MEMBURU ILMU KESEMPURNA’AN SEJATI: MEMBUKTIKAN KESEJATIAN KESEMPURNA’AN ILMU :

Posted in Uncategorized on 18 Agustus 2014 by Djaka Tolos

JT2
Oleh: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus. Senin tgl 18/08/2014

JIKA ADA AWAL PASTI ADA AKHIR:
Kata/Kalimat semula/Pertama yang kita ucapakan, yang kita niyatkan di sa’at memulai sesuatu tindakan, maka itulah yang akan jadi kesempurna’annya (Penentunya)

Ketahuilah saudara-saudariku, bahwasanya…apa yang anda cari di dunia ini?
Tanya dalam diri…apa yang kalian cari…ilmu kekayaan? ilmu pemikat? ilmu kewibawaan?
Atau yang lain2….mya?

Pernahkah terpikir untuk menggabungkan semua dalam satu pencarian anda?
Mengapa semua informasi atau ilmu2 yang kita dengar dan amalkan tidak membuat diri kita
Disegani, dicintai sidia, tidak membuat hutang lunas dan sebagainya…MENGAPA…?!
Karna anda tidak melewati proses demi proses tahap pemahaman…. dengan Jeli dan seksama (Toto-Titi-Surti ngati-ati. Tetep-Idep-Madep-Mantep)… He he he . . . Edan Tenan

Baiklah,,, mudah2han apa yang saya tinformasikan ini, sedikit membantu pemahaman tentang
Kesempurnaan Proses Hidup dan kehidupan kita semuanya. Amiin

Bermula dia yang dzat wajibal wujud. LAA ILAHAILLAH… Bertajali/menampakan diri.
Terciptalah nurmuhammad. Muhammaddarasulallah… Nurmuhammad berkata jadilah sekalian kun sholli ala muhammad. Maka semua menyambut dengan kalimat. Shollallahu ala muhammad.

Nah dari kajian di atas tersebutlah kalimat2 kesempurnaan hakikat ketauhidan. Akan kesempurnaan keMaha Esaan Tuhan…yang mana kalimat tersebut. Jika di amalkan akan membawa diri kita menuju kesempurnaan diri. Dan apa yang menjadi carian kita selama ini, insya allah akan kita temukan… ILMU APAPUN itu.

Seperti yang saya bilang untuk memahami sebuah ilmu diperlukan proses demi proses
Tingkat pemahaman sehingga kita paham betul apa yang dibaca, apa yang di niyatkan dan apa yang di lakukan. Sebagai referensi dan paham logika. Baca 2 kalimat sahadat…disana artinya…
AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH.
DAN MUHAMMAD ADALAH RASULNYA.
BERSAKSI sama dengan melihat menyaksikan dimana kita melihat atau menyaksikan nya
Mengapa sahadat tidak sepeti ini AKU MENDENGAR ATAU AKU DIBERITAHU TEMAN ATAU AKU MEMBACA DARI INTERNET…..bahwa tidak ada tuhan selain allah…tp AKU BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH… He he he . . . Edan Tenan.

Karena itu, bagi saudara-saudariku yang mau dan ingin pemahaman tentang ilmu kesempurna’an Sejatinya. Harus bertemu secara langsung… Karena untuk hal yang satu ini, tidak bisa melalui media jejaring sosial apapun juga telephon. Harus dengan Pendidikan dan Bimbingan secara langsung, Tapi INGAT saya hanya bisa memberikan Bimbingan dan pemahaman teorinya … Prakteknya harus Anda sendiri yang menjalankan/melakukan… Karena, sebaik-baiknya katanya, jauh amat lebih baik jika tau sendiri, mengerti sendiri dan bisa mengalami sendiri. Bagi yang berminat bertemu langsung. silahkan Hubungi nomer Telephon saya: Indosat. +6285-861-799-966 Xl. +6287-729-431-777. Jika tempatnya jauh dari posisi saya berada, biaya transpot di tanggung pemanggil… Rahayu _/!\_

Apa yang Dimaksud dengan Ilmu Kesempurna’an Sejati:
Berkaitan dengan diatas; Ilmu Kesempurna’an Sejati merupakan suatu ilmu untuk mengenali diri pribadi/sejati. Dahulu ilmu ini di tanamkan oleh para ahli kanuragan untuk mencapai tingkat kesempurna’an dalam mempelajari ilmu kedigdayaan. Dan Inilah gerbang utama menuju ilmu kesaktian yang sesungguhnya. Falsafah hidup yang ideal tidak hanya menjadi pedoman hidup di dunia fisik ini saja, melainkan harus masuk ke kehidupan yang sejati yang metafisik. Bila diminta memilih dunia: fisik atau metafisik, maka jatuhkan pilihan pada yang terakhir saja. Sebab dunia fisik akan lenyap seiring dengan dimasukkannya jasad ke dalam kubur, sementara dunia metafisik kita akan langgeng abadi sepanjang masa amal perbuatan yang masih harus di pertanggung jawabkan.

Tujuan hidup manusia adalah mengisi kehidupan dengan Hidup yang sejati. Dunia adalah persinggahan sementara diri sebelum menempuh perjalanan-perjalanan lain yang sangat panjang. Sayangnya, di persinggahannya yang sementara ini kebanyakan justru diisi oleh diri-diri palsu. Maka hidup di dunia yang menekankan pada diri-diri palsu, bersiap-siaplah untuk terjerembab dan tersungkur kapan saja.

DIRI SEJATI bisa dirasakan pada TITIK PALING HENING MEDITASI (universal), DZIKIR (umat Muslim). Pada DIRI SEJATI munculnya KESAKTIAN merupakan hal yang sangat biasa. SEGALA DIMENSI GAIB DAN METAFISIK TERBUKA TERANG BENDERANG. Namun, pada hakikatnya diri sejati tidak boleh hanya dirasakan dan disadari belaka. Sebaliknya, jadikan seluruh kemanusiaan kita ini dengan totalitas DIRI SEJATI YANG MENYINARI BERPERILAKU SEPANJANG HIDUP di KEHIDUPAN MANUSIA.

Yaitu bila perjalanan (Syare’at – Tarekat- Hakikat) mengolah rasa sudah sampai ke pendakian tertinggi perjalanan spiritual. Mencapai makrifat yang merupakan wujud diri sejati inilah yang harusnya menjadi pedoman dan tujuan hidup kita.

* KUN FAYAKUN*. Bahkan, hukum alam taklum dalam hukum Ilahi. Keajaiban itu terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi. Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan nafsu yang tidak baik. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Sukma.

Salah satu hal yang paling berharga dalam hidup ini adalah ilmu. Ilmu ibarat cahaya penerang. Ilmu laksana kekuatan penjaga, yang menjaga kehidupan kita. Ilmu yang membuat diri kita sanggup membumbung tinggi ke langit. Dari sekian banyak kategori ilmu, yang patut untuk kita renungkan apakah kita sudah memilikinya atau belum, adalah apa yang disebut dengan ilmu sejati. Ilmu ini berkaitan dengan intisari dari hidup kita, ia menjadi penerang bagi mereka yang ingin mengecap kehidupan sejati. Ia juga penuntun jalan untuk menemukan yang Sejati dari Hidup ini.

Apa yang disebut dengan ilmu sejati?
Siapakah yang berhak atas ilmu sejati itu?
Teks-teks dalam Serat Wedhatama membabarkannya secara gamblang:

Diantaranya;
Iku kaki takokena, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking tepa tulus, kawawa nahen hawa, wruhanira mungguh sanyataning ngelmu, tan mesthi neng jeneng wredha, tuwin mudha sudra kaki.
(Anakku, tanyakan hal itu, kepada para sarjana yang berpengalaman, yang hatinya sudah menunjukkan ketulusan, dan sudah berhasil menahan hawa nafsu. Ketahuilah sesungguhnya ilmu sejati itu tak hanya bisa dimiliki orang tua, tetapi juga bisa dimiliki kaum muda, bahkan sudra)

Sapatuk wahyuning Allah, ya dumilah mangulah ngelmu bangit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning jiwangga, yen mengkono kena sinebut wong sepuh, lire sepuh sepi hawa, awas roroning atunggil.
(Siapapun yang menerima wahyu Ilahi, lalu dapat mencerna dan menguasai ilmu, mampu menguasai ilmu kesempurnaan, yaitu kesempurnaan pribadi, orang yang demikian itu pantas disebut sebagai orang tua, orang yang sudah tidak lagi dikuasai hawa nafsu, dapat menghayati manunggalnya dua keberadaan).

Prinsipnya, ilmu sejati bisa diraih oleh setiap orang yang menghasratinya, tidak muda tidak tua, bangsawan ataupun orang biasa, yang berprofesi sebagai intelektual maupun seorang petani. Dan pertanda keberadaan ilmu ini pada seseorang adalah ketika ia telah menjadi pribadi yang hawa nafsunya sudah tunduk, dan ia menghayati keberadaan dirinya tak lebih sekadar cermin dari Yang Maha Ada. Pemilik ilmu sejati menghayati sepenuhnya makna keberadaan Yang Maha Tunggal dan keberadaan diri kita yang diliputi-Nya, bahwa sesungguhnya Aku ana ing sajroning ingsun, ingsun ana ing sajroning AKU.

Para pemilik sejati adalah sosok yang telah mengenal dirinya karena itu ia juga mengenal Tuhannya. Ia tak lagi silau oleh penampilan luar, juga tak terjebak oleh sesuatu yang artifisial, yang serba kulit. Agama baginya bukan lagi identitas kelompok yang dibangga-banggakan, tetapi lebih sebagai jalan pribadi, jalan sunyi, menuju Ia yang Maha Misteri. Kerendahan hati mewarnai hatinya..karena ia sadar bahwa dirinya tak lebih dari setitik debu dalam lingkup semesta yang luasnya tak terbatas. Tapi pada saat yang sama, kepercayaan diri atau keyakinan akan kemuliaan diri, meresap kuat, karena ia sadar bahwa di dalam dirinya, sebagaimana juga di dalam setiap pribadi, bersemayam secercah Cahaya Yang Maha Ada.

Dan bagaimana cara meraih ilmu sejati?
Kita simak teks lain dalam Serat Wedhatama berikut ini:

Ngelmu iku Kalakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani Setya budaya pangekese dur angkara.
(Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan. Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama, Teguh membudi daya Menaklukkan semua angkara.)

Ilmu sejati diraih melalui rangkaian tindakan demi tindakan kebajikan, pengalaman demi pengalaman. Ia merupakan anugerah Sang Sumber Ilmu, kepada siapapun yang dalam hidupnya, pelayanan kepada sesama menjadi prioritas utama. Ia adalah berkah bagi mereka yang hidupnya didedikasikan bagi kebahagiaan sesama. Lebih jauh, ilmu sejati diraih dengan jalan lebih dahulu menaklukkan Sang Ego, meleburkan diri ke dalam keberadaan Yang Maha Ada.

Terakhir, apa yang menjadi bukti bahwa seseorang itu memiliki ilmu sejati, bahwa ilmu yang dimilki seseorang itu adalah sejatinya ilmu?

Tentu saja bukan kepandaian berbicara dan cakupan wawasan yang luas, tetapi lebih pada soal kemampuan untuk selalu hening, damai, penuh kasih. Pemilik ilmu sejati, mereka yang ilmunya adalah sejatinya ilmu, menjadi penebar damai di kala dunia dalam kekisruhan, penebar kasih di kala dunia tenggelam dalam kebencian, penebar kesembuhan bagi mereka yang terluka, pembawa cahaya di kala orang senang berada dalam kegelapan… He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu Lurr…

WEB.:-)
Tak uwisi gunem iki (saya akhiri pembicaraan ini)
Niyatku mung aweh wikan (saya hanya ingin memberi tahu)
Kabatinan akeh lire (kabatinan banyak macamnya)
Lan gawat ka liwat-liwat (dan artinya sangat gawat)
Mulo dipun prayitno (maka itu berhati-hatilah)
Ojo keliru pamilihmu (Jangan kamu salah pilih)
Lamun mardi kebatinan (kalau belajar kebatinan)

SEMOGA BERMANFA’AT DAN BERKAH… He he he . . . Edan Tenan… Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP”

Posted in Uncategorized on 17 Agustus 2014 by Djaka Tolos

L 2

Oleh: Wong Edan Bagu
Sabar Ada Batasnya !!!!!
Di: Spiritual Hakikat Hidup

”Sabar itu ada batasnya” kata-kata ini sering saya dengar ketika seseorang sudah memasuki ambang kemarahan.

Orang yang berpendapat demikian saya pikir adalah orang yang memang tidak sabar.
Kalau saya pribadi kalau memang tidak sabar ya tidak usah sabar dari awal, karena sia-sia saja sabarnya itu alias tidak ada nilainya.
Kenapa saya katakan tidak ada nilainya? Itu karena nilai sabar nya hancur seketika ketika dia sudah tidak sabar atau sampai pada batasnya.

Hancurnya nilai sabar lantaran menuruti nafsu ammarah yang menggelegar di dalam dadanya itu.
Dengan kata lain dia terpedaya oleh tipu muslihat nafsu yang di tunggangi syetan.

Sabar itu laksana kayu yang kering dan marah itu laksana api yang membara..
Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, bahkan tahunan kita menumpuk kayu kering, akan lenyap seketika tatkala di sentuh api sesaat..

Selama itu tidak melukai atau mencelakakan tubuhmu maka bersabarlah.

Sabar,syukur dan cinta dunia:
Di: Spiritual Hakikat Hidup;
Saudara-saidariku… Cobalah jalani hidup ini dengan menerima apapun yang telah di takdirkan atas mu. Makasudnya, apapun itu juga ada di hadapanmu. Maka hadapilah dengan Sabar dan belajarlah ikhlas menerima manis pahitnya kehidupan yang ada di hadapanmu saat itu, janganlah kau mengeluh atasnya, apa lagi mengingkarinya.

Semakin kau berkeluh kesah apa lagi menginkarinya, maka semakin dalam dan beratlah apa yang sedang ada dihapanmu.

Ada batas waktu yang di tentukan untukmu, jika kau bersabar dan menerima dengan hati yang terbuka maka Tuhanmu akan menggantikan apa uanh terjadi di hadapanmu saat itu menjadi kenikmatan.

Sabar itu adalah pintunya syukur. Jika kau selalu bersabar maka kau akan masuk kedalam syukur yakni kebahagiaan dan kenikmatan akan kau reguk.

Ingkar pada kodrat dan irodatnya serta berkeluh kesah itu tanda mati hati, mati iman, Ingkar pada kodrat dan irodatnya serta berk eluh kesah itu pertanda hatinya lebih condong kepada dunia.

Orang yang hatinya lebih condong kepada dunia maka hatinya lebih sering sakit, bahkan sakit-sakitan.

Cobaan Dan Kepahitan:
Di: Spiritual Hakikat Hidup;
Cobaan dan kepahitan hidup adalah suatu kenyataan Hidup dan kehidupan. Suatu keharusan yang mesti engkau jalani. Engkau tidak bisa menghindar, memajukan dan menundanya. Maka jalanilah dengan sabar dan ikhlas.

Tempatkanlah nafsumu di pintu dunia, dan hatimu di pintu akhirat, Nuranimu di pintu ALLAH.

Lakukanlah hingga datang waktunya ketika nafsu berubah menjadi hati dan merasakan apa yang di rasakannya. Juga hati berubah menjadi Nurani dan merasakan apa yang di rasakan.
Lalu Nurani berubah menjadi kefanaan yang lebur di dalamNYA, tanpa merasakan dan di rasakan. Kemudian Tuhan Akan menghidupkan Hatimu kembali hanya untukNYA, sebab hatimu telah kosong oleh kesibukan pikiran tentang duniawi.

Suara Nafas:
Di: Spiritual Hakikat Hidup;
Gusti ingkang Moho Suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng Gusti ingkang Moho Suci.
Sirolah, Datolah, Sipatolah.
Kulo sejatine satriyo / wanito.
nyuwun wicaksono, nyuwun panguwoso.
kangge tumindhake satriyo sejati/wanito sejati.
Kulo nyuwun, kangge hanyirnak’ake tumindhak ingkang luput…. Itulah bunyi bunyian nafas tatkala keluar masuknya. Dari hidup maupun mulut. Nafas itu merupakan perwujudan Ruh suci diri, Dia tidak pernah sunyi dari dzikrullah sepanjang masa umur mu.

Dia tidak pernah tidur, tidak pernah istirahat sejak awal umur mu.
Dia tidak pernah diam di tempat, Dia selalu berjalan keluar masuk tanpa kita sadari.
Apakah Ruh suci kita itu keluar masuk dari jasad ini?? YA..
Lalu kenapa tatkala Ruh suci kita keluar kita tidak mati??
karena Ruh suci kita masih terikat dengan yang nama nya Tali !.
Tali apa itu?? Tali yang di namakan orang dengan sebutan’ Nyawa… (ruh)’
Ruh suci orang selalu keluar masuk dari jasad, namun Ruh suci itu selalu kembali ke jasad di karenakan adanya Tali yang menghubungkan si Ruh suci dengan jasad.
Tidak ada satupun yang kuasa memutuskan tali itu kecuali orang yang di utus untuk membawamu pulang ke hadiratNYA.

Muga Bermanfa’at
Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu
Ttd:
Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

KEMABUKAN SPIRITUAL:

Posted in Uncategorized on 12 Agustus 2014 by Djaka Tolos

ADALAH HIJAB YANG SANGAT HALUS;
Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014

Sungguh….. Bagi pejalan-perjalanan Ruhani dalam menuju kepada Allah Swt dengan melalui Ma’rifatnya kepada Allah maka “kemabukan spiritula” itu adalah suatu hal yg selalu ada dan pasti ada dan tidak akan mungkin tiada karena “kemabukan spiritual” itu adalah FASE untuk sempurna dalam menuju Al-HAQ.

Sehingganya… Bagi yg belum mengalami “kemabukan spiritual”, maka bersiap2lah jika suatu saat mengalaminya dan jangan takut jika hal itu suatu saat terjadi pada diri Anda. Dan bagi yg sudah berada di dalam “kemabukan spiritual ” maka hendaknya di ketahui bahwa hal itu masih dalam Perjalanan/proses. Bukan “AKHIR” perjalanan. Maka……senantiasa lah tetap TAWAKKALTU ALALLAH agar tidak hanyut di “kemabukan spiritual” itu, sehingga dalam situasi dan kondisi serta keadaan apapun tetap dalam “RASA yang SADAR” dan ingatlah bahwa Allah berfirman : “Watawakkaltu Alallah fa HUWA hasbuh” dan siapa yg bertawakkal dengan sebenar-benarnya Tawakkal maka “DIA” akan menjadi penolongmu dan penJAMIN dirimu”. Biarkanlah…………….”kemabukan spiritual” itu datang pada diri sebagai “HADIAH” dari ALLAH dan janganlah engkau menolaknya karena sesungguhnya “kemabukan spiritual” itu adalah suatu “Isyarat” dari pada ALLAH bahwa ALLAH sungguh-sungguh sedang memperhatikan dirimu dalam Pandangan Rahmat-NYA, maka tersenyumlah selalu dan lapangkan JIWA dalam menghadap kepada-NYA dengan menjalani “kemabukan spiritual” itu, namun……..tetaplah Istiqomah dalam TAWAKKALTU ALALLAH agar diri tidak hanyut di Samudra Jamal (ke-INDAHANNYA ) yg menyebabkan kelalaian dari Tujuan yg sebenarnya yaitu “AL-HAQ” yg memiliki Sifat Jalal, Jamal, Qohar dan Kamal.

ke-Asyikan itu adalah sesuatu yang meMABUKan…..
Tenggelam dalam penghayatan Amal Ibadah adalah suatu ke-Asyikan dan itu adalah keMABUKan….
Tenggelam dalam penghayatan akan lantunan Wirid dan Zikir juga adalah suatu ke-Asyikan dan itu pun adalah keMABUKan….
Tenggelam dalam Musyahadah akan Allah dalam Ma’rifatullah itu juga suatu ke-Asyikan dan itu pun adalah keMABUKan…. Setelah berhasil mengemuka AKU, lalu…
Asyik dan hanyut dalam keAKUan yg tiada yg lain selain AKU, itu pun adalah keMABUKan. Bla… Bla… Bla… Dan lain-lain…. Apa saja yg membawa kepada ke-Asyikan dalam perjalanan menuju kepada Allah dengan hal apapun itu adalah suatu keMABUKan.

Dan intinya adalah keMABUKan itu semua…….di dalam perjalalan menuju AL-HAQ (ALLAH SWT) baik dengan Amal Ibadah, lantunan wirid dan zikir, Samadi atau Bertapa, Musyahadah, dll…… Kesemuanya itu SADAR maupun tiada diSADARi, TAHU atau tiada diketahui, bahwa : “IA (HAMBA) sedang ASYIK di dalam keMABUKan CINTA kepada TUHANNYA”.

Ya…….MABUK CINTA kepada AL-HAQ dan UNIKnya keMABUKan CINTA itu sangat Lembut sekali menghampiri dirinya sehingga tanpa di sadari Ia MABUK itu seolah-olah di sebabkan dengan sebab-sebab yg lain, padahal tiada sebab yg lain selain CINTA kepada AL-HAQ, Ya…..CINTA kepada AL-HAQ……AL-HAQ….HAQ…HAQ…..HAQ……

Bahkan Azazil pun tanpa diSADARi nya, ia itu sangat CINTA kepada Tuhannya sehingga membuat ia CEMBURU BUTA ketika Tuhan melebihkan kedudukan Adam beserta Anak keturunannya di bandingkan dengan dirinya sendiri, yang kemudian berefek Benci dan DENDAM kepada Adam dan Keturunannya. Semua itu di karenakan Azazil telah di serang keMABUKan CINTA kepada Tuhannya dalam Versi “CINTA yang BUTA”, bukan CINTA yang TULUS dan MURNI.

Pada Saat keMABUKan di dalam CINTA yang TULUS dan MURNI maka Allah sendirilah yang memuji diriNYA pada lisan HambaNYA. Dan ketika itu pula maka leburlah ke-EGO-an diri kedalam SifatNYA yang Ar-Rahman Ar-Rahiiim. Maka jika benar sudah demikian kenyataannya PASTI Ia akan menjadi Rahmat bagi sekelilingnya sebagai Cermin dari pada Sifat JALAL, JAMAL, QOHAR dan KAMAL- Nya Allah Swt dan ke-AKU-an menjadi Sirr/Rahasia dalam Diam-NYA sehingga tidak muncul kepermukaan Zahir yang membawa Fitnah bagi sekelilingnya.

WEB:
“Bagi para pemabuk memaknai bahwa “MABUK” itu adalah ke-Asyik-an sedangkan bagi mereka yg sudah Sadar sesadar-sadarnya memaknai “MABUK” itu adalah “HIJAB yang Sangat Halus”.

JADI…. Bagaimana mungkin dapat berhenti dari kebiasaan “MABUK” Jika masih berkawan dengan para pemabuk dan berkonsultasi juga dengan pemabuk, yang ada malah tambah “MABUK.”. Maka…..Carilah seorang TABIB TUHAN yg sudah dapat mengendalikan Rasa ke-MABUK-an itu, maka ke-MABUK-an mu pun perlahan-lahan akan sirna dengan KUNCI”… He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

INTI HAKIKAT: ASAL KEJADIAN DIRI pada FITRAH SUCI;

Posted in Uncategorized on 12 Agustus 2014 by Djaka Tolos

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014

Allahu Akbar….Allahu Akbar….Allahu Akbar wa Lillaahil Hamd’
Setiap Insan siapapun dirinya apapun Statusnya dan apapun Agamanya, Alirannya, Golongannya, Madzhabnya telah terpahami dan Terhayati akan “KESADARAN ZATULLAH” dalam Pandangan-NYA sejak dirinya masih berada di Alam AZALI, dan di NYATA-kan HAL itu pada saat IKRAR “Alastu bi Robbikum….???, Qoluu Ba Laa…Syahidna..!!” (Apakah engkau membenarkan bahwa “AKU” lah Penguasa serta yg Mengatur setiap Urusan yg berlaku dalam “HAYAT/URIP/HIDUP…???, Ya…..BENAR…!!! Kami sebagai Saksi yg menyaksikan..!!!”.

Namun……. Setelah dirinya tertarik dengan Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini, Energy Gaya Gravitasi Alam Dunia Fana’ ini menggetarkan kesadaran dirinya akan “KESADARAN ZATULLAH” itu sehingga membuat dirinya tak sadar lagi akan INTI HAKIKAT ASAL KEJADIAN DIRI. Lalu……. Tetapi….. Walaupun kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya telah menjadi Hijab/dinding yg menutupi Cahaya Haq’ itu namun…….. Ada yg tidak bisa di tutupi oleh kedirian/ego/hawa nafsu itu yaitu “FITRAH/SUCI”nya… Sebagai penghubung antara dirinya dengan Tuhannya. dan “FITRAH/SUCI” itu adalah “KEKUATAN yg SANGAT LEMBUT LAGI HALUS” yg meliputi si “HAYAT/URIP/HIDUP”, saya menyebutnya dengan Istilah….”SIR-RASA”.

Tanpa tersadari oleh Manusianya itu sendiri sesungguhnya “FITRAH/SUCI” nya selalu “memangil-manggil″ dirinya untuk kembali kepada ASAL dirinya masuk melalui pintu “KESADARAN ZATULLAH”, namun……. 9 Hawa yg masuk pada dirinya melalui 9 GOA yg terbuka lebar telah membuat dirinya tak menghiraukan “Kata-kata FITRAH/SUCI pada HAYAT/URIP/HIDUP”nya. 9 Hawa itu adalah :

1. Takabbur
2. Sombong
3. Tamak
4. Serakah
5. Iri
6. Dengki
7. Hasut
8. Benci
9. Dendam

Karenanya ada istilah : “BABAHAN HAWA SONGO” yg bertujuan menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa itu lenyap dan tergantikan secara otomatis(TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI yaitu :

1. Laa Qodirun Illallah (Tiada yg MAHA Kuasa selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
2. Laa Muridun Illallah (Tiada yg MAHA Berkehendak selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
3. Laa ‘Alimun Illallah (Tiada yg MAHA Mengetahui selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
4. Laa Hayyun Illallah (Tiada yg MAHA Hidup selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
5. Laa Sami’un Illallah (Tiada yg MAHA Mendengar selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
6. Laa Bashirun Illallah (Tiada yg MAHA Melihat selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
7. Laa Mutakallimun Illallah (Tiada yg MAHA Berkata2 selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
8. Laa Fa’ilun Illallah (Tiada yg MAHA Berlaku dalam Gerak dan DIAM selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)
9. Laa Maujudun Illallah (Tiada yg MAHA ADA di Awal tiada berpermulaan sekaligus di Akhir tiada berkesudahan dan tiada yg MAHA ADA pada Zahir dan Bathin selain ALLAH meliputi Zat, Sifat, Asma’, Af’al-NYA)

Maka…. Demi Waktu/Masa dalam 24 jam sehari semalam dari buka mata sampai tutup mata kembali, sungguh Manusia itu dalam kerugian yg Nyata karena….. Seiring dengan waktu Dunia “KESADARAN ZATULLAH” itu semakin terhijab/terdinding oleh kediriannya/Egonya/Hawa Nafsunya melalui 9 GOA pada dirinya yg terbuka lebar. Kecuali………

Mereka-mereka yg masuk dalam ke- AMAN-an (IMAN) dikarenakan… Ia telah menutup 9 GOA pada dirinya agar ke 9 Hawa lenyap dan tergantikan secara otomatis(TAJALLI) dengan 9 KESADARAN SEJATI, dan kemudian setelah itu “FITRAH/SUCI”nya dalam “KESADARAN ZATULLAH” membawa dirinya untuk berbuat kebaikan yg menjadi Rahmat serta saling berbagi/mengisi dalam kebenaran untuk memberikan pandangan tetang “KESADARAN ZATULLAH” meliputi dan juga saling berbagi/mengisi dalam kesabaran kepada siapa saja tanpa pandang bulu, karena ia telah memandang dalam Penyaksiannya akan “GURUmu adalah GURUku dan GURUku adalah GURUmu” ( kita sama-sama Belajar kepada GURU yg SATU yg tidak makan juga tidak minum, Tidak Tidur tidak pula mengantuk).

WEB:
Dunia ini dan segala isinya bersifat fana, artinya akan musnah atau hancur pada saatnya nanti. Sehebat apapun manusia untuk mempertahankan dirinya dengan menjaga kesehatan agar ia bisa hidup lama di dunia ini, pasti maut juga akan datang menjemputnya. Begitu pula halnya sebesar apapun dirinya untuk menjaga tubuhnya agar tetap awet muda, baik dengan kosmetik, operasi plastik dll, tentu dia tidak bisa menghindar dari bertambahnya umur. Semakin lama ia hidup di dunia atau semakin bertambah umurnya di dunia pada hakikatnya semakin dekat ia kepada kematian. Akan tetapi banyak yang tidak sadar, dengan seiringnya waktu dan umurnya pun semakin bertambah malah membuat ia lupa bahwa kematian sedang menghampirinya tanpa ia ketahui. Karena itu tanda orang yang lalai dari kematian adalah semakin bertambah umurnya semakin ia tidak merenungi akan dirinya bahwa suatu saat entah besok atau lusa, minggu depan atau bulan depan ia akan mati. Seiring dengan itu di hari kelahirannya atau yang biasa di sebut dengan ulang tahun dengan bangganya ia bawa dirinya poya–poya, hura–hura, bersuka ria dengan gembiranya. Ada yang melaksanakannya dirumah, di hotel–hotel, di gedung, restoran, kafe, bahkan ada yang merayakannya ke tempat–tempat hiburan malam seperti diskotik, karaoke & pub dsb.

Akan tetapi lain halnya mereka yang mengerti akan hakikat Hidup dan kehidupan, bahwa tidak lah ia hidup di dunia ini melainkan hanya sementara semakin bertambah umurnya semakin dekat ia akan kematian maka mereka tidak akan membanggakan dirinya dengan perayaan–perayaan yang melampaui batas. Justru ia bawa dirinya kepada hal–hal yang mendekatkan dirinya kepada Tuhannya. Kalau pun juga ia mengadakan suatu perayaan hanyalah sebatas rasa syukur ia kepada Tuhannya dengan dianugrahkan Nya rahmat dan nikmat atas dirinya.

Hidup di dunia tidak lain seperti seorang pengembara yang pergi ke suatu tujuan lalu berhenti sebentar di bawah pohon untuk beristirahat. Atau mampi ngomne/minum.Tentu ia tidak selamanya berhenti, pasti ia akan meneruskan perjalanannya untuk mencapai tujuan yang di inginkannya.
Begitulah halnya hidup di dunia, hanya sebatas tempat peristirahatan ruh untuk memulihkan daya ingatnya kepada Tuhannya. Dan ia jaga dirinya di dalam peristirahatan itu agar ia tidak tertidur atau terlena, karena kalau sampai ia tertidur maka ia akan hanyut di dalam bayangan–bayangan (mimpi) yang semakin membuatnya terlupa kepada tujuan nya yang sebenarnya. Bayangan–bayangan (mimpi) itu adalah segala keadaan yang ada di dalam kehidupan dunia ini, yang dinyatakan Allah dalam firman Nya sebagai permainan dan senda gurau.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS, Al – Hadiid : 20)

Di ayat yang lain Allah pun menegaskan :
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (QS, Al – ‘Ankabuut : 64)

Karena itu sudah sepantasnyalah kita bangun kan diri kita dari kelalaian yang mungkin selama ini kita terlena di dalam kehidupan dunia sehingga membuat kita lupa kepada tujuan hidup yang sebenarnya yaitu Allah SWT. Orang yang hatinya hidup atau terbuka adalah mereka yang apabila di ingatkan tentang kebenaran, mereka mau mendengarkan dan mau merenungkannya serta bangun dari kelalaiannya selama ini… Jadi,,,

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada. Muga Manfa’at ya…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

TATKALA SEGALA RAHASIA TERUNGKAP:

Posted in Uncategorized on 12 Agustus 2014 by Djaka Tolos

Oleh: Wong Edan Bagu.
(PRTP)
Kudus Kamis Pon; 07-08-2014

Perhatian dan Peringatan :
Tulisan ini diperuntukkan hanya bagi mereka-mereka yang telah tenggelam di lautan Samudra Ilmu Ma’rifat, baik melalui jalan Tariqat maupun melalui jalan Hakikat untuk memberikan pencerahan yang mengantarkan kepada sebenar-benarnya Allah Swt.
Sesungguhnya Ma’rifat itu dari segi Rububiyah bukanlah akhir dari perjalanan melainkan masih awal perjalanan.
Nb : Dipersilahkan untuk memberikan Komentar, Saran, kritik maupun pertanyaan, agar berguna bagi kita semuanya.
WEB===============–?

“Semuanya akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS,Ar Rahmaan : 26-28)

Ketika hati mulai bercahaya; ketika jiwa mulai merasakan; ketika akal silau dengan pancaran Nur Nya ; saat itu lidah terasa kelu untuk bersuara, Rasa dan perasaan lenyap entah kemana, raga hampir-hampir tak berdaya bahkan jiwa gaib di dalam kegaiban Tuhannya. Samudra Ahadiyah Allah Ta’ala telah menghanyutkan dirinya menghempaskan batinnya pada karang-karang kerinduan dan membawanya kepada sebuah pulau keikhlasan tertinggi. Mereka-mereka yang telah sampai pada keikhlasan tertinggi itu telah melepaskan segala sesuatunya, apa saja baik dirinya zahir batin maupun yang diluar dirinya. Pandangan Syuhudnya hanya lah Allah Swt, di dalam pandangan yang tiada jarak dan tiada antara.

Telah dilewatinya Pos-pos jiwa mulai dari Pos Ruhani sanpai kepada Pos Ruh Idhofi. Disini baginya sesuatu yang berpasangan telah lenyap dari pengetahuan di dirinya. Tiada lagi kata serba dua apalagi banyak pada pandangan batinnya. Mursyid yang menyampaikan dirinya kepada Tuhannya pun sudah tidak terpandang lagi. Baginya mursyid dan murid itu satu! Yang dikatakan Mursyid, itulah Murid ; dan yang dikatakan Murid, itulah Mursyid. Batinnya satu dengan Mursyidnya, sehingga dia juga yang disebut Mursyid dan dia jugalah yang disebut Murid. Jika Mursyid dan Murid sudah satu dalam pandangan Batinnya, dimanakah Mursyid? Dan dimanakah Murid?

Tentu..!!! Jika sudah Satu meliputi maka tidak ada lagi Mursyid dan tidak ada lagi Murid, yang ada hanyalah Penguasa yang menguasai Mursyid dan Murid, Dialah Allahu Robbul ‘Alamin.
Itulah maqom keikhlasan tertinggi dimana pada maqom itu ia tidak terikat oleh sesuatu lagi, tidak membangga-banggakan akan sesuatu lagi dan tidak menonjolkan akan sesuatu lagi.
Kemerdekaan dan kemandirian bersama Tuhannya telah mengisi kekosongan jiwanya, sehingga kemana saja ia pergi, dimana saja ia berada tidak ada yang ada hanya Allah Swt meliputi disetiap gerak dan diamnya. Pada Maqom Keikhlasan tertinggi itu Allah telah mendudukan ia pada posisi “DARKATUL QUDRAT”, karena ia telah berhasil melewati tahapan ke “AKU” an didirinya.

DARKATUL QUDRAT adalah ibarat Halaman Istana Kerajaan Allah Ta’ala.
Jika ke “AKU “an dirinya saja sudah lenyap/Fana dari pandangan, bukankah segala yang di luar dari dirinya juga akan lenyap/Fana? Apabila mereka yang mengaku telah benar-benar sampai kepada Tuhannya, tentu sudah seharusnya ia tidak bersandar lagi kepada sesuatu. Jika masih bersandar akan sesuatu sedangkan ia menyatakan telah sampai kepada Maqom Robbani, maka sesungguhnya ia belumlah sampai dengan sebenar-benarnya sampai. Pada saat itu ia masih sampai sebatas Ilmu dan rasa tetapi belum lagi sampai kepada yang punya Ilmu dan rasa.

Sayyidina Ali bin Abi Tholib r.a Karamallahu Wajhah berkata :
“Tidak Syah Sholat seseorang melainkan dengan Mengenal akan Allah”

Di dalam perjalanan Ma’rifatullah/Mengenal akan Allah maka di mulai dengan Mengenal akan Diri sendiri (Diri yang sebenar-benarnya Diri). Sebab diri yang dikatakan sebenar-benarnya diri itu, yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Tentu bagi mereka yang sudah paham tentang Ma’rifat telah mengetahui yang mana sih…., diri yang harus di kenal itu. Akan tetapi dari mereka-mereka yang telah kenal akan diri, banyak yang tidak menyadari bahwasannya apa yang telah dilaluinya/diketahuinya itu masih sebatas Kulit dalam pandangan Arifbillah.

Kenapa demikian..? karena diri yang banyak diketahui oleh sebagian penuntut Ma’rifatullah itu masih terbatas kepada diri yang ada pada dirinya sendiri. Dan ada juga yang terbatas pada pandangannya sendiri kepada orang yang diistimewakan dan diagungkannya. Sedangkan Ma’rifat yang sebenarnya dan sesempurna-sesempurnanya adalah Ma’rifat yang Universal, tidak ada batasanya dan tidak terbatasi oleh diri sendiri saja maupun orang tertentu saja.

Setiap orang yang berada di dalam lingkaran Ma’rifat merujuk kepada Sumber Pengetahuan Allah/Sumber Hakikatullah yang di sebut dengan “Nur Muhammad”, sebagaimana dalil yang telah dipahami oleh mereka-mereka yang ber paham Ma’rifat bahwa “Nur Muhammad” itu awal-awal dari segala sesuatu. Dengan Nur itu maka terciptalah Seluruh sekalian Alam beserta isinya.

Rosulullah Saw bersabda :
“Bahwasannya Allah Swt telah menjadikan akan Ruh-ku daripada Zat-Nya sedangkan sekalian Alam beserta isinya terbit dari pada Nur-ku (Nur Muhammad)”.

“Sesungguhnya Aku adalah Bapak sekalian Ruh sedangkan Adam adalah Bapak dari sekalian batang tubuh (Jasad)”.

Dari dalil tersebut telah menguraikan bahwa Hakikat Nur Muhammad itu tidak hanya ada pada satu diri saja melainkan ada pada setiap yang maujud. Sehingga tak terbatas bagi Nur Muhamad itu, melainkan meliputi sekalian Alam termasuk pada diri sendiri. Jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada pada dirinya sendiri maka belum lah dikatakan mengenal akan Allah yang meliputi sekalian Alam. Begitu juga jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada hanya pada orang-orang tertentu yang diistimewakannnya dan diagungkannya dari diri Ustadz-ustadznya, Guru-gurunya, Syaikhnya ataupun Mursyidnya maka sesungguhnya ia masih terhijab oleh sesuatu yang dipandangnya.

Rumus dari pada Ma’rifatulah yang sebenarnya dan Universal itu adalah :
“Syuhudul Wahdah Fil Katsroh, Syuhudul Katsroh Fil Wahdah”.
(Memandang yang Satu (Nur) ada pada yang banyak, memandang yang banyak ada pada yang Satu).

Saya katakan bahwa seseorang yang mengenal Allah sebatas pandanganya kepada dirinya sendiri atau orang tertentu yang diistimewakan dan diagungkannya maka mereka itu mengenal akan Allah masih sebatas Kulit saja dari pemahaman Marifatullah yang sesungguhnya. Jika demikian!, bagaimana mungkin ia akan sampai kepada keikhlasan tertinggi dan bagaimana mungkin ia mengatakan telah bertemu dengan Allah sedangan di halaman Istana Allah saja (DARKATUL QUDRAT) ia belum memasukinya, karena masih terdinding/terhijab pandangannya dari sesuatu selain Allah Swt (HAQQUL HAQIQI).

Jika anda benar-benar ingin menjumpai Allah dan bertemu dengan Allah (LIQO’) maka lepaskanlah pandangan hatimu dari sesuatu apapun. Jangan berhenti pada pandangan JAMALULLAH/ KEINDAHAN ALLAH maka niscaya engkau akan mabuk dan takjub di dalamnya. Pandanganmu akan Hakikat Nur yang ada hanya pada dirimu saja atau yang ada hanya pada orang yang engkau kagumi dan istemawakan saja membuktikan bahwa tanpa engkau sadari engkau telah tenggelam dan mabuk di dalam sifat JAMALULLAH/KEINDAHAN ALLAH.

Ketahuilah! Bahwa untuk sampai kepada Allah Swt dengan melalui EMPAT tahapan, yaitu :
1. JALALULLAH (Kebesaran dan Keagungan Allah)
2. JAMALULLAH (Keindahan Allah)
3. QOHARULLAH (Kekerasan/Kepastian Allah)
4. KAMALULLAH (Kesempurna’an Allah)
(PANCA GA’IB)
1. KUNCI (KUASANYA HIDUP)
2. PAWELING (NYATANYA HIDUP)
3. ASMA’ (BUKTINYA HIDUP)
4. MIJIL (RASANYA HIDUP)

Untuk bisa menaiki tahapan-tahapan tersebut agar sampai kepada KAMALULLAH (KESEMPURNAAN ALLAH), maka wajib baginya Satu Pandangan yaitu Allah Swt tanpa melalui perantara selain Nur Muhammad (HIDUP). Sedangkan Nur Muhammad (HIDUP) itu meliputi setiap yang Maujud termasuk pada diri sendiri. Sehingga yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murobbi adalah Nur Muhammad Rosulullah Saw (HIDUP) sebagai pemegang Kunci Pintu Surga/MIFTAHUL JANNAH.
Siapapun mereka itu, jika Satu yang di pandang yaitu Allah Swt, melalui Hakikat Nur Muhammad (HIDUPyang meliputi sekalian Alam maka tidak ada sebutan yang pantas baginya selain “ARIFBILLAH”.

Jika masih ada pandangan yang terbatas atau dibatasi tentang Hakikat Nur Muhammad (HIDUP) itu pada beberapa diri saja maka belumlah pantas baginya menyandang sebutan “ARIFBILLAH” melainkan mereka itu masih di sebut dengan orang yang berada pada “TARIKAT/Perjalanan” “Proses”menuju kepada Allah.

Mursyid Murobbi tidak hanya ada pada satu diri
Melainkan Meliputi setiap “Kaun Maujudi”
Siapa yang sanggup mematikan Diri
Itulah Langkah Awal menuju Diri Sejati
Jangan tertipu dengan apa yang dipandang
Karena semuanya hanyalah bayang-bayang
Tidak terpisah Al-Haq dengan selayang pandang
Tujulah kepada satu yang ada di dalam pandang
Belumlah dikatakan sebenar-benarnya mengenal.

Sebelum engkau mengerti JALAL, JAMAL, QOHAR DAN KAMAL
Empat sifat yang maujud dan Nyata pada Nur-Nya
Alif itu menunjukkan akan Zat-Nya
Lam Awal adalah ketetapan Sifat-Nya
Lam Akhir kenyataan Asma’Nya
Sedangkan Ha adalah bukti dari Af’al-Nya
Kesempurnaan Allah dalam keserba meliputannya.

Pada Muhammad Rosulullah segala rahasianya
Sebagai inti dasar dari sekalian alam
Menjadi saksi kemaujudannya
Alif adalah jati diri Muhammad
Kaf itu adalah Ilmu Muhammad
Ba’ adalah Kelakuan Muhammad
Ro’ itu kehendak pada diri Muhammad.

Dari situlah Maha Agung Allah Ta’ala
Dalam keserba meliputan sekalian Alam
Allah dan Muhammad satu Rahasia
Menjadi Kalimah ALLAH dan AKBAR
Karena itulah Rosulullah bersabda
“Agungkanlah dan besarkanlah Kalimah Allah : Allahu Akbar…. Allahu Akbar…… Allahu Akbar Walillahil hamd”… ”… He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

1. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM BERSERAH DIRI: 2. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KASIH SAYANG: 3. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KEMERDEKA’AN:

Posted in Uncategorized on 12 Agustus 2014 by Djaka Tolos

1. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM BERSERAH DIRI:
Sebuah Renungan tentang ke-PASRAH-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

Ya…Allah Ya…Robbii, sungguh PengetahuanMU mendahului pengetahuan saya bahkan pengetahuanMU meliputi tiap-tiap sesuatu. Lalu bagaimana mungkin saya bisa lepas dari pandangan Engkau ya Rabb… Setiap detik dalam Gerak dan Diam, semuanya berada dalam Genggaman Engkau, bahkan darah yang mengalir pada diri saya inipun atas Qudrat Iradat Engkau. Begitu pula jantung berdetak, nafas naik dan turun, setiap sel-sel di diri ini ada yang mati, Engkau hidupkan lagi atas Kehendak Engkau, dan ada pula sel-sel yang mati Engkau biarkan dalam keadaan mati, itupun atas Kehendak Engkau. Lalu pantaskah bagi saya mencari Tuhan selain Engkau..??? Pantaskah bagi saya untuk mencari Pelindung selain Engkau…??? sedangkan Qudrat Iradat Engkau berlaku atas diri saya, Pandangan dan perhatian Engkau atas diri saya itu, semua didasari Cinta KasihMU kepada saya.

Yaa…. Muqollibal Quluub (wahai yang membolak balikkan Hati), Balikkan lah Hati saya hanya semata-mata tertuju hanya Kepada Engkau semata. Balikkan Hati saya agar mengerti akan karunia Nikmat Cinta kasihMU kepada saya, hanya kepadaMU lah saya bergantung dan memohon karena Engkaulah sebaik-baik yang mengurus diri saya dan sebaik-baik yang mengetahui yang terbaik akan diri saya.
Yaa… Malikul Mulk, Raja yang merajai seru Sekalian Alam Amat Maha Pengasih dan Penyayang, Engkau lah RAJA yang MAHA AGUNG dan MAHA BESAR, RAJA yang menguasai akan diri saya yang hina ini… maka Kuasailah diri saya ini dengan Ridho-Mu Yaa….Maknuun, dengan KelembutanMU ya…. Mahzuun.
Keluarkan saya dari Kegelapan Hati, dari Kekosongan Iman dan Tauhid, dari butanya Kesadaran tentang Ma’rifatMu ya…Allah. Leburkan EGO saya dengan KelembutanMU ya…Rohmaan, agar saya melangkah dalam hidup ini, berdasarkan KehendakMU semata. Sungguh KehendakMU adalah yang terbaik dan sangat terbaik dan paling terbaik. Maka tidak ada kehendak lain yang terbaik selain KehendakMU wahai…yang menanamkan CINTA di hati-hati para PencintaMU.

(GUSTI INGKANG MAHA SUCI. KULA NYUWUN PANGAPURA DUMATENG GUSTI INGKANG MAHA SUCI. SIROLAH DATOLAH SIPATOLAH. KULA SEJATINE SATRIYA. NYUWUN WICAKSANA NYUWUN PANGUASA. KANGGE TUMINDAKE SATRIYA SEJATI. KULA NYUWUN KANGGE HANYIRNA’AKE TUMINDAK INGKANG LUPUT) He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

2. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KASIH SAYANG:
Sebuah Renungan tentang ke-CINTA-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

TAMPARAN TUHAN YANG PENUH KASIH SAYANG… ASTAGHFIRULLAH……….., TERNYATA KESOMBONGAN TELAH MELIPUTI DIRIKU.

KILATAN CAHAYA CINTA SEJATI;
Ya…… kalau mau dipikir panjang dan banyak. Cinta memang penuh dengan bermacam-macam Rupa, Warna dan Bentuknya, bahkan yang Lebih dahsyat lagi, bahwa Cinta itu akan menjerat mereka-mereka yang sedang mabuk di dalamnya. Terbuai….. dan Hanyut oleh getaran-getaran yang mengalir ke seluruh tubuhnya sehingga membuat diri semakin tak berdaya….dan pada Akhirnya akan menuruti Rasa apa saja yang menggetarkan jiwa raganya.

Karenanyalah…… hendaklah diketahui dan di mengerti tentang “HAKIKAT CINTA” itu sesungguhnya, agar tidak tertipu oleh berbagai macam rupa, warna dan bentuk yang ada pada cinta itu. Sesungguhnya hanya ada satu cinta yang sebenar-benarnya yaitu “CINTA SEJATI” yang tiada pernah mati dan tiada tertandingi serta tiada terbagi. Mengkaji ke dalam diri…., menyelam sampai kedalam dasar jiwa yang terdalam maka disitulah akan di temukan “CINTA SEJATI” itu. Yang tiada rupa, warna dan bentuk tetapi meliputi kesetiap rupa, warna dan bentuk. Itulah……., Akhir dari perjalanan Cinta yang tak akan tertipu lagi. karena telah menyatu dengan Sang Pemilik Cinta dan lebur selebur-leburnya dalam KESADARAN akan sang Pemilik Cinta yang meliputi akan dirinya.

Sungguh…..! keindahan yang terlihat yang disebabkan oleh rasa cinta itu
Sungguh…..! kesenangan yang di timbulkan oleh perasaan cinta itu
Sungguh…..! apa saja yang membuat gairah….. yang sangat luar biasa yang terjadi karena cinta itu
Semuanya hanyalah sebagai jembatan semata, sebagai perantara semata, sebagai Wasilah semata untuk membawa mereka2 yang SADAR akan KESADARAN kepada Sang Pemilik Cinta itu.
Dan pada Akhirnya Sang Pemilik Cinta itu akan menyapa dirinya dan menebarkan Aura Kasih-Nya kepada mereka2 yang telah sampai kepada-Nya.

WEB:
Salam Cinta Damai Kasih dan Sayang kanti Teguh Rahayu Selamat Berkah di dalam Rahmat dan Ridho Allah swt.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

3. RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KEMERDEKA’AN:
Sebuah Renungan tentang ke-MERDEKA-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

Menjelajah Ruang yang tak be-Ruang, melangkah setapak demi setapak dalam Jarak yang tiada ber-Jarak, Terbang Bebas dan Merdeka dalam kemerdekaan-NYA di Waktu yang tak ber-Waktu.
Melepaskan segala Ikatan yang membelenggu JIWA untuk masuk kedalam Jiwa Mutma’innah. JIWA-JIWA menjadi Satu JIWA, Satu Rasa, Satu Rahasia dengan Robbul ‘Aalamiiin.

JAGA dalam Tidur menggapai Insan Kamil Mukamil yang senantiasa ter-JAGA dalam keter-JAGA-anNYA di setiap Gerak dan Diam-NYA. Musnah segala Sekat dan Lenyap segala Hijab serta tersingkaplah Cadar yang menutupinya.

Memandang ke-Agungan-NYA pada Zat, Sifat, Asma’ dan Af’al dalam TAUHID UNIVERSAL (Meliputi). Karena memang Tauhidullah adalah Tauhid yang meliputi, bukan Tauhid yang tersekat pada Mazhab, Golongan, Aliran dan Paham tertentu. Inilah……Jalan dalam Spiritual yang se-JATI dalam kese-JATI-anNYA yang tidak terkurung dan tidak terkekang, namun tetap dalam keselarasan, Lebur dalam “Manunggaling Kawula Gusti”, namun……bukan Tuhan adalah Hamba atau Hamba adalah Tuhan melainkan….. “TUHAN” tetaplah “TUHAN” dan “HAMBA” tetaplah “HAMBA”. Bukan “TUHAN” yang di Tuhan-Tuhankan dan bukan pula “HAMBA” yang di Hamba-Hambakan.

TAUHID UNIVERSAL adalah TAUHIDULLAH yang se-JATI namun bukan TAUHID yang bercampur (pencampuran antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain)melainkan TAUHID yang MURNI dalam “YAQIINULLAH YAQIINUL HAQ”, “TAUHIDULLAH TAUHIDUL HAQ”. Bukan Keyakinan yang di yakin-yakini dan bukan pula Tauhid yang di tauhid-tauhidkan… INILAH WAHYU PANCA GA’IB.
He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun.
Semoga…………bermanfa’at dalam ESA-NYA yang memang Nyata ke-ESA-anNYA tanpa di ESA-ESA kan.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan
Kudus Jumat Wage;08-08-2014

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

RENUNGAN WONG EDAN BAGU DALAM KESEJATIAN:

Posted in Uncategorized on 12 Agustus 2014 by Djaka Tolos

Sebuah Renungan tentang ke-SEJATI-an
Oleh: Wong Edan Bagu
(PRTP)
Kudus Sabtu Kliwon; 09-08-2014

“”Melangkah di Arsy Tuhan, Menengok Rahasia Kalam””
Dalam penantian Sang Hamba menuju kesempurnaan maka akan di mulai dengan Ilmu. Dalam Ilmu (pengetahuan) tidak akan memberikan Manfa’at (sia-sia) jika tanpa di dasari Kesadaran rasa dalam Niat yang tulus. Sesungguhnya Manusia itu Mati kecuali mereka-mereka yang berpengetahuan Hidup, dan mereka-mereka yang berpengetahuan Rasa, banyak yang tertidur kecuali mereka-mereka yang melakukan lakon, dan mereka-mereka yang melakonkan laku, banyak yang tertipu kecuali mereka-mereka yang Sadar, Tulus, lila legawa.

Ketika Lautan Hikmah dari segala Ilmu terselami, maka terlihat lah……Mutiara-mutiara Indah yang sangat berkilauan, dan banyak di antara para Salik yang mengambil Mutiara-mutiara itu, karena saking Takjub dan terpananya melihat keindahan Mutiara-mutiara tersebut.
Ketika rasa Takjub itu datang merasuk kedalam Qolb’ maka pada saat itu…..Nyanyian ke EGO an menyertai dan mengakibatkan diri hanyut dan tenggelam dalam RASA/Zauq.

Ketahuilah… Pada satu sisi, RASA/Zauq itu adalah “Jalan/Thoriqoh” menuju Sang Sejati, akan tetapi apabila terlena dan hanyut dalam RASA/Zauq itu dan lupa akan “sang pemilik” RASA, maka semakin banyak duri-duri yang akan tumbuh pada diri… He he he . . . Edan Tenan.
Lihatlah… Ke sekeliling, berapa banyak yang Asyik Masuk dalam RASA berenang dalam Nikmatnya RASA, lalu meRASA kosong, lalu meraba dalam Kosong dan mengatakan tidak ada apa-apa dan menyatakan bahwa inilah SEJATI, inilah PUNCAK, inilah AKHIR dari segalanya, inilah IA.

Maka ketika hal itu telah ternanam, maka itulah Awal mula akar dari pada duri-duri yang akan menyelimuti diri dan tanpa sadar……, telah ber TUHAN kan kekosongan, ber TUHAN kan ke HAMPA an, ber TUHAN kan ketiadaan… apa tidak ueeedann tenan.
Sesungguhnya……RASA/Zauq itu, masih di dalam sifat Jamal-NYA, dan bukan itulah Akhir perjalanan, namun itu barulah Awal perjalanan untuk Melangkah di “ARSY TUHAN” dan Akhirnya “MENENGOK RAHASIA KALAM”.

Apakah Mutiara-mutiara Indah yang sangat berkilauan itu…..????
Itulah… KUNCI… itulah DZIKIR/DZIKRULLAH.

Semakin KUNCI … Semakin banyak ber DZIKIR/DZIKRULLAH dengan bermacam-macam D ZIKIR (mutiara-mutiara), maka semakin terhijab, jika masih terpandang Ma Siwa Allah ( Sesuatu), masih terpandang akan diri : “Aku ini kunci” Aku ini berdzikir”, Aku ini beramal”, Aku ini berThoriqoh”, “Aku ini ber mursyid”, “Aku ini berma’rifat”, dll…. Preeetttttt

Maka akan timbul suatu penekanan akan sesuatu. Jika penekanan “akan sesuatu” itu telah menjadi pandangan Bathinnya, maka Hijab telah menutupi Qolb’ dari NurNya yang Nyata. Ia melihat akan Nur, tetapi yang terlihat bukanlah Nur yang sesungguhnya, melainkan hanyalah bayangan sinar dari pada Nur. Maka bayangan tetaplah bayangan, sampai kapanpun tetaplah bayangan dan bayangan bukan lah yang punya bayang-bayang. Bulan Nyata terlihat, tetapi tiada di ketahui, karena yang di ketahui hanya kenyata’an Bulan di atas Danau dan Bathin lalai bahwa sesungguhnya yang ada di danau itu bukan Bulan, melainkan hanya bayang-bayang dari sang bulan.

Maka… Lihatlah Bulan yang terang dan cahayanya sangat menyejukkan itu dan mendamaikan Qolb itu Sangat Nyata dan Indah, bukan di mana-mana, tetapi ada di mana-mana.
Maka…… untuk masuk ke jalan itu…..,
Lepaskan tubuhmu……
Lepaskan hatimu……
Lepaskan jiwamu…..
Lepaskan ruhmu……
Lepaskan Akumu…..
Lepaskan egomu….
Hingga engkau tak bertubuh jasad lagi, tidak berhati lagi, tidak berjiwa lagi, tidak ber Ruh lagi, tidak ber Aku lagi dan tidak berkepetingan lagi. Pandanglah yang memandang dan rasakan yang merasakan maka engkau tidak ada, maka engkau kosong, maka engkau hampa.

Bukan Al-Haq yang tidak ada itu, bukan Al-Haq yang kosong itu, bukan Al-Haq yang hampa itu melainkan dirimulah yang tiada, dirimulah yang kosong itu, dirimulah yang hampa dan sunyi itu.
Dan tidak boleh dua, tiga, empat atau banyak yang mengisi kekosongan itu melainkan hanya SATU yang ber hak untuk mengisi kekosongan itu yaitu “Al-Haq”…He he he . . . Edan Tenan.

Dirimu bukan lah dirimu karena dirimu kosong dan Al-haq lah yang ada pada ke kosongan itu. Jika dirimu sudah kosong karena memang kosong, jika dirimu sudah tidak ada karena memang tidak ada. Maka yang manakah yang di sebut EGO….???, maka yang manakah yang di sebut Nafsu….???, maka yang manakah yang di sebut Aku…???
He he he . . . Ueeeedan Tenan pancen.

Maka semuanya pun tidak ada/kosong karna memang kosong/tidak ada.
Maka jika ada bantah membantah, maka jika ada sanggah menyanggah, maka jika ada hujat menghujat, selama itu engkau masih belum kosong dari kedirianmu…
Maka itulah yang disebut Hijab/Tirai yang sangat tipis bak sehelai rambut di belah tujuh.
Nyata ketiadaan itu menunjukkan Nyatannya yang ADA (Al-Haq).
maka matilah sebelum engkau mati……maka siapakah yang ada setelah kematianmu….????
Jika engkau sudah mati maka engkau sudah tidak ada, maka siapakah yang ada setelah kematianmu/ketiadaanmu…??? He he he . . . Edan Tenan

Ana (Al-Haq) yang ada…….
Jika hanya Al-Haq yang ada, maka selain itu……..adalah Fatamorgana, bayangan, semu, tidak ada dan nyatalah….Ana (Al-Haq) meliputi pada kekosongan dan ketiadaan dirimu. Dan kekosongan diri/ketiadaan diri itulah Singgasana/Kerajaan TUHAN dan di situlah Al-Haq bersemayam (Arsy’). Bukan di tubuh, bukan pula di hati, bukan pula di jiwa dan juga bukan di Ruh.

Maka “DIAM” = “MATI” = “KOSONG” = “TIDAK ADA” = “Laa Hawla Wa Laa Quwwata…..” dan itulah diri yang bernama ROMO PUTRO, bukan PUTRO ROMO.
“Dari kosong maka akan kembali kosong”
“Dari tidak ada maka akan kembali tidak ada”

He he he . . . Edan Tenan… Salam Rahayu kanti Teguh Selamat Berkah Selalu saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putra Rama Tanah Pasundan

http://putraramasejati.wordpress.com

http://wongedanbagu.blogspot.com

%d bloggers like this: