nyi Raden Adiratna,

9) Nyi Raden Rengganingrum,

10) Nyi Raden Janingrum,

11) Nyi Raden Widayaresmi,

12) Nyi Raden Murdaningsih,

13) Raden Demang Kertanata,

14) Raden Demang Argawijaya,

15) Nyi Raden Adipura, dan

16) Nyi Raden Siti Sarana.

Tumenggung Cakranagara II setelah wafat dimakamkan di Puspaligar, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.

Raden Tumenggung Cakranagara III

Raden Cakranagara III sebagai putera tertua dari” garwa padmi” (permaisuri) menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Panjalu dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara III.

Tahun 1810 wilayah Kawali yang dikepalai Raden Adipati Mangkupraja III (1801-1810) digabungkan kedalam wilayah Kabupaten Panjalu dibawah Raden Tumenggung Cakranagara III yang sama-sama berada dalam wilayah administratif Cirebon. Wilayah Kawali ini kemudian dikepalai oleh Raden Tumenggung Suradipraja I (1810-1819) yang menginduk ke Kabupaten Panjalu.

Pada tahun 1819 ketika Pemerintah [[Hindia-Belanda]] dibawah pimpinan Gubernur Jenderal [[G.A.G.Ph. Baron Van der Capellen]] ([[1816-1836]]) dikeluarkanlah kebijakan untuk ”’menggabungkan Kabupaten Panjalu, Kawali, Distrik Cihaur dan Rancah kedalam Kabupaten Galuh”’. Berdasarkan hal itu maka Tumenggung Cakranagara III dipensiunkan dari jabatannya sebagai Bupati Panjalu dan sejak itu Panjalu menjadi kademangan (daerah setingkat wedana) di bawah Kabupaten Galuh.

Pada tahun itu Bupati Galuh Tumenggung Wiradikusumah digantikan oleh puteranya yang bernama Adipati Adikusumah (1819-1839), sedangkan di Panjalu pada saat yang bersamaan putera tertua Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Sumawijaya diangkat menjadi Demang (Wedana) Panjalu dengan gelar ”’Raden Demang Sumawijaya”’, sementara itu putera ketujuh Tumenggung Cakranagara III yang bernama Raden Cakradikusumah diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar ”’Raden Arya Cakradikusumah”’.

Tumenggung Cakranagara III mempunyai dua belas orang putera-puteri, yaitu:

1) ”’Raden Sumawijaya”’ Demang Panjalu (Nusa Larang, Panjalu),

2) Raden Prajasasana Kyai Sakti (Nusa Larang, Panjalu),

3) Raden Aldakanata,

4) Raden Wiradipa,

5) Nyi Raden Wijayaningrum,

6) Raden Jibjakusumah,

7) Raden Cakradikusumah (Wedana Kawali),

8) Raden Cakradipraja,

9) Raden Baka,

10) Nyi Raden Kuraesin,

11) Raden Raksadipraja (Kuwu Ciomas, Panjalu), dan

12) Raden Prajadinata (Kuwu Maparah, Panjalu), penulis naskah Babad Panjalu dalam bahasa Sunda dengan aksara latin (tersimpan di Perpustakaan Nasional RI), wafat di Mekkah.

”’Tumenggung Cakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora.”’

Raden Demang Sumawijaya

Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya. Adiknya yang bernama Raden Cakradikusumah pada waktu yang berdekatan juga diangkat menjadi Wedana Kawali dengan gelar Raden Arya Cakradikusumah. Demang Sumawijaya mempunyai tiga orang anak, yaitu:

1) ”’Raden Aldakusumah”’,

2) Nyi Raden Asitaningsih, dan

3) Nyi Raden Sumaningsih.

”’Demang Sumawijaya setelah wafat dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu”’.

Raden Demang Aldakusumah

Raden Aldakusumah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Aldakusumah, ia menikahi Nyi Raden Wiyata (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan mempunyai empat orang anak, yaitu:

1)”’ Raden Kertadipraja”’ (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

2) Nyi Raden Wijayaningsih,

3) Nyi Raden Kasrengga (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan

4) Nyi Raden Sukarsa-Karamasasmita (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu).

Semantara itu adik sepupunya yang bernama Raden Argakusumah (putera Wedana Kawali Raden Arya Cakradikusumah) diangkat menjadi Bupati Dermayu (sekarang [[Indramayu]]) dengan gelar Raden Tumenggung Cakranagara IV. ”’Raden Demang Aldakusumah dan Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV) setelah wafatnya dimakamkan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu”’.

Raden Kertadipraja

Putera tertua Demang Aldakusumah yang bernama ”’Raden Kertadipraja”’ tidak lagi menjabat sebagai Demang Panjalu karena Panjalu kemudian dijadikan salah satu desa/kecamatan yang masuk kedalam wilayah kawedanaan Panumbangan Kabupaten Galuh, sementara ia sendiri tidak bersedia diangkat menjadi Kuwu (Kepala Desa) Panjalu. Pada tahun 1915 Kabupaten Galuh berganti nama menjadi Kabupaten Ciamis.

Raden Kertadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menikahi Nyi Mas Shinta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) dan menurunkan empat orang anak yaitu:

1) ”’Raden Hanafi Argadipraja”’ (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

2) Nyi Raden Aminah – Adkar (Cirebon),

3)Nyi Raden Hasibah – Junaedi (Reumalega, Desa Kertamandala Panjalu),

4) Nyi Raden Halimah – Suminta (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu),

5)”’ Raden Ahmad Kertadipraja”’ (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu), dan

6) Nyi Raden Aisah – Padma (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu)

Raden Hanafi Argadipraja

Raden Hanafi Argadipraja (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) mempersunting Nyi Raden Dewi Hunah Murtiningsih (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) puteri dari Kuwu Cimuncang (sekarang Desa Jayagiri Kecamatan Panumbangan Ciamis) yang bernama Raden Nitidipraja, penulis ”’catatan sejarah & silsilah Panjalu”’ dalam bahasa Sunda dengan aksara arab dan latin (makamnya di Puspaligar, Panjalu), dan dari pernikahannya itu menurunkan lima orang putera-puteri:

1) Nyi Raden Sukaesih-Raden Abdullah Suriaatmaja,

2) ”’H. Raden Muhammad Tisna Argadipraja”’,

3) ”’Raden Galil Aldar Argadipraja”’,

4) Hj. Nyi Raden Siti Maryam-H.Encur Mansyur,

5) Nyi Raden Siti Rukomih-Raden Sukarsana Sadhi Pasha.

Sedangkan adik Raden Hanafi Argadipraja, yakni ”’Raden Ahmad Kertadipraja”’ (Reumalega, Desa Kertamandala, Panjalu) menurunkan empat orang anak:

1) H. Raden Afdanil Ahmad,

2) Raden Nasuha Ahmad,

3) Nyi Raden Nia Kania, dan

4) Raden Ghia Subagia.

Batara Tesnajati

Batara Tesnajati adalah tokoh pendiri Kabataraan Gunung Sawal, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Layah. Petilasan Batara Tesnajati terdapat di Karantenan Gunung Sawal.

Batara Layah

Batara Layah menggantikan ayahnya sebagai Batara di Karantenan Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Batara Karimun Putih.

Batara Karimun Putih

Ia menggantikan ayahnya menjadi Batara di Gunung Sawal Panjalu, ia mempunyai seorang putera bernama Prabu Sanghyang Rangga Sakti. Petilasan Batara Karimun Putih terletak di Pasir Kaputihan, Gunung Sawal.

Prabu Sanghyang Rangga Gumilang

Sanghyang Rangga Gumilang naik tahta Panjalu menggantikan ayahnya, ia dikenal juga sebagai Sanghyang Rangga Sakti dan pada masa pemerintahaanya terbentuklah suatu pemerintahan yang berpusat di Dayeuhluhur Maparah setelah berakhirnya masa Kabataraan di Karantenan Gunung Sawal Panjalu.

Sanghyang Rangga Gumilang menikahi seorang puteri Galuh bernama Ratu Permanadewi dan mempunyai seorang putera bernama Sanghyang Lembu Sampulur. Petilasan Prabu Sanghyang Rangga Gumilang terletak di Cipanjalu.

Prabu Sanghyang Lembu Sampulur II

Sanghyang Lembu Sampulur II naik tahta menggantikan Prabu Sanghyang Cakradewa, akan tetapi ia kemudian menyerahkan singgasana kerajaan kepada adiknya yaitu Sanghyang Borosngora,sedangkan ia sendiri hijrah dan mendirikan kerajaan baru di Cimalaka [[Gunung Tampomas]] (Sumedang).

Prabu Sanghyang Borosngora

Sanghyang Borosngora naik tahta Panjalu menggantikan posisi kakaknya, ia kemudian membangun keraton baru di Nusa Larang. Adiknya yang bernama Sanghyang Panji Barani diangkat menjadi Patih Panjalu. Di dalam Babad Panjalu tokoh Prabu Sanghyang Borosngora ini dikenal sebagai penyebar Agama Islam dan Raja Panjalu pertama yang menganut Islam, benda-benda pusaka peninggalannya masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit dan dikirabkan pada setiap bulan Maulud setelah terlebih dulu disucikan dalam rangkaian prosesi acara adat Nyangku.

Sanghyang Borosngora mempunyai dua orang putera yaitu:

1) Rahyang Kuning, dan

2) ”’Rahyang Kancana.”’

Prabu Sanghyang Borosngora juga didamping oleh Guru Aji Kampuhjaya dan Bunisakti, dua orang ulama kerajaan yang juga merupakan senapati-senapati pilih tanding.

Petilasan Prabu Sanghyang Borosngora terdapat di Jampang Manggung ([[Kabupaten Sukabumi|Sukabumi]]), sedangkan petilasan Sanghyang Panji Barani terdapat di Cibarani (Banten).

Sanghyang Borosngora dan Hyang Bunisora Suradipati

Hyang Bunisora Suradipati adalah adik Maharaja Sunda yang bernama Maharaja Linggabuana. Sang Maharaja terkenal sebagai Prabu Wangi yang gugur sebagai pahlawan di palagan Bubat melawan tentara Majapahit pada tahun 1357. Ketika peristiwa memilukan itu terjadi puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana baru berusia 9 tahun, untuk itu Hyang Bunisora menjabat sebagai Mangkubumi Suradipati mewakili keponakannya itu atas tahta Kawali .

Hyang Bunisora juga dikenal sebagai Prabu Kuda Lelean dan Batara Guru di Jampang karena menjadi seorang petapa atau resi yang mumpuni di Jampang (Sukabumi). Nama Hyang Bunisora yang mirip dengan Sanghyang Borosngora dan gelarnya sebagai Batara Guru di Jampang menyiratkan adanya keterkaitan antara kedua tokoh ini, meskipun belum bisa dipastikan apakah kedua tokoh ini adalah orang yang sama. Jika ternyata kedua tokoh ini adalah orang yang sama, pastinya akan membuka salah satu lembar yang tersembunyi dari Sejarah Sunda.

Hyang Bunisora atau Mangkubumi Suradipati menikah dengan Dewi Laksmiwati dan menurunkan 4 (empat) anak (Djadja Sukardja,2007):

1). Giri Dewata (Gedeng Kasmaya) di Cirebon Girang menikahi Ratna Kirana puteri Ratu Cirebon Girang, di lereng Gunung Ciremai.

2). Bratalegawa (Haji baharudin/Haji Purwa) menikahi puteri Gujarat.

3). Ratu Banawati.

4). Ratu Mayangsari yang diperisteri Niskala Wastu Kancana.

Hyang Bunisora dikabarkan dimakamkan di Geger Omas, diperkirakan lokasi Geger Omas sekarang adalah Desa Ciomas (Panjalu Ciamis), di desa tersebut terdapat situs makam yang dikenal sebagai makam Dalem Penghulu Gusti dan Dalem Mangkubumi (Djadja Sukardja, 2007: 29-30).

Situ Lengkong

[[Berkas:Situlengkong.jpg|thumb|left|Situ Lengkong Panjalu Ciamis]]

Situ Lengkong sekarang termasuk kedalam wilayah Desa/Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Dalam Bahasa Sunda; kata ”situ” artinya danau. Situ Lengkong atau dikenal juga dengan Situ Panjalu terletak di ketinggian 700 m dpl. Di tengah danau tersebut terdapat sebuah pulau yang dinamai Nusa Larang atau Nusa Gede atau ada juga yang menyebutnya sebagai Nusa Panjalu. Menurut legenda rakyat dan Babad Panjalu, Situ Lengkong adalah sebuah danau buatan, sebelumnya daerah ini adalah kawasan legok (bhs. Sunda : lembah) yang mengelilingi bukit bernama Pasir Jambu (Bhs. Sunda: ”pasir” artinya bukit).

Ketika Sanghyang Borosngora pulang menuntut ilmu dari tanah suci Mekkah, ia membawa cinderamata yang salah satunya berupa air zamzam yang dibawa dalam gayung batok kelapa berlubang-lubang (”gayung bungbas”). Air zamzam itu ditumpahkan ke dalam lembah dan menjadi cikal-bakal atau induk air Situ Lengkong. Bukit yang ada di tengah lembah itu menjelma menjadi sebuah pulau dan dinamai Nusa Larang, artinya pulau terlarang atau pulau yang disucikan, sama halnya seperti kota Mekkah yang berjuluk tanah haram yaitu tanah terlarang atau tanah yang disucikan; artinya tidak sembarang orang boleh masuk dan terlarang berbuat hal yang melanggar pantangan atau hukum di kawasan itu.

Pada masa pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pulau ini dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu. Di Nusa Larang ini bersemayam juga jasad tokoh-tokoh Kerajaan Panjalu yaitu ”’Prabu Rahyang Kancana”’, ”’Raden Tumenggung Cakranagara III”’, ”’Raden Demang Sumawijaya”’, ”’Raden Demang Aldakusumah”’, ”’Raden Tumenggung Argakusumah (Cakranagara IV)”’ dan ”’Raden Prajasasana Kyai Sakti”’.

Situ Lengkong memiliki luas kurang lebih 67,2 hektare, sedangkan Nusa Larang mempunyai luas sekitar 16 hektare. Pulau ini telah ditetapkan sebagai cagar alam sejak tanggal 21 Februari 1919. Nusa Larang ini pada zaman Kolonial Belanda dinamai juga Pulau Koorders sebagai bentuk penghargaan kepada Dr Koorders, seorang pendiri sekaligus ketua pertama ”Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming”, yaitu sebuah perkumpulan perlindungan alam Hindia Belanda yang didirikan tahun 1863.

Sebagai seorang yang menaruh perhatian besar pada botani, Koorders telah memelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Pekerjaannya mengumpulkan ”herbarium” tersebut dilakukan bersama Th Valeton, seorang ahli” botani” yang membantu melakukan penelitian ilmiah komposisi hutan tropika.

Koorders dan rekannya itu pada akhirnya berhasil memberikan sumbangan pada dunia ilmu pengetahuan. Berkat kerja kerasnya kemudian terlahir buku ”Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java”, sebuah buku yang memberi sumbangan pengetahuan tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.

Sebagai cagar alam, Nusa Larang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Di sana terdapat beberapa jenis flora seperti Kondang (”Ficus variegata”), Kileho (”Sauraula Sp”), dan Kihaji (”Dysoxylum”). Di bagian pulau yang lebih rendah tumbuh tanaman Rotan (”Calamus Sp”), Tepus (”Zingiberaceae”), dan Langkap (”Arenga”).

Sedangkan fauna yang hidup di pulau itu antara lain adalah Tupai (”Calosciurus nigrittatus”), Burung Hantu (”Otus scop”), dan Kelelawar (”Pteropus vampyrus”).

Nyangku ;

Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penjamasan (penyucian) benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Istilah Nyangku berasal dari kata bahasa Arab “”yanko”” yang artinya membersihkan, mungkin karena kesalahan pengucapan lidah orang Sunda sehingga entah sejak kapan kata ”yanko” berubah menjadi ”nyangku”.Upacara Nyangku ini dilaksanakan pada Hari Senin atau Kamis terakhir Bulan Maulud (Rabiul Awal).

Dalam rangka mempersiapkan bahan-bahan untuk pelaksanaan upacara Nyangku ini pada jaman dahulu biasanya semua keluarga keturunan Panjalu menyediakan beras merah yang harus dikupas dengan tangan, bukan ditumbuk sebagaimana biasa. Beras merah ini akan digunakan untuk membuat tumpeng dan sasajen (sesaji). Pelaksanaan menguliti gabah merah dimulai sejak tanggal 1 Mulud sampai dengan satu hari sebelum pelaksanaan Nyangku.

Disamping itu, semua warga keturunan Panjalu melakukan ziarah ke makam Raja-raja Panjalu dan bupati-bupati penerusnya terutama makam Prabu Rahyang Kancana di Nusa Larang Situ Lengkong. Kemudian Kuncen (juru Kunci) Bumi Alit atau beberapa petugas yang ditunjuk panitia pelaksanaan Nyangku melakukan pengambilan air suci untuk membersihkan benda-benda pusaka yang berasal dari tujuh sumber mata air, yaitu:

1. Sumber air Situ Lengkong

2. Sumber air Karantenan Gunung Sawal

3. Sumber air Kapunduhan (makam Prabu Rahyang Kuning)

4. Sumber air Cipanjalu

5. Sumber air Kubang Kelong

6. Sumber air Pasanggrahan

7. Sumber air Bongbang Kancana

Bahan-bahan lain yang diperlukan dalam pelaksanan upacara Nyangku adalah tujuh macam sesaji termasuk umbi-umbian, yaitu:

1. Tumpeng nasi merah

2. Tumpeng nasi kuning

3, Ayam panggang

4. Ikan dari Situ Lengkong

5. Sayur daun kelor

6. Telur ayam kampung

7. Umbi-umbian

Selanjutnya disertakan pula tujuh macam minuman, yaitu:

1. Kopi pahit

2. Kopi manis

3. Air putih

4. Air teh

5. Air Mawar

6. Air Bajigur

7. Rujak Pisang

Kelengkapan prosesi adat lainnya adalah sembilan payung dan kesenian gembyung untuk mengiringi jalannya upacara.

Pada malam harinya sebelum upacara Nyangku, dilaksanakanlah acara Muludan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dihadiri oleh para sesepuh Panjalu serta segenap masyarakat yang datang dari berbagai pelosok sehingga suasana malam itu benar-benar meriah, apalagi biasanya di alun-alun Panjalu juga diselenggarakan pasar malam yang semarak.

Keesokan paginya dengan berpakaian adat kerajaan para sesepuh Panjalu berjalan beriringan menuju Bumi Alit tempat benda-benda pusaka disimpan. Kemudian dibacakan puji-pujian dan shalawat Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya benda-benda pusaka yang telah dibalut kain putih mulai disiapkan untuk diarak menuju tempat penjamasan. Perjalannya didiringi dengan irama gembyung (rebana) dan pembacaan Shalawat Nabi.

Setibanya di Situ Lengkong, dengan menggunakan perahu rombongan pembawa benda-benda pusaka itu menyeberang menuju Nusa Larang dengan dikawal oleh dua puluh perahu lainnya. Pusaka-pusaka kemudian diarak lagi menuju bangunan kecil yang ada di Nusa Larang. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara Nyangku ini. Selanjutnya benda-benda pusaka satu persatu mulai dibuka dari kain putih pembungkusnya.

Setelah itu benda-benda pusaka segera dibersihkan dengan tujuh sumber mata air dan jeruk nipis, dimulai dengan pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora dan dilanjutkan dengan pusaka-pusaka yang lain.

Tahap akhir, setelah benda-benda pusaka itu selesai dicuci lalu diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus untuk keperluan upacara ini, kemudian dibungkus kembali dengan cara melilitkan janur lalu dibungkus lagi dengan tujuh lapis kain putih dan diikat dengan memakai tali dari benang boeh. Setelah itu baru kemudian dikeringkan dengan asap kemenyan lalu diarak untuk disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit.

Upacara adat Nyangku ini mirip dengan upacara [[Sekaten]] di Yogyakarta juga [[Panjang Jimat]] di Cirebon, hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.

Bumi Alit

Pasucian Bumi Alit atau lebih populer disebut Bumi Alit saja, mulai dibangun sebagai tempat penyimpanan pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora oleh Prabu Rahyang Kancana di Dayeuh Nagasari, Ciomas. Kata-kata ”bumi alit” dalam Bahasa Sunda berarti “rumah kecil” .

Benda-benda pusaka yang tersimpan di Bumi Alit itu antara lain adalah:

1. Pedang, cinderamata dari Baginda Ali RA, sebagai senjata yang digunakan untuk pembela diri dalam rangka menyebarluaskan agama Islam.

2. Cis, berupa tombak bermata dua atau dwisula yang berfungsi sebagai senjata pelindung dan kelengkapan dalam berdakwah atau berkhutbah dalam rangka menyebarluaskan ajaran agama Islam.

3. Keris Komando, senjata yang digunakan oleh Raja Panjalu sebagai penanda kedudukan bahwa ia seorang Raja Panjalu.

4. Keris, sebagai pegangan para Bupati Panjalu.

5. Pancaworo, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.

6. Bangreng, digunakan sebagai senjata perang pada zaman dahulu.

7. Gong kecil, digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan rakyat pada zaman dahulu.

8. Kujang, senjata perang khas Sunda peninggalan seorang petapa sakti bernama Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana (Aki Garahang) yang diturunkan kepada para Raja Panjalu.

Pada masa pemerintahan Raden Tumenggung Wirapraja bangunan Bumi Alit dipindahkan dari Dayeuh Nagasari, Ciomas ke Dayeuh Panjalu seiring dengan perpindahan kediaman Bupati Tumenggung Wirapraja ke Dayeuh Panjalu. Pasucian Bumi Alit dewasa ini terletak di Kebon Alas, Alun-alun Panjalu.

Pada awalnya Bumi Alit berupa taman berlumut yang dibatasi dengan batu-batu besar serta dilelilingi dengan pohon Waregu. Bangunan Bumi Alit berbentuk mirip lumbung padi tradisional masyarakat Sunda berupa rumah panggung dengan kaki-kaki yang tinggi, rangkanya terbuat dari bambu dan kayu berukir dengan dinding terbuat dari bilik bambu sedangkan atapnya berbentuk seperti pelana terbuat dari ijuk.

Ketika di Jawa Barat terjadi pengungsian akibat pendudukan tentara Jepang (1942-1945) benda-benda pusaka yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit itu diselamatkan ke kediaman sesepuh tertua keluarga Panjalu yaitu ”’Raden Hanafi Argadipradja”’, cucu Raden Demang Aldakusumah di Kebon Alas, Panjalu.

Begitu pula ketika wilayah Jawa Barat berkecamuk pemberontakan [[DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia)]] pimpinan [[S.M. Kartosuwiryo]] (1949-1962) yang marak dengan perampokan, pembantaian dan pembakaran rumah penduduk. Para pemberontak DI/TII itu sempat merampas benda-benda pusaka kerajaan Panjalu dari Bumi Alit. Pusaka-pusaka itu kemudian baru ditemukan kembali oleh aparat TNI di hutan Gunung Sawal lalu diserahkan kepada Raden Hanafi Argadipradja, kecuali pusaka Cis sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Pada tahun 1955, Bumi Alit dipugar oleh warga dan sesepuh Panjalu yang bernama R.H. Sewaka (M. Sewaka) mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1948, 1950-1952). Hasil pemugaran itu menjadikan bentuk bangunan Bumi Alit yang sekarang, berupa campuran bentuk mesjid zaman dahulu dengan bentuk modern, beratap susun tiga. Di pintu masuk Museum Bumi Alit terdapat patung ular bermahkota dan di pintu gerbangnya terdapat patung kepala gajah. Hingga kini, pemeliharaan Museum Bumi Alit dilakukan oleh Pemerintah Desa Panjalu yang terhimpun dalam ‘Wargi Panjalu’ di bawah pengawasan Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis.

Daftar Para Batara, Raja, Bupati dan Demang Panjalu Beserta Pusara/Petilasannya

1. ”’Batara Tesnajati”’ di Karantenan Gunung Sawal.

2. ”’Batara Layah”’ di Karantenan Gunung Sawal.

3. ”’Batara Karimun Putih”’ di Pasir Kaputihan Gunung Sawal.

4. ”’Prabu Sanghyang Rangga Gumilang atau Sanghyang Rangga Sakti”’ di Cipanjalu, Desa Maparah, Panjalu.

5. ”’Prabu Sanghyang Lembu Sampulur I”’ di Cipanjalu, Desa Maparah, Panjalu.

6. ”’Prabu Sanghyang Cakradewa”’ di Cipanjalu, Desa Maparah, Panjalu.

7. ”’Prabu Sanghyang Lembu Sampulur”’ II di Cimalaka Gunung Tampomas, Sumedang.

8. ”’Prabu Sanghyang Borosngora”’ (adik Sanghyang Lembu Sampulur II) di Jampang Manggung, Sukabumi.

9. ”’Prabu Rahyang Kuning”’ di Kapunduhan Cibungur, Desa Kertamandala, Panjalu.

10. ”’Prabu Rahyang Kancana”’ (adik Prabu Rahyang Kuning) di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

11. ”’Prabu Rahyang Kuluk Kukunangteko”’ di Cilanglung Desa simpar, Panjalu.

12. ”’Prabu Rahyang Kanjut Kadali Kancana”’ di Sareupeun, Desa Hujungtiwu, Panjalu.

13. ”’Prabu Rahyang Kadacayut Martabaya”’ di Hujung Winangun, Situ Lengkong Panjalu.

14. ”’Prabu Rahyang Kunang Natabaya”’ di Ciramping, Desa Simpar, Panjalu.

15. ”’Raden Arya Sumalah”’ di Buninagara, Desa Simpar, Panjalu.

16. ”’Pangeran Arya Sacanata”’ (adik R. Arya Sumalah) di Nombo Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

17. ”’Raden Arya Wirabaya”’ (anak R. Arya Sumalah) di Cilamping, Panjalu.

18. ”’Raden Tumenggung Wirapraja”’ (anak R. Arya Wirabaya) di Kebon Alas Warudoyong, Panumbangan Ciamis.

19. ”’Raden Tumenggung Cakranagara I”’ (anak R. Arya Wiradipa bin Pangeran Arya Sacanata) di Cinagara, Panjalu.

20. ”’Raden Tumenggung Cakranagara II”’ di Puspaligar, Panjalu.

21. ”’Raden Tumenggung Cakranagara III”’ di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

22. ”’Raden Demang Sumawijaya”’ di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

23. ”’Raden Demang Aldakusumah”’ di Nusa Larang, Situ Lengkong Panjalu.

Mitos Maung Panjalu

Mempelajari sejarah dan kebudayaan Panjalu tidak akan lepas dari berbagai tradisi, legenda, dan mitos yang menjadi dasar nilai-nilai kearifan budaya lokal, salah satunya adalah mitos Maung Panjalu (Harimau Panjalu). Sekelumit kisah mengenai Maung Panjalu adalah berlatar belakang hubungan dua kerajaan besar di tanah Jawa yaitu Pajajaran (Sunda) dan Majapahit.

Menurut Babad Panjalu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri Prabu Siliwangi yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit Prabu Brawijaya yang diboyong ke Keraton Majapahit. Dalam kisah-kisah tradisional Sunda nama Raja-raja Pajajaran (Sunda) disebut secara umum sebagai Prabu Siliwangi sedangkan nama Raja-raja Majapahit disebut sebagai Prabu Brawijaya.

Ketika Dewi Sucilarang telah mengandung dan usia kandungannya semakin mendekati persalinan, ia meminta agar dapat melahirkan di tanah kelahirannya di Pajajaran, sang pangeran mau tidak mau harus menyetujui permintaan isterinya itu dan diantarkanlah rombongan puteri kerajaan Pajajaran itu ke kampung halamannya disertai pengawalan tentara kerajaan.

Suatu ketika iring-iringan tiba di kawasan hutan belantara Panumbangan yang masuk ke dalam wilayah Kerajaan Panjalu dan berhenti untuk beristirahat mendirikan tenda-tenda. Di tengah gelapnya malam tanpa diduga sang puteri melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki kemudian diberi nama Bongbang Larang sedangkan yang perempuan diberi nama Bongbang Kancana. Ari-ari kedua bayi itu disimpan dalam sebuah ”pendil” (wadah terbuat dari tanah liat) dan diletakkan di atas sebuah batu besar.

Kedua bocah kembar itu tumbuh menuju remaja di lingkungan Keraton Pakwan Pajajaran. Satu hal yang menjadi keinginan mereka adalah mengenal dan menemui sang ayah di Majapahit, begitu kuatnya keinginan itu sehingga Bongbang Larang dan Bongbang Kancana sepakat untuk ”minggat”, pergi secara diam-diam menemui ayah mereka di Majapahit.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh mereka tiba dan beristirahat di belantara kaki Gunung Sawal, Bongbang Larang dan Bongbang Kancana yang kehausan mencari sumber air di sekitar tempat itu dan menemukan sebuah ”pendil” berisi air di atas sebuah batu besar yang sebenarnya adalah bekas wadah ari-ari mereka sendiri.

Bongbang Larang yang tak sabar langsung menenggak isi ”pendil” itu dengan lahap sehingga kepalanya masuk dan tersangkut di dalam ”pendil” seukuran kepalanya itu. Sang adik yang kebingungan kemudian menuntun Bongbang Larang mencari seseorang yang bisa melepaskan pendil itu dari kepala kakaknya. Berjalan terus kearah timur akhirnya mereka bertemu seorang kakek bernama Aki Ganjar, sayang sekali kakek itu tidak kuasa menolong Bongbang Larang, ia kemudian menyarankan agar kedua remaja ini menemui Aki Garahang di pondoknya arah ke utara.

Aki Garahang yang ternyata adalah seorang pendeta bergelar Pendita Gunawisesa Wiku Trenggana itu lalu memecahkan ”pendil” dengan sebuah kujang sehingga terbelah menjadi dua (kujang milik sang pendeta ini sampai sekarang masih tersimpan di Pasucian Bumi Alit). Karena karomah atau kesaktian sang pendeta, maka ”pendil” yang terbelah dua itu yang sebelah membentuk menjadi selokan Cipangbuangan, sedangkan sebelah lainnya menjadi ”kulah” (kolam mata air) bernama Pangbuangan.

Sebagai tanda terima kasih, kedua remaja itu kemudian mengabdi kepada Aki Garahang di padepokannya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Suatu ketika sang pendeta bepergian untuk suatu keperluan dan menitipkan padepokannya kepada Bongbang Larang dan Bongbang Kancana dan berpesan agar tidak mendekati ”kulah” yang berada tidak jauh dari padepokan.

Kedua remaja yang penuh rasa ingin tahu itu tak bisa menahan diri untuk mendatangi kulah terlarang yang ternyata berair jernih, penuh dengan ikan berwarna-warni. Bongbang Larang segera saja menceburkan diri kedalam kulah itu sementara sang adik hanya membasuh kedua tangan dan wajah sambil merendamkan kedua kakinya.

Betapa terkejutnya sang adik ketika Bongbang Larang naik ke darat ternyata wajah dan seluruh tubuhnya telah ditumbuhi bulu seperti seekor harimau loreng. Tak kalah kagetnya ketika Bongbang Kancana bercermin ke permukaan air dan ternyata wajahnya pun telah berubah seperti harimau sehingga tak sadar menceburkan diri kedalam ”kulah”. Keduanyapun kini berubah menjadi dua ekor harimau kembar jantan dan betina.

Hampir saja kedua harimau itu akan dibunuh oleh Aki Garahang karena dikira telah memangsa Bongbang Larang dan Bongbang Kancana. Namun ketika mengetahui kedua harimau itu adalah jelmaan dua putera-puteri kerajaan Pajajaran yang menjaga padepokannya sang Pendeta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berpendapat bahwa kejadian itu sudah menjadi kehendak Yang Mahakuasa, ia berpesan agar kedua harimau itu tidak mengganggu hewan peliharaan orang Panjalu, apalagi kalau mengganggu orang Panjalu maka mereka akan mendapat kutukan darinya.

Kedua harimau jejadian itu berjalan tak tentu arah hingga tiba di Cipanjalu, tempat itu adalah kebun milik Kaprabon Panjalu yang ditanami aneka sayuran dan buah-buahan. Di bagian hilirnya terdapat pancuran tempat pemandian keluarga Kerajaan Panjalu. Kedua harimau itu tak sengaja terjerat oleh sulur-sulur tanaman ”paria oyong” (sayuran sejenis terong-terongan) lalu jatuh terjerembab kedalam ”gawul” (saluran air tertutup terbuat dari batang pohon nira yang dilubangi) sehingga aliran air ke pemandian itu tersumbat oleh tubuh mereka.

Prabu Sanghyang Cakradewa terheran-heran ketika melihat air pancuran di pemandiannya tidak mengeluarkan air, ia sangat terkejut manakala diperiksa ternyata pancurannya tersumbat oleh dua ekor harimau. Hampir saja kedua harimau itu dibunuhnya karena khawatir membahayakan masyarakat, tapi ketika mengetahui bahwa kedua harimau itu adalah jelmaan putera-puteri Kerajaan Pajajaran, sang Prabu menjadi jatuh iba dan menyelamatkan mereka dari himpitan saluran air itu.

Sebagai tanda terima kasih kedua harimau itu bersumpah dihadapan Prabu Sanghyang Cakradewa bahwa mereka tidak akan mengganggu orang Panjalu dan keturunannya, bahkan bila diperlukan mereka bersedia datang membantu orang Panjalu yang berada dalam kesulitan. Kecuali orang Panjalu yang meminum air dengan cara menenggak langsung dari tempat air minum (teko, ceret, dsb), orang Panjalu yang menanam atau memakan paria oyong, orang Panjalu yang membuat ”gawul” (saluran air tertutup), maka orang-orang itu berhak menjadi mangsa harimau jejadian tersebut.

Selanjutnya kedua harimau kembar itu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Keraton Majapahit dan ternyata setibanya di Majapahit sang ayah telah bertahta sebagai Raja Majapahit. Sang Prabu sangat terharu dengan kisah perjalanan kedua putera-puteri kembarnya, ia kemudian memerintahkan Bongbang Larang untuk menetap dan menjadi penjaga di Keraton Pajajaran, sedangkan Bongbang Kancana diberi tugas untuk menjaga Keraton Majapahit.

Pada waktu-waktu tertentu kedua saudara kembar ini diperkenankan untuk saling menjenguk. Maka menurut kepercayaan leluhur Panjalu, kedua harimau itu selalu berkeliaran untuk saling menjenguk pada setiap bulan Maulud.

3. SEJARAH SINGKAT PROPINSI SULAWESI TENGAH.

A. Sejarah Sulawesi Tengah.

Provinsi Sulawesi Tengah dibentuk tahun 1964. Sebelumnya Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah keresidenan di bawah Pemerintahan Provinsi Sulawesi Utara-Tengah. Provinsi yang beribukota di Palu ini terbentuk berdasarkan Undang-undang No. 13/1964.

Seperti di daerah lain di Indonesia, penduduk asli Sulawesi Tengah merupakan percampuran antara bangsa Wedoid dan negroid. Penduduk asli ini kemudian berkembang menjadi suku baru menyusul datangnya bangsa Proto-Melayu tahun 3000 SM dan Deutro-Melayu tahun 300 SM. Keberadaan para penghuni pertama Sulawesi Tengah ini diketahui dari peninggalan sejarah berupa peralatan dari kebudayaan Dongsong (perunggu) dari zaman Megalitikum.

Perkembangan selanjutnya banyak kaum migran yang datang dan menetap di wilayah Sulawesi Tengah. Penduduk baru ini dalam kehidupan kesehariannya bercampur dengan penduduk lama sehingga menghasilkan percampuran kebudayaan antara penghuni lama dan baru. Akhirnya, suku-suku bangsa di Sulawesi Tengah dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu, Palu Toraja, Koro Toraja, dan Poso Toraja.

Pada abad ke 13, di Sulawesi Tengah sudah berdiri beberapa kerajaan seperti Kerajaan Banawa, Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Sigi, Kerajaan Bangga, dan Kerajaan Banggai. Pengaruh Islam ke kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah mulai terasa pada abad ke 16. Penyebaran Islam di Sulawesi Tengah ini merupakan hasil dari ekspansi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Pengaruh yang mula-mula datang adalah dari Kerajaan Bone dan Kerajaan Wajo.

Pengaruh Sulawesi Selatan begitu kuat terhadap Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Tengah, bahkan sampai pada tata pemerintahan. Struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah akhirnya terbagi dua, yaitu, yang berbentuk Pitunggota dan lainnya berbentuk Patanggota.

Pitunggota adalah suatu lembaga legislatif yang terdiri dari tujuh anggota dan diketuai oleh seorang Baligau. Struktur pemerintahan ini mengikuti susunan pemerintahan ala Bone dan terdapat di Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi. Struktur lainnya, yaitu, Patanggota, merupakan pemerintahan ala Wajo dan dianut oleh Kerajaan Palu dan Kerajaan Tawaeli. Patanggota Tawaeli terdiri dari Mupabomba, Lambara, Mpanau, dan Baiya.

Pangaruh lainnya adalah datang dari Mandar. Kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini adalah cikal bakalnya berasal dari Mandar. Pengaruh Mandar lainnya adalag dengan dipakainya istilah raja. Sebelum pengaruh ini masuk, di Teluk Tomini hanya dikenal gelar Olongian atau tuan-tuan tanah yang secara otonom menguasai wilayahnya masing-masing.  Selain pengaruh Mandar, kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini juga dipengaruhi  Gorontalo dan Ternate. Hal ini terlihat dalam struktur pemerintahannya yang sedikit banyak mengikuti struktur pemerintahan di Gorontalo dan Ternate tersebut. Struktur pemerintahan tersebut terdiri dari Olongian (kepala negara), Jogugu (perdana menteri), Kapitan Laut (Menteri Pertahanan), Walaapulu (menteri keuangan), Ukum (menteri perhubungan), dan Madinu (menteri penerangan).

Dengan meluasnya pengaruh Sulawesi Selatan, menyebar pula agama Islam. Daerah-daerah yang diwarnai Islam pertama kali adalah daerah pesisir. Pada pertengahan abad ke 16, dua kerajaan, yaitu Buol dan Luwuk telah menerima ajaran Islam. Sejak tahun 1540, Buol telah berbentuk kesultanan dan dipimpin oleh seorang sultan bernama Eato Mohammad Tahir.

Mulai abad ke 17, wilayah Sulawesi Tengah mulai masuk dalam kekuasaan kolonial Belanda. Dengan dalih untuk mengamankan armada kapalnya dari serangan bajak laut, VOC membangun benteng di Parigi dan Lambunu. Pada abad ke 18, meningkatkan tekanannya pada raja-raja di Sulawesi Tengah. Mereka memanggil raja-raja Sulawesi Tengah untuk datang ke Manado dan Gorontalo untuk mengucapkan sumpah setia kepada VOC. Dengan begitu, VOC berarti telah menguasai kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah tersebut.

Permulaan abad ke 20, dengan diikat suatu perjanjian bernama lang contract dan korte verklaring, Belanda telah sepenuhnya menguasai Sulawesi Tengah, terhadap kerajaan yang membangkang, Belanda menumpasnya dengan kekerasan senjata. Pada permulaan abad ke 20 pula mulai muncul pergerakan-pergerakan yang melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Selain pergerakan lokal, masuk pula pergerakan-pergerakan yang berpusat di Jawa. Organisasi yang pertama mendirikan cabang di Sulawesi Tengah adalah Syarikat Islam (SI), didirikan di Buol Toli-Toli tahun 1916. Organisasi lainnya yang berkembang di wilayah ini adalah Partai Nasional Indonesia (PNI) yang cabangnya didirikan di Buol tahun 1928. organisasi lainnya yang membuka cabang di Sulawesi Tengah adalah Muhammadiyah dan PSII.

Perlawanan rakyat mencapai puncaknya tanggal 25 Januari 1942. Para pejuang yang dipimpin oleh I.D. Awuy menangkap para tokoh kolonial seperti Controleur Toli-Toli De Hoof, Bestuur Asisten Residen Matata Daeng Masese, dan Controleur Buol de Vries. Dengan tertangkapnya tokoh-tokoh kolonial itu, praktis kekuasaan Belanda telah diakhiri. Tanggal 1 Februari 1942, sang merah putih telah dikibarkan untuk pertama kalinya di angkasa Toli-Toli. Namun keadaan ini tidak berlangsung lama karena seminggu kemudian pasukan Belanda kembali datang dan melakukan gempuran.

Meskipun telah melakukan gempuran, Belanda tidak sempat berkuasa kembali di Sulawesi Tengah karena pada waktu itu, Jepang mendarat di wilayah itu, tepatnya di Luwuk tanggal 15 Mei 1942. dalam waktu singkat Jepang berhasil menguasai wilayah Sulawesi Tengah. Di era Jepang, kehidupan rakyat semakin tertekan dan sengsara seluruh kegiatan rakyat hanya ditujukan untuk mendukung peperangan Jepang. Keadaan ini berlangsung sampai Jepang menyerah kepada Sekutu dan disusul dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada awal kemerdekaan, Sulawesi tengah merupakan bagian dari provinsi Sulawesi. Sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, pasca kemerdekaan adalah saatnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih. Rongrongan terus datang dari Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Belanda menerapkan politik pecah-belah dimana Indonesia dijadikan negara serikat. Namun akhirnya bangsa Indonesia dapat melewati rongrongan itu dan ada tanggal 17 Agustus 1950 Indonesia kembali menjadi negara kesatuan.

Sejak saat itu, Sulawesi kembali menjadi salah satu provinsi di Republik Indonesia dan berlangsung hingga terjadi pemekaran tahun 1960. Pada tahun tersebut Sulawesi dibagi dua menjadi Sulawesi Selatan-Tenggara yang beribukota di Makassar dan Sulawesi Utara-Tengah yang beribukota di Manado. Pada tahun 1964, Provinsi Sulawesi Utara-Tengah dimekarkan menjadi provinsi Sulawesi Utara yang beribukota di Manado dan Sulawesi Tenagh yang beribukota di Palu.

B. SEJARAH SINGKAT KABUPATEN BANGGAI…….

  Tepatnya pada tanggal 3 November 1999 Gubernur Sulawesi Tengah (Brigjen Purn. H.B. Palidju) atas nama Menteri Dalam Negeri meresmikan berdirinya Kabupaten Banggai Kepulauan yang sebelumnya masih bernaung bergabung dalam Kabupaten Banggai. Kabupaten Banggai Kepulauan menjadi satu kabupaten otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali dan Kabupaten Banggai Kepulauan.

Secara historis wilayah Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan mulanya adalah bagian dari Kerajaan Banggai yang sudah dikenal sejak abad 13 Masehi sebagaimana termuat dalam buku Negara Kertagama yang ditulis oleh Pujangga Besar Empu Prapanca pada tahun Saka 1478 atau 1365 Masehi. Kerajaan Banggai, awalnya hanya meliputi wilayah Banggai Kepulauan, namun kemudian oleh Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa disatukan dengan Wilayah Banggai Darat. Adik Cokro yang merupakan panglima perang dari Kerajaan Ternate yang menikah dengan seorang Putri Portugis kemudian melahirkan putra bernama Mandapar. Mandapar inilah yang dikenal sebagai Raja Banggai Pertama yang dilantik pada tahun 1600 oleh Sultan Said Berkad Syam dari Kerajaan Ternate. Raja Mandapar yang bergelar Mumbu Doi Godong ini memimpin Banggai sampai tahun 1625

Adapun sisa peninggalan Kerajaan Banggai yang dibangun pada abad ke XVI yang masih dapat ditemui hingga saat ini yaitu Keraton Kerajaan Banggai yang ada di Kota Banggai. Pada masa pemerintahan Raja Syukuran Amir, ibukota Kerajaan Banggai yang semula berada di Banggai Kepulauan dipindahkan ke Banggai Darat (Luwuk). Untuk penyelenggaraan pemerintahan diwilayah Banggai Laut ditempatkan pejabat yang disebut Bun Kaken sedang untuk Banggai Darat disebut Ken Kariken. Wilayah Banggai Darat dan Banggai Laut kemudian berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi Tengah menjadi Satu Kabupaten Otonom yang dikenal sebagai Kabupaten Banggai dengan ibukota Luwuk.

Kabupaten Banggai merupakan salah satu kabupaten di Sulawesi tengah yang terletak dibagian pantai timur Pulau Sulawesi. Kabupaten Banggai dengan ibukota Luwuk secara geografis terletak pada posisi 0° 30′-02° 20′ LS dan 122° 10′ – 124° 20′ BT. dengan batas wilayah sebelah utara Teluk Tomini, sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Poso, sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Tolo dan sebelah timur berbatasan dengan laut  Banda.

Dari ibukota Propinsi Palu menuju ibukota Kabupaten Banggai Luwuk dapat ditempuh melalui jalan darat maupun udara. Jalan darat dapat memakai sarana perhubungan kendaraan umum bus-bus kecil, atau dengan kendaraan carteran. Palu – Luwuk dengan jarak sekitar 350 km. Transportasi udara dari ibukota Propinsi Palu dilayani oleh pesawat kecil (Twin otter/ Cassa) dengan waktu tempuh 1.5 jam. Penerbangan Palu – Luwuk secara regular setiap hari sekali. Dari Luwuk ke Pulau Peleng dilayani oleh ferry secara reguler sekali setiap hari. Sedangkan Luwuk- Pulau Banggai dilayani oleh perahu motor kayu yang jauh lebih kecil. Pelayaran Luwuk – Banggai dilakukan secara reguler dan singgah di beberapa ibukota kecarnatan dengan waktu tempuh antara 8 – 12 jam. Untuk mencapai pulau-pulau yang ada disekitar Pulau Peleng dan Pulau Banggai jalan satu-satunya adalah menggunakan perahu carteran.

Kabupaten Banggai menjadi salah satu dari 25 kabupaten yang menerima penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Pemerintah Indonesia 27 tahun lalu. Saat itu Kabupaten Banggai dianggap berprestasi karena mampu menyumbang 50 persen Iuran Pembangunan Daerah (Ipeda) bagi Provinsi Sulawesi Tengah.Iini. Kebanggaan masyarakat di daerah yang hanya berkepadatan penduduk 28 jiwa tiap kilometer perseginya ini bertambah karena kabupaten Banggai mampu menjadi penghasil beras nomor dua setelah Kabupaten Donggala di Sulawesi Tengah.

Monsu’ani Tano ternyata menjadi cara yang ampuh dalam memotivasi masyarakat Banggai untuk membangun daerahnya sendiri. Gemar menanam, makna dari istilah tersebut, telah menjadi gerakan yang mendapat tempat di hati masyarakat Banggai. Buktinya, dalam lima tahun ke belakang, pertanian telah menjadi pemasok terbesar kegiatan ekonomi daerah ini. Tahun 2000 misalnya, 54,4 persen (Rp 465,4 milyar) kegiatan ekonomi berasal dari sektor pertanian. Dan produksi beras menjadi primadona.

Dengan produktivitas rata-rata 3,0 ton per hektar, Kabupaten Banggai menghasilkan padi sebanyak 69.693 ton tahun 2000. Dibandingkan tahun sebelumnya, angka ini menurun drastis hingga 29 persen. Sementara untuk tahun 2001, kabupaten ini juga mengalami kesulitan untuk mempertahankan produksi. Bulan Juli 2001 terjadi banjir akibat gelombang tsunami yang merendam dan merusak 43,5 hektar sawah di Kecamatan Batui. Banjir ini juga melanda Kecamatan Toili yang selama ini menjadi sentra penghasil beras Kabupaten Banggai.

Di samping tanaman bahan pangan, hasil perkebunan rakyat seperti kelapa, kakao, dan jambu mete misalnya, turut memberikan andil yang berarti bagi roda perekonomian Banggai. Di antara delapan kecamatan yang ada, Kecamatan Bunta menjadi sentra tanaman kelapa dan kakao. Sementara itu, jambu mete dan sebagian kakao dihasilkan oleh Kecamatan Batui. Sumbangan kelapa sendiri tidak kecil. Nilainya mencapai 9,1 juta dollar AS melalui ekspor 13.222 ton minyak kelapa. Ini belum termasuk ekspor bungkil kopra sebanyak 5.700 ton dan kopra 700 ton.

Hasil hutan pun tak kalah perannya bagi pertumbuhan ekonomi Banggai. Setidaknya berdasarkan angka hingga Agustus 2001 dari Iuran Hasil Hutan (IHH) diperoleh Rp 1,5 milyar dan dari Dana Reboisasi 453.915 dollar AS. Pemasukan itu berasal dari hasil kayu rimba logs dan selebihnya dari rotan, damar, kulit japari dan kemiri.

Saat ini Pertaminta terus-menerus berupaya menggali cadangan gas yang tersimpan di bumi Banggai. Tahun 2003 lalu Pertamina menemukan gas dengan kapasitas 34 MMSCFD (juta kaki kubik per hari) dan 160 BCPD (barrel kondensat per hari) dari hasil pemboran sumur Donggi (DNG #1) di desa Kamiwangi, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.

Sumur yang mulai ditajak tanggal 14 Agustus 2001 dan berhasil diselesaikan pada tanggal 4 September 2001 dengan kedalaman akhir 2502 MBLB (meter bawah lantai bor) diantaranya telah dilakukan uji kandung lapisan (UKL). Interval kedalaman 1705 – 1710 M dan menghasilkan 14 MMSCFGD + 50 BCPD. Sedang interval kedalaman 1620 – 1630 M menghasilkan 20 MMSCFGD + 110 BCPD. Kondensat yang dihasikan dari kedua lapisan tersebut mempunyai derajat API sebesar 54 derajat. Selanjutnya untuk membuktikan potensi cadangan gas di komplek Donggi maupun Blok Matindok Sulawesi Tengah akan dilakukan studi geologi dan geofisika terpadu yang melibatkan ahli eksplorasi, ahli reservoir dan ahli gas.

C. SEJARAH SINGKAT KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN……..

  SEBANYAK 121 pulau, lima berukuran sedang, sisanya kecil-kecil bahkan ada yang berwujud batu karang, mencuat ke permukaan. Laut yang mengelilinginya merajut tebaran pulau itu menjadi satu untaian yang disebut Banggai Kepulauan. Luas hamparan laut di wilayah ini dua kali lipat dibandingkan dengan luas daratan yang ada.

SEBELUMNYA, kabupaten ini merupakan kesatuan wilayah dengan Kabupaten Banggai. Undang- Undang Nomor 51 Tahun 1999 menetapkan pulau-pulau di tengah lautan tersebut menjadi daerah otonom. Kabupaten induk tetap disebut Kabupaten Banggai dan pemekarannya disebut Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep).

  Sebagai wilayah kepulauan, laut menjadi bagian kehidupan sehari-hari yang selalu dan harus digeluti. Pasalnya, di sanalah terdapat potensi dan kekayaan alam yang pantas diolah dan diusahakan sebagai penopang kehidupan penduduk Bangkep. Laut yang bagi banyak orang terkesan menakutkan bagi kabupaten ini merupakan harapan.

Menurut sensus penduduk tahun 2000, penduduk yang sehari-hari menggeluti perikanan 8.299 orang, sedangkan sebagian petani merangkap menjadi nelayan. Saat lahan pertanian tak lagi membutuhkan banyak tenaga, mereka biasanya melaut mencari ikan. Dari hamparan air asin 6.522 kilometer persegi ini tahun 2002 ditangkap 11.487 ton ikan. Jika dirupiahkan, nilainya Rp 31,6 miliar, menurun dibandingkan dengan hasil tangkapan tahun sebelumnya yang tercatat 14.140 ton.

Data di atas bisa diperdebatkan karena banyak nelayan yang langsung menjual hasil tangkapan ke penampung di tengah laut. Kapal-kapal besar yang datang dari Sulawesi Utara dan Kendari setiap hari menunggu, dilengkapi pendingin. Kontras dengan kapal nelayan tradisional. Di tengah laut itulah transaksi jual beli terjadi.

  Bangkep bergantung pada kehidupan sektor pertanian, termasuk perikanan. Separuh penduduk lebih hidup dari sektor ini, yakni 61.630 orang, sedangkan penduduk yang hidup dari perikanan 8.299 orang. Sudah umum diketahui kebanyakan petani merangkap sebagai nelayan.

Ikan kerapu hidup merupakan primadona tangkapan nelayan. Harga dari nelayan ke penampung berkisar Rp 60.000 hingga Rp 120.000 per kilogram, tergantung jenis ikan. Kerapu macan lebih murah daripada kerapu tikus, dan yang termahal ikan napoleon. Di tangan pedagang, harganya Rp 300.000 per kilogram.

Ikan layang atau ikan pelagis yang banyak ditangkap nelayan di tangan penampung dihargai sekitar Rp 500 per kilogram. Khusus layang super berekor kuning, harganya Rp 2.500 per kilogram. Selain ikan segar, Bangkep juga dikenal dengan cumi-cumi kering. Tahun 2002 dihasilkan 345.000 ton ukuran kecil dan 220.000 ton ukuran besar, sebagian besar dikirim ke Jawa.

Kontribusi perikanan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Bangkep tahun 2002 tercatat Rp 33,3 miliar, atau sekitar 6,8 persen dari total kegiatan ekonomi Rp 491,4 miliar. Perkebunan menyumbang 19,4 persen dan tanaman bahan pangan 18,5 persen.

  Andalan perkebunan wilayah ini adalah kelapa, cengkeh, kakao, dan jambu mete yang dihasilkan hampir di seluruh kecamatan. Dari masing-masing komoditas tersebut tahun 2002 dihasilkan 18.235 ton kelapa, 805 ton cengkeh, 1.642 ton kakao, dan 1.115 ton jambu mete. Karena di Bangkep belum ada industri pengolahan yang mampu menyerap hasil perkebunan ini, petani memasarkan dalam bentuk apa adanya ke luar Bangkep.

Seperti halnya kelapa, setelah dikeringkan dalam bentuk kopra dikirim ke Luwuk, ibu kota Kabupaten Banggai. Di kabupaten induk terdapat pabrik minyak goreng yang membutuhkan bahan baku kopra. Sebagian dikirim ke Surabaya untuk keperluan yang sama. Adapun jambu mete sebagian besar dibeli oleh pedagang dari Pulau Jawa.

Cengkeh yang dulu pernah menjadi pundi-pundi uang petani kini terpuruk. Cengkeh kering per kilogram dihargai Rp 12.000-Rp 13.000. Padahal tahun 2002 pernah mencapai Rp 80.000.

Meskipun sumbangan tanaman bahan pangan wilayah ini terhadap perekonomian Bangkep cukup berarti, untuk mencukupi kebutuhan pangan terutama beras, Bangkep mendatangkan dari luar. Beras didatangkan dari Kabupaten Banggai yang di tahun 2002 surplus sekitar 32.000 ton. Juga didatangkan dari Kabupaten Parigi Moutong.

Mulai Maret 2003, khususnya di Pulau Banggai, listrik menyala 24 jam. Penerangan yang tanpa henti ini banyak menolong nelayan menyimpan hasil tangkapan. Produksi es untuk membekukan ikan akan selalu tersedia.

Sebagai wilayah kepulauan, angkutan laut sangat dibutuhkan. Apalagi kapal-kapal besar yang bisa mengangkut hasil bumi ke provinsi atau pulau lain tersedia. Sebelum Oktober 2003 ada kapal Pelni KM Ciremai yang menghubungkan Banggai ke Tanjung Priok, Jakarta . Satu minggu sekali kapal ini angkat jangkar dari Banggai. Berangkat Jumat pagi dan Senin pagi merapat di Tanjung Priok, Jakarta .

Keberadaan kapal tersebut sangat membantu perekonomian Bangkep. Hasil bumi dan laut wilayah ini, yang paling menonjol adalah cumi kering, bisa cepat sampai ke konsumen di Pulau Jawa. Namun, sejak Oktober 2003, setelah 10 tahun menjalani jalur ini, KM Ciremai tidak lagi singgah di Banggai. Sebagai gantinya, wilayah ini disinggahi KM Tilongkabila yang tak langsung ke Jakarta .

Kapal ini sebulan sekali mampir di Banggai. Alur perjalanan dari Bitung, Luwuk, Banggai, Morowali, Kendari, Makassar, terus ke Benoa. Bagi Bangkep, perubahan rute perjalanan dan jadwal kedatangan kapal yang semakin lama ini mempengaruhi perekonomian masyarakat.

Biaya yang dikeluarkan untuk komoditas dari Banggai yang di kirim ke Jawa semakin membengkak, waktu tempuh yang dibutuhkan semakin panjang. Konsumen terkena dampak karena barang tersebut semakin mahal. Kalau ada pesaing yang memasok dengan harga lebih miring dan waktu lebih cepat, bisa dipastikan konsumen akan beralih ke pemasok lain. Ini bisa menjadi ancaman serius bagi pedagang, petani, dan nelayan Bangkep.

Wilayah Bangkep kaya akan keindahan laut, pantai, dan pulau-pulau kecil yang memesona. Semakin sulitnya mencapai kabupaten ini, semakin jauh harapan untuk bisa menarik wisatawan. Kepada siapa lagi mereka berharap kecuali pemerintah pusat.

D. SEJARAH TEBENTUKNYA KABUPATEN BANGGAI..

Sejarah Kabupaten Banggai

Sekitar abad ke-13, masa pada masa keemasan kerajaan Singosari yang berpusat di jawa Timur, ketika itu Singosari di bawah kekuasan terakhir dan terbesar yaitu Kertanegara ( 1268-1292 ), nama Banggai telah di kenal dan menjadi bagian kerajaan Singaosari. Berikutnya, sekitar abad 13-14 Masehi pada masa kerajaan Mojopahit yang juga berpusat di Jawa Timur, ketika tampuk pemerintahan di pegang raja terbesar Mojopahit bernama Hayam Wuruk ( 1351-1389 ) saat itu kerajaan Banggai sudah dikenal dengan sebutan “BENGGAWI”dan menjadi bagian kerajaan Mojopahit.

Bukti bahwa kaerajaan Banggai sudah di kenal sejak zaman Mojopahit dengan nama Benggawi setidaknya dapat di lihat dari apa yang telah di tulis seorang pujangga Mojopahit yang bernama Mpu Prapanca dalam bukunya ”Negara Kartagama”, buku bertarikh caka 1478 atau tahun 1365 Masehi,yang dimuat dalam seuntai syair nomor 14 bait kelima sebagai berikut “Ikang Saka Nusa-Nusa Mangkasara, Buntun Benggawi, Kuni, Galiayo, Murang Ling Salayah, Sumba, Solor, Munar, Muah, Tikang, I Wandleha, Athawa Maloko, Wiwawunri Serani Timur Mukadi Ningagaku Nusantara”. (Mangkasara = Makasar, Buntun = Buton, Benggawi = Banggai, Kunir = Pulau Kunyit, Salayah = Selayar, Ambawa = Ambon, Maloko = Maluku ). Hayam Wuruk ingin mempersatukan Nusantara lewat sumpah Palapa yang di ucapkan sang Pati Gajah Mada. Dengan sumpah tersebut Hayam Wuruk makin terkenal dengan programnya mempersatukan Nusatara.

Di daerah yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Banggai pernah bediri kerajaan-kerajaan kecil. Yang tertua bernama kerjaan bersaudara Buko dan Bulagi. Letak kerajaan Buko dan Bulagi berada di pulau Peling belahan barat. Kemudian muncul keajaan-kerajaan baru seperti, Kerajaan Sisipan, Kerajaan Lipotomundo, dan Kadupadang. Semuanya berada di pulau Peling bagian tengah (sekarang kecamatan Liang). Sementara di bagian pulau Peling sebelah timur (sekitar Kecamatan Totikum dan Tinangkung), waktu itu telah berdiri kerajaan yang agak besar yakni kerajaan Bongganan.

Upaya unntuk memekarkan kerjaan Bongganan dilakukan Pangeran dan beberapa bansawan kerajaan akhirnya membuahkan hasil bila sebelumnya wilayah kerajaan banggai hanya meliputi pulau Banggai, kemudian dapat diperlebar. Di banggai Darat ( kabupaten Banggai, waktu itu sudah berdiri Kerajaan Tompotika yang berpusat di sebelah utara ( Kecamatan Bualemo ) bagian Selatan kerajaan tiga bersaudara Motiandok, Balaloa, dan Gori-Gori.

Perkembangan Kerajaan Banggai yang ketika itu masih terpusat di Pulau Banggai, mulai pesat dan menjadi Primus Inter Pares atau yang utama dari beberapa kerajaan yang ada, sewaktu pemerintahan Kerajaan Banggai berada di bawah pembinaan Kesultanan ternate akhir abad 16. Wilayah Kerajaan Banggai pada tahun 1950-an hanya meliputi Pulau Banggai, kemudian diperluas sampai ke Banggai Darat, hingga ke Tanjung Api, Sungai Bangka dan Togung Sagu yang terletak di sebelah Selatan Kecamatan Batui. Perluasan wilayah Kerajaan Banggai dilakukan oleh Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa pada abad ke-16. Istilah ” Mumbu Doi” berarti yang wafat atau mangkat, khusus dipakai untuk raja-raja Banggai yang tertinggi derajatnya.

Adi Cokro adalah bangsawan dari Pulau Jawa yang mengabdikan diri kepada Sultan Baab-Ullah dari Ternate. Di tangan Adi Cokro kerajaan-kerajaan Banggai mampu dipersatukan hingga akhirnya ia dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai. Adi Cokro tercatat pula sebagai orang yang memasukkan agama Islam ke Banggai. hal tersebut sebagaimana ditulis Albert C. Kruyt dalam bukunya De Vorsten Van Banggai ( Raja-raja Banggai). Adi Cokro bergelar Mumbu Doi Jawa, yang dalam dialeg orang Banggai disebut Adi Soko, mempersunting seorang wanita asal Ternate berdarah Portugis bernama Kastellia ( Kastella). Perkawinan Adi dengan Kastellia melahirkan putra bernama Mandapar yang kemudian menjadi Raja Banggai. Istilah ” Adi” merupakan gelar bangsawan bagi raja-raja Banggai, hal tersebut sama dengan gelar RM ( Raden Mas) untuk bangsawan Jawa atau Andi bagi bangsawan bugis.

Karena Kerajaan Banggai dikenal oleh Kerajaan Ternate, sementara Kerajaan Ternate ditaklukan Bangsa Portugis, otomatis Kerajaan Banggai berada dibawah kekuasaan Bangsa Portugis. Bukti, itu setidaknya dapat dilihat dengan ditemukannya sisa-sisa peninggalan Bangsa Portugis di daerah ini di antaranya meriam kuno atau benda peninggalan lainnya.

Tahun 1532 P.A. Tiele pernah menulis dalam bukunya De Europeers in Den maleischen Archipel, di sana disebutkan, bahwa pada tahun 1532. Laksamana Andres De Urdanette yang berbangsa Spanyol merupakan sekutu (kawan) dari Sultan Jailolo, pernah mengunjungi wilayah sebelah Timur Pulau Sulawesi ( Banggai ). Andres de Urdanette merupakan orang barat pertama yang menginjakan kaki di Banggai. Sedang orang Portugis yang pertama kali datang ke Banggai bernama Hernando Biautemente tahu 1596.

Tahun 1956 Pelaut Belanda yang sangat terkenal bernama Cornelis De Houtman datang ke Indonesia. Menariknya, pada tahun 1594 atau dua tahun sebelum datang ke Indonesia Cornelis De Houtman sudah menulis tentang Banggai. ketika Adi Cokro yang bergelar Mumbu Doi Jawa, kembali ke tanah Jawa dan wafat disana. Tampuk Kerajaan Banggai dilanjutkan oleh Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong. Mandapar dilantik sebagai Raja Banggai pada tahun 1600 di Ternate oleh Sultan Said Uddin Barkat Syah.

Tahun 1602 Belanda datang ke Indonesia dan mendirikan Vereeniging Oast Indische Compagnie (VOC) yang merupakan Kongsi Dagang Belanda untuk perdagangan di Hindia Timur (Indonesia). Kesaksian salah seorang pelaut bangsa Inggris bernama David Niddeleton yang pernah dua kali datang ke Banggai menyebutkan; Pengaruh VOC di Banggai sudah ada sejak Raja Mandapar memimpin Banggai. Kerajaan Banggai pernah dikuasai Ternate. namun setelah Kerajaan Ternate dapat ditaklukan dan direbut oleh Sultan Alaudin dari Kerajaan Gowa (Sulawesi Selatan) maka Banggai ikut menjadi bagian dari Kerajaan Gowa. Dalam sejarah tercatat Kerajaan Gowa sempat berkembang dan mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kuat di Indonesia Timur.

Kerajaan Banggai berada di bawah pemerintahan Kerajaan Gowa berlangsung sejak tahun 1625-1667. Pada tahun 1667 dilakukan perjanjian Bongaya yang sangat terkenal antara Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa melepaskan semua wilayah yang tadinya masuka dalam kekuasaan Kerajaan Ternate seperti Selayar, Muna, Manado, Banggai, Gapi (Pulau Peling), Kaidipan, Buol Toli-Toli, Dampelas, Balaesang, Silensak dan kaili.

Pada saat Sultan Hasanuddin dikenal sebagai raja yang sengit melawan Belanda. Bentuk perjuangan yang dilakukan Hasanuddin ternyata memberikan pengaruh tersendiri bagi Raja Banggai ke-4, yakni Raja Mbulang dengan gelar Mumbu Doi Balantak ( 1681-1689 ) hingga Mbulang memberontak terhadap Belanda. Sebenarnya Mbulang Doi Balantak menolak untuk berkongsi dengan VOC lantaran monopoli dagang yang terapkan Belanda hanya menguntungkan Belanda, sementara rakyatnya di posisi merugi. Tapi apa hendak dikata, karena desakan Sultan Ternate yang menjadikan Kerajaan Banggai sebagai bagian dari taklukannya, dengan terpaksa Mbulang Doi Balantak tidak dapat menghindar dari perjanjian yang dibuat VOC (Belanda).

Tahun 1741 tepatnya tangga l 9 November perjanjian antara VOC dengan Mbulang Doi Balantak diperbarui oleh Raja Abu Kasim yang bergelar Mumbu Doi Bacan. Meski perjanjian telah diperbaharui oleh Abu Kasim, tetapi secara sembunyi-sembunyi Abu Kasim menjalin perjanjian kerjasama baru dengan Raja Bungku. Itu dilakukan Abu Kasim dengan target ingin melepaskan diri dari Kerajaan Ternate. Langkah yang ditempuh Abu Kasim ini dilakukan karena melihat beban yang dipikul oleh rakyat Banggai sudah sangat berat karena selalu dirugikan oleh VOC. Tahu raja Abu Kasim menjalin kerjasama dengan Raja Bungku, akhirnya VOC jadi berang (marah). Abu Kasim lantas ditagkap dan dibuang ke Pulau Bacan (Maluku Utara), hingga akhirnya meninggal disana.

Usaha Raja-raja Banggai untuk melepaskan diri dari belenggu Kerajaan Ternate berulang kali dilakukan dan kejadian serupa dilakukan Raja Banggai ke-9 bernama Antondeng yang bergelar Mumbu Doi Galela (1808 – 1829). Serupa dengan Raja-raja Banggai sebelumnya, Antondeng juga melakukan perlawanan kepada Kesultanan Ternate. Sebenarnya perlawanan Anondeng ditujukan kepada VOC (Belanda). Karena Antondeng menilai perjanjian yang disebut selama ini hanya menguntungkan Hindia Belanda dan menjepit rakyatnya. Karena itulah Antondeng berontak. Karena perlawanan kurang seimbang, Antondeng kemudian ditangkap dan dibuang ke Galela (Pulau Halmahera).

Setelah Antondeng dibuang ke Halmahera, Kerajaan Banggai kemudian dipimpin Raja Agama, bergelar Mumbu Doi Bugis. Memerintah tahun 1829 – 1847. Raja Agama sempat melakukan perlawanan yang sangat heroik dalam perang Tobelo yang sangat terkenal. Tetapi Kerajaan ternate didukung armada laut yang modern, akhirnya mereka berhasil mematahkan perlawanan Raja Agama. Pusat perlawanan Raja Agama dilakukan dari Kota Tua – Banggai (Lalongo). Dalam perang Tobelo, Raja Agama sempat dikepung secara rapat oleh musuh. Berkat bantuan rakyat yang sangat mencintainya, Raja Agama dapat diloloskan dan diungsikan ke wilayah Bone Sulawesi Selatan, sampai akhirnya wafat di sana tahun 1874.

Setelah Raja Agama hijrah ke Bone, munculah dua bersaudara Lauta dan Taja. Kepemimpinan Raja Lauta dan Raja Taja tidak berlangsung lama. Meski hanya sebentar memimpin tetapi keduanya sempat melakukan perlawanan, hingga akhirnya Raja Lauta dibuang ke Halmahera sedang Raja Taja diasingkan ke Pulau Bacan, Maluku Utara.

Dalam Pemerintahan Kerajaan Banggai, sejak dulunya sudah dikenal sistem demokrasi. Dimana dalam menjalankan roda pemerintahan Raja akan dibantu oleh staf eksekutif atau dewan menteri yang dikenal dengan sebutan komisi empat, yaitu:

  1. Mayor Ngopa atau Raja Muda
  2. Kapitan Laut Kepala Angkatan Perang
  3. Jogugu atau Menetri Dalam Negeri
  4. Hukum Tua atau Pengadilan

Penunjukan dan pengangkatan komisi empat, dilakukan langsung oleh Raja yang tengah bertahta. sementara badan yang berfungsi selaku Legislatif disebut Basalo Sangkap. terdiri dari Basalo Dodonung, Basalo Tonobonunungan, Basalo Lampa, dan Basalo Ganggang. Basalo Sangkap diketuai oleh Basalo Dodonung, dengan tugas melakukan pemilihan setiap bangsawan untuk menjadi raja. Demikian pula untuk melantik seorang raja dilakukan di hadapan Basalo Sangkap. Basalo sangkap yang akan melantik raja, lalu akan meriwayatkan secara teratur sejarah raja-raja Banggai.

Berurut kemudian disebutkanlah calon raja yang akan dilantik, yang kepadanya akan dipakaikan mahkota kerajaan. Dengan begitu, raja tersebut akan resmi menjadi Raja Kerajaan Banggai. Silsilah raja-raja Banggai disebutkan sebagai berikut:

  1. Mandapar dengan gelar Mumbu Doi Godong,
  2. Mumbu Doi Kintom,
  3. Mumbu Doi Balantak,
  4. Mumbu Doi Benteng,
  5. Mumbu Doi Mendono,
  6. Abu Kasim,
  7. Mumbu Doi Pedongko,
  8. Manduis,
  9. Antondeng,
  10.  Agama,
  11.  Blauta,
  12.  Taja,
  13.  Tatu Tanga,
  14.  Saok,
  15.  Nurdin,
  16.  Abdul Azis,
  17.  Abdul Rahman,
  18.  Haji Awaludin,
  19.  Haji Syukuran Aminuddin Amir.

Demikian sejarah Banggai yang sekarang menjadi Kabupaten banggai

Profil Kerajaan Banggai

Setiap Komunitas Masyarakat pada Masa ke masa memiliki ikatan emosional yang kuat, baik karena kesamaan Adat Istiadat, maupun karena di satukan oleh kondisi Giografis Banggai adalah salah satu di antara Komunitas yang telah eksis ratusan Tahun yang lalu sebelum Kerajaan Banggai secara resmi terbentuk pada Tahun 1600 M.

Pada masa pra Kerajaan Banggai di wilayah kekuasan Kerajaan Banggai berdiri empat buah Kerajaan yang memiliki Wilayah dan berdaulat atas wilayahnya. Empat Kerajaan dimaksud adalah Babolau berkedudukan di Babolau ± 5 km dari Desa Tolise Tubono, Kokini berkedudukan di Desa lambako, Katapean berkedudukan di desa Sasaban ± 5 km dari Desa Monsongan dan Singgolok berkedudukan di Bungkuko Tatandak ± 7 km dari Desa Gonggong Keempat Kerajaan tersebut hidup dalam suasana saling mencurigai bahkan cenderung bermusuhan sehingga sering terjadi peperangan antara keempat Kerajaan tersebut ini, masing – masing mempertahankan kedaulatannya dan tidak ada yang mengalah.

Dalam suasa bermusuhan ini datang seorang Pangeran penyembar Agam Islam dari Kerajaan Kediri yang bernama Tabea ADI COKRO ( Mbumbu doi Jawa ),atau di Banggai dikenal ADI SOKO menginjakkan kaki di Banggai sekitar Tahun 1580 M, kedataangan Adi Cokro di Pulau Banggai menemukan suasana Masyarakat yang saling bermusuhan antara Kerajaan Babolau, Kokini, Katapean, dan Kerajaan Singgolok maka sebagai seorang yang bijak timbullah niatannya untuk mempersatukan kerajaan yang saling bermusuhan tersebut.

Adi Cokro selama tinggal di Banggai kawin dengan Putri Nurusjaffa salah seorang Putri Kerajaan Singgolok, dan Putri Kerajaan Babolau bernama Nursia Kutubuzzaman, perkawinan Adi Cokro dengan Nurussaffa Kutubul Qaus memperoleh seorang Putra bernama Abu Qasim dan perkawinan dengan Nursia Kutubuzzaman memperoleh anak bernama Putri Saleh. Namun sebelum beliu pergi ke Banggai, Adi Cokro pernah tinggal di Kerajaaan Ternate dan sempat kawin dengan seorang Bangsawan bernama Castella berketurunan Portugis, dari perkawinan ini memperoleh seorang Putra Maulana Prins Mandapar dan pendekatan perkawinan Adi Cokro tersebut berhasil mempersatukan Empat Kerajaan tersebut dengan memberikan kewenangan untuk mengangkat Raja atau Tomundo. Empat Raja yang dipersatukan tersebut diberi gelar Basalo yang dikenal dengan “ Basalo Sangkap “ Pada masa inilah terbentuknya awal mula Kerajaan Banggai secara terorganisir,

Sebagai pendiri Kerajaan Banggai mereka disebut Basalo Sangkap dengan kedudukan sebagai lembaga tinggi sejajar dengan Tomundo/ Raja. Basalo Sangkap membidangi urusan Legislatif dan penasihat Tomundo yang berhak memilih, mengangkat, melantik dan memberhentikan Raja. Sedangkan Tomundo membidangi urusan Eksekutif / pemerintahan kerajaan. Di Kerajaan Banggai tidak dikenal dengan adanya putra Mahkota, karena setiap pergantian Raja ditetapkan dalam musyawarah Basalo Sangkap. Silsilah Raja – Raja Kerajaan Banggai yang terbagi dalam 2 masa yakni periode Kerajaan Kuno dan Periode Kerajaan Baru ( 1600 – 2009 M ). Dan Silsilah Raja – raja setelah terbentuknya awal mula Kerajaan Banggai secara terorganisir 1600 – 2009 M

Secara De Jure kerajaan Banggai berakhir pada tahun 1952 dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1952, tanggal 12 Agustus 1952 Tentang Penghapusan Daerah Otonom  Federasi Kerajaan Banggai.

Wilayah Kerajaan Bang­gai kini terletak di Kabupaten Banggai Kepulauan, Pulau Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Menurut buku Babad Banggai Sepin­tas Kilas susunan Mach­mud HK, kerajaan ini di­perkirakan berdiri pada 1525.

Machmud mengatakan, sulit sekali memeroleh fakta-fakta yang obyektif untuk penulisan sejarah Banggai, apalagi tidak ada catatan tertulis sarna sekali tentang sejarah Banggai pada tahun-tahun sebelum abad ke-14. Sumbernya, kata Machmud, hanya cerita dari mulut ke mu­lut atau dari balelee, yakni cerita yang disampaikan dengan cara bernyanyi oleh seseorang yang dinilai kemasukan roh halus.

Satu-satunya bukti tertulis yang menunjukkan Banggai pada abad ke-14, adalah Nagarakre­tagama karangan Mpu Prapanca yang bertarikh 1278 Saka (1365 M). Prapanca menamai Banggai dengan Bang­gawi.

Empat Kerajaan Kecil: Babolau, Singgo­lok, Kookini, dan Katapean

Kerajaan Babolau me­rupakan satu dari empat kera­jaan kecil yang pernah berdiri di Pulau Banggai. Tiga kerajaan lainnya adalah Kerajaan Singgo­lok, Kookini, dan Katapean, yang masing-masing juga memiliki “rumah keramat” yang dianggap bekas is­tana. Tidak ada literatur yang dapat memastikan tahun berapa keempat kerajaan itu berdiri. Babad Banggai Sepintas Kilas, misalnya, hanya menyebut keempat kerajaan itu masih ber­diri sampai abad ke-15.

Delapan dari 24 pemangku adat Kerajaan Ba­bolau pun, tidak dapat memastikan tahun berapa Babolau dan tiga kerajaan lainnya berdiri. “Kami tidak tahu pasti tahun berdiri­nya. Tapi, dari cerita orangtua kami dulu, empat kerajaan ini­lah yang menjadi cikal bakal Ke­rajaan Banggai,” tutur Jabura, pemangku adat Kerajaan Babolau lainnya. 

Adi Cokro, Panglima Perang Kesultanan Ternate, Pendiri Kerajaan Banggai

Dari sejumlah pustaka disim­pulkan, pada awal abad ke-16 empat kerajaan kecil itu diku­asai Kesultanan Ternate. Adi Cokro, Panglima Perang Kesultanan Ternate yang berasal dari Jawa, kemu­dian menyatukannya menjadi satu kerajaan, yaitu Kerajaan Banggai yang beribukota di Pu­lau Banggai. Adi Cokro inilah yang dianggap sebagai pendiri Kerajaan Banggai.

Oleh Adi Cokro, keempat rajanya kemudian dijadikan Ba­salo Sangkap yang terdiri dari Basalo Dodung (Raja Babolau), Basalo Gong-gong (Raja Singgo­lok), Basalo Bonunungan (Raja Kookini), dan Basalo Mon­songan (Raja Katapean).

Setelah memperluas wilayah Kerajaan Banggai, dari semula hanya Banggai Laut (kini Bangkep) sampai ke Banggai Daratan (Kabupaten Banggai), Adi Cokro kembali ke Jawa. Basalo Sangkap lantas memilih Abu Ka­sim, putra Adi Cokro hasil per­kawinan dengan Nurussa­pa, putri Raja Singgolok, men­jadi Raja Banggai. Namun, se­belum dilantik, Abu Kasim dibunuh bajak laut dalam suatu pelayaran hingga tewas.

Basalo Sangkap kemudian memilih Maulana Prins Manda­par, anak Adi Cokro yang lain, hasil perkawinannya dengan seorang putri Portugis. Basalo Sangkap ini pula yang melantik Mandapar menjadi raja pertama Banggai yang berkuasa mulai ta­hun 1600 sampai 1625. Menurut Machmud, Raja Mandapar berkuasa sejak tahun 1571 sampai tahun 1601.

Pelantikan Mandapar dan ra­ja-raja setelahnya dilakukan di atas sebuah batu yang dipahat menyerupai tempat duduk. Sampai saat ini batu tersebut masih ada di Kota Tua Banggai Lalongo, sekitar 5 km dari Kota Banggai. 

Perang Tobelo

Setelah masa kekuasaan Raja Mandapar berakhir, raja-raja Banggai berikutnya berusaha melepaskan diri dari Kesultanan Ternate. Mereka menolak bekerja sama dengan Belanda, yang pada 1602 sudah menginjakkan kaki di Bang­gai. Upaya melepaskan diri dari kekuasaan Ternate ini mengakibatkan sejumlah ra­ja Banggai ditangkap lalu dibuang ke Maluku Utara.

Perlawan­an paling gigih terjadi pada masa pemerintahan raja Banggai ke-10 yang bergelar Mumbu Doi Bugis. Pada masanya meletuslah Perang Tobelo.

Sampai awal 2000, war­ga Banggai mengaku masih se­ring menemukan sisa-sisa Pe­rang Tobelo di Kota Tua Banggai Lalongo, sekitar 5 km dari pusat Kota Banggai. Sisa-si­sa yang dimaksud adalah berupa teng­korak dan tulang-belulang ma­nusia yang diduga sebagai tulang-belulang prajurit Kerajaan Banggai atau dari pihak Ternate. Warga pun sering menemukan porselin yang diperkirakan dibawa orang-orang Cina ke Banggai sejak abad ke-13.

Basalo Sangkap, Lembaga Legislatif ala Kerajaan Banggai

Hingga 1957 raja-raja Banggai berjumlah 20 orang. Jika dinilai tidak mampu me­mimpin, raja-rajanya dapat diberhentikan, layaknya kehidupan demokratis za­man ini.

Basalo Sangkap—se­macam lembaga legislatif—adalah yang bertugas memilih, melantik, dan memberhentikan raja Banggai. Terbentuknya Basalo Sangkap ini berawal dari empat kerajaan kecil di Pulau Banggai: Babolau, Singgolok, Kookini, dan Katapean. 

Dalam Babad Banggai Sepintas Kilas dikatakan, sebe­lum Kerajaan Banggai berdiri, empat kerajaan ini selalu ber­selisih. Masing-masing ingin menguasai yang lain, saling bersitegang. Namun, persaingan tersebut tidak sampai pa­da peperangan, melainkan hanya adu kesaktian raja masing-ma­sing. Mungkin karena selalu ber­selisih, maka empat kerajaan ter­sebut jatuh ke dalam kekuasaan Kesultanan Temate, seki­tar abad ke-16.

Adi Cokro, Panglima Perang Kesultanan Temate yang berasal dari Jawa, kemudian menyatu­kan keempat kerajaan itu, men­jadi Kerajaan Banggai. Keempat rajanya kemudian dijadikan Ba­salo Sangkap yang terdiri dari Basalo Dodung (Raja Babolau), Basalo Gong-gong (Raja Singgo­lok), Basalo Bonunungan (Raja Kookini), dan Basalo Mon­songan (Raja Katapean).

Setelah Adi Cokro menyatu­kan keempat kerajaan itu, ia kembali ke Jawa. Basalo Sangkap lalu memilih Abu Ka­sim. Namun, se­belum dilantik, Abu Kasim dibunuh bajak laut. Basalo Sangkap pun memilih Maulana Prins Manda­par, lalu melantiknya menjadi raja pertama Banggai (1600-1625). 

Komisi Empat dan Pembantu-pembantunya

Setelah Mandapar dilantik, Kerajaan Banggai mulai ditata sedemikian rupa sehingga sistem peme­rintahan dan kehidupan rakyatnya berjalan secara baik. Untuk membantu raja, diben­tuklah dewan menteri, dikenal dengan Komisi Empat. Komisi Empat ini terdiri dari Mayor Ngopa (Raja Muda), Kapitan Laut (Kepala Ang­katan Perang), Jogugu (Men­teri Dalam Negeri), dan Hukum Tua (Pengadilan).

Komisi Empat tersebut ma­sing-masing memiliki sejumlah pembantu. Mereka dan pemban­tu-pembantunya dipilih dan diangkat langsung oleh raja de­ngan persetujuan Basalo Sang­kap. Selain Komisi Empat dan pembantu-pembantunya, raja juga mengangkat staf pri­badi untuk urusan pemerintah­an dan rumah tangga istana.

Ketika empat raja yang men­jadi Basalo Sangkap itu mangkat, posisi mereka digantikan oleh keturunannya atau setidak-ti­daknya oleh orang yang memi­liki hubungan keluarga dengan mereka. Sampai saat ini ketu­runan dari Basalo Sangkap itu masih dapat kita temui.

Namun, peranan keturunan mereka tidak lagi sebagai Basalo Sangkap yang memilih, melan­tik, dan memberhentikan raja, melainkan sebagai pemangku adat kerajaan masing-masing. Peran­an Basalo Sangkap di Kerajaan Banggai telah berakhir seiring dengan berakhirnya kekuasaan Raja Banggai ke-20, Raja Syu­kuran Aminudin Amir, pada 1957. Dua tahun sete­lah itu, wilayah kekuasaan Ke­rajaan Banggai resmi menjadi Daerah Swantara (setingkat ka­bupaten) Tingkat II Banggai.

Jabura, salah seorang pemangku adat Kerajaan Babo­lau, mengatakan, silsilah keturunan Basalo Sangkap masih je­las. Masing-masing kerajaan (Babolau, Singgolok, Kookini, dan Katapean) memiliki 24 pe­mangku adat yang merupakan keturunan raja. Tugas mereka saat ini adalah menjaga dan me­lestarikan peninggalan kerajaan masing-masing, seperti istana, pedang, tombak, dan bendera pusaka. 

Jejak-jejak Kerajaan Banggai

Di Kota Tua Banggai Lalongo, yang dahulu menjadi pusat Ke­rajaan Banggai, pun masih dapat ditemukan sejumlah situs tua, seperti tempat duduk pelantikan raja-raja Banggai yang terbuat dari batu dan su­mur tua (sumber mata air penduduk setempat kala itu). Sayang, situs-situs berse­jarah tersebut sangat tidak terawat, ditutupi semak belukar.

Jejak Kerajaan Banggai juga dapat ditemukan dengan rnengunjungi Keraton Banggai yang terletak di pusat Kota Banggai. Namun, selain ti­dak mendapatkan informasi ta­hun berapa istana Kerajaan Banggai itu didirikan, kita juga tidak akan rnenemukan ben­da-benda peninggalan Kerajaan Banggai di sana, selain dua me­riam buatan Belanda.

Setelah keku­asaannya berakhir, raja-raja Banggai membawa benda-benda peninggalan kerajaan ke rumah­nya masing-masing. Hal itu terjadi karena raja-raja Banggai bukan berasal dari satu garis keturunan, melainkan dipilih dari rakyat biasa yang dianggap mampu memimpin Kerajaan.

Kamali Boneaka, Rumah Keramat Banggai

Jika biasanya para penjaga istana dan benda-benda pusaka kerajaan adalah para lelaki, lain halnya di Banggai Kepulauan, di mana perempuanlah yang dipercayakan bertugas menjaganya. Itu pun perempuan yang berusia 50 hingga 80 tahunlah yang memenuhi syarat menjaganya. Pimpinan ini diserahkan kepada seorang perempuan berusia 80 tahun bernama Patin.

Patin adalah seorang keturunan langsung dari salah seorang raja yang pernah berkuasa di Banggai. Sejauh ini tidak pernah ada yang berani mengusili ataupun menjamah koleksi pusaka itu. Hanya atas izin Patin seseorang diperkenankan masuk ke dalam istana. Patin adalah warga terpilih yang memiliki hak istimewa untuk tidur dan makan di rumah peninggalan kerajaan leluhur tersebut. Ia dihormati sebagai sosok suci yang layak menjadi penjaga utama karena dirinya memenuhi semua syarat yang ditentukan adat: keturunan langsung raja terakhir yang berdiam di istana itu, sudah tidak haid, dan tidak bersuami sehingga mampu sepenuh jiwa-raga mencurahkan dirinya bagi tugas yang diembannya.

Kata Kamali Boneaka secara harafiah berarti “rumah keramat”. Ini adalah bekas istana Kerajaan Babolau, salah satu kerajaan di Banggai Kepulauan yang ditaklukkan oleh Kesultanan Ternate dan kemudian bergabung dalam Kerajaan Banggai. Rumah panggung dari kayu yang masih berdiri kokoh konon sudah berumur ratusan tahun sehingga mengalami beberapa kali pemugaran. Di dalamnya tersimpan benda-benda pusaka yang usianya lebih kurang sama dengan usia rumah tersebut, seperti pedang, tombak, payung, dan bendera, juga kain pelantikan Tomundo sepanjang 17 meter bewarna merah. “

Rumah pusaka berbentuk panggung itu terdiri dari sebuah teras, sebuah ruang utama seluas kurang-lebih 5 x 8 meter, dan dua ruang kecil—satu kamar tidur  dan satu lagi dapur. Untuk memasuki rumah pusaka ini disediakan dua tangga: di sisi kanan dan sisi kiri teras. Menurut tradisi, tamu hanya boleh naik dari tangga di sebelah kanan teras. Sehari-hari, Patin melakukan kegiatan dan tidur di ruang utama rumah pusaka Kamali Boneaka .

Di rumah keramat ini tersimpan sebuah bendera pusaka warisan leluhur dari abad ke-13. Warnanya merah-putih, seperti Sang Merah-putih, namun ia merah-putih bersusun 13. “Kami yakin, Bendera Indonesia kini, terinspirasi salah satunya dari bendera Kerajaan Banggai,” kata Hamzen B. Kuat dari Lembaga Adat Masyarakat Banggai.

Benda-benda pusaka yang tersimpan di Kamali Boneaka tidak sembarang waktu bisa dipegang atau dibersihkan. Jadwalnya tiga tahun sekali. Membersihkannya pula harus menggunakan air yang diambil dari sebuah sumur yang dipercaya sebagai keramat di depan bekas Istana Kerajaan Babolau itu. Prosesi pencucian pusaka leluhur ini dinamakan Bakubusoi dalam dialek Banggai. Menurut Sri Wahyuni, salah seorang perempuan yang memelihara istana, benda-benda pusaka Kamali Boneaka hanya boleh disentuh oleh Patin.

Ada dua pedang melekat di dinding. Ada pula sebuah tongkat kayu, sebilah tombak, tameng dan payung pelantikan Tomundo (raja/ratu) diikat dengan kain merah di tiang tengah rumah. Lalu ada dua botol berisi air dari sumur keramat. Di bagian kanan ruang utama Kamali Boneaka tersimpan sejumlah kain merah pengikat perut yang dipakai saat pelantikan oleh 12 perempuan penjaga Kamali, ditambah dengan 17 meter kain panjang yang juga bewarna merah. Itu digunakan saat mengelilingi Tomundu baru yang akan dilantik.

Molikur atau mengelilingi raja dengan kain panjang berwarna merah adalah satu tugas perempuan penjaga Kamali Boneaka,” tutur Patin.

Untuk menjaga Kamali Boneaka, Patin dibantu oleh para penjaga istana yang berjumlah 24 orang yang berusia 50 tahun ke atas, 12 perempuan dan 12 lelaki. Sehari-harinya, mereka bertugas membersihkan halaman istana, membersihkan istana dan menyiapkan makanan bagi Patin. Kamali Boneaka sangat dihormati dan kelestariannya sangat diperhatikan oleh setiap warga.

-ooo-

 

4. BIOGRAFI SEJARAH HIDUP KI DJAKA TOLOS

DALAM TEMA

KACA BENGGALA :

MAHKOTA MAYANG KARA ;

 

{ LAMBANG BAYANGAN SEMU }

Berawal dari jaman Kerajaan di telatah tanah pasundan jawa barat. Salah satu kerajaan yang merupakan pecahan dari kerajaan besar di tanah pasundan. Sebut saja kerajaan bayangan. Dengan rajanya yang arip bijaksana. Bergelar Prabu panitihan

Setelah Raja pertama yang bergelar Panembahan ratu.I meninggal dunia pada tahun 1641, pemerintahan keraton bayangan di duduki oleh sahabat dekat sang raja, dan sebut saja nama Pangeran penyalin. Yg kemudian, stelah sang putra mahkota tlah dewasa. dan sebut saja bernama Pangeran anom, kemudian mewarisi dan menggantikanya sebagai sultan kedua di keraton bayangan, Bergelar Panembahan ratu 2.

Lalu kemudian di teruskan lagi oleh putranya lg dan sebut saja bernama Pengeran antaboga, bergelar Panembaha ratu 3. kemudian di teruskan lagi oleh putranya bernama Pangeran lajer, bergelar Panembahan Ratu.4. lalu di teruskan lagi oleh putranya bernama Raden anom, bergelar Panembahan Ratu.5. dan di teruskan lagi oleh putranya, bernama pengeran pungkes. Bergelar Pangeran Damarjati. yang beristrikan Dewi ratna dumilah, yang juga masih saudara, sepupunya sendiri, karena dewi ratna dumilah merupakan cucu dari Pangeran lajer. Hasil dari pernikahan tersebut, Pangeran damarjati di karuniai lima orang putri

Masing2 bernama, 1. DEWI UTARSIH, 2. DEWI ARIMA, 3. DEWI KARMINI, 4. DEWI RUSMINI dan 5. DEWI ARIMI. menjelang usianya yang semakin tua, pangeran damarjati merasa gelisah akan keturunanya yang semuanya perempuan, dia selalu berpikir siapa kelak yang akan mewarisi tahta kasultananya, lalu dengan alasan itulah pangeran damarjati memaksa para putrinya untuk segera menikah, karena sangat berharap akan kelahiran seorang cucu lelaki untuk pewaris tahta nantinya, namun sayang apa yang di kehendaki pangeran damarjati, sangatlah berbeda dengan kehendak tuhan, empat putrinya yang telah di paksanya menikah, tak satupun yang melahirkan cucu lelaki, seperti yang sangat di harapkanya

Rasa kecewa dan kawatir pun menghantui benak pangeran damarjati, kesadaran nampak menjauh dari imanya, sehingga ke empat putri dan menantunya juga cucunya di buat sasaran amarahnya yang tak beralasan. akibatnya, karena sering di buat kesal. tersinggung dan di abaikan, membuat semuanya tidak betah berada di dalam keraton dan memilih kabur pergi dan minggat entah kemana rimbanya

Lalu jatuh pada giliran dewi arimi putri kelimanya, yang saat itu masih berumur 8 tahun, karena masih terlalu kecil, dewi arimi di didik dan di gembleng menjadi seorang satria, di ajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian, juga di ajari bermain pedang juga perang laga, akhirnya sipat lemah lembut sebagai seoarang wanita dan seorang putri rajapun hilang lenyap, berubah menjadi ganas dan sombong tak ubahnya seorang lelaki,namun semua itu tidak juga membuat pengeran damarjati sadar dari kekeliruanya

Sampai2 dewi ratna dumilah istrinya jatuh sakit karena tak tahan dengan sikap sang pangeran suaminyanya, di tambah memikirkan ke empat putrinya yang kini entah ada di mana, terlalu berat beban yang harus di tanggungnya. hingga tak mampu bertahan dan meninngal dunia, namun pangeran karim tetap belum sadar juga, menginjak usia yang ke 13 tahun, dewi arimi pada akhrinya di suruh segera menikah pula, karena pikirnya, sehebat apapun dewi arimi, dia tetaplah seorang wanita yang takan mampu dan sah sebagai pewaris tahta kerajaan, dewi arimi yang tau nasib ke empat kakanya yang kini entah di mana rimbanya itu, menolak untuk di nikahkan

tapi pangeran bersih keras memaksanya, karena tak mau di anggap murtad melawan orang tua, terpaksa dewi arimi berdalih lain dalam penolakanya,yaitu menolak secara halus, dengan cara, dia mau di nikahkan tapi dengan satu sarat, yaitu lelaki yang akan menjadi suaminya harus lebih hebat darinya, untuk mengetahui kehebatanya, dengan cara bertarung terlebih dahulu denganya, siapa lelaki yang bisa memegang buah dadanya, maka itulah yang akan menjadi suaminya.dengan senang hati pangeran damarjati menerima sarat itu, segara menyebar undangan kepada semua sahabatnya, untuk mencari dan mendatangkan para lelaki jawara guna menundukan dewi arimi

Mungkin karena kehendak tuhan dan adanya istilah di atas bukit masih ada langit, akhirnya dewi arimi pun bisa di kalahkan oleh salah satu peserta terkhir asal dari luwung ireng bernama madsalim, putra ketiga KI BUYUT SARPANI sesepuh dari dukuh macan ringgit. Dan menikahlah dewi arimi dengan madsalim walau dengan keterpaksa, karena takut akan bernasib sama dengan ke 4 kaka2nya yang lain.

Setelah menikah di paksa pula untuk segera punya anak, setelah hamil tiga bulan, pangeran damarjati mendatangkan hampir semua ahli tebak yang ada di wilayah kota kerajaan untuk menebak bayi yang ada di dalam kadungan dewi arimi itu, lelaki atau permpuan, hasil tebakan itu menyatakan permpuan, dan pangeran damarjatipun pun nampak kecewa, terlebih lagi setelah bayi itu lahir, ternyata benar perempuan, semakin membuatnya tambah kecewa berat, karena tak mau bernasib sama seperti ke empat kakaknya, dan ingin membuat pangeran damarjati bahagia, akhirnya dewi arimi dan madsalim sepakat untuk bisa hamil lagi

Walau anak pertamanya masih berumur 3 bulan, dan usaha mereka pun berhasil. dewi arimi hamil untuk yang kedua kalinya, saat anak pertamanya bernama DEWI ATNESIH berumur 8 bulan. Mendengar berita itu pangeran damarjati sedikit tersenyum, seperti pada awal pula. tebak menebak pun terjadi lagi, namun tebakan kali ini tidak sama seperti awal,10 orang menebak bahwa jabang bayi itu lelaki, tapi yang 4 orang lainya menebak bahwa jabang bayi itu permpuan

Pengeran damarjati semakin di buat gelisah oleh tebakan tersebut, seperti biasanya, pangeran karim kembali resah dan suka menyendira di ruang pamijahan keraton. menginjak usia kandungan dewi arimi yang ke enam bulan. munculah gerombolan pengacau yang menamakan dirinya DI, yang datang mengcaukan dan menghancurkan serta mengadu domba para umat sesama umat muslim. saudara sesama saudara, peranya seperti musuh dalam selimut atau duri dalam daging. yang kejam mematikan dan menyakitkan

Lalu pangeran damarjati mengerahkan semua prajurit keraton untuk memerangi gerombolan penjajah itu, namun sayang, tanpa perasa’an, pangeran damarjati, juga  menugaskan dewi arimi untuk memimpin pasukan prajurit keraton itu, padahal tau kondisinya yang sedang hamil tua, karena tak tega melihat istrinya yang berbadan dua itu harus angkat senjata maju ke medan perang, madsalim pun turut ikut menyingsingkan lengan baju menyertai dewi arimi istrinya, angkat pedang sambil menggendong dewi atnesih putri pertamanya. walau demikian dewi arimi dan madsalim berhasil menyisir wilayah selatan keraton hingga ke barat dan timur keraton.

hingga di sekitar lereng gunung cermai, yang menjadi sarangnya

Setelah benar2 aman pasukan pun di halau kembali. setibanya di lereng gunung cermai bagian utara yang terkenal angker karena banyak di huni oleh para jim setan peri prayangan, dewi arimi merasa perutnya sakit termat sangat, prajuritpun di haruskan berhenti dan mendirikan tenda istirahat, menunggu dewi arimi merasa sehat kembali, namun tanpa di duga dan di sadari. tepat tengah malam rabu pon tgl 13 bulan 08 tahun 1959 dewi arimi melahirkan anak keduanya seorang putra lelaki dengan selamat dan sehat, dan anak kedua itu di beri nama JAKA TOLOS

Karena keada’an, perjalanan pulang ke keratonpun di tunda lebih lama lagi menunggu sampai dewi arimi benar2 pulih kembali kesehatanya, waktu jaka tolos berumur 7 hari, jaka tolos hilang di culik dewi permoni, ratu demit dari gunung gundul yang merupakan anak dari gunung cermai yang terletak di sebelah barat, untuk di jadikan calon pewaris ilmunya kelak, juga sekaligus akan di jadikan sebagai menantunya. namun dengan segala daya dan upaya, dewi arimi dan madsalim serta bantuan dari  ki buyut sarpani yang sengaja di jemput, jaka tolos putra kedua dewi arimi berhasil di rebut kembali

Mengetahui keada’an putra dan menantunya yang sangat memprihatikan itu, ki buyut sarpani sangat kecewa atas sikap pangeran damarjati besanya, lalu keduanya di laramg kembali ke keraton, dan di ajaknya untuk tinggal bersama di luwung ireng, sementara para prajurit di suruh tetap kembali ke keraton, tapi dengan memegang amanat rahasia tentang kelahiran jaka tolos, untuk tidak di ceritakan pada pangeran damarjati, yang telah lupa diri itu. namun yang namanya manusia tetaplah manusia, yang memiliki sipat salah dan lupa, sekalipun sudah di wanti2 oleh dewi arimi dan ki buyut sarpani

Satunya bisa memegang rahasia, satunya tidak bisa, akhirnya kelahiran jaka tolos pun sampai juga ke telinga pengeran damarjati, akibatnya, pangeran damarjati dan pengawal kususnya segara berangkat ke luwung ireng untuk menjemput dewi arimi sekeluarga dan memboyongnya kembali ke keraton

Sesampainya di keraton, jaka tolos di minta oleh pangeran damarjati untuk di rawat secara kusus di ruang keprabon, namanya di ganti menjadi RADEN TW DININGRAT. sejak itu dewi arimi sekeluarga mendapat perlakuan istimewa, semua ke butuhanya di cukupi dan di turuti

Namun tak boleh menemui Raden toso wijaya diningrat putranya, walaupun hanya sebentar, apapun alasanya, setahun dua tahun dewi arimi dan madsalim biasa2 saja. tapi setelah 4 tahun tak melihat putranya walau sedetik saja, akhirnya berontak juga, merasa ganjil dan tetap di perlakukan tidak adil, akhirnya keduanya berbuat nekad semaunya sendiri, semua pemberian pangeran damarjati yang merupan hadiah atau imbalan, sebagai gantinya sang putra lelakinya. Di  bawa keluar dan di titipkan ke orang tuanya di luwung ireng, juga anaknya dewi atnesih, lalu kembali lagi ke keraton untuk menculik anak keduanya, yang berada dalam kekuasaan pangeran damarjati sang ayah.

Setelah waktu malam yang sunyi tiba, bergeraklah keduanya membobol gerbang keprabon. tak satupun prajurit yang mampu menhalangi dua orang bercadar itu, apalagi mengalahkan atau menangkapnya, hingga keduanya berhasil masuk dan membawa kabur Raden tw diningrat atau jaka tolos keluar dari keraton menuju luwung ireng, setelah mengambil bekal dan putri pertamanya, lalu atas petunjuk ki buyut sarpani, keduanya menuju ke alas gandaka menemui sahabat ki buyut untuk bersembunyi disana, dan untuk sementara amanlah mereka berada di tempat itu

Sementara itu di keraton, pangeran damarjati, bingung resah dan marah pada semua prajurit yang tak mampu menangkap dua penyusup yang tlah menculik cucu tersayangnya yang kelak bakal mewarisi kedudukanya sebagai raja nantinya, namun setelah tau putri dan menantunya telah kabur dari tempatnya, pangeran damarjati baru tau dan sadar diri, namun dewi arimi dan madsalim sangat tidak tau akan kesadaran pangeran damarjati tersebut, bagaimana bisa tau, karena jarak dan tempat yang cukup jauh dan dalam keada’an sembunyi karena takut.

Selang beberapa waktu kemudian, ada kerajaan wetan yang sedang di serbu oleh kawanan pemberontak, yang merasa tidak puas akan pemerintahan, sang raja yang saat itu sedang berkuasa. pemberontakan itu di lakukan dalam penyamaran dan berada dalam lingkup keraton. hingga sulit untuk di perangi. lalu sang raja mengundang pangeran damarjati untuk membantunya, lalu berangkatlah, pangeran damarjati dengan sejumlah prajurit yang di butuhkanya, dan terjadilah perang saudara di luar keraton hingga merembet ke penjajahan wilayah, namun pangeran damarjati dan pasukanya, berhasil memenangkan peperang itu

Hingga mendapat pengharga’an dan hadiah dari sang raja, serta mendapat gelar panembahan Ratu.6

selain itu pangeran damarjati juga di nikahkan dengan putri sang raja yang sudah bersetatus janda, karena di tinggal suaminya yang tewas dalam pertempuran, dan sudah memiliki 3 putra peninggalan almarhum. dewi arimi yang mendengar kabar kalau ayahandanya telah menikahi wanita hadiah itu, menjadi sangat marah dan kecewa sekali

Lalu kekecewa’an dan marah itu di lampiaskan dengan sumpah, bahwasanya, dirinya benci pada tanah jawa yang di huni oleh pangeran damarjati ayahandanya. Yang di anggap telah menghianati sang almarhumah ibunya, lalu bersumpah akan pergi jauh tidak akan kembali menginjakan kaki lagi ke tanah jawa ini

Lalu menyuruh madsalim untuk membawanya pergi jauh meninggalkan tanah pasundan menyebrangi lautan dan tidak kembali lagi seumur hidupnya, segera madsalim membawa dewi arimi dan kedua putranya pergi berlayar menyebrangi lautan luas sesuai perminta’an dewi arimi, sa’at itu jaka tolos atau Raden toso wwijaya diningrat berusia lima tahun 3 bulan, sehingganya belum tau tentang apa yang sedang di alaminya

Di sisi lain, setelah proses perkawinanya dan tinggal selama 41 hari di kerajaan wetan, lalu pangeran dammarjati kembali ke keraton bayangan lagi dengan membawa putri dari kerajaan wetan, yang telah sah menjadi istrinya, juga ketiga anak tirinya yang berusia hampir menginjak masaremaja. setibanya di keraton, semua para abdi yang telah tau tentang proses perkawinanya, di wetan, menyambut dingin karena kecewa, sehingga kewibawa’an sebagai seorang rajanpun jatuh seakan lenyap

Tapi pangeran damarjati berusaha mengambil hati para abdi dan keluarga besar keraton. dengan alasan, sesungguhnya, pangeran damarjati dan putri dari wetan itu, sudah menjalin hubungan secara siri cukup lama, hingga sampai mempunyai 3 putra ini, akan tetapi karena waktu itu dewi ratna dumilah yang tidak mau di madu sa’at itu, membuat pangeran damarjati, merasa harus merahasiakan hubunganya, dan menunda pernikahan resminya, dan kini telah di nikahinya dengan resmi karena ratna dumilah telah tiada

Jadi, ketiga putra ini bukanlah putra tiri melainkan putra kandungnya yang selama ini di rahasiakanya karena tak ingin menyakiti hati dewi ratna dumilah almarhumah, walau pangeran damarjati berkata begitu, namun ada saja yang tidak percaya, terutama keluarga besar keraton. alasanya, kalau memang itu sudah memiliki putra lelaki, kenapa dari dulu sibuk dan bingung mengharap kehadiran cucu lelaki

Sampai2 semua jadi korban dan hancur. dan pada akhirnya pangeran damarjati kena batunya dari kebohonganya itu, tak berselang lama kemudian, munculah sebuah fitnah yang tak pernah di duganya, kerajaan wetan, yang merupakan mertuanya sendiri itu,  mendapat kabar burung, bahwasanya, pangeran damarjati sedang menyusun kekuatan penuh untuk memberontak kekuasaan mertuanya itu, secara diam2, serangan itu akan di lakukanya dari dalam, karena sudah tau dan hapal tentang seluk beluk dan kelemahan keraton. setelahnya keraton akan di ambil alih dan di miliki oleh pangeran damarjati. entah dari mana asal datangnya tuduhan itu

Yang jelas kerajaan wetan mempercayainya, lalu beliau menggunakan ide dan akal pula untuk membuat pangeran damarjati bisa datang ke kerajaan wetan.lalu sang rajapun menulis sebuah surat yang berisi ungkapan hati, dia mengatakan rindu ingin bertemu anak dan cucunya segera, jadi bisa tidak bisa tolong sowanlah ke wetan, pangeran damarjati yang tidak tau tentang munculnya fitnah itu

Bergegas lalu berkemas dan membawa istri dan ketiga putranya untuk sowan pada mertuanya, sesampainya di keraton. segera pangeran damarjati di undang menghadap kepada raja, yang tak lain adalah mertuanya itu. mendapat tuduhan tersebut, pangeran damarjati terkejut dan menyatakan tidak mungkin punya rencana sejahat itu, memiliki dan mengurus satu keraton saja sudah hampir tidak mampu, kok mau serakah, rebut kekuasaan lain. Terlebih lagi, itu adalah kekuasaan mertuanya sendiri. bahkan pangeran damarjati, memberi kesempatan untuk bertanya kepada putrinya sendiri yang sebagai pendamping, apakah melihat atau mengetahui dirinya sedang mempersiapkan kekuatan untuk memberontak atau tidak

Tapi tetap tidak ada yang peduli, akhirnya tanpa ada yang membela dan peduli pangeran damarjati di penjara seumur hidup di kerajaan wetan milik mertuanya itu. sementara keluarag di keraton bayangan di pasundan, sama sekali tidak di beri tau apa2, semuanya di rahasiakan, hingga tidak ada satupun yang tau, setelah beberapa tahun di penjara, pangeran damaejati jatuh sakit, karena merasa terlalu banyak beban masalah keluarga, hingga pada akhirnya meninggal di dalam penjara, dan secara diam2 dan penuh rahasia pula, jasad pangeran damarjati di makamkan di salah satu puncak gunung yang jarang di jamah oleh orang

Setelah itu ketiga putranya pulang untuk kembali ke pasundan. lalu bercerita kepada keluarga keraton dan seluruh abdi, yang menyebabkanya lama berada di wetan dan tidak segera kembali ke pasundan, karena ayahanda jatuh sakit, dan melarang untuk mengirim kabar ke pasundan, hingga sekarang meninggal, dan kedatangan mereka bertiga untuk menggantikan pangeran damarjati ayahnya, sebagai pewaris tahta. karena ketiga-tiganya hampir seusia dan merasa sama2 punya hak untuk mewarisi kedudukan itu.

Mereka bertiga pun jadi bertengkar salin memperebutkan tahta kerajaan, namun atas kebijaksana’an sesepuh keraton yang pernah jadi penasehat dan pendamping pribadi pangeran damarjati dulu, akhirnya keraton bayangan di pecah menjadi tiga bagian, tujuanya agar ketiga putra itu sama2 mendapatkan haknya masing2, pertama di sebut keraton panembahan sepuh. Kedua keraton panembahan anom dan ketiga keraton kabobongan.

Setelah terjadi pemecah keraton bayangan peninggalan Prabu panitihan. Keraton bayangan menjadi lenyap bagai sejarah tertelan bumi, dan tidak akan muncul lagi sampai kapanpun, yang ada hanyalah bangunan yang tak ubahnya sebuah museum kuno. Dan sejak itulah para abdi yang kurang setuju dan kurang senang akan kejadian tersebut, memilih keluar dari keraton dan mencari kehidupan baru di luar keraton, semuanya dan segalanya jadi berubah, dan perubahan itu semudah robahnya putaran bola dunia ini,

Begitulah proses kisah kelahiran jaka tolos, bak mutiara penghancur, untuk itu, wahai semua saudaraku, sadar dan ingatlah, tidak semua mutiara itu indah mempesona dan menguntungkan, ada kalanya menyakitkan, menghancurkan bahkan ada yang mematikan, seperti yang di alami pangeran damarjati, cerita di atas tadi,

dewi arimi dan semua kerabatnya, mereka mengharap munculnya sebuah mutiara dengan seribu harapan keindahan.

Namun setelah mutiara itu hadir, ternyata justru semuanya jadi hancur berantakan hingga berkeping-keping, bagaimana tidak, karena karena kelahiran jaka tolo yang di yakininya sebagai mutiara keluarga, pangeran damarjati harus kehilangan istri dan anak cucunya hingga wibawa dan hargadiri serta iman, dewi arimi juga harus berpisah dengan semuanya terutama bumi tanah pasundan yang indah ini. maka untuk itu, janganlah mudah terpesona dan terlena, karena sesuatu yang membuat kita terpesona dan terlena itu

Belum tentu membawa berkah dan berakhir indah. Seperti yang kita harapkan. mending kita terlena dan terpesona akan tuhan kita, karena dialah segalanya dari segalanya, semoga proses perjalanan ini. Cuma jaka tolos yang mengalami dan hanya jaka tolos yang menjalani, jangan sampai yang lain, karena sungguh sangat menyedihkan, bahkan menyakitkan banyak pihak

Namun, walau begitu, kita harus tetap yakin dan percaya, bahwa tuhan itu ada dan kuasa atas segalanya, segalanya / semuanya yang ada dan yang tak ada itu, tidak lepas dari kehendak tuhan, seperti kata pepatah lama mengatakan, tidak ada satupun daun yang jatuh tanpa kehendak tuhan, jadi semua itu adalah bergantung pada kehendak tuhan, dan jika tuhan telah berkehendak, tak satupun bisa menghindar, apalagi menoalak

Dan lagi, setiap tuhan berkehendak, pasti ada /punya tujuan. dan tujuan tuhan itu tak ada yang tak benar, semuanya benar, untuk itu jangan sekali-kali menyalah kan apapun yang terjadi di dunia ini, karena siapa tau itu adalah kehendak tuhan, lebih baik kita beristighfar dari pada menyalahkan. semoga bagi yang membaca kisah proses kelahiran jaka tolos, yang tertulis di atas tadi, dapat mengambil hiqmahnya, sehingga dapat lebih berhati-hati dan teliti serta waspada di dalam laku sepanjang hidup ini,

( toto – titi – titis lan eling waspodo surti ngati-ati ) nang ning neng nung iku luwih AGUNG wahanane.

Di sisi lain. Dewi arimi yg sejak awal di nikahi oleh pemuda desa bernama madsalim, putra dari ki buyut sarpani yang merupakan anak tunggal dari ki buyut macan ringgit dari luwung ireng, yg berhasil memenangkan sayembara perjodohan, saat dewi arimi di paksa menikah oleh ayahandanya Pengeran damarjati atau Panembahan ratu.6, yg saat itu sedang kacau balau dengan kepecahanya.

Dewi arimi yang merasa sangat kecewa atas sikap dan tindakan ayahandanya, yg menurutnya tidak adil tersebut. Lalu, dengan alasan itulah, dewi arimi memilih keluar dari tempat semestinya. Dan pergi ke tanah sebrang dengan sumpah serapah. Yang berbunyi. { demi langit dan bumi. Selama hidupku. Tidak akan pernah menginjakan kaki lagi di tanah jawa ini, kususnya pasundan}

Lalu, sekitar tahun 1964 tanpa di ketahui oleh kerabat keraton. Dewi arimi pergi bersama Madsalim suaminya dan kedua anaknya. Dewi atnesi putra pertama [perempuan] dan Djaka tolos putra kedua [laki-laki]. Pergi berlayar mengarungi samudra luas. Meninggalkan masa lalunya yang di rasakanya pahit

untuk menentukan hidupnya sendiri bersama tanggung jawab sang suami demi masa depan kedua putranya, Hingga terdampar di pulau Sulawesi bagian tengah

Dengan perjuangan yang tdk mudah.merekapun berjalan tertatih-tatih penuh harap kepada tuhan, untuk segera menemukan seseuatu yang di harapkan,agar bisa memulai membuka lembaran hidup yang baru…

Saat itu,putra pertamanya bernama Dewi atnesi baru berusia 6 yahun. Sedangkan Djaka tolos putra keduanya baru berusia 5 tahun. Mereka berdua sering meneteskan air matanya jika melihat kedua putranya yang harus ikut menanggung keputusanya, meninggalkan masalalu yang seharusnya indah dan menyenangkan. Dari satu tempat ke tempat lainya. Mereka mencari dan terus mencari kecocokan situasi dan kondisi guna memulai hidupnya dari awal

Dan,  kemudian tinggal menetap di pinggiran hutan sekitar gunung cowe.tempatnya masih hutan belantara, dan hanya ada beberapa gubug saja sebagai tempat istirahat bagi pekerja tani di ladang. karena merasa cocok, lalu madsalim membangun sebuah rumah yang cukup layak di banding gubug2 yang ada di sekitar tepi hutan tersebut. serta memulai bercocok tanam di ladang yang di olahnya di sekitar tempat tinggal. dewi arimi dan madsalim bekerja keras untuk menjadi yang terbaik dan berhasil.

Pada sa’at2 tertentu, mereka menanam padi, ada kalanya menanam jagung, sayuran, kedelai dan lain sebagainya tergantung musimnya, cocok dengan jenis tanaman apa, keberhasilan tani yang di peroleh madsalim, membuat warga sekitar tertarik dan menirunya, sampai2 ada yang ingin membuka lahan berdampingan denganya. lama kelama’an tempat tersebut jadi ramai di datangi oleh para petani yang ingin bergabung dengan madsalim dan tinggal menetap di tempat itu, tempat yang dulu hutan akhirnya menjadi sebuah desa kecil yang damai dan subur.

Madsalim pun mulai punya tetangga dan saudara ketemu tua. namun tetap saja yang paling sukses di tempat itu adalah keluarga madsalim. dan rumah yang paling bagus dan besar di tempat itu, hanya rumah madsalim. dan karena itu pula yang jadi di satroni perampok Cuma rumah madsalim juga. pada suatu ketika. karena keberhasilanya, madsalim jadi terkenal kemana-mana, hingga sampai ke telingan para perampok. tepatnya malam hari di sa’at semua warga sedang terlelap dalam tidurnya akibat kecapean sehabis kerja di ladang, rumah madsalim di datangi 11 orang perapok dari kota, namun dewi arimi berhasil melindungi kedua anaknya dan madsalim berhasil melindungi hartanya, juga berhasil meringkus 11 perampok itu dan menundukanya hingga kapok

Sejak kejadian itu nama madsalim jadi semakin tersiar, 11 perampok itu selain tunduk juga menjadi murid madsalim. dan karena para perampok itulah madsalim jadi di kenal banyak orang dan di segani.

Sehingganya, atas suruhan warga setempat, akhirnya madsalim mendirikan sebuah perguruan silat, selain para perampok itu, juga para pemuda desa banyak yang ikut belajar, bahkan ada yang sudah tua. tak lama kemudian namanya sampai di kecamatan batui, lalu madsalim di undang untuk datang ke kecamatan, madsalim lalu di angkat sebagai pemimpin di wilayah itu, dan wilayah itu di ubah menjadi sebuah desa yang di beri nama oleh madsalim sendiri yaitu. DESA RUSA KENCANA

Sebagai pemimpin yang berhasil dan bijaksana, madsalim jadi semakin berhasil dalam segala hal serta di hormati, seribu kesibukan mulai menghimpitnya, hingga tanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga sering terabaikan, sampai2 sa’at dewi arimi melahirkan anak ketiganya, madsalim tidak tau karena tidak ada di rumah. namun semua itu belum di rasakanya. waktu adik perempuan jaka tolos berumur satu tahun, dan umur jaka tolos sudah 8 tahun, lalu jaka tolos di daftarkan untuk sekolah di kecamatan pada tahun 1967, sementara dewi atnesi yang umurnya tak beda jauh dengan djaka, tidak di sekolahkan, di suruh bantu2 ibunya di rumah, karena menurut madsalim anak perempuan tak perlu pendidikan tinggi.

Setiap pagi djaka tolos berjalan kaki sejauh 9 km untuk sekolah di kecamatan, sedangkan dewi atnesi merawat endang taurina adik perempuan djaka yang baru berumur satu tahun. berangkat masih petang dan pulang hampir sore sudah menjadi kebiasa’an djaka tolos selama sekolah di kecamatan. pada suatu ketika, waktu itu dewi arimi sedang mengantar nasi buat madsalim suaminya yang sedang bekerja di ladang, sementara dewi atnesi mencuci pakaian di sumur, sementara djaka yang sedang libur sekolah menggendong adik perempuanya yang rewel dan susah di tidurkan. lalu sesa’at kemudian dewi atnesi menyuruh jaka tolos membetulkan api di dapur yang sedang di pakai merebus air, sambil menggendong sang adik djaka bergegas ke dapur untuk membetulkan api tersebut,

Sesudahnya, tanpa di ketahui ternyata tangan endang taurina meraih dan mengambil kayu yang sedang menyala dari dapur itu, karena di buat mainan, api yang menyala di kayu itu menempel di atap dapur yang terbuat dari ilalang, akibatnya, terbakarlah atap dapur itu, djaka tolos berusaha memadamkanya, tapi api semakin membesar, lalu segara memberi tau kakanya dan minta tolong, tapi sudah terlambat, api sudah menjalar ke seluruh atap dapur hingga merembet ke rumah

Dewi atnesi dan jaka tolos yang panik dan ketakutan, segara berteriak minta tolong ke warga yang ada, namun tetap saja tidak berguna, karena api yang sudah membesar, akibatnya, rumah yang terbesar dan terbagus itu ludes di lalab api hingga tanpa sisa sedikitpun kecuali arangnya. madsalim dan dewi arimi yang pulang dari ladang karena di beri kabar oleh warga, sesampainya di rumah terbelalak diam bagai patung yang rusak, keduanya salin berpadangan dan sama2 kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang mereka sesali, lalu sesudah api benar2 padam karena sudah tak ada lagi yang harus di bakar

Sesaat kemudian semua warga salin bantu, masing2 salin membawa bahan yang di butuhkan, lalu warga membuat gubug sederhana dari bambu untuk tempat tinggal sementara, dan sejak itulah semua jadi berubah, keluarga dewi arimi jadi sering menangis dalam batin, akibat musibah tersebut, sipat madsalim yang tadinya penuh kasih walau sering lalai kewajiban, kini jadi sering garang, mungkin karena keada’an, bercocok tanam di ladang jadi sering gagal panen, sampai kehabisan modal, simpanan sudah tak punya lagi, berangsur angsur para murid pun mulai mengundurkan diri, karena sudah tidak mendapat fasilitas apapun seperti dulu, jangankan memberi fasilitas pada murid, buat makan sendiri saja sering kekurangan

Lalu dewi arimi mencoba berdagang kue di pasar untuk menambah penghasilan sehari-hari, sementara madsalim yang tak bisa kerja di ladang lagi karena kehabisan bekal dan modal, lalu beralih menjadi pekerja buruh mencangkul di ladang para warga yang membutuhkanya, sementara dewi atnesi yang tak tega melihat kondisi kedua orang tuanya, nekad pergi ke kota menjadi pembantu rumah tangga, dan sebulan sekali kirim hasil buat kebutuhan di rumah, sementara djaka yang tetap sekolah mau tidak mau harus ikut merasa prihatin atas segala kekurangan yang sedang terjadi,

Sepulang sekolah mampir ke pasar menemui ibunya untuk minta makan yang kemudian membawa pulang adiknya, sedang dewi arimi masih tetap di pasar menunggu dagangan habis terjual, selain berdagang di pasar, kalau malam hari ada yang membutuhkan tenaga untuk menumbuk padi, dewi arimi juga buruh ke tetangga sebagai tukang penumbuk padi. pernah suatu ketika, sa’at itu pasar lagi sepi dari pengunjung, karena dearah ini sedang di landa kamarau panjang, banyak petani yang gagal panen, sehingga jarang yang punya uang untuk bisa belanja ke pasar, jualan kue milik dewi arimi masih utuh hampir tak laku, begitu laku bukan laku terjual tapi laku di hutang semua. sa’at djaka mampir ke pasar dengan sedih dewi arimi berbisik tak bisa membeli sarapan

Akhirnya dengan lemas karena lapar djaka tolos pulang sambil menggendong adiknya, di tengah jalan endang taurina sang adik menangis minta makan karena lapar, begitupun dengan djaka, akibat lapar dia hampir tak mampu berjalan sambil menggendong adiknya. sa’at istirahat di tepi jalan. di balik kebun djaka melihat ada buah pisang matang di pohon, tanpa berpikir panjang djaka nekad menerobos pagar itu untuk mengambil buah pisang tersebut, dan di makanya bersama sang adik,

Namun malang nasib djaka dan adiknya, baru memakan dua buah pisang saja, pemilik pisang itu datang dan memarahinya habis2san, jaka di tuduh orang yang sering mencuri pisang tanamanya, padahal baru kali itu jaka mencurinya, itupun terpaksa karena sangat lapar sekali, lalu jaka di hajar tanpa mengenal kasihan. setandan pisang di suruh dimakan hingga habis, setelah itu di pukuli hingga pisang yang baru di makan itu keluar lagi dari mulutnya, setelah puas memukuli, lalu djaka di suruh pulang dan di ancam untuk tidak mencuri tanaman lagi di tempat itu

Di rumahnya, dewi arimi yang mengetahui cerita dari djaka tentang kejadian itu, terisak sedih memeluk kedua anaknya sambil meneteskan air mata duka, sejak kejadian itu dewi arimi semakin menyibukan diri dengan segala usaha, namun tetap saja tidak mencukupi kebutuhanya

Pada suatu sa’at lagi, waktu itu dewi arimi sedang buruh menumbuk padi dan belum pulang hingga pagi tiba, sementara madsalim sedang lembur buruh di ladang tetangga, djaka tolos yang di tinggal di rumah bersama adiknya, kelaparan, lalu pagi itu djaka nekad lagi mencuri ubi milik tetangganya, karena sang adik tak henti2nya menangis akibat lapar, namun gagal karena keburu di ketahui oleh pemiliknya

Djakapun di hukum oleh sang pemilik ubi itu bersama adiknya yang baru berumur hampir dua tahun itu, djaka di suruh mencuci pakaian yang jumlahnya tak sedikit, lalu di suruh membersihkan halaman rumah dan memetik buah kelapa sebanyak 10 pohon, tanpa di beri apapun, selain itu djaka juga mendapat hukuman cambuk sebanyak 25 x,

Sementara dewi arimi yang sudah pulang dari buruh, kebingungan mencari kedua anaknya yang hampir sehari tidak pulang2, begitu pulang kedua anaknya dalam keada’an yang sangat memprihatinkan, tapi kali ini djaka tidak mau mengadu, karena tidak mau melihat ibunya meneteskan air mata lagi seperti dulu, sehaingga dewi arimi tidak tau kalau kedua anaknya habis menjalani hukuman karena mencuri. dan sejak itu dewi arimi selalu membawa serta endang taurina kemanapun dia pergi, karena tak mau menambahkan beban kepada djaka tolos

Pernah lagi suatu sa’at di sekolahan, karena tak punya pingsil buat menulis, sementara ada pelajaran yang harus di tulis sa’at itu juga, lalu djaka nekad mencuri pingsil milik temanya, setelah tau pingsilnya hilang, lalu temanya melapor pada guru, dan gurupun memeriksa semua murid, karena pingsil itu ada pada jaka, jaka pun jadi tersangka, lalu djaka di hukum untuk berlari mengelilingi halaman sekolah sebanyak seratus kali, setelah itu di suruh hormat bendera di halaman sekolah hingga tiba waktu pulang sekolah, karena lapar akibat dari kemarin tidak makan, jaka jatuh pingsan sa’at menjalani hukuman hormat bendera.

Sepulang sekolah karena tak mampu menahan lapar, djaka nekad lagi mencuri mangga yang di temuinya di pinggir jalan, untuk menghilangkan rasa laparnya, tapi belum sampai mendapatkan buah mangga itu, jaka sudah tertangkap oleh pemiliknya. jaka lalu di tampar dan di seret masuk rumah, pemilik mangga itu adalah adik ibu nanik guru sekolahnya, dia bernama pak ansori, pak ansori punya satu istri dan dua anak yang sudah seumur dengan djaka tolos.

Tapi pada sa’at itu istri dan kedua anaknya sedang tidak ada di rumah, sehingga pak ansori dapat melakukan apa saja terhadap jaka tolos sebagai hukuman karena mencuri mangganya, walau gagal tapi tetap di wajibkan untuk mendapat hukuman. setibanya di dalam, jaka di jatuhi dua pilihan, jaka di suruh memilih satu di antara dua, mau di pukul atau mau nurut dengan maunya pak ansori, dan jaka lebih memilih mau nuruti maunya pak ansori dari pada di pukuli

Setelah itu jaka di suruh mandi, seusai mandi di beri makan, setelah makan jaka di bawa masuk ke kamar, dan di suruh memijat tubuh pak ansori yang telanjang bulat tanpa selembar kainpun, tak lama kemudian jakapun di suruh telanjang pula, dan di suruh mempermainkan kelamin pak ansori hingga menegang keras, setelah itu jaka di suruh telungkup lalu kelamin pak ansori yang tegap dan keras serta itu di masukanya ke anus jaka, jaka merintih kesakitan, tapi pak ansori justru merintih seakan kenikmatan

Setelah puas dengan apa yang di lakukanya, lalu jaka di suruh pulang dengan berpesan agar tidak menceritakan kejadian tadi kepada siapapun, jika sampai cerita pada orang jaka di ancam akan di bunuh, ke esokan harinya, sepulang sekolah jaka tolos di hadang oleh pak ansori lalu di bawa masuk ke rumahnya untuk di paksa melakukan seperti kemarin, dan kali ini permainanya lebih menyakitkan bagi jaka, tapi mengasikan bagi pak ansori, dan ke esokan harinya lagi, karena takut di hadang dan di suruh melakukan hal yang sama lagi, jaka pulang sekolah tidak lewat jalan itu lagi, melainkan lewat perkebunan milik para warga

Tapi sialnya djaka, saat itu ada salah satu warga yang sedang sering kehilangan, dan orang tersebut sedang mengintai siapa pelakunya dari balik rumahnya, dan jakapun akhirnya jadi tersangka tersebut, pak hendrik melihat jaka yang sedang berjalan sambil mengendap-ngendap karena takut di lihat pak ansori itu, di anggap oleh pak hendrik mengendap karena mau mencuri barang miliknya, jakapun langsung di tangkap dan di hajar tanpa ampun, lalu di seret ketengah warga dan di masa sampai babak belur tanpa di tanya dan di beri kesempatan untuk berbicara

Setelah mereka puas, lalu menyeret jaka untuk di pasrahkan kepada kedua orang tuanya, madsalim dan dewi arimi yang baru saja istirahat karena kecapekan kerja, jadi terbelalak murka terhadap jaka, tanpa bertanya sedikitpun, madsalim lebih percaya kepada orang2 tersebut di bangding kepada jaka tolos anaknya sendiri yang berteriak minta ampun sambil berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa ampun lalu jaka di tendang sampai tersungkur jatuh, dewi arimi berusaha menghalangi tapi malah di jadikan sasaran, lalu jaka di ikat di pohon belimbing sambil sesekali berkata, anak durhaka anak tidak tau di untung

Lalu jaka yang di ikat di pohon tersebut, di beri semut angkrang,  [bahasa jawa], tak lama kemudian semut2 itu mengerumuni dan menggigiti seluruh tubuh jaka, jakapun berteriak minta ampun minta tolong tapi tak satupun yang peduli, hingga akhirnya jatuh pingsan tak sadarkan diri, ketika jaka membuka mata, jaka sudah berada dalam pangkuan dewi arimi yang menangis sambil mengharap jaka tersadar kembali, setelah sadar, jaka berusaha mengadu pada ibunya, sambil merintih karena badanya penuh luka pukulan dan gigitan semut akibat penganiaya’an tersebut, { maak………..saya tidak melakukan apa2, saya Cuma lewat karena takut, tapi kenapa saya di buat seperti ini, sungguh mak…….}

{ emak tau kamu tidak melakukanya, emak tau itu anaku, emak yakin ini semua kehendak gusti, dan gusti punya rencana baik untukmu anaku, untuk itu sabar dan tabahkan hatimu. kamu pasti mampu dan kuat. kamu pasti bisa anaku, karena di dalam jiwamu, emak melihat ada para leluhurmu }.begitulah cara Dewi arimi menghibur djaka tolos agar tidak merintih lagi….

Karena tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan ibunya itu, jakapun tertunduk bingung, tapi jaka merasa damai berada dalam pelukan sang ibundanya sa’at itu. dan sejak kejadian itulah jaka jadi di kenal oleh semua orang sebagai anak yang nakal dan badung,dan yang lebih membuat jaka tertekan adalah jaka tukang mencuri atau calon perampok yang harus di basmi seperti kuman atau hama tanaman

Di rumah jaka tak punya teman di sekolahpun jaka tak punya teman, di jalan jaka di jauhi dan selalu di pandang juriga oleh semua mata yang melihatnya.tersisih terbuang teraniaya bahkan tercampakan, kini di alami oleh djaka, tak satupun yang mau melirikanya apa lagi memandangnya.semua anak menjauhinya,semua orang mencurigainya semua manusia membencinya,jaka tolos pun menjadi sangat asing di manapun dia berada,nilai pelajaran di sekolah yang selalu baik di banding yang lainya,kini tak pernah di dapatnya lagi

Cita2nya yang ingin menjadi dokter agar dapat membantu pasien miskin pun menjadi tipis harapanya untuk tercapai.jaka jadi lebih sering mengurung diri di rumah,terkadang pergi di tepi sungai yang terletak di pinggir hutan untuk merenungi nasibnya yang begitu berat terasa.sepulang dari perenungan di tepi sungai, jaka terkejut lagi oleh tuduhan baru yang di teriamanya,belum terlupakan rasa sakit yang kemarin, kini muncul lagi tuduhan baru yang tak beralasan,kali ini jaka tolos di tuduh mencuri sekarung beras milik pak marsada tetangganya,sekalipun jaka membela diri dengan alasan kalau dia Cuma pergi ke sungai,tapi percuma saja,tak satupun yang mau percaya,karena bukti tidak adanya jaka di rumah pada sa’at kejadian itu,cukup membuat mereka yakin kalau jakalah pelakunya

Penyesalan jaka keluar dari rumah pada sa’at itupun tak berguna,karena peristiwa itu telah terjadi.seperti yang sudah berlalu jaka di hujani pertanya’an dan di paksa untuk mengaku serta mengembalikan barang tersebut,jaka pun kebingungan harus berbuat apa,terpaksa jaka pun mau tidak mau mengakui perbuatan yang tidak di lakukanya,tapi jaka kebingungan sa’at di suruh mengembalikan barang curian tersebuat,karena tak bisa mengembalikan barang,jakapun mengalami penyiksa’an lagi

Setelah menjalani penyiksa’an dari masa,lalu beralih dengan penyiksa’an dari madsalim bapaknya.jaka di rendam dalam sumur selama sehari penuh,setelah itu di kurung dalam kamar tanpa lampu dan makan minum.sehari dua hari jaka masih mampu menyuarakan tangisan,tiga hari keatas jaka sudah tak kuasa lagi bersuara dan meneteskan air matanya. Karena tenaganya mulai habis,pada sa’at itulah muncul di hadapanya seorang kakek tua yang tak lain adalah pangeran damarjati, kakeknya. kakek tua itu meneteskan air matanya sambil menyapa………….,(cucuku……kamu sudah besar…nak,) kata pangeran damarjati kakeknya

Djaka yang ketakutan melihat kemunculan kakek itu secara tiba2, segera menepi dan merapat ke diding penuh rasa takut, tapi sudah tak mampu bersuara lagi…..(jangan takut cucuku……aku kakekmu, bapak dari ibumu,) sambung kakek itu menenangkan djaka

Lalu kakek itu memberikan mustika merah delima kepada jaka untuk di telanya,setelah menelan mustika tersebut,rasa lemah dan nyeri mendadak hilang, menjadi segar bugar seakan tak terjadi apa2,lalu jaka bangkit dan mencoba bertanya pada kakek tersebut,  sebisanya, kakek itupun memberikan jawaban yang membuat jaka menjadi tenang dan penuh percaya diri.jakapun di beri cerita2 indah tentang berbagai sejarah di masa lalu,tapi jaka di pesan untuk tidak bercerita pada siapapun tentang pertemuan itu, terutama pada madsalim dan dewi arimi kedua orang tuanya

Satu yang membuat jaka tolos bingung tidak mengerti,kakek itu memanggil jaka tolos dengan sebutan Raden tw diningrat,yang sering di sebutnya adalah Raden,jaka tolos yang masih kecil dan tidak tau asal usulnya pun jadi bingung,karena selama ini dia tau namanya adalah santoso,dulu sewaktu kedua orang tua jaka sudah tinggal menetap di sulawesi,nama jaka tolos telah diganti menjadi santoso,nama jaka tolos dan Raden tw diningrat telah di buang jauh oleh kedua orang tuanya,karena menurut Dewi arimi dan Madsalim, itu adalah masa lalu

Tak terasa karena di temani oleh kakeknya,sudah satu minggu jaka berada dalam kurungan kamar,sa’at madsalim membuka kamar, sedidit terkejut melihat jaka yang segar bugar walau dalam kamar tanpa makan dan minum.dewi arimi merasa bangga melihat jaka sehat seperti tak terjadi apa2,di peluknya jaka sambil berbisik.ibu yakin semua leluhurmu tidak akan tinggal diam jika melihatmu menderita tanpa alasan,ibu percaya itu

Djaka semakin tidak mengerti dengan kata2 ibunya itu,tapi sa’at di tanya dewi arimipun berbalik arah,seakan ada sesuatu yang di sembunyikanya,tapi jaka masih takut dan belum mengerti ke arahnya,lalu sejak itu setiap madsalim pergi kerja dan dewi arimi juga kerja,jaka di pasrahkan pada Sobari untuk di awasi,sobari adalah satu2nya murid kesayangan madsalim yang masih aktif pada sa’at itu.jaka tolos di haruskan tiap2 pulang sekolah menuju dan tinggal di rumah sobari,tidak boleh kemanapun kecuali dengan sobari sampai madsalim dan dewi arimi orang tuanya, berada di rumah lagi

Sehari-hari yang di lakukan oleh jaka selama bersama sobari di rumahnya,adalah membantu semua kegiatam sobari,ada kalanya di suruh memijat,tubuhnya yang tinggi besar dan gagah,membuat jaka tolos merasa kecapean tiap kali di suruh memijatnya,tapi jaka bisa kembali bersemangat jika sudah di beri makan dan uang buat jajan,sobari adalah satu2nya orang yang bisa dan mau dekat sedekat sahabat dengan jaka,dia penuh pengertian baik budi dan suka humor,hingga membuat jaka lebih sering bisa tersenyum di banding melamun karena terasing dari pergaulan.

Sobari yang sudah yatim piatu dan tinggal seorang diri di rumahnya,merasa terhibur dengan kehadiran jaka di sampingnya,walau umurnya sudah 20 tahun dan belum punya istri,dia tidak pernah sungkan untuk homor bersama jaka,salin berbagi cerita dan pengalaman.sobari juga selalu meneteskan air matanya jika giliran jaka yang bercerita tentang hidup yang di alaminya.sobari percaya dan yakin dengan cerita jaka,dan tuduhan orang2 itu kepada jaka adalah salah

Walau begitu memang tuhan maha kuasa atas segalanya.dan tak satupun yang bisa menyamainya.baru saja jaka bisa tersenyum karena sobari dan menerima kbar lulus ujian sekolah,muncul lagi masalah baru yang tak kalah kejamnya,jaka di tuduh mencuri radio milik ibu gurunya di sekolahnya,selain menjalani hukuman di sekolah jaka juga di skors selama 7 hari tidak boleh mengikuti pelajaran di sekolah,karena takut di hukum oleh bapaknya dan tak mau melihat ibunya sedih karenanya,jaka merahasiakan tentang kejadian di sekolah,walau di skors jaka tetap berangkat kesekolah untuk mengelabui madsalim.di persimpangan jaka masuk ke hutan untuk bersembunyi

Di bawah sebuah pohon yang besar dan rindang,jaka duduk melamun merenungi nasibnya yang selalu jadi tuduhan tiap2 ada kehilangan,dan pada sa.at2 seperti itulah orang tua yang mengaku kakek djaka itupun, muncul menemui djaka

Menghibur dan meyakinkan jaka agar tidak putus asa.lalu jaka di ajari untuk menghapalkan kalimah2 yang menurut kakek tersebut, kelak akan sangat berguna bagi jaka,setelah berhasil menghapalkan 4 kalimah jaka pun segera pulang menuju rumah sobari,karena waktunya anak sekolah pulang telah tiba,esok harinya lagi begitu,seperti biasa jaka berbelok sa’at di persimpangan dan masuk hutan untuk sembunyi,dan tak berselang lama kemudian kakek tua itupun  muncul lagi di hadapan jaka untuk menemani dan memberikan pelajaran baru,selama 7 hari di dalam hutan bersama kakek tua itu, selama menjalani skors di sekolah,jaka berhasil menghapal 24 kalimah yang katanya kakek itu adalah  ilmu2 para leluhur kuno

Namun djaka tolos belum tau dan belum mengarti apa yang di maksud ilmu para leluhur oleh kakek itu,kakek itupun juga bilang sama jaka,kalimah2 itulah yang kelak akan sering kamu gunakan untuk apa saja dalam menjalani proses hidup selama belum mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan,jakapun semakin kacau memikirkanya,karena belum tau apa2

Setelah itu di rumah,karena madsalim tidak pulang karena ada borongan kerja,sekalipun ada dewi arimi di rumah,jaka tetap di haruskan dalam pengawasan sobari,jakapun jadi menginap di rumah sobari sampai madsalim selesai kerja dan kembali berada di rumah.malam itu jaka melihat sobari gelisah sekali,hingga larut malam belum tidur juga,karena kasihan melihatnya,lalu jaka bangun dan bertanya kepada sobari

{ maaf om,….kenapa belum tidur…?.} kata djaka bertanya pada sobari. { saya tidak bisa tidur san,…} jawab sobari, { apakah tiap malam om sobari selalu susah tidur…?,} Tanya jaka kembali, { benar san…..hampir tiap malam om tidak pernah bisa tidur.} jawab sobari selanjutnya. { apakah karena ada saya di sini lalu om sobari merasa terganggu hingga tidak bisa tidur,} Tanya jaka ambil tau, { tidak santoso……memang seperti inilah om,justru dengan adanya kamu bersama om di sini,om sedikit merasa tidak kesepian,} jawab sutari kepada jaka

{ o…….kalau begitu,kenapa om sobari tidak menikah saja,kalau punya istri om sutari kan tidak kesepian lagi,trus juga om kan ada yang membantu,seperti cuci pakaian,masak dan lainya, } kata jaka mencoba memberi saran kepada sobari,

{ santoso……,kamu masih terlalu kecil untuk mengetahuinya,tapi…..tidak apa2….siapa tahu….dengan bercerita kepada kamu,om bisa sedikit lega,karena sudah mengungkap sesuatu yang selama ini om pendam sendiri.} kata sutari kepada jaka yang di anggapnya masih kecil dan polos. {apa itu om…?..} tanya jaka penasaran. { tapi santoso jangan cerita kepada siapapun ya,karena ini rahasia, } kata sutari, { baiklah om saya janji tidak akan cerita pada siapapun. } jawab jaka berjanji.{ santoso…..,sebenarnya om ini gay, } kata sobari kepada djaka, { apa itu gay om..? } Tanya jaka tidak mengerti,

{ gay itu lelaki yang menyukai lelaki,atau homo seksual,om tidak punya rasa suka kepada perempuan,walau hanya sedikit saja,om lebih suka pada sesama jenis,itulah yang membuat om hingga kini belum punya istri,karena om tidak menyukai perempuan,tapi om sendiri bingung,tidak mungkin selamanya om seperti ini,sendirian kesepian dan takut karena masalah itu di anggap oleh semua orang menyimpang aturan dan agama.

Tapi om mengalami itu.om tidak bisa membohongi diri om sendiri.om tidak mungkin kawin dengan perempuan sementara om tidak menyukai perempuan.rasanya om ingin mati saja dari pada harus hidup menderita seperti ini santoso. } kata sobari mencoba jurhat kepada jaka yang masih polos dan tidak tau apa2 itu.{ jangan om…..jangan mati,nanti siapa yang jadi sahabat saya kalau om sobari mati.saya tidak punya siapa2 kecuali om sobari yang mau mengerti dengan saya. } jawab jaka dengan polosnya sa’at iu. {tidak santoso……om tidak akan pernah mati untukmu.asal kamu mau berjanji pada om,kalau kamu selalu mau tidur bersama om.} kata sobari. { baiklah om saya mau tidur bersama om,asal om tidak mati dan meninggalkan saya sendiri, } jawab jaka dengan polos pula.

Lalu, sambil meneteskan air mata sobari meraih tangan jaka dan di ajaknya tidur bersama di kamarnya,tubuh jaka di dekapnya dengan erat sekali sambil berkata,..{ ya…tuhan inikah orang yang akan engkau jadikan sebagai jodohku kelak,} kata sobari dalam hati, jaka yang tak mengerti dengan ucapan sobari, justru malah tertidur pulas di dalam pelukan sobari.sesekali jaka terbangun dari tidurnya sa’at sobari meraih tangannya dan menempelkanya pada kelaminya yang sedang tegang

Paginya sa’at terbangun jaka terkejut dengan kedua pahanya yang menjadi basah.dengan malu jaka minta maaf kapada sobari,di kiranya semalam dia kencing tanpa terasa, { maaf kan saya om…..saya tidak sengaja…..semalam saya kencing di tempat tidurnya om.tapi saya akan mencucinya om…} kata jaka penuh rasa takut, { santoso kamu tidak salah,tadi malam kamu tidak kencing,om yang salah.karena om melakukanya tanpa kamu ketahui,biar om yang mencucinya, } kata sobari kepada jaka, { memangnya om melakukan apa..? } Tanya jaka penasaran, { nanti jika kamu sudah besar kamu akan tau dan om siap mengajari kamu. } jawab sobari, dan membuat jaka semakin tidak mengerti.malamnya lagi sobari melakukan hal yang sama.tapi kali ini jaka tidak mau tidur karena penasaran akan kata2 sobari tadi siang.sa’at tidur jaka bertanya.

{ sebenarnya tadi malam om sobari melakukan apa sih sampai kedua paha saya jadi basah,? } Tanya jaka, { mau tau…….sini om ajari biar kamu tau } kata sobari.lalu jaka di suruh telangjang bulat,begitu juga dengan dirinya,lalu jaka di suruh mempermainkan kelamin sobari yang sudah menegang,saat itu jaka jadi teringat pada pak ansori yang pernah memasaknya untuk melakukan permaianan seperti itu.

Penuh penasaran jaka mencoba menurut dan mengikuti suruhan sobari,sampai pada akhirnya,air putih kentah terpancar dari ujung kelamin yang tegang dan besar itu,hingga membasahi wajah jaka,pikir jaka { o…..ini yang membasahi kedua pahaku semalam.}

Lalu sobari bangkit dan membersihkan air yang membasahi wajah jaka dengan sarungnya sambil berkata. { kelak kamu juga bisa seperti ini.di sa’at air tadi keluar,rasanya mampu melupakan segalanya karena saking nikmatnya,dan kamu santoso,adalah orang pertama yang berhubungan seperti ini denganku.aku bangga dan puas karena pada akhirnya aku bisa melakukanya walau denga anak kecil seperti kamu,} kata sobari menjelaskan kepada djaka

Djaka yang belum mengerti akan hal itu Cuma bisa diam.lalu jakapun di peluknya hingga tertidur sampai pagi tiba.di dalam kepala jaka selalu berpikir tentang pengalaman barunya selama tidur dengan sobari,jaka selalu bertanya dalam hati….{ apa arti dan maksud kata2 om sobari itu,dan itu di sebut apa ya…..,.kok apa yang pernah di lakukan oleh pak ansori dulu sama seperti yang di lakukan oleh om sobari,hanya saja dulu pak ansori memaksa sedang om sutari melakukanya dengan penuh kelembutan,apa mungkin pak ansori dan om sobari itu mempunyai kesama’an,seperti yang di sebut om sobari itu,(gay)

Di sa’at jaka sedang asik melamun memikirkan apa yang baru dia alami.munculah masalah baru lagi,sa’at itu tetangga belakang rumah semalam habis kehilangan sepeda dan padi juga uang.dan anehnya jaka selalu di jadikan tersangka.waktu itu bertepatan madsalim baru pulang dari kerjanya,mendapat tuduhan kalau jaka habis mencuri di rumahnya tadi malam.segera madsalim datang kerumah sobari dalam keada’an marah besar,jaka sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya,begitu juga dengan sobari,tapi madsalim tidak peduli,malah sobari juga kena marah dan tendangan,lalu jaka di seret pulang dan di hajar sepanjang jalanan,dewi arimi yang tak berdaya hanya bisa menjerit – jerit sambil menangis,tak satupun yang mau menolong jaka

Madsalim jadi semakin gemas sa’at melihat jaka yang di hajarnya merasa biasa2 saja,tidak manangis dan tidak mermar,jaka pun tidak merasakan sakit sediditpun sa’at di hajar bapaknya,saking gemasnya lalu madsalim memanggang tubuh jaka di atas api dapur yang sedang di pakai memasak oleh dewi arimi dan lalu mengurungnya lagi di kamar tanpa di beri apapun,di dalam kamar jaka bingung pada dirinya sendiri,yang tidak merasakan sakit sedikitpun sa’at di pukuli bapaknya

Djaka tidak tau kalau semua itu adalah pengaruh dari mustika pemberian dari kakeknya yang pernah di telanya tempo dulu.tepat tengah malam kakeknya kembali menemui jaka di kamar itu,jaka mengadu dengan apa yang baru di alaminya,dan jawaban kakek itu,

{ bersabarlah cucuku…itu memang bagian dari lakumu,untuk menebus segala sesuatu yang pernah di lakukan oleh semua para leluhurmu termasuk kakek.itu sebab kamu harus kakek warisi semua ilmu yang pernah di miliki oleh semua leluhurmu.agar kamu mampu kuat dan bisa,karena kamu satu2nya keturunan yang akan bisa menyempurnakan semua para leluhurmu yang belum mencapai kesempurna’an yang sejati.dan kamulah satu2nya harapan dari semua para leluhurmu termasuk kakek ini cucuku.untuk itu kamu harus mampu dan harus kuat,jika tidak,kepada siapa lagi kakek dan semua para leluhurmu akan berharap.kamu sudah menghapal 24 kalimah warisan dari leluhur,kini tinggal menyempurkan saja,bersiaplah cucuku,untuk menerima semua warisan dari para leluhurmu,duduklah dengan tenang dan santai,kakek akan menyalurkan intisari dari semua kalimah yang telah kamu hapal

Djaka yang tetap bingung tak mengerti mencoba menurut dengan apa yang di katakan oleh kakek itu,sesa’at setelah duduk bersilah,jaka melihat tubuh kakek tua namun bertubuh gagah dan berwibawah itu bercahaya,dan cahaya itu bergerak mengumpul jadi satu di kedua telapak tanganya,lalu kedua tangan itu di tempelkan pada kedua punggung jaka,mendadak tubuh jaka terguncang hebat,dan lalu kambali tenang. Saat tangan kakek itu terlepas dari kedua punggungnya, lalu kakek itu memeluknya sambil berkata.

{ Raden sudah menerima warisan itu dengan sempurna.harapan kakek dan semua para leluhur, reden bisa mampu dan kuat.kami semua menanti raden.tolong sempurnakanlah kami semua agar dapat kembali pada asal mulanya jadi.selamat tinggal raden.kami senantiasa menunggu uluran tanganmu } kata kakek tersebut sambil melangkah mundur. Lalu, mendadak wujud kakek itu lenyap dari pandangan jaka,yang masih tertegun bingung dengan semua ucapanya.padahal terlalu banyak yang ingin di tanyakan dan di katakanya,tapi belum sempat jaka bersuara kakek itu sudah mendahului pergi entah kemana,hingga jaka tolos jadi semakin bingung tak mengerti

10 hari jaka di kurung di dalam kamar,tapi kondisi jaka seperti cukup makan dan minum serta tidur nyenyak,sperti tidak habis terjadi apa2.setelah di buka dan di keluarkan dari kamar.madsalim jadi semakin terkejut,karena siksa’anya tak berpengaruh apa2 bagi jaka.tapi jaka tolos sendiri masih tetap bingung dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri,setelah kejadian itu jaka tidak boleh sekolah lagi.kemanapun madsalim pergi buruh selalu di bawanya.

Djaka ikut kerja sebagai buruh bersama bapaknya.walau begitu tuduhan tetap terarah kepada jaka.sa’at itu jaka sedang mencangkul di ladang milik tetangga desa bersama bapaknya madsalim.datanglah seseorang yang melempar tuduhan kepada jaka,jaka di tuduh mencuri tanaman semangkanya dan merusaknya,padahal sa’at itu jelas2 jaka bersama madsalim bapaknya sedang mencangkul.tapi tuduhan itu kenapa harus jatuh kepada jaka…?,apakah memang jaka di takdirkan untuk jadi tertuduh dan selalu tertuduh…?.dan anehnya madsalimpun menghajar jaka karena tuduhan itu,kenapa….?   Ada….apa….dengan semua ini…?

Setelah di hajar habis-habisan oleh madsalim di depan orang yang menuduhnya,lalu jaka di seret pulang dan di usir pergi dari rumah dengan di beri 3 potong pakaian,melihat jaka yang di lempar dari rumah untuk di usir oleh madsalim bapaknya,dewi arimi segera memyusul dan mendekap jaka tolos yang sedang menangis bingung.sambil memegangi perutnya yang besar kerena sedang hamil untuk yang ke empat kalinya,menangislah dewi arimi sambil berkata tersendat……

{ pergilah anaku.carilah hidupmu sendiri.ibu yakin walau tanpa ibu dan bapak kamu bisa hidup.karena hidup itu milik gusti allah.buktikan bahwa kamu bisa.bahwa kamu benar.dari pada kamu di sini selalu jadi korban dari orang2 yang tak berprikemanusia’an.pergilah anaku….pergilah….doa emak dan semua para leluhurmu menyertaimu.jangan kembali sebelum kamu bisa membuktikan kepada semuanya.pesan emak…..di manapun kamu berada dan dalam keada’an apapun jangan pernah lupa pada ibu.karena ibu senantiasa memohonkan dirimu kepada gusti allah………,demi langit dan bumi ibu bersaksi kepada allah,celakakanlah anaku jika tuduhan orang2 itu benar,saya rela dan ikhlas jika memang anaku seperti yang mereka tuduhkan. }kata dewi arimi sambil memberikan uang sebanyak tujuh ratus perak kepada Djaka tolos putranya

Lalu dewi arimi melepas kepergian jaka tolos dengan doanya yang paling dalam. dan jaka tolospun pergi melangkahkan kakinya yang hampa tanpa tujuan.sambil menangis, kakinya bergetar melangkah ke arah selatan perkampungan.semua mata menatap kejam sambil melempari bebatuan.sembari berkata…bajingan….dasar pencuri…….!.

Dan tibalah jaka di sebuah jalan tepi sungai.sambil duduk di tepi derasnya air mengalir jaka berkaca sambil bertanya pada diri sendiri….{ kenapa aku bernasib begini….? kanapa mereka kajam padaku….? Kenapa aku harus berpisah dengan keluargaku…..? ini tidak adil,mereka kejam ! jahat !.}

Lalu jaka bangkit berdiri lagi untuk melanjutkan langkahnya yang tiada tau harus kemana.sambil berkata { selamat tinggal mak,pak,dik,selamat tinggal kampong halamanku,selamat tinggal cita2ku,selamat tinggal semua orang yang telah kejam kepadaku,selamat tinggal semuanya,selamat tinggal }.

Pada akhirnya pada hari kamis tgl 10 bulan 05 tahun 1968 jaka keluar dari desa rusa kencana sebagai anak yang terusir.siang malam jaka berjalan kaki tanpa henti walau tanpa arah tujuan yang pasti.tapi jaka terus melangkah dan berjalan mengikuti pandanganganya yang ke depan.entah berapa lama jaka berjalan kaki mengikuti arah jalan yang ada di depanya.tibalah jaka di sebuah kota kabupaten luwuk.jaka teringat dengan kakaknya dewi atnesi yang sedang kerja di kota tersebut,tapi harus kemana mencarinya,karena alamatnya yang tidak tau.di tengah keramaian kota kabupaten jaka terus melangkahkan kakinya tanpa letih sedikitpun,hingga sampailah di sebuah terminal

Di antara pasar dan terminal jaka duduk kebingungan.saking bingungnya akan keramaian kota yang baru saja di lihatnya,rasa capek akibat berhari-hari berjalan,dan rasa lapar akibat berhari-hari tidak makan,sama sekali tidak di rasakanya,jaka terkejut dari lamunanya sa’at ada seorang bapak yang menyapanya.karena sa’at di Tanya jaka tidak bisa menjawab.orang tersebut pun langsung tau kalau jaka sedang kebingungan,lalu jaka di bawa oleh orang itu ke rumahnya,sesampainya di rumah,jaka di beri makan dan baju buat ganti,setelah itu baru di tanyai,jaka pun menceritakan semuanya tentang apa yang di alaminya,setelah tau ceritanya orang itu jatuh kasihan,dan mengangkat jaka sebagai anak,karena kebetulan orang itu tidak punya anak,nama daeng tahak istrinya bernama saidah

Tinggalah jaka di rumah daeng tahak sebagai anak anggat,lalu jaka di daftarkan sekolah lagi.tiap pulang sekolah jaka di beri tugas merawat tanaman bunga yang ada di halaman  rumah,dan menyapu halaman rumah bersama pembantu perempuan asal desa batui bernama rokayah,sedangkan daeng tahak dan istrinya menjaga toko emas di komplek pasar.sesa’at jaka tolos merasa tenang dan bahagia tinggal bersama keluarga daeng tahak di kota luwuk,namun belum puas jaka merasakan kedamaian itu,munculah masalah baru lagi

Pada suatu ketika sa’at sepulang dari  sekolah,jaka bertemu dengan teman seusianya bernama firman,dia anak gelandangan yang biasa mangkal di pintu terminal dekat tempat sekolahnya,jakapun di ajak mampir ke rumah firma,tapi jaka baru sadar sa’at tiba di rumahnya,ternyata bukan rumah.melainkan sebuah lapak tempat para gelandangan dan para pengemis tinggal.jakapun terjebak di tempat itu.bisa masuk tapi tak bisa keluar.firman membawa jaka untuk menghadap bosnya bernama daeng tamar,yang rupanya sungguh menyeramkan.tubuhnya penuh gambar rambutnya panjang tubuhnya tinggi besar.begitu juga kumis dan jenggot yang sangat lebat menambah penampilanya bertambah menakutkan,konon menurut cerita dari firman,daeng tamar adalah pemimpin atau ketua juga bosnya para preman di kabupaten ini.juga para gelandangan dan pengemis.termasuk para perampoknya.

Setelah mendengar dan melihat kenyata’an daeng tamar yang memang benar2 menakutkan itu,jaka semakin tidak menentu pikiranya.entah apa yang akan di alaminya di sini setelah di jual olah firman teman barunya itu,ternyata jaka tolos di paksa untuk jadi anak buahnya sebagai pengemis cilik dan hasilnya buat dia,sungguh sial sekali nasib jaka,baru semenit jadi orang senang langsung berganti dengan derita lagi,sebagai pendatang baru yang belum tau seluk beluk kota luwuk,jaka sudah tentu kesulitan untuk bisa mendapatkan rumah daeng tamar.dan akhirnya sejak itu jaka hidup di kota luwuk sebagai pengemis kadang pengamen kadang juga nyopet kalo ada kesempatan,lalu hasilnya di setorkan kepada daeng tamar,jika sehari tidak mendapatkan hasil, hukuman yang di terimanya

Begitu juga nasib anak2 seusianya yang ada di tempat itu.mau lari dan minggat tidak tau arah dan jalan.lagi pula setiap gerakan selalu ada yang mengawasi.sehingga selalu sulit dan tertekan.dalam hati jaka berpikir mengeluh. { seperti inikah kehidupan di kota..?.} mungkin tidak semuanya,mungkin juga memang jaka yang lagi ketiban sial dan apes. {ibu……..taukah engkau tentang aku yang bernasib begini di kota ini….?. } itulah yang selalu ada di hati jaka yang selalu mencoba mengingat ibunya. { aku harus bagaimana bu……?.}

Lalu pada suatu kesempatan.di sa’at semua orang sedang tidur,jaka bangun dan duduk di tepi pantai,matanya menatap jauh entah kemana dengan kekosonganya,seiring dengan irama deburan ombak yang merdu memecah kesunyian malam yang dingin, tiba2 munculah di hadapanya seorang kakek tua yang berwajah hampir mirip dengan kakek yang sering menemuinya saat mendapat hukuman di kampung dulu, .dia mengaku sebagai buyutnya jaka tolos, yaitu pengeran anom. tubuh itu tiba2 muncul tanpa terduga dari balik ombak,dengan di liputi cahaya kuning dan aroma yang semerbak wangi, kakek itu berkata.

{ janganlah Raden terlalu lama berhenti disini……perjalananmu masih jauh.dan semua para leluhurmu menunggu dan sangat mengharapkanmu. } jaka terpaku menyasikanya,tak dapat berbuat apa2 hingga wujud itu hilang kembali.dan jaka pun terkejut, { siapakah kakek tadi….? Wajahnya hampir mirip dengan kakek yang sering menemuiku sa’at di kampong dulu.lalu apa maksud dari ucapanya tadi. }djaka berkata dalam hati.

Karena tak mau pusing jaka pun melupakan kejadian itu.lalu jaka berpikir tentang bagaimana caranya agar bisa keluar dari tempat ini, { cita2ku dulu ingin jadi dokter,tapi kenapa sekarang aku malah jadi pengemis,jadi pencopet dan pengamen…..ah tidak

aku harus bisa keluar dari tempat ini.tidak mungkin aku seperti ini terus menerus,ini bukan cita2 atau keinginanaku. } teriak jaka melawan suara deburan ombak yang ada di hadapanya, esok paginya jaka nekad berpamit kepada daeng tamar untuk berhenti dan keluar dari tempat konyol itu.tapi tidak semudah yang di bayangkan jaka.bukanya di ijinkan malah jaka di hajar habis-habisan oleh empat orang ajudan daeng tamar yang tak kalah sangarnya dengan daeng tamar.jaka di buat seperti bola kaki di tendang kian kemari.namun jaka bukanya teriak kesakitan,malah tertawa karena merasakan geli sa’at di tendang dan di pukul oleh 4 orang anak buah daeng tamar.

Karena merasa di lecehkan ke 4 orang itupun menjadi semakin garang,setelah mendapat aba2 untuk membunuh jaka,ke 4 orang itupun segera mengeluarkan senjatanya masing2 berupa pisau kecil yang terbuat dari besi kuning beracun.secara bergantian pisau itu di tikamkan ke tubuh jaka,jaka yang ketakutan berteriak minta ampun.tapi pisau2 yang terlanjur menyentuh tubuh jaka meleleh bagaikan lilin yang terbakar api.menyaksikan hal tersebut ke 4 orang tersebut jadi ciut nyali dan berbalik di belakang daeng tamar.dan sambil berkaca pinggang daeng tamar menatap jaka yang sedang takut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya

Sambil menunjuk ke arah jaka daeng tamar berkata lantang, { hai bocah…!.siapa sebenarnya kamu.rupanya kamu sengaja datang ke tempatku untuk pamer ilmu ya,baiklah jika itu maumu,akan aku layani, kita tentukan siapa yang paling hebat paling kuat dan siapa yang akan mati sa’at ini,aku atau kamu.!.jika kamu kalah maka kamu akan mati di tanganku,tapi jika kamu yang menang maka…kedudukaku sebagai pemimpin dan ketua sekaligus bos di sini,akan menjadi milikmu,semua daerah kekuasa’anku akan jadi milikmu.dan semua anak buahku termasuk aku akan tunduk patuh kepadamu,semua yang hadir di sini saksinya, tapi jika kamu tidak bisa mengalahkan aku maka kamu akan aku panggang di atas bara sebelum aku membunuhmu. } kata daeng tamar mengarah kepada Djaka tolos

Lalu tanpa memberi tanda apapun terlebih dulu.daeng tamar langsung menyerang jaka yang sedang meringkuk ketakutan di sudut dinding,jaka berhasil menghindari tendangan daeng tamar dengan cara menundukan kepalanya,dan tendangan itu mengenai dinding,hingga jebol dan hancur,jaka dapat membayangkan andaikata tendangan itu mengenai kepalanya,tentunya akan seperti dinding itu, tanpa memberi kesempatan sedikitpun daeng tamar terus menyerang jaka dengan tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi,jaka yang tidak tau caranya menghindari tendangan dan pukulan jadi sasaran empuk,untung jaka tidak merasakan sakit dan tidak bisa terluka walau di hujani apapun,kalau tidak pasti jaka sudah jadi bubur palabutun. (bahasa Sulawesi)

Daeng tamar jadi semakin garang dan marah karena semua seranganya tak berguna,lalu daeng tamar diam sejenak dan lalu menarik nafas dan mengarahkanya ke pada jaka,rupanya daeng tamar mengeluarkan pukulan tenaga dalam yang mematikan.tapi pukulan itu mengenai tubuh seorang kakek yang muncul saat djaka di pantai kemaren. Rupanya, kakek itu sengja dating untuk menepis serangan daeng tamar yang di anggapnya cukup bahaya

Pukulan itupun berbalik arah mengenai tubuh daeng tamar sendiri,daeng pun terpental kebelakang,dan kemudian berusaha bangkit sambil merangkak ke arah jaka untuk minta ampun dan mengaku kalah.melihat darah yang keluar dari mulut hidung dan telinga daeng tamar jaka tolos menjadi iba dan kasihan,sambil menyapu darah itu jaka membantu daeng tamar untuk bisa berdiri.

Dan pada sa’at itu pula daeng tamar mengumumkan pada semua yang hadir di tepat itu,kalau posisinya telah di serahkan kepada jaka,dan mulai sa’at itu jaka toloslah yang berkuasa atas gank mandau tersebut,walau tanpa di sadari karena kelebihan dirinya itu adalah berkat pemberian dari pangeran karim dan lindungan oleh pangeran mas kakek dan buyutnya,akhirnya jaka tolos dapat mencapai awal dari kemerdeka’an di dalam proses awal perjalananya hidupnya

Sejak itulah jaka memimpin gank mandau di kabupaten luwuk,salah satu gank yang paling di takuti di sulawesi tengah.waktu itu, djaka tolos berusia genap 11 tahun. walau jaka tolos masih berumur 11 tahun,tapi keberada’anya di tengah gank mandau jaka di puji di hormati di sanjung di patuhi dan di takuti banyak orang terutama anggota gank mandau. Karena sejak kekuasa’an beralih ke tangan jaka,tak ada lagi istilah hukuman jika ada anggota yang lagi tak dapat hasil.selain itu semua anggota menjadi senang dan suka atas kepemimpinan jaka yang penuh kasih terhadap sesama,jaka merasa terharu dan bahagia sekali.karena baru kali ini merasakan indah, memiliki banyak taman.

Walau begitu, jaka tolos masih banyak mendapat bimbingan dari daeng tamar yang menjadi wakilnya.pelajaran dan pengalaman banyak di perolehnya dari daeng tamar.walau umur jaka 11 tahun tapi daeng tamar sangat hormat kepada jaka sebagai ketua,hampir semua kebutuhan jaka di layaninya sendiri,sambil sesekali merayu agar di angkat sebagai murid jaka,tapi jaka belum mengenal dan tau apa yang di sebut ilmu atau kesaktian.itupun di katakanya kepada daeng tamar,dan daeng tamar pun memberi taunya sejalas mungkin.

Dari daeng tamarlah jaka jadi tau apa yang di sebut ilmu dan kesaktian,secara tidak langsung sebenarnya daeng tamar adalah guru pembimbing jaka tentang ilmu pengetahuan.bagaimana tidak,selama menjadi ketua gank mandau bersama daeng tamar di kota luwuk,jaka banyak tau tentang beraneka ragam seni kehidupan meluas.sesekali jaka di ajak oleh daeng tamar keliling untuk mengenalkan pada semua bawahan yang tersebar di seluruh penjuru kota,posisi daeng tamar sebagai wakil terkadang membuat jaka tolos merasa risih,karena daeng tamar selalu melayani semua keperluan dan kebutuhan jaka tolos,bukan seperti wakil tapi seperti pembantu

Mulai dari mandi makan duduk dan tidur di layaninya.dengan penuh hormat.padahal pekerja’an itu tidaklah pantas untuk orang yang berpenampilan seperti daeng tamar.hingga pada suatu ketika jaka tolos berpikir.tidak mungkin dirinya akan seperti ini terus menerus,sementara itu bukanlah cita2 atau keinginanya.sa’at duduk sendiri jaka teringat masa lalu di kampungnya,jaka ingat sa’at di tuduh,sa’at di hukum,sa’at di aniaya.sa’at tersisih,sa’at terusir,dan sa’at terpisah.semuanya muncul dari dalam hatinya yang paling dalam, di sertai linanangan air mata kepedihan

Bibirnya bergetar sambil bersuara……{ mereka kejam..!.mereka tega…!.mereka telah menghancurkan cita2 dan masa depanku,nama baik keluargaku,hidupku.mereka telah menghancurkanya,kejam……!….!…!.aku akan membalas semua yang pernah mereka lakukan padaku,mereka harus aku balas,semuanya.semuanya akan aku balas. }

Begitulah sa’at jaka mengingat masa lalunya di kampong,sedih,kecewa,marah dan dendam jadi menguasai dirinya.tapi dia masih takut karena masih kecil.djaka masih ragu akan kehebatan dirinya walau sring mengalami pembuktian. karena menurutnya,belum pernah berguru pada seseorang.sa’at sadar bergegas jaka bangkit dan berlari ke kamar lalu memeluk daeng tamar yang sedang tertidur pulas.daeng pun terkejut dan segera terbangun akan tangisan jaka sang ketua.daeng berusaha bertanya dan jaka pun menceritakan semua yang pernah di alaminya waktu di kampong.mendengar cerita dari jaka yang jujur keluar dari hati.daeng tamar terenyuh haru.dan memberi semangat kepada jaka untuk membalasnya

Tapi jaka masih belum yakin akan kehebatan yang sudah di milikinya,karena merasa belum pernah berguru langsung pada seseorang,untuk menumbuhkan keyakinan, jaka ingin berguru pada siapapun yang paling hebat di wilayah itu, lalu daeng tamar memasang telinga di mana2 untuk mencari seorang guru yang terhebat di wilayah kabupaten luwuk. Seminggu kemudian orang yang di maksudpun di temukan oleh salah satu anak buah daeng tamar,orang itu bernama pak tarjan asal dari banyuwangi jawa timur.setelah menyerahkan kembali kekuasa’an kepada daeng tamar,berangkatkatlah jaka menemui pak tarjan yang tinggal di desa transmigrasi mayayap kecamatan bualemo kabupaten luwuk propinsi sulawesi tengah,

Setibanya di desa transmigrasi mayayap,bertamulah djaka ke rumah pak TARJAN yang alamatnya sesuai petunjuk.setelah masuk dan mengutarakan masud dan tujuanya itu,

di terimalah jaka sebagai murid pertama pak tarjan.setelah di angkat sebagai anak,kemudian jaka di ajari berbagai kalimah ilmu yang di sebut aji karang,yang terdiri dari 3 tingkat,yaitu tingkat awal sebagai dasar,lalu tingkat dua sebagai inti dan tingkat akhir sebagai pamungkas.

Setelah berhasil menghapal semua kalimah yang yang di berikan oleh pak tarjan gurunya,lalu jaka di suruh mempelajari ilmu olah kanuragan terlebih dahulu sebagai penyempurna,karena pak tarjan tidak punya anak lelaki yang sudah besar dan anak pertamanya adalah perempuan,lalu jaka di pasangkan dengan anak perempuanya bernama SITI AMIDAH sebagai lawan dalam berlatih ilmu olah kanuragan,walau seorang perempuan, siti amidah adalah putri pak tarjan,orang yang sangat ahli dalam bidang ilmu,sudah tentu dia sangat hebat dan lincah dalam olah kanuragan

Setiap sore jaka tolos dan siti amidah selalu giat dalam berlatih,sesudah berlatih istirahat duduk berdua sambil bercerita salin tukar penglaman.paginya sebagai pengabdian seorang murid terhadap gurunya,jaka ke sawah untuk membantu pak tarjan mengolah lahan.pada waktu itu jaka tolos berumur 13 tahun kurang lebihnya,sedangkan siti amidah anak pak tarjan berumur 12 tahun.selama berguru pada pak tarjan,bagi jaka tiada hari tanpa latihan dengan giatnya,begitu juga dengan siti amidah yang selalu setia melayani jaka sebagai lawan dalam latihan tak pernah merasa jenuh apalagi bosan,hingga semakin akrablah hubungan antara jaka dan siti,bagaikan saudara sekandung.

Tak terasa waktu terus bergulir,sudah setahun jaka tolos berguru pada pak tarjan.32 jurus olah kanuragan telah berhasil di kuasai oleh jaka,dan tiba sa’atnya bagi jaka untuk menerima inti sari dari seluruh ilmu yang di perolahnya dari pak tarjan.untuk melangkah ke pelajaran ilmu aji karang,jaka mulai di gembleng untuk puasa,pertama jaka di suruh puasa mutih selama 3 hari 3 malam,lalu beralih dengan puasa ngepel selama 3 hari 3 malam,terus puasa ngebleng 3 hari 3 malam,di akhiri puasa pati geni sehari semalam.terus puasa kungkum di tempuran sungai semalam,terus puasa ngalong semalam,terus puasa pendem selama 7 hari 7 malam.di tutup dengan puasa melek selama sehari semalam.kemudian istirahat seminggu

Selama istirahat jaka selalu melatih diri di temani oleh siti amidah,setelah itu jaka di suruh puasa ngrokot selama 90 hari 90 malam tanpa henti,selama puasa jaka tidak boleh masuk ke dalam rumah ataupun berteduh di suatu tempat yang tertutup,untuk sehari-hari jika malam jaka tidur di pinggir jalan atau di pematang sawah,jika siang jaka mencari tempat di tepi sungai untuk menghindari terik matahari yang terlalu panas

Setelah selesai 90 hari/malam,lalu jaka terhambat fitnah,para tetangga pak tarjan mengisukan kalau jaka dan siti amidah putrinya telah kumpul kebo,hal itu membuat pak tarjan malu hingga menghentikan latihan,pak tarjan tidak mau mengajari jaka lagi hingga tuntas,kecuali kalau jaka mau menikahi putrinya sebagai tebusan malu dan menutup isu yang membuatnya malu itu,lalu terpaksa jaka menikahi siti amidah putri pak tarjan gurunya, sebagai tanda pengabdianya,pernikahan dini antara jaka tolos dan siti amidah pun terjadi pada hari senin pon tgl 25 bulan 10 tahun 1972,waktu itu jaka berumur 13 tahun kurang,sedangkan siti amidah istrinya masih berumur 12 tahun lebih

Setelah pernikahan resmi itu terjadi,lalu jaka melanjutkan pelajaran ilmu hingga berhasil selesai,setelah lulus lalu di adakan selamat sebagai tanda keberhasilan dalam belajar,…(putraku…..kini semua ilmuku telah berhasil kamu miliki.sekarang,putriku siti amidah juga telah menjadi milikmu secara resmi dan sah,maka semuanya atas putriku aku titipkan padamu,jagalah dia dan kasihi dia sebagaimana kamu menjaga dan mengasihi dirimu sendiri,gunakan ilmu yang aku berikan itu di jalan yang benar,jangan sombong atau adigang adigung adiguna,dan pakailah di sa’at kamu benar2 terdesak,tinggal bersama bapak dan ibu di sini untuk sementara waktu,karena kalian masih sangat membutuhkan bimbingan kami,kelak jika kalian benar2 telah dewasa barulah kalian menentukan jalan hidup kalian sesuai dengan kehendak kalian berdua).begitulah wejangan terakhir pak tarjan yang di berikan pada jaka tolos sebagai murid sekaligus anak menantunya

Dan sejak itu jaka hidup di bawah didikan dan bimbingan pak tarjan sebagai murid dan anak,jaka di pasrahi sebidang tanah untuk di olah sebagai sarana belajar kerja menafkahi sang istri.pengalaman berharga baru telah di terima jaka dari pak tarjan gurunya.walau sudah beristri jaka tetap belum tau harus bagaimana dan untuk apa istri itu sebenarnya.tidurpun setiap malam seperti tidur dengan temanya.

Setahun tak terasa jaka hidup sebagai suami istri dengan siti,namun sejauh itu dan selama itu tetap tak tau apa2.taunya hanya kerja dan makan humor dan tidur,cintapun belum di ketahuinya.pada suatu sa’at jaka dan siti sedang iseng latilah olah kanuragan berdua di belakang rumah hingga larut malam,setelah latihan lalu istirahat di samping rumah sambil makan pisang goreng,pada sa’at itu jaka dan siti mendengar suara aneh dari balik dinding kamar sang mertua.jaka dan siti pun ngintip bersama,di lihatnya kedua orang tuanya salin bertindih melakukan senggama.

Dan mulai itulah jaka dan siti tau apa yang harus di lakukan oleh seorang suami dan istri.setelah tau, barulah jaka dan siti mulai meniru apa yang pernah di lakukan oleh kedua orang tuanya sa’at di intip waktu itu.akhirnya jaka dan siti tau dan melakukanya juga.padahal waktu itu keduanya masih tergolong usia ABG,anak baru gede.kalo istilahnya jaman sekarang, bagaimana tidak,jaka tolos masih berumur 14 tahun dan siti amidah berumur 13 tahun.setelah tau kenikmatanya,jaka dan siti jadi sering melakukanya,akibatnya,siti amidah hamil.di sa’at istrinya hamil inilah jaka  mulai bisa berpikir seperti orang dewasa.mengerti cinta dan kasih sayang,juga mengerti dengan tanggung jawab.hingga jaka menjadi semakin giat dalam usaha

Karena ingin membahagiakan siti amidah istri tercintanya,semua pikiranya fokus tercurah hanya untuk istrinya,semua masa lalu terlupakan,termasuk dendam yang memaksanya harus berguru.hampir semua orang di mayayap kampong itu di buatnya kagum,sampai2 orang menyebutnya kecil2 si cabe rawit,namun sayang,waktu yang tidak mendukung jaka pada sa’at itu.di sa’at usia kandungan siti amidah menginjak usia yang ke lima bulanya,kemarau panjang datang melanda propinsi sulawesi tengah,3 bulan hujan tak kunjung menyiram bumi.sawah yang mengharap siraman air hujan punmenjadi kering,semua padi yang baru sebulan di tanam pun jadi menguning dan kemudian mati kekeringan,untuk selanjutnya merambat ke tumbuh2han lainya,hingga semua mengering,tanah2 terbelah lebar,sumur kering.udara menjadi panas menyengak.jaka mulai risau,begitu juga dengan mertuanya.

Sementara waktu terus berjalan.kehamilan siti amidah pun hampir mendekati masa kelahiran.persiapan belum ada.kemarau masih berlanjut.hingga pada sa’at itu semua warga setempat termasuk jaka,berburu tumbuhan hutan yang di sebut gadung,yang kemudian di olah untuk di makan sebagai gantinya nasi.hingga pada akhirnya tibalah sa’at kelahiran dari kehamilan siti amidah istri jaka tolos.pada hari sabtu legi tgl 15 bulan 7 tahun 1974,mungkin bukan karena keada’an atau lainya,melainkan kehendak ilahi,putra pertama jaka tolos yang di beri nama AGUNG PRASTYO.hanya berumur sampai 21 hari  saja, lalu pergi menghadap ilahirobbi.

Kepergian putra pertama jaka sempat membuat jaka merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya,dan bertambah dewasa lagilah jaka dalam menghadapi kehidupan yang selalu tak terduga itu.lalu dengan telaten pak tarjan memberikan petuah2 hidup yang membuat jaka semakin mengerti dan memahami kehidupan,cinta sejati dan suci mulai tumbuh menghiasi rumah tangganya,juga mulai mengerti bahwa dirinya harus bagaimana.walau begitu jaka masih merasa kurang dan ingin menambah pengalamanya lagi,ketika mendengar kabar tentang OM YUNUS,orang kampung yang terpilih oleh suku trasing untuk di jadikan raja di dalam rimba,jaka pun timbul keinganan untuk menemui om yunus dan ingin berguru padanya

Lalu atas ijin istri dan keluarga mertua,jaka pergi menemui om yunus yang tinggal di puncak gunung tompotika yang terletak di sebelah utara kecamatan bualemo.padahal gunung tersebut di kenal dengan keangkeranya dan gawat keliwat-liwat,karena salain hutanya yang masih rimba hingga terdapat banyak binatang buas,juga di huni oleh makhluk2 sebangsa jin dan prayangan,namun jaka tak gentar sedikitpun untuk tetap maju,dengan berbekal pengalaman dari mertuanya,jaka berangkat memasuki hutan rimba dan gunung keramat itu

Dan dengan perjuangan yang tidak mudah,karena harus melawan gelapnya hutan dan penghuninya,akhirnya jaka sampai di puncak gunung tompotika,setibanya jaka merasa sedikit bingung,karena apa yang di ceritakan oleh kebanyakan orang tidak sama dengan kenyata’an yang di lihatnya di atas puncak,di sini jaka tidak bertemu dengan siapapun,kecuali melihat hamparan tanah rata seluas 1 hektar,dan beberapa batu besar yang nampak aneh wujudnya

Lalu di atas batu tersebut jaka duduk istirahat sambil merenung,langkah apa selanjutnya yang harus di perbuat,dan secara tiba2 muncul di hadapanya anjing hitam yang berjumlah ratusan ekor,anjing2 itu menatap jaka dengan penuh keganasan,seakan sudah lapar selama puluhan hari.dengan ragu jaka bangkit dan berdiri di atas batu yang tadi di dudukinya,sambil memandangi sekelilingnya jaka mempersiapkan diri kalau2 anjing itu akan menyerangnya,namun tak lama kemudian muncul pula di tengah antara anjing itu seorang gadis yang berpakaian nyaris telanjang, lalu jaka berusaha menyapa gadis itu,tapi rupanya gadis tersebut tidak mengerti dengan bahasa yang di gunakan oleh jaka,tanpa alasan lalu gadis itu menyerang jaka dengan pedang mandau di tanganya,jaka pun berusaha mengimbanginya dengan olah kanuragan yang pernah di pelajarinya dari pak tarjan gurunya

Di sa’at pertarungan sedang tegang,tiba2 muncul suara yang menghentikan pertarungan tersebut,dan ternyata suara itu adalah suara om yunus yang sedang di cari jaka,dan gadis yang sedang bertarung dengan jaka itu adalah anak om yunuh yang nomer 3,setelah mendapat sambutan baik oleh om yunus,lalu jaka di persilahkan masuk ke rumah om yunus,dan lagi pada sa’at itu pula jaka mendadak terkejut.tanah datar yang semula di lihatnya kosong,tiba2 bermunculan menjadi banyak gubug2 mungil yang indah berhias seribu tanaman bunga beraneka warna.jaka semakin kagum dan yakin kepada om yunus,bahwa dia memang orang hebat seperti yang di ceritakan olah orang2 kampung itu.

Setelah salin ungkap,bergurulah jaka tolos kepada om yunus dan tinggal menetap sementara di gunung tompotika.sebagai raja dari orang2 dayak om yunus memang pantas mendapat sajungan dari banyak orang di kampong karena kesaktianya luar biasa,banyak hal yang telah di pelajari oleh jaka selama tinggal di tompotika,setelah 6 bulan belajar pada om yunus di gunung tompotika dan merasa cukup,lalu jaka kembali ke mayayap untuk pulang menemui siti amidah istrinya.setibanya di rumah,jaka di kejutkan oleh sebuah berita yang membuatnya tertarik untuk membuktikanya

Semenjak jaka tolos pergi berguru ke puncak gunung tompotika,transmigrasi mayayap di gegerkan oleh orang yang menganut ilmu hitam,yang lebih di kenal dengan sebutan leyak,di kampong itu sudah ada 6 bayi yang mati tidak wajar,konon di karenakan kehabisan darah,dan darah itu di hisap oleh leyak tersebut,jika bayinya selamat,maka yang mati ibunya,juga karena di isap darahnya

Mendengar berita itu,jaka langsung ingat akan kematian putranya tempo dulu,pikirnya,jangan2 juga karena leyak itu,namun anehnya tak ada satupun yang bisa menangkap atau memergoki sa’at leyak itu beraksi,padahal hampir semua warga ikut berjaga-jaga, karena curiga kalau yang membuat anaknya mati itu adalah leyak tersebut,dan penasaran ingin tau seperti apa yang di sebut ilmu leyak itu,itung2 sambil menguji kemampuan ilmu yang selama ini di pelajarinya,lalu jaka tolos ikut melibatkan diri berjaga bersama warga,dengan harapan bisa ketemu dengan leyak tersebut

Walau bersama warga,jaka sering memisahkan diri dengan cara keliling kampong,karena tidak sabar menunggu di satu tempat saja,dan bertepatan ada salah seorang warga yang baru saja melahirkan bayi 8 hari,semua warga banyak yang berjaga di rumah pak riduwan yang istrinya baru melahirkan itu,sementara jaka mengambil tempat sendiri di atas

Pohon  kelapa yang terletak di perbatasan pakarangan milik pak riduwan.tepat tengah malam jaka melihat kepala manusia terbang melayang di udara hanya dengan membawa isi perutnya saja,menyaksikan hal itu,jaka seakan tidak percaya,tapi benar2 melihatnya  hampir tak berkedip karena tak mau kehilangan jejak

Djaka terus memandang dan memperhatikan kepala usus yang tanpa badan itu.semua warga yang berjaga di tempat itu di buat tidur oleh kepala itu,tak lama kemudian,satu persatu warga yang berjaga salin berjatuhan tertidur dengan pulasnya,namun sebelum semua jadi tertidur,jaka segera melompat ke arah kepala itu,mendengar teriakan jaka yang sedang menyerang kepala tanpa badan itu,membuat warga yang belum sempat tertidur,serentak kaget dan segera salin keluar rumah,pertarungan antara jaka dan leyak itupun jadi tontonan warga,tak satupun warga yang berani membantu jaka,hingga jaka berhasil melumpuhkan leyak itu,dan mengejarnya hingga masuk kerumahnya sendiri

Djaka dan semua warga segera memburunya,dan tertangkaplah siapa pelakunya,ternyata dia adalah pak nyoman adimerta,salah seorang warga transmigrasi asal dari bali,pak nyoman akhirnya di seret ke kelurahan untuk di adili,dan warga sepakat untuk mengusir pak nyoman dari kampong mayayap,jika tidak,maka warga akan membunuhnya,sebagai balasan atas anak2 dan istri mereka yang telah jadi korban ilmu sesatnya,dan sa’at itu pula pak nyoman adimerta keluar dari kampung

Namun sebelum pergi istrinya yang kecewa karena perbuatanya minta di cerai,akhirnya pak nyoman pun pergi terusir seorang diri tanpa anak dan istrinya,sejak pak nyoman pergi entah kemana,kampong menjadi aman dan damai kembali,tak ada cerita mistik yang mengerikan seperti yang lalu,jaka pun kembali menjadi petani bersama keluarganya

Kemarau panjang yang melanda belum juga usai,untuk menyambut kalau sewaktu-waktu hujan akan turun,jaka dan warga lainya mempersiapkan lahan dan bibit tanaman,setelah semua lahan warga sudah siap, pada akhir tahun turunlah hujan,dan semua wargapun menyambutnya dengan giat merperbaiki pematang sawah dan lahanya,yang kemudian di tanami padi

Selesai di sawah,lahan kering di tanami kedelai.setelah lewat musim tanam,siti amidah istri jaka hamil lagi untuk yang kedua kalinya,jaka pun jadi senang dan bertambah giat serta semangat dalam segala hal.kebahagia’an mulai nampak lagi di wajah jaka dan keluarganya,jaka pun menjaga dan merawat istrinya penuh kasih dan sayang,seakan tak mau terpisahkan oleh apapun

Namun, pada suatu ketika jaka melihat siti amidah istrinya di tendang oleh pak tarjan mertuanya.hanya karena kesalahan menumpahkan wedang kopi miliknya yang di taruh di pinggir pintu sa’at dia sedang membuat kurungan ayam.hal itu di anggapnya tidak sopan,lalu siti amidah di tendangnya hingga tersungkur jatuh,melihat sang istri tercintanya yang sedang hamil tua itu jatuh tersungkur karena di tendang oleh bapaknya,jaka jadi marah dan tersinggung,pertengkaran mulut pun terjadi antara jaka dan pak tarjan mertuanya,hal itu membuat jaka sakit hati,lalu jaka membawa istrinya untuk memisahkan diri dengan mertuanya,hidup mandiri sendiri

Setelah itu jaka menempati rumah temanya yang kosong karena sedang di tinggal usaha di kota,di sinilah jaka mengalami suka dan dukanya sebuah rumah tangga,sebagai pemula jadi kepala rumah tangga yang belum cukup bekal karena usia yang masih dini

Djaka sering mengalami pasang surutnya kebutuhan,sehari makan empat hari puasa bersama istrinya itu hal yang biasa,rumahnya gelap gulita karena tak punya minyak untuk menyalakan lampu juga sudah biasa,namun sebagai manusia biasa jaka sering gelisah dan malu serta sering menyalahkan dirinya,karena kebodohanya itu,ucapan mohon ma’af pun sering di lakukanya pada sang istri,karena tak dapat membahagiakan dirinya,namun siti amidah justru malah menasehati jaka,agar sabar dan tidak putus asa dalam segalanya

Bahkan selalu setia dan tabah mendapingi jaka tolos sebagai istri walau sering mengalami kekurangan dan kesulitan dalam segala hal,bahkan berjanji pada jaka akan selalu setia jujur tabah mendampingi jaka suka maupun duka,mendengar nasehat dan ungkapan hati sang istri yang begitu tulus,jaka semakin percaya diri dan semakin setia pada istrinya, pernah suatu sa’at,ketika itu sedang lebaran idul fitri.rumah jaka gelap gulita,karena tak punya minyak untuk menyalakan lampu.

Sementara rumah2 para tetangganya terang benderang,selain itu sudah 2 hari tidak makan karena tak punya beras untuk di masak,semalam suntuk jaka tak tidur,sambil memeluk istrinya yang sedang hamil tua, karena kasihan, paginya dari balik jendela jaka melihat orang2 sedang bersuka ria dengan pakaian bagusnya yang baru di beli dari pasar,sedang jaka melihat istrinya yang masih tidur karena lemas belum makan dengan daster robeknya, jaka tak kuasa menahan air mata kesedihanya,lalu mohon ma’af lagi untuk yang ke seribu kalinya,siti amidah tersenyum lalu bangun dari tidurnya,sambil mencium kening jaka dan memeluk tubuhnya

Sang istri berkata,……..{ tabahkan hati dan bersabarlah mas,gusti allah sedang menguji iman kita.dan allah punya rahasia baik serta indah buat kita,untuk itu….kita harus tetap tabah dan sabar menunggunya }. mendengar kalimat2 sang istri, jaka tolos seketika luluh dan pasrah diri dengan semua kehendak tuhan walo belum banyak tau tentang apa itu tuhan. seperti yang di katakana siti amidah istrinya. pagi itu untuk menghindari malu jika ada teman yang datang berkunjung kerumahnya,lalu jaka menghindarinya dengan cara pergi mancing ke laut,setelah minta ijin pada sang istri dan mendapat ijin,segera jaka berangkat dengan membawa kail dan golok sebagai peralatan.

Setibanya di laut jaka meminjam perahu lalu mendayung perahu itu hingga ke tengah lautan.tanpa sadar.malampun telah tiba hingga tiba pagi lagi.tapi jaka tak mendapatkan seekor ikanpun.lalu dengan kehabisan semangat jaka mendayung perahunya untuk menepi.namun tak kunjung sampai,rupanya arus laut telah membawa perahu jaka ke lain arah yang tak bertepi.karena sudah tak sanggup mendayung perahu lagi,jaka pasrah pada laut jika harus mati di laut,asal istri tercintanya dapat penggantinya yang bisa membuatnya bahagia

Dan pada sa’at itu muncul di hadapanya,dari bawah air laut yang terlihat biru,seorang wanita cantik sempurna,jaka sempat terpesona,namun kondisinya yang lemah,membuatnya tak mampu berbuat apa2.lalu wanita itu mengantarnya hingga ke tepi yang harus di tujunya,tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu,lalu wanita itu pergi sambil mencium kedua pipi jaka seraya berbisik,cepatlah pulang karena istrimu sangat membutuhkan dirimu,dan suatu sa’at kita akan bertemu lagi

Lalu, lenyapnya wanita itu,pulihlah jaka dari ke tidak berdaya’anya,jaka pun segera pulang.setibanya di rumah jaka jadi marah dan kecewa karena sang istri tak ada di rumah,semua pakaian pun di bawanya

Dan jaka jadi berpikir ini pasti perbuatan mertunya yang sengaja menghasut dan ingin memisahkan jaka dan siti amidah istrinya,emosi dan amarah pun muncul tiba2 membara,segera jaka tolos mengasah golok hingga putih dan tajam,lalu dengan mata merah jaka melabrak mertuanya untuk di tantang duel.namun warga berhasil menenangkan jaka,lalu di beri tahu kalau tadi istri hendak melahirkan,karena di rumah tak ada orang lalu lari ke rumah orang tuanya,dan kini sudah melahirkan dalam keada’an selamat

Mendengar penjelasan dari warga seperti itu,jaka jadi terdiam kaku,lalu segara lari masuk rumah,di pintu jaka melihat istrinya sedang terbaring lemah di ranjang dengan wajah cantiknya,sedang si bayi berada di sampingnya.penuh malu dan penyesalan jaka lalu mohon ma’af pada kedua mertuanya,dan memeluk serta mencium anaknya yang mungil.dan sejak itulah jaka jadi berkumpul lagi dengan mertuanya,dan sejak itu pula jaka jadi semakin hormat pada mertuanya,karena merasa punya hutang budi yang tak bisa di bayar dengan apapun

Pada akhirnya, putra yang kedua jaka terlahir juga,tepatnya pada hari minggu pon tgl 09 bln 08 tahun 1985, padahal waktu itu jaka baru berumur 18 tahun sedang siti amidah istrinya baru berumur 17 lebih.anak kedua jaka yang lahir sebagai perempuan tersebut.kemudian di beri nama RIA SUSANTI. kelahiran anak kedua inilah yang dapat merubah dan menjadikan jaka tambah semakin dewasa lagi.seakan seribu kebahagia’an sa’at itu sedang berpihak kepada jaka

Namun sayang,berpihaknya hanya sekejap mata saja,yang kemudian jaka bertemu dengan orang sekampung dari rusa kencana,yang kebetualan sedang kerja buruh di mayayap,jaka di beri kabar kalau madsalim bapaknya sedang sakit keras dan tak kunjung sembuh,selama sakit hanya nama jakalah yang selalu di sebutnya

Mendengar kabar itu jaka menjadi risau memikirkan kebenaranya,…..,{ benarkah bapak sakit karena menahan rindu kepadaku…? Benarkah..? kalau benar kenapa dulu bapak tega menghukumku hingga mengusirku…? }. Pikir jaka dalam lamunanya. selain itu jaka pun jadi teringat dengan semua orang2 yang pernah menganiayanya dulu,semua yang pernah di alami di rusa kencana jadi teringat kembali,dendam pun yang sudah lama terlupakan jadi kembali tumbuh dan berkembang membara di hatinya.

Lalu jaka nekad mohon ijin kepada kedua mertuanya untuk membuktikan kabar dari orang yang sekampung itu,setelah mendapat ijin dari mertua,jaka dengan membawa serta anak dan istrinya berangkat menuju rusa kancana tempat tinggal bapak dan ibunya keluarga,setibanya di rusa kencana,mendengar jaka tolos telah kembali dengan membawa istri dan anak,madsalim yang semula hanya bisa berbaring di ranjang karena lemah akibat sakit,mendadak sembuh dan bangkit lalu berlari menjemput jaka di pinggir jalan,di gendonganya jaka hingga sampai rumah,sambil berteriak…..

{ anak lanangku balik,lanang tenan anaku.! }

Orang sekampung ikut geger,semula orang menganggap jaka telah mati dan tidak mengira kalau jaka bakal kembali lagi.setelah kenyata’anya lain mereka pun jadi heran.sesudah satu minggu istirahat dengan damai bersama keluarga,lalu jaka tolos mengumpulkan semua keluarganya,bapak dan ibunya,dewi atnesi kakanya yang sudah tidak kerja lagi di kota karena sudah bersuami,endang taurina adiknya,juga adik lelakinya yang lahir sa’at jaka sedang berada di rantau yang bernama muhamad subur,lalu jaka bercerita tentang perjalanan hidupnya selama ini,hingga kini kembali.juga tentang dendamnya terhadap semua orang yang telah menghancurkan semua masa depan dan harapanya

Mendengar penjelasan jaka tolos,madsalim jadi minder penuh rasa kawatir bahkan takut,tapi jaka berusaha untuk menenangkanya,kalau dirinya tidak mungkin akan membalas kepada orang tuanya,karena apapun yang pernah di lakukan oleh bapaknya dulu,di anggapnya itu sebuah didikan,jaka hanya akan membalas berbuatan orang2 yang telah memfitnahnya dulu,sehingga menjadikan dirinya kehilangan masa depan.jaka ingin membuktikan kepada mereka,kalau apa yang mereka tuduhkan dulu itu adalah salah,kalau apa yang mereka lakukan dulu itu adalah tidak berpri kemanusia’an

Namun walau sudah mendapat penjelasan dari jaka,madsalim tetap minder dan takut.karena merasa pernah ikut menganiaya jaka,esok paginya,sebelum waktunya orang berangkat kerja jaka mendatangi salah satu rumah orang yang pernah menganiayanya dengan fitnah,yaitu yang bernama pak jalal,sambil berteriak lantang jaka memanggil pak jalal agar keluar dari rumahnya untuk bertanggung jawab atas tuduhan dan penganiaya’an yang pernah di lakukanya terhadap jaka dulu,

{ Siapapun yang ada di dalam rumah ini. Kluar…..aku santoso. Anak nakal yang sering kamu aniaya dulu. Kini dating untuk menuntut keadilan. Ayo kluar…!!!. Sebelum aku hancurkan rumah ini }. Teriak jaka penuh amarah dendam. Tan lama kemudian. Pemilik rumahpun kluar. setelah pak jalal muncul dari balik pintu rumahnya

Melihat wajah pak jalal,jaka tak mampu menahan emosi,seakan apa yang pernah di lakukan pak jalal dulu sedang terjadi sa’at itu juga,lalu jaka berkelit melompat ke arah pak jalal,dan menghajarnya tanpan di beri sedikitpun kesempatan,setelah puas melampiaskan dendam. dan pak jalal pun sudah tak berdaya lagi,lalu jaka menyeret pak jalal ke desa untuk minta pengadilan pada aparat desa setempat

Dengan di saksikan banyak warga jaka berhasil mengungkap perkara masa lalu dengan pak jalal di hadapan aparat desa,lalu jaka beralih lagi ke orang berikutnya yaitu pak dakir,pak dakirpun bernasib sama seperti pak jalal. pak dakir di seret pula ke desa oleh jaka,lalu beralih lagi pada ibu ninik guru sekolahnya dulu.juga suaminya ikut diseret oleh jaka ke desa.untuk minta di adili se adil adilnya,jika tidak,jaka mengancam akan membunuh mereka semuanya yang pernah menganiayanya dulu.

Menyaksikan perbuatan balas dendam yang di lakukan oleh jaka,madsalim jadi semakin ketakutan,beda dengan dewi arimi ibunya,dia semakin mendukung jaka agar membuktikan segala kebenaranya.begitulah cara jaka membalas dendam kepada orang2 yang pernah menganiayanya dulu.

Satu persatu orang2 itu di seret ke desa, namun sebelumnya di hajar sesuai dengan apa yang pernah mereka lakukan terhadap jaka dulu,semua di sesuaikan hingga impas.namun walau begitu ada juga yang kabur karena saking takutnya pada jaka, dan sejak semua orang tau kalau waktu itu jaka terfitnah dan teraniaya,banyak warga yang datang untuk minta ma’af kepada jaka

Banyak pula para pemuda seusianya yang datang untuk minta di ajari agar bisa seperti jaka sa’at ini.setelah semuanya terungkap,lalu jaka beralih mencari siapa pelaku yang sebenarnya.dan atas bantuan pemuda yang sedang belajar pada jaka,akhirnya pelaku yang sering melakukan pencurian waktu jaka masih kecil dulu. tertangkap juga,ke lima kawanan pencuri itu pun di adili dan di bui untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanya yang merugikan orang lain. terutama jaka tolos.

Setelah semua terungkap tuntas dan kembali aman.madsalim yang semula ketakutan kepada jaka kembali lega,dan atas usaha jaka pula perguruan silat yang sudah tertutup lama di buka kembali,nama baik keluarga dan harga diri menjadi pulih kembali pada keluarga madsalim.jaka tolos lalu di angkat oleh aparat desa menjadi ketua pemuda di desa rusa kencana.sementara madsalim di angkat menjadi wakil kepala desa atau skertaris desa.kini keluarga madsalim kembali normal bersama masarakat luas,

Lalu jaka membawa kembali anak dan istrinya ke desa mayayap untuk tinggal bersama lagi dengan mertuanya.setibanya di kampung mayayap,musim hujan semakin menjadi,hingga banjir air terjadi di mana2.banyak tananaman yang mati membusuk akibat tergenang air yang terlalu besar dan lama.ekonomi pun menjadi semakin sulit,bahkan lebih sulit lagi di banding waktu musim kemarau terdahulu.

Untuk  mencukupi kebutuhan keluarganya. lalu jaka pergi usaha ke kota kabupaten luwuk.di sana jaka tolos menemui rekan2nya yang pernah menjadi anak buahnya,yaitu daeng tamar dan anak buah lainya,setelah mendapat sedikit bantuan dari rekan2 itu lalu di kirimkanya pada keluarga di mayayap.setelah tinggal sesa’at bersama para sahabatnya di kota,

Djaka tolos ingin mengenang masa lalunya bersama daeng tamar dan anak buahnya, apakah mereka semua masih seperti dulu dan tetap menganggap jaka tolos sebagai pemimpin dan ketua mereka. lalu daeng tamar mengajak jaka keliling kota untuk menemui beberapa perwakilan gank mandau yang terletak di empat penjuru,yaitu timur,selatan,barat dan utara kota,setelah tau kalau mereka tetap hormat dan mengakui jaka sebagai ketua mereka sampai kapanpun walau tidak di tunggui,jaka tolos menjadi lega dan semakin percaya terhadap daeng tamar,dan sebagai tanda kepercaya’an itu,lalu daeng tamar di warisi beberapa ilmu kesaktian dan olah kanuragan.

Namun suatu ketika,jaka di kejutkan oleh sesuatu yang membuat dirinya harus mengingat masa kecil yang sangat menyakitkan dulu,waktu itu jaka sedang tiduran di serambi depan aula,dalam posisi tertelungkup,kedua kaki jaka sedang di pijat oleh daeng tamar yang sedang mengabdinya sebagai wakil dan murid,tiba2 jaka menatap sebuah bangunan baru di sebelah utara aula tempat tinggalnya, yang sa’at itu sedang di kerjakan,jaka melihat ada tiga orang yang sedang kerja di sana, di kenalnya orang tersebut,

Dia adalah pak ansori,pak pardi dan pak giyan,tiga orang yang pernah menganiaya dan menfitnah jaka sewaktu kecil di kampungnya,hingga masa depan dan kehidupanya menjadi hancur,namun jaka tolos waktu itu belum membalasnya,karena ketiga orang itu keburu kabur entah kemana,pikirnya,….{ o……rupanya kalian ada di sini,pucuk di cinta ulang pun tiba,belum puas rasanya hatiku,jika semua dendamku belum terbalaskan }, kata jaka tolos dalam batin.lalu sambil menunjuk ke arah tiga orang itu,

Djaka memerintah daeng tamar untuk menangkapanya hidup2 dan membawanya di hadapan jaka,tanpa membuang waktu sedikitpun,daeng tamar lalu bergegas pergi bersama 6 anak buahnya untuk meringkus tiga orang itu buat jaka, 3 jam kemudian,daeng tamar dan anak buahnya telah kembali dengan membawa tiga orang  yang di maksud oleh jaka,ketiga orang tersebut kaget begitu melihat dan tau kalau mereka anak buah jaka,lalu jaka menceritakan kepada daeng tamar dan anak buahnya,kenapa harus menangkap ketiga orang itu,setelah tau dari cerita jaka,kalau merekalah yang pernah menganiaya jaka waktu kecil di kampong,

Serentak mereka jadi naik darah dan membenturkan tubuh mereka ke dinding,lalu jaka menyuruh agar mereka di kurung tanpa di beri apapun,tujuanya agar mereka juga merasakan seperti apa yang di rasakan oleh jaka waktu di kurung bapaknya akibat fitnah mereka,namun sa’at jaka sedang tidur pulas,tanpa sepengetahuan jaka,saking emosinya,daeng tamar dan anak buahnya menyiksa dan menganiaya mereka bertiga

Djaka terbangun karena kaget mendengar teriakan salah satu dari mereka,yaitu pak ansori yang sedang di pukuli oleh daeng tamar,menyaksikan hal itu,jaka langsung menghentikan mereka,tapi jaka sudah terlambat,karena pak gian dan pardi telah tewas di tangan daeng tamar,jaka tolos jadi marah sekali pada sa’at itu.karena daeng tamar telah melakukan sesuatu di luar perintahnya,tamparan tangan jaka pun mendarat di pipi mereka masing2.

Tapi mau bagai mana lagi,nasi telah menjadi bubur,yang sudah mati tak mungkin bisa di hidupkan kembali,mungkin itulah hukuman atau karma yang pantas buat mereka berdua, melihat kedua temanya tewas,pak ansori ketakutan yang teramat sangat,dia tunduk di bawah kaki jaka sambil meratap minta ampun dan tolong.setelah jaka menyuruh daeng tamar dan anak buahnya pergi mengubur mayat kedua orang tersebut,lalu jaka membawa pak ansori masuk ke kamar pribadinya,

Masih dalam keada’an meratap dan sesekali sambil sujud di kaki jaka,pak ansori terus bermohon dan bermohon kepada jaka agar tidak membunuhnya seperti kedua temanya itu.lalu jaka bangkit berdiri sambil mengangkat wajah pak ansori yang sedang tertunduk sujud,jaka berkata…..{ pak, apa saja yang pernah bapak lakukan dulu terhadap saya,…tolong jawab dengan jujur….jangan sampai ada yang tidak di ceritakan kepada saya }.tanya jaka pada pak ansori.lalu pak ansori mengakui dan menceritakan semua yang pernah dia lakukan pada jaka waktu itu.lalu jaka tertawa,dan saya akan melakukan hal yang sama pada bapak,agar bapak juga merasakan apa yang saya rasakan pada sa’at itu.

Lalu jaka melucuti semua pakaian pak ansori seperti yang pernah di lakukanya pada jaka dulu,lalu jaka pun melakukan hal yang sama seperti yang pernah di lakukan oleh pak ansori kepadanya dulu,setelah semua perbuatan terbalaskan.lalu jaka menjadikan pak ansori sebagai pembantu pribadinya,selama satu tahun,sebagai tebusan atas semua kesalahanya.setelah itu baru akan mema’afkan dan melepaskan pak ansori,sebagai orang yang tidak punya salah lagi.

Lalu jaka kembali lagi ke kampung mayayap dengan membawa serta pak ansori dan persiapan modal untuk bertani.dan dengan modal itulah jaka kembali bekerja sebagai petani di sawah bersama mertuanya.begitulah proses perjalanan hidup jaka tolos di waktu kecil hingga remaja, beristri hngga mempunya anak. Dan di akhiri dengan pelampiasan dendam, pada orang2 yang telah membuatnya tersiksa dan kehilangan cita2 serta masa depan.

Begitulah kisah kenyata’an ki djaka tolos semasa kecilnya sampai ke jenjang rumah tanggadini hingga tersebut….

Bagaikan buah simala kama yang jatuh di atas kerikil tajam,jika menolak sangat menyakitkan, bila menerima sangatlah menyedihkan,jika menggeleng sangatlah menyayat,bila mengangguk sangatlah menusuk, hingga mematikan. dan rasa sakit,sedih yang meyayat dan menusuk kehidupan itu. bertengger di atas batu kerikil yang tajam.sehingga menambah kepedihanya,semoga proses kehidupan yang seperti ini hanya jaka tolos yang mengalaminya dan menjalaninya, tetapi jika ada, janganlah menolak,hadapi semua kenyata’anya dengan apa adanya.karena kehendak TUHAN.dan tujuanya itu bukanlah politik. Melain kebenaran yang nyata. Yang mau tdk mau harus kita terima dan kita jalani dengan keiklasan bersungguh-sungguh………

Sekembalinya jaka dari kota bersama pak ansori,yang kini jadi abdinya sebagai tebusan dari semua kesalahan di masa lalu.jaka bekerja sebagai petani di sawah dengan di bantu pak ansori,namun pada akhirnya atas saran sang istri jaka melepaskan pak ansori dan di suruhnya kembali pulang ke rusa kencana,dengan di beri pesangon yang lumayan sebagai bayaran selama bekerja bersama jaka di sawah.tapi pak ansori justru menolak,tak mau kembali ke kampong.dia lebih memilih tinggal bersama jaka,bahkan berjanji ingin dan akan mengabdikan seluruh jiwa raganya pada jaka dan untuk jaka seumur hidupnya.

Menurut pengakuanya,dia sudah bercerai dengan istrinya dan anak2nya di ambil sebagai anak angkat oleh saudara2nya di kampong.akhirnya jaka dan istripun tak bisa memaksa pak ansori pulang apalagi mengusirnya.dan sejak itu pak ansori hidup bersama keluarga jaka tolos di mayayap.sekali dua kali tiga kali panen akhirnya jaka merasakan kalau dirinya memang tidak punya bakat jadi orang tani.lalu pertanian di serahkan pada mertuanya.sementara dirinya berpamit ke kota untuk usaha yang lain.lalu dengan doa restu dari istri dan mertuanya, jaka tolos berangkat untuk usaha yang cocok dengan dirinya,

Bersama pak ansori yang tidak mau di tinggal dan ingin mengikuti jaka kemanapun pergi,hingga menuju ke kota kabupaten poso, yang juga masih wilayah sulawesi tengah.setibanya di kota poso,jaka berkeliling mencari lowongan kerja di berbagai tempat,jika malam telah tiba,jaka dan pak ansori istirahat di terminal bus bersama dengan orang2 terminal dan para penumpang yang kemalaman dan tak dapat mobil.paginya lalu keliling lagi untuk mencari lowongan kerja.namun tak ada satupun pekerja’an yang mau menerima jaka sebagai karyawan.semua lowongan selalu menanyakan ijasah atau pengalaman kerja.sementara jaka tak punya ijasah dan pengalaman kecuali bertani

Tak terasa sudah seminggu keliling kota poso jaka belum juga mendapat pekerja’an.hal tersebut membuat jaka tolos jadi teringat akan masa lalunya yang hancur karena orang2 yang telah memfitnahnya,di sebuah jalan yang cukup sunyi jaka menatap pak ansori dengan penuh kebencian,karena dia salah satu orang yang telah menghancurkan masa depanya,hingga seperti sekarang ini.coba kalau saja dulu jaka tak mengalami peristiwa tragis itu,tentu jaka memiliki ijasah atau pengalaman.yang sering di pertanyakan oleh semua lowongan kerja

Pak ansori mundur ketakutan,seluruh tubuhnya gemetaran hingga terkencing-kencing saking takutnya pada jaka yang matanya menatap tanpa berkedip ke arahnya.sambil minta ampun yang tak henti2nya pak ansori langsung mencium kaki jaka sambil meratap dan menangis.tapi masa lalu itu telah menguasai jaka,sehingga jaka pun tak punya kesadaran sedikitpun.dengan dada yang berdebar,kedua tangan jaka mengepal kuat,dan ketika kepalan tangan kanan itu hampir mendarat di kepala pak ansori yang sedang menunduk di kaki jaka

Tiba2 muncul di hadapanya, kakek tua yang dulu pernah dan sering menemui jaka saat di kurung dalam kamar oleh ayahnya,…….{ tahan…!.jangan lakukan hal itu raden, raden…….masa lalumu itu adalah sebagian dari laku hidupmu yang harus kamu jalani,jadi ….apapun yang telah terjadi itu adalah benar,karena semua itu atas kehendak gusti allah,sebagai tebusan dari semua kesalahan para leluhurmu di masa lampau……untuk itu dan karena itu kakek dan para leluhurmu yang lain sangat berharap dan nergantung pada dirimu raden,karena hanya radenlah satu2nya yang mampu dan bisa,orang yang hampir raden pukul itu,sebagai salah satu sarana dari gusti untuk memperlakukan hidupmu agar dapat menebus kesalahan para leluhurmu di masa lalu, raden.

Kakek dan semua para leluhurmu memang salah,karena harus membebani hidupmu dengan seribu dosa,tapi kalau bukan kepadamu,lalu kepada siapa lagi raden…….kakek mohon…jangan terlena, jangan tertipu oleh semua yang  raden alami, yang raden hadapi selama hidup,karena itu semua adalah laku yang harus raden lalui.tidak selamanya raden.hanya sepintas lalu.dan jangan kawatir atau ragu juga takut,karena semua para leluhur raden, akan selalu mendampingi dan memandumu raden }. Kata kekek tua yang mengaku pangeran karim itu. Menghentikan pukulan jaka, yang hampir jatuh ke tubuh pak ansori

Djaka semakin penasaran kepada kakek itu.lalu jaka berusaha untuk minta penjelasanya,namun pangeran karim mengelak,dengan alasan,kelak jaka tolos akan tau dengan sendirinya,jika di beri tau sekarang,jaka akan semakin sulit dan berat lakunya,selain itu juga,berati pangeran karim telah membongkar rahasia tuhan atau ikut campur urusan tuhan.setelah di lihat jaka telah kembali tenang,secara tiba2 pula kakek tua itu langsung lenyap dari pandangan jaka dan pak ansori.dan sejak itu pula pak ansori jadi semakin takut dan patuh serta keinginanya untuk mengbdikan diri kepada jaka tolos semakin kuat dan tidak ragu

Pak ansori menyakini kalau jaka masih keturunan darah biru,Karena tau waktu pangeran karim memanggil jaka dengan sebutan raden.

setelah yakin di kota poso tak dapat pekerja’an.lalu jaka tolos tambah nekad dan pergi ke kota palu,yaitu ibu kota sulawesi tengah.pak ansori pun turut serta kesana,setelah menempuh perjalanan sehari semalam dengan kendara’an bus,akhirnya pada hari senin tgl 09 bln 06 thn 1979,jaka dan pak ansori tiba di kota palu,yang menjadi ibu kota di sulawesi tengah.lalu jaka memulai keliling lagi mengadu nasib mencari pekerja’an.dan setelah 4 hari berusaha,jaka di terima kerja sebagai buruh bangunan di pengaspalan jalan raya di ibu kota palu

Dan jakapun  mulai bekerja dengan penuh semangat karena mengingat akan tanggung jawabnya kepada anak dan istrinya yang di tinggal di kampong.namun….jaka bukan saja hanya bekerja,di balik kerjanya,jaka selalu memperhatikan semua bentuk pekerja,an tersebut,semua di pelajarinya dengan seksama dan teliti hingga hapal di luar kepala

Setelah 5 bulan bekerja sambil belajar,lalu jaka nekat minta borongan sendiri yang di bantu dengan 10 anak buah,karena hasilnya cukup bagus,lalu jaka mendapat kepercaya’an dari bos ke satu.lalu jaka di beri borongan jalan yang lebih panjang lagi,dengan itu jaka lalu menyuruh pak ansori untuk pulang ke kampong,mencari karyawan sebanyak mungkin,dan dari kampong di rusakencana,pak ansori berhasil membawa 170 karyawan kerja,jaka pun memulai pekerja’anya dengan karyawan yang jumlahnya hampir dua ratus orang

Keberhasilan dalam merantau di kota pun di raih oleh jaka,setiap 2 minggu sekali setelah bayaran,jaka selalu rutin mengirimkan hasil kepada keluarganya di kampong.sebagian di kirim pada kedua orang tuanya di rusa kencana,dan sebagian lagi di kirim buat anak dan istrinya serta mertuanya di mayayap.dengan pekerja’an sebagai pemborong pengaspalan jalan,tiap kali selesai,jaka dan karyawanya selalu pindah2 tempat pula,mulai dari kota.kecamatan hingga sampai ke pelosok desa

3 bulan sekali jaka tolos pulang ke kampong untuk menemui keluarganya,begitu juga dengan semua karyawanya,di suruhnya untuk istirahat,setelah seminggu beristirahat bersama keluarga di kampong,lalu jaka menjemput semua karyawan kerjanya untuk di ajak berangkat kerja lagi.hingga pekerja’an ini di tekuninya selama 2 tahun,setelah mertuanya bisa memperbaiki rumahnya,orang tuanya dapat membangun rumahnya dan dirinya sendiri sudah punya rumah sendiri.jaka lalu menetap di rumah bersama anak istrinya di mayayap,dan berbahagialah djaka tolos bersama anak dan istrinya hingga hampir setahun di kapung

Karena bekal sudah habis akibat nganggur selama di kampong,di sa’at kemarau datang,jaka lalu mencoba usaha bareng warga sekampung untuk merambah hutan,mencari rotan dan getah kayu dammar untuk di jual sebagai penghasilan.pak ansori yang selalu setia mendapangi jaka,juga ikut bersama jaka masuk hutan,dengan membawa bekal sembako makanan yang cukup, buat di makan selama 15 hari di hutan,berangkatlah jaka dan pak ansori bersama warga lainya untuk masuk di hutan,setengah bulan sekali keluar dari hutan dengan membawa hasilnya untuk di jual

Namun jaka hanya mampu bertahan beberapa bulan saja,setelah itu jaka lalu pergi merantau ke kota lagi sebagai pemborong pengaspalan jalan.pada waktu itu jaka mendapat borongan di kota luwuk.kota kabupaten dari kampungnya sendiri,namun sayang,setelah jaka dan karyawanya sudah siap kerja,musim hujan pun mulai turun,sehingga pekerja’an yang membutuhkan terik matahari itupun jadi terhambat,sehari bisa kerja 2 hari tak bisa kerja karena hujan,ada kalanya sampai 3.hari 5 hari bahkan seminggu tidak bisa kerja karena hujan,jakapun jadi sering tekor, karena kerja tidak kerja, jaka harus tetap bertanggung jawab tentang masalah makanya para karyawan.hingga jaka menjadi bangkrut dalam usahanya itu

Sebagian karyawan lalu di pulangkan ke kampong asalnya,dan sebagian masih tetap bertahan karena tak ada pesangon buat pulang,dan pada sa’at itu pak ansori jatuh sakit terkena demam malaria.dan karena hujan terus menerus tiada hentinya,lalu semua karyawanpun di suruhnya pulang kampong semua,sementara jaka masih bertahan karena tak punya uang cukup buat pulang kampong,untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan merawat pak ansori yang sedang sakit,jaka selalu bon di kantor perusaha’anya.dan pada suatu ketika

Pak ansori dalam keada’an sangat parah dalam sakitnya.dia minta di temani dan tidak mau di tinggal terlalu lama oleh jaka.dan jaka menjadi sedikit cemas di buatnya,sa’at jaka sedang duduk mendampinginya,tiba2 pak ansori meminta ijin untuk mengungkap isi hatinya yang sebenarnya,setelah jaka memberi ijin,lalu pak ansori mulai bercerita,dan ternyata,selain karena ingin menebus kesalahanya kepada jaka,ternyata pak ansori jatuh cinta pada jaka,itu sebab dia ingin selalu bersama dengan jaka,karena menurutnya,walau dulu pak ansori melakukanya sa’at jaka masih kecil,tapi jaka lah orang pertama yang pernah membuatnya merasa puas,karena hasratnya yang terpendam selama ini dapat tersalurkan,sehingga setelah jaka besar dia jadi jatuh cinta

Mendengar pengakuan pak ansori,jaka jadi teringat pada sobari,orang yang pernah memberinya tentang pengalaman cinta,dan mengaku kalau dirinya gay,lelaki yang menyukai lelaki,pikir jaka,berati pak ansori itu seorang gay,sama seperti sobari,jaka sedikit melamun,tapi lamunanya segera sadar karena terkejut oleh suara pak ansori,yang bermohon ingin memeluk tubuh jaka dan menikmatinya untuk yang terakhir kalinya,jaka sedikit gugup harus bagaimana,di turuti merasa risih,tidak di turuti perminta’an orang sakit.sambil meratap terus menerus pak ansori memohon kepada jaka untuk memenuhi permohonan terakhirnya,karena tak tega melihat pak ansori,lalu jaka mau dan membiarkan tubuhnya di telanjangi dan di cumbui oleh pak ansori

Semalam suntuk jaka tidur telanjang bersama pak ansori untuk menuruti kemauanya.setelah pak ansori merasa puas dengan tersalurnya sahwat dan mengucapkan terima kasih,lalu jaka keluar menuju sumur untuk mandi membersihkan diri,seusai mandi bergegas kembali lagi menemani pak ansori,namun sa’at itu juga jaka terkejut,karena setibanya di kamar,pak ansori sudah tidak bernyawa lagi (meninggal dunia),dia meninggal dalam posisi tidur terlentang sambil memegang selembar kertas yang bertulisan

Lalu jaka mengambil kertas itu dan di bacanya,isi kertas itu,tentang ucapan terima kasihnya kepada jaka yang telah menerima dan mengerti akan dirinya,lalu jaka mengirim kabar pada keluarganya di kampong,dan di bawalah jenazah pak ansori oleh keluarganya pulang ke kampong untuk di makamkan.

Sepeninggalan pak ansori, jaka menjadi kesepian,karena dalam segala hal harus di lakukanya seorang diri,resah dan gelisah karena keada’an nganggur mulai di rasakan oleh jaka,kini tak ada lagi yang menghiburnya seperti dulu waktu masih ada pak ansori.mau pulang tak punya bekal yang cukup buat di kampong,tidak pulang di tempat selalu nganggur,musim hujan belum juga berlalu.dan pada sa’at itulah muncul fitnah yang

Kejam, di kampong istrinya,siti amidah istri jaka,mendapat kabar dari orang,yang mengatakan kalau jaka tidak mungkin pulang ke mayayap lagi,karena sudah kawin lagi di kota,itu sebab tidak pernah kirim uang lagi ke kampong.karena penasaran,lalu siti amidah pergi menyusul jaka ke tempat kerjanya di kota luwuk.sa’at sang istri tiba di tempat,jaka tidak ada di tempat,karena sedang mengantar anaknya bos belanja ke pasar.dan sa’at jaka pulang bersama seorang perempuan,di anggapnya bahwa itu istrinya yang baru,dan dia yakin kalau kabar yang di terimanya itu adalah benar,pertengkaran mulutpun terjadi,siti amidah tak mau lagi mendengar penjelasan dari jaka,karena bukti tersebut

Lalu lari pulang sambil menangis penuh kecewa dan marah,karena tak mau masalahnya menjadi panjang,jaka pun segera pamit pada bosnya untuk menyusul istrinya pulang ke mayayap.tapi kedatangan jaka sudah di anggap terlambat,karena sang istri sudah terlanjur menceritakan semua yang di lihatnya di kota tentang suaminya,pada orang tuanya,dan semuanya sudah percaya dan yakin kalau jaka tolos sudah berhianat,kedatangan jaka di rumah di tolak bahkan di usir,namun jaka berusaha untuk bersabar menunggu kesempatan guna memceritakan yang sebenarnya,waktu itu jaka menginap di rumah tetangganya

Namun, hingga seminggu telah berlalu jaka masih juga belum di terima,bahkan untuk ketemu dengan ria susanti anak tercintanya saja tidak di ijinkan,malah sang istri di dukung oleh orang tuanya untuk minta di ceraikan segera,jaka semakin panik mendengar pernyata’an istrinya yang minta cerai.pikiranya jadi melambung tinggi hingga membayangkan jika hal itu benar2 terjadi,karena tak mampu menolak desakan sang istri dan mertua yang minta cerai,dan jaka tidak mau menceraikan istri tercintanya itu,lalu jaka tolos memilih pergi tanpa pamit dengan siapapun.dengan membawa seribu duka tentang perminta’an cerai dari istrinya

Djaka berjalan kaki dan terus berjalan mengikuti jalur jalan yang di laluinya,tanpa membawa bekal apapun,di sepanjang perjalanan,yang ada di dalam pikiran jaka hanyalah bayangan wajah anak dan istrinya,berhari-hari, siang dan malam jaka terus berjalan kaki tanpa henti,pikiranya melambung tinggi dalam lamunanya,hatinya kosong tak bercorak sedikitpun,tatapan matanya hampa tak terarah,tubuhnya tak berdaya kecuali untuk berjalan,langkahnya tidak pasti,linangan air matanya mulai mongering,bibirnya bergetar karena tak putus2nya menyebut nama anak dan istrinya,di luar kesadaranya

Langkah kakinya telah membawanya sampai di kota kecamatan pagimana kabupaten poso.di sebuh jalan langkah kakinya di hentikan oleh seseorang yang mengenalnya,dia adalah sobari,satu2nya orang yang pernah bersahabat dengan jaka di waktu kecil dulu,melihat kondisi jaka tolos yang acak2kan,sobari jadi nekat mengurung jaka agar tidak hilang di telan daerah yang tak di kenalnya,pada waktu itu,baju jaka sudah tak berupa baju,tubuhnya kotor,wajahnya kusut,tidak ubahnya dengan orang gila di jalanan,tapi sobari tanpa malu dan sungkan walau di lihat banyak orang terutama anak buahnya,yang bekerja di pengaspalan jalan waktu itu

Sobari memeluk jaka dan membawanya ke bass cam.setibanya, lalu jaka di mandikan dan di ganti pakaianya,lalu di berinya makan sambil di Tanya tentang apa yang sedang terjadi Padanya,namun jaka tetap diam tak bersuara sedikitpun,makan tak mau apalagi bicara,namun sobari tetap sabar dan telaten merawat jaka,karena dia merasa yakin kalau jaka tidaklah gila,selama satu bulan lebih jaka hidup di bawah rawatan sobari,dan selama itu pula jaka belum mau becara sepatah katapun

Sementara itu,hampir setiap malam sobari yang menganggap jaka telah hilang ingatan itu, selalu di cumbuinya bak seorang perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya.tanpa sungkan dan malu sedikitpun.walau jaka tau apapun yang di lakukan oleh sobari atas dirinya.tetap tak peduli sedikitpun.dia tetap diam dan tak melakukan apapun.hingga pada akhirnya sobaripun merasa takut dan bingung juga tentang keada’an jaka tolos yang tak ubahnya dengan sebongkah patung.dan pada suatu sa’at

Dia berbisik di telinga jaka yang sa’at itu sedang terbaring di ranjangnya, { santoso…. kamu adalah satu2nya orang yang ku kenal paling hebat dan kuat dalam segi apapun.itu sebab aku suka dan kagum padamu.saya yakin semua orang yang kenal dan tau tentang kamu,juga sama seperti apa yang aku katakana tadi kepadamu,tapi……jika kondisi keada’anmu seperti ini…….terus menerus….lalu apa kata semua orang nanti.aku yakin ini bukan sipatmu yang sebenarnya.jika kamu sedang punya masalah,katakanlah dan ceritakanlah dengan hati terbuka,om pasti akan membantumu,tidak ada masalah yang tak dapat di selesaikan,semua masalah pasti ada jalan keluarnya,untuk itu,agar om bisa membantumu,katakan dan ceritakan pada om,jangan diam terus menerus seperti ini,om jadi akut dan kawatir,om tidak mau kehilangan kamu dan tidak ingin melihatmu seperti ini terus-terusan.apa kamu tidak malu jika sampai orang2 yang mengagumimu tau kalau ternyata kamu selemah ini……..}, kata sobari yang ingin mencari tau tentang apa yang mebuat jaka hingga seperti ini.

Mendengar ucapan sobari seperti itu,jaka langsung melirik ke arah sobari dan menatapnya dengan tajam,sobari jadi takut dan mundur beberapa langkah,namun segera tenang kembali sa’at jaka menyapanya dan menyuruhnya duduk kembali di sampingnya.lalu jaka tolos menceritakan tentang apa yang sedang di alaminya,tentang apa yang sedang di kawatirkanya dan tentang apa yang sedang di rasakanya.mendengar pengakuan jaka yang bercerita sambil melinangkan air matanya,sobari ikut terbawa sedih dan haru.lalu bermaksud meluaskan pikiranya yang sedang sempit sa’at itu,dengan bahasa……

{ santoso…,dunia itu tak selebar daun kelor.melainkan sangat2 luas sekali,artinya,wanita itu bukan Cuma istri kamu,masih banyak yang cantik bahkan lebih dari istrimu,kalau dia sudah begitu,cari lagi kan bisa,kamu lelaki,gagah masih muda dan hebat lagi,saya yakin bukan hal yang sulit bagimu untuk mendapat kan yang lebih baik dari dia……}. kata sobari pada jaka yang bermaksud menghiburnya.namun jaka justru marah dan menarik leher baju sutari sambil berkata,…..{ dunia memang luas,dan banyak yang lebih dari siti amidah istriku,tapi ketahuilah…..tidak ada satupun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku,….tau..!.}. kata jaka membentak sobari yang sedang menghiburnya saat itu

Lalu jaka berjalan keluar dan pergi mengikuti kehendak kakinya lagi,sobari pun bergegas mengikutinya untuk menahanya.salin bantah bahasa di halaman basscam pun tak bisa di hindari.hingga membuat semua karyawan yang sedang istirahat jadi terbangun dan Menontonya,dan salin mengguncingkan jaka yang sedang bertengkar dengan sobari.ada bilang…..{ saya kira yang di rawat sobari itu orang gila…ternyata bukan }, { iya saya kira juga begitu },ada juga yang bilang, { saya kira bisu atau pikun dan hilang ingatan }, { memangnya dia itu siapa sih…..saudara bukan teman bukan…kok di pikiri.seperti kurang kerja’an saja }, kata sebagian kaeyawan yang sedang menonton pertengkaran antara jaka dan sobari saat itu

Mendengar suara mereka yang sumbang itu,jaka jadi panas telinga dan mengalihkan amarahnya pada mereka.dan dengan suara yang lantang,jaka mengarahkan pandangan matanya yang tajam bagaikan ujung pedang mandau itu, pada pusat suara tersebut,lalu melangkah ke arahnya dan menyeretnya dan di hajarnya,awalnya mereka salin melawan dan membela diri,tapi setelah tau kalau jaka tidak seperti yang mereka duga,merekapun salin tersungkur merangkak untuk minta ampun pada jaka,namun jaka tidak peduli sama sekali.jaka tetap melampiaskan amarahnya bahkan menantang semua orang yang hadir di tempat itu untuk bertarung sesuai dengan keinginan mereka masing2

Tapi tak satupun yang berani membalas tatapan mata jaka,apalagi menerima tantanganya,untung sobari berhasil menenangkan jaka,dan jaka masih mau mendengarkan ucapan sobari,karena merasa punya hutang budi padanya.lalu sobari menarik dan membawa jaka masuk ruangan tempat tidurnya,di peluknya jaka sambil berkata….{ kenapa kamu bisa seperti itu santoso…..tenangkan hatimu,mari kita sama2 berusaha mencari jalan keluarnya,jangan menuruti emosimu }.

Tapi sejak kejadian itu,semua karyawan yang ada di tempat itu,jadi hormat pada sobari,dan banyak yang ingin bersabat dengan jaka tolos.tapi sobari dan jaka menanggapi semua itu dengan biasa2 saja.setelah proyek selesai dan pindah ke kota mamuju.sobari pun ikut serta pindah ke mamuju bersama jaka,sobari berpikir tidak akan melepaskan jaka jika jaka masih dalam keada’an seperti itu.sesampainya di mamuju,jaka masih tetap sering melamun memikirkan anak dan istrinya,hingga pikiranya lebih sering kosong di banding tidaknya.lalu sobari mencoba mencarikan hiburan buat jaka

Dengan cara mengajaknya jalan2 ke kota,sa’at mampir makan di restoran ikan bakar khas sulawesi,sobari memperkenalkan jaka dengan seorang gadis cantik pelayan restoran itu,jaka pun sedikit terhibur karenanya,gadis itu bernama nur halimah.dan sejak perkenalan itu.nur halimah sering datang main ke basscam untuk menemui jaka.kedatanganya,membuat jaka jadi merasa berhutang budi padanya,karena itu juga lalu sobari memaksa jaka untuk menikah dengan gadis itu

Asal jaka bersedia,semua biaya perkawinan sobari yang tanggung, dan akhirnya pernikahan itupun terjadi juga,jaka menikahi nur halimah pada bulan 10 tahun 1983.karena jaka akan tinggal bersama istri barunya,lalu sobari minta waktu satu malam pada jaka sebagai tanda pisah ranjang.dan semalam suntuk pula sobari mencumbui jaka bagaikan istrinya sendiri,karena sudah tau dan memahami tentang sobari,jaka pun melayaninya denga senang hati dan tanpa beban apapun.

Setelah itu lalu jaka tinggal bersama nur halimah istri keduanya itu di kota.namun walau begitu,sobari sering mengunjungi jaka dua hari sekali.namun jaka tetap tak bisa melupakan siti amidah istrinya dan ria susanti anak tercintanya,dia masih sering termenung melamun memikirkan mereka,jika di Tanya istrinya jaka selalu mengelak dengan berbagai kebohonganya,namun lambat laun kebohongan itu pun di ketahui istri,karena tau dan merasa di jadikan sebagai pelampiasan nafsu dan pelarian cinta.pertengkaran pun sering terjadi antara jaka dan nur halimah istrinya,dan pada akhiranya,rumah tangga yang baru berumur 5 bulan itupun jadi kandas dan putus di tepi jurang

Setelah perceraian itu,jaka kembali tinggal bersama sobari lagi.setelah proyek pengaspalan jalan di mamuju selesai.lalu bersama proyek itu pula pindah tempat ke pualau peleng.tepatnya di kota kabupaten banggai,yang terletak di sebrang laut selatan kota luwuk.setibanya,seperti biasa jaka lebih sering melamun dari pada membantu pekerja’an sobari sebagai pemborong bangunan, setelah 20 hari di banggai,waktu itu sa’at para karyawan istirahat kerja,tempat mandi dari air pancuran di lereng bukit yang merupakan satu2nya tempat mandi di baascam.membuat semua karyawan harus rela antri bergilir tiap2 mau mandi,dan seperti biasa pula jaka selalu mengambil antrian paling terakhir yang bertepatan dengan waktu tenggelamnya matahari.

Namun waktu ini bagi jaka adalah waktu yang di anggapnya paling istimewa,karena pada sore itu jaka tolos melihat dan bertemu dengan seorang gadis yang semuanya sangat mirip dengan siti amidah istri tercintanya,untuk dapat menikmati pandanganya yang terasik itu,jaka pun memilih mengalah dan membiarkan gadis kampong itu mandi duluan,seusai gadis itu,karena tak mau kehilangan kesempatan,jaka pun tak jadi mandi melainkan hanya cuci muka saja,dan segera mengejar gadis itu

Sambil berjalan santai jaka memperkenalkan diri,begitu juga dengan gadis itu,namanya palawang.tinggalnya di desa wajo kecamatan salakan,dan setelah pertemuan dan salin kenal itu,lalu jaka sering mengadakan pertemuan berdua dengan palawang di sebuah tempat kusus, yaitu di bawah pohon laban yang tumbuh di tepi jalan samping tebing yang jalanya sedang di aspal,dalam pertemuan cinta itupun,banyak cerita indah yang salin terungkap di sana,tak satupun orang yang mengetahui pertemuan itu,termasuk sobari,karena jaka merahasiakan dari semuanya

Hingga pada suatu sa’at.terucaplah sebuah janji dari mulut jaka.yang mengarah pada sebuah perkawinan,untuk niyatnya itu,lalu jaka meminta pada palawang agar memperkenalkan dirinya dengan keluarga terutama kedua orang tuanya,lalu jaka di ajaknya ke rumah.namun sayang,pada sa’at itu,menurut palawang semua keluarga sedang pergi kondangan di desa sebelah,di sana sedang ada pesta keluarga,pulangnya sekitar 2 hari lagi,dan palawang tidak ikut karena di suruh untuk menjaga rumah.

Akhirnya, rumah besar yang indah dan megahpun jadi terasa ganjil,karena hanya di tempati seorang gadis saja,jaka pun merasa bebas dan leluasa,perbincangan tentang perkawinan pun terus berlanjut,sambil bercerita indah,gadis itu merebahkahkan bagian tubuhnya ke pangkuan jaka,hal itu membuat jaka jadi mana tahan.

Hingga di malam itu, terjadilah hubungan badan,yang seharusnya di lakukan setelah menikah bukan sebelum nikah

Keduanya salin di landa asmara hingga lupa diri,esok malamnya jaka datang lagi kerumah itu,di temuinya palawang sedang terisak nangis seorang diri di sudut kamarnya sa’at jaka masuk.hal itu membuat juka merasa sangat bersalah akan kejadian semalam.sambil menangis palawang mengeluhkan rasa kawatirnya pada jaka,dan dengan kesungguhan jaka berjanji akan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuatnya kemarin malam.namun palawang tetap ragu dan tetap menangis.

Lalu agar salin percaya, salin mengadakan perjanjian terlarang.keduanya salin melukai lengan tanganya dengan cara menggoreskan pisau tajam hingga berdarah.lalu salin mengucapkan janji yang di sepakati sambil menghisap darah tersebut.jaka tolos menghisap darah milik palawang dan palawang menghisap darah jaka tolos.setelah itu barulah palawang merasa lega dan percaya akan janji tersebut.setelah mengadakan perjanjian itu,lalu keduanya salin berpelukan dan salin menyalurkan gelora asmaranya hingga sama2 merasa melayang tinggi ke alam sorga maniloka yang berhias seribu cinta dan sejuta kasih

Setelah keduanya tergulai lemah di atas ranjang yang baru saja di hujani asmara cinta itu.tiba2 palawang yang semula sangat mirip dengan siti amidah istri jaka,mendadak berubah menjadi seorang wanita cantik,bahkan sangat cantik,hingga jaka merasa baru kali itu melihat wanita berwajah canti sesempurna itu,dengan busana yang indah gemerlap,wanita itu berdiri di tepi ranjang, tepat di samping jaka yang sa’at itu masih terbaring lemah karena usai di gulung badai cinta. sambil tersenyum,wanita itu bercerita tentang siapa dirinya yang sesungguhnya

Ternyata….dia……adalah seorang ratu dari bangsa halus….skilas cerpen tentang gadis yang awalnya mirip dengan siti amidah, istri jaka, yang mengaku bernama palawang.

( dulu….di pulau peleng berdiri sebuah keraja’an dayak,dan pulau peleng sangatlah di kenal dengan hewan2 buruanya,sehingganya,raja dari majapahit bernama prabu brawijaya sangat tertarik ingin berburu ke pulau peleng.dan sang raja dari tanah jawa itu pun berangkat bersama pengawal kususnya untuk berburu ke pulau peleng.setibanya di pulau itu, sang raja bertemu putri dayak yang bernama bidae arum,dan sang raja jatuh cinta padanya,lalu atas restu sang ayah,bindae arum di kawinkan dengan prabu brawijaya,raja asal dari tanah jawa resebut.

Setelah perkawinan itu,bindae arum mengandung benih sang raja jawa itu,namun sayang.sebelum kandungan itu lahir,sang raja sudah terpanggil untuk segera kembali ke tanah jawa guna menduduki kewajibanya sebagai raja,lalu dengan berat hati dan kesedihan pula bindae arum di tinggal ke tanah jawa dalam keada’an hamil tua.namun sebelum pergi,sang raja sempat meninggalkan kenangan sebagai tanda dan bukti kalau dirinya akan selalu menjadi miliknya selamanya,kenangan itu berupa lambang keraja’an majapahit.

Sepulangnya sang raja ke tanah jawa,selang beberapa bulan kemudian lahirlah jabang bayi kembar dari rahim bindae arum,sebagai tanda hasil perkawinan tersebut.

Lalu kedua anak itu di beri nama jalala dan jalali.setelah tumbuh dewasa kedua anak tersebut menanyakan bapaknya,karena tak mau di anggap buruk oleh kedua putranya,lalu bindae arum menceritakan kejadianya,setelah tau, sang putra lalu minta di pertemuka dengan bapaknya sebagai bukti kalau cerita itu benar adanya.lalu bindae arum menyuruh kedua sang putra itu menyusulnya ke tanah jawa dengan membawa lambang keraja’an peninggalan bapaknya sebagai bukti kalau mereka adalah putranya

Berangkatlah kedua putra itu menuju tanah jawa,setibanya di tengah laut,karena tak mau tersaing.lalu sang adik membunuh sang kakak.dan jasadnya di ceburkan ke laut,sa’at tubuh itu masuk ke dalam laut.berubahlah tubuh jalala menjadi se ekor ikan yang kini di sebut ikan pare,sementara jalali tetap melanjutkan perjalananya ke tanah jawa untuk menemui bapaknya,setibanya di tanah jawa dan berhasil menemui bapaknya yang jadi raja di majapahit.jalali baru percaya dengan kata2 ibunya dan merasa lega,setelah belajar beberapa sa’at kepada bapaknya,lalu jalali kembali ke pulau peleng.

Setibanya di tempat,sa’at di Tanya oleh ibunya tentang kakaknya,jalali tak bisa mengelak,dan menceritakan yang sebenarnya,mendengar hal itu,bindae arum terkejut hingga jatuh sakit dan meninggal dunia.setelah kakeknya berusia lanjut lalu kedudukanya di wariskan pada jalali cucunya,setelah di nobatkan sebagai raja,jalali menikah dengan wanita dusun,dan di karuniai seorang putri yang di beri nama ratu gadis palawang.

Jalali kemudian meninggal dunia di usia muda sa’at memancing ikan di laut,ajalnya tiba karena balas dendamnya sang kakak yang dulu di bunuhnya dan di buang kelaut hingga berubah menjadi ikan pare,dan jalali lupa akan kejadian itu,sehingga memancing di laut,dan kailnya di makan ikan pare yang tidak lain adalah kakaknya sendiri yang sudah lama mengincarnya,jalala melampiaskan pembalasanya sa’at jalali sedang melepaskan ikan pare itu dari kailnya,ekornya yang merupakan senjata beracun mematikan,dan sudah lama di siapkanya,langsung di tusukanya ke paha jalali hingga meninggal,dan sejak itu kedudukanya sebagai raja di ambil alih oleh putri tunggalnya bernama ratu gadis palawang

Menjelang usianya yang telah dewasa,keraja’an banggai pun tidak lepas dari penjajahan belanda,sang ratu yang arif bijaksana dalam memerintah rakyatnya dan tidak suka dengan pertumpahan darah atau perang,lalu menyabda keraja’an banggai beserta rakyatnya menjadi perpindah ke alam prayangan sa’at penjajahan belanda tiba dan menyerang pulau banggai, sehingganya pulau terlihat menjadi hutan belantara tak perpenghuni sama sekali.namun sayang,walau sudah merdeka ini,keraja’an tersebut tetap menjadi penghuni alam ga’ib. tak bisa kembali ke alam dunia lagi,karena sang ratu tak memiliki pamungkasnya, untk mengembalikan kerajaanya ke dunia nyata lagi.

Akhirnya hingga kini menjadi penghuni tetap di alam halus.itulah sekilas kisah gadis yang baru di kenal oleh jaka. Yang ternyata dia adalah ratu banggai yang sedang jatuh cinta pada jaka }, dan jaka tidak boleh mengingkari janjinya yang telah bersedia menikahinya,karena jaka telah berenang dan meminum airnya,sang ratu pun akan menuntut jika jaka ingkar janji

Mendengar dan setelah tau tentang apa yang sedang di alaminya.masih dalam keada’an telanjang bulat,jaka langsung melopat dari atas ranjang lalu lari kabur sekuat mungkin menuju basscam,setibanya, langsung memeluk sobari yang sa’at itu sedang mempersiapkan diri akan tidur.melihat jaka yang pulang dalam keada’an telanjang dan langsung memeluknya sambil menangis,menjadi gugup dan bingung.lalu segera di berinya kain untuk menutupi tubuhnya yang bugil,dan jaka pun segera menceritakan kejadianya dari awal hingga akhir

Lalu minta ma’af pada sobari, karena telah merahasiakan semua kejadianya, mendengarnya sobari menjadi tersentak kaget antara percaya dan tidak percaya,tapi jaka yang ketakutan terus memohon agar mencari jalan keluarnya secepat mungkin.karena pernikahan itu akan berlangsung  pada bulan purnama ini.dan bulan purnama itu kurang 3 hari lagi.semalam suntuk jaka dan sobari tidak tidur,memikirkan masalah tersebut, sementara jaka yang sedang ketakutan,tak mau melepas pelukanya pada sobari hingga menjelang pagi

Karena penasaran lalu sobari meminta jaka untuk mengantarnya pergi ke tempat itu,dengan penuh rasa takut jaka pun mengantar sobari ke rumah palawang, jaka menjadi semakin takut setelah tau dan melihat,rumah palawang yang besar dan megah itu,ternyata hanyalah serumpun semak belukar yang tumbuh di bawah pohon beringin di tepi jalan.dan sejak itu   jaka dan sobari serta di bantu beberapa rekanya. mencari dukun untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Namun sayang,hampir semua dukun kampong yang membantu masalah jaka,selalu berakhir dengan kematian,akibatnya tak ada lagi dukun yang mau membantunya lagi. hingga pada suatu sa’at.waktu itu situasi basscam sedang di rundung ketegangan, datanglah seorang lelaki tua yang merupakan ketua adat di desa itu,semua mengira kalau orang itu akan menolong jaka,ternyata tidak,dia hanya memberikan ketegasan pada jaka agar menerima kenyata’an yang tlah terjadi

Karena menurutnya,dulu hingga sepanjang masa di pulau peleng kabupaten banggai ini,setiap tahunya pasti ada pemuda yang hilang,hilangnya pemuda tersebut karena di ambil oleh ratu gadis palawang, untuk di jadikan suami sesa’at,setelah setahun, lalu pemuda itu di kembalikan lagi dalam keada’an utuh dan sehat,kemudian mengambil pemuda lainya sebagai ganti,dan selalu seperti itu dan selalu begitu,hingga semua jadi paham dan hapal.sampai menjadi sebuah kebiasa’an tradisi.

Jadi, jika ada pemuda yang hilang secara tiba2,tak satupun yang mencari,baik dari pihak keluarra maupun warga,karena jika di cari akan menimbulkan bala bencana,toh jika sudah waktunya, akan di pulangkan lagi.walau begitu,seluruh pulau ini selalu tenang dan damai tak pernah ada masalah apapun,yang kemudian munculah sebuh proyek pengaspalan ini,tujuanya memang baik dan bagus,karena memperbaiki dan memperindah kemajuan desa ini,tapi seharusan tidak asal di lakukan,setidaknya harus menyesuaikan adat setempat,

Sebagai tanda pamit atau ijin pada leluhur setempat,minimal selamatan atau sukuran, begitulah menurut sesepuh itu,lalu lanjutnya,penggusuran tebing2 untuk pelebaran jalan yang akan di bangun.pohon2 yang di tumbangkan, itu adalah merupakan tempat tinggal para leluhur wilayah ini.coba kita bayangkan sendiri. jika yang mengalami hal itu adalah kita,rumah kita tanaman kita di gusur dan di runtuhkan hingga hancur berkeping-keping tanpa sebab dan alasan apa2,bagai mana perasa’anya,seperti itulah yang di alami oleh sebagian para leluhur di wilayah ini.mereka menjerit meratap karena kehilangan tempat tinggalnya masing2,sudah jelas kita akan marah dan menuntut,

Sama. mereka pun begitu.seharusnya proyek ini sudah di hancurkan oleh para penghuni tempat ini sejak pertama kali di adakan. karena ratu mereka marah dan tidak terima senang,tapi lagi. karena ratu mereka jatuh cinta pada salah satu orang yang sedang menjadi karyawan di proyek ini,hingga proyek ini menjadi tetap utuh hingga sekarang.takan ada orang yang bisa dan mampu melawan kekuatan ratu leluhur kami di sini,sekalipun di datangkan dukun2 sakti dari segala penjuru,karena posisi kalian adalah posisi salah.datang di rumah orang tanpa ijin tanpa pamit,merusak lagi.dan karyawan yang bernama santoso itu adalah di anggap sebagai ganti ruginya,

Jadi, percuma kita melakukan apapun,karena hasilnya akan sia2,seperti itulah kata sesepuh itu selanjutnya,yang kemudian pergi begitu saja tanpa pamit pada siapapun. setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut,semuanya jadi tau dan paham,terutama jaka,pikirnya mungkin ini semua sudah takdir nasibnya,

sejak kejadian itu,banyak karyawan yang pulang karena takut,sementara jaka selalu berduka bersama sobari,hampir setiap sa’at jaka wanti2 berpesan pada sobari. agar menyampaikan salam pada kedua orang tunya di kampung,

Dan tibalah malam purnama itu,waktu itu semua karyawan tak ada yang berani tidur,semuanya salin bergerombol penuh dengan ketegangan,sementara jaka tak mau melepas pelukanya pada sobari.namun sobari tak bisa berbuat apa2 untuk jaka,kecuali perkata’an ma’af atas kesalahanya,karena telah membawanya ke pulau ini,lalu tepat bulan berada di atas kepala,segerombol pasukan wanita datang tiba2,tak satupun yang bisa melihat kedatanganya itu kecuali jaka sendiri.mereka adalah utusan ratu gadis palawang untuk menjemput jaka tolos sebagai pengantin pria,

Dan sobari pun tersentak kaget sa’at jaka tolos mendadak hilang dari pelukanya.sobari menangis sambil memanggil jaka tolos,jaka mendengar suara sobari,tapi sobari tidak mendengar jawaban jaka,hingga jaka pun pergi jauh bersama orang2 itu,

Sampailah jaka di sebuah tempat yang sangat asing baginya,udaranya beda dari biasanya,cuacanya juga beda,tempatnya juga beda,semua serba beda dan ganjil.tapi jaka tak bisa berbuat apa2,lalu dengan di iring orang2 itu, jaka memasuki pintu gerbang halaman yang sangat besar dan indah,hingga memasuki sebuah rumah yang cukup luas dan besar serta megah sekali.di dalamnya terdapat banyak kaum wanita di banding kaum lelakinya.di sebuah singgasana yang megah,terlihat ratu gadis palawang sedang duduk menanti kedatangan jaka tolos calon suaminya.

Setibanya jaka di hadapanya,hadirlah beberapa orang tua yang kemudian mengesahkan pertemuan itu,lalu palawang berdiri menghadap pada semua rakyat,dan mengumumkan kalau mulai sa’at ini. dia telah bersuami.dan di perkenalkan pula seluruh rakyatnya dengan jaka,lalu di lanjutkan dengan sebuah pesta adat selama satu minggu berturut2,

Di sana jaka juga melihat warga kampong di alam manusia ikut merayakan pesta perkawinan itu,sementara pesta berlangsung,jaka di ajak berkeliling untuk mengenal seluk beluk tempat tinggalnya yang baru itu, { seumur hidup aku baru kali ini melihat dan masuk serta tinggal di sebuah tempat yang luas besar indah dan megah,sperti ini }. piker jaka dalam hati.lalu palawang berkata sambil tersenyum pada jaka,……{ mulai sa’at ini,semua yang kumiliki adalah milikmu juga, tempatku, kekaya’anku, rakyatku, kedudukanku, dan semuanya serta segalanya adalah milikmu jg.aku adalah kamu.dan kamu adalah aku }, bgtulah kata Ratu gadis palawang kepada djaka tolos meykinkan

Setelah di pikir2 oleh jaka,akhirnya jaka pasrah juga dengan semua kenyata’an yang sedang di alaminya. Dan hari demi hari yang telah di lalui oleh jaka,akhirnya jadi terbiasa juga,malah baginya di sini jauh lebih nyaman,damai,dan mewah,semua yang di inginkanya tersedia dan terlayani penuh kehormatan dan kasih sayang,semua orang hormat dan tunduk padanya,hingga jaka merasa suka dan bahagia sekali,

Setelah kebahagia’an itu hadir menyelimuti kehidupan baru jaka,jaka mulai timbul niyat untuk mempelajari apa yang di miliki oleh ratu gadis palawang,terutama tentang ilmu.dan dengan senang hati ratu gadis palawang mewariskan hampir semua ilmunya pada jaka tolos.entah berapa lama jaka tolos tinggal bersama ratu gadis palawang di alam prayangan sebagai suami istri,karena jaka sendiri tak bisa menghintung hari2 di alam itu,karena baginya susah di bedakan antara siang dan malam,keduanya hampir sama tak berbeda,

Dan pada akhirnya jaka tolos berhasil menguasai separuh ilmu yang di miliki oleh istrinya.sa’at dalam pertemuan antara pemimpin dan rakyatnya,tiba2 muncul di hadapanya pangeran mas,buyutnya jaka tolos,karena dia adalah bapaknya pangeran karim.kedatanganya hadir di hadapan jaka dan istriya,untuk memberi tahu kalau keada’an madsalim bapaknya jaka,dalam posisi kritis,dan sangat membutuhkan kehadiran jaka segera,juga memberi pengertian pada ratu gadis palawang untuk tidak mengikat jaka dan memberinya kebebasan,karena tanggung jawab dan perjalanan jaka sangat panjang dan teramat besar dan penting,

Namun sayangnya seribu kali saying lagi, sa’at jaka berusaha mencari tau yang sesungguhnya, pangeran mas masih belum juga mau menjawab,jawabanya sama dengan jawaban pangeran karim dan pangeran sedang gayam.jaka pun masih kecewa dan di hantui rasa penasaran itu

Lalu beberapa waktu kemudian,atas saran dan ijin sang istri.jaka pergi menemui madsalim bapaknya di kampung.setelah salin berjanji untuk tidak salin berhianat,ratu gadis palawang mengantarkan jaka hingga sampai di perbatasan desa

Djaka sedikit samar dengan desanya yang telah mengalami perubahan,desa yang dulu di tinggalnya masih kampung kini telah menjadi kecamatan,lalu jaka mulai berjalan dengan penuh kewaspada’an. Sambil mengingat arah tujuan ke rumahnya,waktunya sekitar jam 9 malam,di tepi jalan jaka singgah di sebuah kios untuk membeli rokok.jaka kenal betul dengan pemilik kios tersebut,karena kios terdekat dari rumah tempat tinggalnya,pemilik kios itu bernama mbah surif,namun sa’at jaka sampai di depan kios dan membeli rokok.jaka terkejut sa’at itu juga mbah surif ketakutan melihat jaka

Dalam ketakutanya itu. Mbah surip lalu berteriak hingga banyak warga yang berdatangan.sementara mbah surif sendiri langsung jatuh pingsan karena ketakutan.jaka bingung di buatnya,pikirnya, { apakah wajahnya telah berubah menjadi buruk dan mengerikan. shingga menakutkan orang }, karena tak mau ada masalah,lalu jaka segera pergi meninggalkan kios itu sebelum warga berdatangan

Di sepanjang jalan jaka selalu berpikir sambil meraba-raba wajahnya,hingga tiba di rumahnya, sa’at itu rumah madsalim orang tua jaka nampak sangat sunyi sekali.tidak biasanya rumah itu sunyi di waktu sore hari,di intainya dari balik celah dinding rumah tentang seisi rumahnya,jaka kawatir kalau keluarganya telah berpindah rumah.dari balik celah jendela jaka melihat madsalim bapaknya sedang dalam pasungan,seperti orang gila,karena tak sabar lagi ingin segera tau kejadianya,jaka langsung memanggil-manggil ibunya untuk di bukakan pintu.

Tapi tak satupun yang keluar dari kamar untuk membuka pintunya.jaka mendengar seperti ada suara orang yang sedang ketakutan di dalam kamar itu.tanpa menyerah jaka terus memanggil-manggil dengan suara yang cukup keras,hingga semua tetangga pada dengar dan berdatangan,bersama’an itu jaka melihat sang ibu keluar dari kamar dan penuh ragu membuka pintunya.sementara warga yang berkumpul di jalan sana. salin pandang entah apa yang sedang mereka pikirkan.

Sa’at pintu terbuka dan melihat jaka tolos yang sedang berdiri di depan pintu,dewi arimi ibu jaka terkejut dan langsung jatuh pingsan,untung jaka segera menangkapnya,sehingga tidak sampai jatuh ke tanah,lalu penuh penasaran jaka membopong tubuh ibunya masuk ke kamar,di lihatnya adik dan kakaknya serta keluarganya berlarian keluar rumah penuh ketakutan,tak berselang lama kemudian,kepala desa dan stapnya bersama warga masuk ke dalam rumah djaka

Hingga rumah menjadi  penuh oleh warga.jaka semakin tidak mengerti.lalu jaka mendekati kepala desa dan mohon penjelasan tentang apa yang sedang di alami keluarganya,lalu di ceritakanya pada jaka,menurut cerita kepala desa itu.

pada waktu itu……tiba2 datang kabar dari makapak,salah satu desa yang berada di atas bukit tebing tepi pantai yang berkecamatan batui,kabar itu menceritakan tentang seorang warga setempat yang menemukan mayat di jurang tepi pantai,tubuh dan wajah sudah tidak bisa di kenali lagi,karena telah rusak,tapi dari saku celana yang di pakai mayat itu,warga menemukan dompet yang berisikan beberapa uang dan surat2 serta ktp

Dan ktp itu adalah milikmu nak santoso,dan karena bukti itulah kami dan keluargamu menyakini kalau itu adalah kamu.kamipun segera ke desa itu untuk membawa pulang jasad yang kami yakini adalah kami itu. ,dan menguburnya seperti pada umumnya, madsalim bapakmu yang tidak bisa menerima kenyata’an tersebut.jadi hilang kesadaran, karena sering melakukan hal2 yang membahayakan orang lain.lalu demi keamanan dan kenyamanan. kami memasungnya,dan sejak pemakaman itu hingga sekarang. sudah dapat setahun lebih,dan karena itulah kami semua merasa heran dan penasaran serta takut, karena orang yang sudah kami kubur setahun yang lalu. kini muncul kembali

Begitulah cerita menurut kepala desa kepada jaka tolos yang bertanya ke padanya,setelah selesai bercerita,lalu kepala desa itu balik bertanya kepada jaka tentang kejadian yang di alami dirinya selama ini.lalu jakapun bercerita tentang semua yang di alaminya dari awal hingga akhir.dan malam itu menjadi malam yang paling istimewa bagi warga rusa kencana kususnya. jaka tolos pribadi tentang kejadian tersebut,semalam suntuk rumah jaka ramai di penuhi warga yang ingin melihat jaka kembali.

Setelah sadar dewi arimi memeluk jaka dan tak henti2nya menciumnya,sementara madsalim mendadak sembuh ketika melihat putranya yang di anggap telah mati ternyata masih hidup.paginya dengan di antar kepala desa dan setapnya,juga kedua orang tuanya jaka berkunjung ke pemakaman untuk melihat kuburanya.karena penasaran dan ingin membuktikan kebenaranya,lalu warga sepakat untuk membongkar kembali makam tersebut,ternyata setelah di bongkar,kuburan itu adalah kuburan kosong,tak ada apa2 kecuali kain putih yang di temukan.

Setelah setengah bulan tinggal bersama keluarga di rusa kencana,rumah jaka mulai sepi dari pengunjung yang datang karena penasaran akan kejadian yang ganjil itu.hanya satu keluarga yang tak kunjung datang,yaitu keluarga istrinya dari mayayap.setelah mendengar kalau siti amidah istrinya telah menikah,jaka kembali prustasi,ternyata bagi jaka. kenangan itu begitu sulit dan berat untuk di lupakan begitu saja,lalu secara diam2 jaka pergi menemui keluarga baru istrinya di mayayap.begitu melihat suami siti amidah yang baru itu,jaka tolos menjadi lupa diri.ada amarah dendam dalam dirinya juga kebencian yang teramat sangat

Akibatnya. jaka tolos lalu menyeretnya keluar dari rumah dan di hajarnya tanpa di beri kesempatan untuk menghirdar,melihat jumhari menantunya yang baru itu di hajar jaka,pak tarjan ikut tampil untuk menolongnya.pertarungan pun beralih dengan pak tarjan,hampir semua warga mayayap berdatangan untuk melihat perkelahian itu. jaka pun berhasil mentaklukan pak tarjan yang pernah menjadi guru dan mertuanya itu.lalu di lemparnya hingga jadi berdampingan dengan jumhari menantunya,lalu siti amidah di cari dan di seret keluar rumah,tanpa sadar tangan jaka mendarat sebagai tamparan amarah di pipi istri itu

Lalu di hadapan warga jaka mengungkap peristiwa yang pernah terjadi tentang rumah tangganya dulu.setelah mendengar kan penjelasan lengkap dari jaka tolos,barulah semua tau dan sadar,bahwa apa yang di tuduhkan oleh istri dan mertunya pada sa’at itu adalah salah.lalu jaka bertanya pada sang istri tentang siapa yang menyampaikan kabar fitnah itu,setelah di beri tau orangnya,jaka langsung berkelit mencari orang tersebut,tak lama kemudian jaka sudah menyeret orang itu dalam keada’an babak belur.setelah semuanya menjadi jelas,lalu jaka memeluk putri tercintanya,ria susanti yang telah sedikit tau duduk persoalanya walau masih kecil itu,bisa meneteskan air mata sa’at berada di pelukan jaka tolos bapaknya,lalu jaka membawa putrinya pulang ke rumah orang tuanya di rusa kencana,selang beberapa minggu kemudian,siti amida datang menemui jaka.

Untuk menyatakan penyesalanya,dan ingin rujuk kembali,tapi jaka menolak dengan alasan kasihan dengan suami yang barunya itu, { walau kamu sudah menjadi milik orang lain.kamu tetap istriku yang sah,karena aku belum pernah menceraikanmu,teruskanlah perjodohanmu denganya,karena semua sudah terlanjur,nasi telah menjadi bubur tidak mungkin bisa di tanak kembali },…begitulah kata jaka menolak siti amidah yang meminta rujuk kembali,

Lalu siti amidah balik berkata kepada jaka…{ mas…walau di dunia kita tidak bersama,tapi di akherat nanti kita pasti bersatu,karena kita masih sah sebagai suami istri }, setelah itu istri jaka pun pamit pulang,dan jaka pun melepasnya dengan air mata bersama putri tercintanya.dan sejak itu jaka menjadi prustasi lagi.karena merasa tak sanggup melupakan kenangan bersama siti amidah.di tambah lagi dengan masalah dewi atnesi kakaknya,yang selalu di permainkan para lelaki.kini sudah menjadi janda untuk yang 8 kalinya,dan mempunyai 3 anak yang berlaianan bapak

Djaka semakin dendam pada semua wanita,di anggapnya semua adalah sama. Akibatnya,jaka jadi meraja lela untuk mempermainkan semua wanita.hingga banyak yang menjadi janda seperti dewi atnesi kakaknya.awalnya jaka berguru pada seorang wanita tua yang di juluki ratu pengasihan.wanita itu bernama eyang trinil,dia seorang janda sakti berasal dari wonogiri.untuk berguru ilmu pengasihan pada eyang trinil. jaka harus mengorbankan dirinya untuk rela di jadikan pelampiyasan nafsu birahinya

Hampir setiap habis menghapalkan kalimahnya,jaka selalu di minta untuk melayani birahinya,jika menolak maka tidak akan mendapat kan apa2.akhirnya demi ilmu itu jaka pun rela jadi budaknya.hingga berhasil memiliki seluruh ilmu dari eyang trinil.dan pada akhirnya eyang trinil meninggal dunia setelah menurunkan dan menyalurkan semua ilmunya kepada jaka,dan mulai sa’at itulah jaka tolos hidup sebagai sang petualang cinta asmara,menundukan banyak gadis untuk di nikahinya dan tiap tiga bulan skali, kemudian di ceraikanya hingga di sebut janda seperti kakaknya

Yang sudah punya suamipun tidak lepas dari dendam jaka.setelah berpetualang cinta di dunia asmara,pada akhirnya jaka pun berhenti juga,sa’at dewi atnesi mendapat seorang jodoh yang mau menerimanya dengan apa adanya serta bertanggung jawab penuh sebagai seorang suami.setelah itu jaka mencoba mencari kehidupan baru di daerah lain.setelah memasrahkan ria susanti putrinya pada sang ibu,lalu jaka pergi merantau ke manado sulawesi utara

Di sini jaka bertemu dengan pak nyoman adimerta.orang yang pernah membuat geger di desa mayayap denga ilmu leyaknya,sa’at bertemu. pak nyoman gentar dan ketakutan

tapi jaka berusaha untuk menenangkanya,karena masih penasaran dengan ilmu leyak itu,lalu jaka mengajak pak nyoman untuk pergi di suatu tempat yang cukup sunyi.di tempat itulah jaka menantang untuk adu ilmu dengan pak nyoman,tapi pak nyoman bukanya menerima tantangan itu,justru malah pasrah kepada jaka untuk di bunuh saja, karena menurutnya hidup sudah tak berarti baginya,karena ilmu tersebut,dia telah kehilangan anak istri,tempat tinggal dan semua saudara serta teman,juga semua orang memusuhinya,menolakanya,bahkan membenci dan mengucilkanya.untuk itu dia memilih mati saja

Mendengarnya jaka menjadi sangat iba,teringat akan masa kecilnya dulu.jaka juga pernah merasakan bagaimana menjadi orang tersisih,orang terkucil,orang yang terusir dan tertolak,lalu jaka menghampiri pak nyoman yang sedang tunduk bersimpuh di hadapan jaka.di raihnya kedua bahu yang sedang terisak itu,lalu di suruhnya berdiri dan di peluknya,belum sempat jaka berkata-kata,pak nyoman sudah bermohon lagi,…..

{ tolonglah saya….saya ingin membuang ilmu yang telah memperdaya saya ini…tolong bantu saya,jika tidak bisa juga,bunuh saja saya,dari pada saya hidup tapi membuat orang lain celaka,….}kata pak nyoman berohon kepada djaka tolos

Lalu jaka merangkul pak nyoman untuk dijadikan saudara angkatnya,lalu di bawanya ke tanah toraja untuk menemui sahabatnya bernama yohanes,dulu yohanes pernah bercerita pada jaka tentang kelebihan tanah toraja,dengan ilmu mejignya,untuk itulah jaka datang ke toraja sulawesi selatan,dengan harapan di sana pak nyoman bisa terbantu,setibanya di tanah toraja,jaka di ajak oleh yohanes berkeliling ke tempat2 keramat peninggalan para leluhur tanah toraja,dan di antara tempat yang di tunjukan oleh yohanes,satu yang membuat jaka tertarik untuk memngetahuinya.yaitu goa pemakaman para leluhurnya.

Lalu atas ijin dari keluarga yohanes,jaka masuk ke dalam goa tersebut,telah cukup puas dan jelas dengan penjelasan dari juru kuncinya,lalu jaka kembali ke rumah yohanes untuk beristirahat,malamnya,jaka merasa ada sesuatu yang ganjil menyelimuti lingkungan dan rumah yohanes,hingga mata jakapun susah untuk di pejamkan,tepat tengah malam,pak nyoman yang sedang tidur di sampingnya memdadak tersentak bangun dan menggerang bagaikan harimau lapar,sambil mencekik lehernya sendiri. pak nyoman berguling kesana kesini bab orang yang sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat

Djaka menebak kalau ilmu leyak itu sedang timbul dan minta di pergunakan,tapi pak nyoman menolaknya,lalu karena tak sampai hati menyaksikan pak nyoman yang meraung raung itu. jaka menggunakan kekuatanya untuk membantu pak nyoman meredam gejolak ilmu itu agar tidak timbul.dan usaha jaka berhasil,setelahnya……

Pak nyoman bermohon lagi untuk segera di bantu,karena sudah tak kuat lagi hidup dalam keada’an seperti itu.semalam suntuk akhirnya berdua tidak tidur,salin tegang memikirkan tentang ilmu yang telah menganiaya dan membelenggu hidup pak nyoman itu.menjelang pagi jaka merasa kantuk yang teramat sangat,hingga tanpa sadar jaka pun jadi tertidur dengan pulasnya,namun baru saja terpejam pulas. jaka sudah di kejutkan oleh sebuah mimpi yang sangat buruk

Djaka bermimpi melihat pak nyoman memakan 7 bayi sekaligus di hadapan jaka,sa’at jaka bangun terkejut karena mimpi itu,di lihatnya pak nyoman masih duduk termenung di sudut ranjang,lalu jaka bertanya tentang cara yang bisa membuat ilmu itu tidak timbul selain dengan memakan bayi atau minum darah segar,lalu di ceritakanya pada jaka,menurut pak nyoman,satu-satunya cara agar ilmu itu tidak sering timbul adalah,harus di gunakan untuk memakan daging bayi yang segar atau minimal minum darah seorang yang baru saja melahirkan.

Dengan begitu ilmu itu tidak sering timbul,timbulnya hanya setiap bulan purnama saja.ada cara lain yang bisa meredam agar ilmu itu tidak timbul,tapi kekuatanya hanya mampu satu minggu saja,jika setelah satu minggu itu tidak di lakukan pencegahan,maka hari berikutnya akan timbul,bahkan timbulnya lebih ganas di banding sebelumnya…..{ lalu cara itu apa…?.}.tanya jaka penuh penasaran. { caranya dengan meminum air hidup.tiap seminggu sekali…}.jawab pak nyoman…{ maksudnya air hidup itu apa…?.}.tanya jaka yang minta penjelasan. { air hidup itu yang punya hanya kaum lelaki saja,dan lebih di kenal dengan sebutan banyu mani atau sperma…}.jawab pak nyoman dengan sedikit keraguan

Lalu dengan berpikir sejenak jaka langsung menjawab…..{ baiklah….kalau itu memang satu2nya cara lain untuk meredam ilmu itu.untuk sementara waktu,selagi saya belum bisa menemukan orang yang bisa melunturkan ilmu itu,saya sanggup membantu bapak dengan memberikan sperma saya tiap seminggu sekali,untuk meredam ilmu itu agar tidak timbul menuntut atau minta di gunakan.

Dan mulai sejak itulah jaka selalu melayani pak nyoman tiap seminggu sekali sebelum ilmunya timbul.dengan memberinya air spermanya yang di awali dengan bercumbu terlebih dahulu untuk mempermudah proses pengeluaranya,pernah di suatu perjalanan hendak pulang ke kampong,ilmu pak nyoman timbul dalam kendara’an.lalu di tengah perjalanan jaka minta di turunkan bersama pak nyoman.dan segera membawa pak nyomah ke suatu tempat yang sangat sunyi,lalu di usahakan agar jaka bisa memberinya penangkal.dan sesudah aman

Munculah pangeran karim di hadapan jaka,untuk memberi tau agar cepat kembali ke rusa kencana.karena ada perjalanan yang sudah sa’atnya di lalui.dan jaka segera pulang ke kampong atas petunjuk kakek gurunya yang berindentitas misterius itu.namun sebelumnya jaka sempat minta tolong agar membantu masalah pak nyoman.dan atas bantuan pangeran karim,ilmu leyak pak nyoman berhasil di lenyapkan dari tubuh pak nyoman.

Akhirnya jaka dan pak nyoman pulang ke kampong dengan tanpa beban,dalam perjalanan jaka singgah di kota luwuk untuk menemui daeng tamar,lalu di titipkan dan di serahkanya pak nyoman padanya untuk di beri modal buat usaha di kota luwuk itu. guna mempertahankan hidup,lalu jaka sendiri meneruskan perjalanan pulang ke kampong,setibanya di rumah,tidak ada satupun orang,dewi atnesi kakaknya dan anaknya telah tinggal di rumah sendiri bersama suaminya,endang taurina juga ikut dan tinggal bersama suaminya,muh.subur adik bungsunya juga sedang tidak ada di rumah

Dewi arimi ibunya masih belum pulang dari pasar,madsalim bapaknya masih juga belum pulang di kelurahan,waktu itu semua pakaian jaka kotor semua,lalu jaka merendamnya di sebuah bak mandi,seusai mandi jaka membuka lemari milik bapaknya,dengan maksud mau meminjam sarung buat ganti sementara,tapi dari tumpukan baju di lemari itu. jaka menemukan selembar amplop yang berisikan surat keluarga,di bacanya tulisan yang tertera di kedua bagian amplop tersebut, tulisan sampuk amplop { dari samsudin / fatonah sekeluarga di luwung ireng,desa gintung lor,rt/rw 001/003, kec gedong kab yang berpropinsi jawa barat.yang sebelahnya lagi,kepada madsalim sekeluarga di desa rusa kencana,rt/rw 01/01 no.G.32 kecamatan toili kabupaten luwuk banggai.propinsi sulawesi tengah }

Setelah membaca tulisan yang tertera di amplop tersebut. jaka jadi berpikir panjang dan penuh curiga,sayang amplop itu sudah tak ada isi suratnya,kalau ada mungkin jaka sedikit paham dan mengerti.sambil duduk jaka terus berpikir,apa mungkin dirinya itu bukan anak kandung dari madsalim.buktinya dulu madsalim begitu tega ikut-ikutan menganiaya dirinya,apa mungkin dirinya itu anak pungut,atau anak tiri,kalau iya. lalu siapa orang tuaku,apa mungkin yang alamatnya tercantum di amplop surat ini, itulah pemikiran yang hadir pada diri jaka saat itu

Dengan penuh ketidak tenangan. jaka tolos mondar mandir kian kemari,menduga2 dan menebak-nebak tentang siapa dirinya,juga dengan tidak sabar menunggu kedua orang tuanya pulang.setelah sekian lama di siksa kejenuhan.akhirnya kedua orang tua yang sejak tadi di tunggunya. pulang juga,belum sempat kedua orang tuanya melepas baju dan istirahat,jaka sudah memanggil keduanya dan di dudukan di hadapanya,keduanya pun serentak bingung dengan apa yang di lakukan oleh jaka,lalu jaka memohon ma’af serta ampunan.setelah itu jaka bermohon lagi pada keduanya untuk bercerita tentang siapa dirinya dengan penuh kejujuran

Tentang siapa bapaknya dan siapa ibunya serta dari mana asalnya.setelah mendapat penjelasan yang tdk sesuai dengan yang di harapnya.dari kedua orang tuanya,lalu jaka menunjukan amplop surat tersebut,sambil membentak kesal……….{ kalau saya anak kandung bapak kenapa bapak dulu kejam terhadap saya…!.lalu ini surat dari mana dan siapa…..!.kenapa sudah tidak ada isinya lagi.isinya pasti sudah di bakar karena takut saya tau…!. Tolong pak……tolong bu…….saya mohon…….ceritakanlah tentang sebenarnya akan saya……seumur hidup…..saya sudah cukup menderita…..jangan buat saya lebih menderita lagi….karena tidak tau siapa diri saya yang sebenarnya…..}, bentak dan keluh jaka pada kedua orang tuanya dalam bermohon.

Mendengar ratapan jaka tolos,lalu madsalim dan dewi arimi salin berpandangan,kedua matanya salin berkaca-kaca,tak lama kemudian madsalim bangkit dan berdiri untuk pergi,tapi jaka terlalu cepat untuk menghalanginya,……{ jangan pergi dulu pak…sebelum semuanya jelas…}. kata jaka, mencegah bapaknya yang hendak pergi meninggalkan tempat duduknya. { tidak anaku….biar ibumu yang akan menjelaskan semuanya,bapak tidak sanggup untuk menceritakan masa lalu itu },…jawab madsalim menghindar

Lalu jaka melempar pandanganya pada sang ibu,dan segera di hampirinya.sambil meneteskan air mata,dan bibir yang bergetar,dewi arimi berusaha mengingat semua masa lalunya,lalu di ceritakanya pada jaka putranya,setelah mendengar sendiri tentang dirinya dari sang ibunya,jaka baru mulai mengerti tentang semuanya ini.tentang raden anom.,tentang pangeran damarjati,juga tentang pangeran pungkes yang pernah menemuinya dan memberinya berbagai macam warisan ilmu leluhur,walau begitu,jaka masih merasa belum puas sebelum dapat membuktikan cerita dari ibunya tersebut.

Lalu jaka tolos memaksa kan diri untuk pergi ke pasundan pulau jawa,untuk membuktikan kebenaran cerita dari ibunya itu,tak satupun yang bisa menghentikan niyat dan tujuan jaka tolos.hingga, mau tidak mau,rela tidak rela,dewi arimi dan madsalim orang tuanya.harus melepasnya dengan doa restunya jua,lalu esok malamnya jaka menemui ratu gadis palawang istrinya di banggai untuk minta pendapat dan pertimbangan,sang istripun memberi ijin kalau jaka hendak ke pulau jawa. asal tetap salin setia dan percaya

Lalu dengan di bekali alamat adik kandung madsalim di pasundan jawa barat,dan pesangon sebesar satu juta rupiyah hasil jual sapi.akhirnya pada hari minggu tgl 17/03/1989.madsalim dan dewi arimi sekeluarga melepas kepergian jaka tolos di dermaga kota luwuk selawesi tengah,dengan seribu doa ketulusan yang di sertakan pada sang anak yang telah siap berangkat meninggalkanya,untuk mencari jati diri yang sejati.

Sementara jaka tolos sendiri yang telah siap dengan segala resikonya dalam perjalanan mencari jatidiri,meneteskan air mata sa’at melihat kedua orang tuanya sekeluarga yang menangis pula melepas kepergianya.di pandanginya semua dari kejauahan, keluarganya,pemandangan kota kampungnya yang akan di tinggalkanya.

Dan…..tepat jam 07.00 kapal tampomas yang di tumpangi jaka tolos mulai bergerak meninggalkan pelabuhan kota luwuk.dengan lambaian tangan bibir jaka bergerak,seakan tak mampu untuk berkata-kata kepada semuanya,namun di dalam hati jaka berkata, selamat tinggal bapak,ibu,kakak dan adik2ku,selamat tinggal anak tercintaku, istriku. saudaraku dan kampong halamanku,selamat tinggal semuanya,doakan aku dan akupun akan doakan semuanya.

Kemudian…beberapa saat setelanya. di balik deburan ombak tepi pantai,jaka melihat ratu gadis palawang istrinya turut mengantar dan melepas kepergian jaka.di sana jaka melihat sang istri ikut melambaikan tanganya,dan dengan senang hati serta senyum kasih dan sayang jaka membalas lambaian tangan tersebut

Begitulah proses perjalanan jaka tolos menjelang usia dewasanya,semua serba tidak masuk akal pikiran manusia pada umumnya.bagaikan sumur yang tergantung di atas awang2,bagaikan telaga yang berada di awang2 pula,seakan hidupnya bukan untuk dirinya sendiri,melainkan untuk orang lain.dia hampir tak pernah memikirkan akan dirinya sendiri,tak perduli pada dirinya sendiri,selalu orang lain yang dia pikirkan, padahal dirinya sendiri nyaris tak pernah di pikirkan oleh orang lain.

Tanpa tujuan yang tertuntun jaka terus melangkahkan kakinya hanya untuk sebuah bisikan yang dirinya sendiri tidak tau pangkal dan ujungnya,pengalamanya. kebanyakan dari alam gaib dan hanya orang2 tertentulah yang sudi menunutunya.tanpa peduli tanpa mengikuti kehendak hati maupun angan2 atau pikiran,jaka selalu bergerak melangkah dan terus melangkahkan kakinya

Untuk siapa semua itu di jalaninya.entah untuk siapa dia sendiri tidak tau tentang apa2.seperti sumur yang di gantung,seperti telaga yang di awang2,tak satupun ambil tau maupun peduli.apalagi mencari tau.namun sedikit demi sedikit jaka tolos mulai sadar diri.dengan semua itu jaka baru mengerti.bahwasanya di dunia ini tidak ada satupun yang kekal dan abadi,namun. kebanyakan suka dengan yang tidak kekal abadi itu.kebanyakan suka kebohongan yang semu.kebanyakan juga suka yang palsu,yang bukan sesungguhnya

Kini jaka mulai berjuang mencari jatidirinya yang sesungguhnya,yang sebenarnya dan yang sejatinya,dengan bekal doa serta nasehat dari kedua orang tua dan para gurunya,jaka nekat melanglang buana mencari sarang mengungkap asal usul diri pribadinya yang banyak membuatnya tidak mengerti sehingga sering di landa kebimbangan dan keraguan.

Namun sayang, pada sa’at itu jaka tolos sama sekali belum mengenal dengan apa yang di sebut agama,apalagi yang namanya tuhan.sehingganya, di setiap langkah kakinya selalu tak terarah dan lebih sering terhambat,walau terkadang ada rasa takut dan kawatir,tapi dirinya tak mengerti dan tidak tau mengeluh dan harus bermohon kepada siapakah gerangan……….

Selain mengandalkan ilmu kesaktian yang di milikinya. yang dia tau hanyalah ibu bapak dan guru,sementara mereka tak pernah memberi tahunya tentang hal yang sebenar

Setelah perpisahan itu,kapal laut tampomas semakin jauh membawa jaka tolos berlayar ke tengah samudra,di teras kapal jaka berdiri sambil memandangi matahari yang hendak tenggelam di ufuk barat.matanya menatap jauh tanpa batas,namun tatapan itu kosong tanpa isi,hatinya hancur karena masa lalu yang di alaminya selama menjadi penghuni pulau sulawesi.hanya satu harapanya,jika sampai di pulau jawa nanti dapat bertemu dengan kakeknya yang konon sangat mendambakanya.

Setelah 7 hari 6 malam berlayar di tengah samudra bersama kapal tampomas.tepatnya pada hari sabtu tgl 23/03/1989.jaka tolos tiba di pelabuhan tanjung perak Surabaya jawa timur.di atas dek kapal jaka memandangi sekitar pelabuhan itu.jaka berpikir.mampukah dirinya dalam menyesuaikan dirinya dengan kota sebesar ini.?.sambil turun dari tangga kapal jaka selalu mengingat pesan dewi arimi ibunya.sebelum berangkat dulu.

Sang ibu pernah berpesan kepada jaka tolos,agar ramah tamah sopan santun pada setiap lingkungan yang di laluinya,harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang di tempatinya,tidak boleh sombong atau adigang adigung adiguna.selalu waspada dan tata titi titis serta hati2 dalam segala tidakan,karena di jawa itu tempatnya orang2 sakti mandraguna,untuk itu tidak boleh mengaku kuat,hebat atau sakti.karena di atas bukit itu masih ada langit.

Pesan2 sang ibunya itu selalu terngiyang di telinganya dan bersemayam di dalam kalbunya sebagai jimat yang paling handal baginya.setibanya di dermaga,jaka singgah di sebuah kedai penjual rokok dan minuman,jaka tersentak kaget sa’at hendak membayar rokok yang di belinya.karena dompet di saku celananya telah lenyap tanpa bekas,kecuali saku celana yang sobek seperti habis di silet,sambil kecewa dan malu jaka tak jadi membeli rokok tersebut.lalu mojok di sudut dermaga sambil berpikir kemana hilangnya dompet itu.karena di dalam dompet itu,selain uang juga ada alamat yang harus di carinya jika telah sampai di pasundan nanti.

Bingung was dan kawatir serta ragu mulai bergejolak di hatinya,jaka bingung harus bagaimana,di pulau jawa dia sebagai pendatang baru yang belum mengenal seluk beluk pulau jawa,tidak punya siapa2 yang bisa di mohon bantuanya.sehari semalan tanpa makan dan minum jaka tolos duduk di tepi dermaga dengan tatapan kosongnya.namun tetap saja tidak mendapat jalan keluar apapun.akhirnya jaka nekat dengan berjalan kaki menuju cirebon,walau tanpa bekal apapun

Djaka merasa yakin pasti bisa,lalu mulailah jaka keluar dari dermaga pelabuhan tanjung perak Surabaya jawa timur.di tengah keramaian kota jaka terus berjalan kaki dengan mengikuti rambu2 yang di temuinya sepanjang jalan.sipatnya yang angkuh dan terlalu percaya diri itu,membuatnya enggan bertanya pada siapapun.setelah rambu2 sudah mulai jarang di temuinya.jaka beralih dengan mengikuti arah biss yang berlalu lalang.

Sehari dua hari jaka sering di tawari kondektur untuk naik bis,tapi jaka menolak karena tak punya uang buat bayarnya,jaka pun yakin tidak mungkin ada bis yang mau membawa penumpang gratis.tapi lama2 hampir semua mobil yang berlalu hapal dengan jaka yang selalu jalan kaki, dengan situasi tetap begitu2 saja.hingga tak ada lagi satu pun mobil yang menawarinya untuk naik ke mobil.

Akibat dari tak mau bertanya,perjalanan jaka pun keliru arah.jaka sadar sa.at tubuhnya mulai merasa lemah karena berjalan tanpa henti dan tanpa makan serta minum.dalam perjalananya jaka sampai di pelabuhan ketapang banyuwangi yang masih propinsi jawa timur.pada salah seorang jaka mencoba untuk bertanya,tentang arah jalan yang menuju ke cirebon jawa barat.tapi sa’at mendapat jawaban dari orang itu,jaka tertunduk lemas.karena perjuangan jalanya ternyata salah arah.bukanya menuju dan mendekati ke arah cirebon.malah semakin menjauhinya.

Sesuai petunjuk orang tersebut lalu jaka berbalik lagi menuju Surabaya tempat pertama dia menginjakan kaki.lalu jaka berusaha untuk lebih teliti lagi dalam mencari arah,setelah melewati jombang,caruban,ngawi,madiun dan ponorogo,jaka tiba di kota pacitan,di kota pacitan. jaka mencoba istirahat karena tubuhnya mulai lemah dan kehabisan tenaga,lalu jaka mengeluarkan selembar bajunya dari dalam tas untuk di tukar dengan nasi dan air di sebuah warung,setelah makan dan minum serta istirahat sejenak,jaka merasa tenaganya telah pulih kembali

Lalu jaka melanjutkan perjalananya menuju pasundan.setelah melewati hutan2 dan beberapa kota kecil jaka tiba di wonogiri,dan istirahat di solo jawa tengah.karena sudah mulai kehabisan tenaga lagi,lalu jaka mengeluarkan pakaian lagi dari tasnya untuk di tukar dengan makanan dan minuman lagi.setelah istirahat sejenak lalu jaka melanjutkan perjalananya tanpa menyerah,setelah melewati purwodadi pati dan lomongan,jaka mulai merasa tidak mampu lagi untuk berjalan kaki,lalu jaka istirahat di laren,untuk menukarkan bajunya dengan makanan lagi

Setelah makan dan minum,lalu mencoba untuk istirahat.di dalam istirahatnya jaka tertidur pulas di bawah sebuah pohon yang cukup rindang di tepi jalan pantai utara,sa’at tidur jaka bermimpi bertemu dengan semua keluarganya di sulawesi,jaka merasa sangat bahagia sekali sa’at itu.namun kebahagia’an itu mendadak lenyap sa’at jaka terkejut oleh suara klakson mobil yang berbunyi sangat keras di sampingnya, mimpipun seketika sirna.lalu jaka memcoba berjalan kaki lagi,dengan harapan semoga saja tujuanya sudah semakin dekat.dan tidak salah jalan lagi

Setelah berhari-hari berjalan kaki dengan sisa2 semangatnya.jaka tergulai lemah sa’at melintasi kota gresik.di pinggir jalan jaka membaca tulisan Surabaya.jaka duduk di tepi jalan sambil berpikir. { mungkinkah aku telah salah jalan lagi…?}. ketika ada orang yang melintas di hadapanya,jaka berusaha bangkit dan menghentikan orang itu untuk bertanya,ternyata jaka benar,dia telah salah jalan lagi.seharusnya dari pati jaka mengambil arah kiri bukan arah kanan.karena, arah kanan adalah arah ke Surabaya,lalu dengan lemas dan kecewa jaka berjalan perlahan mencari warung nasi,di dalam tasnya masih ada satu lembar baju dan celana,lalu di tukarkanya baju itu dengan nasi dan air,setelah makan dan minum serta istirahat,jaka masih tetap lemas dan lemah,tenaganya tak mau pulih kembali.

Lalu jaka duduk termenung di sebelah warung yang baru saja di laluinya.namun baru saja jaka menyandarkan punggungnya,pemilik warung itu marah2 dan mengusir jaka seperti orang gila.seketika itu jaka meneteskan air mata sambil pergi menghindari lemparan batu dari pemilik warung itu.dan memilih istirahat di tepi kebun pinggir jalan.jaka sudah kehabisan akal dan tenaga untuk berjuang menuju pasundan.pikiranya sudah mulai sempit,tubuhnya mulai mengurus,rambutnya sudah acak2kan bagai ijuk yang ada di tengah hutan belantara,pakaian yang di kenakanya,sudah tak nampak warnanya,sepatu yang di pakainya sudah terkikis habis di makan jalan hingga jebol di setiap pinggirnya.kulitnya hitam hangus terbakar sinar matahari.akibat berbulan2 di jalanan

Melihat keada’anya sendiri jaka tidak mengenal,sudah pantas jika setiap orang yang melihatnya menganggap orang gila.karena memang seperti orang gila.bahkan mungkin memang sudah gila,lalu jaka menukar pakaianya untuk yang terakhir kalinya,karena setelah itu tak ada lagi lainya.setelah makan dan minum.lalu jaka menggunakan sisa2 tenaganya itu untuk melanjutkan perjalananya menuju cirebon.dengan langkah yang sangat lambat,selambat keong berjalan,akhirnya jaka kembali sampai di pati.setelah melewati tayu,jepara,kudus dan demak,jaka sampai di kota semarang.jaka merasa sangat lega ketika membaca tulisan semarang jawa tengah.

Pikirnya,berati jawa barat sudah dekat dari semarang ini.lalu semangat jaka kembali lagi membara,dan melangkah penuh semangat,setelah melewati ungaran, ambarawa, magelang dan jogja,jaka sudah kehabisan tenaga lagi,sementara itu,sudah tak punya barang lagi untuk di tukar dengan makanan,lalu dengan sisa2 tenaganya,jaka terus berjalan mencari perkebunan yang ada tanaman yang bisa di makan,untuk mengganjal perutnya yang sudah lengket dengan pinggangnya,di sebuah persawahan jaka menemukan tanaman ubi,lalu dengan susah payah jaka berusaha mencabut pohon ubi tersebut yang kemudian di makanya mentah2.

Lalu berjalan lagi dan menemukan sebuah warung,lalu jaka nekad meminta makanan,tapi pemilik warung itu ketakutan dan mengusir jaka,lalu jaka berjalan lagi hingga sampai di persimpangan jalan.di sana jaka membaca tulisan rambu2 yang menuju Jakarta dan cirebon.tulisan itu cukup membuat jaka merasa sedikit kenyang,lalu jaka mengikuti arah jalan tersebut,hingga sampai di wates,purworejo,kebumen,banyumas dan purwokerto

Di sinilah jaka benar2 merasa sudah tidak mampu lagi untuk menggerakan tubuhnya,sa’at melewati warung,lalu nekat lagi untuk meminta makanan.jaka merasa sangat senang sekali sa’at itu.karena di beri sebungkus nasi dan air oleh pemilik warung itu

lalu jaka mencari tempat yang agak teduh dari matahari untuk istirahat makan,sa’at membuka bungkusan itu,jaka sedikit kaget,karena isi bungkusan itu adalah sisa2 nasi dan duri ikan,tapi karena sangat lapar sekali,jaka tetap memakan walaupun nasi itu adalah nasi sisa,lalu tenaga yang baru pulih itu,di gunakanya untuk berjalan kaki lagi,dengan tertati-tati jaka terus melangkah dan melangkah demi mencapai tujuanya

Djaka melewati hutan2 pinus dan beberapa kota kecil.di antaranya,bobot sari purbalingga,randudongkal,pemalang,dan pekalongan.hingga istirahat di kota Kendal,di kota ini jaka merasa lemah kembali.dan merasa ragu,jangan2 salah arah lagi.lalu jaka mencoba untuk bertanya,namun tak satupun orang yang bisa di dekati,apalagi untuk bertanya,semua orang ketakutan sa’at di dekati oleh jaka.padahal jaka cuma ingin bertanya,tak punya maksud lain apalagi niyat jahat.mereka takut mungkin di anggapnya jaka orang gila.

Karena tak ada tempat untuk bertanya,lalu jaka nekad melanjutkan perjalanan itu,dan ternyata benar,arah salah,jaka sampai lagi di kota semarang.lalu jaka berbalik lagi kearah yang baru saja di laluinya,tapi jaka sudah benar2 tidak kuat dan sangat tidak mampu lagi untuk menggerakan badanya.di tempat itu juga jaka berjatuh lemah dekat tukang ojeg di pertiga’an,rupanya para tukang ojeg itu tak mau peduli pada jaka,karena di anggap mengganggu kenyamanan mereka,jakapun di lempari batu dan di usir untuk enyah dari tempat itu.karena sakit akibat lemparan batu yang mengenai tubuhnya yang sudah rapuh,jaka pun merangkak berusaha pergi dari tempat itu,mencari tempat yang tak ada orangnya,dan jaka istirahat di tepi jembatan di bawah terik matahari,karena tak ada pohon untuk berteduh

Djaka tolos merasa tubuhnya bergetar,menggigil dingin yang tak tertahankan.lalu jaka tak sadarkan diri,lupa akan segala yang sedang di alaminya.pada sa’at itulah muncul di hadapanya dua orang wanita cantik yang kemudian membawanya terbang jauh ke angkasa,lalu memasuki lautan dalam,di sana jaka tolos di bawa masuk ke sebuah istana bawah laut yang sangat megah berhias mutiara.kedatanganya di sambut oleh seorang ratu yang cantik jelita.wajahnya ayu alami tanpa polesan dan sangat mendamaikan angan pikiran,senyumnya indah berwibawah dan menyejukan hati,wujudnya sempurna,busananya serba emas intan dan berlian,rambutnya terurai panjang hitam mempesona.suaranya yang merdu dan sejuk serta mendamaikan

Terucap sebuah kata dari bibirnya yang penuh pesona kedamaian menyambut jaka tolos yang baru saja tiba,……{ selamat datang di keraton siti hinggil laut kidul tempat tinggalku raden……semoga sambutanku ini cukup menghibur hatimu yang sedang prihatin }. Kata ratu itu menyapa djaka tolos sebagai tamunya. mendengar suaranya yang merdu bergema,jaka terbius. bisu hingga tak mampu berbuat apa2,kecuali memandangi sekelilingnya

Djaka kagum dengan kesempurna’an wujud wanita yang baru saja menyapanya,setelah menyapa lalu wanita itu kembali duduk di sebuah singgasana yang terbuat dari emas,tak lama kemudian,wanita yang berbusana serba sutra biru,yang berdiri di samping wanita yang duduk di singgasana emas itu mulai bersuara memperkenalkan semuanya

{ ma’af raden……raden pasti terkejut dan bingung akan semua ini……perkenalkan…….yang duduk di singgasana ini adalah KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA, sesembahan kami,junjungan kami,beliaulah penguasa laut yang menempati siti hinggil kidul.beliau lebih di kenal dengan sebutan dewi samudra,dan saya sendiri adalah …RATU MAS RORO KIDUL.wakil dari kanjeng ibu ratu,yang bertugas di laut kidul ini.dan yang berdiri di samping kiri beliau itu adalah RATU MAS DEWI LANJAR.juga merupakan wakil beliau yang bertugas di laut utara,sedangkan yang berdiri di belakang samping kanan beliau adalah senopati apit kanjeng ibu ratu,bernama RATU DEWI BATARI KARTI,sedang yang di sebelah kirinya itu juga seno pati apit  beliau bernama RATU DEWI ANDARA WATI. } kata salah seorang wanita cantik yang berdiri di samping ratu yang sedang duduk di singgasana itu, menjelasakn kepada jaka. Wajahnya tak kalah cantik. Namun penuh aura birahi.

Lalu suara itu di lanjutkan oleh suara ibu ratu yang sangat merdu mendamaikan hati itu,……{ ma’af raden….bukan maksudku mengganggu perjalanan raden,tapi apa yang sedang raden alami itu.membuat istanaku berguncang,itu sebab aku membawa raden ke sini,tujuanya agar raden tau dan mengerti kami di sini…..}, lalu jaka mencoba untuk bisa bersuara…..,

{ ma’af kanjeng ratu……dari mana kanjeng ratu tau tentang diri saya yang sebenarnya…..},Tanya jaka dengan sedikit keraguan. sambil tersenyum ratu itu menjawab……{ siapa yang tak kenal pangeran damarjati.seorang kesatria dari tanah pasundan,juga hingga ke atas yang akhirnya sampai pada prabu siliwangi raja pajajaran yang kesohor itu.dan atas merekalah aku tau tentang dirimu raden,namun sayang…..aku tak punya banyak hak untuk menjelaskan semuanya.karena jika itu aku lakukan.sama halnya aku telah ikut campur urusan tuhan.dan artinya aku telah melanggar kodrat,…ma’afkan raden….aku tak bisa banyak membantumu.aku hanya bisa memulihkan tenagamu yang telah habis,selebihnya aku tak kuasa apa2 }.

{ Saranku….tetaplah pada tekat dan pendirian.karena tidak lama lagi.raden akan sampai pada puncak dan titik temu yang seharusnya raden tempati…,tapi jika suatu sa’at raden sudah berhasil dalam mencari jatidiri.sempatkanlah untuk singgah ke sini.pintu keraton siti hinggil laut kidul.akan selalu terbuka untuk raden kapanpun raden bersedia datang menemuiku di sini …..terimalah mustika ini sebagai tanda perkenalan,dan dengan mustika ini,raden bisa dengan mudah untuk masuk ke laut kidul menemuiku sewaktu2 jika perlu.dan jangan sekali-kali menunjukan apalagi memberikan mustika itu pada orang lain.karena akan menimbulkan bencana besar }.

Begitulah, sedikit kata2 dewi samudra yang telah menolong djaka tolos

Dari masa kritisnya, saat mengalami kelemahan dalam perjalananya menuju tanah pasundan tempat kelahiranya

Setelah mendengar sapaan dewi samudra dan mendapat sedikit penjelasan dari beliau. Djaka tolos menjadi semakin yakin, dengan pengakuan cerita dewi arimi ibunya, hingga, membuatnya, semakin tidak sabar, ingin segera secepat mungkin sampai di pasundan, untuk bisa bertemu sang kakek. Yang dulu selalu menemaninya dalam suka dan duka, saat di aniaya oleh warga di kampungnya, sebagai anak yang tersiksa

Setelah sejenak istirahat seusai pemulihan tenaga

Lalu jaka tolos di antar kembali ke tempatnya.jaka sedikit kaget sa’at melihat tubuhnya sedang tergeletak di pinggir jembatan tepi jalan,lalu dengan semua ketidak mengertian,jaka merasa masuk kembali ke dalam raganya itu,dan terbangunlah dari pingsanya.sambil meraba-raba seluruh tubuhnya,jaka heran dengan apa yang baru saja di alaminya.tapi jaka tak mau ambil pusing,lalu di pergunakanya tenaga yang baru pulih itu untuk melanjutkan perjalananya menuju pasundan.mendekati kota Kendal jaka mulai merasa lemah kembali.karena sudah berminggu-minggu perutnya tidak kemasukan apa2.

Tapi jaka berusaha untuk tetap bertahan dan terus memaksakan diri untuk berjalan dan terus berjalan.malam itu jaka duduk di tepi jalan sambil merenungi apa yang akan terjadi pada dirinya yang sudah tak berdaya itu.tiba2 jaka di kejutkan oleh suara takbiran aidul fitri.yang melintas di hadapanya.suara takbir yang di sertai arak-arak mobil yang jumlahnya tak sedikit itu. terdengar begitu meriah sekali.tapi mengancurkan perasa’an jaka yang sedang dalam perjalanan yang tak bertepi.tanpa apapun dan siapapun.di tepi jalan itu jaka benar2 merasa seorang diri.hati jaka serasa di sayat seribu sembilu.pedih…sekali. namun tak ada yang peduli. sedih….sekali

Namun. walau betapapun pedih dan sedihnya,jaka tetap tak bisa berbuat apapun.air matanya telah habis dan kering untuk di teteskan.pikiranya telah buntu untuk dapat berangan-angan.hatinya telah gelap untuk bisa mengenang.semuanya sudah tak di milikinya.daya ingat pun sirna.tekat yang membarapun jadi punah lenyap di telan seribu duka kesedihan.

Paginya,dengan langkah yang tertati-tati lagi,jaka mencoba untuk bisa melangkahkan kakinya.untuk melanjutkan perjalananya dengan sisa-sisa tenaga dan harapanya.namun sebesar apapun yang tersisa itu.tetap tak mampu membuat jaka bisa bangkit kembali.lalu seakan ada bisikan di telinganya yang menuntun jaka terpaksa melapor ke pos polisi yang sedang di laluinya ,untuk minta bantuan.namun belum sempat jaka melapor,di pintu masuk pos polisi jaka sudah jatuh pingsan terlebih dahulu.

Dan ketika sadar dan membuka kedua matanya,jaka sudah dalam keada’an tidur terlentang di sebuah bangku pangjang di dalam kantor pos polisi tersebut.di tatapnya semua ruangan dan para polisi yang berada di sampingnya.lalu salah satu dari mereka,menyuruh jaka mandi sambil memberikan satu setel pakaian pada jaka.seusai mandi jaka sudah di siapi nasi bungkus dan di suruh makan.sesudah makan,jaka di panggil untuk di beri pertanya’an2.jaka pun menjawab dengan apa adanya,semuanya di ceritakan mulai awal hingga akhir.

Polisi2 yang mendengarnya. ada yang terkagum,ada yang terharu bahkan ada yang sampai meneteskan air matanya,lalu polisi yang sempat menangis itu,memberi uang sebesar 15 ribu rupiyah.lalu jaka di buatkan surat kehilangan dan pengantar.setelah memberi saran dan petunjuk,lalu jaka di carikan mobil tumpangan yang berjurusan pasundan.dan berangkatlah jaka tolos atas bantuan para polisi Kendal tersebut.

Namun sayang, karena situasi. djaka tidak sempat untuk salin mengenal para polisi yang telah menolongnya tersebut itu,dan akhirnya pada hari rabu tgl 05/10/1990,jaka tiba di tempat tujuanya, tepatnya di salah satu kantor polisi di wilayah pasundan.dan dengan bantuan dari polisi pula. jaka keliling untuk mencari alamat saudara dari bapaknya.namun karena alamat yang tak jelas,polisi pun kesulitan untuk membantu jaka mencari saudaranya tersebut.hingga seminggu telah berlalu.karena tak sabaran.lalu jaka pamit untuk mencarinya sendiri.

Siang hari itu tanpa mengenal lelah dan lebatnya hujan yang sedang mengguyur kota pasundan.jaka berjalan mengelilingi seluruh kota yg di laluinya.namun tak satupun orang yang di tanyanya tau tentang nama dan alamat yang di carinya.setelah 3 hari keliling kota.lalu jaka beralih ke desa2nya,di pedesa’an jaka mengalami yang lebih sulit lagi.karena orang2nya jarang yang bisa berbahasa melayu atau indonesia,sementara jaka sendiri juga tidak bisa bahasa pasundan, walaupun  lahirnya di pasundan.setelah 10 hari keliling kota dan desanya,jaka putus asa,karena belum juga di temukan alamat yang di carinya.

Rasa lapar dan letih mulai menguasainya.lalu dari ujung jalan.malam itu jaka melihat masih ada penjual mi yang masih buka,bergegas jaka mendekati warung itu untuk minta mi.tapi kesulitan,karena gadis sang penjual mi itu,selain tak bisa bahasa Indonesia.juga ketakutan melihat jaka yang berambut panjang dan dekil itu.

Hingga gadis itu memanggil tetangganya untuk menemaninya.lalu sambil makan mi,jaka mencoba bertanya pada teman penjual mi yang bisa bahasa Indonesia itu,dan…….jaka serasa di timpa seribu kesenangan, sa’at mendapat jawaban kalau desa yang di carinya itu adalah desa yang sedang di injaknya,tapi sayang, jaka lupa dengan nama saudara yang harus di temuinya itu.tapi jaka berusaha untuk menjelasakan tentang asal usul hingga sampai di pasundan ini

Dan rupanya orang itu mengerti dengan apa yang di maksud oleh jaka,lalu orang itu memanggil pemilik rumah dan warung itu.dengan sebutan bibik fatonah,jaka teringan kalau nama itu yang ada di alamat yang hilang itu.

Tak lama kemudian, keluarlah pemilik warung itu,lalu di ceritakanya tentang jaka,jawaban pemilik rumah,…..{ kalau begitu….orang itu keponakan saya,anaknya kakak saya yang di sulawesi,karena saya dapat kiriman surat dari sulawesi,yang mengabarkan kalau anaknya lelaki akan ke jawa,tapi surat itu sudah dapat setahun lebih.dan anaknya itu belum juga datang sampai di sini hingga sekarang,namanya santoso }

kata pemilik warung itu, menanggapi cerita anaknya yang sedang menjaga jualanya…mendengar pembicara’an perempuan separuh baya pemilik warung itu.jaka tidak kuat menahan diri.jaka langsung melompat bersujud di kaki wanita itu sambil berkata…..{ sayalah anak itu bik……sayalah anaknya madsalim kakak bibik.saya terlambat sampai karena kehilangan pesangon dan tersesat di  jalan……}, kata djaka tolos memperjelas kadaan kepada pemilik warung itu.

Seketika itu pula wanita itu balik memeluk jaka sambil menangis pula,hingga terjadilah salin tangis menangisi pertemuan yang tak terduga tersebut,hingga mengejutkan dan membangunkan orang se RT.lalu jaka di bawa masuk masih dalam pelukan bibiknya. semua keluargapun datang berkumpul untuk mendengarkan cerita jaka yang terlambat datangnya itu

Bibik fatonah adik kandung madsalim  bapak jaka,tak henti-hentinya menangis. karena melihat kedua telapak kaki jaka yang hancur terbakar karena kerikil dan panasnya terik matahari di jalan selama setahun lebih.

Dan mulai saat itu. jaka di rawat oleh bibik fatonah penuh dengan kasih dan sayang hingga kembali sembuh dan pulih seperti sedia kala.setelah semua kembali aman.lalu jaka di pertemukan dengan neneknya yang sudah sangat tua di kamarnya.dia adalah ibu kandung madsalim bapaknya,istri dari ki buyut sarpani almarhum.di pangkuan sang nenek jaka tolos mencurahkan air matanya penuh haru,sambil menyampaikan salam dari bapaknya.namun sayang sang nenek sudah tak bisa di ajak ngobrol secara sempurna. juga sudah tak bisa cerita sejarah lagi.karena sudah pikun tertelan usia yang sudah seratus tahun lebih.

Walau begitu jaka sudah bisa sedikit tenang dan bangga.karena sudah membuktikan salah satu cerita ibunya tentang keluarga di tanah jawa,setidak-tidaknya,ada harapan untuk melangkah ke depanya lagi.hari2 yang di lalui oleh jaka selama tinggal bersama bibik fatonah,selalu di buatnya untuk merenungi tentang apa yang akan di alaminya lagi setelah ini.di hatinya bertanya,siapa yang akan mengantarnya untuk bisa bertemu dengan pangeran damarjati kakeknya, yang sangat di rindukanya selama ini.

Sa’at di Tanya bibiknya mengapa sering melamun. jaka menjawab ingin bisa segera bertemu dengan kakeknya,dan fatonah menjawab kalau pangeran damarjati kakeknya itu sudah tiada,hati jaka serasa di sambar seribu petir.hancur rasanya semua harapan,orang yang sangat di dambakanya telah meninggal.dan sejak itu jaka jadi sering melamun karena tak tau harus berbuat apa,sementara tujuan utamanya dari sulawesi adalah ingin bertemu pangeran damarjati kakeknya.tapi ternyata sudah tiada.semua terasa sia2 tanpa guna

Dan karena itulah jaka jadi larut pada kesedihanya itu……….demikianlah proses perjalanan jaka tolos dalam mencari sarangnya, tanah kelahiranya. guna mengungkap asal-usul dan jati dirinya,di awali dengan berbagai liku-liku perjalanan hidup yang sempat membuatnya putus asa dan kehilangan keseimbangan.baginya. pulau jawa memang di akuinya,tanah jawa memang di kaguminya.tapi jaka tolos merasa yakin,bahwa dirinya,suatu sa’at ketika,bisa menyatu dengan tanah jawa ini.

Djaka kagum dan tertarik dengan kehidupan jawa yang di temuinya di sepanjang perjalananya menuju sarangnya.dirinya berjanji,akan mengenang semuanya dan menjadikanya sebagai ilmu alam yang tak terlupakan.walau hatinya sudah tak sabar lagi menunggu sampai semuanya mendukung,namun jaka tolos tetap mengindahkan amanat sang ibunya,jaka selalu berusaha untuk sabar dan menyesuaikan dirinya. terlebih dahulu pada lingkungan dan alam sekitarnya.mulai dari bahasa,pergaulan,kebiasa’an.adat istiadat hingga sampai ke ilmuanya di pelajari dan di sesuaikanya

Sebulan sudah jaka tolos tinggal bersama fatonah bibiknya yang bersuami samsudin. namun sejauh dan selama itu belum juga ada yang mau bercerita tentang keraton  asal-usul dewi arimi ibunya.jaka jadi jenuh dan bingung harus bertanya pada siapa kepada nenek maria ibu dari bapaknya,sudah tidak nyambung bila di ajak cerita.mau bertanya pada bibik fatonah dan paman samsudin,hampir tak pernah ada waktu,karena mereka berdua selalu di sibuk dengan pekerja’annya di sawah.juga keluarga besar bibik fatonah sering membuat jaka menjadi risih.

Namun, walau  begitu,kedatangan jaka yang berkisah menyedihkan itu,banyak mengundang keluarga besar ki buyut sarpani,dari tempat tinggalnya masing2. salin berdatangan untuk menjenguk jaka,dan pada akhirnya,salah satu keluarga ki buyut  sarpani yang paling kaya,datang dan ingin membawa serta jaka tinggal bersamanya.dia adalah kakak keponakan madsalim.bernama surtinah,ibu surtinah adalah seorang janda yang mempunyai 4 orang anak.semua anaknya itu telah berumah tangga dengan kesuksesanya masing2

Karena ibu surtina tinggal hanya seorang diri di rumahnya.lalu jaka di bawa serta untuk tinggal bersamanya.dan sejak itu jaka tolos tinggal bersama uwaknya yang bernama surtinah tersebut,di sini jaka sehari-hari membantu kegiatan  uwak surtina yang berdagang sembako di pasar.tiap pagi dan sore hari jaka di beri tugas untuk antar jemput dengan menggunakan becak.di luar itu. jaka di suruh belajar agama pada bapa murnawi.seorang tokoh agama di dukuh sebelah kampung tempat tinggalnya.

Di luar tugasnya menjemput.jaka selalu giat belajar pada kiyai murnawi.disini jaka berlajar banyak tentang ilmu sare’at agama islam.sebelum di mulai belajar.karena tidak tau sama sekali tentang agama islam.langkah pertamapun jaka di tuntun untuk mengucapkan dua kalimah sahadat sebagai sarat utama dalam memeluk agama islam.setelah mengucapkan dua kalimah sahadat,baru jaka melangkah kedalam pelajaran agamanya dan pengamalanya,jaka di tuntun tentang bab sholat lima waktu,caranya yang tepat dan benar,juga sholat2 sunah sebagai kesempurna’anya.cara berdo’a,cara berdikir,juga cara beribadah yang benar

Tak terasa jakapun telah menghabiskan waktu 3 bulan untuk bisa memahami ilmu sare’at agama islam tersebut.dan hasilnya.jaka sudah banyak mengalami perubahan. Terlebih lagi dgn ilmu akhlak dan adab yg tlah di pelajarinya dari bapak murnawi guru agamanya.;

Inilah salah satu pelajaran yang di peroleh djaka tolos dari sang guru yang MURNAWI;

MENGENAL AKHLAK DAN ADAB

Ilmu akhlak merupakan bagian dari pembahasan dalam hikmah amali (filsafat amal), di samping ilmu keluarga dan kemasyarakatan (siyasah). Biasanya, ilmu akhlak dipahami sebagai ilmu yang mempersoalkan bagaimana seharusnya kita hidup. Atau, dalam rumusan lain, ilmu mengenai bagaimana berperilaku yang baik.

 AKHLAK

Ilmu akhlak merupakan sebuah spesialisasi, yang di dalamnya dibahas tentang potensi manusia yang berhubungan dengan kekuatan syahwaniyyah (syahwat), ghadhabiyyah (amarah), dan fikr(pikir). Ilmu tersebut juga membedakan antara sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat rendah manusia, sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan nilai manusiawinya. Dalam hidupnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari pencariannya atas sesuatu, seperti makan, minum, dan beristirahat, yang semuanya didorong oleh kekuatan syahwani. Begitu juga, dari upaya untuk menghindar dari sesuatu, seperti sakit, kerja keras, dan sebagainya, yang didorong oleh kekuatan ghadhabi. Juga, dari kekuatan fikr seperti berhujah, yang didorong oleh kekuatan fikr dalam diri manusia.

ADAB

adab adalah sikap dan bentuk perbuatan bajik, Karena itu, kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan tidak dapat dikatakan sebagai tindakan beradab. adab merupakan tindakan bajik yang berasal dari ikhtiar manusia. Karenanya, berdasarkan nalar, tidak akan ditemui ikhtilaf di dalamnya, meskipun pada kenyataannya manusia terdiri dari berbagai bangsa dan agama dengan gaya dan cara hidup berbeda. Sehingga suatu adab terkadang dipandang baik bagi golongan tertentu dan dipandang buruk oleh golongan lainnya.

Perbedaan akhlak dan adab

 Adab tidak sama dengan akhlak. Akhlak merupakan potensi yang tertanam di dalam ruh, maka Adab adalah sikap bajik yang menjadi pakaian bagi perbuatan manusia, yang muncul dari sifat-sifat mereka yang berbeda. Karena itu, adab adalah cerminan akhlak manusia, sementara akhlak adalah hakim bagi sebuah masyarakat.

Dan sejak mengenal ilmu akhlak dan adab. jiwanya mulai mengenal dan memiliki ketenangan,karena sudah bisa berdoa’ jika sedang galau dan risau.tidak lagi merasa seorang diri.dan tidak lagi mengeluh pada kekosongan.melainkan mengadu dan berdoa kepada tuhan. Yang lebih akrab dan di kenal dengan sebutan gusti allah. namun sayang,pelajaran itu harus putus sebelum jaka beralih ke pelajaran lainya.karena,uwak surtina yang di banggakanya,di hormatinya sebagai pengganti ibunya.tiba2 jatuh cinta kepada jaka yang sudah di anggap anaknya sendiri itu.

Awalnya.semua kebutuhan jaka tanpa terkecuali,di turuti dan di penuhi,tapi rupanya di balik semua itu ada maksud lain.surtina yang menganggap jaka tolos menerimanya sebagai calon istri,menyebar kabar dan undangan nikah ke seluruh kerabat,hingga tersiarlah kalau jaka akan mengawini uwaknya sendiri.rasa kecewa dan malu,membuat jaka tolos harus nekad kabur dari rumah demi menghindari pernikahan itu terjadi.seperti pada awalnya,jaka pergi tanpa bekal apapun.kali ini jaka sudah banyak tau dan paham tentang seluk beluk tanah pasundan.bahasa pun sudah di kuasainya walau baru sedikit.

Setelah meninggalkan rumah,jaka menuju gunung cermai yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya.pikirnya,menurut ibunya,dulu djaka di lahirkan di lereng gunung cermai. Saat sang ibu berjuang mengusir gerombolan pngacau keraton. Waktu itu, dewi arimi sedang mengandung djaka tolos 8 bln.,karena tugas yang tdk adil dari pangeran damarjati. Yang berdalih situasi darurat. Dewi arimi yang sedang hamil tua tersebut. Di tugasi untku memimpin pasukan perang bersama madsalim suaminya. Setelah berhasil mengusir gerombolan pemberontak tersebut. Dalam perjalanan pulang, lahirlah djaka tolos di dalam tenda peristirahatan para prajurit keraton saat itu.

Djaka nekad pergi ke tempat kelahiranya,karena berharap akan dapat yang lebih baik di sana.setelah semalam sehari jaka berjalan kaki melewati jalan perkampungan.akhirnya sampai juga di lereng gunung sebelum matahari terbenam.di sebuah bukit kecil yang terletak di lereng gunung,jaka memandangi alam sekitarnya,di lihat kota dan perkampungan di tanah pasundan yang nampak kecil2 dari kejauhan. sekecil batu kerikil.pikirnya,sampai kapan saya harus seperti ini…….

Dan akhirnya, di dalam lamunanya itu. tak sengaja dari balik pohon tempat jaka berdiri, terlihat sebuah gubug yang terletak di tepi air terjun,lalu bergegaslah jaka menuju gubug tersebut sebelum malam tiba. untuk bermalam menunggu pagi hari.setibanya di tepi air terjun.jaka melihat kalau gubug itu berpenghuni.di lihatnya seorang lelaki separuh baya yang sedang menyalakan api di depan gubugnya itu.setelah dekat.jaka mengucapkan salam.sabil terkejut lelaki itu menjawab salam jaka,yang kemudian mempersilahkan masuk ke dalam gubugnya.

Setelah salin duduk santai di lantai gubug bambu sambil makan ubi bakar.keduanya lalu salin memperkenalkan diri,orang itu bernama mang onang.asal dari desa yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal jaka, waktu ikut uwaknya, hanya beda kecamatan saja.dan sudah tinggal menetap di lereng gunung cermai ini selama 7 tahun.setelah tau kalau jaka bertujuan hendak mendaki gunung,mang onang berusaha mencegahnya. menurutnya,gunung itu terlalu berbahaya,karena selain angker dan keramat dengan penghuni ga’ibnya.juga masih di huni banyak binatang buas,namun jaka tak gentar sedikitpun tentang apa yang di katakana oleh mang onang

Lalu jaka dengan penasaran membalikan cerita tersebut.dengan kalimat,….{ kalau memang sebahaya itu…..lalu kenapa mang onang memilh tinggal di sini seorang diri. menjauhi dunia ramai yang seharusnya menjadi tempat para manusia moderen.

jawabanya karena terpaksa,ketika jaka mengejar jawaban itu,akhirnya mang onang bercerita tentang masa lalu yang membuatnya terpakasa harus tinggal di lereng gunung cermai seorang diri.menurut pengakuan cerita mang onang,dia dulu adalah seorang kiyai.yang mengajar di salah satu pondok pesantren di wilayahnya.mang onang adalah salah seorang yang mempunyai kelainan seksual.dia suka sesama jenis

Bahkan lebih sangat menyukai lelaki dari pada perempuan.rasa dan perasa’an itu di pendamnya seumur hidupnya waktu itu,pada suatu sa’at.dia tak mampu menahanya. hingga hasrat birahi itu di lampiaskan pada salah seorang santrinya,yang kebetulan santri itu adalah anak seorang kepala desa,sekali dua kali mang onang berhasil.tapi pada suatu ketika,hubungan rahasia itu di ketahui oleh warga yang pada sa’at itu memergokinya  sedang bercumbu dengan santri lelakinya.lalu terjadilah sebuah masalah besar,hubungan yang di tolak karena di yakini sebagai perbuatan yang di laknat tuhan itu

Lalu mang onang di hakimi dengan hukum rimba.sementara bapak dari sartri itu yang tidak terima anaknya di ajak berbuat kotor seperti itu.merasa tak puas jika mang onang tidak di singkirkan,lalu mang onang di lepas sebagai kiyai dan di usir tanpa apapun yang di ijinkan untuk di bawa sebagai bekal.dan karena itulah mang onang lalu memutuskan untuk tinggal di tempat ini seorang diri menjauhi semuanya yang menolak kehadiranya. dalam hati jaka tolos mendesah……{ ya….allah…kenapa engkau selalu mempertemukan aku dengan orang2 seperti mang onang ini }hingga mang onang entah menjadi orang yang keberapa dalam hidup jaka,apa maksudmu…ya..tuhanku….}

Walau begitu,jaka merasa sangat yakin sekali.kalau tuhan memiliki rencana dan rahasia yang sangat baik buat dirinya.dengan begitu dia tetap mantap dan tegar dalam pendirianya.paginya jaka bangun dengan tujuan hendak mendaki gunung cermai.tapi pagi itu seluruh tubuh jaka terasa lemas tak bertenaga sama sekali.serasa tak punya tulang dan otot.sehingga mengurungkan niyatnya untuk melanjutkan perjalananya naik gunung.tapi jaka sedikit curiga,karena pagi itu dia tidak melihat mang onang di sampingnya.padahal semalam tidur salin berdampingan.lalu jaka ingat semalam waktu bangun hendak buang air kecil sempat minum secangkir air yang sudah tersedia di sampingnya.

Lalu dengan lemas jaka merangkak meraih cangkir bambu bekas air yang di minumnya semalam.ternyata benar,cangkir itu berbau ramuan daun.setelah tau jaka menjadi marah sekali.tapi tak berdaya.tak lama kemudian mang onangpun datang dan masuk gubug,jaka langsung bertanya apa maksudnya menaruh racun pelemah sarap itu ke minumanya.dia menjawab sangat sederhana sekali.lalu pergi keluar dari gubug lagi.katanya,biar kamu tidak jadi masuk dan naik gunung,karena saya kasihan padamu,dan kamu belum kenal hutan dan gunung itu.

Sehari semalam jaka dalam kelemahan tanpa sarap.dan malam itu sa’at jaka tidur,jaka bermimpi bertemu kakeknya,yaitu pangeran damarjati.pangeran damarjati datang untuk mencegah jaka tolos.agar tidak ke gunung cermai.karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja.menurut pangeran damarjati,dari pada harus ke gunung itu tanpa tujuan yang pasti,lebih baik menjalankan tapa wuda di bawah air terjun gunung cermai yang terletak di belakang gubug yang di tempatinya,karena dengan begitu,jaka akan dapat menyatu dengan alam bersama dengan air yang mencurah tersebut,selain itu ada kemungkinan jaka akan dapat isaroh atau petunujuk bahkan mungkin dapat pengalaman baru tentang tanah jawa ini.

Setelah itu,paginya jaka berjanji pada mang onang untuk tidak masuk ke gunung cermai.setelah mendapat obat penawarnya,lalu jaka di ajari oleh mang onang tentang ilmu tarekot.setelah belajar tarekot pada mang onang di kaki gunung cermai selama satu bulan lebih,lalu jaka menjalani tapa wuda, sesuai petunjuk dari kakeknya tempo hari di bawah curahan air terjun gunung cermai,dengan telanjang bulat jaka duduk bersila tepat di tempat jatuhnya air di atas batu yang membentuk tampah,atau penapis beras,sementara mang onang menjaga jaka tolos hingga selesai bertapa selama 21 hari duduk di bawah air terjun.

Sa’at bertapa jaka tolos bertemu dengan seorang raja agung yang mengaku bernama prabu siliwangi, raja dari pajajaran.penguasa dan leluhur tanah pasundan ini.prabu siliwangi sengaja menemui jaka tolos untuk memberikan ilmu warisan siliwangi, peninggalan para leluhur tanah pasundan yang secara terun menurun harus di miliki oleh keturunanya.setelah itu,beliau menyuruh jaka turun gunung menuju pantai utara gunung guna menemui salah seorang sesepuh yang masih ada kaitan keluarga dengan jaka,dari garis dewi arimi ibunya.yang sudah siap menunggu kedatangan jaka tolos sewaktu-waktu.

Tepat tengah malam jaka mengakhiri pertapa’anya genap 21 hari.tubuh jaka lemas akibat kedinginan oleh air terjun,lalu mang onang menggendongnya hingga sampai ke dalam gubug.lalu jaka di tutupi dengan semua selimut yang ada di tempat itu.dan di buatkan wedang jahe panas untuk menghangatkan tubuh,tapi jaka tetap menggigil hebat,hingga konsentrasipun hilang keseimbanganya.untuk menghangatkan tubuh jaka,lalu mang onang memeluk dan menindih tubuh jaka,hingga jaka merasa hangat dan tertidur pulas

Di dalam kepulasanya,tanpa sadar.mang onang yang memang menyukai sesame jenis,dan sudah tahuanan menahan berahinya,merasa tidak mampu menahan hasratnya,dan akhirnya menyetubuhi jaka di sa’at sedang tertidur lelap itu.hingga berkali-kali.dan untuk yang terakhir kalinya.sa’at menjelang pagi.jaka sudah terbangun.mengetahui tubuhnya yang sedang di tindih dan di cumbu oleh mang onang,jaka terkejut dan marah besar, seketika itu mang onang di tendangnya dan di hajarnya dengan membabi buta,masih dalam keada’an telanjang bulat,tanpa henti jaka menghajar mang onang sambil menyerangnya secara bertubi-tubi.

Karena tak mau terlalu sakit, mang onangpun berusaha untuk menghindari semua bentuk serangan djaka tolos. Sambil sesekali memberikan penjelasan kepada djaka. karena jaka tak peduli dengan mang onang yang berusaha memberikan penjelasan,akhirnya mang onang membela diri juga

Terjadilah sebuah pertarungan yang seimbang,jaka tidak pernah menyangka kalau mang onang bisa bertarung juga,namun sayangnya,mang onang tidak bisa membela dirinya terlalu lama.karena keburu di kalahkan oleh jaka,sa’at tangan kanan jaka yang sudah berisi kekuatan penuh hendak menghantam tubuh mang onang yang terkapar.muncul tiba2 bayangan yang menghentikanya,dia adalah pangeran damarjati, kakeknya.

{ hentikan raden…!.jangan bunuh dia,dialah yang telah merawat dan menolong raden.sekarang bersiaplah untuk segera turun gunung,jangan berhenti terlalu lama raden }. Kata kakek itu menghentikan serangan djaka yang membabi buta kepada mang onang.

Setelah itu. bergegas jaka masuk gubug untuk berpakaian.sementara mang onang yang telah tau siapa jaka tolos yang sebenarnya,atas kejadian tadi.langsung tunduk patuh dan berjanji akan mengabdikan sisa hidupnya untuk jaka,dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya.lalu dengan di sertai mang onang sebagai pendamping.jaka segera turun gunung menuju pantai uatara menemui eyang sukma yang di tunjukan oleh leluhurnya. setelah perjalanan sehari penuh,jaka tiba di muara ,seperti dalam petunjuk.

Dari sudut pandang, jaka sudah melihat ada gubug indah di tepi muara itu.dan jaka bersama mang onangpun segera menuju ke tempat itu.setibanya,ternyata penghuni gubug indah itu memang sedang menunggu kedatangan jaka,baru saja kaki kanan jaka berpijak di lantai teras yang terbuat dari kayu jati yang halus itu.pemiliknya sudah menyambut dengan penuh kasih. { selamat datang cucuku……masuklah, eyang sudah terlalu lama menunggumu di sini }. { ternyata dia EYANG SUKMA }. Pikir djaka.

Dan ternyata, beliau sudah di temui dan di beri penjelasan tentang jaka tolos oleh prabu siliwangi sebelum jaka tiba.dan sejak itu jaka tolos hidup di bawah asuhan eyang sukma di pertapan muara pantai utara.eyang sukma medidik jaka tentang ilmu tarekot yang di bantu oleh mang onang yang

sebelumnya telah menjadi guru jaka sa’at di lereng gunung cermai.

Inilah salah satu pelajaran yang di peroleh djaka tolos dari sang guru yang berjulukan Eyang sukma ;

 MARTABAT TUJUH

1.1 ALAM Ahadiyah

Pada memperkatakan Alam Gaibull-Guyyub yaitu pada martabat Ahadiyah di mana belum ada sifat, belum ada ada asma’,belum ada afa`al dan belum ada apa-apa lagi yaitu pada Martabat LA TA`YUN, Zat AlHaki jelas menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberi tanggungjawab ini kepada manusia dan di tajallikanNya DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Martabat Ahadiyah ini terkandung ia di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertama yaitu {QulhuwallahuAhad), yaitu Esa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat Zat. Pada martabat ini diri Empunya Diri (Zat Alhaki) Tuhan RabbulJalal adalah dengan dia semata-mata iaitu di namakan juga Diri Sendiri. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya iaitu Wujud Hakiki Lagi Khodim

Pada masa ini tida sifat,tida Asma dan tida Afa’al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak semata-mata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata dai dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR dan diri zat dinamakan Ahad jua atau di namakan KUNHI ZAT.

1.2 ALAM WAHDAH

Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pentajalliannya diri Empunya Diri telah mentajallikan diri ke suatu martabat sifat yaitu “La Tak Yun Sani” – sabit nyata yang pertama atau disebut juga martabat noktah mutlak yaitu ada permulaannya.

Martabat ini di namakan martabat noktah mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Juga pada menyatakan martabat ini dinamakan martabat Wahdah yang terkandung ia pada ayat “Allahus Shomad” iaitu tempatnya Zat Allah tiada terselindung sedikit pun meliputi 7 petala langit dan 7 bumi.

Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan boleh di umpamakan sepohon pokok besar yang subur yang masih di dalam dalam biji , tetapi ia telah wujud,tidak nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertama martabat La Takyin Awwal iaitu keadaan nyata tetapi tidak nyata(wujud pada Allah) tetapi tidak zahir

Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Beras’ma dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata iaitu di dalam keadaan apa yang di kenali ROH-IDHOFI. Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat.(Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang di tajallikannya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala. hanya terhimpunan dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.

1.3 ALAM WAHDANIAH

Pada peringkat ketiga setelah tajalli akan dirinya pada peringkat “La takyun Awal”, maka Empunya Diri kepada Diri rahasia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat As’ma yak ini pada martabat segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) yaitu keadaan terhimpun lagi bercerai – cerai atau di namakan “Hakikat Insan.”

Martabat ini terkandung ia didalam “Lam yalidd” iaitu Sifat Khodim lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahsia pada masa ini telah terhimpun pada hakikinya Zat, Sifat Batin dan Asma Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi bercerai-cerai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing – masing tetapi pada masa ini ianya belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah Iaitu dalam keadaan “Ainul Sabithaah”.

Artinya sesuatu keadaan yang tetap dalam rahsia Allah, belum terzahir, malah untuk mencium baunya pun belum dapat lagi. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am kerana wujud di dalam sekelian bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah.

Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahsia Allah dalam hakiki dalam batin iaitu bolehlah dikatakan juga roh di dalam roh iaitu pada menyatakan Nyata tetapi Tetap Tidak Nyata.

1.4 ALAM ROH

Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamaka roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afa’alnya.hanya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota – anggota batinnya, tida cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia “Jisim Latiff” iaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis,asyik dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan “KholidTullah.”

Pada martabat ini terkandung ia di dalam “Walam Yalidd”. Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakikat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam Diri Manusia.

1.5 ALAM MISAL

Alam Misal adalah peringkat ke lima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahsia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula oleh bapa iaitu dinamakan Alam Misal.

Untuk menjelaskan lagi Alam Misal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum bercamtum dengan badan kebendaan. Alam misal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Misal di mana proses peryataan ini ,pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.

Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun – ubun bapa, iaitu permidahan dari alam roh ke alam Bapa (misal).

Alam Misal ini terkandung ia di dalam “Walam yakullahu” dalam surah Al-Ikhlas iaitu dalam keadaan tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi “DI”, “Wadi”, “Mani” yang kemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu.Maka terbentuklah apa yang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)

Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

1.6 ALAM IJSAN

Pada peringkat ke enam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Misal yang di kandung oleh bapa , maka berpindah pula diri rahsia ini melalui “Mani” Bapa ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam Ijsan.

Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat “InssanulKamil” iaitu batang diri rahsia Allah telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi “KamilulKamil”. Iaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani. dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabat kanak – kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan “InnsanulKamil”. Pada martabat ini terkandung ia di dalam “Kuffuan” iaitu bersekutu dalam keadaan “KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.

Selepas cukup tempuhnya dan ketkanya maka diri rahsia Allah yang menjadi “KamilulKamil” itu di lahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia Martabat Alam Insan.

1.7 ALAM INSAN

Pada alam ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam “Ahad” iaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsia Allah S.W.T. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat.

Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam – alam lain, maka mulai alam maya yang fana ini, bermulalah tugas manusia untuk menggembalikan balik diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermulah dari alam Maya ini lantaran itu persiapan untuk balik kembali asalnya mula kembali mu semula hendaklah disegerakan tanpa berlengah – lengah lagi.

TUJUAN MARTABAT ALAM INSAN

1.Ada pun tujuan utama pengkajian dan keyakinan Martabat Alam Insan ini;

2 “bertujuan memahami dan memegang satu keyakinan Mutlak bahawa diri kita ini sebenar – benarnya bukanlah diri kita, tetapi kembalikan semula asalnya Tuhan.”

3.Dengan kata lain untuk memperpanjangkan kajian, kita juga dapat mengetahui pada hakikatnya dari mana asal mula diri kita sebenarnya hinggalah kita zahir di alam maya ini.

4.Dalam pada itu dapat pula kita mengetahui pada hakikatnya kemana diri kita harus kembali dan:

5.apakah tujuan sebenar diri kita di zahirkan.

3.Dalam memperkatakan Martabat Alam Insan

Dengan memahami Martabat Alam Insan ini , maka sudah pastilah kita dapat mengetahui bahawa diri kita ini adalah SifatNya Allah Taala semata-mata. Diri sifat yang di tajallikan bagi menyatakan SifatNya Sendiri yakni pada Alam saghir dan Alam Kabir.Dan Allah Taala Memuji DiriNya dengan Asma’Nya Sendiri dan Allah Taala menguji DiriNya Sendiri dengan Afa’alNya Sendiri.

Dalam memeperkatakan Martabat Alam Insan kita memperkatakan diri kita sendiri. Diri kita daripada Sifat Tuhan yang berasal daripada Qaibull-Quyyub (Martabat Ahdah) iaitu pada martabat Zat hinggalah zahir kita bersifat dengan sifat bangsa Muhammad. Oleh yang demikian wujud atau zahirnya kita ini bukan sekali-kali diri kita, tetapi sebenarnyadiri kita ini adalah penyata kepada diri Tuhan semesta alam semata-mata.

Seperti FirmanNya:

‘INNALILLA WAINNA ILAII RAJIUN’

Yang bermaksud; “Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali”.

Setelah mengetahui dan memahami secara jelas lagi terang bahawa asal kita ini adalah Tuhan pada Martabat ahdah dan NyataNya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan dan pada Alam Insan inilah kita memulakan langkah untuk mensucikan sifat diri kita ini pada martabat Sifat kepada Martabat Tuhan kembali iaitu asal mula diri kita sendiri atau Martabat Zat.

SEsungguhnya Allah S.W.T diri kita pada Martabat Ahdah menyatakan diriNya dengan SifatNya Sendiri dan memuji SifatNya Sendiri dengan AsmaNya Sendiri serta menguji SifatNya dengan afa’alNya Sendiri. Sesungguhnya tiada sesuatu sebenarnya pada diri kita kecuali diri Sifat Allah,Tuhan semesta semata – mata.

4.PROSES MENGEMBALIKAN DIRI

Dalam proses menyucikan diri dan mengembalikan rahsia kepada Tuan Empunya Rahsia, maka manusia itu semestinya mempertingkatkan kesuciannya sampai ke peringkat asal kejadian rahsia Allah Taala.

Manusia ini sebenarnya mesti menerokai dan melalui daripada Alam Insan pada nafsu amarah ke Martabat Zat iaitu nafsu Kamaliah iaitu makam “Izzatul-Ahdah”. Lantaran itulah tugas manusia semestinya mengenal hakikat diri ini lalu balik untuk mengembalikan amanah Allah S.W.T. tersebut sebagaimana mula proses penerimaan amanahnya pada peringkat awalnya.

Sesunggunya Allah dalam mengenalkan diriNya melalui lidah dan hati manusia,maka Dia telah mentajallikan DiriNya menjadi rahsia kepada diri manusia. Sebagaimana diperkatakan dalam hadis Qudsi;

“AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU”

Maksudnya; “Manusia itu adalah rahsiaKu dan aku adalah rahsia manusia itu sendiri”.

Mengenai martabat pengujudan diri rahsia Allah S.W.t.atau di kenali juga Martabat Tujuh, itu terbahagi ia kepada 7 Alam;

Ke tujuh-tujuh martabat atau alam ini terkandung ia di dalam surah -Al Ikhlas

QulhuwallahuAhad – Ahdah

Allahushomad – Wahdah

Lamyalidd – Wahdiah

Walamyuladd – Alam Roh (Alam Malakut)

Walamyakullahu – Alam Misal (Alam Bapa)

Kuffuan – Alam Ijsan

Ahad> – Alam Insan

Seperti FirmanNya lagi dalam Al- Quran

[33] Setelah diketahui demikian maka tidaklah patut disamakan Allah Tuhan yang berkuasa mengawas tiap-tiap diri dan mengetahui akan apa yang telah diusahakan oleh diri-diri itu, (dengan makhluk yang tidak bersifat demikian). Dalam pada itu, mereka yang kafir telah menjadikan beberapa makhluk sebagai sekutu bagi Allah. Katakanlah (wahai Muhammad): Namakanlah kamu akan mereka (yang kamu sembah itu). Atau adakah kamu hendak memberi tahu kepada Allah akan apa yang tidak diketahuiNya di bumi? Atau adakah kamu menamakannya dengan kata-kata yang lahir (sedang pada hakikatnya tidak demikian)? Bahkan sebenarnya telah diperhiaskan oleh Iblis bagi orang-orang yang kafir itu akan kekufuran dan tipu daya mereka (terhadap Islam) dan mereka pula disekat oleh hawa nafsu mereka daripada menurut jalan yang benar dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah) maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya.

Surah Al-A’Rad Ayat:33

Setelah selesai dalam mempelajari ilmu tarekot.lalu eyang sukma meninggalkan jaka tolos pulang ke rahmatullah.yang sebelumnya telah menitipkan jaka terlebih dahulu pada adik kandung bernama EYANG SUTEJA.dan setelah eyang sukma meninggal dunia pada hari jumat kliwon,tgl 06/12/1991.jaka tolos hidup di bawah asuhan eyang suteja yang tinggal di pesanggrahan tepi hutan pegunungan tanah pasundan.

Di sini, oleh eyang suteja jaka tolos di didik tentang ilmu hakekat.jakapun sangat senang dan giyat dalam setiap menerima semua pelajaran yang di berikan oleh eyang suteja.setelah 7 bulan dalam didikan eyang suteja,jaka pun di tinggal pergi lagi oleh eyang suteja untuk menghadap ilahi robbi.pada tgl.21/08/1992.yang sebelumnya. jaka di titipkan lagi kepada adiknya lagi bernama EYANG WARSIH,

Yang tinggal di salah satu kecamatan di kota pasundan.pada eyang warsih jaka mendapat pelajaran baru lagi tentang ilmu ma’rifat dan tasawuf. Juga penganalan ilmu2 laku spiritual. Di antaranya yang terserat di bawah ini ;

EMPAT JENIS NAFSU ADA PADA SAPTO RENGGO

1.Nafsu mutmainnah warna putih bertempat di hidung

2.Nafsu supiah warna kuning bertempat di mata

3.Nafsu amarah warna merah bertempat di telinga

4.Nafsu lawwamah warna hitam bertempat di mulut

A. Keinginan atau syahwat dibagi dua yaitu:

A1. Nafsu berbuat baik atau mutmainnah, yang mendorong manusia untuk berbuat baik, berkemanusiaan, atau disebut sebagai sifat ketuhanan.

A2. Nafsu asmara atau supiah yang membakar api kebirahian remaja, ingin mempercantik/mempergagah diri

B. Kemurkaan atau godhob dibagi dua yaitu:

B1. Nafsu kemurkaan-marah atau amarah. Dengan nafsu ini manusiaberusahamempertahankandan membangun diri. Tindakannya berupa perbuatannya melawan, berkelahi, berlindung atau melarikan diri. Sifatnya keras kepala dan suka mencela.

B2. Nafsu untuk mengembangkan diri atau lawwamah, diibaratkan raksasa yang ingin menelan apa saja yang ada di hadapannya. Sifat tamak serta rakus dari nafsu ini, apabila diatur dan disalurkan dengan baik akan mendorong manusia ke arah kemajuan pembangunan material.

Nafsu adalah jiwa manusia dalam kehidupan di dunia.

Ketika berada dalam janin di rahim ibunya, “nafsu” disebut sebagai ruh.

Begitu lahir ia dikatakan sebagai nafsu.

Nafsu diilhami oleh dua kekuatan, yaitu takwa dan kejahatan. Quran surat 9: 8 “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya”. Kekuatan baik sumbernya adalah akal-kebijaksanaan manusia dan petunjuk agama. Kekuatan buruk sumbernya nafsu angkara murka manusia dan godaan setan.

Masing-masing nafsu yang memiliki dua sisi ini tidak boleh terlalu diikuti keinginannya, walaupun nafsu yang kelihatannya baik.

Artinya berbuat kebaikan cukup biasa-biasa saja, jangan terlampau berlebihan.

Kadang-kadang perbuatan yang kelihatannya terpuji tersebut hanyalah perasaan ingin terkenal dan dipuji orang.

Jika nafsu lawwamah yang ujudnya adalah sifat kikir, serakah, loba tamak, suka makan enak dihilangkan sama sekali, maka tidak akan ada pembangunan gedung-gedung, universitas-pendidikan tinggi, peningkatan kesehatan dll.

Nafas, Tanafas, Nufus dan Anfas di temukan dalam Pernafasan Tiga

1. Nafas = merasakan keluar masuknya udara dari hidung dengan pernafasan panjang, kasar sampai halus …. Hingga nafas halus dan sangat halus lembut ….terasa tenang dan tentrem

2. Tanafas = bukan tahan nafas atau tidak bernafas melainkan keluar masuknya udara dari hidung yang sangat halus lembut… hingga Ubun-ubun kita berdenyut seperti detak denyut ubun-ubun bayi …. Hanya di ubun-ubun belum ke telapak tangan dan kaki….

3. Anfas = membuang dan membersihkan kotoran bathin, penyakit bathin, hawa hitam atau rasa sakit dengan olah rasa lewat ubun-ubun atau telapak kaki atau juga telapak tangan dengan keluar masuknya udara dari hidung yang sangat halus lembut …

4. Nufus = merasakan hidupnya denyut dan detak lembut dan halusnya Ubun-ubun, telapak kaki dan telapak tangan ….

Pernafasan Tiga berkaitan erat dengan Nafas, Tanafas Nufus dan Anfas …. Terbagi tiga hanya batas dan wilayah saja …. Pada hakekatnya satu badan dan satu denyutan halus yang harus di rasakan dari merasakan keluar masuknya udara dari hidung dengan pernafasan. 3 bagian itu pertama dari denyut telapak kaki hingga puser, kedua denyut telapak tangan hingga uluh hati dan paru-paru ketiga denyut ubun-ubun hingga rongga tengorokan …. Rasakan denyut halus dan lembut secara bersamaan …. Tujuan Nafas, Tanafas, Nufus dan Anfas itu menciptakan ketenangan Jiwa, membersihkan nafsu hitam(lawwamah), nafsu merah (Amaroh), Nafsu Kuning( Shufiyah) menjadi Nafsu Muth`mainah/nafsu putih….. pandangan ke dalam jiwa atau bathin sudah tentrem, adem dan sumeleh pasrah/sifat dan sikap nrimo.

PENGERTIAN TASAWUF

Yaitu bersungguh-sungguh (dalam berbuat baik) dan meninggalkan sifat-sifat tercela (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 7).

Aslinya Tasawuf (yaitu jalan tasawuf) adalah tekun beribadah, berhubungan langsung kepada ALLAH, menjauhi diri dari kemewahan dan hiasan duniawi, Zuhud (tidak suka) pada kelezatan, harta dan pangkat yang diburu banyak orang, dan menyendiri dari makhluk di dalam kholwat untuk beribadah (Lihat kitab Zhuhrul Islam IV-Halaman 151).

Tasawwuf itu harus melalui Iman (akidah), Islam (syari’ah) dan Ihsan (Hakikat). Atau amal Syari’ah, Thoriqoh dan Hakikah. Maka Syari’ah adalah menyembah ALLAH, Thoriqoh adalah menuju ALLAH, dan Hakikah adalah menyaksikan ALLAH. Atau Syari’ah itu untuk memperbaiki lahiriah, Thoriqoh untuk memperbaiki bathiniah (hati), dan Hakikah untuk memperbaiki Sir (Rahasia diri). Memperbaki anggota tubuh dengan 3 perkata : Taubat, Taqwa dan Istiqomah. Dan memperbaiki hati dengan 3 perkara : Ikhlas, jujur dan tenang. Dan memperbaiki Sir (Rahasia Diri) dengan 3 perkara : Muroqobah (saling mengawasi antara diri dan ALLAH), Musyahadah (saling menyaksikan antara diri dan ALLAH), dan Ma’rifah (Mengenal ALLAH secara mutlak dan jelas).(Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 11).

Imam Malik berkata : Barangsiapa bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia telah kafir zindiq (pura-pura beriman), dan barangsiapa yang berfiqih tapi tidak bertasawuf maka dia telah (berdosa) dan barangsiapa yang mengumpulkan keduanya (fiqh dan tasawwuf) maka dia telah benar. (Lihat kitab Iyqo-zhul Himam halaman 6

Selain itu,eyang warsih juga banyak menceritakan tentang sejarah tanah pasundan.termasuk keraton yang kini telah pecah menjadi sejarah belaka,eyang warsih juga sering membawa serta jaka tolos masuk ke dalam keraton,tiap-tiap ada acara penting yang berhubungan dengan sejarah pasundan,untuk mengetahui dan menyaksikan langsung kondisi dan berubahan keraton peninggalan kakeknya pangeran damarjati.

Setelah di anggap cukup dan sudah tiba sa’atnya.lalu pada suatu ketika,eyang warsih memperkenalkan dan menceritakan tentang siapa jaka tolos yang sebenarnya. Kepada segenap keluarganya. Awal mulanya semua kaget dan terkejut,tapi setelah melihat dan membaca buku silsilah keluarga keraton.yang mencatat nama djaka tolos, membuat keterkejutan mereka tak berarti.dan pada akhirnya mau tidak mau,setuju tidak setuju. semua keluarga keraton mengakui dan mengijinkan jaka tolos untuk menjadi bagian dari keluaraga besar Pangeran damarjati sang pelopor kuno tersebut.

Tempatnya waktu masih kecil dalam asuhan para emban yang merawatnya dalam pengawasan pangeran damarjati.dan mulai sejak itulah jaka hidup di dalam keraton peninggalan pangeran damarjati kakeknya.yang kini telah brubah menjadi sejarah leluhur pasundan saja.di dampingi mang onang yang mengabdi dengan kesetia’anya yang tulus. serta tetap di bawah lindungan dan didikan eyang warsih, jaka hidup penuh aturan dalam keluarga

Djaka merasa seperti di kurungan penjara,tapi karena tekanan sari eyang warsih gurunya, dan hiburan dari mang onang,lama ke lama’an jaka jadi terbiasa dan betah juga,namun walau begitu, jaka tolos selalu waspada dan siap siaga serta berhati-hati dalam posisinya, karena sejak awal jaka sudah merasakan adanya musuh dalam selimut dan duri dalam daging. tentang para abdi dan keluarga yang sebenarnya tidak suka dan tidak setuju akan kehadiranya.untung jaka membawa bukti dari dewi arimi ibunya.yaitu sepasang pusaka kujang,yang merupakan lambang dan bukti keluarga siliwangi.

Kalau tidak,sudah tentu jaka tidak akan di terima oleh segenap keluarganya di pasundan  apalagi di akuinya,dan sejak tinggal di bersama keluarga besarnya,jaka mulai mempelajari tentang kehidupan di dalam keraton.juga selalu mengikuti kegiayatan2 dan pendidikan di keraton.namun di antara sekian banyak pelajaran yang di dapatnya dari dalam keraton,jaka tolos lebih condong untuk mempelajari ilmu ketabiban,yaitu masalah pengobatan tradisional kuno.peninggalan para leluhurnya.

Dan….djaka tolos pada akhirnya merasa puas dan bangga atas keberhasilanya itu,selain telah bisa membuktikan kata2 ibunya,jaka bangga karena telah berhasil meraih banyak ilmu pengalaman hingga dapat menyatukan dirinya dengan tanah jawa tempat kelahiranya. ,atas keberhasilanya ini,jaka tak lupa mengirim kabar kepada bapak dan ibunya sekeluarga di sulawesi.keluarganya pun memberi balasan tantang kebangga’anya dan ucapan selamat atas keberhasilanya

Hingga hari2 yang selalu di lewati oleh jaka selama hidup di tanah pasundan. merasa tenang,walau begitu,jaka tetap suka dalam belajar pengalaman,selain tetap mengikuti semua aturan dan pelajaran yang di adakan tetap di dalam keluarga.jaka tolos juga belajar di luar keluarga,pada salah satu kyai di pesantren, dan beberapa tokoh agama di sekitar wilayah pasundan.

Dan pada suatu ketika,jaka di temui lagi oleh kakeknya lagi, yaitu pangeran damarjati.yang kemudian berkata…..

{ raden jangan terlalu bangga dengan apa yang sudah raden dapatkan.karena itu baru seper empatnya dari pejalanan raden yang harus di lalui –

langkah raden di dalam perjalanan masih jauh dan panjang.untuk itu tetaplah siap siaga,tetaplah bergerak jangan pernah berhenti terlalu lama,agar cepat terselesaikan.dan yang paling penting,jangan sampai raden terlena.jika raden sampai terlena akan kesemuan dunia ini.maka seluruh dan semua para leluhur raden yang telah berharap besar serta banyak kepada raden,akan selamanya tidak sempurna di dalam ketersesatanya.raden adalah satu2nya harapan kami yang bisa kami harapkan.maka kakek bermohon.jangan kecewakan kami.dan kami akan selalu mengayomimu hingga semuanya berakhir tamat tak bersambung lagi.yaitu, sempurna raden….sempurna jati lah….yang sangat kami harapkan dari raden seorang,teruslah melangkah,teruslah berjalan,teruslah bergerak, teruslah bertindak.raden pasti kuat,pasti bisa,pasti berhasil,tidak jauh raden.dekat,sangat dekat,bahkan lebih dekat dari urat nadimu.maka jangan sia2kan,jangan tunda2 selagi masih ada waktu dan kesempatan }.

Kata kekeknya yang berusaha mengingatkan djaka, agar tidak terlena dengan sesuatu yang telah di raihnya

Kini jaka telah tau dan mengerti dengan apa yang di katakana oleh semua para leluhurnya sa’at menemuinya.itu sebab jaka dapat merasakan apa yang mereka rasakan.prinsip jaka.dia tidak boleh mengecewakan para leluhurnya itu,apapun resikonya jaka harus berusaha dan berjuang,walau bagaimanapun jaka harus melanjutkan sejarah para leluhurnya yang belum terselasaikan.

Semua sejarah dan segala sejarah yang berkaitan dengan para leluhurnya harus selesai hingga tamat.agar tak ada lagi yang menanggung lagi, untuk meneruskanya.dengan begitu mereka semua akan damai tanpa beban dalam perjalananya menuju kesempurna’an sejati.semoga saja,

Harapannya, semoga saja. setelah djaka tolos. tak ada lagi penerus sejarah berikutnya, karena telah di selesaikan oleh jaka seorang diri …..seperti itulah proses perjalanan jaka tolos dalam baladanya, tentang pencarian asal usulnya,di awali dengan lika liku yang tak menyenangkan,apalagi mudah dan gampang.walau dengan sebuah perjuangan yang tak mudah

Namun dengan tekad yang kuat dan hati yang sabar serta mau berusaha dengan apa adanya,tanpa politik dan rekayasa. Jaka berhasil menemukan titiknya,yang di idamkanya. ibarat kata mutiara,sejauh –jauhnya kerbau yang pergi.pada waktunya. akan kembali ke kandangnya lagi.setinggi-tingginya burung yang terbang,pada akhirnya pulang lagi ke sangkarnya……wassalam…

Setahun sudah jaka tolos tinggal di dalam lingkungan keluarga besarnya di pasundan. banyak pula yang telah berhasil di raihnya.ilmu pengalaman,ilmu adat istiadat,ilmu pengobatan,ilmu sare’at / tarekot / hakekat / tasawuf dan ma’rifat.juga ilmu olah kanuragan serta kebatinan dan jaya kawijayan pun berhasil di raihnya.lalu kemudian atas nama keluarga besar,jaka tolos di beri tugas untuk memperkenalkan dirinya kepada alam semesta, dan menyatukan jiwanya kepada persada bumi pertiwi.dengan cara berkelana sebagai musafir yang tanpa asal usul identitas serta bekal apapun.kecuali pakaian yang menempel di badan serta seorang diri.

Pengembara’an tersebut harus di jalaninya setanah jawa,tugas ini merupakan ujian bagi jaka untuk membuktikan kemampuan jaka tolos sebagai keturunan siliwangi.jaka sedikit gugup dalam menyanggupi tugas untuk yang pertama kalinya ini.lalu jaka mohon saran kepada eyang warsih gurunya.sang gurupun memberi restu dan saran.jaka di beri saran,agar di dalam perjalanan mengembara.melakukan ziarah ke makam para leluhur, para, pejuang sejarah,para wali dan tokoh2 ulama’.juga napak tilas ke seluruh keramat dan candi2 bersejarah. Kususnya di tanah jawa dan umumnya di luar jawa

Lalu dengan ijin dan doa sang guru pada hari jumat kliwon tgl 04/09/1992.jaka memulai perjalananya untuk mengebara.menguji kemampuanya sebagai keturunan siliwangi.mang onang yang tak mau pisah walau sekejapun.harus rela untuk berpisah sementara dengan jaka tolos demi tugas pertamanya tersebut.perjalanan itu di awali oleh jaka dengan berziarah ke pemakaman keluarga besar leluhurnya.

Lalu ke buyut dan kakeknya dan seluruh keluarga dan para abdi keraton,lalu pindah untuk berziarah ke makam syek datuh kafi atau syekh nurjati,ke patilasan wali 9.dan para pini sepuh sejarah pasundan,lalu berziarah ke pemakan keluarga di luwung ireng,lalu keliling ke makam para buyut dan ki gede di seluruh telatah tanah pasundan.trus ke astana gunungjati dan gunung sembung Cirebon. setelah itu dengan melewati jalur pantura jaka mengarah ke barat

Setelah singgah di,karang ampel.panguragan.indramayu dan sumedang lalu jaka istirahat di makam syekh quro’ kerawang.yang kemudian di lanjutkan lagi ke bekasi,bantar gebang, sunda kelapa,bogor.jampang,banten dan serang.

Lalu istirahat di telatah luar batang.kemudian ke badui.di pedalaman badui, jaka sempat tinggal beberapa sa’at untuk berguru

lalu ke ujung kulon dan berguru lagi pada eyang gelung.satu2nya sesepuh kuno yang masih hidup di wilayah ujungkulon.lalu jaka memutar ke arah selatan pandegelang hingga sampai ke curug sewu dan istirahat di gunung tangkil pelabuhan ratu suka bumi.lalu ke tangkuban perahu bandung.dan istirahat di makam syekh h,abdul muhyi pamijahan tasik Malaya.

Lalu ke pangandaran dan panjalu.lalu ke majalengka,raja galuh dan kuningan.di kuningan jaka tolos mendapat petunjuk untuk sowan ke gunung papandaean garut purwakarta.lalu ke alas gandaka dan istirahat di gunung tampomas sumedang.di goa kaki gunung tampomas jaka sempat istirahat cukup lama.karena kehabisan tenaga akibat musim kemarau yang banyak mematikan tumbuhan liar yang dapat di makan.di dalam goa jaka tolos menemukan penyipanan harta karun milik para leluhur,yang di simpan dalam ruangan goa yang sangat tertutup dan bahaya

Karena tempat itu telah di huni se ekor ular yang lumayan besar,setelah itu perjalanan di lanjutkan kembali ke arah selatan hingga menembus ke cilacap.lalu berbelok ke arah bumiayu,wangon dan istirahat di gunung putri.lalu di lanjutkan lagi ke ajibarang purwokerto dan istirahat di baturaden lereng gunung slamet.di sinilah jaka berguru pada salah seorang peduduk asing yang tinggal di lereng gunung slamet.lalu atas perintah gurunya itu jaka mendaki gunung slamet untuk mengambil rumput jalak yang tumbuh di tepi kawah gunung slamet,setelah berhasil,lalu jaka di suruh menjalani tapa pendem selama 21 hari di hutan gunung slamet

Setelah itu perjalanan di lanjutkan ke bumi jawa,terus ke walangsanga moga,randu dongkal,bobotsari,dan istirahat di makam syekh jambu karang di puncak gunung ardilawet purbalingga.lalu turun ke kramatsari untuk berziarah ke makam syekh ma’dum husain.lalu ke arah banyu mas dan singgah di pertapan jambe pitu gunung selok adipala perbatasan cilacap dan banyumas

Sa’at berada di pertapan jambepitu,jaka tolos di temui keluarga persiden untuk di ajak bekerja sama.dan terjalinlah sebuah perjanjian antara jaka tolos dan keluarga pejabat Negara tersebut.setelah itu jaka turun dari gunung selok untuk singgah di pertapan jambe lima dan jambe tiga yang terletak di bawah gunung selok.lalu mengelilingi 99 gua yang terdapat di kaki gunungnya,dan istirahat di goa ratu 3 hari di goa nagaraja 3 hari.setelah itu di lanjutkan ke gunung srandil untuk berziarah ke makam pangeran langlang buana

Dari sini jaka mendapat petunujuk untuk kembali ke karang lewas purwokerto.untuk sowan ke makam syekh ma’dum ali dan panembahan mangku bumi atau raden banjak blanak.setelah itu di lanjutkan lagi ke arah selatan,dan singgah ke makam mbah suci karanganyar,dan istirahat di makam raden jaka sanggrip di keraton bulupitu kebumen.lalu melintas ke arah utara menyebrangi hutan,menembus ke dataran tinggi dieng,setelah singgah ke kawah candradimuka,sumur jalatunda,dan beberapa candi keramat peninggalan leluhur

Djaka menjalani tirakat di goa semar yang kemudian menjalani tapa kungkum di telaga warna dieng.di sinilah jaka di temui kanjeng ibu ratu sekar jagat wijaya kusuma.kanjeng ratu menyarankan agar jaka menetap sementara di sekitar telaga warna,karena akan ada sesuatu yang akan di perolah.dan ternyata setelah seminggu tinggal menetap di sekitar telaga warna,jaka tolos bertemu dengan seorang gadis yang merupakan juru kunci di telaga warna ini.dia bernama RUMINI.anak ontang anting asal dari jepara,yang telah di angkat anak oleh kanjeng ratu.dan atas saran kanjeng ratu pula.lalu jaka dan ajeng rumini menikah

Setelah satu bulah pernikahan.lalu jaka melanjutkan perjalananya untuk mengembara sementara ajeng tetap dalam tugasnya menjadi juru kunci di telaga warna dieng.lalu jaka menuju gunung sundoro sundari di temanggung dan singgah berziarah ke makam syekh mekukuhan di gunung sumbing wonosobo.lalu turun menuju utara dan naik lagi ke gunung ungaran semarang.untuk napak tilas ke candi sewu yang lebih di kenal dengan sebutan,candi lawang atau gedong  9. peninggalan wali 9.lalu pindah ke gunung anoman dan singgah mandi di telaga dewi anjani di grobogan.

Lalu ke ambarawa,magelang dan singgah di gunung merapi jogja,lalu ke borobudur magelang dan singgah untuk istirahat di padepokan bukit manoreh.lalu naik lagi ke gunung wangi untuk berziara ke makam pangeran smono.lalu ke gunung kraton loano berziarah ke makam panglima gagak handoko dan gurunya gagak pranolo di gunung pring,lalu turun dan menuju ke istana girigondo wates,lalu ke bantul dan istirahat di masjid agung kauman ngayugjokarto.

Di sini jaka mulai merasakan kelelahan,tapi jaka merasa harus mampu.karena hal ini menyangkut nama keluarga besarnya.setelah beberapa hari istirahat,lalu jaka melanjutkan perjalananya lagi ke makam syekh jumadil qubro di sragen,lalu di lanjutkan ke istana imogiri,lalu ke wonosari dan gunung kidul dan istirahat di goa langse untuk berziarah ke makam syekh dumbo dan syekh belabelu,lalu ke goa cermai lalu ke goa gong dan goa tabuhan hingga tembus ke pacitan

Di pacitan jaka bertemu jodoh lagi dan lalu menikah dengan AMBAR WATI,putri tunggal dari pak narto sangit juru kunci goa iskendar gunung bawang pacitan.setelah 2 bulan menikah lalu jaka melanjutkan perjalananya lagi menuju ke utara,lalu singgah di goa jurang mangu berziarah ke makam ki surononggo,lalu ke ponorogo dan madiun dan berputar ke ngawi lalu istirahat di alas ketonggo.untuk napak tilas di pertapan sri ganti dan prabu heru cokro,lalu naik ke gunung lawu,turunya singgah di pertapan cemarasewu dan napak tilas di candi sasrabau,lalu ke candi sukuh dan candi cetho.lalu turun dan singgah di padepokan banyubiru,lalu melanjutkan lagi ke boyolali dan singgah berziarah ke makam pangeran samudra di gunung kemukus.

Lalu ke makam syekh jangkung pati.lalu menuju ke pamotan dan singgah di makam raden ayu kartini,lalu menembus ke caruban,lalu ke bojo negoro dan membelok lagi ke trenggalek dan malang,untuk berziarah ke pemakan bung karno lalu ke gunung kraton kawi,dan singgah di pesanggrahan waringin pitu malang.lalu ke kediri dan singgah di jombang untuk berziarah dan napak tilas di panataran tuban.

Lalu ke pasuruan dan intirahat di gunung arjuna untuk napaktilas.lalu ke bojo negoro,dan membalik ke alas purwo,ke situ bondo dan istirahat di goa pawon untuk berziarah ke makam syekh abdul faqih di dukuh kramat kec,songgon banyuwangi jawa timur,lalu kebali ke arah Surabaya dan singgah di makam sunan bungkul yang kemudian istirahat di makam sunan ampel denta Surabaya,lalu ke keramat bataputih dan istirahat lagi di makam habib hasbullah dan ki gede umar sumbo kenjeran.lalu ke makam sunan gresik di gresik.lalu ke makam sunan bonang di lasem dan istirahat di paciran lamongan untuk berziarah ke makam sunan drajat.

Lalu berjalan lagi menuju ke gunung bromo,lalu turun menuju ke juwana dan singgah di makam ki gede bangsri di kelet keling,lalu ke pertapan sambung oyod untuk napak tilas ke sejarah ratu kalinyamat dan singgah berziarah di makam ke gede mantingan jepara.lalu naik ke gunung muria untuk berziarah ke makam sunan muria,lalu turun menuju gunung mondoliko dan berdzikir di tepi pantai benteng portugis wilayah jepara.lalu menuju ke makam sunan kudus di kudus.lalu beralih ke arah barat menuju kadilangu untuk berziarah ke makam sunan kali jaga

Setelah istirahat beberapa malam lalu di lanjutkan lagi ke demak bintoro.lalu ke sayu dan istirahat di makam ki ageng pandanaran semarang.lalu ke Kendal dan singgah di goa singaraja di curug sewu sukorejo.di sini jaka tolos mendapat jodoh lagi,dari putri tunggal juru kunci makam ki ajar sewu,bernama neneng maryanti.yang di jodohkan oleh bapaknya dengan jaka karena sedang sakit keras,dan setelah menikah dengan jaka,sakitnya langsung sembuh.setelah 2 bulan menikah lalu jaka melanjutkan perjalananya lagi menuju Kendal,weleri,alas roban dan istirahat sambil berziarah di telatah ujung negoro.lalu ke wonobodro untuk berziarah ke makam syekh malik ibrahim.lalu ke bruno untuk napak tilas di keramat sunan bonang dan sunan kali jaga

Lalu ke makam ki gede atasangi dan ki empu supo juga ki gede rogoselo di kalibening,lalu naik ke puncak gunung petung kriono untuk napak tilas di telaga pakis,di telaga pakis ini jaka mendapat petunjuk untuk naik ke puncak gunung nyai basinga,dan atas ijin serta petunujuk juru kunci. jakapun nekad naik ke gunung basinga yang misterius di balik kabut yang gelap.di atas puncak jaka hanya mampu bertahan selama 7 hari saja,karena tak kuat melawan hawa dingi yang mencekam di atasnya.turun dari gunung jaka jatuh sakit lalu di rawat oleh juru kunci hingga sembuh seperti sediakala lagi

Setelah sembuh.putri juru kunci yang kedua jatuh cinta kepada jaka,dan minta di nikahkan.akhirnya menikahlah jaka dengan siti jubaidah anak pak marmo juru kunci gunung nyai basinga puncak petung kriono.setelah 3 bulan menikah,lalu jaka berjalan lagi menuju ke makam ki gede dukosewu lebakbarang,lalu ke tapak tilas syekh lemah abang di doro talun.lalu ke makam syekh pengiling gondo kusumo di buntu,dan istirahat di gunung sri, linggo

Lalu napak tilas ke gunung batok kramat,lalu ke goa watu ireng kandang serang.lalu ke telatah sapuro pekalongan,lalu ke makam syekh pandan jati bantar bolang pemalang dan istirahat di makam den bagus mas ringin doyong gunung gajah.dan istirahat di keramat mbah bentol kali tempuran tegal

Lalu melanjutkan lagi ke mundu dan istirahat lagi makam mbah kuwu cerbon girang.dan akhirnya pada hari senin tgl 06/06/1994.jaka berhasil tiba lagi di telatah tanah pasundan, tempat awal dia memulai perjalanan dalam lakunya dengan selamat

Kedatangan jaka tolos di sambut bangga oleh segenap keluarga atas keberhasilanya dalam menjalani ujian keluarga,setelah istirahat sepuluh hari lalu jaka tolos di berangkatkan haji sebagai hadiyah atas kelulusanya.sepulang dari haji jaka tolos di angkat sebagai juru dakwah di keluraga,sejak itu nama jaka tolos yang bergelar KH.TW DININGRAT mulai banyak di kenal oleh masarakat umum.selain dakwah di tempat tinggalnya dan kutbah rutin tiap hari jumat di masjid agung,jaka juga sering di undang untuk mengisi acara dakwah pengajian akbar di setiap majlis taklim kususnya di wilayah tanah pasundan

Djaka tolos yang berdakwah dengan mengambil tema dari gabungan tentang  antara ilmu sare’at dan hakekat yang berhias ilmu tarekot. banyak di sambut baik oleh semua masarakat muslim. kususnya yang pernah putus dalam mendalami ajaran agama.di sa’at jaka mulai di kenal masarakat luas,mang onang justru jatuh sakit hingga berakhir pada ajalnya.dan sejak di tinggal mang onang pendamping setianya,jaka jadi sering kesepian dia selalu mengingat akan ketulusan mang onang yang melayaninya dengan penuh kasih,di sa’at jaka sedang ganjil

Muncul kabar tentang surtinah uwaknya yang pernah merawatnya dulu,sedang sakit keras karena di tinggal jaka sekian lamanya tanpa kabar apapun.atas permohonan keluarga jaka datang menjenguk.dan sa’at di jenguk,uwak surtina mendadak sembuh dan minta di nikahi,jika tidak akan mengancam untuk bunuh diri.dan atas desakan keluarga lagi, terpaksa jaka tolos menikahi surtinah uwaknya tersebut.bersama’an dengan itu jaka tolos mendapat tugas untuk mewakili keluarga pergi ke brunai memenuhi undangan siraturrahmi dalam acara halal bi halal di kasultanan brunai

Dengan di dampingi eyang warsih,lalu jaka berangkat ke brunai Darussalam.setibanya di sana,jaka di beri penghormatan untuk beriktiyar mengobatikan putranya yang sedang sakit terkena diabetes.dan atas ijin tuhan jaka tolos berhasil menerima penghormatan tersebut,sepulang dari brunai atas kesaksian eyang warsih waktu di brunai,lalu jaka di angkat sekabagai tabib.dan kini kesibukan jaka tolos pun jadi bertambah

Sementara semuanya harus di lakukan oleh jaka seorang diri.sebagai seorang tabib jaka tolos harus siap setiap sa’at jika ada yang membutuhkan,jaka juga sering di undang keluar daerah untuk menangani pasien.di samping itu,pengajian2 di setiap majlis juga selalu sering membuat jaka nyaris tidak pernah beristirahat.dengan begitu lalu jaka mencari murid untuk di didik yang dengan harapan bisa membantu kesibukanya,jaka tolos mengangkat murid seorang pemuda desa bernama ato saifudin.dan semenjak mempunyai murid jaka jadi tidak terlalu sering di buat repot oleh setiap acara yang datang tiba2

Di tengah kesibukan jaka di kejutkan oleh peristiwa meninggalnya nyi buyut mariya neneknya,istri ki buyut sarpani yang tinggal di luwung ireng.lalu jaka bereta’jiah ke luwung ireng,karena di tmpat tinggalnya lagi banyak kesibukan,jaka tidak mendapat ijin untuk keluar.tapi jaka menentang larangan itu,karena bagi jaka,keluarga itu lebih Penting dari segalanya,pertengkaran antara jaka dan para segenap keluarga pun terjadi,tapi jaka tolos tak mau peduli.jaka tetap keluar untuk bertajiah ke luwung ireng atas meninggalnya sang nenek.

Sejak itu jaka mulai tau tentang apa yang di sebut perubahan di keluarganya,oleh eyang warsih.dan perubahan2 tersebut mulai sering muncul hingga di saksikan oleh jaka sendiri.setelah pemakaman nyi buyut mariyah neneknya,dan mengikuti tahlilnya selama 41 hari.jaka lalu kembali.lalu jaka tolos segera mengirim kabar atas berita duka itu pada madsalim bapaknya di sulawesi.

Kepulangan jaka sehabis tajiah,di sambut dengan cemberut oleh kerabatnya.karena di tinggal selama 41 hari,pemasukan keluarga mengalami banyak penurunan.tapi jaka tetap tak perduli.lalu jaka tolos mendapat undangan ke Jakarta untuk menangani seorang pejabat yang sedang sakit dan belum terobati.sepulang dari Jakarta,jaka menerima kabar balasan dari sulawesi.yang menyampaikan kalau madsalim bapaknya telah meninggal dunia setelah membaca isi surat dari jaka yang memberi kabar tentang nyi buyut mariyah ibunya telah meninggal

Hati jaka terasa di sambar petir.jaka tolos menyesali diri atas keputusanya mengirim kabar itu.andai tidak,mungkin ini tidak terjadi pula.satu karena bapaknya meninggal dunia,dua karena merasa bersalah,lalu dengan tergesa-gesa pula jaka tolos minta ijin untuk ke sulawesi pada sa’at itu juga, akhirnya jaka tolos harus mengalami perdebatan lagi dengan anggota keluarganya. karena jaka tolos tetap tidak mendapat ijin untuk ke sulawesi apapun alasanya.jaka tolos menjadi murka dan marah besar.semua yang ada di tempat itu di jadikan sasaran amarahnya.

Awalnya jaka tolos mendapat kan tantangan dari beberapa anggota yang kedudukanya lebih tinggi dari jaka,tapi setelah jaka mengeluarkan sepasang pusaka kujang warisan dari ibunya

Semua tertunduk diam tak berkutik sekalipun di hina dan di caci maki oleh jaka,dengan suara lantang jaka tolos berkata……{ akulah Raden tw diningrat, putra dewi arimi….!…cucu pangeran  damarjati….!….yang lebih berhak dari kalian semua untuk menentukan jalan hidupku sendiri…!….jadi jangan sekali-kali mengatur aku atau menghalangi niyat dan tujuanku….!…karena jika tidak benar aku akan menentangnya.siapapun dia…!…aku ke sulawesi bukan mau bermain atau mencari kepuasan se’enaku sendiri..!…aku ke sulawesi karena bapaku meninggal dunia….!…pikiran kalian ini kemana..!..perasa’an kalian kemana..!..kalian ini manusia bukan.orang muslim bukan….hah..!.atau memang sengaja memancing amarahku..!..ingi coba bertarung denganku..!..kalau iya silakan maju,apapun mau kalian aku ladeni..!..aku layani..!..ayo maju,kalau perlu semuanya …!..aku tidak mundur selangkahpun..!…jangan se enaknya sendiri,aku juga punya kuasa dan hak di sini,bahkan lebih kuasa dan lebih berhak dari kalian….}

Djaka melampiaskan semua uneg2 yang selama ini di pendamnya.tak satupun abdi yang berani angkat muka apalagi menjawab melayani jaka yang sedang meledakan amarahnya itu.lalu eyang warsih menghampiri jaka,mencoba menenangkan jaka,lalu esoknya jaka berangkat kesulawesi dengan menggunakan pesawat garuda Indonesia dari bandara sukarno hata cengkareng Jakarta.pada hari kamis bulan 11/1994

Setibanya di rumah sulawesi,jasad madsalim bapaknya sudah di makamkan.jaka menemuinya sudah dalam wujud makam,di samping makam sang bapak jaka tolos duduk tafakur untuk minta ma’af pada arwah sang bapak yang telang pergi menghadap ilahi.tiada henti2nya jaka berdo’a di samping makam madsalim almarhum bapaknya.untuk minta ma’af dan mendoakan arwah sang bapak agar di terima oleh allah serta di ampuni segala dosa2nya.setelah siang malam tanpa henti tak perduli panas dan hujan selama 90 hari jaka berdoa di makam madsalim bapaknya

Lalu jaka bermaksud memboyong sang ibu sekeluarga untuk kembali ke jawa,tapi dewi arimi menolak tak mau,dengan alasan sudah terlanjur bersumpah untuk tidak menginjakan kaki di tanah jawa lagi.dan ingin mati di makamkan di samping madsalim suami tercintanya.karena sang ibu bersikeras untuk tetap bertahan di sulawesi hingga ajal menjemputnya.jakapun tak bisa berbuat apa2 atas ibunya…..belum sirna perasa’an yang membuat jaka tolos menjadi larut dalam kesedihan yang panjang,sa’at jaka mencoba keluar rumah untuk mencari hiburan.di jalan jaka tolos bertemu dengan 5 orang teman lamanya.yang kemudian menceritakan tentang keburukan siti amidah istrinya,yang kini sudah kawin lagi itu

Selama jaka ada di jawa,katanya dia prustasi dan menjajahkan diri ke dunia seks,sementara suaminya malah ikut mendukung,mendengar kabar yang memalukan itu jaka emosi dan marah,kelima teman lamanya yang sedang bercerita tentang keburukan siti amidah secara bergantian itu,langsung di hajarnya satu persatu,hingga babak belur tak berkutik.lalu jaka seketika itu juga meluncur ke mayayap untuk membuktikan kabar tersebut,setebanya di tempat,tanpa basa basi lag jaka langsung bertanya pada siti amida,dan suaminya,karena tak ada yang mau menjawab

Kemarahan jaka langsung meledak lagi,di tamparnya wajah siti amida,dan di lempar juga suaminya dengan sbuah gelas hingga terluka.mendengar ada ribut2,tetangga pun salin berdatangan,jaka tolos lalu menghajar suami siti amidah yang di anggapnya tidak bertanggung jawab itu hingga terkencing-kencing,tak satupun yang berani membantunya pak tarjan yang tau hal itu,langsung ikut turun tangan untuk mencegahnya,tapi jaka justru beralih menyerang pak tarjan.tapi tiba2 serangan jaka tolos mendadak terhenti oleh suara siti amidah yang berteriak sambil menghadang di depan jaka

{ cukup…!…sudah…hentikan….,sebenarnya ini salahku mas….mereka tidak ikut dan tidak tau apa2,jadi kalau mas mau marah dan memukul,pukul aku…jangan libatkan mereka,lagi pula apa pedulinya dengan masalah pribadi ku,….sebenarnya,orang yang memberi kabar pada masa itu,adalah orang suruhan ku,karena aku ingin tau perasa’an mas yang sebenarnya,kini aku sudah dapat jawabanya,ternyata mas memang masih cinta sama aku,buktinya mendengar aku seperti itu mas cemburu.tapi kenapa waktu itu mas menolak keinginanku untuk rujuk kembali,kenapa…mas…jawab…!..bukankah mas masih cinta aku…,} kata siti amidah istri jaka

Djaka merasa telah di permalukan siti amidah di hadapan banyak orang,jaka menundukan kepala sambil meneteskan air matanya,lalu melangkah pergi.tapi siti amidah langsung mencegatnya…..jangan pergi dulu…mas…jawab dulu pertanya’anku,….dan jaka tolos menjawabnya hanya dengan satu kata,…{ karena aku tidak ingin menyakiti hati orang lain. }jaka memang masih mencintai siti amidah,bahkan sangat mencintainya lebih dari apapun,selamanya.bagi jaka,dia adalah yang pertama dalam hidupnya,dan sampai kapanpun taka ada yang bisa menggantikanya dalam hatinya yang paling dalam.terus jaka berlalu pulang kembali ke rusa kencana.setibanya langsung jaka berkemas hendak ke jawa lagi.bagi jaka silawesi terlalu banyak menyimpan kenangan pahit dalam masa lalu hidupnya,dan jaka tidak mampu untuk mengenangnya,tidak mampu.terlalu berat untuk di lalui,karena itu jaka tolos tak mau terlalu lama berada di pulau seribu kenangan pahit di masa silam itu

Setelah berpamit pada sang ibu sekeluarga,lalu jaka segera pergi menuju bandara kota palu.tapi di perjalanan jaka bertemu dengan sutari sahabat lamanya di waktu kecil dulu, dialah satu2nya saksi hidup tentang seribu kenanganya di sulawesi.sobari ingin ikut menyertai jaka kemanapun jaka akan pergi.dan di bawanya serta sutari ke pulau jawa.tapi dari sulawesi jaka tidak menuju ke pasundan.melainkan menuju ke medan untuk mencari suasana baru di pulau Sumatra,setebanya lalu jaka berdomosili di kota duri kepulauan riau,jaka menelusuri perkampungan2 terpencil,menemui dan mempelajari kehidupan mereka yang alami dan apa adanya

Pada suatu ketika jaka duduk berdikir di sebuah bongkahan batu keramat yang di yakini oleh suku pedalaman sebagai tempat bersemayamnya arwah2 para leluhur mereka.jaka di temui oleh pangeran damarjati kakeknya, entah untuk yang ke berapa kalinya  lagi,….{ raden cucuku….,jangan terlalu lama di tempat ini,di sini bukan tempatmu raden,raden harus kembali pulang ke pasundan.untuk meneruskan sejarah leluhur yang terputus hingga selesai.jika raden berada di sini,bagaimana raden bisa menyelesaikanya,….kakek mengerti dengan apa yang sedang engkau rasakan sa’at ini,memang berat raden,sangat berat.tapi menurut sejarah hidup yang telah tertulis,hanya raden yang mampu dan bisa untuk itu kami semua sangat berharap dan bergantung pada raden seorang }

Mendengarnya jaka terharu hingga meneteskan air mata, datanglah sutari menghampirinya, lalu bertanya. {…..ada apa kamu menangis seorang diri di sini santoso….?} tanya sutari,..{ tidak om….tidak apa2,saya Cuma terkesan akan masa lalu }, jawab jaka menyembunyikan jati dirinya, { om….om sobari benar2 akan mengikutiku dan selamanya bersamaku….?}.tanya jaka,….{ percayalah san…aku akan selalu mendampingimu kemanapun dan sampai kapanpun,karena di dunia ini hanya kamu yang aku miliki,kamu satu2nya orang yang pernah membuatku bahagia,kamulah orang yang paling aku kagumi dan aku banggakan di dunia ini }. jawab sutari meyakinkan jaka,..

{ om tidak menyesal jika sampai menderita bersamaku…?..}.tanya jaka lanjut, { percayalah…aku akan selalu ada untukmu dalam suka maupun duka }. jawabnya lagi.lalu setelah itu jaka tolos bersama sobari berangkat pulang ke pasundan,setibanya di, sobari terkejut   kaget setelah tau siapa jaka tolos yang sebenarnya.dan sejak itu sobari tak berani menatap jaka lagi,bahkan tidak mau bicara jika tidak di ajak bicara,sekalipun jaka sudah memberikan kebebasan,tapi sobari tetap dalam posisi hormatnya.

Di keraton jaka tolos mulai lagi di sibukan dengan semua kegiatanya sebagai seorang kiyai dan tabib di.jaka mulai berdakwah lagi di setiap majlis2 ta’lim dan acara2 kusus di setiap pengajian akbar yang sering di adakan oleh segenap masarakat di pasundan.selain itu,juga selalu sibuk dengan kebiasa’anya meracik tumbuh2han alam untuk di jadikan bahan jamu dan obat,selain itu jaka juga sering menerima undangan resmi dari para pejabat Negara untuk sebuah acara pertemuan penting di Jakarta,bogor dan bandung

Suatu sa’at,jaka di panggil oleh salah seorang artis ternama dan terkenal di Jakarta,untuk membantu masalah pribadi keluarganya,artis itu cukup kaya,karena selain menjadi artis,dia juga mempunyai banyak bisnis tingkat atas,namun dengan semua keberhasilanya itu,tidak merasakan bahagia,karena sudah 20 tahun lebih menikah belum juga memiliki keturunan sebagai anaknya,bukti dan hasil perkawinanya,atas kesepakatan dengan istrinya yang telah lama mendengar tentang jaka tolos,lalu mengundang ke rumahnya di perumahan cipayung Jakarta selatan.setebanya sesuai dengan keinginanya jaka mohon penjelasan atas hasil pemeriksa’an dari dokter.dan jaka terkejut sa’at mendengar penjelasan mereka yang mengatakan,menurut keterangan dokter,sang suamilah yang di nyatakan mandul tak memiliki benih keturunan

Lalu dengan tidak mengerti jaka berkata, { kalau dokter sudah memponis si pria yang mandul,saya juga tidak bisa,lalu apa maksudnya mengundang saya kemari kalau masalahnya sudah jelas seperti itu…?.},Tanya jaka.dan jaka lebih terkejut lagi sa’at mngetahui apa maksud mereka berdua.rupanya mereka sudah salin sepakat untuk menjebak jaka tolos,dengan menunjukan sejumlah uang,jaka di ajak kerjasama untuk salin  memegang rahasia,karena sang suami mandul,jaka tolos di minta untuk menggauli sang istri hingga positif hamil,lalu jaka pulang dengan membawa imbalan dan menjaga rahasia tersebut,begitulah rencana mereka,jaka menolak kerja sama yang di anggapnya konyol itu,tapi sang suami itu menodongkan senjata api di kepala jaka untuk memaksa

Jika jaka menerima kerja sama itu,maka jaka akan pulang dengan selamat membawa hasil,jika menolak jaka akan di tembak mati di tempat.dan karena paksa’an todongan itulah akhirnya jaka menerima kerjasama yang konyol itu.dan di mulai sa’at itu juga jaka di paksa untuk berhubungan dengan sang istrinya.dengan membaca kalimat istighfar yang tiada putusnya,jaka tolos terpaksa berhubungan dengan wanita itu di bawah todongan senjata suaminya,hampir setiap malam hingga tiga bulan lamanya jaka di paksa untuk melakukan hubungan tersebut hingga hamil

Di luar hubungan jaka tolos di kurung di dalam kamar,setelah di periksa dokter dan di nyatakan positif hamil.jaka pun di lepas dan di beri ilbalan yang tidak sedikit jumlahnya,tetap dalam kesepakan untuk salin menjaga rahasia tersebut,lalu jaka tolos di antar pulang ke pasundan dengan mobil pribadinya.sementara di pasundan yang telah di tinggal jaka selama 3 bulan lebih tanpa kabar karena dalam penyekapan di Jakarta, jadi berantakan.

Sobari yang selalu cemas dan takut akibat memikirkan jaka yang tak jelas kabarnya,jatuh sakit dan meninggal dunia sebelum jaka sampai di pasundan.setibanya di keraton hati jaka pun sedih dan menyesalkan semua kejadianya,kini jaka sepi sendiri lagi,tanpa pendamping yang selalu setia mengabdinya,di dalam kesedihanya jaka tolos menjadi larut tenggelam di dalam lamunanya,lalu jaka berpamit kepada gurunya, untuk keluar dari keraton dalam tujuan mengembara. tapi sang guru elang melarangnya,karena tau kondisi jaka yang sedang tidak konsentrasi itu.lalu sang guru menyuruh jaka untuk tirakat di makam para leluhur di gunung cangak.dan di makam para leluhur gunung tampomas

Djaka merenungi semua proses perjalanan hidupnya selama ini,sambil membaca dzikir di samping makam kakeknya, jaka mengalami perang sabil antara hati dan pikiranya.antara batin dan anganya,terkadang selaras namun terkadang bertentangan.jaka sering meneteskan air matanya karena tak sanggup untuk mengambil kesimpualan.terkadang di benturkanya kepalanya di kijing makam kakeknya,saking tak kuatnya lalu jaka tolos mandi tengah malam di 7 sumur keramat yang ada di sekitar gunung kramat, untuk meredam hawa panas yang sedang membakar jiwanya,setelah itu jaka menjalankan sholat sunah.yang kemudian di lanjutkan dengan dzikir,sambil berdzikir,hati jaka melintas ke dalam pikiranya sambil berkata.

{ aku sering menasehati banyak orang,untuk berlaku benar,sabar nariman dan welas asih,juga ta’at perintah tuhan,beribadah yang benar,serta mencegah perbuatan maksiat atau dosa,dan masih banyak lagi nasehat2 dan ajakan baik lainya yang pernah di ucapkan oleh jaka sewaktu dakwah,baik secara umum maupun secara pribadi,namun di balik semua itu jaka masih belum tau tentang yang sebenarnya,tentang yang sesungguhnya, tentang yang sejatinya,aku selalu menyuarakan dan memperkenalkan tentang tuhan,padahal aku sendiri belum kenal tuhan,jangankan kenal melihat saja  tidak pernah.lalu…..sudah benarkah aku ini..?…sudah benarkah apa yang sudah ku perbuat ini..?…sudah islamkah aku ini…?…,tidak….!.aku belum tau apa2.aku tidak pantas berdiri di atas mimbar menyeruakan tuhan.aku masih dangkal,bodoh,belum tau apa2.dan aku harus tau apa2 itu.ya….aku harus ambil tau tentang apa2 itu },karena, pasti dengan itu aku bisa tau,mengerti dan merasakan yang sejatinya,dengan cara itulah aku juga akan bisa menyempurnaka semua sejarah para leluhurku……}.

Itu kata hati jaka yang melintas dan berbisik pada pikiranya sa’at itu.lalu jaka bertekad bulat untuk mengebara memcari guru sejati,yang dapat menuntun hidupnya menemukan semua  yang di sebut hakekat hidup.setelah tau pasti tujuan jaka tolos yang sebenarnya, lalu dengan doa restu, sang guru melepas kan jaka untuk mengebara keluar dari keluarga. sa’at melepas kepergian jaka, sang guru berpesan, { jangan pernah melupakan asal usulmu raden,jika sudah selesai,segeralah kembali,karena disinilah kamu di butuhkan,disinilah tempatmu }.

Lalu jaka tolos menuju kota metro politan Jakarta.ibu kota Indonesia yang di kenal dengan dunia miliniumnya,jaka ingin tau rasanya jadi orang keras di kota besar,lalu pada tahun 1996 jaka mencoba bergabung dengan para preman di terminal kalideres,yang di awali dengan perkelahian terlebih dahulu dengan ketua yang memimpin wilayah tersebut.setelah menjalani hidup sebagai preman di kalideres,dan mendapat hiqmahnya,lalu jaka berpindah ke wilayah depok Jakarta selatan untuk membuka praktek pengobatan tradisioanal,yang kemudian berpindah ke lubang buaya,setelah posisinya sebagai paranormal di lubang buaya di gantikan oleh sahabat bernama shodiqin,yang menggunakan sebutan ki jaka bodo,lalu jaka beralih ke blok M.jaka ingin tau rasa jadi penjudi,lalu jaka bergabung dengan para ahli judi di blok M.hingga akhir tahun 1996.

Kemudian jaka ingin merasa kan jadi seorang gay,lelaki yang menyukai lelaki.jaka ingin merasakan hidup sebagai orang yang di tentang agama,juga ingin membuktikan apakah benar hal tersebut di laknat tuhan,lalu jaka bergabung hampir tiap malam di bar dan diskotic bersama para gay dan homo seksual.setelah merasa cukup dan telah tau seperti apa,lalu pada bulan 4/1997 jaka pergi ke Sumatra,jaka singgah di lampung tengah bergabung dengan para pecandu ganja,karena ingin tau rasanya,bukan sekedar katanya,

Lalu berpindah ke bandung untuk bergabung bersama rekan2nya dari lampung mencadi perampok.penodong,dan pecudang,di sini,sebagai pengembara yang mencari guru sejati dan makna hidup.jaka menghadapi masalah besar.sa’at merampok salah seorang pengusaha yang di kenal dengan keangkuhan dan kekikiranya,jaka tertangkap dan di hakimi masa,namun sebelum topeng yang menutupi wajahnya terbuka,dan masa menghujankan senjatanya,tiba2 muncul sang penolong,dia bergerak cepat menarik jaka dan membawa jaka tolos melambung melompati diding bangunan yang tinggi2 di kota bandung,dan berhenti di hutan pangandaran,jaka tolos terpesona sa’at mengetahui sang penolongnya ternyata seorang gadis yang berwajah sangat cantik,dan ternyata gadis itu adalah anak kandungnya,hasil perkawinanya dengan ratu gadis palawang di banggai sulawesi tengah.dia bernama DEWI KUSUMA WATI

Nama yang cantik secantik pemiliknya,untung jaka belum sempat mengutarakan rasa kagum dan cintanya pada gadis tersebut,karena dia lebih dulu memperkenalkan dirinya,jaka tidak pernah menyangka,kalau pernikahanya dengan ratu gadis telah membuahkan seorang anak gadis yang cantik itu,lalu di peluknya sang anak itu penuh kasih dan sayang.sambil bertanya ada apa sehingga sampai ke pulau jawa ini,ternyata sang anak dating ke jawa sesuai petunjuk dari ibu,karena memakasa ingin tau wujus bapaknya dan ingin bertemu secara langsung.jaka masih belum selesai memikirkan anaknya itu,kemudian muncul pula ratu gadis palawang istrinya,yang sengaja meyakinkan jaka, kalau itu memang anaknya

Kebahagia’an sesa’at karena pertemuan yang lama tak terjadi menghiasi taman wisata pangandaran malam itu.ratu gadi dan putrinya memohon agar jaka tolos mau kembali ke banggai,tapi jaka menolak karena proses perjalanan hidup belum berhasil,dan sang istri juga putrinya pun memaklumi.setelah perpisahan itu,lalu jaka pergi ke pulau dewata,yang di kenal dengan para turisnya sebagai wisata mancanegara,jaka ke sana ingin menjajahkan diri sebagai pelacur pria yang di sebut gigolo

Djaka ingin tau rasanya menjadi menusia penjajah seksual bebas,ingin menjadi sang petualang cinta.setibanya di bali pada awal tahun 1998,dengan modal telepon pribadi dan kerja sama dengan menejer di beac hotel di pantai sanur bali,jaka melayani para tamu hotel yang rata2 orang asing,untuk melayani nafsu kepuasan seksual mereka.dari petualang inilah jaka dapat meraih uang juta’an dolar dari setiap pelangganya yang memberi imbalan atas pelayananya yang cukup memuaskan mereka.hasilnya oleh jaka di simpan di salah satu bank swasta di Indonesia,jaka sempat terlena dengan penghasilan yang lebih dari cukup itu.tak perlu membuang terlalu banyak tenaga dan jauh2 pergi ke luar negeri,cukup di atas ranjang yang mewah jaka sudah bisa meraih berbagai mata uang asing,hingga membuat jaka tolos sempat terlena  lupa akan perjalanan yang memjadi tujuan hidupnya

Untunglah pangeran damarjati kakeknya segera datang menemuinya untuk menyadarkan  sehingga jaka secepatnya beristighfar,dan pada pertengahan tahun 1998 lalu jaka kembali ke pulau jawa,dan sowan di pesantren jobang,di sana jaka duduk bertafakur dalam kelaleanya, lalu jaka bermusawaroh dengan para kiyainya,lalu jaka pergi ke pasuruan. singgah ke tempat sahabatnya yang kini sedang mengajar di salah satu pondok pesantren di pasuruan.lalu jaka pergi ke bojo negoro juga untuk menemui sahabatnya karena rindu lama tak bertemu.

Di sini djaka tolos mendapat pelajaran tentang Serat sastra jendra hayuningrat. Dari guru sahabatnya yang di temui tersebut ;

1.

RAHASIA SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT

Rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwa Ting Diyu.

Dalam lakon wayang Purwa, kisah Ramayana bagian awal diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup. Bagaimana mungkin dua manusia sempurna melahirkan raksasa buruk rupa dan angkara murka ? Bagaimana mungkin kelahiran “ sang angkara murka “ justru berangkat dari niat tulus mempelajari ilmu kebajikan yang disebut Serat Sastrajendra.

Ilmu untuk Meraih Sifat Luhur Manusia. Salah satu ilmu rahasia para dewata mengenai kehidupan di dunia adalah Serat Sastrajendra. Secara lengkap disebut Serat Sastrajendrahayuningrat Pangruwatingdiyu. Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan. Pengertiannya bahwa Serat Sastrajendra adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan).

Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan. Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).

Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu. Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.

Sifat Manusia Terpilih. Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “

Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “.

Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”

Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.

Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“.

Serentak para dewata menunduk malu “

Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”

Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa. “

Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia” Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “

Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.

Betara Narada mengatakan “

Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 2 (dua). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “

Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.

Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya. Nun jauh, negeri Ngalengka yang separuh rakyatnya terdiri manusia dan separuh lainnya berwujud raksasa.

Negeri ini dipimpin Prabu Sumali yang berwujud raksasa dibantu iparnya seorang raksasa yang bernama Jambumangli. Sang Prabu yang beranjak sepuh, bermuram durja karena belum mendapatkan calon pendamping bagi anaknya, Dewi Sukesi. Sang Dewi hanya mau menikah dengan orang yang mampu menguraikan teka teki kehidupan yang diajukan kepada siapa saja yang mau melamarnya. Sebelumnya harus mampu mengalahkan pamannya yaitu Jambumangli. Beribu ribu raja, wiku dan satria menuju Ngalengka untuk mengadu nasib melamar sang jelita namun mereka pulang tanpa hasil. Tidak satupun mampu menjawab pertanyaan sang dewi. Berita inipun sampailah ke negeri Lokapala, sang Prabu Danaraja sedang masgul hatinya karena hingga kini belum menemukan pendamping hati. Hingga akhirnya sang Ayahanda, Begawan Wisrawa berkenan menjadi jago untuk memenuhi tantangan puteri Ngalengka.

Pertemuan Dua Anak Manusia. Berangkatlah Begawan Wisrawa ke Ngalengka, hingga kemudian bertemu dengan dewi Suksesi. Senapati Jambumangli bukan lawan sebanding Begawan Wisrawa, dalam beberapa waktu raksasa yang menjadi jago Ngalengka dapat dikalahkan. Tapi hal ini tidak berarti kemenanmgan berada di tangan. Kemudian tibalah sang Begawan harus menjawab pertanyaan sang Dewi. Dengan mudah sang Begawan menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga akhirnya, sampailah sang dewi menanyakan rahasia Serat Sastrajendra. Sang Begawan pada mulanya tidak bersedia karena ilmu ini harus dengan laku tanpa “ perbuatan “ sia sialah pemahaman yang ada. Namun sang Dewi tetap bersikeras untuk mempelajari ilmu tersebut, toh nantinya akan menjadi menantunya.

Luluh hati sang Begawan, beliau mensyaratkan bahwa ilmu ini harus dijiwai dengan niat luhur. Keduanya kemudian menjadi guru dan murid, antara yangf mengajar dan yang diajar. Hari demi hari berlalu keduanya saling berinteraksi memahamkan hakikat ilmu. Sementara di kayangan, para dewata melihat peristiwa di mayapada. “ Hee, para dewata, bukankah Wisrawa sudah pernah diberitahu untuk tidak mengajarkan ilmu tersebut pada sembarang orang “. Para dewata melaporkan hal tersebut kepada sang Betara Guru. “ Bila apa yang dilakukan Wisrawa, bisa nanti kayangan akan terbalik, manusia akan menguasai kita, karena telah sempurna ilmunya, sedangkan kita belum sempat dan mampu mempelajarinya “. Sang Betara Guru merenungkan kebenaran peringatan para dewata tersebut. “ tidak cukup untuk mempelajari ilmu tanpa laku, Serat Sastrajendra dipagari sifat sifat kemanusiaan, kalau mampu mengatasi sifat sifat kemanusiaan baru dapat mencapai derajat para dewa. “ Tidak lama sang Betara menitahkan untuk memanggil Dewi Uma.untuk bersama menguji ketangguhan sang Begawan dan muridnya.

Hingga sesuatu ketika, sang Dewi merasakan bahwa pria yang dihadapannya adalah calon pendamping yang ditunggu tunggu. Biar beda usia namun cinta telah merasuk dalam jiwa sang Dewi hingga kemudian terjadi peristiwa yang biasa terjadi layaknya pertemuan pria dengan wanita. Keduanya bersatu dalam lautan asmara dimabukkan rasa sejiwa melupakan hakikat ilmu, guru, murid dan adab susila. Hamillah sang Dewi dari hasil perbuatan asmara dengan sang Begawan. Mengetahui Dewi Sukesi hamil, murkalah sang Prabu Sumali namun tiada daya. Takdir telah terjadi, tidak dapat dirubah maka jadilah sang Prabu menerima menantu yang tidak jauh berbeda usianya.

Tergelincir Dalam Kesesatan.

Musibah pertama, terjadi ketika sang senapati Jambumangli yang malu akan kejadian tersebut mengamuk menantang sang Begawan. Raksasa jambumangli tidak rela tahta Ngalengka harus diteruskan oleh keturunan sang Begawan dengan cara yang nista. Bukan raksasa dimuliakan atau diruwat menjadi manusia. Namun Senapati Jambumangli bukan tandingan, akhirnya tewas ditangan Wisrawa. Sebelum meninggal, sang senapati sempat berujar bahwa besok anaknya akan ada yang mengalami nasib sepertinya ditewaskan seorang kesatria.

Musibah kedua, Prabu Danaraja menggelar pasukan ke Ngalengka untuk menghukum perbuatan nista ayahnya. Perang besar terjadi, empat puluh hari empat puluh malam berlangsung sebelum keduanya berhadapan. Keduanya berurai air mata, harus bertarung menegakkan harga diri masing masing. Namun kemudian Betara Narada turun melerai dan menasehati sang Danaraja. Kelak Danaraja yang tidak dapat menahan diri, harus menerima akibatnya ketika Dasamuka saudara tirinya menyerang Lokapala.

Musibah ketiga, sang Dewi Sukesi melahirkan darah segunung keluar dari rahimnya kemudian dinamakan Rahwana (darah segunung). Menyertai kelahiran pertama maka keluarlah wujud kuku yang menjadi raksasi yang dikenal dengan nama Sarpakenaka. Sarpakenaka adalah lambang wanita yang tidak puas dan berjiwa angkara, mampu berubah wujud menjadi wanita rupawan tapi sebenarnya raksesi yang bertaring. Kedua pasangan ini terus bermuram durja menghadapi musibah yang tiada henti, sehingga setiap hari keduanya melakukan tapa brata dengan menebus kesalahan. Kemudian sang Dewi hamil kembali melahirkan raksasa kembali. Sekalipun masih berwujud raksasa namun berbudi luhur yaitu Kumbakarna.

Akhir Yang Tercerahkan. Musibah demi musibah terus berlalu, keduanya tidak putus putus memanjatkan puaj dan puji ke hadlirat Tuhan yang Maha Kuasa. Kesabaran dan ketulusan telah menjiwa dalam hati kedua insan ini. Serat Sastrajendra sedikit demi sedikit mulai terkuak dalam hati hati yang telah disinari kebenaran ilahi. Hingga kemudian sang Dewi melahirkan terkahir kalinya bayi berwujud manusia yang kemudian diberi nama Gunawan Wibisana. Satria inilah yang akhirnya mampu menegakkan kebenaran di bumi Ngalengka sekalipun harus disingkirkan oleh saudaranya sendiri, dicela sebagai penghianat negeri, tetapi sesungguhnya sang Gunawan Wibisana yang sesungguhnya yang menyelamatkan negeri Ngalengka.

Gunawan Wibisana menjadi simbol kebenaran mutiara yang tersimpan dalam Lumpur namun tetap bersinar kemuliaannya. Tanda kebenaran yang tidak larut dalam lautan keangkaramurkaan serta mampu mengalahkan keragu raguan seprti terjadi pada Kumbakarna. Dalam cerita pewayangan, Kumbakarna dianggap tidak bisa langsung masuk suargaloka karena dianggap ragu ragu membela kebenaran. Melalui Gunawan Wibisana, bumi Ngalengka tersinari cahaya ilahi yang dibawa Ramawijaya dengan balatentara jelatanya yaitu pasukan wanara (kera). Peperangan dalam Ramayana bukan perebutan wanita berwujud cinta namun pertempuran demi pertempuran menegakkan kesetiaan pada kebenaran yang sejati.

 2.

DISKUSI KUNO SYEKH SITI JENAR DAN KI AGENG PENGGING

INI adalah diskusi spiritual tempo dulu antara kejawen dan islam yang disampaikan dua tokoh besar yaitu syeh siti jenar dan ki ageng kebo kenanga.

inti pertanya’anya adalah..{ dimanakah ALLAH itu ? ” }  Dan { dimanakah pintu kematian itu ?” }

Kangjeng Syeh Siti Jenar menanyakan kepada sahabat spiritualnya sekaligus sosok yg sudah dianggap sbg anaknya sendiri, yaitu Ki Ageng Pengging alias Ki Kebo Kenanga dengan menanyakan :

syeh siti jenar;

“Ana ing ngendi Allah ?” (Dimanakah Allah ?)

Ki ageng pengging;

Ki Ageng Pengging tersenyum, dia tidak menjawab namun malah melontarkan pertanyaan.

“Aneng ngendi dalaning Pati ?” (Dimanakah pintu kematian ?)

Keduanya terdiam, lantas tertawa bersama-sama….

Pertanyaan Kangjeng Syeh Siti Jenar, sebenarnya telah dijawab oleh Ki Ageng Pengging melalui sebuah pertanyaan. Kala Kangjeng Syeh Siti Jenar menanyakan DIMANAKAH ALLAH ?. Ki Ageng Pengging menjawab DIMANAKAH PINTU KEMATIAN ?

Pintu kematian tak lain ada dalam SANG HIDUP. Dari SANG HIDUP maka pintu kematian dan pintu kehidupan berada. ALLAH tak lain ada dalam SANG HIDUP/URIP. Karena ALLAH tak lain adalah HIDUP/URIP itu sendiri. Dan setiap makhluk merasakan HIDUP. Berarti ALLAH sebenarnya manunggal dengan seluruh makhluk.

Oleh karenanya keduanya lantas tertawa….

Dan manakala Kangjeng Syeh Siti Jenar kembali melontarkan pertanyaannya :

“Ana ing ngendi dununge URIP ?”(Dimanakah tempat SANG HIDUP ?)

Ki Ageng Pengging tersenyum dan menjawab :

“Ana ing galihing kangkung – Ana ing gigiring punglu – Ana ing tapaking kuntul anglayang – Ana ing susuhing angin ” (Berada dihatinya tumbuhan kangkung – Berada di sudut pelor/mimis – Berada di jejak burung bangau yang tengah terbang – Berada di tempat kediaman angin).

Dan kembali keduanya tertawa….hehehe..

Ada yang tahu tumbuhan kangkung ?. Tumbuhan Kangkung berlobang ditengahnya. Disanalah letak HIDUP.

Ada yang tahu sudut pelor/mimis yang buat ?. Sudut pelor/mimis yang bulat adalah semua bentuk tubuhnya. Disanalah letak HIDUP.

Ada yang tahu jejakn…kuntul mabur ?. di sanalah letak HIDUP.

Syeh Siti Jenar akhirnya memeluk Ki Ageng Pengging dengan penuh kecintaan luar biasa….

Tapi keduanya di eksekusi pemerintahan Demak Bintara dengan alasan MENYEBARKAN AJARAN SESAT dan HENDAK MENGADAKAN MAKAR KEPADA PEMERINTAHAN……

Konon ceritanya, keduanya menyempatkan waktu selama 3 hari untuk berdiskusi ttg pencapaian spiritualitas masing-masing. Kangjeng Syeh dengan Tasawuf Islam-nya sedangkan Ki Kebo Kenanga dengan ajaran Syiwa Buddha…Kangjeng Syeh bertandang ke Pengging, meninggalkan aktifitas mengajar para santri di Cirebon, dan Ki Ageng Pengging menyempatkan diri istirahat dari tugas-nya sebagai penguasa Pengging selama 3 hari….

Setelah tiga hari, mereka mendapatkan kesimpulan TAK ADA BEDA ISLAM DENGAN SYIWA BUDDHA. Dan diakhiri dengan membuat tumpeng Nasi Kuning sebagai simbol NING (HENING/JERNIH)-nya Kesadaran Spiritual mereka yang sudah mencapai ranah universal. Yang masih belum mencapai ranah universal, sukanya ribut mulu, berebut kulit semata…

Sepenuhnya adalah simbolik. Maul Hayat : Air Hidup. Tirta Manikmaya : Air Pusat Illusi, siapakah pusat Illusi, tak lain adalah HIDUP. Mereguk Maul Hayat atau Tirta Manikmaya, artinya telah MEREGUK KESEJATIAN HAKIKAT SANG HIDUP/TUHAN/ALLAH

Makanya, dulu Kangjeng Sunan Kalijaga saat mewejangkan huruf Alif sebagai lambang TAUHID, KESATUAN SEMESTA, TIADA LAGI YANG LAIN DIDUNIA INI KECUALI ALLAH. Dan manakala Alif diberi garis atas (Fatkhah) maka bunyinya “A”. Jika dikasih garis …dibawah (Kashroh) maka bunyinya “I”, dan manakala diberi tanda seperti huruf sembilan diatas (Dlomah) maka bunyinya “U”. Kangjeng Sunan Kalijaga menjabarkan bahwa ALIF adalah TUHAN/ALLAH/URIP/SANG HIDUP. Tanda baca adalah makhluk-makhluk yang merupakan bagian dari TUHAN/ALLAH/URIP/SANG HIDUP. Jika tanda baca ini dirangkai maka akan berbunyi “A-I-U ” alias ” AKU IKI URIP (AKU INI HIDUP). Jadi makhluk-Nya pun sebenarnya adalah SANG HIDUP pula

3
HADHEPANA MUKANIRA IKU MARANG INGKANG KATON RARAHINE, RARAHI KANG LUWIH KANG KATON SAWEHGUNG.
@ . artinya : adalah semua yang tampak di alam semesta merupakan ciptaan dan gambaran wajah Tuhan Yang Maha Esa.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku sadar dirinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu manembah kepada-Nya, dan hidup sesuai dengan tuntunan-Nya.

HENENG
@ . artinya : adalah kondisi internal seseorang dimana pikiran, perasaan, dan kemauan dalam keadaan diam total, sehingga ia mampu merasakan nikmat cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa yang berada dalam dirinya.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu tenang, arif, penuh cinta kepada siapapun dan apapun.

HENING
@ . artinya : adalah keadaan batin seseorang yang jernih dan bersih sebagai akibat telah diamnya secara total pikiran, perasaan, kemauan, sehingga ia mampu merasakan dan memancarkan cahaya cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa yang berada dalam dirinya ditengah-tengah sesama hidup.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku tenang, arif melakukan penghayatan agar dapat menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa.

KAWULA MUNG SADERMA, MOBAH-MOSIK KERSANING ALLAH HYANG SUKMA.
@ . artinya : adalah manusia sekedar menjalankan kewajiban segala gerak kehidupan yang ada kerena kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku segala gerak kehidupan yang dijalani merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

MANEMBAH
@ . artinya : adalah menghubungkan diri secara sadar mendekat, menyatu, dan manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

MANUNGGALING KAWULA GUSTI.
@ . artinya : adalah menyatunya secara total pikiran, perasaan, dan kemauan seseorang dalam cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa yang berada dalam dirinya.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku penuh cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan yang bagaimanapun.

MANUNGSA MUNG NGUNDHUH WOHING PAKARTI.
@ . artinya : adalah apapun wujud kehidupan manusia yang dijalani, baik atau buruk, semua itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku penuh cinta kasih kepada siapapun dan apapun, dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan yang bagaimanapun.

MOHON, MANGESTHI, MANGASTUTI, MAREM.
@ . artinya : adalah seseorang perlu sepenuhnya selalu memohon (mohon) kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mendapatkan tuntunan-Nya bagaimana seharusnya menjalani hidupnya didunai, disertai laku menyatukan pikiran, perasaan, kemauan ( mangesthi), manunggal dalam haribaan cinta kasih Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadikan seseorang berada dalam kondisi manembah secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa ( mangastuti) akhirnya seseorang merasakan bahagia, damai, tentram, dalam wujud aktualnya kepuasan spiritual ( marem).
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku selalu menjalani ibadah sesuai dengan petunjuk.
NARIMA ING PANDUM.
@ . artinya : adalah apapun wujud yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada dirinya diterima dengan penuh lapang dada.
makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku menjalani kenyataan hidup, apapun wujudnya, dengan tenang, gembira, dam damai.

Seusai belajar,jaka mrasa sangat prihatin,karena sang sahabat jatuh sakit,jaka sudah berusaha untuk beriktiar mengobatinya,tapi tuhan sudah menjatuhkan waktu wafatnya, sebelum meninggal,sahabat berpesan amanat.agar jaka mau menikahi istrinya bernama SITI AJIJAHTUN,dan merawat ke empat anaknya yang masih terlalu kecil,hingga setelah sahabatnya meninggal dunia, jaka terpaksa menikahi siti ajijatun istri almarhum sahabatnya sesuai amanatnya.

Dan jaka jadi terhenti selama satu tahun di bojonegoro,namun jaka tolos menyempat dirinya untuk mengelilingi seluruh tempat2 keramat di sekitar bojonegoro.di sini jaka tolos bertemu dengan orang ahli harta,dia berasal dari balik papan Kalimantan,seorang pengusaha tabang yang jatuh bangkrut,dan dating ke jawa untuk mencari jalan pintas tentang kesuksesan dunia,yang lebuh di kenal dengan sebutan pesugihan.orang tersebut sudah usaha keliling hungga ke gunung kawi yang terkenal itu,namunsampai modalnya habis belum juga membuahkan hasil.karena memaksa tak sudah tidak bisa di masuki nasehat,lalu jaka melantarkanya pada kanjeng ibu ratu sekar jagat wijaya kusuma sang penguasa laut kidul.

Setelah itu di suruhnya cepat pulang ke Kalimantan dengan membawa hasil tersebut.lalu jaka pada tahun 1999,jaka pergi mengembara ke gunung bromo,dan kemudian bertempat di tulungagung,kemudian ke sampang pulau madura.lalu mengembara lagi ke jepara,di jepara jaka tolos bertemu dengan sahabat2 baru yang semuanya korban dari ke bangkrutan usaha,dan lagi semuanya telah putus asa dan nekad dengan menghalalkan segala macam cara untuk meraih keberhasilanya kembali,ada yang minta di lantarkan ke bank ga’ib,ada yang minta ke ratu kidul,ada yang ingin ke dewi lanjar,ada yang minta di carikan tuyul,bahkan ada yang sampai nekad bermaksud mengorbankan anak istrinya untuk memuja nyai blorong.

Semuanya di layani dengan senang hati oleh jaka,yang masih bisa di sadarkan.jaka memberinya petuah dan nasehat,yang sudah tidak mempan dengan nasehat di lantarkan oleh jaka pada ke inginanya,dan dengan begitu jaka lalu banyak di buru oleh orang2 yang ahli maksiat,karena tak mau terlibat terlalu jauh pada kesesatan,lalu jaka mengangkat salah satu dari mereka untuk di jadikan sebagai murid menempati wilayah tayu,setelah di anggap sudah cukup mumpuni.lalu jaka tolos mengebara ke daerah istimewa jogjakarta.di sini jaka tolos sempat mempelajari ilmu kejawen yang di sebut sapta darma.dan di solo mendapatkan aji panunggal jati.di solotigo mendapat aji paweling jati,lalu ke wonogiri dan mendapat ilmu yang di sebut aji padmawara.

Dan pada akhir tahun 1999,jaka bertemu dengan keturunan persiden pertama Indonesia.bernama raden malikul kusno bambang utomo di bantul,bersamanya jaka melacak peninggalan bung karno yang di sebut uang brazil (UB),atas tujuan itu lalu jaka berkeliling hingga ke seluruh persada nusantara.dan sesekali mengadakan pertemuan di pesangrahan cemara sewu yang terletak di kaki gunung lawu,pertemuan yang di pimpin oleh pendampin pribadi bambang utomo yang bernama ki suro modo ismoyo itu,sering menciptakan suasana tegang antara jaka tolos dan ki suro,yang lebih di kenal dengan sebutan eyang lawu itu,di sisi lain,secara diam2 jaka juga sering mengadakan pertemuan pribadi dengan mantan kepala Negara yang baru saja jatuh dari kekuasa’anya,dan pernah menjalin hubungan kerja sama dengan jaka waktu di pertapan jambe pitu.

Pertemuan tersebut sering di adakan di istana giribangun tawangmangu karanganyar,yang terletak di sebelah barat kaki gunung lawu.walau betapa sibuknya jaka dengan segala urusan dan perjalananya dalam mengembara,sesekali jaka tolos juga pulang untuk menjenguk keluarganya,baik itu yang di kampung,maupun yang di keraton,juga murid yang di suruh menggantikan posisinya di keraton.sambil menjalankan dua misinya yang membantu orang2 ahli politik Negara.

Pada pertengahan tahun 2000 lalu jaka mengembara ke wilayah cilacap perbatasan antara jateng dan jabar,di sini jaka tolos sempat berziarah di goa singa barong yang terletak di pulau nusa kambangan.dengan menyewa perahu jaka pun di antar ke pulau tersebut untuk napak tilas,setibanya jaka merasa terkesan dan ingin tinggal beberapa sa’at di dalam goa itu.lalu setelah berpesan pada pemilik perahu untuk menjemputnya 3 hari kemudian.

jakapun menempati goa itu seorang diri selama 3 hari 3 malam.sa’at malam ke tiganya jaka duduk berdikir.jaka merasakan ada kedamaian yang tersembunyi di dalam goa tersebut,jaka merasa seunur hidupnya baru kali ini merasakan kedamaian yang luar biasa di rasakanya,dan karena kedamaian itu jaka tolos tertidur lelap di atas tempat duduknya,

Sa’at terbangun lalu jaka duduk di mulut goa menunggu tukang perahu datang menjemputnya,tapi hingga malam tukang perahu itu tak kunjung dating juga,sehari dua hari tiga hari dan sampai jaka lemas kehilangan keseimbangan tubuhnya,tetap tak ada yang dating menjemputnya,mungkinkah tukang perahu itu lupa,atau memang takdir perjalanan hidup jaka harus berakhir di goa singa barong pulau nusa kambangan ini.jaka pun tak bisa berbuat apa2 kecuali pasrah dengan segala kehendak tuhan,karena berminggu-minggu perutnya tidak kemasukan apapun kecuali angina,akhirnya jaka tolos jadi kehilangan kesadaran,hingga berada di antara hidup dan mati,pada sa’at dalam kondisi itu jaka di temui oleh sosok ga’ib yang berwujud manusia berbusana cahaya,dan jaka tolos mendapat wejangan tentang hakekat hidup yang sebenarnya,semua yang belum pernah jaka tolos dapatkan dari sekian guru yang pernah mendidiknya,di peroleh jawabanya,semua yang belum dimengerti dan belum di pahami tentang laku,juga di peroleh jawabanya,dan setelah semua di ketahui,di pahami,di mengerti dan di ketahuinya,jaka tolos hanya mampu menganggukan kepalanya dengan mengucapkan satu kalimat saja,yaitu…….O……..,

Lalu sambil tersenyum mengingat proses perjalananya selama ini,jaka berkata dalam hati,ternyata semuanya itu bukan yang sejati,bukan yang sebenarnya,bukan yang sesungguhnya,namun,walau begitu bukan berati sia-sia atau percuma tanpa guna,karena semua itulah jaka tolos bisa terantar ke proses ini,semuanya itu adalah perjalananya untuk bias sampai ke yang sesungguhnya,yang tak bisa di hindari oleh siapapun jika tuhan telah berkehendak.baginya,tidak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak tuhan,dan setiap kehendak tuhan itu,yang baik dari yang terbaik.dan jakapun sangat menghargai semua perjalanan proses masa lalunya.dan di warisi tutunan hidup yang sejati berupa wahyu panca ga’ib.

Pelajaran ga’ib tersebut di pelajarinya selama 90 hari kurang lebihnya,sebelum manusia ga’ib berselimut cahaya itu pergi meninggalkan jaka,jaka tolos di pesan.kelak jika sudah keluar dari goa ini.pergilah mencari makam M. SMONO SASTRODIDJOYO,yang terletak di gunung damar,dukuh kalinongko kelurahan sejiwan kecamatan loano kabupaten purworejo.untuk berjiarah.karena menurutnya,m.smono sastrididjoyo itu adalah manusia pertama yang menerima wahyu panca ga’ib dan telah menyebarkannya pada semua ahli laku di seluruh penjuru dunia.

Di sisi lain.pada sa’at itu ada salah seorang kepala dusun dari pedesa’an cilacap yang tak punya keturunan,pergi memancing ke laut,dan terdampar di sekitar goa singa barong, merasa aneh melihat goa tersebut,lalu tertarik untuk melihat dalamnya goa tersebut, setibanya di dalam,pak dadang si pelaut itu menemukan tubuh jaka tolos yang sedang tergeletak di atas batu yang semula di dudukinya,setelah di periksa masih hidup,lalu segera pak dadang membopong tubuh jaka ke perahunya dan membawanya pulang ke rumah,setibanya di rumah,jaka di rawat hingga sadar dan pulih seperti sedia kala,setelah salin bersua atas kejadian tersebut

Lalu jaka tolos dengan berat hati berpamit untuk pergi ke purworejo sesua dengan petunjuk yang di perolehnya sa’at di goa,pak dadang pun sangat paham dan mengerti akan jaka,dan dengan berat hati pula jaka di lepasnya dengan doa dan ketulusan restunya,setibanya di purworejo dan menemukan alamatnya,lalu jaka duduk bersilah di samping barat makam m.smono sastrodidjoyo,menghadap ke timur jaka mengamalkan kalimah2 panca ga’ib sesuai dengan yang di ajarkan kepadanya.7 hari 7 malam jaka tolos duduk tafakur di makam m.smono sastrodidjoyo gunung dammar,menjalankan amanah yang di perolehnya sa’at terdampar di goa singa barong cilacap.

Hari demi hari yang di laluinya selama satu minggu,semakin membawanya mencapai ketenangan jiwa raga dan lahir batin,semua beban yang psenah membelenggunya seketika sirna,segala masalah dan problema hidup yang selama ini mengikatnya, mendadak lenyap seketika,berganti dengan ketentraman,hingga merasa bebas merdeka tanpa beban apapun,pada malam yang ke 7 yang bertepatan pada malam senin pahing jaka duduk rutin tafakur di samping makam m.smono sastrodidjoyo

Dan tepat jam 01,00 malam,jaka mersa kan dirinya berada di alam yang berbeda,jaka bertemu dengan semua ahli qubur dan ahli makam yang berkaitan dengan dirinya salin berdatangan kepada jaka,untuk minta di tuntun tentang wahyu panca ga’ib,mereka adalah para lelulur jaka tolos,dan dengan tanpa beban apapun jaka menuntunya satu persatu hingga sempurna,dan setiap yang sudan sempurna dalam panca ga’ib,langsung sirna kembali ke pada asainya masing2,yang berasal dari air kembali menjadi air,yang asalnya dari api kembali menjadi api,yang asalnya dari angina kembali menjadi angina,yang asalnya dari sari2nya bumi kembali menjadi sari2nya bumi,yang berasal dari bumi kembali menjadi bumi,yang berasal dari suci kembali menjadi suci,yang berasal dari hidup kembali menjadi hidup,hingga tanpa bekas apapun

Dan tiba giliran bapaknya yang datang jaka tolos sempat terenyuh dan memohon ma’af dan doa restunya,setelah kejadian yang ajaib tersebut,jaka merasa bangga sekali,jaka merasa bahwa dirinya adalah manusia yang paling untung di antara yang beruntung, karena dalam usia dini tanpa susah payah seperti laku para ahli yang terdahulu,jaka tolos bisa menerima wahyu panca ga’ib yang di turunkan untuk yang terakhir kalinya oleh yang maha suci hidup,melalui raga almarhum m.smono sastrodidjoyo

Dan di midjilkan pada tahun 1955 yang telah silam.selesai sudah dengan kesempurna’an jati semua laku para leluhur yang menjadi tanggung jawab jaka tolos selama ini,yang di pikulnya selama ini,jaka merasa sangat puas dan plong serta ikhlas atas takdir yang di terimanya,kini semua telah selesai dengan ketamatan yang sempurna jati.kemudian sa’at sungkem siang seusai jumat,jaka mendapat petunjuk lagi agar mengembara ke pekalongan untuk memulai hidup barunya.karena di sanalah jaka tolos akan bertemu dengan para ahli yang juga memegang wahyu panca ga’ib dengan bermacam-macam dan beraneka ragam persepsinya

Djaka di pesan agar tidak terkecoh atau terpengaruh akan perbeda’an yang akan di temuinya di pekalongan,tetap idep madep mantep pada pendirian pribadi,tidak boleh merobah menambah atau mengurangi panca gaib tersebut,sabar nariman ing pandum,toto titi titis ing samubarang gawe,nang ning neng nung sa’at sungkem,ono opo2 kunci ora ono opo2 kunci dalam semua dan segala tindakan.apa adanya tanpa neko2.dan pesan amanah itulah yang pada akhirnya di jadikan senjata bagi jaka dalam laku pengembara’anya,demikianlah al-kisah sejarah perjalanan jaka tolos dalam mengebara mencari guru sejatinya,demi harapan para leluhurnya,hingga berhasil menyelesaikan sejarah para leluhurnya yang terputus karena ajal lebih dulu menjemputnya,hingga sempurna

Setelah itu sesuai amanah dan petunjuk jaka tolos ke pekalongan,untuk memulai membuka lembaran hidupnya yang baru,karena masih ada tugas yang harus di jalaninya lagi,yaitu sejarah hidupnya sendiri dan semua keturunanya sekeluarga.tiada henti2nya jaka selalu berharap dengan doanya,agar peran sejarah pribadinya ini tidak seberat sejarah para leluhurnya yang terdahulu,tapi walaupun berat jaka tetap akan menerimanya dengan ikhlas dan apa adanya,karena baginya tak ada satupun yang mampu menolak kehendak maha suci hidup.sebab dia maha di atas yang termaha.lagi pula jaka telah di beri senjata ampuh untuk bekal di perjalanan hidupnya,dalam menyelesaikan sejarah pribadinya sendiri.itulah prinsip hidup jaka tolos yang telah percaya diri dalam segala hal kemungkinan yang akan di laluinya setiap sa’at dan waktu.

Inilah pelajaran hidup yang tersebut Wahyu panca ga’ib. yg pernah di peroleh djaka tolos sa’at terdampar di goa singa barong cilacap.

TENTANG WAHYU PANCA GA’IB.

Pandangan Masyarakat.

1. Pengantar

Ada beberapa istilah atau sebutan yang dipakai oleh masyarakat, untuk menamakan dukun dengan sebutan: suhu, paranormal, kesepuhan, guru spiritual, dan sebagainya. Hal itu tergantung dari kepentingannya.

Jenis-jenis dukun, ada yang disebut: dukun cabul, dukun palsu, dukun santet, dukun bayi (dukun beranak), dukun sunat, dukun pengantin, dukun sangkal putung dan sebagainya. Hal itu menunjuk pada perilaku dan spesialisasi dari dukun tersebut.

Dengan terang-terangan, sindiran atau cara lain yang rasanya kurang simpatik, dari kelompok tertentu ada yang menganggap bahwa profesi dukun bertentangan dengan ajaran agama. Hal tersebut bisa dengan alasan yang mendasar maupun karena sentimen pribadi.

Sentimen tersebut biasanya hanya diarahkan kepada dukun secara perseorangan atau kelompok dukun secara kecil-kecilan. Artinya bila ada kelompok berkelembagaan besar, yang berperilaku seperti dukun, malah tidak menjadi sorotan atau sasaran dari sentimen tersebut.

Timbul juga dugaan bahwa sentimen tersebut muncul karena adanya kekhawatiran, kalau-kalau menyaingi hakikat dari suatu ajaran agama dalam realita kehidupan. Walaupun dalam hal lain, sentimen berbau kecemburuan kadang menunjukkan bahwa kemampuan menjabarkembangkan suatu paham masih kurang.

Maka tidak menutup kemungkinan, yang bersikap sentimen negatif kepada dukun atau kelembagaan seperti dukun, dia sendiri menjadi dukun atau memanfaatkan jasa perdukunan. Baik disadari atau tidak.

2. Berbagai Istilah

Dukun dengan sebutan suhu, biasanya diarahkan kepada dukun yang kebetulan Warga Keturunan Cina. Namun dengan berkembangnya pergaulan dan pembauran, dukun berlatar belakang pribumi pun disebut atau menyebut dirinya suhu. Walaupun pembauran perilaku lebih penting dari pada pembauran perkataan.

Sebutan dukun sebagai paranormal, dimana kata ini berasal dari serapan bahasa asing, mungkin dimaksudkan agar profesi perdukunan kedengaran lebih keren dan sedikit terangkat dari keterpurukan gara-gara sentimen negatif.

Dukun disebut kesepuhan yang berasal Bahasa Jawa yang artinya tua atau dituakan. Pada era 70-an, kebanyakan para dukun sudah berusia 40 tahun atau lebih. Mungkin ada kekhawatiran bila belum mencapai usia tersebut tidak akan kuat. Dalam arti perilakunya tidak mencerminkan ketuaannya.

Namun karena kemajuan jaman dan berkembangnya wawasan, boleh jadi dalam usia muda bisa saja menjadi dukun. Tentunya setelah melalui proses pembelajaran dan pematangan dari ajaran pedukunan. Dukun dengan sebutan kesepuhan seakan membawa resiko moral dan dapat “terhindar” dari sebutan dukun yang bertentangan dengan ajaran agama.

Meskipun modal dasar untuk menjadi dukun hanyalah mau dan mampu, namun ada tantangan kompetensi didalam meraih pangsa pasar. Dari hal inilah kadang ada dukun yang secara pamer, mempertontonkan kemampuan menyantet didepan kamera televisi. Dimana pamer adalah perilaku yang dianggap tabu oleh orang yang berbudaya timur.

Dukun yang suka pamer itulah yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama. Karena pamer terdorong oleh rasa sombong. Sedangkan sombong adalah biang dari segala dosa. Namun kesombongan sebagai sifat naluri manusia, sulit rasanya dibendung. Karena bersifat naluriah, maka manusia, apapun latar belakangnya, kemungkinan melakukannya. Termasuk juga manusia yang berpredikat Ustad, misalnya berlaku sombong dengan pamer kekuatan.

Pamer kekuatan dengan alasan Jihad Fi Sabilillah untuk membela Allah, atau berjuang di jalan Allah. Manakala ada peristiwa serangan terhadap negara atau kawasan Islam. Dengan berbondong-bondong mendaftar sebagai laskar jihad. Kenapa hal tersebut termasuk sombong? Sebab perilakunya melebihi kemampuannya dan diluar kewenangannya.

Bukankah perang itu operasi militer. Tentunya memakai segala peralatan canggih. Pemilihan perseorangan prajuritnyapun dengan saringan yang ketat. Mana mungkin orang sipil mampu. Kecuali bagi yang pernah memperoleh pendidikan militer dinegara asing secara ilegal.

Bukankah lebih tepat mewujudkan Rahmatan Lil Alamin dengan ikut membantu mencegah, membantu saat terjadi maupun sesudah terjadinya suatu bencana merupakan perjuangan di jalan Allah? Karena membantu para korban bencana adalah perilaku utama yang langsung dapat dirasakan oleh sesama hidup.

Bila ingin terkesan Jihad dengan perang melawan musuh, disekitar kita banyak musuh yang sulit dilawan. Berupa kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan keterbencanaan. Karena kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan keterbencanaan merupakan lawan dari sifat rahman dan rahim, maka perang melawan hal-hal tersebut merupakan Jihad yang sejati. Jihad fi Sabilillah Arrahman dan Arrahim.

Kesepuhan yang dimaksud adalah kedewasaan dengan tingkat kematangan jiwa. Namun kedewasaan dalam hal ini tidak sama dengan usia tua. Dewasa asal kata dewa dan rasa. Dewa artinya pancaran cahaya Illahi. Maka bagi yang sudah bisa menerima, merasakan dan mengamalkan pancaran cahaya Illahi itulah yang dimaksud dewasa.

Kedewasaan dalam hal ini dapat dicapai antara lain dengan cara memperbanyak rasa ingat kepada Tuhan. Dan sebaik-baik dari menyebut Nama Tuhan adalah dzikirullah. Dan tidak akan masuk neraka bagi yang menyebut nama Allah.

Ada dukun yang oleh para pasien pelanggannya atau penganutnya, disebut sebagai guru spiritual. Yang bisa dimintai pertolongan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada kaitanya dengan hal-hal kegaiban atau tak kasat mata.

Bila dukun memperlakukan para pasiennya dengan ramah penuh rasa kekeluargaan dan berhasil didalam memberikan pertolongan, tidak menutup kemungkinan akan datang lagi dengan membawa pasien baru. Pada giliranya akan membawa keakraban yang membuat kesan seakan-akan sang dukun sebagai orang tuanya yang kedua. Karena dalam kenyataan sehari-hari banyak orang atau keluarga merasa kehilangan orang tua kedua yang artinya kehilangan tokoh yang dapat diajak komunikasi dengan transparan dalam kepribadian.

Andai ada pelanggan tetap dari dukun, seharusnya dibatasi hanya pada rasa kagum yang wajar saja. Jangan sampai ada rasa memuja-muja secara berlebih-lebihan, seakan mempertuhankan dukun. Karena memuja selain kepada Allah berarti memberhalakan. Sikap memberhalakan memang dilarang oleh agama. Baik memberhalakan dukun, memberhalakan kyai, memberhalakan harta dan juga kedudukan.

Maka kekaguman pada sebatas rasa sebagai anak kepada orang tuanya. Dan etika anak kepada orang tua antara lain adalah bisa mikul dhuwur mendem jero. Artinya bisa memikul setinggi-tingginya kepada apa yang menjadi kebaikanya dan memendam sedalam-dalamnya apa yang menjadi kekurangannya sebagai manusia lumrah.

Hal tersebut bisa dengan cara mengkritik secara sopan dan mengingatkan secara santun, disaat suasana hati sedang tenang, misalnya dengan mengatakan:”… Bapak pernah mengatakan.. pernah memerintahkan,.. pernah melarang.. dsb”

Diantara pasien yang menjadi pelanggan tetap, menganggap si dukun sebagai orang tua yang kedua, kemungkinan ada yang berminat menimba ilmunya. Bila dia berhasil menjadi pewaris ilmunya, bila kelak berhasil didalam memberikan pertolongan kepada pasiennya, dia mendapat satu poin, maka gurunya mendapat dua poin nilai kebaikan dalam kematianya kelak.

Karena Pak Ustadz dan Mbah Kyai pernah mengatakan: “Bila mati anak adam, hilanglah semua amalnya, kecuali amal tiga perkara, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal yang soleh dan sadaqah jariyah.” Dalam hal ini pewaris ilmu mengamalkan ilmu yang bermanfaat, dan si dukun mengajarkan ilmu yang bermanfaat tadi kepada siswanya.

Ilmu yang bermanfaat tidak harus ilmu agama, tetapi tidak boleh bertentangan dengan agama. Meskipun agama sebagai sumber ilmu, bisa juga terpecah-pecah menjadi beberapa madzhab atau sekte yang saling berebut kebenaran aqidah.

Bermanfaat disini karena dapat memberikan pertolongan kepada orang lain. Dan jasa pertolongan tidak akan mendapatkan pasaran manakala tidak bermanfaat. Banyaknya pasien, merupakan bukti, bahwa jasa perdukunan punya pangsa pasar juga. Pangsa pasar untuk barang dan jasa apapun, dibutuhkan kemampuan bersaing dalam kualitas. Dan tak ada peraturan yang melarang dukun berebut pasaran dengan cara berlomba kebaikan.

Tetapi ada dukun yang terkesan alot bila diminta mewariskan ilmunya. Semua itu berujung pada kekhawatiran, bila muridnya lebih pintar, pada gilirannya nanti dapat mengancam pasarannya.

Dukun semacam itu mementingkan diri sendiri, dan akan selalu dihantui kekhawatiran kehilangan citra dan kharisma. Pada hal, ajaran apapun, bila sudah tertumpangi kepentingan pribadi atau kelompok, akan bergeserlah aturan dan norma, disesuaikan dengan pemaksaan kehendaknya, meskipun ajaran agama memesankan bahwa janganlah mengukur (ajaran) agama dengan kehendak pribadi.

Dukun yang tidak ingin kehilangan pasaran, haruslah rajin mengembangkan diri dengan banyak membaca tulisan, membaca suasana hati orang, membaca gejala alam dan juga belajar membaca denah kapal terbang yang hilang dan kapal laut yang tenggelam. Tentang membaca ini sebagaimana diwahyukan kepada Rasulullah dalam Surat Al Alaq.

Celakalah dukun yang memberikan pertolongan dengan pertimbangan tebal-tipisnya amplop. Juga oknum ustadz yang enggan dipanggil mengaji pada kali kedua, manakala kali pertama honornya tidak sesuai perjanjian, meskipun harusnya selalu mengingatkan kepada para pendengar dakwah, bahwa para Nabi didalam berdakwah tak ada yang menerima rupiah.

3. Jenis-jenis Dukun

Batasan istilah dukun kira-kira artinya, suatu profesi pelayanan masyarakat dengan menggunakan ilmu atau keahlian tertentu, dimana keahlianya itu diperoleh melalui pembelajaran secara tutur tinular antar pribadi.

Dikatakan profesi, karena kesulitan kami dalam memakai kata yang tepat. Pada hal profesi tertentu, sering membentuk kelembagaan dengan mengorganisasikanya. Namun sampai sekarang belum terdengar ada organisasi Persatuan Dukun Indonesia.

Karena proses pembelajaran ilmu perdukunan yang bersifat les prifat, maka belum ada jenjang organisasi persekolahannya. Keadaan semacam ini teralami sejak istilah dukun ini ada sampai dengan makalah ini dibuat.

Laku mirip dengan kegiatan perdukunan, baik yang tidak maupun yang ditayangkan di televisi, tentang misteri alam gaib, pemburu hantu dan sejenisnyapun belum ada Sekolah Dasar Alam Gaib, Sekolah Lanjutan Alam Gaib, Perguruan Tinggi Alam Gaib sampai menghasilkan Sarjana Alam Gaib. Dimana penayangannya di televisi, para penonton tidak tahu pasti, apa yang mereka lakukan itu benar-benar atau hanya sekedar bisnis siaran.

Benar dan tidaknya tayangan tersebut diatas memang tidak diperlukan, bila dilihat dari bisnis siaran, yang sudah barang tentu dirancang agar dapat menarik minat penonton untuk memperhatikannya. Meskipun ada juga penonton yang sempat menyeletuk: “Kalau sekedar jelalatan dan penampakan berupa trik kamera, akupun bisa.”

Memang ada bukti, ketika televisi ramai-ramai menayangkan kesurupan masal, tidak serta merta diikuti kepedulian dari yang punya acara mirip laku pedukungan yang disiarkan itu, ada upaya penyembuhan atas kesurupan masal tadi. Tidakkah kasihan kepada oknum ustadz yang berusaha menolong tetapi malah kesurupan juga.

Secara sinonim, kata dukun artinya kira-kira tukang atau pawang. Dukun cabul artinya tukang mencabuli orang. Dukung santet artinya tukang yang memberikan jasa penyantetan, yang konon korbannya bisa mati mengenaskan, mirip ditayangan sinetron bernafaskan keagamaan itu.

Sinetron semacam itu seakan memberikan gambaran kelak akan terjadi seperti itu. Kelak akan tejadi berarti meramal. Khusus dukun ramal, artinya tukang nujum. Namun bukan berarti pemapar mengatakan bahwa pengarang cerita sinetron yang kabarnya ustadz itu sebagai dukun ramal dengan menggunakan media sinetron. Karena biasanya membicarakan kejelekan pribadi seorang ustadz dapat memulai terpicunya konflik sara. Jangan pula sampai terjadi konflik antara dukun dengan ustadz, apalagi ustadz yang menjadi dukun.

Dukun palsu artinya tukang memalsukan, bukan dukun tetapi memplokamirkan dirinya sebagai dukun. Dukun pijat artinya tukang memijat badan lelah. Tentu saja bukan tukang pijat seperti di panti-panti pijat, dimana pemijatnya konon cewek-cewek cantik, yang terkadang malah “dipijat” oleh tamunya dengan meminta bayaran yang cukup tinggi. Agaknya pasien dipanti pijat itu lelah dan terlalu jenuh dengan keseharianya, yang sibuk mengobok-obok hidung sendiri yang belang.

Dukun sunat artinya tukang melayani permintaan jasa khitanan. Tempo dulu dukun sunat cukup laris. Dengan banyaknya dokter dan perawat yang memberikan jasa penyunatan, kini pemakai jasa dukun sunat hanya orang tradisional saja.

Sudah barang tentu ustadz dan kyai yang mengalami jaman dukun sunat, pernah juga meminta jasa penyunatan kepada dukun. Bila hal ini juga dilarang oleh agama, dimana mengakibatkan hilang ibadah shalatnya selama empat puluh hari, na udzu billahi mindzalik.

Istilah dukun yang dekat pengertiannya dengan kata pawang, yaitu dukun atau pawang ular, buaya, pawang hujan, pawang burung berkicau dan sebagainya. Meskipun pawang burung hanya mampu mengendalikan perilaku hewan burung, dan tidak bisa mencegah dan mengobati flu burung.

Dan berbahagialah, burung-burung piaraan para oknum pejabat, yang memperoleh layanan khusus sehingga dianggap bebas dari flu burung dan bebas pula dari pembantaian massal.

Unggas-unggas yang menjadi penyebab manusia tertular virus yang mematikan itu memang patut bila dibantai. Ini pandangan dari sisi kesehatan. Tetapi bila dilihat dari kepentingan pelestarian alam, perlu penelusuran mendalam tentang kebenarannya.

Pelestarian satwa liar demi keseimbangan alam, perlu disepakati bersama. Jangan sampai terjadi lagi bencana alam dan merebaknya penyakit endemik yang menyebabkan kesengsaraan. Kesengsaraan yang ditimbulkan tidak cukup hanya ditutupi dengan pakaian seragam para pejabat dan jubah para ustadz, yang biasanya digunakan untuk menutupi operasi satwa langka.

Penyakit yang menjangkit secara endemik dari ternak dan hewan piaraan, mungkin berasal dari satwa langka yang seharusnya bebas di habitatnya. Karena dipelihara dengan segala macam layanan hidupnya yang tidak lagi alamiah, maka tidak menutup kemungkinan tingkat ketahanannya menjadi berkurang. Karena perkembangbiakan, ketahanan hidup dan kematiannya adalah alamiah, dengan membentuk rantai makanan sebagaimana adanya.

Bagi yang rendah tingkat ketahanannya pada penyakit dan rendah pula upaya pertahanan hidupnya, akan sakit dan mati karena seleksi habitatnya.

Sakit, kerusakan dan kematian akan memberikan makanan pada koloni tertentu yang akhirnya akan terurai dan menyuburkan hutan. Kesuburan hutan yang pasti akan mencegah banjir dan tanah longsor. Karena pelestarian hewan dan tumbuhan liar erat sekali kaitanya, maka tidak mengheranan apabila ada semacam rentetan waktu antara bencana alam dengan penyakit endemik.

Dan berbahagialah, dukun yang berusaha memperluas wawasan sains. Apalagi yang bisa dihubungkan dengan Kitabullah, yang mengatakan bahwa: Anugerah berasal dari Allah dan musibah berasal dari manusia. Akan tetapi pemapar tidak berani mengatakan, bahwa pemelihara hewan liar adalah biang terjadinya bencana. Apalagi bila yang mengatakan hal tersebut adalah dukun yang berlatar PNS, sedangkan yang terkena kritiknya itu oknum pejabat, bisa terancam karirnya.

Pun juga tidak mengatakan, bahwa apabila kita secara kebetulan ada oknum pemuka agama dan pemuka masyarakat yang memelihara hewan liar itu adalah pemicu bencana dan penyakit. Sebab pemicu, penyebab dan biang antara keduanya, bencana dan penyakit, merupakan perbuatan keji dan mungkar. Yang sudah barang tentu perbuatan keji dan mungkar itu yang menyebabkan orang kehilangan hikmah dari ibadah shalatnya.

Lalu apa yang pemapar maksudkan didalam pernyataan ini? Hanyalah sekedar menanggapi kenyataan yang sedang melanda bangsa dan negara. Barangkali dapat menjadi sebutir pasir, dalam upaya pelestarian alam untuk mencegah bencana alam dan berbagai penyakit. Namun juga bukan berarti pemapar akan memplokamasikan diri, bahwasannya sikap mencintai alam dan lingkungan hidup adalah bagian dari jihad fi sabilillah.

Pemapar hanya ingin berusaha menjalankan apa yang pernah dikhotbahkan oleh para khotib, bahwa, amalkan ilmu bagi orang yang berilmu, amalkan harta bagi yang mampu dan amalkan tenaga bagi yang tidak berilmu dan berharta. Dimana hal itu merupakan kewajiban para hamba kepada khaliknya, tanpa pamrih memperoleh anugerah bagi pribadinya, selain hanya mewujudkan rahmatan lil alamin.

Dalam rangka ikut mewujudkan rahmatan lil alamin, tidak perlu digembar-gemborkan lewat mass media atau loud speaker. Tidak juga dengan cara berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai laskar jihad. Karena pemapar sendiri nyaris menyebabkan ibu pemapar mati sahid saat melahirkan. Dan ibu pemapar juga belum pernah mendaftarkan diri sebagai laskar jihad.

Dari sisi pengertian tentang dukun sunat, dukun pengantin, dukun pijat, pawang hujan, pawang burung dan sebagainya, agaknya bukan termasuk kategori dukun yang dilarang oleh agama. Karena kemungkinan tokoh-tokoh agama ada yang menggunakan jasanya.

Yang dianggap terlarang mungkin dukun yang dapat meramal nasib, meramalkan kejadian yang akan datang, mengerti masa lalu seseorang, terjadi kapan tsunami dan sebagainya. Pada pokok-dukun peramal. Karena konon, ramalan itu bersumber dari rencana Allah yang berhasil disadap oleh setan, dan selanjutnya dukun diberitai (baca diberi berita) oleh setan.

Perihal setan, malaikat, surga, neraka, kiamat dan sebagainya, adalah hal-hal yang bersifat supra natural, dimana manusia biasa tidak bisa menginderanya. Jelasnya, secara awam manusia sulit membedakan antara perilaku setan dan malaikat. Yang diketahui adalah kriteria sifat dari setan dan malaikat. Setan sebagai musuh nyata manusia karena suka menggoda. Sedangkan malaikat sebagai utusan Allah yang bersifat Gaib.

Dalam hal gaib, termasuk didalamnya setan, malaikat, jin, ruh dan alam gaib lainnya, menyatu didalam sifat kegaibannya. Dalam hal ini gaib yang baik dan yang buruk dalam satu keberadaan. Tentang baik dan buruk, selanjutnya diukur dengan rasa nurani.

Manusia hidup terdiri dari jasmani dan ruhani. Ruhani bersifat gaib. Maka apabila manusia mau memberdayakan daya gaib dari ruhnya sendiri, untuk menyingkap misteri gaib, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan mencapai kemampuan “ngerti sakdurunge winarah”, yang merupakan perolehan dari suatu laku, adalah merupakan upaya menggunakan hak kemandiriannya.

Para wali dan tokoh-tokoh legenda masa lalu yang bukan wali, sama-sama mempunyai kemampuan supra natural. Namun pihak tertentu mengatakan yang bukan wali, kemampuannya merupakan ilmu sesat. Walaupun kadang tidak jelas perbedaan antara yang sesat dan yang tidak sesat. Tetapi sebagaimana yang pemapar katakan didepan, seagama tetapi berbeda sekte juga saling tuding kesesatan, apalagi yang tidak seagama. Maka dari hal inilah dapat diketahui, tingkat kedewasaan seseorang dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Keesaan Tuhan.

Pada prinsipnya, shalat merupakan tiang agama. Shalat yang afdol dilakukan tepat waktu, dalam arti, mencegah perbuatan keji dan mungkar jangan ditunda-tunda. Bila sudah nampak kebaikan perilaku dan manfaat bagi orang lain, maka orang lain akan menirunya, tanpa harus digembori. Dan hal inilah yang dapat ditarik hikmah, bahwa sebaik-baik shalat, dilakukan secara berjamaah. Yang sudah datang pertama menempati tempat shalat pada shaf depan. Artinya yang sudah mendahului mencegah perbuatan keji dan mungkar, berada pada barisan terdepan dalam perilaku luhur budi. Yang demikian akan mempercepat dan memperlancar proses menuju rahmatan lil alamin. Menuju dunia yang penuh rahmat Allah, agar terwujud baldatun toyibatun wa robun gofur.

Bencana alam dan penyakit menimbulkan sakit dan derita lainnya. Dan kata para ulama: “Bukan muslim sejati, bagi yang menyakiti (hati) orang dengan lisannya dan menyakiti (jasmani) orang dengan anggota badannya”. Bila hadis tersebut diatas dijadikan tolok ukur, maka dapatlah diukur salah tidaknya bagi muslim yang menyiksa TKI, menyinggung perasaan orang dan berbohong. Apalagi yang melakukan aksi teror. Bila hal tersebut dikerucutkan, kelihatannya keadaan sekarang perlu mensejatikan orang muslim, agar menjadi suri tauladan dalam membangun rahmatan lil alamin. Bukan sekedar alim, alim pulasan. Sebagaimana terkidungkan di Serat Wedatama.

Anggapan bahwa ilmu dukun adalah ilmu setan, kenyataannya bukan hanya dukun saja yang dapat digoda setan. Semua manusia. Semua anak Adam. Apapun latar belakangnya. Tidak terkecuali oknum Menteri Agama, yang berusaha menggali harta karun di seputar Istana Bogor. Walaupun hasilnya hanya menggigit jari dengan resiko malu digelar.

Andai benar ada harta karun disana, berniat untuk mendapatkannya saja sudah berdosa. Hukumnya haram, kata Ulama. Pada hal target terkecil untuk orang yang paling awam dalam ihwal agama, minimal takut dosa dan tahu malu. Dari itulah maka perbuatan diatas tak takut dosa dan tak tahu malu. Takut dosa adalah ihwal habluminallah, sedangkan tahu malu adalah ihwal habluminanas. Tentang kasus upaya menggali harta karun diatas, secara habluminanas, bukan pribadi knum saja yang menanggung malu, tetapi melibatkan instansi yang nota bene Departemen Agama, suatu kelembagaan yang dekat dengan citra Islam.

Bila dukun dapat menasihati kearah kebaikan yang dapat diamalkan oleh murid dan kliennya, dengan sendirinya bukan ajaran setan yang diberikan, dan tidak ada alasan untuk dianggap menghilangkan hikmah shalat seseorang, manakala mendekatinya. Seperti dikemukakan didepan, bahwasanya perbuatan keji dan mungkar dapat dilakukan oleh siapa saja, bukan monopoli dukun saja. Perbuatan keji dan mungkar biasanya menumpang pada hawa nafsu. Maka terbuktilah kebenarannya, bahwasannya musuh terbesar umat manusia adalah hawa nafsu.

Dikatakan, manakala seorang muslim membaca: “audzubillahi minas syaitanirrajim”, akan terbebas dari godaan setan. Tetapi pengalaman pemapar berjalan bersama teman berlatar belakang ustadz, ditengah malam lewat kuburan yang konon angker, kebetulan malam Jum’at Kliwon. Pemapar sengaja bercerita hal yang seram-seram. Ternyata teman tadi lari tunggang langgang sambil membaca kalimah diatas dengan gemetaran.

Peristiwa kecil itu agaknya menjadi ukuran kualitas iman seseorang. Maka benarlah sabda Rasul: “Iman dahulu, baru Islam”. Kalau hanya gara-gara melewati kuburan saja, iman seorang ustadz sudah goyah, apalagi godaan yang lebih berat. Misalnya berlama-lama didalam goa untuk melakukan do’a dan ritual lain, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah di Goa Hira.

Bila seorang atau sekelompok orang (baca dukun), melakukan ritual ditepi pantai sebagaimana yang dilakukan Nabi Hidlir dan Nabi Musa, dalam rangka berupaya meningkatkan ketahanan iman dan mengagumi ciptaan Tuhan, janganlah dipandang suatu kemusrikan dan kemunafikan, sambil membuktikan lafal “audzubillahi minas syaitanirrajim” sangat mustajab apabila digunakan untuk berdo’a. jangan asal membaca do’a, tetapi dihayati dilubuk hati yang paling dalam dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kata orang, berdo’a yang memenuhi syarat kebenaran obyektif adalah dengan menggunakan bahasa hati nurani, tahu makna kata yang tersurat dan memahami hakikat yang tersirat. Bila di sertai penghayatan yang mendalam dengan penuh perasaan dihati yang selalu ingat kepada Tuhan, niscaya akan lebih sambung, ketimbang dengan sejumlah kalimat panjang yang membebani memori pada penalaran. Andai beban tadi merupakan hambatan, maka akan menghalangi kemampuan keheningan rasa. Dari itulah maka secara pengalaman pribadi, dzikirullah dan fikirullah terasa lebih sambung, karen ringannya beban yang harus dihafal.

Bila secara kebetulan ada tokoh yang melarang seseorang untuk meminta pertolongan kepada dukun, mungkin orang itu sedang dalam keadaan lupa, bahwa dirinya ketika sedang lelah meminta pertolongan kepada dukun pijat. Waktu khitan dikerjakan oleh dukun sunat. Jadi pengantin dirias oleh dukun pengantin, dan meminta pertolongan kepada dukun sangkal putung bila sedang terkilir.

Pemahaman sebagian orang awam, mana kala bukan dokter dan bukan paramedis, tetapi memberikan layanan bidang kesehatan, disebut dukun. Dan kenyataannya, dukun bisa berasal dari petani, pedagang, PNS, abangan, priyayi juga santri. Namun yang berasal dari santri lebih suka disebut taabib. Tabib dalam Bahasa Arab yang artinya dukun.

Bila dukun yang bukan berasal dari santri dikonotasikan jelek, maka mungkin anggapan itu lebih bersifat sentimen pribadi atau kelompok, yang berujung pada persaingan.

Dan persaingan semacam itu jugalah yang pada akhirnya membuahkan terpecah-pecahnya agama menjadi beberapa mahdzab. Dimana masing-masing mahdzab bersikukuh bahwa hanya merekalah yang paling benar dan calon penghuni syurga, yang lain akan masuk neraka.

Mungkin tak disadari, bahwa sikap ingin benar sendiri, termasuk mendahului iradah Allah, bahwasannya untuk menentukan siapa-siapa yang bakal masuk surga dan neraka, harus melalui proses “interogasi” oleh Allah. Padahal anggapan mendahului kuasa (iradah) Allah, sering dialamatkan kepada dukun.

4. Sasaran Sentimen

Bahwasannya perilaku seseorang biasanya menganut suatu sumber. Sumber itu diperoleh melalui para penentu kecenderungan. Penentu kecenderungan adalah seseorang atau sekelompok orang yang bisa diteladani. Dimana keteladanannya sudah teruji kebenarannya.

Para penentu kecenderungan tercakup didalam institusi kecenderungan. Contoh institusi sebagai penentu kecenderungan adalah: badan-badan keagamaan, organisasi politik, organisasi sosial kemasyarakatan dan sebagainya. Tokoh-tokoh penentu kecenderungan misalnya: para pemuka agama, pejabat pemerintah, para pengurus partai politik, para pengurus organisasi sosial kemasyarakatan dan tokoh yang dituakan di masyarakat. Termasuk didalamnya adalah keberadaan keraton.

Bila para dukun masih berkebiasaan menggunakan pusaka-pusaka seperti keris dan sejenisnya, toh dia sebagai penganut kecenderungan. Sumber kecenderungannya adalah Keraton Yogya, Solo dan Cirebon. Kebiasaan seperti itu, bila dilakukan oleh dukun ada yang menghujat, tetapi bila dilakukan oleh keraton, belum ada yang berani menghujat. Dan tidak menimbulkan reaksi apa-apa, meskipun menganggap kerbau hewan keramat dan disebut kyai.

Bila dukun melakukan ritual di goa, ada yang menganggap jelek, dengan tidak mengingat proses turunnya Surat Al Alaq. Bila dukun melakukan ritual digunung dianggap laku kejelekan, tanpa mengingat bahwa Nabi Musa melihat Cahaya Illahi juga di Gunung Tursina. Bila dukun melakukan ritual di makam keramat, dianggap jelek, tanpa mengingat bahwa ibadah haji sebagian rukunnya adalah ziarah ke makam para nabi. Bila dukun melakukan ritual dipantai juga dianggap jelek, tanpa mengingat bahwa pertemuan antara Nabi Musa dengan gurunya (Nabi Khidlir), juga ditepi pantai.

Perilaku dukun seperti tersebut diatas, adalah suatu bentuk perilaku budaya batin. Dimana perilaku budaya pada umumnya ada yang dibolehkan, meskipun nyata-nyata bertentangan dengan ajaran agama. Yaitu pengawetan jenasah Fir’aun di Mesir. Maka dari itulah, dengan perkataan lain, sasaraan sentimen negatif hanya diaarahkan kepada dukun sebagai kelompok kecil. Tetapi bukan berarti pemapar ingin mengatakan bahwa, kelompok penghujat dukun beraninya hanya kepada anak kecil.

5. Kesimpulan

Dukun sebagai pelayan jasa kepada masyarakat, tak dapaat dipertahankan keberadaannya, bila tidak mempunyai nilai guna dimasyarakat.

Dukun bisa berasal dari berbagai latar belakang.

Tidak semua dukun salah dan tidak semua dukun benar.

Sentimen negatif arahkan pada penentu kecenderungan dari perilaku dukun.

Masalah benar dan salah, semua orang bisa mengalami. Dan pernyataan salah atau benar yang adil adalah pernyataan dengan kebenaran yang obytektif dari seluruh aspek.

PANCA GAIB DAN ADIATMA

Yang dimaksud Panca Gaib adalah lima hal yang dapat menjembatani laku seseorang untuk mengetahui hal-hal yang bersifat Gaib, yaitu lima rangkaian unen-unen yang disebut : KUNCI, PAWELING, SINGKIR, MIJIL dan ASMA SEJATI.

KUNCI

Di dalam Bahasa Jawa artinya adalah:

Ambuka utawa amiwiti, piranti kanggo ambuka lan nutup, yang artinya membuka atau memulai, alat untuk membuka dan menutup.

Tinarbuka rasa kasuksmane kareben bisa ambuka pangerten kepriye sejatine kahanaNe Gusti Ingkang Maha Suci, kang ateges tinarbuka kabeh kang ana ing jagad gedhe lan jagad cilik, yang artinya: terbuka rasa Ketuhananya, agar bisa membuka kerahasiaan tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Suci yang juga berarti membuka semua yang ada didalam kerahasiaan diri pribadi sebagai mikro kosmos dan kerahasiaan alam sebagai makro kosmos.

Angisi rasa, raga lan nalar ing bab olah manunggaling Gusti kawula lan uga ing bab manunggaling jagad gedhe lan jagad cilik, yang artinya: mengisi raga, rasa dan nalar dalam hal olah dan laku didalam upaya menyatunya Tuhan dengan hambanya dan juga menyatunya makro kosmos dan mikro kosmos.

Nutup, kanthi pangerten nutupi reruwet kang asal saka ubaling hawa nepsu kang kudune tansah di kendaleni, jalaran yen diumbar bisa nutupi ras sesambungan gaib marang Gusti kawula, yang artinya: menutup, dalam arti menutupi keruwetanyang berasal dari luapan hawa nafsu yang seharusnya selalu dikendalikan, sebab apabila dilepas bebas akibatnya bisa menutupi hubungan gaib antara Tuhan dan hambanya.

Rukun, kanthi pangerten manunggale rasa marang manungsa, kewan lan tethukulan uga alam saisine, yang artinya: rukun dengan pengertian menyatukan rasa dengan keberadaan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dan juga alam seisinya. Anggap semua manusia itu saudara, dan anggap hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam adalah anugerah Tuhan yang harus dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran bersama.

Nunggal, kanthi pangerten; manunggalake rasa marang Gusti lan kabeh utusaNe kang asipat langgeng, yang artinya: menyatu secara rasa kepada Tuhan dan para utusaNya yang Bersifat langgeng.

Suci, kanthi pangerten; suci ing pangrasa, pamicara lan tumindak, amarga ati sanubari lan awak sakojur iku peparinge Gusti Ingkang Maha Suci, mula aja di gegampang kanggo amadahi samubarang kang sipate ora suci, artinya: Suci dengan pengertian; suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, karena hati nurani dan seluruh tubuh itu adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Suci, maka janganlah mudah mengisi dengan segala sesuatu yang sifatnya tidak suci.

Dadi, kanthi pangerten; bisa dadi apa kang dikarepake, manut tatanan kang samurwat lan saukur, kalamun bisa anggelar lan anggulung isine KUNCI, artinya: Menjadi dalam pengertian bisa jadi apa yang dikehendaki menurut tatanan kebutuhan dan kemampuan manakala bisa memahami apa yang tersirat dan tersurat didalam KUNCI.

Semua itu apabila bisa dijalankan dengan penghayatan yang paripurna, artinya apabila dapat menghayati dengan hening dari makna kata demi kata serta dapat menarik makna dari pemikiran yang mendalam tentang hakekat hidup, disertai keluhuran budi pekerti dan kehalusan perasaan yang berKetuhanan Yang Maha Esa dan bisa menarik makna yang terdalam dari yang tersirat dan tersurat di dalam KUNCI.

Anggelar artinya dapat menarik pengertian bagaimana yang boleh dijalankan menurut tatanan lahiriah, dan anggulung isine Kunci artinya adalah bagaimana cara menggunakan KUNCI sebagai sarana untuk menuju hening cipta dalam rangka mengupayakan menyatunya diri denga Tuhan Yang Maha Suci beserta semua utusanNya yang bersifat langgeng. Dan khusus tentang penjabaran lebih lanjut dari hal ini akan penulis paparkan pada kesempatan atau tulisan lain.

Apabila kunci dipelajari dengan dengan penghayatan yang paripurna, akan menghasilkan:

Weninge cipta, artinya heningnya cipta.

Tentreme nala, artinya tenteramnya pemikiran.

Rineksa ing kasucen, artinya terjaga karena kesuciannya.

Tatag ing sedya, artinya tegar dan berani dalam mencapai cita-cita.

Manteb ing tekad, artinya mantab didalam bertekad.

Tumata ing wardaya, artinya teratur jalan pemikiranya.

Rasa manunggal marang Gusti, artinya menyatu rasa dengan Tuhan Yang Maha Suci.

Adapun pengertian kata demi kata dalam kalimat KUNCI adalah :

GUSTI INGKANG MAHA SUCI, yang artinya: Tuhan Yang Maha Suci, sebagai tempat berlindung, sebagai asal semua makhluk dan sekaligus sebagai tempat kembalinya semua makhluk.

KAWULA NYUWUN PANGAPURA DUMATENG GUSTI INGKANG MAHA SUCI, artinya: saya memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Suci, karena sebagai hamba yang selalu berselimutkan dosa, senantiasa harus selalu memohon maaf dan ampun kepada Tuhan Yang Maha Suci dan selalu menyadari akan dosa-dosanya disertai rasa bertaubat tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosanya.

SIROLAH, artinya dzat halusnya manusia yang sumber rasa sucinya berasal dari Tuhan yang Maha Suci, Sirolah inilah yang menjadikan manusia mempunyai naluri kesucian atau fitrah, dan sirolah ini pulalah yang menjembatani hubungan manusia dengan Maha Gaibnya Tuhan Yang Maha Suci, Sirolah adalah unsur terkecil yang sangat halus dan lembut, akan tetapi mempunyai kekuatan yang amat besar.

DATOLAH, artinya dzat ragawi manusia yang berasal dari Tuhan Yang Maha Suci, Namun karena raga ini mempunyai banyak kelemahan, maka dari itu harus di jaga dan disayangi. Yang dimaksud lemah dalam hal ini adalah mudah terkena penyakit, mudah terkena musibah dan sebagainya. Maka harus selalu dipelihara sebaik-baiknya. Datolah ini adalah sebagai tempat bersemayamnya sirolah. Didalam Datolah mengandung unsur atau anasir sarinya: api, air, angin dan tanah, yang semuanya dalam wujud ether. Anasir-anasir yang berwujud ether ini apabila digerakkan menurut susunan molekul dan bentuk medan magnet dan diberdayakan orbit nucleus, biasanya dapat menimbulkan tenaga yang besar. Sedangkan cara menggerakkan ethernya adalah dengan membiasakan olah prana dan yama, atau olah pernafasan yang tekun dan teratur.

Ether dari anasirnya api cara membudidayakannya dengan mengendalikan hawa nafsu amarah, atau menurut bahasa jawa, aja gumampang ngandut sak serik, yang artinya jangan mudah memendam rasa marah, dan kata pak kyai, orang sabar adalah yang dikasihi Tuhan.

Sedangkan membudidayakan ether dari anasirnya tanah adalah dengan mengendalikan nafsu makan, dengan cara berpuasa seperti yang diajarkan agama, dan janganlah atau kurang benar kiranya apabila melakukan puasa diluar perintah agama. Maka pengendalian nafsu makan yang baik adalah, makanlah pada waktu makan, cobalah tinggalkan makanan pokok dan sekaligus tinggalkan pula lauk-pauk yang berasal dari unsur hewan. Kebiasaan ini oleh orang jawa dinamakan ngrowot, yang didalam bahasa sanskerta dinamakan AHIMSA. A artinya tidak dan Himsa artinya melakukan kekerasan.

Baik pula dilakukan sehari sebelum, pada harinya dan sehari sesudah hari lahir masing-masing, secara berkala dan lakukan pula saat diri mengalami kesulitan. Ahimsa sebenarnya mudah dan sangat ringan dijalankan. Dan karena boleh makan kapan saja, maka tidak boleh disebut puasa diluar perintah agama. Yang kadang-kadang dianggap berat dalam melakukan ahimsa adalah tidak boleh marah selama menjalankanya. Apabila terpaksa marah sebaiknya dibatalkan dulu, dan lakukan kali lain. Pantangan terberat kedua adalah tidak boleh membunuh hewan sekecil apapun secara disengaja. Ini semua karena mengambil pengertian bahwasanya Ahimsa artinya tidak boleh melakukan kekerasan.

Sedangkan cara membudidayakan ethernya anasir air adalah dengan melakukan latihan pengendalian nafsu birahi, dalam arti tidak boleh sembarangan melakukan hubungan seksual dengan yang bukan pasangan resminya, dan jangan pula melakukan hubungan seksual pra nikah.

Bagi yang sudah berumah tangga, lakukanlah hubungan suami istri sebagai kewajiban nafkah bathiniah dan demi kelangsungan melestarikan jenis. Maka lakukanlah hubungan seksual itu dengan memperhatikan waktu dan tempat yang terhormat. Waktu yang tepat untuk itu adalah lewat tengah malam. Karena pada saat itu sudah cukup waktu beristirahat, maka kecil kemungkinan untuk diganggu oleh apa dan siapapun juga. Karena orang yang berbudaya, didalam melakukan hubungan seksual, akan hilang konsentrasi manakala ada gangguan sedikit saja.

SIPATOLAH, artinya adalah segala sesuatu yang membentuk dasar-dasar perilaku atau tempramen manusia, berasal dari Tuhan Yang Maha Suci. Apabila Sirolah dan Datolah itu mengandung ether-ether sumber energi, maka sipatolah berfungsi sebagai alat penggerak dari energi itu, sesuai dengan sifat peralatan yang ada serta dibudidayakan dapat bergerak sesuai dengan medan magnet dan orbit nucleusnya, maka terbentuk penimbunan tenaga dalam bentuk daya linuwih atau kemampuan supranatural serta membawa sifat-sifat paranormal yang berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali, asal mau membudidayakanya.

Karena gerakan energi ether-ether tadi sifat dan bentuknya menyerupai gelombang radiasi yang mirip dengan medan magnet. Dimana sifat dan bentuk tadi berbeda-beda sifat khususnya untuk setiap orang, sesuai dengan jati diri masing-masing. Energi tersebut ada yang menyebutnya daya magnetisme tubuh atau bio elektrisitet. Antara magnetisme tubuh dan bio elektrisitet sering dipadukan dalam satu pengertian yang disingkat MB.

Apabila MB bekerja atas dasar naluri dan ditambah dengan kemauan yang positif, maka arah getaran dan frekuensinya akan menuju ke hal-hal yang positif juga. Keberhasilan dari itu semua, atau tinggi rendahnya tingkat keberhasilan sangat tergantung dari bagaimana perilaku orangnya, dalam arti tergantung kemantapan, kesungguhan dan ketelatenan. Maka kadang-kadang dari satu kelompok latihan yang satu ajaran dan satu tingkatan, hasilnya akan berbeda-beda tiap individu.

Salah satu unsur dari Sipatolah adalah naluri. Dimana apabila naluri ini juga dilatih dengan cara tersebut, bisa membentuk kekuatan supranatural juga. Contoh nyata dari kekuatan naluri yang biasanya akan timbiul dengan sendirinya, tanpa disadari dan tanpa pelajaran apapun, yakni bentuk kekuatan yang timbul karena hal-hal yang mendesak, yang karena keadaan memaksa atau mendadak tadi, lalu mendorong seseorang untuk bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.

Misalnya pada waktu memberikan pertolongan pada korban kebakaran, untuk mengangkat satu almari penuh isi, satu orang sekali angkat sambil berlaripun dapat dengan mudah dilakukan, dimana apabila dalam keadaan normal orang tersebut tidk mampu mengangkatnya. Contoh lain misalnya seorang pencuri yang kepergok dan dikejar massa, akan dapat dengan setengah sadar melompat jauh atau meloncat tinggi melebihi kemampuan biasanya. Atau lagi apabila seseorang yang secara kebetulan nalurinya mengatakan, bahwa pada hari itu akan ada tamu penting, ternyata benar, meskipun sebelumnya belum ada pemberitahuan.

Demikianlah sekedar contoh kekuatan naluri yang juga dimiliki pula oleh hewan. Kelompok lebah misalnya, dia akan menjauh apabila didekatnya ada kepulan asap api. Karena nalurinya mengatakan, hutan tempat mereka hidup, akan terbakar. Demikian itu lebah mampu membaca suasana hanya dengan kemampuan nalurinya, yang tidak berdasarkan nalar dan fikiran, karena memang mereka tidak memilikinya.

KULA SEJATINING SATRIYA/WANITA, artinya saya sebenarnya satria/wanita yang seharusnya sanggup menjalankan tugas-tugas yang diamanatkan oleh Tuhan kepadanya atau didalam bahasa jawa disebut: Wani ngayahi pakaryane Gusti, atau berani menjalankan pekerjaan Ketuhanan, dengan berlandaskan kemampuan didalam “Anggelar lan Anggulung” isine Kunci, dalam arti tahu apa yang tersirat dan tersurat didalam Kunci.

Disamping itu harus bisa menjalankan makna filosofis dari kata Satria. Yang asalnya dari akronim Sad Tri dan Ya. Sad artinya enam, Tri artinya tiga dan Ya artinya sanggup. Enam yang dimaksud adalah: eling, percaya, mituhu, sabar, rila lan narima. Yang artinya kepada Tuhan kita selalu ingat, percaya dan taqwa yang didasari rasa sabar, rela dan menerima. Tentang hal ini uraian yang lebih mendalam akan penulis sampaikan pada tulisan lain.

Sedangkan tiga hal yang terkandung dalam Tri antara lain: Tuhan Yang Maha Esa, Para UtusanNYa dan Manusia itu sendiri. Yang boleh juga dikatakan : Sukma Kawekas, Sukma Sejati dan Roh Suci. Dan kadang-kadang orang menganalogikan dengan Allah, Rasul dan Muhammad atau Bapa, Putra dan Roh Kudus. Atau dengan pengertian yang sangat sederhana dikatakan: Tuk ing Urip, Kang Nguripi lan Kang Diuripi. Yang tersirat didalam Tri tadi adalah kesanggupan menjalankan perintah Tuhan, melalui Utusanya Yang Bersifat Langgeng, agar menjadi manusia yang baik.

Apabila semua yang tersirat dan tersurat didalam Kunci, dapat dilaksanakan dengan penghayatan yang paripurna, maka orang tersebut bisa mencapai tataran Adi Kodrati atau kemampuan supranatural atas nama sang adhiatma. Dan konon kelak bisa Moksa disaat kematianya.

Adi artinya berlebih, atma artinya jiwa. Jadi adiatma artinya manusia yang hidupnya berkelebihan sifat jiwa besarnya dan tinggi didalam rasa dan naluri Ketuhananya. Sedangkan Moksa artinya memperoleh kebebasan jiwa dari belenggu hawa nafsu duniawi.

Menurut kepercayaan, percikan cahaya hidup dari Adiatma, bisa membias pada orang biasa yang juga dapat disebut seseorang menjadi Awatara atau titisan Adiatma. Untuk memperoleh titisan Adiatma tidaklah mudah, karena hal itu bukanlah hal yang dapat diperoleh secara kehendak hati dari yang bersangkutan dan dirinya tak benar-benar memproklamiskanya, dalam arti tidak benar bahwa seseorang adalah titisanNya.

Cirri-ciri titisan Adhiatma adalah sebagai berikut:

Selalu mendahulukan kepentingan Ketuhanan, Kemanusiaan, kebangsaan, Keadilan dan kebenaran diatas kepentingan pribadinya.

Kerap kali dikabulkan doanya, itu semua karena dekatnya rasa menyatu dengan Tuhannya.

Tinggi rasa Ketuhananya dan memahami Ilmu Ketuhanan walaupun tanpa berguru sekalipun, itu semua berkat dorongan nalurinya yang murni dan hal itu seakan akan suatu pembawaan, maka apabila dia memperoleh tuntunan Ilmu Ketuhanan dari guru misalnya, kemungkinan gurunya itu akan kalah tingkat rasa Ketuhanannya.

Tidak merasa bisa atau tidak pernah merasa memiliki ilmunya, akan tetapi sebaliknya selalu meras masih banyak ilmu Ketuhanan yang perlu dipelajari dan diamalkanya, secara singkat didalam bahasa jawa dikatakan: ora rumangsa bisa nanging bisa rumangsa.

Banyak dicintai oleh sesama manusia, baik pria, wanita, tua, muda dan anak-anak. Karena tidak pernah membeda-bedakan kemajemukan latar belakang kehidupan pribadi setiap orang.

Bersedia menolong kepada sesamanya, walaupun kebetulan kepada orang yang kebetulan membenci dan memusuhinya. Dan dari semua cirri-ciri yang terakhir dan tersendiri adalah:

Ada ciri-ciri khusus pada bagian-bagian badanya, berupa bercak merah keungu-unguan pada ketiak, atau bercak keputih-putihan pada lidahnya. Dan masih ada cirri-ciri lain yang tak dapat disebutkan disini, dimana atas cirri-ciri ini, dia sendiri tidak mengetahuinya sebelum diberi tahu oleh orang lain.

Dari ketujuh ciri-ciri titisan adiatma tadi yang penulis sebutkan terakhir, akan penulis paparkan pada tulisan atau kesempatan lain. Maka dari itu pengertian yang menyangkut dari ketujuh cirri-ciri tersebut apabila kurang satu saja dari antaranya, maka orang tersebut tidak bisa disebut titisan adiatma.

Berdasarkan teori teori sebab akibat atau Hukum Karma atau juga Karma Pahala, semua manusia kata orang Jawa akan “ngundhuh wohing panggawe”. Atau akan memetik buah dari perbuatanya sendiri. Karma artinya hukum yang mutlak, dan pahala artinya buah dari perbuatanya sendiri. Karma dari perbuatan yang baik disebut Subha Karma dan Karma dari peri laku jelek disebut Asubha Karma.

Subha Karma yang paling baik adalah apabila seseorang berhasil mati Moksa. Moksa berasal dari kata Mukti yang berarti terbebas dari belenggu hawa nafsu, seperti telah penulis singgung didepan. Dan Asubha karma terjelek adalah apabila mati seseorang menitis pada hewan.

Apabila seseorang berhasil mati Moksa, kepada Atma orang tersebut akan terbebas dari belenggu Samsara, yaitu harus menitis ke dunia, sebagai manusia lagi, dimana hidup didunia penuh derita dan samsara yang selanjutnya disebut sengsara dengan segala resiko kehidupan dunia. Sedangkan Atma dari seseorang yang mati Moksa, akan menyatu kembali kepada Tuhan dan tidak menitis lagi, kecuali ditugaskan oleh Tuhan.

Sebenarnya semua manusia diberi kesempatan untuk mati Moksa. Asalkan memenuhi syarat perilaku didalam hidupnya, yang sebagian seperti yang tersurat dan tersirat pada kalimat Kunci. Dan untuk mencapai tataran mati Moksa, semua orang oleh Tuhan diberi kesempatan menitis untuk merubah peningkatan perilaku kebaikan didalam hidupnya sampai dengan tujuh kali peringatan dariNya.

Tentang penitisan sampai tujuh kali, apabila dijelaskan secara sederhana adalah sebagai berikut:

ADI DAIWA

Yaitu Adiatma yang tanpa melalui proses menitis satu kalipun. Mungkin diciptakan demikian oleh Tuhan, untuk menjalankan tugas-tugas Ketuhanan. Adhi Daiwa diturunkan ke bumi sebagai utusanNya yang bersifat langgeng, dan kepadanya diberikan oleh Tuhan, suatu keajaiban-keajaiban diatas rata-rata manusia biasa. Pada pagelaran cerita pewayangan, orang tersebut dinamakan Maha Resi.

ADHI BATHARA

Yaitu manusia yang Atmanya berhasil lulus pada penitisan satu kali saja. Dalam arti menitis satu kali dan dapat menjalankan Subha Karma didalam hidupnya. Di dalam masa hidup yang hanya menitis satu kali itu, orang tersebut menjadi tokoh spiritual yang disebut Resi, kira-kira setingkat di bawah Maha Resi.

ADHI JAWATA

Yaitu Atma yang berhasil lulus mati moksa didalam penitisan sebanyak dua kali dan selanjutnya didalam hidupnya dapat menjalankan Subha Karma. Karena pada masa penitisan yang pertama belum berhasil, baru pada penitisan yang kedua dia berhasil menjalankan kesempurnaan dalam nilai keluhuran budi pekerti. Maka pada penitisan yang kedua kali itulah dia akan terlahir kembali sebagai manusia yang mempunyai kemampuan spiritual setingkat Pinandita, yaitu satu tingkat dibawah Resi.

ADHI BRAHMANA

Yaitu atma yang berhasil lulus mencapai mati Moksa didalam penitisan tiga kali, nantinya akan terlahir kembali sebagai manusia tokoh spiritual yang disebut Pandhita, yaitu setingkat dibawah Pinandhita.

ADHI KSATRIA

Adalah atma yang lulus berhasil mati moksa pada penitisan yang keempat. Kelak akan terlahir menempati jasad manusia yang bakal menjadi ponggawa negara atau negarawan. Mulai pada penitisan ini dan seterusnya belum bisa moksa didalam kematianya. Sedangkan pada penitisan yang pertama, kedua, ketiga dan keempat, atmanya sudah dapat disebut Adhiatma.

ADHI WAISYA

Adalah Adhi Ksatria yang mati, oleh karena didalam hidupnya kurang menjalani keluhuran budi pekerti, maka menitis dan memasuki jasad manusia yang bernasib hanya menjadi pedagang, petani, pengrajin, seniman dan sebagainya. Namun apabila Adhi Waisya berbuat keluhuran budi pekerti, kelak apabila mati penitisanya akan menjelma menjadi manusia dalam kelompok Adhi Ksatria.

ADHI SUDRA

Adalah Adhi Waisya yang mati, oleh sebab keluhuran budi pekertinya kurang, maka pada waktu menitis akan menjadi Adhi Sudra, yaitu orang yang rendah derajatnya karena miskin lagi bodoh. Namun apabila Adhi Sudra didalam hidupnya luhur budi pekertinya, dapat menitis menjadi Adhi Waisya.

ADHI BHUTA

Yaitu atma yang hanya lulus pada penitisan yang ketujuh. Sebenarnya pada penitisan yang ketujuh ini, seseorang sudah mendapat peringatan yang terakhir. Dalam arti tidak boleh tidak harus menjalankan nilai keluhuran budi pekerti, agar kelak apabila mati, atmanya akan menitis pada manusia pada kelompok yang setingkat lebih tinggi dari pada Adhi Bhuta, yakni Adi Sudra. Orang-orang yang termasuk dalam kelompok Adhi Bhuta adalah manusia celaka, pembunuh, terbunuh ataupun pemerkosa.

Maka apabila kebetulan dalam hidup kita sekarang hanya menjadi Adhi Bhuta, sebaiknya segeralah bertobat, dan perbanyaklah perbuatan yang bernilai keluhuran budi pekerti terhadap Tuhan, sesama manusia dan pelestarian alam, agar apabila mati kelak dapat menitis menjadi Adhi Sudra. Dan sebagai Adhi Sudra apabila didalam hidupnya berbuat baik, kelak bila mati akan menitis menjadi Adhi Ksatria dan seterusnya.

Sebaliknya apabila didalam hidup kita sekarang berhasil menjadi Adhi Ksatria, Adhi Brahmana, Adhi Jawata dan Adhi Bathara, dapat selalu mengamalkan keluhuran budi pekerti didalam keutamaan hidup dengan mengutamakan kepentingan Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keselarasan hidup, maka kelak akan menitis menjadi Adhi Bathara saja untuk peningkatan penitisan paling tinggi.

Karena manusia biasa tidak bisa menitis menjadi Adhi Daiwa, sekalipun dalam hidupnya dia berstatus sebagai Adhi Bathara. Dan sebagai Adhi Bathara didalam menjalankan nilai keluhuran budi pekerti untuk mempertahankan agar dirinya tidak anjlog didalam penitisan berikutnya. Oleh karena Adhi Daiwa, seperti dikatakan terdahulu, diciptakan langsung begitu saja untuk diturunkan kebumi sebagai utusan Tuhan.

Dari sedikit uraian tentang menitis atau reinkarnasi, maka timbul aliran kepercayaan yang menamakan dirinya Aliran Menitis. Dan mohon maaf, dari uraian tentang hal ini, terkesan penulis seperti memakai istilah ajaran agama tertentu, yakni Hindu. Penulis sendiri beragama Islam. Dan maksud dari tulisan ini sebagai salah satu bukti bahwasanya penyerapan khasanah budaya spiritual ataupun kebatinan kadang berakar dari agama dimasa lalu. Namun demikian mestinya tidak perlu berkembang menjadi agama baru. Dan sudah barang tentu tidak perlu pula bersikap seakan-akan menjadi pemeluk agama yang menjadi akar budaya spiritualnya itu, apabila kebetulan bukan agama yang dianutnya.

Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, hasil karya fisik maupun non fisik dari kegiatan keagamaan dimasa lalu, yang menjadi peninggalan sejarah, banyak yang diakui sebagai milik Bangsa Indonesia dan bukan hanya sekedar milik umat beragama tersebut, yang juga seharuisnya dilestarikan, seperti contohnya; candi-candi, makam-makam kuno, mesjid, keraton-keraton, kitab-kitab kuno, rontal dan sebagainya.

Dari uraian pada tulisan ini penulis bermaksud untuk untuk sekedar mewariskan salah satu contoh Percikan Khasanah Budaya Spiritual Jawa, walaupun tidak menjadi dan bukan suatu bukti sejarah, namun penulis menganggap sebagian yang masih relevan dengan tuntutan jaman, kiranya masih perlu diwariskan, khususnya pada ahli waris penulis sendiri, itupun bagi yang mau saja.

Dan sekali lagi kenyataanya, khasanah budaya yang tidak termasuk sebagai bukti sejarah, tetapi masih diwarisi secara turun temurun dan berurat akar cukup kuat, juga masih sering dilaksanakan, misalnya nama-nama instansi sipil dan militer memberi nama kesatuan-kesatuanya dengan mengambil kata atau kalimat yang berasal dari Kitab-kitab Kuno dari agama tertentu.

Dari hal itu kita semua sudah tahu adanya istilah-istilah tersebut seperti: Dewan, Menteri, Adhi Pura, Dwija, Kalpataru, Panca Ubaya Paksi, Bhineka Tunggal Eka, Panitera, Adhiyaksa Dharma Karini, Bina Graha, Tamtama, Binatara, Perwira dan sebagainya. Dan kesemuanya itu tanpa disertai sikap meneliti, dari agama apa istilah-istilah itu diambil.

NYUWUN WICAKSANA, Artinya memohon dapat berbuat bijaksana. Dan bijaksana ini menjadi pangkal tolak menuju keluhuran budi pekerti. Dan untuk menjadi orany bijaksana haruslah pandai membaca suasana rasa dan perasaan orang, seorang atau sekelompok, di suatu tempat pada waktu tertentu.

Jangan sampai mudah menyakiti hati orang, walaupun kemauanya tidak sesuai dengan kemauan diri kita, dan kemauanya belum tentu sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dengan demikian salah satu laku bijaksana adalah juga harus bermodalkan Psikologi Sosial atau Ilmu Jiwa Kemasyarakatan disertai selalu mengingat azaz individu sehingga akan dapat membaca suasana jiwa seseorang.

Bila bijaksana sudah dijiwai, maka apabila akan berbicara dengan seseorang selalu disertai keramahan dengan tawa kecil atau senyum yang benar-benar menembus sampai ke lubuk hati. Dari hal seperti ini kecuali orang yang ditemui merasa senang, juga diri kita mendapat keuntungan jiwa, karena salah satu upaya awet muda adalah murah senyum. Jangan tunjukkan pada orang lain bahwa kita sedang dilanda konflik misalnya. Jangan sampai sedang marah dengan salah satu anggota keluarga, lalu pada orang lain masih terbawa sikap cemberut dengan muka kecut.

Orang yang sudah terbiasa bijak dalam pergaulan, akan terbiasa pula mudah berkomunikasi karena sikapnya yang selalu dapat bertenggang rasa dengan orang lain. Dari mudah berkomunikasi banyak orang yang kenal dan suka kepadanya, yang pada giliranya akan timbul welas asih diantara mereka. Jangan pula didalam pembicaraan denga orang lain selalu membicarakan keadaanya sendiri, apalagi terkesan pamer pada apa yang telah dimiliki dan menjadi keberhasilanya. Karena sebenarnya semua itu sipat menuju kearah kesombongan. Padahal kenyataanya orang yang sombong, belum tentu benar-benar memiliki apa yang disombongkanya.

Dan sebenarnyalah sifat sombong menunjukkan sifat kekanak-kanakan yang haus pujian. Sifat bijak yang baik ini sudah barang tentu masih harus dapat mempertahankan prinsip kebenaran, akan tetapi jangan tunjukkan secara semata-mata bahwa kita sedang mempertahankan prinsip itu. Ambilah celah pembicaraan dan kemukakan secara prinsip dengan disertai dasar-dasar norma permasalahannya. Dengan demikian mereka yang kita ajak bicara akan beranggapan bahwa kita didalam berbicara enak di dengar akan tetapi sulit dibantah.

Mulailah berbicara dengan diawali kepentingan si lawan bicara, sesekali pujilah dia dengan tidak terlalu menyolok. Tanyakan kepadanya apakah anak isteri dan keluarganya sehat-sehat selalu, setelah dia berbicara dengan keakuanya sendiri, pada saat itulah waktu yang tepat untuk melakukan pujian kepadanya. Sesudah itu baru kita kemukakan maksud kepadanya.

NYUWUN PANGUWASA,artinya memohon kemampuan di dalam berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yaitu ngudi sampurnaning urip lan ngudi sampurnaning pati. Yang artinya mencari jalan menuju kesempurnaan hidup dan kesempurnaan bila mati kelak. Bekal untuk menuju kesempurnaan hidup adalah temen yang artinya bersungguh-sunguh dan bekal untuk menuju agar selamat diakhirat adalah kesucian didalam pikiran dan perbuatan, berlandaskan kehalusan perasaan yang selalu berupaya untuk menyatukan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalani semua perintah dan menjauhi semua larangannya.

Jangan sampai dengan berkedok agama digunakan untuk menipu dan mendustai orang lain. Maka dari itu upayakan berkah sebanyak mungkin, dan keselamatan didunia dan akhirat jangan pula dilupakan. Berkah yang banyak berupa harta benda yang berasal dari rejeki suci dan halal agar tercukupi hidup sebagai sarana untuk beramal didalam menjalankan keluhuran budi pekerti.

KANGGE TUMINDAKE SATRIYA SEJATI/ WANITA SEJATI, yang artinya untuk dapat berperilaku sebagai satriya atau wanita sejati. Karena pada dasarnya satriya sejati dan wanita sejati adalah Putra Romo. Kata Putra adalah akronim dari Bahasa Jawa Puput Ing Rasa yang artinya sempurna didalam berolah rasa perasaan. Sedangkan Romo berasal dari akronim Roh Mono, yang artinya Roh Tunggal yang berasal dari Tuhan Yang Maha Satu.

Dan apabila Putra Romo disebut sebagai Wayah Kaki, maksudnya akronim dari kalimat Wani Angayahi Kawula Anggayuh Kagem Ing Pangreh(Gaib), yang artinya berani menjalankan sebagai hamba ingin mencapai sesuatu agar dapat selalu berkomunikasi dengan gaibNya Tuhan Yang Maha Gaib.

Pada pokoknya, seperti telah disinggung didepan, pada dasarnya wanita sejati dan satriya sejati adalah calon-calon yang kelak akan menitis sebagai Adhi Atma, manakala mampu anggelar lan anggulung isine Kunci.

KULA NYUWUN KANGGE HANYIRNAAKE TUMINDAK INGKANG LUPUT, Artinya saya bermohon agar dapat menghilangkan perbuatan yang jelek. Sebagai penutup kunci kalimat ini menandaskan, bahwa semua yang diderita sekarang adalah berasal dari perbuatan atau sebab akibat dari perilaku hidupnya di masa lalu. Ini semua dengan tujuan agar penitisan pada kehidupan nanti dapat lebih baik.

Maka pada kehidupan yang sekarang kita seharusnya selalu memohon agar dapat selalu berbuat baik dengan menyingkirkan perilaku yang jelek dan bahkan memusnahkanya, dengan maksud agar penitisan berikutnya dapat meningkat, sesuai dengan prinsip hukum sebab akibat yang juga disebut Karma Pahala atau yang secara umum disebut sebagai Hukum Karma yang selalu pas antara yang diperbuat dengan akibatnya.

Demikian sedikit penjelasan tentang isi Kunci. Dikatakan sedikit karena apabila isi Kunci dijabarkan secara lebih mendalam, akan berupa uraian ilmu Sangkan Paraning Dumadi yang artinya Asal Muasal Semua Kejadian, yang didalamnya termuat juga Ilmu Sangkan Paraning Urip atau Asal Muasalnya Sanmg Hidup.

PAWELING

Yang artinya dalam Bahasa Jawa; ngelingake utawa angosikake, didalam Bahasa Indonesia artinya; mengingatkan atau mengisyaratkan, agar dalam diri ini:

Tumata dayaning raga, yang artinya teratur kekuatan raganya. Dalam arti tidak terlalu membuang sumber tenaga untuk hal-hal yang tidak berguna akan tetapi dengan sumber tenaga yang secukupnya, dapat berhasil dan berdaya guna sebaik-baiknya.

Tumata dayaning cipta, yang artinya teratur daya ciptanya. Tidak menghamburkan daya ciptanya dengan cara yang tidak tepat dan dalam bentuk daya cipta yang kurang baik. Maka tidaklah benar apabila daya cipta dipergunakan untuk merencanakan kejahatan dan ketidakbergunaan dengan menjiplak daya cipta orang lain dan tidak menghargai.

Tumata dayaning rasa, yang artinya teratur dan terarah rasa perasaanya. Rasa sedih misalnya, kita Abdikan kepada Tuhan Yang Maha Suci, sebagai bagian Tapa Brata. Rasa gembira kita abdikan kepadaNya sebagai pengakuan atas anugerahNya yang wajib disukuri selalu. Serta jangan selalu menghambur-hamburkan rasa perasaan yang tidak enak, oleh sebab itu janganlah berhenti didalam keadaan ketakutan, kesedihan, kebingungan dan sebagainya.

Apabila merasa sedih, bingung dan takut segeralah berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, disertai upaya mencari jalan mengatasinya. Apabila tidak bisa diatasi sendiri, mintalah bantuan orang lain dan tidak lupa selalu berdoa.

Dengan demikian kita selalu mengakui bahwa manusia bersifat lali, luput lan apes yang artinya lupa, salah dan malang. Apabila lupa kita mohon untuk diingatkan. Apabila salah mohon pengampunanya dan agar tidak selalu malang kita mohon perlindunganya. Lewat utusanNya yang bersifat langgeng, yang biasa disebut Roh Mono, Roh Suci, Roh Ismoyo atau sang Guru Sejati.

Didalam pengertian Utusan Yang Bersifat Langgeng ini, ada sebutan yang berbeda-beda. Namun demikian yang dimaksud Utusan Tuhan Yang Bersifat Langgeng itu bukanlah makhluk apapun, akan tetapi merupakan percikan cahaya sifat-sifat Ketuhanan atau boleh disebut percikan Cahaya Illahiyah yang dalam Bahasa Sanskerta biasa disebut Dewa berasal dari kata Div yang artinya cahaya.

Maka kedudukan Utusan Tuhan Yang Bersifat Langgeng, apabila dilihat dari tingkat-tingkat penitisan, kedudukanya adalah diatas Adhi Daiwa. Dam menurut kepercayaan Budaya Spiritual Jawa, yang berkedudukan diatas Adhi Daiwa adalah Roh Ismoyo, yang dicipta langsung oleh Tuhan untuk menjalankan tugas sebagai pamomong gaib para satriya. Roh Ismoyo yang biasa disebut sebagai Romo, kedudukanya diatas Utusan Yang Bersifat Langgeng selain Dia. Begitulah diceritakan didalam pewayangan, dimana wayang adalah sebagai gambaran dari diri manusia.

Namun kadangkala ada kesalahtafsiran didalam menarik pengertian dari Romo, disimpulkan persamaanya dengan Bapak atau Ayah. Karena Romo dalam Bahasa Jawa artinya Bapak. Maka berangkat dari kesalah tafsiran inilah maka sering timbul pengkultusan atau mendewakan atas tokoh Budaya Spiritual Jawa yang dipanggil dengan Romo, yang artinya Bapak, lalu dipersamakan dengan Romo yang artinya Roh Ismoyo ataupun dianggap ketitisan Ismoyo atau juga kesinungan. Padahal didepan dikatakan, bahwasanya Ismoyo tidak pernah lahir dan menitis sebagai manusia.

Menurut paham salah satu Budaya Spiritual Jawa, Roh Ismoyo yang didalam Pewayangan disebut Semar, bukanlah tokoh yang digambarkan secara fisik dalam ceritera wayang itu. Kalaupun Roh Ismoyo ditugasi turun kebumi, bukan berarti menitis kepada jabang bayi atau manusia.

Apabila benar bahwa Roh Ismoyo ditugaskan kedunia, bersifat hanya Hanyinungi atau silih raga untuk tujuan melindungi, dengan cara memasukkan sebagian kuasa spiritualnya kepada orang yang dipilih dan digunakan untuk itu. Namun demikian tidak sembarang orang benar-benar kesinungan Ismoyo. Dan orang yang kesinungan selanjutnya disebut sebagai Sipat Semar.

Tetapi sekali lagi bukanlah semar yang digambarkan dalam wayang secara wantah. Seharusnyalah terlebih dahulu ditarik makna harfiah dan falsafah bagaimana dan siapakan Semar itu.

SEMAR DALAM PENGERTIAN SECARA HARFIAH

Semar, didalam Bahasa Jawa asal kata samar artinya tidak jelas benar, penuh rahasia, antara kenyataan dan gaib dan sebagainya. Nyata dalam arti sifat Semar dapat dimiliki oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan gaib dalam pengertian tidak ada bentuk fisik dari Semar itu sendiri. Seperti dikemukakan didepan, bahwa semar adalah Pamomong (gaib) dari para Satria yang dengan tekun dan seksama mau menghayati keberadaan GaibNya Tuhan.

Maka apabila seseorang memiliki, menghayati dan dapat mengamalkan kawruh gaib yang juga disebut Kasuksman dengan benar dan baik , disertai sikap sehari-hari yang mencerminkan laku satria dan wanita sejati yang bersifat ngemot dan ngemong, laku tersebut merupakan lahan bagi turunya kuasa gaib Roh Ismoyo dengan cara kasinungan.

Pengertian ilmu gaib disini bersifat Gaib yang Hakiki, yaitu gaib mengenai keberadaan Tuhan beserta Para Utusanya Yang Bersifat Langgeng. Bukan sekedar Gaib Idhofi atau gaib relatif yang dimiliki manusia dan apalagi gaib mungkar yang dimiliki jin, setan, peri dan Perayangan.

Maka seseorang dapat dianggap kesinungan Roh Ismoyo sehingga dapat bersifat Semar, dipandang dari cirri-ciri kecil yang paling sederhana, dalam penertian Semar secara harfiah, adalah seseorang yang menguasai pengertian satria, menguasai Ilmu Gaib diatas, dan bersifat ngemong siapa saja dan dapat ngemot segala permasalahanya. Dan salah satu sifat Semar yang lebih utama adalah mampu ngemot dan ngemong apa dan siapa yang berasal dari orang atau kelompokyang memusuhinya. Jadi singkat kat seseorang yang bersifat Semar selalu merasa bahwa dirinya tidak mempunyai musuh yang berujud manusia.

Dan digambarkan didalam pewayangan, pada setiap lakon baku maupun carangan Semar yang kadang kena fitnah dan ancaman, tidak pernah menyelesaikan masalah dengan pertempuran. Yang ditempuh selalu jalan damai dengan kepala dingin disertai kearifan sehingga dapat menengahi pihak-pihak yang berseteru.

Maka secara tidak langsung, seseorang yang bersifat semar, selalu dituntut oleh misinya yang harus dapat menerapkan dengan apik Ilmu Ketuhanan, Kerasulan, Kebangsaan, Kemanusiaan, Kefilsafatan, Ilmu Jiwa, Ilmu udaya Dasar dan sebagainya, disamping syarat yang disebutkan terdahulu. Dari semua itu dapat ditarik kesimpulan makna Ssemar secara harfiah, sifat Semar universal adanya, dalam arti kapanpun dan dimanapun Sifat Semar bisa ada, sepanjang sepanjang dijaman dan di tempat itu masih ada orang yang memiliki sifat terpuji.

Maka didalam wayang selalu diceritakan, semua generasi satriya sejati selalu diemong oleh Semar sebagai Panakawan, sebagai Batur dan sebagai Dewa. Semar sebagai Panakawan yang artinya teman yang bisa memahami benar permasalahan dan fungsi teman yang baik. Batur yang berarti embat-embating catur artinya selalu dapat diajak bermusyawarah dan sebagai Dewa diharapkan dapat menyampaikan pesan-pesan keagamaan kepada yang diemongnya. Dari fungsi Semar sebagai Panakawan dan Batur itulah maka, semua generasi, dari ayah, anak, cucu, buyut dan seterusnya, apabila memanggil Semar selalu dengan sebutan Kakang.

Disamping itu, sewaktu semar masih berkedudukan sebagai Dewa, Dia bergelar Bathara Ismaya, sebagai ayah dari Bathara Wisnu Sang Pemelihara alam. Maka dengan perkataan lain, para Dewapun memerlukan Semar sebagai Panakawan dan Batur. Maka dapatlah disimpulkan, bahwa Semar itu adalah biangnya Sang Pemelihara Alam.

SEMAR DALAM PENGERTIAN SECARA FALSAFAH

Untuk memudahkan menarik kesimpulan secara falsafah, baiklah ditarik pesan-pesan kefilsaftan yang terkandung didalam wayang. Didalam cerita wayang, Semar digambarkan sebagai tiga dewa bersaudara, yakni Dewa Antaga, Dewa Ismaya dan Dewa Manikmaya. Selanjutnya Dewa Antaga menjelma menjadi manusia bernama Togog, yang bertugas yang bertugas sebagai pamomong orang-orang “seberang”. Yang dimaksud seberang adalah orang-orang yang perilakunya menyeberang dari nilai keluhuran budi.

Sedangkan Dewa Ismaya menjelma menjadi Semar, yang bertugas sebagai pamomong para satriya yang berbudi luhur. Dewa Manikmaya selanjutnya bergelar Bathara Guru, yang menjadi raja dari para dewa dan bertahta di Jungring Salaka, asal kata Ujung Giri Kailasa atau puncak gunung yang selalu berawan dibukit Himalaya. Hima artinya awan dan laya artinya tempat.

Tiga dewa itu asalnya dari sebutir telur gaib yang mengeluarkan cahaya tapi bukan api. Mungkin semacam bermuatan radiasi, yang melayang-layang diangkasa. Setelah berhasil ditangkap oleh Hyang Wenang, kemudian di”sidikara” maka berubahlah setelah terlebih dahulu tercerai berai. Cangkang telur berubah menjadi Antaga, putih telur menjadi Ismaya dan kuning telur berubah menjadi Manik Maya.

Seterusnya Antaga si sulung, dan Manik Maya si bungsu, sesuai dengan asal muasalnya. Antaga menjadi Togog sebagai pamomong orang-orang yang berwatak kasar, keras dan kuat sesuai dengan sifat cangkang atau kulit telur. Namun demikian selalu dapat dikalahkan oleh para satriya sejati yang selalu diemong oleh Semar, sesuai sifatnya berasal dari putih telur yang bening, tidak mudah dicerna, tidak mudah membusuk, awet dan bersifat melekat. Akan tetapi tidak bisa menjadi embrio.

Maka sifat Semar adalah putih, bening, sulit dicerna, tidak membusuk dan awet. Putih sebagai lambang kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan. Sulit dicerna dalam pengertian sulit diduga, susah dipahami tak gampang dimengerti jalan pikiranya, sebelum sampai pada akhir permasalahan atau akhir suatu cerita. Tak dapat tumbuh menjadi individu baru dalam arti kehadiranya didunia tidak secara wantah atau secara fisik, tetapi hanyalah pancaran sifat-sifat terpuji atas dorongan rasa Ketuhananya, orang yang berjiwa Semar mempunyai sifat dapat ngemong para satriya sejati yang luhur budi pekertinya.

Cara ngemong dengan pelayanan yang sama, baik dalam keadaan sependapat ataupun dalam keadaan bertentangan denganya, dengan tidak memperhitungkn untung dan rugi, tanpa berpikir untuk memperhitungkan upah, karena ia selalu berpikir bahwasanya pamomong hanya mempunyai kewajiban berderma tanpa memperhitungkan hasil dari derma itu. Karena perbuatan baik tidak harus digembar-gemborkan, karena semua itu merupakan urusan penderma dengan Tuhanya. Dan menanamkan kebajikan tidak seharusnya selalu diingt, tetapi sebaiknya, apabila hutang budi janganlah dilupakan.

Demikian dengan serba sedikit dan sangat sederhana, ingin ikut meluruskan kepada kesalah tafsiran didalam usaha membabar jati diri Sang Semar didalam kehidupan sehari-hari maupun didalam ruang lingkup Budaya Spiritual Jawa, yang terkadang terlanjur menganggap bahwa seseorang atau tokoh tertentu dianggap romo dalam arti Roh Ismoyo oleh para penganutnya dengan pengkultusan yang keliru.

Namun juga tidak menutup kemungkinan ada oknum tokoh spiritual yang secara sengaja memproklamirkan dirinya sebagai orang yang kesinungan Ismoyo secara tidak bertanggung jawab dan agar dirinya selalu dianggap orang yang lebih berkharisma dengan kesinungan Ismoyo tadi, yang pada giliranya hanya bertujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi saja, yang tak urung akan menipu bahkan menjerumuskan pencari berkah.

Dari itulah tulisan kecil ini bertujuan untuk membantu para penghayat Budaya Jawa, agar sedikit dapat membedakan, apakah seseorang benar-benar kesinungan Ismoyo atau hanya di Ismoyo-kan oleh para penganutnya atau hanya pura-pura kesinungan Ismoyo.

Kembali ke pokok masalah didalam uraian tentang PAWELING, bahwa satriya sejati yang sudah bisa menghayati atau mengamalkan Isi Kunci, dengan kemampuan anggelar dan anggulungnya, mereka itu pada dasarnya adalah para putra Romo. Putra dalam arti Puput ing Rasa artinya sudah cukup sempurna dalam olah rasa dengan tujuan angudi manunggaling Gusti Kawula, dan selalu berbakti kepada Romo ingkang pinundhi, yaitu sekali lagi Utusan Tuhan Yang Bersifat Langgeng, atau Roh Mono yang tidak berujud jasad manusia, yang tidak pernah dilahirkan, dan bukan seperti yang digambarkan didalam cerita wayang.

Dimana di dalam wayang kadang kala juga di plesetkan oleh dalangnya dari pakem yang baku, demi untuk memperoleh popularitas, yang tanpa disadarinya sebenarnya pelecehan pakem juga melecehkan diri Sang Dalang itu sendiri, sebagai tokoh yang wasis ngudal piwulang.

Maka sudah barang tentu Semar bukanlah tokoh perseorangan yang berperawakan gemuk pendek, kuncungan, bergigi satu dan bertelanjang dada, seperti digambarkan didalam wayang kulit atau wayang orang itu. Dan banyak orang yang mengetahui bahwasanya wayang adalah gambaran pengejawantahan suatu tokoh, atau penokohan tertentu saja.

Rinasa dayaning sukma

Yang artinya merasakan daya sukmanya sendiri, dalam bentuk getaran atma atau getaran rasa sejati. Dan seseorang yang merasakan getaran sukmanya sendiri, pada tingkatan tertentu, dapat merasakan begitu cepatnya perjalanan sukma itu, sepadan dengan getaran yang diupayakan didalam olah getaran rasa sejati. Seseorang yang sudah mampu melakukan hal tersebut diatas, apabila sedang berkonsentrasi, maka apa saja yang disentuhnya dapat dijadikan sarana, apa yang dikatakan akan menjadi sabda, dalam arti kata-kata tertentunya mengandung kekuatan spiritual dan kelak akan ambabar dumadi, dan apa yang menjadi petunjuknya, apabila dijalankan merupakan suatu laku yang sangat bermanfaat.

Dan apabila orang itu berdekatan dengan orang lain, jadilah saraya, yang artinya dapat mengatasi persoalan yang cukup pelik yang dialami oleh orang yang didekatinya itu. Pendekatan diri orang yang sudah dapat mencapai tataran tertentu didalam olah rasa, orang yang didekatinya itu alamat bakal memperoleh guna, banda wiryo artinya ilmu, harta benda dan kemuliaan.

Didalam berkonsentrasi, orang tersebut, dapat menggunakan sarana apa saja sebagai media komunikasi dengan hal-hal yang bersifat gaib, hal ini sesuai dengan prinsip yang tertera didalam SINGKIR, “hananira hananingsun” maka dengan sendirinya wujudira wujudingsun dan rasanira juga rasaningsun, sesuai dengan semboyan yang dipakai oleh Departemen Sosial, “TAT TWAM ASI” yang artinya itu adalah diriku.

Kata demi kata yang terkandung didalam paweling adalah:

Siji-siji, loro-loro, telu telonana, maksudnya, apabila sudah bisa membaca Kunci dalam arti mampu anggelar lan anggulung, serta wis tumata dayaning raga, disebut sudah sampai pada tataran siji. Apabila sudah sampai pada tataran tumata dayaning citpa, dianggap mencapai tataran loro, dan apabila sudah mencapai tataran tumata dayaning sukma, disebut sudah mencapai tataran tiga.

Siji sakti yang artinya kesatu kuat. Hal ini apabila sudah mencapai tataran tumata dayaning raga, akan menyebabkan atau menimbulkan kekuatan.

Loro dadi artinya dua menjadi, maksudnya apabila sudah mencapai tataran tumata dayaning cipta, apa yang diangan-angankan akan menjadi kenyataan.

Telu pandita yang artinya tiga pendeta, maksudnya apabila sudah mencapai tataran tumata dayaning sukma, dianggap sudah mulai bisa mendekatkan rasa kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena sudah mencapai tataran Rinasa Dayaning Sukma sendiri.

Siji wahyu yang artinya kesatu anugerah, didalam mencapai tataran satu, itu merupakan anugerah. Karena sulit dicapai dan tidak sembarang orang dapat melakukanya. Sebab betapa sulitnya mengatur semua bagian-bagian raga agar dapat difungsikan sebagai olah gaib menyatukan diri dengan keberadaan Tuhan.

Loro rejeki, yang artinya kedua rejeki. Maksudnya adalah, apabila sudah mencapai tataran yang kedua, akan membawa kewajiban harus kerap kali bersyukur atas segala berkah yang telah diberikan oleh Tuhan, yang pada giliranya akan memberikan petunjuk kearah perolehan rejeki, yang kadang-kadang diluar dugaan yang diperkirakan. Mungkin perolehan itu relatif besar, dimana selama ini perolehan seperti itu belum pernah didapatkan. Sesuai dengan bunyi doa: nyuwun sandang ingkan dereng nate kaangge, nyuwun pangan ingkan dereng nate katedha. Yang artinya memohon sandang yang belum pernah kita memakainya dan memohon pangan yang belum pernah kita memakanya.

Telu Gat Rahina, yang artinya ketiga pagi ufuk biru. Yang maksudnya adalah, sikap selalu menganggap atas segala sikap yang pernah dialami merupakan gambaran seperti datangnya pagi di ufuk biru, dimana selalu menjanjikan terbitnya matahari kehidupan yang selalu akan lebih baik dimasa yang akan datang dibandingkan masa kini. Dikarenakan pada tataran yang ketiga, yaitu Rinasa Dayaning Sukma, akan selalu terasa tidak ada kebahagiaan kecuali merasakan daya sukmanya sendiri, didalam menghadap kehadirat Tuhan Yang Maha Suci.

SINGKIR

Diantara kunci dan singkir, kata-kata didalam kalimatnya hampir sama. Perbedaanya terletak pada kalimat: HANANIRA HANANINGSUN, yang artinya keberadaanmu juga keberadaan diriku. Dari kalimat inu muncul pengertin bahwasanya semua makhluk didunia ini berasal dari Tuhan Yang Maha Satu. Oleh karena satu asal maka kamu adalah aku.

Maka pada dasarnya isi singkir hanya diperuntukkan memancarkan rasa kasih sesama manusia yang berasal dari kasihnya Tuhan Yang Maha Pengasih. Namun sebaliknya, kita tidak perlu mengasihi sesuatu yang tidak boleh kita kasihi yaitu reruwet rubeda. Dan yang menjadi biangnya reruwet dan rubeda adalah hawa nafsu yang ditunggangi setan. Maka titik pusat yang perlu disingkirkan adalah hawa nafsu dan setan. Tak lain adalah hawa nafsunya sendiri.

Menurut pandangan Budaya Spiritual Jawa, setan yang menggoda hawa nafsu merasuki jiwa melalui panca indera. Dan biasanya karena godaan yang berhasil ditanggapi oleh panca indera itulah seseorang berbuat kurang terpuji. Maka sementara orang mengambil kesimpulan bahwa setan secara wantah adalah panca indera dan secara non fisik adalah hawa nafsu.

Dan apabila ada orang yang beranggapan bahwa setan ada yang menggoda manusia pada waktu sedang tidur, berupa gangguan-gangguan didalam mimpi, sampai orang tersebut tampak ketakutan. Banyak orang yang beranggapan bahwa mimpi adalah proses pengulangan pada waktu seseorang mengalami konflik kejiwaan sewaktu melek, yang terbawa-bawa kedalam mimpi.

Konflik kejiwaan sebagai akibat perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat yang dikarenakan semua orang berbeda kepentingan. Dan secara naluri semua orang mempunyai kecenderungan memaksakan kehendaknya kepada orang lain, sekali lagi atas dorongan hawa nafsu tadi. Disinilah sedikit bukti bahwasanya setan itu adalah hawa nafsu.

Selain itu setan penggoda manusia yang berada ditempat-tempat yang dalam, tinggi, besar seperti jurang, gunung, hutan dan sebagainya. Itu semua sebenarnya adalah hasil reproduksi atau penerusan dari apa yang dilihat dengan kesan menakutkan, maka secara otomatis akan terbentuk rupa bayangan yang timbul dari angan angan seperti yang ditakutkan. Maka pada saat itu pulalah terjadi tipuan pandangan.

Segala sesuatu yang masih ada hubunganya dengan angan-angan, apabila tidak dikendalikan akan merebak dan mendesak pikiran. Maka setan dalam hal ini juga berasal dari hawa nafsu.

Setan yang menggoda pada saat manusia menjelang datang ajalnya, hanya merupakan baying-bayang kesan masa lalu. Misalnya dirinya merasa bersalah dengan seseorang, maka pada saat itu, terbentuk bayangan seakan-akan orang yang disalahi tersebut datang akan memukulnya dengan membawa senjata dan sebagainya. Jelaslah asal setan dalam hal ini juga dari hawa nafsu.

Demikian seklumit pandangan tentang setan menurut Budaya Spiritual Jawa. Sedangkan setan menurut pandangan agama, penulis kurang tahu secara benar. Oleh sebab pada masa kecil penulis, pernah berguru mengaji kepada Ustad didepan rumah, kebetulan Ustad setiap kali ditanya secara mendetail, dengan nada agak marah beliau berkata: “Apabila ingin melihat setan, silahkan panjat pohon dan jatuhkan dirimu…”

Pendek kata yang beliau ajarkan harus diterima apa adanya secara dogmatis, tidak boleh dibantah, begitu ya begitu, begini ya begini. Akan terapi maaf, bukan berarti penulis menganggap ajaran agama adalah dogmatis. Mungkin secara kebetulan saja wawasan yang dimiliki oknum Ustad tadi pas-pasan. Pun juga bukan berarti penulis akan membanding-bandingkan, mencari perbedaan dan mempersamakan antara agama dengan Budaya Spiritual Jawa. Penulis berprinsip bahwasanya agama adalah Wahyu Illahi, sedangkan budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa dan karya manusia berdasarkan tempat dan waktu.

Kembali pada pokok masalah, bahwa yang perlu disingkiri adalah reruwet dan rubeda, yang artinya keruwetan dan godaan. Apabila keruwetan dan godaan itu datangnya dari setan, dan setan selalu identik dengan hawa nafsu, maka yang perlu disingkiri adalah hawa nafsu itu sendiri. Yang dimaksud adalah hawa nafsu sendiri yang dikendalikan dengan tepat, termasuk pakarti hawa nafsu yang datang dari luar diri sendiri, seperti dinasehatkan oleh tembang mijil yang dalam satu syairnya berbunyi: “Bapang den simpangi, ana catur mungkur…” yang artinya apabila melihar gelagat seseorang sedang berhawa nafsu, sebaiknya ditinggal pergi saja.

Kalimat Singkir selanjutnya adalah: SIRA MATI DENING SATRIYA/WANITA SEJATI, yang artinya: kamu mati oleh satriya/wanita sejati. Yang dimaksud Sira (kamu) disini adalah hawa nafsu tadi, yang tak lain adalah hawa nafsunya sendiri yang senantiasa harus diperangi. Seperti kata Pak Ustad, menurut riwayat, usai Perang Badar, yang meminta banyak korban, Nabi berkata bahwa masih ada perang yang melebihi Perang Badar, yaitu perang melawan hawa nafsu. Karena memang nyata benar bahwa hawa nafsu adalah musuh bebuyutan manusia, yang apabila tidak tepat pengendalianya, manusia tidak dapat “padang paningaling sukmane”.

Padahal hambatan pada keadaan “padang paningaling sukmane” adalah juga halangan yang nyata apabila kita bermaksud ingin bersembah kepada Tuhan, apabila masih membawa hawa nafsu, jadinya kita kurang hening yang bisa berakibat kurang sambung atau kurang komunikatif. Karena apabila boleh penulis umpamakan, seandainya Tuhan adalah orang yang bercermin dan diri ini adalah bayangan didalam cermin sedangkan hawa nafsu adalah cerminya, maka bila cermin penuh kotoran, sudah barang tentu bayangan menjadi kurang jelas. Menjadikan kita tidak mampu melihat kajatene Gusti. Dan sekali lagi kata Pak Ustad: “apabila masih membawa hawa nafsu, menjadikan kita tidak bisa Makrifatullah”.

Begitulah adanya, pakarti hawa nafsu manusia diharapkan dapat disingkirkan atau dikendalikan oleh satriya sejati/wanita sejati yang selalu bermaksud ingin mencapai tataran Adhi Atma dengan dapat menyuarakan, menghayati dan mengamalkan: KUNCI, PAWELING, SINGKIR, MIJIL dan ASMA SEJATI, baik secara gelar maupun secara gulung atau secara tersurat dan tersirat.

Selanjutnya didalam singkir masih ada kalimat yang berbunyi: KETIBAN IDUKU PUTIH SIRNA LAYU DENING(asma sejati atau jati diri dari atmanya orang yang menyuarakan singkir). Yang dimaksud iduku putih disini adalah sucinya perkataan, perbuatan dan pikiran yang seharusnya dimiliki oleh semua calon Adhi Atma, yang berkewajiban anindakake Pakaryane Pangeran atau menjalankan pekerjaan-pekerjaan Ketuhanan, dengan dilandasi mulat sarira hangrasa wani atau mengoreksi kemampuan diri sendiri, sebagai modal berani bertindak dan berkarya.

Tiga kesucian tersebut seharusnya secara jelas tergambar didalam perilaku sehari-hari, sebagai tolok ukur dapat dan tidaknya seseorang dianggap sebagai calon Adhi Atma. Dan barang siapa yang anindakake pakaryane Gusti, dan selaras dengan sifat-sifat Ismoyo, maka dia boleh dianggap sebagai calon Adhi Atma, yang kelak juga menyandang tugas-tugas spiritual pada saat menjalani masa hidup, sesuai dengan tingkatan tataran, lingkungan dan jamanya.

MIJIL DAN ASMA SEJATI

Antara Mijil dan Asma Sejati, keduanya tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya mijil itu adalah mijilake mijilake Asma Sejati. Yang dimaksud adalah mengeluarkan dayanya Asma Sejati yang merupakan identitas dari roh orang yang bersangkutan, dalam arti berupaya memberdayakan secara lebih, daya sukma yang sebenarnya, untuk tujuan-tujuan tertentu yang ada hubunganya dengan peri laku jiwa raga sehubungan dengan upaya anggelar lan anggulung isine Kunci.

Yang jelas secara kenyataan, memang apabila mijilake Asma Sejati dapat dijalankan dengan seksama, akan menimbulkan getaran rasa sejati, dimulai dari rasa merinding seperti merindingnya sehabis buang air kecil, atau kadang-kadang rasa merinding seperti itu sama seperti itu sama seperti bila kita sedang dilanda rasa takut terhadap sesuatu.

Secara anatomis atau ilmu urai tubuh, rasa merinding itu bermula dari pusat susunan saraf motorik, atau saraf penggerak yang biasanya bergerak atas dasar rangsangan perintah gerak dari pusat susunan saraf otak. Namun dalam hal ini gerakan yang menimbulkan getaran rasa merinding itu tidak dimulai atas perintah berupa rangsangan dari susunan saraf otak, akan tetapi gerakan itu timbul sebagai akibat adanya konsentrasi atau pemusatan pikiran hanya kepada Tuhan, dan dorongan itu langsung menuju saraf motorik.

Pada giliranya rasa merinding itu akan berkembang menjadi gerakan seluruh badan, dimana gerakan itu bukan atas kesadaran merasa ingin bergerak, akan tetapi gerakan dari getaran itu dibawah kesadaran dan kadang-kadang apabila gerakan atas getaran itu terlalu kencang dan diri kita dengan sadar berniat menguranginya, seakan-akan kita tidak mampu mengendalikanya. Jelasnya gerakan didalam getaran itu timbul begitu saja, sesaat sesudah Mijilake Asma Sejati yang beberapa kali diwatek. Dan kadang-kadang getaran yang ditimbulkan oleh alat pada mulut, menimbulkan suara mendesis dan suara lain yang tidak jelas kata-katanya.

Semua itu terjadi apabila kita Mijilake Asma Sejati dengan maksud arsa Beksa Beksanira Pribadhi, yang artinya bermaksud menari tarianya sendiri. Tarian disini lebih tepat dikatakan sebagai tarian sakral atau semacam gerakan yoga yang timbul secara spontan atau timbul dengan sendirinya. Kata “mu” didalam tarianmu dimaksudkan atau ditujukan kepada Asma Sejatinya sendiri. Sebagaimana raga memberikan perintah kepada Asma Sejati sebagai jati diri dari sukma orang bersangkutan dan segera saja Asma Sejati menjalankan perintah raganya.

Besar kecilnya spectrum yang ditimbulkan, sangat tergantung dari banyak sedikitnya jumlah getaran per detik dari orang yang melakukan mijil tadi. Apabila getaran per detik disebut frekuensi, maka jumlah frekuensi itu juga tergantung dari tingkat kemapanan didalam pemusatan rasa hening atau tingkat kemampuan konsentrasi. Tingkat konsentrasi sangat tergantung dari kemantapanya, kondisi fisik, jumlah pembiasaan, keadaan lingkungan dan tingkat keilmuannya. Itu semua juga kadang-kadang terpengaruh oleh pembawaan atau kebakatan orang tersebut.

Mijil arsa beksa beksanira pribadhi merupakan upaya memperoleh getaran yang meliputi sekujur tubuh. Bentuk getaran yang ditimbulkan juga berbeda-beda pada setiap orang. Hal ini menunjukkan bahwa tiap jati diri memiliki identitas dan kekhususan tersendiri.

Apabila sudah paham benar didalam olah getaran didalam mijil arsa beksa beksanira pribadhi, yang merupakan getaran yang meliputi seluruh tubuh, maka selanjutnya boleh melatih diri dengan gerakan didalam getaran pada tiap bagian-bagian tertentu, dimana gerakan pada bagian-bagian tertentu ini, ada yang menganggap gladen (latihan) ilmu kekebalan, atau ilmu tenaga dalam yang juga disebut aji-aji atau ajian, walaupun itu belum tentu benar.

SEDIKIT TENTANG TENAGA DALAM

Kekuatan tenaga dalam atau sering disebut tenaga murni atau tenaga inti juga kekuatan sejati dan ada juga yang menyebutnya tenaga gaib dan sebagainya itu, berasal dari hasil pembudidayaan dari hasil pembudidayaan dari daya kekuatan dari apa yang disebut Bayu Sejati, dimana semua orang memilikinya. Apa yang disebut bayu sejati, erat kaitanya dengan apa yang dinamakan oleh Penghayat Budaya Jawa sebagai Kadang Papat Kalimane Pancer.

Sesungguhnya kawruh tentang kadang papat lima pancer it hanya suatu perwujudan dari sejenis Ilmu Jiwa (khas) Jawa. Tidak ubahnya tentang kawruh kebudayaan mengenai perhitungan hari baik untuk berkhajat yang sampai sekarang sebagian kalangan masih mepergunakanya. Biasanya disebut perhitungan hari dan pasaran yang masih dianggap erat kaitanya dengan peri kehidupan Orang Jawa.

Kawruh khusus di bidang hari pasaran, selanjutnya bisa dikatakan sebagai bagian dari Ilmu Perbintangan atau Astrologinya Orang Jawa, yang tidak berbeda jauh dengan fungsi ilmu perbintangan atau astrologi dari manca negara yang sering digunakan untuk meramalkan nasib.

Berbicara mengenai kawruh tentang kadang papat lima pancer, yang sebenarnya semacam Ilmu Jiwa Jawa itu, yang menguraikan tentang kebakuan sumber daya manusia di bidang pembagian perwatakan atau temperamen manusia itu memang bisa dikelompokkan menjadi empat hal, sedangkan yang kelimanya sebagai penyempurna. Jelasnya tentang kawruh kadang papat lima pancer itu, merupakan pembagian perwatakan didalam Ilmu Jiwa Jawa.

Semua perilaku manusia dianggap terpengaruh oleh kadang papat lima pncer, yang terdiri dari: kadreng, kuwawa, greget lan bisa. Yang artinya kira-kira: kemauan, kemampuan, semangat dan bisa. Apabila disebut dengan Bahasa Jawa Tengahan sebagai: daya ngumbara, daya purba, daya wasesa lan daya wasis. Dan jika disebut dalam Bahasa Jawa Kuno adalah: daya netra, daya lodra, daya ludira, lan daya grana. Manakala disebut dalam bahasa arab kira-kira: sufiya, luwamah, amarah dan mutma’inah.

Jelasnya kawruh tentang kadang papat lima pancer itu adalah pembagian perwatakan manusia. Dimana semua manusia memiliki, memakai dan merasakan tanpa kecuali. Baik dia Orang Arab, Belanda, Cina maupun Orang Jawa. Dimilikinya hal tersebut diatas juga tanpa mengenal batasan apakah mereka memeluk Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha ataupun Penghayat kepercayaan Kepada Tuhan YME. Tanpa mengingat pula apakah dia cocok atau tidak dengan kawruh tersebut.

Hanya saja yang perlu diingat, watak Orang Jawa itu pada umumnya ramah dengan penuh rasa kekeluargaan, memanusiakan manusia dan menghormati orang lain. Memanusiakan disini yang dimaksud adalah nguwongake. Kadang-kadang bukan manusia saja yang sering diuwongake. Juga walaupun bukan tokoh personal, bukan bangsanya lelembut, bukan dhedhemit, bukan jin peri perayangan, bukan pula arwah gentayangan, semua sering diuwongake.

Karena pada umumnya Orang Jawa sering senang menggunakan gaya bahasa personifikasi, hal-hal yang bukan person seakan-akan dipersonkan. Maka yang disebut hawa nafsu sufiyah, luwamah, mutmainah dan amarah juga dipersonifikasikan. Maka apabila hawa nafsu dinamakan kadang atau saudara disebabkan karena sifat nguwongake tadi. Apalagi bila melihat kenyataan bahwa hawa nafsu tersebut digunakan terus selama hayat dikandung badan.

Malahan gaya personifikasi Orang Jawa diberlakukan pada hewan, tumbuhan dan benda mati. Misalnya kucing diberi nama si manis, anjing dipanggil si bekti, kerbau ada yang bernama trubus dan sebagainya. Benda mati berupa senjata, kereta, gamelan dan sebagainya yang berada di Keraton Yogyakarta dan Surakarta bukan saja diberi nama namun masih ditambah kata sandang Kyai didepan nama tersebut. Namun sudah barang tentu bukan Kyai dibudang agama. Dan ada pula Orang Jawa yang mengatakan “wah Kyaine liwat” manakala melihat harimau sedang berlalu.

Bukan saja manusia yang dimanusiakan, maka kepada manusia yang sebenarnya, lebih-lebih dimanusiakan, walaupun kepada orang yang menganggap laku Orang Jawa sebagai musyrik, munafik dan klenik. Orang tersebut tetap dihormati dan dibuat senang hatinya. Bila perlu apabila kita dimintai pertolongan ya di tolong juga. Demikian itu sikap Njawani.

Lalu bagaimana jelasnya mengenai kawruh tentang kadang papat lima pancer yang sering dihubung-hubungkan dengan adanya kawah, ari-ari, puser lan getih itu? Kesemuanya itu merupakan perwujudan fisik. Orang Jawa bilang blegere dat, yang dianggap mempunyai daya dibalik pisiknya, sebagai sifat. Dikatakan dalam Bahasa Jawa dat anggawa sipat (dzat membawa sifat).

Maka kawah sebagai dat mempunyai sifat purba, ari-ari mempunyai sifat wasesa. Puser sebagai dat mempunyai sifat wasis dan getih membawa sifat ngumbara. Proses mengenai dat dan sifat ini dipengaruhi oleh daya naluri yang berkembang menjadi nalar, akan membentuk sifat di dalam perilaku.

Dat dan sifat akan membentuk naluri dan perilaku, setelah mengalami proses pralina terlebih dahulu. Pralina artinya sudah tidak berwujud lagi akan tetapi tidak hilang. Proses pralina ini terjadi karena apabila bayi sudah lahir dan sampai dewasa, kadang papat secara fisik sudah tidak dipergunakan lagi. Karena kawah sudah dikumbah, getih wis ngalih, puser wis diunder lan ari-ari wis di rukti atau dibenamkan layaknya perlakuan kepada jenazah.

Menurut teori ilmu alam, berlaku hukum keabadian untuk zat dan energi. Maka segala macam bentuk fisik tak akan hilang walaupun tidak terlihat lagi, karena mengikuti proses siklus didalam berdaur ulang.

Didalam proses pralina, metapisis dari kadang papat terlebih dahulu berubah wujud menjadi ether yang merupakan bentuk halusnya metaphisik. Kata ether didalam Bahasa Jawa disebut Sir. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa dat membawa sipat dan semuanya tercakup didalam sir. Maka kemudian ada sebagian Penghayat Kebudayaan Jawa yang sering menyebut-nyebut Sirulah, Datulah dan Sipatulah.

Ada sedikit bukti bahwa dat membawa sipat, yaitu: mengapa seseorang mempunyai sifat kasmaran, tak lain karena dia mempunyai piranti seksual. Seseorang menitikkan air liur karena melihat mangga muda, sebab tubuhnya sangat membutuhkan Vitamin C. manusia dianggap berperasaan karena didalam tubuhnya ada segumpal hati dan sebagainya.

Oleh karena secara ilmu alam, apabila sesuatu zat mengalami perubahan bentuk dan wujud, pasti didalam perubahan itu menimbulkan energi. Maka perubahan kadang papat pada proses pralina, akan menimbulkan energi berupa dorongan naluri perwatakan dan perilaku, yang juga menimbulkan daya lebih bersifat supranatural yang dimiliki oleh semua orang manakala mau membudidayakanya.

Disamping mempunyai kadang papat yang dapat menimbulkan daya kekuatan naluri, manusia masih mempunyai daya yang melebihi daya dari kadang papat yang biasa disebut bayu sejati yang bersifat sebagai sumber energi metapisis manusia. Bayu sejati bersifat Illahiyah karena asli ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang ditiupkan kepada manusia pada saat jabang bayi berada didalam kandungan ibu pada usia seratus hari. Seumpama kadang papat sebagai pakaian, bayu sejati adalah pemakainya. Dan bayu sejati inilah yang disebut lima pancer, yang pernah menjadi kekuatan uwatnya pada saat sang jabang bayi lahir.

Dan sebenarnyalah getaran rasa sejati yang dibangkitkan dengan mijil berasal dari getaran gelombang metapisiknya kadang papat. Selanjutnya getaran yang timbul pada bagian-bagian tubuh, disebut aji, yang artinya terhormat, terpelihara atau rahasia jati diri. Namun janganlah disamakan dengan ajian yang diceritakan di dalam wayang, film ataupun sandiwara radio. Ini semua hanyalah tenaga dalam, yang maksudnya tenaga yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

AJIAN ATAU AJI JAYA KAWIJAYAN

Seperti telah disinggung didepan, bahwa ajian disini bukanlah semacam ilmu kekebalan, atau sesuatu yang menjanjikan kehebatan dan sebagainya. Kata jaya kawijayan artinya jaya adalah kuat dan kawijayan adalah kekuatan. Kuat dan kekuatan disini dengan tolok ukur seberapa kuat orang tersebut didalam mengendalikan hawa nafsu, yang konon merupakan musuh bebuyutan manusia.

Dan selanjutnya getaran yang timbul dari sumber dayanya kawah akan membentuk aji wijaya mulya, wijaya kusuma, yang berada di telapak tangan kanan dan kiri. Sedangkan antara jempol dan telunjuk tangan yang disebelah kanan akan menimbulkan aji ismu gunting dan yang disebelah kiri disebut aji ismu dhateng. Aji madiguna berada pada tulang ekor dan sebagainya, ini semua hasil dari pengendalian nafsu supiyah.

Getaran yang berasal dari metapisiknya luwamah, membangkitkan aji braja dhenta, yang menempati kepalan tangan. Aji braja musthi berada pada pusat getaran dikepalan tangan kiri. Aji braja wikalpa berada ditelapak kaki kanan. Aji braja lamatan berada ditelapak kaki kiri. Aji braja sekethi berada ditengah telapak tangan kiri. Aji rah muka dan rah anggana menempati pundak kiri dan kanan. Aji bandung naga sewu berada ditulang belakang, aji candha birawa bertempat ditenggorokan. Aji bandhung budhawasa menempati sekojur kaki kanan dan kiri.

Getaran metapisiknya amarah dapat membangkitkan aji hagni suci yang berada dititik pertemuan pandang kedua bola mata dengan ujung hidung. Aji trinetra berada ditengah-tengah kedua alis mata, dan aji pamungkas yang penempatan dan tata caranya tidak dapat penulis kemukakan disini, karena menurut anggapan penulis, hal ini merupakan salah satu diantara sekian banyak rahasia Ketuhanan. Namun demikian dapat diajarkan secara lisan dengan persyaratan tertentu.

Getaran metapisiknya mutmainah dapat menimbulkan aji nala wigara, yang pusat getaranya berada ditengkuk. Aji padma sana pusat getaranya berada dikedua lengan tangan dengan sikap cakra krodha. Aji gineng berada di pusat atau wudel. Aji mahondri berada pada semua jari kaki kanan dan kiri. Aji kawastrawam berada dipinggang kiri dengan dikepali dua tangan disertai pandangan muka serong kekanan dengan badan condong kedepan kanan. Aji bajingakiring setempat dengan aji mahondri, akan tetapi bertumpu pada lentingan kedua ujung kaki. Aji rawa rontek pusat getaranya memakai sikap berdiri dengan salah satu kaki berpusing, atau berjingkat dengan berdiri bertumpu dengan salah satu kaki. Kalandana putih adalah aji yang pusat getaranya pada langit-langit mulut, dan masih banyak lagi.

Sedangkan getaran yang ditimbulkan oleh bayu sejati, dapat digunakan antara lain untuk: sambung rasa kepada para insan gaib. Dan sambung rasa sambang yang artinya dapat digunakan untuk menghadiri suatu tempat secara metapisis tanpa menggunakan raga, akan tetapi nampak kehadiranya berupa cahaya berwarna kristal. Sambung rasa asmara yang dapat dipergunakan untuk memberikan kepuasan asmarawi kepada atau suami tercinta apabila secara kebetulan berada ditempat terpisah yang cukup lama, dengan tehnik pengiriman rasa senggama lewat impian. Dengan daya bayu sejati dapat pula untuk angracut aji bandhung budhawasa yang cara dan fungsinya hampir sama dengan sambung rasa asmara hanya saja tugas yang diemban oleh aji ini untuk menjaga rumah, manakala ditinggal pergi cukup lama. Dan masih banyak lagi hal-hal yang dapat dilakukan yang sengaja tidak penulis paparkan disini, karena akan lebih baik hasilnya apabila diajarkan lewat tatap muka secara langsung.

MAKNA KATA DAN ISTILAH DI DALAM MIJIL

Mijil artinya:

Metu lan amiji, artinya keluar dan (tetapi) menyatu. Yang keluar berupa getaran dan yang menyatu dan yang menyatu adalah jiwa dan raga yang terus bersambang dan bersambung rasa. Hal ini hanya mungkin dijalankan manakala seseorang sudah mengenal jati diri rohnya.

Sedya manjing sajroning rasa, yang artinya: kemauan masuk kedalam rasa. Kemauan yang dimaksud adalah semua khajad, niat dan cita-cita penyampaianya harus disalurkan dengan olah rasa perasaan yang halus. Sehingga membentuk suasana yang benar-benar komunikatif, baik untuk hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan ciptaan Tuhan yang lainnya.

Sedya rasa manjing jroning raga, yang artinya; kemauan dan rasa menyatu di dalam tubuh. Maksudnya setelah kemauan memasuki rasa untuk dikomunikasikan, selanjutnya diharapkan dapat memperoleh apa saja yang dibutuhkan oleh raga. Baik kebutuhan materi maupun non materi.

Cipta manjing jroning sukma, artinya daya cipta memasuki sukma. Apabila sudah memasuki proses ini, maka daya cipta dapat memberdayakan sukma, yang pada giliranya proses manunggaling Gusti kawula sudah mulai dekat. Karena pada dasarnya hubungan makhluk dengan khaliknya yang paling tepat adalah bentuk hubungan sukmawi.

Dayaning Sukma rinasa ing raga, yang artinya keberadaan dan daya dari kekuatan sukma dapat benar-benar dirasakan oleh raga. Apabila proses pernah dilalui, orang akan benar-benar merasakan daya sukma itu, yang bersifat tahan benturan, tahan api, tahan angin dan juga tahan akan segala senjata. Pernah seseorang membuktikan, suatu ketika sedang gladian olah getaran, ada yang membentur batu karang pas bagian kepalanya akan tetapi tidak terluka ataupun merasakan sakit.

Rasa angagem kuwasane sukma sejati, yang artinya rasa perasaan dan rasa naluri sudah memakai kekuatan sukma sejati. Apabila sudah mencapai proses ini, apa yang menjadi angan-angan, kata-kata, maupun cita-cita sering gampang menjadi kenyataan. Dan diharapkan jangan sembarang bicara yang jelek atau menyumpahi orang. Karena kemungkinan akan fatal akibatnya. Dari itulah kenapa ada pantangan tidak boleh “nyepatani”.

Sukma Sejati sambung rasa marang Sukma Kawekas, artinya Sukma Sejati berhubungan secara rasa dengan Sang Maha Hidup. Pada tataran ini proses manunggaling Gusti Kawula sudah semakin dekat. Orang dapat merasakan kehadiran insan gaib secara wantah atau biasa pada alam nyata.

Sukma Kawekas Sambang Rasa marang Sukma Sejati, artinya Sang Maha Hidup memberi perlindungan kepada Sang Sukma Sejati. Apabila sudah sampai pada tataran ini seseorang sering memperoleh bukti yang benar-benar nyata atau suatu kejadian yang apabila tanpa perlindunganya, tak mungkin tertolong. Misalnya; bersepeda motor tertabrak mobil, mobilnya peok, penumpangnya terluka, akan tetapi sepeda motor dan pengendaranya baik-baik saja.

Sukma Sejati angobahake rasa tumuju marang paraning sedya, artinya Sang Hidup menggerakkan raga dengan menggunakan rasa mengarah kepada tujuan hidup. Pada proses ini sering dialami oleh seseorang, manakala suatu hari dalam keadaan payah karena benturan ekonomi, tiba-tiba ada getaran sulit dikendalikan pada kaki dan perasaan ingin menuju kesuatu tempat. Begitu kuatnya keinginan itu sehingga tidak dapat dicegah. Ternyata setelah sampai pada tempat tujuan bertemu dengan kenalan yang dapat mengarahkan ke dunia bisnis, dan akhirnya berhasil.

LAIN-LAIN

Angagem aji atau memakai ajian berarti memakai daya sukmanya sendiri yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang didalam Bahasa Jawa dikatakan angagem dayaning Sukma asal saka Gusti.

Singkir mijil yaiku ambalekake kaya asal kamulane. Yangartinya mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Lan angilangake kahanan ala saka jiwa raga pribadhi, artinya menghilangkan keadaan jelek dari diri pribadi.

Upacara Hagni Suci adalah adalah suatu kegiatan pengakuan dosa dan upaya penyuciannya dengan cara penghayalan seakan akan diri ini sedang dibakar api yang sangat besar, dengan upacara dan doa khusus yang menggunakan sarana kembang sepatu.

Nawala Tirta adalah suatu upacara ritual dalam upaya pengiriman berita insan gaib atau yang tergolong dengan Utusan Langgeng yang tataranya dibawah Ismoyo, dengan maksud melaporkan hasil perolehan atau suatu lelaku yang pernah dilaksanakan atas suatu “Dhawuh”. Untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut. Dengan menggunakan syarat-syarat tertentu, diapungkan dilaut.

Walik mijil, adalah upacara ritual, dimana seseorang seakan-akan dilahirkan kembali (renatal), dengan cara dalam upacara ritual yang mengharuskan seseorang dilangkahi oleh ibu kandungnya sendiri. Apabila sudah meninggal, boleh diwakili saudara tua perempuan yang sedarah dengan almarhum ibunya.

KESIMPULAN

Dari itu semua sebenarnya yang namanya Asma Sejati itu tidak lain adalah jati diri dari roh orang yang bersangkutan, yang diberikan oleh sesepuh atau kesepuhan yang dianggap sudah mumpuni atau menguasai olah spiritual sehubungan dengan gelar dan gulungnya Kunci, Paweling, Singkir lan Mijil.

Pada waktu manusia berada didalam kandungan ibu kira-kira usia seratus hari, kepada calon jabang bayi itu diberikan roh oleh Tuhan, dengan satu macam roh untuk semua manusia di bumi ini. Intinya semua orang diberikan roh yang hanya satu oleh Tuhan Yang Maha Satu.

Maka Asma Sejati disini dipergunakan untuk identitas atau jati diri yang membedakan antara si A dengan si B, si C dan seterusnya. Atau dengan perkataan lain untuk membedakan roh atau atma pada diri setiap orang itulah maka diperlukan Asma Sejati, yang apabila di Mijilkan akan berhubungan dengan dengan benar-benar menyatu antara raga dan jiwa.

Dari kedua pengertian tentang mijil dan satu pengertian tentang Asma Sejati, maka pengertian Mijil ing Asma Sejati adalah ngetokake daya rasa pracaya marang Ingkang Maha Tunggal kanthi nyawiji migunakake kekuatan atmane dhewe. Yang artinya mengeluarkan daya dari rasa percaya kepada Tuhan Yang Maha Satu dengan cara menyatu menggunakan kekuatan atmanya sendiri.

Demikian sekilas dan serba sedikit uraian tentang pengertian Kunci, Mijil, Asma Sejati, Paweling dan Singkir yang juga disebut Panca Gaib yang dapat penulis sajikan sebatas kemampuan dengan maksud dapatlah yang sedikit ini dijadikan pedoman seadanya dengan maksud untuk memberi jawaban atas pertanyaan dari berbagai kalangan dan kadang yang sampai tulisan ini dibuat belum ada yang sudi memberikan jawaban.

Sudah barang tentu jawaban ala kadarnya ini masih jauh dari makna dan pengertian yang terkandung didalam Panca Gaib yang memang sangat sulit, rumit dan serba luas, penuh kerahasiaan, halus serta tidak terukur oleh dimensi waktu maupun ruang.

Namun demikian penulis yang belum tahu apa-apa ini dengan sangat terpaksa memberanikan diri membuat uraian ini. Maka sudah barang tentu masih banyak kekurangan yang perlu penyempurnaan. Walaupun sudah berupaya semaksimal mungkin, begitupun hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan, Rahayu.

Srandil

MANDHALA GIRI

Mandhala Giri berasal dari kata di dalam Bahasa Sanskerta, Mandhara dan Giri. Mandhara artinya dua buah berjajar hampir sama besar dan berdekatan sedangkan Giri artinya Gunung. Sedangkan kata Srandil berasal dari kata didalam Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih gunung tumpul yang puncaknya tampak seperti patah, sehingga hampir sama luasnya antara kaki dan puncaknya. Maka sebutan Gunung Srandil tidak hanya ada di Desa Glempang Pasir Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap saja, yang konon diceritakan ada pertapan, yang merupakan petilasan para leluhur Tanah Jawa.

Yang dimaksud para leluhur Tanah Jawa itu antara lain, disebutkan beberapa tokoh legenda, yaitu:

Di lingkungan Beteng

HYANG AGUNG HERU CAKRA

NINI DEWI TUNJUNG SEKAR SARI

KAKI TUNGGUL SABDA JATI DAYA AMONG RAGA

IBU RATU RETNO DUMILAH

HYANG LANGLANG BUWANA (yang petilasan pertapaanya di puncak Gunung Srandil)

Di luar lingkungan Beteng

HYANG SUKMA SEJATI

HYANG WURUNG GALIH

HYANG KUMALA YEKTI (yang juga disebut KI SALINGSING, yang petilasanya berada agak jauh dari Gunung Srandil yaitu di tepi Pantai Selatan. Berupa makam ?)

Di sebelah barat Gunung Srandil, terletak sejajar seakan akan saudara kembar dari Gunung Srandil, ada Gunung Selok, yang konon di puncak gunung itu ada dua pertapaan yaitu Pertapaan Jambe Lima dan Pertapaan Jambe Pitu.

Pertapaan Jambe Lima merupakan sebuah petilasan, yang berada di dalam bangunan pertapaan merupakan petilasan dari:

HYANG CAKRA WANGSA

HYANG SUKMAYA RENGGA

Dan yang berada di luar bangunan pertapaan merupakan petilasan dari:

HYANG SABDA PALON

HYANG NAYA GENGGONG

Pertapan Jambe Pitu merupakan petilasan yang dipercaya sebagai Singgasana Gaibnya:

HYANG LENGKUNG KUSUMA

HYANG LENGKUNG SWIRI

HYANG WISNU MURTI

Lalu diluar lingkungan bangunan pertapaan ada petilasan HYANG JAPEN.

Di pantai curan Laut Selatan ada beberapa goa, satu diantaranya merupakan petilasan IBU SUCI RAHAYU dan IBU RATU SRI KENCANA WATI, yang terletak di Goa Suci Rahayu, kira-kira letaknya di bawah Jambe Pitu.

Sepertinya sudah menjadi naluri adat yang mendarah daging bagi sebagian Orang Jawa, mempunyai perilaku wayang sentries, yaitu berupa kebiasaan sikap hidupnya berkiblat kepada keberadaan wayang. Serta sebagian menganggap bahwa wayang mempunyai kekuatan magis tertentu. Di samping sebagai peninggalan hasil cipta, rasa, karsa dan karya para leluhur yang benar-benar adiluhung.

Salah satu contoh kebiasaan sikap yang nyata-nyata berkiblat kepada wayang misalnya: salah satu KOREM di beri nama MAKUTHA RAMA. Dimana Makutha Rama adalah “WAHYU KEPRABON” yang diberikan oleh para dewa kepada Sang Arjuna sebagai yang “BINELAH PANITISE” dari Dewa Wisnu yang juga menitis kepada Prabu Bathara Kresna.

Senjata Cakra milik Bathara Wisnu yang di anugerahkan kepada Bathara Kresna, dijadikan salah satu symbol kesatuan tentara, lalu candi-candi di Dieng dan petilasan-petilasan di Rahtawu Jawa Tengah, hampir semua tokoh legendanya diambil dari nama tokoh wayang. Juga Pulau Madura, dianggap sebagai Negara Mandura dan Gunung Semeru seakan-akan sebagai Gunung Mahameru di India sebagai negara yang menjadi asal-muasalnya Wira Carita dari wayang.

Disamping itu, sebagai Orang Jawa juga sering mempersamakan rupa dan perilaku seseorang pada tokoh wayang, misalnya ketampananya seperti Arjuna, Cantiknya Seperti Subadra, kumisnya tebal melintang seperti Gatotkaca, tinggi besar dan gagah seperti Bima, gemuk sekali seperti Limbuk, kurus sekali seperti Cangik, berambut panjang terurai tak karuan seperti Burisrawa, tukang Hasut seperti Sakuni. Arif dan bijaksana seperti Prabu Krisna, berlagak gagah seperti Dursasana, pemberang seperti Baladewa, sewenang-wenang dan serakah seperti Dasamuka, kembar mirip sekali seperti Nakula dan Sadewa dan sebagainya.

Buku Wira Carita yang bersumber dari salah satu bagian dari Kitab Weda yang berasal dari India, direka-reka seakan tempat, waktu dan tokoh ceritanya berasal dari Jawa. Disadari atau tidak perilaku seperti itu sudah berurat akar didalam perilaku sebagian Orang Jawa.

Dengan demikian, keberadaan beberapa pertapan di Srandil juga dianggap ada hubunganya dengan wayang. Intinya menyadur dari Kitap Wira Carita MAHABARATA yang diturunkan lagi dari Kitab PURWA CARITA dengan mengambil salah satu episode atau lakon SAMODRA MANTANA, yang menceritakan bahwa para dewa akan mengupayakan “TIRTA AMRITA” yang biasa disebut dalam wayang sebagai “TIRTA AMERTA” yang artinya Air Kehidupan, atau Air Pembawa Hidup dan juga disebut Air Penyebab Hidup.

Di ceritakan di dalam kitab tersebut, di Kahyangan Suralaya atau tempat bertahtanya para dewa. Ada dua buah gunung yang letaknya sejajar yang keduanya itu bernama Mandhara Giri. Hyang Jagad Giri Nata yang merupakan Raja dari para dewa memerintahkan kepada Dewa Wisnu untuk melakukan tiwikrama merubah jasad dirinya menjadi Hyang “AKUPA” yaitu sebangsa Penyu Raksasa yang mampu menggendong dua buah Gunung Mandhara Giri tadi, untuk di bawa menyelam sampai di bawah dasar Samodra Selatan dan meletakkanya dengan pucuk di bawah dan kaki gunung di atas. Dengan letak menungging tersebut akan dijadikan sebagai mata bor untuk melubangi dasar Samodra Selatan.

Sebagai tali pemutarnya, Hyang Jagad Giri Nata memerintahkan agar Hyang Ananta Boga, sebagai dewa dengan wujud Ular Raksasa, untuk melingkarkan dirinya pada dua buah gunung tadi, dengan lingkar yang melintangi kedua gunung tadi dalam bentuk angka delapan.

Sebagai tenaga pemutar di perintahkan kepada Para Sura atau Para Dewa untuk menarik kepala dan Para Asura atau Para Raksasa untuk menarik ekornya. Demikian kepala dan ekor Sang Ananta Boga di tarik-tarik secara berulang-ulang dan terus menerus, sehingga Mandhara Giri berputar bagai bor delapan tahun lamanya.

Setelah lapisan tanah dan batuan dari dasar Samodra Selatan berhasil di bor sampai puncak Mandhara Giri menjadi tumpul, maka akhirnya keluarlah:

NILA ANTAKA

Yaitu sebangsa cairan berbisa yang racunnya dapat menyebabkan Para Dewa bisa mabok sampai meninggal. Untuk mencegah kemungkinan kefatalan itu, maka Hyang Jagad Giri Nata atau Bathara Guru memutuskan untuk menelan NILA ANTAKA tersebut, agar di belakang hari tak lagi terminum oleh para Dewa, manusia, maupun raksasa.

Mungkin sudah kodrat Tuhan Yang Maha Esa, racun itu terhenti hanya sampai ditenggorokan saja, yang menyebabkan leher Hyang Jagad Giri Nata lebam membiru untuk selamanya. Dari kejadian ini lalu Bathara Guru diberi gelar Hyang Nilantaka atau Hyang Nilakanta karena lehernya berwarna Nila. Ini adalah pengorbanan dirinya rela cacat seumur hidup dengan maksud agar para penganutnya tidak menelan sesuatu yang menyebabkan rusaknya moral.

Berangkat dari kisah diatas, maka selanjutnya ada semacam kepercayaan bahwasanya seseorang dapat dianggap benar-benar dan sungguh-sungguh sebagai pembimbing spiritual di pertapaan Mandhara Giri Srandil, manakala bisa meniru sifat rela berkorban seperti Bathara Guru, dan orang tersebut baru dianggap sebagai “Guru Laku”. Bathara Guru di pewayangan di gambarkan bertangan empat dan menaiki Lembu Nandini.

“GURU” dituntut oleh kewajibanya harus bertangan empat. Dua buah tangan untuk mengerjakan keperluan pribadinya dan tangan lainya di gunakan untuk keperluan para “SISWA” nya yang biasanya di sebut para putra wayah yang berguru kepadanya.

Berdiri diatas Lembu Nandini melambangkan selalu berlandaskan kesucian Illahiyah, didalam pikiran, perkataan dan perbuatanya. Berani menelan Nilantaka yang maksudnya harus berani bersumpah di pertapaan Mandhara Giri Srandil “rela mati bila tidak berhasil memuliakan para putra wayahnya”.

Selain itu, yang lebih penting lagi, dalam dia berdiri sebagai pendeta, memang benar-benar atas pilihan kesucian Gaibnya Tuhan. Bila yang dianggap sebagai Guru Laku nyata benar demikian, biasanya, konon kulit dibagian tubuh tertentu ada “TOH” yaitu semacam bercak abadi yang berwarna biru keungu-unguan, dibagian leher atau ketiak kiri kanan, yang sebelumnya tidak di ketahui oleh dirinya sendiri, sebelum diberitahukan oleh orang lain yang secara tidak sengaja melihatnya.

GAJAH AIRA VATA

Yang juga bernama Gajah Era Wata yang di dalam pewayangan di sebut Gajah Era Wana. Yaitu gajah yang berasal dari sorga, berkulit putih dan kulitnya bercahaya terang, yang terkadang terlihat kadang tidak oleh penglihatan mata manusia biasa.

Selanjutnya gajah ini di anugerahkan kepada Batara Brama atau Hyang Agni sebagai kendaraan dinas jawatanya. Sewaktu ada lakon Begawan Bala Rama yang tak lain adalah Baladewa, Sang Begawan di anugerahi Gajah Puspadenta oleh Hyang Agni. Konon gajah ini keturunan dari Sang Aira Vata. Untuk meyakinkan kepada Baladewa bahwa gajahnya adalah keturunan dari Aira Vata, kelak bila menjadi Raja Mandura menggantikan Ayahnya, akan berpermaisurikan Dewi Erawati yang namanya berasal dari kata Erawata.

Di dalam lakon ASMARA DAHANA, diceritakan Sang Dewi Uma Parwati permaisuri dari Bathara Guru yang secara kebetulan sedang mendampingi sang suami, untuk memeriksa barisan prajurit Dandara yaitu pasukan dari Para Dewa di Repat Kepanasan atau Alun-alun di Kahyangan Suralaya. Dengan serta merta Dewi Uma Parwati menjerit kuat karena terkejut dan sangat takut melihat Gajah Erawata yang di tuntun oleh Bathara Agni.

Pada hal pada waktu itu secara kebetulan Sang Dewi sedang Hamil. Pada giliranya pada waktu Sang Dewi bersalin, melahirkan seorang bayi yang tidak lumrah sebagaimana bayi-bayi dewa yang lain. Karena bayi itu ternyata berkepala gajah dan berbadan raksasa laki-laki dan diberi nama Bathara Gajayana, yang setelah dewasa mengemban tugas sebagai Dewa Kearifan dan selanjutnya sekarang di pakai sebagai lambang sebuah perguruan tinggi di Bandung.

CUPU LINGGA MANIK

Adalah sebuah cawan yang bahanya dari batu permata berwarna ungu tua berbentuk segi delapan. Sebenarnya ada sedikit misteri di dalam kemunculan cupu ini. Karena secara kebetulan secara tiba-tiba saja sudah berada di dalam mulut sang Ananta Boga. Maka oleh Bathara Guru lalu di anugerahkan kepadanya.

Di dalam lakon lahirnya Dewi Sri dan Raden Sadana, Dewa Ananta Boga mendapat perintah dari Bathara Guru untuk bertapa delapan tahun lamanya, karena dia dipersalahkan terkesan tidak rela di dalam menjalankan tugas menjadi tali pemutar Gunung Mandhara. Karena ditengah pengeboran itu timbul rasa sengsara tak terkira, kenapa dia harus menjadi tali pemutar yang di tarik-tarik selama bertahun-tahun. Dia menganggap kodrat Tuhan atas dirinya sebagai dewa berbadan ular adalah ketidak adilan dari para dewa.

Maka bertapalah dia, atas perintah Bathara Guru yang juga sebagai hukuman khas para dewa yang dianggap melanggar, dengan mulut menganga melingkari Arga Kailasa selama satu tahun sehingga Cupu Manik didalam kulumanya terlepas. Dan diterimalah keprihatinan Sang Ananta Boga oleh Tuhan Yang Maha Tunggal. Tutup cawan berubah menjadi seorang ksatria tampan diberi nama Raden Sadana dan bagian wadah cupu menjelma menjadi putri cantik bernama Dewi Sri.

Selanjutnya Raden Sadana dan Dewi Sri diserahkan kepda Bathara Guru, oleh penguasa para dewa itu, Raden Sadana dan Dewi Sri diserahi tugas menjadi petani dan pemelihara padi di bumi. Sebagai anugerah atas keberhasilan tapanya, Ananta Boga diberi anugrah berupa Aji Kawastrawam yang dapat digunakan sebagai sarana untuk merubah wujudnya menjadi ksatria tampan, apabila ajian itu di watek atau diamalkan.

Sesuai kelaziman para dewa, walaupun Aji Kawastrawam adalah milik sah dari Sang Ananta Boga, akan tetapi tidak boleh sembarangan cara menggunakanya. Dalam arti ajian tersebut hanya dapat digunakan untuk sarana di dalam tugas-tugas Ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan. Apabila ajian itu di watek, sebelum menjadi ksatria tampan, terlebih dahulu akan mengeluarkan minyaknya yang disebut LENGA TALA dan bekas kulit ari dari ular yang disebut WLUNGSUNGAN.

Lenga Tala dapat digunakan untuk menyembuhkan luka yang sangat parah dan bahkan dapat menyembuhkan orang mati yang belum waktunya. Sedangkan Wlungsungnya dapat digunakan untuk dapat merambah air tanpa harus tenggelam dan sebagai pelindung perisai diri yang sangat ampuh dalam menghadapi segala benturan.

Sebagaimana diceritakan di dalam lakon Subadra Larung. Diceritakan Sang Subadra yang adik kandung dari Sri Bathara Kresna, meninggal karena ditikam oleh Burisrawa, gara-gara menolak cintanya. Sebagai suaminya, menangis dan berdatang sembahlah Arjuna kepada Bathara Kresna, untuk maminta kesembuhan atas kematian istri tercintanya.

Prabu Kresna Raja Dwarawati yang dikenal sebagai titisan Dewa Wisnu yang memiliki Kembang Cangkok Wijaya Mulya, yang dapat menyembuhkan orang mati sebelum waktunya, atas firasat, yang diterimanya, Prabu Kresna tidak mau menggunakan Kembang tersebut untuk menyembuhkan, walaupun yang mati adalah adik kandungnya sendiri. Karena kembang itu keberadaanya masih ada hubunganya dengan kelaziman para dewa.

Maka selanjutnya di putuskan, bahwa Subadra bisa hidup kembali, tetapi harus dengan syarat mayatnya di larung atau dihanyutkan dengan sampan di lautan. Konon sesampai di tengah laut, di ketemukan oleh Raden Anantareja, putra Dewi Nagagini hasil dari perkawinan dengan Raden Wrekodara, yang karena tugas-tugas kemanusiaanya, terpaksa meninggalkan Nagagini sewaktu sedang hamil. Dan lahirlah Raden Anantareja yang sejak bayi sampai dewasa hanya diasuh oleh ibu dan kakeknya Anantaboga. Saat pun tiba Anantareja ingin melihat dan berbakti kepada ayahnya. Kecuali hal itu kesatria ini agaknya malu karena kakeknya seekor ular raksasa.

Berangkat dari beban rasa dari sang cucu, sebagai seorang dewa, Anantaboga pun menangkap filsafat, bahwasanya pada saat itulah ia harus menggunakan Ajian Kawastrawam. Maka keluarlah Lenga Tala yang berisi dua ajian, yaitu Upas Bento Geni yang berfungsi mematikan lawan manakala bekas pijakan telapak kakinya terjilat oleh pemilik Upas Bento Geni, siapapun orangnya termasuk dewa sekalipun.

Yang kedua Ajian Panglerepan yang berfungsi sebagai penghidup, penyembuh, pengawet muda dan pesona. Namun pada awal pemakaianya ajian ini hanya dapat digunakan sebagai penghidup dan penyembuh hanya satu kali ditelan oleh pasien. Sesudah itu, apabila pasien tadi berhubungan badan dengan seseorang, maka orang tersebut akan mendapatkan daya awet muda, tampan dan sangat mempesona lawan jenis, dan konon bidadaripun akan terpesona penuh kepasrahan manakala pernah bertemu, bersalaman, beramah tamah, apalagi sempat berciuman dengannya.

Kecuali Lenga Tala, terkelupaslah Wlungsungan yang disebut Wasunanda, yang dapat digunakan menyelam didalam tanah sebagaimana meyelam didalam air dan dapat mengambang diatas air sebagaimana berada di daratan. Lenga Tala dan Wasunanda semuanya diberikan kepada cucunda Antareja yang terperangah dalam kebahagiaan dan kebanggaan. Terperangah karena melihat Sang Kakek berujud ksatria, bahagia karena diijinkan mencari ayahnya dan bangga karena diberi bekal ajian tadi.

Berangkatlah Raden Anantareja dari dasar samodra dan kebetulan saja menemukan sosok mayat diatas rakit yang terapung-apung di laut lepas. Karena sebelumnya sudah mendapatkan petunjuk dari sang kakek, lalu digunakanlah Aji Panglerepan untuk menyembuhkan Subadra, yang langsung siuman, berkenalan dan sanggup menghadapkan Anantareja kepada Ayahnya yaitu Bima yang juga kakak ipar Subadra.

Dalam pada itu, Arjuna yang dirundung was-was didalam penantian, sudah hampir putus asa dan bermaksud akan melakukan bunuh diri secara diam-diam denga menelan Kala Wulung yang sedang bertelur. Kala Wulung adalah sebangsa serangga kala hitam yang berbisa sangat mematikan. Apalagi bila sedang bertelur. Akan tetapi sebagai pemilik keris Pusaka kala Nadah, bisa kala itu tidak membuatnya mati, bahkan menjadikan bahan ajian manakala sudah berhubungan badan dengan bekas pasien yang diobati dengan Aji Panglerepan.

Singkat cerita berbahagialah keluarga besar Pandawa atas pulangnya Subadra disertai Anantareja yang langsung dipertemukan dengan ayahnya. Dan setelah Arjuna melakukan hubungan badan dengan istrinya, maka menyatulah Kala Wulung dengan Panglerepan yang selanjutnya dinamakan Ajian Madiguna, yang artinya sperma berilmu.

Sebagai titisan Wisnu, Kresna waspada bahwa kematian sementara dari Subadra akan membawa hikmah dan faedah yang bernilai Ketuhanan, keadilan dan kemanusiaan yang sangat tinggi. Dan dia tahu, Subadra tidak harus disembuhkan dengan Cangkok Wijaya Mulya miliknya. Karena kelak akan digunakan untuk menyembuhkan Arjuna dari kematian sebagai akibat dari perang tanding melawan Palgunadi dalam lakon Palguna Palgunadi.

Sebenarnya Prabu Palgunadi dari Negara Paranggelung bukanlah siswa resmi Resi Drona, karena perbedaan status social, yakni Prabu Palgunadi hanya raja kecil dari wilayah sempit, tidak boleh berguru kepada Resi Drona yang notabene adalah Guru Besar dari Raja Besar keturunan Bharata. Namun karena besarnya minat untuk berguru kepada Drona yang terkenal piawai didalam ilmu perang dan kanuragan itu, maka pada akhirnya ditempuhlah siasat untuk mencapai maksudnya.

Maka disuruhlah istrinya untuk mengabdi di padepokan Soka Lima tempat Resi Drona mendirikan Kampus Akademi Militer. Didalam mengabdi, Dewi Anggraini yang terkenal sebagai wanita yang sangat tinggi kesetiaan dan pengabdianya kepada sang suami itu, di suruh mengamati dan mencatat semua pelajaran dan kegiatan Soka Lima, dengan menyamar sebagai Sekretaris Rektor Urusan Kemahasiswaan, maka misi itu sangatlah mudah dijalankan.

Semua kegiatan perkuliahaan yang berhasil disadap dengan cermat oleh Anggraini, diberikan kepada Palgunadi yang berupaya belajar sendiri di tengah hutan dengan membuat patung Drona sebagai guru idolanya itu, untuk kemudian dipelajari, dianalisa lalu dipraktekkan dengan tekun dan seksama. Walaupun isi diktat lewat Anggraini hanya disampaikan dengan system tutor semata, akhirnya Palgunadi berhasil menjadi Sarjana Perang yang handal, setingkat lebih tinggi dari Arjuna, mahasiswa terkasih Drona.

Suatu saat, usai Wisuda Sarjana Soka Lima, seluruh insane almamater mengadakan wisata Purna Sarjana, dengan mempraktekkan kepiawaian masing-masing dengan berburu hewan dihutan. Hanya saja secara kebetulan hutan yang digunakan sebagai kawasan praktikum itu, sekawasan dengan kampus “Universitas Terbuka” dengan mahasiswa tunggal yakni Palgunadi. Pada kegiatan itu, sebagai sekretaris rector yang merangkap Kepala Urusa Rumah Tangga dari Universitas Soka Lima, Anggraini ikut pula.

Tidk ketinggalan anjing-anjing pelacak keberadaan hewan liarpun digunakan sebagai sarana. Singkat cerita, betapa terkejutnya Arjuna, yang melihat moncong anjingnya terluka parah karena tertancap lima anak panah sekaligus. Dengan geram Arjuna melacak asal muasal anak panah tersebut.

Dalam pada itu Anggraini cepat tanggap, atas kejadian itu tak urung bila pelacakan Arjuna sampai di kampus Palgunadi bakal terjadi keributan. Maka secara diam-diam Anggraini mengikuti Arjuna dari jauh. Ternyata benar apa yang dikhawatirkan Anggraini, tanda-tanda keributan mulai nampak.

Apabila berbicara serius disertai senyum pertanda bahwa Arjuna sedang menahan amarah besar kepada Palgunadi. Nampaknya Arjuna cemburu melihat meliht kampus UT Swasta di tengah hutan, yang memperlihatkan kerapian managemennya. Palgunadi mahasiswa tunggal yang menempuh program non gelar itu berbadan kekar, dengan sorot mata yang tajam yang menunjukkan tingkat kematangan ilmunya.

Alat-alat perang tersedia dengan sangat cukup sebagai sarana dan prasarana praktikum. Jadwal kegiatan harian, bulanan dan kalender akademik tertata rapi dan tercantum frekuensi kegiatan yang sangat padat dan efektif, melebihi Perguruan Tinggi Negeri Soka Lima. Diktat-diktat dari hasil serapan dan sadapan istrinya, dibukukan, disusun rapi dan lengkap tak ada yang tercecer.

Yang membuat arjuna semakin cemburu ilmu adalah, di kampus UT Swasta itu mempunyai perpustakaan jauh lebih lengkap disbanding Perguruan Tinggi Negeri Soka Lima. Apalagi ditambah buku petunjuk praktikum susunan Sang Mahasiswa Tunggal itu jumlahnya cukup banyak dan tidak dimiliki oleh Soka Lima.

Kemarahan karena cemburu ilmu itupun makin menjadi-jadi manakala di halaman Kampus itu terpampang patung Drona sebagai symbol almamater. Yang demikian itu sangat menyinggung perasaan Arjuna sebagai mahasiswa terkasih dari Drona, yang karena dosen tetap dari Perguruan Tinggi Negeri itu cara penyelenggaraan kegiatan belajar terkesan seenaknya, teoritis, monologis, teks book dan dogmatis, dimana hal seperti itu sangat membosankan. Sebagai dampaknya hasil lulusan dari pendidikanyapun hanya layak title tetapi tidak layak pakai.

Disertai luapan amarah itupun dengan setengah menghardik, Arjuna bertanya: “Hai Ki Sanak, kaukah yang melukai anjingku?!” dengan tenang Palgunadi mengangguk. Dalam pada itu Anggraini sudah tiba dan langsung berdiri ditengah-tengah keduanya. “dengan satu persatu atau lima anak panah sekaligus, heh!” Tanya Arjuna ketus. Dengan kesabaran yang menunjukkan kematangan ilmu dan kedewasaanya Palgunadi sembari tersenyum, menjawab dengan isyarat memekarkan lima jari tangannya.

“Dari mana kau menyadap ilmu kami”, Tanya Arjuna sambil menunjuk ruang perpustakaan. Dalam pertanyaan ini sebenarnya Arjuna sangat malu hati. Karena para mahasiswa di Soka Lima enggan membukukan kuliah dari dosennya. Bahkan membuat sinopsispun jarang dilakukan. Membuat karya ilmiah kadang-kadang dengan menyontek dan mengubah judul. Penelitian ilmiahpun dapat didengkul. Dan apabila semua itu disyaratkan untuk mencapai kelulusan satu strata, jalan pintas dengan menyogok dosen yang semakin kaya itupun dilakukan, lebih-lebih oleh Mahasiswa dari Korawa yang notabene anak-anak pejabat tinggi dan sering mendikte dosen.

Dengan ramah Palgunadi menjelaskan, bahwa yang mensuplai diktat dan bertindak sebagai tutor sebenarnya adalah Anggraini, istrinya. Mendengar itu Arjuna berujar kasar: “pantas selama ini Anggraini rajin sebagai peninjau kuliahku…!”. Mendengar ini Palgunadi nampak cemburu berat melihat ketampanan Arjuna yang “nilai jualnya” lebih tinggi darinya.

Maka Palgunadi bertanya kepada Anggraini: “Benarkah apa yang dikatakan Arjuna , hai istriku?” Angrainipun mengangguk takut. Tahu rasanya bila Palgunadi cemburu berat, walaupun kenyataanya belum pernah sengaja atau tidak, ia bercinta dengan Arjuna, yang bintang kampus karena ketampanan dan kesederhanaanya itu. Bagi Anggraini hanya seorang laki-laki yang ia cintai, yaitu suaminya, betapapun nilai jualnya tak lebih tinggi disbanding Arjuna.

Kecemburuan Palgunadi makin membara, manakala ia ingat sewaktu membaca majalah dinding Kampus Soka Lima, yang sering memuat rubrik berisikan kepiawaian Arjuna di dalam bermain cinta, penyandang title sebagai raja cumbu rayu dan sanggup mencintai sejumlah wanita dalam waktu yng sama. Palgunadipun tertegun disertai perasaan dan khayalan yang memicu rasa cemburunya. Dalam pada itu Arjuna mengacak-acak perpustakaan Palgunadi sehingga berantakan tak karuan.

Bagai air bah dari bendunga pecah, kesabaran Palgunadi tak terkendali lagi. Diseretnya Arjuna dan duelpun tak dapat dihindari. Setelah perang tanding cukup seru dan lama, ternyata arjuna berhasil dibunuh oleh Palgunadi. Disitulah akhirnya Kresna menggunakan Kembang Cangkok Wijaya Mulya sebagai penyembuh untuk Arjuna.

Selanjutnya nasib Palgunadi menjalani eksekusi hukuman mati dengan tuduhan membunuh, menyontek ilmu dan melecehkan Guru Besr dengan mematungkannya dimana hal ini sangat menyinggung almamater. Dengan melewati proses peradilan yang penuh rekayasa, akhirnya Anggrainipun bela pati dengan bunuh diri, dan kekayaan kampus UT nya disita untuk negara.

KUDA AUCES RAWAS

Atau Kuda Uces Rawas yang juga disebut Kuda Swandana, yaitu kuda sebanyak empat ekor dengan warna kulit yang berbeda satu dengan yang lainya, yaitu merah, hitam, kuning dan putih. Keempat kuda dari surga ini dianugerahkan kepada Bathara Wisnu sebagai penarik kereta kedewaanya, agar menjadi sarana dalam menjalankan tugas sebagai dewa pembagi kebahagiaan.

Dalam Lakon Kresna Gugah keempat kuda itu dianugerahkan oleh Wisnu kepada Kresna, sebagai penarik kereta perang untuk Arjuna di dalam Perang Bharatayuda, yang di kusiri sendiri oleh Prabu Kresna. Dalam lakon itu, kecuali mendapatkan anugerah Kuda Swandana, masih ada partai tambahan untuk Kresna, berupa Kitab Jitab Sara, yang memuat kerahasiaan dan tata aturan di dalam Bharatayuda Jaya Binangun kelak.

Sebagai penyandang title Bhatara, Prabu Kresna yang mengetahui liku-liku kerahasiaan Bharatayuda, juga masih saja terpaksa melakukan KKN. Di dalam Bharatayuda, Prabu Baladewa yang kakak kandung Prabu Kresna, sebagai kekuatan poros tengah yang cenderung memihak kepada Kurawa itu, di dalam Jitab Sara dia harus bertempur melawan Anantareja yang memiliki Ajian Bento Geni, dengan kemampuan dapat membunuh musuh hanya dengan menjilat tanah bekas pijakan telapak kakinya.

Agar Baladewa tidak mati konyol di tangan Anantareja, oleh Prabu Kresna di perintahkan untuk bertapa di Grojokan Sewu, sampai batas waktu yang tidak di tentukan, dengan tujuan agar tidak mendengar berita tentang Bharatayuda.

Anantareja sendiri ditipu oleh Prabu Kresna, dengan disanjung bahwa semua ksatria tidak ada yang mampu membawa Senjata Cakra miliknya, kecuali Anantareja. Namun harus dengan syarat, cara membawanya pada bagian tajamnya di biarkan bergulir di tanah sedang yang dipegang adalah hulunya.

Begitu dilakukan dengan cara tersebut, Cakra yang sangat ampuh itu, roda bergigi delapan bagian tajamnya cakra itupun akhirnya mengenai baying-bayang Anantareja, dan pada saat itu pulalah dia meninggal duni. Karena memang disitu letak kelemahanya, tak dapat dibunuh dengan cara apapun kecuali bila baying-bayang badanya yang kena tikam. Demikian Prabu Kresna melakukan KKN didalam melindungi keluarganya dari kematian, berhubung dia mengetahui liku-liku kerahasiaan Bharatayuda dari Kitab Jitab Sara.

Demikianlah, walaupun Krisna adalah titisan Wisnu, Dewa pembagi kebahagiaan, agaknya tetap saja khilaf dan tergoda untuk melakukan KKN dan melanggar HAM. KKN karena memprioritaskan Baladewa yang kakaknya sendiri agar tetap bertahan hidup sampai usai perang Bharatayuda. Sedang pelanggaran HAM dia lakukan dalam merencanakan kematian Sang Anantareja.

Pelanggaran itu hanya mungkin dapat dilakukan oleh pemegang Kitab Jitab Sara yang merupakan rahasia Para Dewa. Atas perbuatanya itu Krisna dipersalahkan dan dianggap berdosaoleh para dewa. Dan sebagai hukumanya dia tidak berhak masuk ke Nirwana untuk menuju Moksa didalam kematianya kelak kecuali atas pertolongan Prabu Yudistira titisan Bhatara Dharma, didalam lakon Pandawa Moksa.

TIRTA AMRITA

Tirta Amrita berasal dari kata Tirta yang artinya air, A artinya tidak dan Mrita artinya mati. Makna lengkapnya adalah air yang menyebabkan tidak mati atau air kehidupan. Dari mengambil makna ini maka menyebabkan tirta amrita dijadikan rebutan diantara Para Sura dan Asura yang menyebabkan pertempuran mirip tawuran antar kelompok di jaman ini.

Pada akhirnya Tirta Amrita yang didunia pewyangan sering disebut Tirta Amerta, yang keluar paling akhir dari perut bumi melalui dasar Samodra Selatan ini, oleh Batara Guru diambil alih dan disembunyikan disuatu tempat yang tidak diketahui oleh para dewa, raksasa dan manusia. Kecuali oleh seseorang yang nunggak semi atau dapat meniru perilaku Batara Guru didalam menelan Nilantaka yang merupakan bukti sikap rela berkorban demi kepentingan tiga dunia.

Semisal ada seseorang yang karena ketekunanya dan berhasil tahu Tirta Amrita disimpan, belum tentu tahu cara mengambilnya. Dan seumpama dia bisa mengambilnya, belum tentu tahu cara menggunakanya. Karena cara mengambil dan menggunakanya harus menggunakan cara tertentu dan khusus yang mensyaratkan berbagai macam laku, sarana dan prasarana khusus yang harus dipimpim oleh orang yang mempunyai cirri-ciri toh ungu seperti disebutkan terdahulu.

Demikian seklumit tentang hubungan pewayangan dengan pertapaan Mandhara Giri di Gunung Srandil dan Selok yang dianggap sebagai tapak petilasan dari lakon Samodra Mantana. Bila kita menganalisa lakon diatas, serta ditarik hikmah kesimpulanya, maka bagi siapa saja yang bermaksud hendak lelaku di pertapan mana saja khususnya di Srandil, seharusnya perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Harus ada Guru Laku atau pembimbing spiritual yang dapat dipercaya dalam arti tidak hanya sekedar mengetahui tempatnya dan nama tokoh-tokoh legenda saja, maaf, sebagaimana juru kunci yang hanya sekedar menjual jasa pelayanan kepada peziarah, dengan bermodalkan anya dapat membaca yang dapat dilakukan oleh siapa saja. Sedangkan “berdoa” tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Diharapkan sebagai pembimbing spriritual, minimal harus mampu berdoa dan mengetahui hal-hal gaib.

Mematuhi “dhawuh” atau petunjuk Guru Laku. Yang dimaksud adalah petunjuk yang mengandung kebenaran objektif dan bermanfaat bagi para pengikutnya, dalam hal: cara, aturan, etika dan yang lebih baku adalah tentang petunjuk bagaimana seharusnya perilaku di pertapaan yang sesuai dengan nuansa gaib yang baik dan benar, dengan kewaspadaan batin mengetahui mana yang dijalankan dan mana yang tidak.

Jangan open, maksudnya adalah jangan bernafsu memiliki sesuatu yang seharusnya bukan jatahnya. Jangan pula dengki dan konkiren atas apa yang diberikan oleh Guru Laku kepada semua siswanya. Karena sesungguhnya hanya atas petunjuk gaib, Guru Laku memberikan apa-apa kepada siswanya yang satu sedangkn yang lain tidak. Bukan berarti Guru Laku tidak adil. Semua itu disesuaikan menurut jatah masing-masing orang yang mestinya berbeda-beda berdasarkan kepentingan pribadi tiap siswanya, karena setiap orang mempunyai kepentingan, khajad, sifat dan kisah hidup yang berbeda-beda pula.

Maka sebaiknya janganlah meminta apa-apa yang tidak semestinya kepada Guru Laku. Namun demikian, berhubung Guru Laku juga manusia biasa yang tidak lepas dari lupa dan lalai, salah dan lemah maka para siswanya tentu saja boleh mengingatkan manakala Guru Laku kebetulan berkata dan berbuat yang menunjukkan kealpaanya.

Perlu pula diingat, berhubung Guru Laku biasanya besar rasa kasihnya kepada segenap siswanya, maka sering dirundung rasa tidak tega apabila ada siswanya yang merengek meminta sesuatu yang bukan jatahnya. Kadang diberikan begitu saja, meskipun bukan jatahnya atau belum jatuh waktu sang siswa memiliki apa yang di mintanya itu.

Begitulah kelemahanya, apabila seseorang sedang terbelenggu oleh objek cintanya. Dibalik kepintaranya terselip ketololanya dan dibalik kecermatanya akan nampak keteledoranya. Apa yang diberikan dengan cara diatas, karena dipengaruhi oleh ketololan dan keteledoran serta tergesa-gesa dan belum waktunya, lalu yang diberikan itu tidak menganut tatanan gaib. Maka biasanya akan terjadi sesuatu yang kurang baik bagi yang diberi sesuatu oleh Guru Lakunya itu.

Apa yang terjadi seperti dicontohkan diatas, biasanya tingkat kesulitan yang diterima oleh siswa yang menerima pemberian yang bersifat “Anggege Mangsa” itu, kejadianya sebagaimana yang tersirat dalam lakon wayang “Nara Singha”.

Pada waktu itu Kahyangan Suralaya berhasil dikuasai oleh Raja Raksasa Prabu Sumangliawan dan Patihnya Kala Mangli, yang sesungguhny kecuali mereka kakak beradik, kedua raksasa itu seperguruan dan satu pertapaan.

Mereka berdua sangat sakti, bahkan tidak dapat dikalahkan oleh dewa, ksatria maupun raksasa sendiri. Kesaktian itu mereka peroleh berkat keberhasilanya didalam bertapa dan memperoleh anugerah dari Dewa Hagni berupa “Sabda”, tidak dapat dikalahkan oleh dewa, manusia maupun raksasa. Dan agaknya Sabda Sang Hagni kini menjadi bumerang bagi para dewa sendiri, dimana sabda itu tidak mungkin ditarik kembali.

Akibatnya sewaktu mereka berdua melakukan “Demontrasi” dengan aksi pengerahan massa besar-besaran dengan tindakan yang cenderung anarkis di pusat pemerintahan para dewa, Raja para dewapun tidak sanggup untuk mengatasinya. Apabila akan mengatasi dengan cara kekerasan, kubu para dewa memang menang persenjataan dan prasarana. Akan tetapi dari segi jumlah massa dan tingkat kenekatan, kubu Sumangliawan lebih unggul.

Pada akhirnya pemerintahan para dewa mengadakan Sidang Kabinet mendadak dengan agenda tunggal membahas masalah mengatasi kerusuhan yang terkesan terorganisir dan terencana dengan rapi, disertai dukungan kekuatan massa yang sangat besar, yang kebanyakan dari kalangan raksasa, yang sudah barang tentu sangat kasar dan beringas. Mengingat latar belakang mereka memang demikian. Sedang aksi serupa yang dilakukan oleh manusia saja bisa kasar, beringas dan anarkis, apalagi oleh raksasa.

Secara analisis, kerusuhan sebagai akibat dari dua orang tokoh LSM kalangan raksasa itu, berawal dari intimidasi dan penetrasi terselubung oleh para dewa sendiri, terhadap niat mereka berkoalisi, dimana masing-masing dari mereka sebenarnya adalah mempunyai kekuasaan dan kewenangan wilayah sendiri-sendiri, sebagai kekhawatiran terhadap kemungkinan pengerahan massa yang mengarah ke makar. Dan ternyata kekhawatiran para dewa itu kini benar-benar terjadi.

Waktu itu yang ditugasi oleh Batara Guru untuk melakukan penetrasi dan intimidasi terselubung adalah Batara Hagni, yang disuruh memerintahkan kepada kedua raksasa itu untuk bertapa dengan janji imbalan kesaktian seperti tersebut terdahulu, dengan syarat selama bertapa tidak boleh mengadakan hubungan dan pendekatan kepada aparat penguasa para dewa.

Tetapi yang terjadi benar-benar diluar dugaan para dewa. Karena mereka bertapa dihutan “konsolidasi” yang memungkinkan untuk mengadakan pendekatan dengan arus bawahsecara intensif tanpa dapat dipantau oleh para penguasa. Sebagai akibatnya timbulah gerakan makar yang sangat kuat, bagai jebolnya bendungan besar, yang tak urung merepotkan para dewa sendiri.

Secara strategis, untuk mengatasi masalah ini diserahkan kepada Batara Wisnu, dengan cara melakukan tiwikrama merubah wujud dirinya menjadi Nara Singha, yaitu seorang ksatria berbadan raksasa, berkepala singa dan berperangai dewa. Ini adalah modal yang pertama. Sedang modal lainya berupa Bende atau terompet Panca Jannya dan Senjata Cakra Baskara.

Dengan kepribadianya, Dewa Wisnu yang disertai modal diatas, dapat dipastikan bisa mengatasi masalah. Sebagai Dewa Pembagi Kebahagiaan, Wisnu disenangi oleh semua kalangan, termasuk kelompok-kelompok yang sedang berseberangan. Dengan tiwikrama, Wisnu mengetahui bahasa kebutuhan masing-masing kelompok yang berbeda.

Dengan Terompet Panca Jannya yang menurut makna kata adalah lima kelompok insan, Wisnu menggunakan tehnik-tehnik tertentu untuk menyampaikan pesan perdamaian, misalnya lewat jalur budaya, adat kebiasaan dan kekhawatiranyang dimiliki oleh kelompok tertentu.

Senjata cakra yang berupa anak panah dengan bentuk roda bergigi delapan yang semuanya sangat tajam itu, dipergunakan untuk upaya penyelesaian masalah dengan cara berunding yang membutuhkaan ketajaman kata yang diplomatis, dimana hal itu merupakan bakat Sang Wisnu.

Akan tetapi betapa sulitnya hal itu dilakukan, karena ternyata Dewa Wisnu tidak ikut hadir didalam pertandingan itu, ternyata dia sedang bertapa dan tidak seorang dewapun berhasil membangunkanya. Lalu Batara Guru memerintahkan kepada Bidadari Wil Utama dengan diikuti empat puluh bidadari yang lain, untuk menggoda Wisnu agar terbangun dari tapanya, tetapi dengan syarat Wil Utama dalam keadaan apapun tidak sampai tergoda untuk berhubungan badan dengan Sang Wisnu, sebagai dewa yang terkenal tampan dan romantis itu.

Singkat cerita Wil Utama berhasil membangunkan tapa Wisnu, akan tetapi keduanya yang pada masa lalu pernah gagal didalam memadu kasih, akhirnya lupa daratan dan kisah-kasihnya kumat lagi, maka hubungan badanpun tak dapat dihindari. Hal ini mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Setelah usai berasik-masyuk, maka sadarlah Wil Utama bahwa dia telah melanggar pantangan dari Batara Guru.

Karena mendapat laporan tentang perselingkuhan antara Wisnu dan Wil Utama, Batara Gurupun marah besar. Setelah memerintahkan Wisnu untuk maju menghadapi perusuh dan berhasil dengan baik, walaupun nyaris gagal karena kesaktian dua raksasa kakak beradik itu, akhirnya Wil Utama diadili dan mendapat hukuman berupa kutukan dari Raja Para Dewa:”…Hai Wil Utama, yang kau lakukan itu perilaku seekor hewan…” Dan menangislah Wil Utama memelas sekali karena dia kini berubah menjadi kuda sembrani. Walaupun didalam hati Batara Guru iba kepada Wil Utama, namun sabda tak dapat ditarik kembali.

Akhirnya kepada Wil Utama dijanjikan akan diberi “grasi” apabila dia mau bertapa di tepi Sungai Gangga. Besok kelak apabila ada seorang ksatria mendapat kesulitan untuk menyebrang dan kuda sembrani yang jelmaan Wil Utama tadi berhasil menolongnya dengan cara “ditunggangi” oleh ksatria itu sampai keseberang, maka akan pulih wujud kebidadarian Sang Wil Utama.

Namun karena kuda betina yang harus menolong Raden Kombayana dari Atas Angin itu, tidak sekedar ditunggangi saja, tetapi lebih dari itu, maka kuda tungganganpun akhirnya bunting, dan melahirkan bayi manusia yang berkaki kuda, yang diberi nama Raden Haswa Suta Utama yang biasa dipanggil Aswatama. Sejak melahirkan itulah kuda betina berubah menjadi bidadari lagi dan segera kembali lagi untuk menunaikan tugas kebidadarian seperti sedia kala dan tak sempat diperistri oleh Raden Kombayana.

Demikianlah yang tersirat dari lakon ini, bahwasanya bagi siapa saja yang tidak mematuhi dan menurut ajaran Guru Laku dan tidak mau menerima pembagian secara jatah, serta anggege mangsa, akan berakibat kurang baik yang juga berdampak sampai kepada keturunanya.

Jangan mudah mengucapkan supata dan menyumpahi orang, yang maksudnya jangan mudah berkata-kata yang jelek, karena apabila sudah pernah merambah suatu pertapan yang tinggi nilai sakralitasnya, disekujur tubuh seakan-akan diselimuti daya gaib dari pertapaan itu. Akibatnya apa yang dikatakan manjur, sehat sentosa badanya, serta mudah terkabul cita-citanya. Layaknya seperti ada yang mengatur pola hidupnya dan selamat warga dan harta yang dimilikinya. Apabila sudah manjur apa yang dikatakan, pakailah nuansa itu untuk berdoa dan mendoakan orang lain. Jangan digunakan bersupata dan menyumpahi orang karena akibatnya bisa fatal. Apalagi Pertapaan Mandala Giri Srandil yang konon merupakan petilasan dari Para Dewa Mengebor Tirta Amrita.

Jangan memperhitungkan untung dan rugi didalam penggunaan biaya selama dalam pertapaan, sebab dengan demikian akan terkesan tidak dengan suka rela. Padahal suka rela adalah modal utama dari laku bertapa dan bergaul dengan dunia gaib. Apabila proses gaib terbuka melalui azas sukarela dengan dilandasi rasa percaya terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, maka akan terasa dekat kepadaNya. Dengan kedekatan kepada Tuhan, pada giliranya akan mudah terkabul segala doanya, karena semacam ada rasa yang sambung kehadiratNya.

Telaten, rajin dan bersungguh-sungguh, yang maksudnya jangan mudah putus asa apabila belum dapat mencapai apa yang menjadi keinginanya. Selalulah percaya kepada Tuhan yang senantiasa akan memilihkan yang terbaik kepada hambaNya, pada saat yang bertepatan dengan kebutuhan akan dapat mengatasinya atas Karsa Tuhan.

Telaten dalam pengertian jangan menolak rejeki yang hanya sedikit. Sebaliknya apabila mendapat rejeki yang banyak dan mendadak malah bingung cara menggunakanya. Akibatnya yang dibelanjakan hal-hal yang tidak bernilai guna dan mungkin apa-apa yang dilarang oleh Tuhan. Akhirnya apabila tidak tepat didalam pengelolaan rejeki, akan tanpa gunalah didalam menjalani laku pertapaan, ibarat membuang niat, kehabisan syarat tanpa mendapat berkat.

Menjaga tata-susila di pertapaan, baik kepada sesama peziarah maupun kepada sesama rombongan dan keluarga sendiri. Terlebih lagi tata-susila terhadap para leluhur yang akan diziarahi, walaupun hanya berupa suatu tempat yang merupakan petilasan. Tanamkanlah rasa didalam hati seakan-akan kita sedang berhadapan dengan beliau, saat sedang berdoa dengan menempati petilasan itu. Mengeluhlah kepadanya sebagaimana bila kita mengeluh kepada orang tua sendiri, dengan penuh rasa nelangsa yang disisipi cita-cita.

Sebagaimana tercantum didalam rangkaian kata didalam doa: “Bersujud kepada Tuhan Yang Maha Suci, sembah bakti kepada para pepunden sari…Sembah dihaturkan segala derita dan cita-cita, Derita memohon disembuhkan, cita-cita mohon dikabulkan. Mohon berkah perlindungan. Berkah mohon rejeki yang agung dan meyelamatkan, perlindungan mohon selamat di dunia sampai akhirat, meliputi warga dan harta benda kami, amin”.

Namun demikian tidak menutup kemungkinan, apabila doa tadi sudah dikabulkan oleh Tuhan, akan mengundang kecemburuan social dengan timbulnya sangkaan yang bukan-bukan, baik oleh tetangga, kenalan atau bahkan mungkin oleh kerabt dekatnya sendiri yang belum tahu pasti proses yang mendahuluiperolehan berkah itu.

Mungkin mereka akan meyangka kita melakukan KKN atau mendapat rejeki yang tidak halal. Bahkan juga pengalaman teman peziarah yang sudah terkabul cita-citanya, disangka nyupang atau memelihara sebangsa tuyul dan pesugihan lainya. Dan gangguan itu akan berkembang terus manakala peziarah yang sudah berhasil itu kurang peduli terhadap lingkungan dekatnya. Kita dikir memelihara setan dari Srandil. Padahal si pengira tadi belum tentu mengetahui keberadaan Srandil dan belum tentu tahu apa, siapa dan bagaimana setan itu.

Menurut pendapat penulis, tanpa ke Srandilpun seseorang dapat juga digoda setan, lebih-lebih bagi yang tipis imanya dan kurang rasa pasrahnya kepada Tuhan. Padahal dari agama apapun mengajarkan, orang yang tinggi imanya, tak mudah di goda setan. Dan kecenderungan mengumbar hawa nafsu itulah sebenarnya yang merupakan kendaraan setan menuju alam pikiran manusia. Dan seseorang yang selalu merasa dekat kepada Tuhan seharusnya tidak takut kepada setan dalam bentuk apapun, kecuali kepada Tuhan. Maka dimanapun dan kapanpun perilaku seseorang menunjukkan kemantapan dan ketetapan hati yang selalu taat dan percaya kepada Tuhan.

TOKOH LEGENDARIS

Sebelum hal ini diuraikan, perlu kiranya dipahami beberapa kata dan istilah yang disandangkan kepada Tokoh Legendaris pada pertapaan, terutama di Pertapaan Mandala Giri Srandil:

Hyang

Berasal dari Bahasa Sanskerta yang artinya kira-kira pemelihara.

Dewa

Berasal dari kata Div yang artinya cahaya Ketuhanan.

Batara

Berasal dari kata Batr yang artinya menemani.

Orang Jawa menyebut Hyang denga kata Eyang, Dewa dengan kata Dewa (baca:Dewo), Batara dengan kata Bathara dan Batr dengan kata Batir.

Berhubung tokoh-tokoh yang dianggap para leluhur di Pertapaan Mandala Giri Srandil tidak tercantum di dalam Buku Sejarah dan buku-buku lainya, maka untuk memudahkan kita meyebutnya tokoh legendaris, yang dipercaya bahwa pada saat hidupnya dahulu memiliki kelebihan-kelebihan tertentu serta mempunyai keutamaan-keutamaan didalam ilmu Ketuhanan, keluhuran budi pekerti atau sifat lain yang utama, misalnya:

HYANG AGUNG HERU COKRO

Menurut kepercayaan, nama itu adalah gelar spiritual dari nama aslinya SULTAN AGUNG HANYOKRO KUSUMO, di mana nama kecilnya adalah Raden Mas Rangsang. Pada waktu menjadi Raja Mataram Islam, beliau bertapa dilingkungan Pertapaan Mandala Giri Srandil, yang pada waktu itu dilingkunganya masih merupakan hutan belantara yang masih rawan dan perawan dan terkenal sangat angker. Konon siapapun yang datang kesana hanya pulang namanya saja dan bahkan hewanpun akan mati apabila memasuki kawasan itu.

Tetapi karena beratnya misi untuk mengusir penjajah Belanda dan berencana akan melakukan penyerbuan ke Batavia, maka sebagai awal-mula dari niatnya itu, beliau perlu memperkuat jiwa dan raganya dengan bertapa di Gunung Srandil, dengan maksud seperti yang tersirat dalam Candra Sengkala “SIRNANING YAKSA KATON GAPURANING RATU”.

Candra Sengkala adalah pernyataan suatu bilangan angka tahun Çaka didalam bentuk perkataan yang disandikan dan mengandung pengertian didalam apa yang menjadi tujuanya. Serta mengandung pesan-pesan kefilsafatan yang sangat dalam maknanya. Dan biasanya hanya orang Jawa yang memahami Sastra Jawa saja yang tahu makna kata-kata dalam Candra Sengkala tersebut.

Apabila Candra Sengkala diatas dibaca dari belakang, maka mengartikan suatu bilangan 1610, yang menunjukkan angka tahun Çaka. Sedangkan makna kata di dalam Candra Sengkala itu merupakan pesan tersembunyi kepada rakyatnya, bahwasanya apabila Bangsa Indonesia ingin mencapai Gemah Ripah Loh Jinawi atau adil makmur dan tenteram, terlebih dahulu harus menyingkirkan angkara murkanya para penjajah Belanda.

Semenjak Pertapaan Mandala Giri Srandil ada, maksudnya sejak jaman purba, kawasanya belum pernah terjamah manusia. Dan Hyang Agung Heru Cokro adalah orang pertama yang berani memasuki pertapaan tersebut. Semenjak itu dan seterusnya, pertapaan itu bisa diziarahi oleh siapa saja dan tidak angker lagi, bahkan dapat melayani para pengalap berkah.

Itu semua karena Hyang Agung Heru Cokro, kecuali dikenal sebagai prajurit yang mempunyai kelebihan dalam olah pertempuran, beliau juga memiliki ilmu yang dapat memilahkan antara Gaib Hakiki dengan Gaib yang Mungkar. Gaib hakiki adalah gaib yang memiliki nilai Ketuhanan, sedangkankan gaib mungkar adalah gaibnya sebangsa setan dan jin. Dengan demikian Hyang Agung Heru Cokro berhasil mewariskan kegunaan Pertapaan Srandil kepada para penerusnya sampai sekarang.

NINI DEWI TUNJUNG SEKAR SARI

Ini merupakan nama dari gelar pada tokoh yang bernama DEWI NAWANG WULAN sewaktu masih menjabat sebagai bidadari. Diceritakan pada waktu sedang mandi bersama-sama dengan para bidadari yang lain di Sendang Sanjaya, pakaian jabatanya sebagai bidadari berhasil dicuri oleh seorang jejaka dari Tarub, yang lalai akan keluhuran budi pekertinya sehingga mencuri pakaian itu. Namun sebagian kalangan menganggap hal itu merupakan takdir Tuhan, untuk mengukir legenda yang sampai sekarang sebagian orang masih mempercayainya.

Jejaka dari Tarub yang kemudian disebut Jaka Tarub itu kisah legendanya menjadi berkembang dan sebagian masih ada yang menjadikan tradisi dari apa yang dipercaya telah dilakukan oleh Tokoh Jaka Tarub tadi. Di mana Tarub adalah sebuah kata yang artinya tempat persiapan pendirian suatu negara dan pemerintahan.

Dikatakan bahwa Tarub artinya suatu tempat persiapan sehari semalam sebelum didirikan suatu negara. Sehari semalam dalam arti tinggal sat langkah lagi dalam persiapan menuju pelaksanaan. Sudah barang tentu langkah-langkah sebelumnya sudah ditempuh dengan berbagai upaya. Sampai sekarang apabila Orang Jawa akan mengadakan khajatan mantu, sehari semalam sebelum pelaksanaan, dinamakan Tarub Mantri atau Midodareni. Tarub Mantri artinya Petugas atau Pejabat dari Desa Tarub, sedangkan Midodareni artinya kira-kira “membidadarikan” sang calon penganten perempuan.

Berhubung pakaian jabatan bidadari dari Dewi Nawang Wulan itu di sembunyikan oleh Jaka Tarub, maka dengan di paksa oleh kodrat, Dewi Nawang Wulan lalu di peristri oleh Jaka Tarub, yang nantinya Jaka Tarub ini menjadi Raja Mataram Hindu dengan gelar Prabu Sahanjaya yang juga disebut Prabu Sanjaya. Saha artinya disertai, Jaya artinya kekuatan.

Setelah melalui kurun waktu yang cukup lama, saatnya memastikan secara kebetulan Dewi Nawang Wulan menemukan tempat pakaian bidadarinya disembunyikan. Maka dengan serta merta dipakainya dan segera terbang ke alam bidadarinya. Akan tetapi sungguh malang nasibnya, kehadiranya di alam dewa-dewi tidak lagi bisa diterima. Karena sudah pernah berhubungan dengan manusia dengan diperistri oleh Jaka Tarub sampai dikaruniai anak bernama Nawangsih. Atas penolakan itu Sang Dewi bermaksud kembali ke Jaka Tarub, tetapi hal itu tidak mungkin karena penyandang title bidadari tak mungkin hidup didunia manusia. Maka selanjutnya Sang Dewi hanya dapat menempati alam di “antara” alam dewa dan manusia.

Selanjutnya secara legenda dipercaya bahwa Dewi Nawang Wulan diperbolehkan menguasai alam “ANTARA”, An artinya bukan dan Tara artinya makhluk bumi. Yang dimaksud adalah alam yang menjadi perantara atau menjembatani hubungan antara manusia dengan Gaibnya Tuhan. Alam antara luasnya tidak terukur secara dimensi. Sedang dibumi yang memiliki tempat yang sangat luas adalah antariksanya Samodra Selatan. Dari itulah Dewi Nawang Wulan dipercaya menjadi penguasa Samodra Selatan dan selanjutnya digelari nama Ratu Kidul atau Nyi Rara Kidul yang ceritanya menguasai dedemit Samodra Selatan.

Adapun anggapan dan pandangan yang secara kebetulan berbeda dengan anggapan penulis, itu hak masing-masing orang. Malah ada yang mengatakan bahwasanya Ratu Kidul terkadang meminta tumbal berupa manusia pada waktu-waktu tertentu, konon katanya Ratu Kidul sedang mempunyai khajatan dan sebagainya. Akan tetapi seandainya Ratu Kidul dianggap tokoh legenda yang sangar, dahsyat dan jahat karena sering meminta korban manusia yang mati tenggelam di Samodra Selatan, pandangan itu benar adanya. Dalam arti kebenaran secara fisik.

Kecuali dahsyat, kadang nyata sekali jahat dan tidak segan-segan minta korban nyawa manusia. Akan tetapi sudah barang tentu hanya kepada manusia yang kurang hati-hati atau dengan sangat terpaksa nyemplung Laut Kidul yang begitu dahsyat dan jahat gelombang, kedalaman dan badainya, lebih-lebih apabila kebetulan cuaca buruk. Siapa orangnya yang bisa bertahan hidup dengan menantang keganasan Samodra Selatan, apabila tanpa sarana yang memadai untuk turun dilaut itu. Jadi yang penulis maksud dengan pengertiankeganasan secara fisik adalah keganasan Laut Selatan itu sendiri yang memang laut terbesar didunia.

KAKI TUNGGUL SABDA JATI DAYA AMONG RAGA

Tokoh ini dikisahkan sebagai suami Nini Dewi Tunjung Sekar Sari. Dengan demikian dapatlah diterik kesimpulan bahwa tokoh ini tak lain adalah Jaka Tarub. Nama Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga adalah gelar spiritual dari Jaka Tarub dimasa tuanya saat menjadi pendeta. Oleh karena itu Dewi Nawang Wulan menyesuaikan, lalu mempunyai title spiritual dengan sebutan Nini Dei Tunjung Sekar Sari.

Apabila ditarik makna kata demi kata; Kaki artinya lelaki tua atau dituakan, mempunyai ilmu yang bermanfaat. Ada juga yang menarik makna secara akronim, K artinya kawula A anggayuh, K artinya kagem dan I adalah ing pangreh atau aturan gaib. Dari penarikan makna agar sesuai yang diinginkan. Dianggap demikian juga boleh.

Tunggul artinya puncak atau pemuka, Sabda artinya perkataan yang mengandung kekuatan gaib, Jati artinya yang sesungguhnya, Daya artinya memberi kekuatan, Among artinya memelihara atau momong dalam pengertian sabar, rela dan menerimma didalam laku Tut Wuri Handayani, Ing Madya Mangun Karsa dan Ing Ngarsa Sung Tuladha. Adapun Raga artinya jasad ragawi yang memegang teguh sifat terpuji.

Selain itu Among Raga juga mengandung pengertian dapat menata perilaku raganya sendiri, didalam olah Yoga Pranawa. Yoga artinya laku atau ilmu tentang menyatunya insane dengan Khaliknya, sedangkan Pranawa artinya terang hati, didalam proses pengolahan ilmu kemasyarakatan sebagai modal didalam menjalankan tugas among. Ada tokoh pamomong didalam wayang yang disebut Semar, maka dari itulah kadang ada yang menganggap bahwa Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga adalah Semar.

Menurut pemikiran penulis, sebagaimana yang pernah penulis uraikan dalam tulisan lain, bahwa Semar bukanlah tokoh personal, dalam arti bukan perwujudan suatu makhluk sebangsa manusia ataupun makhluk halus yang mempunyai keistimewaan tertentu. Kata atau istilah Semar adalah penokohansuatu predikat untuk seseorang yang mempunyai sifat pamomong. Maka dalam hal ini kecuali makna predikat, Semar juga mengandung makna sifat didalam predikat itu. Dari kedua makna ini maka kapan saja dan dimana saja ada tokoh Semar dalam arti kapan saja dan dimana saja ada tokoh yang mempunyai sifat pamomong.

Maka apabila ada seorang dukun yang pada waktu melayani pasienya lalu tertawa ngakak sambil menuding-nudingkan jarinya seperti layaknya Semar didalam pewayangan, sesungguh hal yang dilakukan itu sesuatu yang menggelikan. Walaupun dukun itu banyak penganutnya dan sebagian ada yang menganggap bahwa dukun itu konon kesinungan Semar, itu hanyalah isapan jempol belaka, apabila mengacu pada uraian diatas. Agaknya Sang Dukun pura-pura kesinungan Semar, dengan maksud untukmenumbuhkan citra dan menambah kharisma.

Apalagi bila kita membaca Kitab Purwa Carita didalam episode atau lakon Lahirnya Ismoyo. Syahdan saat itu di Kahyangan Alan-alang Kumitir tempat bertahtanya Sang Hyang Wenang, ada kejadian yang sangat aneh. Ada sebutir telur besar yang berputar-putar seperti mengelilingi orbit tertentu dan berjalan terus tanpa henti. Kemudian telur itu dapat ditangkap oleh Hyang Wenang selanjutnya dibanting. Maka pecah berantakan telur tersebut.

Namun aneh bin ajaib, telur yang pecah berantakan itu menjelma menjadi tiga Ksatria tampan. Oleh Hyang Wenang, ksatria pertama yang berasal dari cangkang telur, diberi nama Antaga dengan sebutan Hyang, pada waktu berada di alam kedewataan. Setelah turun ke bumi bernama Togog yang bertugas momong para ksatria dari seberang. Yang dimaksud adalah manusia yang sudah menyeberang dari kaidah keTuhanan. Antaga diturunkan kebumi karena dianggap bersalah pada waktu masih dialam kedewataan.

Ksatria kedua yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya. Yang karena kesombonganya berdua dengan Antaga mengadakan sayembara menelan gunung. Antaga yang tadinya tampan karena berupaya menelan gunung, sampai-sampai mulutnya menganga dan nyaris sobek bibirnya sampai kedua pipinya, namun tidak berhasil. Sedang Ismoyo berhasil menelan akan tetapi tidak berhasil memuntahkanya kembali, sesuai dengan aturan main yang disepakati. Akhirnya gunung itupun anjlog sampai kepantat dan berhenti sampai disitu.

Sayembara yang sebelumnya tidak diketahui oleh Hyang Wenang itu hanya atas kesepakatan antara Antaga dan Ismaya saja. Maka setelah mengetahui kesudahan dari kesudahan dari sayembara itu, keduanya dianggap tidak dewasa dalam arti dewa dalam rasa. Maksudnya belum dapat memaki perasaan sebagaimana para dewa. Untuk itu mereka berdua dipersalahkan dan diberi hukuman turun kebumi dan untuk Ismaya diberi nama Semar.

Sedang ksatria ketiga yang berasal dari kuning telur dan dianggap si bungsu diberi nama Manik Maya, yang dinobatkan menjadi Raja Para Dewa yang bertahta di Junggring Salaka, asal kata Ujung Giri Kailasa dengan diberi gelar Hyang Jagad Giri Nata yang juga disebut Batara Guru. Disamping itu dikodratkan dapat mempunyai keturunan, sebab memang berasal dari kuning telur yang mengndung zat hidup. Sedangkan Antaga si cangkang dan Ismaya si putih tidak mempunyai keturunan.

Apabila ditarik pesan-pesan kefilsafatan dari lakon lahirnya Ismaya maka dapat dikatakan bahwa oknum dukun yang memproklamirkan dirinya sebagai yang kesinungan Semar, sangatlah tidak mungkin. Sebab secara nalar cerita, Semar tidak pernah dilahirkan, tidak pernah menitis dan yang lebih pentinguntuk diketahui Semar dan tokoh-tokoh pewayangan yang lain, hanyalah gambaran perilaku dan peri kehidupan manusia. Karena wayang artinya baying-bayang atau gambaran yang harus dikaji dan diamalkan isi ajaran yang tersirat dan tersurat dalam setiap lakonya.

HYANG RATU RETNO DUMILAH

Tokoh ii dikisahkan sebagai penjaga “GEDONG CEPUK” yang koon berisi harta benda tak terhitung jumlahnya. Sebagai yang menjabat penunggu dan pembagi harta benda kerajaan, sepertinya tidak mungkin apabila dipilihkan tokoh dari kalangan luar istana. Diduga beliau adalah putrid Prabu Sanjaya dari istri Dewi Nawang Wulan, yang tidak lain adalah Dewi Nawangsih. Dimana sasana gaibnya berada di pojok barat laut di kaki Gunung Srandil, tepatnya pada batu yang tampak terbelah.

Ditempat inilah yang nyata-nyata mempunyai keajaiban secara fisik. Pada tahun delapan puluhan, saat penulis pertama kali ke Gunung Srandil batu belah itu masih sekitar setengah meter tingginya dan besarnya kira-kira seukuran bakul nasi. Akan tetapi sekarang (tahun 2000) tingginya sudah dua meter lebih dan besarnya melebihi gajah dewasa. Jadi batu yang sewajarnya ajeg besarnya, tidak demikian dengan batu belah itu.

Dari kenyataan itu dapat ditarik simpul nalar secara metafisik, sedangkan batu saja bisa tumbuh dan berkembang apalagi kehidupan manusia. Mungkin didalam itu semua mengandung pesan, barangsiapa ingin tumbuh kehidupanya, harus berupaya tanpa henti dan memohon kepada Tuhan untuk memperoleh ridhaNya dengan bersungguh-sungguh dan menumbuhkan daya kreatifitas secara ajeg berusaha.

HYANG LANGLANG BUWANA

Menurut perkiraan penulis, tokoh ini adalah Jaka Tarub, dimana pada waktu mempunyai rencana menjadi raja, melakukan pengembaraan keseluruh pelosok negeri dalam rangka konsolidasi dan penggalangan massa. Mulai dari rakyat sampai dengan pejabat semua dihubungi, agar apabila dia berhasil menjadi raja kelak, mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Karena pengembaraannya itulah beliau mendapat gelar Hyang Langlang Buwana. Dan sudah menjadi kebiasaan Orang Jawa, sering mempunyai banyak nama atau alias yang juga disebut Dasa Nama.

HYANG SUKMA SEJATI

Tokoh ini juga masih kerabat Prabu Sahanjaya, mungkin masih pamannya yang diberi tugas mengatur tatanan keagamaan dan olah spiritual lainya. Karena memang tokoh ini piawai didalam hal kasuksman atau ketuhanan, baik melalui jalur keagamaan maupun jalur budaya spiritual atau kebatinan.

Beliau terbiasa bertapa dan laku samadi dan terkenal tahan dan kuat di dalam olah tapa dan samadi, maka disebutkan beliau mempunyai indera keenam yang sangat tajam. Tokoh ini juga diserahi merawat benda-benda pusaka dan barang-barang spiritual milik kerajaan. Dan konon tokoh inilah yang mempunyai ilmu Pemecah Jasad. Diceritakan bahwa beliau dapat memecah jasadnya menjadi lima orang, maksudnya apabila dia melakukanya, akan tampaklah lima orang kembar.

HYANG WURUNG GALIH

Tokoh ini juga kerabat Kerajaan Mataram yang diserahi tugas menjaga keamanan wilayah ibu kota dan juga bertanggung jawab atas keamanan dan ketenteraman keluarga raja, agar pengaruh-pengaruh jelek baik yang bersifat nyata ataupun maya tidak menimpa keluarga raja untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diingini, yang berasal dari wangsa lain, yang diduga akan merebut tahta. Maka boleh dikatakan bahwa tokoh ini ahli di bidang olah kanuragan atau ilmu kekebalan dan ilmu kebatinan yang lain.

Al kisah, Hyang Wurung Galih dikaruniai umur panjang, bahkan dia bisa bertahan hidup sampai jaman wali, dan sempat menjadi guru dali salah satu wali, yaitu Syekh Jakfar Sodiq yang disebut juga Sunan Kudus. Pada waktu menjadi guru dari Sunan Kudus, dia bernama Ki Selingsing yang juga bergelar Ki Ageng Pasir atau Hyang Kumala Yekti, yang konon makam beliau berada di pesisir Laut Kidul, dekat Gunung Srandil.

KI PAKU WAJA

Di sebelah selatan kaki Gunung Selok, ada gua kecil di tepi sungai yang bernama Goa Paku Waja. Dikatakan demikian karena merupakan petilasan pertapaan Ki Paku Waja. Tokoh ini tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan Prabu Sahanjaya. Akan tetapi berkat kejelian pengamatan mata batin Sang Prabu, yang dapat melihat cahaya gaib yang bersinar kuat yang memancar keluar dari ubun-ubun Ki Paku Waja, yang sedang bersamadi di gua itu. Pancaran cahaya gaib itu adalah pertanda bahwa beliau berilmu tinggi dan mempunyai kewicaksanaan yang linuwih.

Beliau disebut Ki Paku Waja karena memang mempunyai sebuah paku yang terbuat dari baja yang ditancapkan di batu cadas pada goa tersebut sehingga mengeluarkan air yang menetes tiada henti dan mengandung karat.

Air dari cadas itu menetes terus menerus dan tertampung didalam lubang dengan ukuran kurang lebih 700 liter yang disebut Sendang Paku Waja.

Namun nama sebenarnya dari tokoh ini adalah Ki Guwarsa, yang konon berasal dari Hindia Belakang. Datang ke Jawa kira-kira 400 tahun sebelum masehi. Beliau berhasil bertahan hidup sampai menjelang berdirinya Kerajaan Mataram Kuna, karena memang dianugerahi umur panjang dan awet muda. Ceritanya dia bertapa di Goa Paku Waja beratus tahun lamanya.

Menurut kepercayaan, Ki Guwarsa adalah manusia yang mempunyai berbagai macam kelebihan, antara lain ilmu dibidang kenegaraan, hukum, ketuhanan, kesaktian, dan mampu menjadi guru para empu.

Al kisah, Prabu Sahanjaya beserta kerabat calon pejabat kerajaan yang sedang mempersiapkan pendirian Kerajaan Mataram, semuanya berguru kepada Ki Paku Waja. Dan dari dialah jaka Tarub dan rombonganya mendapatkan berbagai ilmu yang dapat digunakan sebagai modal pendirian sebuah kerajaan.

Lalu bagaimana halnya dengan Ki Paku Waja yang dimakamkan di Kaliwungu Kabupaten Kendal? Yang juga merupakan tokoh legendaris diwilayah itu. Mungkin dia ditokohkan sebagai mana Ki Paku Waja Selok, mungkin karena dianggap mempunyai berbagai ilmu linuwih pada jamanya. Hal semacam itu oleh Orang Jawa dinamakan nunggak semi dengan Ki Paku Waja. Yang artinya memiripkan diri dengan tokoh idolanya.

Menurut perhitungan jaman, antara Ki Paku Waja Gunung Selok dengan Ki Paku Waja Kaliwungu, tidak mungkin pernah bertemu, karena Ki Paku Waja Kaliwungu hidup pada jaman terakhir Wali Sanga, yang diperkirakan sekitar abad XVII.

Akan tetapi kemungkinan bisa saja terjadi, dapat bertemu dan berguru dengan Ki Selingsing, sesudah Syekh Jakfar Sadiq, dan nama Paku Waja untuk tokoh legendaris Kaliwungu, diberikan oleh Ki Selingsing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diantara Para Wali dan tokoh legendaris di Gunung Srandil, masih kalah tua dengan Ki paku Waja. Sampai pun dengan Kaki Tunggul Sabda Jati Daya Among Raga, yang di percaya sebagai tokoh pamomong dengan memiliki sifat-sifat Semar. Karena yang di Srandil disebut sebagai kaki itu sebenarnya adalah Jaka Tarub.

HYANG CAKRA WANGSA atau Pak Cilik Cakra Wangsa

Mungkin tokoh ini paman dari Prabu Sahanjaya yang diberi jabatan sebagai Carik Negara atau menurut istilah sekarang mungkin Menteri Sekretaris Negara. Cakra Wangsa juga mempunyai keahlian memantau keberadan “Wahyu Keprabon” atau Wahyu Kerajaan. Hyang Cakra Wangsa mempunyai adik kandung yang juga mempunyai keahlian yang hampir sama dengan kakaknya, beliau adalah Hyang Sukmaya Rengga.

HYANG SUKMAYA RENGGA

Dua orang kakak beradik ini diberi jabatan hampir sama. Kalau Cakra Wangsa adalah Carik Nagara maka Sukmaya Rengga adalah Carik Jero atau kalau jaman sekarang mungkin adalah Menteri Sekretaris Kabinet. Kedua kakak beradik inilah yang paling akrab dengan Sang Prabu Sahanjaya, semenjak masih Jaka Tarub dalam semua kegiatanya. Lebih-lebih didalam mengupayakan serta memperoleh Wahyu Keprabon. Walaupun kedua orang ini sebagai pengikut namun apa yang menjadi petunjuk dan pengarahanya selalu dituruti oleh Jaka Tarub.

Sementara menjadi Carik Negara dan Carik Jero atau Carik Praja, kedua orang ini bernama Ki Sabdo Palon dan Ki Naya Genggong, yang petilasanya terletak di luar Bangunan Pertapan Jambe Lima. Sedang setelah menjadi Carik Negara dan Carik Praja, pada masa tuanya menjadi pendeta dan petilasanya kira-kira berada di Pertapan Jambe Lima.

HYANG LENGKUNG KUSUMA

Tokoh ini tak lain adalah putra sulung dari Hyang Sukmaya Rengga. Pada masa hidupnya mempunyai keahlian dibidang tata negara dan seni budaya, serta menguasai ilmu hukum kenegaraan dan terkenal pandai berbicara dan bijaksana.

HYANG LENGKUNG SWIRI

Beliau ini adalah adik kandung Hyang Lengkung Kusuma yang berarti anak kedua dari Hyang Sukmaya Rengga. Tokoh ini mempunyai keahlian yang sangat mirip dengan kakak kandungnya.

HYANG WISNU MURTI

Tokoh ini adalah anak bungsu dari Hyang Sukmaya Rengga yang juga mempunyai keahlian yang mirip dengan kedua kakaknya. Hanya saja si bungsu ini lebih menonjol dan lebih pintar serta bijak, bila dibandingkan dengan kedua kakaknya. Maka lalu diberi jabatan sebagai Pangarsa atau Ketua Dewan Sapta Prabu atau apabila disebut dengan istilah sekarang mungkin mirip dengan Dewan Pertimbangan Agung, yang bertugas memberi nasihat kepada raja dan beranggotakan tujuh orang.

Para putra dari Hyang Sukmaya Rengga, ketiga-tiganya menduduki sasana gaib di Pertapan Jambe Pitu, kira-kira letaknya didalam lingkungan pertapaan. Adapun yang menduduki sasana gaib diluar Pertapan Jambe Pitu adalah Hyang Jepen.

HYANG JEPEN

Pada masa hidupnya tokoh ini mempunyai keahlian dibidang pertanian, diplomasi dan piawai mencari akal untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. Kesukaanya mengembara, maka dari itulah beliau sangat jarang berada di dalam negeri sendiri. dan setelah tua dan menjadi pendeta, digambarkan tempat pertapaanya berada diluar bangunanya. Tepatnya diujung selatan bangunan Pertapan Jambe Pitu.

Selain dikenal sebagai tokoh yang nganeh-anehi atau eksentrik, beliau sering diminta bantuan oleh negara asing untuk mengatasi masalah kenegaraan. Selain itu, beliau sangat piawai menjadi penengah dan pendamai apabila ada beberapa negara yang sedang berselisih.

Mungkin apabila beliau hidup dijaman sekarang, pantas menduduki jabatan di PBB atau forum internasional lainya atau pantas menjadi penasihat antar kedutaan besar. Sebenarnyalah tokoh ini yang pantas menduduki jabatan sebagai Ketua Dewan Sapta Prabu. Akan tetapi karena beliau jarang sekali berada dinegaranya sendiri, maka jabatan itu lalu diserahkan kepada Hyang Wisnu Murti.

Keenam dari tujuh anggota Dewan Sapta Prabu adalah Hyang Wisnu Murti, Hyang Lengkung Swiri, Hyang Lengkung Kusuma, Hyang Sukmaya Rengga, Hyang Cakra Wangsa, Hyang Jepen dan yang ketujuh adalah Ibu Suci Rahayu.

IBU SUCI RAHAYU

Yang tidak lain adalah Ibu Suri dan menduduki sasana gaib di Goa Suci Rahayu, tepatnya didepan pintu goa. Karena dari tujuh orang anggota Dewan Sapta Prabu hanya beliau yang berjenis kelamin perempuan, maka dapatlah diduga yang menjadi keahlianya. Beliau adalah wanita sejati yang piawai mencari jalan keluar atas masalah kenegaraan, yang lebih khusus lagi masalah kewanitaan. Sedangkan yang menduduki sasana gaib di dalam Goa Suci Rahayu adalah Ibu Ratu Sri Kencana Wati.

IBU RATU SRI KENCANA WATI

Beliau ini tak lain adalah Putri Raja Sanjaya yang dilanda kecewa berat, karena beliau dilahirkan sebagai wanita. Dia kecewa karena merasa terlahir tidak memenuhi harapan ayahandanya, yang senantiasa terlahir anak laki-laki, dengan harapan kelak dapat menggantikan tahta dari ayahnya. Ibu Ratu Sri Kencana Wati ini lahir dari istri raja sebagai permaisuri yang bukan Dewi Nawang Wulan.

Atas kekecewaan dan dianggap sangat mengecewakan ayahnya itulah dia lalu bersumpah akan menjalani tapa tidur sampai mati didalam Goa Suci Rahayu, dengan ditunggui oleh Ibu Suri atau Ibu Suci Rahayu. Sampai sekarang petilasnya dapat diketemukan berupa sebuah batu besar yang bentuknya mirip orang dalam posisi tidur terlentang membujur kearah utara yang terletak didalam Goa Suci Rahayu.

DI PERTAPAAN ADA APANYA

Kebanyakan bagi yang sudah pernah berziarah ataupun laku lainya di pertapaan-pertapaan atau petilasan-petilasan, didalam batin mereka ada semacam pertanyaan seperti tertulis pada sub judul diatas. Pertanyaan tersebut sebetulnya wajib deberi jawaban, kalau bisa dengan jawaban yang masuk akal dan jelas apabila tidak bisa paling tidak harus ada keterangan yang mendekati penalaran yang mapan.

Sebab apabila mengikuti kegiatan wisata spiritual, hanya sekedar ikut-ikutan saja, menurut saja dan sekedar mengekor kepada yang sudah pernah kesana atau kepada juru kunci, diawali dengan serta merta saja hanya sekedar tertarik karena cerita orang atau sekedar terpengaruh ajakan teman, kenalan atau famili yang konon sudah berhasil memperoleh ketenangan hidup, itu semua rasanya kurang afdol.

Padahal pertapaan biasanya tempatnya jauh dari tempat tinggal masing-masing maka sudah barang tentu harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan menghabiskan waktu serta tenaga. Maka ditengah proses ritual, mengorbankan uang, waktu dan tenaga serta menimbulkan kantuk.

Menurut pengalaman penulis, pertapan, petilasan dan tempat peziarahan lain yang dianggap keramat, biasanya mempunyai nilai lebih, berupa:

Tempatnya Asri

Terkesan agak sepi, udaranya segar mengenakkan dan layak dipergunakan untuk wisata alam maupun budaya. Karena pemandangan alamnya biasanya indah dan alami. Keadaan yang seperti itu biasanya menenangkan hati dan menentramkan batin.

Padahal setiap orang membutuhkan hiburan yang menimbulkan rasa senang, damai dan tentram, agar hilang rasa keruwetan-keruwetan yang melelahkan dalam kegiatan sehari-hari yang membosankan yang kadang-kadang menimbulkan ketegangan pikiran.

Maka diharapkan setelah melakukan wisata, apalagi wisata spiritual, minimal beban pikiran menjadi lebih ringan. Apabila beban pikiran sudah terasa ringan, pada giliranya dapat memulai segala rencana dan melangkah pada pelbagai kegiatan yang menuntut prakarsa, tenaga dan kesiapan batin, agar dapat membuat prestasi yang selama ini belum bisa diraih, beserta kewajiban yang akan disandang, semua itu harus dilaksanakan dengan penuh semangat dan percaya diri.

Keramah Tamahan

Orang-orang yang mengadakan lelaku dan para peziarah lainya, sikapnya pada sesama peziarah, sepertinya ada semacam pengikat kebersamaan yang erat, yang memberi kesan rasa menyatu didalam laku prihatin, satu didalam niat dan derita hati. Diantara mereka dapat berkomunikasi dengan penuh keakraban bagaikan kenalan yang sudah lama bergaul. Tak segan-segan diantara mereka memberikan petunjuk dan sumbang saran untuk mengatasi kesulitan hidup. Komunikasi dan pembicaraan berlangsung dengan keramah-tamahan yang akrab. Malah didalam kegiatan pertapaan atau semacamnya tidak menutup kemungkinan dapat bertemu kenalan yang dapat memberikan petunjuk mengatasi permasalahan-permasalahan kita ataupun sebaliknya.

Kebanyakan dari orang-orang yang sering merambah pertapaan, jarang ada yang memiliki sikap yang terkesan sangar dan angker. Sebaliknya sikap malah selalu akrab dan bersahabat, sopan, murah senyum, mudah memberikan pertolongan dengan penuh rasa asah, asih dan asuh. Dari rasa asah dapat diperoleh hasil dari tukar pengalaman dan wawasan. Dari rasa asih dpat membuka kodrat kesucian manusia yang cenderung saling mengasihi. Dan dari rasa asuh sama-sama bisa memberi dan menerima rasa aman dan mengamankan sesamanya.

Kesan Sakral dan Spiritual

Kesan sakral dan spiritual selalu dirasakan dan dialami ditempat peziarahan, karena memang kesanya terasa angker dan menakutkan. Dengan demikian cara melakukan kegiatan spiritual sudah barang tentu diperlukan pemaksaan diri dengan khusuk dan hening yang sungguh-sungguh. Sebab sepertinya sudah menjadi kodrat atau kesan psikologis, manakala seseorang dirundung rasa takut dan ngeri, orang tersebut akan patuh dan bersungguh-sungguh dalam menjalani suatu perintah atau tuntunan tertentu.

Dengan kesan sakral dan spiritual pada akhirnya yang dirasakan dihayati hanyalah keberadaan Tuhanlah tempat meminta pertolongan. Suasana demikian itu apabila ditambah dengan keadaan yang sepi dan menentramkan seperti dikatakan diatas, rasa perasaan ini sepertinya selalu dekat dengan Tuhan. Dan dapatlah dipedomani bahwasanya mendekat dan “melihat” keberadaan Tuhan seharusnyalah dengan ketenngan hati yang jauh dari dengki.

Mengurangi Kebiasaan

Dipertapaan tidak seperti di tempat tinggalnya sendiri. bagi yang biasanya dirumah selalu dilayani, dipertapaan terpaksa harus mengurus diri-sendiri. yang terbiasa hidup dalam kemewahan dan berkecukupan, dipertapan fasilitasnya serba terbatas. Yang biasanya selalu ingin cepat dan terburu-buru disitu terpaksa tidak dapat bertindak egois, karena harus menghormati peziarah lain, misalnya diwarung, pelayanan mandi, cuci dan kakus harus antri dan sebagainya. Dengan keadaan demikian diharapkan akan menimbulkan kesadaran bahwasanya manusia sama derajatnya dihadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah kesucian pikiran, perkataan dan perbuatannya kepada Tuhan, sesama dan alam sekitarnya.

Ada Daya Lebih

Daya lebih yang dimaksud apabila disebut dengan bahasa sekarang adalah daya yang berasal dari gelombang getaran elektromagnet dari badan seseorang atau gampangnya dinamakan bio elektrisitet. Getaran gelombang ini timbul karena laku dari para tokoh legenda dimasa lalu, ketika melakukan tapa, samadi dan melakukan ritual lainya, yang menggunakan daya hening cipta tingkat tinggi, hingga mampu mengeluarkan energi gelombang kekuatan prana, dengan menggunakan daya alam beserta daya pribadinya yang saling mengisi, maka terbentuklah kekuatan supranatural yang bersirkulasi secara simultan antara manusia, alam dan gaibnya Tuhan.

Dari proses ini menimbulkan daya berupa getaran energi yang karena proses sirkulasi tadi, kemudian energi tersebut menempel pada tempat dimana kegiatan ritual itu dilakukan. Dan penempelan daya itu tidak akan hilang selamanya, berdasarkan hukum alam bahwasanya zat dan energi tidak dapat dimusnahkan, biasanya hanya bersirkulasi melalui proses sikel dan daur ulang.

Berdasarkan keterangan diatas maka antara pertapaan dan petilasan, kiranya yang banyak mengandung tilas daya lebih adalah petilasan. Namun secara efek psikologis, lebih baik yang berupa makam, karena terkesan disanalah bersemayam jasad dari tokoh legenda. Dari itulah petilasan yang sebenarnya bukanlah suatu makam atas jasad tokoh tertentu, lalu direka-reka sepertinya makam sungguhan. Seperti halnya tokoh Syekh Maulana Maghribi yang makamnya ada dimana-mana.

Pada akhir-akhir ini, ada beberapa kelompok yang dapat mengajarkan pembudidayaan getaran rasa sejati berupa perguruan ilmu kontak persilatan tenaga dalam, senam tenaga batin dan sebagainya. Walaupun bobot dan kualitasnya belum tentu dapat menyamai dengan daya yang dihasilkan oleh para tokoh tempo dulu, namun kiranya hal itu dapat dijadikan bukti bahwa getaran rasa sejati dapat dibudidayakan oleh siapa saja yang mau, terlepas untuk apa hal tersebut dimanfaatkan………………….

PANCA GA’IB

1. KUNTJI.

Gusti ingkang moho suci,kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.sirolah datolah sipatolah.kulo sejatine satrio.nyuwun wicaksono nyuwun panguoso.kangge tumindake satrio sejati,kulo nyuwun kangge hanyirna’aku tumindak ingkang luput……7.x.

2. PAWELING.

Siji-siji,loro-loro.telu telonono.siji sekti-loro dadi-telu pandito.siji wahyu-loro grotrohino-telu rezeki…..3.x.

3. ASMO….GA’IB…..(……..).

4. SINGKIR.

Gusti ingkang moho suci.kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.sirolah datolah sipatolah.kulo sejatine satrio.hananiro hananingsun.wujudiro wujudingsun.siro sirno mati dening asmo sejati.ketiban iduku putih.sirno layu dening……asmo sejati…..3.x.

5. MIDJIL.

1.midjil rogo

…..asmo sejati….jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso ragane bade…..reksanen murih kelaksanan kang dadi sediyane kanti teguh rahayu slamet….1.x.

2.midjil sesuci

……asmo sejati…..jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso sesuci nyuceni rogo pribadi…..1.x.

3.midjil mbekso

…asmo sejati……… jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso mbekso mbeksoniro rogo pribadi…..1x.

4.midjil ga’ib

….asmo sejati…….. jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso nyuwun sasmito ing ga’ib…..1.x.

5.midjil sowan

…asmo sejati……. jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso sowan ing ngarsane kanjeng romo sejati.gusti prabu heru cokro smono………..arso sowan bade nyuwun tambahe pangestu lan pengayoman.ugo sedoyo ingkang kulo aturaken.sageto kelaksanan kanti teguh rahayu slamet………..gusti ingkang moho suci…..kulo nyuwun……(……..).3.x.

6.midjil kramas

…..asmo sejati…….. jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso ragane bade adus karmas.ngresiki badan siji tekan ati.reksanen murih kelaksanan.resik njobo resik njero.bersih njobo bersih njero.suci njobo suci njero.resik bersih suci.dening pangestune gusti ingkang moho suci.

7.midjil sampurno

…asmo sejati…..jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso nyampurna ake.sri mawur.komo wurung bajang wurung.kang umijil soko badaningsun.asal suci balio menyang suci.asal banyu balio menyang banyu.asal geni balio menyang geni.asal angina balio menyang angin.asal sari-sarining bumi balio menyang sari-sarining bumi.asal urip balio menyang urip.kersaning moho suci piyambak.

8.midjil toto lenggah

……asmo sejati…..jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso noto.natak ake lan nglenggahake sakabehing.pusoko2 pribadi sejati.busono2 pribadi sejati.lan sabdo2 pribadi sejati.paringane kanjeng room sejati.maring badan pribadi sejati.murih di podo tumoto mapan lenggah.kanti setoto becik.di tompo ngurbani rogo pribadi sejati.kawibawane arso ingsun agemi.kangge lakune badan sedino-dino.murih katekan sediyane.kanti teguh rahayu slamet…….1.x.

9.midjil matek

…asmo sejati jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso matek………1.x.

10.midjil wiyosan rogo

…..asmo sejati…..jeneng siro mijilo panjenengan ingsun kagungan karso.arso ngrawuhi wiyosan rogo.ngilingi sedulur papat limo pancer ugo kabeh sedulur kang nunggal lahir sedino.ing dino iki dak pengeti.

11.midjil wiyosan urip.

…..asmo sejati……jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso ngrawuhi wiyosan ngilingi urip.

12.midjil wiyosan.

…..asmo sejati…..jeneng siro mijilo.panjenengan ingsun kagungan karso.arso ngrawuhi wiyosan ngilingi tumurune wahyu ponco ga’ib ing malam senin pahing.

13.PALUNGGUH.

….asmo sejati…..lungguho ingkang prayugo.ragane arso tentrem.sun sangoni besuki.kalis ing sambikolo.oleho rejeki lumantar saking sangkan paran kanti teguh rahayu slamet.3x

SARANA UNTUK LAKU MANUNGGAL ;

SARE’AT UNTUK WIYOSAN RAGA PRIBADI

( wetonan hari kelahiran) waktunya di hari kelahiran ( ulan tahun )

Sarat/sajen.

Jenang abang……..1….lepek

Jenang putih………1….lepek

Jenang abang putih…..1….lepek

Jenang putih di tumpangi abang…..1…lepek

Jenang abang di tumpangi putih…….1…lepek

Jenang baro-baro…..1….lepek

Entek-entek….secukupnya

Kembang setaman…..secukupnya

NIYATNYA.

Baca kuntji 7x. paweling 3x. midjil wiyosan rogo 1x.terus bersamadi seperlunya

TEBUSANYA.

Puasa mulai dari jam 16.00 sore.sampai jam 16.00 sore.tidak tidur mulai dari

jam 18.00 sore sampai jam 24.00 malam.mulai dari jam 23.00 malam bersamadi mengamalkan.midjil sampurno 1x. paweling 3x.kuntji 7x.terus bersamadi hingga selesai.

SARE’AT UNTUK WIYOSAN HIDUP.

(memperinganti hidup) waktunya malam senin pahing

Sarat/sajen.

Kopi pahit……1….gelas

The pahit….1…gelas

Iar putih….1…gelas

Tumpeng punar ….1…..piring

NIYATNYA.

Baca kuntji 7x. paweling 3x. midjil wiyosan urip 1x.terus bersamadi seperlunya

TEBUSANYA.

Tidak tidur mulai dari jam 18.00 hingga sampai jam 07.00 pagi.pada jam 24.00 malam.mengamalkan kuntji 7x. paweling 3x. midjil sowan 1x. terus bersamadi hingga selasai.

SARE’AT UNTUK WIYOSAN KUNTJI.

(memperingati turunya wahyu panca ga’ib) waktunya tanggal 14 bulan 11 ( nopember )

Sarat/sajen.

Kopi pahit….1…gelas

The pahit….1….gelas

Air putih……1….gelas

Tumpeng kuning …1…piring

Lodo ketan ireng / gagang padi ketan hitam.yang di bakar.lalu di ambil abunya.terus di campur air bersih …1….mangkok

NIYATNYA.

Baca kuntji 7x. paweling 3x. midjil wiyosan 1x.terus bersemadi seperlunya

.TEBUSANYA.

Tidak tidur mulai dari jam 16.00 sore sampai jam 16.00 sore.di sa’at tidak tidur,tepat jam 24.00 malam mengamalkan kuntji 7x. paweling 3x. midjil suci 1x.terus bersamadi hingga selesai. Dan puasa mulai dari jam 04.00 sampai jam 16.00 sore.

TUNTUNAN :

Laku Kusus untuk sowan atau sungkem di makam/tempat keramat….)

 

Untuk sowan atau sungkem di makam para leluhur…………,

SYARATNYA ;

Sediakan kembang kenanga………..7 buah

Kembang gambir/kinangan ……………selengkapnya

Kembang melati ……..7 buag dan minyak jabat kasturi……..1 botol atau 7ml/7gram

Jika suka membakar dupa. Bisa di gunakan…..

CARANYA ;

Setibanya di tempat. Duduk di samping keramat dgn menghadap ke timur. Lalu siapkan ke 4 syarat tadi di depan tempat duduk kita. Lalu ucapkan salam………….

“Hong atau Bismillaahir rohmanir rikhim…amit tabik sekalian pasang keparengo marak sowan ing ngarsanipun………….”sebut nama penghuni keramatnya

“Keparengo putro caos bekti, lepat kekiranganipun nyuwun pangapuro.”

Jika menggunakan dupa. Bacalah kalimah di bawah ini. Sebelum membakar dupa……….

“Hong atau bismillaahir rohmanir rokhim……..hagni suci sucekno kamulyan ingsun, mulyakno kasucen ingsun, urupno uriping kawicaksanan ingsun.”

Lalu bacalah ini sambil membakar dupa……..

“Hong wilahing atau bismillaahir rohmanir rokhim……jatimas tumono sidam sekaring bawono langgeng prapenku selo petak dupoku dupo mulyo guyuhno kamulyan ingsun, tak jaluk rilamu siro sun obong kukusmu mumbul ngawiyat ing ngarsaning GUSTI INGKANG MOHO SUCI tumurun dumateng……………”sebut nama penghuni keramatnya

Lalu bacalah kalimah di bawah ini……….

“Hong atau bismillaahir rohmanir rokhim…sumujud ngarso dalem Gusti Ingkang Moho Suci, sumungkem ngarso dalem……sebut nama penghuni keramatnya………… Sembah sedoyo panelongso dalah panjangka ingsun nyuwun tambahing berkah pengayoman. Sedoyo panelongso nyuwun usodho, sedoyo panjongko nyuwun sembodo. Berkah nyuwun limintuning rejeki ingkang agung rahayu, pengayoman nyuwun slamet sak rakyat sak bandane. Kerso saking kuasane:”

KUNCI

“Gusti Ingkang Moho Suci kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti Ingkang Moho Suci. Sirolah Datolah Sifatolah. Kulo Sejatining Satrio/wanito. (Satrio untuk lelaki. Wanito untuk wanita).  nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso kangge tumindake Satrio Sejati. Kulo nyuwun kangge hanyirnaaken tumindak ingkang luput.” 7.x

PAWELING

“Siji-siji Loro-loro Telu-telonono,

Siji sekti loro dadi telu pandito,

Siji wahayu loro gat’rahino telu rejeki .” 3.x

MIJIL

“………..(Asma Sejati) jeneng siro mijilo, panjenengan ingsun kagungan karso arso…sowan, ing ngarsaning………sebut nama penghuni keramatnya……sowan bade…….sebut apa maksud sowan kita…….(niat pribadi).” 1.x

Lalu bacalah kalimah di bawah ini. 1.x

Kamaning allah nglebur gama ngrusak gama,nyigar makam nlusup badan lan sukma,bumi sap-pitu,langit sap-pitu,tak bekta’na ambu tan ana kang kari,

Ga….kang sepisan,medal ing karna kembang kenanga arum gandane.

Lalu letakan kembang kenanganya di atas keramat

Ga….kang ping kalih,medal ing grana kembang gambir arum gandane.

Lalu letakan kinanganya di atas keramat

Ga….kang ping tiga,medal ing tutuk kembang mlati arum gandane.

Lalu letakan kembang melatinya di atas keramat

Ga….kang ping sekawan,medal ing puser lenga jabat kasturi arum gandane.

Lalu tumpahkan minyak jabat kasturinya di atas keramat

Ngelebi ngisor ngelebi nduwur,terus langit sap-pitu ambu tan ana kang kari,mbukak lawang swarga….allahu akhbar-allahu akhbar-allahu akhbar.

Dahar muhammad kang medal ing netra.

Dahar muhammad kang medal ing grana

Dahar muhammad kang medal ing tutuk

Dahar muhammad kang medal ing puser

Dahar muhammad kang medal ing khubul

Dahar muhammad kang medal ing dzubur

Ya-Allah-Wa-Ya-Hu-Allah-Allah-Allah-Allah-Allah-Allah-Ya-Allah.

Sallallahu ngalaihi wa salam,allahuma turunsih,ana drajat saka wetan putih rupane,kedadeayane saka kawah,anjunjung marang jabang bayine…….,allahuma turunsih,ana drajat saka kidul abang rupane,kedadeayane saka getih,anjunjung marang jabang bayine……….,allahuma turunsih,ana drajat saka kulon kuning rupane,kedadeayane saka puser,anjunjung marang jabang bayine……..,allahuma turunsih,ana drajat saka lor ireng rupane,kedadeayane saka ari2,anjunjung marang jabang bayine……….,allahuma turunsih,ana drajat saka bapa kang netep ake marang si jabang bayi,kang anjunjungna,allahuma turunsih,ana drajat saka biyung kang andadek ake marang si jabang bayine…..,allahuma turunsih,ana drajat saka allah kang paring urip,paring sandang,paring pangan marang si jabang bayi lan anjunjung marang si jabang bayiku kersaning allah,laa illaaha illallah muhammadur rosullullah,allahuma ya-ratu wa alihi ing ratu sare’at iman,ya-ratu birohmatika ya-arhamar rikhimin…………..

Di setiap tititk-titik di kalimah atas. Di isi nama asli kita sendiri.

Terus……..bermeditasilah/samadi…mengheningkan cipta…..semampunya. jika sudah merasa cukup dalam semadi/meditasi. Bacalah kalimah di bawah ini………….

“Gusti Hyang keparengo putro ngalap berkah (*kangge mberkahi) ngukup pengayoman (*kangge ngayomi).” …(……………………)….Atau apa saja yang menjadi tujuan dan niyat awal di ucapkan dalam batin……….

Lalu berpamit seperti di bawah ini ;

“Gusti Hyang cekap atur kawulo berkah kulo tampi pengayoman kulo suwun. Keparengo madal pasilan paduko, nyuwun tansah tinuntun, lepat kekiranganipun nyuwun pangapuro.”

Lalu bacalah kalimah di bawah ini sebagai penutupnya ;

(Asma Sejati) lungguho ingka prayugo. Ragane arso tentrem. Sun sangoni basuki. Kalis ing sambikolo. Kanti teguh rahayu selamet.”…..3.x….

Dengan cara…….menempelkan telapak tangan kanan ke dada sebelah kiri. Yang terdapat ada detak jantungnya…………

SELESAI……………..

——0o0——

Selanjutnya. setelah peristiwa keajaiban yang di alami jaka tolos di purworejo,tentang proses penyempurna’an para leluhurnya,lalu sesuai petujuk jaka berangkat menuju ke pekalongan untuk membuka lembaran memulai membuka lembaran hidup yang baru.setibanya di pekalongan jaka tolos mengambil posisi tempat di sebelah barat selatan kota pekalongan,dan menetap di kecamatan sragi,sambil membuka praktek pengobatan alternative tradisional,jaka berusaha menyampaikan berita dan kabar gembira kepada para tokoh dan ahli laku,juga pada semua sahabatnya,semua teman dan rekanya bahkan keluarganya serta sanak kadangnya

Selain di pekalongan sendiri,jaka juga menyempatkan untuk keluar menemui para kiyai para ulama’ dan tokoh serta para ahli laku dan supranatural di berbagai penjuru kota di tanah jawa,untuk bermusawarah dan salin tukar pengalaman berdasarkan asah asih asuh, suka duka,kritik dan saran bahkan pertentangan dan perdebatan pun di temui dan di alami oleh jaka,namun di terima dan tidak di terima jaka tetap berjalan dengan apa adanya, tanpa beban apapun.setelah 3 bulan kurang lebihnya menjadi warga di pekalongan,jaka mulai di kenal banyak orang,hingga salin berdatangan,ada yang untuk berobat,ada yang untuk berkonsultasi dan ada juga yang datang untuk berdebat masalah pengertian laku

Djaka juga bertemu dengan banyak orang yang satu pegangan hidup,namun berbeda tujuan jalanya,tapi jaka tetap pada prinsip dan pendirianya,tidak goyah dan tidak gentar sedikitpun dalam menghadapi liku2 dan proses hidup,karena jaka yakin setiap makhluk hidup itu memiliki proses sendiri2.sejak memegang pedoman hidup yang sejati,banyak para tokoh dan ahli yang di patahkan oleh jaka tolos di dalam pengertian laku yang sempurna dan sejati.walau begitu,jaka tetap sesekali datang ke makam m.smono sastrodidjoyo di purworejo untuk berziarah. Dan di dalam ziarah. Tidak jarang mendapat wejangan2 melalui ga’ib.

Sesekali djaka menjenguk istri2nya termasuk yang di cirebon.dan pada akhir tahun 2001,jaka mendapat jodoh orang pekalongan.wanita yang sudah bersetatus janda beranak tiga,yang di tinggal mati suaminya akibat sakit di teluh saingan usahanya,dan menikahinya pada awal tahun 2002,dan sejak itu jaka tinggal bersama istrinya di desa tegalsuruh kecamatan sragi.pada bulan 4/2002 jaka mendapat panggilan ke kota pekalongan untuk mendukung calon wali kota,dan jaka berhasil mendukung calon wati kota hingga sah menduduki jabatanya sebagai wali kota di pekalongan.dan pada bulan 7/2002,

Selain itu, jaka juga di panggil pulang ke pasundan untuk mendukung pencalonan kepala desa di kampungnya.dan jaka berhasil lagi dalam mendukung calon kepala desa tersebut. setelah itu di undang lagi untuk mendukung pencalonan kepala di tetangga desa,namun jaka tolos gagal dalam mendukungnya.pada awal tahun 2003,kota pekalongan mengalami kemunduran ekonomi.akibatnya banyak pengusaha yang jatuh bangkrut hingga meninggalkan banyak hutang di sana sini terutama di bank,dan rata2 para pengusaha itu adalah teman2 jaka minimal kenal dengan jaka,merekapun berdatangan silih berganti untuk minta tolong kepada jaka,karena semuanya sudah nekad dengan tujuanya masing2 dan tidak bisa di nasehati apa lagi di ubah atau di tawar,jaka tolos menjadi sering merasa serba salah,di tolong kasihan karena sama halnya dengan kata menjerumuskan teman, tidak di tolong di anggap tega dan tidak kasihan kepada teman.

Akhirnya jaka pun pasrah pada keputusan sang maha suci yang telah di tentukanya, karena dia yang maha kuasa atas segalanya,dengan begitu,ada yang di tolong dengan melantarkan pada para sahabat2nya yang di alam ga’ib.ada pula yang di tolongnya secara pribadi,tapi ada pula yang di tolaknya,pada suatu sa’at tepatnya bulan 5/2003,jaka pergi ke Surabaya untuk menghindari para temanya yang datang bertamu dengan tujuan konyolnya masing itu,jaka menenangkan diri di makam kiyai tambak deres di tepi pesisir pantai kenjeran putih,sa’at jaka bangun malam hendak mandi dan akan berdzikir,jaka di kejutkan oleh munculnya seorang pria yang hendak bunuh diri di tepi pantai dengan menggunakan tali yang di ikatkan di pohon bako yang tumbuh di pinggir laut.bergegas jaka mencegah dan menghentikan aksi bunuh diri itu

Di awali dengan pertengkaran dan perkelahian terlebih dahulu,akhirnya jaka berhasil menyadarkan orang tersebut,lalu di ajaknya ke makam untuk berbincang,setibanya,lalu jaka bertanya tentang penyebabnya hingga harus nekat bunuh diri kepada orang itu.dan sambil menangis orang tersebut menceritakan masalah hidup yang sedang di alaminya. hingga membuatnya nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.dia bernama tri atmojo,asal dari kediri dan kerja di sebuah kantor dinas wali kota Surabaya serta tinggal menetap bersama anak dan istrinya di kenjeran ini.tri atmojo adalah putra tunggal dari salah satu pengusaha sukses di kediri.sudah 15 tahun berumah tangga dengan istrinya yang berasal dari pasuruan

Namun sebenarnya tri atmojo adalah pria gay,lelaki yang menyukai lelaki.sejak kecil hal itu di rasakanya,dan sudah dari kecil pula tri atmojo tidak pernah punya rasa suka pada seorang wanita,apalagi untuk mencintainya.tapi karena hal tersebut di tentang agama dan di tolak masarakat pada umumnya,tri atmojo berusaha memendam dan menyembunyikan perasa’anya itu,dank arena tidak mau mengecewakan orang tuanya,sehingga tri menutupi dan membohongi dirinya sendiri,dengan cara mengikuti kemauan orang tuanya untuk menikah dengan wanita yang sudah di persiapkan sejak lama,walau sesungguhnya hati kecil tri atmojo sangat tidak menyukai perkawinan tersebut

Lalu, menikahlah dia,hingga 15 tahun lamanya tri berusaha mempertahankan perkawinan itu,namun tri tetap berontak dan tidak kuat juga,hingga pada akhirnya tri atmojo bertemu dengan teman asal dari gresik yang sama2 gay,dan secara diam2 dan sembunyi2 tri atmojo sering melakukan hubungan badan dengan temanya itu,terkadang di hotel dan terkadang di rumahnya sendiri jika sang istri sedang tidak ada di rumah.lama2 hubungan gelap itu di ketahui istrinya,dan menjadi masalah besar dalam karir dam hidupnya,sang istri yang kecewa dan merasa telah di jadikan tutup serta pelampiasan nafsu itu,setelah tau kalau tri atmojo suaminya adalah seorang pria gay,selain minta cerai,dia juga mengancam akan mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya dan kepada public agar termuat di media masa.karena itulah tri atmojo memilih mati bunuh diri dari pada mengalami ancaman sang istri

Karena jika hal itu terjadi,bukan Cuma dirinya yang akan malu dan hancur,tapi juga kedua orang tuanya,seusai menceritakan masalahnya,lalu jaka bangkit menghampiri tri atmojo,di peluknya tubuh yang sedang terisak nangis di hadapanya itu.lalu di raihnya dan di suruh duduk di sampingnya,lalu jaka bercerita sejarah pribadinya,sambil sesekali menepuk pundak tri atmojo sebagai tanda memberi semangat hidup kepadanya.lalu jaka juga bercerita kalau dirinya juga pernah menjalani hidup sebagai pria gay atau homo seksual,tapi hal itu sama sekali tidak menjadi beban bagi jaka,karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendak tuhan,dan setiap kehendak tuhan,itulah benar,dan ke benaran tuhan itu adalah baik dari setiap yang terbaik.

Selain itu di katakana pula oleh jaka pada tri atmojo,bahwa manusia hidup itu sesungguhnya tidak punya kuasa apapun.apa lagi untuk menolak dan melawan kehendak tuhan,sekalipun dia seorang wali bahkan nabi,jiak tuhan menghendaki wali atau nabi itu untuk menjadi seorang gay atau homo,apa yang bisa di lakukanya kecuali menjalankanya, itu karena kita ini tak punya kuasa apa2,hanya sakdermo nglakoni lan nrimo ing pandum, takan mampu menolak kehendak tuhan,karena lagi,tuhan itu adalah maha di atas masa.dia kuasa atas segalanya,tinggal kita menilai dan menjalankanya dengan bagaimana.apa yang sedang mas tri alami itulah kehendak tuhan,peran dari tuhan buat mastri,yang harus di jalani hingga selesai dan tamat

Jika telah tamat atau selesai,dan mas tri masih punya waktu untuk hidup di dunia ini,maka nanti mas tri akan mendapat peran baru lagi entah sebagai apa lagi,dan itu harus di selesai lagi,jika tidak,maka selamanya akan jadi beban hidup hingga akhir jaman yang akan menjadi tanggung jawab kita sebagai hamba tuhan.begitu selamanya dan selalu begitu hingga kehidupan kita berakhir.menolak maka itulah yang di sebut murtad dan durhaka.ingkar maka itulah yang di sebut sesat dan musrik.tidak tau dan tidak mengerti, maka bonggan

Karena itulah yang di sebut orang aniaya.terima dan jalanilah semua kehendak tuhan dengan apa adanya,hingga kita berhasil menyelesaikan peran kita dengan sempurna,ada awal pasti ada akhir,itulah yang harus kita jadikan sebagai dasar kesimpulan,jangan malu atau apalagi takut pada sesame manusia,jika malu,malulah kepada tuhan karena ke ingkaran kita,jika takut takutlah kepada tuhan karena kemurtadan kita,percayalah,apa yang telah menjadi kehendak tuhan itu adalah baik.jika istrimu minta cerai tak mau di damai lagi,ceraikan,mungkin itu juga telah menjadi bagian dari kehendak tuhan,jika mas tri malu kepada semuanya,saya akan berada di samping mas tri.jika perlu akan saya katakan pada semua yang ada di sekitarmu,kalau saya juga gay,dengan begitu mas tri tidak sendirian lagi kan,bukan Cuma mas tri yang mendapat peran seberat itu,tapi banyak,bahkan lebih banyak dari yang mas tri duga,hanya saja mereka bohong, membohongi dirinya sendiri,tak mau mengakuinya,dan itulah yang di sebut,orang2 yang telah ingkar kepada tuhan.setelah banyak mendengar kisah dan nasehat dari jaka

Akhirnya tri atmojo menjadi tenang dan percaya diri lagi.lalu jaka menyuruhnya pulang ke rumah,dan berpesan jika ada apa2 agar menemui jaka di tempat itu.sejak itu tri atmojo sering menemui jaka di makam kiyai tambak deres di tepi pantai kenjeran untuk meminta banyak pengalaman jaka,jaka pun mengangkatnya sebagai murid.karena sang istri tak mau di ajak kompromi lagi.tri atmojo akhirnya menceraikan istrinya,dan setelah itu istrnya menjajahkan dirinya sebagai pelacur di salah satu bar hiburan malam.sementara tri atmojo sendiri tetap tinggal di tempatnya semula bersama ke tiga anaknya,jaka pun memberi bukti kepada tri atmojo tentang kejadian yang di alaminya,….

Nah sekarang istrimu juga mendapat peran baru setelah bercerai denganmu,dan pesan itu lebih baik dari peran yang sedang kamu jalani,tri atmojo mengangguk anggukan kepalanya,semakin yakinlah dia kepada tuhanya,beberapa hari kemudian setelah itu,tri atmojo ternyata diam2 jatuh cinta pada jaka,dari hasil semua nasehat yang di berikan jaka kepadanya,dia berkesimpulan,kalau jaka itu adalah jodohnya.dan dengan apa adanya tri atmojo mengutarakan rasa cintanya yang tulus kepada jaka tanpa beban apapun.jaka pun mengucapkan banyak terima kasih atas ketulusan cintanya itu.lalu sebagai tanda bukti cintanya.atmojo minta ijin untuk memeluk dan mencium jaka

Dan sebagai tanda pengayoman jaka mengijinkan permohonan tri atmojo tersebut  membiarkan tri memeluk dan mencumbunya,tri atmojo terkesan hingga meneteskan air mata,lalu berkata,terima kasih atas semua petuahnya,terima kasih atas segala pengertianya, jaka tersenyum sambil menepuk bahu kanan tri atmojo

Setelah sebulan mendidik tri atmojo sebagai murid.di ndolik Surabaya jaka tolos bertemu seorang gadis tuna susila asal dari lamongan yang sudan yatim piatu dan tanpa sanak saudara.bernama sri ayem.dia ingin berhenti dari melacur jika ada lelaki yang mau menikahinya.lalu jaka tergugah hatinya untuk mengangkat gadis itu dari lembah hitam yang telah menghancurkan moralnya.dan di nikahinya.setelah menikah jaka mendidiknya dengan ilmu ketuhanan.setelah sri ayem mengenal tuhan dan mengetahui jalan menujunya.lalu sri ayem pergi meninggalkan jaka untuk menghadapan ilahi robbi.

Setelah 3 bulan menjadi istri jaka dan mendapat tuntunan dari jaka.setelah 41 hari ssesudah pemakaman sri ayem istrinya.lalu jaka kembali pulang ke pekalongan lagi,setibanya di pekalongan,di sa’at jaka sedang berjalan kaki menuju rumahnya,tiba2 jaka melihat tetangganya sedang di pukuli oleh tamunya,yang datang menagih hutang,sebut saja orang itu bernama kusnadi.salah satu tetangga jaka di pekalongan.kusnadi adalah sopir mobil serabutan,entah karena apa awalnya sehingga sampai mempunyai hutang sebesar 50 juta pada seorang rentenir

Dan tak bisa membayarnya,karena itulah bodikat Yang di suruh rentenir itu datang menganiaya kusnadi,melihat kejadian itu,jaka bergegas menolong tetangganya tersebut,lalu di ajaknya masuk rumah untuk bermusawaroh secara kekeluarga’an.karena kasihan melihat ke ada’an tetangganya itu,lalu hutangnya sebesar 50 juta itu,di lunasu oleh jaka,hingga sejak habis kejadian itu,kusnadi dan istrinya mengaku saudara pada jaka dan hampir setiap sa’at datang ke rumah jaka untuk bercerita tentang banyak hal

Lalu jak pun menjadikan dia sebagai murud pula,berbagai didikan di berikan pada saudara angkatnya itu.hingga benar2 mengerti akan makna hidup yang sesungguhnya. pada suatu ketika,karena factor kesulitan ekonomi.kusnadi minta tolong lagi kepada jaka,untuk melantarkanya pada nyai blorong,guna memujanya agar bisa menjadi kaya raya tanpa bersusah payah,dank arena sangat saying dan kasihan pada sang murid,jaka melarang kusnadi untuk mengambil jalan pintas itu dengan segala nasehat,tapi kusnadi tetap bersikaras memaksa,hingga suatu sa’at.jaka di bohongi untuk bisa datang ke rumahnya,guna mengobati istrinya yang sedang sakit mendadak tanpa sebab

Lalu jaka bergegas ke rumah muridnya itu,setibanya di tempat,jaka di suguhi minuman yang sebelumnya sudah di bubuhi obat perangsang.hingga secara mendadak nafsu birahi jaka memuncak tak terkendali.pada sa’at itu kusnadi menyediakan istrinya untuk di gauli oleh jaka,jaka yang telah lupa diri karena di kuasai oleh obat perangsang itu,tanpa beban menyetubuhi istri muridnya sendiri di hadapan kusnadi,seusainya,ternyata jaka telah di jebak oleh muridnya,atas kejadian itu jaka tolos di ancam akan melapor ke desa jika perlu ke kapolsek dengan tuduhan telah menodai istrinya dan merusak rumah tangganya,jika tetap tidak mau melantarkan dirinya pada nyai blorong,tapi jaka tetap tidak tega pada sang murid yang sudah terlanjur di kasihinya

Hingga jaka tolos tetap tidak mau walau di ancam seperti itu,ternyata benar,kusnadi benar2 melapor ke desa dengan tuduhan seperti itu,juga melapor sampai ke kepolisian, akibatnya jaka tolos di hakimi masa yang menganggap jaka seorang dukun cabul,dan di adili di kelurahan hingga sampai di persidangan,lalu jaka mendapat denda sebagai ganti rugi karena telah merusak rumah tangga orang lain.dan mendapat tahanan selama 3 bulan penjara,tapi semua yang di alaminya.di terima dan di jalaninya tanpa mengelak,dan tetap dengan senang hati

Baginya,dia rela dan merasa lebih baik begini dari pada harus menjerumuskan murid tersayangnya menjadi sesat.dan setelah keluar dari tahan,wibawa jaka sebagai seorang kiyai di kecamatan sragi menjadi turun tragis,rasa malu dan kecewa pada sang murid  sebagai manusia yang tak berdaya tetap ada dan di rasakanya,walau air susu yang telah di berikan jaka kepada kusnadi muridnya,telas di balas dengan air tuba,jaka tetap menganggap kusnadi sebagai keluarga sekaligus murid,karena semua ini adalah ke hendak tuhan,yang telah menjadi sebagian dari laku pribadi jaka yang harus di alaminya.

Untuk menenangkan diri lalu jaka pergi berziarah ke makam m.smono sastrodidjoyo di purwa rejo.setelah   3 malam di purworejo,jaka yang suka dan terbiasa dengan pakaian muslimnya yang serba tertutup.membuat warga purworejo menjadi su’udhon.jaka di curigai sebagai anggota anggota teroris yang pernah meledakan bom di bali.lalu atas .lalu jaka di tangkap oleh pihak kepolisian purworejo untuk menjalani pemeriksa’an.karena tidak ada tanda2 dan bukti yang benar.lalu jaka di bebaskan kembali.lalu jaka berpindah ke mojoagung,untuk berziarah ke makam ki ageng bagaspati,di sinilah jaka mulai belajar mengenakan pakaian yang pada umumnya di gunakan oleh masarakat luas,jaka mulai mengenakan celana panjang dan kaos,terkadang pakai baju oblong,dan lama2 jaka jadi terbiasa juga,tidak menutupi tubuhnya dengan kerapatan baju muslim lagi.

Di mojoagung jaka bertemu dengan ahli laku asal dari malang yang kebetulan sedang berziarah di tempat yang sama.ahli laku itu bernama ahmad shodiq.pemuda yang sudah berusia dewasa.namun sayang pertemuan tersebut berakhir dengan preselisihan yang berujung salin adu ilmu.kejadian itu di sebabkan hanya karena salin berbeda pendapat dalam pengertian laku.ahmad shodiq yang merasa sudah ahli jadi sangat tersinggung dan tidak terima jika perjalananya selama ini di anggap oleh jaka terlalu panjang dan hingga melelahkan.karena tidak tau inti yang sebenarnya.dan karena itu dia penasaran kepada jaka dan ingin mengukur dalamnya laut yang pernah di salami jaka.

Djaka tolos lalu di tantang untuk udu ilmu di sebuah bukit tepi hutan kecil yang jarang di jamah orang2.sebenarnya jaka tak mau melayani hal yang konyol tersebut.tapi karena di paksa sekali.akhirnya jaka melayani tantangan itu.dan di dalam pertarungan itu jaka tolos hampir saja membunuh ahmad shodiq yang juga hampir membunuh jaka dengan cara curang.setelah di kalahkan jaka.dia pura2 ngajak damai.dan di sa’at salin bersalaman tiba2 ahmad shodiq mengeluarkan keris lalu di tusukan ke perut jaka.beruntung pada waktu itu jaka tetap dalam posisi siap.hingga tau dengan apa yang akan menimpanya.dan sejak kejadian itu pula ahmad shodiq baru tau dan menjadi sadar diri.

Bahwasanya di dunia itu tidak ada yang bisa di sebut orang sakti.istilahnya di atas bukit masih ada langit.lalu ahmad shodiq bermohon untuk berguru kepada jaka.tapi jaka menolaknya. karena jaka tau kalau dia memiliki sipat angkara murka.jika sampai memiliki atau mewarisi ilmunya.sudah pasti akan berbahaya untuk orang lain.setelah itu,dari mojoagung lalu jaka ke istana atas angin di bojo negoro.lalu ke pamotan,dan di pamotan jaka bertemu seorang pemuda desa yang memiliki sipat bijaksana,lalu jaka mengangkatnya menjadi murid

Lalu jaka pergi lagi ke goa nagaraja di adipala perbatasan cilacap.dan bertemu dengan dua orang dari Sumatra yang sedang tirakat dengan tujuan menyimpang,lalu jaka berusaha mengayominya,hingga menjadi muridnya lagi,karena mendapat kabar dari sang istri,i pekalongan sedang ada pencalonan DPRD,dan jaka di minta bantuanya untuk mendukung,lalu jaka pulang ke pekalongan.dan jaka berhasil mendukung calon dprd itu duduk sah di kursi tugasnya.seusai itu jaka mendapat undangan untuk menemui ki suro modo ismoyo di pesanggrahanya yang terletak di cemara sewu gunung lawu sragen karena ada sesuatu yang sangat penting

Lalu segera jaka berangkat ke tempat yang di maksud,setebanya di sana,jaka sudah di tunggu oleh romo bu.atau bambang utomo.dalam pertemuan itu,jaka di minta bantuanya untuk mengungkap dana korupsi keluarga mantan persiden Indonesia yang berbentuk IDR.dan tugas itu di percayakan hanya pada jaka tolos.secara empat mata ( rahasia ).dan jaka pun menyanggupinya,entah berapa lama keberhasilanya,setelah pertemuan itu,jaka ke kebumen.untuk menjenguk kedua muridnya yang berasal dari Sumatra,dan di kebumen

Djaka tolos bertemu dengan keluarga yang cukup baik,hingga terjalinlah ikatan persaudara’an antara jaka dan keluarga tersebut,lalu jaka mulai keliling untuk menemui beberapa sahabatnya yang ada di priyuk Jakarta,di bandung,di semarang,dan di tebu ireng jawa timur.untuk bermusawarah tentang misi romo bu yang di pasrahkan padanya,semua sahabat mendukung dan siap membantu jaka bila sewaktu-waktu di perlukan,dan sejak itu jaka di sibukan oleh kepentingan room bu.sampai2 lupa waktu dan keluarga di rumah,untuk perjuangan itu

Semuanya di korbankanya.dengan harapan,bisa berhasil dengan selamat,karena dengan keberhasilan itu jaka bisa mewujudkan cita2nya untuk mendirikan sebuah pesanggrahan yang berguna membantu kaum lemah dan kekurangan,usahanya jaka terganggu oleh panggilan dari salah satu kota di jawa tengah lagi,jaka di undang kembali untuk masalah pencalonan bupati yang akan di laksanakan pada bulan 3 /2007.dengan imbalan yang di janjikan sebesar 50 juta di tambah bonus.dengan imbalan itu jaka berharap akan mendapat modal untuk bekal perjalananya dalam mengungkap IDR.lalu pada bulan 11/2006,jaka mendatangi kota tersebut. untuk mempersiapkan segalanya untuk pencalonan bupati tersebut,calonya adalah seorang wanita dari partai politik PKB.

Dan dengan kesungguhan hati akhirnya jaka tolos berhasil mendukung calon bupati dari pkb tersebut,dan pada tgl 21 / 03 / 2007. calon bupati wanita dari partai pkb itupun, berhasil menduduki kursi bupati, secara sah dan resmi walau begitu banyak tantangan dan rintangan yang harus di bersihkan.namun sayang setelah jadi bupati,hadiah yang di janjikan kepada jaka tidak segera di berikan.alasanya telah kehabisan dana,hingga waktunya di undur menunggu 3 bulan lagi setelah gajian.

Dengan sedikit kecewa jaka tolos akhirnya mau tidak mau harus menunggu 3 bulan lagi untuk menerima imbalan yang di janjikanya itu.bersama’an dengan itu ada seorang kepala rumah tangga yang selalu di remehkan oleh istrinya,karena penghasilan usahanya yang selalu tidak mencukupi ke butuhan rumah tangganya.dia berasal dari telaga sana pemalang,dan menikah sreta tinggal menetap di kecamatan bojong pekalongan.karena itu lalu orang itu nekad untk mencari kekaya’an yang singkat walau harus mengorbankan anak atau istrnya.

Dia menemui jaka di rumahnya untuk minta bantuan agar di carikan caranya,jaka memperhatikan orang tersebut dengan penuh seksama.wajahnya mirip dengan almarhum sobari sahabatnya yang paling istimewa.lalu jaka berusaha untuk membantunya,dan di lantarkanya orang itu kepada ratu dewi lanjar yang kebetulan menguasai laut utara di wilayah pekalongan.orang tersebut dapat di terima dengan imbalan harus mengorbankan anak pertama dan anak bungsunya untuk masa jaminan selama 7 tahun ke depan. mendengar perminta’an dewi lanjar yang tidak bisa di tawar2 lagi itu.lalu jaka merasa iba kepada orang tersebut.lalu jaka berusaha untuk menggagalkanya agar tak terjadi ada korban,dan demi keselamat orang tersebut dari perjanjian dengan dewi lanjar

Lalu jaka mengengkat orang itu menjadi murid,dan saking takutnya dengan perjanjian yang sudah terlanjur terjadi itu,orang tersebut sering menemui untuk minta perlindungan, dan jaka berhasil menggagalkan perjanjian itu walau harus di awali dengan pertempuran dengan dewi lanjar,suatu sa’at jaka di ajak ke ruamh orang itu.dan setelah tau kondisinya di rumah,yang ternyata lebih parah dari yang di ceritakanya kepada jaka,lalu jaka merasa lebih kasihan lagi.dan ingin membantu orang itu dengan caranya sendiri,hampir semua kebutuhanya di Bantu oleh jaka,sampai hutang2nya pun di lunasi oleh jaka.dan hampir semua ilmunya di wariskan kepadanya,hingga wahyu panca ga’ib pun di ajarkanya.

Tapi pada suatu sa’at,entah apa yang menjadi penyebabnya.orang itu sekeluarga,tega menikam jaka dari belakang,dengan menyebar fitnah ke semua orang hingga sampai melapor ke polisi dengan menuduh jaka penyebarkan aliran sesat.dan jakapun di seret ke kapolsek pekalongan untuk pemeriksa’an.jaka sempat di tahan selama 5 hari.tapi karena tak ada bukti yang benar,jaka di bebaskan lagi,belum sempat jaka merenung.muncul lagi masalah yang hampir sama dengan yang baru terjadi tapi berlainan orang

Kali ini orang dari kota pekalongan.dan berakhrir sama.setelah di tolong dan di Bantu penuh rasa kasih.malah di balasnya dengan melapor ke polisi dengan tuduhan sebagai dukun pengganda uang,lalu jaka pun di seret lagi ke kapolsek pekalongan dan sempat di tahan lagi selama 7 hari untuk pemeriksa’an.karena tak ada bukti.kemudian jaka di bebaskan lagi,sepulangnya dan sesampainya di rumah.jaka termenung sendiri,jaka berkata dalam hati. { kenapa bisa begini…….},

Tiga peristiwa yang datang secara hampir bersama’an di bulan 4 / 2007 ini,sempat membuat jaka kecewa berat hingga merasa terperosok,tersandung,terperangkap dan tergelincir ke dalam jurang yang sangat dalam dan curam serta terjal.membuat jaka tolos menjadi wantah kembali.sangat kecewa sekali,hingga lupa kalau dirimya sedang laku. lupa kalau semua yang terjadi itu adalah kehendak tuhan,manusia itu hanya sak dermo nglakoni.dan karena itu lah jaka tidak mau percaya 100 % lagi pada yang namanya manusia, jaka tak mau terjebak lagi,hingga berjanji tak ikut campur lagi tentang urusan duniawi,dan sejak itu juga jaka tolos berhenti tidak mengisi buku agenda harian pribadinya lagi,karena tak mau mengenang sejarah pribadinya yang mungkin lebih buruk di banding sejarah para leluhurnya dulu

Bagi jaka cukup tuhan yang tau yang lain tidak perlu,lalu dengan keputus asa’an jaka pergi untuk mengasingkan diri ke bukit kintamani di bali,semuanya dan segalanya di tinggalkan oleh jaka,dan di serahkanya kepada tuhan,sementara dirinya memilih mengasingkan diri menjauhi dan meninggalkan semua dan segalanya,demikianlah sejarah perjalanan jaka tolos tentan pribadinya yang catatanya terputus sampai di bulan 04 / 2007.

Semoga apa yang terlanjur tertulis di atas ini,dapat bermanfa’at bagi para ahli laku yang sempat membacanya.berguna sebagai bahan pertimbangan dan renungan agar dapat laku yang lebih baik dan lebih sempurna dari apa yang pernah jaka tolos alami semasa hidupnya di dalam proses laku munuju titik kesempurna’an sejati.sesuai dengan yang di bebankan oleh adam hawa moyang kita terdahulu.yang tujuanya supaya bisa dan dapat kembali kepada asal dan usul kita sebagai manusia hidup yang di kehendaki yang maha suci hidup.

Kesalahan dan kekurangan adalah milik sang penulis,maka mohon ma’af lahir batin.dan kebenaran hanyalah milik allah semata,maka akhir kata dari sang penulis,WAS-SALAMU ALAIKUM WA ROHMATULLAHI WA  BAROKATUHU dan terima kasih atas semuanya………… AMIN YA ROBBAL ALAMIN,  AL…..-…..FATEHAH……,

SEMOGA APA YANG TERSURAT DI ATAS TERSEBUT. DAPAT BERMANFA’AT UNTUK SMUANYA DALAM SEGALA HALNYA. SESUAI DENGAN MAKSUD KI DJAKA TOLOS DALAM MEMBUKUKAN SEJARAH HIDUPNYA INI. AMIN

 

Rahayu………_/\_………..:)

 

5. TAMBAHAN :

A. WEJANGAN ADJI PANUNGGAL DAJTI :

YANG PERNAH DI PELAJARI OLEH

KI DJAKA TOLOS

PAMBUKA :

Serat aji panunggal punika.medharaken wontenepun pancandriya tuwin kawruh pasamaden utawi kawruh yoga. Dene ingkang badhe kawedaraken rumiyin. Wontening tembung nutupi babahan nawasanga. Menggah wontenipun tembung wau. Kangge ucap-ucapanipun{janturanipun} nata dwarawati utawi sang arjuna manawi kaleres samadi manages ing dewa. Lah inggih saking tembung punika wau ingkang dipun ugemi sarta lajeng dados pamanggih umum. Ananging menggah ing sajatosipun, kita boten saget yen ta anutupana salah satunggal kemawon saking babahan nawasanga wau. Liripun. Upami kita nutupi grana margining napas. Lah mangka lampahingnapas punika ingkang minangka dados tetangsul utawi dados wahananing gesang kita. Amila yenta grana kalantur dipun tutupi. Saestu badhe dumugi ing jaman sakaratil. Dados nutupi babahan nawasanga {tegese : bolonganipun anggota sanga}, punika tetela saking kalentuning panampi. Tanda yektinepun saweg nutupi bolongan satunggal kemawon.tentu boten saged tumindak.

Ingkang makaten wau. Ing ngriki kedah anerangaken menggah ing kaleresanipun. Inggih punika makaten. Tembung nawasanga punika. Panggambaranipun tembung : hawa + song + nga. Wetahepun kedan mungel nutupi babahan hawa, song = kosong, nga = kosonga=kosongna. Suraosepun : saday margining hawa napsu sami kakosongna. Ateges boten dipun maegeni.

Dene margining hawanapsu wau winastan indriya. Utawi nama pancadriya. Dunungipun. Ing paningal, pamiarsa. Rasa ilat tuwin rasa badan. Tembung pancadriya, leresepun mungel, pancen indriya

Menggah ingkang among karsa puinka. Sajatosipun wonten nem prakawis. {wewah 1 saking 5}. Inggih punika pamicara. Mila lajeng wonten tembung. Sad indriya, utawi indriya nem { ing candrasangkala watak nem/ tembung sadrasa. Sad rasa-sad guna-sad gana, tegesipun. rasa nem }

WEJANGAN :

Awit angingirangi dhahar lan sare. Cegah syahwat. Ameper hawa napsu. Sarta siyam ing sawatawis dinten. Punapadene boten kenging ngemu sakserik duka cipta.

Manawi siyamepun. Kantun sadalu, sampun ngantos sare, sarto kedah ambisu. Ing wanci tengah ndalu lajeng siram, sarampunge siram lajeng busana angangge sarwi suci. Sarta kokonyoh gagandan langkung wangi-wangi. Punapa dene lajeng dudupa majeng Mangetan. Mangilen. Mangidul. Mangaler. Di barengi amaos rapal2 ingisor iki.

IKI RAPALE AJI PANUNGGAL KANG KAPATRAPAKE ING SAJERONING LAKU.

1. sedulurku tuwa kang ana ing bang wetan.kang aran mutma’inah.reksanen ragaku.kempiten nyawaku.inditen sukmaku.iki ana gawe gede.aja nganti belah pisah.yen ana sediya ala balekna.sediya becik bacutna.ya ingsun sedulurira sejati.

2. sedulurku tuwa kang ana ing bang kidul kang aran aluamah.reksanen ragaku kempiten nyawaku inditen sukmaku.iki ana gawe gede aja nganti belah pisah.yen ana sediya ala balekna.sediya becik bacutna.ya ingsun sedulurira sejati.

3. sedulurku tuwa kang ana ing bang kulon kang aran amarah.reksanen ragaku kempiten nyawaku inditen sukmaku.iki ana gawe gede.aja nganti belah pisah.yen ana sediya ala balekna sediya becik bacutna.ya ingsun sedulurira sejati.

4. sedulurku tuwa kang ana ing bang lor.kang aran nafsu supiyah.reksanen ragaku kempiten nyawaku inditen sukmaku.iki ana gawe gede.aja nganti belah pisah.yan ana sediya ala balekna sediya becik bacutna.ya ingsun sedulurira sejati.

No 1. kawaka spisan madep mangetan. No 2. kawaca sepisan madep mangulon. No 3. kawaca sepisan madep mangidul. No 4. kawaca sepisan madep mangaler.   Sasampunipun lajeng angajengaken keblatepun piyambak. Inggih punika ing jaja.

Kalawan maca rapal ingisor iki mung kabathin bae.

5.kun dzat kun.aja ngaling-ngalingi dzating sukma wewayanganing rasa.rasa sukma kang ana sajeroning wewayangan.heh roh rohani.mara sira metua apada rasa.rasanira dikaya rasaningsun.suaranira dikaya suaraningsun.wujudira dikaya wujudingsun.pama gigila wuluku sak lamba.sun tempuhake ing sira.ya ingsun sedulurira sejati.

Sareng sampun bangun enjing, wiwit tafakur {samadi} angwijah raga. Nutupi babahan hawa sanga. Tegesepun, wonten rurupen sampun dipun tingali, wonten suwanten sampun kapirengake. Wonten gagandan sampun ka’ambet. Wonten wiraosan sampun kasuaran. Punapadene yen karaos punapa2 sampun karaosaken. Salajengepun. Amepeta turas lan suker. Dene patrapipun. Lenggah pitekun. Jempol suku kapasangaken jempol asta. Ilat ketekuk minggah.lathi mingkem. Lajeng mandeng pucuking grana kalihan kejep {merem}. Tumunten anjumenengaken panjenenganing dat

Makaten :

Ingsun tajalining dat kang maha suci. Kang amisesa. Kang kuwasa angandika. Kun payakun. Dadi saciptaningsun. Ana sasedyaningsun teka sakarsaningsun. Metu saka kodratingsun.

Manawi sampun makaten, nuten epek2 asta kiwa kakempit ing cangklangan tengen. Epek2 asta tengan kakempit ing cangklangan kiwa. Lajeng angeremaken netra. Prelu amadhangaken netranipun sajati. Ingkang dumunung ing sa’antawisipun alis kiwa tengen inggih punika papasu {caksu}, sarta tansyah mawas {mandeng}, pucuking ardi tursina,inggih punika. Grana, kalihan ngereh lebet wedaling napas {ambegan},ingkang sareh/alon. Kalian manebut kabatos kemawon.

HU…..napas mlebet. ALLAH……napas medal.

Dados nek sinambung mungelelipun, HU-ALLAH. Dene panarik inggih tumuruning napas wau. Kedah kakandasna, dumugi telenging betalmakmur lan betalmukadas. Inggih punika teleng pagedhonganing wiji gesang ingkang dumunung ing salebeting pastapusara {pajaleran}, terangipun. Kedah ulah manjangaken lampahing napas, margi napas punika pratandaning gesang. Ateges bilih ambegan napasipun minggah, punika katarika manginggil dumugi ing susuhunan {sirah/endas}, yen napas medhak ugi kaedhakna dumugi ing puser {wudel}, punapa dene lampahing napas kedah ingkang alon

Lampahing napas minggah mandap wau manawi sampun saged sareh, tegese mboten menggeh2. saged ngleremaken raos pangraosipun. Tegese manah {karep} mboten makarti. Tengriku pratanda sampun tinarimah ingarsaning gusti.

PAWELINGKU :

Sing sapa bisa nguasani patrape aji panunggal inginggil punika. Sayekti bakal tinarimah sakabehing panyuwun dening gusti. Ananging sadusunge kudu lan wajib anglampahi wejangan wirid maklumat jati. Minangka kanggo dedasar amrih ora keliru patrapepun. Lan  tetep kudu tata titi surti ngati-ati. Aja suka adigung adiguna. Ingisor iki rapal2 aji panunggal kang bisa di gelaraken dating sapada-pada umat

1. Rapal supaya betah tarakbrata.

Niyat ingsun nutup rasa. Sang sir rasa payungana ingsun. Rasa mangan cahya. Cahya mangan rasa. Langgeng ing ciptaku. Tetep mantep tan kena owah. Donga di waca kaping 3 tahan napas yen arep lelakon

2. dongan betah ora mangan lan ngombe uga ora turu.

Allahuma anta robbi lailaaha illaa anta alaika ya allahu ya roobul alamin. Donga di waca kaping 40 yen lagi lelakon

3. donga supaya kuat pasa mutih.

Sirullahi gagantine allah amangan cahya. Den pangan, laa illaaha illallah muhamad rosul allah. Donga di waca kaping 40 yen lagi lelakon

4. dongan yen arep adus utawa raup supaya berkah slamet.

Nur cahyaning allah. Nur gumulung cahyaning muhamad. Mung rupa cahyaning rasullullah. Waras kuat slamet. Donga di waca kaping 3 yen arep adus utawa raup saparan-paran

NUWUUUUUUUUUUUUUUUNNNNNNNNNNNNNNN……..MUGO BERMANFAAT ……

 

B. WEJANGAN ADJI PAWELING YANG PERNAH DI PELAJARI OLEH :

KI DJAKA TOLOS

 

WEJANGAN ADJI PAWELING :

Manawi kita gagas. Lampahing ngagesang punika kenging winastan karoban dening panyeliding wisaya. Boten rumiyin boten sapunika. Boten rampung-rampung tansyah sami cocongkrahan. Labet sami rebat leres dhateng gagadhulan tuwin tekadipun piyambak-piyambak. Mongko wisaya punika wonten ingkang gampil kasumuruban lan wonten ingkang botem gampil anggenipun nyumerebi. Wisaning sawer boten sanes naming dumunung wonten ing untu. Lan panyemburipun, wisaning kalabang ian kalajengking wonten ing entupipun. Ananging ing samangke, lah dumunung wonten ing pundi, menggah wisaning sadaya serat-serat piwulang ingkang sampun sumebar dados wawaosaning ngakatha ?. punika boten sanes kajawi dumunung wonten ing pengertosan kita pribadi.

Manawi kita saged mangertos nampeni suraosing piwulang. Punika kados dene kita manggih usada ingkang sampun sumereb aben-abenan lan tumanjanipun. Manawi makaten sampun tamtu kita saged manggih kawilujengan lan kamulyan. Kosokwangsulipun pangertosan kita ingkang saking serep panampinipun. Punika kados dene kita manggih usada ingkang aben-abenan tuwin tumanjanipun dereng kita sumerebi. ingkang makaten punika saged ugi andadosaken ing wisaya. Langkung2 yen pangertosan ingkang seling serep panampinipun wau. Lajeng, katularaken ing ngasanes. Sarana lesan utawi sarana serat2, sampun tamtu badhe langkung ageng ing wisayanipun.

Kawontenan ingkang makaten wau, sanyatanipun boten nama aneh yen kita kajlungupa ing jurang panasaran. Sabab miturut panggelaring sadaya serat2 piwulang. Punika prasasat mboten wonten tembung ingkangukaranipun kadamel prasaja.

Sarehing makaten kawontenanipun. Dados manawi kita badhe nyuraosi piwulang ingkang kasebut ing aji paweling punika.

Kita kedah ngengeti parwa lan slokanipun. Yen boten makaten tentu badhe klintu panyuraosipun. Jalaran tembung satunggal kemawon umpami kresna. Punika anggadhai teges pinten2 kemawon. Kadosta cemeng.toya. piker. Rasa. Gesang lan sasaminipun miturut parwa lan slokanipun.

Pramila. Sing sapa bae yen arep anglakoni. Adji panunggal. Adji paweling. Adji padmawara. Kudu miwiti saka piwulang wirid maklumat djati dishek, minangka kanggo dedasar supaya ora kajlungup utawi salah patrapipun. Ingisor iki rapale aji paweling kang kapatrapaken ing sajeroning laku.

1.ratu kesdik.sidik panetep panata gama.niyat ingsun ngrawuhi sahadat panetep panata gama.roh ilapi kang dadi telenging ati.kang dadi pancering urip.kang dadi lajering allah.kang madep maring allah.ya ingsun sejatining manungsa sempurna.slamet ndunya slamet akhir.yen alum siramana yen doyong jejegna.jeg-jejeg saka kersaning allah.laa illaaha illallah muhamad rasul allah. {kanggo netepake tekad}

2.kun dzat kun kang ana sajeroning netra ingsun.kun dzat kun kang ana sajeroning guwa garba ingsun.rasa sukma kang ana sajeroning netra utawa kang ana ing sajeroning guwa garba.sira metua ingsun arep weruh sejatining urip.ingsun njaluk slamet.ya ingsun sejatining kun. {kanggo meruhi roh}

3.piling unang dzat numan.ancik-ancik luhuring awang-awang.alungguh wulan purnama.slamingati angurungi lintang sak kembaran.ing sukma.amrentahi roh kang dumadi.ing sajeroning jagat.ingsun iki kabeh.sira metua ingsun arep weruh sejatining urip.laa illaaha illallah muhamad rasul allah. {kanggo meruhi ROH}

4.gedong sukma tutup sukma.kancing rasa purba wasesa langgeng.ya ingsun pangeran sadirum.teka jleg lunga jleg sangyang wuryan.wuryan katon wuryan ketemu….illallah…3.x.sahadat tanpa sahudu.ila fisrika.ora ana pengeran nanging allah kang sinembah.satuhune…….duh gusti,kula masrahaken.sedaya dosa lan keluputan kula.jiwa raga kula.lahir batin kula.gelar gulung kula.pati urip kula.kula nyuwun…………., {kanggo nenuwun ing ngarsaning gusti. Tanda…….di isi apa kang dadi panyuwune}

5.sir aning.manjing ingati.kang wening ing cipta.ning ing rasa.dzat lebur ambet-ambet.tan ana   kari.sajeroning jagat ingsun kabeh.dzat les tan ana karasa-rasa. {kanggo sowan ing ngarsaning gusti / ngracut}

KATERANGAN

Rapal no.1 kawaca sepisan kanggo samadi pendak2 wayah jam 6.5 menit sore. Rapal no. 2 kawaca sepisan kanggo samadi pendak2 wayah jam 9.5 menit bengi. Rapal no.3 kawaca sepisan kanggo samadi pendak2 wayah jam 12.5 menit tengah wengi. Rapal no. 4 kawaca sepisan kanggo samadi pendak2 wayah jam 6.5 menit esuk. Rapal no. 5 kawaca sepisan kanggo samadi pendak2 wayah jam 12.5 awan.

Sing sapa bisa anguasai adji paweling iki. Bakal slamet ndunya akherat. Margining kasembadan karepe. Kaleksanan niyate. Katurutan tujuane. Katarimah panyuwune. Lan keparingan kawaskitan. Moga bermanfaat.

 

C. WEJANGAN ADJI PADMAWARA YANG PERNAH DI PELAJARI OLEH :

KI DJAKA TOLOS

KAWITAN :

Patrape tumindak. tumrape wong kang during tau ngancik ing bab kawruh iki. Saben esuk jam 4 tumekaning jam 5 tangi turu, banjur sesuci njupuk banyu wulu. Banjur lingguh sila kaya patrape wong semedi biasa. Uga nganggo patrap kan wus kasebut ing ban aji panunggal jati. Maladihening lan aji paweling. Banjur anyebut asmane gusti allah. Kang murbeng dumadi. Kanti angon lebu wetune  napas. Sajroning sedmedi iki di barengi karo panyuwun sabarang kang becik. Kayata. Nyuwun kasucian. Kaslametan lan sapanunggalane

Iki mau kudu katindak’ake kanti sareh lan ora kesusu grusa grusu. Sarta Manawa wus antuk kanyatan ora kena kanggo mburu kadonyan. Manawa kawruh ing kitab iki wus bias kagayuh. Banjur kudu dibaleni supaya bias menep ing dalem sanubari. Banjur lagi kena ngancik kawruh sabanjure

Sabanjure ana kaol: tinimbang darbe cekelan siji, luwih becik Manawa akeh. Mula ing kitab iki luwih becik Manawa bias anggayuh sakabehing lapel ing mburi. Sinambi methik lapel iki, kudu sarana angurang-ngurangi. Tegese kaya kang kaesbut ing sekar kinanthi. Kang unine :

Padha gulangen ing kalbu

Mring sasmita amrih lantjip

Aja pijer mangan nendra

Kaprabawiran den kaesthi

Pesunen sarira-nira

Sudanen dhahar lan guling

Tegese : angurangi dhahar.sare lan syahwat

Kajaba saka iku kudu bias nindak’ake 7 prakara kaya kasebut ing ngisor iki

  1. ora kena nglarani : tegese. Ing sasolah tindake. Pangucap lan pikiran ora kena nglarani wong liya lan awake dhewek. Becik raga utawa atine
  2. ora kena goroh : tegese. Kudu jujur marang awake dhewek lan ing liyan, lahir batin kudu padha
  3. ora kena cidar : tegese. Ora cidra ing janji.ing pikiran lan tindakan
  4. ora kena reged : tegese. Ora kena reged ing pangucap lan pamikiran uga tumindak
  5. ora kena milikan : tegese. Ora kena rumangsa ndarbeni dhewe. Anangin kudu rumangsa, kabeh mau asale saka kang murbeng jagad
  6. ora kena jireh : tegese. Ora kena was-was atine
  7. ora kena kesed : tegese. Kudu mbuwang sakabehe rasa aras-arasen sarta kudu sregep tetulung mring sapadha padha.

Tegese laku 7 ing nduwur mau. Kasebut sajatine mengku surasa kang jero. Ananging ora dak jarwak’ake. Marga kena ing babasan kakehan isi kurang mapan

Kawruh sajroning buku iki. Manawa gelem ngonceki. Mengku surasane kang gentur banget. Sarta Manawa kabeh wus bias ginayuh. Sanajan pirang-pirang ngilmu kang diuntal, ananging ora bakal krasa sesak, malah dadi manungsa kang mulya. Kaya klebu ing babasan : ngilmu iku, yen ginelar. Ngebeki jagad, yen ginulung sak merica jinumput

Katerangan kang worsuh wus cukup lan ora bakal kaprinci maneh

Welingku. Ora kena kawaka utawa katindak’ake dening sapa bae kang during paham marang apa kang wus katerangake ing nduwur mau.

                                                AJI PADMA WARA

TINGKAT DASAR

Urutan kang sepisan :

Lakune sadian sawengi mutih. Bengi kena turu sawetara. Sadurunge nglakoni kudu sesuci lahir batin. Tegese ora kena nduweini pikiran kang rusuh. Kudu percaya lan madep mantep. Rapal iki kang kawaka sapisan nganti rumasuk ingati sanubari. Menawa iki wus kagayuh. Banjur lagi kena ngancik rapal kang kapindo. Mangkono sabanjure. Pangati-ngati sewula mung kena nglakoni sak langkah. Banjur banjur lagi kena urutan sabanjure. Iki rapale

Sallallahu ngalaihi wa salam.kakang cahya.roh rohani.roh jasmani.roh robani.roh hewani.kaki tumeka bapa bisa’a……..tumekaning awaku.beda apa bapa lan kakang.kun faya kun tanpa sahudu.kudratullah ingsun pinayungan dening allah.

Tanda……..dim isi manut apa kang kinarep ake.

Urutan kang kapindo :

Lakune mutih sadina sawengi. Ora kena turu sarat maca lan nyipta rapal iki

Malaikatku papat satus patang puluh papat sak balane.jabaro’il malaikatku siji.ngijro’il malaikatku loro.ngisrofil malaikatku telu.ngisro’il malaikatku papat.mika’il malaikatku papat satus patang puluh papat sak balane lah sira tangiya.sira sun kongkon……lamun ora kena sepatane allah kapindo rosullullah.

Tanda ………..apa kang kinarep ake.

Urutan kang katelu :

Lakune pasa biasa sadiana sawengi lan kena turu sawetara. Rapale

Bayu deku braja nembak-nembak.surasane kala bumi bisu.kucem tanpa rasan.koe yen ndulu marang aku.teka wedi teka asih kersaning allah.

Urutan kang kapapat :

Lakune kaya rapal nomer. 2 iki rapale

Bismillaah ilmu si jabang bayi.menanga satingkahku.menanga sagaweku/aranira sukma tunggal.tunggal lidahku.kaya baya ngangsar raiku.kaya gajah gumarang awaku.kaya buta sewu suwaraku.jahu lante nyawuk nyawane ratu.tanpa tenggek tanpa sirah.jabang bayine…….jungkur nyawane ratu.kersaning allah.

Tanda …..di isi jenenge wong kang den maksud

Urutan kang kalima :

Lakune mutih rong dina sawengi. Kena turu sawetara. Lan nyipta rapal iki

Ana kedawang nyamber ing tawang.alat macan sewu ing mataku.macan putih ing dadaku.macan turu ing mburiku.gelap ngampar pangucapku.durga mendak kala mendak.jabang bayine…….andulu jabang bayiku.teka kedep teka kerep teka wedi teka asih marang aku…kedep kerep….3x.kersaning allah.

Rapal iki kena nggo njaga diri Manawa ana bebaya apa2. tetep teguh ora nduweni rasa wedi. Tanda …….di isi jenenge wong kang ngrubeda

Urutan kang ka enem :

Lakune kaya no 5 lan nyipta rapal iki ingisor iki

Sipatullah luputa sing di arah.kena’a sing ngarah.kulhu sungsang.tekenku para malaikat.pinayungan para nabi.nabiku nabi muhamad…..nabi allahu akhbar…3x.

Rapal iki. Kena ngga njaga omah. Masang tumbal omah.durjana lan braja teluh tuju jajar ora bakal tumama. Patrape : nganggo endog wukan. 5 iji. Di sanding lan di wacakna rapal iki mau sadina sawengi pasa patigeni. Tegese ora mangan/ngombe lan turu. Banjur endhog mau di pendem ing  satengahe omah siji lan pojokan omah papat siji-siji.

TINGKAT AWAL

Urutan kang kapitu :

Lakune mutih rong dina rong bengi. Melek sawengi karo nyipta rapal ing ngisor iki

Sallallahu ngalaihi wa salam.adam adeku.rosul awaku.sakabehing jalma manungsa sing angrungu sing akrungu.adoh karut cedak kanyut.karut kanyut kersaning allah.

Rapal iki kena kanggo pengasihan. Luwih2 marang wanita

TINGKAT ISI

Urutan kang ka wolu sanga nganti tumekaning tingkat akhir. Wis kalebu urutan rapal kang luhur. Kang duwur. Kang paling gawat. Ampuh banget. Nek among teluh.santet.sihir.brojo curigo watang limpung tuju jajar. Ora bakal tumomo. Mula ora kena sembrana anggone nglakoni bagian sing iki. Kudu di awali karo laku. Kaprawiran. Kayata. ora kena turu sadurunge jam 12 bengi lan bener2 suci lahir batin. Pesenku. Aja grasa grusu. Kudu ati2. luwih becik di lambari ing saben esuk semedi. Sambi nyinaoni aji panunggal jati lan aji paweling. Yen wus ka gayuh. Nembe kena nglakoni urutan ing ngisor iki

Urutan kang ka wolu :

Lakune kena mangan nangi ora kena turu sadian sawengi. Lan nyipta rapal ingisor iki. Nganti semesep ing kalbu

As’hadu kahanan ingsun.allah jeneng ingsun.ingsun kang nduweni badan wewayangan,wewayangan ingsun.kang nduweni urip.nur hidayatullah.eling lesing ati.tan ana karasa.yahu eling slamet.

Urutan kang ka sanga :

Lakune pada karo no. 8

Gedong allah awaku.tutup nabi badanku.kancing rasullullah jasatku.laa illaaha illallah muhamad rasul allah.

Urutan kang ping sepuluh :

Lakune kena mangan ning ora kena turu setengah wengi. Kenane turu sawise jam 12 bengi sawetara. Tansyah maca lan nyipta rapal ingisor iki

Mlebu allah metu allah.anekak ake urip.utek dunungna si kodrat.kun wadahe ilmu.fayakun tutupe ilmu…..hu…allah….3x.

Urutan kang ka sewelas :

Lakune pada karo nomer sepuluh

Bismillaah sir allah.badan allah geger allah.dada allah balekar allah kabeh….hu….allah..3x.

Urutan kang ka rolas :

Lakune pada karo nomer sewelas

Ratu rancang kencana…2..x.sapa kang ana kiwa tengenku iki.ya aku allah.allah sira reksanen badan ingsun kabeh…hu…allah….3.x.

Urutan kang ka telulas :

Lakune pada karo nomer rolas

Sallallahu ngalaihi wa salam.mu alaikum salam.allah badan ingsun.muhamad atiningsun.pengeran kulit ingsun….hu..allah..3x.

Urutan kang ka patbelas :

Lakune pada karo nomer telulas

Gempung suwung.tan ana apa-apa.mung allah lan aku kang ana…hu..allah…3.x.

Rapal kang nomer 11.12.13.14 iki. Uga ana sirikane. Yaiku. Ora kena nguyuh wayangane dhewe. Manawa kabanjur utawa ora sengaja, kudu nyebut : kula nyuwun pangapura

TINGKAT AKHIR.

Urutan kang ka limalas :

Lakune pada karo nomer patbelas

Ana sukma teka wetan mangulon parane.mara seba sujud marang ingsun.ana sukma teka kulon mangetan parane.mara seba sujud marang ingsun.teka kidul mangalor teka lor mangidul.teka nduwur mangisor teka ngisor manduwur.sakabehing sukma seba sujud marang ingsun.tetep ingsun utusaning allah.laa illaaha illallah muhamadur rasullullah.sir ning tes ning.allah mangku sira.allah mangku ingsun.sir paningaling allah.sun cipta jabang bayine………kalaha bati aku.

Rapal iki uga ana sirikane. Ora kena mangan ketan di kokop. Tegese ora di puuluk nanging kaya asu mangan iku ora kena. Ora ken ngedekake alu ing longan. Tegese aja adigang adigung adiguna. Tanda……di isi jenenge kang den maksud

Urutan kang ka nembelas :

Lakune pada karo nomer limalas

Ya ingsun eyang bagenda kilir.lungguhku bumi.jenengku srengenge.rupaku bayu.banyuku angina.netraku wulan.kedepku lintang.kilat tatit ing leyepku.ingsun madep ngetan.ningali si ringin sungsang.dadiya rahayuku.sadurunge ana bumi kalawan langit.ya ingsun si ringin sungsang.segara cahya mangan rasa.segara rasa mangan cahya….cahya….3.x.hu..allah.rasa-rasaku rasullullah.si ahmad sira metua si amanat arep mrene.

Urutan kang ka pitulas :

Lakune pad karo nomer nembelas

Muhamad njaba muhamad njero.muhamad kodim.rosul njaba rosul njero.rosul kodim.panyuwun njaba panyuwun njero.panyuwun kodim.rohmat njaba rohmat njero.rohmat kodim.kun…faya…kun……allah njaba allah njero.ingsun nekak ake urip…ya..hu..allah..3.x.

Kun wadahe ilmu.fayakun tutupe ilmu.sir allah dat allah.sipat allah wujud allah.allah ya pengeran.pengeran ya allah.allah ya gust.gusti ya allah.nur muhamad kang manjing gua garbaku.sira metua aku njaluk…..kanti teguh rahayu slamet.

TINGKAT PAMUNGKAS.

Urutan kang iki. Urutan kang paling duwur dewe. Mula. Kenane ngancik urutan iki.kudu wus bisa nguasani aji panunggal lan aji paweling luwih dishek. Ugo kudu bener2 wus suci temenanan. Sarta ngutamak’ake perilaku kabecikan. Supaya ora nyalahi kodrate dadi manungsa lumrah. Dedasar wicaksana adil paramarta berbudi bawaleksana. Ingisor iki rapale

Urutan kang ka wolulas

Lakune pada karo nomer pitulas

Sallallahu ngalaihi wa salam.dzat allah ora ana.dzat wali allah aku.he…….aja maneh koe.bapa biyang.kakek moyangmu wis sujud karo aku.

PAWELINGKU :

Sawise tumekan ing urutan paling duwur iki mau. Banjur kanthi alon2 wiwit angeningake cipta. Laku maladihening utamaning samadi. Biasane. Sing wus pernah tak alami. Manawa wong yen wus tekan alam kang duwur iku. Kudu ngati-ati. Ora kena numpahi liyan.ora kena ngomong ala mring liyan lan sapanunggalaning.

Sabisa-bisa banjur ngumpulake kekuatan2 kang wus ginayuh sajroning 18 wulan manekung ing aji padmawara iku mau. Supaya ora muspro, marga kekuatan iku mau lali. Kena di umpama’ake kaya dene wong kang wus munggah tekan untu andha kang duwur dhewe banjur kanteb tiba tekan ngisor. Mesti wae tibane uga kanteb banget. Mula Manawa wus tekan urutan kang pungkasan iki mau. Nanging nganti kalepyan urutan sangisore. Mula uga banjur ajur lebur badane. Tegese bias rusak jiwane salah urat.

Akhir pesenku. Toto titi surti ngati-ati kuwi luwih wigati tinimbang sragal srugul….muga ana manfaate kanggo sapa bae….

IKI BAGIAN KANGGO AWEH PITULUNG MRING LIYAN BABAGAN SUMENG

Panji anom /Nggo pribadi

Bismillaahi…niyat ingsun arep adus.angedusi badan papat kelima pancer sukma.nem panutan.serur bekutut gagak siwalan keturunan cahyaku.cahya nur buat.bismillaahi niyat ingsun amatek ajiku si panji anom.

Lakune. Kawaca tiap2 arep adus saben dinane

Kanggo tetulung :

1. yen sing lara lanang. Patrape. Lungguh sial ngadep banyu putih segelas. Banjur nyipta rapal ingisor iki kanti teguh rahayu slamet

Rapale kanggo lanang:

Sing lara allah.sing nambani allah.si…….waras dening allah.

Tanda ……..di isi jenenge kang lagi lara/sumeng

2. yen wadon. Patrape uga pada karo sing nduwur mung beda rapal

Rapale kanggo wadon :

Bismillaahi aku ora nambani larane si……nambani langit kelawan bumi.nambani lintang kelawan rebulan.nambani geni kelawan banyu.adem asrep katiban cipta dadi.waras dening allah.

MOGA BERMANFAAT : NING TETEP NGANGGO ANGGER-ANGGER.TATA-TITI SURTI NGATI-ATI….wassalamu alaikum wr/wb….AMIN

 

6. PESAN DAN KESAN……… 

Wassukuri- Walhamdulillaahi robbil alamin.atas ijin dan ridho allah ta’ala.selesai sudah saya menyalin sebagian dari biografi sejarah hidup ki jaka tolos.sebagai tanda kenangan bersejarah.walau tidak semuanya.yang dapat saya salin di buku ini.sepertinya sudah lebih dari cukup.untuk di jadikan sebagai bukti sejarah perjalananya.di dalam mengembara mencari sejatinya hidup yang sempurna. harapan saya.semoga dengan tersalinya biografi sejarah hidup ki jaka tolos ini.kita bisa semakin mawas diri dan juga lebih banyak membaca diri sebelum berbuat apapun.istilahnya.ihqro’( bacalah ).

Jangan asal.kalau asal jangan usul.kalau usul janganlah asal.karena akhir daripada hidup itu di tentukan oleh laku hidupnya sendiri.siapa melihat bakal tau.siapa tau bakal mengerti.siapa mengerti bakal merasa.siapa merasa pasti akan bisa merasakan.betapa penting dan berharganya hidup itu.karena hidup kita dapat semuanya.karena hidup kita bisa segalanya.karena hidup kita ada.maka ketahuilah hidupmu.kenalilah hidupmu. milikilah hidupmu.dan rasakanlah hidupmu.karena hidupmulah yang kelak akan dapat mengantarmu kembali kepada yang maha suci hidup.selain hidup tidak ada yang mampu dan bisa.ilmu agama.kesaktian.kebatinan.kewaskita’an.jaya kawijayan dan sejenisnya.

Amal perbuatan.titel dan pangkat kedudukan.harta tahta wanita.kehebatan kekuatan kecanggihan kepintaran pengetahuan kelebihan dan kekurangan.dan apapun sebutanya. kelak di akhir jamanmu.takan ada dan takan bisa mengantar kita untuk dapat kembali ke asal muasalnya terjadi.hanya hidup dan cuma hidupnya yang bisa mengantarnya hingga dapat sampai ke titik kesempurna’an yang sejati.untuk itu kenalilah hidupmu.ketahuilah hidupmu.milikilah hidupmu dan rasakanlah hidupmu.( ada salah satu surat di antara dari isi al-qur’an.yang meriwayatkan separti ini.kala itu baginda nabi Muhammad saw.merasa kawatir tentang umatnya.kalau2 ada salah satu dari umatnya yang bertanya tentang tuhanya,

Lalu baginda rosul bertanya kepada allah…ya…allah,jika suatu sa’at ada umatku yang bertanya tentangmu.sementara engkau adalah ga’ib yang tak bisa di samakan dengan apapun.lalu apa yang harus aku katakana kepadanya.lalu allah berfirman…..ya Muhammad.jika ada umatmu yang bertanya tentang aku.kamu tak perlu kawatir.katakan padanya kalau aku berada sangat dekat denganya.bahkan lebih dekat dari urat nadimu ).dan hanya ada satu cara saja yang bisa dan dapat untuk membuktikan ayat tadi.

Yaitu.galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu.karena di situ ada hidup.hidup adalah ga’ib.ga’ib adalah suci.hidup / ga’ib / suci itulah yang merupakan bagian dari allah.yang menempati tubuh kita.yang di maksud lebih dekat dari urat nadi.yang membuat kita bisa.yang dapat mengantar kita kembali ke asal usul kita yang sebenarnya.yang sesungguhnya.yang sejatinya.sayang sekali tidak suluruhya saya bisa menyalin semua ilmu dan pengalaman yang berhasil di temui dan di miliki oleh ki jaka tolos.yang berhubungan dengan laku tentang  ketuhanan.kalau saja saya dapat menyalinya secarakeseluruhan.kemungkinanya besar kita dapat mengetahuinya secara detail dan jelas alias gambling.hingga kita dapat bisa tanpa harus bersusah payah berguru atau belajar terlebih dulu.pada para tokoh dan ahlinya.tapi percayalah pada diri sendidri.asal kita mau berjalan dan tidak berhenti.walau lambat pasti akan sampai.yakin lah kepada allah.asal kita peduli kepadanya.pasti kita akan di perdulikanya.akhir kata dari saya.wa bilahi taufiq wa hidayah. was-salamu alaikum wr/wb.sekian dan terima kasih

………….teranda……………..

Wong Edan BaGu

   KI DJAKA TOLOS – TOSOS WIJAYA.D + PENGEMBARA TANAH PASUNDAN

8.    KESIMPULAN

Disinilah pencarianku berakhir………

Di titik di mana aku menemukan kebenaran yang tak terbantahkan

Masih banyak memang pertanya’an yang belum terpecahkan

Tetapi entah kekuatan apa yang membuat aku tetap bertahan

Disini pencarianku berakhir………..
Dititik ketika kegelisahanku menemukan penawarnya
Masih banyak memang yang bisa aku lakukan
Namun setidaknya jalan lurus telah aku tempuh meski hanya dalam diam.

 ………..0O0……….

Semoga biografi yang mengisahkan, perjalanan hidup ki djaka tolos dalam laku proses hidupnya ini. Dapat bermanfa’at bagi siapapun yang sempat membaca untuk menyimaknya. Semua nama-nama orang dan tempat yang di sebutkan di atas mulai awal dan akhir. Adalah samaran. Demi tetap terjaganya kenyamanan yang terjalin smua pihak. Kecuali nama- nama keluarga pribadi ki djaka tolos. Terima kasih….dan selamat berjuangan dalam menggali rasa sejatining urip kang mengkoni sakabehing sakaliring dumadi…

RAHAYU.7x……

moga teguh rahayu slamet tercurah untukmu sekalian

 ___—-TAMAT—-___

 

8.PENUTUP  DOA RINGKAS PENTING ;

A’UDHU BILLAA HIMINAS SAITHONIR ROJIM.BISMILLAAHIR ROHMANIR ROHIM.AL-HAMDULLILLAAHI ROBBIL ALAMIN.AROHMAN NIROHIM.MALIKI YAUMIDIN……..

IYYA KANA’BUDHU WA IYYA KANAS TA’IN……7.X.tahan napas.

ALLAHUMA ANNA NAS-ALUKA SALAMATAN FIDDZINI WA ‘AFIYATAN FIL JASADZI WA ZIADZATAN FIL ‘ILMI WA BAROKATAN FIR RIZQI WA TAUBATAN QOBLAL MAUTI WA ROHMATAN ILDAL MAUTI WA MAGHFIROTAN BA’DZAL MAUTI.ALLAHUMA HAWWIN ALAINA FIS SAKAROTIL MAUTI WANAJATAN MIN-NANAR WAL AFWA ‘INDAL HISAB.ROBBANA LAA TUZIGH QULUBANA BA’DA ‘IDZ HADAITANA WAHABLANA MIN LADUNKA ROHMATAN INNAKA ANTAL WAHAB.ROBBANA ATINA FID-DUN-YA HASANAH WA FIL AKHIROTI HASANAH WAQINNA ADZAB BANNAR.WA SALLALLAHU ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ALA ALIHI WA SHOBIHI WASW SALAM.WAL-HAMDULLILLAAHI ROBBIL ALAMIN……AL-FATEHAH………3.X.

Ttd………………..Wong Edan BaGu

Djaka tolos-Toso wijaya.D

 

 PENGEMBARA TANAH PASUNDAN

 

 

 

 

 

About these ads

15 Comments »

  1. 1

    Assalamu alaikum wr/wb….pak web………nunut ngiyub…..cari keberkahan yang manfa’at….mohon doa kerela’annya…….Rahayu….._/\_

  2. Assalamu alaikum wr/wb…..hormat sy bapak….subhanallah……sungguh sy tidak pernah menyangka. kalau laku spiritual bapak selama ini. sampai sedemikian rupa…..semoga allah senantiasa memberikan ksehata dan kbaikan jg kbrkahan jg umur panjang kpd bpk……kami msh membutuhkan bpk.kami jg sangat sayang bapak….i love you bapak…….Rahayu Bapak…….._/\_

    • Wa alaikum salam wr/wb…….ndoek anaku……..terima kasih doanya ndoek….doa bapakpun takan berpaling darimu ndoek…..ma’afkan bapak ya ndoek…………Rahayu

  3. Assalamoe alaikoem wr/wb…..Pakne….

  4. Subhanallah……….sungguh mnghrukan, namun pnuh makna dan cukup menarik tuk di ambil hiqmahnya, sbagai pengalaman. Smoga ada manfa’at untku, mohon rdhonya pak…….Assalamu alaikum wr/wb Bpk. smoga Tuhan membrkhimu slalu pak…………. Rahayu

  5. 9

    assalamualaikum.wr.wb

    rahayu..rahayu…rahayu
    salam sejahtera bagi yang telah menuliskan ihwal dari perjalanan seorang anak manusia dalam mencari pencerahan dan kebenaran yang sesungguhnya,semoga beliau diberikan kekuatan lahir dan batin dalam menjalani semuanya dengan sangat berat hingga akhirnya pergi mengasingkan diri di bukit kintamani bali,dan kepada penulis saya ucapkan ribuan terima kasih yang telah bersusah payah untuk membukukan setiap kalimatnya dengan sangat baik.oh ya,kenal kan nama saya hermawan dari medan sumatera utara dan saya juga baru satu setengah bulan ini mencoba menjalani dan memahami tentang yang namanya belajar hidup dari yang hidup. hormat saya selalu buat beliau dan salam hormat saya untuk penulis.wassalam dari saya paraanakbangsa@telkom.net
    rahayu..rahayu..rahayu

    • Wa alaikum salam wr/wb………….terima kasih kang mas Hermawan….paraanakbangsa@telkom.net…..Salam Hormat dan sejahtera slalu serta Rahayu……………..kanti teguh slamet dr saya……..semoga kemerdeka’an bangsa kita. semakin jaya dan di ridhoi Tuhan. Amin……..Skali lagi….terima kasih…..Rahayu kang mas………._/\_

  6. Semoga perjuanganmu di dalam laku hidup. lancar tanpa hambatan suatu apapun serta mendapat ridho dan lindungan Tuhan selalu. Salam sukses slalu kang mas hermawan…….Rahayu9x…….._/\_

  7. Assalamu alaikum wr/wb….terimakasih telah berkenan berbagi, smoga ini menjadi bagian dari sejarah dan dapat memperkuat islam dan iman kita tanpa melupakan perjuaangan leluhur kita, semoga dosa-dosa leluhur kita di ampuni dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah,SWT, dan semoga semangat perjuangan para leluhur dapat menjadi teladan bagi keturunannya dan kita semua amin….

    • Wa alaikum salam wr/wb…wabi salamun Rahayu…..Amin dan Trima kasih juga atas kesedia’anya berkunjung ke situs pribadi saya. yg msh trgolong sangat awam di banding lainya….skali lagi. trima kasih dan salam Rahayu

  8. Salam Sejati dari perguruan mustika sejati


RSS Feed for this entry

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: